Cerpen

Mencari Lorong Reinkarnasi

Cerpen Ilham Nuryadi Akbar

Sebelum embun di ujung rerumputan kering dijilat terik matahari, bapak dan para tetangga sudah rapi mengenakan topi rotan, serta baju lengan panjang bermotif getah dan lumpur. Kemudian mengayuh sepeda dengan beriringan. Setiap keranjang sepeda terdapat karung goni yang berisikan identitas diri, benda tajam, serta lauk pauk, bapak dan warga akan menempuh perjalanan yang sudah mereka hafal sejak masih kecil, dengan tujuan tiba di kebun masing-masing sebelum matahari menjadi sangat pirang. Semua itu telah menjadi rutinitas bapak dan warga di kampungku, pergi memetik buah kakau pada minggu pertama di setiap bulan berjalan. Namun, itu hanya cerita dulu.

Sedang para ibu-ibu di kampungku selalu pergi saat siang jelang sore, dan sebelum muazin bersiap mengumandangkan azan magrib, mereka sudah pasti tiba di rumah dengan setumpuk rumput gajah yang dipikul pada bahu, rumput gajah itu nantinya akan diberi pada lembu, kambing, serta kerbau yang mereka pelihara, sudah menjadi hal biasa bagi para perempuan di kampungku untuk pergi mencari pakan bagi hewan ternak, sebab apalagi yang mereka harap, menjual hewan ternak yang telah mereka pelihara dapat membantu dalam menghidupi serta menyekolahkan anak-anak mereka, termasuk juga diriku. Ah, lagi-lagi itu cerita dulu.

***

Sabit bergalah dan arit di dapur sudah berkarat, bentuknya seperti besi yang sudah lama tenggelam di dasar laut, bahkan kawat yang mengikat pada gagang kayunya mulai rontok. Padahal, salah satu dari kedua benda itu sangat aku butuhkan untuk kegiatan gotong royong besok hari, sebab wali kelas sudah memberitahukan, kalau pada kegiatan gotong royong kedapatan murid yang tidak membawa peralatan, akan diberi denda dengan membawa lima kilo pupuk tanaman, jika saja hal itu terjadi, tentu ibu akan marah. Sehingga aku lebih memilih untuk mengasah arit agar kembali tajam, sebab malam hari begini, tidak mungkin toko yang menjual peralatan semacam itu masih buka.

Selagi aku masih mengasah, terdengar derit pintu seperti seseorang yang sedang masuk ke dalam rumah, meski aku tidak beranjak untuk melihat, tapi dapat kupastikan bahwa itu adalah bapak yang baru saja pulang bekerja, sebab hampir setiap harinya bapak pulang larut malam seperti ini. Melihat aku yang masih sibuk mengasah arit, bapak pun menegurku.

“Aritnya mau dipakai buat apa?” tanya bapak.

“Besok mau dipakai untuk kegiatan gotong royong di sekolah.” Pertanyaan bapak kujawab jujur sembari terus mengasah.

Aku pikir bapak akan memarahiku karena sudah larut malam begini aku baru mulai menyiapkan keperluan untuk kegiatan besok hari, namun bapak hanya berdiri saja dengan terus melihat kesibukanku, tapi diam-diam kuperhatikan, sesekali mata bapak melirik topi rotan dan beberapa alat yang dulunya sering digunakan untuk pergi ke kebun. Mungkin bapak rindu dengan suasana bekerja di kebun, atau mungkin saja bapak tidak suka menjadi buruh seperti saat ini, pikirku begitu. Lantas aku kembali mengajak bapak berbicara, agar bapak tidak terus termangu.

“Lagian arit ini sudah lama enggak digunain, sisi tajamnya saja sampai tumpul, belum lagi karatannya, tebal,” tuturku.

