Cerpen

Tafsir Peziarah Sunyi

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Langitmendung dan angin berpusar ketika Dewi Uma meniti  jalan ke makam ayah. Ini hari kedua ayah dimakamkan. Gadis 17 tahun itu merasakan angin menggetarkan dahan-dahan kemboja. Tanah makam masih cokelat basah. Bunga di atas makam dihamburkan angin. Sore ini ia seperti ingin menyingkap rahasia dirinya. Ia kehilangan separuh jiwanya sejak pemakaman jasad ayah. Tapi kali ini ia terperanjat. Ia termangu beberapa langkah sebelum makam ayah. Ia melihat seorang perempuan setengah baya yang tak dikenalnya berjongkok, menahan tangis di sisi makam ayah. Yang membuatnya takjub dan bergetar, ia melihat seorang gadis yang serupa dengannya. Bahkan ia melihat dirinya sendiri pada gadis itu.

Gerimis tajam menerpa wajah ketika Dewi Uma masih termangu. Menahan diri, ia tak sanggup melangkah. Berganti-ganti ia memandangi perempuan setengah baya dan gadis yang serupa dengannya. Ia merasakan kedekatan hati yang terselubung tabir rahasia. Ia merasa perempuan setengah baya dan gadis yang serupa dengannya itu merupakan kerabat. Ia mendekat ke arah makam ayah.

Hujan deras dengan angin berpusar tercurah dari langit. Dewi Uma berlari mencari perlindungan di bawah pohon beringin tua. Mengeringkan wajah dan rambutnya dengan sapu tangan. Ia menatap ke arah makam ayah. Senyap. Tak seorang pun berada di makam itu. Perempuan setengah baya itu dan anak gadisnya tak terlihat lagi. Mereka berlari menghindari hujan yang tercurah dari langit bersama pusaran angin. Dewi Uma kehilangan lacak, tak dapat menemukan sosok mereka.

Mendekati makam ayah saat hujan reda, Dewi Uma masih merasakan getar tubuhnya. Bukan getar tubuh karena hujan yang mendadak tercurah dari langit. Getar tubuh bertemu dengan dua orang–yang dalam pikiran Dewi Uma, sangat berkaitan dengan rahasia hidupnya. Meninggalkan makam ayah pada saat senja, hati gadis itu diliputi tanda tanya.

 ***

Langit cerah ketika Dewi Uma kembali ziarah ke makam ayah. Ini hari ketiga ayah dimakamkan. Menjelang sore, tak seorang pun datang ke makam, kecuali Dewi Uma dan Fajar, teman sepermainannya. Mereka begitu akrab semenjak kanak-kanak. Fajar terbiasa mengajak Dewi Uma ke mana pun, termasuk saat mendaki gunung. Fajar yang memiliki tubuh kekar dan tangguh, selalu membuat Dewi Uma terlindungi.  

“Aku melihat seorang perempuan setengah baya dan anak gadisnya, yang sangat mirip denganku kemarin di makam ini,” kata Dewi Uma, saat mencapai makam ayah. “Hujan turun, dan mereka menghilang ketika aku berteduh di bawah pohon beringin.”

“Kesedihan telah membawamu untuk melihat gadis yang serupa denganmu. Kau sedang melihat wujud kesedihanmu. Gadis itu pasti kau sendiri.”

“Lalu, perempuan setengah baya itu?”

Sejenak Fajar berpikir, sebelum menjawab sekenanya, “Ia wujud dirimu di masa yang akan datang.”

“Aku tak akan menjadi seorang ibu yang memendam kesedihan serupa itu. Aku mau jadi seorang ibu yang bahagia dengan segala pilihanku.”

“Nah, itu gambaran dirimu di saat sedih, di antara kehidupan yang bahagia,” goda Fajar, tak mau menyerah. Dewi Uma merasa diledek Fajar. Ia  masih memikirkan seorang ibu yang wajahnya memendam duka dan anak gadisnya itu. Ia yakin bila benar-benar bertemu dengan seorang ibu yang berparas sedih dan anak gadisnya yang mirip dengannya: serupa saudara kembar. Ia sangat ingin bisa bertemu mereka.

***

Masih berkabung, di hari keempat ayah dikubur, Dewi Uma berziarah ke makam, menjelang sore. Ia ditemani Joko Bandung, kekasihnya, seorang militer. Lelaki muda kekar itu baru bisa datang dan mengajaknya ziarah ke makam. Mendaki jalan setapak ke bukit makam, di bawah dahan-dahan kemboja, Joko Bandung menggenggam tangan Dewi Uma, memberinya rasa tenteram.

Dewi Uma kembali teringat seorang ibu setengah baya yang berziarah pada hari kedua ayah dimakamkan. Terutama gadis yang mirip dengan dirinya, menggelisahkan perasaannya. Ia penasaran ingin bertemu gadis itu: barangkali dia memiliki hubungan darah dengan ayah. Kalau memang benar Dewi Uma terlahir kembar dengan gadis itu, kenapa ayah dan ibu tak pernah bercerita?

“Aku bertemu gadis yang serupa denganku di makam ini,” kata Dewi Uma. “Ia bersama ibunya, perempuan setengah baya, yang ziarah di makam ayah.”

Serius Joko Bandung memandangi Dewi Uma. “Kita mesti mencari mereka. Coba tanyakan pada ibu, siapa perempuan setengah baya itu. Begitu juga gadis yang serupa denganmu, siapa tahu kalian memang dilahirkan kembar. Kalian dipisahkan, sehingga kalian tidak saling kenal.”

“Kenapa hidupku jadi sebuah misteri begini?”

“Kau mesti bertanya pada ibu. Tentu ibu bisa menjawab misteri ini.”

Tak ada badai, tak ada pusaran angin, tetapi tubuh Dewi Uma tergetar. Di depan makam ayah, ia menjadi gadis yang semakin tak memahami hidupnya. Ia lebih banyak berdiam diri. Ia tak bisa menyangkal pendapat kekasihnya. Mesti  bertanya pada ibu: apakah ia memiliki saudara kembar.

Turun dari makam, saat menjelang senja, Dewi Uma ingin mendengar percakapan ibu dan anak gadisnya saat berziarah. Kalau saja ia mendengar percakapan itu, tentu bisa menduga-duga siapa sesungguhnya mereka.

***

Saathari kelima Dewi Uma ziarah ke makam ayah, ia sendirian. Begitu  mencapai pintu gerbang ke makam, ia bertemu Sadewa, seorang santri Kiai Maksum, yang hendak ziarah ke makam Syekh Ali. Dewi Uma mengenali lelaki itu sebagai santri kesayangan Kiai Maksum. Ketika Kiai Maksum salat jenazah ayah dan mengiringi pemakaman, santri itu selalu berada di sampingnya.

Sadewa sempat berhenti di sisi gundukan makam ayah Dewi Uma. “Kau seperti sedang mencari jawab atas peristiwa yang pernah menimpa dirimu.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Sepasang matamu mengisahkan semua kegelisahan,” kata Sadewa,  merasa pasti.

“Beberapa hari yang lalu aku bertemu seorang gadis yang mirip denganku di sini,” kata Dewi Uma. “Aku merasa sebagai gadis kembar dengannya. Tapi sebelum kami sempat bertegur sapa, hujan turun dan gadis itu meninggalkan makam ayah.”

Terdiam, memendam senyum, sebelum meninggalkan Dewi Uma, santri itu sempat berkata, “Kau mesti yakin dengan suara hatimu yang terdalam.”

Dewi Uma terdiam. Termenung. Ia tak pernah berani mengajukan pertanyaan pada ibunya: apakah ia memiliki saudara kembar? Dalam temaram senja di makam, ia seperti kehilangan kesadarannya, dan kini menjadi manusia yang tak memahami dirinya.

***

LangkahDewi Uma mengikuti Kiai Maksum mendaki bukit makam. Kiai Maksum berziarah ke makam Syekh Ali, leluhurnya. Ini hari keenam ayah Dewi Uma meninggal dunia. Dewi Uma masih terus merenungkan gadis yang berziarah pada hari kedua kematian ayah. Ia tak bisa mengatakan gadis itu orang lain. Ia juga tak bisa menyebutnya sebagai ilusi dirinya yang sedang berduka.  

Menjelang senja Dewi Uma menuruni makam. Berada di kaki bukit makam, ia berhenti melangkah, dan Kiai Maksum berhenti tepat di sisinya. Memperhatikannya. Dewi Uma seperti tak ingin bergerak dari tempatnya berdiri. Ia berpikir, tentu telah terjadi percakapan dalam hujan antara ibu setengah baya dengan anak gadisnya sebelum mereka naik taksi dan meninggalkan makam.

“Apa yang ingin kauketahui di tempat ini?” tanya Kiai Maksum.

Menunduk, malu, Dewi Uma menukas, “Kalau saja saya bisa mendengar  percakapan antara seorang ibu dan anak gadis yang ziarah ke makam ayah, tentu akan terbuka asal-usul saya.”

“Kau bisa mendengar percakapan mereka,” kata Kiai Maksum. “Pejamkan matamu, dan kosongkan pikiranmu. Ingat kembali peristiwa yang ingin kauketahui. Semoga kau  mendengar suara percakapan mereka.”

Dewi Uma memejamkan mata, mengosongkan pikiran. Ia memusatkan perhatiannya hanya pada percakapan antara ibu setengah baya dan anak gadisnya. Ia dengar percakapan mereka dalam suara bening.

“Kenapa ibu tak mau menemui Dewi Uma?” tanya gadis itu.

“Dia sudah dibawa ayahmu dengan istri pertamanya. Aku cuma istri kedua, dan terpaksa merelakan Dewi Uma dibawanya meninggalkan kita. Hari ini aku sudah cukup bahagia bisa melihat dia tumbuh dewasa dan cantik. Suatu saat semoga kita bisa berkumpul kembali.”

Membuka kelopak mata, Dewi Uma menahan diri dari guncangan perasaan. Ia tak pernah menduga, bila perempuan setengah baya itu adalah ibu kandungnya, dan gadis yang mirip dengannya itu saudara kembarnya.  

“Mari kita pulang,” ajak Kiai Maksum. “Semoga hatimu menjadi tenteram sekarang.”

Langit senja meredup ketika Dewi Uma meninggalkan makam. Ia  merasakan angin menggetarkan perasaannya serupa dahan-dahan kemboja. Tampak samar dan menghitam makam yang ditinggalkannya. Tapi wajah ibu kandung dan saudara kembarnya kian jelas dalam benaknya.****

Pandana Merdeka, Juli 2022


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, di antaranya penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah dan nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).

Cerpen

Pemburu Celeng dan Celeng yang Memburunya

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Peluru kaliber 30,06 mm itu melesat dari moncong Mouser dan tepat mengenai bagian belakang telinga. Celeng itu pun menguik-nguik, menggelepar-gelepar bagai ayam yang disembelih lehernya, lalu tak bergerak-gerak lagi.

Gegas, Marbun menuju buruannya. Tamim, si tukang lampu blor, terseok-seok di belakangnya. Aki truk pada tas ransel itu menggelantung di punggungnya seperti buah nangka yang menjuntai pada batangnya. Tak sampai dua menit mereka tiba di semak-semak yang telah tersibak-sibak itu.

Seketika Marbun menampakkan wajah bingungnya. Celeng itu tidak ada. Hanya tersisa ceceran darahnya.

Seketika Tamim merapat ke Marbun. Wajahnya pucat pasi. Bulu kuduknya berdiri. Apalagi ketika tiba-tiba udara di bawah pohon beringin hutan itu dipenuhi bau bangkai.

“Siluman Dewi Celeng,” desisnya.

“Siapa?” tanya Marbun.

“Dewi Celeng,” kata Tamim, “pelindung para celeng.”

Marbun pernah mendengar nama itu, tapi cenderung tak percaya. Di hutan mana pun yang pernah diterabasnya, selalu ada tahayul-tahayul seperti itu. Namun, dia pilih tak berkata apa-apa. Tak ingin berdebat dengan warga asli Cikidang itu. Mereka lalu meneruskan perburuan, tapi sampai pagi menjelang tak ada celeng lagi yang mereka jumpai.

***

Marbun baru saja turun dari mobil dinasnya ketika Didit, anaknya yang baru kelas IV SD itu menghampirinya.

“Pa, tadi Didit ketemu celeng. Seperti foto di ruang tamu itu, lho.”

Ketemu di mana?” tanya Marbun sambil merangkul pundak buah hatinya itu dan berpikir: sudah saatnya Didit diberi adik agar tak terlalu banyak berfantasi.

“Di gerbang sekolah.”

“Boneka?” tanya Marbun lagi, mengelus rambut anaknya.

“Bukan.”

Cosplay?”

“Bukan! Celeng beneran!” serunya dan bocah sepuluh tahun itu tampak merengut.

Marbun menatap Didit dan mukanya tampak terkesiap.

“Celengnya sedang apa?”

“Tidak ngapa-ngapain. Hanya mengawasi Didit.”

“Terus?”

“Celengnya dua. Yang hitam banget ketemu waktu Didit baru datang di sekolah. Celeng satunya, yang tidak hitam banget, waktu Didit pulang.”

“Celengnya ngomong apa?” tanya Marbun lagi. Dalam hatinya mulai timbul tanda tanya.

“Tidak ngomong apa-apa.”

“Yang ngeliat kedua celeng itu siapa aja?”

“Didik tidak tahu. Tadi tidak nanya ke teman-teman.”

***

Marbun sudah hampir lupa cerita Didit tentang celeng di gerbang sekolahnya itu ketika dua hari kemudian istrinya mengatakan hal yang sama.

“Celeng beneran?” tanya Marbun. Keningnya berkerut.

“He eh. Masak Mama bohong,” jawab istrinya.

“Mama salah liat kali?”

Suer! Mama lihat dari jendela kaca ruang tamu. Celeng itu berdiri di trotoar, mengawasi rumah kita. Saat Mama keluar, celeng itu cepat-cepat kabur. Lewatnya di dekat bak sampah. Hilang di belokan menuju rumah Pak Tanu. Jangan-jangan babi ngepet, ya Pa?”

Marbun tak menjawab. Tiba-tiba ingatannya melayang pada cerita Tamim tentang Dewi Celeng. Juga celeng yang pernah ditembaknya, tapi bangkainya tak ada itu. Meskipun demikian, Marbun pilih menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri. Tak ingin membuat Maya, teman kuliah di fakultas hukum yang kini jadi istrinya itu menjadi resah.

Dia tak terlalu yakin celeng-celeng yang dilihat anak-istrinya itu ada hubungan dengan hobinya. Mungkin hanya halusinasi mereka. Apalagi ada hubungan dengan kasus korupsi pupuk yang sedang ditanganinya. Tidak mungkin para koruptor itu menyuruh celeng-celeng itu untuk meneror keluarganya.

***

Sabtu pun datang. Marbun kembali berburu ke Cikidang. Kali ini mengajak Marno, sopir kantor yang sering mengantarnya ke mana-mana. Marbun tak percaya hantu, siluman, atau yang sebangsanya. Celeng ya celeng! Perihal celeng yang seminggu lalu ditembaknya, tapi tak ditemukan bangkainya itu, kemungkinan besar karena hanya kena serempet kupingnya.  

Seperti sebelumnya, Marbun berniat menyewa jasa Tamim sebagai penunjuk jalan, penggendong aki, sekaligus tukang sorot lampu blor. Selain tahu seluk-beluk Hutan Cikidang, Tamim juga pembenci celeng. Mereka tiba di Cikidang menjelang Isya. Marbun berhenti di warung kopi di ujung desa. Tamim sering nongkrong di situ. Namun, malam itu Tamim tidak ada.

***

“Kapan?” tanya Marbun, kaget.

“Hari Minggu, Om,” jawab remaja berjaket merah itu.

“Minggu?” Marbun tersentak. Dahinya berkerut sedalam selokan. Berarti tak sampai sehari setelah berburu dengannya, pikirnya. “Kenapa? Sakit apa?” tanyanya lagi.

Nggak jelas penyakitnya, Om. Tahu-tahu badannya panas. Mengigau, menyebut-nyebut Dewi Celeng. Sorenya mati.”

***

Marbun tetap meneruskan berburu, dan tak terlalu menghiraukan proses mati yang aneh itu. Orang bisa mati kapan saja dan di mana saja dan dalam berbagai cara. Igauan orang yang sekarat bisa macam-macam. Kebetulan saja Tamim menyebut-nyebut nama Dewi Celeng. Bukan Dewi lainnya.

Rencana Marbun, mereka tidak usah jalan kaki menerobos semak dan menyusuri jalan setapak seperti biasanya. Cukup dari atap mobil saja. Marno yang menyopiri sementara Marbun yang mengoperasikan lampu sorot sekaligus bertindak sebagai sniper. Kalau harus menggendong aki seberat lima belas kilo sambil membawa lampu blor sejauh lima kilo meter, bisa-bisa Marno yang kurus kering itu ikut-ikutan menyusul Tamim, tamasya ke akhirat. Begitu pikir Marbun.

Mobil Jeep yang sudah dimodifikasi itu pun kembali melaju, menyusuri jalanan yang sedikit mendaki. Pepohonan pinus bertambah rapat. Sampai di sebuah pertigaan, Marbun menyuruh Marno membelokkan mobil ke arah kiri, keluar dari jalan beraspal. Mereka bertemu jalan tanah yang becek akibat hujan dua jam sebelumnya. Kabut cukup tebal menyelimuti udara, tapi lampu halogen itu masih bisa menembusnya.

Ketika tiba di kawasan hutan yang dipenuhi ilalang, Marbun menyuruh Marno menghentikan mobil. Nalurinya, di tempat itu banyak celengnya. Saat Marbun sedang bersiap pindah ke atap mobil, seekor celeng tiba-tiba keluar dari semak-semak, lalu menghadang di tengah jalan. Hanya berjarak lima meter dari mobil.  Besar sekali. Sebesar anak kerbau.

“Pak, Pak! Celeng! Celeng!” teriak Marno panik.

“Sudah tahu. Jangan berisik!”

Marbun mengambil senapannya. Merayap lewat jendela, naik ke atap mobil. Terlalu berisiko menembak celeng sedekat itu dari atas tanah. Kalau tembakannya meleset, bisa-bisa dia mampus diseruduknya.

Di bawah sorotan lampu kabut, celeng itu bergeming. Moncong hitamnya berlendir. Matanya yang merah itu menyorot tajam seakan-akan menantang Marbun. Tangan Marbun tampak gemetar saat memasukkan peluru. Selama menjadi pemburu, belum pernah dia menjumpai situasi seperti itu. Bertemu celeng yang tak takut pada pemburunya.

Marbun mengambil napas, menempelkan popor senjatanya ke pipi kanan. Setelah sejenak mengatur napas, ditariknya pelatuk senjatanya. Klik! Senapan itu macet. Pun, mesin mobilnya mati. Disusul lampunya. Seketika suasana menjadi gelap gulita. Marbun gemetar. Apalagi ketika bau bangkai yang entah dari mana datangnya itu tiba-tiba menyerbu udara lalu menyeruduk lubang hidungnya.

***

Ketika SUV yang dikendarai Marbun itu berbelok ke Perumahan Griya Tawang, belum juga melewati portal yang tanpa penjaga itu, tiba-tiba seekor celeng seukuran anak kerbau melintasi jalan dengan santainya. Marbun kaget dan segera mengerem mobilnya. Di saat itulah sebuah sepeda motor memepet mobilnya. Terdengar letusan dua kali. Lima detik kemudian motor tanpa plat nomor yang dikendarai dua orang  berhelm balap itu melesat, lalu menghilang. Pula, celeng segede anak kerbau itu.**

Kajen, 8 Januari 2022


Dewanto Amin Sadono, tinggal di Pekalongan. Cerpen-cerpennya memenangkan beberapa lomba dan diterbitkan dalam beberapa kumpulan cerpen juara. Novel terbarunya Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit.

Cerpen

Melankolia Jibril

Cerpen Nafi Abdillah

Selepas menyanggupi perintah Tuhan Semesta Alam, aku dan Izroil berbalik badan, mengepak sayap, menjauh dari pintu surga. Alih-alih meninggalkan langit ke tujuh dengan cepat, namun luapan gelisah mendadak meletus dari dalam dada. Mula-mula hanya bergetar dari satu titik, namun imbas dari getaran itu merembet ke seluruh tubuh. Hingga niat yang dari awal telah terbangun, luntur. Tubuhku mendadak kelu. Pergerakanku melambat. Izroil rupanya cukup pandai untuk tak hirau atas perubahan sikapku itu.

“Kenapa, wahai Jibril?” tanyanya kepadaku.

“Tak apa, ayo kita teruskan!”

Aku tak ingin jujur. Sungguh tak perlu ada penjelasan kepadanya. Aku tak mau memengaruhi keputusannya. Meski sedikit berandai-andai, mungkin jugalah ia merasakan hal yang sama.

Kami memang dicipta sebagai makhluk yang memiliki tingkat ketaatan tinggi. Bukan ingin berlaku sombong, tapi kodrat Lauh Mahfud tertulis semacam itu. Segala perintah selalu kami kerjakan semulus-mulusnya. Tak ada keberanian, bahkan kemampuan untuk menolak perintah-Nya. Namun, perintah Allah kali ini memiliki kadar yang jika boleh kukategorikan berada pada interval yang sangat tinggi. Ada lubang-lubang dilema yang tumbuh meraksasa. Menjalankan perintah-Nya adalah keniscayaan, mangkir dari perintah-Nya adalah sikap yang lebih membangkang dari sikap sombong itu sendiri.

Tapi perintah-Nya kali ini sangatlah berbeda. Sebagian perasaanku yang dekat, mengangguk cepat sekali. Pada bagian yang lain muncul keragu-raguan untuk tunduk dan mematuhi perintah-Nya. Ingin sekali kutegaskan perihal perasaan yang mengganjal ini kepada Izroil. Ingin kubagi seluruh keluh kesah. Namun selalu kuurungkan tiap kali kubaca mimik wajah Izroil yang tampak sangat serius itu. Bisa-bisa timbul perdebatan dengannya jika perasaanku ini tak selaras dengan yang dipikirkannya. Maka kuputuskan untuk tak membicarakan dengannya. Biarlah kusimpan gelisah ini sendiri.

Toh, untuk urusan menahan gelisah, aku cukup terlatih. Seluruh peristiwa yang telah kulalui bersama Kanjeng Rasul, tak sedikit memunculkan perasaan-perasaan semacam itu. Namun, Rasul selalu meredamnya dengan cara-cara berbeda yang tentunya membuatku takjub.

Terkadang, aku tak mengerti jalan pikirannya. Kusangka akan mengarah ke suatu sisi, namun ternyata keputusannya jauh mengarah ke sisi yang lain. Padahal aku telah berusaha untuk menjadi manusiawi di hadapannya, namun kenyataannya pikirannya jauh melampaui itu semua.

Seperti ketika Kanjeng Rasul berada dalam perjalanan kembali ke Makkah dari Kota Thaif untuk menyampaikan ajaran Allah. Kanjeng Rasul menerima penolakan besar dari tiga pemimpin suku Tsaqif: Abdu Yalil bin Amr, Mas’ud bin Amr, dan Habib bin Amr.

“Apakah Tuhan tidak menemukan orang lain yang bisa diutus selain kamu? Demi Tuhan, aku tidak akan mau berbicara denganmu selama-lamanya. Jika betul kamu adalah rasul, maka sungguh merupakan bahaya paling besar. Kebohonganmu sepatutnya memberiku alasan untuk tidak berbicara denganmu.”

Bahkan mereka mengerahkan para budak dan anak-anak kecil untuk mengusir Rasul di tengah terik matahari, melemparinya dengan batu sehingga kedua kakinya berlumuran darah. Zaid bin Haritsah yang ikut bersama Rasul berusaha menghalau batu-batu itu. Kemudian keduanya berlindung di kebun milik Utbah sampai anak-anak kecil itu kembali ke Thaif. Rasul, dengan hati yang terluka kemudian menuju ke bawah pohon kurma dan duduk di sana.

Aku tahu, sangat terpukul hati Rasul. Dan aku, yang diam-diam mengikuti kanjeng Rasul sudah mulai geram dengan perlakuan yang diterimanya. Lantas aku mendekat ke arahnya, dan meminta izin membalas perlakuan mereka.

“Wahai Rasul, batu-batu gunung itu sudah siap meruntuhkan dirinya hingga menimbun seluruh kota Thaif. Aku hanya tinggal menunggu persetujuanmu.”

Namun, yang kuterima dari Rasul sangat jauh dari yang kupikirkan. Ia menolak dan malah mencoba meredam kemarahanku.

“Tidak wahai Jibril. Tak apa jika pemimpin mereka menolakku. Siapa tahu anak-anak keturunannya nanti yang bakal menerima ajaran yang kubawa.”

Sungguh takjub aku atas sikapnya. Kusangka Rasul akan patah, namun sedikit pun ia tak pernah goyah. Meski segala pertolongan pastilah datang padanya, tapi ia tak pernah gegabah. Ada saja perasaannya yang berpijak pada keselamatan orang banyak. Dialah sebenar-benarnya pemimpin.

Namun dalam kejadian lain, suatu kali aku pernah melihat Rasul menangis ketika sedang berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Aku sungguh heran. Rasul menangis sebab tak mendengar kabar bahwa seorang perempuan berkulit hitam, Kharqaa’, yang setiap hari menyapu masjid, meninggal dunia.

“Sudah lama aku tak melihat Kharqaa’, ke mana gerangan perempuan itu?” tanya Rasul kepada sahabat-sahabatnya kala itu.

Para sahabat boleh jadi menganggap itu bukan soal penting hingga harus memberitahukannya kepada Rasul. Aku yang juga melihat hal itu, awalnya juga menganggap itu bukan soal penting. Padahal sebagai seorang pemimpin, ia pastinya memiliki urusan lain yang sangat banyak dan lebih penting. Namun, entah kenapa Rasul merasa menyesal dan bersedih ketika tidak mendengar kabar itu lebih awal.

Oleh sebab itu, untuk kesekian kalinya, aku dibuat takjub oleh sikapnya. Sebagai wasilah penghormatanku kepadanya haruslah ada laku untuk mengantarkan ke arah sana. Untuk itu, aku merasa harus selalu menyebut-nyebut namanya: Shollallah ‘alaa Muhammad.

Dengan mengingatinya, mungkin akan sedikit meredakan perasaan gelisah ini sebelum benar-benar menjalani harmonisasi lain yang tidak akan sama seperti saat ini atau yang telah lalu. Maka kuberanikan meminta Izroil mengurangi lesatannya yang cepatnya tak keruan itu. Kuyakinkan dia untuk tak terburu-buru. Toh, tak ada beda antara cepat dan lambat. Kalau cepat mau mengejar apa, kalau lambat mau menunggu apa.

“Wahai Izroil, tidakkah lebih baik kita tak terlalu terburu-buru untuk lekas bertemu Kanjeng Rasul?” dalihku padanya.

Izroil tergeragap mendengar ucapanku yang mendadak itu. Lalu, dengan menoleh ke arah belakang, ke arahku tentunya, ia berujar, “untuk alasan apa engkau mengatakan tak terburu-buru?”

“Bukankah Tuhan telah mengatakan kepadamu jika Sang Rasul kita tidak setuju, maka kita pun tak berhak dengan keras kepala melanjutkan tugas kita? Apakah kau tak merasakannya bahwa Tuhan sedang berpolitis kepada kita? Maksudku, Tuhan sebenarnya telah menyiapkan waktu yang sangat longgar untuk kita, ya sekadar untuk melapangkan dada kita.”

Ucapanku itu tampaknya sedikit memengaruhinya. Buktinya, ia tak lagi melesat dengan lesatan yang keterlaluan kencangnya.

Sambil nyengir, ia berkata, “baiklah, wahai Jibril. Sekalian aku akan mengatur siasat yang paling halus bagaimana meminta izin kepada Beliau.”

“Benar Izroil, benar, kau harus pula memikirkan itu.”

***

Kanjeng Rasul ialah makhluk terbaik. Dialah muasal segalanya tercipta. Dialah alasan kenapa makhluk seperti aku ini tercipta. Dialah perantara. Dialah yang menjaga biji, mengalirkan air sehingga bertunas dan menjulang dengan daun-daun yang lebat-lebat. Dialah yang menumbuhkan rerumputan, merakit cabang-cabang sehingga tanah-tanah tampak tak lagi gersang. Dialah yang mengucurkan mata air, membuat celah-celah di dalam tanah sehingga menyemburlah oase di tengah padang pasir. Dialah yang meniupkan bulir-bulir pencerahan di dalam kepala yang dipenuhi lumbung kegelisahan. Dialah yang membasuh dan membersihkan noktah-noktah kebencian lalu menggantinya dengan akar-akar kepercayaan dan persatuan. Dialah asal muasal. Dialah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang. Dialah yang mengangkat. Dialah yang menuntun. Dialah yang menyelamatkan.

Di tengah pengembaraanku ke masa lalu bersama Rasul, aku pun tak sadar telah sampai di langit lapis pertama. Namun kegelisahan ini tetap saja memenjarakanku. Meski Sulthonul Malaikat ialah tugas yang melekat dalam diri, namun hak untuk merasa gelisah kurasa tak pernah tebang pilih atas tugas yang melekat pada diri tiap makhluk. Gelisah memang gelombang-gelombang daripada episentrum cinta. Wajar bila makhluk yang menahbiskan diri sebagai pecinta, suatu kali bakal merasakan gempa yang menggoyang- goyangkan jiwa.

Untuk hal semacam itu, suatu kali aku pun pernah merasa cemburu terhadapnya. Setelah mengantarnya berisra’, melakukan perjalanan panjang ke seluruh semesta, menembus ruang dan waktu hingga akhirnya menghadap Allah. Namun ketika telah sampai pada pintu menuju arasy Allah, aku tak diperkenankan masuk oleh-Nya. Dan saat itu aku merasa sangat cemburu. Bukan karena pertemuan intim Rasul bersama Allah yang menyebabkan aku cemburu. Melainkan kecemburuanku mengarah pada bakiak yang dikenakan Rasul. Bakiak bisa mengantarkannya masuk dan bersama-sama menemui Allah. Sementara aku, Jibril, hanya boleh menunggu di luar. Coba, siapa yang tak gembira jika menghadap Allah bersama- sama dengan makhluk terkasih seperti Kanjeng Rasul?

Namun semakin kumengingati peristiwa bersama Rasul, jurang-jurang kebimbangan semakin menegaskan ke dalamannya yang memiliki lapisan berlipat. Perlu usaha yang tidak

hanya tepat, namun juga keras untuk melaluinya. Di satu sisi akulah makhluk yang taat, di sisi yang lain aku tak memiliki keberanian melihat seorang yang paling kukasihi menderita. Maka, kukuatkan dan memberanikan diri menolak menemani Izroil untuk turun ke bumi, ke tempat tidur Kanjeng Rasul.

Aku, Jibril, Sang Penyampai Ilmu, kunyatakan bertahan di langit ke satu, walau remuk dadaku menahan gelisah yang tidak menentu. Biarlah Izroil sendiri yang melihatmu menderita wahai Kekasih.

Pada detik ini, aku diminta untuk menemani Izroil untuk… ah, sungguh sulit dan bagiku sangat tidak sopan hanya untuk sekadar mengatakan akan mencabut nyawanya.


Nafi Abdillah, lahir dan tumbuh di Kabupaten Karanganyar. Seorang pembelajar pula di salah satu padepokan di selatan Jawa Tengah. Hari-harinya ia habiskan dengan menulis dan mengurusi penerbitan buku indie (Sirus Media). Ia juga bergiat di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya berupa cerpen dan puisi tersiar di beberapa media. Beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa disapa melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Cerpen

Perempuan Itu Bilang Aku Mayat

Cerpen Pasini

Perempuan itu bilang aku mayat. Karena wajahku pucat. Maka ia menyuruhku memakai bedak dan gincu. Tapi aku menolaknya. Bukan lewat patah-patah kata yang meluncur dari setangkup bibir. Melainkan merebut peralatan rias dari tangannya. Lalu membanting ke lantai semen.

“Kau sudah gila, ya?”

Begitulah ia. Mayat dan gila hanyalah contoh kecilnya. Perempuan itu bahkan pernah menyebut aku nenek gayung, hanya karena bau minyak angin di tubuhku. Lalu ia mengangsurkan botol parfum. Tubuhku harus wangi ketika bertemu seorang lelaki. Sebelumnya aku sudah bilang pada perempuan itu tidak bersedia. Tapi ia memaksaku. Padahal dengan jelas ia melihat aku memegangi kepala dengan tubuh bersandar pada bangku. Ingin diberi libur. Untuk beristirahat sejenak setelah minum obat dan memborehkan balsem. Siapa tahu setelah itu tubuhku hangat dan bugar kembali. Tidak berkeringat dingin dan gemetar lagi. Tapi nyatanya malah membuatnya memberiku satu julukan baru. Koala gimbal.

Belakangan ini praktis aku kenyang dikatai. Dari aneh kepada mayat. Dari mayat kepada patung. Dari patung singgah ke alien. Hanya karena perempuan itu merasa tak bisa memahamiku. Menurutnya, lebih baik aku belajar menyapukan kuas ke wajah daripada menyambar sajadah dan berangkat ke surau. Terlebih bila aku pulang dan mengulangi beberapa kutipan ceramah dari mulut kiai.

 “Tidak pernah tercatat dalam sejarah, perut orang miskin dapat menjadi kenyang hanya dengan mendengar ceramah orang suci.” Beberapa kali bahkan ia mengembalikan dalam bentuk ceramah-ceramah yang lebih panjang. Meskipun sumbernya bukan dari kitab agama apa pun.

Ingin sekali aku berbalik mengatai perempuan itu kuntilanak atau tukang sihir. Karena ia memang punya tawa yang menyeramkan. Jika saja ada seorang empu bersedia membuatkannya sebuah tongkat sakti berayun, mungkin aku sudah dimantrainya menjadi seekor kodok atau kelinci. Agar ia bisa memakanku mentah-mentah seperti yang dilakukan zombie. Atau bisa juga, memantraiku menjadi seorang kurcaci. Agar ia mudah menendang tubuh kerdilku saat marah-marah dan butuh melampiaskan.

Hanya saja keinginan itu urung kulakukan. Bukan karena aku gentar melakukannya, karena ia lebih tua dariku. Bukan itu. Bukan juga karena aku memegang teguh isi kutipan ceramah dari mulut kiai. Tapi karena perempuan itu pasti akan memperbanyak julukanku setelah itu, dan aku membencinya. Tidak ada satu pun dari panggilan-panggilan baru yang disematkannya memiliki makna yang bagus. Sekali waktu aku pernah merasa heran, kenapa ia mesti memberiku nama ‘Fitri Ayuningtyas’ dua puluh satu tahun silam jika pada kenyataannya pemberian itu berakhir mubazir.

Untungnya perempuan itu banyak pergi. Kami jadi tidak punya waktu berdebat panjang-panjang. Sering sudah ada seseorang yang menunggunya dengan tidak sabar. Memanggil dengan berteriak jika kebetulan ada di ruang tamu. Atau membunyikan klakson jika tengah memarkir kendaraannya di pertengahan halaman. Perempuan itu dibawanya dan baru pulang selang beberapa jam. Bahkan sampai hitungan hari.

Dari dulu pun aku dan perempuan itu memang tak banyak saling bicara. Hubungan yang datar. Dan aku menyukai itu. Bayangkan jika aku tumbuh banyak bicara sepertinya. Tentu sudah banyak orang yang kukatai. Anjing, babi, atau mungkin tahi.

Selama ini yang terjadi, aku hanya bergeming saja ketika perempuan itu mulai memuntahkan peluru kata. Apa saja tertampung di telingaku bagai tiada beda. Hal buruk atau sebaliknya.

 “Kau kerja bagus kemarin. Memuaskan,” katanya suatu kali, sambil mengibarkan lembar-lembar uang berwarna merah. Aku membuang muka. Benda itu tidak lagi memantik nyala di hidupku. Mungkin benar adanya aku memang telah meniti jalan menuju mayat. Beku, bisu, acuh.

Aku pernah berandai jika saja lelaki penyabar itu tidak dini pergi dari hidup kami. Seandainya maut tidak mengambilnya terlalu cepat. Tentu perempuan itu masih menjadi perempuan penyedia kopi di pagi hari. Masih memakai daster kembang-kembang dengan warna beranjak pudar dan berlubang di beberapa bagian. Wajahnya polos tanpa riasan. Ia masih akan bergelut dengan baju kotor dan debu-debu di lantai. Keringatnya berleleran. Tapi entah mengapa lelaki penyabar yang sekaligus suami setia itu tidak rikuh merangkulnya. Perempuan itu kemudian bermanja-manja. Aku mengembangkan senyum dari balik pintu.

Lelaki itu telah pula menjadi ayah terbaik di planet bumi, bahkan mungkin sampai ke galaksi andai luar angkasa juga dihuni kehidupan dengan konsep pernikahan. Ia suka mengangkat badanku tinggi-tinggi jika sedang bahagia. Aku kegelian. Ia semakin lebar tertawa. Mungkin hendak didekatkannya aku dengan langit, tempat di mana semua orang menggantungkan doa dan harapan.

Tapi sayang jasad lelaki itu telah terbekap bumi. Mereinkarnasi perempuan itu sebagai seseorang yang berbeda. Gemar berkaca. Pintar merayu. Mulai merokok. Tidak lagi suka mencuci dan menyapu. Badannya benar-benar bak mandi bunga. Satu lagi. Ia terlahir kembali sebagai seseorang yang suka mengatai.

 “Kau batu, ya?” teriaknya. Itu adalah hari ke sekian dan aku belum memberikan jawaban. Perempuan itu bilang kulitnya tak lagi kencang. Kerut-kerut dipahatkan waktu ke wajahnya yang semula tanpa cacat dan cela. Ia juga bilang, mulai susah mendapatkan tamu kini. Ada dua saja dalam sehari, ia sudah cukup lega. Kupu-kupu muda mulai bermunculan dari sebab rupa-rupa. Ekonomi sampai tuntutan gaya hidup penuh gengsi. Ia tidak menggairahkan lagi. Ia tidak bisa bermetamorfosa menjadi sesuatu yang menarik lagi.

Seorang lelaki paruh baya dibawanya ke rumah pada suatu hari. Perempuan itu memintaku menghidangkan kopi. Aneh sekali. Padahal biasanya ia buru-buru memintaku pergi setiap kali ada lelaki bertamu ke rumah kami.

 “Seperti kuncup bunga, kan?” tanya perempuan itu kepada lelaki tamu. Tangannya melingkar manja di bahu si lelaki. Aku betul-betul jijik, menyamai jijikku pada seekor lalat hijau yang mengencingi sarapanku tempo hari.

 “Aku berani membayarnya mahal,” kata lelaki lalat hijau pada perempuan itu. Tidak cukup berbisik. Buktinya aku masih bisa mendengarnya. Aku terpana. Aku tak percaya. Aku berlari ke kamar dan perempuan itu tidak mengejarku. Tidak membujukku serupa mendiang ayah dulu ketika aku sedang marah atau kesal atas sesuatu.

Dan lelaki paruh baya itu akhirnya menjadi lelaki pertama yang menyentuhku. Setelah perempuan itu berkali-kali menyebutku batu. Ia bilang sudah waktunya pensiun dan ada yang menggantikannya.

Dulu perempuan itu pernah menjadi buruh upah sesaat setelah keberpulangan ayah. Aku baru di tingkat kedua sekolah menengahku. Seorang perempuan datang ke rumah kami dengan marah-marah. Menunjukkan daftar angka dan meminta perempuan itu segera melunasinya. Ia menghiba. Tapi perempuan tamu justru semakin leluasa menghina.

 “Kau belum terlalu tua. Tubuhmu itu masih laku,” ucapnya dengan sinis. Meludahi wajah perempuan itu sebelum pergi dan berjanji akan datang seminggu lagi.

Perempuan rentenir tadi bagai cenayang saja. Tak lama setelah itu, rumah kami memang benar-benar sering didatangi lelaki. Lalu perempuan itu diajaknya pergi. Pulangnya membawa uang yang banyak dan baju-baju bagus. Aku tak berkata apa-apa. Tak bertanya apa-apa. Sebuah rasa tidak selalu menemukan padanan kata yang tepat untuk mewakili. Aku kecewa, aku malu, aku sedih, juga sakit. Tapi tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya.

Tuli, buta, dungu, silih berganti melompat keluar dari mulut kotor perempuan itu. Ketika aku tidak segera datang saat dipanggilnya. Juga ketika aku tidak segera menyiapkan air hangat sesaat setelah ia pulang ke rumah dengan mulut bau alkohol dan badan penuh keringat.

Tapi perempuan itu juga pernah memuji. Saat seorang lelaki membayarku dengan harga lebih tinggi. Ia istirahat mengumpat. Meski sebentar saja. Sebelum kemudian mulai mengatai lagi. Terlebih akhir-akhir ini, setelah aku menolak melayani lelaki. Kardus, otak udang, lalu mayat lagi.

***

Aku masih bergelut dengan kemelut. Beberapa menit berlalu dan pelukan selimut tidak menyembuhkanku. Aku tetap merasa kedinginan. Sepi dan sendirian. Perempuan itu belum pulang diantar lelaki tamu.

Cermin membiaskan wajahku yang pucat. Pantas perempuan itu sering mengataiku mayat. Bedak dan gincu yang tadi berserakan di lantai telah kuberesi. Kusandingkan dengan botol parfum. Tapi tak sedikit pun niatku merapikan diri jelang kedatangan seorang lelaki. Sebelum pergi tadi, perempuan itu sempat bilang akan ada yang menjemputku satu jam lagi. Ia sudah menerima pembayaran di muka dan tidak bisa dibatalkannya. Aku dipintanya untuk segera menyiapkan diri.

Lalu aku membatu di tepian jendela. Pandanganku singgah kepada apa saja. Bujur-bujur pohon di jalan. Kubayangkan, ia pasti mengaduh kesakitan saat harus merelakan helai daun dan ranting berguguran. Juga burung berkicau yang bertengger pada salah satu dahannya. Ia pasti kecewa ketika pepohonan yang menaunginya ternyata lupa menyediakan buah dan biji bakalnya disantap. Sementara temboloknya begitu berharap.

Kembali ke kamar, mataku singgah pada senyum ayah di dalam pigura. Ia tampak bahagia. Mungkinkah ia memang begitu senang setelah menjadi mayat sekarang?

Mayat. Tiba-tiba pikiranku seperti dipaku pada kata yang akhir-akhir ini sering diucapkan perempuan itu. Aku mulai tidak membenci panggilan tadi. Kini justru melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda, sebagai sesuatu yang bisa membebaskan luka. Karena sejatinya, sedih dan sakit hanya milik yang hidup saja. Seperti pohon dan burung tadi. Juga diriku kini. Berbeda dengan mayat yang tidak mampu lagi disentuh rasa.

Jarum waktu terus berlalu, tapi kata yang sama masih tertinggal di pikiranku. Terngiang-ngiang serupa perintah agar menggerakkan tangan mengambil benda pipih dan tajam dari atas meja, persis bersebelahan alat uji kehamilan dengan garis berwarna merah muda sejumlah dua. Kunikmati dengan mata terpejam saat pipih tajam itu merajah nadiku. Sambil kubayangkan bagaimana wajah perempuan itu nanti saat melihat tubuhku terbujur kaku. Mungkin ia senang karena kata-katanya menemui pembuktian. Siapa tahu setelah ia benar-benar tak laku sama sekali, bisa mempertimbangkan profesi cenayang sebagaimana perempuan rentenir dulu.

Atau sedih, mungkin? Karena kehilangan mesin uang.

Lorong labirin semakin berliku. Serupa jalan yang entah kapan bisa mengantarkan pada tujuan. Tidak lagi wajah perempuan itu yang tampak karena ia telah kutinggalkan di belakang. Melainkan ayah sekarang. Berdiri menungguku di kejauhan sambil melambaikan tangan. Senyumnya sama seperti yang kulihat di dalam pigura.***


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring.

Cerpen

Simbok

Cerpen Kesit Himawan

Satu pesan simbok yang selalu diucapkan melekat di ingatanku sampai detik ini. “Urip kuwi sejatine mung kabegjan, mulane kabeh sing ditampa kudu disyukuri.” Simbok membuat perumpamaan yang sederhana tentang arti keberterimaan. Tentang kisah dua orang yang mendapatkan jatah makanan, masing-masing sebungkus. Mereka tidak tahu bagaimana rasa makanannya. Namun, mereka harus menyantapnya. Karena makanan itu satu-satunya yang tersedia.

***

Hari ini merupakan perayaan Natal. Umat yang datang sangat banyak sampai memenuhi deretan bangku depan yang biasanya di misa Minggu selalu terlihat kosong. Gedung gereja yang penuh membuat ruangan menjadi terasa panas. Rasa gerah membuatku tidak sabar dan tidak khusyuk mengikuti rangkaian liturgi misa kali ini

“Perihal nasi goreng sudah barang tentu buatan ibu yang paling lezat,” ucap romo mengawali homili misa Natal pagi ini. Kata nasi goreng membuat perutku bergejolak. Mataku yang tadinya sayu kini mulai segar kembali. Romo terus saja berkhotbah di mimbar samping altar. Kisah tentang Maria menjadi materi homili yang selalu diulang-ulang setiap misa perayaan Natal. Seorang perawan yang rela mengandung padahal belum bersuami, karena perihal itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

Setiap kali romo menyebut nama Maria, aku selalu teringat simbok. Pikiranku melayang membayangkan wajahnya. Perempuan yang sangat jarang terlihat marah atau sedih di hadapanku. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan keluarga kami, simbok selalu saja tersenyum. Namun karena aku sangat dekat dengan simbok dibandingkan saudaraku lainnya, selalu bisa merasakan apa yang sedang dia alami. Setiap kali aku bertanya apakah simbok baru saja menangis. Jawabnya selalu saja sama untuk menutupi perasaannya. Simbok menangis bukan karena sedih tetapi karena bahagia.

Pikiranku berjalan semakin jauh, terhenti kepada sebuah kejadian masa lalu ketika aku masih kanak-kanak. Suatu pagi, aku  terhenyak dari tidur gara-gara mendengar suara kekacauan di pawon. Aku tidak berani keluar bilik, hanya bisa mengintip dari lubang anyaman bambu pembatas bilik senthong. Bak kerasukan setan, bapak membanting semua gelas dan piring yang sedang dicuci simbok. Panci, dandhang, dan wajan juga tidak luput dari amarahnya. Semua berserakan menghampar di lantai pawon. Tidak berbentuk. Puncak kemarahan bapak adalah sebuah pukulan mendarat di mata kiri simbok. Warna biru membekas di kelopak matanya dan warna merah meradang menghias di bola mata itu. Namun simbok hanya menunduk saja memegang wajahnya, menyembunyikan tangis dan kesakitan. Gegas bapak pergi, meninggalkan simbok tanpa sepatah kata pun. Suasana pawon menjadi hening sehingga telingaku bisa mendengar isak tangis simbok. Aku berlari mendekat dan memeluknya.

Tengah malam harinya, terdengar pintu depan diketuk seseorang. Ternyata bapak pulang membawa kardus yang berisi beberapa gelas dan piring. Simbok menyapa dengan penuh tulus dan mencium tangan bapak. Bapak menggapai pundak simbok dan dia melingkarkan tangannya di pinggang bapak. Mereka berdua terlihat saling memeluk hangat. Menumpahkan segala penyesalan. Membersihkan luka-luka. Segera simbok menuju pawon, menyiapkan secangkir teh panas untuk bapak. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka pagi tadi, meski bekas lebam di kelopak mata simbok masih terlihat jelas, bagai mendung gelap yang menggantung di musim hujan. Aku yakin, hati simbok bukan hati manusia, mungkin dia adalah titisan Bunda Maria. Karena sepertinya tidak pernah tertanam rasa dendam di hatinya barang setitik pun.

… Kembali sayup kudengar

di doa ibuku, namaku disebut

di doa ibuku dengar, ada namaku disebut

Sekarang dia telah pergi ke rumah yang senang

Namun kasihnya padaku selalu kukenang…

Suara nyanyian umat menuntun pikiranku dari ziarah masa kecil untuk kembali ke ruangan gereja. Mataku perlahan mulai berlinang. Tak mampu aku tahan lagi, mataku buram tertutup air mata. Natal tahun ini, tepat satu tahun simbok pulang ke rumah keabadian.

“Selamat Natal, Mbok. Aku kangen,” ucapku lirih.*****


Kesit Himawan, lahir di Wonogiri, tinggal di Sukoharjo. Penyuka sego tiwul dan jangan lombok. Turut bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.

Cerpen

Pulang

Cerpen A. Muhaimin DS

Kukira yang kulakukan adalah perjalanan panjang yang muaranya adalah sebuah puncak tinggi, yang akhirnya hidupku diliputi berbagai bentuk keindahan. Gemerlap dunia dengan berbagai perhiasan tiada tanding. Pastinya akan membuat iri setiap makhluk bumi yang melihat, pun memperhatikanku. Segala puji dan bangga akan menghampiriku selalu, setiap hari, dan di mana pun itu.

Sungguh tak tahu dirinya aku, seolah mendikte Tuhan yang maha segalanya. Sungguh sombongnya aku, bangga dengan segala bentuk pencapaian yang seharusnya aku tahu, itu kecil sekali, dan mungkin belum tentu terjadi di ujung perjalananku nanti. Aku bersyukur karena aku dipertemukan jalan untuk pulang, sekaligus jalan untuk melanjutkan lagi  perjalanan panjangku. Meski aku tahu selain aku menganggap hidup ini adalah persaksianku, aku harus sadar aku harus bisa mengolah bentuk persaksian orang lain terhadapku. Agar aku tak sakit hati.

“Tar, jangan melamun saja. Lebih baik kamu balik lagi ke kota, aku tahu duniamu di sana. Kamu akan jauh lebih hidup di sana dibandingkan di sini.”

Sial, aku dianggap melamun sepagi ini. Di rumah Kuma pula. Dan lebih sial lagi Kuma juga yang berusaha menyadarkanku. Sebetulnya aku tak niat melamun pagi ini. Aku hanya terpesona dengan salah satu buku tentang sebuah Mantra Sastra yang ada di rak buku milik Kuma. Sedari malam aku membacanya dan sampai pagi ini aku masih membacanya. Entah kenapa Kuma menegurku karena mendapati aku sedang melamun. Aku curiga, sebetulnya aku tak melamun, melainkan merenung, menerka inti dari setiap hal yang kutemukan dari buku Mantra Sastra yang ada di tanganku ini.

“Kenapa kamu bisa mengatakan itu padaku. Kamu kan tahu, ini lebaran pertama setelah semua orang dilarang merayakan lebaran secara terang-terangan karena pandemi beberapa tahun lalu.”

“Aku memang tak bisa mengatakan ini benar atau salah. Apalagi ini waktu lebaran, yang sudah seharusnya setiap yang bepergian jauh akan pulang untuk saling bertemu dan saling terbuka meminta dan menerima maaf satu sama lain antar sanak saudara. Tapi bukan persolan lebaran itu yang kumaksud. Aku hanya melihat ada yang beda denganmu. Apalagi dengan rencanamu tak kembali lagi ke kota setelah ini.”

“Lalu kalau boleh tahu apa alasanmu mengatakan aku akan jauh lebih hidup di kota dibandingkan di sini?”

“Aku tak tahu persis apa alasanku. Tapi aku pernah melihatmu di sana melalui media sosial milikmu, melihatmu dengan segudang kegiatanmu yang aku sendiri belum pernah menemukannya di sini. Aku melihatmu sangat hidup lengkap dengan pancaran ekspresi tulus di wajahmu.”

“Kamu tahu kan, kalau kata-katamu membuatku bingung?”

“Tentu aku tahu, karena aku tahu kita berdua berbeda. Aku belajar banyak darimu dan aku suka kalau kamu pulang dan main ke rumahku seperti ini, aku bisa memperolah banyak hal dari beragam warna ceritamu. Sedangkan kamu tak memperoleh apa pun dariku.”

“Maksudmu aku jauh lebih pandai darimu?”

“Iya. Bahkan lebih dari itu, dengan banyak pengalamanmu, aku yakin kamu seorang yang punya masa depan yang cemerlang. Tentunya masa depan yang sesuai harapanmu.”

“Sebentar, maksudmu masa depan yang bagus dan cemerlang itu bukan di sini. Makanya kamu bilang aku akan lebih hidup di kota.”

“Sepertinya begitu. Aku tinggal dulu Tar, kuambilkan sarapan buatmu, biar melamunmu penuh tenaga. Haha.”

“Sial! Sudah kubilang aku tak melamun.”

***

Di awal perjalanan itu aku menemui banyak hal yang menggembirakan. Penuh tualang dan puji-pujian. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Kalau pun itu perih, aku masih menganggapnya sebagai sebuah bagian dari perjalanan indah ini. Perih itu menjadi bagian menarik dari cerita yang bisa kuhamburkan penuh kebanggaan.

Iya, aku belum menyadarinya. Sampai di tengah perjalanan itu pun aku belum menyadarinya. Apakah aku terlambat, tentu tidak. Aku hanya belum menemukan aku yang digariskan oleh sang waktu itu sendiri. Tak kusangka pertemuanku dengan diriku adalah di ujung perjalanan itu sendiri. Ujung yang kuanggap akan berbentuk indah penuh dengan gemerlap dan semerbak wangi-wangi pujian.

“Ini makan dulu Tar, jangan buru-buru melamun lagi.”

Suara Kuma memecahkan lamunanku. Aku hampir sampai pada sebuah sebab yang sedang kucari dengan mengolah pikirku. Jujur saja, aku ingin mencarinya dengan rasa. Tapi aku belum tahu bagaimana cara merasakannya. Meski aku tahu bahwa pikiran ini justru akan menghambatku, tapi aku percaya, aku sedang berusaha untuk berpikir jernih dengan sesekali menyisipkan rasa di tengahnya.

Bagaimana caranya?

Jika ada yang bertanya seperti itu tentu aku sendiri bingung mencari jawabannya. Mungkin jawabannya akan muncul saat aku sudah mampu merasakan dengan rasa yang sebenarnya. Semoga saja.

“Sudah kubilang, makan dulu. Biar melamunmu penuh gairah dan tenaga.” Suara Kuma kembali melepas rangkaian yang sedang kubangun untuk kucari sebab musababnya.

Tapi memang tak ada pilihan lain selain menanggapi Kuma lagi. Sebab jika nanti aku kedapatan tampak melamun lagi, tak menanggapinya, tentu dia akan berpikir yang tidak-tidak. Dia pasti akan bilang kalau aku seharusnya begini, seharusnya begitu, dan berbagai macam pandangan aneh tentangku akan dia utarakan panjang lebar lagi.

Jujur saja pendapatnya tentang aku akan jauh lebih hidup jika berada di kota, itu saja masih belum kupecahkan, bagaimana bisa Kuma berpikir seperti itu padaku.

“Ayo Kum makan juga. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi tentangku. Aku hanya memikirkan buku tentang Mantra Sastra milikmu yang sedang kubaca ini.” Dalihku pada Kuma agar dia tak mencoba menebak-nebak yang sedang kulakukan didalam pikiranku.

“Parah memang kamu Tar. Aku dari tadi sedang makan di sampingmu.”

“Masak sih?” sambil kulayangkan pandang pada sebuah piring kotor yang ada di samping Kuma. Dalam hati aku berkata, “segitu dalamkah aku tenggelam memikirkannya?”

“TARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, cepat makan, jangan melamun lagi.”

Teriakan Kuma kali ini benar-benar memaksaku untuk berhenti sejenak tentang perjalanan, ujung, keindahan dan mungkin bisa disebut sebagai kesadaran.

***

“Sudah siap melamun lagi Tar?”

Ngrokok dululah.”

“Sejak kapan kamu merokok?”

“Sudah lama, sejak zaman penjajahan.”

“Jangan jauh-jauh ngomongin penjajahan antar bangsa dululah Tar, masing-masing dari diri kita juga sedang dijajah dengan pikirannya sendiri. Dan jujur saja aku khawatir Tar.”

“Khawatir tentang apa?”

“Tentang diriku sendiri yang mulai bingung dengan apa yang kamu katakan dari tadi, dan tentang kamu yang membuatku khawatir karena terlihat banyak melamun.”

“Ahhhh, jangan pergi dulu kalau begitu, kita harus ngobrol serius kali ini.”

Memang sepanjang malam ini, Kuma membiarkanku sendiri tenggelam dalam bacaan buku Mantra Sastra miliknya. Dia hanya sesekali saja mengajakku berbicara, mungkin karena aku tampak serius membacanya. Dia tak duduk di sampingku sepanjang malam. Dia hanya mengamatiku sambil melakukan apa saja yang bisa ia kerjakan di kamarnya. Aku tahu persis dia sedang ingin menanyakan banyak hal padaku. Entah itu pengalamanku dari kota, atau tentangku yang benar-benar membuatnya khawatir.

Sejak awal memang sudah kukatakan pada Kuma kalau usai lebaran tahun ini aku tak akan balik lagi ke kota. Aku sudah selesai belajar sekaligus dikurung di sebuah bangununan berbentuk balok di kota. Saat pertama kukatakan itu, aku melihat sorot mata Kuma sedikit menunjukkan rasa sedih. Entah itu memang benar-benar ekspresi sedih atau bahagia mendengar aku sudah lulus, aku tak terlalu menganggapnya serius. Pokoknya matanya berkaca-kaca.

***

Memang awalnya aku menemukan hal menarik sebagai pemantik pikiranku tentang perjalanan hidupku ini, dari buku Mantra Sastra yang sedang kubaca ini. Namun seolah gayung bersambut, perkataan Kuma tentang aku akan lebih hidup di kota juga berkaitan dengannya.

Saya sendiri harus kebingungan dalam menentukan sikap,terutama dalam mnentukan tempat berpijak. Saya pun pada gilirannya memutuskan untuk tidak berpihak pada salah satu kutub. (Sastra Jendra Hayuningrat Pangruating Dyu).

Kutub yang dimaksud dalam buku Mantra Sastra itu adalah kutub tradisionalis dan modernis. Pilihan tokoh dalam buku itu untuk tidak perpihak pada salah satu kutub adalah karena satu sisi tokoh itu punya pondasi kuat tentang cara hidupnya meski itu dianggap kolot—tradisonal orang lain, namun secara pola pikir dia juga mengembangkan pola pikir yang selalu berkembang. Sehingga meski satu sisi dianggap kolot, tapi di sisi lain tokoh dalam buku Mantra Sastra itu juga sangat maju dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga antara kutub tradisionalis maupun modernis tidak lagi saling menolak satu sama lain, melainkan saling melengkapi.

Menarik bukan, ketika aku mengatakan pada Kuma akan menetap di desa, yang sesungguhnya alasan besarnya adalah untuk menggali muasal diriku sendiri. Kuma dengan alasannya yang masuk akal pula mengatakan aku akan jauh lebih hidup jika di kota. Sebab menurutnya banyak hal yang bisa kulakukan di kota tak bisa kulakukan di desa.

“Menurutmu aku bisa melakukan apa yang dilakukan tokoh dalam buku Mantra Sastra ini Kum?”

“Aku ragu, sebab itu adalah perjalanan spiritual seorang kyai.”

“Aku yakin, buku ini ditulis untuk memberi pelajaran pula pada kita semua.”

“Sebenarnya aku belum membaca buku itu Tar, makanya aku tak bisa banyak komentar. Hehehe.”

“Aku pulang dululah, nanti malam kita lanjut lagi.”

Nganjuk, 4 Mei 2022


A. Muhaimin DS , lahir di Nganjuk (Kota Angin). Seorang penikmat cerita. Menulis puisi, cerpen, dan juga membuat catatan ringan tentang keseharian di rumah sederhananya amuhaiminds.blogspot.com dan catatan tentang pengalaman minum kopi di serupakatakita.blogspot.com. Bisa dihubungi di Instagram @serupakatakita dan Facebook  Abdul Muhaimin

Cerpen

Multatuli

Cerpen Robbyan Abel Ramdhon

Jakues menatap mikrofon yang berdiri di hadapannya. Kepala mikrofon yang bulat dan perak, mengingatkan Jakues pada bola besi yang memborgol kaki seorang budak bernama Addictus dalam sebuah kisah dari Romawi Kuno.

Nada-nada hip-hop berputar secara otomatis. Bunyi-bunyi yang mengusungnya, terekam secara digital menjadi sebuah komposisi musik. Kesan perlawanan mengambang seperti udara kental. Badan Jakues berayun-ayun ke depan dan ke belakang, seolah tulang punggungnya terbuat dari batang gandum.

“Sejarah proletar / ditulis dengan darah dan anggur…”

Penonton pecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama melakukan tarian pogo, dan kelompok kedua melakukan breakdance. Di antara mereka, ada lagi kelompok ketiga yang berperan sekadar menjadi tim hore dengan menyalakan cerawat dan mengaktifkan bom asap yang memagari tempat pertunjukan berlangsung. Asap-asap membubung, ditepis para pejalan kaki yang melintas di atas jembatan.

Suara mesin kendaraan dan klakson menjadi instrumen musik insidental, yang berfungsi sama seperti hentakan kaki para penonton.

“Modernitas mengeras di kepalaku / bagai batu vulkanik yang tersesat / di sebuah piknik masa depan / sedangkan cintaku entah di mana / menjadi limbah…”

***

Beberapa penonton duduk di tepi jalan sempit bawah jembatan itu, yang di dekatnya, sungai mengalir seperti garis-garis partitur. Pasukan mural memberikan olesan warna terakhir pada gambar di dinding yang tersambung dengan badan jembatan; tergambar sosok makhluk berkepala babi mengenakan seragam polisi. Bagian matanya ditutupi semacam kain, persis seperti yang dikenakan oleh patung Themis dari mitologi Yunani.

“Wartawan dari majalah kiri mau minta wawancara,” kata Helena, seraya membuka tutup botol minuman. Lantas menuangkan isinya ke mulut Jakues, seperti melepas ikan ke aliran sungai yang tenang.

“Kamu mengundang mereka?” tanya Jakues, selesai menenggak.

Helena mengangguk. Anggukannya kecil, nyaris tak terdeteksi sebagai jawaban yang berarti ‘ya’.

Wartawan itu datang sendiri. Dia sedang mengamati barang-barang di lapak merchandise milik Jakues. Dari caranya memerhatian setiap barang yang dilalui matanya, wartawan dengan lingkaran mata cekung itu sepertinya sedang mencari pertanyaan tambahan untuk Jakues di luar dari yang sudah dibawanya.

Saat dipanggil, wartawan itu berjalan di belakang Helena, dengan gelagat antusias yang ganjil.

“Jakues, perkenalkan, dia wartawan paling diandalkan di majalah kiri.” Ferdinan membungkuk, memberi hormat, seraya diperkenalkan oleh Helena, sebelum mengambil posisi duduk bersila di depan Jakues yang bersandar ke dinding. “Dan Ferdinan, mungkin ini pertama kalinya kamu melihat Jakues secara langsung. Tapi seharusnya, bagi wartawan dari majalah kiri sepertimu, nama Jakues tidaklah terlalu asing.”

Jakues mengamati gerakan bola mata Ferdinan yang sekonyong-konyong liar. Pertama-tama, wartawan itu seperti tertarik pada topi beanie kuning yang dikenakan Jakues. Ada tulisan “penjara” menempel pada bagian depan topi itu. Saat membacanya secara sekilas, Ferdinan menyeringai. Bola matanya kemudian mengarah ke kaus kutang yang membungkus badan Jakues. Di dada kiri, tercetak tulisan: “ada konser musik di dalam sini”.

Ferdinan menghentikan pengamatan. Dia buru-buru mengingat tujuannya datang saat menyadari kemungkinan Jakues merasa sedang diteliti. Ferdinan pun membuka percakapan dengan sedikit gelapan:

“Saya suka semua merchandise yang anda jual.”

“Belilah kalau begitu,” kata Jakues.

“Belum gajian.” Ferdinan tersenyum, menampakkan gigi-giginya yang kecil dan rapat. Juga kuning, khas gigi seorang perokok.

“Tidak sambil merokok?”

Ferdinan mengulang jawaban yang sama. Ekspresinya juga tidak berubah. Dia membuka buku catatan dan meraih pulpen dari dalam tote bag. “Boleh saya mulai?” tanyanya.

“Tentu, usahakan pertanyaannya yang sederhana saja.”

Jakues melempar sebuah isyarat pada Helena yang duduk di sampingnya. Helena menangkap isyarat itu, lalu mengambil botol minuman, dan pelan-pelan menuangkan isinya ke mulut Jakues, sekali lagi, seperti melepas ikan ke aliran sungai yang tenang.

“Apakah ini akan menjadi tour terakhir anda?”

“Sebenarnya saya tak terlalu suka menyebutnya sebagai tour, tapi bagaimanapun, apa yang saya lakukan memang tampak seperti itu. Dan benar, ini yang terakhir. Selanjutnya saya mau istirahat untuk waktu yang lama.”

Ferdinan mencatat penjelasan Jakues secara garis besar. Dia menunggu kelanjutan penjelasan.

“Alih-alih menyebutnya sebagai tour, saya lebih senang kalau orang-orang mengenalnya sebagai perjuangan Multatuli.”

“Multatuli?”

“Betul, Multatuli. Berasal dari bahasa latin yang berarti; aku sudah banyak menderita.”

Ferdinan menarik udara melalui mulutnya. Tarikan itu membuat tubuhnya bergerak mundur, seperti ditarik oleh tangan yang lembut. Dia berusaha keras untuk mengendalikan pandangan. Tetapi bola matanya tetap bergerak melihat bagian kiri dan kanan tubuh Jakues yang seharusnya ditumbuhi lengan.

“Anda sudah mengerti yang saya maksud?” tanya Jakues.

Helena bangkit dari duduknya, meninggalkan mereka berdua, seakan menghindar dari kobaran api yang muncul dari retakan bumi.

Suasana di bawah jembatan semakin ramai. Tidak semua orang datang untuk menonton seorang rapper buntung menyanyi. Kehidupan di bawah jembatan itu sudah seperti kebudayaan dari planet lain. Berbagai kegiatan yang tak pernah tampak di kota di atasnya terjadi di sana. Mengonsumsi obat-obatan terlarang, bertukar pasangan untuk melakukan seks, hingga diskusi-diskusi yang mengarah pada rencana kudeta dan mengganti sistem kenegaraan dengan situasi baru yang cenderung anarki, adalah pemandangan yang biasa ditemukan di bawah jembatan. Walau rombongan polisi sering pula membubarkan pemandangan itu, mereka tetap saja muncul kembali. Seperti siklus terbit-tenggelam matahari.

Seakan membaca ekspresi Ferdinan yang menyerupai puzzle belum lengkap, Jakues menambahkan: “Kondisi saya ini bisa disebut malformasi lengan. Sebabnya bisa diduga-duga. Dulu ayah saya bekerja sebagai penjaga tempat pembuangan mobil bekas, sedangkan ibu saya bekerja di pabrik lem kaleng. Menurut cerita ibu, yang meneruskan analisis dokter, malformasi lengan yang saya alami disebabkan oleh faktor dari apa yang dimakan, diminum, dan dihirup ibu saya. Dari latar belakang pekerjaan kedua orangtua saya saja, kita bisa mengira-ngira bahwa potensi malformasi lengan bukan tidak mungkin dapat terjadi pada saya. Singkat cerita, saya lahir seperti ini dan mereka tetap membesarkan saya sebagaimana orangtua pada umumnya. Tetapi entah kenapa, saya malah tak ingin terus-menerus hidup bersama mereka. Di usia lima belas, saya pergi meninggalkan rumah kami yang berada di dalam area tempat pembuangan mobil bekas, lalu mencoba ini-itu untuk bertahan hidup sendiri. Atau lebih tepatnya, mencari esensi hidup dengan menjadi gelandangan.”

 “Apakah karena itu juga, anda hanya menjual kaus kutang?” tanya Ferdinan. Pandangannya sempat berpaling ke lapak merchandise, kemudian kembali berhadapan dengan buku catatannya.

Jakues sedikit tersinggung dengan pertanyaan Ferdinan. Bukan karena Ferdinan sudah mencela kondisi fisiknya secara tidak langsung, melainkan karena wartawan itu seperti tak memedulikan penjelasan panjang yang sudah diuraikan Jakues. Namun karena malas mencari perkara, Jakues cuma menjawab: “Begitulah.”

“Lalu bagaimana anda bisa mengenal musik?”

“Anda tahu, beberapa mobil yang dibuang ke tempat pembuangan sebenarnya masih bisa digunakan. Setidaknya radio di dalam mobil-mobil itu masih aktif. Ayah sering mengajak saya mendengar acara-acara musik yang berlangsung di radio. Meski kelakar para pembawa acaranya kadang tak saya mengerti, selera musik mereka tetap tak bisa dianggap remeh. Selalu bagus, menurut saya. Kadang kalau ayah sedang kebetulan sibuk melakukan pekerjaan lain sampai tak punya waktu bersantai, saya akan melakukannya sendiri…”

Ferdinan mengerenyit, tidak percaya.

“Saya bisa menggunakan kaki untuk membuka pintu mobil dan menyalakan radio,” kata Jakues, berhasil membaca isi pikiran Ferdinan.

“Anda tidak takut ditangkap polisi karena punya musik terkesan terlalu subversif?”

Sesaat sebelum menjawab, seseorang mendatangi Jakues, meminta paraf di kaus kutang putih yang dibelinya dari lapak merchandise. Sambil membubuhkan paraf dengan menjepit spidol menggunakan jari kakinya, Jakues menjawab:

“Sedikit. Tapi apa boleh buat, saya Multatuli. Penderitaan atau yang semacam itu adalah esensi hidup saya.”

Orang yang meminta paraf itu pergi.

“Apa judul lagu yang anda bawakan terakhir tadi?”

“Kejahatan modernitas.”

“Apakah kebanyakan lagu anda bersikap anti-modernitas?”

“Di dalam cangkang modernitas, bahasa bergerak menindas kaum-kaum lemah. Makna yang diproduksi pabrik bahasa modernitas, hanya berpihak pada borjuis dan senantiasa hadir untuk kepentingan mereka. Saya, bersama musik yang saya bawa, ingin membuat bahasa sebagai sesuatu yang independen. Kalaupun perlu tidak independen, bahasa harus berpihak pada kaum-kaum lemah…” Seolah teringat sesuatu, Jakues mengerem penjelasannya: “Pokoknya begitulah.”

Saat mendengar penjelasan Jakues, Ferdinan beberapa kali tertangkap memperhatikan Helena. Mulanya Helena sedang berdiri membelakangi mereka. Tapi mungkin karena ia merasakan tatapan Ferdinan menusuknya dari belakang, Helena berbalik badan, dan mengangkat salah satu alisnya. Tidak spesifik untuk siapa tanda sapaan itu dikirim. Namun Jakues merasa sapaan itu melambung ke arah Ferdinan.

Seakan tak menyembunyikan apa-apa, Ferdinan berbicara:

“Berhubung saya bekerja di majalah kiri, saya sependapat dengan anda. Bahwa bahasa mestinya berpihak pada kaum lemah. Sebenarnya apa pun di dunia ini memang harus berpihak pada mereka. Namun saya kira bahasa tidak pernah tidak independen. Bahasa tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Ada pun makna yang lahir di balik tabir bahasa cenderung mengarah pada kelompok yang bukan kelompok lemah, saya yakin, itu pasti cuma bersifat sementara. Karena demikian, bahasa itu dikatakan independen. Mungkin, bahasa bisa menjadi milik semua orang, tapi sekaligus bukan milik semua orang. Bagaimana ya menyebutnya – umpama anak gelandangan yang mencoba berbagai hal untuk bertahan hidup dengan semangat oportunis dan, menerima semua belas-kasih orang-orang yang ingin menolongnya. Tapi tak berarti dia ingin dimiliki, kan?” Setelah selesai menjelaskan, Ferdinan mengetuk-ngetuk giginya dengan pulpen. Seolah-olah penjelasannya adalah keluarga kata yang tinggal di dalam mulutnya, dan hanya akan keluar bila pintu rumah mereka diketuk. Tetapi tak ada lagi penjelasan yang keluar. “Maaf, saya sepertinya terlalu banyak bicara.”

Jakues tidak berkata apa-apa. Kini ia mendeteksi bahwa wartawan yang memiliki bola mata cekung dan susunan kumis berantakan di hadapannya tidak benar-benar ingin melakukan wawancara. Ada maksud lain kenapa wartawan itu datang. Maksud lain itu sepertinya berhubungan dengan sikap dan perilakunya yang seakan lebih tertarik dengan keberadaan Helena. Perempuan yang menjadi pacar Jakues sejak dua tahun lalu. Helena adalah seorang breakdancer, sekaligus penggemar Jakues yang mengikuti perjalanan karirnya sebagai “Multatuli”. Singkatnya, mereka akhirnya saling mengenal dan saling memahami, hingga memutuskan berpacaran. Helena juga berperan sebagai semacam manajer yang mengatur jadwal perjalanan Jakues, dan mengurus keuangan dari hasil penjualan merchandise. Di samping itu, nama Helena semakin terkenal setelah diketahui berpacaran dengan Jakues yang dapat dikategorikan sebagai artis “bawah tanah”. Bahkan lama-kelamaan pamor Jakues justru bergantung pada sosok pacar cantiknya itu.

“Anda mengenal pacar saya?”

Jakues menarik punggungnya dari dinding tempatnya bersandar. Ia menyeringai menyaksikan reaksi Ferdinan yang seakan berkata bahwa dugaan Jakues lebih dari sekadar betul.

Ferdinan diam sebentar, menimbang-nimbang kata yang akan digunakan untuk menjawab.

“Sejujurnya, kami dulu pernah berpacaran. Kisah lama sepasang mahasiswa, rasanya tak terlalu sopan untuk dikenang lagi. Setidaknya untuk sekarang. Maafkan saya sulit berusaha jujur sejak awal.”

“Tidak masalah, kawan.” Ingin rasanya Jakues menahan reaksi tubuh Ferdinan yang tak mengenakkan itu dengan tangan. Seandainya bisa.

Di saat-saat seperti ini, terkadang, Jakues kasihan kepada dirinya sendiri karena kondisi tubuhnya yang tidak lengkap. Kondisi yang membuatnya tak pernah bisa mengarahkan ritme tarian penonton dengan gerakan melambai-lambaikan sebelah tangan sembari tangan satunya memegang mikrofon. “Apakah Helena sudah jago ngeseks sejak dulu?” tanya Jakues. Bermaksud mencairkan kecanggungan yang membeku di wajah Ferdinan.

“Saya rasa tidak.”

Mereka tertawa bersamaan. Helena mengerenyit dari jauh, menerka-nerka arah pembicaraan Jakues dan Ferdinan.

“Dia paling suka gaya apa?” tanya Jakues. Spontan tanpa berpikir.

“Doggy style,” jawab Ferdinan. Cepat. Bahkan sebelum pertanyaan Jakues dilengkapi dengan kata ‘apa’.

Jakues sontak mengingat saat dirinya melakukan “doggy style” dengan Helena. Mereka memang jarang menggunakan gaya itu, karena Jakues tak mungkin bisa melakukannya secara sempurna. Gerakan itu akan lebih lengkap kalau bagian pinggul perempuan ditarik maju-mundur saat melakukan penetrasi. Mengingat bahwa ia tak mampu melakukannyasecara sempurna pada Helena, gambaran sosoknya yang tercetak di ingatan itu menghilang. Digantikan dengan sosok Ferdinan. Bagaikan sobekan foto yang menemukan sambungan baru.

“Saya rasa anda tak dapat melakukan yang seperti itu, kawan,” kata Ferdinan, seraya menyeringai, yakin telah berhasil membaca isi pikiran Jakues.

“Sepertinya anda terlalu jujur, kawan,” kata Jakues. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi ketersinggungan.

Helena tiba-tiba berjalan ke arah mereka dengan langkah yang agak cepat. Ia memberitahukan bahwa polisi dikabarkan akan segera datang. Tak ada kesan kepanikan pada wajah kerumunan orang-orang di bawah jembatan itu. Dengan santai mereka menyembunyikan barang-barang yang sekiranya akan dipermasalahkan oleh polisi, bagai tupai yang menyembunyikan kacang untuk persiapan musim dingin.

“Mereka mengincarku,” kata Jakues.

Setelah menyampaikan kabar tersebut, Helena lantas pergi mengemasi lapak merchandise. Cuma sedikit barang yang mereka bawa selama “tour”, selain merchandise, perlengkapan mandi, dan pakaian ganti sekadarnya. Rekaman musik yang mengiringi Jakues beryanyi tersimpan dalam flashdisk. Sementara alat-alat lain yang diperlukan untuk sebuah konser kecil – seperti sound system, mikrofon, laptop, dan sebagainya – selalu disediakan oleh kelompok-kelompok bawah tanah yang mereka kunjungi.

“Sepertinya mereka juga akan menangkap anda, mengingat kita berada di sayap yang sama,” ujar Jakues, sambil membaca tulisan “majalah kiri” di tote bag Ferdinan.

Ferdinan mengangkat bahunya. Seolah peringatan yang barusan dikatakan Jakues adalah sesuatu yang biasa dia dengar.

Tak lama setelah Helena selesai mengemasi barang-barang, polisi sudah tiba di dekat tebing yang mengarah ke bawah jembatan. Sebelum membantu Jakues berdiri seperti membangunkan sebuah boneka peraga di toko baju, Helena sempat bersitatap dengan Ferdinan. Tatapan yang bermakna dalam sampai-sampai tak bisa dikatakan sebagai sekadar salam perpisahan.

Helena dan Jakues berlari ke arah yang berlawanan dengan arus sungai yang memantulkan cahaya kekuningan matahari sore. Agak jauh di belakang, Ferdinan terpaku sambil memandang ke arah mereka.

Helena terus memandang ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Ia berlari sambil memikul tas carrier berisi merchandise dan perlengkapan perjalanan. Kendati mungkin, ia merasakan punggungnya dihujam tatapan Ferdinan dari jauh. Jakues menyadari suasana itu, dan seketika beryanyi dalam hati: “Sedangkan cintaku entah di mana / menjadi limbah…”

Seraya berusaha mengimbangi kecepatan langkah Helena yang berlari di depannya, sesekali Jakues menengok ke belakang. Menengok kekacauan yang sengaja dibuat pasukan “bawah tanah” agar polisi mengabaikan keberadaan Jakues dan Helena. Tetapi bukan pemandangan itu yang bersarang di kepala Jakues. Sekarang, sembari berlari, dia justru membayangkan bahwa, dirinyalah yang semestinya diborgol polisi, bukan Ferdinan. Sedangkan Ferdinan, mungkin akan lebih cocok berlari bersama Helena sambil bergandengan tangan menuju arah yang berlawanan dengan arus sungai. Namun tentu saja Jakues segera tersadar, kalau semua itu tak mungkin terjadi. Dia tak punya tangan untuk diborgol, dan juga tak punya tangan untuk digandeng saat berlari.

Jakues tetap berlari bersama Helena. Sekencang-kencangnya. Seolah kakinya baru saja terbebas dari bola besi.****


Robbyan Abel Ramdhon, aktif menulis cerpen dan bekerja sebagai wartawan. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.

Cerpen

Permen-Permen dan Gugusan Bintang di Kepala Ken

Cerpen Erna Surya

Ken bercita-cita menjadi seorang penulis di mana ia nanti bisa bercerita tentang galaksi-galaksi di jagad raya yang bisa ia tempati bersama permen-permennya. Mamanya bertanya, mengapa permen. Ken yang tahun depan akan masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak menjawab bahwa ia butuh ruang yang sangat luas untuk menata permen-permennya itu. Dan satu-satunya ruang yang paling luas adalah galaksi. Ken teringat dongeng papanya di suatu malam. Waktu itu, papanya bercerita tentang galaksi dan gugus bintang yang sangat luas sekali sehingga mata manusia tak akan sampai untuk menjangkaunya. Dan di sanalah ia nanti bisa bertemu Tuhan.

