Cerpen

Megh dan Cerita-Cerita yang Memicu Luka

Cerpen Pasini

Megh tiba lima belas menit setelah aku mempersiapkan semuanya. Yang kumaksud mempersiapkan di sini adalah lubang di halaman belakang, lilin, dan kue ulang tahun. Juga, kopi mocca favoritnya tentu saja.

“Aku yakin sebentar lagi akan menjadi ulat dalam kepompong. Rumah ini begitu nyaman dan tidak membiarkan penghuninya pergi ke mana-mana,” buka Megh, menyertai gerakanku menuang kental kopi ke dalam dua cangkir keramik. Menanggapinya, aku tersenyum tentu saja. Bukankah senyum adalah cangkang paling aman untuk menyembunyikan apa saja. Termasuk luka. Dalam hal ini, aku berguru dari ibuku.

“Tapi bagi seekor kupu-kupu, ulat yang bertapa di dalam kepompong adalah fase paling menyiksa.” Dua cangkir kopi kubawa menuju Megh yang memilih bangku dekat jendela terbuka menghadap taman samping rumah. Bougenvil, mawar, anggrek, aglonema. Ah, lagi-lagi mengingatkanku pada ibu. Pada luka.

“Oh, tidak. Aku ulat yang bahagia.” Megh berkata sambil menarik bibirnya menjadi dua sudut yang sangat runcing. Seperti menegaskan bahwa ia bukan ulat mengenaskan seperti yang kusangkakan. “Untung aku jauh berjarak dari masa-masa itu, Ros. Mendengarkan cerita dari mulut Ibu saja sudah membuat tulang-tulangku linu.”

Dalam beberapa detik aku langsung menyadari betapa konyolnya aku dengan prasangkaku. Tentu saja Megh dan ibunya dan neneknya yang miskin itu bahagia. Ibunya tidak perlu lagi jadi buruh pabrik yang berangkat kerja pagi-pagi sekali dan tiba kembali di rumah kontrakan sempit menjelang malam. Neneknya tidak lagi serupa laba-laba yang seharian di dalam kamar memintal sarang disertai erangan.

Di mana sebelum ibu Megh berangkat kerja, sudah ia siapkan makanan di meja dekat ranjang tempat perempuan tua itu berbaring. Juga obat-obatan murah dari warung. Beberapa pijak sebelum langkahnya meninggalkan ambang kamar, ia meminta perempuan tua itu untuk sedikit menahan sakitnya. Di tanggal gajian ia berjanji akan membawa ke dokter dan membelikan obat dari apotik.

***

“Tidak enak menjadi simpanan. Selalu dianggap sebagai perebut hak bahagia orang lain.”

Megh, ibunya, dan nenek laba-labanya, tinggal di kota kecil. Berita seperti apa pun dengan cepat menyebar bagai bau busuk ditebar lalat. Yang menjadi lalat di sini tentu saja perempuan-perempuan tetangga. Mengatai ibu Megh perempuan tak punya hati. Nenek Megh menjual anak sendiri. Ketika Megh lahir, ia menjadi korban perundungan teman-teman di sekolahnya.

“Lalu Ibu merayu Ayah agar kami sekeluarga bisa pindah ke rumah yang lebih besar.”

“Ayahmu menyanggupi?” tanyaku ringan, selayaknya helai daun rapuh yang sudah tiba waktu jatuh dan diterbangkan angin. Penting untuk tetap menjaga luka di dalam cangkangnya. Aman di sana.

“Itu adalah harga yang harus dibayar setelah orangtuanya memakai kemiskinan Ibu dan Nenek agar mau dinikahi anak satu-satunya.”

“Sepertinya kau tidak suka dengan ayahmu, Megh?” telisikku.

“Aku benci saat ia mengatakan harus buru-buru pergi sementara aku masih ingin dipeluknya. Masih ingin dibacakannya sebuah dongeng, masih ingin bermanja-manja di pangkuannya. Anak-anak orang lain bebas melakukannya setiap waktu, Ros.”

Cerita Megh serupa anak sungai yang menghanyutkanku ke masa lalu. Saat terbangun di tengah malam dan mendapati hanya ada ibu menenangkanku. Padahal dalam mimpi buruk yang baru saja membuatku terjaga, aku dikejar-kejar sosok buruk rupa dan diselamatkan ayah dengan menunggang kuda.

Ibu kemudian tertawa. Mengatakan bahwa ayah tidak mungkin sedang bersama kuda. Ia tengah berada di jauh sana, berjibaku dengan kertas-kertas kerja atau laptop menyala. Aku meminta ibu menghubunginya. Hanya terdengar nada dering yang begitu lama. Esok harinya ayah baru membalas dengan beberapa alasan. Jika aku di usia ibu dan aku istrinya, tidak akan kupercaya.

Aku bahkan membenci kenyataan pernah mengirim doa-doa baik di setiap kepergian ayah. Agar  mobilnya tidak bertemu pengendara ugal-ugalan di jalan. Agar ia kembali dengan sekeranjang hadiah. Agar ia membawa uang yang banyak sehingga aku bisa membeli sekarung permen atau arum manis.

Aku juga pernah berdoa agar ayah tidak sering pergi, tetapi ibu melarangnya. Katanya, ayah bisa dikeluarkan dari tempatnya bekerja jika menolak perintah atasan. Dan itu sama artinya tidak ada lagi sekeranjang hadiah, sekarung permen, dan arum manis. Meski menurut ibu, pergi ke luar kota adalah kebiasaan baru. Ayah tidak melakukannya di tahun-tahun awal pernikahan mereka.

Rasa percaya ibu yang begitu dalam pada ayah, membawanya ke dalam luka paling palung saat terjatuh. Dan harus ada yang membayarnya agar luka itu tidak berlalu sia-sia.

“Tak ada yang bersimpati ketika Nenek meninggal. Ketika Ibu menyusulnya karena leukemia. Orang-orang dengan pintasnya mengatakan itu sebagai tuai.”

Aku mengangsurkan cangkir kopi agar lebih dekat dengan Megh. Sambil memberinya saran, ia sebaiknya menjeda ceritanya dengan minum. Cita rasa kopi akan memudar seiring perubahan suhunya.

***

Sampai ibu ditemukan dengan jerat tali di lehernya pada sebuah pagi berkabut, aku masih belum memahami perihal sakit yang dimaksud nenek. Yang kutahu, ibu menjadi seorang yang berbeda sejak ayah meninggal. Dari seorang ceria yang suka menghabiskan hari-hari dengan menanam bunga, menjadi seorang pendiam yang mencari-cari alasan agar selalu menyendiri.

Ibu juga membakar semua barang milik ayah dan tidak ingin menyimpannya demi mengawetkan kenangan. Bagiku itu ironi mengingat ayah adalah satu-satunya lelaki di hidup ibu. Mereka sudah bersama begitu lama, tepatnya sebelum aku terlambat hadir di tahun ke sepuluh pernikahan.

Setelah ayah meninggal dalam sebuah kecelakaan yang tragis, ibu belum pernah sekali pun menziarahi pusaranya. Beberapa tanyaku tentang ayah kembali sebagai jawaban-jawaban pendek. Bahkan lebih sering menguap bagai nasib awan tersapu angin.

Yang kutahu, perubahan sikap ibu dimulai ketika napas ayah tinggal satu-satu dan memaksa untuk bicara empat mata. Ibu keluar dari ruang rawat dengan tangis tak terbendung dan jatuh di pelukan nenek. Tak lama kemudian ayah meninggal dan ibu mematung.

Sebelumnya ibu adalah seorang istri yang tidak pernah mengeluh kekurangan waktu. Bahkan ibu menjadi payung peneduh atas gundahku saat tepat berusia tujuh dan dirayakan dengan sebuah pesta tanpa kehadiran ayah.

Ayah meneleponku. Mengungkapkan rasa bersalah karena kesibukannya. Menggantinya dengan sebuah janji boneka beruang dan pergi jalan-jalan sepulangnya nanti. Jadi ketika ibu mulai menghindari tanyaku tentang ayah, aku berpikir ibulah yang jahat dan ayah sebaliknya.

“Ibumu sakit,” reda nenek sambil membelai rambut sepunggungku.

Aku menggeleng. “Ibu baik-baik saja.”

“Sakitnya di sini.” Nenek menunjuk dadanya.

Tersisa nenek di sisiku. Meski yang tampak di mataku adalah sebuah jasad dengan hanya sepertiga ruh di dalamnya. Ibu adalah satu-satunya anak perempuan nenek dan menjadi kesayangan di antara dua anaknya yang lain. Kepergian ibu dengan cara mengenaskan di usia masih cukup muda pasti begitu memukul nenek. Menjadikannya semakin letih dan mendekatkannya dua kali kepada kematian. Dengan suara lirih sebelum benar-benar menutup mata nenek berujar, “Seandainya orang tua ayahmu mau lebih bersabar. Karena setahun kemudian ibumu berbadan dua. Peristiwa yang membawa luka itu tak perlu terjadi.”

Sebuah alamat kemudian diangsurkan kepadaku dan aku tidak tahu harus melakukan apa sampai begitu lama.

***

“Tapi aku pernah begitu bahagia dan merasa menang, Ros,” kata Megh. Itu adalah hari ke sembilan aku mampir ke tempat makan miliknya. Lebih dulu aku mencari tahu sebuah alamat dan menemukan Megh sebagai pemilik dari sebuah resto kecil. Aku menghabiskan banyak uang dengan pesanan dan Megh terkesan.

“Benarkah?”

“Meskipun hanya kemenangan kanak-kanak, aku memaknainya dalam. Aku berpura-pura sakit. Ibu dan Nenek memberi pilihan agar Ayah pergi. Merekalah yang akan menjagaku. Ada gadis kecil lain menunggunya untuk menerima suapan pertama dari potongan kue. Tapi Ayah memilihku.”

Megh meraih gelas. Kami bersulang. Goncangan air kuning bening di dalam gelas tulip menandai cangkangku yang retak dan tidak mampu lagi menampung bengkakan luka di dalamnya.

“Kau dan kotamu sudah menerimaku begitu baik. Aku mengundangmu untuk berganti pergi ke kotaku. Ke tempatku. Aku akan menjamumu dengan sebuah petualangan yang tidak mungkin akan kau lupakan,” kataku dengan tatap penuh permohonan.

Dan Megh mengabulkannya. Siang ini ia tiba di rumahku, lima belas menit setelah aku mempersiapkan semuanya. Yang kumaksud mempersiapkan di sini adalah lubang di halaman belakang, lilin, dan kue ulang tahun. Juga, kopi tentu saja.

“Kau juga tinggal sendiri di rumah sebesar ini, Ros?” Megh menyeruput minumannya. Mengedarkan pandang pada seisi ruang tamu yang hanya berisi pigura dengan fotoku seorang diri.

Aku melihat Megh seperti ingin berdiri. Pandangannya lekat kepada seekor kupu-kupu yang hinggap di pigura tadi dan kupikir ia hendak pergi ke sana untuk menangkapnya atau sekadar menatap dari jarak yang lebih dekat. Tapi tubuhnya kembali roboh dengan lemparan pantat yang begitu keras pada bangku. Seolah ia kehilangan kekuatannya sama sekali.

“Benar. Ayahku sudah di neraka. Bisakah kau menyampaikan salamku saat bertemu dengannya?”

Megh menatapku tak mengerti. Tapi sama sekali tidak tersisa waktu untuk bertanya. Ia memegangi lehernya serupa orang tercekik. Serbuk-serbuk putih yang ikut kularutkan di dalam teko sepertinya sedang bekerja.

Aku menyalakan lilin. Setidaknya kali ini Megh tidak perlu berpura-pura sakit di saat ulang tahunku. Sesaat setelah memejam mata untuk merapal pinta selayaknya prosesi pertambahan usia, aku menyeret tubuhnya ke lubang galian di belakang rumah.****


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring.

Cerpen

Gerimis Ungu dan Perempuan Bersyal Biru

Cerpen Afri Meldam

Saya suka berjalan-jalan, terlebih pada waktu sore dan malam hari. Biasanya, sehabis mengguyur tubuh dengan air hangat yang disediakan Imah, saya segera bersiap-siap: memakai beberapa lapis baju yang kemudian saya padankan dengan sepotong syal dan sweater. Tak lupa pula—di dalam kantong sweater—saya selipkan beberapa batang rokok, sekadar pengusir dingin dan serangan nyamuk.

Malam ini saya akan ke pelabuhan. Katanya, malam ini, ada pasar malam di sana. Tentu orang-orang akan ramai berkunjung. Siapa tahu, di sana saya akan kembali bertemu dengan perempuan bersyal biru itu…

***

Perempuan bersyal biru itu selalu hadir dalam setiap mimpi saya.

Saya bertemu pertama kali dengannya secara tidak sengaja di sebuah pesta taman, setahun yang lalu. Layaknya sebuah pesta, undangan yang hadir umumnya mempunyai pasangan masing-masing, kecuali saya. Saya hanya datang sendiri ke pesta itu. Sebentar saja, rasa bosan telah menguasai saya, sementara orang-orang asyik bercengkerama dengan pasangan masing-masing. Saya pun kemudian berniat untuk segera pulang. Namun, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seorang perempuan cantik yang tengah duduk di sudut taman. Ia sendirian. Seketika pikiran saya berubah. Saya melangkah ke sana, menghampiri perempuan itu. Ia tersenyum. Saya berdebar.

“Sendiri?” tanya saya.

Ia mengangguk.

“Boleh saya temani?”

Ia kembali mengangguk.

“Boleh saya duduk di sini?”

Ia mengangguk lagi.

Aneh, kok perempuan ini tak membalas pertanyaan saya dengan kata-kata, hanya dengan sebuah anggukan? Begitu mahalkah suaranya? Atau, jangan-jangan perempuan cantik ini bisu?

Kali ini ia menggeleng. “Saya nggak bisu,” katanya santai.

Lho kok ia bisa mendengar kata hati saya?

“Kadang, kata hati lebih pantas didengar dan lebih objektif dibandingkan kata-kata yang terucap di bibir,” lanjutnya kemudian, menimpali pertanyaan yang tadi terlontar di hati saya.

Saya penasaran. Lalu saya berniat untuk bertanya padanya. Namun, baru saja saya akan buka mulut, ia segera mendahului: “Bukan. Saya bukan peramal.” Lalu ia tersenyum.

Untuk kesekian kalinya saya dibuat tak berkutik oleh perempuan cantik itu. Ia seolah mempunyai indra yang begitu tajam, yang bisa meraba segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan, kata-kata yang sebenarnya baru tersusun dalam otak, sudah mampu ia baca. Saya betul-betul kagum.

“Kopi?” Ia mencoba memecah hening di antara kami.

Saya mengangguk,”Ya, kopi pahit.”

Ia lantas memanggil pelayan pesta dan memesan dua cangkir kopi. Satu dengan gula, untuknya, dan yang satu lagi kopi pahit, untuk saya. Tak lama berselang, pesanan pun tiba. Dua cangkir kopi panas menjadi teman ngobrol kami malam itu. Percakapan pun terasa lebih akrab dan mengalir tenang. Ia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya pada saya. Mulai dari ketika ia diterima bekerja di sebuah perusahaan asing hingga kisah cintanya dengan seorang pemuda yang berakhir dengan airmata: mereka berpisah karena kekasihnya menerima perjodohan dengan seorang peragawati dan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun terucap.

Saya pun tak mau kalah. Saya ceritakan kepadanya tentang perjalanan hidup saya mulai dari saya kecil hingga tua seperti sekarang. Saya ceritakan juga kepadanya tentang bagaimana perasaan saya ketika berhasil meraih gelar doktor di salah satu universitas terkemuka di London, tentang kucing-kucing saya, juga tentang pembantu saya, si Imah yang pandai memasak dan membuat kue-kue enak.

“Bagaimana dengan anak dan istri Anda? Rasanya tak satu pun dari mereka yang Anda ceritakan kepada saya?”

Sudah saya tebak, ia pasti akan bertanya tentang hal itu pada saya.

“O..itu! Lain kali saja. Kalau kita bertemu lagi, akan saya ceritakan kepada Nona semuanya. Sepertinya malam sudah larut. Para undangan sudah banyak yang pulang, lihatlah!”

Ia memandang ke sekeliling, lalu mengangguk.

“Terima kasih, Anda telah menemani saya malam ini.” Ia menghabiskan sisa kopi di cangkirnya.

“Sayalah yang sepatutnya berterima kasih,” jawab saya sambil kemudian berdiri. Tiba-tiba, saya teringat satu hal: Siapakah nama perempuan cantik ini? Setelah sekian jam kami berbincang-bincang, tapi tak satu pun dari kami yang menyadari kalau kami belum saling mengenal satu sama lain. Tapi, sebelum saya berucap—seperti biasa—ia mendahului saya, ”Julia. Nama saya Julia,” katanya. “Dan Anda Pak Martin. Betul?”

Ya, tentu saja ia sudah tahu nama saya!

Malam itu terasa begitu mendebarkan. Dan saya pulang dengan langkah yang begitu bersemangat. Entah kenapa…

***

Saya tiba di pelabuhan ketika gerimis mulai turun. Pendar lampu jalan dan penerangan dari stan dan wahana pasar malam membuat gerimis tampak berwarna ungu.

Orang-orang sudah banyak yang berdatangan, berjubelan. Tua-muda berbaur dalam hiruk-pikuk pasar malam. Beberapa bocah tampak asyik menaiki komedi putar yang berada persis di tengah-tengah arena. Tidak jauh dari tempat itu, beberapa orang tampak asyik menonton aksi seorang pesulap yang berpakaian serba hitam. Pesulap itu menyuruh para penonton untuk memejamkan mata dan memikirkan sesuatu. Setelah itu, ia menebak apa yang ada dalam pikiran masing-masing penonton, satu per satu.

“….Anda yang berbaju merah memikirkan istri Anda yang Anda tinggalkan di rumah bersama mertua Anda. Kalau yang memakai kerudung abu-abu, Anda mengingat pacar Anda yang kini berada di perantauan. Dan, Anda yang berbaju hijau sedang membayangkan kemungkinan promosi jabatan yang sempat disinggung atasan Anda…”

Semua penonton bersorak-sorai, bertepuk tangan. Mereka tampak begitu takjub. Tumpukan uang melayang ke arah pesulap.

Tiba-tiba saya teringat seseorang. Perempuan cantik di pesta itu! Bukankah ia juga memiliki kemampuan seperti pesulap ini? Apakah mereka saling mengenal atau mereka pernah belajar di tempat yang sama, atau jangan-jangan  pesulap ini tak lain adalah perempuan cantik di pesta itu?

”Ya, Anda betul. Sayalah perempuan itu!”

Saya terlonjak kaget. Tiba-tiba, pesulap itu sudah berada di dekat saya. “Maaf, saya telah membuat Anda kaget,” tambahnya kemudian di tengah kecamuk dalam benak saya. “Oh, ya! Saya ingat satu hal. Dulu Anda berjanji untuk bercerita tentang keluarga Anda kepada saya, bukan? Anda masih ingat, kan, Pak Martin?”

“O…tentu! Tentu saya masih ingat,” balas saya gugup.

“Sepertinya gerimis makin deras. Ayo kita cari tempat berteduh. Saya sudah tidak sabar ingin mendengar cerita Anda!”

Ia menarik tangan saya dan membawa saya ke sebuah kafe yang terletak di bibir pantai.

“Anda mau makan apa, Pak Martin?” tanyanya ketika pelayan kafe datang membawakan daftar menu ke meja kami.

“Terserah Nona. Saya percaya, Nona tahu keinginan saya.”

“Baiklah kalau begitu,” ujarnya sembari menyebutkan menu yang kami pilih pada pelayan kafe. Ia memesan satu piring udang goreng saus padang, kentang rebus keju serta segelas jus nanas. Untuk saya dipesannya seporsi kakap panggang plus secangkir kopi pahit, persis seperti apa yang ada dalam pikiran saya.

Selesai makan, perempuan itu mendesak saya untuk bercerita. Entah kenapa ia kelihatan begitu bersemangat ingin mendengar cerita saya. Bukankah ia mampu membaca pikiran orang? Lalu kenapa ia tak mampu…

“Tidak semuanya. Ada hal-hal tertentu yang tak dapat dibaca. Ya, seperti cuaca. Kita tak mampu menebaknya dengan pasti, hanya menerka dengan segala keterbatasan kita,” tuturnya.

Setelah didesak-desak terus, akhirnya saya bercerita kepadanya…

Suatu sore, ketika saya berjalan-jalan di sebuah taman, saya bertemu dengan seorang perempuan bersyal biru. Ia duduk sendirian di sebuah bangku kayu di bawah persis di sebelah lampu taman. Saya datang menghampiri perempuan itu. Gerimis ungu turun.. Perempuan itu hanya diam. Saya mendekat. Tiba-tiba ia berdiri dan memegang tangan saya. Tanpa saya duga, perempuan bersyal biru itu mencium saya. Saya terkesima dan tak mampu berbuat apa-apa.

Sore berikutnya kami kembali bertemu di taman itu. Gerimis ungu juga turun seperti kemarin. Perempuan itu kembali mencium saya. Begitu juga pada sore berikutnya dan sore berikutnya lagi. Kami bertemu di taman itu dan ia selalu menyambut kehadiran saya dengan sebuah ciuman lembut. Akhirnya kami menikah. Hidup di bawah atap yang sama. Mempunyai anak. Lalu tiba-tiba saja penyakit bersarang di paru-parunya. Ia meninggal. Saya menjadi orangtua tunggal bagi anak-anak. Saya gagal mendidik mereka. Ketika mereka beranjak dewasa dan mempunyai kehidupan yang mapan, mereka membuang saya ke tempat ini. Begitulah…

Saya mengakhiri cerita saya sampai di situ. Hanya itu yang mampu saya ingat, tak lebih.

Perempuan itu menyeka air matanya. “Maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda bersedih,” ujarnya menyesal.

“Tidak apa-apa”

Setelah itu kami lebih banyak diam. Hanya debur ombak yang sesekali memecah hening. Saya mengisap habis semua rokok yang tadi saya selipkan dalam saku sweater.

Kami meninggalkan kafe saat gerimis masih cukup lebat. Di tengah jalan, perempuan cantik itu berhenti. Ia memegang tangan saya. Tiba-tiba saja saya merasakan ada getaran hangat yang mengalir dari tubuhnya. Saya memejamkan mata. Perempuan itu mencium saya dengan lembut. Dan entah kenapa, saya baru sadar bahwa ada syal berwarna biru yang melilit di lehernya.

***

Malam ini, Imah melarang saya pergi jalan-jalan.

”Bapak sakit. Sebentar lagi dokter Jose datang. Tidurlah. Saya akan membuatkan kopi pahit buat Bapak,” bujuk Imah setelah mengompres kening saya dengan sehelai handuk kecil.

“Buatkan dua cangkir, Imah. Tapi yang satunya dengan gula. Saya akan menelepon dan meminta Julia datang ke sini.”

”Julia? Teman Bapak?”

Saya mengangguk. Setelah itu, Imah berlalu, meninggalkan saya seorang diri dalam kamar.

Ketika saya akan mengambil ponsel, terdengar seseorang mengetuk pintu. Saya bergegas ke sana. Seorang perempuan bersyal biru berdiri di sana.

“Julia!” Saya terkesima. “Anda betul-betul bisa membaca pikiran orang!”

Ia tersenyum, lalu mencium kening saya.

Dari jendela, saya lihat gerimis turun dengan lebat. Gerimis yang selalu berwarna ungu. ***

Simpang Haru, 28 0ktober 2005-Bekasi 2020


Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, “Hikayat Bujang Jilatang” terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul “Di Palung Terdalam Surga” bisa dibaca di Pitu Loka (2019). Sekarang bekerja sebagai guru BIPA di Jakarta.

Cerpen

Sihir Kucing

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Siapapun tak tahu kalau Ayah sudah meninggal, kecuali Muezza, kucing candramawa kesayangannya. Tak bergerak, Muezza—kucing jantan berbulu hitam dan putih, pusar di kepala—menunggui di ambang pintu kamar, dari semenjak subuh. Dewanti memasuki kamar Ayah, dan mendapati tubuh itu terbujur kaku, masih bersarung, berpeci, setelah salat subuh. Muezza terdiam. Sepasang matanya tajam berkilau. Memandangi tubuh Ayah.

Ayah yang terbaring sakit semenjak semalam, memang tidak salat subuh ke masjid. Muezza memasuki rumah ketika pintu depan dibuka Dewanti. Ia menerobos ruang tamu, dan berhenti di ambang pintu  kamar Ayah. Tak ngiau. Biasanya sepagi ini Ayah pulang dari masjid, Muezza berlompatan menyambutnya. Ayah memberi makan Muezza di teras rumah.

Dewanti lama memandangi tubuh Ayah yang terbujur kaku. Bersedekap, beralas sajadah di lantai. Dewanti mendekat. Merabai detak nadi tangan Ayah. Tak terasa aliran darahnya. Dewanti keluar kamar, mencari Ibu di dapur, dan mengajaknya ke kamar. Ibu tak pernah menduga, selepas salat subuh, Ayah  meninggal. Ayah hanya sakit biasa, demam semalaman. Ketika Ibu meninggalkannya tadi, Ayah masih terbaring dengan napas yang tenang. Tidak menandakan kesakitan. Ayah masih mengambil air wudu. Salat subuh. Ibu menyeduh kopi kental dan memasak. Membiarkan Muezza mendekam di ambang pintu kamar. Ketika melihat Ayah meninggal, Ibu tak bisa memekik, tak bisa bicara, tak bisa menangis. Ibu terdiam. Dadanya sesak. Berdiri di sisi jasad suaminya.  

***

Meloncat-loncatkecil, Muezza mengikuti pemakaman Ayah, berlari-lari di belakang iring-iringan jenazah mendaki bukit kuburan. Dewanti tak memedulikan Muezza yang mendekam tak jauh dari liang lahat. Ia baru sadar akan kehadiran Muezza ketika berjongkok di hadapan gundukan makam, menaburkan kembang dan berdoa. Para pelayat sudah meninggalkan makam, dan Muezza mendekati Dewanti.  

Ketika Dewanti meninggalkan kubur Ayah, dengan langkah pelan-pelan, Muezza masih mendekam di sisi makam. Seorang gadis yang tak dikenal Dewanti masih berdoa di sisi makam Ayah. Dewanti sempat mengundang Muezza, mengajak pulang. Tapi kucing itu tetap mendekam. Tak beranjak. Begitu juga gadis cantik yang tak dikenal Dewanti, masih bertahan di sisi gundukan makam Ayah. Wajahnya berduka.

Dewanti termangu-mangu. Ia ingin mengajak pulang Muezza. Kucing candramawa itu dipelihara Ayah sejak kecil. Ditemukan  di pelataran, terpisah dari induknya, dirawat Ayah. Tiap subuh dini hari ia berlari melompat-lompat menjemput Ayah bila pulang dari masjid. Tiap kali Ayah pulang kantor, ia meloncat-loncat kegirangan menjemput. Ayah memberi makan dan minum Muezza sebelum membaca koran. Kucing candramawa itu selalu mengikuti ke mana pun Ayah berada. Bila malam ia berada di luar rumah, dan menjelang pagi mendekam di sudut teras, ngiau nyaring saat mendengar azan subuh, dan menanti Ayah pulang dari masjid. Ia lahap  menghabiskan makan dan minum. Kadang ia menjelajahi sudut-sudut rumah, terutama gudang, dengan sepasang mata tajam menjatuhkan tikus saat merambati dinding, dan menerkamnya, untuk dimakan di bawah pohon srikaya di pelataran. Tak pernah ia mengoyak-ngoyak tikus tangkapannya di dalam rumah. Sesekali ia mencari Ayah di ambang pintu kamar, dan kadang mereka bercanda. 

***

Kucing candramawa itu tak pulang. Dewanti mendaki jalan setapak ke makam Ayah, ingin menemukan Muezza. Ia memang bertemu Muezza yang masih mendekam di sisi makam. Tidak sendirian. Dewanti bertemu pula gadis tak dikenal yang menampakkan wajah murung, dan sepasang mata kehilangan. Gadis itu tampak beberapa tahun lebih tua dari Dewanti. Lebih berduka, wajahnya menampakkan rasa getir kehilangan.

“Saya belum lama bekerja sekantor dengan ayahmu. Saya dianggap sebagai anak, dan merasakan kasih sayang Ayah. Kini betapa saya merasa sangat kehilangan. Tak pernah saya duga, Ayah akan meninggal secepat ini,” kata gadis itu, yang memperkenalkan diri bernama Dyah. Tempat tinggalnya tak jauh dari kaki bukit makam.  

Dewanti menyembunyikan perasaan tak senang pada Dyah. Gadis itu  menyebut “ayah”, sama seperti Dewanti memanggil lelaki yang telah mengalirkan darah pada tubuhnya.

Tertegun, menyingkirkan kecurigaan, Dewanti tak pernah menduga bila Ayah pernah dekat dengan Dyah, bahkan menjalin pertalian batin sebagaimana ayah-anak gadis. Dewanti diam-diam menyembunyikan rasa cemburu pada Dyah, gadis lembut yang digenangi rasa duka begitu keruh.

“Saya mengenal sosok Ayah, ketenangan dan kasih sayangnya. Sosok yang tak pernah kukenal dalam hidup adalah ayah kandung,” kata Dyah, yang terus saja bercerita tentang kehidupannya yang tak mengenal ayah sejak lahir. Ayahnya meninggal, ketika ia masih dalam kandungan ibu. Ia merasa bahagia di kantor, bertemu dengan lelaki seteguh Ayah, yang memberikan perlindungan padanya.

“Saya tak menduga, bila Ayah secepat ini meninggalkan kita,” kata Dyah, dalam kegundahan.     

Dyah memberi makan Muezza yang tak pernah mau meninggalkan makam. Muezza seperti menunggu Ayah bakal bangkit dari kubur, dan mereka kembali bercengkerama bersama. Dewanti sampai pada pikiran: mungkin Muezza ingin mati, agar ia bisa bertemu Ayah. Anehnya, Muezza baru mau makan setelah Dyah memberinya ikan yang diletakkan di atas daun kemboja. Mula-mula ia enggan mengendus-endus ikan. Tapi kemudian ia lahap makan. Muezza jinak pada Dyah—dan melupakan Dewanti.

***

Harikelima kematian Ayah. Kembali Dewanti mendaki bukit makam menjelang senja, ingin mengajak pulang Muezza. Ia ingin kucing candramawa itu menerkam tikus-tikus yang mulai bergentayangan di ruang-ruang tersembunyi, merayap ke meja makan mencuri ayam goreng tanpa rasa takut, dan bersarang di gudang. Tapi ia tak menemukan Muezza di sekitar makam. Alangkah senyap gundukan makam Ayah, dengan taburan bunga yang mengering dan terserak-serak. Dewanti memanggil-manggil Muezza. Senyap. Ia tak menemukan binatang itu. Ia mencari Muezza hingga ke sudut-sudut kuburan yang rimbun semak belukar. Tak ditemukan. Mati? Bila kucing candramawa itu mati, tentu tercium bau bangkainya. Dewanti curiga bila Muezza dibawa pulang Dyah dan dipelihara. Mungkin gadis itu ingin mengenang Ayah dengan cara memelihara Muezza.

Gerimis senja mulai bergemeretap di atas daun-daun kemboja. Dewanti masih mencari-cari Muezza. Ia lacak ke sudut-sudut makam. Gerimis kian deras. Ia tak berpayung, membiarkan dirinya diguyur hujan yang kian menajam, mencari kucing candramawa. Beberapa kali ia tergelincir, terpeleset di jalan setapak licin, terbanting. Tidak segera bangkit. Terdiam. Terpikir padanya nasib Muezza dan tikus-tikus mengganas di rumah. Ia tak ingin Muezza mati terlunta-lunta. Terpikir juga ia pada Dyah, gadis yang tanpa sepengetahuannya sudah merebut perhatian Ayah. Sama sekali Ayah tak pernah bercerita tentang Dyah, meski hanya sepenggal kisah yang samar. Gadis itu menjadi rahasia kehidupan Ayah yang merapuhkan perasaan Dewanti.

Tubuh Dewanti kuyup ketika berketetapan hati untuk membawa pulang Muezza. Ia mengikuti nalurinya mencari rumah Dyah, dan menemukannya. Dyah tinggal di sebuah rumah tua bersama ibunya yang renta. Dilihatnya Muezza berada di sudut ruang tamu.

“Saya datang untuk mengambil Muezza,” kata Dewanti, tenang, dan menuntut.

“Kucing itu mengikutiku pulang. Kalau ia memang mau mengikuti perintahmu, bawalah!”

Seperti terkena sihir, Muezza tak lagi mengenali Dewanti. Bulu-bulunya tegak, sepasang matanya garang, ketika Dewanti mendekat ingin membawanya pulang. Tangan Dewanti terjulur ingin merengkuh dan menggendong Muezza. Ia mencakar tangan Dewanti hingga berdarah.  

***

Malamitu Dewanti tidur gelisah, dengan tubuh menggigil, meski sudah berselimut tebal. Ia terus menahan diri dengan tubuh demam, dalam tidur yang sesekali terbangun. Ia tertidur lagi dalam kegelisahan mimpi-mimpi seram. Ia bermimpi bertemu Ayah dan Muezza. Kucing candramawa itu meloncat dalam pelukan Ayah.  

Tubuh Dewanti tenang. Bernapas teratur. Tertidur. Lelap. Ia tak lagi menggigil demam.  Azan subuh membangunkannya. Terdengar ngiau kucing di teras. Kuku  kucing mencakar-cakar pintu ruang tamu. Dewanti buru-buru membuka pintu. Dilihatnya Muezza di hadapannya. Dewanti meraih Muezza. Memeluknya. Sepasang mata kucing candramawa itu cemerlang berkilau. Bergerak memandangi sekitarnya tanpa berkedip. Ia melihat sesuatu yang tak tertangkap pandangan manusia. Sesaat kemudian barulah sepasang matanya meredup. Ia terbebas dari pengaruh sihir.***

Pandana Merdeka, Desember 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Delusi dan Surat Pendek Michel de Nostredame

Cerpen Beri Hanna

Aku terbangun dan mengingat semua yang telah terjadi di dalam mimpi barusan. Entah, saat ini aku masih bermimpi atau tidak, aku hampir tidak bisa membedakannya. Atau dengan kata lain, ini semacam meneliti pori-pori di putih telur mentah yang bahkan tidak pernah ada. Kepalaku berat, seperti ada setumpuk mentega yang mengeras di dalamnya. Semua kejadian seperti sama dan apa yang aku lalui saat ini telah aku lihat di dalam mimpi, bekerja sebagaimana yang telah terjadi.

Memang jantungku berdegup terlebih ketika aku melangkah ke luar hotel dan merasakan angin malam menyentuh dagingku yang hampir beku. Menyalakan mobil dengan tubuh kaku, seperti aku baru pertama menyetir, sesuatu dari dalam diri mendesak untuk melaju yang saat itu, aku tidak tahu akan sampai di mana. Mungkin rumah sakit atau langsung jatuh dan terbakar di neraka. Masuk ke jalan 16 Rue du Repos, aku berhenti di Cimetière du Père Lachaise. Inilah sebuah makam yang gambarnya seperti sudah kuhafal luar kepala. Berjalan-jalan tanpa tujuan di tengah kesunyian suasana makam, tepat di salah satu nisan tanpa nama, entah kenapa aku tergerak untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat dalam kaleng. Aku juga tidak mempercayainya, tetapi semua itu aku lalui dengan perasaan yang seakan-akan telah terjadi dalam mimpi. Anehnya, tak ada seorang yang memergokiku hingga aku kembali ke hotel dan melihat ke bawah untuk memastikan bahwa diri ini sudah di dalam kamar dan merasa aman.

Membuka surat kecokelatan itu di bawah lampu, aku memandang ke arah bulan dan berharap seseorang membangunkanku dari tidur. Tetapi, ilusi panjang yang kuduga tengah berjalan saat ini, menghanyutkan aku pada paragraf pembuka surat; Saint-Rémy-de-Provence, 1536. Itu tahun yang tidak pernah aku pikirkan, bahkan mungkin nenek moyangku belum berciuman.

Tidak ada yang benar-benar mengganggu hidupku selain membaca isi surat yang tertulis dalam bahasa latin—seperti tulisan Yohanes Calvin pada buku Christianae Religionis Institutio versi pertama—dan untung aku bisa membacanya dengan baik seperti berikut:

Maaf jika tidur nyenyakmu di Gîte Chambre d’hôtes terganggu. Jangan heran dengan apa yang tengah kau alami, karena sejak beberapa hari lalu, sepertinya kau memang sudah melewati beberepa hal aneh, bukan? Dipecat tanpa alasan lalu putus dengan tunanganmu di hari yang sama, salah satu pemicu untuk bunuh diri. Itu sebabnya kau membeli pistol dengan lima butir peluru di dalamnya. Sebagian orang akan mudah melakukannya, sementara sebagian yang lain tidak sama sekali. Maaf jika aku lancang. Tapi bukankah itu alasan kau berkelana seperti koboi tanpa dosa, dengan mobil tua yang kau curi dari garasi rumah nenek? Kau telah mengambil keputusan yang berat, tetapi aku rasa beberapa pria dewasa juga akan menyarankan hal serupa kepadamu; melarikan diri dari sebuah jalan buntu untuk bertahan dengan setengah napas yang selewat pikiran gelap, akan menjadi abu selamanya. Untunglah sejauh ini kau masih bisa berpikir jernih.

Aku sepakat, tidak ada laki-laki sepertimu mau memecahkan telur api yang telah membara hanya untuk kembali dan menjadi kucing pemalas yang akhir-akhirnya, akan mati di atas sofa tanpa pernah berbuat sesuatu melainkan menyesali kesempatan bunuh diri. Itu sangat memalukan. Sejauh ini kita berdua harus sepakat karena kekeliruanlah yang sejak kemarin hingga hari-hari ke depan akan menjebakmu ke dalam kehampaan. Bukankah aku benar sejauh ini? Aku bisa saja mengatakan seluruhnya, tetapi aku tahu, kau bukan tipe pria yang sanggup mendengar sederet nasihat apa lagi yang tertulis oleh seseorang yang tidak kau kenali. Sampai di sini, jika semua itu benar, maksudku dengan apa yang telah aku tulis sebagai pembuka surat ini, ada baiknya kau tetap membacanya sampai habis.

Tentu saja jika aku menjadi dirimu, aku juga merasa aneh dengan semua ini. Mengapa harus berkendara malam hari untuk datang ke pemakaman dan seolah tanpa sadar, menggali sesuatu yang tidak diketahui ternyata berisikan surat ramalan? Lupakanlah itu dan tidak perlu merasa janggal dengan semua ini.

Beginilah keadaannya. Sebelum kau, aku sudah menulis beberapa surat yang di antaranya, bercap pos[1] dengan tanggal yang berbeda-beda. Pada akhirnya, ketika aku lelah menulis surat-surat itu, aku terjaga dari tidur dan melihat kau mengendarai mobil ke pemakaman. Tak ada yang lebih istimewa dari semua yang telah aku ramalkan selama ini, kecuali berbuat sesuatu hal kecil yang itu berpengaruh besar dalam hidupmu.

Aku berhenti membaca surat ini. Tetapi, seperti semuanya sudah diketahui oleh si penulis surat, karena kalimat berikut yang sempat terlihat olehku; tentu saja kau akan mencoba berhenti membaca surat ini, tetapi beberapa saat lagi kau akan kembali membacanya. Baiklah, aku akan membaca surat ini untuk mencari tahu sejauh mana ia mengetahui hidupku.

Percaya tidak percaya, demi melihat keanehan sapi jantan punggung bungkuk melompat dari semak-semak menuju sebuah bukit. Dari atas bukit si sapi melihat segerombolan orang-orang berjalan tenang, tengah mencari tanah lapang untuk dijadikan makam.

“Aneh,” katanya dalam bahasa sapi. “Dari mana orang-orang itu berangkat?”

Siapa yang tahu? Bahkan si sapi bungkuk sepertinya hanya bergumam dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang mengerti.

Orang-orang di bawah sana, masih saja berjalan hingga salah satu dari mereka berdiam tegak menginjak-injak tanah, seolah tanpa tenaga. Sementara langit siang itu mendung, hujan tidak turun-turun. Si sapi masih memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang mulai menggali lubang seukuran satu tubuh sebanyak jumlah mereka.

Si sapi punggung bungkuk, mulai berjalan mendekat ke arah orang-orang itu dan sayup-sayup terdengar nyanyian seperti tanpa arti yang jelas.

Melewati kerumunan panjang orang-orang, si sapi punggung bungkuk pun kembali ke semak-semak dan bertemu sapi betina. Saat itu sapi punggung bungkuk mendengar lima tembakan yang ia yakin pula telah merenggut nyawa seorang manusia.

“Sudah tahu, kan?” tanya sapi betina. Si sapi punggung bungkuk mengangguk. Ia ingin memastikan, tetapi lebih dulu merasa terlambat.

“Mari sini,” kata sapi betina itu. “Kau tak perlu melihatnya lagi.”

Cepat atau lambat, sapi-sapi akan paham, dengan senjata atau tangan kosong, manusia akan menggali lubang untuk membuat kematiannya sendiri.

Michel de Nostredame

            Kubuang surat itu karena sama sekali tidak memahami, bahkan aku rasa tidak perlu juga mengerti. Apa pun yang dimaksud Michel de Nostredame, pastilah semua itu tidak ditunjukkan untukku, melainkan kebetulan untuk kesamaan-kesamaannya. Apa hubungannya dengan analogi sapi bungkuk dan orang-orang berjalan tenang? Entahlah. Apa peduliku untuk tahu apa lagi penasaran dengan lima tembakan yang terdengar belakangan? Lagi pula, tahun 1536 tidak pernah terbayangkan olehku.

Melanjutkan tidur dan bermimpi bertemu seorang laki-laki yang mengaku bernama Michel, adalah gangguan lain yang memuakkan hidupku. Aku ingin menghantamnya saat itu juga, tetapi seluruh tubuhku seperti dibebani tumpahan selai kacang yang memberatkan. Aku tidak mengerti dan tidak punya pilihan untuk melawan atau pun menolak ajakkannya untuk sampai di sebuah ruangan gelap.

Bagaikan semuanya telah terlewati, aku terbangun di sebuah semak-semak rimbun, dengan akar-akar pohon besar melintang seperti ular bertumpuk. Tak ada hal yang aku pikirkan kecuali isi sekelebat ingatan dari surat Michel de Nostredame. Aku melompat ke luar dan berlari ke arah lengang. Di sebuah bukit aku berdiam dan tidak sengaja melihat kemunculan segerombolan sapi-sapi berjalan tenang, tanpa tujuan.

Satu di antara sapi-sapi yang terlihat itu adalah diriku sendiri. Entah mengapa bisa demikian, aku tidak mengerti. Satu-satunya yang aku harapkan saat ini, aku benar-benar masih bermimpi dan akan terjaga di kamar hotel. Tidak masalah jika aku harus berkendara menuju makam untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat ketimbang saat ini; sapi-sapi melompat ke dalam lubang dan aku masih saja melihatnya tanpa berbuat apa-apa. Sementara itu, lima tembakan yang keras menggema-gema, semakin membuatku sulit membedakan mana yang nyata dan tidak.***


Beri Hanna adalah penulis kelahiran Bangko. Ia sering terlibat dalam beberapa pertunjukan teater berbasis riset tubuh dan tata ruang, baik sebagai dramaturg, aktor, maupun tim artistik bersama Tilik Sarira. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar.


[1] Guntur Alam juga pernah menuliskan hal ini. Dalam buku kumpulan cerita Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang, Nostradamus (nama latin dari Michel de Nostredame)  mengirim surat kepada tokoh calon ayah dengan cap pos tanpa diketahui siapa dan bagaimana surat ini bisa sampai dan dapat dibaca.

Cerpen

Perawan Rumah Suci

Cerpen Romi Afriadi

“Kalau kau nanti jadi biarawati, pasti kita akan jarang bertemu.”

Eben Mare masih mengunyah lepat yang dilahapnya dengan nikmat. Itu sudah bungkus keempat yang ia tandaskan. Eben Mare memang merasa terpukau dengan tampilan lepat yang dibungkus daun pisang dan menemukan isi yang manis dari parutan kelapa di dalamnya. Ia menikmati semenjak dulu pertama kali mencicipinya. Tapi itu tak mampu mengusir sendu di matanya.

“Bukannya kamu juga mau jadi polisi, wajar saja kita akan jarang bertemu.”

Estin, gadis di sebelahnya menjawab. Bedanya, gadis itu mengucapkannya dengan intonasi biasa. Tak ada penekanan berlebihan, layaknya Eben Mare barusan. Sebab, semenjak lama ia sudah menanti dengan sepenuh hati kesempatan menjadi biarawati di Rumah Suci. Mengabdi di gereja, menjadi pelayan Tuhan dengan meninggalkan semua kehidupan duniawi.

“Apakah kau akan balik lagi ke sini setelah jadi biarawati?”

Estin menggeleng, bukan karena ia menjawab tidak, tapi tepatnya entahlah.

Ingatan Eben Mare malah berpulang pada tahun-tahun nan lampau. Saat mereka sama-sama baru tiba di kota ini, dan tempat ini baru hitungan sebelah jari mereka datangi. Estin pernah bilang, bahwa kota ini tak memberinya kesan yang baik. Hanya ada tanah gersang yang penuh minyak, air jernih yang susah didapat, hawa panas yang menyengat, laut yang tak menyimpan banyak ikan. Kalau pun ada yang ada pantas ia banggakan, adalah pelabuhan internasionalnya yang dihinggapi banyak kapal, yang senantiasa pula memuntahkan dan menelan ratusan orang dari segala penjuru. Agaknya waktu tak jua mampu mengubah penilaian Estin.

“Kalau aku sepertinya akan tetap kembali ke sini, setidaknya sekali setahun saat perayaan Natal,” ujar Eben Mare tanpa didahului pertanyaan apa pun, suaranya masih sendu.

Estin paham, orang tua Eben Mare sejak tahun lalu memang memilih menjadi warga tetap kota ini. Saat jabatan ayahnya semakin penting di kantor syahbandar, mereka sepakat untuk meletakkan kota ini sebagai bagian dari masa depan. Berbeda dengan Estin yang tinggal di kota ini dengan pamannya. Sejak kedua orangtuanya meninggal secara tragis lewat insiden berdarah di negeri ini nyaris dua dekade lalu. Rumah dan toko mereka dibakar oleh orang-orang dengan wajah mendendam. Belakangan, Estin tahu, wanita yang sebangsa dengannya juga diperkosa ketika itu. Momen itu membuat kehidupan Estin berpindah-pindah dengan keluarga pamannya.

“Apa kau tak ingin mengunjungi tempat ini lagi?”

Estin tahu kesedihan Eben Mare. Sejenak ia menatap wajah Eben Mare yang masih mengunyah lepat, tapi kali ini dengan kunyahan yang payah.

“Kamu udah mau jadi polisi kok masih cengeng.”

“Aku tahu kamu tidak punya banyak alasan untuk kembali ke kota ini,” balas Eben Mare mengabaikan pendapat Estin.

“Tenang saja. Jika memungkinkan, aku akan tetap kembali ke sini. Menjenguk paman dan bibi, mengunjungi sepetak tanah kosong ini, lalu sekalian menemuimu.”

Kali ini Eben Mare menatap dengan mata berbinar, lebih-lebih saat didapatinya Estin tersenyum. Senyum yang pertama kali ia lihat di minggu-minggu pertama ia datang ke kota ini. Ketika itu, Eben Mare nyaris tak punya teman, ia kerap dikucilkan, dianggap tak layak bergabung dengan teman sebayanya karena statusnya yang bukan anak asli sini. Sementara Estin menjadi manusia linglung karena tak ada satu pun dunia yang sanggup menghiburnya. Bagaimana pun, Estin masih sukar menerima kenyataan, ia telah jauh meninggalkan teman-teman sepermainannya di Tapanuli.

“Sore saat dulu pertama kali kau menemukan aku di sini, kau persis tersenyum seperti sekarang.”

Estin jadi tertawa kecil mendengarnya, ia membenarkan letak anak rambutnya yang dikibas angin. Estin mengingat sore itu, hari paling berkesan baginya sejak menjejak kaki di kota ini karena menemukan kawan seperjuangan. Pada sebuah tanah kosong yang ditumbuhi ilalang, persis di sebelahnya ada lapangan sepakbola.

“Kenapa kamu tak ikut main,” tegur Estin. Dulu.

Eben Mare menoleh sebentar, tapi tak langsung menyahut.

“Biasanya anak lelaki yang tak ikut main bola itu anak yang cengeng,” lanjut Estin.

“Katanya aku ini anak baru, belum bisa ikutan main,” jawab Eben Mare dengan mata nyalang. “Awas saja! Aku akan buat perhitungan dengan mereka semua.”

Itulah saat Eben Mare melihat Estin remaja tersenyum. Senyum yang mengubah dunia Eben Mare sesudahnya.

***

Malam itu Eben Mare memutuskan untuk tidak pergi ke gereja mengikuti misa malam Natal, ia justru memilih berkunjung ke sepetak tanah kosong itu. Ilalang-ilalang sedang meninggi, rumput di lapangan bola juga ikut memanjang. Dari situ, Eben Mare bisa mendengar nyanyian-nyanyian kudus bersenandung memuji Tuhan di gereja. Berpadu pula dengan suara azan yang baru saja usai memanggil-manggil jamaah melaksanakan Isya.

Ini tahun kelima semenjak mereka sama-sama meninggalkan kota ini. Estin pergi dan mengabdi pada salah satu Paroki Keuskupan di Bandung. Sementara Eben Mare merintis karier menjadi polisi.

Rencana Eben Mare untuk sekadar merayakan Natal bersama Estin tak kunjung terealisasi sejak itu. Setiap tahun, ada saja hambatan yang memaksa mereka harus berjauhan. Eben Mare sebisa mungkin memang meminta cuti libur pada perayaan Natal, dan memilih balik ke kota ini. Cuma sekali ia tak pulang, karena pada tahun itu ia jadi saksi dalam persidangan seorang pejabat yang tertangkap oleh KPK. Sialnya, pada tahun itulah Estin memilih kembali, berselang beberapa hari setelah pamannya meninggal.

“Barangkali kau telah lupa tempat itu.”

Eben Mare pernah mengirim pesan pendek pada Estin di handphone-nya. Sebulan kemudian, barulah jawaban muncul.

“Aku bukannya tidak mengingat, tapi kesibukan di gereja benar-benar memangkas hubunganku dengan dunia lain.”

Kadang Eben Mare sering bingung, untuk apa ia masih menanti kedatangan Estin yang nyaris mustahil. Ia paham, menjadi biarawati berarti mencabut semua urusan lain selain yang berkenaan dengan Tuhan. Itulah mengapa Eben Mare kadang benci dengan pilihan Estin. Pada kenyataannya, kondisi itu mengharuskan impian-impian yang dulu dicanangkannya serasa hambar. Eben Mare kadang berpikir, Tuhan merampas Estin darinya.

“Kau tahu, menjadi biarawati merupakan keinginanku sejak lama,” akui Estin dalam salah satu pesannya.

Eben Mare masih tak mengerti dan tak ingin memahami keputusan itu. Baginya, menjadi biarawati berarti mengisi hari-hari dengan kehampaan sekaligus kesunyian. Betapa hidup akan sangat monoton. Sejak kecil, ia memang merasa bukanlah manusia yang taat. Jarang berkunjung ke rumah Tuhan, meski orangtuanya selalu mewanti-wanti tiap Minggu pagi.

Jika sampai Estin memutuskan mengucapkan janji kaul untuk menjadi suster abadi, otomatis ia tak akan menikah seumur hidup. Entah mengapa, Eben Mare merasa hidupnya serasa sial kalau sampai itu terjadi.

“Proses menjadi biarawati abadi itu sungguh panjang.” Tetiba Eben Mare jadi ingat salah satu perkataan Estin. “Pertama harus masuk masa Aspiran dan Postulan, semacam masa persiapan, lamanya masing-masing setahun. Setelahnya baru masuk masa Noviciat, katanya pada saat itu para suster akan dibekali bagaimana hidup dengan doa dan bermeditasi.” Panjang lebar Estin menerangkan. Tak satu pun dipahami Eben Mare. “Nah! Setelah itu barulah para biarawati mengucapkan kaul perdana dan dianggap sebagai anggota resmi biara.”

Eben Mare tidak akan terkejut jika Estin akan mengejar keinginannya menjadi suster abadi. Apalagi sekian hari, Eben Mare merasa Estin kian berjarak dengannya. SMS-nya lebih sering diabaikan. Termasuk pesannya terakhir sebelum pulang kemarin. Niatnya untuk mengajak pulang Estin bersama tak pernah mendapat jawab, meski Eben Mare terus menunggu hingga ruang tunggu bandara.

***

Sehari setelah perayaan Natal usai, Eben Mare memutuskan untuk kembali ke kantor, lebih cepat dari jatah cuti yang didapatnya. Tapi saat melangkah keluar rumah, Eben Mare dihadang saudara sepupu Estin sambil mengulurkan amplop.

“Kak Estin mengirim surat untuk Bang Eben.”

Eben Mare menerima surat itu, membacanya lekas.

Semoga kebaikan selalu menaungi kita.

Aku tidak tahu berapa lama lagi sanggup berada di biara ini. Sepertinya memang bukan di sini tempat terbaik untukku melanjutkan hidup. Maaf Eben, aku tidak pernah jujur padamu. Aku tahu semenjak dulu kau tak pernah suka dengan ide aku menjadi biarawati. Ternyata kau benar, meskipun barangkali, apa yang aku alami di biara sama sekali tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. Biara tak ubahnya tempat bersemayamnya seorang pastor bermuka dua. Di saat tertentu ia menjadi imam para jemaat, tapi di lain kesempatan ia menjelma serigala yang merenggut kehormatan para suster.

Ya, aku sekarang bukan lagi orang yang suci, Eben. Bertahun-tahun aku disuruh bungkam, sembari terus melayani nafsu bejat seorang pastor. Gerak-gerikku selalu dimatai, bahkan aku dilarang berkomunikasi dengan siapa pun di dunia luar.

Jika surat ini sampai kepadamu, itu tandanya petugas keamanan di gereja ini berhasil menyelundupkan dan mengirimnya dengan baik. Barangkali ia merasa iba denganku, dan aku bersyukur setidaknya masih ada orang baik di sini..  

Aku merasa berada di neraka saat ini.

Ada yang basah di mata Eben Mare. Ia meremas surat itu sebelum melemparkan ke bandar depan rumah. Terngiang lagi percakapannya pada Estin.

“Kalau menjadi biarawati, berarti selamanya kau akan jadi perawan?”

Estin hanya menanggapi dengan senyuman kala itu. Tapi sekarang air mata Eben Mare justru makin deras menetes, tersebab kesedihan sekaligus kemarahan. Sebab sekarang Estin bukan lagi perawan, dan itu justru tanggal di rumah suci. ***


Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau, pada tanggal 26 November. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah tayang di media online dan cetak. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung.

Cerpen

Kereta Tak Lekang Waktu

Cerpen Rania Alyaghina

BABAK I

Aku terbangun dengan napas memburu. Dahiku terantuk sesuatu. Mimpi aneh barusan mungkin turut andil dalam alasan dikembalikan lagi aku ke dunia nyata. Kutolehkan kepala ke sebelah kiri. Sebilah jendela kaca menjagaku agar tidak terjengkang ke rel kereta. Pandanganku disuguhi hamparan sawah yang terbentang luas, cahaya matahari pagi menyorot tanpa malu-malu, memperindah penampakannya. Namun, kedua pasang mataku tidak bisa diajak kompromi. Mau sebagus apa pun pemandangan yang disuguhi, aku kembali memejamkan mata, tidak menghiraukan guncangan kereta yang semakin ganas melarangku untuk kembali ke alam tidur.

Napasku lagi-lagi memburu. Awalnya kukira karena lanjutan mimpi barusan, tetapi kedutan yang berasal dari sudut mataku mau tidak mau membuatku membuka mata. Kulihat orang-orang di sekitarku mengerutkan alis ke arahku. Mulanya sempat membuatku geer dan mencoba mengingat-ingat kesalahanku, namun rupanya mereka tidak benar-benar melihat ke arahku. Aku berdiri, melihat semua orang menoleh ke kiri. Selayaknya orang latah, kutolehkan juga kepalaku ke arah jendela. Kantukku sontak sirna. 

Kali ini bukan sawah yang menggugah nyawa, melainkan sebanyak dua puluhan orang berderet menyamping, mengangkat sebilah kertas yang besar. Cukup besar hingga tulisannya mampu tertangkap mata, hanya saja guncangan kereta membuatku sulit berfokus pada tulisan yang tertera. Aku bertatap mata dengan salah satu bocah berumur lima tahunan. Tatapannya menghunus hati, ekspresinya kosong, membuatku sulit menangkap dan menduga-duga deretan kata yang menghiasi kertas tersebut.

Aku tidak lagi berpikir panjang. Meski masih dihantam kebingungan, aku bangkit dari kursi, berjalan ke tempat masinis berada. Sembari melangkahkan kaki, mataku tak pernah lepas dari dua puluh — tunggu, rupanya deretan orang tersebut tidak hanya puluhan, kertas yang diangkat pun tidak hanya sebilah. Orang-orang yang berderet ini terdiri dari semua kalangan umur. Dari balita hingga lanjut usia, semuanya bersama-sama memegang kertas sehingga benda lemah itu dapat berdiri tegak, melawan usaha angin yang berusaha menerbangkan kertas tersebut. Sepanjang jalan berderet orang yang turut mengangkat kertas berisi tulisan hingga membentuk suatu pesan.

Aku sontak berlari. Kuberanikan diri membuka pintu yang membatasi penumpang dengan masinis. Beberapa petugas sempat mencoba menghentikanku, aku tetap mengelak dan menerobos masuk. Dengan terengah-engah, kuucapkan dua patah kalimat, mengulang pesan yang tertulis di rentetan kertas tadi, “Tolong hentikan kereta. Ada kaki yang tersangkut di rel.”

Para penumpang lain rupanya sudah berada di belakangku. Kurasa mereka tidak mendengar ucapanku, tetapi mereka sudah pasti melihat ke arah jendela dan seratus persen mendukungku, membuat para petugas lantas menoleh ke arah jendela. Sang masinis pun tak ambil pusing. Ia sontak mengusahakan agar permintaanku terkabulkan. Kali ini, terdengar suara ribut-ribut dari luar. Mereka tidak lagi berdiri berderet. Kepanikan menyerang mereka, mereka berlarian seperti hendak menghalang kereta. Aku mencoba melihat jendela. Kubayangkan nasib orang yang kakinya dibui rel, tak bisa ke mana-mana. Hanya mukjizat yang mungkin dapat membantunya saat ini. 

Orang bernasib nahas itu mulai tampak batok kepalanya. Penumpang di dalam kereta sontak turut memekik, seolah-olah bentuk penyemangat untuk masinis. Tampaknya hal tersebut hanya membuat sang masinis semakin kewalahan, namun ia tak tampak ingin menyerah. Ia melipatgandakan usahanya, krunya turut melakukan hal yang sama. Para petugas meminta para penumpang kereta untuk kembali ke kursi masing-masing, demi meminimalisasi korban baru. 

Aku menuruti petugas, berusaha menjadi penumpang yang kooperatif, walaupun pantatku tidak kerasan dan kerap kali berdiri untuk memastikan kami benar-benar berhenti sebelum melindas habis kaki orang tersebut.

BABAK II

Sang masinis, ditemani sejumlah petugas lain, segera turun setelah kereta berhasil dihentikan. Orang yang kakinya tersangkut ini sendirian, tak tampak orang-orang yang mengangkat kertas tadi menemani. Sebegitu detailnya perhitungan mereka untuk memastikan jarak mereka jauh dari orang ini. Lagi pula, tiada kaki yang sanggup mendahului laju kereta. 

Para penumpang tidak mencoba mengganggu proses penyelamatan. Semua orang duduk di kursinya masing-masing, berharap-harap cemas. Tidak satu pun lontaran perkataan yang menuding korban karena keteledorannya. Semua orang pun tahu tidak ada orang yang bermimpi menaruh kakinya di bawah rel kereta api.

Lagi-lagi, pantatku tidak bisa diajak kompromi. Rasanya ingin turun dan menemani, kali-kali ada yang dibutuhkan sang masinis. Kutahan keinginan itu dengan tetap mengamati dari jendela. Terlihat sang masinis tengah bercakap-cakap dengan korban. Anehnya, mereka tidak segera menolong orang itu. Semua petugas seolah habis melakukan kontak mata dengan Medusa yang sontak membekukan tubuh mereka.

Aku kembali menoleh ke arah masinis dan para rekannya. Cara mereka berdiri tak ada bedanya dengan pahatan seniman ulung; begitu kokoh dan tegap. Aku tak sabar, tak kuhiraukan lagi anjuran petugas, toh kereta sudah tidak lagi berjalan. Aku bangkit dan berlari keluar, kemudian langsung memaki tanpa berpikir lagi. Sesulit itukah membantu korban terbebas dari jeratan rel? Lantas bagaimana nasib perjalanan kami yang tertunda begini?

Kuulurkan tanganku pada sang korban, korban yang tengah dirundung nasib. Mataku menyipit, melihat dengan seksama. Di mana kakinya? Tidak tampak sedikit pun warna kulit yang dihimpit rel.

Oh. Oh?

Satu kakinya memang tidak ada. Ujung lututnya yang terbungkus kulit sempurna ia istirahatkan di bawah rel. 

Sebelum aku bereaksi, orang-orang yang berderet dan membopong kertas tadi keburu muncul—entah sejak kapan mereka tiba di sini—berebutan masuk ke dalam kereta. Rupanya sedari tadi mereka menyembunyikan senjata tajam di bawah baju mereka. Ditariknya langsung senjata mereka dari sana, kemudian ditebas habis kepala para penumpang tanpa pilih bulu. Sebagian yang tidak memegang senjata, tampaknya ditugaskan untuk meretas tas-tas, baik yang ditaruh di lantai dekat kursi, maupun di atas bagasi kursi. Tanpa perlu mengecek apa isi tas, mereka langsung buru-buru menggondol tas keluar. 

Aku melongo melihat banyak darah terbuang percuma. Aku mendesakkan tubuhku di sela-sela kursi penumpang, berharap aku tidak kasat mata. Tak lagi kupedulikan nasib tasku yang mungkin tengah menanti-nanti untuk diambil.

Bertubi-tubi pertanyaan muncul di benakku, misalnya mempertanyakan maksud mereka melakukan ini pada kami, yang jelas-jelas tidak mengenal keberadaan mereka hingga detik ini. 

Apa salah kami? Apa yang mereka mau?

Apa yang kami miliki hingga meyakinkan mereka untuk menempuh ide sebengis ini?

BABAK III

Waktu rasanya telah menempuh beribu-ribu jam. Tapi semenjak teror menginjakkan kaki di kereta ini, durasinya hanya kurang lebih lima belas menit. Aku memang tak henti-henti mengecek arloji di pergelangan tangan kiri, membuat jarum jam malu untuk maju karena ditatap melulu. Entah untuk apa aku mengecek waktu. Entah mengapa waktu menjadi satu-satunya hal yang kupikirkan di kala genting begini. Aku tetap tidak akan keburu sampai di stasiun. 

Pekikan para penumpang kembali memenuhi pendengaranku. Aku mencoba menepisnya dengan mengucap ‘pergi’ beberapa kali, mengulang-ulangnya di dalam hati layaknya mantra. Bedanya ini tidak mengandung arti apa pun selain menginginkan pergi suara-suara manusia yang dilanda kepanikan, mengharapkan kepergian diriku dari situasi semacam ini.

Kepalaku berpaling ke kanan, merasakan kedutan di ujung mataku — hal yang biasa kualami ketika ada yang memperhatikanku. Kudapati lelaki paruh baya yang menatapku dengan mata merahnya. Ia tengah menyembunyikan seorang anak, mungkin sekitar tujuh tahun, di antara lengan dan tubuhnya. Anak itu tampak patuh, tidak mencoba menyusahkan bapaknya dengan tidak bergerak sama sekali. Hingga sulit bagiku untuk melihat apakah ia telah ditenangkan bapaknya, atau telah mati di pelukannya—aku tidak mau tahu.

Kali ini kutolehkan kepalaku ke kiri, berharap pemandangan yang menenangkan menanti. Seorang perempuan dengan mulut dan leher menganga menyuguhkan penampakannya padaku, yang kusambut dengan ringisan spontan. Kepalaku kembali menoleh ke kanan, memastikan apakah bapak dengan anak itu melihat apa yang barusan kulihat. Ia masih menatapku, dengan anaknya yang sekarang juga menatapku. Matanya sama merahnya seperti bapaknya. 

Kurasakan sudut mata kiriku kembali berkedut. Tetapi bukan di posisi perempuan tadi, tepatnya di arah jam sepuluh. Nenek-nenek dengan bergelimang emas menghiasi kulitnya —benda ini tak mampu kuabaikan dari penggambaranku karena begitu mencuri perhatian — sedang menahan guncangan dalam dirinya agar keberadaannya tidak begitu ketara. Kuarahkan kembali pandanganku kepada lelaki paruh baya tadi, memastikannya juga melihat apa yang kulihat. 

Ia menatap mataku, kemudian mengangguk pelan. Kulihat sang anak sudah kembali menyembunyikan wajah di ketiak bapaknya. Kupastikan nenek tadi juga melihat keberadaan kami, yang dikonfirmasinya pula dengan anggukan. 

Di masa-masa sulit seperti ini, bahasa tubuh hanya andalan kami. Tapi selalu ada kemungkinan salah interpretasi. Muncul gerakan dalam hatiku, yang mungkin juga tumbuh dalam diri mereka. Aku lantas membalas anggukan mereka dengan anggukan pula.

Dalam diam, kami bertiga telah mencapai suatu mufakat, bersepakat tanpa tersurat, dan percaya diri dengan rencana yang disetujui.

Kutengadahkan kepalaku, menyiapkan nyaliku.

BABAK IV

Tanpa pandang bulu, tanganku mengarah ke abdomen seseorang yang baru saja selesai menebas lengan seorang penumpang. Kuhantam perutnya tanpa ampun, hingga tajak terlepas dari tangannya, kemudian disambut baik tajak tersebut oleh lelaki paruh baya tadi. Sembari menggandeng anaknya, ia memenggal kepala-kepala yang tadinya mengincar kepala orang lain pula. Hawa dingin mulai menggerogotiku. Selain karena sebegitu gampangnya orang-orang ini menemui ajal, tetapi aku takut kalau-kalau bapak itu salah sasaran dan malah memisahkan kepala para penumpang dengan tubuh mereka. Namun, aku menaruh kepercayaan tinggi padanya. Bisa dibilang tidak sulit membedakan penampilan kami, penumpang kereta, dengan para perampok tidak tahu diri ini. 

Nenek-nenek tadi juga turut membantu dengan menanggalkan salah satu perhiasannya, kemudian ia gores kuat-kuat ke arah wajah seseorang. Hingga saat ini, aku baru memahami manfaat lain memiliki perhiasan.

Sesosok perempuan keluar dari persembunyiannya, menendang tepat di ulu hati salah satu perampok. Tampaknya aksi kami menggerakkan hatinya. Rupanya tindakan heroik kami berefek sebesar itu: mulai bermunculan sejumlah orang dari bawah kursi, dibalik kursi, dibalik pintu toilet. Semua, yang mulanya pasrah, seolah tumbuh harapan. Mereka memberanikan diri melawan perampok-perampok ini tanpa senjata. Setelah lawannya terkapar, baru direbutnya senjata itu, lalu mereka gunakan lagi kepada kawannya. Suatu siklus yang menggetarkan, membuatku tidak lagi melanjutkan aksiku selain terbujur kaku. 

Tak tersisa lagi tangan yang menyerang. Genangan darah dan aroma anyir membuat pening kepala. Namun, hal itu tak lagi jadi soal, karena rasa lelah yang tiada duanya. Bisa kupastikan tiga perempat penumpang sudah jadi mayat, tetapi hampir seluruh dari para perampok itu sudah tidak lagi bernyawa. Beberapa mungkin tengah meregang nyawa, tapi tak bakal bertahan lama.

Salah satu penumpang kloter depan tiba-tiba berlari ke arah kami. Belum sempat ia menghentikan lari, mulutnya telah membuka, “Sang masinis telah mati. Tubuhnya bahkan entah ada di mana.”

Aku spontan mengatupkan rahang bawah dan atas dengan keras. Pupus harapanku menjumpai sanak saudara di seberang sa — tunggu. Semoga harapanku masih mungkin terwujud.

Aku cepat-cepat berlari, melewati penumpang pemberi wahyu tadi, melewati korban yang kebanyakan awak kereta api. Aku segera mengecek kondisi radio lokomotif, yang kudapati dengan kondisi yang tidak bisa digunakan lagi. Tubuhku kuambrukkan ke pintu. Berapa lama mereka merencanakan aksi perampokan semacam ini hingga hal sekrusial ini tak mereka lewatkan?

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Sang masinis telah berpulang. Kami tak bisa pulang. Satu per satu penumpang menuruni kereta. Kami berjalan ke arah pedesaan yang dekat dari lokasi tanpa ditinggali penghuni lagi. Ingatanku kembali terlempar pada kejadian yang… berapa lama waktu telah berlalu sejak kejadian tadi?

Kembali kuperiksa arlojiku yang telah dilumuri bercak merah. Sudah jam empat sore, atau tepatnya hanya satu jam semenjak peristiwa tadi berlangsung. Kembali teringat olehku anak kecil yang beradu pandang denganku dari jendela kereta. Entah di mana ia sekarang. Mungkin salah satu lengannya masih tertinggal di dalam kereta.

Dengan tiadanya petugas kereta yang tersisa, kami tidak tahu mesti bagaimana. 

BABAK V

Di sini memang tidak ada kalender, tetapi kami mencoba menghitung seadanya dan menduga sudah dua tahun waktu berlalu semenjak kejadian itu. Tidak ada bantuan yang datang. Mungkin mereka datang, dan mengira kami semua sudah mati. Atau mungkin dinyatakan hilang ketika korban-korban diidentifikasi.

Sesekali kami memang pergi ke rel itu, mencoba meminta bantuan kepada kereta lain yang mungkin melintas. Kami sesekali kembali, melihat apabila ada kereta lain yang menghampiri. Mayat yang bergelimpangan masih terkapar di sana. Mungkin pertolongan tidak pernah benar-benar datang. Mungkin pula mereka tidak mau berurusan dengan orang yang bukan penumpang.

Tetapi kami tak bosan menjenguk rel setiap waktu. Kami selalu menaruh harapan dan kembali ke sana, menunggu sampai ada kereta yang melintas. Selebaran kertas telah kami siapkan, lengkap dengan tulisan di atasnya. Lengkap dengan sebilah parang di balik baju kami. Hingga tiba waktunya kami beraksi lagi. 


Rania Alyaghina, saat ini menetap di Tangerang. Kegiatan sehari-hari berkutat dengan rentetan kata, menciptakan pengalaman membaca semakin bahana. Email:[email protected]

Cerpen

46 Miliar Tahun Cahaya

Cerpen Fatimah Ridwan

Kau pernah mengatakan, kelak kita berdua akan pergi ke ujung alam semesta, 46 miliar tahun cahaya jaraknya dari bumi, tempat di mana jarak akan lenyap. Saat ini, jarum jam di tanganmu berhenti di 07.41, tak kulihat ia bergeser lagi sejak kau rebah di sisiku.

“Sejak awal aku merisaukan itu,” gumamku, nyaris tak terdengar. Begitu pelan. Sangat pelan.

“Apa?” tanyamu tanpa menoleh padaku, tak ingin mengalihkan pandanganmu ke arah laut, serupa memandang kekasih untuk terakhir kali.

“Jarak. Ternyata jarak bisa demikian kejam, jarak bisa membuatku kehilangan banyak hal, jarak nyaris membuat aku kehilanganmu,” jawabku, dengan air mata yang nyaris luruh. Aku merasa puluhan taut rantai terikat di dadaku. Sesak. Aku tersedak, pada detik berikutnya ia berganti menjadi isak.

***

Kelas selalu gaduh dengan cekikikan murid-murid perempuan tiap kali mata pelajaran astronomi berlangsung, bukan karena pelajaran itu menyenangkan, tetapi entah, dada mereka kembang kempis menahan kekaguman yang terus meluap saat pesonamu memanah tepat ke hati mereka.

“Astronomi bukan sekadar mempelajari benda-benda langit di alam semesta, lebih dari itu, astronomi mengajarkan tentang hakikat diri kita, selalu ada yang lebih besar dari kita, kejadian-kejadian yang lebih besar. Jika satu kematian terjadi di bumi, mungkin saja di saat bersamaan, satu peradaban musnah dalam ledakan supernova di bagian lain semesta, di gugus bintang lain atau di galaksi lain. Adik-adik sekalian, kita, manusia yang sombong ini sejatinya tak lebih besar dari setitik debu di alam semesta, sangat mudah untuk musnah,” jelasmu panjang lebar.

Kau berdiri di tengah-tengah ruang kelas dengan kedua tangan menggenggam di balik punggung, serta senyuman seteduh oase yang sejuk, menyusup ke hati para gadis, seakan menyelamatkan mereka dari ganasnya kegersangan gurun. Dan riuh tepuk tangan menggema di ruang kelas, membuatmu tidak terlihat seperti guru, namun lebih menyerupai musisi yang baru saja menyelesaikan sebuah konser.

“Sampai di sini ada yang ingin ditanyakan?”

“Saya, Pak.” Seorang murid perempuan yang berjarak dua bangku dari depan tempat dudukku mengangkat tangannya.

“Silakan.”

“Sebelumnya saya mohon maaf karena ini bukan pertanyaan, melainkan pengakuan saya,” ucap gadis itu, terjeda.

“Awalnya saya tidak percaya dengan Ibu saya yang mengatakan bahwa dengan bersekolah saya memiliki masa depan. Namun, setelah Bapak mengajar di sekolah ini, saya percaya bahwa masa depan saya ada di sekolah, dan bahkan saat ini ada di depan mata saya,” lanjutnya, lalu menundukkan wajah dalam-dalam menyembunyikan semu merah di pipinya.

Seketika kelas kembali riuh oleh sorak murid-murid lain yang muak mendengar rayuan klise itu. Sontak kau memandang ke arahku dengan tatapan sungkan, sedang aku membuang pandangan ke luar jendela, ada yang terbakar di ulu hatiku.

Siang itu, dalam perjalanan mengantarku pulang, kau melambatkan laju sepeda motor dan memanggil namaku dengan sedikit berteriak melawan angin dan bising kendaraan.

“Maretna?”

“Ya?”

“Maafkan aku soal kejadian di kelas tadi.”

“Itu bukan salahmu.”

“Tapi kau cemburu.”

“Tenang saja, itu yang terakhir kali aku cemburu karena aku takkan melihatmu mengajar lagi.”

“Kau pikir aku akan membiarkanmu putus sekolah begitu saja? Apa dengan kubiayai sekolahmu, itu membuatmu merasa direndahkan?”

“Sudah berulang kali kubilang, aku tak mau kau membiayaiku sebelum aku jadi istrimu. Atau jangan-jangan, kau yang merasa rendah jika menikahi bocah muridmu sendiri?”

Kali ini aku tidak mendengar kalimat Tidak semudah itu untuk kita dari mulutmu, hanya ada hening yang mengambang menabrak-nabrak angin, hingga kau membelokkan setir sepeda motormu memasuki pekarangan rumahku.

Ibu tengah mengambili sayuran sisa berjualan tadi pagi yang tak habis saat kita tiba. Kau menyapanya dengan akrab, larut dalam cengkerama serupa karib. Kalian membincangkan kawanan penyamun yang telah memasuki desa, sebelum Ibu masuk dan meninggalkan kita berdua yang memilih melanjutkan hening di beranda.

Lelaki itu adalah guru anakku, begitu yang Ibu pahami tentang kita berdua. Entah bagaimana jika Ibu tahu anaknya yang baru 17 tahun menjalin hubungan bersama seorang lelaki yang seusia dengan dirinya, membayangkannya pun aku tak berani. Kata-kata Ibu bahkan selalu terngiang tiap kali aku sadar paut usiaku denganmu terlampau jauh. 20 tahun! Persis seperti paut usia Ibu dengan Bapak.

“Nak, jika menikah nanti, carilah laki-laki yang paut usianya tak jauh denganmu, aku tak ingin nasibmu sepertiku. Harus menjadi tulang punggung, sementara bapakmu masih hidup. Lalu apa bedanya aku dengan janda sekarang?” tanya Ibu suatu kali. Pernah juga Ibu membahas masalah serupa, “Lihatlah bapakmu, sudah sepuh sementara anak-anaknya masih kecil, masih butuh biaya banyak.” Tetapi sungguh, tak ada yang bisa memilih ke mana hatinya berlabuh.

“Aku berangkat malam ini,” ucapku, memecah keheningan.

“Kau bilang seminggu lagi?”

“Tante Soraya baru bilang semalam, ternyata aku harus menjalani pelatihan selama seminggu sebelum mulai bekerja.”

“Jam berapa?”

“Jam delapan.”

“Datanglah ke dermaga jam tujuh, jika kau masih mau melihat bintang untuk terakhir kalinya bersamaku.” Kau beranjak menuju sepeda motormu, lalu melaju ke luar dari pekarangan rumahku, aku tak berpaling dari punggungmu yang kian mengecil, hingga kau lenyap di kelokan jalan.

***

Kukira, kau akan menunjukkan ekor-ekor meteor yang melintasi langit, atau Batara Kala menelan rembulan, atau ledakan supernova yang gempita di gulitanya ruang angkasa. Tetapi bahkan bintang juga redup malam ini, langit murung, hanya kepak gagak dan kita yang berbincang tanpa bicara di bawah daun-daun gugur.

“Kita akan pergi ke ujung alam semesta, Maretna,” katamu.

“Sampai kapan?”

“Sampai ada yang menemukan dua jasad itu,” ucapmu lalu melempar pandangan pada dua tubuh yang tergelepar sia-sia, kau memejamkan mata dengan getar hingga titik-titik bening bermuara di pipimu.

“Maafkan aku, Maretna. Seharusnya aku bisa melawan mereka, setidaknya membuatmu tetap hidup,” lanjutmu.

“Kau gemar sekali meminta maaf atas sesuatu yang bukan salahmu. Kukira itu hanya kau lakukan saat masih hidup,” ucapku, tak kusangka kau masih kuasa tersenyum dengan oase yang menghampar lebih teduh.

Saat kulihat seorang pria menyandarkan perahunya ke dermaga, aku tahu waktu kita akan segera tiba. Tubuh kurus itu nyaris ambruk saat mendapati dua jasad dengan isi perut terburai, gema pekiknya mengacaukan rencana malam yang ingin selalu terlihat senyap.

Sementara pasir pesisir yang tak terpijak itu menguarkan aroma mawar, ombak pasang berhenti berdebur, gemintang berhenti berdenyar, hanya derap kaki serdadu yang gaduh di dada saat kita saling mendekap, detik masih enggan berdetak dan kita lesap ke tempat di mana jarak akan lenyap.***


Fatimah Ridwan, Mahasiswi Pendidikan Agama Islam asal Luwu Utara. Sangat jatuh hati pada karya sastra fiksi, beberapa cerpen dan puisi pernah dimuat di media online dan cetak. Jejaknya bisa ditemukan di Instagram @fatimah.ridwan

Cerpen

Yudistira Moksa

Cerpen Caligula Zaragyl

/1/ Judi Dadu

Yudistira bersama dengan rombongannya pergi ke Hastinapura untuk bermain judi dadu. Ia tak ingin kehormatannya sebagai raja dipermalukan. Apalagi tradisi zaman itu, etika kesopanan, kehormatan, keberanian juga terletak pada undangan bermain judi dadu. Yudistira yang seorang arip bijaksana pun juga sebenarnya dapat mengirimkan orang untuk menghadiri undangan itu. Namun, terlalu percaya dengan sikapnya yang arip bijaksana, merasa dapat memenangkan permainana judi dadu dengan mudah, apalagi kegemarannya bermain judi menjadi faktor utama untuk menerima undangan itu.

Duryudana menyambut rombongan Yudistira dan mempersilakan untuk beristirahat di balairung yang telah disediakan. Mereka dijamu dengan istimewa, segala aneka makanan ada, dan telah menyiapkan ratusan wanita penghibur. Keesokan harinya, rombongan Yudistira diantarkan ke balairung tempat bermain judi dadu. Ruangan yang sangat luas, seluruhnya dihiasi oleh permata yang berkilau, dindingnya tersepuh oleh emas, plafonnya terbuat dari kristal, lantainya penuh dengan corak unik, sekeliling penuh dengan lukisan tangan dalam bentuk bas-relief[1]yang menjelaskan keagungan dewa, karya mozaik dengan corak rumit, dan patung-patung berbentuk dewa. Mereka saling menyapa dan menempati tempanya masing-masing. Kurawa dan Pandawa saling berhadapan. Mereka segera ingin melihat siapa yang memenangkan judi dadu. Yama Widura, Bima, Sengkuni, Drona, Kunti, Krepa, Gendari, Dursasana, Citraksa, Karna, Citraksi, Kurawa dan Drestarata menjadi saksi permainan.

“Mari kita bermain judi dadu, Yudistira,” kata Duryudana.

“Bermain judi dadu menyebabkan permusuhan. Segala cara akan dikerahkan untuk mengalahkan lawan.”

“Apa yang salah dengan permainan judi dadu ini? Permainan ini hanya adu keterampilan dan keberuntungan saja. Semua orang dapat memainkannya.” Duryudana berusaha memancing Yudistira untuk bermain judi dadu. Ia ingin menguras segala kekayaan miliknya dan berusaha menyingkirkan Yudistira.

“Baiklah mari kita mulai permainan ini!”

Balairung penuh gemuruh penonton, segala makanan telah tersedia, dan wanita penghibur. Suasana semakin panas ketika dua pihak mulai meneriakkan caci maki. Duryudana mulai melemparkan dadu ke meja, berputar cukup lama, dan muncul angka seperti yang ia katakan. Yudistira semakin emosi setelah kalah bertaruh permata, emas, perak, dan barang yang dibawa ke Hastinapura. Ia berpikir untuk bertaruh lebih banyak dan berharap dapat mengembalikan taruhan yang telah kalah. Namun, nasib sial menimpa Yudistira, segala angka yang dikatakan olehnya tak ada yang keluar.

Duryudana tertawa terbahak-bahak. Ia telah memenangkan semua yang dibawa oleh rombongan Yudistira dan kerajaanya. “Mengapa tak mempertaruhkan saudaramu saja? Barangkali semua yang kamu pertaruhkan akan kembali lagi atau kamu akan memenangkan permainan ini!”

Yudistira terus didera kekalahan. Ia semakin tenggelam dalam tipu muslihat yang dilakukan oleh Duryudana. Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima telah dipertaruhkan. Tak ada satu pun kemenangan yang diperoleh Yudistira. Semuanya telah habis untuk dipertaruhkan. Duryudana, Sengkuni, Karna, Kurawa, dan Dursasana tertawa mengejek. Mereka ingin melihat Pandawa sengsara. Duryudana dengan segala tipu muslihatnya berusaha mengambi semua yang dimiliki oleh Yudistira.

“Semua telah kamu pertaruhkan dalam permainan dadu ini. Kau sudah tak mempunyai apapun kecuali Drupadi! Jika kau mempertaruhkan Drupadi dan memenangkan satu permainan, aku akan mengembalikan semuanya! Ini tawaran yang luar biasa!”        

Rombongan Yudistira menundukkan kepala. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan. Yudistira telah gelap mata dalam permainan judi dadu. Ia semakin terpancing untuk terus bermain dan berusaha untuk memenangkan permainan. Namun, Duryudana tetap yang memenangkan permainan. Ia telah mengambil kerajaan, kekayaan, prajuritnya, empat Pandawa, dan Drupadi.

Duryudana pun masih tak puas melihat Yudistira kalah. Ia tak hanya mengincar semua yang dimiliki Yudistira, tetapi juga ingin menyingkirkannya. “Aku ingin empat Pandawa mati!” kata Duryudana. Ia mengambil tumbuhan vida[2] dan menusukkannya ke jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka terkapar tak sadarkan diri. Tumbuhan vida itu tumbuh kelopak bunga berwarna merah. Setiap hari, bunga itu akan menyerap darah untuk sumber kehidupannya.

Yudistira hanya mampu menahan kesedihan. Ia tak bisa melarang Duryudana karena telah kalah taruhan. Pemenang bebas melakukan apapun terhadap barang, orang, atau hasil kemenangannya. “Kau dapat menghidupkan kembali saudara-saudaramu. Namun, kau harus mencari air suci untuk membunuh bunga itu. Jika kau mencabutnya dengan paksa atau memotongnya, saudaramu akan mati!” ucap Duryudana dengan nada mengejek dan sepersekian detik kemudian disusul oleh tawa terbahak-bahak dari Kurawa yang lain.

/2/ Moksa

Yudistira harus mencari air suci untuk menghidupkan saudaranya. Ia harus mendaki Gunung Candramurka yang dijaga raksasa, bernama Ruhmuka dan Rukmakala. Sepanjang perjalanan, Yudistira terus menyalahkan dirinya karena telah berbuat bodoh. Namun, penyesalannya tak akan pernah membuat semua kembali seperti semula, apalagi Dewata telah mencatatnya. Yudistira harus melewati sungai, lembah, tebing curam, dan di tengah jalan bertemu dengan burung elang yang mengigit Panca Kumala yang berbentuk ular. Ia ingin membiarkan saja karena merasa itu hukum alam. Semua hewan akan saling memangsa untuk bertahan hidup. Ketika melihat mata Panca Kumala lantas teringat dengan saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Yudistira lantas mengambil ranting kayu, melemparkannya tepat di mata elang, hal itu membuatnya melepaskan mangsanya. Ia berlari untuk menangkap Panca Kumala.

“Terima kasih telah menolongku.”

“Siapakah kau sebenarnya? Apakah kau siluman ular?” Yudistira terkejut ketika mendengar Panca Kumala yang berbentuk ular dapat bicara. Ia tak pernah mengira bahwa ular yang ditolongnya adalah Panca Kumala.

Panca Kumala berusaha menjelaskan siapa dirinya. Ia mendekat ke Yudistira dan berkata, “Aku bukan siluman. Aku anak dari Batara Guru.”

“Tidak mungkin anak dari Batara Guru berwujud seekor ular!”

“Aku telah memakan buah nitya pralaya[3] dan dikutuk oleh Brahma menjadi seekor ular.”

Yudistira membawa Panca Kumala bersamanya. Mereka sampai di puncak Gunung Candramurka. Mereka telah dihadang Ruhmuka dan Rukmakala. Pertarungan tak dapat dihindari. Pertarungan terjadi tujuh hari-tujuh malam. Sampai pada akhirnya Yudistira dapat memenangkan pertarungan. Tubuh Panca Kumala berubah menjadi besar dan melilit tubuh Rukmakala sampai tak bernapas, sedangkan Yudistira dapat membunuh Ruhmuka dengan menghancurkan jantungnya.

Mereka lantas melihat ke puncak Gunung Candramurka, tetapi tak ada air suci, yang ada hanyalah magma. Yudistira menangis membayangkan nasib saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Panca Kumala berkata, “Air suci itu hanya akan keluar pada naimittik pralaya[4].”

“Apakah itu artinya tak mungkin untuk mendapatkan air suci? Apakah saudaraku akan mati gara-gara kebodohanku?” Yudistira mendadak lemas dan menangis tersedu-sedu.

“Aku dapat memotong tumbuhan itu.”

“Aku minta tolong bantulah aku.”

Pada suatu malam, mereka menjalin tali asmara, dan hubungan intim yang mistis pun terjadi. Tubuh Panca Kumala kembali seperti semula. Kutukan itu dapat dihilangkan dengan cara hubungan intim. Ia kembali menjadi putri jelita yang mempunyai kecantikan dewi. Mereka menjalin hubungan suami istri. Hubungan berdasarkan saling suka, bersedia hidup bersama, dan itu menjadi syarat sah sebuah hubungan suami istri pada zaman itu.

***

Mereka menuju ke Hastinapura dengan waktu yang sangat cepat. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa tahun, tetapi hanya memakan waktu satu hari. Hal itu berkat kekuatan Panca Kumala yang mempunyai kekuatan mengendalikan waktu. Sesampainya di sana prajurit Duryudana menghadang mereka. Panca Kumala langsung memporak-porandakan seluruh kerajaan Duryudana. Melihat keadaan tersebut Sengkuni ikut terjun ke medan perang, dan pada akhirnya kalah di tangan Panca Kumala.

Yudistira berteriak supaya Duryudana keluar dan mengajaknya berperang. Akhirnya terjadi adu kesaktian, segala ilmu telah dikerahkan, dan semua ketangkasan memainkan senjata dikeluarkan. Namun, segala serangan tak ada yang mengenai tubuh Yudistira. Dia seakan di atas angin sedangkan Duryudana telah babak belur. Ia ingin menghancurkan kepala Duryudana. Namun, Drupadi berlari tergopoh-gopoh dan berkata, “Jangan bunuh dia!”

“Mengapa tak boleh membunuhnya, Istriku?”

“Aku mengandung anaknya. Aku tak ingin anak ini menjadi yatim!” Drupadi mengelus-elus perutnya yang sudah membuncit.

“Apa sebenarnya maksudmu?”

“Aku mengandung anak Duryudana.”

“Bukankah kau masih istriku?”

“Suami macam apa yang sudi menjadikan istrinya sebagai barang taruhan. Pergilah ke balairung, saudaramu masih berada di sana!”

Panca Kumala terkejut dengan kenyataan yang ada di depannya, mengelus-ngelus perutnya, dan berusaha untuk tabah. Ia tak pernah mengira Yudistira telah mempunyai istri. Mereka akhirnya pergi ke balairung. Yudistira tertunduk layu melihat saudaranya yang telah terbujur kaku. Ia mulai memegang jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka masih bernapas.

“Bagaimana aku harus memotong tumbuhan vida itu? Jika sembarangan maka saudaraku yang akan mati.”

Panca Kumala lantas  memotong taringnya, taring kanannya berubah menjadi senjata brahmanda astra, sedangkan taring kiri menjadi senjata nagapasham. Ia memotong tumbuhan vida dengan menggunakan senjata nagapasham. Seperdetik kemudian Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima hidup kembali. Yudistira memeluk mereka dan meminta maaf atas kesalahannya.

Panca Kumala pun memberikan senjata brahmanda astra kepada Yudistira. Berharap jika ada mara bahaya dapat membantunya. Namun, Yudistira menghunjamkan senjata itu tepat di jantungnya. Ia berpikir bahwa kematian menjadi gerbang menuju kehidupan selanjutnya untuk menjalani penebusan dosa.

                                                Ruang Sang Hyang Widhi, 11 Januari  – 23 September 2021.


Caligula Zaragyl, berdomisili di Demak. Bergiat di Prosa Tujuh. Penulis dapat disapa melalui Instagram @khafidhinnur.


[1] Pahatan pada permukaan yang sedikit menonjol

[2] Tumbuhan penghisap darah

[3] Pohon kematian

[4] Hancurnya Alam Semesta

Cerpen

Sekuncup Bunga dalam Luka

Cerpen Reka DRamadani

Saya menjulai di atas punggungnya yang damai. Tercium oleh saya peluhnya yang basah. Semerbak seperti aroma khas mama ketika memeluk saya. Bahunya saya kecup perlahan. Ia telah terpejam seolah bayi yang baru beberapa saat terlahir. Saya kira ia kelelahan setelah semenit lalu saya menghentaknya begitu keras dalam adu cinta di atas ranjang hotel bintang lima. Di pusat kota.

Saya bangun sebentar, melepaskan himpitan pada tubuhnya. Kini ia tengkurap dengan bagian belakang terbuka. Berkilau indah diterpa lampu kamar. Saya menarik selimut dan menutup tubuhnya. Puspalita. Begitu namanya. Sekuntum bunga liar yang saya temukan di riuhnya Jakarta.

“Kau sudah tidur, sayang?” Saya bertanya sembari membelai rambutnya yang panjang sepinggul.

Sambil menggeliat kecil dan tetap memejamkan mata, Puspalita menjawab dengan malas, “Belum. Tentu saja belum.”

Kemudian saya pandangi wajahnya yang putih dan bangir hidungnya. Seperti wajah kanak-kanak. Dan bibirnya tipis. Alisnya lengkung sabit. Ia punya mata bulat penuh. Mengiris-iris dada bila ia tikam saya melalui pandangnya, terutama sewaktu bercinta. Serta pipinya kemerahan, yang semakin merah setiap usai saya ciumi.

Dengan wajah seperti itu, ditambah bentuk tubuh yang sempurna, Puspalita tidak hanya milik saya seorang. Ia milik semua lelaki. Siapa saja lelaki yang mampu membayarnya. Mengenai itulah saya risau dan galau tak sudah-sudah. Hati saya gundah oleh rasa yang sebenarnya tak pernah saya sangka. Ketika saya hanya ingin bermain-main dengan perempuan nakal untuk menyalurkan kenakalan, malah terjebak cinta.

Telah lama saya pendam rasa kepadanya. Untuk itu dua bulan terakhir saya selalu menyewanya meski beberapa kali ditolak. Kali ini perasaan saya tumpah. Saya merasa begitu khidmat dalam mencintainya dan tak ingin kehilangan sejengkal pun. Sesuatu mendorong saya begitu kuat. Meluap dan meledak tak tertahan. Saya ingin mendekapnya dalam dada dan tak ingin mengakhirinya.

Puspalita yang masih tengkurap saya pandu untuk bangun. Tangannya yang seperti porselen saya tarik lembut. Ia duduk di hadapan saya dengan dada dililit selimut. Matanya sayu, menatap saya syahdu.

“Aku mencintaimu,” kata saya spontan.

Puspalita membelalakkan mata sejenak. Sedetik kemudian bergema tawanya pada daun telinga saya. Ia terkekeh-kekeh sambil menepuk-nepuk jidatnya. Saya melongo keheranan. Mungkinkah ia telah mendengar hal yang sama dari ribuan lelaki?

Saya melanjutkan, “Kamu bisa berhenti dari pekerjaanmu saat ini dan menjadi istri saya. Kita bisa memulai hidup baru yang lebih baik.”

Sekali lagi, Puspalita hanya tersenyum tipis tak berserius dengan pembicaraan ini. Namun, saya mendesak. Saya ingin tahu jawaban darinya.

“Mari kita menikah.” Saya menatap matanya yang bulat bidadari itu dengan tajam. Puspalita membalas seperti biasa; tatapan yang selalu mengiris-iris dada saya.

Tiba-tiba ditepuknya pundak saya. “Masalahnya… masalahnya saya tidak mencintaimu,” jawabnya enteng bukan main.

Saya melongo keheranan untuk kedua kali. Benar-benar jawaban yang mengejutkan. Namun saya masih teguh.

“Saya tidak membutuhkan balasan cintamu. Asal kamu suka atau sekadar ada keinginanmu untuk menikah dengan saya, tak mengapa,” kata saya memastikan.

Perempuan di hadapan saya menggosok-gosok pelipisnya seperti sedang kebingungan.

“Itulah masalahnya!” Puspalita menatap saya dengan wajah paling meyakinkan yang pernah diperlihatkannya pada saya. “Saya tidak ada perasaan apapun padamu. Sekadar suka atau ingin menikah. Tidak keduanya.”

Saya tercengang. Hal paling gila dalam hidup saya seolah baru terjadi. Tetapi Puspalita tetap santai, seperti itu bukan apa-apa baginya. Sedangkan saya dalam beberapa detik harus mengutuhkan kembali kesadaran saya.

“Benarkah?”

Saya melihat Puspalita turun dari ranjang dan mencari pakaiannya. Ia hendak pergi. Dipunguti pakaiannya yang berserak di lantai. Lalu ia mulai mengenakannya satu-satu. Dari celana dalam, beha, kaus, dan seterusnya.

“Beginilah saya. Saya tidak ada perasaan apapun padamu. Saya kira kamu sudah tahu. Tidak ada alasan lain. Saya tidak mencintaimu, ya, karena saya tidak cinta,” katanya seraya mengenakan potongan terakhir pakaiannya.

Puspalita kembali mendekati ranjang dan merogoh tas miliknya. Ia sudah siap untuk pergi. Saya masih menatapnya dengan tak percaya. Ia pun menjadi iba. Terlihat dari matanya. Mata yang mengiris-iris itu.

“Lagipula pelacur seperti saya tidak mengenal cinta. Kami hanya mengenal kepentingan. Mana uang saya?”

Sekarang lain lagi. Membicarakan uang pandangannya berubah. Berbinar-binar bak kristal. Karena itu, meski perasaan saya tercerabut berderai-derai, saya memaksakan diri menggapai dompet di atas nakas. Jasa sudah usai dan datang tagihan. Saya keluarkan beberapa juta dan saya berikan padanya. Kemudian Puspalita berlalu melewati pintu setelah mengecup pipi saya. Ia meninggalkan saya di antara keramaian Jakarta, dengan tubuh telanjang bulat, di sebuah kamar hotel yang sepi. Saya tidak bisa berkata apa-apa.

Sintang, 2021


Reka DRamadani, gadis kecil kesayangan bapak yang senang membaca buku dan sedang merantau di Kalimantan Barat.

Cerpen

Kenangan Pohon Srikaya

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Pohon srikaya itu tumbuh miring. Batang kecil ramping menjulang, dahan bercabang-cabang, ranting lentur bergelayut, daun-daunnya jarang, lembing membujur. Buah-buahnya tak pernah surut bergelantungan, dengan kulit benjol dan bersisik. Buah srikaya masak yang terlambat dipetik digerogoti codot, tinggal separuh. Berkali-kali, menjelang senja, Dewanti menerima kedatangan seorang nenek yang menghampirinya di pelataran, meminta buah srikaya yang ranum, kulit bermata banyak, hampir rekah. Nenek itu tak diketahui tempat tinggalnya, seperti datang dari tempat yang terselubung kabut, ramah, penuh perhatian, dan berlimpah kasih sayang. Selalu kembali terulang, bila nenek memetik buah srikaya, menyempatkan bercerita: dulu keluarganya memiliki kebun srikaya, yang kemudian  dijual suami. Ia masgul, semua  pohon srikaya ditebang pembeli lahan.  

Bila nenek tak datang, Dewanti memetik buah-buah srikaya dan meletakkannya di piring buah besar, bersisian dengan pisang, jeruk, dan jambu air. Dua atau tiga hari buah srikaya itu masak, harum, manis, dan lembut di mulut. Dia memakan srikaya dengan menyisihkan biji-bijinya, menikmati daging-daging yang tipis, putih dan harum. Ia  teringat akan Ibu yang  menanam pohon srikaya di pelataran, berhimpit dengan  garasi mobil.   

Seminggu setelah menikah, Dewanti menempati rumah baru. Pada mulanya Dewanti tak suka pelataran rumahnya yang sempit ditanami pohon srikaya. Begitu pohon srikaya tumbuh dan berbuah, mengundang seorang nenek dan tetangga untuk memetiknya. Dewanti mulai paham, buah-buah srikaya yang bergelantungan sepanjang tahun ini disukai banyak orang.

***

KisahIbu  semasa gadis dulu tak pernah dilupakan Dewanti. Ibu memetiki buah-buah srikaya di kebun usai subuh dan menjualnya ke pasar, sebelum berangkat sekolah. Buah-buah srikaya itu ditanam Nenek, yang kata Ibu, meninggal dunia ketika Ibu berumur sepuluh tahun. Semasa hidup Nenek, mengajarkan pada Ibu agar merawat pohon-pohon srikaya, memetiki buah-buahnya yang ranum, dan menjualnya ke pasar. Dengan menjual buah-buah srikaya, Ibu tak perlu mengutuki Kakek, yang tak pernah memberi uang untuk keperluan sekolah.

Sesekali Ibu mengisahkan lelaki muda tampan bernama Parto, dengan sepeda motor baru, menggodanya di jalan. Hampir tiap hari Parto mengganggu Ibu, yang berjalan kaki ke sekolah. Ibu tak pernah tertarik pada Parto, yang tidak hanya menggodanya, tetapi juga merayu gadis lain. “Jadilah kekasihku! Kau tak perlu jualan buah srikaya!”

Tak sekali pun Ibu memberi hati pada Parto. Sepertinya Ibu menyimpan kepedihan tentang kebun srikaya, yang kemudian dijual Kakek  pada orang tua Parto. Kebun srikaya itu ditebang  habis, dijadikan lahan pembuatan genting dan batu bata. Menahan rasa sedih, Ibu bercerita tentang penjualan kebun srikaya itu, karena Kakek kalah judi. Dewanti merasakan Ibu menyembunyikan kegetiran perasaannya, dan kehilangan mata pencahariannya. Ibu mencari daun-daun pisang klutuk di sepanjang lereng tanggul sungai, yang tumbuh liar, dan tak pernah dijamah siapa pun, untuk dijual ke pasar.

**

Duduk di teras rumah, semasa gadis, Dewanti memandangi pohon-pohon srikaya dengan buah-buah yang bergelantungan. Ia masih saja bimbang, apakah ia akan menerima lamaran Anto, putra Pak Parto. Bukan hanya karena orangtua Pak Parto membeli kebun srikaya keluarga Kakek, dan Ibu kehilangan mata pencariannya untuk biaya sekolah. Tapi Pak Parto pernah  menjadi atasan Bapak di kantor, dan Ibu mengeluh pada Dewanti, “Pak Parto itulah yang selalu menggeser posisi ayahmu. Kedudukan ayahmu selalu buruk. Lihat, kita tinggal di rumah yang sederhana, hidup dengan getir. Bagaimana mungkin kini kau menerima lamaran anak lelakinya?”

“Apa kejahatan itu menurun dari orangtua pada anaknya?”

Ibu terdiam. Lama. Memandangi Dewanti dengan merenung. “Aku tak ingin kau hidup menderita.”

“Doakan saya bahagia.”

“Kalau ayahmu masih hidup, mungkin akan berpendirian sama denganku,” kata Ibu. “Coba, kenalkan dia pada Ibu.”

***

Takada hal yang menyebabkan Ibu menolak Anto. Ibu merestui Dewanti menikah dengan Anto, seorang dokter muda. Dalam pandangan Dewanti, yang diam-diam selalu mengamati Ibu, tampak bahwa Ibu berkenan menerima Anto. Dewanti tinggal di rumah baru Anto, dan pertama kali yang dilakukan Ibu adalah membeli pohon srikaya, menanamnya di pelataran rumah.  

 “Pohon ini akan berbuah sepanjang tahun,” kata Ibu, ketika melepas Dewanti tinggal di rumah baru. “Sirami dia dengan sepenuh cinta. Biar dia berbuah. Syukur suamimu suka pada buah srikaya yang kutanam ini.”

Menempati  rumah baru yang cukup luas, Dewanti merasakan halamannya sempit. Ia mencoba memahami Anto, suaminya, seorang dokter muda, yang sibuk dan selalu pulang malam. Tiap sore ia selalu menyiram bunga-bunga di pelataran. Tak lupa menyiram pohon srikaya yang kini buahnya mulai bergelantungan.

Sesekali Dewanti melukis, mengisi waktu senggang. Selalu ada gagasan yang memikat. Sepulang memberi kuliah, ia tak mau kesepian seorang diri, memasuki ruang studio, dan melukis—sebuah kebiasaan yang dilakukannya semenjak kecil. Ia memiliki kanvas linen, easel aluminum, palette, pisau palette, kuas, cat minyak dan turpentine yang selalu memberinya kesuntukan melukis. Ingin sekali dia melukis pohon srikaya saat nenek memetik buah-buah yang bergelantungan rekah, masak, dan beberapa di antaranya ranum.

Ia lebih suka melukis bunga-bunga anggreknya: aneka warna, selalu bermekaran, berhari-hari masih mekar dan segar. Nenek yang memetik buah srikaya itu belum menggugah hasrat melukisnya.

***    

Sepulangdari kampus sore itu Dewanti tercengang. Pohon srikaya sudah ditebang empat orang tukang batu, yang bekerja memperluas garasi, agar bisa dimasuki dua mobil.  Anto pulang dengan mobil baru berkilau.

“Ini untukmu. Hadiah ulang tahun,” kata Anto penuh kebanggaan. Diserahkan kunci sedan sport merah seperti yang selalu diceritakannya.

Tubuh Dewanti bergetar. Ia tak bisa mengungkapkan rasa marahnya pada suami. Pohon srikaya yang ditanam Ibu, yang selalu bergelantungan buah-buahnya, ditebang begitu saja. Ia merasa bersalah pada Ibu, yang memiliki kenangan masa silam dengan pohon-pohon srikaya. Ia juga merasa berdosa pada seorang nenek yang senantiasa datang menjelang senja untuk meminta buah-buah srikaya matang dengan wajah berbinar-binar.  

Ketika tebangan pohon srikaya itu dibawa pick-up dengan batang pohon lain dan gundukan tanah yang harus dibuang, Dewanti ingin mengambilnya dan menanam kembali. Pohon srikaya itu layu, dengan buah-buah yang masih menyatu dengan tangkainya, sebagian sudah waktunya dipetik. Tentu nenek yang selalu datang menjelang senja, berjingkat memetik buah srikaya, akan sangat kecewa, bila tahu, pohon itu sudah ditebang.

Dewanti memasuki studio lukis. Ia mengembangkan ilusi tentang wajah nenek pemetik buah srikaya. Wajah yang keriput, menampakkan mata yang bening, berbinar-binar, dan menjelang pulang, mengucapkan terima kasih dengan santun. Nenek berjalan pulang dengan langkah tenang, melintasi gang dalam remang senja. Dewanti tak pernah mengerti tempat tinggal nenek pemetik buah srikaya.  

Dewanti mulai melukis. Sosok nenek dengan buah-buah srikaya bergelantungan begitu jelas pada benaknya. Dilukisnya pohon srikaya, dua belas buah di ujung-ujung ranting, kemudian nenek dengan wajah berkerut dan mata jernih, berjingkat, bertumpu pada ujung-ujung jari kaki, memetik buah srikaya masak. Ia melukis nenek dan pohon srikaya justru ketika pohon itu ditebang dan sebagian pelatarannya  berkurang untuk memperluas garasi dengan mobil sedan sport merah di dalamnya.

***

Gerimistipis menjelang senja, nenek yang biasa datang memetik buah srikaya mengetuk pintu. Ia tak berpayung. Dewanti membukakan pintu ruang tamu dan tercengang melihat nenek itu datang membawa pohon srikaya kecil di tangannya.

“Tanamlah! Kusemaikan biji srikaya, dan kupilih yang tumbuh paling subur.”

“Di mana mesti kutanam?”

“Carilah celah kecil di pelataran. Pohon ini akan cepat tumbuh dan berbuah.”

Masih tercengang Dewanti ketika nenek meninggalkan teras rumahnya. Tanpa payung nenek itu menembus gerimis tipis menjelang senja. Dewanti mengamati lantai teras yang dipijak nenek. Mestinya lantai itu basah tergenang air gerimis yang menetes dari tubuhnya. Tapi lantai teras tempat berpijak nenek tampak kering. Tak setitik pun air menetes di lantai teras. Dewanti memandang ke arah tubuh nenek yang meninggalkan rumahnya. Tubuh nenek sudah tak kelihatan sosoknya.

***

Ibuberkunjung kerumah Dewanti. Melihat  garasi baru, mobil sedan sport merah berkilau, dan pohon srikaya kecil pemberian nenek yang ditanam Dewanti di pelataran yang sempit. Tak sepatah kata pun Ibu mempertanyakan pohon srikaya yang sudah ditebang. Ketika Ibu melihat Dewanti menyelesaikan lukisan nenek memetik buah srikaya, tercengang. Mendekat. Mengamat-amati lukisan itu tanpa berkedip, meraba pelan, dan bertanya lirih, “Bagaimana mungkin kau bisa melukis nenekmu memetik srikaya? Kau belum pernah bertemu dengannya.”

“Nenek selalu hadir dalam pikiranku,” balas Dewanti, menyembunyikan keterkejutan. Masih memainkan kuas dan cat minyak, ia menyempurnakan lukisan dengan menahan goncangan dada yang berdegup kencang.***

                                                              Pandana Merdeka, Agustus 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.