
Di beberapa masjid, ada sebutan “Jumat berkah”. Yang dimaksud adalah jamaah yang shalat bakal mendapatkan makanan saat mau meninggalkan masjid. Jamaah yang berbahagia dengan menikmati makanan, yang diadakan gratis oleh pengurus masjid atau insan-insan yang bersyukur.
Jumat, 8 November 2024, aku mengartikan “Jumat berkah” dengan berbeda meski berada di dekat Masjid Agung (Solo). Aku tidak ikut shalat berjamaah di situ tapi menikmati berkah: wujudnya majalah, bukan makanan. Aku berada di kubu perdagangan buku, yang dekat Masjid Agung dan Alun-Alun Utara (Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat). Aku masih doyan nasi. Jadi, siang itu aku tidak menjadi lelaki putus asa yang harus makan majalah.
Pada suatu masa, aku biasa berdiri dan duduk di Alun-Alun Utara. Para pedagang menggelar buku dan majalah di atas alas yang menutupi tanah dan rumputan. Peristiwa yang agak “keramat” jika mengenang belasan tahun yang lalu. Para pedagang membiarkan hamparan buku dan majalah dipandang oleh orang-orang yang ikut membaca saja atau membelinya. Sejak remaja, aku menjadi jamaah di Alun-Alun Utara, bukan Masjid Agung.
Aku tidak memiliki foto saat para pedagang dan memberi berjamaah di atas tanah dan rumputan. Akhirnya, tempat untuk berjualan berpindah-pindah, yang membuat kenangan terus bersambung. Kini, perdagangan buku dan majalah itu di lokasi seberang jalan, tidak lagi menempati Alun-Alun Utara.
Siang itu kaget. Aku melihat wajah Alun-Alun Utara yang berubah. Terlihat menghijau dan indah. Beberapa bulan terjadi “perbaikan” atau “penyempurnaan”, yang beranggaran besar. Pohon beringin di tengah masih berdiri gagah. Yang membedakan adalah rumput dan kebersihan. Sisi pinggir bisa digunakan untuk jalan-jalan dalam keteduhan pohon-pohon. Aku sengaja berhenti sebentar di sisi barat, melihat dua remaja SMA sedang pacaran. Pemandangan siang yang lumayan romantis.
Aku segera berkumpul bersama pedagang yang mengantuk dan melamun. Kedatangan yang kadang membuat jumlah jamaah di situ bertambah meski satu orang. Sepi yang ingin dilawan bersama.
Jumat yang tetap berkah. Jumat yang mempertemukanku dengan majalah-majalah. Yang mula-mula membuatku tergoda adalah beberapa majalah Ananda. Majalah yang memiliki slogan: “lambang kasih sayang orang tua dan guru.” Mereka menyayangi anak dengan membelikan majalah. Kasih sayang diartikan membaca halaman-halaman majalah yang banyak pengetahuan, hiburan, dan iklan.

Satu edisi yang membuatku terjebak masa lalu menampilkan wajah Tino Sidin. Lelaki yang kehilangan gigi tapi selalu mengucap “bagus” kepada anak-anak di seantero Indonesia yang suka menggambar. Tokoh yang sangat disayangi anak-anak, yang dulu rajin duduk di depan televisi menonton siaran TVRI. Di majalah Ananda, 15 Agustus 1986, aku melihat pengumuman lomba yang diadakan oleh Chiki. Di situ, dipasang foto Tino Sidin, yang bertujuan agar banyak anak yang ingin menjadi peserta bersaing mendapat hadiah berupa mobil, televisi, sepeda, meja, dan lain-lain. Hadiah-hadiah yang menggiurkan tapi anak-anak wajib mengingat dan keranjingan Chiki dulu.
Aku membeli beberapa Ananda dengan kepentingan ingin membuat kliping puisi anak-anak. Sejak 1 November 2024, aku membuat tafsiran pendek atau tanggapan sembarangan terhadap puisi anak-anak yang dimuat dalam majalah Zaman. Inginku kelak kliping dan tafsiran menggunakan beragam majalah. Ananda itu majalah penting, yang wajib aku koleksi untuk mengetahui kehadiran puisi-puisi yang ditulis dan dikirim anak-anak dari pelbagai kota dan desa. Aku hanya ingin membenarkan kegirangan anak-anak membuat puisi pernah terjadi di Indonesia.
Tercengang saat membuka Ananda, 11 Oktober 1985. Di bagian belakang, aku membaca puisi yang ampuh, ditulis oleh Rudi Kurniawan yang tinggal di Riau. Puisi yang cocok dibaca saat siang menjadi pabrik keringat meski di Solo ada selingan hujan. Rudi Kurniawan melalui puisi berjudul “Matahari Adalah Ibu” mengingatkan: Ketika kita adalah rimbunan bunga jingga/ kita jadi kehilangan warna diri/ jika matahari redup sepanjang hari// Ketika kita adalah kawanan burung pipit/ kita akan jadi elang atau rajawali/ jika padi tak pernah menguning lagi// Tapi kini matahari itu terbit di barat/ yang berlayar tanpa isyarat/ seakan lupa pada kodrat/ sejak pertama ia bercahaya// Kini kita adalah kawanan burung pipit yang bisu/ kini kita adalah bunga jingga layu/ sebab matahari adalah ibu/ yang tak lagi memberi pancaran kasih sayang seperti dulu. Puisi yang menakutkan. Apa itu menandakan kiamat? Aku masih ketakutan membayangkan “matahari terbit di barat”.
Beberapa majalah Ananda ditumpuk, yang nantinya dibeli jika harga cocok. Tanganku terus membongkar tumpukan majalah, yang baunya tidak sedap dan berwajah kotor. Tangan cepat menghitam. Bersin pun biasa terdengar. Aku memilih beberapa edisi majalah Bobo. Majalah yang masih terbit sampai sekarang. Anak-anak di Indonesia abad XXI masih bisa rutin membaca Bobo jika berlangganan. Bobo berumur panjang ketimbang Intisari. Dua majalah itu berada di naungan Gramedia-Kompas. Aku kagum saja mengetahui penjualan majalah Bobo edisi-edisi terbaru tetap lumayan. Yang harus dipentingkan adalah anak-anak yang tangannya akrab dengan kertas, yang membuka dan memegang untuk membaca. Tangannya tidak selalu memegang benda yang ajaib.

Yang wajib menjadi koleksi: Bobo edisi 10 April 1997. Edisi ulang tahun. Umur majalah itu bertambah. Di lembaran puisi, aku menemukan dua puisi yang bertema Bobo. Aku memilih membaca puisi yang ditulis Evalinda Florida Rayon, yang beralamat di Denpasar, Bali. Pembaca yang terharu setelah mengelap keringan di wajah: Aku berasal dari daerah yang jauh/ di seberang lautan/ Pulau Timor/ tempat kelahiranku// Betapa susahnya aku mencari Bobo/ karena di sana-sini/ bahkan tetanggaku pun/ tak pernah tahu apa itu Bobo// Aku yang telah mengenal Bobo/ selalu berusaha untuk mendapatkan/ dengan cara meminta saudaraku/ mengirimkan dari Pulau Dewata, Bali// Sejak itulah/ aku selalu ingat Bobo/ aku selalu rindu Bobo/ Bobo yang lucu, penuh warna cerita// Sekarang/ aku telah berada di Pulau Dewata/ dalam perantauan mencari ilmu/ dan Bobo mudah didapat/ kini Bobo selalu setia/ di hari-hariku. Pengalaman yang sangat mengesankan, yang mengisahkan persekutuan anak dan majalah. Ia yang akhirnya rajin membaca majalah Bobo, yang mungkin berpengaruh dalam kehidupannya sampai dewasa atau tua.
