Curhat

Alasan Sederhana

Curhat Fathia

Dua hari lalu, sahabat SMA-ku yang biasa kupanggil Nono, mengirim pesan bahwa ia akan ke Semarang dalam waktu dekat. Kakak lelakinya akan bertunangan, jadi ia akan ada di Semarang selama seminggu. Tentu aku senang. Rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi kami berjanji akan sering bertemu. Entah ia ke rumahku, atau sebaliknya. Dan pada kenyataannya, Nono yang selalu ingin ke rumahku.

“Masakan Ibu memang top,” puji Nono usai menyeruput sayur asem di depannya. Kedua jempol tangannya terangkat sembari menatap ibuku dengan wajah semringah.

Ibu hanya menanggapi dengan senyuman, lalu meminta kami untuk melanjutkan makan. Setelahnya, ibu kembali ke ruang tengah untuk meneruskan menjahit baju pesanan tetangga.

“Kayaknya aku bakalan betah di sini,” lanjut Nono.

“Kalau begitu sering-seringlah pulang kampung,” jawabku.

“Ah, kamu kan tahu sendiri tujuanku merantau. Kalau bukan karena kakakku, rasanya malas pulang.”

Nono dari keluarga broken home. Sejak kedua orangtuanya bercerai saat ia masih SD, ia dan kakaknya tinggal bersama ibunya di Semarang. Sedangkan ayahnya, ada di Lampung dan sudah menikah lagi. Nono pernah bercerita, kalau ibunya sibuk kerja dan mereka jarang berinteraksi kecuali untuk keperluan sekolah. Karena itu, saat SMA, hampir setiap hari ia main ke rumahku. Ibuku yang memang kesehariannya di rumah, ditambah suka cerita dan pintar memasak, membuat Nono betah. Ia bahkan sudah menganggap ibuku sebagai ibunya juga.

Aku mengambil secuil bandeng presto dan kuletakkan di piringnya. “Aku yang goreng tadi, khusus aku masuk ke dapur demi menyambut kedatanganmu,” kataku mengalihkan topik pembicaraan. Sejak dulu, aku memang tidak pandai bicara. Aku lebih senang mendengarkan. Menurutku, setiap cerita tidak harus mendapat reaksi. Meski begitu, bukan aku tak peduli. Aku baru akan memberi komentar atau masukan jika diminta. Dan untuk banyak kasus, orang curhat biasanya hanya butuh pelampiasan.

Aku dan Nono makan sembari mengobrol banyak hal. Tentang pekerjaan Nono, pacarnya, atau Bandung. Sesekali aku juga bercerita tentang pekerjaanku dan beberapa teman-teman SMA yang masih sering kontak denganku.

“Btw kok kamu bisa kerja di rumah sakit sih, bukannya dulu kamu phobia darah ya?” tanya Nono.

“Iya juga ya, kok bisa ya?” sahutku asal.

Nono menanggapi dengan menceritakan ulang saat dulu kami berdua jatuh dari sepeda motor. Ingatanku melayang pada kejadian itu. Aku duduk di depan, karenanya aku lebih siap saat merasa kendaraanku akan menyerempet sepeda motor lain. Karena tak sempat mengerem, aku banting stir ke kiri dan menabrak pohon sebelum akhirnya jatuh. Nono yang saat itu kugonceng, mengalami luka cukup parah. Darah tak berhenti keluar dari bibirnya karena membentur aspal. Aku yang saat itu sebenarnya hanya mengalami luka lecet di tangan, justru membuat banyak orang khawatir dan kami akhirnya dibawa ke UGD. Aku ingat, sesaat setelah aku melihat wajah Nono, perutku tiba-tiba mual, seiring dengan keringat dingin membasahi tubuhku. Aku merasa ada banyak sekali kunang-kunang di atas kepalaku. Dan setelahnya, pandanganku gelap. Aku masih bisa mendengar suara-suara di sekitarku, tapi tubuhku sudah tak berdaya.

“Nih, kenang-kenangan kejadian waktu itu.” Nono memonyongkan mulut. Memperlihatkan keloid yang ada di bawah bibirnya. “Untung nggak sampai mengurangi ketampananku,” lanjutnya lagi.

Dulu, aku sempat merasa sangat bersalah padanya. Hampir setiap hari selama seminggu penuh aku ke rumah Nono menenteng rantang berisi masakan ibu. Aku khawatir 4 jahitan yang nangkring di bawah bibirnya itu akan meninggalkan bekas luka. Meski murni kecelakaan yang tidak kusengaja, tapi aku merasa bertanggung jawab padanya.

Sejak kejadian itu, setiap kali aku melihat darah, reaksi tubuhku hampir sama. Aku hanya berusaha mengantisipasi dengan segera beristirahat, atau minum teh hangat. Jika berada di tempat yang tidak memungkinkan, setidaknya aku berusaha untuk segera mengalihkan pandangan atau pikiranku pada sesuatu yang menyenangkan. Dan sejauh ini, itu sangat membantu. Kalau dipikir-pikir, wajar Nono bertanya seperti tadi. Biasanya, orang cenderung menghindar pada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman. Contoh kecil saja, Nono. Ia tidak suka pelajaran matematika. Karenanya dia memilih mengambil jurusan komunikasi, di luar kota pula, karena ia juga tidak nyaman tinggal bersama ibunya.

Sebenarnya, sangat mudah bagiku menjawab pertanyaan Nono. Ibu memang tidak pernah mengatur kedua kakakku dan aku ingin mengambil jurusan apa saat kuliah, tapi di setiap kesempatan, ibu berulang kali cerita mengenai keinginannya menjadi perawat. Ibu bahkan sempat menyesalkan kematian ayah. Kata ibu, jika saja saat itu tidak terlambat merespons keluhan ayah, mungkin saat ini ayah masih berada di tengah-tengah kami. Menurutnya, ketidaktahuan ibu-lah yang menjadi penyebab ayah meninggal. Terkadang, rasa bersalah pada orang yang sangat dicintai lebih berbahaya dibanding penyakit mematikan yang ada di dunia. Ibu pernah jatuh sakit selama beberapa minggu sejak kematian ayah. Seiring berjalannya waktu, ibu mulai bisa menerima kepergian ayah sebagai takdir yang tak terelakkan. Sejak itu, aku sering ketakutan saat ibu sakit. Aku selalu berpikir dan bertindak berlebihan. Kadang-kadang, saat ibu meriang karena flu, aku buru-buru ingin membawanya ke rumah sakit. Ibu bahkan kerap menertawakan tingkahku. Membuatnya harus berulang kali meyakinkanku bahwa dirinya memang baik-baik saja.

Aku sangat menyayangi ibu. Rasa takut akan kehilangan ibu membuatku sering memikirkan ucapannya. Aku tidak mau suatu saat mengalami rasa bersalah seperti yang ibu rasakan terhadap ayah. Apalagi, ibu adalah satu-satunya orangtua yang kumiliki. Karenanya, saat itu dengan mudah aku memutuskan masuk jurusan keperawatan setelah lulus SMA. Aku bahkan tidak menganggap phobia darah yang kumiliki bisa menjadi penghalang. Meski dalam perjalanannya, aku butuh energi ekstra untuk melawannya. Aku sering mual saat membaca teori atau menonton video perawatan pada luka. Belum lagi, beberapa kali aku mengalami keringat dingin saat praktik. Ada 1 kejadian paling berkesan di hidupku, yaitu saat aku mendapat shift malam di puskesmas dan diminta bidan senior untuk mendampinginya saat membantu seorang ibu menjalani proses persalinan. Usai bayi lelaki montok itu berhasil keluar dengan selamat, begitu pun ibunya, aku mohon izin pada bidan senior untuk ke ruang perawat. Segera aku merebahkan diri dan beristirahat. Beruntung saat itu aku tidak sampai pingsan.

Sejak pengalaman itu, aku mulai belajar mengendalikan pikiranku. Aku membayangkan ketika sedang merawat luka, darah yang keluar dari tubuh pasien adalah cat air berwarna merah yang tak sengaja tumpah. Jadi aku hanya perlu membersihkannya. Saat menjahit luka, aku membayangkan sedang menyulam bunga pada sweater. Kadang, meski sudah membayangkan hal-hal indah seperti itu, reaksi-reaksi tak nyaman dari tubuhku tetap saja muncul. Setidaknya, kini aku sudah bisa mengendalikannya. Bahkan sekarang, aku bisa fokus bekerja tanpa perlu khawatir lagi. Aku mulai menikmati pekerjaanku. Apa yang kulakukan pada pasien, dan penerimaan mereka terhadapku menjadi hal yang paling kunikmati.

“Apa aku boleh menghabiskan sayur asemnya?” pinta Nono membuyarkan lamunanku. Wajah memelasnya terlihat konyol sekali.

Aku tertawa. “Tentu saja. Jika masih kurang aku akan minta ibu memasakkan lagi untukmu,” sahutku.***

Fathia

Anak perempuan yang sangat menyayangi ibu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *