Cerpen

Selubung Sihir Mantra

Cerpen S. Prasetyo Utomo 

Tak banyak hal diketahui Kodrat mengenai Ki Broto dan pedepokannya. Masih terselubung  rahasia. Terselubung misteri. Di mata Kodrat, penampilan Ki Broto – yang senantiasa mengenakan lurik dan  blangkon – tampak setenang kabut Gunung Merapi. Kodrat merasa harus lebih banyak meluangkan waktu untuk memahami lelaki setengah baya itu. Ia, yang baru sekali bersua Ki Broto, mengikis  rasa canggung berhadapan dengannya.

Kodrat menghirup udara yang jernih di sekitar pedepokan, teduh pepohonan, dengan burung-burung branjangan lincah berkicauan di ranting-ranting. Ia meneliti tarian kuda lumping di pedepokan Ki Broto yang tiap hari senantiasa berlatih, menciptakan gerakan-gerakan tari baru, yang berbeda dengan kelompok kuda lumping Lurah Sukro.

Ki Broto mendekati Kodrat. Duduk di sisinya.  Memandangi latihan tari kuda lumping dengan iringan gamelan, hentakan kendang, dan lecutan cambuk yang menghentak bumi bertubi-tubi. Ki Broto tahu, jauh  di hutan menjelang puncak Bukit Turgo, di pelataran  makam Syeh Jumadil Kubro, terdapat seorang lelaki muda yang menyimak irama gamelan itu dengan jernih.

Ki Broto, dengan wajah yang tenang, tanpa pergolakan, merupakan pawang tari kuda lumping pdepokannya. Ia memiliki sepasang mata yang jernih, yang bisa menembus pikiran orang.

“Kenapa kau tidak meneliti pawang tari kuda lumping di Bukit Turgo?”

Kodrat memandangi Ki Broto yang duduk di sebelahnya.

“Kenapa mesti pergi ke sana?”

“Temuilah Seto, seseorang yang selalu menari kuda lumping di sana! Ia pawang sanggar tari kuda lumping yang dipimpin Lurah Sukro!”

Termangu-mangu, masih bertanya-tanya, Kodrat tergagap, ketika ia berpikir: apa bedanya dengan kuda lumping pedepokan ini? Ia masih memandangi  tarian kuda lumping, dengan suara gamelan dan kendang yang menghentak-hentak, serta lecutan cambuk mengepulkan debu. 

Permintaan Ki Broto menjadi sihir yang tak terbantah, yang tak bisa dielakkan Kodrat. Ia bangkit, meninggalkan pedepokan, melangkah ke arah Bukit Turgo yang belum pernah dicapainya. Ia melangkah, dan tak merasakan lelah. Ia juga tak merasakan perjalanan yang asing, menempuh jalan setapak seorang diri, mencapai desa terakhir, memasuki jalan terjal ke arah hutan. Ia menempuh jalan setapak di antara pepohonan yang dihuni monyet-monyet yang bertengger di dahan.

Tak sekalipun Kodrat bertanya pada seseorang untuk mencapai  Bukit Turgo. Langkah kakinya seperti sudah memahami setiap jengkal tanah yang dipijaknya. Mendaki lereng Bukit Turgo, suara gamelan kuda lumping dari pedepokan Ki Broto terdengar bening. Ia merasa sudah sangat dekat dengan Seto, lelaki yang mesti ditemuinya, seperti disarankan Ki Broto. Ia tak pernah menduga bila mencapai pelataran makam yang dikeramatkan, dengan taburan bunga melati dan dupa leleh kehitaman, beku di anglo-anglo kecil. Di nisan itu tertulis nama: Syeh Jumadil Kubro. Dalam hati Kodrat menduga: seorang lelaki kurus, muda, dengan rambut lurus memanjang yang menari kuda lumping itu tentu Seto, lelaki yang disebut-sebut Ki Broto.

Duduk di atas sebuah batu, Kodrat menanti Seto selesai menari kuda lumping. Dipandanginya Seto menari kuda lumping dengan iringan gamelan yang berkumandang dari pedepokan Ki Broto. Sekilas ia tahu bila Seto bisa menari kuda lumping dengan memikat, menjiwai gerakan-gerakan raksasa, penuh getaran rasa.

***

Gamelan dari pedepokan Ki Broto tak terdengar lagi. Seto berhenti menari. Duduk di sisi Kodrat. Dari arah jalan setapak Bukit Turgo terlihat berjalan Lurah Sukro yang berwajah masam. Ia memasuki pelataran makam Syeh Jumadil Kubro. Lurah Sukro menebar bunga mawar, kantil, dan kenanga ke atas makam. Menyalakan arang di atas anglo. Mengipasinya. Harum dupa leleh terbakar tersebar di sekitar makam Syeh Jumadil Kubro. 

Kedatangan Lurah Sukro ke makam Syeh Jumadil Kubro, semakin tak dipahami Kodrat. Kedatangannya serupa selembar daun jatuh, mencipta suasana hening. Tetapi sepasang matanya memancarkan permusuhan. Wajah Lurah Sukro yang masam, angkuh, dan dengki, sungguh menebar keresahan. Ia mendekati Seto. Memandanginya tajam.

“Kau mesti bisa menaklukkan Ki Broto, agar dia membubarkan kelompok tari kuda kumping!” kata Lurah Sukro. “Kau sudah bisa mengalahkan mantra-mantra Ki Broto?”

“Semoga saya bisa lebih unggul darinya,” tukas Seto.  Tapi Kodrat menyaksikan, tiap kali pedepokan Ki Broto mempergelarkan kuda lumping, Seto  turut menari. Mantra Ki Broto seperti mengendalikan tubuh Seto. Kodrat memilih bungkam.

Terdiam, Seto menunduk, mengerling ke arah Kodrat. Dengan kerlingan mata itu, Seto memberitahu pada Kodrat, betapa dahsyat kekuatan mantra Ki Broto: yang bisa menyusupi raga seseorang dalam jarak jauh. Kodrat mengerti kini, mengapa Ki Broto memintanya menemui Seto dengan melakukan perjalanan kaki yang melelahkan mendaki Bukit Turgo, mencapai makam Syeh Jumadil Kubro. Permainan kuda lumping di pedepokan Ki Broto tak sekadar latihan pergelaran. Tetapi tari kuda lumping itu telah tersusupi mantra untuk menjaga kehormatan Ki Broto. 

Lurah Sukro dengan wajah yang masam tampak berambisi menekan Seto. Lurah Sukro dengan tatapan sinis, seperti ingin menguasai Seto, dan menaklukkannya.

“Kau sanggup menaklukkan Ki Broto dengan mantra-mantramu? Kini aku menagih janji. Kau  sudah menyepi di makam ini!” Lurah Sukro menyingkap ambisinya.

“Saya menemukan kekuatan mantra di makam ini agar dapat menaklukkan Ki Broto. Tiba waktunya saya memiliki kekuatan mantra yang lebih dahsyat darinya.”

Mata Lurah Sukro menyipit, menajam, menampakkan kelicikannya. Kumisnya yang tipis memutih seperti menguncup. Ia menyalakan lagi rokoknya. Menghisap  rokok itu, menghembuskan asap dengan gusar, seperti melampiaskan kejengkelannya.

“Aku akan menantang Ki Broto untuk menyelenggarakan pergelaran kuda lumping bersama di tanah lapang,” kata Lurah Sukro. “Tebarkan mantra yang membuat penari kuda lumpingnya tak dapat disadarkan saat kesurupan. Biar ia takluk padamu!”

***

Duapergelaran tari kuda lumping bersamaan dipentaskan di tanah lapang desa. Tarian kuda lumping Lurah Sukro – Seto sebagai pawang – diperagakan para pemain dengan dandanan raksasa, diiringi rancak gamelan, irama kendang menghentak-hentak, sesekali diikuti lecutan cambuk. Tarian kuda lumping Ki Broto dengan anyaman kuda putih bersurai keemasan. Penarinya para ksatria gagah berkumis dengan pakaian perang serba berkilau gemerlapan.  

Gamelan  yang mengiringi tarian kuda lumping terus bertalu-talu. Kendang  yang mengatur irama tarian kuda lumping menghentak-hentak. Para  penari yang berdandan raksasa menyelaraskan gerak tubuh dengan irama gamelan  yang mulai liar. Beberapa penari kuda lumping Lurah Sukro kerasukan roh. Menari dengan gerakan-gerakan tubuh mengejang, mata terbrlalak, dan melepas anyaman kuda yang mereka tunggangi. Tiba giliran mengusir roh yang menyusupi beberapa penari, Seto kesurupan. Ia menari, terus menari, dan tak mau berhenti.

Lurah Sukro segera berlari menghampiri Ki Broto yang berdiri tenang di bawah pohon trembesi, memohon dengan rendah hati, “Sadarkan para penariku. Aku tak akan pernah lagi memusuhi pedepokanmu!”

Tenang, merapal mantra dengan mata terpejam, Ki Broto menyadarkan para penari kuda lumping yang kesurupan. Terakhir, ia mengusir roh yang menyusupi tubuh Seto.

Kini Kodrat memahami kekuatan mantra Ki Broto dalam selubung senyap kabut lereng gunung yang menaungi pedepokan.***           

                                                                              Pandana Merdeka, Maret 2022


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Pesan Rahasia dari Virus AUX-20-Blue

Cerpen Fina Lanahdiana

“Sekali kita masuk ke dalam sesuatu, maka mustahil untuk bisa benar-benar keluar darinya.” Itu merupakan pesan pembuka dari sebuah suara yang diputar berulang-ulang oleh Qeff di waktu luangnya menikmati kesendirian, di ruang pribadi yang didesain minimalis dengan suasana senyaman mungkin. Perpaduan ruang kerja sekaligus tempat bersantai.

Ada sebuah kotak aquarium berisi ikan-ikan yang bisa dikeluarkan dan disembunyikan secara otomatis, seolah-olah menerobos ke dalam dinding. Ada pohon-pohon kecil berjajar di pot yang berada di dekat tumpukan buku-buku yang juga bisa ditata sedemikian rapi menggunakan sebuah tombol sentuh, bisa dibayangkan seperti sebuah mesin dispenser berisi buku-buku yang bisa diatur ulang apakah akan menatanya sesuai abjad judul, nama penulis, warna kover, atau suka-suka pemiliknya. Di sebelahnya, ada sebuah monitor berukuran 21 inci. Ruangan itu sepenuhnya kaca, agar bisa memenuhi kesan berada di tempat yang terbuka. Sementara di hadapannya, sebuah jendela secara suka rela menjadi tempat pertukaran cahaya dan warna.

Sekilas tampak biasa saja, tapi sebenarnya ruangan itu bisa ditenggelamkan ke dalam tanah yang di permukaannya ditumbuhi rumput hijau segar, menyenangkan mata siapa saja yang melihatnya. Itu dilakukannya untuk memberi kesan bahwa dirinya sedang pergi bekerja dengan suasana yang nyaman.

Dunia memang banyak berubah setelah virus AUX-20-Blue menyerang di hampir seluruh negara di dunia, sehingga tercatat sebagai pandemi. Gejalanya tidak jauh berbeda dari gejala flu, hanya saja lebih menular dan lebih mematikan. Memang ada sebagian penyintas yang bisa melewatinya hanya dengan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali. Tetapi seringkali bisa sangat berbayaha bagi pihak-pihak yang memiliki kondisi kesehatan rentan. Bagi yang memiliki gejala cukup parah, paru-paru menjadi target serangan virus AUX-20-Blue ini, sehingga penderita bisa mengalami sesak napas yang bisa berakibat fatal.

Qeff termasuk penyintas yang bertahan, tapi dunianya seolah menjadi hampa. Ia kehilangan ayah dan ibunya akibat virus AUX-20-Blue yang tidak disadarinya sudah menyerang tubuhnya tetapi tidak menunjukkan gejala yang berarti. Segalanya mungkin memang sudah berlalu, tetapi sejarah buruk di dalam hidupnya itu tidak pernah bisa ia lupakan.

“Aku sungguh menyesal karena tidak bersedia mengikuti aturan yang telah diberlakukan oleh pemerintah. Aku pergi keluar rumah sesukaku, dan segalanya terjadi begitu saja,” ujar Qeff kepada Noe, seorang terapis yang menangani dirinya.

“Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan,” balas Noe.

“Ya, aku tahu. Tapi seharusnya ini semua tidak akan terjadi jika aku …”

“Tidak apa, menangislah. Sebentar, biar kuambilkan minum.”

“Terima kasih.”

Air mata lelaki itu memang sudah tidak bisa ditahan lagi. Tak peduli bahwa sejak kecil ia selalu diajari bahwa tidak seharusnya lelaki menangis. Ruangan konsultasi itu seketika menjadi begitu riuh oleh suara tangisan.

“Sampai kapan? Sampai kapan aku akan seperti ini?”

“Ini, minumlah.”

Noe menepuk-nepuk punggung Qeff untuk menenangkannya, sementara Qeff menerima uluran gelas berisi air putih yang diberikan Noe.

“Sudah cukup tenang sekarang?”

Qeff mengangguk beberapa kali.

Begitulah, Qeff seolah tidak bisa melepaskan diri dari badai pandemi yang meskipun telah berlalu, tetapi tidak mengubah cita rasa gelapnya sedikit pun. Bahkan untuk waktu-waktu tertentu, emosinya bisa naik-turun seperti roller coaster yang naik dengan perlahan, lalu turun dengan sangat cepat yang tak jarang membuatnya terengah-engah.

Ia juga sering dibayangi mimpi buruk didatangi ayah dan ibunya yang muncul dengan raut wajah sedih dan tak henti-hentinya menyalahkannya.

“Kukira segalanya akan berlalu begitu saja jika semuanya sudah terlewati. Ya, kukira. Tapi mimpi buruk selalu datang, menyusup ke dalam tidurku seolah ingin mencuri setiap kebahagian yang tersisa, yang kumiliki.”

“Tidak seharusnya kau menyalahkan dirimu terus seperti itu. Setiap hal yang berlalu memang tidak bisa diubah, tapi selalu ada sesuatu yang bisa diambil darinya, kan?”

“Ya, mungkin kau benar.”

***

Qeff memang mengubah pandangannya mengenai pekerjaan setelah pandemi berlangsung. Ia telanjur nyaman dengan konsep ‘bekerja dari rumah’ yang mau-tidak mau dilakukan ketika pandemi berlangsung. Bidang teknologi juga mengalami percepatan yang tidak terduga, karena saat segala hal tidak bisa lagi dilakukan dengan pertemuan, maka yang berperan paling besar di dalamnya adalah teknologi. Kadang-kadang Qeff berpikir dengan disertai kecemasan, apakah kelak manusia benar-benar akan digantikan oleh mesin? Terlebih teknologi AI saat ini sudah sangat melampaui yang tidak pernah dipikirkan di masa lalu.

“Itu hanya ketakutanmu saja. Bagaimanapun, manusia menciptakan teknologi. Artinya, manusia masih lebih berdaya ketimbang mesin.” ujar Joe, temannya.

“Tapi kadang-kadang manusia kalah cepat dengan mesin.”

“Memang. Itu karena manusia punya rasa lelah, sedangkan mesin tidak. Maksudku, mesin tidak benar-benar merasa lelah, jika sudah saatnya rusak, ia hanya akan rusak. Seluruh hidupnya dikendalikan program. Sedangkan kau tahu, manusia punya kehendak bebas.”

Hal itu membuat segala hal menjadi mungkin dilakukan dengan cara yang lebih simpel dan lebih efisien. Kantor menjadi tidak harus sebuah ruangan luas yang berisi banyak orang. Teknologi juga mampu melipat jarak yang semula sulit untuk ditempuh menjadi mungkin  melalui udara. Setiap hal dapat diringkas sedemikian rupa sehingga akan bisa memotong perencanaan anggaran yang tentu saja tidak sedikit, sehingga pada akhirnya anggaran yang tersisa itu bisa dialihkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain yang lebih mendesak.

Berbelanja pun begitu. Setiap toko yang diinginkan seolah-olah telah menawarkan diri dalam genggaman tangan. Tidak perlu keluar rumah untuk membeli kebutuhan yang dikehendaki. Hanya perlu duduk dan menyentuh layar ponsel, memilih barang yang diinginkan, membayarnya, lantas barang itu akan datang mengetuk pintu rumah tanpa perlu repot-repot untuk menghabiskan tenaga.

“Benar-benar hidup seperti mesin yang serba otomatis …”

“Dan memudahkan segala kerepotanmu, kan?”

“Ya, dan kurang cahaya matahari.”

“Ayolah, kita bisa pergi keluar rumah sebentar, berlari kecil setiap pagi. Menyapa kucing dan anjing-anjing …”

“Kau benar …”

Bagi Qeff, berhasil melewati pandemi sudah lebih dari segalanya. Rasanya tak ada hal yang lebih berharga daripada itu, karena ia ingat pandemi mumbuat hidup menjadi seolah begitu sulit untuk diperjuangkan. Negara-negara di hampir seluruh dunia seperti kehilangan kendali; rumah sakit yang penuh sesak, pasien yang terlantar, alat-alat kesehatan yang dijual dengan harga tak masuk akal, anak-anak kos yang diusir ketika terinfeksi virus AUX-20-Blue, jenazah yang kesepian karena tidak boleh dijenguk oleh siapa pun dan orang-orang yang kehilangan pekerjaan karena perusahaan yang kolaps dan tidak sanggup lagi membayar gaji karyawan.

***

Suatu malam Qeff bermimpi, ia terlibat pada sebuah survival game. Peserta dipilih oleh sistem, dan ia salah satunya, dan tak bisa lari dari itu. Maka selanjutnya ia mengikuti permainan yang sudah disiapkan. Ia dan pemain lain dimasukkan ke dalam sebuah mesin raksasa yang mengingatkannya pada film Charlie and The Chocolate Factory. Sebenarnya permainannya cukup aneh, karena tiba-tiba ia dan pemain lain telah berada di arena bermain roller coaster. Posisi duduknya juga berbeda dengan pemain lain, tetapi sungguh tidak terduga, itu bisa menguntungkannya. Seharusnya ia lolos ke stage selanjutnya, tapi ternyata yang terjadi tidak semudah kelihatannya. Berkali-kali ketika ia memasuki lift untuk naik level, ia ditolak dengan suara peringatan, ‘nomor ini belum diizinkan untuk masuk, silakan kembali ke tempat!’

Tetapi Qeff memang sungguh beruntung, karena ketika itu ada seseorang yang menyelamatkannya, membawanya masuk ke dalam lift melewati ‘pintu’ lain. Setelahnya ia terbangun dengan badan yang seluruhnya terasa remuk, seolah apa yang baru saja dialaminya bukanlah mimpi. Mimpi itu memang tidak benar-benar di luar kesadarannya, karena ia masih mendengar suara televisi ketika tidur, dan di waktu yang sama suara itu seolah masuk ke dalam mimpi sebagai backsound.

Qeff tidak terlalu tahu apa arti mimpi itu, tetapi setidaknya ada 3 hal yang ia garis bawahi: 1. Setiap hal memerlukan proses, sebaiknya tidak melewatkan proses apapun yang terjadi untuk bisa mencapai tujuan, 2. Bantuan orang lain bukanlah sebuah kesalahan, 3. Daripada menolak masalah, lebih penting untuk belajar menerimanya.

Bagaimana ia bisa menangkap pesan-pesan itu? Ia tidak tahu. Yang ia rasakan bahwa ia seolah-olah membaca di dalam pikirannya, yang seolah buku yang sedang terbuka.

Noe bilang, apa yang dibacanya dari mimpi itu bisa jadi merupakan sesuatu yang benar, yang berasal dari kesadaran Qeff yang lain.

“Menurut Freud, mimpi adalah pikiran bawah sadar yang bocor dan gagal mengendalikan diri …”

“Ya, aku pernah mendengarnya.”

“Bagus, karena kau mendapatkan apa yang kau butuhkan. Apakah ayah dan ibumu masih sering mengunjungimu di dalam mimpi?”

“Kurasa tidak sesering dulu. Tapi masih. Dan agaknya … kalau aku tak salah ingat, mereka mulai tersenyum kepadaku.”

Kali ini Noe tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca. Ia berkali-kali menepuk punggung Qeff.***


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal. Beberapa tulisannya bermukim di www.filadina.my.id

Cerpen

Disforia

Cerpen Tiqom Tarra

Dari semua musisi di dunia, pria di sebelahmu memilih Yiruma. Dia menyukai melodi-melodi yang membuat hati sedih. Kenapa, tanyamu. Karena sama seperti hidupku yang penuh kesedihan.

“Kalau begitu bagilah kesedihan itu padaku. Akan kutukar kesedihan itu dengan cinta dan kebersamaan.”

Pria itu hanya akan tersenyum mendengar ucapanmu. Kau tahu itu bukan senyum persetujuan karena setelahnya dia akan mengubah posisi tubuhnya untuk membelakangimu. Dia tak ingin menatapmu, terlebih dia tak ingin menganggapmu ada di sampingnya; dalam kamar yang sunyi sesudah percintaan kalian, pria itu membuat jarak denganmu. Selalu.

***

Kau masih melewati jalan yang sama setiap hari. Deretan toko, lalu lalang kendaraan, dan pedagang kaki lima menemanimu hingga sampai di sebuah halte. Untuk beberapa lama kau akan berdiri di sana menunggu bus yang akan membawamu pulang. Halte ini telah banyak berubah; warna catnya, kondisi bangku, bahkan atap yang mulai berlubang. Deretan toko yang kau lewati pun telah banyak berubah. Hanya kau di sini yang tidak berubah; berangkat dan pulang melewati jalan yang sama, melakukan hal yang sama setiap hari. Benar-benar monoton. Tak ada yang menarik dari hidupmu.

Dalam tiap langkah menuju halte, sering kau berpikir, apakah kau akan menjalani hidupmu seperti ini terus? Melewati jalan yang sama, berdiri di tempat yang sama, memikirkan hal yang sama setiap hari sampai kau tua dan mati?

Dari kaca etalase toko, kau menatap pantulan dirimu yang kurus, lusuh dengan rambut yang diikat seadanya. Wajahmu tampak memprihatinkan alih-alih tampak seperti gadis yang menginjak usia dua puluhan. Ternyata hanya satu hal yang berubah dari dirimu, yaitu usia yang bertambah tua.

Pikiranmu melayang pada ibumu di rumah yang lumpuh entah sejak kapan. Daya ingatmu tak cukup baik untuk mengingat sejak kapan ibumu lumpuh, tapi yang kau ingat kau tidak memiliki ayah sejak lahir. Dan itu tak masalah bagimu. Setidaknya kau masih punya alasan untuk tidak mengakhiri hidup.

Sampai di halte, hanya ada sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran merayu satu sama lain. Kau tak tertarik dengan mereka. Perhatianmu justru tertuju pada sebuah mobil sedan yang berhenti di seberang jalan sana. Seorang perempuan berambut kemerahan ditarik paksa untuk keluar dari mobil oleh seorang pria. Mereka terlibat adu mulut hingga si perempuan menangis. Si pria berbicara lagi, memaki dan menendang ke udara. Kau tak tahu apa yang mereka bicarakan karena jarak kalian cukup jauh, belum lagi terhalang oleh suara kendaraan yang lalu-lalang. Perempuan berambut kemerahan itu hanya bisa menangis hingga si pria masuk ke dalam mobil mewahnya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga busmu datang dan mulai melaju, kaulihat perempuan berambut kemerahan itu masih menangis tanpa memedulikan sekelilingnya. Ah, itu bukan urusanku, ucapmu sembari menyandarkan punggungmu yang lelah pada sandaran kursi.

Entah mengapa melihat mereka kau risih. Mereka bertengkar di pinggir jalan, menangis, seolah mereka sedang main drama. Kau tak suka drama kehidupan karena kau hanya bisa menjadi penonton. Hidupmu terlalu biasa saja untuk ikut ambil bagian dari sebuah drama besar di dunia. Bahkan, jika tiba-tiba kau meninggal tak akan ada yang berubah dari dunia ini kecuali ibumu yang mungkin akan segera menyusulmu.

Esoknya, seperti biasa kau berada di halte yang sama, di waktu yang sama pula. Membawa dua kilo beras untuk persediaan di rumah, juga beberapa butir telur, kau menunggu bus. Namun, tatapanmu kemudian tertuju pada sosok perempuan yang berdiri di seberang jalan. Perempuan yang kemarin bertengkar dengan kekasihnya. Apa dia tidak pulang dan 24 jam berdiri di sana seperti orang bodoh? Namun, melihat pakaiannya kau yakin dia telah pulang ke rumah karena seingatmu kemarin dia memakai kemeja biru dan sekarang memakai sweter merah.

Cukup lama kau memperhatikannya yang masih menunduk entah memikirkan apa. Hingga kemudian dia mengangkat wajahnya dan tatapan kalian bertemu. Kau yakin dia menatapmu dari seberang sana.

Kau tak suka caranya menatapmu, terlebih dengan rambut kemerahannya yang berkibar. Ada rasa benci dan iri yang sangat dalam dari tatapan perempuan itu padamu. Apa yang membuatnya menatap begitu benci? Apa karena kau melihatnya kemarin saat dia bertengkar dengan kekasihnya? Salah mereka bertengkar di tempat umum. Perempuan itu tak seharusnya membencimu.

Lalu apa yang membuatnya iri? Karena kau membawa dua kilo beras dan beberapa butir telur? Melihat apa yang dia kenakan juga tas yang dia bawa, pasti perempuan itu orang kaya. Kau yakin upahmu bekerja seumur hidup di sebuah toko kelontong pun tak akan bisa membeli tas yang perempuan itu pakai. Lalu kenapa dia harus iri padamu?

Kau menatapnya tanpa memedulikan lalu-lalang kendaraan; menantangnya bahwa hidupmu yang lebih memprihatinkan. Namun, semakin kau menatap ke dalam matanya kau merasakan suatu perasaan yang belum pernah kau rasakan. Apa ini? Kau mengusap dadamu. Rasanya benar-benar lara, seperti ada yang menyayat-nyayat hatimu begitu dalam dan pelan.

Kau menatap perempuan itu lagi, dia mengangguk perlahan. Patah hati, itu yang kini tengah dia rasakan. Kau tidak pernah merasakan patah hati karena hidupmu terlalu monoton untuk merasakan cinta. Namun, dari tatap perempuan itu, kau tahu bahwa patah hati sangat menyakitkan.

Napasmu mulai sesak entah karena apa, seolah ada bongkahan batu yang mengganjal di dadamu. Sekeras apa pun kau memukul-mukul dadamu, rasa sesak itu tetap ada dan kian parah. Kembali kau menatap perempuan berambut kemerahan itu; matanya memerah seperti rambut kemerahannya yang berkibar. Perempuan itu tengah mengadu padamu.

“Kenapa aku?” Kau tidak mengerti. Kenapa perempuan itu harus mengadu padamu. Dan kenapa dia harus membagi rasa patah hatinya padamu.

Kau nyaris muntah andai busmu tak datang dan kau segera menghambur masuk. Kau tak bisa membendung air matamu. Kenapa rasanya sesakit ini? Tanganmu gemetar hebat dan kau hanya bisa menumpahkan tangismu hingga membuat orang yang duduk di sebelahmu menatap heran.

Sesampainya di rumah kau segera menghambur ke tempat tidur, menangis sepuasnya. Ini perasaan yang asing, tapi juga familier bagimu. Apa kau pernah merasakan patah hati? Tiba-tiba kau termenung.

“Pernahkah?” Kau bertanya pada dirimu sendiri.

Ingatanmu sangat buruk; banyak hal di masa lalu yang tidak bisa kau ingat dan itu membuatmu frustrasi. Untuk sejenak kau menatap langit sore dengan semburat merah persis seperti rambut perempuan di seberang jalan tadi. Kau masih termenung menghayati perasaan di hatimu hingga ibumu memanggil dari biliknya.

Tubuh kurusnya makin menyatu dengan kasur yang sudah kumal. Ah, kau belum bisa membelikan kasur yang lebih bagus untuknya dan itu membuatmu merasa bersalah.

“Kemarilah,” ucap ibumu dengan lambaian tangan. Tangan itu sama sekali tak berdaging; hanya tulang yang dibungkus kulit kering.

Kau mendekat. Duduk di lantai agar wajahmu dekat dengan wajah ibumu.

“Kau telah berjuang dengan keras.”

Kau tak mengerti apa yang ibumu maksud. Kau tak merasa telah berjuang dengan keras selama hidupmu. Kau hanya menjalaninya dari waktu ke waktu, tua, hingga waktunya bagimu untuk mati. Atau mungkin kau akan mengakhiri hidupmu jika memang kau tak lagi punya alasan untuk hidup.

“Hiduplah dengan baik.”

Kau masih tidak mengerti. Namun, kau sedang tak ingin berpikir, rasa sakit di dada membuatmu hanya ingin kembali ke kamarmu dan berbaring; melupakan hari ini, melupakan perempuan berambut kemerahan itu.

Kau terbangun ketika suara ribut-ribut tetangga yang memulai pagi. Kau tidak berniat untuk berangkat kerja hari ini; membiarkan gajimu yang tidak seberapa dipotong bosmu yang pelit meski kau telah bekerja untuknya selama bertahun-tahun. Hingga siang kau hanya mengurung diri di kamar. Sekali waktu keluar, membuat makanan untuk ibumu, mengurusnya yang sudah tidak mampu melakukan apa pun. Kau kembali menekuni rasa sakit di hatimu. Siapa perempuan itu? Kenapa dia patah hati? Apa yang terjadi padanya?

Kau merasa pernah bertemu dengannya. Entah kapan dan di mana. Rasanya itu sudah lama sekali. Kau berdecak. Ingatanmu yang bebal sangat menyusahkan! Tak ada yang bisa memberimu penjelasan kecuali perempuan itu. Dan tak ada salahnya bertanya. Perempuan itu yang telah membuatmu merasakan sakit. Maka, kau mulai melangkah menuju halte, berharap perempuan itu berada di sana seperti kemarin.

Namun nihil. Perempuan berambut kemerahan itu tidak ada di seberang jalan sana. Apa dia belum datang? Kau tak tahu. Langit masih benderang, dan ini bukan waktu di mana kau pulang kerja. Kau hanya bisa berdiri di halte. Menunggu. Hidupmu yang monoton membuatmu terlatih untuk menunggu.

Sepasang muda-mudi yang kasmaran duduk di bangku halte seperti kemarin. Kau tidak ingat apakah sebelum hari kemarin mereka juga selalu berada di halte ini bersamamu. Kau tahu, kau tidak bisa mempercayai ingatanmu yang bebal, maka kau hanya akan menunggu, menunggu, hingga sebuah mobil sedan yang samar-samar kau ingat berhenti di seberang sana.

Ah, itu dia! serumu.

Perempuan itu turun dari mobil. Seorang pria juga turun, memeluk perempuan itu untuk beberapa lama sebelum kembali masuk mobil dan melaju. Pergi. Dan tinggallah perempuan itu sendirian.

Dia hanya berdiri di trotoar seperti patung di antara lalu lalang kendaraan yang pengendaranya ingin segera sampai rumah. Pias wajahnya, sayu matanya seolah menjadi magnet bagi kakimu untuk melangkah. Kau harus ke sana dan bertanya.

“Wanita jalang,” ucap sepasang muda-mudi di belakangmu. Mereka tertawa pelan seolah tengah mengejekmu meski kau tahu kata-kata mereka barusan ditujukan untuk perempuan di seberang jalan sana.

Kau hendak melangkah ketika melihat perempuan itu menghamburkan dirinya tepat di depan sebuah truk yang melaju. Waktu seolah berhenti. Kau melihat perempuan itu terhamtan dengan keras sebelum warna merah berhamburan dari tubuhnya seperti setangkai mawar merah yang dihentakkan dengan cepat membuat kelopaknya berhamburan.

Kau seperti terseret ke dimensi lain. Satu per satu ingatan yang sebelumnya begitu sulit kau ingat muncul di kepalamu, termasuk perasaan asing namun familier di hatimu.

Kau bukan tak pernah mengenal perasaan itu. Namun, kau sendiri yang berusaha menghilangkannya dari otakmu. Kau menghapus semua emosi dalam dirimu seperti kau menghapus kenangan tentang Ayah dari hidupmu.

Kau bukan tak pernah memiliki Ayah, tapi kau sendiri yang menghapusnya dari benakmu, ketika dia menyentuhmu dan memenuhi dirimu dengan tubuhnya. Ketika kau dendam dan mengubur nama ayahmu selama-lamanya dari hidupmu seperti kau mengubur tubuh menjijikannya tepat di belakang rumah, kemudian kau melanjutkan hidup seolah kau tak pernah memiliki Ayah sejak lahir. Pun ketika kau mencintai seorang pria dan dia tidak punya pilihan lain selain meninggalkanmu karena baginya kau hanya penjual dan dia pembeli.

Itu yang terjadi, dan perempuan berambut kemerahan itu mengingatkanmu bahwa kau sendiri yang memilih hidupku yang membosankan. Berlindung di bawah halte tua, melewati jalan yang sama setiap hari hanya untuk mengubur semua kenangan pahit.

Malam telah gelap. Pelan, kau mendengar alunan instrumen Yiruma. Pada siapa kau bisa membagi kesedihanmu dan menukarnya dengan cinta serta kebersamaan?****


Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Kini tinggal di Jembrana, Bali. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di media cetak dan daring. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (2018).

Cerpen

“…. Tapi, Bagaimana Kalau Kita Tidak Benar-Benar Ada?”

Cerpen Daruz Armedian

“…. tapi bagaimana kalau kita tidak benar-benar ada?”

Sayup-sayup kudengar dua orang, laki-laki dan perempuan, membicarakan sesuatu yang menarik bagiku. Mereka berhadap-hadapan. Apakah mereka sepasang kekasih, tentu saja aku tak tahu, dan ya, itu kurasa juga kurang perlu kutahu.

Aku duduk di sini dan mereka menempati tempat duduk yang lain, yang ada di depanku. Si laki-laki, kalau tidak ada perempuan di depannya, bisa dikatakan ia sedang berhadapan denganku. Sementara si perempuan memunggungiku. Awalnya aku tak peduli dengan pembicaraan mereka, tapi ketika sampai pada kalimat itu, yang sudah kutulis di awal paragraf cerita ini, aku mulai ikut menyimak.

“Benar juga, ya. Bagaimana kalau kita di sini malah cuma dalam bentuk bayang-bayang?”

“Astaga, jangan-jangan pula, kita adalah ilusi, atau bahkan hasil dari imajinasi seseorang, atau katakanlah sesuatu yang jauh, yang tak terjangkau.”

Ini menarik, kataku dalam hati. Di depanku ada laptop terbuka dan aku tidak peduli dengannya. Kubiarkan ia menyodorkan Microsoft Word yang cuma berisi satu paragraf tentang cerita yang absurd, yang aku sendiri enggan untuk meneruskannya.

“Kurasa pembicaraan kita terlalu jauh. Hahaha.” Si perempuan menertawakan pembahasannya sendiri. Tidak, tidak, kataku, itu tidak terlalu jauh, aku suka ada orang nongkrong di kafe dan membahas soal beginian. Jarang-jarang ada yang seperti itu. Apalagi jika itu sepasang kekasih. Tahu sendirilah apa yang dibicarakan orang-orang yang tengah berpacaran? Atau jangan-jangan mereka sedang dalam masa pendekatan? Sehingga bahasannya rumit. Bukan lagi soal kangen atau tidak kangen, soal pertanyaan lagi apa, sudah makan belum, dan sebagainya.

“Iya, ya, ngapain kita bahas begituan. Yang berguna dan yang paling dekat dengan kita sekarang kan masalah keuangan. Percuma rasanya kita bahas begituan kalo kita masih kere, ke warkop cuma pesan agm (maksudnya adalah kopi hitam agak manis yang harganya 5.000), dan saldo rekening tidak lebih dari 50.000.”

Tapi kalau kulihat-lihat, mereka tidak pesan agm. Mereka memesan jus alpukat dan cokelat panas dan dua mangkok mie goreng. Tampilan yang perempuan juga modis, sebagaimana yang laki-laki juga modis. Si perempuan memakai hoodie warna abu-abu, celana levis pendek, dan sandal yang agaknya harganya kisaran jutaan. Si laki-laki pun begitu, pakai kemeja putih keren dan jam tangan. Ia bukan tampang orang miskin.

“Hahaha. Iya bener.” Si perempuan menanggapi pendek.

Mereka tertawa lagi. Memang betul, keuangan sangat perlu kupikirkan. Terlebih ketika usiaku sudah 25 tahunan. Aku juga harus memikirkan tabungan untuk biaya pernikahan kelak, biaya berumah tangga. Aku ke sini, ke kafe ini jalan kaki, dan sampai sini hanya pesan kopi. Padahal, ada lebih dari 40 menu yang lain. Dan…

“Aku pernah benar-benar miskin. Dulu, untuk ngopi saja aku butuh mikir dua kali. Sebelum ngopi, pasti aku mikir, baiknya uangku untuk makan saja.” Si laki-laki menarik napas dalam, dan meneruskan pembicaraannya, “Tapi ini bahasan yang nggak menarik. Hahaha.”

“Kamu sudah sering cerita soal itu.”

Kemudian mereka sama-sama diam. Masing-masing sibuk dengan hapenya. Aku juga kembali memandangi laptopku. Iya, ya, untuk apa juga aku menulis yang rumit-rumit begini, yang membingungkan kepalaku sendiri, yang kalau dibaca orang lain pun pasti tidak ada faedahnya. Asu memang kehidupan begini. Harusnya aku kerja baik-baik, jadi PNS kalau perlu, biar nanti kalau tua dapat uang pensiunan. Tidak perlu membaca banyak buku, tidak perlu menulis inilah, itulah, hashhhh, taiklah. Kebutuhan dasar manusia kan makan, atau katakanlah pegang uang.

Jadi untuk apa ya Darwin mikirin manusia itu berasal dari kera, untuk apa Socrates bela-belain mati karena mempertahankan pemikirannya, untuk apa para filsuf memikirkan awal mula semesta, untuk apa sih, kalau pada dasarnya yang mereka butuhkan sebenarnya cuma melanjutkan hidup dengan makan, kerja, kalau capek ya istirahat, tidur, merenggangkan ototnya?

Tidak lama, si laki-laki teriak (ya sebenarnya tidak teriak-teriak amat sih).

“Woooooh, orang Amerika menemukan gambaran black hole.”

“Iyakah, siapa?”

“Bouman, eh, sebentar.”

“Hmmm.”

“Iya bener. Bouman. Katie Bouman. Katherine Louise Bouman. Anjiiiirrr keren.”

“Nah, kan. Apa kubilang. Orang-orang luar negeri sudah jauh pemikirannya. Mereka sudah sampai ke luar angkasa. Lah, kita? Masih sibuk ngurusin hoaks terus. Bahkan ngurus got saja masih keteteran. Masalahnya pelik memang. Kalau kamu mau jadi ilmuwan di sini, atau katakanlah kamu mau meneliti sesuatu di sini, ya kamu akan tetap kelaparan. Tidak ada dukungan apa pun dari pemerintah soal penelitianmu. Ya, mungkin kamu bisa membuat proposal, minta bantuan ini-itu, tapi itu susahnya minta ampun, yang kurasa itu tanda kalau pemerintah nggak serius ngurusin beginian.”

Aku kembali mengabaikan laptop, atau sebenarnya mengabaikan pikiranku? Aku mendengarkan perbincangan mereka lagi. Sekarang temanya beda dari yang tadi.

“Ya, begitulah yang terjadi di sini. Mau gimana lagi.” Si laki-laki sudah tidak antusias lagi.

“Hmmm.”

Tiba-tiba aku yang merasa geram. Memang betul, banyak orang-orang yang berkompeten di negara ini, tapi selalu saja mereka disia-siakan. Mereka yang muncul di permukaan, yang mendapatkan penghargaan-penghargaan di luar negeri, adalah orang-orang yang disepelekan di sini. Aku tidak tahu akar masalah ini dari mana. Yang jelas, apasih yang jelas, ini saja tidak jelas. Aku sedang mikirin apa? Arrghhhh. Pusing sendiri aku memikirkan negara ini.

Mereka akhirnya diam lagi. Masing-masing sibuk dengan hapenya lagi.

“Pulang, yuk?” Si laki-laki memasukkan hape ke sakunya.

“Ayo. Tapi mampir beli pizza, ya.” Si perempuan berkata manja.

“Lho, ini tadi sudah makan mie goreng.”

“Aaaa. Pengen. Dari kemarin pengen.”

“Iya, iya, ayo.”

Mereka berdiri dan aku gelagapan, buru-buru fokus ke laptop lagi. Aneh rasanya kalau aku ketahuan menguping sejak tadi. Aku pura-pura mengetikkan sesuatu. Aku tulis kalimat bodoh, tidak teratur, yang penting jari-jariku bergerak di atas keyboard. Untuk keluar dari warung kopi ini, mereka harus melewati samping tempat dudukku.

“Lho, Saka, kamu di sini?”

Aku tersentak. Apa benar perempuan ini mengenaliku? Siapa dia? Aku pandangi agak lama, dan …

“Karin?” tanyaku agak ragu. Dalam pikiranku, Karin adalah mahasiswa filsafat yang pintar dan kritis. Dulu dia tampilannya tidak seperti ini. Hodie dan kacamata dan celana pendek telah mengubahnya menjadi sebegitu anggun.

“Iya.” Dia tersenyum. “Aku duluan, ya,” katanya buru-buru.

“Oke, siap, Rin.” Hati-hati, ya. Hampir saja hati-hati, ya, kuucapkan.

Si laki-laki hanya diam. Ya, karena dia tidak tahu apa-apa mengenai aku.

Bagaimana kalau kita tidak benar-benar ada, Saka?” Karin mengucapkan kalimat itu dengan nada yang lucu. Mimik mukanya tetap sama seperti dulu. Seperti mengejek. Seperti tingkah orang centil. Tapi aku tetap suka. Aku membalas perkataannya dengan tertawa kencang.

Karin berlalu sambil menggandeng tangan laki-laki itu. Mungkin itu pacarnya, mungkin itu tunangannya, mungkin itu malah suaminya. Mereka menuju ke mobil warna merah, yang sejak tadi terparkir di depan warung kopi ini. Dari jauh, masih kudengar sebuah rengekan; aaa, aku sudah pengen pizza dari kemarin, lho. Iya, kan, ini nanti mampir ke sana kan? Dan suara itu dibalas lembut; iya, iya, sayang. Buruan masuk. Gerimis.

Setelah mobil itu berlalu, aku baru sadar telah begitu khusuk melihat mereka. Posisi dudukku jadi membelakangi laptop. Aku keterlaluan melengos. Aku buru-buru kembali ke posisi semula. Microsoft Word kembali kubuka. Kupencet ctrl+N, dan jari-jariku dengan cepat mengetik; mungkin aku saja yang tak perlu benar-benar ada ….

Belum banyak aku mengetik, rasanya aku ingin segera menandaskan kopiku. Ada yang mengganjal di tenggorokanku. Belum banyak aku mengetik, rasanya mataku sudah terlalu lama memandangi layar laptop. Perih. **

Jogja, 2020-2021


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tayang di pelbagai media.

Cerpen

Kotak Pandora

Cerpen Kristophorus Divinanto

Tubuh sutradara dibiarkan menggantung dengan tambang yang melingkar di lehernya. Lampu sorot utama gedung pertunjukan menyoroti tubuhnya yang tergantung, seolah-olah sutradara itu tengah bermonolog tentang kematiannya sendiri. Belum ada yang berani menurunkan jenazah itu dari atas sana. Orang-orang masih menunggu produser datang. Seorang penata artistik duduk meringkuk di bibir panggung sebelah kanan. Seorang aktris terisak-isak di sebelah asisten sutradara yang sedari tadi tidak melepaskan rangkulannya dari bahu si aktris. Seorang pemain musik berjalan dari samping panggung mendekati jenazah sutradara yang tergantung tepat di tengah panggung sambil memainkan Wiegenlied Op. 49 No. 4 karya Johannes Brahms.

“Hei! Jangan sembarangan!” hardik asisten sutradara dari bangku penonton.

Pemain musik itu langsung menghentikan permainan biolanya.

“Maaf. Hanya berusaha mencairkan suasana. Lalu sekarang bagaimana?”

Asisten sutradara kini yang menundukkan kepalanya.

“Semuanya akan jelas ketika produser datang,” kata penata artistik.

Produser masuk ke gedung pertunjukan melalui pintu utama. Lima detik lamanya ia tidak bergerak memandang tubuh sutradara pementasannya tergantung di tengah panggung. Dua orang petugas dari rumah sakit ikut bersama produser dengan membawa tandu dan peralatan lainnya. Mereka berdua segera mendekat ke arah panggung untuk menurunkan jenazah. Produser menghampiri asisten sutradara dan memeluknya. Tangis asisten sutradara tidak terbendung. Penata artistik melompat dari bibir panggung dan mendekati produser. Aktris yang sedari tadi menangis masih tersedu di tempat duduknya. Pemain musik ikut mendekat ke produser sambil menenteng biolanya.

“Siapa yang menemukan jenazahnya pertama kali?” tanya produser.

“Dia,” jawab pemain musik menunjuk aktris yang masih menangis.

Produser menghampiri aktris dan duduk di sebelahnya.

“Kita semua berduka. Aku turut berduka atas kematian tunanganmu. Tapi bisakah kamu menceritakan kepada kami, bagaimana kamu menemukannya?” tanya produser.

Sutradara dan aktris memang menjalin hubungan asmara sejak lima tahun yang lalu. Keduanya bertemu dalam satu sanggar kesenian di Yogyakarta. Di tahun keempat mereka memutuskan bertunangan dan sejak saat itu sutradara memutuskan untuk membentuk kelompok teaternya sendiri.

Tiada yang menyangka kelompok teater besutan pasangan sutradara dan aktris ini berkembang pesat. Seluruh kursi gedung pertunjukan terjual habis pada pementasan pertama. Pujian demi pujian datang dari seniman, dosen seni, mahasiswa seni, hingga orang-orang awam yang tidak terlalu menikmati bahkan peduli tentang seni.

Kelompok teater mereka menancapkan bendera kesenian pertamanya dengan mementaskan naskah Mahkamah karya Asrul Sani. Pementasan perdana memperkuat pondasi keyakinan mereka untuk terus menekuni jalan kesenian. Orang-orang mulai berbondong-bondong bergabung ke kelompok teater tersebut. Anggota kelompok bertambah seiring bertambahnya donatur dan sponsor.

Pujian demi pujian datang di setiap pementasan selanjutnya, hingga tiba hari dinas kesenian mendatangi sutradara untuk menawarkan kerja sama. Dinas meminta almarhum sutradara untuk mementaskan sebuah lakon kisah cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah yang populer di pulau Kemaro. Almarhum sutradara langsung menerima tawaran tersebut.

Namun proyek tersebut ternyata memekarkan konflik antara almarhum dengan kekasihnya. Aktris merasa keberatan ketika diminta memerankan tokoh Siti Fatimah. Almarhum sutradara berang ketika kekasihnya menolak menjadi pemeran utama dalam pementasan penting ini.

Keduanya cukup sering adu mulut selama proses latihan. Beberapa kru dan anggota teater lain selalu tidak enak hati ketika mendengar pertengkaran para pendiri kelompok teater ini di atas maupun belakang panggung. Tidak ada yang pernah berani mencoba melerai pertengkaran mereka berdua. Semua orang memang mengetahui bahwa semangat kesenian aktris sudah melemah, sedangkan kekasihnya masih berapi-api untuk terus tekun di kesenian. Setiap orang yang melihat si aktris dapat menilai bahwa segala tindakannya dilakukan untuk memenuhi keinginan kekasihnya sebagai sutradara, bukan untuk membahagiakan dirinya sendiri.

“Kalau aku boleh memilih, aku ingin hidup di tempat yang lebih luas dari panggung pertunjukan yang hanya sejengkal,” begitu ucap si aktris ketika tengah mengobrol di sesi istirahat latihan pementasan Tan Bun An dan Siti Fatimah. Semua orang menaruh rasa iba, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Segala hal di kelompok teater, ditentukan oleh sutradara–tunangan si aktris itu sendiri. Pendengar keluh kesah aktris hanya anggota biasa bahkan anak magang yang tidak bisa berbuat banyak.

“Saya dan aktris yang menemukannya,” kata penata artistik.

“Kami berdua datang lebih awal. Almarhum meminta aktris datang lebih awal untuk olah rasa. Kebetulan saya harus datang lebih awal untuk menyelesaikan properti yang belum selesai dikerjakan. Kami berdua datang bersama dan ketika memasuki gedung, almarhum sudah tergantung seperti ini,” perkataan penata artistik kian melambat seiring tangis aktris yang terdengar kian menyayat.

Produser menghela napasnya yang berat. Ia menatap jenazah sutradara yang telah ditutup dan diangkut oleh dua orang petugas rumah sakit dengan tandu.

“Kita bawa dulu ke rumah sakit,” kata produser.

Asisten sutradara dan penata artistik memapah si aktris yang berjalan sempoyongan, mengikuti dua petugas yang membawa jenazah sutradara. Produser dan pemain musik yang berjalan paling belakang.

Setelah merasa berjarak agak jauh dengan rombongan yang ada di depan, pemain musik menahan lengan produser hingga keduanya berhenti melangkah.

“Sebentar, Pak!” ucap pemain musik.

Produser menghentikan langkahnya karena terkejut dengan sikap pemain musik.

“Ada apa?” tanya produser.

“Saya menduga sutradara dibunuh oleh salah satu dari mereka. Entah mbak aktris, mbak penata artistik, atau mbak asisten sutradara itu,” bisik penata musik.

“Ngawur kamu, Bung! Jangan sembarangan menuduh!” bentak produser dengan nada lirih, berharap agar percakapan mereka barusan tidak terdengar oleh rombongan yang ada di depan.

Weh, bapak itu, lho! Saya bilang men-du-ga. Bukan me-nu-duh. Saya menduga seperti itu karena skandal mereka di masa lalu.”

“Skandal? Skandal apa?”

“Bapak ini terlalu lama di kantor jadi tidak pernah tahu apa-apa. Almarhum sutradara itu suaminya penata artistik dulunya. Tapi mereka saling tutup mulut.”

Produser membalikkan posisi badannya, menatap pemain musik yang ada di belakangnya. Mata pemain musik tampak berbinar karena perkataannya berhasil menarik perhatian produser.

“Begini ceritanya, Pak. Penata artistik itu dan almarhum sutradara sudah menikah dua tahun sebelumnya. Tapi entah apa alasannya mereka cerai. Nah, lalu sutradara kasmaran sama aktris hingga mereka tunangan. Eh, usut punya usut, di acara tunangan sutradara dan asisten sutradara tepergok salah satu tamu undangan sedang berciuman di kamar mandi. Saya dulu diajak almarhum sutradara untuk mengurus uang tutup mulut, Pak.”

“Sembrono! Kebiasaan bercandamu ini sudah keterlaluan. Ceritamu terlalu ngawur!” hardik produser.

“Silakan bapak mau percaya atau tidak. Saya itu sudah kenal almarhum sutradara sejak SMA. Saya sangat paham dengan almarhum, apalagi urusan perempuan yang ditidurinya. Tidak ada yang lebih mengenal almarhum dibanding saya, Pak.”

Produser hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Omonganmu terlalu ngawur. Jangan sok tahu! Ada yang lebih penting dari memfitnah pembunuh atau mencari aib-aib yang almarhum punya semasa hidupnya. Kita harus berpikir cara agar pertunjukan ini tetap berjalan. Pemerintah sudah memberi uang banyak kepada kita. Pertunjukan ini harus tetap berjalan.”

Produser langsung bergegas menyusul rombongan di depan yang telah berada di luar gedung pertunjukan.

 “Ya sudah kalau nggak percaya,” gerutu pemain musik.

***

Malam hari sebelum sutradara tergantung di tengah panggung, desah dari sebuah kamar hotel tersamarkan suara televisi yang dinyalakan dengan volume lantang. Kamar hotel mewah di lantai 30 selalu memberikan ruang untuk cinta yang liar, namun sepadan dengan rahasia yang disembunyikan dengan rapat.

Sutradara terjatuh di pelukan produser. Mereka berdua saling menatap sebelum bibir keduanya saling melumat. Peluh dari kedua tubuh menyatu. Produser mengelus-elus rambut sutradara.

“Kapan kamu akan menceritakan semuanya?” tanya produser.

Mendengar pertanyaan itu, sutradara segera beranjak dari kasur. Selimut yang menutupi tubuh telanjang keduanya tersingkap. Sutradara mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan mulai mengenakannya satu per satu.

“Ini yang terakhir. Aku telah mencintai aktris itu. Seutuhnya,” kata sutradara.

Produser melotot ke arah sutradara.

“Kamu mau meninggalkanku? Katamu cinta tiada berbatas?”

“Maaf, kita harus berpisah. Cinta kita adalah sebuah kesalahan.”

Sambil berpakaian, sutradara menambah volume pada sebuah liputan tentang pernikahan sesama jenis yang ditayangkan salah satu stasiun TV.

Karena asyik menyimak ulasan tentang pro dan kontra pernikahan sesama jenis, sutradara tidak menyadari bahwa produser mendekatinya dari belakang dengan sabuk di tangan. Produser tidak memberikan sedikit saja kesempatan kepada sutradara untuk berteriak. Jerat sabuk di leher sutradara kian erat dan tubuhnya kian melemas hingga sama sekali tidak bergerak.

Sutradara sudah tidak mengetahui lagi alur cerita selanjutnya. Ia tidak mengetahui saat dirinya dimasukkan ke bagasi mobil, dibawa ke gedung tempat latihan. Digantung di tengah panggung dengan lampu utama yang menyoroti tubuhnya. Sutradara itu sama sekali tidak tahu.

Nyawanya sudah tidak mendiami tubuh itu.***

Madiun, 19 Februari 2021


Kristophorus Divinanto, lahir di Cilacap sebelum pindah ke Kutoarjo. Bekerja sebagai guru sekolah dasar. Memiliki kegemaran membaca manga dan masih setia menanti tamatnya manga One Piece. Pemilik akun Instagram @kristophorus.divinanto.

Cerpen

Surealisme Indonesia dalam Cerpen Mata Terkutuk Karya Caligula Zaragyl

Cerpen Caligula Zaragyl

Bulan purnama menjadi tanda bahwa pesta para arwah dimulai. Satu demi satu arwah dari nuwa muri koo fai[1], ata mbupu[2], dan ata polo[3] keluar. Mereka berputar-putar di atas langit Danau Kelimutu. Seketika langit mulai berubah warna menjadi merah dan para arwah mulai bersatu membentuk kereta kematian. Kereta kematian yang terbuat dari susunan bola mata, bola mata yang berwarna merah, dan penuh dengan nanah. Yohanes Wato sebagai ketua adat mulai melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata[4]. Ia berdiri di tengah-tengah penari. Mereka mulai melakukan gerakan tari dengan entakan kaki, tongkat bambu dibunyikan mengikuti ritme entakan kaki, kaki kanan maju dua langkah, kemudian kaki kiri mundur dua langkah, dalam langkah kaki kedua diikuti lambaian tangan, dan giring yang terletak di pinggang terdengar nyaring mengikuti gerakan tubuh.       

Yohanes wato menyenandungkan syair untuk leluhur Danau Kelimutu: Ama lera, ina nini taka ekan, tobo moen teti kowa kelen tukan, pae mern lali tana nimun wato baya, moe yadi telu ratung, tao ile pulo getang, dewa woka lema gait, telung pesa lega ratung, yadi ihiken atadiken, gewak weaken belaon. Seiring dengan lantunan syair yang disenandungkan Yohanes Wato, kereta kematian perlahan turun, dari dalam kereta kematian keluar perempuan yang sedang menggendong bola mata seukuran bayi. Ia menatap semua warga yang sedang melangsungkan ritual pati ka dua bapu ata mata dan berjalan ke arah hutan. Yohanes Wato tak asing dengan perempuan itu, berlari sekencang mungkin untuk mengejarnya. Tak jauh darinya perempuan itu menimang-nimang bola mata, menyenandungkan syair kepada leluhur Danau Kelimutu. Tubuh Yohanes Wato bergetar,  masih ingat betul dengan logat suaranya, tubuh perempuan itu, dan semua tentang perempuan yang ada di hadapannya. Yohanes Wato menangkupkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang sedang menangis. Perempuan itu mendekati Yohanes Wato, membisikan sesuatu yang membuat tubuh Yohanes Wato bergetar.

Malam hari, semua orang berkumpul membicarakan apa yang telah terjadi. Ada yang ketakutan setengah mati, ada yang menganggap hal itu biasa, dan kebanyakan orang menganggap bahwa leluhur Danau Kelimutu marah. Alhasil para arwah mulai bergentayangan. Namun, yang pasti tak ada yang tahu siapa identitas perempuan yang menggendong bola mata. Yohanes Wato yang ditanya warga pun hanya membisu, seakan ada rahasia yang harus ditutup rapat-rapat. Mereka mulai bergegas pulang ke rumah masing-masing. Berdoa supaya tak hal buruk yang akan datang.

***

Perempuan misterius itu menimang-nimang bola mata. Seakan bola mata itu adalah bayinya. Ia menyenandungkan syair yang sangat merdu. Namun, ketika melihat desa di sekitar Danau Kelimutu mulai bersikap aneh, tatapannya penuh amarah, dan dari mulutnya keluar caci maki yang entah ditunjukkan kepada siapa. Ia membanting bola mata itu dan pecah menjadi ratusan bola mata yang berukuran seperti bola mata pada umumnya. Semua bola mata itu berputar-putar dan keluar dua kaki. Tangan perempuan itu menunjuk ke arah desa. Seketika ratusan bola itu berlari ke arah desa untuk menyebarkan kutukan.

Suasana gaib masih menyelimuti Danau Kelimutu. Semua orang tertidur pulas. Tak tahu akan ada bahaya yang sebentar lagi mengusik mereka. Ratusan bola mata itu menyusup ke dalam rumah warga dan mulai masuk ke dalam mulut orang yang sedang tertidur. Bola matanya mulai menyatu ke setiap orang. Bola mata itu serentak muncul di pipi kanan dan kiri.

Keesokan harinya, semua orang kalang kabut dengan mata yang ada di pipi kanan dan kiri. Mereka bercermin, melihat bola mata itu, bola mata itu seperti bola mata pada umumnya, tetapi terus mengeluarkan nanah yang menjijikkan. Beberapa kali dibersihkan tetap saja akan keluar lagi. Yosep yang tempramen berniat mencungkil bola mata itu. Tangan kanannya sudah memegang belati dan langsung menusuk bola mata itu, menariknya secara perlahan, dan bola mata itu keluar. Kemudian melakukan hal sama kepada bola mata terkutuk di pipi kanannya. Yosep merasakan sakit yang luar biasa. Mulutnya keluar darah. Jempao—istrinya menyuruh suaminya untuk membuka mulutnya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dalam mulutnya ada bola mata yang bergerak-gerak, mempunyai dua tangan. Kedua tangan itu menjulur keluar dan mencekik leher Yosep.

Jempao berteriak meminta tolong dan semua warga berkumpul untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tubuh Yosep bergetar dengan hebat dan tangan itu masih saja mencekik lehernya, meskipun beberapa orang berusaha menolongnya. Namun, nyawa Yosep tak tertolong. Seketika dua tangan yang mencekiknya mulai lemas, mengering, dan perlahan menjadi abu.

***

Semua orang semakin ketakutan. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka telah diteror mata terkutuk. Jempao menyarankan untuk pergi ke rumah Yohanes Wato. Mereka akhirnya berbondong-bondong ke sana. Yohanes Wato dalam posisi semadi dan mulutnya menyenandungkan syair kepada leluhur Danau Kelimutu.

Jempao yang melihat suaminya meninggal dengan cara yang tak wajar ketakutan, bersujud di kaki Yohanes Wato. “Tolonglah kami, Yohanes Wato.”

“Kutukan mata ini tak dapat dibiarkan. Tolonglah berbuat sesuatu,” ujar seseorang bertubuh gempal.

“Apa yang bisa aku lakukan? Aku juga terkena kutukan itu.” Yohanes Wato tak bersemangat hidup. Menganggap bahwa kutukan itu akan membuat semua orang mati bahkan dirinya.

Semua warga mulai bersujud di kaki Yohanes Wato. Mereka berharap Yohanes Wato melakukan sesuatu untuk menghilangkan mata terkutuk. “Kita perlu melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata untuk kedua kalinya.” Yohanes Wato memberikan saran dan semua orang setuju dengan saran itu.

Semua warga melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata. Sesaji sudah dipersiapkan mulai dari kaki babi hutan, kaki rusa, daun sirih, ubi-ubian, kelapa, labu, padi dan jagung. Satu demi satu meletakkan sesaji, memanjatkan doa untuk saudara, leluhur, kerabat, dan orang terdekat yang sudah meninggal. Yohanes menyenandungkan syair untuk leluhur Danau Kelimutu. Ia mengambil abu dari cendana. Melemparkan abu itu ke udara. Semua orang seketika langsung merasakan gatal, panas disekujur tubuhnya, dan menggaruk mata terkutuk itu. Mata yang ada di tubuh mereka keluar tangan dan mencekik leher mereka. Mereka secara perlahan mati secara mengenaskan.

Perempuan misterius itu seketika datang dengan menggendong bola mata. Yohanes Wato mendekat ke perempuan itu. Mengambil bola mata itu, menimang-nimangnya, dan menciumnya. Ia mulai teringat dengan janjinya dengan perempuan misterius itu. Ingatanya menerawang jauh pada peristiwa ketika Yohanes Wato pergi ke acara ritual pati ka dua bapu ata mata bersama istrinya yang sedang hamil. Istrinya jatuh ke tiwu ata polo. Semua orang yang melihatnya hanya menertawakannya karena menganggapnya tak berhati-hati. Dan yang lebih menjengkelkan ialah olokan yang menganggap bahwa orang yang jatuh di tiwu ata polo adalah orang jahat. Yohanes Wato pun jijik melihat mata semua orang yang memandang istrinya sebagai orang jahat. Alhasil, Yohanes Wato membuat perjanjian dengan leluhur Danau Kelimutu untuk membalaskan dendamnya.**

                                                               Ruang Sang Hyang Wenang, 12 Febuari 2022.


Caligula Zaragyl, berdomisili di Demak. Alumni PBSI di Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook dan Instagram: Nur Khafidhin Rezpector dan @Khafidhinur.


[1] tempat berkumpul arwah pemuda pemudi.

[2] tempat berkumpul arwah orang tua.

[3] Tempat berkumpul arwah orang jahat.

[4] Ritual memberikan sesaji kepada leluhur.

Cerpen

Cara Pulang Paling Mematikan

Cerpen Yesi M.H.

Ada dua ambulance di parkiran. Aku disuruh masuk ke salah satunya. Masalahnya, aku tidak tahu mana yang akan membawaku pulang. Kupencet ponsel untuk menginterogasi orang yang memberi ide gila ini. Sumpah serapah dan umpatanku meluber, bahkan sebelum dia mengucap ‘halo’. 

“Sinting … tidak adakah cara lain?”

“Mau cara seperti apa yang kamu minta?”

“Ya bukan ambulance jenazah juga.”

“Itu yang terbaik yang bisa kulakukan. Surat-surat sudah beres. Tapi ya kamu tidak bisa duduk di sebelah sopir, karena pasti akan ketahuan.”

“Lalu?”

“Ya di dalam peti.”

“Haaa?” 

“Itu cara paling mudah untuk lolos.”

Aku diam mengurung amarah agar logikaku bisa menyulut keberanian, mungkin itu satu-satunya pengalihan dan mengusir rasa takut.

“Oke, jadi yang mana? Ini ada dua ambulance,” tanyaku kini lebih sabar sambil mengusap dada yang sedari tadi naik turun.

“Yang plat AG belakangnya T.”

Mataku mengincar salah satu yang berwarna putih dengan garis cat kuning berikut tulisan partai dan gambar entah siapa.

“Jadi aku masuk saja ke peti? Ada jenazahnya, Mat?”

“Kalau nggak ada jenazah, mana bisa ada surat jalannya, Ko. Malah makin mencurigakan.”

“Jadi aku disuruh tidur bareng sama mayat?”

“Tenang, mayatnya masih baru, fresh, bukan penyakit kudisan, bukan korban kecelakaan yang berdarah-darah, cuma orang tua kurus yang sakit jantung.”

Keringatku deras membasahi kaos oblong yang sudah tiga hari ini melekat. Apakah ini harga yang harus kubayar agar sampai di depan rumah Dik Marli. Memang kuakui belum ada ide lain yang cemerlang nan gila untuk bisa melewati perbatasan dan menjadi orang bebas. 

“Ingat, Ko. Kita akan pulang. Apapun akan kita lakukan. Persetan dengan halangan, kita pasti lawan.”

“Kita buang saja mayatnya.”

“Nambahin perkara, bodoh! Sudahlah tenang, nanti setelah perbatasan kamu akan aman. Kamu boleh keluar. Sebelum sampai di situ, tahan dulu. Percayalah padaku.”

Mau tidak mau aku harus percaya pada Samat. Bahkan saat aku jadi buron seperti ini, dia rela menjadi beking untuk diriku ini. Dia juga pastinya paham, kulakukan semua ini karena terpaksa. Dunia sudah menjadi kejam, tidak ada cara lain untuk bertahan hidup kecuali dengan menjadi kejam pula. Dia mau menolongku tanpa bertanya apa pun. Tanpa syarat apa pun. Dia ini bodoh atau memang sahabatku paling setia?

Kudekap tas yang isinya sangat berharga ini. Beberapa gepok uang jadi alasan aku melalui fase menjadi manusia tidak aman. Aku mulai menyelinap ketika suasana lengang. Derap langkah kubuat sesantai mungkin agar meminimalkan kecurigaan. Lalu dengan mudah aku masuk pintu belakang ambulance. Sebuah peti tertutup kain hijau dengan tulisan arab membuatku bergidik. 

“Tuhan, ampuni aku, ampuni aku, jangan hidupkan dia,” bisikku melirik pada peti. Tidak lama ponsel bergetar di saku celana, hingga membuatku berjingkat karena selangkanganku terasa disengat listrik. Sebuah pesan dari Samat menyebutkan bahwa dia akan datang sepuluh menit lagi. Dia menambahkan lagi, sudah menyiapkan kain putih untukku.

Pakai kafannya, kalau bisa yang bener-bener mirip pocong. Jangan asal pakai. Petinya sudah kuberi triplek di atas mayatnya. Jadi kamu bisa tidur di atas orang itu. 

Aku sudah tidak berdaya, mengumpat pun sudah tidak sanggup. Di saat seperti ini aku berusaha untuk tidak membuat dosa lagi dengan berkata kotor. Aku pasrah, mungkin dengan begitu Tuhan bisa memuluskan perjalananku. Agak ribet ternyata memakai kain kafan, maklum saja aku belum pernah memakai sendiri, apalagi praktek mengurus jenazah. 

“Maaf ya, Pak,” lirihku pada jenazah itu. Aku mulai membungkus diriku dengan kain putih, sebisa dan semirip mungkin jadi jenazah. Perlahan dengan pasti aku masuk sembari menutup peti itu. Astaga semoga aku tidak mati kehabisan napas. Aku hanya bergantung pada celah kecil diantara penutup petinya. Kupeluk tas ranselku yang sewaktu-waktu harus kusembunyikan di bawah, jaga-jaga kalau polisi memaksa untuk memeriksa peti. Lagipula aku takut polisi menemukan barang bukti ini. 

Sesuai perkiraan, aku mendengar pintu terbuka dan mesin dinyalakan. Samat sepertinya membuka pintu belakang dan mengetuk petinya.

“Kamu baik-baik saja?” bisiknya.

“Agak engap, tapi nggak apa-apa.” Jangan sampai orang tahu Samat berbicara dengan peti jenazah. 

“Kamu lupa pasang kain hijaunya.”

“BODOH, bagaimana aku bisa memasangnya! Aku sudah di dalam peti!” Kudengar Samat tertawa mendesis. Di saat seperti ini dia sempat tertawa. Tega.

Lalu kurasakan mobil itu mulai bergerak. Badanku bergoyang-goyang mengikuti belokan, kadang tidak terkendali. Sialan, Samat! Tidak bisakah dia menyetir dengan sopan sedikit, ada orang tua mati di dalam peti. Kepalaku terantuk dinding peti, sesekali menggeliat memperbaiki posisi, ah aku frustrasi! Beginikah rasanya mati dikurung dalam peti jenazah? Tahan Darko, sebentar lagi Dik Marli di depan mata. 

Ambulance sempat berhenti dan terdengar Samat berbicara dengan seseorang. Astaga, tega nian aparat masih berani dan tidak percaya pada isi ambulance jenazah. Aku gemetar saat suara pintu belakang dibuka, cahaya kecil tampak menerpa bagian kakiku. Mungkin si petugas tidak berani membuka peti terlalu lebar. Jika sedikit saja sudah memastikan ada tubuh berbalut kafan, aman sudah. Aku berusaha tidak memikirkan apa-apa. Sampai rasanya mataku pedas dan mengantuk. Aku hanya ingat pipiku ditepuk dengan kencang setelahnya.

“Kukira kamu mati.”

“Hah, sampai mana?” tanyaku gelagapan mengusap sisa lelehan air liur di pipi. 

Rest area. Sudah cukup aman. Kamu bisa duduk di depan.”

Aku meloncat bangun dengan cepat seperti merasa bebas dari segala hukuman. Ribuan kata maaf terlontar pada jenazah yang sudah kujadikan alas tidur. Semoga dimudahkan di dunia kuburnya, batinku merapal doa. 

Samat memberiku makan dan minum, menjamuku di warung kecil tepat di depan ambulance. Kami saling melepas rasa lega. Dia bercerita tentang orang di dalam peti itu, ternyata masih sanak saudaranya yang sebatang kara. Sebuah kebetulan yang sepertinya disusun dengan sangat rapi layaknya konspirasi. Aku sendiri bercerita tentang kejahatanku. Tentang apa isi tas yang selalu kudekap ini. Lalu kami melepas tawa mengingat kejadian-kejadian selama kami menjadi sahabat.

Aku tidak tahan cerita tentang Dik Marli, orang yang kugadang-gadang untuk jadi istriku. Kusampaikan kegalauanku seusai merampok, aku jadi berpikir, apa Dik Marli masih mau bersamaku, seorang kriminal. Curahan hati itu meluncur deras dari mulutku. Kini Samat tahu luar dalam dari seorang Darko. Bahkan aku juga percaya dia bisa membawa pesan untuk Dik Marli, seumpama, sekonyong-konyong, tiba-tiba aku akhirnya mati sebelum sempat bertemu, dia bisa menyampaikan pesanku. Aku paham risiko yang kujalani. Aku bisa saja ditembak mati jika melawan. 

Kening Samat berkerut ketika dia memeriksa ponselnya. Ada berita terbaru, polisi tahu identitas seorang perampok, dan sekarang sedang menyisir berbagai wilayah, termasuk tanah kelahiranku. Kami saling pandang.

“Berarti aku harus masuk peti lagi?”

“Baiknya begitu.”

Aku pasrah, kuteguk air kemasan yang disiapkan Samat sampai habis saking gugupnya. Aku mengecap berulang-ulang karena air itu rasanya aneh. Sedikit pahit dan getir. Atau hanya efek ketakutanku. Ah ya sudahlah, aku perlu mental baja untuk kembali tidur di atas orang mati. 

Ambulance kembali melaju lembut, Samat kini lebih beradab dalam menyetir. Tak lama aku merasa tenggorokanku seperti dicekik, dadaku sakit, aku tidak bisa bernapas. Penglihatan kabur kemudian gelap. Peti itu menggencetku sampai sakit, saking sakitnya sampai lama-kelamaan mati rasa. Dan aku mengantuk lagi.

Lalu aku terbangun, rasanya seperti baru saja melalui malam yang sangat panjang. Kurasakan sunyi dan masih gelap. Aneh, jika sudah sampai rumah, kenapa Samat tidak membukakan peti. Sebuah cahaya tepat di sebelahku segera membuatku tersadar. Aku memang sudah pulang. 

Sudah ketahuan siapa yang dicintai Samat. Salahku sendiri bercerita tentang Dik Marli. Aku sendiri bodoh, mengira dia baik-baik saja ketika mendengar aku akan menikah dengan Dik Marli. Sampai akhirnya api itu menyala-nyala membuat ledakan yang cukup besar, Sampai melemparkanku pada posisi sekarang. Kilauan cahaya dengan sayap itu mendekat dan mulai bertanya.

Man Rabbuka?” ****

Bogor, 12 Februari 2022


Yesi M.H. Penulis kelahiran Nganjuk yang sekarang berdomisili di Bogor. Buku solo terbit di tahun 2021 berjudul “Sekantong Impian” adalah kumpulan cerita pertama sejak terjun menulis di tahun 2019. Sapa penulis di Instagram @ecy_mh atau surel [email protected]

Cerpen

Dua Puluh Tujuh Kereta Uap

Cerpen Galuh Ayara.

Yang kunaiki hari ini adalah kereta uap yang ke-lima. Masih tersisa dua puluh dua. Artinya aku masih harus mempersiapkan diriku pergi ke dua puluh dua kota berbeda. Dan… tentu saja, tabunganku mulai menipis. Aku akan jatuh miskin setelah perjalanan selesai. Tapi aku tidak peduli, bahkan jika seluruh yang kumiliki di dunia ini akan habis terkuras.

Di balik jendela kaca yang gemetar, deretan pemandangan hijau dengan bukit-bukit kecil, dan puluhan domba di atas padang rumput, angin sepoi, anak-anak desa berlari membentangkan tangan, saling mengejar. Sejenak aku terbuai. Hatiku seperti kereta yang melaju. Aku merasa bergerak-gerak meninggalkan sesuatu; bayangan lelaki itu dan puluhan pil tidur, tubuh yang beku, mulut yang berbusa. Aku ingin bergerak dan lupa pada hal-hal menyakitkan itu. Aku ingin menjauh seperti kereta. Aku ingin lupa. Ingin lupa.

Saat itu—terutama setiap kali akhir pekan, sementara pasangan lain sibuk berkencan di luar, aku harus siap hanya menemaninya di kamar kos, mendengar keluh kesahnya tentang negara dan sistemnya, tentang kemanusiaan, tentang alam yang mulai rusak, tentang semesta yang berdesakan di dalam batok kepalanya. Kadang-kadang juga aku bingung sendiri memikirkan; kenapa Dafi lelah? Kenapa ia ingin mati muda? Bagaimana seseorang yang memikirkan banyak hal, tapi tidak mempunyai mimpi untuk dirinya sendiri?

“Apa alasan kita tetap hidup?” katanya. “Untuk tua dan menyebalkan? Untuk kesepian lalu menghabiskan sisa hidup dengan merutuk? Jika tidak bermanfaat, untuk apa hanya terlibat dalam permasalahan over populasi di bumi ini?”

Ia lantas menjentikkan tangannya seakan ia sedang menangkap sesuatu.

“Apa yang kamu tangkap?”

“Kekosongan.”

Aku mendengus seperti babi hutan.

“Aku serius. Kekosongan itu kan tetap isi.”

“Dan isi itu tetap kosong?”

“Apa yang paling kamu inginkan dalam hidupmu?”

“Kabur sama kamu.”

Ia tersenyum sembari mengacak rambutku.

“Aku serius.”

“Aku cinta kamu,” katanya, pelan sekali. Hampir seirama bahkan kalah dengan suara kipas angin butut yang berputar-putar di depan kami, “tapi aku tidak punya masa depan. Aku mulai lelah dengan semuanya.”

“Kenapa kamu lelah?”

“Karena aku tidak istirahat.”

“Apakah obat tidur tidak membantu?”

“Aku bukan butuh tidur, aku butuh istirahat. Istirahat itu berhenti dari hal-hal yang menguras energi. Entah itu pekerjaan atau pikiran.”

“Lambat laun kamu harus membuang semua yang ada di kepala kamu itu.”

“Baiklah, Nona.”

Matahari mulai oranye di luar jendela. Aku berusaha menyentuh cahayanya yang masuk ke ruangan itu. Cahaya yang seolah terbelah-belah oleh bayangan teralis yang menguarkan aroma besi tua berkarat. Dan cahaya itu memeluk wajah laki-laki di depanku. Lelaki muda yang terlihat lebih tua bahkan dari teralis itu yang berkarat-karat. Lebih lelah, lebih rapuh, dan seolah hampir sekarat.

“Emm, sudah sore,” ucapku sambil terus memandangi cahaya sore yang jatuh di wajahnya. Cahaya yang terbelah-belah, seakan ingin membelah dirinya menjadi ribuan kunang-kunang yang beterbangan.

“Kamu pernah dengar, kunang-kunang dititipi cahaya kecil di tubuhnya, bukan untuk menerangi semesta.”

Ia diam. Tentu ia paham ke mana arah ucapanku. Tapi ia diam seolah tidak mendengar apa-apa yang kukatakan.

“Pulanglah. Aku antar, ya?”

“Nggak usah. Kamu kan harus ngerjain banyak hal sore ini.”

“Iya. Mengerjakan hal yang tidak berguna.”

Ia terkekeh.

“Jangan begitu. Kamu harus berpikir positif.”

“Hmm, apa cinta itu sebuah pekerjaan, Olivia?”

“Tapi kamu pengangguran!”

“Hey, aku menulis.”

“Ya. Kamu penulis dan gak punya uang.”

Sontak aku terbahak-bahak. Aku tertawa puas sampai mengeluarkan air mata.

“Tega sekali kamu.”

Kadang bingung juga, kenapa aku menginginkan laki-laki ini? Laki-laki aneh yang memimpikan mati di usia dua puluh tujuh. Lelaki yang gemar membuka tenda di hutan sendirian dengan sebungkus mie instan yang biasa ia seduh dalam gelas besar. Seorang pemikir keras yang di balik sikap cueknya, di saat-saat tertentu bisa sangat manja melebihi keponakanku yang masih balita.

“Kalau nanti kita punya rumah di hutan, aku akan buatkan kamu terrarium,” katanya suatu hari, setelah aku bercerita tentang keinginanku; naik dua puluh tujuh kereta uap.

“Jangan mati di usia dua tujuh. Karena di usia itu aku ingin kita berkeliling naik kereta uap di dua tujuh kota.”

“Aku ingin membangun rumah kecil di hutan kalau aku masih hidup di usia itu dan aku menjadi orang yang gagal untuk banyak orang. Aku ingin hidup sederhana dengan alam, bersama kamu; satu-satunya orang yang nggak pernah menganggapku gagal.”

“Jangan hutan, please. Aku lebih baik hidup di permukiman kumuh asal padat dengan manusia. Kamu tahu, aku selalu menikmati kesepian dan keterasingan yang kudus di tempat-tempat riuh dan bising. Bau apek, bau selokan, anak-anak kecil yang berlari di lampu merah, suara ukulele, sirine polisi, mobil-mobil yang membawa mayat. Haha, bayangkan, kamu bisa melihat kehidupan dan kematian yang berdampingan. Tangis dan tawa, luka dan kesembuhan. Yang terus bergerak, yang terus diam. Kita itu begitu padat ternyata, begitu saling terhubung, tapi juga jauh. Kita semua kesepian.”

“Aku suka api unggun.”

“Aku suka kembang api.”

“Terrarium.”

“Aquarium.”

“Menurutmu, kita bisa bersatu?”

“Tentu saja. Aku cinta kamu dan kamu juga cinta aku.”

“Apa cinta itu keinginan? Seperti aku menginginkanmu dan kamu menginginkanku?”

“Mungkin lebih lebih dari itu. Cinta itu penerimaan. Seperti aku menerima kamu.”

“Cinta itu menjaga.”

“Kamu begitu rumit. Mencintaimu seperti masuk ke labirin luas, Gaddafi.”

“Kamu sudah menerimaku bukan?”

“Entahlah. Hanya saja kalau kamu nggak ada, hidupku seperti kosong.”

“Kosong yang kataku berisi?”

“Kamu lebih seperti kepingan puzzle. Kalau hilang, hidupku gak lengkap.”

Aku mengambil piring yang berisi kebab yang mulai dingin. Tadi aku bawakan makanan ini untuk memperlihatkan kepada Dafi soal keseriusanku mempelajari makanan timur tengah.

“Aku sudah belajar membuat kebab. Meski dengan resep paling sederhana. Aku mengganti isian dagingnya dengan irisan sosis. Paling tidak aku sudah belajar membuat satu makanan timur tengah, kan? Aku siap menjadi menantu ayahmu yang dari Arab itu.”

“Belajar dari mana?”

“Dari Tatjana. Tiga hari yang lalu dia baru datang.”

“Tatjana sahabatmu yang cantik itu?”

“Cantik?”

“Hmm, aku tidak suka yang cantik-cantik.”

“Jadi aku tidak cantik?”

“Boleh aku coba kebab buatanmu?”

Aku meliriknya cukup lama, tentu dengan perasaan seperti ingin memakannya bulat-bulat.

“Sudahlah. Kamu akan lebih suka mie instan.”

Aku menaruh kembali kebab itu di atas meja, lalu berpikir kembali tentang tiga hal; keinginan, penerimaan, menjaga. Akan tetapi, cinta lebih rumit dari yang kukira, dan cara kerja perasaan lebih acak dari segala sesuatu yang bahkan paling acak di bumi ini. Tetapi aku yakin; aku mencintai Dafi.

***

“Hey, Nona.”

Aku terbangun seketika. Di hadapanku seorang petugas kereta tersenyum. Ah, aku bahkan sudah tertidur selama itu.

“Kereta sudah berhenti, Nona.”

“Oh … aku minta maaf.”

Di tanganku, sebuah buku jurnal masih terbuka. Sudah kuhitung satu per satu. Ini lembar ke-dua puluh tujuh. Hanya sebuah tulisan “capek”. Di buku ini Dafi seolah sudah mencatat semua. Termasuk pertama kali kami berciuman, pertama kali kami bercinta lalu ia berjanji untuk tidak meninggalkanku. Pertama kali dia membelikanku roti dengan uang honor menulisnya. Satu hal yang belum ia catat; berapa ratus butir pil tidur yang ada di genggaman tangannya malam itu.

Tiba-tiba air mataku deras keluar. Seperti air terjun di tengah hutan. Meluncur begitu saja.

Petugas itu menghela napas.

“Jangan bersedih, Nona. Kita sudah sampai.”

“Aku belum sampai.”

“Kamu hendak ke mana?”

“Ke makam pacarku.” ****

2022


Galuh Ayara. Suka menulis puisi dan cerpen. Sudah menerbitkan buku yang berjudul Nyanyian Origami. Tulisannya juga ada di beberapa buku antologi dan di beberapa media.

Cerpen

Neraka di Antara Ayah dan Pria Itu

Cerpen Aliurridha

Malam begitu pekat hingga tiada satu bintang pun terlihat. Lampu-lampu di sepanjang rel kereta api masih menyala, tapi tak menerangi apa-apa. Ia berjalan tertatih di sepanjang rel kereta api yang sudah lama tak digunakan. Pikirannya terombang-ambing di antara dua pilihan yang sama pahitnya. Di sepanjang langkah kakinya, ia dilema memilih kembali atau terus pergi. Jika kembali, maka sudah dapat dipastikan tidak ada lagi kebahagian, hanya neraka kehidupan; dan jika ia terus lanjut, ia tidak tahu lagi harus ke mana.

Hatinya kalut. Pikirannya dipenuhi rasa takut ketika matanya menatap sekeliling di mana hanya ada gerbong-gerbong rongsok tempat para pekerja rendahan melampiaskan syahwatnya pada penjaja tubuh. Kakinya bergetar ketika ia membayangkan harus dipaksa melayani para binatang yang tidak tahu cara memperlakukan wanita. Dieratkannya ikatan dari kain batik murahan yang ia gunakan menggendong bayinya yang bahkan belum genap satu tahun itu agar ia bisa melangkah lebih cepat dan enyah dari tempat ini. Beruntung hari belum terlalu malam.

Langkah kakinya melemah. Kakinya letih tiada terkira. Otot di betis dan pahanya berdenyut nyeri setelah dipaksa lebih empat jam berjalan tanpa tujuan. Dihirupnya panjang udara malam dan dibiarkan pikirannya mengawang menelusuri percabangan jalan yang telah ditempuhnya. Ia menyesali apa yang telah terjadi; ia menyesal telah meninggalkan keluarganya demi pria itu. Ingin rasanya ia pulang, mencium kaki ayahnya, meminta maaf atas kebodohannya dan mengatakan kepada ayahnya bahwa ayah benar tentang pria itu, dan ayah juga benar tentang segala hal. Tapi tak ada lagi rumah untuknya pulang, semuanya telah ia buang jauh di belakang.

Jika mengingat masa-masa perkenalannya dengan pria itu, sebenarnya ia sama sekali tidak pernah tertarik kepadanya. Tak ada sedikit pun yang menarik dari penampilannya yang urakan. Ia tak pernah suka jaket jin lusuh yang selalu pria itu kenakan. Ia juga tak suka postur tubuhnya yang jangkung dan kurus, dan rambut gondrongnya yang tak terurus. Tak ada sedikit pun yang menarik dari pria itu. Tapi kegigihannya itu, membuat ia luluh juga.

Ayahnya menentang hubungannya dengan pria itu. Ayahnya selalu begitu. Tak ada satu pria pun yang benar-benar sempurna di mata ayahnya. Sejak kecil hidupnya telah diatur sedemikian rupa, dan ayahnya telah memilihkan jalan mana yang harus ia tempuh. Segala yang ditanamkan ayahnya masuk ke alam bawah sadarnya sebagai sebuah kebenaran absolut. Namun, perkenalannya dengan pria itu mengubah segalanya. Perkenalannya dengan pria itu membangkitkan jiwa pemberontak yang selama ini tertidur. Ia mulai bergerilya menentang ayahnya, sampai kemudian terang-terangan melawan ayahnya setelah melihat bagaimana ayahnya mempermalukan pria yang dicintainya.

“Kamu mau melamar anakku?” Ayahnya tertawa, seolah apa yang dikatakan pria itu adalah lelucon yang lucu. “Memangnya kamu bisa apa? Hidup tak jelas, kerjaan juga tak punya. Jika ada pria yang paling tidak layak untuk anakku, maka kamulah orangnya.”

Darahnya mendidih mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Pria itu tidak membalas dan hanya bisa menunduk. Badannya gemetar, entah oleh amarah atau karena malu, ia tidak tahu. Ia tidak pernah sempat menanyakannya. Lalu ketika pria itu pergi dari rumahnya, ia bertanya kepada ayahnya. Ia merasa bahwa bukan masalah jika pria itu tidak punya pekerjaan tetap sekarang. Itu semua bisa diusahakan. “Bukankah rumah tangga tentang berusaha bersama?” katanya.

Ayahnya kembali tertawa. “Bukan itu masalahnya. Kamu tahu, dia itu lelaki tidak benar.”

“Dari mana ayah tahu?”

“Ayah tahu saja. Ayah bisa melihatnya.” Ketika ia tidak membalas, ayahnya menambahkan. “Sudahlah. Laki-laki seperti itu tak bisa diharapkan. Dia hanya akan menjadi benalu dalam hidupmu.”

“Sedang apa kamu di situ?” Sebuah pertanyaan menghentaknya kembali ke masa kini. Saat itu ia tengah duduk pada sebuah kursi kayu di pinggir rel kereta, memijiti kakinya yang letih. Ia menoleh dan memperhatikan wanita yang menyapanya. Wanita itu menggunakan rok ketat yang jauh di atas lutut dengan atasan blouse tanpa lengan yang begitu rendah pada bagian dada, memamerkan asetnya yang berharga, dan riasan tebal menambah rayu pada wajahnya yang menggoda.  

Mungkin karena tidak ada balasan yang keluar dari mulutnya, wanita itu mengulangi lagi pertanyaannya. Mendadak sesuatu tumpah dari kedua bola matanya. Wanita itu kemudian menatapnya penuh perhatian, berusaha memahami apa yang sedang dilaluinya. Kemudian wanita itu mengajaknya ikut ke rumahnya. Ia menolak. Ia tak percaya lagi pada kebaikan jenis apa pun di dunia ini, apalagi kebaikan yang ditawarkan oleh orang asing. Hidup mengajarkannya bahwa setiap orang menginginkan sesuatu dari orang lain.

“Aku nggak akan maksa. Wanita sepertimu takkan bertahan semalam di tempat ini. Kamu beruntung aku menemukanmu lebih dulu. Jika para lelaki miskin yang bahkan tak punya uang untuk menyewa pelacur itu menemukanmu lebih dulu, kamu akan diperkosa sampai tak bisa jalan,” kata wanita itu.  Merinding ia mendengarnya. Ia tidak tahu bagaimana dunia bekerja di luar rumah orangtuanya dan pria itu. Ia tidak punya pilihan selain ikut dengannya.

***

Melisa, wanita yang menyelamatkan hidupnya itu, mengajarkannya sesuatu—bahwa ia tak memerlukan siapa pun untuk bertahan hidup di dunia ini. Sejak itu ia mengikuti apa yang dikerjakan Melisa; ia ikut memberikan jasanya pada para pria kesepian yang mencari sedikit kesenangan dari kehidupan rumah tangga mereka yang membosankan. Ia tidak peduli lagi dengan moral, lagi pula apa yang dilakukannya ini juga bukan pertama kali. Pria yang pernah menjadi suaminya itu, pria yang berjanji akan melakukan apa saja untuknya, tanpa malu pernah memintanya melacurkan diri.

Saat itu hidup mereka begitu susah. Anaknya baru saja lahir dan suaminya tak punya pekerjaan. Suaminya sangat malas dan dari mulutnya hanya terdengar keluhan. Baru sebentar bekerja di bengkel, ia sudah dikeluarkan karena malas-malasan dan melawan atasan. Kemudian ia mengeluh, mengatakan bahwa atasannya adalah seorang brengsek yang bisanya cuma memerintah. Beberapa kali ia diterima kerja di tempat baru, dikeluarkan lagi, diterima lagi, dikeluarkan lagi. Ia tak pernah benar-benar serius bekerja. Kerjanya hanya berjudi, mabuk-mabukkan, dan pulang tengah malam tanpa sepeser uang. Lalu uang hasil ia bekerja sebagai kasir swalayan, dihabiskan suaminya di meja judi. Hampir setiap hari, suaminya menjanjikan uangnya akan kembali berkali lipat, tapi yang kembali bukannya uang, melainkan utang.

Kemudian datanglah musibah itu. Anaknya sakit dan mereka tidak punya uang sepeser pun untuk membawanya ke rumah sakit. Awalnya ia hanya berniat melakukannya sekali saja, untuk menebus biaya perawatan bayinya di rumah sakit. Tapi suaminya memintanya melakukannya lagi. “Kalau kamu tidak mau, keluar saja dari rumah ini. Pulang ke rumah ayahmu yang sombong itu!” ancam pria itu.

Ia merasa benar-benar terjebak dalam lingkaran setan. Ia tidak punya pilihan selain menurut. Sampai di suatu malam sebuah kejadian mengaktifkan bom yang ditanam pria itu.

Ketika itu ia pulang lebih cepat dari hari biasanya. Di depan rumah kontrakannya, ia mendengar tangisan bayi. Ia bergegas lari ke dalam rumah, dan ia menemukan bayinya menangis sendirian. Ayah si bayi tak ada di sana. Kemudian di kamar sebelah, ia mendengar lenguhan wanita. Bergegas ia menuju kamar sebelah, dan ia melihat suaminya sedang menindih seorang wanita. Pinggulnya bergerak naik turun begitu cepat seperti mesin jahit. Melihat adegan itu, otot-otot di seluruh tubuhnya mengeras, tubuhnya terasa panas, dan darah mengalir deras ke ubun-ubun. Bom itu meledak. Bersama dengan segala sumpah serapah yang pecah dari mulutnya, ia melompat menerjang mereka. Satu tendangan dilepas ke punggung suaminya, membuat pria itu segera bangkit. Tak sempat menyelesaikan syahwatnya, pria itu mengamuk dan menamparnya berkali-kali. Ia kaget bukan main. Itu pertama kalinya ia ditampar. Sejahat apa pun mulut pria itu, ia belum pernah menggunakan tangannya.

Ia menatap mata suaminya, tidak ada lagi kasih di sana. Kemudian suaminya mengatakan sesuatu yang takkan pernah ia lupakan seumur hidup: “Kamu tahu sebenarnya aku mencintaimu, tapi kebencianku pada ayahmu jauh lebih besar.”

Tubuhnya lemas begitu gelombang emosi itu surut. Kemudian kata-kata ayahnya beberapa tahun silam kembali menggema di telinganya.

***

“Kamu yakin?” tanya Melisa.

“Iya. Keputusanku sudah bulat. Aku akan pulang dan meminta maaf pada ayah.”

“Ayahmu pasti akan menerimamu kembali,” kata Melisa. Tangan Melisa mengelus bahunya dan ia langsung menggenggamnya.

“Terus bagaimana dengan pekerjaan nanti malam?” tanya Melisa. “Aku sudah janji dengan tamuku. Kamu datang, ya! Dia sudah lama mendengar tentangmu, dan dia sangat penasaran.” Melisa memegang kedua tangannya dan menatapnya dengan tatapan memohon.

“Tenang saja aku pasti datang,” katanya. Dalam hati ia telah memantapkan diri kalau ini akan menjadi yang terakhir. Setelah ini ia akan mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia ingin anaknya tumbuh di lingkungan yang lebih baik.

“Kamu jangan khawatir. Om Yoga ini orangnya baik, dia banyak memberi tips.” Melisa kemudian mendekat dan berbisik ke telinganya: “Dan kamu tahu, dia galak di ranjang. Kamu pasti puas.”

Ia merasa geli mendengarnya. “Apaan sih. Aku tak peduli dengan kepuasaanku. Yang penting saat ini hanya uang.”

Melisa tersenyum cabul, kemudian menasihatinya dengan mengutip entah siapa: “Buatlah kesenanganmu menjadi pekerjaan dan kamu tidak akan pernah merasa bekerja.”

Mereka pun tertawa.

***

Melisa mengatakan Om Yoga telah menunggunya di meja delapan. Ia perhatikan tubuh laki-laki itu dari belakang. Ia merasa tidak asing dengan sosok yang sedang duduk sendirian menunggunya. Dari belakang posturnya tampak gagah. Otot-otot lengannya terlihat kokoh. Bahu dan punggungnya pun kelihatan lebar. Jelas sekali laki-laki ini sering berolahraga. Kemudian ia teringat lagi perkataan Melisa tadi pagi. Perutnya geli dan darahnya berdesir.

Ia berjalan mendekat. Semakin ia mendekat, laki-laki itu terlihat semakin familier. Ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Punggung itu mengingatkannya akan seseorang dari masa lalu. Punggung itu adalah tempat dulu ia bergelayut manja setiap orang itu menggendongnya. Tidak mungkin, kan? Sekelebat perasaan ganjil mendatanginya. Langkah kakinya melambat. Tapi ia terus melangkah sebelum berhenti dua langkah di belakang laki-laki itu. Dugaannya tidak keliru. Ia sudah berpikir untuk pergi sebelum laki-laki itu menyadarinya. Namun belum sempat ia membalik badan, laki-laki itu menoleh dan tersenyum memanggilnya. Dan begitu melihat dirinya, senyum di bibir laki-laki itu pudar seketika. Wajahnya pucat, matanya melotot, dan mulutnya sedikit terbuka. Tapi tak ada kata yang meluncur dari bibirnya.****

Sandik, 2021-2022


Aliurridha, menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di pelbagai media. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

Cerpen

Mencari Lorong Reinkarnasi

Cerpen Ilham Nuryadi Akbar

Sebelum embun di ujung rerumputan kering dijilat terik matahari, bapak dan para tetangga sudah rapi mengenakan topi rotan, serta baju lengan panjang bermotif getah dan lumpur. Kemudian mengayuh sepeda dengan beriringan. Setiap keranjang sepeda terdapat karung goni yang berisikan identitas diri, benda tajam, serta lauk pauk, bapak dan warga akan menempuh perjalanan yang sudah mereka hafal sejak masih kecil, dengan tujuan tiba di kebun masing-masing sebelum matahari menjadi sangat pirang. Semua itu telah menjadi rutinitas bapak dan warga di kampungku, pergi memetik buah kakau pada minggu pertama di setiap bulan berjalan. Namun, itu hanya cerita dulu.

Sedang para ibu-ibu di kampungku selalu pergi saat siang jelang sore, dan sebelum muazin bersiap mengumandangkan azan magrib, mereka sudah pasti tiba di rumah dengan setumpuk rumput gajah yang dipikul pada bahu, rumput gajah itu nantinya akan diberi pada lembu, kambing, serta kerbau yang mereka pelihara, sudah menjadi hal biasa bagi para perempuan di kampungku untuk pergi mencari pakan bagi hewan ternak, sebab apalagi yang mereka harap, menjual hewan ternak yang telah mereka pelihara dapat membantu dalam menghidupi serta menyekolahkan anak-anak mereka, termasuk juga diriku. Ah, lagi-lagi itu cerita dulu.

***

Sabit bergalah dan arit di dapur sudah berkarat, bentuknya seperti besi yang sudah lama tenggelam di dasar laut, bahkan kawat yang mengikat pada gagang kayunya mulai rontok. Padahal, salah satu dari kedua benda itu sangat aku butuhkan untuk kegiatan gotong royong besok hari, sebab wali kelas sudah memberitahukan, kalau pada kegiatan gotong royong kedapatan murid yang tidak membawa peralatan, akan diberi denda dengan membawa lima kilo pupuk tanaman, jika saja hal itu terjadi, tentu ibu akan marah. Sehingga aku lebih memilih untuk mengasah arit agar kembali tajam, sebab malam hari begini, tidak mungkin toko yang menjual peralatan semacam itu masih buka.

Selagi aku masih mengasah, terdengar derit pintu seperti seseorang yang sedang masuk ke dalam rumah, meski aku tidak beranjak untuk melihat, tapi dapat kupastikan bahwa itu adalah bapak yang baru saja pulang bekerja, sebab hampir setiap harinya bapak pulang larut malam seperti ini. Melihat aku yang masih sibuk mengasah arit, bapak pun menegurku.

“Aritnya mau dipakai buat apa?” tanya bapak.

“Besok mau dipakai untuk kegiatan gotong royong di sekolah.” Pertanyaan bapak kujawab jujur sembari terus mengasah.

Aku pikir bapak akan memarahiku karena sudah larut malam begini aku baru mulai menyiapkan keperluan untuk kegiatan besok hari, namun bapak hanya berdiri saja dengan terus melihat kesibukanku, tapi diam-diam kuperhatikan, sesekali mata bapak melirik topi rotan dan beberapa alat yang dulunya sering digunakan untuk pergi ke kebun. Mungkin bapak rindu dengan suasana bekerja di kebun, atau mungkin saja bapak tidak suka menjadi buruh seperti saat ini, pikirku begitu. Lantas aku kembali mengajak bapak berbicara, agar bapak tidak terus termangu.

“Lagian arit ini sudah lama enggak digunain, sisi tajamnya saja sampai tumpul, belum lagi karatannya, tebal,” tuturku.

“Mau gimana lagi, kamu kan tahu sendiri bapakmu ini sudah satu tahun tidak pernah ke kebun, dan ibumu juga sudah hampir delapan bulan berhenti untuk cari rumput,” jawab bapak dengan tegas.

Bapak seperti memarahiku, seakan-akan penyebab sabit bergalah dan arit jadi berkarat karena ulahku.

“Kebun punya warga termasuk juga kebun kita, sudah tidak bisa dipakai untuk bercocok tanam, kalau tidak, itu arit enggak bakalan ketemu dengan yang namanya nganggur,” tambah bapak dengan nada lemah.

Belum sempat aku menyanggah, bapak langsung masuk kamar dengan wajah yang murung, seperti anak TK yang dipaksa untuk tidur siang saja. Timbul rasa penyesalanku karena telah menyinggung, namun mau bagaimana lagi, semua yang aku sampaikan itu semata-mata untuk mencari jawaban atas kegelisahanku, sebab, sudah satu bulan ini bapak berangkat kerja dengan terburu-buru, bukan karena bapak bangun kesiangan, tapi bapak selalu bermalas-malasan. Padahal sudah tiga bulan bapak bekerja sebagai buruh pabrik, dan sikap bapak itu seperti menunjukkan, kalau bapak sudah bosan dengan pekerjaan barunya ini.

Atau mungkin saja bapak merasa kesal, karena bapak beserta para warga di kampungku tidak bisa lagi memetik buah kakau yang mereka tanam, bisa dibilang 80% warga di kampungku dulunya bekerja sebagai petani, dan biji dari buah kakau yang mereka jual adalah mata pencaharian utama. Namun tanah di kebun kami telah tercemar oleh limbah dari pabrik kelapa sawit yang berdiri tegak menjulang tinggi di bagian utara, dan limbah dari batu bara yang begitu kokoh di bagian selatan, kedua pabrik yang jaraknya hanya 100 meter dari kampung telah mencemari tanah kebun yang kami miliki, sehingga para warga tidak dapat memetik hasil yang mereka tanam, bahkan warna tanahnya saja telah menghitam, dan pohon kakau tidak dapat menghasilkan buah.

Termasuk juga rumput gajah, biasanya pakan untuk hewan ternak itu selalu tumbuh subur dan berbatang besar di pinggiran kebun, namun kini jadi mengering, persis seperti tanaman yang terkena racun, akibatnya hewan ternak yang kami pelihara terpaksa kami jual, itu adalah salah satu cara terbaik daripada membiarkan hewan-hewan ternak mati tanpa menghasilkan pundi-pundi uang.

Entah bagaimana kedua pabrik itu bisa diresmikan, mungkin investor asing telah memberi dana yang sangat besar, yang pasti, keberadaan kedua pabrik itu sangat berdampak buruk bagi warga kampungku, sekitar 40 hektare kebun kakau warga tidak dapat menghasilkan buah, belum lagi dengan debu yang setiap harinya kami hirup. Lebih parahnya lagi, tidak ada ganti rugi yang diberikan pada kami, hanya penawaran untuk bekerja di pabrik, umumnya sebagai buruh atau kuli, namun yang kudengar, gajinya tidak sepadan jika dibandingkan dengan hasil biji kakau yang dulunya kami jual.

Seharusnya orang-orang yang terlibat atas berdirinya kedua pabrik itu paham, bahwa di antara penjualan kelapa sawit, getah karet, dan buah pinang, biji buah kakau memiliki nilai jual paling tinggi, setiap panen para petani bisa mendapatkan Rp2,6 juta, dan dalam satu bulan dapat 2 kali panen. Tapi gaji yang bapak dan warga terima saat bekerja di pabrik masih di bawah pendapatan penjualan biji dari buah kakau. Ditambah lagi dengan masalah waktu kerja, lebih dari 9 jam bapak dan para warga bekerja di pabrik, waktu istirahat yang diberikan juga sedikit, berbeda saat masih menjadi petani yang bekerja setengah hari saja.

Besoknya setelah aku bangun dari tidur, aku menyempatkan untuk bertanya langsung pada ibu yang sedang masak untuk sarapan pagi, aku hanya tidak mau bapak terus-terusan murung dan tidak bersemangat.

“Bapak lagi kurang sehat ya, Bu?” tanyaku sembari mencicipi kerupuk yang baru ibu goreng.

“Mandi dulu, nanti kamu terlambat sekolah,” tutur ibu.

Saat itu ibu sama sekali tidak melihat mataku, rasanya seperti ada sesuatu yang ditutupi, aku pun melewati obrolan singkat itu dan gegas masuk ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, aku kembali menghampiri ibu di meja makan, mumpung bapak masih belum bangun.

“Bapak sakit apa, Bu?” tanyaku.

Lagi-lagi ibu tidak menjawab, kepalanya hanya tertunduk dengan tangan yang masih memegang centong nasi, dan tiba-tiba saja wajah ibu memerah.

“Kamu sekolah yang rajin, supaya nanti jadi orang hebat,” jawab ibu dengan desah sesenggukan.

Ternyata ibu menangis, sontak aku langsung memeluk ibu untuk menghentikan air matanya yang terus menetes. Setelah ibu tenang, aku kembali menanyakan masalah apa yang sebenarnya terjadi, dan pagi itu ibu menceritakan banyak hal, namun salah satu yang membuat ibu sangat sedih, bahwa bulan depan bapak dan beberapa warga akan diberhentikan untuk bekerja di pabrik, dengan alasan digantikan oleh tenaga kerja asing yang lebih kompeten, tentu saja hal itu menjadi pukulan hebat bagi ibu dan bapak, sebab di mana lagi mereka akan mencari uang untuk memenuhi ekonomi keluarga.

Dalam keadaan sedih dan berkecamuk itu, bapak tiba-tiba saja membuka pintu kamar.

“Seandainya dari awal, kita dan para warga membuat posko untuk tidak menyetujui pembangunan kedua pabrik itu, tentu kita tidak perlu bersusah payah memikirkan hal seperti ini,” ucap bapak sembari berjalan menuju ke meja makan.

Ternyata dari tadi bapak menguping apa yang aku dan ibu bicarakan, namun terlepas dari hal itu, aku lebih tertarik dengan apa yang bapak katakan tadi, tapi seharusnya ide untuk menolak pembangunan kedua pabrik itu harus bapak sampaikan ke seluruh warga sejak awal sebelum kedua pabrik itu diresmikan, sehingga aku juga dapat membantu untuk menggerakkan massa, setidaknya warga kampungku dapat memberikan perlawanan. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.

“Kalau saja bapak memiliki saudara yang punya kekuasaan, sujud di kakinya pun bapak rela, asal pabrik itu bisa ditutup,” ucap bapak dengan nada sedih.

Apa yang bapak sampaikan itu laiknya perkataan seseorang dalam keadaan yang sangat lemah dan tidak tahu mau mengadu pada siapa, aku benar-benar miris mendengar apa yang bapak katakan tadi. Belum pernah aku mendengar kalimat yang menjatuhkan harga diri seperti itu.

Menurutku, seharusnya orang-orang yang terlibat dalam pembangunan kedua pabrik itu harus sadar, bahwa pembangunan pabrik akan menjadi hal yang sia-sia, jika warga yang hidup berdampingan dan terkena dampak dari pembangunan pabrik itu belum disejahterakan. Tak peduli dengan alasan untuk kemajuan suatu negara, sebab, banyak kerugian yang nantinya akan kami terima, seperti banjir, tanah longsor, gangguan pernapasan akibat asap dan debu yang terus beterbangan, bahkan air bersih yang biasanya kami gunakan juga akan ikut tercemar.

“Lebih baik kamu berangkat sekolah saja, belajar yang rajin, supaya bisa jadi orang hebat dan mudah mencari kerja, masalah ini biar ibu dan bapak yang memikirkan,” tutur ibu padaku.

Meski sebenarnya niatku untuk pergi ke sekolah sudah hilang, tapi dengan berat hati aku menuruti apa yang ibu suruh, aku hanya ingin nantinya ibu bangga denganku, aku pun pamit sambil mencium tangan bapak dan ibu, namun di sepanjang perjalanan, rasanya aku berharap jika di dunia ini ada lorong reinkarnasi, sehingga kejadian seperti ini bisa aku atasi tanpa sepengetahuan bapak dan ibu, aku ingin kembali pada waktu di mana bapak dan para warga rutin pergi ke kebun, serta kegiatan ibu yang pergi mencari rumput untuk pakan hewan. Sederhana memang, tapi kebahagiaan justru dapat kami rasakan, tidak seperti saat ini. Namun di mana aku dapat mencari lorong reinkarnasi, apa hal semacam itu benar ada.

Bahkan aku juga sempat berpikir, bagaimana jika arit yang telah aku asah menjadi tajam ini, aku pakai saja untuk memenggal kepala orang-orang yang telah membangun kedua pabrik itu, sebab aku tak pernah kuat melihat orang yang paling aku cintai bersedih dan menangis, tapi jika saja diriku kesetanan lalu memenggal kepala orang-orang yang mendirikan serta meresmikan kedua pabrik itu, justru bapak dan ibu akan lebih sedih, bahkan bisa saja tidak henti menangis, sungguh, kebencian benar-benar telah singgah padaku.


Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari di Banda Aceh. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku, puisi dan cerpen telah banyak terangkum pada beberapa media.