Aku menemukan juga majalah lawas dan bersejarah di Indonesia: Si Kuncung. Majalah itu masih bisa ditemukan bagi yang beruntung atau melek sejarah. Artinya, majalah yang akan membuka masa lalu dan mengisahkan keaksaraan di Indonesia dalam masa kekuasaan Soekarno dilanjutkan masa kekuasaan Soeharto. Majalah yang legendaris. Aku berhasil mengoleksi ratusan edisi. Jumat yang penuh berkah itu aku membeli lagi Si Kuncung.
Yang cukup menggoda adalah Si Kuncung nomor 43, 1983. Di sampul, tampak gambar para petani. Ada yang mencangkul dan membajak bareng kerbau. Aku kangen kerbau meski aku mulai jarang melihatnya. Dulu, tetangga-tetanggaku ada yang memelihara kerbau. Pada saat traktor-traktor masuk desa dan berdatangan ke sawah, kerbau-kerbau itu lekas menjadi nostalgia.

Gambar para petani dan sawah itu sesuai impian-impian besar rezim Prabowo-Gibran yang menghendaki swasembada pangan. Gambar yang sederhana dan berwarna. Aku memberi pujian tapi sadar nasib para petani. Pada saat masih kecil, aku sering bermain di sawah sambil menggembala kambing. Selingan yang menggembirakan adalah naik kerbau yang dibawa teman. Peristiwa yang seru: turun ke sungai memandikan kerbau.
Aku menemukan puisi-puisi dalam halaman-halaman Si Kuncung. Namun, yang terpenting adalah pemuatan cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai Pancasila. Sejak dulu, Si Kuncung menjadi majalah yang mengajak anak-anak di Indonesia makin gandrung Pancasila, sebelum ada BPIP atau kurikulum yang diadakan NM dengan pengistimewaan Pancasila.
Siang tetap menghasilkan keringat dan lelah. Aku memang bergairah membaca majalah-majalah lawas tapi lelah tidak bisa dilawan. Di kios, terdengar lagu-lagu Iwan Fals, yang membuatku bersemangat untuk memilih lagi majalah-majalah. Belasan majalah Putera Kita aku beli untuk melengkapi sumber penafsiran puisi anak-anak, dari masa ke masa.
Di tanganku, majalah Putera Kita yang menampilkan gambar anak-anak sedang bermain gembira. Mereka bermain di alam, bersama pohon-pohon. Konon, anak-anak sekarang sering berada di ruangan: sekolah dan rumah. Bermain di alam terbuka itu menyenangkan.
Di majalah Putera Kita, 25 Juli 1988, aku membaca puisi berjudul “Kebebasan dan Kebahagiaan” yang ditulis Ema. Puisi yang berisi gugatan dan rapatan. Aku membacanya sambil mengenang dunia-batin anak-anak. Yang ditulis: Keadaan membuatku bosan bersekolah/ Apalagi bila nilaiku buruk/ Kubayangkan zaman yang semakin kacau/ Masa depan yang cerah semakin menjauh dari kita/ Dapatkah aku dapatkan kegemilangan di masa depan? Puisi yang mungkin menjadi “kritik” atau “noda” dalam mimpi-mimpi pembangunan nasional yang dibesarkan oleh Soeharto. Seingatku, belajar di sekolah itu membosankan. Aku ikut mengalaminya: pernah mendapat nilai buruk dan pernah tidak naik kelas.

Majalah-majalah masuk kresek lorek. Aku membawanya pulang dengan sepeda motor yang tidak mau diajak ngebut. Perjalanan pulang: melintasi Alun-Alun Utara, Pasar Klewer, Singosaren, dan akhirnya menuju Colomadu. Di pinggiran Solo, hujan pun turun. Majalah-majalah itu mendapat air dari atas dan cipratan dari bawah. Selama di jalan, aku sudah sedih jika majalah-majalah basah. Sore, aku berhasil tiba di rumah. Majalah-majalah dikeluarkan dari kresek. Selamat dari air.
Jumat yang tetap berkah. Aku yang akan bergirang dengan puisi-puisi dalam belasan majalah lama, yang tiba di rumahku setelah mendapat sinar matahari dan guyuran hujan. I Kabut