Tentang mengapa permen, Ken sangat mencintai mamanya yang lihai membuat permen aneka rasa. Bagi Ken, mama adalah segalanya. Pernah di suatu hari, mamanya pergi seharian sampai pulang larut malam. Ken di rumah bersama pengasuh. Sepanjang hari itu juga ia menunggu di pagar rumah dan selalu memandang ke ujung jalan, berharap mamanya segera muncul. Ketika pulang, pengasuh bercerita bahwa sepanjang hari itu, Ken tidak mau makan dan tidur siang. Untung masih bisa dibujuk untuk mau minum susu. Dan mulai saat itu, mamanya berjanji bahwa ia tak akan lagi meninggalkan Ken pada keadaan apapun. Termasuk ketika ia harus berhari-hari di rumah sakit untuk menjalani serangkaian operasi pengangkatan rahim karena ada sesuatu yang tumbuh di dalamnya, ia meminta Ken tetap ada di dekatnya. Ken dan mamanya tak terpisahkan.

Di suatu malam yang gerimis, Ken terbangun lantaran haus. Ia berjalan sendirian menuju dapur. Ketika melewati kamar mamanya, Ken mendengar suara lirih tangisan mamanya. Ken ingin masuk. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara papanya.

“Tolong, jangan paksa aku untuk memilih,” ucap papa Ken lirih sekali.

Ken kembali ke kamarnya degan perasan sedih. Ia tak bisa melihat mamanya menangis. Namun ia tak berani mendekat. Malam itu, Ken tertidur dengan mata yang basah. Dalam tidurnya, Ken bermimpi tentang gugusan bintang dan galaksi. Ken tengah terbang bersama papa dan mamanya, bernyanyi, lalu menyelinap di antara planet-planet. Ken merasa bahagia, sayangnya itu hanya dalam mimpi.

Paginya, pundak Ken diguncang oleh mamanya. Ia terbangun dan melihat mama sudah berada di sampingnya dengan mata yang sembab. Ken pura-pura tak tahu menahu tentang tangisan mamanya semalam. Ia mengucapkan selamat pagi kepada mamanya, lalu memeluk perempuan lembut itu, sama seperti pagi-pagi biasanya.

“Ken, kita harus pindah rumah.”

“Kemana, Ma?”

“Ke Jogja, di rumah Eyang.”

Ken kecil girang. Ia mengemas semua pakaian dan mainannya ke dalam kardus-kardus dan kotak plastik yang sudah disiapkan mamanya. Sudah terbayang di kepalanya bahwa ia nanti bisa mandi di sungai bersama kakek dan sepupunya. Lalu menggiring bebek dan ayam pulang ke kandang. Malamnya ia bisa menghabiskan waktu di mushola depan rumah bersama anak-anak tetangga seusianya. Mereka bisa bermain apa saja.

Kebahagiaan Ken kecil makin menjadi-jadi ketika mamanya menyampaikan bahwa ia akan bersekolah di Jogja dan akan terus tinggal di rumah eyangnya. Namun ketika Ken mendapati cerita bahwa papanya tak akan ikut bersamanya lagi, kesedihan menyerang Ken kecil dengan tba-tiba. Ia nyaris menangis. Namun mama segera memeluknya.

Semenjak itu Ken tak bertemu papanya lagi.

***

“Ma, kalau hari ini aku bisa ketemu dosen pembimbing dan bab lima-ku di ACC, berarti aku ikut wisuda Desember,” ujar Ken kepada mamanya di suatu sore ketika mamanya tengah merajut di belakang rumah. Mama Ken menoleh kemudian tersenyum. Ia sangat bangga atas apa yang telah dilakukan anaknya. Kini nama Ken ada di berbagai macam surat kabar. Ken kecil yang dulu sangat suka permen kini telah menjadi seorang penulis meskipun belum sampai pada gelar sarjana. Ken banyak menulis cerita fiksi tentang galaksi dan gugusan bintang.

Dulu sempat terjadi perdebatan kecil sebelum Ken masuk kuliah. Mama menginginkan anaknya masuk ke jurusan mesin. Alasannya satu, biar mudah mendapat pekerjaan mengingat begitu pesatnya perkembangan otomotif di waktu belakangan ini. Namun Ken menolak. Ia tetap ingin belajar sastra. Cita-citanya masih sama, ingin menjadi penulis seperti apa yang dikerjaan papanya. Mamanya berulang kali membujuk agar ia melupakan papanya, tapi tak bisa.

“Novel papa terbit lagi, Ma. Judulnya ‘Rumput Kering’. Agak beda dari ‘Akar Pohon’. Tapi menurutku yang Rumput Kering ini lebih bagus, cerita tentang perjuangan seorang PSK. Banyak nuansa cintanya. Mama mau baca?”

Ken merasa bersalah ketika tak ada jawaban sedikit pun dari mamanya, bahkan merespons dengan ekspresi wajah pun tidak. Ken paham bahwa ia telah membuat suasana hati mamanya menjadi tidak bagus hari ini. Sebenarnya, ia sadar bahwa melihat papa dan mamanya rujuk itu mustahil. Tapi dalam hati kecil, ia masih menginginkan mamanya mau sedikit membuka hati untuk papanya, untuk sekadar mau mendengar kabar. Sejak perpisahan itu, Ken tak pernah lagi mendengar nama papanya keluar dari mulut mamanya. Meski tak paham apa yang membuat mereka berpisah, Ken tahu bahwa hati mamanya sangatlah terluka.

Hari sudah hampir petang. Ken sudah rebah di kamarnya ketika perempuan yag sedari pagi tadi merajut itu berdiri. Pipinya basah ketika memegang buku yang Ken letakkan di meja dekat ia duduk. Ada sesuatu yang mencabik-cabik hatinya kembali setelah sekian tahun ia tutup agar tak luka kembali.

Ingatannya tertuju kepada malam itu, ketika ia tengah terduduk di tepi jalan dengan make-up tebal dan seorang lelaki mendatanginya. Lelaki itu mengajaknya pergi.

“Rosa,” panggil lelaki itu.

“Tahu nama saya dari mana?”

“Aku memerhatikanmu selama enam bulan terakhir ini. Wajahmu mengingatkanku pada cinta pertamaku waktu SMP. Sudah hampir empat puluh tahun berlalu.”

Rosa terdiam.

“Mulai sekarang, kamu tinggallah di sini! Jangan jual diri lagi,” pinta lelaki itu sembari memegang kedua tangan Rosa.

“Aku sedang mengandung,” jawab Rosa lirih.

“Beri dia nama Ken. Dan biarkan dia memanggilku Papa,” ucap lelaki itu sebelum memeluk tubuh Rosa erat sekali.

***

Ketika keluar kamar, Ken mendapati mamanya terisak dengan novel di tangannya.

“Ceritanya ini tentang PSK yang dicintai seorang lelaki, Ma. Si lelaki itu tak peduli kalau anak yang dikandung perempuan itu bukan anaknya. Tapi sayangnya si perempuan itu pergi meninggalkan si lelaki. Si lelaki itu sudah punya istri sah, dan si perempuan itu ia simpan sebagai istri kedua. Tapi si perempuan itu tak tahu diri. Ia minta si lelaki meninggalkan istri sah dan menikahinya. Keputusan yang berat buat si lelaki. Di satu sisi, ia tak bisa meninggalkan keluarganya. Di sisi lain, si lelaki menemukan cinta sejatinya justru kepada si perempuan itu.”

Ken memeluk mamanya ketika tangis semakin menjadi-jadi.

“Ken, kamu masih ingat jalan pulang?”

“Kemana, Ma?”

“Ke hati lelaki yang kamu panggil Papa,” ucap perempuan itu di dada anaknya.

Ken kini membayangkan tentang deretan permen-permen di dalam galaksi, tempat ia dulu sering berfantasi ketika masih kecil.****


Erna Surya, seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK N 1 Juwiring, Klaten. Tinggal di Klaten. Senang dengan dunia buku dan tulis menulis. Kini sedang menempuh studi Magister di Universitas Sebelas Maret, Surakarta di jurusan Linguistik konsentrasi Penerjemahan. Bisa dikontak di [email protected] atau bisa lewat Instagram @ernaasuryaa

Cerpen

Kidung Bakti

Cerpen Prima Yuanita

Katamu sebuah lagu mampu mengungkapkan perasaan seseorang, seperti bumbu dapur menerjemahkan rasa masakan. Dan aku pun percaya hal itu. Jadi, ketika perasaanku padamu mendesak-desak ingin disampaikan, lagu Kidung Bakti yang akhirnya berbicara pada semua insan.

Kamu tahu kan, sejak kecil aku suka sekali merangkai syair dan nada-nada? Mereka seringkali membesuk kepala. Lalu menyusup ke tangis, tawa, marah, kecewa, bahagia, bahkan dalam diam.

Dulu kita selalu menandaskan gigil fajar di perapian dengan memutar tembang kenangan, seperti langgam jawa, yang kental dengan iringan gamelannya, atau pop klasik berbirama empat perempat yang menggelitik halus di pendengaran. Saat itu sesekali bibirmu turut menggumamkan lirik lagu tersebut sambil tanganmu terus bergerak-gerak  lincah di atas talenan, sementara kamu memintaku menggisar-gisar kayu bakar agar api di tungku tidak lekas padam.

Aku tahu kamu suka menyanyi, dan karena itulah kamu rajin mengajariku menyanyi ketika usiaku menginjak lima tahun. Bukan lagu anak-anak khas taman kanak-kanak, akan tetapi lagu kebangsaan dengan suara yang dibesar-besarkan. Kamu tahu suara sopranku sedikit sumbang, maka kamu akan membenarkan nada tinggiku yang masih terdengar payah. Aku juga ingat ketika kamu menyuruhku mengucapkan nama negaraku dengan benar. Katamu, aku mengucap kata ‘Indonesia’ menjadi ‘Endonesia’. Seketika aku tertawa dan kamu ikut tertawa, lalu kita tertawa bersama-sama.

Semakin hari aku tumbuh bersama lagu-lagu di sekitarku, bukan hanya lagu kesukaanmu yang kerap kita dengar bersama itu, tetapi dari stasiun-stasiun radio yang kuputar, aku jadi mengenal beragam lagu yang bagus-bagus. Orang-orang berkirim salam kepada orang yang dikasihinya dan meminta senandung favorit mereka untuk diputar. Aku pun pernah melakukan hal yang sama untukmu. Ketika itu aku sudah punya ponsel berwarna hitam nan tebal hasil dari uang yang kukumpulkan berbulan-bulan. Aku begitu takjub menyadari betapa ponselku sangat pintar mengirim pesan. Akan tetapi pesanku tidak pernah dibacakan dan lagu yang kuminta tidak diputar. Menyebalkan sekali bukan? Dari situ aku bertekad dalam hati bahwa kelak aku akan membuat lagu sendiri dan stasiun radio itu tidak akan bisa menolak untuk tidak memutarkan laguku.

Benar saja yang kupikirkan. Saat dewasa aku menikah dengan seorang penyanyi. Singkat cerita ia tidak keberatan membawakan lagu yang kuciptakan. Berhari-hari ia menghafal lirik lagu tersebut. Konon ia tak pernah selama itu menghafal lagu, akan tetapi di lagu ciptaanku, yang sengaja kubuatkan untukmu itu, ia mengaku kesulitan menyanyikannya, apalagi di bagian lirik yang menggunakan Bahasa Jawa.  

Dhuk semono rung biso sembodo

mlaku tansah dituntun ditoto

ojo nganti adigang adigung adiguno

eling Gusti …eling Gusti soko jiwo

Dulu sebelum menikah, suamiku itu tak pernah menjanjikan materi yang lebih padaku. Aku hanya tahu dia orang baik, memiliki keluarga yang baik dan kawan-kawan yang baik. Maka kupikir hidupku pasti akan dikelilingi oleh orang baik. Dengan demikian aku juga bisa menjadi orang baik seperti apa yang kamu harapkan selama ini padaku. Bukankah memiliki kawan-kawan yang baik termasuk salah satu rezeki yang patut kita syukuri?

Hal itu terbukti saat suamiku meminta tolong mereka untuk mengiringi lagu ciptaanku. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengeluarkan alat musiknya. Mereka membawa piano, gitar, seruling, kendang, saron, sapek, juga karinding. Dengan semangat yang meletup-letup di dada, mereka berbondong-bondong ke studio rekaman dan memainkan alat musik itu sebagai instrumen dari lagu yang kuciptakan. Sekitar sepekan lagu itu pun rampung digarap. Kami semua gembira dan lagu itu disebar ke mana-mana, termasuk ke stasiun radio yang tak pernah memutar lagu permintaanku dulu, kini lagu ciptaanku malah jadi playlist permintaan dari orang-orang.

“Bukan hanya Lathi, lagu Kidung Bakti juga bisa menggabungkan dua unsur yang berbeda,” kataku padamu.

“Iya, aku suka sekali lagu ini,” komentarmu di satu pagi yang cerah, secerah foto profilmu dengan kebaya putih dan gincu merah merekah.

Saat itu kita berbincang lewat sambungan telepon. Semenjak menikah, seseorang biasanya akan semakin sibuk dengan keluarga barunya. Bukan hanya aku dengan keluarga baruku, tetapi kamu dengan keluarga barumu, seperti dalam potret yang kamu jadikan foto profil itu. Aku ingat gambar itu diambil beberapa saat setelah kamu resmi dinikahi seorang duda kaya yang baik hatinya. Lalu di pagi yang berseri-seri, dengan wajah yang berseri-seri pula kamu bertanya padaku, “Bagaimana kamu bisa membuat lagu ini?”

Mendengar pertanyaaanmu itu hatiku serasa dilumuri berpuluh-puluh es krim. Lantas kujelaskan padamu bahwa di satu bunga tidur malam, kupingku mendengar nyanyian alam. Bersayapkan angin segar yang menyeberangi Laut Jawa, ia hinggap di pulau terbesar di Indonesia, ia menjumpai wajah-wajah yang dulu kerap menyapa: seperti gemuruh ombak di Sungai Mahakam, perahu-perahu kayu bercat cokelat kelam; arakan awan langit khatulistiwa, hutan ulin yang suram nan gersang; paras bertaburkan bedak beras, dan air mata seorang wanita di telepon genggam; cairan serupa yang kusaksikan menggenang saat kamu melepas genggamanku di bandara.

Kamu ingat aku pernah pergi jauh. Tapi apa kamu tahu kenapa aku melakukannya? Waktu itu hidupku tak ubahnya bola yang digiring ke kiri-kanan, lantaran menyaksikan dua kepala yang sama-sama ingin menang. Hatiku lelah, jiwaku berontak, kakiku melangkah sejauh bola yang menggelinding keluar area permainan. Kamu berulang kali memanggilku tapi aku tak peduli. Aku terus menjauh dari jangkauanmu. Kian lenyap dari pandanganmu, hingga akhirnya pria yang kini kamu sebut menantu itu datang ke kehidupanku, lalu ia menegur kala kakiku jatuh tersungkur.

 “Jangan lagi buat orang tuamu menangis! Seburuk-buruknya mereka, kamu tak boleh jadi anak durhaka! Pulanglah!”

Alam pun menutur makna

tentang rasa yang dijaga

ke mana langkah kususuri

tak temukan kasih yang lebih sejati

Ayah dan Ibu ….

Begitulah lagu Kidung Bakti itu menceritakan perasaanku padamu, juga pada ayah; sesosok lelaki yang bertahun-tahun lalu telah meninggalkanmu. Lelaki itu kutemui bersama menantumu ke suatu tempat yang ia sebut rumah, tapi bagiku itu bukanlah sebuah rumah, itu hanya tempat orang-orang singgah untuk mengenyangkan perut yang lapar. Tidak ada kasur di sana, apalagi kamar tidur, yang ada hanya tikar lusuh yang digelar untuk orang-orang menyantap semangkuk soto ayam.

Di mata lelaki yang kulitnya legam dan penuh kerutan itu, kutemukan segudang penyesalan. Sudah kukira hal itu pasti terjadi, tapi walau bagaimanapun, wanita yang berada di sampingnya saat itu adalah istri sahnya. Bukan lagi namamu di Kartu Keluarga-nya. Jadi ia akan selalu pulang ke tempat istrinya itu, dan kupikir kamu pasti juga sudah bahagia bersama lelaki berusia enam puluhan yang menikahimu setahun lalu.

Tapi rupanya aku keliru. Sepekan lalu, di satu malam tak berbintang, ketika lagu Kidung Bakti itu telah didengar ribuan orang, suara serakmu mengabarkan bahwa suamimu itu telah berpulang karena sakit yang kamu anggap hanya masuk angin. Seketika tubuhku gemetaran. Degup jantungku berloncatan. Kepalaku berdenyut-denyut dan di sana berkelebat sebuah pertanyaan: kenapa rasa sayang selalu membuat kita kembali pulang?***


Prima Yuanita, seorang ibu rumah tangga, penyuka makanan tradisional dan lagu-lagu bernada mayor. Saat ini tinggal di Sragen, Jawa Tengah dan pernah meraih juara 1 Lomba Karya Jurnalistik PKK tahun 2020 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Akun Facebook: Prima Yuanita dan Instagram: prima_yuanita.

Cerpen

Akan Kepulangan

Cerpen Ruly R

Anwar Saleh merebahkan badan di kasur lantai tipis warna hijau lumut yang apaknya tiada tanding. Tangannya sibuk membuka tutup aplikasi percakapan di ponsel murah merk tak jelas yang dibelinya di Glodok. Masih membuka-tutup aplikasi percakapan, tidak ada satu juga pesan yang masuk. Ponsel diletakkan. Mata Anwar Saleh menerawang ke langit-langit petak kontrakan. Tidak ada secuil masa depan atau angan apa pun yang dia pikirkan, hanya masa lalu dan beberapa hal yang baru saja dia lewati, utamanya tentang Eti Ncus.

Usai mengantar si biduan pentas di daerah Depok, pikiran Anwar Saleh tak bisa tenang. Kekhawatiran yang mula-mula seakan hentakan ketipung satu-dua patah-patah, kini semakin menjadi, membentuk keserasian dalam iringan musik dangdut sedih dengan lirik yang menyayat-pilu. Anwar Saleh sadar diri, tugasnya hanya menjemput-antar Eti Ncus yang sebentar lagi tambah tersohor, yang semula main dari panggung ke panggung, beralih dari satu stasiun tv ke stasiun tv lain. Begitu yang dipikirkan Anwar Saleh tentang perempuan yang dia cintai, namun tak pernah tahu. Dia merasa tak pantas diri lagi mencintai terlebih memiliki Eti Ncus. Sudah pupus segala tanda yang dia berikan agar Eti Ncus tahu perasaan lelaki berbadan ceking dan berambut setengah gondrong itu.

Pernah Anwar Saleh bayangkan Eti Ncus menyambut cintanya sepenuh hati. Membangun segala keindahan rumah tangga bahagia, melakukan aktivitas ringan dan obrolan yang menyenangkan bersama Eti Ncus. Tapi angan-angan ditabrak kenyataan, jauh meninggalkan Anwar Saleh seorang diri. Sepi, muram, dan jelas tak mengenakan hati.

Saat segala kecamuk berkelindan dalam benak, Anwar Saleh merindukan rumah. Dia ingin namun tak ingin. Baginya, pulang sama saja mengakui kesalahan yang sepenuhnya tak pernah dia lakukan. Pikiran tentang keinginannya pulang kali ini bersebab dari segala yang dia temui beberapa hari lalu, juga beberapa waktu saat Eti Ncus ada di panggung.

Saat matahari seakan meremukan batok kepala orang-orang yang menjemput rezeki di sekitaran stasiun Pasar Senen, saat itulah Anwar Saleh bertemu tetangga sekaligus kawan lama. Pertama-tama disapa, Anwar Saleh setengah kaget, sementara kawannya mengatakan pangling dan berkali-kali menatap Anwar Saleh coba meyakinkan bahwa yang ditemuinya itu memang kawan lamanya.

“Anwar? Iya kan Anwar? Waduh, War. Lama kita ndak ketemu. Sehat, to?” tanya kawan Anwar Saleh sambil menepuk pelan dan berkali-kali pundak yang ditanya.

Anwar Saleh menanggapi sekenanya. Dia paham hal itu hanya basa-basi di awal pertemuan setelah waktu merentangkan jarak begitu lama. Dia selalu tak nyaman ketika bertemu kawan lama dari kampungnya. Hal itu yang coba dihindarinya meski tanpa maksud tidak memudarkan pertemuan yang tak sengaja.

Anwar Saleh mengajak kawannya duduk di bangku plastik biru milik pedagang minuman dingin. Gerobak besi bercat biru tua pudar milik penjual minuman menyaksi segala yang telah lampau.

“Dua teh botol dulu ya, Mang.”

“Asal jangan lupa bayar dah, War.”

Anwar Saleh menanggapi sahutan mamang warung dengan anggukan dan mengatakan tak perlu khawatir.

“Eh garpit sebatang boleh dah,” ucap Anwar Saleh lantas terkekeh.

“Ngelunjak lu, War.”

“Buru lempar aja!”

Mamang warung dengan wajah tak enaknya melempar rokok yang diminta. Anwar Saleh kembali terkekeh sementara kawannya hanya diam. Obrolan akan pertemuan kembali seakan tangan yang menggali masa lalu yang ada. Dari mulai kenakalan yang mereka lakukan, keadaan di kampung sekarang, tentang teman yang telah menikah dan punya anak, tentang mereka yang telah meninggal, dan hal lain tentang kesuksesan dan kegagalan siapa pun yang masing-masing mereka kenal.

“Lama bener lho, War. Kamu betah di Jakarta?”

Anwar Saleh melempar pandangan pada padatnya kendaraan di depan stasiun Pasar Senen. Beberapa mikrolet membunyikan klakson begitu kencang, motor-motor padat memenuhi jalan, dan mobil merayapi tempat dan jalan yang ada. Cukup lama hingga akhirnya Anwar Saleh mengucapkan jawabannya untuk pertanyaan itu, jawaban yang beriring dengan suara laju kereta di sekitaran stasiun Pasar Senen.

“Aku cuma mau main, War. Ibuku sekarang kan ikut adikku di Jakarta sini,” ucap kawan itu saat ditanya Anwar Saleh akan ada kepentingan apa di Ibu kota.

Mendengar itu Anwar Saleh kembali diam. Pikirannya tertumbuk pada bayangan tentang rumah, tentang ibu, dan bila sudah berbicara tentang perempuan yang melahirkannya, Anwar Saleh juga akan otomatis teringat pada lelaki yang begitu dibencinya, bapaknya.

“Kenapa kamu ndak pernah pulang? Apa ndak kangen ibumu?” tanya kawan itu usai bercerita bagaimana hubungan pertemanannya dengan Anwar Saleh dan seakan memahami segala masalah di masa lalunya. Pertanyaan itu tak dijawab. Kawan itu juga menceritakan kesehatan ibu Anwar Saleh. Yang ditanya dan diajak bicara hanya diam, justru mengalihkan obrolan pada kesibukan kawannya itu sehari-hari. Obrolan itu terus berlanjut, ditingkahi azan asar.

Sore menjelang matang sempurna. Jalanan masih padat lalu-lalang kendaraan. Orang-orang berjalan tergesa untuk berangkat atau pulang. Kawan itu pamit pada Anwar Saleh dan meminta nomor ponselnya. Mereka berjanji akan saling berkabar dan bertemu kembali.

“Kagak manggung lu, War?” tanya mamang minuman dingin saat Anwar Saleh akan membayar minumannya dan beberapa batang rokok yang dia minta tadi lagi dan lagi.

“Perkutut kali manggung.”

“Maksudnya kagak gawe gitu? Daripada lu ngajedok terus di situ.”

Anwar Saleh katakan dua hari lagi akan ada pentas di daerah Depok. Dia jelaskan juga kalau segalanya pasti beres karena dia sudah tahu dan terlampau hafal akan tugasnya.

Suara kaleng milik tukang pijat bergelontang, membuyarkan lamunan Anwar Saleh tentang pertemuan dengan kawan lamanya. Dibukanya kembali aplikasi percakapan di ponsel, tak ada apa-apa dan digeletaknya begitu saja ponsel itu.

Terang pucat bohlam menyaksi benak Anwar Saleh dalam rebahnya. Dia menunggu dengan murung dan cemas kenapa Eti Ncus tidak memberi kabar usai pentas, padahal biasanya pesan ringan akan lempar-tangkap ketika Eti Ncus telah diantarnya ke rumah. Angan Anwar Saleh melayang seakan menembus petak kontrakan, menembus malam yang baginya terlampau panjang. Anwar Saleh masih menyesali dan meratapi kenapa belum juga mengatakan cinta pada Eti Ncus, namun merasa ditolak. Anwar Saleh mahfum kenyataan memang pahit untuknya. Nasib baik tak pernah berpihak padanya.

Di hadapan Eti Ncus lidah Anwar Saleh seakan kelu, tiang-tiang penyangga jembatan layang seakan menimpa kepalanya, sangat berat membebani pikirannya. Anwar Saleh ingat pentas tadi. Dalam benaknya masih tersimpan bagaimana suara Eti Ncus samar menyanyikan lagu Muara Kasih Bunda didengarnya dari belakang panggung saat dia sedang menyiapkan es cekek untuk tukang ketipung.

Bunda

Tak pernah kau berharap budi balasan

Atas apa yang kau lakukan

Untuk diriku yang kau sayang[1]

Bekas kardus yang bakal Anwar Saleh gunakan untuk mengipasi tukang ketipung terlepas dari genggamannya. Perasaan yang aneh dan penuh kegamangan merambat di hati Anwar Saleh. Dia tak ingin gubris semua itu dan melanjutkan apa yang sudah menjadi pekerjaan rutinnya setiap pentas.

Sebuah suara notifikasi masuk ke ponsel Anwar Saleh. Hal yang begitu dinantikannya. Namun sekali lagi nasib tak pernah berpihak padanya, bukan pesan dari Eti Ncus yang datang, melainkan pesan dari kawan lama, yang memberi padanya sebuah alasan akan kepulangan.


Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Bukunya terbarunya Gelanggang Maaf (Penerbit Bukuinti, 2021). Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo dan mengelola Rusamenjana Book Store & Club bersama teman. Surat-menyurat: [email protected]


[1] Nukilan lirik lagu Muara Kasih Bunda yang dipopulerkan Erie Suzan.