Cerpen

Ingin Kuinjak Kepala Orang Ini

Cerpen Aliurridha

“Jadi antar Ibu pulang?” Pertanyaan itu datang ketujuh kalinya. Bantal tebal yang menutup telingaku tak cukup membendung suara cemprengnya. Selang lima menit sekali, dia datang ke depan pintu kamarku, meneriakiku dengan pertanyaan yang sama. “Sebentar. Sepuluh menit lagi,” balasku. Ketika gerutuannya menjauh, aku merasa lega. Tetapi itu sebentar saja, karena tidak sampai lima menit, dia sudah datang lagi, memanggil namaku dan mengulang pertanyaan yang sama: “Alif… Jadi antar Ibu pulang?” Sialan, ingin kuinjak kepala orang ini. Namun, aku berhasil menahan diri untuk tidak melakukannya.

Dengan mata mengantuk dan pikiran terantuk kesal akibat kurang tidur, aku membasuh wajah sembari berharap air bisa membilas kantuk dan kesalku. Semalam aku tidur kemalaman, persis seperti malam kemarin, seperti juga malam sebelum kemarin, seperti juga malam tahun lalu, seperti juga malam sepuluh tahun lalu; aku benar-benar tidak ingat kapan terakhir kali aku tidak tidur kemalaman. Seingatku, sejak aku punya kesadaran tentang hidup yang brengsek ini, aku selalu tidur kemalaman.

“Ibu sudah nunggu di depan, Bang,” kata istriku.

“Aku tahu,” balasku ketus.

Tidak perlu dikatakan juga aku tahu. Dari tadi ibu sudah mengganggu tidurku. Padahal sudah kukatakan kalau aku akan mengantarnya jam tujuh, tapi belum juga jam setengah enam ibu sudah bolak-balik membangunkanku.

Kulihat ibu tengah duduk pada sebuah kursi kayu di teras rumah. Di sebelahnya, terbaring sebuah tas ransel berwarna cokelat yang rasanya terlalu besar untuk tubuhnya yang terlalu kecil. Beberapa lubang terlihat pada tas ransel yang telah terlalu lama membebani pundaknya. Kaosnya yang agak kebesaran itu tersingkap pada bagian pundak, memperlihatkan tulang bahu yang menonjol seperti ruas-ruas akar pohon yang menyeruak dari dalam tanah. Topi berwarna cokelat bersetia di kepalanya, menutupi rambut pendek berwarna abu-abu, menyusul kisah kelabu yang menjadi warna dominan dalam hidupnya.

“Ibu sudah sarapan?” tanyaku.

“Sudah,” jawabnya singkat tanpa menoleh.

“Kita jalan sekarang?”

Ibu mengangguk. Kemudian dia berdiri memasang tas ransel jeleknya. “Tetapi ongkosnya belum dikasih.”

“Astaga! Tunggu sebentar.”

Istriku bergegas lari ke dalam rumah. Tak berapa lama dia telah kembali dengan beberapa lembar uang, dua kotak roti, dan sebotol air mineral yang langsung diserahkan kepada ibu.

“Ini buat ongkos bus. Ini buat pegangan Ibu.” Istriku menyerahkan beberapa lembar uang untuk Ibu.

Ketika aku sedang memanaskan motor, mendadak kudengar suara Hanifa dari dalam rumah. “Mau ikut! Mau ikut!” rengeknya. Anak ini biasanya tidak pernah bangun pagi, apalagi sepagi ini. Paling cepat dia bangun jam Sembilan. Tetapi kali ini dia seolah tahu aku akan keluar mengantar ibu, dia jadi bangun lebih pagi dari biasanya.

“Ayah hanya sebentar, mengantar nenek ke terminal,” jelas istriku.

Hanifah tidak peduli. “Pokoknya ikut. Harus ikut. Mau ikut. Ikut. Ikut. Ikut….”

“Biar sudah dia ikut,” kataku.

“Tapi, Bang. Nanti kalau dia ketiduran di jalan bagaimana?”

“Kalau dia tidur nanti Abang tinggal di pasar seperti Hitam.”

Istriku tertawa. Dia pikir aku bercanda. Itu membuatku merasa cocok dengannya. Amarahku selalu reda setiap melihat tawa dan senyumnya. Padahal yang kukatakan tadi itu serius, jika kesalku sudah tak terbendung, mungkin aku benar-benar meninggalkan Hanifa di pasar seperti halnya dulu aku meninggalkan Hitam di pasar. Berkali-kali aku dibuat kesal oleh Hitam. Tiga kali ia melahirkan di lemari pakaianku, tiga kali juga aku membuangnya di pasar, dan tiga kali pula ia tahu jalan pulang ke rumahku. Tetapi semenyebalkan-menyebalkannya Hanifa dan Hitam, tentu saja tidak ada yang lebih menyebalkan dari ibu. Dia jauh lebih menyebalkan daripada seluruh orang menyebalkan di alam semesta ini digabung-satukan.

Ibu datang ke rumahku setiap kali dia bertengkar dengan ibunya, saudara-saudaranya, atau juga tetangga-tetangganya. Kemudian dia akan melampiaskan emosinya ke aku, ke istriku, dan ke anak-anakku. Kemudian dia akan pergi begitu saja setelah hatinya lega seperti halnya dulu dia pergi begitu saja dari hidupku di saat aku bahkan belum seusia Hanifa. Ibu dengan tega meninggalkanku bersama suaminya yang suka menginjak-injak kepalaku. Lalu, tiba-tiba dia kembali ke hidupku ketika aku merasa sudah tidak butuh perlindungannya. Dan ketika dia mengatakan aku ini ibumu, seketika itu juga aku ingin menginjak kepalanya. Tetapi, aku selalu berhasil menahan diri untuk tidak melakukannya.

Benar kata istriku, baru setengah jalan Hanifah sudah tertidur. Dia duduk di depan, di kursi bantu untuk balita. Sialan! Aku berhenti di pinggir jalan, dan tanpa menoleh ke belakang aku berkata kepada Ibu: “Bu, Hanifah tidur. Bisa Ibu pegang dia?”

Ibu tidak menjawab. Kuulangi lagi pertanyaanku. Kali ini sedikit lebih keras.

“Ibu pegang ini,” kata ibu.

Aku menoleh ke belakang dan melihat barang pemberian istriku berada di tangannya. “Kamu pegang saja anakmu. Kalau Ibu pegang dia, nanti Ibu jatuh,” lanjutnya dengan nada yang tidak ada enak-enaknya di telinga. Aku sebenarnya mau mengatakan kalau barang-barangnya bisa ditaruh di depan saja. Tetapi kuurungkan niatku, aku kenal ibuku. Aku benar-benar mengenalnya.

Bersusah payah aku jalan sambil satu tanganku memegang Hanifah pada bagian dadanya agar kepalanya tidak terantuk kepala motor. Mendadak kurasakan sesuatu yang hangat menempel pada tanganku. Sialan! Dia tidur sampai ileran.

Sesampainya di terminal, Damri ternyata belum datang. “Nanti jam sembilan baru datang,” kata lelaki bertopi merah. “Tetapi kalau mau beli tiketnya. Bisa beli di dia.” Lelaki bertopi merah menunjuk lelaki berkulit hitam legam dengan kaos oblong berwarna cokelat yang telah pudar di beberapa bagian. Wajah lelaki itu jelek bukan main. Namun, pada bagian dada di kaosnya tertulis Pria Tampan Kesepian. Aku ingin mengumpat ketika membacanya.

“Busnya belum datang, Tapi Ibu bisa beli tiketnya di Bapak itu,” kataku.

Tanpa perlu kami panggil, lelaki berbaju cokelat mendatangi kami. Semakin dekat, wajahnya terlihat semakin jelek saja.

“Damri belum datang. Ini kalau mau tiketnya. Harganya 130 ribu,” kata si lelaki buruk rupa.

Sialan! Calo ini ngambil untung banyak betul. Disangkanya aku tidak tahu harga tiketnya.

“Ini kenapa tulisannya Titian Mas. Saya mau naik Damri,” kata ibuku.

Lelaki itu mencoret tulisan Titian Mas pada kwitansi pembayaran, lalu menulis Damri.

“Kamu pikir saya bodoh. Saya ini sekolah sampai SMA. Kamu palingan cuma sampai SD,” kata ibuku.

Lelaki itu menunjukkan gejala akan marah. Wajahnya terlihat semakin jelek saja.

“Ini Bang tiketnya,” kata temannya yang berambut ikal.

Setelah mengambil tiket dari temannya yang berambut ikal, lelaki buruk rupa ini langsung menulis 120 ribu pada kwitansi itu. Dia menurunkan harganya. Itu pun dia masih untung banyak. Ongkos bus ke tempat tujuan ibu hanya 85 ribu. Ketika aku hendak menarik tangan ibuku agar tidak mengeluarkan dompet, Hanifah menggeliat di gendongan. Dia bangun lalu mengucek-ngucek matanya. “Ayah pulang! Ayah pulang!” rengeknya. Hanifa menangis sambil menarik kerah bajuku. Aku tidak jadi menghentikan ibu. Tetapi ibu juga tidak mengeluarkan dompetnya.

Ibuku bukan orang bodoh. Dia tidak akan tertipu oleh calo yang, dari rupanya saja, terlihat lebih bodoh darinya.

“Mana busnya?” tanya ibuku lagi.

“Tunggu sudah. Itu orang-orang juga sedang tunggu Damri,” kata laki-laki itu. Dia menunjuk beberapa orang yang duduk di halte dengan barang bawaan beraneka rupa.

“Mana busnya?”

“Tunggu sudah. Nanti jam sembilan datang.”

“Ayah pulang… Ayah pulang….”

“Mana busnya?”

Kulihat cuping hidung lelaki jelek itu kembang-kempis. Wajahnya benar-benar kesal. Aku segera menghampiri ibuku. “Bu, Alif balik duluan ya. Hanifah rewel,” kataku. Dia sekilas menatapku dengan tatapan dingin sebelum kemudian mengangguk. Aku berupaya menahan senyumku sebisa mungkin ketika aku melihat lelaki jelek itu menahan geramnya. Biar sudah kamu untung 35 ribu, 35 ribu kali juga kamu akan ditanyai hal yang sama oleh ibuku. Dia tidak akan berhenti bertanya sampai busnya berada tepat di depan matanya.

Aku meninggalkan terminal dengan perasaan lega. Rasanya seperti ketika aku meninggalkan Hitam di pasar. Aku berharap ibu akan mendapat pengalaman buruk dari kedatangannya kali ini agar dia jera dan tidak pernah datang lagi. Tetapi, tentu saja, itu tidak mungkin. Tidak ada pengalaman buruk yang bisa menghalangi ibu untuk kembali melakukan apa yang ingin dilakukannya. Dua kali dia kembali ke Saudi, padahal di sana, dia diperkosa berkali-kali oleh majikannya, tapi dia tidak punya pilihan selain kembali ke sana karena suaminya yang pemabuk itu tidak tahu cara mencari uang. Hingga di kali ketiga dia mau balik ke Saudi, KJRI memulangkannya karena kondisi kejiwaannya tidak memungkinkan lagi untuk bekerja. Ya, ibuku gila sejak hari itu, dan gilanya masih sering kambuh. Setiap gilanya kambuh, trauma masa kecilku juga kambuh, dan setiap trauma masa kecilku kambuh, aku jadi ingin menginjak kepalanya. Untungnya aku selalu berhasil menahan diriku.***

Blencong, 2021-2022


Aliurridha, Pengajar  di Universitas Terbuka. Cerpennya berjudul Metamorfosa Rosa masuk dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas 2021. Dia diundang sebagai emerging writer dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2023. Dia tinggal di Lombok Barat dan bergiat di komunitas Akarpohon.

Cerpen

Pengakuan Dosa

Cerpen Aliurridha

Aku mengenalnya sebagai sosok pendiam yang menyimpan kelam dalam luka peristiwa. Tak banyak yang aku tahu tentangnya, meski sedari kecil aku tinggal bersamanya dalam sebuah rumah dingin yang tak pernah dihangatkan percakapan keluarga. Tiada satu pun yang kuketahui tentang masa lalunya, selain dia adalah seorang prajurit, seorang pria gagah berseragam yang membuat setiap mata yang memandangnya silau oleh pukau. Dia adalah alasanku memilih jalan hidup sebagai prajurit dan mengabdikan diriku untuk negara karena aku ingin menjadi seperti dirinya. Namun, begitu aku memutuskan masuk militer, dia adalah orang yang paling keras menentangnya.

“Untuk apa kamu masuk militer? Kita tidak sedang berperang. Carilah kerja lain seperti kakak-kakakmu,” kata ayah.

Aku tidak membantah. Tapi, tetap saja, aku tidak punya keinginan menjadi seperti kedua kakakku. Aku tidak ingin menjadi pengusaha seperti kakak laki-lakiku dan tidak ingin menjadi guru seperti kakak perempuanku. Keputusanku sudah bulat, aku ingin menjadi tentara. Sejak saat itu, hubunganku dengan ayah yang tak pernah akrab itu, menjadi semakin renggang, hingga akhirnya aku memutuskan meninggalkan rumah. Aku berani melakukannya setelah seorang sahabat ayah berjanji akan membantu mencarikanku jalan, membantuku agar bisa masuk militer.

Ayahku memang aneh, dia tidak seperti kebanyakan orang tua dengan latar belakang militer, yang selalu menginginkan anaknya mengikuti jejak mereka; ayahku tak pernah sedikit pun mengarahkan aku maupun kedua kakakku untuk mengikuti jejaknya. Ketiga anaknya dibebaskan memilih mau menjadi apa pun—asal tidak masuk militer. Aku bahkan merasa ada upaya darinya untuk membuat kami, anak-anaknya ini, menjauh dari dunia militer. Setiap temannya dari angkatan darat berkunjung ke rumah, ayah tak memperbolehkanku dan kakak-kakakku berada di dekatnya. Kadang, dia  sampai perlu menyuruh ibu membawa kami pergi ke rumah kakek ketika teman-temannya berkunjung ke rumah.

Ketika masih kecil, aku tak benar-benar menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah agar aku jauh dari teman-temannya, agar aku tidak mengikuti jejaknya. Namun, aku yang sejak kecil telah mendengarkan cerita-cerita kepahlawanan ayah ketika di Timor Leste dulu, selalu memendam cita-cita untuk bisa seperti dirinya. Kemudian ketika aku memberanikan diri untuk menceritakan cita-citaku kepadanya, ayah malah menunjukkan ketidaksukaannya atas ide itu. Dan yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah, dia sama sekali tidak pernah mengungkapkan alasannya. Baru ketika nyawa telah berada di pangkal lidah, dia mengungkapkan alasannya kepadaku bersama sebuah pengakuan dosa atas apa yang dilakukannya di masa lalu…

Lima tahun telah berlalu sejak aku meninggalkan rumah. Ibu menghubungiku—mengabarkan bahwa ayah sakit keras dan ingin sekali bertemu denganku. Dia mulai sering mengigau, memanggil-manggil namaku. Aku sebenarnya tak ingin bertemu dengannya, rasa kesal di hatiku belum hilang sejak dia menentang keinginanku dulu. Namun, aku tak mampu menolak permintaan Ibu. Jika ada satu orang saja yang tidak ingin kusakiti di dunia, mungkin hanya ibu orangnya.

Setelah bertahun-tahun meninggalkan rumah, aku tidak melihat adanya perubahan berarti pada rumah itu. Rumah itu masih seperti dulu, dingin sedingin angin musim kemarau, dan orang yang bertanggung jawab membuatnya seperti itu, kini terbaring lemah tak berdaya dalam sebuah kasur dengan tubuh separuh lumpuh oleh stroke. Kini, dia hanya seonggok daging tak berdaya yang tenggelam dalam rutinitas menunggu ajal.

“Kaukah itu Anton?” suaranya serak seperti ada pecahan kaca tersangkut di pita suaranya. Ibu menyentuh punggungku ketika aku terpaku menatap kondisi ayah. Ibu memintaku mendekat, dia menjelaskan kedua mata ayah hampir buta oleh katarak dan nyaris tidak bisa melihat.

“Kenapa tidak dioperasi Bu? Memangnya kita semiskin itu?”

Ibu menjelaskan ayah tidak ingin dioperasi. “Buat apa memperbaiki sesuatu yang hampir mati,” kata ayah kepada ibu. Tidak bisa kupungkiri ada getir dalam hatiku melihat sosok yang dulu terlihat begitu tangguh, terbaring lemah tak berdaya dimakan usia.

Aku berjalan mendekat ke arah ranjang tempatnya berbaring. “Ini aku Ayah. Anton. Anakmu,” kataku pelan. Semburat senyum memancar dari wajahnya yang terlihat lemah tak berdaya. Tangannya yang renta berusaha menggapaiku, meraba-raba wajahku, berhenti pada kumis tipis di atas bibirku. “Kau benar-benar sudah dewasa,” katanya. Aku menggenggam tangannya yang tiada henti bergetar. Kuperhatikan kulitnya yang kaku itu dipenuhi urat-urat kecil menonjol.

“Ada yang perlu ayah ceritakan kepadamu,” katanya lirih. Begitu ayah mengatakan kalimat itu, ibu keluar kemudian menutup pintu. Tampaknya ayah benar-benar tidak ingin ada orang lain yang mendengarkan ceritanya; ia sepertinya telah merencanakan ini.

“Ayah mau menceritakan kepadamu mengapa selama ini ayah tak pernah setuju kamu masuk militer.” Kata-kata ayah terdengar sangat lancar. Dia tidak lagi seperti pria yang tadi kulihat terbaring lemah di kasur. Kemudian dia menceritakannya sesuatu yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi beban hidupnya.

Ayah bercerita kepadaku pengalamannya lebih dua puluh tahun lalu ketika direkrut dalam suatu badan intelijen yang dibentuk untuk memadamkan gerakkan yang berupaya menggulingkan pemerintahan. Ketika itu adalah masa-masa paling kacau sejak rezim berkuasa. Sesuatu yang bergerak di akar rumput sedang membangun basis-basis kekuatannya. Ayahku ditugaskan untuk mencari tahu, memantau, dan menangkap mereka yang dianggap mengganggu ketenteraman negeri.

Satu per satu orang yang dianggap berbahaya berhasil ditangkap berkat kerja kerasnya. Beberapa di antara mereka tidak memberi informasi apa pun, terpaksa dihilangkan karena dianggap menyimpan ancaman, beberapa lainnya menemui ajal di ruang introgasi karena tak mampu menahan siksa, beberapa lainnya beruntung hanya menjadi tahanan politik untuk waktu yang tidak ditentukan.

Aku tentu saja pernah berkali-kali mendengar berbagai cerita ini sebagai cerita liar yang beredar untuk menyudutkan pihak militer. Tapi aku tak menyangka akan mendengar cerita ini langsung dari mulut pelaku—ayahku sendiri. Aku bergidik ngeri mendengar detail cerita ayah, bagaimana dia melakukan upaya paksa, mengorek informasi dari mereka yang tertangkap.

“Jika kamu berpikir penderitaan hanya dirasakan oleh pihak yang duduk di kursi menahan siksa dan tidak di pihak yang memberi siksa, mungkin kamu benar-benar telah kehilangan kemanusiaan. Awalnya aku ikut merasa sakit ketika pertama kali aku melakukannya pada mereka. Namun, semakin lama, semakin sering aku melakukannya, aku nyaris tidak merasakan apa-apa lagi. Hal itu membuatku ngeri pada diriku sendiri. Dan yang paling mengerikan dari semua itu, aku melihat begitu banyak rekan-rekanku yang mulai menikmati apa yang mereka lakukan kepada orang-orang malang itu.”

“Aku tidak mau kamu menjadi seperti mereka,” kata ayah menatapku dengan mata keruhnya. Seketika itu leherku terasa kaku dan tenggorokanku kering. Padahal aku hanya mendengarkannya bercerita, namun entah mengapa aku yang merasa lelah dan kehilangan kata-kata.

“Sekarang situasi tidak lagi seperti dulu, Ayah. Rezim telah berganti dan kita telah mengalami reformasi. Hal-hal seperti itu tak terjadi lagi.” Aku menyentuh bahunya ketika mengatakan itu.

“Tidak ada yang berubah, Nak. Rezim boleh berganti, penguasa di mana pun sama saja. Satu-satunya tujuan mereka adalah mempertahankan kekuasaan, dan mereka akan melakukannya, bagaimanapun caranya,” kata ayah tegas.

Setelah itu dia diam sejenak, mengambil napas panjang dan bertanya, “Kamu sekarang bekerja di intelijen bukan? Memangnya apa pekerjaanmu jika tidak menyerang mereka yang mencoba menggoyangkan kaki penguasa?”

“Tapi kami tidak melakukannya dengan menangkapi mereka.”

Ayah bangkit dari pembaringannya dengan susah payah dan aku membantunya duduk. “Lalu dengan apa? Berita palsu?” tanyanya sedikit membentak. “Aku mendengar berita enam orang terbunuh dalam sebuah upaya penangkapan, memangnya itu berbeda? Ya, mungkin berbeda karena sekarang mereka bahkan tidak perlu sembunyi-sembunyi menghilangkan nyawa manusia.”

“Itu berbeda. Mereka membahayakan negara, mereka melawan aparat, mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja.”

“Semua selalu dimulai seperti itu, Nak. Segalanya bermula sebagai upaya mempertahankan dan menjaga stabilitas negara.” Suara Ayah melembut. “Tapi, cepat atau lambat kegentingan akan datang dan kamu akan dipaksa bertindak, kamu akan dipaksa melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan dan akan kamu sesali seumur hidup. Dan yang terburuk dari itu, kamu tidak diperbolehkan menceritakannya kepada siapa pun.”

Ketika aku pikir dia sudah selesai bicara, ayah menambahkan. “Kamu tahu, seandainya aku bisa meminta maaf kepada korban-korbanku, kepada keluarga-keluarga mereka, aku akan melakukannya. Tapi itu tidak mungkin.”

Sampai di sini apakah kamu mempercayai cerita ayahku? Mungkin kamu berpikir cerita seperti ini tidak akan terjadi di dunia nyata. Bahkan, kamu mungkin telah menyadari bahwa ada lubang pada cerita ini. Kamu mungkin akan berkata bahwa tentara tidak mungkin seperti itu, dan aku bukanlah tentara, dan cerita ini hanyalah karangan belaka. Kamu benar dan aku tidak akan menghindar. Aku mengakui bahwa aku bukanlah tentara, dan ayahku pun bukan seorang tentara, jadi dia tidak perlu melakukan pengakuan dosa. Aku hanyalah seorang anak yang kehilangan sosok ayah dua puluh tiga tahun silam, ketika tangan dingin razim dengan tak berperasaan membuang tubuh tak bernyawanya entah di mana. Jika kamu berpikir bahwa cerita ini hanyalah imajinasiku semata, kamu sekali lagi benar; tentu saja ini hanyalah imajinasiku semata.  Lagi pula, mana mungkin orang yang tidak merasa salah, melakukan pengakuan dosa, apalagi sampai meminta maaf.****

*Untuk Wiji Thukul dan para aktivis lainnya yang sampai saat ini belum diketahui kabarnya

Gang Metro, 5 Oktober 2022  


Aliurridha, penerjemah dan pengajar penerjemahan di suatu perguruan tinggi. Ia menulis esai, opini, puisi dan cerpen. Karyanya tersebar di berbagai media. Cerpennya berjudul Metamorfosa Rosa masuk dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas 2021. Ia tinggal di Lombok dan bergiat di komunitas Akarpohon.

Cerpen

Neraka di Antara Ayah dan Pria Itu

Cerpen Aliurridha

Malam begitu pekat hingga tiada satu bintang pun terlihat. Lampu-lampu di sepanjang rel kereta api masih menyala, tapi tak menerangi apa-apa. Ia berjalan tertatih di sepanjang rel kereta api yang sudah lama tak digunakan. Pikirannya terombang-ambing di antara dua pilihan yang sama pahitnya. Di sepanjang langkah kakinya, ia dilema memilih kembali atau terus pergi. Jika kembali, maka sudah dapat dipastikan tidak ada lagi kebahagian, hanya neraka kehidupan; dan jika ia terus lanjut, ia tidak tahu lagi harus ke mana.

Hatinya kalut. Pikirannya dipenuhi rasa takut ketika matanya menatap sekeliling di mana hanya ada gerbong-gerbong rongsok tempat para pekerja rendahan melampiaskan syahwatnya pada penjaja tubuh. Kakinya bergetar ketika ia membayangkan harus dipaksa melayani para binatang yang tidak tahu cara memperlakukan wanita. Dieratkannya ikatan dari kain batik murahan yang ia gunakan menggendong bayinya yang bahkan belum genap satu tahun itu agar ia bisa melangkah lebih cepat dan enyah dari tempat ini. Beruntung hari belum terlalu malam.

Langkah kakinya melemah. Kakinya letih tiada terkira. Otot di betis dan pahanya berdenyut nyeri setelah dipaksa lebih empat jam berjalan tanpa tujuan. Dihirupnya panjang udara malam dan dibiarkan pikirannya mengawang menelusuri percabangan jalan yang telah ditempuhnya. Ia menyesali apa yang telah terjadi; ia menyesal telah meninggalkan keluarganya demi pria itu. Ingin rasanya ia pulang, mencium kaki ayahnya, meminta maaf atas kebodohannya dan mengatakan kepada ayahnya bahwa ayah benar tentang pria itu, dan ayah juga benar tentang segala hal. Tapi tak ada lagi rumah untuknya pulang, semuanya telah ia buang jauh di belakang.

Jika mengingat masa-masa perkenalannya dengan pria itu, sebenarnya ia sama sekali tidak pernah tertarik kepadanya. Tak ada sedikit pun yang menarik dari penampilannya yang urakan. Ia tak pernah suka jaket jin lusuh yang selalu pria itu kenakan. Ia juga tak suka postur tubuhnya yang jangkung dan kurus, dan rambut gondrongnya yang tak terurus. Tak ada sedikit pun yang menarik dari pria itu. Tapi kegigihannya itu, membuat ia luluh juga.

Ayahnya menentang hubungannya dengan pria itu. Ayahnya selalu begitu. Tak ada satu pria pun yang benar-benar sempurna di mata ayahnya. Sejak kecil hidupnya telah diatur sedemikian rupa, dan ayahnya telah memilihkan jalan mana yang harus ia tempuh. Segala yang ditanamkan ayahnya masuk ke alam bawah sadarnya sebagai sebuah kebenaran absolut. Namun, perkenalannya dengan pria itu mengubah segalanya. Perkenalannya dengan pria itu membangkitkan jiwa pemberontak yang selama ini tertidur. Ia mulai bergerilya menentang ayahnya, sampai kemudian terang-terangan melawan ayahnya setelah melihat bagaimana ayahnya mempermalukan pria yang dicintainya.

“Kamu mau melamar anakku?” Ayahnya tertawa, seolah apa yang dikatakan pria itu adalah lelucon yang lucu. “Memangnya kamu bisa apa? Hidup tak jelas, kerjaan juga tak punya. Jika ada pria yang paling tidak layak untuk anakku, maka kamulah orangnya.”

Darahnya mendidih mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Pria itu tidak membalas dan hanya bisa menunduk. Badannya gemetar, entah oleh amarah atau karena malu, ia tidak tahu. Ia tidak pernah sempat menanyakannya. Lalu ketika pria itu pergi dari rumahnya, ia bertanya kepada ayahnya. Ia merasa bahwa bukan masalah jika pria itu tidak punya pekerjaan tetap sekarang. Itu semua bisa diusahakan. “Bukankah rumah tangga tentang berusaha bersama?” katanya.

Ayahnya kembali tertawa. “Bukan itu masalahnya. Kamu tahu, dia itu lelaki tidak benar.”

“Dari mana ayah tahu?”

“Ayah tahu saja. Ayah bisa melihatnya.” Ketika ia tidak membalas, ayahnya menambahkan. “Sudahlah. Laki-laki seperti itu tak bisa diharapkan. Dia hanya akan menjadi benalu dalam hidupmu.”

“Sedang apa kamu di situ?” Sebuah pertanyaan menghentaknya kembali ke masa kini. Saat itu ia tengah duduk pada sebuah kursi kayu di pinggir rel kereta, memijiti kakinya yang letih. Ia menoleh dan memperhatikan wanita yang menyapanya. Wanita itu menggunakan rok ketat yang jauh di atas lutut dengan atasan blouse tanpa lengan yang begitu rendah pada bagian dada, memamerkan asetnya yang berharga, dan riasan tebal menambah rayu pada wajahnya yang menggoda.  

Mungkin karena tidak ada balasan yang keluar dari mulutnya, wanita itu mengulangi lagi pertanyaannya. Mendadak sesuatu tumpah dari kedua bola matanya. Wanita itu kemudian menatapnya penuh perhatian, berusaha memahami apa yang sedang dilaluinya. Kemudian wanita itu mengajaknya ikut ke rumahnya. Ia menolak. Ia tak percaya lagi pada kebaikan jenis apa pun di dunia ini, apalagi kebaikan yang ditawarkan oleh orang asing. Hidup mengajarkannya bahwa setiap orang menginginkan sesuatu dari orang lain.

“Aku nggak akan maksa. Wanita sepertimu takkan bertahan semalam di tempat ini. Kamu beruntung aku menemukanmu lebih dulu. Jika para lelaki miskin yang bahkan tak punya uang untuk menyewa pelacur itu menemukanmu lebih dulu, kamu akan diperkosa sampai tak bisa jalan,” kata wanita itu.  Merinding ia mendengarnya. Ia tidak tahu bagaimana dunia bekerja di luar rumah orangtuanya dan pria itu. Ia tidak punya pilihan selain ikut dengannya.

***

Melisa, wanita yang menyelamatkan hidupnya itu, mengajarkannya sesuatu—bahwa ia tak memerlukan siapa pun untuk bertahan hidup di dunia ini. Sejak itu ia mengikuti apa yang dikerjakan Melisa; ia ikut memberikan jasanya pada para pria kesepian yang mencari sedikit kesenangan dari kehidupan rumah tangga mereka yang membosankan. Ia tidak peduli lagi dengan moral, lagi pula apa yang dilakukannya ini juga bukan pertama kali. Pria yang pernah menjadi suaminya itu, pria yang berjanji akan melakukan apa saja untuknya, tanpa malu pernah memintanya melacurkan diri.

Saat itu hidup mereka begitu susah. Anaknya baru saja lahir dan suaminya tak punya pekerjaan. Suaminya sangat malas dan dari mulutnya hanya terdengar keluhan. Baru sebentar bekerja di bengkel, ia sudah dikeluarkan karena malas-malasan dan melawan atasan. Kemudian ia mengeluh, mengatakan bahwa atasannya adalah seorang brengsek yang bisanya cuma memerintah. Beberapa kali ia diterima kerja di tempat baru, dikeluarkan lagi, diterima lagi, dikeluarkan lagi. Ia tak pernah benar-benar serius bekerja. Kerjanya hanya berjudi, mabuk-mabukkan, dan pulang tengah malam tanpa sepeser uang. Lalu uang hasil ia bekerja sebagai kasir swalayan, dihabiskan suaminya di meja judi. Hampir setiap hari, suaminya menjanjikan uangnya akan kembali berkali lipat, tapi yang kembali bukannya uang, melainkan utang.

Kemudian datanglah musibah itu. Anaknya sakit dan mereka tidak punya uang sepeser pun untuk membawanya ke rumah sakit. Awalnya ia hanya berniat melakukannya sekali saja, untuk menebus biaya perawatan bayinya di rumah sakit. Tapi suaminya memintanya melakukannya lagi. “Kalau kamu tidak mau, keluar saja dari rumah ini. Pulang ke rumah ayahmu yang sombong itu!” ancam pria itu.

Ia merasa benar-benar terjebak dalam lingkaran setan. Ia tidak punya pilihan selain menurut. Sampai di suatu malam sebuah kejadian mengaktifkan bom yang ditanam pria itu.

Ketika itu ia pulang lebih cepat dari hari biasanya. Di depan rumah kontrakannya, ia mendengar tangisan bayi. Ia bergegas lari ke dalam rumah, dan ia menemukan bayinya menangis sendirian. Ayah si bayi tak ada di sana. Kemudian di kamar sebelah, ia mendengar lenguhan wanita. Bergegas ia menuju kamar sebelah, dan ia melihat suaminya sedang menindih seorang wanita. Pinggulnya bergerak naik turun begitu cepat seperti mesin jahit. Melihat adegan itu, otot-otot di seluruh tubuhnya mengeras, tubuhnya terasa panas, dan darah mengalir deras ke ubun-ubun. Bom itu meledak. Bersama dengan segala sumpah serapah yang pecah dari mulutnya, ia melompat menerjang mereka. Satu tendangan dilepas ke punggung suaminya, membuat pria itu segera bangkit. Tak sempat menyelesaikan syahwatnya, pria itu mengamuk dan menamparnya berkali-kali. Ia kaget bukan main. Itu pertama kalinya ia ditampar. Sejahat apa pun mulut pria itu, ia belum pernah menggunakan tangannya.

Ia menatap mata suaminya, tidak ada lagi kasih di sana. Kemudian suaminya mengatakan sesuatu yang takkan pernah ia lupakan seumur hidup: “Kamu tahu sebenarnya aku mencintaimu, tapi kebencianku pada ayahmu jauh lebih besar.”

Tubuhnya lemas begitu gelombang emosi itu surut. Kemudian kata-kata ayahnya beberapa tahun silam kembali menggema di telinganya.

***

“Kamu yakin?” tanya Melisa.

“Iya. Keputusanku sudah bulat. Aku akan pulang dan meminta maaf pada ayah.”

“Ayahmu pasti akan menerimamu kembali,” kata Melisa. Tangan Melisa mengelus bahunya dan ia langsung menggenggamnya.

“Terus bagaimana dengan pekerjaan nanti malam?” tanya Melisa. “Aku sudah janji dengan tamuku. Kamu datang, ya! Dia sudah lama mendengar tentangmu, dan dia sangat penasaran.” Melisa memegang kedua tangannya dan menatapnya dengan tatapan memohon.

“Tenang saja aku pasti datang,” katanya. Dalam hati ia telah memantapkan diri kalau ini akan menjadi yang terakhir. Setelah ini ia akan mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia ingin anaknya tumbuh di lingkungan yang lebih baik.

“Kamu jangan khawatir. Om Yoga ini orangnya baik, dia banyak memberi tips.” Melisa kemudian mendekat dan berbisik ke telinganya: “Dan kamu tahu, dia galak di ranjang. Kamu pasti puas.”

Ia merasa geli mendengarnya. “Apaan sih. Aku tak peduli dengan kepuasaanku. Yang penting saat ini hanya uang.”

Melisa tersenyum cabul, kemudian menasihatinya dengan mengutip entah siapa: “Buatlah kesenanganmu menjadi pekerjaan dan kamu tidak akan pernah merasa bekerja.”

Mereka pun tertawa.

***

Melisa mengatakan Om Yoga telah menunggunya di meja delapan. Ia perhatikan tubuh laki-laki itu dari belakang. Ia merasa tidak asing dengan sosok yang sedang duduk sendirian menunggunya. Dari belakang posturnya tampak gagah. Otot-otot lengannya terlihat kokoh. Bahu dan punggungnya pun kelihatan lebar. Jelas sekali laki-laki ini sering berolahraga. Kemudian ia teringat lagi perkataan Melisa tadi pagi. Perutnya geli dan darahnya berdesir.

