Cerpen

Pesan Rahasia dari Virus AUX-20-Blue

Cerpen Fina Lanahdiana

“Sekali kita masuk ke dalam sesuatu, maka mustahil untuk bisa benar-benar keluar darinya.” Itu merupakan pesan pembuka dari sebuah suara yang diputar berulang-ulang oleh Qeff di waktu luangnya menikmati kesendirian, di ruang pribadi yang didesain minimalis dengan suasana senyaman mungkin. Perpaduan ruang kerja sekaligus tempat bersantai.

Ada sebuah kotak aquarium berisi ikan-ikan yang bisa dikeluarkan dan disembunyikan secara otomatis, seolah-olah menerobos ke dalam dinding. Ada pohon-pohon kecil berjajar di pot yang berada di dekat tumpukan buku-buku yang juga bisa ditata sedemikian rapi menggunakan sebuah tombol sentuh, bisa dibayangkan seperti sebuah mesin dispenser berisi buku-buku yang bisa diatur ulang apakah akan menatanya sesuai abjad judul, nama penulis, warna kover, atau suka-suka pemiliknya. Di sebelahnya, ada sebuah monitor berukuran 21 inci. Ruangan itu sepenuhnya kaca, agar bisa memenuhi kesan berada di tempat yang terbuka. Sementara di hadapannya, sebuah jendela secara suka rela menjadi tempat pertukaran cahaya dan warna.

Sekilas tampak biasa saja, tapi sebenarnya ruangan itu bisa ditenggelamkan ke dalam tanah yang di permukaannya ditumbuhi rumput hijau segar, menyenangkan mata siapa saja yang melihatnya. Itu dilakukannya untuk memberi kesan bahwa dirinya sedang pergi bekerja dengan suasana yang nyaman.

Dunia memang banyak berubah setelah virus AUX-20-Blue menyerang di hampir seluruh negara di dunia, sehingga tercatat sebagai pandemi. Gejalanya tidak jauh berbeda dari gejala flu, hanya saja lebih menular dan lebih mematikan. Memang ada sebagian penyintas yang bisa melewatinya hanya dengan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali. Tetapi seringkali bisa sangat berbayaha bagi pihak-pihak yang memiliki kondisi kesehatan rentan. Bagi yang memiliki gejala cukup parah, paru-paru menjadi target serangan virus AUX-20-Blue ini, sehingga penderita bisa mengalami sesak napas yang bisa berakibat fatal.

Qeff termasuk penyintas yang bertahan, tapi dunianya seolah menjadi hampa. Ia kehilangan ayah dan ibunya akibat virus AUX-20-Blue yang tidak disadarinya sudah menyerang tubuhnya tetapi tidak menunjukkan gejala yang berarti. Segalanya mungkin memang sudah berlalu, tetapi sejarah buruk di dalam hidupnya itu tidak pernah bisa ia lupakan.

“Aku sungguh menyesal karena tidak bersedia mengikuti aturan yang telah diberlakukan oleh pemerintah. Aku pergi keluar rumah sesukaku, dan segalanya terjadi begitu saja,” ujar Qeff kepada Noe, seorang terapis yang menangani dirinya.

“Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan,” balas Noe.

“Ya, aku tahu. Tapi seharusnya ini semua tidak akan terjadi jika aku …”

“Tidak apa, menangislah. Sebentar, biar kuambilkan minum.”

“Terima kasih.”

Air mata lelaki itu memang sudah tidak bisa ditahan lagi. Tak peduli bahwa sejak kecil ia selalu diajari bahwa tidak seharusnya lelaki menangis. Ruangan konsultasi itu seketika menjadi begitu riuh oleh suara tangisan.

“Sampai kapan? Sampai kapan aku akan seperti ini?”

“Ini, minumlah.”

Noe menepuk-nepuk punggung Qeff untuk menenangkannya, sementara Qeff menerima uluran gelas berisi air putih yang diberikan Noe.

“Sudah cukup tenang sekarang?”

Qeff mengangguk beberapa kali.

Begitulah, Qeff seolah tidak bisa melepaskan diri dari badai pandemi yang meskipun telah berlalu, tetapi tidak mengubah cita rasa gelapnya sedikit pun. Bahkan untuk waktu-waktu tertentu, emosinya bisa naik-turun seperti roller coaster yang naik dengan perlahan, lalu turun dengan sangat cepat yang tak jarang membuatnya terengah-engah.

Ia juga sering dibayangi mimpi buruk didatangi ayah dan ibunya yang muncul dengan raut wajah sedih dan tak henti-hentinya menyalahkannya.

“Kukira segalanya akan berlalu begitu saja jika semuanya sudah terlewati. Ya, kukira. Tapi mimpi buruk selalu datang, menyusup ke dalam tidurku seolah ingin mencuri setiap kebahagian yang tersisa, yang kumiliki.”

“Tidak seharusnya kau menyalahkan dirimu terus seperti itu. Setiap hal yang berlalu memang tidak bisa diubah, tapi selalu ada sesuatu yang bisa diambil darinya, kan?”

“Ya, mungkin kau benar.”

***

Qeff memang mengubah pandangannya mengenai pekerjaan setelah pandemi berlangsung. Ia telanjur nyaman dengan konsep ‘bekerja dari rumah’ yang mau-tidak mau dilakukan ketika pandemi berlangsung. Bidang teknologi juga mengalami percepatan yang tidak terduga, karena saat segala hal tidak bisa lagi dilakukan dengan pertemuan, maka yang berperan paling besar di dalamnya adalah teknologi. Kadang-kadang Qeff berpikir dengan disertai kecemasan, apakah kelak manusia benar-benar akan digantikan oleh mesin? Terlebih teknologi AI saat ini sudah sangat melampaui yang tidak pernah dipikirkan di masa lalu.

“Itu hanya ketakutanmu saja. Bagaimanapun, manusia menciptakan teknologi. Artinya, manusia masih lebih berdaya ketimbang mesin.” ujar Joe, temannya.

“Tapi kadang-kadang manusia kalah cepat dengan mesin.”

“Memang. Itu karena manusia punya rasa lelah, sedangkan mesin tidak. Maksudku, mesin tidak benar-benar merasa lelah, jika sudah saatnya rusak, ia hanya akan rusak. Seluruh hidupnya dikendalikan program. Sedangkan kau tahu, manusia punya kehendak bebas.”

Hal itu membuat segala hal menjadi mungkin dilakukan dengan cara yang lebih simpel dan lebih efisien. Kantor menjadi tidak harus sebuah ruangan luas yang berisi banyak orang. Teknologi juga mampu melipat jarak yang semula sulit untuk ditempuh menjadi mungkin  melalui udara. Setiap hal dapat diringkas sedemikian rupa sehingga akan bisa memotong perencanaan anggaran yang tentu saja tidak sedikit, sehingga pada akhirnya anggaran yang tersisa itu bisa dialihkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lain yang lebih mendesak.

Berbelanja pun begitu. Setiap toko yang diinginkan seolah-olah telah menawarkan diri dalam genggaman tangan. Tidak perlu keluar rumah untuk membeli kebutuhan yang dikehendaki. Hanya perlu duduk dan menyentuh layar ponsel, memilih barang yang diinginkan, membayarnya, lantas barang itu akan datang mengetuk pintu rumah tanpa perlu repot-repot untuk menghabiskan tenaga.

“Benar-benar hidup seperti mesin yang serba otomatis …”

“Dan memudahkan segala kerepotanmu, kan?”

“Ya, dan kurang cahaya matahari.”

“Ayolah, kita bisa pergi keluar rumah sebentar, berlari kecil setiap pagi. Menyapa kucing dan anjing-anjing …”

“Kau benar …”

Bagi Qeff, berhasil melewati pandemi sudah lebih dari segalanya. Rasanya tak ada hal yang lebih berharga daripada itu, karena ia ingat pandemi mumbuat hidup menjadi seolah begitu sulit untuk diperjuangkan. Negara-negara di hampir seluruh dunia seperti kehilangan kendali; rumah sakit yang penuh sesak, pasien yang terlantar, alat-alat kesehatan yang dijual dengan harga tak masuk akal, anak-anak kos yang diusir ketika terinfeksi virus AUX-20-Blue, jenazah yang kesepian karena tidak boleh dijenguk oleh siapa pun dan orang-orang yang kehilangan pekerjaan karena perusahaan yang kolaps dan tidak sanggup lagi membayar gaji karyawan.

