
Rumah bukan dihuni manusia saja. Di rumah, adanya meja, kursi, atau lemari itu sewajarnya. Yang istimewa adalah buku-buku menghuni rumah. Buku yang dimaksud bukan buku pelajaran. Jika mendesak, buku-buku pelajaran mendingan dikeluarkan dengan alasan dijual kepada tukang rongsok keliling. Yang tetap menaruh buku-buku pelajaran di rumah mungkin orang yang bijak atau pemuja pendidikan-pengajaran.
Aku sedang berpikiran buku dan rumah. Sejak lama, aku menulis esai-esai bertema rumah. Kini, aku agak kecewa dengan tulisan-tulisan yang tidak bermutu. Ada tulisan yang tampaknya mengandung kengawuran. Yang membuatku tidak terlalu kecewa, tulisan-tulisan itu hanya dibaca sedikit orang. aku mengerti bila mutu tulisanku setinggi tanaman krokot.
Selama belasan tahun, aku juga menulis esai-esai mengenai buku. Namun, aku pastikan belum ada tulisan yang terpenting. Aku selalu menganggapnya sekadar hadir untuk lenyap.
Kini, aku ingin menulis lagi tentang rumah dan buku. Tema yang digabungkan untuk menambahi daftar tulisan tidak bermutu sepanjang hidupku. Yang membuatku tergoda menulis: buku-buku tipis yang dijual pedagang di media sosial.
Sabtu, 2 November 2024, tampak di mata: 8 novel “Bunga”. Pedagang memberi harga yang murah. Aku pernah mengetahui iklan novel Bunga di majalah lawas. Iklan yang mengesankan untuk para pembaca masa lalu. Delapan novel yang selama beberapa jam tanpa peminat. Aku memesannya dengan penjelasan 2-3 hari dapat transfer. Terjadilah jual-beli tanpa repot! Beberapa hari selanjutnya, bungkusan buku sampai di rumah.
Buku-buku tipis tidak dijilid lem tapi kawat. Penampilan yang sudah ditentukan coraknya. Yang melihat mudah mengetahui kekhasan terbitan “Bunga”. Sampul depan menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang mengingatkan kehadirannya di halaman-halaman majalah. Beberapa penulis “Bunga” memang sering menulis cerita pendek, novelet, atau cerita bersambung di pelbagai majalah.
Di rumah, aku merasakan kedatangan masa lalu saat buku-buku itu datang. Masa lalu yang tidak terlalu jauh. Masa lalu yang mungkin tidak lagi tercatat dalam arus kesusastraan di Indonesia.
Delapan buku yang cepat membuatku akrab dengan industri novel masa 1980-an. Aku tidak bisa meniru siasat pengamatan yang dilakukan Jakob Sumardjo atau Sapardi Djoko Damono. Pengamatan terbitnya novel-novel yang dicap remeh atau tidak bertaraf serius. Aku tidak ingin memasalahkan dengan bertele-tele menggunakan argumentasi-argumentasi akademik. Yang dimunculkan adalah menghormati novel-novel. Pada masa lalu, para penulisnya berpahala, penerbit mengerti untung, dan kemunculan para pembaca yang ketagihan.
Enam nama penulis seri “Bunga” aku mengenalinya. Aku sudah membaca beberapa novelnya. Nama-nama yang dulu tenar dan berpengaruh: Marga T, Marianne Katoppo, Dwianto Setyawan, Wildan Yatim, Kembangmanggis, dan Nina Pane Budiarto. Nama yang belum aku akrabi: AG Barnas.

Yang teringat para pembaca: Marianne Katoppo menulis novel berjudul Raumanen. Novel yang mendapat penghargaan-penghargaan. Pada masa 1980-an, ia “sempat” mendapatkan pujian para pembaca melalui novel seri “Bunga” yang berjudul Rumah di Atas Jembatan (1981). Novel yang tidak pernah atau jarang mendapat ulasan oleh para kritikus sastra. Novel yang tipis, yang tidak terjanjikan cetak ulang.
Aku membacanya dalam waktu puluhan menit. Pembaca di bawah pohon asem dekat SMA Negeri 7 Solo. Pagi, aku membaca saat matahari tidak memberi kehangatan tapi gerah. Aku berlindung dari sinar matahari saat membuka halaman-halaman novel. Pembaca yang cukup apik mengenai adab keintelektualan, persahabatan, dan geografi. Novel dengan latar negara asing. Pada suatu saat, aku bisa menggunakan kutipan-kutipan dalam novel jika menulis esai bertema keintelektualan.

