Cerpen

Neraka di Antara Ayah dan Pria Itu

Cerpen Aliurridha

Malam begitu pekat hingga tiada satu bintang pun terlihat. Lampu-lampu di sepanjang rel kereta api masih menyala, tapi tak menerangi apa-apa. Ia berjalan tertatih di sepanjang rel kereta api yang sudah lama tak digunakan. Pikirannya terombang-ambing di antara dua pilihan yang sama pahitnya. Di sepanjang langkah kakinya, ia dilema memilih kembali atau terus pergi. Jika kembali, maka sudah dapat dipastikan tidak ada lagi kebahagian, hanya neraka kehidupan; dan jika ia terus lanjut, ia tidak tahu lagi harus ke mana.

Hatinya kalut. Pikirannya dipenuhi rasa takut ketika matanya menatap sekeliling di mana hanya ada gerbong-gerbong rongsok tempat para pekerja rendahan melampiaskan syahwatnya pada penjaja tubuh. Kakinya bergetar ketika ia membayangkan harus dipaksa melayani para binatang yang tidak tahu cara memperlakukan wanita. Dieratkannya ikatan dari kain batik murahan yang ia gunakan menggendong bayinya yang bahkan belum genap satu tahun itu agar ia bisa melangkah lebih cepat dan enyah dari tempat ini. Beruntung hari belum terlalu malam.

Langkah kakinya melemah. Kakinya letih tiada terkira. Otot di betis dan pahanya berdenyut nyeri setelah dipaksa lebih empat jam berjalan tanpa tujuan. Dihirupnya panjang udara malam dan dibiarkan pikirannya mengawang menelusuri percabangan jalan yang telah ditempuhnya. Ia menyesali apa yang telah terjadi; ia menyesal telah meninggalkan keluarganya demi pria itu. Ingin rasanya ia pulang, mencium kaki ayahnya, meminta maaf atas kebodohannya dan mengatakan kepada ayahnya bahwa ayah benar tentang pria itu, dan ayah juga benar tentang segala hal. Tapi tak ada lagi rumah untuknya pulang, semuanya telah ia buang jauh di belakang.

Jika mengingat masa-masa perkenalannya dengan pria itu, sebenarnya ia sama sekali tidak pernah tertarik kepadanya. Tak ada sedikit pun yang menarik dari penampilannya yang urakan. Ia tak pernah suka jaket jin lusuh yang selalu pria itu kenakan. Ia juga tak suka postur tubuhnya yang jangkung dan kurus, dan rambut gondrongnya yang tak terurus. Tak ada sedikit pun yang menarik dari pria itu. Tapi kegigihannya itu, membuat ia luluh juga.

Ayahnya menentang hubungannya dengan pria itu. Ayahnya selalu begitu. Tak ada satu pria pun yang benar-benar sempurna di mata ayahnya. Sejak kecil hidupnya telah diatur sedemikian rupa, dan ayahnya telah memilihkan jalan mana yang harus ia tempuh. Segala yang ditanamkan ayahnya masuk ke alam bawah sadarnya sebagai sebuah kebenaran absolut. Namun, perkenalannya dengan pria itu mengubah segalanya. Perkenalannya dengan pria itu membangkitkan jiwa pemberontak yang selama ini tertidur. Ia mulai bergerilya menentang ayahnya, sampai kemudian terang-terangan melawan ayahnya setelah melihat bagaimana ayahnya mempermalukan pria yang dicintainya.

“Kamu mau melamar anakku?” Ayahnya tertawa, seolah apa yang dikatakan pria itu adalah lelucon yang lucu. “Memangnya kamu bisa apa? Hidup tak jelas, kerjaan juga tak punya. Jika ada pria yang paling tidak layak untuk anakku, maka kamulah orangnya.”

Darahnya mendidih mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Pria itu tidak membalas dan hanya bisa menunduk. Badannya gemetar, entah oleh amarah atau karena malu, ia tidak tahu. Ia tidak pernah sempat menanyakannya. Lalu ketika pria itu pergi dari rumahnya, ia bertanya kepada ayahnya. Ia merasa bahwa bukan masalah jika pria itu tidak punya pekerjaan tetap sekarang. Itu semua bisa diusahakan. “Bukankah rumah tangga tentang berusaha bersama?” katanya.

Ayahnya kembali tertawa. “Bukan itu masalahnya. Kamu tahu, dia itu lelaki tidak benar.”

“Dari mana ayah tahu?”