Ia berjalan mendekat. Semakin ia mendekat, laki-laki itu terlihat semakin familier. Ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Punggung itu mengingatkannya akan seseorang dari masa lalu. Punggung itu adalah tempat dulu ia bergelayut manja setiap orang itu menggendongnya. Tidak mungkin, kan? Sekelebat perasaan ganjil mendatanginya. Langkah kakinya melambat. Tapi ia terus melangkah sebelum berhenti dua langkah di belakang laki-laki itu. Dugaannya tidak keliru. Ia sudah berpikir untuk pergi sebelum laki-laki itu menyadarinya. Namun belum sempat ia membalik badan, laki-laki itu menoleh dan tersenyum memanggilnya. Dan begitu melihat dirinya, senyum di bibir laki-laki itu pudar seketika. Wajahnya pucat, matanya melotot, dan mulutnya sedikit terbuka. Tapi tak ada kata yang meluncur dari bibirnya.****

Sandik, 2021-2022


Aliurridha, menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di pelbagai media. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

Cerpen

Tragedi Pencurian Ikan

Cerpen Aliurridha

Ini adalah kali ketiga hasil panennya jatuh. Jamal tahu ada yang mencuri ikan-ikan di empangnya. Ia bahkan tahu siapa pelakunya. Ia kenal orang itu seperti ia mengenal anak dan istrinya sendiri. Orang itu begitu dekat dengannya, sedekat urat-urat di lehernya. Ia tidak habis pikir mengapa Naldi, orang yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri, bisa setega itu mencuri darinya. Padahal jika ia minta baik-baik, mungkin Jamal akan memberinya. Meski tidak sebanyak yang dicurinya, Jamal akan ikhlas memberinya. Jamal tahu betul betapa susah hidup Naldi saat ini. Bagaimanapun juga, Naldi adalah orang pertama yang menyambutnya ketika tidak seorang pun peduli pada pendatang seperti dirinya.

“Kakak harus mendatanginya. Kalau terus seperti ini kita terpaksa pulang. Setiap panen kita selalu rugi,” kata istrinya.

Jamal hanya menjawab dengan anggukan sekenanya. Bukannya ia belum pernah mendatangi Naldi, ia sudah pernah mendatanginya ketika pertama kali ia rasakan ada yang aneh dengan hasil panennya. Naldi adalah orang pertama yang ia ceritakan sekaligus mintai bantuan untuk menjaga empangnya. Jamal sangat percaya kepada Naldi seperti halnya ia percaya kaki dan tangannya sendiri. Lagi pula Naldi adalah seorang yang disegani di kampungnya. Ia adalah orang yang suaranya selalu didengar para begundal desa—Naldi adalah ketua mereka. Selain itu, Naldi juga terkenal karena ia adalah anak dari mantan kepala desa dua periode yang memiliki tanah yang seolah tidak ada habisnya. Tetapi itu dulu, sebelum ayah Naldi salah perhitungan mencalonkan diri sebagai anggota dewan yang mau tidak mau membuatnya terpaksa menjual tanahnya. Kemudian hanya sedikit tanah yang bisa ia wariskan kepada Naldi.

“Saya tidak tahu siapa yang curi, tapi saya janji akan cari tahu dan bantu jaga. Sudah mi kita tenang saja, tidur nyenyak di rumah,” kata Naldi pada Jamal.

Jamal mengangguk setuju. Tetapi entah mengapa ketika tiba di rumah, ia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Sebuah firasat mengatakan kepadanya untuk tidak begitu saja percaya.

Malamnya Jamal gelisah. Ia yang tidak bisa tidur dan memutuskan keluar rumah, memandangi langit yang begitu cerah. Saat itu sedang bulan purnama. Bulan terlihat bulat sempurna dan berwarna putih kekuking-kuningan. Bintang gemintang bekerlap-kerlip di kejauhan. Dihirupnya dalam-dalam udara malam yang lembap bercampur garam. Kemudian ia berjalan-jalan untuk menenangkan hatinya seperti biasa terjadi ketika ia bertengkar dengan istrinya. Ketika langkah kakinya membawanya tiba di empang miliknya yang akan panen beberapa hari lagi, dari kejauhan dilihatnya bayangan dua orang. Tangannya segera meraba pinggang, namun ia lupa membawa parang. Sial, makinya pelan. Ia tidak ingin para pencuri itu menyadari keberadaannya.

Jamal memutuskan untuk tidak pulang mengambil parang dan memilih mengintip para begundal yang mencuri ikannya. Ia berharap terang bulan akan menyingkap wajah para pencuri itu. Namun, agak susah mengenali kedua sosok itu dari kejauhan, tanpa penerangan selain cahaya bulan. Ketika ia berpikir keberuntungan tidak berpihak padanya, sorot senter yang dibawa salah satu dari mereka, mengenai wajah seseorang, wajah yang sangat dikenalnya. Naldi! Ia mengumpat begitu tahu kalau salah satu dari begundal itu adalah orang yang ia percayai seperti kaki dan tangannya sendiri. Orang yang ia janjikan jika panen baik akan ia berikan persenan. Ia sudah hampir mendatangi pencuri itu untuk bikin perhitungan. Namun, akal sehatnya datang, dan dengan rasa panas di dada, ia menyeret kakinya kembali ke rumah. Di rumah ia merokok untuk menenangkan diri sembari berharap pagi akan mematikan bara di dada. Besok ia berencana mendatangi Naldi untuk bicara baik-baik.

“Saya tidak pernah. Sumpah dah. Semalam saya minum sama brengsek ini,” kata Naldi menunjuk Feri.

“Tapi saya lihat kamu sama seorang lagi,” kata Jamal yang kemudian menoleh ke arah Feri.

“Kita[1] salah lihat mungkin,” balas Feri. “Kami semalam minum-minum di rumah Joni. Naldi sampai tidak bisa bangun karena kebanyakan pongasi[2].”

“Kita tenangkan mi dulu hati kita,” kata Naldi menyentuh pundak Jamal. Naldi bisa merasakan Jamal tengah tegang ketika ia menyentuh pundak laki-laki itu. “Saya janji bantu. Saya tidak mabuk nanti malam,” katanya lembut berusaha menenangkan Jamal.

