Cerpen

Surealisme Indonesia dalam Cerpen Mata Terkutuk Karya Caligula Zaragyl

Cerpen Caligula Zaragyl

Bulan purnama menjadi tanda bahwa pesta para arwah dimulai. Satu demi satu arwah dari nuwa muri koo fai[1], ata mbupu[2], dan ata polo[3] keluar. Mereka berputar-putar di atas langit Danau Kelimutu. Seketika langit mulai berubah warna menjadi merah dan para arwah mulai bersatu membentuk kereta kematian. Kereta kematian yang terbuat dari susunan bola mata, bola mata yang berwarna merah, dan penuh dengan nanah. Yohanes Wato sebagai ketua adat mulai melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata[4]. Ia berdiri di tengah-tengah penari. Mereka mulai melakukan gerakan tari dengan entakan kaki, tongkat bambu dibunyikan mengikuti ritme entakan kaki, kaki kanan maju dua langkah, kemudian kaki kiri mundur dua langkah, dalam langkah kaki kedua diikuti lambaian tangan, dan giring yang terletak di pinggang terdengar nyaring mengikuti gerakan tubuh.       

Yohanes wato menyenandungkan syair untuk leluhur Danau Kelimutu: Ama lera, ina nini taka ekan, tobo moen teti kowa kelen tukan, pae mern lali tana nimun wato baya, moe yadi telu ratung, tao ile pulo getang, dewa woka lema gait, telung pesa lega ratung, yadi ihiken atadiken, gewak weaken belaon. Seiring dengan lantunan syair yang disenandungkan Yohanes Wato, kereta kematian perlahan turun, dari dalam kereta kematian keluar perempuan yang sedang menggendong bola mata seukuran bayi. Ia menatap semua warga yang sedang melangsungkan ritual pati ka dua bapu ata mata dan berjalan ke arah hutan. Yohanes Wato tak asing dengan perempuan itu, berlari sekencang mungkin untuk mengejarnya. Tak jauh darinya perempuan itu menimang-nimang bola mata, menyenandungkan syair kepada leluhur Danau Kelimutu. Tubuh Yohanes Wato bergetar,  masih ingat betul dengan logat suaranya, tubuh perempuan itu, dan semua tentang perempuan yang ada di hadapannya. Yohanes Wato menangkupkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang sedang menangis. Perempuan itu mendekati Yohanes Wato, membisikan sesuatu yang membuat tubuh Yohanes Wato bergetar.

Malam hari, semua orang berkumpul membicarakan apa yang telah terjadi. Ada yang ketakutan setengah mati, ada yang menganggap hal itu biasa, dan kebanyakan orang menganggap bahwa leluhur Danau Kelimutu marah. Alhasil para arwah mulai bergentayangan. Namun, yang pasti tak ada yang tahu siapa identitas perempuan yang menggendong bola mata. Yohanes Wato yang ditanya warga pun hanya membisu, seakan ada rahasia yang harus ditutup rapat-rapat. Mereka mulai bergegas pulang ke rumah masing-masing. Berdoa supaya tak hal buruk yang akan datang.

***

Perempuan misterius itu menimang-nimang bola mata. Seakan bola mata itu adalah bayinya. Ia menyenandungkan syair yang sangat merdu. Namun, ketika melihat desa di sekitar Danau Kelimutu mulai bersikap aneh, tatapannya penuh amarah, dan dari mulutnya keluar caci maki yang entah ditunjukkan kepada siapa. Ia membanting bola mata itu dan pecah menjadi ratusan bola mata yang berukuran seperti bola mata pada umumnya. Semua bola mata itu berputar-putar dan keluar dua kaki. Tangan perempuan itu menunjuk ke arah desa. Seketika ratusan bola itu berlari ke arah desa untuk menyebarkan kutukan.

Suasana gaib masih menyelimuti Danau Kelimutu. Semua orang tertidur pulas. Tak tahu akan ada bahaya yang sebentar lagi mengusik mereka. Ratusan bola mata itu menyusup ke dalam rumah warga dan mulai masuk ke dalam mulut orang yang sedang tertidur. Bola matanya mulai menyatu ke setiap orang. Bola mata itu serentak muncul di pipi kanan dan kiri.

Keesokan harinya, semua orang kalang kabut dengan mata yang ada di pipi kanan dan kiri. Mereka bercermin, melihat bola mata itu, bola mata itu seperti bola mata pada umumnya, tetapi terus mengeluarkan nanah yang menjijikkan. Beberapa kali dibersihkan tetap saja akan keluar lagi. Yosep yang tempramen berniat mencungkil bola mata itu. Tangan kanannya sudah memegang belati dan langsung menusuk bola mata itu, menariknya secara perlahan, dan bola mata itu keluar. Kemudian melakukan hal sama kepada bola mata terkutuk di pipi kanannya. Yosep merasakan sakit yang luar biasa. Mulutnya keluar darah. Jempao—istrinya menyuruh suaminya untuk membuka mulutnya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dalam mulutnya ada bola mata yang bergerak-gerak, mempunyai dua tangan. Kedua tangan itu menjulur keluar dan mencekik leher Yosep.

Jempao berteriak meminta tolong dan semua warga berkumpul untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tubuh Yosep bergetar dengan hebat dan tangan itu masih saja mencekik lehernya, meskipun beberapa orang berusaha menolongnya. Namun, nyawa Yosep tak tertolong. Seketika dua tangan yang mencekiknya mulai lemas, mengering, dan perlahan menjadi abu.

***

Semua orang semakin ketakutan. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka telah diteror mata terkutuk. Jempao menyarankan untuk pergi ke rumah Yohanes Wato. Mereka akhirnya berbondong-bondong ke sana. Yohanes Wato dalam posisi semadi dan mulutnya menyenandungkan syair kepada leluhur Danau Kelimutu.

Jempao yang melihat suaminya meninggal dengan cara yang tak wajar ketakutan, bersujud di kaki Yohanes Wato. “Tolonglah kami, Yohanes Wato.”

“Kutukan mata ini tak dapat dibiarkan. Tolonglah berbuat sesuatu,” ujar seseorang bertubuh gempal.

“Apa yang bisa aku lakukan? Aku juga terkena kutukan itu.” Yohanes Wato tak bersemangat hidup. Menganggap bahwa kutukan itu akan membuat semua orang mati bahkan dirinya.

Semua warga mulai bersujud di kaki Yohanes Wato. Mereka berharap Yohanes Wato melakukan sesuatu untuk menghilangkan mata terkutuk. “Kita perlu melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata untuk kedua kalinya.” Yohanes Wato memberikan saran dan semua orang setuju dengan saran itu.

Semua warga melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata. Sesaji sudah dipersiapkan mulai dari kaki babi hutan, kaki rusa, daun sirih, ubi-ubian, kelapa, labu, padi dan jagung. Satu demi satu meletakkan sesaji, memanjatkan doa untuk saudara, leluhur, kerabat, dan orang terdekat yang sudah meninggal. Yohanes menyenandungkan syair untuk leluhur Danau Kelimutu. Ia mengambil abu dari cendana. Melemparkan abu itu ke udara. Semua orang seketika langsung merasakan gatal, panas disekujur tubuhnya, dan menggaruk mata terkutuk itu. Mata yang ada di tubuh mereka keluar tangan dan mencekik leher mereka. Mereka secara perlahan mati secara mengenaskan.

Perempuan misterius itu seketika datang dengan menggendong bola mata. Yohanes Wato mendekat ke perempuan itu. Mengambil bola mata itu, menimang-nimangnya, dan menciumnya. Ia mulai teringat dengan janjinya dengan perempuan misterius itu. Ingatanya menerawang jauh pada peristiwa ketika Yohanes Wato pergi ke acara ritual pati ka dua bapu ata mata bersama istrinya yang sedang hamil. Istrinya jatuh ke tiwu ata polo. Semua orang yang melihatnya hanya menertawakannya karena menganggapnya tak berhati-hati. Dan yang lebih menjengkelkan ialah olokan yang menganggap bahwa orang yang jatuh di tiwu ata polo adalah orang jahat. Yohanes Wato pun jijik melihat mata semua orang yang memandang istrinya sebagai orang jahat. Alhasil, Yohanes Wato membuat perjanjian dengan leluhur Danau Kelimutu untuk membalaskan dendamnya.**

                                                               Ruang Sang Hyang Wenang, 12 Febuari 2022.


Caligula Zaragyl, berdomisili di Demak. Alumni PBSI di Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook dan Instagram: Nur Khafidhin Rezpector dan @Khafidhinur.


[1] tempat berkumpul arwah pemuda pemudi.

[2] tempat berkumpul arwah orang tua.

[3] Tempat berkumpul arwah orang jahat.

[4] Ritual memberikan sesaji kepada leluhur.

Cerpen

Yudistira Moksa

Cerpen Caligula Zaragyl

/1/ Judi Dadu

Yudistira bersama dengan rombongannya pergi ke Hastinapura untuk bermain judi dadu. Ia tak ingin kehormatannya sebagai raja dipermalukan. Apalagi tradisi zaman itu, etika kesopanan, kehormatan, keberanian juga terletak pada undangan bermain judi dadu. Yudistira yang seorang arip bijaksana pun juga sebenarnya dapat mengirimkan orang untuk menghadiri undangan itu. Namun, terlalu percaya dengan sikapnya yang arip bijaksana, merasa dapat memenangkan permainana judi dadu dengan mudah, apalagi kegemarannya bermain judi menjadi faktor utama untuk menerima undangan itu.

Duryudana menyambut rombongan Yudistira dan mempersilakan untuk beristirahat di balairung yang telah disediakan. Mereka dijamu dengan istimewa, segala aneka makanan ada, dan telah menyiapkan ratusan wanita penghibur. Keesokan harinya, rombongan Yudistira diantarkan ke balairung tempat bermain judi dadu. Ruangan yang sangat luas, seluruhnya dihiasi oleh permata yang berkilau, dindingnya tersepuh oleh emas, plafonnya terbuat dari kristal, lantainya penuh dengan corak unik, sekeliling penuh dengan lukisan tangan dalam bentuk bas-relief[1]yang menjelaskan keagungan dewa, karya mozaik dengan corak rumit, dan patung-patung berbentuk dewa. Mereka saling menyapa dan menempati tempanya masing-masing. Kurawa dan Pandawa saling berhadapan. Mereka segera ingin melihat siapa yang memenangkan judi dadu. Yama Widura, Bima, Sengkuni, Drona, Kunti, Krepa, Gendari, Dursasana, Citraksa, Karna, Citraksi, Kurawa dan Drestarata menjadi saksi permainan.

“Mari kita bermain judi dadu, Yudistira,” kata Duryudana.

“Bermain judi dadu menyebabkan permusuhan. Segala cara akan dikerahkan untuk mengalahkan lawan.”

“Apa yang salah dengan permainan judi dadu ini? Permainan ini hanya adu keterampilan dan keberuntungan saja. Semua orang dapat memainkannya.” Duryudana berusaha memancing Yudistira untuk bermain judi dadu. Ia ingin menguras segala kekayaan miliknya dan berusaha menyingkirkan Yudistira.

“Baiklah mari kita mulai permainan ini!”

Balairung penuh gemuruh penonton, segala makanan telah tersedia, dan wanita penghibur. Suasana semakin panas ketika dua pihak mulai meneriakkan caci maki. Duryudana mulai melemparkan dadu ke meja, berputar cukup lama, dan muncul angka seperti yang ia katakan. Yudistira semakin emosi setelah kalah bertaruh permata, emas, perak, dan barang yang dibawa ke Hastinapura. Ia berpikir untuk bertaruh lebih banyak dan berharap dapat mengembalikan taruhan yang telah kalah. Namun, nasib sial menimpa Yudistira, segala angka yang dikatakan olehnya tak ada yang keluar.

Duryudana tertawa terbahak-bahak. Ia telah memenangkan semua yang dibawa oleh rombongan Yudistira dan kerajaanya. “Mengapa tak mempertaruhkan saudaramu saja? Barangkali semua yang kamu pertaruhkan akan kembali lagi atau kamu akan memenangkan permainan ini!”

Yudistira terus didera kekalahan. Ia semakin tenggelam dalam tipu muslihat yang dilakukan oleh Duryudana. Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima telah dipertaruhkan. Tak ada satu pun kemenangan yang diperoleh Yudistira. Semuanya telah habis untuk dipertaruhkan. Duryudana, Sengkuni, Karna, Kurawa, dan Dursasana tertawa mengejek. Mereka ingin melihat Pandawa sengsara. Duryudana dengan segala tipu muslihatnya berusaha mengambi semua yang dimiliki oleh Yudistira.

“Semua telah kamu pertaruhkan dalam permainan dadu ini. Kau sudah tak mempunyai apapun kecuali Drupadi! Jika kau mempertaruhkan Drupadi dan memenangkan satu permainan, aku akan mengembalikan semuanya! Ini tawaran yang luar biasa!”        

Rombongan Yudistira menundukkan kepala. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan. Yudistira telah gelap mata dalam permainan judi dadu. Ia semakin terpancing untuk terus bermain dan berusaha untuk memenangkan permainan. Namun, Duryudana tetap yang memenangkan permainan. Ia telah mengambil kerajaan, kekayaan, prajuritnya, empat Pandawa, dan Drupadi.

Duryudana pun masih tak puas melihat Yudistira kalah. Ia tak hanya mengincar semua yang dimiliki Yudistira, tetapi juga ingin menyingkirkannya. “Aku ingin empat Pandawa mati!” kata Duryudana. Ia mengambil tumbuhan vida[2] dan menusukkannya ke jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka terkapar tak sadarkan diri. Tumbuhan vida itu tumbuh kelopak bunga berwarna merah. Setiap hari, bunga itu akan menyerap darah untuk sumber kehidupannya.

Yudistira hanya mampu menahan kesedihan. Ia tak bisa melarang Duryudana karena telah kalah taruhan. Pemenang bebas melakukan apapun terhadap barang, orang, atau hasil kemenangannya. “Kau dapat menghidupkan kembali saudara-saudaramu. Namun, kau harus mencari air suci untuk membunuh bunga itu. Jika kau mencabutnya dengan paksa atau memotongnya, saudaramu akan mati!” ucap Duryudana dengan nada mengejek dan sepersekian detik kemudian disusul oleh tawa terbahak-bahak dari Kurawa yang lain.

/2/ Moksa

Yudistira harus mencari air suci untuk menghidupkan saudaranya. Ia harus mendaki Gunung Candramurka yang dijaga raksasa, bernama Ruhmuka dan Rukmakala. Sepanjang perjalanan, Yudistira terus menyalahkan dirinya karena telah berbuat bodoh. Namun, penyesalannya tak akan pernah membuat semua kembali seperti semula, apalagi Dewata telah mencatatnya. Yudistira harus melewati sungai, lembah, tebing curam, dan di tengah jalan bertemu dengan burung elang yang mengigit Panca Kumala yang berbentuk ular. Ia ingin membiarkan saja karena merasa itu hukum alam. Semua hewan akan saling memangsa untuk bertahan hidup. Ketika melihat mata Panca Kumala lantas teringat dengan saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Yudistira lantas mengambil ranting kayu, melemparkannya tepat di mata elang, hal itu membuatnya melepaskan mangsanya. Ia berlari untuk menangkap Panca Kumala.

“Terima kasih telah menolongku.”

“Siapakah kau sebenarnya? Apakah kau siluman ular?” Yudistira terkejut ketika mendengar Panca Kumala yang berbentuk ular dapat bicara. Ia tak pernah mengira bahwa ular yang ditolongnya adalah Panca Kumala.

Panca Kumala berusaha menjelaskan siapa dirinya. Ia mendekat ke Yudistira dan berkata, “Aku bukan siluman. Aku anak dari Batara Guru.”

“Tidak mungkin anak dari Batara Guru berwujud seekor ular!”

“Aku telah memakan buah nitya pralaya[3] dan dikutuk oleh Brahma menjadi seekor ular.”

Yudistira membawa Panca Kumala bersamanya. Mereka sampai di puncak Gunung Candramurka. Mereka telah dihadang Ruhmuka dan Rukmakala. Pertarungan tak dapat dihindari. Pertarungan terjadi tujuh hari-tujuh malam. Sampai pada akhirnya Yudistira dapat memenangkan pertarungan. Tubuh Panca Kumala berubah menjadi besar dan melilit tubuh Rukmakala sampai tak bernapas, sedangkan Yudistira dapat membunuh Ruhmuka dengan menghancurkan jantungnya.

Mereka lantas melihat ke puncak Gunung Candramurka, tetapi tak ada air suci, yang ada hanyalah magma. Yudistira menangis membayangkan nasib saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Panca Kumala berkata, “Air suci itu hanya akan keluar pada naimittik pralaya[4].”

“Apakah itu artinya tak mungkin untuk mendapatkan air suci? Apakah saudaraku akan mati gara-gara kebodohanku?” Yudistira mendadak lemas dan menangis tersedu-sedu.

“Aku dapat memotong tumbuhan itu.”

“Aku minta tolong bantulah aku.”

Pada suatu malam, mereka menjalin tali asmara, dan hubungan intim yang mistis pun terjadi. Tubuh Panca Kumala kembali seperti semula. Kutukan itu dapat dihilangkan dengan cara hubungan intim. Ia kembali menjadi putri jelita yang mempunyai kecantikan dewi. Mereka menjalin hubungan suami istri. Hubungan berdasarkan saling suka, bersedia hidup bersama, dan itu menjadi syarat sah sebuah hubungan suami istri pada zaman itu.

***

Mereka menuju ke Hastinapura dengan waktu yang sangat cepat. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa tahun, tetapi hanya memakan waktu satu hari. Hal itu berkat kekuatan Panca Kumala yang mempunyai kekuatan mengendalikan waktu. Sesampainya di sana prajurit Duryudana menghadang mereka. Panca Kumala langsung memporak-porandakan seluruh kerajaan Duryudana. Melihat keadaan tersebut Sengkuni ikut terjun ke medan perang, dan pada akhirnya kalah di tangan Panca Kumala.

Yudistira berteriak supaya Duryudana keluar dan mengajaknya berperang. Akhirnya terjadi adu kesaktian, segala ilmu telah dikerahkan, dan semua ketangkasan memainkan senjata dikeluarkan. Namun, segala serangan tak ada yang mengenai tubuh Yudistira. Dia seakan di atas angin sedangkan Duryudana telah babak belur. Ia ingin menghancurkan kepala Duryudana. Namun, Drupadi berlari tergopoh-gopoh dan berkata, “Jangan bunuh dia!”

“Mengapa tak boleh membunuhnya, Istriku?”

“Aku mengandung anaknya. Aku tak ingin anak ini menjadi yatim!” Drupadi mengelus-elus perutnya yang sudah membuncit.

“Apa sebenarnya maksudmu?”

“Aku mengandung anak Duryudana.”

“Bukankah kau masih istriku?”

“Suami macam apa yang sudi menjadikan istrinya sebagai barang taruhan. Pergilah ke balairung, saudaramu masih berada di sana!”

Panca Kumala terkejut dengan kenyataan yang ada di depannya, mengelus-ngelus perutnya, dan berusaha untuk tabah. Ia tak pernah mengira Yudistira telah mempunyai istri. Mereka akhirnya pergi ke balairung. Yudistira tertunduk layu melihat saudaranya yang telah terbujur kaku. Ia mulai memegang jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka masih bernapas.

“Bagaimana aku harus memotong tumbuhan vida itu? Jika sembarangan maka saudaraku yang akan mati.”

Panca Kumala lantas  memotong taringnya, taring kanannya berubah menjadi senjata brahmanda astra, sedangkan taring kiri menjadi senjata nagapasham. Ia memotong tumbuhan vida dengan menggunakan senjata nagapasham. Seperdetik kemudian Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima hidup kembali. Yudistira memeluk mereka dan meminta maaf atas kesalahannya.

Panca Kumala pun memberikan senjata brahmanda astra kepada Yudistira. Berharap jika ada mara bahaya dapat membantunya. Namun, Yudistira menghunjamkan senjata itu tepat di jantungnya. Ia berpikir bahwa kematian menjadi gerbang menuju kehidupan selanjutnya untuk menjalani penebusan dosa.

                                                Ruang Sang Hyang Widhi, 11 Januari  – 23 September 2021.


Caligula Zaragyl, berdomisili di Demak. Bergiat di Prosa Tujuh. Penulis dapat disapa melalui Instagram @khafidhinnur.


[1] Pahatan pada permukaan yang sedikit menonjol

[2] Tumbuhan penghisap darah

[3] Pohon kematian

[4] Hancurnya Alam Semesta