“Ayah tahu saja. Ayah bisa melihatnya.” Ketika ia tidak membalas, ayahnya menambahkan. “Sudahlah. Laki-laki seperti itu tak bisa diharapkan. Dia hanya akan menjadi benalu dalam hidupmu.”

“Sedang apa kamu di situ?” Sebuah pertanyaan menghentaknya kembali ke masa kini. Saat itu ia tengah duduk pada sebuah kursi kayu di pinggir rel kereta, memijiti kakinya yang letih. Ia menoleh dan memperhatikan wanita yang menyapanya. Wanita itu menggunakan rok ketat yang jauh di atas lutut dengan atasan blouse tanpa lengan yang begitu rendah pada bagian dada, memamerkan asetnya yang berharga, dan riasan tebal menambah rayu pada wajahnya yang menggoda.  

Mungkin karena tidak ada balasan yang keluar dari mulutnya, wanita itu mengulangi lagi pertanyaannya. Mendadak sesuatu tumpah dari kedua bola matanya. Wanita itu kemudian menatapnya penuh perhatian, berusaha memahami apa yang sedang dilaluinya. Kemudian wanita itu mengajaknya ikut ke rumahnya. Ia menolak. Ia tak percaya lagi pada kebaikan jenis apa pun di dunia ini, apalagi kebaikan yang ditawarkan oleh orang asing. Hidup mengajarkannya bahwa setiap orang menginginkan sesuatu dari orang lain.

“Aku nggak akan maksa. Wanita sepertimu takkan bertahan semalam di tempat ini. Kamu beruntung aku menemukanmu lebih dulu. Jika para lelaki miskin yang bahkan tak punya uang untuk menyewa pelacur itu menemukanmu lebih dulu, kamu akan diperkosa sampai tak bisa jalan,” kata wanita itu.  Merinding ia mendengarnya. Ia tidak tahu bagaimana dunia bekerja di luar rumah orangtuanya dan pria itu. Ia tidak punya pilihan selain ikut dengannya.

***

Melisa, wanita yang menyelamatkan hidupnya itu, mengajarkannya sesuatu—bahwa ia tak memerlukan siapa pun untuk bertahan hidup di dunia ini. Sejak itu ia mengikuti apa yang dikerjakan Melisa; ia ikut memberikan jasanya pada para pria kesepian yang mencari sedikit kesenangan dari kehidupan rumah tangga mereka yang membosankan. Ia tidak peduli lagi dengan moral, lagi pula apa yang dilakukannya ini juga bukan pertama kali. Pria yang pernah menjadi suaminya itu, pria yang berjanji akan melakukan apa saja untuknya, tanpa malu pernah memintanya melacurkan diri.

Saat itu hidup mereka begitu susah. Anaknya baru saja lahir dan suaminya tak punya pekerjaan. Suaminya sangat malas dan dari mulutnya hanya terdengar keluhan. Baru sebentar bekerja di bengkel, ia sudah dikeluarkan karena malas-malasan dan melawan atasan. Kemudian ia mengeluh, mengatakan bahwa atasannya adalah seorang brengsek yang bisanya cuma memerintah. Beberapa kali ia diterima kerja di tempat baru, dikeluarkan lagi, diterima lagi, dikeluarkan lagi. Ia tak pernah benar-benar serius bekerja. Kerjanya hanya berjudi, mabuk-mabukkan, dan pulang tengah malam tanpa sepeser uang. Lalu uang hasil ia bekerja sebagai kasir swalayan, dihabiskan suaminya di meja judi. Hampir setiap hari, suaminya menjanjikan uangnya akan kembali berkali lipat, tapi yang kembali bukannya uang, melainkan utang.

Kemudian datanglah musibah itu. Anaknya sakit dan mereka tidak punya uang sepeser pun untuk membawanya ke rumah sakit. Awalnya ia hanya berniat melakukannya sekali saja, untuk menebus biaya perawatan bayinya di rumah sakit. Tapi suaminya memintanya melakukannya lagi. “Kalau kamu tidak mau, keluar saja dari rumah ini. Pulang ke rumah ayahmu yang sombong itu!” ancam pria itu.

Ia merasa benar-benar terjebak dalam lingkaran setan. Ia tidak punya pilihan selain menurut. Sampai di suatu malam sebuah kejadian mengaktifkan bom yang ditanam pria itu.

Ketika itu ia pulang lebih cepat dari hari biasanya. Di depan rumah kontrakannya, ia mendengar tangisan bayi. Ia bergegas lari ke dalam rumah, dan ia menemukan bayinya menangis sendirian. Ayah si bayi tak ada di sana. Kemudian di kamar sebelah, ia mendengar lenguhan wanita. Bergegas ia menuju kamar sebelah, dan ia melihat suaminya sedang menindih seorang wanita. Pinggulnya bergerak naik turun begitu cepat seperti mesin jahit. Melihat adegan itu, otot-otot di seluruh tubuhnya mengeras, tubuhnya terasa panas, dan darah mengalir deras ke ubun-ubun. Bom itu meledak. Bersama dengan segala sumpah serapah yang pecah dari mulutnya, ia melompat menerjang mereka. Satu tendangan dilepas ke punggung suaminya, membuat pria itu segera bangkit. Tak sempat menyelesaikan syahwatnya, pria itu mengamuk dan menamparnya berkali-kali. Ia kaget bukan main. Itu pertama kalinya ia ditampar. Sejahat apa pun mulut pria itu, ia belum pernah menggunakan tangannya.

Ia menatap mata suaminya, tidak ada lagi kasih di sana. Kemudian suaminya mengatakan sesuatu yang takkan pernah ia lupakan seumur hidup: “Kamu tahu sebenarnya aku mencintaimu, tapi kebencianku pada ayahmu jauh lebih besar.”

Tubuhnya lemas begitu gelombang emosi itu surut. Kemudian kata-kata ayahnya beberapa tahun silam kembali menggema di telinganya.

***

“Kamu yakin?” tanya Melisa.

“Iya. Keputusanku sudah bulat. Aku akan pulang dan meminta maaf pada ayah.”

“Ayahmu pasti akan menerimamu kembali,” kata Melisa. Tangan Melisa mengelus bahunya dan ia langsung menggenggamnya.

“Terus bagaimana dengan pekerjaan nanti malam?” tanya Melisa. “Aku sudah janji dengan tamuku. Kamu datang, ya! Dia sudah lama mendengar tentangmu, dan dia sangat penasaran.” Melisa memegang kedua tangannya dan menatapnya dengan tatapan memohon.

“Tenang saja aku pasti datang,” katanya. Dalam hati ia telah memantapkan diri kalau ini akan menjadi yang terakhir. Setelah ini ia akan mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia ingin anaknya tumbuh di lingkungan yang lebih baik.

“Kamu jangan khawatir. Om Yoga ini orangnya baik, dia banyak memberi tips.” Melisa kemudian mendekat dan berbisik ke telinganya: “Dan kamu tahu, dia galak di ranjang. Kamu pasti puas.”

Ia merasa geli mendengarnya. “Apaan sih. Aku tak peduli dengan kepuasaanku. Yang penting saat ini hanya uang.”

Melisa tersenyum cabul, kemudian menasihatinya dengan mengutip entah siapa: “Buatlah kesenanganmu menjadi pekerjaan dan kamu tidak akan pernah merasa bekerja.”

Mereka pun tertawa.

***

Melisa mengatakan Om Yoga telah menunggunya di meja delapan. Ia perhatikan tubuh laki-laki itu dari belakang. Ia merasa tidak asing dengan sosok yang sedang duduk sendirian menunggunya. Dari belakang posturnya tampak gagah. Otot-otot lengannya terlihat kokoh. Bahu dan punggungnya pun kelihatan lebar. Jelas sekali laki-laki ini sering berolahraga. Kemudian ia teringat lagi perkataan Melisa tadi pagi. Perutnya geli dan darahnya berdesir.

Ia berjalan mendekat. Semakin ia mendekat, laki-laki itu terlihat semakin familier. Ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Punggung itu mengingatkannya akan seseorang dari masa lalu. Punggung itu adalah tempat dulu ia bergelayut manja setiap orang itu menggendongnya. Tidak mungkin, kan? Sekelebat perasaan ganjil mendatanginya. Langkah kakinya melambat. Tapi ia terus melangkah sebelum berhenti dua langkah di belakang laki-laki itu. Dugaannya tidak keliru. Ia sudah berpikir untuk pergi sebelum laki-laki itu menyadarinya. Namun belum sempat ia membalik badan, laki-laki itu menoleh dan tersenyum memanggilnya. Dan begitu melihat dirinya, senyum di bibir laki-laki itu pudar seketika. Wajahnya pucat, matanya melotot, dan mulutnya sedikit terbuka. Tapi tak ada kata yang meluncur dari bibirnya.****

Sandik, 2021-2022


Aliurridha, menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di pelbagai media. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *