Cerpen

Cara Pulang Paling Mematikan

Cerpen Yesi M.H.

Ada dua ambulance di parkiran. Aku disuruh masuk ke salah satunya. Masalahnya, aku tidak tahu mana yang akan membawaku pulang. Kupencet ponsel untuk menginterogasi orang yang memberi ide gila ini. Sumpah serapah dan umpatanku meluber, bahkan sebelum dia mengucap ‘halo’. 

“Sinting … tidak adakah cara lain?”

“Mau cara seperti apa yang kamu minta?”

“Ya bukan ambulance jenazah juga.”

“Itu yang terbaik yang bisa kulakukan. Surat-surat sudah beres. Tapi ya kamu tidak bisa duduk di sebelah sopir, karena pasti akan ketahuan.”

“Lalu?”

“Ya di dalam peti.”

“Haaa?” 

“Itu cara paling mudah untuk lolos.”

Aku diam mengurung amarah agar logikaku bisa menyulut keberanian, mungkin itu satu-satunya pengalihan dan mengusir rasa takut.

“Oke, jadi yang mana? Ini ada dua ambulance,” tanyaku kini lebih sabar sambil mengusap dada yang sedari tadi naik turun.

“Yang plat AG belakangnya T.”

Mataku mengincar salah satu yang berwarna putih dengan garis cat kuning berikut tulisan partai dan gambar entah siapa.

“Jadi aku masuk saja ke peti? Ada jenazahnya, Mat?”

“Kalau nggak ada jenazah, mana bisa ada surat jalannya, Ko. Malah makin mencurigakan.”

“Jadi aku disuruh tidur bareng sama mayat?”

“Tenang, mayatnya masih baru, fresh, bukan penyakit kudisan, bukan korban kecelakaan yang berdarah-darah, cuma orang tua kurus yang sakit jantung.”

Keringatku deras membasahi kaos oblong yang sudah tiga hari ini melekat. Apakah ini harga yang harus kubayar agar sampai di depan rumah Dik Marli. Memang kuakui belum ada ide lain yang cemerlang nan gila untuk bisa melewati perbatasan dan menjadi orang bebas. 

“Ingat, Ko. Kita akan pulang. Apapun akan kita lakukan. Persetan dengan halangan, kita pasti lawan.”

“Kita buang saja mayatnya.”

“Nambahin perkara, bodoh! Sudahlah tenang, nanti setelah perbatasan kamu akan aman. Kamu boleh keluar. Sebelum sampai di situ, tahan dulu. Percayalah padaku.”

Mau tidak mau aku harus percaya pada Samat. Bahkan saat aku jadi buron seperti ini, dia rela menjadi beking untuk diriku ini. Dia juga pastinya paham, kulakukan semua ini karena terpaksa. Dunia sudah menjadi kejam, tidak ada cara lain untuk bertahan hidup kecuali dengan menjadi kejam pula. Dia mau menolongku tanpa bertanya apa pun. Tanpa syarat apa pun. Dia ini bodoh atau memang sahabatku paling setia?

Kudekap tas yang isinya sangat berharga ini. Beberapa gepok uang jadi alasan aku melalui fase menjadi manusia tidak aman. Aku mulai menyelinap ketika suasana lengang. Derap langkah kubuat sesantai mungkin agar meminimalkan kecurigaan. Lalu dengan mudah aku masuk pintu belakang ambulance. Sebuah peti tertutup kain hijau dengan tulisan arab membuatku bergidik. 

“Tuhan, ampuni aku, ampuni aku, jangan hidupkan dia,” bisikku melirik pada peti. Tidak lama ponsel bergetar di saku celana, hingga membuatku berjingkat karena selangkanganku terasa disengat listrik. Sebuah pesan dari Samat menyebutkan bahwa dia akan datang sepuluh menit lagi. Dia menambahkan lagi, sudah menyiapkan kain putih untukku.

Pakai kafannya, kalau bisa yang bener-bener mirip pocong. Jangan asal pakai. Petinya sudah kuberi triplek di atas mayatnya. Jadi kamu bisa tidur di atas orang itu. 

Aku sudah tidak berdaya, mengumpat pun sudah tidak sanggup. Di saat seperti ini aku berusaha untuk tidak membuat dosa lagi dengan berkata kotor. Aku pasrah, mungkin dengan begitu Tuhan bisa memuluskan perjalananku. Agak ribet ternyata memakai kain kafan, maklum saja aku belum pernah memakai sendiri, apalagi praktek mengurus jenazah. 

“Maaf ya, Pak,” lirihku pada jenazah itu. Aku mulai membungkus diriku dengan kain putih, sebisa dan semirip mungkin jadi jenazah. Perlahan dengan pasti aku masuk sembari menutup peti itu. Astaga semoga aku tidak mati kehabisan napas. Aku hanya bergantung pada celah kecil diantara penutup petinya. Kupeluk tas ranselku yang sewaktu-waktu harus kusembunyikan di bawah, jaga-jaga kalau polisi memaksa untuk memeriksa peti. Lagipula aku takut polisi menemukan barang bukti ini. 

Sesuai perkiraan, aku mendengar pintu terbuka dan mesin dinyalakan. Samat sepertinya membuka pintu belakang dan mengetuk petinya.

“Kamu baik-baik saja?” bisiknya.

“Agak engap, tapi nggak apa-apa.” Jangan sampai orang tahu Samat berbicara dengan peti jenazah. 

“Kamu lupa pasang kain hijaunya.”

“BODOH, bagaimana aku bisa memasangnya! Aku sudah di dalam peti!” Kudengar Samat tertawa mendesis. Di saat seperti ini dia sempat tertawa. Tega.

Lalu kurasakan mobil itu mulai bergerak. Badanku bergoyang-goyang mengikuti belokan, kadang tidak terkendali. Sialan, Samat! Tidak bisakah dia menyetir dengan sopan sedikit, ada orang tua mati di dalam peti. Kepalaku terantuk dinding peti, sesekali menggeliat memperbaiki posisi, ah aku frustrasi! Beginikah rasanya mati dikurung dalam peti jenazah? Tahan Darko, sebentar lagi Dik Marli di depan mata. 

Ambulance sempat berhenti dan terdengar Samat berbicara dengan seseorang. Astaga, tega nian aparat masih berani dan tidak percaya pada isi ambulance jenazah. Aku gemetar saat suara pintu belakang dibuka, cahaya kecil tampak menerpa bagian kakiku. Mungkin si petugas tidak berani membuka peti terlalu lebar. Jika sedikit saja sudah memastikan ada tubuh berbalut kafan, aman sudah. Aku berusaha tidak memikirkan apa-apa. Sampai rasanya mataku pedas dan mengantuk. Aku hanya ingat pipiku ditepuk dengan kencang setelahnya.

“Kukira kamu mati.”

“Hah, sampai mana?” tanyaku gelagapan mengusap sisa lelehan air liur di pipi. 

Rest area. Sudah cukup aman. Kamu bisa duduk di depan.”

Aku meloncat bangun dengan cepat seperti merasa bebas dari segala hukuman. Ribuan kata maaf terlontar pada jenazah yang sudah kujadikan alas tidur. Semoga dimudahkan di dunia kuburnya, batinku merapal doa. 

Samat memberiku makan dan minum, menjamuku di warung kecil tepat di depan ambulance. Kami saling melepas rasa lega. Dia bercerita tentang orang di dalam peti itu, ternyata masih sanak saudaranya yang sebatang kara. Sebuah kebetulan yang sepertinya disusun dengan sangat rapi layaknya konspirasi. Aku sendiri bercerita tentang kejahatanku. Tentang apa isi tas yang selalu kudekap ini. Lalu kami melepas tawa mengingat kejadian-kejadian selama kami menjadi sahabat.

Aku tidak tahan cerita tentang Dik Marli, orang yang kugadang-gadang untuk jadi istriku. Kusampaikan kegalauanku seusai merampok, aku jadi berpikir, apa Dik Marli masih mau bersamaku, seorang kriminal. Curahan hati itu meluncur deras dari mulutku. Kini Samat tahu luar dalam dari seorang Darko. Bahkan aku juga percaya dia bisa membawa pesan untuk Dik Marli, seumpama, sekonyong-konyong, tiba-tiba aku akhirnya mati sebelum sempat bertemu, dia bisa menyampaikan pesanku. Aku paham risiko yang kujalani. Aku bisa saja ditembak mati jika melawan. 

Kening Samat berkerut ketika dia memeriksa ponselnya. Ada berita terbaru, polisi tahu identitas seorang perampok, dan sekarang sedang menyisir berbagai wilayah, termasuk tanah kelahiranku. Kami saling pandang.

“Berarti aku harus masuk peti lagi?”

“Baiknya begitu.”

Aku pasrah, kuteguk air kemasan yang disiapkan Samat sampai habis saking gugupnya. Aku mengecap berulang-ulang karena air itu rasanya aneh. Sedikit pahit dan getir. Atau hanya efek ketakutanku. Ah ya sudahlah, aku perlu mental baja untuk kembali tidur di atas orang mati. 

Ambulance kembali melaju lembut, Samat kini lebih beradab dalam menyetir. Tak lama aku merasa tenggorokanku seperti dicekik, dadaku sakit, aku tidak bisa bernapas. Penglihatan kabur kemudian gelap. Peti itu menggencetku sampai sakit, saking sakitnya sampai lama-kelamaan mati rasa. Dan aku mengantuk lagi.

Lalu aku terbangun, rasanya seperti baru saja melalui malam yang sangat panjang. Kurasakan sunyi dan masih gelap. Aneh, jika sudah sampai rumah, kenapa Samat tidak membukakan peti. Sebuah cahaya tepat di sebelahku segera membuatku tersadar. Aku memang sudah pulang. 

Sudah ketahuan siapa yang dicintai Samat. Salahku sendiri bercerita tentang Dik Marli. Aku sendiri bodoh, mengira dia baik-baik saja ketika mendengar aku akan menikah dengan Dik Marli. Sampai akhirnya api itu menyala-nyala membuat ledakan yang cukup besar, Sampai melemparkanku pada posisi sekarang. Kilauan cahaya dengan sayap itu mendekat dan mulai bertanya.

Man Rabbuka?” ****

Bogor, 12 Februari 2022


Yesi M.H. Penulis kelahiran Nganjuk yang sekarang berdomisili di Bogor. Buku solo terbit di tahun 2021 berjudul “Sekantong Impian” adalah kumpulan cerita pertama sejak terjun menulis di tahun 2019. Sapa penulis di Instagram @ecy_mh atau surel [email protected]