“Mau gimana lagi, kamu kan tahu sendiri bapakmu ini sudah satu tahun tidak pernah ke kebun, dan ibumu juga sudah hampir delapan bulan berhenti untuk cari rumput,” jawab bapak dengan tegas.

Bapak seperti memarahiku, seakan-akan penyebab sabit bergalah dan arit jadi berkarat karena ulahku.

“Kebun punya warga termasuk juga kebun kita, sudah tidak bisa dipakai untuk bercocok tanam, kalau tidak, itu arit enggak bakalan ketemu dengan yang namanya nganggur,” tambah bapak dengan nada lemah.

Belum sempat aku menyanggah, bapak langsung masuk kamar dengan wajah yang murung, seperti anak TK yang dipaksa untuk tidur siang saja. Timbul rasa penyesalanku karena telah menyinggung, namun mau bagaimana lagi, semua yang aku sampaikan itu semata-mata untuk mencari jawaban atas kegelisahanku, sebab, sudah satu bulan ini bapak berangkat kerja dengan terburu-buru, bukan karena bapak bangun kesiangan, tapi bapak selalu bermalas-malasan. Padahal sudah tiga bulan bapak bekerja sebagai buruh pabrik, dan sikap bapak itu seperti menunjukkan, kalau bapak sudah bosan dengan pekerjaan barunya ini.

Atau mungkin saja bapak merasa kesal, karena bapak beserta para warga di kampungku tidak bisa lagi memetik buah kakau yang mereka tanam, bisa dibilang 80% warga di kampungku dulunya bekerja sebagai petani, dan biji dari buah kakau yang mereka jual adalah mata pencaharian utama. Namun tanah di kebun kami telah tercemar oleh limbah dari pabrik kelapa sawit yang berdiri tegak menjulang tinggi di bagian utara, dan limbah dari batu bara yang begitu kokoh di bagian selatan, kedua pabrik yang jaraknya hanya 100 meter dari kampung telah mencemari tanah kebun yang kami miliki, sehingga para warga tidak dapat memetik hasil yang mereka tanam, bahkan warna tanahnya saja telah menghitam, dan pohon kakau tidak dapat menghasilkan buah.

Termasuk juga rumput gajah, biasanya pakan untuk hewan ternak itu selalu tumbuh subur dan berbatang besar di pinggiran kebun, namun kini jadi mengering, persis seperti tanaman yang terkena racun, akibatnya hewan ternak yang kami pelihara terpaksa kami jual, itu adalah salah satu cara terbaik daripada membiarkan hewan-hewan ternak mati tanpa menghasilkan pundi-pundi uang.

Entah bagaimana kedua pabrik itu bisa diresmikan, mungkin investor asing telah memberi dana yang sangat besar, yang pasti, keberadaan kedua pabrik itu sangat berdampak buruk bagi warga kampungku, sekitar 40 hektare kebun kakau warga tidak dapat menghasilkan buah, belum lagi dengan debu yang setiap harinya kami hirup. Lebih parahnya lagi, tidak ada ganti rugi yang diberikan pada kami, hanya penawaran untuk bekerja di pabrik, umumnya sebagai buruh atau kuli, namun yang kudengar, gajinya tidak sepadan jika dibandingkan dengan hasil biji kakau yang dulunya kami jual.

Seharusnya orang-orang yang terlibat atas berdirinya kedua pabrik itu paham, bahwa di antara penjualan kelapa sawit, getah karet, dan buah pinang, biji buah kakau memiliki nilai jual paling tinggi, setiap panen para petani bisa mendapatkan Rp2,6 juta, dan dalam satu bulan dapat 2 kali panen. Tapi gaji yang bapak dan warga terima saat bekerja di pabrik masih di bawah pendapatan penjualan biji dari buah kakau. Ditambah lagi dengan masalah waktu kerja, lebih dari 9 jam bapak dan para warga bekerja di pabrik, waktu istirahat yang diberikan juga sedikit, berbeda saat masih menjadi petani yang bekerja setengah hari saja.

Besoknya setelah aku bangun dari tidur, aku menyempatkan untuk bertanya langsung pada ibu yang sedang masak untuk sarapan pagi, aku hanya tidak mau bapak terus-terusan murung dan tidak bersemangat.

“Bapak lagi kurang sehat ya, Bu?” tanyaku sembari mencicipi kerupuk yang baru ibu goreng.

“Mandi dulu, nanti kamu terlambat sekolah,” tutur ibu.

Saat itu ibu sama sekali tidak melihat mataku, rasanya seperti ada sesuatu yang ditutupi, aku pun melewati obrolan singkat itu dan gegas masuk ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, aku kembali menghampiri ibu di meja makan, mumpung bapak masih belum bangun.

“Bapak sakit apa, Bu?” tanyaku.

Lagi-lagi ibu tidak menjawab, kepalanya hanya tertunduk dengan tangan yang masih memegang centong nasi, dan tiba-tiba saja wajah ibu memerah.

“Kamu sekolah yang rajin, supaya nanti jadi orang hebat,” jawab ibu dengan desah sesenggukan.

Ternyata ibu menangis, sontak aku langsung memeluk ibu untuk menghentikan air matanya yang terus menetes. Setelah ibu tenang, aku kembali menanyakan masalah apa yang sebenarnya terjadi, dan pagi itu ibu menceritakan banyak hal, namun salah satu yang membuat ibu sangat sedih, bahwa bulan depan bapak dan beberapa warga akan diberhentikan untuk bekerja di pabrik, dengan alasan digantikan oleh tenaga kerja asing yang lebih kompeten, tentu saja hal itu menjadi pukulan hebat bagi ibu dan bapak, sebab di mana lagi mereka akan mencari uang untuk memenuhi ekonomi keluarga.

Dalam keadaan sedih dan berkecamuk itu, bapak tiba-tiba saja membuka pintu kamar.

“Seandainya dari awal, kita dan para warga membuat posko untuk tidak menyetujui pembangunan kedua pabrik itu, tentu kita tidak perlu bersusah payah memikirkan hal seperti ini,” ucap bapak sembari berjalan menuju ke meja makan.

Ternyata dari tadi bapak menguping apa yang aku dan ibu bicarakan, namun terlepas dari hal itu, aku lebih tertarik dengan apa yang bapak katakan tadi, tapi seharusnya ide untuk menolak pembangunan kedua pabrik itu harus bapak sampaikan ke seluruh warga sejak awal sebelum kedua pabrik itu diresmikan, sehingga aku juga dapat membantu untuk menggerakkan massa, setidaknya warga kampungku dapat memberikan perlawanan. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.

“Kalau saja bapak memiliki saudara yang punya kekuasaan, sujud di kakinya pun bapak rela, asal pabrik itu bisa ditutup,” ucap bapak dengan nada sedih.

Apa yang bapak sampaikan itu laiknya perkataan seseorang dalam keadaan yang sangat lemah dan tidak tahu mau mengadu pada siapa, aku benar-benar miris mendengar apa yang bapak katakan tadi. Belum pernah aku mendengar kalimat yang menjatuhkan harga diri seperti itu.

Menurutku, seharusnya orang-orang yang terlibat dalam pembangunan kedua pabrik itu harus sadar, bahwa pembangunan pabrik akan menjadi hal yang sia-sia, jika warga yang hidup berdampingan dan terkena dampak dari pembangunan pabrik itu belum disejahterakan. Tak peduli dengan alasan untuk kemajuan suatu negara, sebab, banyak kerugian yang nantinya akan kami terima, seperti banjir, tanah longsor, gangguan pernapasan akibat asap dan debu yang terus beterbangan, bahkan air bersih yang biasanya kami gunakan juga akan ikut tercemar.

“Lebih baik kamu berangkat sekolah saja, belajar yang rajin, supaya bisa jadi orang hebat dan mudah mencari kerja, masalah ini biar ibu dan bapak yang memikirkan,” tutur ibu padaku.

Meski sebenarnya niatku untuk pergi ke sekolah sudah hilang, tapi dengan berat hati aku menuruti apa yang ibu suruh, aku hanya ingin nantinya ibu bangga denganku, aku pun pamit sambil mencium tangan bapak dan ibu, namun di sepanjang perjalanan, rasanya aku berharap jika di dunia ini ada lorong reinkarnasi, sehingga kejadian seperti ini bisa aku atasi tanpa sepengetahuan bapak dan ibu, aku ingin kembali pada waktu di mana bapak dan para warga rutin pergi ke kebun, serta kegiatan ibu yang pergi mencari rumput untuk pakan hewan. Sederhana memang, tapi kebahagiaan justru dapat kami rasakan, tidak seperti saat ini. Namun di mana aku dapat mencari lorong reinkarnasi, apa hal semacam itu benar ada.

Bahkan aku juga sempat berpikir, bagaimana jika arit yang telah aku asah menjadi tajam ini, aku pakai saja untuk memenggal kepala orang-orang yang telah membangun kedua pabrik itu, sebab aku tak pernah kuat melihat orang yang paling aku cintai bersedih dan menangis, tapi jika saja diriku kesetanan lalu memenggal kepala orang-orang yang mendirikan serta meresmikan kedua pabrik itu, justru bapak dan ibu akan lebih sedih, bahkan bisa saja tidak henti menangis, sungguh, kebencian benar-benar telah singgah padaku.


Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari di Banda Aceh. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku, puisi dan cerpen telah banyak terangkum pada beberapa media.

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Tatkala Ruh Ditiupkan

sebelum kau berenang di badan perempuan

dan diselimuti dinding-dinding rahim

terlebih dulu kau berucap sepakat bulat

nun di alam ruh tempat segala muasal.

setelah kau siap untuk perpindahan

Tuhan menidurkanmu berpuluh-puluh hari

hingga jari-jemari, tulang serta daging berkelindan

menjadi wadah yang siap menjalani kehidupan.

tatkala ruh ditiupkan

sempurna-lah seluruh kejadian

kematian, perbuatan, kesengsaraan, kebahagiaan dan rezeki

menjelma janji-janji yang harus dijalani.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Permintaan dalam Mimpi

barangkali, malam ini kau ingin bermandikan mimpi

menemui aku yang belum tentu menjadi kekasih

pada taman terhiasi bunga-bunga tujuh rupa

tempat dahulu, kau mematahkan janji.

jika kau tersesat

aku saja yang datang menghampiri

sebab alibi-mu laiknya ayat-ayat ketiadaan

pantang untuk berpulang

cepatlah, sebelum kita menjumpai rintik-rintik embun

serta matahari yang menyapa ruas-ruas ventilasi

agar pagi tidak menggema gaung sepi

dan malam tidak menjadi wadah untuk aku merenungi

Bekasi, 30 Agustus 2021


Aku Terluka Kau Tertawa

sapu tangan peninggalanmu

telah aku cuci

terbilas air mata

kering oleh luap jelaga

api kecemburuanku

mungkin ada baiknya

aku sobek menjadi dua

seperti diksi-diksi puisi

yang tempo hari

kau robek sejadi-jadinya

dendam itu abadi

abadi dalam hati

hati kini terluka

penuh retisalya

sedang kau, puas tertawa

Bekasi, 30 Agustus 2021


Dirimu adalah Celaka

sementara ombak belum menghantarkan batu-batu kecil

tulislah nama kita di pesisir basah

dengan kayu atau jari telunjukmu

dengan paku atau kau tidak mau?

mantra-mantra sudah aku ucapkan

agar burung-burung camar

datang menyederhanakan keinginan

atau kau masih ingin beralasan?

setiba di pantai kau nanar

seperti manusia gusar

bingung mendengung

apa kau sedang murung?

kau benar-benar jelmaan celaka,

tak pernah bisa aku selamatkan.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Mengajari

setelah jarum dan benang bersenggama

aku akan menenun jala tua di lemari tua

setelah nirmala

ikutlah berpetualang ke sungai-sungai

menjala ikan, udang, bahkan pemikiranmu yang terhimpit

di celah batu besar.

bila terik semakin pirang

aku akan bergegas pulang ke kandang

sebab lambung pasti mengerang

mengingatkan jam makan siang

maka ikutlah ke tungku arang

menanak nasi, sayur, juga umurmu yang belum matang

di hari pernikahan.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Hasrat yang Asat

kini ia hanya sibuk

menyulam hati di malam hari

dengan begitu hasai.

memantik api di puting obor

menuluhi cahaya pada temaram malam
sebatang kara tak ada yang meminang
sunyi ditimang-timang

hanya jelaga yang menyapa
tak ada renjana
tak ada yang memantaskan
tak ada pula yang ingin memperkosa

ia wanita yang telah terpasung

juga terasing

sebab menanggalkan masa-masa muda belia

memilih jantung hidup yang pantas bagi dirinya

hingga lupa, bahwa ia telah menjadi tua.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Lelaki Hibernasi

tepat di kening malam,

partikel-partikel imaji terbang ke sarang pelangi

untuk memetik bunga harapan

diracik menjadi kenyataan.

tepat di siang hari,

seluruh imaji terbungkus di bawah kasur

mantra-mantra meluap dari dinding-dinding kamar

merindukan malam yang jaraknya tidak sedepa.

sementara itu,

seorang lelaki sibuk hibernasi

berteriak bahwa kekayaan akan hinggap sebentar lagi

namun riak-riak suaranya berbiak menjadi mimpi.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Lekaki Jemawa

bumi bulat, sosialmu saja yang datar.

langit itu biru, hatimu saja yang hitam.

wawasan sangatlah luas, pemikiranmu saja yang sempit.

kebaikan sungguh ada, kejahatanmu tampak nyata.

tergugu tapi gemar sawala

kalut tapi tak sadar

sengaja jemawa demi bangga memamerkan dasi

tapi kau tergugu dalam bersulam diksi

Bekasi, 30 Agustus 2021


Ketika Para Lelaki

Suka Pada Satu Hati

aku adalah makna dan perumpamaan basi

hidup dari hal-hal yang dinujumkan

juga teori-teori gila

hingga semua yang bernyawa menuduhku

sebagai hambar paling ranum

acap kali sumpah serapah

dijadikan kotoran untuk menyertai wajahku

begitulah cara mereka menghadirkan hujan

untuk membasahi bunga-bunga mawar yang mulai layu

mensucikan pipi berdebu

serta lorong mata yang memasung pilu

perselisihan ini telah terjadi

semenjak perempuan berwajah lampion

berambut aspal dan berkulit awan

singgah di rumah yang jaraknya beberapa hasta dariku

seandainya kau yang diburu dapat mengetahui

bahwa ini adalah peperangan

kepada siapakah kau akan bersekutu?

Bekasi, 30 Agustus 2021


Tentang Hijrah

tanpa pernah berdoa ke dada-dada langit

setengah dunia telah kudapati

kendati hal itu menjadikanku berada

aku lebih memilih misteri

ihwah kisah silam

aku telah hidup dari puing-puing cerita purba

namun memilih mati sebelum orang-orang berkata:

dia adalah legenda

semua itu aku lakukan

demi bereinkarnasi menjadi masa kini

menembus dosa-dosa yang disengaja

menuju abadi di kebun surga

Bekasi, 30 Agustus 2021


Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari 1995 di Banda Aceh. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau di Matamu Hujan di Mataku, puisi dan cerpennya telah banyak terangkum pada beberapa media.