***

Suatu malam Qeff bermimpi, ia terlibat pada sebuah survival game. Peserta dipilih oleh sistem, dan ia salah satunya, dan tak bisa lari dari itu. Maka selanjutnya ia mengikuti permainan yang sudah disiapkan. Ia dan pemain lain dimasukkan ke dalam sebuah mesin raksasa yang mengingatkannya pada film Charlie and The Chocolate Factory. Sebenarnya permainannya cukup aneh, karena tiba-tiba ia dan pemain lain telah berada di arena bermain roller coaster. Posisi duduknya juga berbeda dengan pemain lain, tetapi sungguh tidak terduga, itu bisa menguntungkannya. Seharusnya ia lolos ke stage selanjutnya, tapi ternyata yang terjadi tidak semudah kelihatannya. Berkali-kali ketika ia memasuki lift untuk naik level, ia ditolak dengan suara peringatan, ‘nomor ini belum diizinkan untuk masuk, silakan kembali ke tempat!’

Tetapi Qeff memang sungguh beruntung, karena ketika itu ada seseorang yang menyelamatkannya, membawanya masuk ke dalam lift melewati ‘pintu’ lain. Setelahnya ia terbangun dengan badan yang seluruhnya terasa remuk, seolah apa yang baru saja dialaminya bukanlah mimpi. Mimpi itu memang tidak benar-benar di luar kesadarannya, karena ia masih mendengar suara televisi ketika tidur, dan di waktu yang sama suara itu seolah masuk ke dalam mimpi sebagai backsound.

Qeff tidak terlalu tahu apa arti mimpi itu, tetapi setidaknya ada 3 hal yang ia garis bawahi: 1. Setiap hal memerlukan proses, sebaiknya tidak melewatkan proses apapun yang terjadi untuk bisa mencapai tujuan, 2. Bantuan orang lain bukanlah sebuah kesalahan, 3. Daripada menolak masalah, lebih penting untuk belajar menerimanya.

Bagaimana ia bisa menangkap pesan-pesan itu? Ia tidak tahu. Yang ia rasakan bahwa ia seolah-olah membaca di dalam pikirannya, yang seolah buku yang sedang terbuka.

Noe bilang, apa yang dibacanya dari mimpi itu bisa jadi merupakan sesuatu yang benar, yang berasal dari kesadaran Qeff yang lain.

“Menurut Freud, mimpi adalah pikiran bawah sadar yang bocor dan gagal mengendalikan diri …”

“Ya, aku pernah mendengarnya.”

“Bagus, karena kau mendapatkan apa yang kau butuhkan. Apakah ayah dan ibumu masih sering mengunjungimu di dalam mimpi?”

“Kurasa tidak sesering dulu. Tapi masih. Dan agaknya … kalau aku tak salah ingat, mereka mulai tersenyum kepadaku.”

Kali ini Noe tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca. Ia berkali-kali menepuk punggung Qeff.***


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal. Beberapa tulisannya bermukim di www.filadina.my.id

Cerpen

Sebuah Ranting di Rambutmu

Cerpen Fina Lanahdiana

Pohon waru itu berhantu. Orang-orang memercayainya dengan alasan yang mungkin telah dirancang sedemikian masuk akal di kepala mereka, alasan yang tidak berlaku untuk kau.

“Dengar, Nelia. Pohon itu memang tampak tua karena usia, sehingga batang itu harus tampak keropos dan rapuh. Di luar itu hanyalah prasangka yang tidak pantas dipelihara oleh pikiran siapa pun. Bukan sebuah horor yang selama ini mereka, para orang lama perdengarkan.”

Kau sebut para orang tua di kampung kita sebagai orang lama, hanya sebab kau merasa lahir di zaman yang serba modern dengan aneka perangkat berbasis mesin. Mungkin kelak manusia tidak lagi dibutuhkan, dan segala pekerjaan beres dilakukan para robot buatan manusia. Lalu, bukankah pengangguran akan kian bertumbuh dan bertambah? Segala yang usang mestilah dimusnahkan, itu katamu. Termasuk cara pikir kuno memercayai segala yang tak tampak oleh mata.

Kau usapkan warna merah buah murbei ke bibirmu. Perih. Sariawan. Tapi kau tetap tak peduli meskipun jelas kau tengah meringis menahan nyeri.

Pohon waru itu tua dan tegak di sisi Kalibodri, sungai yang memisahkan dua kecamatan berbeda: Cepiring dan Patebon.

“Begitu mudah perbedaan lahir dari perpecahan,”

“Apa tidak terbalik?”

Matamu mengerjap tiga kali, memandang dengan takjub. Tertarik. Mungkin. Atau entah.

Desa Pidodo yang berkecamatan Patebon berada di satu lintasan dengan seluruh desa milik Kecamatan Cepiring. Mengapa? Katamu suatu ketika. Ibumu, sebagai orang lama merasa senang sebab kau begitu ingin tahu. Sejarah kecil yang tidak tertulis di buku mana pun. Hanya cerita dari mulut ke mulut yang sebenarnya susah dipercaya–meskipun tentu saja, masuk akal.

“Di masa lampau, Kalibodri hanyalah sungai lurus yang menuju muara. Akan tetapi, sebab peristiwa banjir besar yang menyebabkan tanggul bedah menumpahkan seluruh isi perut sungai sehingga harus menyebabkan sungai itu melebar dan berbelok ke kiri. Sementara Desa Pidodo yang semula berada di ruas kanan Kalibodri pun menyesuaikan diri, meluas sehingga bergabung dengan ruas kiri Kalibodri. Dan di antara belokan tanggul itu, bukankah kau sudah tahu perihal tanggul malang?”

Dahimu membentuk sungai-sungai kecil kering, sulit mencerna penjelasan ibumu. Bagaimana mungkin? Tapi pada akhirnya kau cepat lupa sebab bagimu cerita itu tak lebih sekadar dongeng.

Tanggul malang itu serupa bayi sungsang. Oleh sebab itu, setiap satu tahun sekali di bulan suro, dilakukan pesta rakyat dengan serangkaian acara: pasar malam, pertunjukan wayang, nyadran ke tengah laut, pertunjukan singo barong, dan ditutup kembali oleh pertunjukan wayang.

“Luka sekecil apa pun, kenapa tetap terasa sebagai luka jika dicampur dengan rasa asam dan asin?”

“Mungkin juga rasa-rasa yang lain,”

Kita duduk di bawah pohon waru. Rambutmu serupa ombak pendek yang meriap-riap menjilat pantai daratan. Mulutmu masih mengulum murbei yang semestinya belum terlalu matang itu. Menghadap sungai. Perahu-perahu berjajar, salah satunya milik ayahmu. Dan kau senang berada di atasnya. Kadang-kadang ikut berlayar hingga beberapa hari tanpa pulang. Tanpa mandi, mengusung bau ikan yang demikian menyengat di sekujur tubuhmu, dan kau merasa sebagai laki-laki yang tangguh serupa ayahmu.

“Kenapa kau suka sekali mengulum murbei?”

“Aku suka warnanya. Akan membuat bibirku merah. Kau ingin coba?”

Aku menggeleng. Tidak, dengan bisikan hampir tak terdengar olehmu.

“Mengapa? Kau perempuan,”

“Lalu kenapa jika aku perempuan?”

“Berdandanlah sedikit. Seperti ibumu. Bibirmu mesti merah segar. Kau bisa mengusapnya dengan murbei. Tidak harus beli, kan? Pipimu mesti putih dengan sapuan bedak. Dan rambutmu itu lebih menyerupai sarang burung di atas dahan. Sisirlah dengan olesan orang-aring hingga licin, dan lalat saja akan jatuh terpeleset.”

Kau tergelak sambil menepuk-nepuk lengan atasku. Sakit. Kataku. Kubilang kau pada ibuku.

“Dasar tukang ngadu.”

Tentu saja aku tak sungguh-sungguh mengatakannya. Hanya ancaman yang tak berarti apa-apa.

***

“Mau ke mana?”

“Naik,”

“Nanti jatuh,”

“Tidak akan.”

Kau memang tidak pernah jatuh hanya sebab memanjat. Kau terlalu lihai untuk sekadar terpeleset. Jatuh.

Kau petik sebuah ranting pohon waru yang masih cukup muda dan segera turun. Melompat. Dan aku kaget bukan main.

“Aku menemukan sesuatu untukmu,”

“Apa?”

“Kemarilah, Nelia. Mendekat. Lebih dekat lagi.”

Aku mendengar deru napasku sendiri. Detak jantungku yang seolah drum kaleng roti bergambar keluarga yang berulang kali dipukul ritmis. Tentang kaleng roti itu, aku pernah hampir tidak menginginkan segala jenis roti saat berkunjung sebagai tamu hanya sebab kaleng merah bergambar keluarga itu tidak kutemukan di atas meja si pemilik rumah. Tentu saja, saat itu usiaku masih lima dan belum pandai untuk mengungkapkan sesuatu dan hanya bisa merajuk dan menangis tanpa orang tuaku benar-benar tahu apa yang kuinginkan.

Mula-mula kau ambil pisau kecil di dalam saku, menyayat bagian tengah ranting. Memanjang namun belum sampai putus. Tangan kirimu cekatan mengambil helai-helai rambutku, mengumpulkannya, lantas dengan tangan kananmu memasukkannya ke dalam lubang ranting yang telah kau siapkan. Memutarnya, dan mengunci rambutku. Entah bagaimana caranya, rambutku yang katamu serupa sarang burung itu, telah rapi dengan puncak membentuk sebuah gelungan.

“Kau lebih tampak sebagai perempuan sekarang. Jangan potong rambutmu dan aku ingin melihatnya memanjang hingga pinggang. Dan jangan biarkan kepalamu dipenuhi sarang burung sialan yang kelak mengotori wajahmu dengan warna kusam.”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Sejak itu, aku lebih sering mandi dan menata tubuhku. Menggosok dengan batu hingga daki warna abu-abu menggumpal, bau wangi sabun yang busanya kupaksa ada hingga bergelembung-gelembung, sesekali mencuri bedak milik ibu, dan memanjangkan rambut segaris pinggang.

“Jika kau mandi, gosokkan sabun hingga kulitmu benar-benar kesat sehingga air yang kau guyurkan membentuk embun-embun kecil. Artinya kuman tidak akan lagi bisa menyerangmu dengan cara apa pun.”

Tentu saja itu hanyalah omong kosong, yang meskipun secanggih apa mesin, tidak akan pernah menghasilkan kebenaran. Kau melotot mendengar itu dari Zed, teman kita yang pengecut sebab selalu lari dan menangis untuk pulang ketika kalah dalam bermain apa pun.

Ibu begitu heran melihat perubahanku. Kau tahu benar, gara-gara kulitku yang berwarna gelap, ibuku pernah memaksaku untuk bersekolah dengan fasilitas asrama. Agar tak cuma main saja kerjaanmu, kata ibu. Entah di mana hubungannya, aku tidak tahu ketika itu. Itu alasan yang lebih masuk akal dibandingkan dengan: tinggal di asrama bisa membuat kulit penghuninya lebih cemerlang karena sering dilarang keluar meski di waktu-waktu luang. Meskipun banyak juga yang demikian.

***

Waktu cepat melahap setiap yang berada di bawahnya. Kini usiaku dua puluh dua dan tiba-tiba mengingatmu.

Lewat sebuah mimpi, kau datang. Tersenyum. Aku geli. Kau, entah tampak lebih bahagia daripada sebelum, sebelum, dan sebelumnya lagi yang sangat banyak di belakang. Bibirmu merah seperti yang kau harapkan.

“Aku tidak suka dituduh sebagai perokok hanya karena bibirku yang cokelat gelap kehitaman. Aku tidak pernah sekali pun merokok. Sebelumnya. Tapi sekarang aku merokok. Hanya untuk menuruti sifat keras kepala ayahku agar tampak sebagai kebenaran.”

“Kenapa kau melakukannya?”

“Karena ayahku yang menginginkannya.”

Kau baik-baik saja, dan bahagia setelah aku menanyakan kabar. Bagaimana kau, Nelia.

“Bagaimana menurutmu? Tidakkah aku sungguh seorang perempuan sekarang?”

“Ya. Kau cantik sekarang. Dan tidak lagi menyimpan sarang burung di atas kepalamu. Atau kutu.”

“Enak saja, aku tidak pernah sekali pun memelihara kutu.”

Kau terbahak-bahak. Mengusap rambutku, yang kini terjuntai lurus segaris pinggang serupa lintasan air terjun. Seperti keinginanmu.

Kau tentu tidak mendengarnya sebab aku hanya berkata pada diriku sendiri. Seolah gema yang memantul-mantul di sebuah ruang tanpa lubang udara.

Aku cinta kau.

Pagi menerobos kedua mataku dengan begitu sembrono. Panas. Bukan hangat. Jendela telah menampilkan warna terang. Hijau daun-daun, cokelat atap rumah tetangga, biru langit, putih awan, bening embun, bau basah. Petrikor. Bau kau.

“Apakah semalam hujan, Bu?”

“Sangat deras. Tidakkah kau mendengarnya?”

Aku hanya menggeleng. Berjalan ke meja. Mengambil gelas tengkurap, mengisinya dengan bubuk cokelat dan air panas. Tanpa cuci muka.

“Tidakkah aneh jika pagi ini matahari datang terlalu dini?”

“Kupikir kau sedang sakit demam. Jadi aku memilih tidak membangunkanmu.”

Aku diam sejenak dengan lubang mulut mengerucut bibir rapat, menahan cokelat panas yang telah menciptakan gembung di kedua pipi.

“Memangnya ini jam berapa?”

“Sembilan lebih dua puluh satu.”

Aku terkejut.  Terpaksa libur kerja dan memutuskan memungut buku di rak secara acak. Mengenakan kacamata bundar, dan membaca.  Mungkin sedikit terlambat karena buku itu telah lama kumiliki dan tidak langsung kubaca karena merasa tidak becus meluangkan waktu. Sebuah novel pemberian temanku. Berwarna biru dengan gambar seekor monyet terbalik. Lumayan tebal. Tapi cukup menarik perhatianku karena sering diperbincangkan oleh teman-temanku. Sebuah cita-cita dan cinta seekor monyet yang ingin menjadi dan mencintai seorang manusia.

Aku cinta kau. Bagaimanapun, mimpi telah dibangunkan mata yang terbuka, tapi bagaimana kalimat itu tetap melompat-lompat di dalam kepala?

Dadaku berdebar mengingatmu. Kau dengan sebuah ranting tanaman rambat di rambutmu: sebuah lingkaran seperti mahkota. Tubuhmu yang tak lagi bergerak, menghilang beberapa hari dan ditemukan dalam kondisi hampir membusuk dengan sekujur tubuh berwarna hijau kebiruan, Di arus Kalibodri. Bercampur warna pucat tanpa mengenal matahari. Mungkin vampir telah menghisap darahmu. Aku ngeri. Nyeri. Mungkin kau benar, Bama. Pohon waru itu tidak berhantu. Tapi aku.***


Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.

Cerpen

Nenek dan Perihal Perih Tentang Ulat-ulat di Sepotong Telur Dadar

Cerpen Fina Lanahdiana

Nenek merawat kenangan serupa memelihara ulat-ulat yang disimpan dalam sebuah stoples tertutup dengan tak seorang pun menginginkan untuk membukanya. Demi apa pun, aku hendak berkisah tentang kesetiaannya pada benang-benang kenangan yang serupa sarang laba-laba yang lahir dengan panjang dan kekuatan yang tidak bisa diperkirakan. Kelak tidak ada yang hendak meneliti benang-benang halus itu dengan alasan tidak penting.

Masa tua barangkali kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Nenek sering bersedih dan menyesali atas kesepiannya sendiri. Kadang meskipun aku memilih rela meluangkan telinga untuknya, ia tetap tampak sebagai sebatang pohon yang begitu kosong. Seolah-olah kuat, namun di dalamnya, kau tahu, ada rongga besar melingkupi seluruh isi tubuhnya, menyisakan kulit kayu yang hanya lapisan rapuh yang jika sedikit saja kulit itu tergores, seluruh tubuhnya akan tumbang jadi kayu yang hanya bisa berguna bagi tungku dapur penangkal rasa lapar.

Ia kerap hanya duduk dengan pikiran yang entah menjadi pelancong bagi tempat-tempat di dalam kepalanya. Aku meyakininya, bahkan ketika ia tengah menjajakan gethuk, klepon, serabi, dan ampyang  di depan halaman rumah kami yang masih berlantai tanah. Jajanan itu diletakkan di masing-masing tampah yang berbeda di sebuah meja panjang yang telah berusia tak jauh darinya. Meja itu tetap kukuh meskipun waktu telah melahapnya bagai rayap-rayap pada musim penghujan.

            “Nek?”

Suaraku hanya pelan saja, tetapi nenek tetap terkejut. Aku merasa tidak enak dengan gelagatnya, bagai aku telah menyakiti hati perempuan tua itu. Lantas kuraih lengannya, kurengkuh ia dengan dekapan yang semoga nyaman. “Maafkan aku, Nek. Bukan maksudku untuk membuatmu kaget.”

Ia akan tersenyum lantas berkata tidak apa-apa. “Nenek memikirkan apa?” Pertanyaan itu selalu berakhir dengan jawaban tidak apa-apa.

Tetapi pada akhirnya aku tahu, nenek selalu dan tetap memikirkan suaminya. Meskipun ia tidak pernah bercerita secara terang-terangan, aku tidak bodoh betul memahami bahwa ia merindukan kakek. Nenek kerap menceritakan kebaikan-kebaikan kakek yang masih tersimpan di dalam laci kepalanya.

            “Kakekmu lelaki yang romantis. Ia kerap memberi kejutan-kejutan yang tidak terduga. Kadang-kadang ketika aku merasa lelah, ia tahu harus berbuat apa. Kami sering pergi keluar sekadar makan di warung bakso atau mi ayam. Setelahnya aku lupa dengan rasa lelah yang sangat payah.”

Tentu saja aku akan memuji kakek. Tidak mudah menjadi lelaki seperti itu.

            “Kau tahu, perempuan akan sangat senang jika diperhatikan oleh orang yang dicintainya. Ia akan merasa ringan, beban-bebannya akan hilang, meskipun seringkali perempuan tahu bahwa lelakinya tengah membual. Ia tidak akan peduli.”

Cerita nenek membuatku berpikir bahwa aku juga mesti memperlakukan perempuan dengan cara seperti itu. Menjadi lelaki yang penuh kejutan.

            “Perempuan tidak terlalu suka, jika lelaki tidak punya pilihan.”

            “Maksud Nenek?”

            “Bawalah perempuanmu ke sebuah warung makan jika ia tampak lelah dan lapar, tapi jangan kau tanya banyak hal mengenai apa yang ingin dia makan. Pastikan kau tahu apa makanan kesukaannya. Itu akan membuatnya senang. Merasa dihargai.”

            “Bukankah bertanya itu baik?”

            “Memang iya, bertanya itu baik, tapi jika kau mengulang sesuatu yang sudah pasti, itu justru akan menyakiti hatinya. Misalnya, kau tahu perempuanmu menyukai ayam bakar, tapi kau selalu bertanya, ia ingin makan apa.”

            “Bagaimana jika ia merasa bosan?”

            “Tanpa kau mesti bersusah payah menebak, perempuan akan bercerita jika ia bosan dengan apa-apa yang sudah dibiasakan. Jika tidak ada keluhan, maka mestinya kau tahu apa yang mesti kau lakukan.”

            “Apakah nenek pernah mengalaminya?”

            “Tidak. Tapi teman kami pernah mengalaminya. Ia begitu muak dengan suaminya, sebab setiap kali hendak makan saat sedang bepergian, selalu bertanya, “Apakah kau lapar? Padahal sesungguhnya lelaki itu yang merasa lapar. Ia tidak berani berterus terang. Sementara itu, seharusnya lelaki selalu berada di depan, tidak apa-apa mesti menunggu perempuan bergerak lebih dulu.”

Aku hanya mengangguk, tidak banyak berkomentar. Cerita akan berakhir ketika beberapa pembeli datang. Jajanan pasar itu tidak bertahan lama, siang sedikit saja, sudah mesti habis. Jika tidak, yang bersantan seperti serabi dan klepon akan mudah basi. Dagangan nenek memang sederhana, tapi tetap saja diserbu peminat. Apalagi di zaman yang serba digital seperti sekarang. Apa-apa yang tradisional dinilai berharga dan patut untuk dirawat sebaik-baiknya.

            “Kadang-kadang orang sekarang itu aneh, merasa peduli dengan sesuatu setelah sebelumnya terancam.”

            “Terancam yang seperti apa?”

            “Misalnya saja, hewan langka. Mereka tidak akan dianggap penting sebelum terancam punah. Sebuah keterlambatan yang gegabah.”

Tidak salah, memang demikian adanya. Tidak jauh dengan yang sudah-sudah, negeriku tercinta ini juga kerap melakukannya. Pulau-pulau kami yang semestinya dirawat, dibiarkan begitu saja seolah sampah tidak berguna. Begitu ada negara lain yang mengklaim kepemilikan pulau-pulau jauh itu, pemerintah merasa kelabakan dan seolah tertindas sebagai korban. Orang-orang mendadak jadi nasionalis dengan banyak gerakan yang kupikir tidak berdampak banyak. Hal-hal seperti itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja, tetapi berkali-kali. Menjijikkan. Seolah keledai yang terus-menerus tergelincir—lebih tepat dikatakan sengaja menjatuhkan diri—ke lubang yang sama.

Aku senang menjadi pendengar bagi cerita nenek, tentang apa pun. Apa pun. Cerita-ceritanya bukan dongeng kosong belaka, selalu ada sesuatu yang bisa diambil bagiannya.

Perihal kesetiaan merawat kenangan, aku mencatatnya baik-baik di tubuh ulat-ulat kecil, belatung yang bergerak lincah di sebuah mangkuk berisi telur dadar.

***

Berhari-hari sudah nenek larut dalam perasaan yang hampa. Kupikir ia sedang mengulang segala jenis perputaran adegan di dalam kepalanya. Selalu seperti itu, seolah ia tidak ingin satu bagian pun terlewat dan berserakan seolah remah roti tercecer di lantai untuk selanjutnya dimangsa semut-semut.

Ia memutuskan tidak membuka gelaran jajanan seperti hari-hari biasa. Kepergian kakek yang tiba-tiba membuatnya merasa terpukul. Tak ada seorang pun yang menyangka bahwa suaminya akan pergi dengan cara yang tidak terduga. Ia tidak sakit, tidak juga mengalami kecelakaan. Hanya sedang tidur dan barangkali setiap orang tidur selalu berdoa agar bangun di pagi harinya.

Waktu itu aku masihlah seorang bocah yang hanya bisa menangis jika menginginkan sesuatu. Nenek mencoba menenangkanku dengan memberikan apa saja yang dimilikinya. Uang untuk membeli jajan atau mainan, juga mengambilkan nasi sebab ia mengira aku lapar. Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis saja waktu itu.

Dan barangkali kau juga akan sama sepertiku, menangis lebih keras sebab merasa takut dengan apa yang telah nenek berikan. Ia berjalan ke dapur dengan lengan melingkar di tubuhku, menjadikan aku bagai seekor kera yang tengah berada dalam gendongan induknya.

Tangan nenek selalu hangat. Bayi-bayi atau bocah yang sedang menangis tak tahu sebab, akan berhenti jika telah disentuh oleh tangan nenek. Aku sangat menyukai bagian ini. Nenek solah-olah pahlawan yang patut diberi hadiah atau penghargaan yang istimewa.         Perempuan itu masih sangat bersedih, aku tahu dari raut wajahnya. Namun aku yang masih bocah tentu tidak tahu apa-apa cara menghibur agar nenek merasa bahagia.

Ia berjalan ke dapur, menjulurkan tangan ke sebuah salang gantung yang terbuat dari anyaman bambu warna hitam legam sebab sering terpapar asap tungku. Di atas sana, ia meraih sebuah mangkuk yang seingatku berisi telur dadar.

Barangkali matanya telah rabun atau berkabut, ia tidak terlalu jeli memandang apa yang ada di dalam mangkuk. Sepotong telur dadar disendoknya ke piring yang telah berisi nasi. Telur itu telah dihuni mahluk-mahluk kecil, putih, dan lunak. Singgat. Aku merasa jijik dan hanya menangis.

Ibuku datang dengan keheranan yang penuh. Ia tidak tahu apa yang aku tangisi. Sampai pada akhirnya ia meraih tubuhku dari gendongan nenek, mengambil piring berisi nasi, dan berakhir dengan teriakan yang panjang. Ibu terkejut sama halnya denganku. Binatang kecil jinak namun menjijikkan itu telah menyebar di lantai rumah yang masih tanah yang dipenuhi têlo[1]. Ibu mengelus rambutku berulangkali dengan umpatan yang tertahan, “Demi apa pun, nenekmu terlalu mencintai kenangan perihal kakekmu, hingga ia melupakan telah berapa hari ia mengurung diri dalam kesedihan, hingga singgat-singgat itu telah menjadi penghuni bagi sepotong telur dadar sebagai makhluk-makhluk lapar yang menggiriskan.”

Terdengar suara prang sebab piring tempatku makan yang terbuat dari seng itu terlempar begitu saja, sementara kulihat nenek sedang sibuk—atau menyibukkan diri—melakukan pekerjaan rumah sehari-hari dengan mata yang kosong, seolah di sana tidak ada lagi ruh bagi kedua bola matanya.

Dan sejak saat itu, barangkali sebagian diri nenek ikut bersama kakek sehingga hidupnya tak lagi utuh, tak lagi seluruh. Hanya serupa sepotong yang tersisa dengan segenap keinginan menjalankan sisa usia. Masa tua barangkali memang kutukan yang abadi memelihara rasa sakit. Dan akan seterusnya seperti itu.***

[1] Têlo: Retakan tanah (Jawa)


Fina Lanahdiana, penulis cerpen yang lahir dan tinggal di Kendal.