Cerpen

Perempuan yang Berencana Mati Hari Ini

Cerpen Tiqom Tarra

Aku sedang bersiap dengan alat pancingku ketika melihat perempuan itu duduk sendirian di antara bebatuan karang agak menjauh dari dermaga. Aku tak berniat mengganggunya atau pun mengusik kegiatannya. Tempat ini adalah tempat di mana aku biasa menghabiskan waktu dengan memancing dan perempuan itu bebas berada di sana karena ini adalah tempat umum bagi siapa saja. Namun, ketika perempuan itu mulai terisak—bercampur dengan deru ombak sehingga aku tidak begitu menyadari sebelumnya—aku mulai menoleh padanya. Ada apa? Kenapa perempuan itu tiba-tiba menangis? Aku menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada siapa pun selain kami berdua di tempat ini. Orang-orang lebih memilih dermaga untuk memancing. Dan aku tak yakin apakah aku harus menanyakan keadaan perempuan itu dalam situasi seperti ini.

Tentu itu sebetulnya bukan urusanku. Setiap orang punya urusannya sendiri-sendiri di tempat ini, seperti aku yang hanya ingin memancing sebagai hobiku untuk mengisi waktu luang di sore hari. Ketika aku mulai melempar umpanku yang pertama kali, isakan dari perempuan itu semakin terdengar seolah dia ingin aku bertanya ada apa; seolah ingin aku memperhatikannya.

Ah, itu bukan urusanku, begitu kuyakinkan diri. Namun, ketika melihat wajahnya yang sembab dan air mata yang menderas, aku teringat pada mendiang anak perempuanku; hatiku luluh. Anggaplah perempuan itu memang sedang butuh kawan sekarang. Kutarik pancingku sebelum melangkah pada perempuan itu.

“Kau juga suka melihat ombak di sore hari?” tanyaku membuatnya tersentak seolah sedari tadi dia tidak menyadari keberadaanku, padahal dia yang menarik perhatianku dengan isakannya.

Perempuan itu tak menjawab. Dia hanya menyeka ingus dan air matanya dengan ujung lengan sweter sebelum kembali terisak dengan gigil di tubuhnya. Anak perempuanku pasti seumuran dengannya jika masih hidup. Dulu aku terbiasa menghadapi anak perempuanku jika tengah merajuk atau pun bersedih.

“Kau bisa bercerita apa saja pada ombak. Dia pintar menjaga rahasia.”

“Itu bukan urusanmu, Pak Tua!”

Aku terkekeh mendengarnya. Pak tua. Ya, itu memang panggilan yang pantas untukku karena uban yang begitu lebat di kepala. Aku duduk beberapa langkah darinya sembari memakai topi kesayanganku untuk menutupi uban yang sudah keburu ketahuan oleh perempuan itu.

“Enam puluh lima tahun memang sudah cukup tua untuk hidup di dunia ini. Mungkin sebentar lagi aku akan selesai.”

Perempuan itu tidak lagi bersuara. Kebisuan hadir di antara kami. Mungkin harusnya aku membiarkannya sendiri, tapi lagi-lagi aku teringat mendiang Mei, anak perempuanku. Angin pantai yang begitu kuat nyaris menerbangkan topiku. Beberapa tahun yang lalu, aku dan Mei sering menghabiskan waktu di sini. Aku memancing, sedangkan dia hanya duduk memperhatikanku sambil bercerita tentang sekolahnya, tentang teman-temannya dan ketika aku berhasil menangkap seekor ikan maka Mei akan berjingkrak dengan riang seolah itu adalah ikan yang akan menjadi makan malam yang paling dia nantikan.

Aku tersenyum mengingatnya. Andai Mei masih hidup. Mendadak hatiku diserang lara.

“Aku berencana untuk mati hari ini.” Perempuan itu tiba-tiba bersuara, mengaburkan ingatanku tentang Mei.

Kembali angin menderu dengan kencang, kali ini menerbangkan helaian rambut panjang perempuan itu. Dia tidak menghiraukan rambut panjangnya yang terbawa angin, sedangkan aku masih terpaku di tempatku; kehilangan kata-kata. Berencana untuk mati? Maksudnya bunuh diri? Itu kata-kata yang asing, tetapi juga sangat familier bagiku.

“Pasti akan lebih baik bagi keluargaku jika aku mati, bukan?” Kali ini perempuan itu menoleh padaku. Bibirnya membentuk senyum yang dipaksa, sedangkan matanya merah karena terus dipaksa mengeluarkan air mata.

“Tidak ada yang baik dalam sebuah kematian, apalagi yang direncana.” Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutku. Andai saja bisa aku ingin mengatakan kata-kata itu pula pada Mei.

“Aku tidak tahu bagaimana menghadapi dunia dengan keadaanku sekarang.”

“Apa kau punya teman?”

“Bahkan teman yang paling karib pun pergi meninggalkanku.”

“Tapi keluarga tidak akan pergi meninggalkanmu.”

Perempuan itu kembali terisak. Kali ini dia memeluk kedua lutut untuk menenggelamkan kepalanya, membuatku tidak lagi bisa melihat wajahnya yang ayu.

“Aku tidak kuat lagi menghadapi semua ini.” isaknya begitu pilu.

