Puisi

Puisi Khairuz Zaman NT

Sandal

Dulu, ibuku berkata

Anak kecil tidak boleh membawa sandal

Jika hendak bermain keluar

Takut hilang dan tertinggal

Kecuali ke madrasah dan langgar.

“Sandal hanya untuk perjalanan jauh

Melewati aspal dan terjal

Supaya kakimu bisa tahan

Menginjak rindu di tanah orang.

Sekarang aku paham

Juga lebih butuh banyak sandal

Ketika hidup mulai licin dan berliku

Pada takdir yang berbatu.

Aku tahu mengapa kakak dulu

Banyak mengoleksi sandal:

Ia harus menyesuaikan kenyataan

Dengan kaki yang mulai enggan berjalan.

Dan aku lebih suka sandal tebal

Ketika tak ada lagi tangan ibu ‘tuk dipegang.

Sandal adalah sepasang alas

Bagi kaki yang tak pernah tidur pulas.

Annuqayah, 2023


Kayu Bakar

Karena merindukan abu

Dapur menjadi ibu

Dengan tangan iba

Memungut kayu-kayu.

Sejak rintik pertama,

Mata wadung dibasuh

Di tubuh kayu yang mulai basah

Dan aku mulai membaca urat kayu

Sebagai surat yang ditulis hujan kepada akar.

Sebab ranting tak pernah mampu

Mematangkan lapar dan senyum ibu

Dalam tungku tak ada yang abadi

Kayu hanya akan menjadi abu

Dan kembali ke rahim waktu.

Sedang aku adalah iba di mata ibu

Yang tiba-tiba tabu untuk menjadi kayu

:hangus terbakar, arang padam dikubur kabar.

Annuqayah, 2023


Nirsampah

Aku tak pernah tahu

Seorang teman yang berangkat

Di awal sya’ban

Akan pulang dengan tangan

Tak berdebu

Yang aku tahu,

Ia selalu

Menyapu masa lalu

Halaman yang menyimpan

Kesedihan daun-daun

Dan mengekalkan bau dapur

Di Panggung Harjo

Kaki ramadhan mengantarku

Menjemput mimpi kiai

Menyambut senyum bumi

Di sinilah, hidungku

Hidung seorang santri

Tak mencium bau

Mulut dan perut

Manusia

Di laboratorium itu

Mesin-mesin menjerit

Menguliti nasib

Mencacah dan dipilah

Dengan doa-doa Khalifah

Matahari jatuh di mesin pemusnah

“akankah kita mereplika mereka?”

Tetapi, sampah adalah santri

Dipasrahkan sepenuhnya oleh wali

Dan tak maujud satu pun alat

Untuk mengasuh dan merawat

Kemudian,

Di Kemisan

Tong rongsok

Mengelas karat

Tang karet

Lehernya diikat

Dengan teriak panjang

Kelamin tumbuh

Dan kran kencing

Ke dalam botol

Muasal musim lebat

Meski di bawah ketiak

Kemarau

Aku tak pernah tahu

Sebuah kampung yang diapit Panggung

Krapyak dan Arca Yoni

Menetaskan darah nifasnya

Di ujung sebuah pulau

Bertabur garam

Yang aku tahu

Seorang lurah datang

Pada malam tanpa

Kur badar

Nyanyi-nyanyian

Dan penyambutan

Ia hanya menanam himmah

Nirsampah

Dan menitipkan qaul

“teknologi mesin adalah jalan terakhir”

Annuqayah, 2023


Polisi yang Lain

Di jalan Panti Rapih, pukul delapan lewat delapan

Seorang pemuda menyetop motor

Berplat nomor mati:

Remaja solo

Mahasiswi gajah Mada

Berhenti dengan degup kesal aneh

Di jalan Sabirin, jam mogok

Mata macet

Bunga Flamboyan

Kuntum Delonix regia

Memekarkan netra

Di sepanjang jalan kota

Di jalan itu

Polisi tak ada

Hanya sepasang manusia

Saling memenjara tatapan

Dan memborgol masa depan

Sebuah jalan tanpa waktu

Tanpa rambu

Mengantarku kepadamu.

Annuqayah, 2023


Borgol

Cincin ini adalah borgol

Yang dipasangkan Tuhan

Di jemariku-jemarimu

Saat kita tertangkap basah memanjat doa

Dan saling bertukar fatihah

Masih lekat dalam ingatan,

Malam-malam aku memasuki rumah-Nya

Seraya diam-diam mencuri rida.

Sementara, kau mencari kunci

Di bawah rak mimpi ibu

Untuk membuka kepala bapak.

Adakah ia akan menggandengkan tangan kita

Hingga Tuhan kehilangan cara melepaskannya

Atau ia hanya seutas tali pengikat kayu

Yang dikumpulkan hanya untuk menjadi abu.

Siapa pun –termasuk kita—ingin

Memasuki liang itu

Mengerami janji yang tertulis

Di langit-langit azali.

Annuqayah, 2024


Sebatang Kayu

; sapardi djoko damono

Aku ingin hidup sebagai sebatang kayu

Setia mengabdi pada tungku

Meski ia tahu

Pada akhirnya akan menjadi abu.

Aku ingin mati sebagai sebatang kayu

Sabar ditebang menjadi lembar buku

Meski ia tahu

Pada akhirnya tak pernah subur ditulis waktu.

Aku ingin tetap sebagai sebatang kayu

Meski hidup menjadi payung

Dan mati tak ada berkabung.

Annuqayah, 2023


Khairuz Zaman NT, kelahiran Sumenep, 24 Pebruari. Santri PP. Annuqayah daerah lubangsa, aktif di Sanggar Andalas dan Padepokan Salak.

Cerpen

Urusan Kita Belum Selesai

Cerpen Yeni Kartikasari

Sebenarnya, di mana Jon? Urusanku belum kelar. Ada banyak perkara yang ingin kubicarakan. Sekarang, aku sudah terkapar di sini, diliputi penyesalan setebal kabut yang menghalau pandangku. Secepat mungkin, aku harus bertemu dengannya.

“Jon!”

Di sekitarku, seperti kebanyakan orang yang tampak gamang, aku berusaha mencari Jon. Kuedar pandang ke segala penjuru—barangkali ia berada tak jauh dari sini. Tak lama, kabut berangsur naik, awan-awan tersibak memunculkan sengatan matahari. Setelah mataku berhasil melihat, di padang berpasir ini, mengapa wajah semua orang begitu aneh dan asing? Di antara mereka ada yang tak punya mata, mulut, dan telinga. Adapula tangan, kaki, dan kepalanya buntung.

“Jono! Temui aku, Jon! Aku temanmu! Aku…” Aku lupa nama dan aku tak kenal siapapun di sini. Semua orang tampak cacat dan buruk rupa. Begitu pun diriku. Walaupun, ragaku utuh, tapi kulitku sehitam arang.

“Muncullah, Jon! Kau di mana?”

Ketika aku melihat tubuh manusia setengah hewan, ragu apabila kusebut salah satu dari orang-orang yang berkepala anjing, babi, atau ular itu sebagai Jon. Seingatku dulu Jon pernah bilang bahwa orang yang selalu berbuat baik, tak akan mungkin dibangkitkan pada hari akhir dengan bentuk buruk. Aku sendiri tahu, Jon orang baik. Dulu, ia sering datang ke majelis ilmu dan selawat. Kepada siapapun, aku kerap melihat Jon memberi wejangan tentang pentingnya salat dan membaca kitab bagi seorang muslim.

Setelah kupikir, mustahil jika Jon berada di dekat sini. Aku berlari menerjang orang-orang di sekitarku sambil membawa keyakinan bahwa mungkin sekarang, Jon berada di suatu tempat bersama orang-orang yang semasa hidupnya takut dosa. Mungkin di ujung sana, Jon sedang bersama orang-orang yang tubuhnya utuh bercahaya dan tak merasa udara sepanas ini. Aku sangat yakin karena Jon memang orang baik. Aku ingin bersamanya. Semoga Jon masih mengenaliku.

“Tolong, Jon! Selamatkan aku!”

Lama tak ada jawaban, aku berhenti, lalu mencoba melihat tubuhku—keringatku terus mengalir. Tapi, aku masih bisa mengendalikan diri di tengah orang-orang yang sedang berguling-guling atau berlari menabrak satu sama lain. Oh Tuhan, apakah ini yang dimaksud Jon bahwa kelak manusia akan berterbangan seperti laron? Jika benar, seharusnya aku juga kebingungan dan lari tunggang-langgang mirip mereka.

Tentu aku berpikir seperti itu karena semasa di dunia, aku jarang beribadah dan bersedekah seperti Jon. Selain tak punya waktu dan tak punya banyak uang, aku malas berurusan dengan kegiatan agama, terlebih jika itu disaksikan banyak orang. Aku tak mau disebut-sebut alim, apabila sedang melakukan hal-hal baik, sementara apabila aku sedang mabuk, aku risih mendapat omongan buruk dari masyarakat.

Namun, jika memang aku sedang ingin beribadah dan bersedekah, aku lebih memilih sembunyi-sembunyi. Kata Jon, pahala tidak ditentukan dari banyaknya orang yang melihat. Aku setuju itu. Jika sempat, diam-diam aku menggelar sajadah di kamar—bersembayang sekhusyuk mungkin, meski aku tak benar-benar percaya Tuhan. Terkadang, juga kubuka kitab—membaca satu dua huruf arab yang bergandang-gandeng, kemudian kututup kembali lantaran tak tahan terbata-bata. Kalau lewat jalan raya, kerap kujatuhkan juga uang receh—harap-harap ada yang mengambil, walau itu cuma sedikit.

Hanya itu yang mampu kulakukan. Tak bisa dibandingkan dengan Jon yang celengan pahalanya begitu besar. Jon rajin beribadah, bersedekah, dan selalu berbuat baik. Aku ingat ia begitu mulia karena mau mengajakku datang ke majelis selawat. Untuk pertama kali dalam hidupku yang tidak terlalu menyenangkan ini, mencoba mendatangi acara itu, aku terpukau mendengar suara pemimpin selawat yang kelewat merdu. Orang itu bersyair panjang sambil menengadahkan tangannya dan mengajak penonton menirukannya. Berbeda dengan acara pengajian yang ceramahnya selalu membuatku mengantuk, aku justru ingin menangis memperhatikan semua orang serempak mengucapkan syair yang tidak bisa kuikuti. Kala itu, aku menoleh ke arah Jon. Jon menatapku tersenyum.

“Kau hapal semua?” tanyaku

“Tidaklah. Cuma beberapa.”

“Aku tidak tahu lagu-lagu, kecuali Ya Rasulallah.”

“Nanti juga tahu. Yang penting suatu saat bisa dapat payung nabi.”

“Payung nabi?”

“Ya. Orang yang suka selawat akan dapat payung nabi di hari akhir.”

“Meski aku pemabuk?”

“Meski kau pemabuk.”

Akhirnya, sebulan sekali, aku sering mengikuti Jon ke acara majelis selawat di kota-kota terdekat. Terkadang kami berangkat berdua, tapi lebih sering Jon membonceng teman perempuannya. Walaupun di depan panggung, tempat laki-laki dan perempuan dipisah, Jon lebih suka berbincang dengan teman perempuannya setelah acara selesai, sementara aku dibiarkan sendiri sampai kemudian kita bertemu lagi di kos. Di perjalanan pulang, aku sering mampir di angkringan untuk makan malam, atau jika benar-benar kesepian, aku nekat mlipir ke terminal membeli bir. Sebab aku belum bisa untuk tidak meneguknya sama sekali.

Sampai suatu kali, ketika aku benar-benar ingin bertanya perihal hukum membawa perempuan ke majelis selawat, padahal keduanya belum menikah, Jon justru bermuka masam dan menyerangku dengan pertanyaan beruntun.

“Apa salahnya? Kau tak suka? Kenapa kauurus hidup orang?”

“Loh, aku cuma tanya.”

“Aku ajak dia biar sama-sama masuk surga. Sama seperti aku ajak kamu. Malah sebelum aku nawarin kamu, dia udah sering ikut majelis dulu.”

“Kenapa kau marah?”

“Siapa yang marah?”

“Kau tak sadar dengan nada bicaramu?”

“Apa?”

Sejak kejadian itu, aku tak pernah mengikuti Jon ke majelis selawat. Namun, masih sempat beberapa kali aku bertanya kepada Jon, apakah manusia bisa menentukan dirinya masuk surga atau neraka. Mengingat jawaban Jon tak pernah memihak, untuk hari-hari berikutnya, ketika kami berpapasan di kos, kami hanya bertegur sapa seperlunya.

Mata Jon selalu nyalang menatapku. Ia selalu bertanya, “Apa?” Setiap kami bertemu. Aku memilih diam karena apa yang keluar dari mulutku dapat menjadi penyebab pertengkaran. Seperti, ketika jam tiga malam Jon baru pulang ke kos dengan leher merah-merah mirip gigitan serangga, aku yang pada saat itu bertanya, “Dari mana?” langsung disahut dengan kata-kata kotornya.

“Anjing! kenapa kauurus hidup orang!”

Kalimat itu cukup kuat melukai hatiku. Esoknya, aku pindah kos. Jelas aku marah. Tapi, aku tak bisa meluapkannya. Aku tahu setiap laki-laki memerlukan perempuan untuk menemani hidupnya.

Enam bulan setelah itu, kami lulus kuliah dan tak pernah bertemu lagi. Jon pulang ke kampung halamannya, sementara itu aku sudah berencana melanjutkan hidup bersama kekasihku. Usai menikah, istriku bilang bahwa aku harus memperbanyak selawat. Hal itu bukan supaya masuk surga, melainkan untuk mendapatkan syafaat. Aku tahu apa itu syafaat. Syafaat adalah sebuah pertolongan seperti payung nabi yang pernah Jon katakan.

Seiring istriku bicara bahwa di hari kebangkitan nanti, terdapat golongan yang tidak kepanasan, meskipun matahari setinggi satu mil di atas kepala, sebab seorang nabi telah memberikan payung terhadap umatnya, sontak aku teringat segala kebaikan Jon. Jon adalah orang pertama yang mengenalkanku pada dunia majelis selawat. Aku menduga, kelak Jon pasti menjadi salah satu orang yang mendapatkan syafaat. Maka, alangkah buruk bagiku, jika aku menjauhinya dan tak pernah meminta maaf kepadanya. Aku ingin bertemu Jon.

“Azka?” suara lembut itu masuk ke telingaku. Ya, Azka adalah namaku. Siapa yang membisikkannya?” Kini ingatanku terpecah-pecah. Aku tak sadar sudah berlari sejauh mana. Kakiku keram. Aku melihat tubuhku—semuanya tetap hitam. Mulai kurasakan mulutku berbicara, tetapi aku benar-benar tak menggerakannya.

Jon! Teriakku dalam batin. Belum sempat aku menyusun ingatan tentang apa yang terjadi dalam hidupku, aku dikejutkan oleh manusia berbadan ular yang menggelepar di tanah. Manusia setengah ular itu semakin mendekatiku dan dalam sekejap ia melilit tubuhku. Aku takut. Namun, aku bisa cepat melepaskan diri, lari tunggang-langgang melewati orang-orang, seolah-olah aku dapat menembus mereka.

Beberapa saat, aku tidak tahu mengapa aku berhenti di tempat yang tak lagi berhawa panas. Keringatku hilang. Seluruh badanku sejuk. Kupandang langit, tiada lagi matahari setinggi satu mil di atas kepala.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Puisi

Puisi Listio Wulan Nurmutaqin

Peta Yang Terhapus

                        :  Dari anak-anak Palestina

1/

Telah terhimpun berpuluh tahun

Luka belum cukup

                            Membebaskan

                             Mengikat mimpi-mimpi

                                Masa kecil kami

Debu membahasakan setiap bagian tubuh

                              Memanjangkan retaknya

Pada tulang-belulang

Berserak sepanjang jalan

                             Setelah kami diburu

                              Dirajam peluru 

Maut tertawa berloncat

                             Kegirangan

Dari satu puing runtuhan

Ke reruntuhan lain

                               Sambil terus berteriak

Pergilah dengan bara api ditangan!

Kemanakah kami harus pergi?

2/

Di sini, kami menggambar sebuah peta

                         Yang dicetak

                          Dari darah dan sejarah

Dada-dada rompal meletuskan

Serpihan tajam cahaya kata-kata

                              Menjelma rajah berisi

                            Dosa-dosa

                             Yang tak pernah kami buat

Di bawah matahari yang mekar

Rumah serta sekolah kami

                          Dibom dan dibakar

                          Langit penuh kembang api

Siang dan malam

Jam demi jam        

                      Kaki-kaki musuh

                      Menginjak leher dan jantung

                       Memotong pena dan jari-jari

Tapi kami akan terus menulis

                Dari darah dan sejarah

Menggambarkan rumah ke dalam sebuah peta

Barangkali, rumah adalah denah yang terhapus

Hancur terbawa angin sekejap embus

Mungkikah masih ada tanah yang bisa kami tinggali?

Selain dinding-dinding penuh lubang di sini?

2023


TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS DI SINI

Senin datang tergesa-gesa

Lembur tak pernah alpa

Kerja, kerja, kerja

Kenyataan menampar

Beraduk di kepala, pecah berpendar

Pagi ini Jakarta biasa-biasa saja di antara segala keruwetan

Serta permohonan cuti yang diabaikan

Atau teror bos menjelang deadline kerjaan

Atau teman yang ngajak nongkrong tiap akhir pekan

Atau beli iphone terbaru meski dengan cicilan

Atau hasrat hidup dengan cara fancy di kos-kosan

Sama dengan berhemat gila-gilaan

Bawa bekal telor dadar atau lanjut mi instan

Tidak ada perayaan

Tidak ada makan siang gratis di sini

Segalanya begitu pelik dan naik

Hanya sisa remah-remah impian

Di negara yang enjoy rebahan

2024


DAFTAR BELANJA

Di pasar, mimpi adalah daftar belanja

Terselip di kantong plastik hitam

Labu,wortel dan beberapa sayur pucat

Seperti cemas menyaru sekilo cabai rawit

Yang sering cilukba tiba-tiba

Hidup terasa lebih perih dari merica

Mengingat daftar lain yang tak boleh terlewat

Beli susu formula, bayar cicilan rumah, arisan tiap bulan

Selalu alpa disubsidi

—nyeri inflasi di dada

Berbagai toko mimpi berjejer sepanjang jalan,

Para penjual membawa papan harga dengan huruf besar-besar:

Hanya untuk hari ini

Kau mengantre paling pagi untuk membeli kebahagiaan

Dan kesehatan dengan harga paling

Mahal, agar tak kadaluarsa sepanjang zaman

Setengah kilo harapan dan beberapa ikat kepastian

Sudah diskon habis-habisan, kau tahu: ada harga lain yang harus dibayar untuk sebuah kepastian

2024


MENCICIPI PUISI (1)

Setelah menyantap kesepian

Yang menyedihkan

Mencecap pedasnya hidup

Asin kangen dan gurih kenangan

Kau bepikir untuk memasak banyak puisi

Dengan banyak bahan

Majas -majas segar berwarna cerah

Diksi dan irama 

Yang diolah sepenuh hati

Dicampur bumbu-bumbu kemungkinan

Membuat puisi kadang terlalu manis dan matang

Atau masih amis serupa kecemasan

Puisi tetaplah hidangan terbaik

Yang ingin kau berikan

Dengan banyak rasa dan tafsir

Meski kau sadar

Baginya puisi seperti basi dan hambar

Cintamu telah siap saji

Bekasi, 2023


MENCICIPI PUISI (2)

Puisi adalah santapan 

Diksi-diksi kutumis

Di wajan perenungan yang lama

Dapur sedang membakar dirinya

Frasa-frasa matang dikupas kata

Bekas-bekas ingatan yang dilalui

Patah hati, mimpi-mimpi atau kecewa

-Bercampur

Menjadi santapan sedikit asin atau pedas

Kering atau berkuah

Biarkan kenangan menentukan rasanya

Bekasi, 2023


Listio Wulan Nurmutaqin. Kelahiran Brebes yang kini tinggal di Bekasi. Beberapa karyanya terbit di media cetak dan online. Buku puisi antalogi tunggalnya Tokoh Utama (sastranomina). Bergiat di Kelas puisi Bekasi ( KPB ).

Cerpen

Rahasia Mimpi Kastawa

Cerpen Y Agusta Akhir

Saat masih sama-sama bocah ingusan, kami sering mengoloknya dan memanggilnya si Pembual. Itu karena ia sering bercerita tentang hal-hal aneh dan tak masuk akal. Misalnya ia bercerita kalau di rumahnya dijaga tiga makhluk berkepala ular atau kali lain ia mengaku bertemu dengan tuyul dan bicara dengannya. Di hari lain ia mengaku melihat peri terbang di udara mirip layang-layang. Tentu kami percaya tentang adanya hantu atau jin atau setan. Makhluk tak kasat mata. Tetapi kami tak percaya Kastawa memiliki indera keenam.

Sekitar dua bulan lalu, tanpa sengaja aku bertemu dengannya dan ia mengatakan kalau sedang merasa gelisah. Aku bertanya mengapa, dan ia bercerita perihal mimpinya dan kematian-kematian karenanya. Aku memperhatikan wajahnya sepanjang ia bercerita, dan aku tak menemukan jejak bualan di sana. Ia bicara sangat yakin, polos dan aku tak mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Wajah kanak-kanaknya saat menceritakan seputar makhluk astral melintas di benak, dan memang tak seperti orang yang sedang berbohong.

“Ini rahasia,” katanya, “aku belum pernah bercerita kepada siapa pun. Aku takut orang-orang akan salah paham dan berakibat buruk padaku!”

“Tapi kenapa kau menceritakannya kepadaku?” aku iseng bertanya.

“Karena kau bisa menjaga rahasia. Aku percaya padamu. Dan aku tak mungkin memendamnya sendiri. Kau tahu, aku merasa bersalah. Mimpi begitu, menyiksaku alih-alih aku menikmatinya!”

Sebenarnya kurang tepat kalau aku dikatakan bisa memendam rahasia. Yang benar adalah aku orang yang lebih banyak diam, dan selebihnya aku hanya tak memercayainya. Lalu, untuk apa aku mengatakan kepada orang-orang kalau Kastawa, melalui mimpinya, bisa mengetahui akan ada yang meninggal di kampung ini?  

Aku mencoba memahaminya. Tetapi sejujurnya aku merasa apa yang diceritakannya adalah sesuatu yang konyol. Aku tidak menyangka kalau ia masih suka bercerita hal-hal yang tak masuk akal. Sudah mendekati kepala empat. Rupanya itulah watak yang tak bisa berubah.

“Aku ingin hal itu tak lagi terjadi padaku. Kalau memang aku harus mimpi, jangan ada yang mati!”

Aku mengangguk-anggukan kepala, supaya ia menyangka aku mengerti dan merespon apa yang dikatakannya. 

“Barangkali itu suatu kebetulan,” kataku, yang sebenarnya tidak begitu sungguh-sungguh mengucapkannya.

“Tadinya aku juga berpikir begitu. Tetapi setelah berkali-kali aku mengalami mimpi basah, esok atau lusanya ada yang mati. Selalu begitu. Rasanya tak mungkin kalau kebetulan belaka!”

Ia, kemudian dengan serius menyebutkan beberapa tetangga yang meninggal dan itu semua ditandai dengan mimpinya itu. Ia bilang tak tahu pasti siapa yang bakal dijemput maut. Hanya saja, sesaat setelah mimpi basah, ia seperti melihat ada gumpalan asap melayang-layang di udara, lalu masuk ke dalam rumah. Salah satu penghuni rumah itulah nanti yang akan meninggal.

“Tetapi aku tak bisa menebak, siapa dia!”

Aku berpikir, seandainya itu benar, ngeri juga mimpinya itu. Tetapi aku lebih suka menganggapnya sudah gila.

“Gan, kalau nanti aku mimpi basah, aku akan kabarkan kepadamu. Dan kau akan tahu, bakal ada yang meninggal!”

Aku tidak mengiyakannya. Aku hanya tersenyum dan menatap kedua matanya. Sepertinya ia tidak gila.  

Kastawa sempat bertanya kabar adik perempuanku, yang pernah ditaksirnya, ketika kami masih di masa-masa sekolah dulu. Aku jawab baik-baik saja, dan mencandai dia dengan bertanya apakah masih naksir adkikku, tetapi Kastawa hanya tertawa.

Sebelum berpisah, mendadak wajahnya tampak serius dan berkata, “Gan, kuharap kau berhenti. Carilah pekerjaan baik-baik!”

Ucapannya membuatku tersentak. Aku tahu maksudnya. Kupikir mungkin ada teman yang memberitahunya perihal ‘pekerjaanku’ selama ini. Apalagi, aku pernah tertangkap dan dipenjara. Barangkali pula ia sudah mendengarnya. Aku memang seorang pengedar, namun aku sudah memutuskan ingin berhenti. Untuk itulah aku pulang dan tak akan kembali ke ibu kota. Di sana, rasanya tak mungkin bisa kembali ke jalan yang benar. Aku sudah bertekad akan kerja baik-baik. Aku ingin hidup tenang bersama keluargaku. Keluar dari lingkaran setan. Tak ingin lagi berhubungan dengan barang haram itu. Capek jadi buronan polisi.

“Tentu saja, kawan!” sambil tersenyum aku mengucapkan itu, lalu kami berpisah.

***

Sejak pertemuan itu, di hari-hari selanjutnya kami masih bertemu lagi beberapa kali dan ia tak menyinggung perihal mimpinya yang ia sebut sebagai penanda kematian itu. Dan selama itu pula memang tak ada yang meninggal. Tetapi dua hari lalu ia datang ke rumah hanya untuk mengatakan kalau dirinya sudah mimpi basah.

“Besok atau lusa, pasti ada yang meninggal!” katanya sangat yakin.

Sampai detik itu aku masih belum bisa memercayainya. Tetapi ketika esok harinya ada yang meninggal, aku mulai ragu. Ia kembali datang untuk menegaskan kebenarannya. Aku katakan padanya kalau butuh dua atau tiga kali bukti, sehingga aku bisa percaya tentang mimpinya yang bisa menandai adanya kematian itu. Setidaknya aku tak akan lagi berpikir itu suatu kebetulan belaka. Aku juga menambahkan, tepatnya menawarkan padanya untuk bertaruh.

Tetapi ia menolaknya.

“Sebenarnya, kalau kamu tak percaya padaku, tak apa. Aku sendiri ingin lepas dari semua ini. Seperti yang kukatakan, aku justru tersiksa!”

“Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang berjanji!” kataku, tak peduli dengan omongannya barusan.

“Terserah kau saja,” katanya.

Aku berjanji, kalau memang setelah ia mimpi basah dan kemudian ada yang meninggal esok pagi atau lusanya, maka pertama, aku akan memercayai bahwa memang mimpinya jadi penanda bakal ada yang meninggal. Kedua, aku akan membujuk adikku agar menerima cintanya.

“Itu kalau kamu masih naksir adikku. Semua kawan kita sudah menikah. Kenapa kamu masih membujang saja?”

Barangkali gagasan itu, walaupun aku tak sungguh-sungguh, dan sama tak masuk akalnya dengan mimpinya. Tetapi ia tak menanggapi. Hanya tersenyum. Senyum yang tak bisa kutebak apa artinya.

“Akan kuberitahu lagi kalau nanti aku bermimpi!”.

Tiga bulan berlalu, dan aku tak mendengar ada kematian di sini, seolah kematian benar-benar ditentukan oleh mimpi Kastawa. Padahal, ada beberapa tetangga yang sudah uzur dan sebagian tampak sakit-sakitan. Ada pula yang sudah bertahun-tahun hanya terbaring di ambin. Kupikir karena memang takdirnya mereka masih diberi kesempatan untuk hidup. 

Sial, aku jadi memikirkan apa yang dikatakannya. Tentang kebenaran mimpi senggama dan adanya kematian setelahnya. Bagaimana kalau ternyata apa yang dikatakannya itu benar? Bagaimana kalau selama ini, Kastawa memang benar-benar bisa melihat hantu atau alam ghaib? Ah, seandainya dia memang bisa melihat alam ghaib, memang apa masalahnya? Mungkin malah ia bisa menolongku, misalnya aku harus bagaimana atau melakukan apa supaya bisa memperbaiki nasib.

***

Akhirnya, pada suatu sore ia datang menemuiku. Agaknya ia tampak tidak sedang baik-baik saja. Wajahnya seperti tak memiliki cahaya. Mungkin sedang sakit atau sedang bersedih hati. Aku bertanya apakah sedang ada masalah, tetapi ia bilang tidak ada. Aku juga bertanya apakah ia sedang sakit dan ia menjawab sehat-sehat saja. Lalu ia hanya berkata pendek dan pelan.

“Semalam aku mimpi basah!”

Aku kaget mendengarnya. Aku tidak tahu mengapa kaget. Padahal, menurutku aku tak perlu bereaksi seperti itu. Toh, aku belum sepenuhnya memercayai soal mimpinya yang berhubungan dengan kematian itu. Lagi pula, aku juga sudah tahu kalau ia datang akan mengabarkan bahwa dirinya sudah mimpi basah.

“Siapa yang bakal dijemput ajal?” aku setengah berkelakar.

“Aku tidak tahu. Tapi pasti akan ada yang mati. Besok atau lusa!” ia berkata dengan suara sangat pelan, mirip orang sedang sakit sariawan atau radang tenggorokan.

Hanya begitu saja. Ia lalu pamit pergi. Aku tidak bertanya ia hendak kemana. Mungkin pulang.

Sekarang, aku tinggal menunggu saja, apakah benar akan ada yang mati besok atau lusa, sebagaimana yang tadi dikatakannya. Aku berharap akulah yang benar. Tak ada kematian di kampung ini entah besok atau lusa. Kuharap tak ada yang berduka, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Dan esoknya memang tak ada berita duka di kampung ini. Tak ada pengumuman yang disampaikan lewat corong masjid perihal ada yang meninggal. Tak ada pula bendera penanda ada lelayu. Aku cukup senang. Aku masih berharap besok juga demikian.

Sampai pada hari berikutnya, sesaat sebelum matahari terbit, aku melihat Kastawa kembali ke rumahku. Wajahnya masih seperti yang kemarin. Pucat. Mirip orang sakit atau sedang bersedih. Ibuku, dengan wajah yang masih bersaput duka menyambutnya.   

Kastawa memeluk ibu. Keduanya berurai air mata. Keduanya tampak akrab, padahal mereka sesekali saja bertemu. Dan ketika saling melepas pelukan dan bersitatap, mereka kembali bercakap, dan samar aku mendengar ibu berkata.

“Apakah Gandi ada hutang padamu, Nak?”

Kastawa diam sejenak. Ia tampak ragu, tetapi kemudian menjawab, “Hanya sebuah janji. Tetapi tak perlu ibu tanggapi serius!”

Kastawa lalu kembali memeluk ibu. Dan aku mendengar apa yang dibisikkan Kastawa kepada ibu. Rupanya Kastawa bilang kalau aku berjanji membujuk adikku agar menyukai Kastawa. Aku melihat ibu tersenyum samar, mengangguk pelan. Kemudian berpaling pada adikku yang sedang bersimpuh, dan menangis di dekat jasadku. Lalu aku mendengar orang bercakap-cakap, “Kejadiannya dini hari tadi. Ada yang mengejarnya. Barangkali intel. Lalu menembaknya!”***


Y Agusta Akhir menulis puisi, cerpen, dan novel. Beberapa karya pernah dimuat di media baik lokal maupun nasional. Novel pertamanya, Requiem Musim Gugur (Grasindo, 2013). Novel Kita Tak Pernah Tahu ke manakah Burung-burung Itu Terbang terpilih sebagai pemenang ketiga sayembara Novel yang diadakan Penerbit UNSA Press tahun 2017. Novel Seperti Lidah Api Menjilati Bulan di Langit (Lakheisa, 2022) mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2022.

Puisi

Puis M.Z. Billal

PAGI

Aku berbisik kepada arthur rimbaud ketika

melihat keluarga kecil – tetanggaku – bertengkar lagi

pukul setengah tujuh pagi di beranda. gadis kembar mereka yang baru

belajar berjalan masih sebagai saksi. takut, sendu, dan tidak tahu.

pasangan itu saling menuding; ingin bercerai tepat ketika

angin menggugurkan daun angsana dan mengecup

kuntum-kuntum marigold yang hendak mekar.

mereka baru berhenti saling memaki dan ambil langkah menjauh

ketika aku pura-pura tidak melihat peperangan itu.

terakhir si wanita meneriaki suaminya: aku tidak butuh cintamu lagi!

“cinta adalah kebiasaan, arthur. dan kebiasaan itu tampaknya sudah berakhir di sana.”

2023


JELANG TENGAH HARI; 10.40

Dari jendela lantai 3 perpustakaan ini, aku melihatnya

lagi. jalan sudirman selalu sejuk dipandang. pepohonan seperti

raksasa penjaga. dan langkah kakinya mengirimkan getaran

lembut sampai ke dalam dadaku. empat jam perjalanan sampai ke sini.

aku memasuki semusim di neraka. lalu ia duduk, tersenyum dan membacakan

sepotong puisi asing tiba-tiba di hadapanku.

You  who have suffered, find where love hides.

Give. Share. Lose. Lest we all die unbloomed.

aku tahu ia mencuri Ginsberg. langsung tertawa cekikikan, seperti biasa.

“otakmu adalah perpustakaan. aku penasaran buku apa yang belum selesai kau baca?”

aku tak bisa mengatakannya; bahwa kau adalah buku favoritku yang belum tuntas.

kau halaman-halaman yang tidak bisa kutinggal begitu saja. aku ingin

sukarela terperangkap di dalam ceritamu, selagi ada waktu.

dan saat kau beranjak mengambil buku di rak, aku berbisik lagi

kepada arthur rimbaud.

“cinta adalah deretan buku di rak perpustakaan umum, arthur. dan di sini dua penulis sedang kasmaran.”

2023


MATAHARI PERLAHAN CONDONG KE BARAT

Aku berbisik lagi kepada arthur rimbaud. kali ini sangat serius.

tiga hal penting telah terjadi di sini. dalam waktu berurutan.

pertama, aku melihat bocah pemulung memberikan sebungkus nasi

kepada sepasang manula difabel yang saling setia; si wanita

bisu dan tuli sementara si pria hanya memiliki kaki kiri.

itu terjadi tepat di depan sebuah resto yang menjual makanan asing

lalu seorang pelayan bertampang sinis menyuruh mereka pergi.

kedua, aku melihat jalan kota berubah jadi buntu.

ratusan mahasiswa berarak seperti semut marah

menuju gedung pemerintah daerah sambil berteriak.

api yang membakar ban adalah amuk bisu yang melahap

segalanya. lalu kudengar salah seorang anak muda membaca

sebuah puisi milik Zawawi dengan lantang,

Dubur ayam yang mengeluarkan telur,

lebih mulia dari mulut intelektual yang menjanjikan telur.

ketiga, aku melihat warga pinggiran kota sedang mengamuk

pada sepasang muda mudi  usai tertangkap basah

bercinta di dalam semak dekat rumah ibadah. mereka

tak berkutik. nafsunya tak tersulut lagi seperti sebelumnya.

dan seorang dari mereka berkata keras sambil meludah:

kalau saling cinta jangan membakar diri di sini!

aku paham maksudnya

“cinta mengajarkan kebajikan dan rasa malu, arthur. ia kuat sekali menanggung segala jenis rasa sakit.”

2023


THE BEATLES, WAKTU PETANG

kudengar ia bersenandung; don’t need to be alone

no need to be alone. it’s real love, it’s real… yes, it’s real love, it’s real…

tapi tidak menatapku. lampu-lampu di sepanjang jalan

senja mencumbu matanya yang sipit. aku suka terbenam

di sana. kota ini akan jadi suvenir. tapi ketahuilah, arthur.

ini tidak baik. ini benar-benar tidak baik.

aku akan mengatakan untuk terakhir kali padanya.

“aku sudah sampai pada bagian akhir puisi. ia adalah bagian akhir puisi.”

barangkali kota ini akan gelap. hatiku akan gelap. jiwanya akan gelap.

2023


TOMBOL OFF – DI JALAN PULANG

aku berbisik lagi;

“cinta tidak konservatif, arthur. hidupku yang terikat adat. etnis ini mengalir di tubuhku.”

lalu kutekan tombol off di tubuh arthur rimbaud; alat perekam suaraku yang puitis dan setia.

mungkin tak akan pernah kunyalakan lagi.

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital serta sejumlah antologi nasional.

Puisi

Puisi Gandhang Kandhiridho

Tujuh Fragmen Penghabisan

1.

pada sebuah jalan tersembunyi

akhirnya kau temukan

dirimu yang sempat hilang

jalan yang mengarah ke tempat

dengan pintu yang terbuka

untuk kau masuki

tempat yang berisi percakapan-percakapan

silam yang berdebu untuk ditelusuri

kini menemukan kepingan utuh

kepingan wajah yang merekah

muncul terangkai satu persatu

peristiwa demi peristiwa menyembul

ke permukaan

dan kepekatan mulai terurai warnanya

sementara ruang kosong

tadinya penuh tanda tanya

kini kembali terisi

sekalipun itu tak cukup kuat

kalahkanmu dari rasa sunyi.

2024

2.

perlahan kepalaku mulai melupakan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama bercokol menghantuiku sepanjang malam dalam beberapa tahun belakangan ini.

aku tidak tahu ini gejala apa.

kata sebagian orang, ini pertanda baik, sekaligus dalam waktu bersamaan bisa jadi adalah pertanda buruk.

itu kata mereka, atau lebih tepatnya, konon.

namun satu hal, aku, tetap seperti biasa.

tidak merasa baik atau sebaliknya.

yang terjadi justru sikap apatisku atas sekelilingku, bahkan untuk diri sendiri semakin menjadi-jadi.

kupikir orang-orang akan melihat dengan kacamata tersebut.

tapi setelah kupikir-pikir lagi ini sama saja menyimpulkan secara konyol akan hal remeh-temeh.

maksudku, aku tidak perlu lagi menggubris anggapan mereka akan ini.

termasuk apa yang mereka sematkan padaku.

bisa dibilang, dalam derajat tertentu aku cenderung sepakat pada yang terakhir.

lucu, bukan?

dan menurutku ini sangat lucu.

aku lebih suka disebut seseorang yang lucu, atau orang yang suka melucu.

hanya saja tidak untuk orang lain.

2023

3.

terkadang aku merasa seperti seorang yang gemar menulis puisi panjang-panjang kepada kekasihnya.

namun ujung-ujungnya kalimat yang tertulis tidak bisa dibaca sama sekali.

aku tidak mengerti kenapa aku menuliskannya.

sementara pilihan untuk menekan tombol “berhenti” sangat terbuka lebar di depan mata.

bahkan kadangkala aku seperti seorang yang gemar mencipta sajak-sajak pendek yang ujung-ujungnya hanya didengar sekilas untuk akhirnya lesap pada ruang kealpaan.

aku tidak tahu kenapa kalimat-kalimat pendek itu tercetus di kepalaku berulang-kali.

seakan hanya bisa berhenti setelah mataku terpejam dalam pelukan mimpi.

sedangkan bisa saja aku menekan tombol “cukup” yang sebetulnya hanya berjarak hitungan senti.

tapi entah kenapa aku merasa itu tidak perlu.

paling tidak untuk sementara waktu.

2023

4.

setelah percakapan terakhir itu

kau hanya berbicara pada dirimu sendiri

angin berembus dingin

bayangan tubuh yang pergi

ruangan yang gelap

menyelimutimu dari kekalahan

setiap orang pernah kehilangan, paling tidak

sekali dalam hidup mereka.

dan bagian terburuk dari episode itu

adalah mencari cermin yang sama

melalui cermin yang lain

meskipun telah retak.

2024

5.

tak ada apa-apa di sini

tak ada tawa renyah

tak ada wajah polos

tak ada cerita-cerita yang patut dibanggakan

tak ada apa-apa

bahkan jika mungkin ada

tak lebih dari selubung

itu pun makin memudar

sisa rahasia dirimu

jadi apalagi? pergilah!

aku telah habis gairah

kepalaku dipenuhi sejarah

berisi suara-suara darimu

yang menjelma asing di telingaku.

2024

6.

hargailah setiap momentum.

sebab ia hanya datang sekali seumur hidupmu:

perjalanan, peristiwa, pelajaran,

orang-orang baru, orang-orang lama,

yang asing dan yang dikenal.

dalam satu kilasan di sebuah tikungan jalan,

atau di emperan pertokoan karena terjebak hujan,

atau di sebuah antrian ruang tunggu yang terkadang membuat kita gusar.

meskipun sekejap, hargailah.

sebab itu semua akan menjelma kenangan di arsip laci ingatan kita.

2023

7.

kenangan tak pernah bergerak maju.

ia selalu berhenti di belakang sana.

hidup tidak menuntutmu membawa seluruh kenangan itu di sini.

ia hanya menyediakan setangkup ruang kecil yang sesekali bisa dijenguk sebentar

untuk kemudian sebagai penanda bahwa peristiwa itu telah berlalu.

2023


Gandhang Kandhiridho, lahir dan berdomisili di Surakarta. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi. Buku puisi yang sudah terbit; Rahim Waktu (2021) & Separuh Wajahku Bulan (2023).

Cerpen

Kucing Hitam

Cerpen Septi Rusdiyana

Kepalaku berdenyut-denyut. Jantungku memompa darah begitu cepat. Tubuhku panas. Kurasa semakin lama semakin panas, berbarengan dengan pori-pori kulitku yang kian membesar. Aku berlari menuju kamar mandi, mengambil handuk, menggigitnya kuat. Sepertinya aku akan mati. Aku ingat, sebelum ini aku sempat bertemu dengan seorang perempuan saat hendak menceburkan diri ke sungai. “Lompatlah, maka jasadmu akan lenyap dimakan buaya,” ucapnya. Aku urung. Kupikir dengan terjun ke sana, aku akan mati tenggelam. Esok harinya jasadku mengambang dan ditemukan warga untuk dikubur secara layak. Jika ucapan perempuan itu benar, maka tubuhku akan hancur. Kematian yang jauh dari unsur keindahan.

Perempuan itu berlalu. Meletakkan karung di tanah, menghempaskan bokongnya di batu kali. Aku mengikuti. Duduk di sebelahnya. Terlihat ia merogoh sesuatu dari kantong kemeja lusuh, nihil. Berpindah ke celana jeans biru sobek, ada puntung rokok sisa separuh. Ia kebingungan mencari korek api. Aku mengambil sebungkus rokok yang masih tersegel dan pemantik dari dalam tas. Ia menerima uluranku dengan tersenyum. “Maaf, aku tidak pernah berterima kasih untuk sesuatu yang tak kuminta,” balas perempuan itu. Ia menyalakan puntung sisa miliknya sendiri. “Sebutlah keinginanmu. Anggap saja itu barter dengan sebungkus rokok berikut korek api darimu,” lanjutnya lagi.

Angin berembus dari utara, membawa aroma tak sedap menyeruak lubang hidungku. Kurasa baunya berasal dari tubuh perempuan itu. Kombinasi dari keringat mengering yang entah sudah berapa lama tak tersentuh air, ditambah dengan kencing dan kotoran manusia yang juga mengering. Aku berjingkat saat seekor kecoa terbang dari rambut gimbalnya. Membuatku lupa kalau sebelumnya hendak muntah. “Maaf,” kataku. Aku khawatir menyinggung perasaannya. Ia terlihat mengambil sesuatu dari karung kumal. Menyerahkan sebotol kecil berisi cairan keruh yang tinggal seperempatnya.

“Ambil dan pergilah!” perintah perempuan itu. Aku memperhatikan tangan dekil dengan kuku panjang menghitam penuh kotoran. Aku ragu. “Habiskan. Kamu akan menemukan jawaban dari kegelisahanmu. Ingatlah satu hal, jangan pernah menyakiti atau kamu tidak akan pernah selamat,” lanjutnya. Aku meraih botol itu tanpa berpikir lagi.

Rasa sakit yang terus bertambah membawaku kembali sadar. Perempuan itu mungkin telah meracuniku. Seharusnya aku tidak begitu mudah mempercayainya. Sial, kepalaku berdenyut kuat serasa hendak meledak. Aku menggigit handuk lebih keras untuk menahan teriakan. Tubuhku menghangat. Semakin lama, sakit itu berangsur pergi. Aku lemas, lalu tertidur.

Seseorang seperti sedang mengelus tubuhku. Nyaman sekali. Kalau bukan karena perutku meronta, rasanya aku urung membuka mata.

“Kamu pasti lapar. Makanlah.” Suara pria yang kukenal mengagetkanku. Suamiku benar-benar kurang ajar. Ia sudah tidak waras. Beraninya memberiku makanan kucing. Aku memandangnya marah. Aneh, aku hanya bisa mengeong. Semakin marah, eonganku semakin nyaring. Ada apa ini? Tunggu, kenapa suamiku terlihat sangat besar? Jangan-jangan cairan itu adalah ramuan memperkecil ukuran tubuh. Ini tidak benar. Aku diperalat. “Jangan marah. Aku tidak akan menyakitimu,” lanjut suamiku. Ia mengelus puncak kepalaku lembut. Seperti tersihir, aku akhirnya menghabiskan sekaleng makanan basah di hadapanku. Aku tidak bisa menahan diri untuk menjilat kedua tanganku saking nikmatnya. Oh, tidak. Aku berbulu. Tubuhku penuh bulu panjang berwarna hitam. Aku bahkan tidak memiliki tangan. Gegas aku berlari menuju kamar. Melompat naik ke meja rias. Aku syok melihat pantulan wujudku dari cermin. Aku seekor kucing.

***

Hampir tiga kali dua puluh empat jam aku menjadi kucing. Sepertinya aku mulai terbiasa, termasuk telah terbiasa menerima perlakuan lembut dari suamiku. Tak apa, setidaknya aku tahu suamiku cukup penyayang. Aku salah sangka selama ini. Ia berubah sejak menikah. Sebulan resmi menjadi suami istri, ia sama sekali belum menyentuhku. Lelah bekerja adalah alasan andalannya. Ia mengatakan akan menjamahku di waktu yang tepat dan istimewa. Aku menyesal kenapa harus kabur dari rumah seminggu lalu, hanya karena aku menginginkannya, namun tetap mendapat penolakan. Padahal, saat itu aku sudah berdandan sangat seksi. Aku merasa terhina. Seakan suamiku sendiri jijik terhadapku. Hingga aku memutuskan ingin mengakhiri hidup.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sudah kelaparan, suamiku belum juga pulang. Aku melompat ke sana kemari. Berjalan mengelilingi rumah. Mlungker di karpet dengan malas setelah bosan. Tidak lama terdengar suara pintu dibuka. Aku berlari ke depan. Mendekat ke kaki suamiku.

“Kemarilah, aku tahu kamu pasti lapar,” ucap suamiku. Ia membuka kaleng makanan kucing basah dan disodorkan padaku. Aku menyantap dengan lahap. Setelah kaleng itu kosong, aku berlari menuju sofa. Bermaksud menghambur ke pelukan suamiku yang sedang menonton televisi. Sayangnya aku terlambat menyadari. Rupanya pria yang bersandar di sofa bukanlah suamiku, melainkan rekannya. Tubuhku terlanjur naik ke paha, ia menarikku lekat. Mengelus-elusku dengan lembut. Aku salah tingkah, seakan telah berselingkuh dengan membiarkan pria lain menyentuh tubuhku. Namun aku tidak bisa kabur. Setiap kali ingin melepaskan diri, pria itu terus meraihku kembali. Sepintas aku sempat melirik ke wajahnya. Ya Tuhan, ia sangat tampan. Jauh lebih tampan dari suamiku. Aku justru mulai menikmati sentuhan tangan kekarnya. Maafkan aku, Sayang. Tanpa sengaja aku telah mengkhianatimu.

Suamiku datang membawa dua botol minuman kaleng. Satu untuk rekannya, satu lagi untuknya sendiri. Semua tampak normal, sesaat sebelum akhirnya teman pria suamiku meraih kalung dari leher untuk membaca namaku. Seketika tubuhku dihempaskan ke lantai. Aku berdiri mematung melihat keduanya.

“Kamu mencintai istrimu, hah?” Pria itu bertanya marah. Suamiku terlihat kebingungan. Ia berusaha menjelaskan kepada teman prianya. Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendengar suamiku mengatakan tidak pernah mencintaiku. Alasannya menikah adalah demi menutupi kebenaran yang sesungguhnya. Aku syok saat tiba-tiba suamiku meraih kepala teman prianya dan melumat bibirnya mesra. Usai melepas pagutan, suamiku mengatakan bahwa ia sungguh mencintai pria di hadapannya itu. Ini sungguh gila. Aku marah kepada suamiku. Sebelum sempat keduanya mengulang ciuman panasnya lagi, aku melompat ke tubuh teman pria suamiku dan menggigit lehernya. Cairan berwarna merah itu membuat mulutku terasa asin. Refleks suamiku meraih tubuhku. Dimasukkannya aku ke kandang dengan kasar. Aku mengeong berisik di dalam jeruji besi.

“Tunggu di sini! Kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu pada kekasihku,” ancam suamiku dengan suara mengerikan sebelum berlalu ke kamar. Tak lama ia muncul membawa perlengkapan P3K untuk merawat luka teman prianya.

Semalaman aku gelisah. Sama sekali mataku tak terpejam. Aku merutuki diriku karena telah salah mencintai. Aku diperdaya suamiku sendiri. Ia bahkan tega melakukan percumbuan dahsyat di depan mataku. Suara-suara itu terus berputar di telinga, seolah mengejekku. Inilah alasan mengapa selama ini suamiku tak pernah menaruh ketertarikan pada tubuhku. Sungguh menjijikkan. Saat aku masih menyesali nasib, tanpa sadar sebuah tangan mencengkeram leherku. Suamiku membawaku ke dapur dengan marah. Tubuhku ia banting di atas meja. Gegas diraihnya pisau daging, diangkatnya tinggi ke udara.

“Matilah kau!” umpat suamiku. Sebelum pisau mengayun ke leherku, aku sempat teringat kembali ucapan perempuan gimbal itu. Jikapun aku mati justru lebih baik karena aku tak repot-repot melakukannya sendiri. Dan yang pasti aku tak pernah menyesalinya.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala.

Puisi

Puisi Febriana Widyat Sari

Panggung

Babad, kiranya

percakapan yang tak kunjung usai

Babak demi babak

Berubah jadi cerita yang tak lagi kau bagi

Kita adalah tokoh utama

Panggung siap dibuka

Sorot lampu dipijarkan

Skenario dihayati

Bila saatnya tiba, tak bisa dihindari

Kisah, dirayakan

Runyam meruncingkan ingatan

Mengunci menyimpan kenangan

Simpati menjebak rasa

Kealpaan tiada dikira

Lupa, yang tak disengaja

Kesadaran,

Peredam angkara

Penawar luka

Panggung,

Arena kesadaran tiada tara

Menjalani karma, yang

tak pernah salah alamat

(Febriana – Solo, 19 Juni 2022)


Rumah

Aku adalah rumah

Tempatmu kembali

Pergilah ke manapun kau mau

Lalu pulanglah kepadaku

Aku adalah rumah

Kau boleh pergi ke mana kau mau

London, Paris, Itali

Tapi kau pulang padaku

Aku adalah rumah

Tempatmu berteduh

Dari cuaca yang mendera

Bernaunglah padaku

Aku adalah rumah

Kau boleh bersuka di manapun kau mau

Tetapi jika kau berduka

Pulanglah kepadaku

(Febriana – Solo, 25 Juni 2022)


Lebam Ruam

Lebam..ruam..

Berteman nyamuk-nyamuk

Jalan sunyi yang ditapaki

Berkelok ke sana ke mari

Terombang-ambingkan angin

Nasib adalah kepastian

Dewasa di sebuah ruang waktu

Tahun-tahun hidup dalam bahaya

Penguasa adalah Tuhan

Membiarkan hidup segelintir manusia

Berkuasa atas hilangnya banyak nyawa

Menjadikan mereka jiwa-jiwa yang berkelana

Tahukah kau, jiwa yang malang

Bintang bersinar dalam kegelapan

Masa gelap itu kau hiasi

Dengan jiwa-jiwamu yang terus hidup

Meski ragamu dibinasakan

Jiwamu ada dalam pelangi selepas hujan

Kelembutan sinar mentari

di setiap pagi yang damai dari semesta

Tanpa rekayasa perusuh kemanusiaan

Kau adalah nyanyian indah

Tak tertandingi dari burung-burung mockingbird

(Febriana – Solo, 5 Juli 2022)


Musisi Kekal

Masa depan, tak tertulis

Ucapan dari jiwamu,

Bebas bak burung terbang

Di birunya awan-awan

Bersama para dewa

pecinta suara-suara

Pemuja lema-lema

Aku pemujamu

Pun dia dan mereka

Tapi kau di mana

Menghilang seperti udara

Menguap

Aku menghirupmu

Kau hidup dalam alam pikirku

Dia dan mereka

Aku mendengar sendu teriakmu

Kau pergi berkeliling semesta

Pesanmu kau kan menciumi harum

Makhluk-makhluk jelita

Tapi aku di mana diantara kunang-kunang

Kau mau berdansa semalaman

Kau mau lihat gemerlap kota-kota

Tapi, Joe

Kau petik gitarmu

Sendu rindu menggebu

Lakukan apapun dalam keterbatasan

Lalu kau niatkan

Mohon ampun pada semesta seru sekalian alam

Mengabdi pada Nya selamanya

(Febriana – Solo, 31 Oktober 2022)


Residu Rasa

Cipta menginisiasi temu

Temu dua jiwa yang tersesat

Tersesat di tengah rimba beton

Beton menggiring raga-raga berlarian

Berlarian kian kemari menjemput asa

Asa yang terukir atas sensasi-sensasi menggelora

Karsa meminang kisah

Kisah potongan warna-warna

Warna terpulas polesan kuas

Kuas menggores garis-garis

Garis berbaris-baris dalam pucat malis

Rasa mengembang kuasa

Kuasa menari silih berganti

Berganti jiwa dan raga

Raga mengecapi ampas terhempas

Terhempas diantara buih gelombang

Gelombang menggulung residu rasa

(Febriana – Solo, 21 November 2022)


Febriana Widyat Sari, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tahun 1983. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (UNS) dan Ilmu Hukum (Unisri). Seorang ibu satu anak. Sedang aktif menulis ‘gig report’ musik-musik arus pinggir untuk feedbackzine.blogspot.com.

Cerpen

Munajat Penyesalan

Cerpen Latif Nur Janah

Malam telah sempurna jatuh. Kulihat kau masih setia dengan layar di depanmu. Beberapa teman sudah pulang sejak tadi. Gerimis mulai turun ketika aku beranjak ke pantry yang berseberangan dengan ruanganmu. Sengaja, tak kuseduhkan kopi untukmu karena pagi tadi kamu mengeluh jika perutmu mulas dan kepalamu agak pening. Tampaknya, dua serangan dalam tubuhmu itu berlanjut sampai malam ini. Ditambah, kau harus menyelesaikan banyak laporan seharian tadi.

Kantor kecil ini menjadi tempat persinggahan yang nyaman. Tentu, setelah semua penghuninya pulang. Kecuali satpam jaga yang bertugas di luar. Tapi, aku bisa katakan mereka bukan orang yang sulit. Dengan sebungkus rokok saja, semua aman. Gerimis awal Desember turun tak tentu waktu. Dari jendela di ruanganmu yang terbuka, aku melihat rambutmu teracak berantakan. Tapi, sungguh, itu justru membuatku semakin tak bisa berhenti menekuni wajahmu dari sini.

Seduhan teh pahit yang selesai kuracik, kubawa mendekat ke mejamu. Engkau mengembuskan napas panjang. Selalu begitu ketika kau selesai dengan pekerjaanmu. Aku mulai mencari kata-kata yang pas untuk menyibak kebisuan, untuk membuka malam. Kau mulai meminum teh buatanku. Kuseret kursi sejajar dengan kursimu.

“Maaf,” ucapmu pelan ketika lenganmu hampir saja menyenggol wajahku ketika kau menaruh gelas teh.

Aku tersenyum.

“Kenapa?” tanyamu kemudian.

Kusingkirkan lenganmu ketika hendak kaulingkarkan di pundakku, seperti yang selalu kaulakukan setiap kali kita menjebakkan diri pada suasana malam di kantor ini.

Dulu, kita selalu merasa malam habis begitu cepat. Angin yang kencang sekali pun tak pernah bisa mengusir keringat kita setelah lelah menyapu malam yang panas dan bergejolak. Kau akan selalu mengatakan kepada satpam jaga jika kau ketiduran di kantor karena kelelahan, meskipun nyata, ia sama sekali tak percaya dengan perkataanmu.

“Istriku ceroboh menuang minyak pagi tadi sehingga menciprat ke bajuku.” aku tak paham maksudmu pada awalnya. Namun, cepat-cepat kau melipat lengan bajumu. Sebercak noda minyak tergulung ke dalamnya.

Kaupindah ke sisiku yang lain. Sigap, tangan kirimu, kini telah mendarat di pundakku. Gegas, kuturunkan lenganmu yang entah kenapa, kali ini terasa begitu berat.

Tumpahan minyak di bajumu. Ah, aku sama sekali tak mencium bau noda jika kau tak bilang. Namun, ucapanmu membuatku mulai merasa ada yang menancap-nancap di ulu hatiku. Seperti biasa, ada sesuatu yang membuatku semakin jatuh dan merasa kecil: istrimu. Wanita yang mengingatkanku pada Ibu.

Dua minggu yang lalu, sengaja aku mampir ke rumahmu sebelum berangkat. Meskipun jam masuk kantor masih jauh, kau sudah tampak rapi dengan kemeja panjang bergaris dan sepatu tali yang kubelikan beberapa bulan yang lalu. Kau dan istrimu sedang sarapan di meja makan yang letaknya lurus dengan pintu depan. Aku lantas teringat bagaimana kaukatakan bahwa kemeja itu adalah hadiah dari atasan kita karena kinerja tim kita yang bagus. Istrimu percaya begitu saja. Ya, tentu saja, sebab ia tak hanya menyerahkan kepercayaan penuh padamu, namun juga menyerahkan seluruh hati dan hidupnya untukmu. Kau selalu mengatakan itu, meskipun membuat hatiku sedikit ngilu.

Senyum canggung yang melengkung di bibirmu, lekas terhapus oleh uluran tangan istrimu kepadaku. Kami bersalaman di depanmu. Aku mengatakan jika aku sengaja menjemputmu untuk bertemu kolega di arah yang berlawanan kantor demi menghemat waktu. Istrimu tersenyum. Murni senyuman seorang istri kepada rekan kerja suaminya. Aku bisa merasakan ketulusan di sana.

Namun, aku mendadak salah tingkah ketika tiba-tiba istrimu meraih tanganku, mengajakku ke meja makan.

“Mari, Bu, saya masak sayur asem banyak hari ini. Kebetulan, anak-anak berangkat pagi sekali dan nggak sempat sarapan.”

Aku tak mungkin menolak saat ia sudah menyeret sebuah kursi untukku.

Di meja makan itu, kau membisu. Tak pernah aku melihatmu sedemikian kaku di hadapanku. Istrimu lebih banyak bercerita ini-itu. Istrimu, yang senyumannya begitu teduh, mengambilkan sepiring nasi untukku, dua iris tempe, dan seiris ayam tepung.

Aku membisu di tempat dudukku serupa tawanan yang tak bisa melakukan apa pun selain menurut. Bahkan aku nyaris gemetar ketika tanganku meraih sendok. Denting antara piring dan sendokku terdengar melolong di pagi itu.

Suapan pertama sayur asem istrimu membawaku memasuki lorong-lorong masa kecilku. Ada senyum ibuku di sana. Ada tangan keriputnya yang beraroma bumbu dapur. Dulu, setiap Sabtu jika Bapak pulang mengajar, Ibu selalu memasak sayur asem dengan belimbing wuluh untuk kami. Bapak tak pernah mau jika belimbing wuluh itu diganti tomat atau asam jawa sekalipun.

Hidangan itu lekas kutandaskan, demi tak ingin melihatmu tercekik dalam kebersamaan yang ganjil.

***

“Kenapa?” tanyamu. Kini, kau telah sadar sepenuhnya bahwa tanganmu benar-benar kulepaskan.

“Cantikmu akan luntur jika murung begitu.” kau mulai merayu. Aku sama sekali tak bernafsu.

Pikiranku saat ini terisi penuh istrimu. Pertemuanku saat sarapan dua minggu yang lalu, membuatku harus berpikir dua kali untuk sekadar memelukmu sekalipun. Kebiasaan yang dulu selalu kulakukan sesaat setelah kantor sepi. Kelebat istrimu yang mengenakan daster di dapur ketika itu serupa magnet yang menarik sesuatu di sudut perasaanku. Apalagi ketika dengan senyum tulus, ia mengambilkan nasi untukku.

Mungkin kau tak bisa memahaminya. Namun, bahasa tubuh yang kuberikan setelah pertemuan itu, kukira lebih dari cukup dari sekadar kata-kata. Tetapi rupanya, kau terlalu buta untuk menerimanya.

Aku sempat melihat beberapa sudut rumahmu yang sederhana tetapi manis. Istrimu juga mengatakan ia menanam sendiri semua bunga di halaman belakang ketika kau mengambil tas ke kamar.

Buku-buku tertata di rak-rak kayu cokelat tua. Sebagian dilabeli nama istrimu. Ah, ya, kau pernah bilang jika istrimu gemar menulis. Sebuah foto terbingkai di atas rak buku itu, menampakkan senyum kalian yang teduh. Istrimu tengah hamil di foto itu. Rasa iri mulai menitik dalam hatiku. Hamil. Sesuatu yang tak bisa terjadi padaku, sampai kapan pun. Sebab sesuatu mengharuskanku merelakan rahimku.

Di saat itulah, tancapan di sudut perasaanku mulai ganas mengaduk-aduk. Aku berusaha merasa biasa saja. Menepisnya saat kita menghabiskan malam berdua di kantor. Tetapi, senyum istrimu hadir setiap kali aku hendak mendekatimu. Terasa semakin teduh manakala tanganku hendak melingkar di tubuhmu. Senyum istrimu itu membawa serta wajah ibuku.

Hingga malam ini datang, rupanya kau tak mampu mengartikan bahasa yang kusampaikan, sementara aku semakin tersiksa dan merasa bahwa kehadiranku dalam hidupmu benar-benar tak diperlukan.***


Latif Nur Janah, lahir 1990. Buku pertamanya, Suwung, adalah kumpulan cerita pendek berbahasa Jawa (Suryapustaka Ilmu, 2022). Menetap di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.

Cerpen

Denting

Cerpen Yeni Kartikasari

Hari belum sepenuhnya pagi, tapi kau sudah berada di Olivia, berjalan ke lantai tiga, menghampiri meja di dekat jendela kaca, duduk termenung menunggu seseorang yang kau tahu tak akan pernah datang lagi. Seperti biasa, seorang barista bertubuh jangkung dengan vest hitam dan apron cokelat menghampirimu—meminta izin menyeduh kopi panas yang tadi kau pesan.

“Ada lagi yang bisa saya bantu, Sir?” tawarnya.

Kau menggeleng pelan. Barista itu pergi meninggalkan kau bersama secangkir mochaccino berlukis bunga. Kopi itu kau tatap sebentar. Di luar, hujan sangat deras. Pandangan yang semula kau lemparkan ke lampu-lampu kota mengabur bersama rintik yang disertai angin kencang. Jika hari-hari sebelumnya kau hanya menitihkan air mata, kini tangismu semakin panjang.

Kau tak bisa lupa, setahun lalu, sejak Habsa pergi, kau benar-benar merasa ditinggalkan. Bukan karena dia menikah dengan orang lain, melainkan dia telah pergi selamanya. Perpisahan yang kau rasakan, bukan lagi seperti kau melepas teman-temanmu yang menerima Awardee LPDP ke negeri kincir angin, atau saat kau harus melambaikan tangan kepada sahabat-sahabatmu yang pulang ke kampung halaman setelah lulus kuliah, namun perpisahan yang membuatmu kehilangan segala-galanya, bahkan separuh dirimu yang selama ini kau pertahankan untuk hidup.

Habsa adalah orang terdekatmu, lebih dekat dari saudara dan ayah ibumu, sebab kau memang tak pernah merasa memiliki keluarga. Dia adalah satu-satunya perempuan yang menjadi temanmu bercerita usai terlilit masalah di Savario.  Kau masih ingat setelah pendidikan magister Fashion Designmu tuntas, kau mencoba bekerja di Savario sebagai staff pembuat pola busana. Keberhasilanmu masuk ke butik bergaya Eropa Style yang bertempat di gedung bekas kolonialisme itu membuatmu sangat bangga. Selain karena megah dan terkenal, Savario sering disebut-sebut dosenmu sebagai tempat orang-orang ahli di bidang fashion.

Namun sayangnya kebangganmu tak bertahan lama. Gaun yang akan dipakai seorang artis untuk menerima penghargaan penyanyi pop terbaik tak muat dikenakan saat fitting. Bagian penghias menyalahkan penjahit, bagian penjahit menyalahkan pemotong kain, dan bagian pemotong kain menyalahkanmu sebagai pembuat dan pengambil ukuran badan. Kau yang pada saat itu tak mau disalahkan, kemudian mempertanyakan suatu hal; mengapa para pemotong dan penjahit tidak mengecek ulang ukuran? Tapi Habsa—staff sewing yang menjahit bagian badan menimpali bahwa orang-orang di Savario tak bekerja di luar tanggung jawabnya. Kau yang tersudut akhirnya ingin mengganti gaun itu, namun sudah tidak ada waktu. Pelanggan itu marah-marah. Bosmu lebih tersungut-sungut. Kau dimaki-maki sebelum dikeluarkan tanpa pesangon.

Usai hari itu kau sangat kecewa. Karena kau tak lagi memiliki pekerjaan, atau lebih tepatnya telah enggan mencari lowongan kembali, waktu senggangmu kau habiskan untuk berdiam di kafe-kafe. Setelah berkelana cukup lama, pengembaraanmu berhenti di Olivia—kafe yang letaknya tak jauh dari bekas bandara. Tepat di lantai tiga, di dekat jendela kaca di mana kau bisa melihat jalan raya dari kejauhan, kau benar-benar merasakan ketenangan yang selama ini kau cari.

Kau sengaja memilih kafe yang tak terlalu ramai dengan nuansa klasik di setiap dekorasinya. Di Olivia, kau mengeluarkan secarik kertas dan mulai menggambar desain slip dress yang pernah popular di tahun 90-an. Demi hiburan, begitulah tujuanmu melakukan hal itu. Masih teringat jelas di pikiranmu, bagaimana kau membuat lekuk tubuh dan detail gaun hingga kau tak menyangka dapat bertemu Habsa dalam keadaan serba tanda tanya.

Suara Habsa lirih menyapamu kala itu.

Gugup. Kau menyingkirkan tas jinjingmu supaya Habsa dapat duduk di hadapanmu. Di awali sapaan tentang kabar, percakapanmu dengan Habsa berlanjut canggung.

“Sekarang kerja di mana?”

Kau berkelakar. Kau katakan pada Habsa bahwa pekerjaanmu adalah pelanggan rutin Olivia—penikmat kopi yang sesekali mendesain busana masa lalu. Tapi, Habsa tak percaya itu. Kau dianggap menyembunyikan pekerjaanmu yang telah mapan, melebihi reputasi pembuat pola busana. Habsa bahkan menyebut JJ Bride, Oura Kebaya, dan QZM Boutique, tempat-tempat terkenal lain di Jakarta. Kau hanya tersenyum. Usiamu yang beranjak berkepala tiga, membuatmu mengerti bahwa tak semua keadaan bisa kau jelaskan terhadap perempuan.

Sejak saat itu, hampir setiap hari, sekitar pukul empat pagi, Habsa kerap merencanakan pertemuan denganmu. Tidak lagi membahas tentang pekerjaan, atau lika liku hidup yang tiada habisnya, perempuan berpipi bakpao yang kemerah-merahan itu mulai bercengkerama terhadap hal-hal sepele; menertawakan penampilan pengunjung, menerka pikiran orang melamun, dan sesekali mengacaukan karya desainmu.

“Gak pengen keluar Indonesia?” tanya Habsa suatu kali.

“Buat apa?”

“Ya, Mengembara.”

“Kau sendiri gak ke sana?”

“Nggak ada teman.”

Lewat perbincangan itulah, kau teringat Galleria Vittorio Emanuele dan Louis Vuitton di Eropa yang sangat megah. Bangunan berlapis emas yang disorot ratusan lampu dengan puluhan butik gaun permata. Mendadak kau ingin ke sana—menjelajah negara-negara yang pernah membuat bangsamu sengsara. Kau ceritakan semua itu kepada Habsa. Dari rekah senyumnya, kau tahu dia bersuka cita. Impian masa depan kau rencanakan. Janji berkelana ke Eropa kau sepakati. Mula-mula kau hanya menganggap perempuan itu butuh hiburan, namun semakin lama kau merasa dirimu memang berharga dalam hidup seorang perempuan yang bahkan kepadanya kau belum pernah mengisahkan sejengkal kehidupanmu. Kau merasa berarti dan dibutuhkan dan itu sudah cukup bagimu.

Namun, ketika kau mencoba mendekatinya setelah dua bulan menjalin kebersamaan, dia mengatakan akan keluar dari Savario, pulang ke Surabaya untuk melangsungkan pernikahan. Dari caranya berbicara, kau tahu dia sangat bahagia, sebagaimana kau mengerti bahwa dia juga melihatmu bahagia. Meski kau hanya berpura-pura, senyum mengambang di bibirmu seiring rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuh. Kau ingin menangis, tapi malu. Hatimu yang remuk semakin hancur ketika beberapa hari kemudian perempuan yang kau cintai itu dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal di tol Rawamangun.

Kenapa kau pergi? batinmu berulang kali sejak malaikat membawa ruh Habsa ke langit tertinggi, terus-menerus sampai kini di Olivia, untuk ratusan kali dalam setahun, ada yang begitu terkenang ketika kau menatap kursi kosong di hadapanmu. Setengah jam lalu, kau buru-buru memesan taxi karena langit sedang bergemuruh silih berganti. Sebenarnya kau tidak takut hujan, tapi kau khawatir tak dapat pergi dari kontrakan, sebab kesepian selalu melahapmu ketika jam sudah menunjukkan pukul lewat sepuluh malam.

Sudah setahun, batinmu. Kau baru datang dan sudah menangis. Bayanganmu tentang hari-hari setelah Habsa pergi adalah reka adegan yang membuatmu dirudung kesengsaraan.

Kau terus dibuntuti rasa penyesalan sebab perpisahanmu dengan Habsa tidak ditandai dengan ucapan selamat tinggal atau kata-kata sampai jumpa di lain waktu. Sering kau berpikir, akan lebih baik ketika perempuan itu masih terus hidup, menikah, dan memiliki bayi-bayi mungil, meski kau hanya dapat memandangnya lewat ponsel. Daripada kau harus menyaksikan fragmen mobil terbakar dan mayat sehitam arang dengan darah yang berlumuran disekujur tubuh. Kau ingin tak percaya bahwa tragedi itu nyata, tapi semuanya telah terjadi. Perpisahanmu dengan Habsa adalah sebuah akhir. Kau sudah tidak bisa melihatnya lagi, bahkan untuk selamanya.

Kini di Olivia, kau menyadari sudah banyak waktu yang terbuang percuma; duduk di kafe meneguk kopi panas, mendengar album Gordon Lightfoot yang diputar berulang-ulang sambil membayangkan perempuan yang kau yakini masih hidup. Kau tak tahu seberapa lama lagi melakukan rutinitas itu. Kau tak bekerja dan entah sudah berapa lembar uang yang kau keluarkan. Belum lagi orang tua yang terus kau bohongi dan kau mintai jutaan nominal untuk alasan bertahan hidup.

Kau takut jika suatu saat nanti ada saudara-saudaramu atau pihak keluargamu tahu bahwa lelaki yang merantau demi kemapanan hidup akhirnya menggelandang dan menjadi pesakitan. Kau khawatir seandainya mamamu akan menempeleng kepalamu atau ayahmu akan mendaratkan pukulan di lengan dan kakimu, sebab kau tahu rasa sakitnya bukan berada di sana. Jelas kau tak ingin merasakan hal itu. Maka kau hanya bisa menumpahkan air mata sebanyak-banyaknya.

“Permisi,” Kau terkejut mendengar suara itu. Tangismu buyar. Seorang barista yang sama kembali ke mejamu, melayangkan tawaran, “Sorry, Sir. Sepertinya kopi Sir sudah dingin. Apar Sir mau menggantinya? atau mungkin hendak memesan camilan dan makanan?”

Kau tersadar. Kopi asal Yaman beraroma wangi cokelat itu belum kau teguk. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Suara Gordon Lightfoot berganti alunan denting yang disusul kerlip lampu. Di luar jendela, hujan tak lagi memekakkan telingamu. Kau melihat barista itu dan dia pun melihat matamu yang sembab. Udara dingin. Pandanganmu kabur.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.