Selanjutnya, Kembangmanggis menulis dua novel: Tante Irma (1981) dan Nilai Sebuah Kepercayaan (1981). Nama yang unik. Beberapa tahun kemarin, buku-buku Kembangmanggis cetak ulang. Ada buku baru. Yang membedakan adalah buku-buku memuat ilustrasi yang memikat. Dua novel tipis seri “Bunga” itu tertinggal di masa lalu.

Nama yang aku sering membacanya di sampul buku-buku anak: Dwianto Setyawan. Kini, aku menghadapi novelnya yang dibaca oleh dewasa. Novel berjudul Rusti Panti (1981). Bagiku, Dwianto Setyawan pantas dinobatkan sebagai pengarang bermutu untuk bacaan anak dan remaja. Pada suatu masa, ia berhak mendapat penghargaan oleh pemerintah Jawa Timur, kementerian, Perpustakaan Nasional, atau universitas. Aku sudah mengoleksi dan menikmati 20-an judul yang dipersembahkan oleh Dwianto Setyawan. Buku-buku yang biasa dikenang para pembaca tentu terbitan Gramedia.
Nama yang mengingatkan pengarang lawas: Nina Pane Budiarto. Pastilah ia adalah keturunan dari pengarang lama yang menggunakan nama Pane. Nina Pane Budiarto biasa aku temukan dalam majalah-majalah wanita dan keluarga. Ia termasuk pengarang yang rajin. Beberapa bukunya diterbitkan oleh Gramedia. Di terbitan seri “Bunga”, ia menulis novel berjudul Mempelai Hari Tua (1982). Anehnya, namanya jarang teringat para peminat novel di Indonesia bila mencari silsilah pengarang.

Wildan Yatim, nama tercatat dan sastra dan sains. Yang sering dibaca publik adalah novel berjudul Pergolakan. Novel yang mengisahkan gejolak keagamaan. Novel yang dijadikan halaman-halaman mengisahkan flora dan fauna. Dulu, novel itu meraih penghargaan. Pada awalnya, novel diterbitkan Pustaka Jaya. Selanjutnya, novel diterbitkan Grasindo, yang diharapkan dapat menjadi bacaan murid-murid di seantero Indonesia. Pengarang itu turut menulis dalam seri “Bunga”. Yang ditulisnya berjudul Mengarung Badai (1981). Novel yang luput dari tepuk tangan sastra.
Nama yang wajib teringat dan dihormati: Marga T. Nama yang ikut membesarkan penerbit Gramedia. Nama yang lekas muncul bagi para penonton film berjudul Badai Pasti Berlalu atau Karmila. Di Indonesia, ia diakui pengarang berpengaruh dan digemari sepanjang masa. Gramedia biasa mengadakan cetak ulang untuk novel-novel Marga T. Penampilan sampul berubah, yang menjanjikan pantas menjadi koleksi.
Yang aku hadapi dalam seri “Bunga” adalah novel berjudul Sembilu Bermata Dua (1982). Sembilu justru mengingatkan lagu yang dibawakan Ella. Lagu asmara picisan, yang dulu aku dengarkan saat remaja. Novel dan lagu itu berbeda. Marga T, pengarang yang menjadi jaminan mutu. Namun, aku sering mengabarkan kepada teman-teman bila Marga T pernah menulis novel anak untuk sayembara. Novelnya menang dan diterbitkan Balai Pustaka.
Pengarang yang aku belum akrab: AG Barnas. Ia menulis novel berjudul Istriku Belahan Jiwaku (1982). Aku belum ingin segera membacanya. Aku sekadar memegang dan membuka halaman-halamannya. Pada suatu hari, aku mungkin memerlukannya jika menulis seri esai bertema pernikahan.
Novel-novel seri “Bunga” dulu dijual dengan harga 400 rupiah dan 500 rupiah. Terbit rutin oleh Gramedia bagi para pembaca yang ingin ketagihan atau fanatik. Seri novel yang pernah menjadi unggulan Gramedia. Dulu, novel diterbitkan sebulan sekali, setiap Kamis pertama. Aku tidak mengetahui jumlah judul novel yang berhasil diterbitkan Gramedia.
Yang dijanjikan adalah seri novel “Bunga” untuk orang tercinta karena cinta adalah bunga yang selalu setia menghiasi meja rumah tangga. Novel-novel yang diterbitkan untuk para ibu. Bacaan yang dimaksudkan dinikmati dalam waktu senggang di rumah. Sodoran cerita-cerita di sela kesibukan mengurusi pekerjaan-pekerjaan di rumah.
Pada suatu hari, aku ingin mencari dan membeli untuk judul-judul lain. Aku ingin merasakan pikat bacaan masa 1980-an. Dulu, para pembaca sering wanita. Kini, aku menjadi pembacanya mumpung sebagai bapak rumah tangga. Kabut