Angin kembali menyeret-nyeret ingatanku tentang Mei. Belasan tahun lalu menjadi hari paling memilukan dalam hidupku. Aku mendapat sebuah telepon, deringnya terasa begitu aneh bagiku, padahal setiap hari aku mendengar dering yang sama setiap kali mendapat panggilan telepon. Namun, hari itu ada yang aneh dengan deringnya. Dan ketika aku mengangkat telepon itu, suara di ujung sana mengatakan anak perempuanku ada di rumah sakit, kecelakaan katanya. Tidak, kau bohong, begitu kataku. Ketika aku sampai di rumah sakit, aku bahkan tidak bisa mengenali putri semata wayangku.

Sehari kemudian Mei dimakamkan dengan semua air mata yang keluarga kami punya. Putriku satu-satunya, orang yang paling aku sayang di dunia ini pergi meninggalkan kami. Istriku pingsan beberapa kali dan aku tidak tahu harus bagaimana menggambarkan kesedihanku. Rasanya kebahagiaan telah dicabut dari keluargaku. Mentari keluargaku telah pergi untuk selamanya. Setelahnya hanya ada kemuraman di rumah kami, meski kemudian aku dan istri bisa kembali menata kehidupan. Kami bangkit dari kesedihan, walaupun aku tidak pernah bercerita pada istriku tentang pesan terakhir yang Mei kirim padaku. Sebuah permohonan maaf dan ucapan selamat tinggal yang tidak bisa aku pahami maksudnya.

“Aku telah mengucapkan selamat tinggal pada ayah ibuku hari ini.” Perempuan itu telah menegakkan kembali tubuhnya. Matanya menatap jauh pada lautan yang luas di depan sana. Rambutnya yang panjang kini dia ikat menjadi satu; menampakkan lehernya yang jenjang.

Kapal-kapal kecil penangkap ikan mulai melaut dan menjauh dari pandangan; semakin jauh dan semakin kecil. Aku ingat impianku bersama Mei, kami ingin naik kapal pesiar suatu hari nanti. Sebuah kapal yang amat besar dengan fasilitas seperti hotel bintang lima, begitu katanya. Namun, yang terjadi Mei menaiki kapalnya sendiri dan meninggalkan kami dengan sebuah permohonan maaf dan selamat tinggal yang ganjil.

Apa yang terjadi pada Mei? Apa yang membuatnya menyerah pada hidupnya yang masih panjang. Aku ingat sehari sebelumnya dia bercerita tentang impian untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Mei ingin membuat Ayah bangga, begitu katanya. Aku masih tidak mengerti, bagaimanapun aku memikirkannya.

“Tapi itu bukan selamat tinggal seperti yang dibayangkan orangtuamu.” Kali ini aku mendebat. Bagaimana pun perempuan ini telah mengatakan rencananya untuk mati hari ini dan aku tidak bisa membiarkannya. Setidaknya jika aku tidak bisa menyelamatkan Mei, aku bisa menyelamatkan perempuan ini.

“Mereka bahkan tidak akan memusingkan tentang kematianku.” Kali ini perempuan itu membiarkanku melihat wajah yang sembap. Kepiluan yang menyanyat-nyayat hati. Rasa putus asa yang sudah tidak lagi berujung. Dan di sana hanya ada kegelapan.

Di awal-awal tahun kepergian Mei, aku memikirkan dengan keras apa alasannya meninggalkan kami. Apa yang tengah dialami seorang Mei dan tidak pernah dia ceritakan padaku atau pun ibunya, sedangkan sejak kecil tidak pernah ada satu cerita pun yang luput dia cerita pada kami. Apa yang Mei rahasiakan? Apa yang membuatnya nekat melompat ke rel tepat ketika kereta itu datang. Aku sama sekali tidak punya petunjuk.

“Apa yang terjadi?” desisku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada putriku. Pertanyaan yang selama ini hanya sampai pada angan-anganku karena aku tidak mau membuat istriku sedih dengan memikirkan kematian putri kami.

“Suara-suara dalam kepalaku begitu gaduh dan tidak ada lagi tempat yang bisa aku tuju, Pak Tua. Aku takut sendirian, tapi nyatanya aku memang sendirian.”

Mungkin perempuan ini memang tidak lagi punya alasan untuk hidupnya; entah sekadar sebuah alasan kecil untuk melanjutkan hidup seperti keluarga. Akan tetapi, Mei adalah seorang anak yang aku besarkan dalam kehangatan keluarga. Semua kasih sayang tercurah hanya untuknya. Mei dan perempuan di sampingku ini jelas berbeda.

“Kau bisa bercerita apa pun padaku,” terdengar seperti sebuah gombalan laki-laki hidung belang.

Perempuan itu hanya tersenyum sayu. Anak-anak rambutnya beterbangan menyapu wajahnya.

“Bisakah kau bertahan sebentar lagi, setidaknya untuk hal-hal kecil seperti aku menunggu ikan memakan kailku?”

Hening. Baik aku maupun perempuan itu hanya larut pada pikiran masing-masing. Kami diam memandang senja yang semakin turun hingga hari mulai menjadi gelap tanpa kami rasa.

“Bukankah putrimu juga meninggalkanmu, Pak Tua?”

Aku tidak tahu bagaimana perempuan itu tahu tentang putriku. Aku masih tergagap hendak bertanya ketika perempuan itu berdiri, bersiap untuk pergi.

“Aku tidak ingin mati di hadapan orang yang mendengar kisahku. Aku akan tetap mati hari ini seperti yang telah aku rencanakan.” Perempuan itu mulai melangkah. Ujung sweternya berkibar tertiup angin yang kencang menampilkan perutnya yang membuncit. Itu sekitar lima atau enam bulan, bukan? Aku tahu karena dulu aku selalu memperhatikan kehamilan istriku.

“Tunggu, siapa namamu?”

“Mei. Namaku Mei.”***


Tiqom Tarra, lahir dan besar di Pekalongan. Kini tinggal di Jembrana, Bali. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di pelbagai media. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (2018).

Cerpen

Disforia

Cerpen Tiqom Tarra

Dari semua musisi di dunia, pria di sebelahmu memilih Yiruma. Dia menyukai melodi-melodi yang membuat hati sedih. Kenapa, tanyamu. Karena sama seperti hidupku yang penuh kesedihan.

“Kalau begitu bagilah kesedihan itu padaku. Akan kutukar kesedihan itu dengan cinta dan kebersamaan.”

Pria itu hanya akan tersenyum mendengar ucapanmu. Kau tahu itu bukan senyum persetujuan karena setelahnya dia akan mengubah posisi tubuhnya untuk membelakangimu. Dia tak ingin menatapmu, terlebih dia tak ingin menganggapmu ada di sampingnya; dalam kamar yang sunyi sesudah percintaan kalian, pria itu membuat jarak denganmu. Selalu.

***

Kau masih melewati jalan yang sama setiap hari. Deretan toko, lalu lalang kendaraan, dan pedagang kaki lima menemanimu hingga sampai di sebuah halte. Untuk beberapa lama kau akan berdiri di sana menunggu bus yang akan membawamu pulang. Halte ini telah banyak berubah; warna catnya, kondisi bangku, bahkan atap yang mulai berlubang. Deretan toko yang kau lewati pun telah banyak berubah. Hanya kau di sini yang tidak berubah; berangkat dan pulang melewati jalan yang sama, melakukan hal yang sama setiap hari. Benar-benar monoton. Tak ada yang menarik dari hidupmu.

Dalam tiap langkah menuju halte, sering kau berpikir, apakah kau akan menjalani hidupmu seperti ini terus? Melewati jalan yang sama, berdiri di tempat yang sama, memikirkan hal yang sama setiap hari sampai kau tua dan mati?

Dari kaca etalase toko, kau menatap pantulan dirimu yang kurus, lusuh dengan rambut yang diikat seadanya. Wajahmu tampak memprihatinkan alih-alih tampak seperti gadis yang menginjak usia dua puluhan. Ternyata hanya satu hal yang berubah dari dirimu, yaitu usia yang bertambah tua.

Pikiranmu melayang pada ibumu di rumah yang lumpuh entah sejak kapan. Daya ingatmu tak cukup baik untuk mengingat sejak kapan ibumu lumpuh, tapi yang kau ingat kau tidak memiliki ayah sejak lahir. Dan itu tak masalah bagimu. Setidaknya kau masih punya alasan untuk tidak mengakhiri hidup.

Sampai di halte, hanya ada sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran merayu satu sama lain. Kau tak tertarik dengan mereka. Perhatianmu justru tertuju pada sebuah mobil sedan yang berhenti di seberang jalan sana. Seorang perempuan berambut kemerahan ditarik paksa untuk keluar dari mobil oleh seorang pria. Mereka terlibat adu mulut hingga si perempuan menangis. Si pria berbicara lagi, memaki dan menendang ke udara. Kau tak tahu apa yang mereka bicarakan karena jarak kalian cukup jauh, belum lagi terhalang oleh suara kendaraan yang lalu-lalang. Perempuan berambut kemerahan itu hanya bisa menangis hingga si pria masuk ke dalam mobil mewahnya dan melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga busmu datang dan mulai melaju, kaulihat perempuan berambut kemerahan itu masih menangis tanpa memedulikan sekelilingnya. Ah, itu bukan urusanku, ucapmu sembari menyandarkan punggungmu yang lelah pada sandaran kursi.

Entah mengapa melihat mereka kau risih. Mereka bertengkar di pinggir jalan, menangis, seolah mereka sedang main drama. Kau tak suka drama kehidupan karena kau hanya bisa menjadi penonton. Hidupmu terlalu biasa saja untuk ikut ambil bagian dari sebuah drama besar di dunia. Bahkan, jika tiba-tiba kau meninggal tak akan ada yang berubah dari dunia ini kecuali ibumu yang mungkin akan segera menyusulmu.

Esoknya, seperti biasa kau berada di halte yang sama, di waktu yang sama pula. Membawa dua kilo beras untuk persediaan di rumah, juga beberapa butir telur, kau menunggu bus. Namun, tatapanmu kemudian tertuju pada sosok perempuan yang berdiri di seberang jalan. Perempuan yang kemarin bertengkar dengan kekasihnya. Apa dia tidak pulang dan 24 jam berdiri di sana seperti orang bodoh? Namun, melihat pakaiannya kau yakin dia telah pulang ke rumah karena seingatmu kemarin dia memakai kemeja biru dan sekarang memakai sweter merah.

Cukup lama kau memperhatikannya yang masih menunduk entah memikirkan apa. Hingga kemudian dia mengangkat wajahnya dan tatapan kalian bertemu. Kau yakin dia menatapmu dari seberang sana.

Kau tak suka caranya menatapmu, terlebih dengan rambut kemerahannya yang berkibar. Ada rasa benci dan iri yang sangat dalam dari tatapan perempuan itu padamu. Apa yang membuatnya menatap begitu benci? Apa karena kau melihatnya kemarin saat dia bertengkar dengan kekasihnya? Salah mereka bertengkar di tempat umum. Perempuan itu tak seharusnya membencimu.

Lalu apa yang membuatnya iri? Karena kau membawa dua kilo beras dan beberapa butir telur? Melihat apa yang dia kenakan juga tas yang dia bawa, pasti perempuan itu orang kaya. Kau yakin upahmu bekerja seumur hidup di sebuah toko kelontong pun tak akan bisa membeli tas yang perempuan itu pakai. Lalu kenapa dia harus iri padamu?

Kau menatapnya tanpa memedulikan lalu-lalang kendaraan; menantangnya bahwa hidupmu yang lebih memprihatinkan. Namun, semakin kau menatap ke dalam matanya kau merasakan suatu perasaan yang belum pernah kau rasakan. Apa ini? Kau mengusap dadamu. Rasanya benar-benar lara, seperti ada yang menyayat-nyayat hatimu begitu dalam dan pelan.

Kau menatap perempuan itu lagi, dia mengangguk perlahan. Patah hati, itu yang kini tengah dia rasakan. Kau tidak pernah merasakan patah hati karena hidupmu terlalu monoton untuk merasakan cinta. Namun, dari tatap perempuan itu, kau tahu bahwa patah hati sangat menyakitkan.

Napasmu mulai sesak entah karena apa, seolah ada bongkahan batu yang mengganjal di dadamu. Sekeras apa pun kau memukul-mukul dadamu, rasa sesak itu tetap ada dan kian parah. Kembali kau menatap perempuan berambut kemerahan itu; matanya memerah seperti rambut kemerahannya yang berkibar. Perempuan itu tengah mengadu padamu.

“Kenapa aku?” Kau tidak mengerti. Kenapa perempuan itu harus mengadu padamu. Dan kenapa dia harus membagi rasa patah hatinya padamu.

Kau nyaris muntah andai busmu tak datang dan kau segera menghambur masuk. Kau tak bisa membendung air matamu. Kenapa rasanya sesakit ini? Tanganmu gemetar hebat dan kau hanya bisa menumpahkan tangismu hingga membuat orang yang duduk di sebelahmu menatap heran.

Sesampainya di rumah kau segera menghambur ke tempat tidur, menangis sepuasnya. Ini perasaan yang asing, tapi juga familier bagimu. Apa kau pernah merasakan patah hati? Tiba-tiba kau termenung.

“Pernahkah?” Kau bertanya pada dirimu sendiri.

Ingatanmu sangat buruk; banyak hal di masa lalu yang tidak bisa kau ingat dan itu membuatmu frustrasi. Untuk sejenak kau menatap langit sore dengan semburat merah persis seperti rambut perempuan di seberang jalan tadi. Kau masih termenung menghayati perasaan di hatimu hingga ibumu memanggil dari biliknya.

Tubuh kurusnya makin menyatu dengan kasur yang sudah kumal. Ah, kau belum bisa membelikan kasur yang lebih bagus untuknya dan itu membuatmu merasa bersalah.

“Kemarilah,” ucap ibumu dengan lambaian tangan. Tangan itu sama sekali tak berdaging; hanya tulang yang dibungkus kulit kering.

Kau mendekat. Duduk di lantai agar wajahmu dekat dengan wajah ibumu.

“Kau telah berjuang dengan keras.”

Kau tak mengerti apa yang ibumu maksud. Kau tak merasa telah berjuang dengan keras selama hidupmu. Kau hanya menjalaninya dari waktu ke waktu, tua, hingga waktunya bagimu untuk mati. Atau mungkin kau akan mengakhiri hidupmu jika memang kau tak lagi punya alasan untuk hidup.

“Hiduplah dengan baik.”

Kau masih tidak mengerti. Namun, kau sedang tak ingin berpikir, rasa sakit di dada membuatmu hanya ingin kembali ke kamarmu dan berbaring; melupakan hari ini, melupakan perempuan berambut kemerahan itu.

Kau terbangun ketika suara ribut-ribut tetangga yang memulai pagi. Kau tidak berniat untuk berangkat kerja hari ini; membiarkan gajimu yang tidak seberapa dipotong bosmu yang pelit meski kau telah bekerja untuknya selama bertahun-tahun. Hingga siang kau hanya mengurung diri di kamar. Sekali waktu keluar, membuat makanan untuk ibumu, mengurusnya yang sudah tidak mampu melakukan apa pun. Kau kembali menekuni rasa sakit di hatimu. Siapa perempuan itu? Kenapa dia patah hati? Apa yang terjadi padanya?

Kau merasa pernah bertemu dengannya. Entah kapan dan di mana. Rasanya itu sudah lama sekali. Kau berdecak. Ingatanmu yang bebal sangat menyusahkan! Tak ada yang bisa memberimu penjelasan kecuali perempuan itu. Dan tak ada salahnya bertanya. Perempuan itu yang telah membuatmu merasakan sakit. Maka, kau mulai melangkah menuju halte, berharap perempuan itu berada di sana seperti kemarin.

Namun nihil. Perempuan berambut kemerahan itu tidak ada di seberang jalan sana. Apa dia belum datang? Kau tak tahu. Langit masih benderang, dan ini bukan waktu di mana kau pulang kerja. Kau hanya bisa berdiri di halte. Menunggu. Hidupmu yang monoton membuatmu terlatih untuk menunggu.

Sepasang muda-mudi yang kasmaran duduk di bangku halte seperti kemarin. Kau tidak ingat apakah sebelum hari kemarin mereka juga selalu berada di halte ini bersamamu. Kau tahu, kau tidak bisa mempercayai ingatanmu yang bebal, maka kau hanya akan menunggu, menunggu, hingga sebuah mobil sedan yang samar-samar kau ingat berhenti di seberang sana.

Ah, itu dia! serumu.

Perempuan itu turun dari mobil. Seorang pria juga turun, memeluk perempuan itu untuk beberapa lama sebelum kembali masuk mobil dan melaju. Pergi. Dan tinggallah perempuan itu sendirian.

Dia hanya berdiri di trotoar seperti patung di antara lalu lalang kendaraan yang pengendaranya ingin segera sampai rumah. Pias wajahnya, sayu matanya seolah menjadi magnet bagi kakimu untuk melangkah. Kau harus ke sana dan bertanya.

“Wanita jalang,” ucap sepasang muda-mudi di belakangmu. Mereka tertawa pelan seolah tengah mengejekmu meski kau tahu kata-kata mereka barusan ditujukan untuk perempuan di seberang jalan sana.

Kau hendak melangkah ketika melihat perempuan itu menghamburkan dirinya tepat di depan sebuah truk yang melaju. Waktu seolah berhenti. Kau melihat perempuan itu terhamtan dengan keras sebelum warna merah berhamburan dari tubuhnya seperti setangkai mawar merah yang dihentakkan dengan cepat membuat kelopaknya berhamburan.

Kau seperti terseret ke dimensi lain. Satu per satu ingatan yang sebelumnya begitu sulit kau ingat muncul di kepalamu, termasuk perasaan asing namun familier di hatimu.

Kau bukan tak pernah mengenal perasaan itu. Namun, kau sendiri yang berusaha menghilangkannya dari otakmu. Kau menghapus semua emosi dalam dirimu seperti kau menghapus kenangan tentang Ayah dari hidupmu.

Kau bukan tak pernah memiliki Ayah, tapi kau sendiri yang menghapusnya dari benakmu, ketika dia menyentuhmu dan memenuhi dirimu dengan tubuhnya. Ketika kau dendam dan mengubur nama ayahmu selama-lamanya dari hidupmu seperti kau mengubur tubuh menjijikannya tepat di belakang rumah, kemudian kau melanjutkan hidup seolah kau tak pernah memiliki Ayah sejak lahir. Pun ketika kau mencintai seorang pria dan dia tidak punya pilihan lain selain meninggalkanmu karena baginya kau hanya penjual dan dia pembeli.

Itu yang terjadi, dan perempuan berambut kemerahan itu mengingatkanmu bahwa kau sendiri yang memilih hidupku yang membosankan. Berlindung di bawah halte tua, melewati jalan yang sama setiap hari hanya untuk mengubur semua kenangan pahit.

Malam telah gelap. Pelan, kau mendengar alunan instrumen Yiruma. Pada siapa kau bisa membagi kesedihanmu dan menukarnya dengan cinta serta kebersamaan?****


Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Kini tinggal di Jembrana, Bali. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di media cetak dan daring. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (2018).

Cerpen

Kupu-Kupu di Kamar Mei

Cerpen Tiqom Tarra

Aku tidak tahu bagaimana kupu-kupu itu muncul dan memenuhi setiap jengkal kamar Mei, kakak perempuanku. Mereka hinggap di lemari, beterbangan di atas ranjang, dan berkerumun di meja rias. Aku pikir ratusan kupu-kupu itu berasal dari taman bunga tak jauh dari rumah kontrakan Mei, tapi aku salah; tak ada taman bunga di sekitar permukiman di mana Mei menyewa sebuah rumah. Kupu-kupu itu tidak berasal dari mana pun, melainkan muncul begitu saja di kamar Mei seolah mereka berkembang biak di sana.

“Kakak memelihara kupu-kupu?” tanyaku saat pertama kali memasuki rumah kontrakan Mei. Sudah empat tahun ini Mei merantau ke ibu kota untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah sembari bekerja.

Ini pertama kalinya aku mengujungi Mei. Dia selalu menolak ketika aku atau keluargaku yang lain ingin mengunjunginya. Namun, kali ini Mei mengiyakan permohonanku untuk tinggal sementara di kontrakannya sembari menghabiskan waktu libur sekolah.

Ketika kutanya perihal kupu-kupu di kamarnya, Mei tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa mereka semua hanya menemani dirinya.

“Sepi sekali karena jauh dari keluarga,” ucapnya.

Aku bisa mengerti. Hidup jauh dari keluarga demi melanjutkan pendidikan dan membantu ekonomi keluarga tidaklah mudah. Jujur, aku salut padanya; dia membiayai sendiri kuliahnya dengan bekerja, dan sebagai anak tertua Mei selalu mengirim uang untuk membantu keluarga dan adik-adiknya. Apalagi sepeninggalan Ayah ekonomi keluarga kami terus memburuk.

Mei menjadi kebanggaan Ibu. Setiap hari, Ibu bercerita tentang Mei yang kelak akan menjadi seorang sarjana. Kadang, aku cemburu ketika Ibu selalu membangga-bangga Mei secara berlebihan, tapi Mei memang telah melakukan segalanya demi pendidikan dan keluarga.

Setiap pagi jumlah kupu-kupu di kamar Mei terus bertambah hingga aku tidak bisa menghitung saking banyaknya. Ketika Mei keluar kamar, banyak sayap kupu-kupu yang patah menempel di tubuhnya, tapi dia tidak peduli. Mei hanya akan langsung masuk ke kamar mandi untuk membilas semua sayap-sayap itu.

“Pasti pekerjaan Kakak berat, ya?” basa-basi aku bertanya ketika kami menyantap nasi uduk untuk sarapan.

Mei terlihat sangat kelelahan dan aku baru tahu kalau dia pulang bekerja pukul tiga dini hari. Pasti sangat melelah, apalagi paginya Mei harus kuliah.

“Kakak sudah terbiasa. Ini tidak seberat yang kamu pikirkan,” jawabnya.

Ah, kakakku ini memang benar-benar pekerja keras. Diam-diam aku berdoa semoga aku juga bisa sepertinya; menjadi kebanggan Ibu dan keluarga.

“Hari ini aku harus langsung ke tempat kerja. Kamu tidak perlu menungguku pulang.”

Setelahnya Mei pergi dan hingga pukul lima dini hari dia belum juga pulang. Aku tentu khawatir meski berulang kali Mei mengatakan dia memang biasa pulang pagi karena kerja sif malam. Namun, tetap saja aku khawatir. Bagaimanapun, Mei adalah perempuan, dan berada di luar ketika malam sangatlah berbahaya.

Aku beranjak dari kamarku kemudian membuka pintu kamar Mei. Di sana kupu-kupu makin banyak jumlahnya, berebut tempat, berputar-putar di atas ranjang seperti angin puting beliung.

“Dari mana sebenarnya kalian berasal?” gumamku diikuti suara kunci yang diputar. Tak berapa lama Mei muncul dari balik pintu dengan wajah kusut kelelahan.

“Kamu tidak tidur?” tanya Mei sembari melangkah masuk. “Bukankah aku sudah bilang untuk tidak menunggu?”

“Aku bukan tidak tidur, tapi sudah bangun. Ini sudah subuh, Kak.”

Mei tidak menjawab. Dia hanya membuang napas berat sebelum menutup pintu kamar dengan ribuan kupu-kupu di dalamnya. Mei tidak keluar setelahnya. Dia baru keluar ketika hari sudah beranjak senja.

“Selesai makan Kakak ingin kamu ke minimarket depan gang untuk beli beberapa kebutuhan dan jangan pulang sebelum jam sepuluh.” Mei memberiku beberapa lembar uang dan daftar belanjaan.

“Kenapa aku tidak boleh pulang sebelum jam sepuluh?”

Mei tidak menjawab. Dia hanya melanjutkan makan, sedangkan aku diselimuti banyak pertanyaan tentang kakakku ini. Apa yang sedang disembunyikan Mei?

“Besok aku ingin melihat tempat kerja Kakak.” Entah apa yang aku pikirkan ketika mengatakan itu. Namun, aku tahu Mei menyembunyikan sesuatu dariku.

“Untuk apa?” Kali ada nada kesal yang begitu kentara dari suara Mei. Dia mendengus sebelum meletakkan sendoknya ke piring yang menimbulkan suara nyaring. “Bukankah kamu ke sini untuk liburan?”

“Aku hanya ingin tahu tempat kerja Kakak.”

“Tidak perlu. Sekarang pergilah ke minimarket dan jangan kembali sebelum jam sepuluh.”

Setelahnya tidak ada pembahasan lagi; Mei beranjak ke kamar, membanting pintu kamar dan tidak keluar lagi. Dan itu bukan terakhir kalinya Mei bersikap sedemikian rupa ketika aku membahas tentang tempat kerjanya. Mei selalu menghindari pertanyaanku.

***

Aku tahu ada yang disembunyikan Mei dariku. Di malam-malam tertentu dia menyuruhku ke minimarket dan tidak mengizinkanku pulang hingga waktu yang dia tentukan? Aku tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan Mei. Dia selalu marah ketika aku memaksa untuk ikut ke tempat kerjanya. Kenapa dia selalu pulang pagi? Dan yang membuatku terus berpikir adalah mengapa kupu-kupu di dalam kamarnya kian banyak seolah akan meledakkan kamar itu? Ada yang aneh antara Mei, pekerjaannya, dan ribuan kupu-kupu di kamarnya.

Sejujurnya, ada satu kesimpulan yang diam-diam aku pikirkan tentang Mei. Namun, memikirkannya saja membuatku sedih. Tidak mungkin Mei melakukannya. Tapi lagi-lagi dia memintaku ke minimarket dan tidak boleh pulang sebelum pukul sepuluh malam.

Demi menyudahi rasa penasaranku, kuhentikan langkah. Aku harus mendapat jawabannya malam ini juga, maka aku berbalik arah. Setengah berlari aku menuju rumah kontrakan Mei. Di sana ada sebuah motor terparkir, padahal ketika aku berangkat ke minimarket tadi belum ada motor itu. Segera aku membuka kunci pintu dan melangkah masuk.