Malamnya memang tidak ada lagi pencurian. Jamal yang tidak percaya lagi pada Naldi, mengintip ke arah empang dan melihat Naldi bersama Feri sedang minum di pondok sederhana yang ia bangun untuk berjaga-jaga kalau saja air meluap dan tanggul jebol. Di sana, keduanya benar-benar tidak melakukan apa-apa selain minum pongasi. Ia pulang dengan hati tenang. Tebersit pikiran bahwa apa yang ia lihat kemarin hanyalah tipuan mata belaka.

***

“Kita tahukah kalau Naldi jual ikannya ke tempat Ruslan?” tanya Rohman kepada Jamal. Rohman adalah seorang pengepul yang selalu mendatangi Jamal setiap panen. Ruslan juga seorang pengepul, ia selalu berjuang untuk memperebutkan hasil panen ikan dengan Rohman.

Perkataan Rohman itu membuatnya teringat pada malam ketika ia melihat Naldi bersama seseorang, malam yang sebelumnya ia sangka hanya tipuan mata belaka. Ia tahu benar kalau Naldi sudah tidak punya empang dan empang terakhirnya ia jual sebagai pelicin agar ia bisa bekerja di perusahaan tambang. Sayangnya, sekarang perusahaan tambang tempat Naldi bekerja sedang bermasalah perizinannya. Naldi sebenarnya masih memiliki sedikit tanah yang bisa ia tanami untuk berkebun. Tetapi polusi dari aktivitas tambang dulu pernah merusak apa yang ditanamnya. Itu membuatnya malas mencoba lagi. Dan, ia memang bukan tipe yang cocok hidup bertani, ia lebih suka bekerja mendapatkan gaji pasti setiap bulan. Jamal juga tahu benar kalau Naldi tidak akan punya sedikit pun modal untuk membeli ikan yang kemudian akan ia jual ke pengepul. Ia tahu benar kondisi keuangan Naldi saat ini. Ia merasa tahu semua yang terjadi di sekitar desa tempatnya mukim. Jika ada satu yang tidak diketahuinya—yakni Rohman sebenarnya sudah tahu kalau ikan-ikan yang dijual Naldi adalah hasil curian dari empang Jamal; Rohman mengatakan itu lantaran ia kesal kepada Naldi yang tidak mau menjual hasil curian itu padanya, dan malah menjualnya kepada Ruslan.

Sebenarnya Jamal tidak mau mendatangi Naldi karena ia tahu segalanya akan sia-sia, Naldi pasti akan menyangkal apa yang diperbuatnya, dan ia juga tidak memiliki bukti untuk menuduhnya. Jamal benar-benar tidak mau cari ribut, tapi ia tidak tahan juga mendengar omelan istrinya. Ia juga tidak mau apa yang dikatakan istrinya terjadi; mereka terpaksa pulang ke kampung halaman setelah gagal di perantauan. Tidak ada yang lebih ditakutkannya selain pulang membawa kegagalan. Ia pasti akan dikucilkan keluarganya di kampung. Ia juga akan dihina mertua yang telah memberinya modal hidup di perantauan.

“Saya bilang saya tidak tahu. Kau masih paksa-paksa,” kata Naldi ketika Jamal terus mendesaknya untuk mengaku dan berhenti mencuri di empangnya. Jamal mengatakan ia bersedia memaafkannya asal Naldi berjanji tidak mengulangi lagi. “Saya sudah tidak permasalahkan kita tidak bagi hasil panen seperti yang kita janji. Saya ngerti kita sedang susah. Banyak bibit yang tidak berkembang.”

Jamal hampir saja meledak begitu mendengar Naldi menyebut bibitnya tidak berkembang. Ia tahu betul bahwa Naldi yang mencuri ikan-ikannya. Perkataan Naldi terasa seperti air garam yang disiram tepat di lukanya. Rasanya perih tiada terkira. Beruntung Jamal masih bisa menahan diri dan pulang. Ia pulang dan lanjut mendengarkan omelan istrinya yang lebih perih dari luka yang disiram air garam.

“Ini terakhir kali. Saya janji ini terakhir kali dia mencuri. Dia tidak akan lagi mencuri dari kita,” kata Jamal kepada istrinya. Nada biacaranya lebih tinggi dari biasanya, dan itu membuat sang istri berhenti memberondongi dengan omelan.

Apa yang dikatakan Jamal kepada istrinya hari itu terbukti. Pagi itu langit teramat cerah ketika orang-orang dikagetkan dengan sesosok tubuh yang terbaring di pematang. Kepalanya telungkup masuk ke dalam kolam dengan punggung menghadap langit. Di bagian leher dan bahu kirinya terlihat seberkas warna merah yang mulai mengering. Tubuh tak bernyawa itu adalah tubuh Naldi.

Semalam Naldi kedapatan sedang mencuri di empang Jamal. Naldi tertangkap basah. Ia benar-benar sedang basah ketika Jamal datang. Ia sedang berada di empang menjaring ikan-ikan siap panen ketika Jamal dengan tiba-tiba melompat ke empang, lalu menebaskan parang ke bahunya dari belakang. Mendengar erangan Naldi, Feri bukannya menolong, malah meloncat keluar empang dan berlari kocar-kacir. Jamal terus saja mengulangi tebasannya pada tubuh Naldi hingga si pemilik tubuh tidak lagi mampu untuk sekadar mengerang.

Begitu puas menebas, Jamal menyeret tubuh Naldi dan melemparnya di pematang dekat empangnya. Tubuh Naldi dibentangkan seperti portal yang hendak menghalangi siapa pun untuk masuk ke empang miliknya. Setelah itu ia pulang ke rumah untuk mandi, membersihkan noda darah, dan merokok. Paginya ia pamit ke istrinya untuk pergi menyerahkan diri ke kantor polisi.**

 [1] kita adalah sapaan sopan untuk kamu bagi orang Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara

[2] minuman keras tradisional Sulawesi Tenggara yang dibuat dari fermentasi tape


Aliurridha, Penerjemah dan pengajar Toefl. Ia menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di banyak media, luring maupun daring. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.