Mungkin harusnya aku tidak perlu kembali ke rumah Mei dan tetap bertahan di minimarket seperti perintahnya. Atau mungkin harusnya aku tidak perlu datang menyusulnya ke perantauan dan tetap di kampung dengan segala kebanggaan tentang kakakku itu. Namun, di sini, tepat di depan kamarnya aku melihat kenyataan tentang Mei.

Ketika kubuka kamar itu, aku melihat ribuan kupu-kupu beterbangan menyesaki kamar Mei. Kupu-kupu itu lahir dari dua tubuh di atas ranjang yang sedang mereguk kenikmatan.***


Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Media Indonesia, detik.com, Gogirl, Fajar Makassar, Harian Solopos, Radar Surabaya, dan ideide.id. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (JWriting Soul, 2018).

Cerpen

Perona Merah di Wajah Ibu

Cerpen Tiqom Tarra

Sejak perceraiannya dengan Ayah, Ibu tak mau lagi berhias. Sekadar memulas pemerah bibir atau perona pipi pun ia enggan. Hanya sebuah sisir yang ia gunakan untuk merapikan rambut panjang, selebihnya segala macam perlengkapan rias ia singkirkan dari kamar. Bagiku, pucat wajah Ibu sama halnya dengan layu dirinya. Seperti bunga yang kehilangan warna, Ibu memudar.

“Aku berhias hanya untuk ayahmu, tapi sekarang tak ada lagi alasan bagi Ibu untuk melakukannya.”

Aku tak lagi bisa memaksanya, meski aku rindu melihat Ibu yang berlama-lama di meja rias untuk menabur bedak, menyamarkan garis-garis di kening, menghilangkan lingkaran hitam di sekitar mata, dan membuat bibir yang selalu tersenyum itu menjadi merah serupa buah stroberi. Aku rindu melihat Ibu yang sibuk mematut wajahnya di cermin dan merasa percaya diri bahwa dialah wanita paling cantik di dunia; tak ada wanita lain!

Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti dan memahami keputusan kedua orangtuaku untuk bercerai. Aku tak mau terlalu egois dengan mengharapkan sebuah keluarga utuh hanya demi status sosialku di masyarakat sedangkan aku tahu ada gejolak dalam keluargaku. Aku mengerti inilah yang terbaik. Meski itu tidak berarti aku mengerti mengapa Ayah lebih memilih wanita lain.

Kurang cantikkah Ibu? Kurang baikkah Ibu? Bagiku Ibu adalah seorang wanita yang sempurna; ibu yang baik dan istri yang teladan.

Selalu ada buah yang lebih segar. Mungkin itu yang menggoda Ayah. Usia Ibu memang tak bisa dibohongi atau ditutup dengan perias wajah, sedangkan Ayah menginjak masa pubertas kedua. Ayah berpaling pada sekretarisnya yang matang, yang senyumnya lebih menggairahkan, berkulit mulus kencang. Sejak itu begitu banyak pertengkaran, amarah yang tak lagi bisa dibendung, kekecewaan tak lagi bisa diadang. Mereka menyerah dalam persidangan.

“Tak bisa Ibu bayangkan ayahmu menghabiskan malam bersama wanita lain. Lebih baik Ibu sendiri daripada menghadapi kesakitan berbagi.”

Selepas hari persidangan Ibu menghapus riasan di wajahnya dan sejak itu tak pernah lagi aku melihat ia berhias. Ia biarkan garis-garis halus muncul di wajah. Ia biarkan pipi itu mengendur tak berperona. Ia biarkan bibir tanpa senyum itu mengering. Ibuku seperti seorang yang tengah sekarat dan sebentar lagi malaikat maut mengambilnya.

Kadang ingin aku berkata, jika bercerai adalah pilihan agar Ibu tak harus dimadu, mengapa Ibu berkabung dalam duka? Bukankah akan lebih baik jika Ibu tunjukkan pada Ayah bahwa Ibu bisa tetap bahagia, bahwa Ibu tak membutuhkan seorang laki-laki yang tak setia? Mungkin memang benar Ibu telah cinta mati pada Ayah dan sekarang Ibu tahu bahwa cinta itu tak lagi terbalas. Maka, pada sebuah kekecewaan yang mahakuat Ibu menyerah, memilih berkabung dan tak lagi bisa melihat dunia seperti dulu.

Aku teringat pada nenekku yang ditinggal mati oleh Kekek. Bagiku mereka adalah gambaran cinta sejati. Kakek dan Nenek telah melewati waktu yang teramat panjang untuk saling mencintai, saling menjaga dalam kasih dan duka. Dan ketika ajal itu merenggut Kakek, Nenek tak mampu lagi bertahan meski berulang kali ia katakan ikhlas. Tepat sebulan sejak kepergian Kakek, Nenek menyusulnya setelah menahan kesakitan rindu yang dihasilkan dari perpisahan. Mereka dimakamkan bersebelahan.

Aku yakin di surga mereka telah bahagia; menghabiskan keabadian dalam cinta selamanya. Aku pun yakin Ibu ingin memiliki cinta yang sama seperti kedua orangtuanya; menikah, hidup bersama sampai tua, mati, dan bertemu kembali di surga. Namun, Ayah berkehendak lain.

“Maafkan Ayah, Nak,” kata Ayah seusai persidangan.

Aku tak cukup dewasa untuk mengerti bagaimana seorang laki-laki yang telah bersumpah setia, mengingkari janji demi seorang wanita lain. Dan aku tak cukup dewasa untuk mengerti arti kesedihan yang ditunjukkan Ibu. Bagiku tak mengapa mereka berpisah, tapi aku berharap mereka bisa mendapat kebahagiaan satu sama lain. Bukankah itu impas?

“Kau hanya belum mengerti, Nak,” kata Ibu.

Ya, aku memang belum mengerti. Aku biarkan Ibu dalam kesedihannya; hari-hari berlalu dengan kepucatan di wajah Ibu. Ia menua lebih cepat, seperti Nenek yang menemuai ajal lebih cepat demi bertemu kakek.

Aku pikir setahun atau dua tahun cukup bagi Ibu, tapi aku salah; ia tetap melanjutkan kesedihannya. Bahkan di hari pernikahanku, putri semata wayangnya, ia tetap tak berhias. Meski terkadang menampakkan senyum di bibir, tapi tetap saja ia serupa pelayat yang mengantar jenazah ke liang lahat dengan muka pucat, baju serba hitam. Pasti karena itu ada orang yang berbisik, “Mungkin ibunya tidak merestui.”

Sejak itu aku mengenal arti kata benci. Tak seharusnya Ibu begitu keras kepala hanya untuk menunjukkan kesedihannya ditinggal kekasih hati. Bagaimanapun aku anaknya yang ingin semua sempurna di hari pernikahanku. Mau ditaruh di mana mukaku ketika mertuaku bertanya perihal Ibu? Aku hanya bisa menunduk dalam-dalam padahal aku telah menyiapkan kebaya indah berwarna merah muda untuk Ibu; kebaya yang jauh hari sudah aku wanti-wanti untuk Ibu kenakan, tapi Ibu lebih memilih pakaian pelayat.

Jika Ibu berkabung begitu lama untuk sebuah kekecewaan pada Ayah, maka aku bisa membenci dengan waktu yang sama lamanya untuk kekecewaan pada Ibu. Aku hengkang dari rumah yang membesarkanku. Mengubah kesepakatan dengan Mas Bram, suamiku, bahwa kami akan tinggal di rumah orangtuaku demi menjaga Ibu. Aku memilih tinggal jauh dari Ibu.

Aku tahu tak seharusnya aku membenci Ibu untuk keputusannya. Mas Bram selalu menasihatiku, tapi aku tak bisa. Aku terlalu kecewa.

“Mungkin kamu hanya belum mengerti arti kesedihan Ibu,” kata Mas Bram setiap aku menolak untuk mengunjungi Ibu.

Bertahun lamanya aku memelihara kekecewaan. Hingga anakku lahir, aku belum pernah sekalipun menjenguk Ibu. Aku yakin ia masih dalam perkabungannya; mengenakan pakaian serba hitam, tanpa perona di pipi, apalagi lipstik di bibir. Aku hidup bahagia dengan keluarga kecilku, hingga kusadari ada yang sedang bermain di belakangku.

Mas Bram jadi lebih jarang pulang ke rumah. Ada saja alasannya dan aku mulai curiga. Ketika kutanya ia marah, mengatakan bahwa aku tak seharusnya curiga apalagi menuduhnya macam-macam. Ia tak tahu kalau sudah memegang bukti-bukti perselingkuhannya dengan seorang klien. Bisnis katanya, padahal mereka memadu cinta di pulau seberang.

“Mari kita akhiri saja,” tukasnya.

Harusnya aku yang mengatakan itu. Sejujurnya aku mungkin bisa berbagi, tapi Mas Bram tidak mau. Ia lebih memilih menceraikanku untuk bisa bersama kekasihnya yang baru. Hingga putusan persidangan dibacakan Mas Bram tak pernah sekalipun datang; ia meninggalkan rumah besar kami, mengabaikan putra kecil kami. Rumah ini serasa kuburan yang sepi dan penuh kesedihan.

Di depan cermin di mana biasanya aku mematut diri untuk merasa menjadi yang paling cantik untuk suamimu, kuhapus lipstik di bibir, perona di pipi, dan menggerai rambutku yang panjang. Tak ada lagi cinta yang tersisa. Tak ada lagi gunanya aku merias wajah karena kekasih yang begitu aku puja memilih wanita lain.

“Pakailah.” Ibu datang dengan senyum tipis di wajah. Disodorkannya selembar baju berwarna hitam padaku.

Seperti inikah yang selama ini Ibu rasakan? Ketika kekasih hati pergi, bukan untuk Tuhan, melainkan untuk wanita lain, maka separuh jiwaku telah mati. Kini yang tersisa adalah perkabungan panjang karena aku tahu tak akan ada cinta yang lain. Bisa saja saat ini Ibu mengatakan alasannya tentang apa yang selama ini ia sikapkan, tetapi tidak ia lakukan.

***

Bojong, 29 Januari 2019

Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Selain menulis cerpen dan novel, kini menggeluti seni doodle. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Harian Solopos, Radar Surabaya, Fajar Makassar, dan Gogirl! Web Story. Runner up lomba novelet Loka Media dengan novelet Renjana (Loka Media, 2017). Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (JWriting Soul, 2018).

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI