Cerpen

Di Hadapan Anggrek

Cerpen Era Ari Astanto

Cukup sering orang-orang itu mengatai aku gila. Atau memandangku kasihan, tapi tetap dengan menambah kata ‘gila’ di ujung kalimat: “Kasihan dia, sejak ditinggal istrinya dia menjadi gila,” —atau senada dengan itu.

Sungguhkah aku telah gila? Ataukah mereka yang tidak mampu berpikir waras?

Aku hanya ingin sendiri, berbicara dengan dinding kamar, berbicara dengan anggrek atau lukisan wajah kekasihku tanpa ada yang mengganggu. Ya. Istriku sudah pergi memenuhi panggilan Ilahi bertahun lalu. Aku sadar itu, aku ingat hal itu. Tapi bagi mereka, aku telah gila. Mereka hanya tidak tahu, berbicara dengan benda-benda itu lebih menyenangkan, lebih menenangkan. Saat berbicara dengan dinding kamar, saat bicara dengan bunga anggrek itu, saat bicara dengan lukisan itulah aku merasakan kenyamanan — seolah istriku menemaniku berbincang. Mereka adalah pendengar yang baik, tidak akan menyanggah atau sok bijak menasihati seperti orang-orang itu.

Istriku meninggal ketika usia pernikahan kami belum genap dua bulan. Tidak pernah terlintas dalam benakku jika dia akan secepat itu meninggal. Dia memang keberatan saat aku pamit untuk menghadiri undangan bincang literasi dan bedah buku di luar kota dan harus menginap beberapa hari. Dia bukan melarang aku pergi, tapi dia mengeluh merasa sedikit pusing dan tidak enak badan. Aku pikir itu sekadar sakit yang sangat ringan dan akan sembuh dengan minum obat warung. Dan aku tetap pergi karena di sana aku akan bertemu dengan penulis-penulis besar dan hebat yang bisa kumintai tips-tips penting dalam menulis, dan pikirku itu adalah acara penting bagiku.

Setelah satu hari satu malam mengikuti acara itu, aku mendapat telepon dari tetanggaku bahwa istriku sakit keras dan aku harus pulang. Aku hampir tidak percaya dengan kabar itu. Pikirku, tidak mungkin hanya sedikit pusing dan tidak enak badan berubah menjadi sakit keras dalam sehari semalam. Aku sempat bersilat lidah dengan tetanggaku itu, tapi akhirnya aku memutuskan pulang setelah dia berkata: terserah kamu, Mas, jika kamu ingin menyesal seumur hidupmu.

Aku tiba di rumah dan mendapati banyak orang sedang mengurus istriku yang tinggal jasad.

Aku tak pernah mengira jika pamitku itu akan menjadi kali terakhir aku bicara dengannya. Kematian memang keniscayaan, tapi penyesalan dalam hatiku tak bisa kupungkiri. Seandainya aku mendengar keberatannya mungkin akan lain perkara. Mungkin aku tak akan semenyesal ini.

Hari-hari selanjutnya kurasakan menjadi begitu berat, begitu gelap, begitu sesak dengan sesal. Seandainya … seandainya … dan hanya ‘seandainya …’ yang terasa menyesaki dada. Sampai akhirnya kurasakan ketenangan saat bicara dengan lukisan wajah istriku. Lalu dengan dinding-dinding kamar. Lalu dengan anggrek, lalu dengan tas istriku, lalu dengan meja rias istriku. Aku memang merasakan ketenangan saat bicara dengan benda-benda itu, tapi belum kurasakan istriku mengampuniku walau aku merasa seolah dia ada di sampingku saat aku melakukannya.

Dan entah bagaimana mulanya orang-orang mengatakan aku telah gila. Mungkin salah seorang memergokiku saat aku bicara dan tertawa di hadapan anggrek. Atau ketika aku bicara dengan lukisan wajah istriku yang kubawa ke serambi. Satu atau dua dari mereka pernah mendatangiku dan menasihatiku agar bersabar bahwa kematian adalah keniscayaan. Aku tahu itu dan aku menerimanya, jawabku. Aku hanya ingin bicara dengan istriku, memohon maaf atas segala salahku, lanjutku.

“Tapi, Mas. Jika begitu terus, sampean akan dianggap gila,” kata orang itu.

“Apa peduliku. Sebaiknya Anda tidak mengganggu ketenangan saya,” kataku dengan ketus.

“Tapi, Mas …,” sahutnya.

Kulebarkan mataku sebagai jawaban sampai akhirnya dia pergi dan tak pernah kembali. Hanya kasak-kusuk yang sesekali kudengar ketika aku berada di hadapan anggrek di halaman.

Memang ada satu orang yang datang ke rumah dan memberiku makanan lantas pergi setelah aku tak bicara sepatah kata pun, kecuali terima kasih. Begitu seterusnya hingga hampir tujuh tahun berlalu. Sebenarnya aku masih bisa mengurus kebutuhan sehari-hariku, walaupun sebatas seadanya dari fee menulis. Jika sedang tidak ingin bicara dengan benda-benda itu, selain lukisan, aku menulis. Cerita fiksi yang aku pilih karena aku bermaksud untuk bercerita kepada istriku ditemani lukisan wajahnya.

Beberapa kali aku mencoba meninggalkan cara anehku itu, tapi tidak bisa. Aku akan kembali gelisah dan rasa bersalah kembali menyergap. Dan aku pun memutuskan untuk tetap menjalani cara aneh itu terus, tak peduli dianggap gila atau apa pun, hingga di sebuah pagi satu orang yang selalu datang ke rumah dan memberiku makanan itu mengajakku bicara yang mau tak mau harus kujawab.

“Apakah itu anggrek kesayangan istrimu?”

Aku mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.

“Aku punya tiga anggrek di rumah. Aku dengan senang hati akan membawanya ke sini jika sampean mau.”

Aku tak menoleh ataupun menjawab perkataannya. Tapi aku memikirkan kata-katanya. Mungkin anggrek istriku tidak akan kesepian dengan adanya anggrek lain di sebelahnya. Apalagi jika dia kutinggal untuk tidur di malam hari atau ketika aku harus meninggalkannya sendiri. Namun, aku merasa perlu meminta pendapatnya. “Apakah itu perlu? Terutama bisa membuat istriku senang?”

“Setidaknya begitulah yang kurasa saat melihat anggrek istrimu sendirian.”

“Tapi, aku tak punya apa pun sebagai gantinya.”

“Meskipun sekadar berbincang seperti ini setiap aku datang?”

Aku tak segera menjawab. Kutimbang perasaanku. Bukan hal mudah bagiku saat ini untuk menemani berbincang orang lain.

“Aku tidak bisa berjanji. Tapi aku akan berusaha,” kataku kemudian.

“Mendengar sampean akan mengusahakannya pun aku sudah senang. Baiklah, besok akan aku bawa anggrek itu.”

Pagi berikutnya dia datang membawa sarapan untukku dan anggrek yang dia janjikan. Dia meminta ingin mengurusnya, meletakkannya dengan sangat tepat di sebelah anggrek istriku. Aku perhatikan dengan saksama dan merasa apa yang dia katakan kemarin benar. Anggrek istriku tampak lebih indah dan berseri. Barangkali hanya perasaanku, tapi begitulah bagi mataku.

Hari-hari berikutnya, aku merasa lebih senang berada di depan anggrek sambil berbincang dengan orang itu. Sebenarnya, dia hanyalah lelaki setengah baya yang juga ditinggal mati istrinya sejak belasan tahun lalu. Dia bercerita bahwa dia juga pernah merasakan jiwanya terguncang hingga hampir bunuh diri. Tapi, kemudian dia sadar bahwa hidupnya harus dilanjutkan dan mengisinya dengan menemani orang-orang yang jiwanya kesepian.

“Tapi, aku tidak begitu merasa kesepian. Aku hanya merasa menyesal tidak menemani istriku di saat-saat terakhirnya. Aku juga merasa istriku belum memaafkanku karena nekat meninggalkannya walau dia telah mengatakan kondisinya waktu itu.”

“Aku yakin istri sampean akan bahagia jika melihat sampean mau menemani orang-orang yang jiwanya gelisah karena kesendirian.”

“Tapi, aku telah dianggap gila. Hanya sampean sajalah yang tidak menganggapku begitu.”

“Mereka yang menganggap begitu karena mereka tidak mau merasa bagaimana kondisi jiwa orang-orang seperti kita. Bukankah sampean sudah merasakan betapa bukan nasihat yang kita butuhkan, tapi teman; teman yang mampu menemani dan memahami meski dalam diam.”

Aku diam memikirkan kata-katanya. Menghidupkan istriku dalam diriku rasanya lebih baik daripada terus-menerus merasa istriku tak mengampuniku. Aku rasa kehadiranku untuk orang-orang yang membutuhkan bisa menjadi penebus segala sesalku karena telah meninggalkan istriku. Kurasa begitulah seharusnya aku, seperti anggrek yang meskipun dalam diam keindahannya mampu menentramkan siapa pun yang melihatnya.***


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Cerpen

Neraka di Antara Ayah dan Pria Itu

Cerpen Aliurridha

Malam begitu pekat hingga tiada satu bintang pun terlihat. Lampu-lampu di sepanjang rel kereta api masih menyala, tapi tak menerangi apa-apa. Ia berjalan tertatih di sepanjang rel kereta api yang sudah lama tak digunakan. Pikirannya terombang-ambing di antara dua pilihan yang sama pahitnya. Di sepanjang langkah kakinya, ia dilema memilih kembali atau terus pergi. Jika kembali, maka sudah dapat dipastikan tidak ada lagi kebahagian, hanya neraka kehidupan; dan jika ia terus lanjut, ia tidak tahu lagi harus ke mana.

Hatinya kalut. Pikirannya dipenuhi rasa takut ketika matanya menatap sekeliling di mana hanya ada gerbong-gerbong rongsok tempat para pekerja rendahan melampiaskan syahwatnya pada penjaja tubuh. Kakinya bergetar ketika ia membayangkan harus dipaksa melayani para binatang yang tidak tahu cara memperlakukan wanita. Dieratkannya ikatan dari kain batik murahan yang ia gunakan menggendong bayinya yang bahkan belum genap satu tahun itu agar ia bisa melangkah lebih cepat dan enyah dari tempat ini. Beruntung hari belum terlalu malam.

Langkah kakinya melemah. Kakinya letih tiada terkira. Otot di betis dan pahanya berdenyut nyeri setelah dipaksa lebih empat jam berjalan tanpa tujuan. Dihirupnya panjang udara malam dan dibiarkan pikirannya mengawang menelusuri percabangan jalan yang telah ditempuhnya. Ia menyesali apa yang telah terjadi; ia menyesal telah meninggalkan keluarganya demi pria itu. Ingin rasanya ia pulang, mencium kaki ayahnya, meminta maaf atas kebodohannya dan mengatakan kepada ayahnya bahwa ayah benar tentang pria itu, dan ayah juga benar tentang segala hal. Tapi tak ada lagi rumah untuknya pulang, semuanya telah ia buang jauh di belakang.

Jika mengingat masa-masa perkenalannya dengan pria itu, sebenarnya ia sama sekali tidak pernah tertarik kepadanya. Tak ada sedikit pun yang menarik dari penampilannya yang urakan. Ia tak pernah suka jaket jin lusuh yang selalu pria itu kenakan. Ia juga tak suka postur tubuhnya yang jangkung dan kurus, dan rambut gondrongnya yang tak terurus. Tak ada sedikit pun yang menarik dari pria itu. Tapi kegigihannya itu, membuat ia luluh juga.

Ayahnya menentang hubungannya dengan pria itu. Ayahnya selalu begitu. Tak ada satu pria pun yang benar-benar sempurna di mata ayahnya. Sejak kecil hidupnya telah diatur sedemikian rupa, dan ayahnya telah memilihkan jalan mana yang harus ia tempuh. Segala yang ditanamkan ayahnya masuk ke alam bawah sadarnya sebagai sebuah kebenaran absolut. Namun, perkenalannya dengan pria itu mengubah segalanya. Perkenalannya dengan pria itu membangkitkan jiwa pemberontak yang selama ini tertidur. Ia mulai bergerilya menentang ayahnya, sampai kemudian terang-terangan melawan ayahnya setelah melihat bagaimana ayahnya mempermalukan pria yang dicintainya.

“Kamu mau melamar anakku?” Ayahnya tertawa, seolah apa yang dikatakan pria itu adalah lelucon yang lucu. “Memangnya kamu bisa apa? Hidup tak jelas, kerjaan juga tak punya. Jika ada pria yang paling tidak layak untuk anakku, maka kamulah orangnya.”

Darahnya mendidih mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Pria itu tidak membalas dan hanya bisa menunduk. Badannya gemetar, entah oleh amarah atau karena malu, ia tidak tahu. Ia tidak pernah sempat menanyakannya. Lalu ketika pria itu pergi dari rumahnya, ia bertanya kepada ayahnya. Ia merasa bahwa bukan masalah jika pria itu tidak punya pekerjaan tetap sekarang. Itu semua bisa diusahakan. “Bukankah rumah tangga tentang berusaha bersama?” katanya.

Ayahnya kembali tertawa. “Bukan itu masalahnya. Kamu tahu, dia itu lelaki tidak benar.”

“Dari mana ayah tahu?”

“Ayah tahu saja. Ayah bisa melihatnya.” Ketika ia tidak membalas, ayahnya menambahkan. “Sudahlah. Laki-laki seperti itu tak bisa diharapkan. Dia hanya akan menjadi benalu dalam hidupmu.”

“Sedang apa kamu di situ?” Sebuah pertanyaan menghentaknya kembali ke masa kini. Saat itu ia tengah duduk pada sebuah kursi kayu di pinggir rel kereta, memijiti kakinya yang letih. Ia menoleh dan memperhatikan wanita yang menyapanya. Wanita itu menggunakan rok ketat yang jauh di atas lutut dengan atasan blouse tanpa lengan yang begitu rendah pada bagian dada, memamerkan asetnya yang berharga, dan riasan tebal menambah rayu pada wajahnya yang menggoda.  

Mungkin karena tidak ada balasan yang keluar dari mulutnya, wanita itu mengulangi lagi pertanyaannya. Mendadak sesuatu tumpah dari kedua bola matanya. Wanita itu kemudian menatapnya penuh perhatian, berusaha memahami apa yang sedang dilaluinya. Kemudian wanita itu mengajaknya ikut ke rumahnya. Ia menolak. Ia tak percaya lagi pada kebaikan jenis apa pun di dunia ini, apalagi kebaikan yang ditawarkan oleh orang asing. Hidup mengajarkannya bahwa setiap orang menginginkan sesuatu dari orang lain.

“Aku nggak akan maksa. Wanita sepertimu takkan bertahan semalam di tempat ini. Kamu beruntung aku menemukanmu lebih dulu. Jika para lelaki miskin yang bahkan tak punya uang untuk menyewa pelacur itu menemukanmu lebih dulu, kamu akan diperkosa sampai tak bisa jalan,” kata wanita itu.  Merinding ia mendengarnya. Ia tidak tahu bagaimana dunia bekerja di luar rumah orangtuanya dan pria itu. Ia tidak punya pilihan selain ikut dengannya.

***

Melisa, wanita yang menyelamatkan hidupnya itu, mengajarkannya sesuatu—bahwa ia tak memerlukan siapa pun untuk bertahan hidup di dunia ini. Sejak itu ia mengikuti apa yang dikerjakan Melisa; ia ikut memberikan jasanya pada para pria kesepian yang mencari sedikit kesenangan dari kehidupan rumah tangga mereka yang membosankan. Ia tidak peduli lagi dengan moral, lagi pula apa yang dilakukannya ini juga bukan pertama kali. Pria yang pernah menjadi suaminya itu, pria yang berjanji akan melakukan apa saja untuknya, tanpa malu pernah memintanya melacurkan diri.

Saat itu hidup mereka begitu susah. Anaknya baru saja lahir dan suaminya tak punya pekerjaan. Suaminya sangat malas dan dari mulutnya hanya terdengar keluhan. Baru sebentar bekerja di bengkel, ia sudah dikeluarkan karena malas-malasan dan melawan atasan. Kemudian ia mengeluh, mengatakan bahwa atasannya adalah seorang brengsek yang bisanya cuma memerintah. Beberapa kali ia diterima kerja di tempat baru, dikeluarkan lagi, diterima lagi, dikeluarkan lagi. Ia tak pernah benar-benar serius bekerja. Kerjanya hanya berjudi, mabuk-mabukkan, dan pulang tengah malam tanpa sepeser uang. Lalu uang hasil ia bekerja sebagai kasir swalayan, dihabiskan suaminya di meja judi. Hampir setiap hari, suaminya menjanjikan uangnya akan kembali berkali lipat, tapi yang kembali bukannya uang, melainkan utang.

Kemudian datanglah musibah itu. Anaknya sakit dan mereka tidak punya uang sepeser pun untuk membawanya ke rumah sakit. Awalnya ia hanya berniat melakukannya sekali saja, untuk menebus biaya perawatan bayinya di rumah sakit. Tapi suaminya memintanya melakukannya lagi. “Kalau kamu tidak mau, keluar saja dari rumah ini. Pulang ke rumah ayahmu yang sombong itu!” ancam pria itu.

Ia merasa benar-benar terjebak dalam lingkaran setan. Ia tidak punya pilihan selain menurut. Sampai di suatu malam sebuah kejadian mengaktifkan bom yang ditanam pria itu.

Ketika itu ia pulang lebih cepat dari hari biasanya. Di depan rumah kontrakannya, ia mendengar tangisan bayi. Ia bergegas lari ke dalam rumah, dan ia menemukan bayinya menangis sendirian. Ayah si bayi tak ada di sana. Kemudian di kamar sebelah, ia mendengar lenguhan wanita. Bergegas ia menuju kamar sebelah, dan ia melihat suaminya sedang menindih seorang wanita. Pinggulnya bergerak naik turun begitu cepat seperti mesin jahit. Melihat adegan itu, otot-otot di seluruh tubuhnya mengeras, tubuhnya terasa panas, dan darah mengalir deras ke ubun-ubun. Bom itu meledak. Bersama dengan segala sumpah serapah yang pecah dari mulutnya, ia melompat menerjang mereka. Satu tendangan dilepas ke punggung suaminya, membuat pria itu segera bangkit. Tak sempat menyelesaikan syahwatnya, pria itu mengamuk dan menamparnya berkali-kali. Ia kaget bukan main. Itu pertama kalinya ia ditampar. Sejahat apa pun mulut pria itu, ia belum pernah menggunakan tangannya.

Ia menatap mata suaminya, tidak ada lagi kasih di sana. Kemudian suaminya mengatakan sesuatu yang takkan pernah ia lupakan seumur hidup: “Kamu tahu sebenarnya aku mencintaimu, tapi kebencianku pada ayahmu jauh lebih besar.”

Tubuhnya lemas begitu gelombang emosi itu surut. Kemudian kata-kata ayahnya beberapa tahun silam kembali menggema di telinganya.

***

“Kamu yakin?” tanya Melisa.

“Iya. Keputusanku sudah bulat. Aku akan pulang dan meminta maaf pada ayah.”

“Ayahmu pasti akan menerimamu kembali,” kata Melisa. Tangan Melisa mengelus bahunya dan ia langsung menggenggamnya.

“Terus bagaimana dengan pekerjaan nanti malam?” tanya Melisa. “Aku sudah janji dengan tamuku. Kamu datang, ya! Dia sudah lama mendengar tentangmu, dan dia sangat penasaran.” Melisa memegang kedua tangannya dan menatapnya dengan tatapan memohon.

“Tenang saja aku pasti datang,” katanya. Dalam hati ia telah memantapkan diri kalau ini akan menjadi yang terakhir. Setelah ini ia akan mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia ingin anaknya tumbuh di lingkungan yang lebih baik.

“Kamu jangan khawatir. Om Yoga ini orangnya baik, dia banyak memberi tips.” Melisa kemudian mendekat dan berbisik ke telinganya: “Dan kamu tahu, dia galak di ranjang. Kamu pasti puas.”

Ia merasa geli mendengarnya. “Apaan sih. Aku tak peduli dengan kepuasaanku. Yang penting saat ini hanya uang.”

Melisa tersenyum cabul, kemudian menasihatinya dengan mengutip entah siapa: “Buatlah kesenanganmu menjadi pekerjaan dan kamu tidak akan pernah merasa bekerja.”

Mereka pun tertawa.

***

Melisa mengatakan Om Yoga telah menunggunya di meja delapan. Ia perhatikan tubuh laki-laki itu dari belakang. Ia merasa tidak asing dengan sosok yang sedang duduk sendirian menunggunya. Dari belakang posturnya tampak gagah. Otot-otot lengannya terlihat kokoh. Bahu dan punggungnya pun kelihatan lebar. Jelas sekali laki-laki ini sering berolahraga. Kemudian ia teringat lagi perkataan Melisa tadi pagi. Perutnya geli dan darahnya berdesir.

Ia berjalan mendekat. Semakin ia mendekat, laki-laki itu terlihat semakin familier. Ia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Punggung itu mengingatkannya akan seseorang dari masa lalu. Punggung itu adalah tempat dulu ia bergelayut manja setiap orang itu menggendongnya. Tidak mungkin, kan? Sekelebat perasaan ganjil mendatanginya. Langkah kakinya melambat. Tapi ia terus melangkah sebelum berhenti dua langkah di belakang laki-laki itu. Dugaannya tidak keliru. Ia sudah berpikir untuk pergi sebelum laki-laki itu menyadarinya. Namun belum sempat ia membalik badan, laki-laki itu menoleh dan tersenyum memanggilnya. Dan begitu melihat dirinya, senyum di bibir laki-laki itu pudar seketika. Wajahnya pucat, matanya melotot, dan mulutnya sedikit terbuka. Tapi tak ada kata yang meluncur dari bibirnya.****

Sandik, 2021-2022


Aliurridha, menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di pelbagai media. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

Puisi

Puisi A. Warits Rovi

Suara Hujan, Suara Kenangan

hujan menyempurnakan waktu pikniknya

menjelang zuhur—memagari banyak rencana

hingga tertunda atau malah berkeping dalam dada

kaki-kakinya yang bening tak berkuku

memintas setapak jalan ke lubuk kenangan

;di dalamnya, ada kau mengajakku melupakan hujan

sejak saat itu aku sadar

bahwa sesungguhnya di bumi ini tak pernah ada hujan

selain sesuatu yang mericik dari kenangan

Bungduwak, 2021


Hujan Awal Tahun

setiap yang diingkari adalah mendung

rahimnya menganga di jendela

melahirkan hujan dan segala yang berwajah pelangi

melengkung di gagang pintu

gigil tak perlu disembunyikan

dalam retak karatan tulang

sebab ada kalanya sesuatu tak perlu telanjang

untuk bisa dipandang

punggung jendela yang basah

menghampar bayangan tahun yang pergi

dengan sejumlah puisi dan skema rintih

di angka satu yang merah ini

hujan mengawali langkah sebagai tindakan

menyusun tembok masa depan

dari yang cair dan mengalir

supaya kau pandai membuat selokan

di antara jarum jam yang terus berkejaran.

Rumah IbelFilza, Januari 2022


Hikayat Gagang Celurit

aku hanya kayu biasa

raut yang berpuluh malam disembunyikan

dalam kebat kain kafan

di dekat kuburan

moyangku masih hidup di utara bukit Raas

batang yang berkalang lengan angin

dalam kepungan harum kembang jagung

mengurai silsilah sejak moyang khuldi

sampai berdahan, beranting, dan menjatuhkan bijinya

di dekat seorang petapa

aku tumpul tak berkilat, cuma sisa kurai sahaja

yang melengkung garis

mirip peta hidup yang samar berlapis

pada akhirnya berkarib besi tajam ini

sebagai gagang yang tak punya hak untuk interupsi

selain hanya mengikuti—ke mana si tuan menggerakkan hati.

Gapura, 2021


Mata Sakera

ia memandang laut dari balik kusen jendela kecil

yang bertahun diliputi bayangan ribuan perahu

mencermati sapuan ombak ke tepi pantai

seperti mengantar bau tubuh ayahnya yang tengah melaut

“laut kekasih langit, ayah yang mencintai laut

akan dicintai oleh langit—hingga membuka pintu-pintunya

dan menumpahkan hujan rezeki dalam rupa ikan-ikan

yang menyerahkan hidupnya kepada sauh,” gumamnya

seraya pelan mengedipkan mata

ke arah batas laut yang menyentuh langit

; tempat rahasia biografi ayahnya tersimpan

—masih bernyawa atau sudah tiada.

Sumenep, 2021


Jam

di tubuhku ada rumus rahasia

:dari angka ke angka

jarum lancip itu

terus mendekatkan nyawamu

dengan impian.

Gapura, 2021


Montase Hari yang Cerlang

                        Helmina Rovi

gelak cakap dua buah hati kita

adalah gradasi warna dalam sebuah lukisan

tumpuan garis liku, pendar arsiran, dan titik cipratan

pada jisim gambar gunung, pematang, dan lautan

teguh berumah pigura kecil di dinding dada kita

bergantung pada pakumu dan pakuku

berhadap-hadapan dengan waktu, mengelak dari sapuan debu

kita lihat lukisan itu dari puisi ini

dari jendela hati yang belah tirainya tak dijangkau sepi.

Gapura Timur, Januari 2022


Sejarah Kaki yang Bengkak

                                    Eppa’

kemungkinan adalah keniscayaan cabang jalan

menanjak, menurun, dan berliku

sedang kakimu sejak sebelum subuh sudah di situ

mencari kemungkinan lain dari bunga yang nyaris kering

tertampung di telapak tanganmu, paras cerlang cuma bayang

legam di kelopaknya, di antara mimpimu

yang menginginkan buah, seraya merahasiakan getah

di balik dada yang pecah

sampai kini, sepasang kaki agungmu itu

menampakkan grafiti petilasan beragam tahun

dalam rupa garis pecahan yang liris berdaki

membuatku harus pandai memaknai

;jalan yang kaulalui adalah mukim beragam duri

dan di hari tuamu yang sekadar bersandar kursi biru

sepasang kaki agungmu terlihat bengkak dan memutih

wujud hari lalu yang dijambak nyeri dan letih

di jalan beribu cabang yang kaulalui

sedang bunga yang nyaris kering itu

telah hilang dalam kepungan waktu.

Rumah Eppa’-Emma’, Januari 2022


Kalender Baru

tak ada yang lain dari diriku

kecuali warna dan jasad kertas

kembali berpangku ke satu paku

di sebelah pintu rumahmu

kukirim angka-angka pada harimu

sebagai bahasa paling rahasia

perihal waktu yang tak takut batu

dan kau menjumlah umurmu

dengan hitungan jemari ringkih

menegaskan rencana di hari nanti

dan melupakan mati.

Gapura, Januari 2022


Rintih Rumah Tua

masa laluku tersisa di lipatan kain usang dekat pintu, bekas sobekan sampir seorang perempuan yang kehabisan cara untuk menghapus air matanya pada Sabtu yang dingin, saat ia mengenali wajahnya di cermin, tak lebih sekadar bunga absurd yang nyaris kering.

sehabis menangis, ia meninggalkanku pergi, pintuku tanpa ia tutup, dibiarkannya menganga pada waktu yang lebat dan berkelebat. jam dinding yang mati tak mampu lagi berbicara soal itu, kecuali hanya seekor kupu-kupu yang sesekali tandang menyampaikan kabar, bahwa hidup memang angin sahaja yang sulit dibaca arah silirnya.

lalu sekawanan rayap mulai mencampuri hidupku dengan sarang berliuk dari bawah kursi dan perlahan menegaskan wujud yang pasti pergi, aku tak bisa mengucapkan kata-kata, selain menumpahkan air mata rahasia, sembari membayangkan perempuan itu datang kembali, membawa melati atau puisi, lalu mematut wajahnya kembali di cermin, seraya membuat kesimpulan betapa hidup bukan sekadar gelengan atau anggukan.

Rumah FilzaIbel, 2022


Warits Rovi, lahir di Sumenep. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di pelbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki (Basabasi, 2020). Sedangkan buku puisinya yang berjudul Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura.

Cerpen

Mencari Lorong Reinkarnasi

Cerpen Ilham Nuryadi Akbar

Sebelum embun di ujung rerumputan kering dijilat terik matahari, bapak dan para tetangga sudah rapi mengenakan topi rotan, serta baju lengan panjang bermotif getah dan lumpur. Kemudian mengayuh sepeda dengan beriringan. Setiap keranjang sepeda terdapat karung goni yang berisikan identitas diri, benda tajam, serta lauk pauk, bapak dan warga akan menempuh perjalanan yang sudah mereka hafal sejak masih kecil, dengan tujuan tiba di kebun masing-masing sebelum matahari menjadi sangat pirang. Semua itu telah menjadi rutinitas bapak dan warga di kampungku, pergi memetik buah kakau pada minggu pertama di setiap bulan berjalan. Namun, itu hanya cerita dulu.

Sedang para ibu-ibu di kampungku selalu pergi saat siang jelang sore, dan sebelum muazin bersiap mengumandangkan azan magrib, mereka sudah pasti tiba di rumah dengan setumpuk rumput gajah yang dipikul pada bahu, rumput gajah itu nantinya akan diberi pada lembu, kambing, serta kerbau yang mereka pelihara, sudah menjadi hal biasa bagi para perempuan di kampungku untuk pergi mencari pakan bagi hewan ternak, sebab apalagi yang mereka harap, menjual hewan ternak yang telah mereka pelihara dapat membantu dalam menghidupi serta menyekolahkan anak-anak mereka, termasuk juga diriku. Ah, lagi-lagi itu cerita dulu.

***

Sabit bergalah dan arit di dapur sudah berkarat, bentuknya seperti besi yang sudah lama tenggelam di dasar laut, bahkan kawat yang mengikat pada gagang kayunya mulai rontok. Padahal, salah satu dari kedua benda itu sangat aku butuhkan untuk kegiatan gotong royong besok hari, sebab wali kelas sudah memberitahukan, kalau pada kegiatan gotong royong kedapatan murid yang tidak membawa peralatan, akan diberi denda dengan membawa lima kilo pupuk tanaman, jika saja hal itu terjadi, tentu ibu akan marah. Sehingga aku lebih memilih untuk mengasah arit agar kembali tajam, sebab malam hari begini, tidak mungkin toko yang menjual peralatan semacam itu masih buka.

Selagi aku masih mengasah, terdengar derit pintu seperti seseorang yang sedang masuk ke dalam rumah, meski aku tidak beranjak untuk melihat, tapi dapat kupastikan bahwa itu adalah bapak yang baru saja pulang bekerja, sebab hampir setiap harinya bapak pulang larut malam seperti ini. Melihat aku yang masih sibuk mengasah arit, bapak pun menegurku.

“Aritnya mau dipakai buat apa?” tanya bapak.

“Besok mau dipakai untuk kegiatan gotong royong di sekolah.” Pertanyaan bapak kujawab jujur sembari terus mengasah.

Aku pikir bapak akan memarahiku karena sudah larut malam begini aku baru mulai menyiapkan keperluan untuk kegiatan besok hari, namun bapak hanya berdiri saja dengan terus melihat kesibukanku, tapi diam-diam kuperhatikan, sesekali mata bapak melirik topi rotan dan beberapa alat yang dulunya sering digunakan untuk pergi ke kebun. Mungkin bapak rindu dengan suasana bekerja di kebun, atau mungkin saja bapak tidak suka menjadi buruh seperti saat ini, pikirku begitu. Lantas aku kembali mengajak bapak berbicara, agar bapak tidak terus termangu.

“Lagian arit ini sudah lama enggak digunain, sisi tajamnya saja sampai tumpul, belum lagi karatannya, tebal,” tuturku.

“Mau gimana lagi, kamu kan tahu sendiri bapakmu ini sudah satu tahun tidak pernah ke kebun, dan ibumu juga sudah hampir delapan bulan berhenti untuk cari rumput,” jawab bapak dengan tegas.

Bapak seperti memarahiku, seakan-akan penyebab sabit bergalah dan arit jadi berkarat karena ulahku.

“Kebun punya warga termasuk juga kebun kita, sudah tidak bisa dipakai untuk bercocok tanam, kalau tidak, itu arit enggak bakalan ketemu dengan yang namanya nganggur,” tambah bapak dengan nada lemah.

Belum sempat aku menyanggah, bapak langsung masuk kamar dengan wajah yang murung, seperti anak TK yang dipaksa untuk tidur siang saja. Timbul rasa penyesalanku karena telah menyinggung, namun mau bagaimana lagi, semua yang aku sampaikan itu semata-mata untuk mencari jawaban atas kegelisahanku, sebab, sudah satu bulan ini bapak berangkat kerja dengan terburu-buru, bukan karena bapak bangun kesiangan, tapi bapak selalu bermalas-malasan. Padahal sudah tiga bulan bapak bekerja sebagai buruh pabrik, dan sikap bapak itu seperti menunjukkan, kalau bapak sudah bosan dengan pekerjaan barunya ini.

Atau mungkin saja bapak merasa kesal, karena bapak beserta para warga di kampungku tidak bisa lagi memetik buah kakau yang mereka tanam, bisa dibilang 80% warga di kampungku dulunya bekerja sebagai petani, dan biji dari buah kakau yang mereka jual adalah mata pencaharian utama. Namun tanah di kebun kami telah tercemar oleh limbah dari pabrik kelapa sawit yang berdiri tegak menjulang tinggi di bagian utara, dan limbah dari batu bara yang begitu kokoh di bagian selatan, kedua pabrik yang jaraknya hanya 100 meter dari kampung telah mencemari tanah kebun yang kami miliki, sehingga para warga tidak dapat memetik hasil yang mereka tanam, bahkan warna tanahnya saja telah menghitam, dan pohon kakau tidak dapat menghasilkan buah.

Termasuk juga rumput gajah, biasanya pakan untuk hewan ternak itu selalu tumbuh subur dan berbatang besar di pinggiran kebun, namun kini jadi mengering, persis seperti tanaman yang terkena racun, akibatnya hewan ternak yang kami pelihara terpaksa kami jual, itu adalah salah satu cara terbaik daripada membiarkan hewan-hewan ternak mati tanpa menghasilkan pundi-pundi uang.

Entah bagaimana kedua pabrik itu bisa diresmikan, mungkin investor asing telah memberi dana yang sangat besar, yang pasti, keberadaan kedua pabrik itu sangat berdampak buruk bagi warga kampungku, sekitar 40 hektare kebun kakau warga tidak dapat menghasilkan buah, belum lagi dengan debu yang setiap harinya kami hirup. Lebih parahnya lagi, tidak ada ganti rugi yang diberikan pada kami, hanya penawaran untuk bekerja di pabrik, umumnya sebagai buruh atau kuli, namun yang kudengar, gajinya tidak sepadan jika dibandingkan dengan hasil biji kakau yang dulunya kami jual.

Seharusnya orang-orang yang terlibat atas berdirinya kedua pabrik itu paham, bahwa di antara penjualan kelapa sawit, getah karet, dan buah pinang, biji buah kakau memiliki nilai jual paling tinggi, setiap panen para petani bisa mendapatkan Rp2,6 juta, dan dalam satu bulan dapat 2 kali panen. Tapi gaji yang bapak dan warga terima saat bekerja di pabrik masih di bawah pendapatan penjualan biji dari buah kakau. Ditambah lagi dengan masalah waktu kerja, lebih dari 9 jam bapak dan para warga bekerja di pabrik, waktu istirahat yang diberikan juga sedikit, berbeda saat masih menjadi petani yang bekerja setengah hari saja.

Besoknya setelah aku bangun dari tidur, aku menyempatkan untuk bertanya langsung pada ibu yang sedang masak untuk sarapan pagi, aku hanya tidak mau bapak terus-terusan murung dan tidak bersemangat.

“Bapak lagi kurang sehat ya, Bu?” tanyaku sembari mencicipi kerupuk yang baru ibu goreng.

“Mandi dulu, nanti kamu terlambat sekolah,” tutur ibu.

Saat itu ibu sama sekali tidak melihat mataku, rasanya seperti ada sesuatu yang ditutupi, aku pun melewati obrolan singkat itu dan gegas masuk ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, aku kembali menghampiri ibu di meja makan, mumpung bapak masih belum bangun.

“Bapak sakit apa, Bu?” tanyaku.

Lagi-lagi ibu tidak menjawab, kepalanya hanya tertunduk dengan tangan yang masih memegang centong nasi, dan tiba-tiba saja wajah ibu memerah.

“Kamu sekolah yang rajin, supaya nanti jadi orang hebat,” jawab ibu dengan desah sesenggukan.

Ternyata ibu menangis, sontak aku langsung memeluk ibu untuk menghentikan air matanya yang terus menetes. Setelah ibu tenang, aku kembali menanyakan masalah apa yang sebenarnya terjadi, dan pagi itu ibu menceritakan banyak hal, namun salah satu yang membuat ibu sangat sedih, bahwa bulan depan bapak dan beberapa warga akan diberhentikan untuk bekerja di pabrik, dengan alasan digantikan oleh tenaga kerja asing yang lebih kompeten, tentu saja hal itu menjadi pukulan hebat bagi ibu dan bapak, sebab di mana lagi mereka akan mencari uang untuk memenuhi ekonomi keluarga.

Dalam keadaan sedih dan berkecamuk itu, bapak tiba-tiba saja membuka pintu kamar.

“Seandainya dari awal, kita dan para warga membuat posko untuk tidak menyetujui pembangunan kedua pabrik itu, tentu kita tidak perlu bersusah payah memikirkan hal seperti ini,” ucap bapak sembari berjalan menuju ke meja makan.

Ternyata dari tadi bapak menguping apa yang aku dan ibu bicarakan, namun terlepas dari hal itu, aku lebih tertarik dengan apa yang bapak katakan tadi, tapi seharusnya ide untuk menolak pembangunan kedua pabrik itu harus bapak sampaikan ke seluruh warga sejak awal sebelum kedua pabrik itu diresmikan, sehingga aku juga dapat membantu untuk menggerakkan massa, setidaknya warga kampungku dapat memberikan perlawanan. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.

“Kalau saja bapak memiliki saudara yang punya kekuasaan, sujud di kakinya pun bapak rela, asal pabrik itu bisa ditutup,” ucap bapak dengan nada sedih.

Apa yang bapak sampaikan itu laiknya perkataan seseorang dalam keadaan yang sangat lemah dan tidak tahu mau mengadu pada siapa, aku benar-benar miris mendengar apa yang bapak katakan tadi. Belum pernah aku mendengar kalimat yang menjatuhkan harga diri seperti itu.

Menurutku, seharusnya orang-orang yang terlibat dalam pembangunan kedua pabrik itu harus sadar, bahwa pembangunan pabrik akan menjadi hal yang sia-sia, jika warga yang hidup berdampingan dan terkena dampak dari pembangunan pabrik itu belum disejahterakan. Tak peduli dengan alasan untuk kemajuan suatu negara, sebab, banyak kerugian yang nantinya akan kami terima, seperti banjir, tanah longsor, gangguan pernapasan akibat asap dan debu yang terus beterbangan, bahkan air bersih yang biasanya kami gunakan juga akan ikut tercemar.

“Lebih baik kamu berangkat sekolah saja, belajar yang rajin, supaya bisa jadi orang hebat dan mudah mencari kerja, masalah ini biar ibu dan bapak yang memikirkan,” tutur ibu padaku.

Meski sebenarnya niatku untuk pergi ke sekolah sudah hilang, tapi dengan berat hati aku menuruti apa yang ibu suruh, aku hanya ingin nantinya ibu bangga denganku, aku pun pamit sambil mencium tangan bapak dan ibu, namun di sepanjang perjalanan, rasanya aku berharap jika di dunia ini ada lorong reinkarnasi, sehingga kejadian seperti ini bisa aku atasi tanpa sepengetahuan bapak dan ibu, aku ingin kembali pada waktu di mana bapak dan para warga rutin pergi ke kebun, serta kegiatan ibu yang pergi mencari rumput untuk pakan hewan. Sederhana memang, tapi kebahagiaan justru dapat kami rasakan, tidak seperti saat ini. Namun di mana aku dapat mencari lorong reinkarnasi, apa hal semacam itu benar ada.

Bahkan aku juga sempat berpikir, bagaimana jika arit yang telah aku asah menjadi tajam ini, aku pakai saja untuk memenggal kepala orang-orang yang telah membangun kedua pabrik itu, sebab aku tak pernah kuat melihat orang yang paling aku cintai bersedih dan menangis, tapi jika saja diriku kesetanan lalu memenggal kepala orang-orang yang mendirikan serta meresmikan kedua pabrik itu, justru bapak dan ibu akan lebih sedih, bahkan bisa saja tidak henti menangis, sungguh, kebencian benar-benar telah singgah padaku.


Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari di Banda Aceh. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku, puisi dan cerpen telah banyak terangkum pada beberapa media.

Cerpen

Megh dan Cerita-Cerita yang Memicu Luka

Cerpen Pasini

Megh tiba lima belas menit setelah aku mempersiapkan semuanya. Yang kumaksud mempersiapkan di sini adalah lubang di halaman belakang, lilin, dan kue ulang tahun. Juga, kopi mocca favoritnya tentu saja.

“Aku yakin sebentar lagi akan menjadi ulat dalam kepompong. Rumah ini begitu nyaman dan tidak membiarkan penghuninya pergi ke mana-mana,” buka Megh, menyertai gerakanku menuang kental kopi ke dalam dua cangkir keramik. Menanggapinya, aku tersenyum tentu saja. Bukankah senyum adalah cangkang paling aman untuk menyembunyikan apa saja. Termasuk luka. Dalam hal ini, aku berguru dari ibuku.

“Tapi bagi seekor kupu-kupu, ulat yang bertapa di dalam kepompong adalah fase paling menyiksa.” Dua cangkir kopi kubawa menuju Megh yang memilih bangku dekat jendela terbuka menghadap taman samping rumah. Bougenvil, mawar, anggrek, aglonema. Ah, lagi-lagi mengingatkanku pada ibu. Pada luka.

“Oh, tidak. Aku ulat yang bahagia.” Megh berkata sambil menarik bibirnya menjadi dua sudut yang sangat runcing. Seperti menegaskan bahwa ia bukan ulat mengenaskan seperti yang kusangkakan. “Untung aku jauh berjarak dari masa-masa itu, Ros. Mendengarkan cerita dari mulut Ibu saja sudah membuat tulang-tulangku linu.”

Dalam beberapa detik aku langsung menyadari betapa konyolnya aku dengan prasangkaku. Tentu saja Megh dan ibunya dan neneknya yang miskin itu bahagia. Ibunya tidak perlu lagi jadi buruh pabrik yang berangkat kerja pagi-pagi sekali dan tiba kembali di rumah kontrakan sempit menjelang malam. Neneknya tidak lagi serupa laba-laba yang seharian di dalam kamar memintal sarang disertai erangan.

Di mana sebelum ibu Megh berangkat kerja, sudah ia siapkan makanan di meja dekat ranjang tempat perempuan tua itu berbaring. Juga obat-obatan murah dari warung. Beberapa pijak sebelum langkahnya meninggalkan ambang kamar, ia meminta perempuan tua itu untuk sedikit menahan sakitnya. Di tanggal gajian ia berjanji akan membawa ke dokter dan membelikan obat dari apotik.

***

“Tidak enak menjadi simpanan. Selalu dianggap sebagai perebut hak bahagia orang lain.”

Megh, ibunya, dan nenek laba-labanya, tinggal di kota kecil. Berita seperti apa pun dengan cepat menyebar bagai bau busuk ditebar lalat. Yang menjadi lalat di sini tentu saja perempuan-perempuan tetangga. Mengatai ibu Megh perempuan tak punya hati. Nenek Megh menjual anak sendiri. Ketika Megh lahir, ia menjadi korban perundungan teman-teman di sekolahnya.

“Lalu Ibu merayu Ayah agar kami sekeluarga bisa pindah ke rumah yang lebih besar.”

“Ayahmu menyanggupi?” tanyaku ringan, selayaknya helai daun rapuh yang sudah tiba waktu jatuh dan diterbangkan angin. Penting untuk tetap menjaga luka di dalam cangkangnya. Aman di sana.

“Itu adalah harga yang harus dibayar setelah orangtuanya memakai kemiskinan Ibu dan Nenek agar mau dinikahi anak satu-satunya.”

“Sepertinya kau tidak suka dengan ayahmu, Megh?” telisikku.

“Aku benci saat ia mengatakan harus buru-buru pergi sementara aku masih ingin dipeluknya. Masih ingin dibacakannya sebuah dongeng, masih ingin bermanja-manja di pangkuannya. Anak-anak orang lain bebas melakukannya setiap waktu, Ros.”

Cerita Megh serupa anak sungai yang menghanyutkanku ke masa lalu. Saat terbangun di tengah malam dan mendapati hanya ada ibu menenangkanku. Padahal dalam mimpi buruk yang baru saja membuatku terjaga, aku dikejar-kejar sosok buruk rupa dan diselamatkan ayah dengan menunggang kuda.

Ibu kemudian tertawa. Mengatakan bahwa ayah tidak mungkin sedang bersama kuda. Ia tengah berada di jauh sana, berjibaku dengan kertas-kertas kerja atau laptop menyala. Aku meminta ibu menghubunginya. Hanya terdengar nada dering yang begitu lama. Esok harinya ayah baru membalas dengan beberapa alasan. Jika aku di usia ibu dan aku istrinya, tidak akan kupercaya.

Aku bahkan membenci kenyataan pernah mengirim doa-doa baik di setiap kepergian ayah. Agar  mobilnya tidak bertemu pengendara ugal-ugalan di jalan. Agar ia kembali dengan sekeranjang hadiah. Agar ia membawa uang yang banyak sehingga aku bisa membeli sekarung permen atau arum manis.

Aku juga pernah berdoa agar ayah tidak sering pergi, tetapi ibu melarangnya. Katanya, ayah bisa dikeluarkan dari tempatnya bekerja jika menolak perintah atasan. Dan itu sama artinya tidak ada lagi sekeranjang hadiah, sekarung permen, dan arum manis. Meski menurut ibu, pergi ke luar kota adalah kebiasaan baru. Ayah tidak melakukannya di tahun-tahun awal pernikahan mereka.

Rasa percaya ibu yang begitu dalam pada ayah, membawanya ke dalam luka paling palung saat terjatuh. Dan harus ada yang membayarnya agar luka itu tidak berlalu sia-sia.

“Tak ada yang bersimpati ketika Nenek meninggal. Ketika Ibu menyusulnya karena leukemia. Orang-orang dengan pintasnya mengatakan itu sebagai tuai.”

Aku mengangsurkan cangkir kopi agar lebih dekat dengan Megh. Sambil memberinya saran, ia sebaiknya menjeda ceritanya dengan minum. Cita rasa kopi akan memudar seiring perubahan suhunya.

***

Sampai ibu ditemukan dengan jerat tali di lehernya pada sebuah pagi berkabut, aku masih belum memahami perihal sakit yang dimaksud nenek. Yang kutahu, ibu menjadi seorang yang berbeda sejak ayah meninggal. Dari seorang ceria yang suka menghabiskan hari-hari dengan menanam bunga, menjadi seorang pendiam yang mencari-cari alasan agar selalu menyendiri.

Ibu juga membakar semua barang milik ayah dan tidak ingin menyimpannya demi mengawetkan kenangan. Bagiku itu ironi mengingat ayah adalah satu-satunya lelaki di hidup ibu. Mereka sudah bersama begitu lama, tepatnya sebelum aku terlambat hadir di tahun ke sepuluh pernikahan.

Setelah ayah meninggal dalam sebuah kecelakaan yang tragis, ibu belum pernah sekali pun menziarahi pusaranya. Beberapa tanyaku tentang ayah kembali sebagai jawaban-jawaban pendek. Bahkan lebih sering menguap bagai nasib awan tersapu angin.

Yang kutahu, perubahan sikap ibu dimulai ketika napas ayah tinggal satu-satu dan memaksa untuk bicara empat mata. Ibu keluar dari ruang rawat dengan tangis tak terbendung dan jatuh di pelukan nenek. Tak lama kemudian ayah meninggal dan ibu mematung.

Sebelumnya ibu adalah seorang istri yang tidak pernah mengeluh kekurangan waktu. Bahkan ibu menjadi payung peneduh atas gundahku saat tepat berusia tujuh dan dirayakan dengan sebuah pesta tanpa kehadiran ayah.

Ayah meneleponku. Mengungkapkan rasa bersalah karena kesibukannya. Menggantinya dengan sebuah janji boneka beruang dan pergi jalan-jalan sepulangnya nanti. Jadi ketika ibu mulai menghindari tanyaku tentang ayah, aku berpikir ibulah yang jahat dan ayah sebaliknya.

“Ibumu sakit,” reda nenek sambil membelai rambut sepunggungku.

Aku menggeleng. “Ibu baik-baik saja.”

“Sakitnya di sini.” Nenek menunjuk dadanya.

Tersisa nenek di sisiku. Meski yang tampak di mataku adalah sebuah jasad dengan hanya sepertiga ruh di dalamnya. Ibu adalah satu-satunya anak perempuan nenek dan menjadi kesayangan di antara dua anaknya yang lain. Kepergian ibu dengan cara mengenaskan di usia masih cukup muda pasti begitu memukul nenek. Menjadikannya semakin letih dan mendekatkannya dua kali kepada kematian. Dengan suara lirih sebelum benar-benar menutup mata nenek berujar, “Seandainya orang tua ayahmu mau lebih bersabar. Karena setahun kemudian ibumu berbadan dua. Peristiwa yang membawa luka itu tak perlu terjadi.”

Sebuah alamat kemudian diangsurkan kepadaku dan aku tidak tahu harus melakukan apa sampai begitu lama.

***

“Tapi aku pernah begitu bahagia dan merasa menang, Ros,” kata Megh. Itu adalah hari ke sembilan aku mampir ke tempat makan miliknya. Lebih dulu aku mencari tahu sebuah alamat dan menemukan Megh sebagai pemilik dari sebuah resto kecil. Aku menghabiskan banyak uang dengan pesanan dan Megh terkesan.

“Benarkah?”

“Meskipun hanya kemenangan kanak-kanak, aku memaknainya dalam. Aku berpura-pura sakit. Ibu dan Nenek memberi pilihan agar Ayah pergi. Merekalah yang akan menjagaku. Ada gadis kecil lain menunggunya untuk menerima suapan pertama dari potongan kue. Tapi Ayah memilihku.”

Megh meraih gelas. Kami bersulang. Goncangan air kuning bening di dalam gelas tulip menandai cangkangku yang retak dan tidak mampu lagi menampung bengkakan luka di dalamnya.

“Kau dan kotamu sudah menerimaku begitu baik. Aku mengundangmu untuk berganti pergi ke kotaku. Ke tempatku. Aku akan menjamumu dengan sebuah petualangan yang tidak mungkin akan kau lupakan,” kataku dengan tatap penuh permohonan.

Dan Megh mengabulkannya. Siang ini ia tiba di rumahku, lima belas menit setelah aku mempersiapkan semuanya. Yang kumaksud mempersiapkan di sini adalah lubang di halaman belakang, lilin, dan kue ulang tahun. Juga, kopi tentu saja.

“Kau juga tinggal sendiri di rumah sebesar ini, Ros?” Megh menyeruput minumannya. Mengedarkan pandang pada seisi ruang tamu yang hanya berisi pigura dengan fotoku seorang diri.

Aku melihat Megh seperti ingin berdiri. Pandangannya lekat kepada seekor kupu-kupu yang hinggap di pigura tadi dan kupikir ia hendak pergi ke sana untuk menangkapnya atau sekadar menatap dari jarak yang lebih dekat. Tapi tubuhnya kembali roboh dengan lemparan pantat yang begitu keras pada bangku. Seolah ia kehilangan kekuatannya sama sekali.

“Benar. Ayahku sudah di neraka. Bisakah kau menyampaikan salamku saat bertemu dengannya?”

Megh menatapku tak mengerti. Tapi sama sekali tidak tersisa waktu untuk bertanya. Ia memegangi lehernya serupa orang tercekik. Serbuk-serbuk putih yang ikut kularutkan di dalam teko sepertinya sedang bekerja.

Aku menyalakan lilin. Setidaknya kali ini Megh tidak perlu berpura-pura sakit di saat ulang tahunku. Sesaat setelah memejam mata untuk merapal pinta selayaknya prosesi pertambahan usia, aku menyeret tubuhnya ke lubang galian di belakang rumah.****


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring.

Cerpen

Gerimis Ungu dan Perempuan Bersyal Biru

Cerpen Afri Meldam

Saya suka berjalan-jalan, terlebih pada waktu sore dan malam hari. Biasanya, sehabis mengguyur tubuh dengan air hangat yang disediakan Imah, saya segera bersiap-siap: memakai beberapa lapis baju yang kemudian saya padankan dengan sepotong syal dan sweater. Tak lupa pula—di dalam kantong sweater—saya selipkan beberapa batang rokok, sekadar pengusir dingin dan serangan nyamuk.

Malam ini saya akan ke pelabuhan. Katanya, malam ini, ada pasar malam di sana. Tentu orang-orang akan ramai berkunjung. Siapa tahu, di sana saya akan kembali bertemu dengan perempuan bersyal biru itu…

***

Perempuan bersyal biru itu selalu hadir dalam setiap mimpi saya.

Saya bertemu pertama kali dengannya secara tidak sengaja di sebuah pesta taman, setahun yang lalu. Layaknya sebuah pesta, undangan yang hadir umumnya mempunyai pasangan masing-masing, kecuali saya. Saya hanya datang sendiri ke pesta itu. Sebentar saja, rasa bosan telah menguasai saya, sementara orang-orang asyik bercengkerama dengan pasangan masing-masing. Saya pun kemudian berniat untuk segera pulang. Namun, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seorang perempuan cantik yang tengah duduk di sudut taman. Ia sendirian. Seketika pikiran saya berubah. Saya melangkah ke sana, menghampiri perempuan itu. Ia tersenyum. Saya berdebar.

“Sendiri?” tanya saya.

Ia mengangguk.

“Boleh saya temani?”

Ia kembali mengangguk.

“Boleh saya duduk di sini?”

Ia mengangguk lagi.

Aneh, kok perempuan ini tak membalas pertanyaan saya dengan kata-kata, hanya dengan sebuah anggukan? Begitu mahalkah suaranya? Atau, jangan-jangan perempuan cantik ini bisu?

Kali ini ia menggeleng. “Saya nggak bisu,” katanya santai.

Lho kok ia bisa mendengar kata hati saya?

“Kadang, kata hati lebih pantas didengar dan lebih objektif dibandingkan kata-kata yang terucap di bibir,” lanjutnya kemudian, menimpali pertanyaan yang tadi terlontar di hati saya.

Saya penasaran. Lalu saya berniat untuk bertanya padanya. Namun, baru saja saya akan buka mulut, ia segera mendahului: “Bukan. Saya bukan peramal.” Lalu ia tersenyum.

Untuk kesekian kalinya saya dibuat tak berkutik oleh perempuan cantik itu. Ia seolah mempunyai indra yang begitu tajam, yang bisa meraba segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan, kata-kata yang sebenarnya baru tersusun dalam otak, sudah mampu ia baca. Saya betul-betul kagum.

“Kopi?” Ia mencoba memecah hening di antara kami.

Saya mengangguk,”Ya, kopi pahit.”

Ia lantas memanggil pelayan pesta dan memesan dua cangkir kopi. Satu dengan gula, untuknya, dan yang satu lagi kopi pahit, untuk saya. Tak lama berselang, pesanan pun tiba. Dua cangkir kopi panas menjadi teman ngobrol kami malam itu. Percakapan pun terasa lebih akrab dan mengalir tenang. Ia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya pada saya. Mulai dari ketika ia diterima bekerja di sebuah perusahaan asing hingga kisah cintanya dengan seorang pemuda yang berakhir dengan airmata: mereka berpisah karena kekasihnya menerima perjodohan dengan seorang peragawati dan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun terucap.

Saya pun tak mau kalah. Saya ceritakan kepadanya tentang perjalanan hidup saya mulai dari saya kecil hingga tua seperti sekarang. Saya ceritakan juga kepadanya tentang bagaimana perasaan saya ketika berhasil meraih gelar doktor di salah satu universitas terkemuka di London, tentang kucing-kucing saya, juga tentang pembantu saya, si Imah yang pandai memasak dan membuat kue-kue enak.

“Bagaimana dengan anak dan istri Anda? Rasanya tak satu pun dari mereka yang Anda ceritakan kepada saya?”

Sudah saya tebak, ia pasti akan bertanya tentang hal itu pada saya.

“O..itu! Lain kali saja. Kalau kita bertemu lagi, akan saya ceritakan kepada Nona semuanya. Sepertinya malam sudah larut. Para undangan sudah banyak yang pulang, lihatlah!”

Ia memandang ke sekeliling, lalu mengangguk.

“Terima kasih, Anda telah menemani saya malam ini.” Ia menghabiskan sisa kopi di cangkirnya.

“Sayalah yang sepatutnya berterima kasih,” jawab saya sambil kemudian berdiri. Tiba-tiba, saya teringat satu hal: Siapakah nama perempuan cantik ini? Setelah sekian jam kami berbincang-bincang, tapi tak satu pun dari kami yang menyadari kalau kami belum saling mengenal satu sama lain. Tapi, sebelum saya berucap—seperti biasa—ia mendahului saya, ”Julia. Nama saya Julia,” katanya. “Dan Anda Pak Martin. Betul?”

Ya, tentu saja ia sudah tahu nama saya!

Malam itu terasa begitu mendebarkan. Dan saya pulang dengan langkah yang begitu bersemangat. Entah kenapa…

***

Saya tiba di pelabuhan ketika gerimis mulai turun. Pendar lampu jalan dan penerangan dari stan dan wahana pasar malam membuat gerimis tampak berwarna ungu.

Orang-orang sudah banyak yang berdatangan, berjubelan. Tua-muda berbaur dalam hiruk-pikuk pasar malam. Beberapa bocah tampak asyik menaiki komedi putar yang berada persis di tengah-tengah arena. Tidak jauh dari tempat itu, beberapa orang tampak asyik menonton aksi seorang pesulap yang berpakaian serba hitam. Pesulap itu menyuruh para penonton untuk memejamkan mata dan memikirkan sesuatu. Setelah itu, ia menebak apa yang ada dalam pikiran masing-masing penonton, satu per satu.

“….Anda yang berbaju merah memikirkan istri Anda yang Anda tinggalkan di rumah bersama mertua Anda. Kalau yang memakai kerudung abu-abu, Anda mengingat pacar Anda yang kini berada di perantauan. Dan, Anda yang berbaju hijau sedang membayangkan kemungkinan promosi jabatan yang sempat disinggung atasan Anda…”

Semua penonton bersorak-sorai, bertepuk tangan. Mereka tampak begitu takjub. Tumpukan uang melayang ke arah pesulap.

Tiba-tiba saya teringat seseorang. Perempuan cantik di pesta itu! Bukankah ia juga memiliki kemampuan seperti pesulap ini? Apakah mereka saling mengenal atau mereka pernah belajar di tempat yang sama, atau jangan-jangan  pesulap ini tak lain adalah perempuan cantik di pesta itu?

”Ya, Anda betul. Sayalah perempuan itu!”

Saya terlonjak kaget. Tiba-tiba, pesulap itu sudah berada di dekat saya. “Maaf, saya telah membuat Anda kaget,” tambahnya kemudian di tengah kecamuk dalam benak saya. “Oh, ya! Saya ingat satu hal. Dulu Anda berjanji untuk bercerita tentang keluarga Anda kepada saya, bukan? Anda masih ingat, kan, Pak Martin?”

“O…tentu! Tentu saya masih ingat,” balas saya gugup.

“Sepertinya gerimis makin deras. Ayo kita cari tempat berteduh. Saya sudah tidak sabar ingin mendengar cerita Anda!”

Ia menarik tangan saya dan membawa saya ke sebuah kafe yang terletak di bibir pantai.

“Anda mau makan apa, Pak Martin?” tanyanya ketika pelayan kafe datang membawakan daftar menu ke meja kami.

“Terserah Nona. Saya percaya, Nona tahu keinginan saya.”

“Baiklah kalau begitu,” ujarnya sembari menyebutkan menu yang kami pilih pada pelayan kafe. Ia memesan satu piring udang goreng saus padang, kentang rebus keju serta segelas jus nanas. Untuk saya dipesannya seporsi kakap panggang plus secangkir kopi pahit, persis seperti apa yang ada dalam pikiran saya.

Selesai makan, perempuan itu mendesak saya untuk bercerita. Entah kenapa ia kelihatan begitu bersemangat ingin mendengar cerita saya. Bukankah ia mampu membaca pikiran orang? Lalu kenapa ia tak mampu…

“Tidak semuanya. Ada hal-hal tertentu yang tak dapat dibaca. Ya, seperti cuaca. Kita tak mampu menebaknya dengan pasti, hanya menerka dengan segala keterbatasan kita,” tuturnya.

Setelah didesak-desak terus, akhirnya saya bercerita kepadanya…

Suatu sore, ketika saya berjalan-jalan di sebuah taman, saya bertemu dengan seorang perempuan bersyal biru. Ia duduk sendirian di sebuah bangku kayu di bawah persis di sebelah lampu taman. Saya datang menghampiri perempuan itu. Gerimis ungu turun.. Perempuan itu hanya diam. Saya mendekat. Tiba-tiba ia berdiri dan memegang tangan saya. Tanpa saya duga, perempuan bersyal biru itu mencium saya. Saya terkesima dan tak mampu berbuat apa-apa.

Sore berikutnya kami kembali bertemu di taman itu. Gerimis ungu juga turun seperti kemarin. Perempuan itu kembali mencium saya. Begitu juga pada sore berikutnya dan sore berikutnya lagi. Kami bertemu di taman itu dan ia selalu menyambut kehadiran saya dengan sebuah ciuman lembut. Akhirnya kami menikah. Hidup di bawah atap yang sama. Mempunyai anak. Lalu tiba-tiba saja penyakit bersarang di paru-parunya. Ia meninggal. Saya menjadi orangtua tunggal bagi anak-anak. Saya gagal mendidik mereka. Ketika mereka beranjak dewasa dan mempunyai kehidupan yang mapan, mereka membuang saya ke tempat ini. Begitulah…

Saya mengakhiri cerita saya sampai di situ. Hanya itu yang mampu saya ingat, tak lebih.

Perempuan itu menyeka air matanya. “Maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda bersedih,” ujarnya menyesal.

“Tidak apa-apa”

Setelah itu kami lebih banyak diam. Hanya debur ombak yang sesekali memecah hening. Saya mengisap habis semua rokok yang tadi saya selipkan dalam saku sweater.

Kami meninggalkan kafe saat gerimis masih cukup lebat. Di tengah jalan, perempuan cantik itu berhenti. Ia memegang tangan saya. Tiba-tiba saja saya merasakan ada getaran hangat yang mengalir dari tubuhnya. Saya memejamkan mata. Perempuan itu mencium saya dengan lembut. Dan entah kenapa, saya baru sadar bahwa ada syal berwarna biru yang melilit di lehernya.

***

Malam ini, Imah melarang saya pergi jalan-jalan.

”Bapak sakit. Sebentar lagi dokter Jose datang. Tidurlah. Saya akan membuatkan kopi pahit buat Bapak,” bujuk Imah setelah mengompres kening saya dengan sehelai handuk kecil.

“Buatkan dua cangkir, Imah. Tapi yang satunya dengan gula. Saya akan menelepon dan meminta Julia datang ke sini.”

”Julia? Teman Bapak?”

Saya mengangguk. Setelah itu, Imah berlalu, meninggalkan saya seorang diri dalam kamar.

Ketika saya akan mengambil ponsel, terdengar seseorang mengetuk pintu. Saya bergegas ke sana. Seorang perempuan bersyal biru berdiri di sana.

“Julia!” Saya terkesima. “Anda betul-betul bisa membaca pikiran orang!”

Ia tersenyum, lalu mencium kening saya.

Dari jendela, saya lihat gerimis turun dengan lebat. Gerimis yang selalu berwarna ungu. ***

Simpang Haru, 28 0ktober 2005-Bekasi 2020


Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, “Hikayat Bujang Jilatang” terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul “Di Palung Terdalam Surga” bisa dibaca di Pitu Loka (2019). Sekarang bekerja sebagai guru BIPA di Jakarta.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Kepada Perempuan yang Menyeling

Nasib bicara perihal seni menyeling

Token listrik lebih nyaring dari alarm pagi

Membawa sumpah serapah

Langkah gontai dan sembap mata

            yang tak punya jatah lelap

Siapa sangka waktu bisa porak poranda

Ditubruk kerja mekanik tanpa gugat

Menopang gaya hidup pas-pasan

Sebelum diburu tenggat demi tenggat

            dan teror untuk segera merampungkan

            laporan-laporan ‘tai kucing’

            di penghujung tahun-tahun kematian

tapi seorang perempuan menyeling

scroll timeline menatap layar

merebah diri tanpa melakoni apa-apa

ia kembali kekanak, seperti mula

sekembalinya pada setengah sadar

ia kehilangan tenggat

begitu saja waktu menilapkannya di pembaringan yang sama

sudut kursi panjang sampai bosan dengan pantatnya

Nasib perempuan menyeling kehabisan waktu

Menikmati lakon kemalasan

Lepas pesat pada sibuk menyenangi selingan

            menyeling sampai gagang pintu, remuk.

Tulungagung, Agustus 2021


Sebuah Potret Dini Hari

Di warung-warung dini hari

Ampas-ampas kopi mengendapi dasar gelas dan cangkir

Sengaja ditinggalkan di bak cucian

Menjamur

Di pasar orang-orang berjejal menunggu tengkulak mengambil pesanan, mengaso

Mengais beberapa sisa sayur di bawah truk dan pick up

            Atau berdebat soal harga minyak yang mencekik sejadi-jadinya

Tapi di dapur umum

Sergapan kantuk lebih nyaring membumbung bersama deretan kalut, capai dan pupus

Menyisa dua pertiga potong tenaga buat mengisi lambung bocah-bocah yang ikut ngungsi bapak biyungnya

Buat para sepuh yang gagal juang

            Atau pencuri-pencuri yang sadar punya nasib buruk

Di dapur-dapur umum dini hari

Seorang perempuan tinggal menggendong bayinya

Memberi suap demi suap yang papa

Satu biskuit dan air hangat sedikit gula

Di dapur umum

Potret kematian-kematian kabur

Hanya siluet kegamangan

            Melanjutkan hidup, tanpa apa?

Tulungagung, Desember 2021


Tak Ada yang Lebih Kecut dari Hujan di Pipimu

Kau sambat lagi!

Menangis di siang itu

            Di bawah beringin yang baru menjulur akar gantungnya

Sedikit melindungi kulit merah dibalut krim-krim anti matahari

Katamu

Cinta tak lebih dari pasir hisap

Menelanmu lamat-lamat

Menenggelamkan harap-harapmu yang abu-abu

            Perihal hidup langgeng tanpa luka

Bukankah cinta manunggal bersama duri-duri mawar dan lembah-lembah curam?

Kau tak peduli

Lelaki sengaja menutupi air mata mimik muka dengan asap kretek

Sesenggukan di bawah pohon beringin muda

Sebab kalut dimangsa kisah cinta yang kecut cilu

            Tapi tak ada yang lebih kecut dari hujan di pipimu.

Tulungagung, 2021


Perihal Jeda

Siapa yang kenal jeda karena butir dan ongas sebab martir? Ketika tak kutemui puisi di matamu, jeda-jeda raib dan kacau.

Aku jadi segala gerak cepat membabi buta

Iringan tawon kehilangan sarang

            Kehilangan penghidupan

Aku jadi segala bising dan desing

Menolak rehat meski dada remuk ditatah butir-butir air mata bocah kolong

            Yang dingin dan dalam

Aku jadi segala keping-keping yang tercerai

Diserakkan angin yang berembus tanpa jeda

            Seperti kau, menikam dengan martirmu.

Marsda Adisucipto, November 2021


Sajak Kancing Paus

Di tubuhmu aku menemukan sajak kancing Paus

Sebentar-sebentar

Mari ulur waktu sampai level mendengarmu naik sedikit

            : Sajak Kancing Paus

            Gemerincing kancing-kancing baju impor

            Penuh di kerancang belanjamu

Nyaring seperti nyalimu tak surut

Memborong menawar mencari diskon-diskon

Berburu sampai larut di sosial media

Tak ada yang boleh sisa di keranjang maya-nyata

Almari-almari menahan kerakusan

Tak kuat sampai mendecit minta jatah udara segar bebas debu

            Rapikan, pilah, buang saja kancing-kancing lama ke selokan depan

Tapi dari sajak kancing Paus kau mengendus

Memergoki kenakalanmu

            Di selokan ke selokan menuju sungai-sungai ke laut

            Pantainya kau singgahi dengan baju-baju baru

Kancing-kancing lapang berjalan mengalir menyeberang tertampar ombak mencari muara menggauli takdir

Membersamai tubuh sang Paus

            yang tenggelam menyesali kedurhakaannya.

Dlodo, 2021


Melayat Mata Air

Di sudut-sudut yang Agung

Kita tak menemui apa-apa

            Selain sumber yang hening

Kering dan riak-riak tumbang

Ceruk-ceruk seperti tebing-tebing megek

Dirayapi lumut-lumut cokelat

            Yang ditebang

            Yang kehilangan

            Yang tersisa

                        Napas-napas tak lagi panjang

Kota telah membeli sumber hidup

            Membeli napas

            Melayat mata air dengan air mata.

Tulungagung, 2021


Di Kursi Tunggu

            Buat perempuan yang dikutuk sendiri

Kursi-kursi tunggu sepi

Hanya juntaian jadwal kereta

Yang mabuk menunggu manusia

Di ruang tunggu asing

Aku bukan lekas menjadi saudara

Hanya tujuan lebih jelas

Menghabisi masa muda menunduk pada layar

Di ruang tunggu

Dan deretan jam keberangkatan

tumbuh ingatan-ingatan yang diulang-ulang

            tentang perjumpaan dan upaya-upaya koyak

            tentang keberanian buat sendiri.

Tulungagung, 16 Desember 2021


Nama yang Pulang

Diingat,

Juga pada sebuah tengah malam

Dingin dan lembap

Seperti tertahan tumpahan hasrat hari lalu

Ada yang merambahi mengejar

Silih ganti pada ruas-ruas jari kaki

Menggetarkan pada yang hanyut

Mencintai

Sebab tak lama bersesumbar kabar datang senyap menegang

Bukan lagi soal berahi

Sampai namamu menyelanya

Mengakhiri tanya

Kenapa kau yang datang

            Dengan tubuh tanpa nyawa?

Tulungagung, September Hitam 2021


Hasil Bumi?

Di batas manusia mengutas rusuh atas ketubuhan

Membumbui laku dengan hasil bumi

            Yang diperebutkan

Di tanggal-tanggal yang sama

Hasil-hasil panen disakralkan

Orang-orang membahagiakan diri

            Melarung saji

Tapi di sana, Le

Bongkahan emas dan marmer dan pasir yang didulang

            Tak habis-tabis

Hanya cukup buat membahagiakan

Aktor kawakan!

Januari, 2022


-dan Sumber Ece

Di Nguri sebuah kabar berkesiur

Meminang telinga dan kerabatnya merasai

            Jumpa pada dataran lebih tinggi

-dan Sumber Ece

Yang kau temui memuat koin-koin bercecer di sepanjang aliran

sampai muara pada hari cerah

dan matahari bersahabat dengan wajahmu yang pura-pura

Di Nguri pada kedalamanmu yang lain

Sebuah desa tetap menjadi desa

            yang luput dari bising dan ongas tambang

-dan Sumber Ece

            Lebih jernih dari pantulan matamu

            di cermin itu.

Sumber Ece, Januari 2022


Rizka Hidayatul Umami, mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Sedang menekuni sastra dan isu perempuan. Bisa disapa via Instagram @morfo_biru, Facebook Tacin, atau Twitter @morfo_biru

Cerpen

Sihir Kucing

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Siapapun tak tahu kalau Ayah sudah meninggal, kecuali Muezza, kucing candramawa kesayangannya. Tak bergerak, Muezza—kucing jantan berbulu hitam dan putih, pusar di kepala—menunggui di ambang pintu kamar, dari semenjak subuh. Dewanti memasuki kamar Ayah, dan mendapati tubuh itu terbujur kaku, masih bersarung, berpeci, setelah salat subuh. Muezza terdiam. Sepasang matanya tajam berkilau. Memandangi tubuh Ayah.

Ayah yang terbaring sakit semenjak semalam, memang tidak salat subuh ke masjid. Muezza memasuki rumah ketika pintu depan dibuka Dewanti. Ia menerobos ruang tamu, dan berhenti di ambang pintu  kamar Ayah. Tak ngiau. Biasanya sepagi ini Ayah pulang dari masjid, Muezza berlompatan menyambutnya. Ayah memberi makan Muezza di teras rumah.

Dewanti lama memandangi tubuh Ayah yang terbujur kaku. Bersedekap, beralas sajadah di lantai. Dewanti mendekat. Merabai detak nadi tangan Ayah. Tak terasa aliran darahnya. Dewanti keluar kamar, mencari Ibu di dapur, dan mengajaknya ke kamar. Ibu tak pernah menduga, selepas salat subuh, Ayah  meninggal. Ayah hanya sakit biasa, demam semalaman. Ketika Ibu meninggalkannya tadi, Ayah masih terbaring dengan napas yang tenang. Tidak menandakan kesakitan. Ayah masih mengambil air wudu. Salat subuh. Ibu menyeduh kopi kental dan memasak. Membiarkan Muezza mendekam di ambang pintu kamar. Ketika melihat Ayah meninggal, Ibu tak bisa memekik, tak bisa bicara, tak bisa menangis. Ibu terdiam. Dadanya sesak. Berdiri di sisi jasad suaminya.  

***

Meloncat-loncatkecil, Muezza mengikuti pemakaman Ayah, berlari-lari di belakang iring-iringan jenazah mendaki bukit kuburan. Dewanti tak memedulikan Muezza yang mendekam tak jauh dari liang lahat. Ia baru sadar akan kehadiran Muezza ketika berjongkok di hadapan gundukan makam, menaburkan kembang dan berdoa. Para pelayat sudah meninggalkan makam, dan Muezza mendekati Dewanti.  

Ketika Dewanti meninggalkan kubur Ayah, dengan langkah pelan-pelan, Muezza masih mendekam di sisi makam. Seorang gadis yang tak dikenal Dewanti masih berdoa di sisi makam Ayah. Dewanti sempat mengundang Muezza, mengajak pulang. Tapi kucing itu tetap mendekam. Tak beranjak. Begitu juga gadis cantik yang tak dikenal Dewanti, masih bertahan di sisi gundukan makam Ayah. Wajahnya berduka.

Dewanti termangu-mangu. Ia ingin mengajak pulang Muezza. Kucing candramawa itu dipelihara Ayah sejak kecil. Ditemukan  di pelataran, terpisah dari induknya, dirawat Ayah. Tiap subuh dini hari ia berlari melompat-lompat menjemput Ayah bila pulang dari masjid. Tiap kali Ayah pulang kantor, ia meloncat-loncat kegirangan menjemput. Ayah memberi makan dan minum Muezza sebelum membaca koran. Kucing candramawa itu selalu mengikuti ke mana pun Ayah berada. Bila malam ia berada di luar rumah, dan menjelang pagi mendekam di sudut teras, ngiau nyaring saat mendengar azan subuh, dan menanti Ayah pulang dari masjid. Ia lahap  menghabiskan makan dan minum. Kadang ia menjelajahi sudut-sudut rumah, terutama gudang, dengan sepasang mata tajam menjatuhkan tikus saat merambati dinding, dan menerkamnya, untuk dimakan di bawah pohon srikaya di pelataran. Tak pernah ia mengoyak-ngoyak tikus tangkapannya di dalam rumah. Sesekali ia mencari Ayah di ambang pintu kamar, dan kadang mereka bercanda. 

***

Kucing candramawa itu tak pulang. Dewanti mendaki jalan setapak ke makam Ayah, ingin menemukan Muezza. Ia memang bertemu Muezza yang masih mendekam di sisi makam. Tidak sendirian. Dewanti bertemu pula gadis tak dikenal yang menampakkan wajah murung, dan sepasang mata kehilangan. Gadis itu tampak beberapa tahun lebih tua dari Dewanti. Lebih berduka, wajahnya menampakkan rasa getir kehilangan.

“Saya belum lama bekerja sekantor dengan ayahmu. Saya dianggap sebagai anak, dan merasakan kasih sayang Ayah. Kini betapa saya merasa sangat kehilangan. Tak pernah saya duga, Ayah akan meninggal secepat ini,” kata gadis itu, yang memperkenalkan diri bernama Dyah. Tempat tinggalnya tak jauh dari kaki bukit makam.  

Dewanti menyembunyikan perasaan tak senang pada Dyah. Gadis itu  menyebut “ayah”, sama seperti Dewanti memanggil lelaki yang telah mengalirkan darah pada tubuhnya.

Tertegun, menyingkirkan kecurigaan, Dewanti tak pernah menduga bila Ayah pernah dekat dengan Dyah, bahkan menjalin pertalian batin sebagaimana ayah-anak gadis. Dewanti diam-diam menyembunyikan rasa cemburu pada Dyah, gadis lembut yang digenangi rasa duka begitu keruh.

“Saya mengenal sosok Ayah, ketenangan dan kasih sayangnya. Sosok yang tak pernah kukenal dalam hidup adalah ayah kandung,” kata Dyah, yang terus saja bercerita tentang kehidupannya yang tak mengenal ayah sejak lahir. Ayahnya meninggal, ketika ia masih dalam kandungan ibu. Ia merasa bahagia di kantor, bertemu dengan lelaki seteguh Ayah, yang memberikan perlindungan padanya.

“Saya tak menduga, bila Ayah secepat ini meninggalkan kita,” kata Dyah, dalam kegundahan.     

Dyah memberi makan Muezza yang tak pernah mau meninggalkan makam. Muezza seperti menunggu Ayah bakal bangkit dari kubur, dan mereka kembali bercengkerama bersama. Dewanti sampai pada pikiran: mungkin Muezza ingin mati, agar ia bisa bertemu Ayah. Anehnya, Muezza baru mau makan setelah Dyah memberinya ikan yang diletakkan di atas daun kemboja. Mula-mula ia enggan mengendus-endus ikan. Tapi kemudian ia lahap makan. Muezza jinak pada Dyah—dan melupakan Dewanti.

***

Harikelima kematian Ayah. Kembali Dewanti mendaki bukit makam menjelang senja, ingin mengajak pulang Muezza. Ia ingin kucing candramawa itu menerkam tikus-tikus yang mulai bergentayangan di ruang-ruang tersembunyi, merayap ke meja makan mencuri ayam goreng tanpa rasa takut, dan bersarang di gudang. Tapi ia tak menemukan Muezza di sekitar makam. Alangkah senyap gundukan makam Ayah, dengan taburan bunga yang mengering dan terserak-serak. Dewanti memanggil-manggil Muezza. Senyap. Ia tak menemukan binatang itu. Ia mencari Muezza hingga ke sudut-sudut kuburan yang rimbun semak belukar. Tak ditemukan. Mati? Bila kucing candramawa itu mati, tentu tercium bau bangkainya. Dewanti curiga bila Muezza dibawa pulang Dyah dan dipelihara. Mungkin gadis itu ingin mengenang Ayah dengan cara memelihara Muezza.

Gerimis senja mulai bergemeretap di atas daun-daun kemboja. Dewanti masih mencari-cari Muezza. Ia lacak ke sudut-sudut makam. Gerimis kian deras. Ia tak berpayung, membiarkan dirinya diguyur hujan yang kian menajam, mencari kucing candramawa. Beberapa kali ia tergelincir, terpeleset di jalan setapak licin, terbanting. Tidak segera bangkit. Terdiam. Terpikir padanya nasib Muezza dan tikus-tikus mengganas di rumah. Ia tak ingin Muezza mati terlunta-lunta. Terpikir juga ia pada Dyah, gadis yang tanpa sepengetahuannya sudah merebut perhatian Ayah. Sama sekali Ayah tak pernah bercerita tentang Dyah, meski hanya sepenggal kisah yang samar. Gadis itu menjadi rahasia kehidupan Ayah yang merapuhkan perasaan Dewanti.

Tubuh Dewanti kuyup ketika berketetapan hati untuk membawa pulang Muezza. Ia mengikuti nalurinya mencari rumah Dyah, dan menemukannya. Dyah tinggal di sebuah rumah tua bersama ibunya yang renta. Dilihatnya Muezza berada di sudut ruang tamu.

“Saya datang untuk mengambil Muezza,” kata Dewanti, tenang, dan menuntut.

“Kucing itu mengikutiku pulang. Kalau ia memang mau mengikuti perintahmu, bawalah!”

Seperti terkena sihir, Muezza tak lagi mengenali Dewanti. Bulu-bulunya tegak, sepasang matanya garang, ketika Dewanti mendekat ingin membawanya pulang. Tangan Dewanti terjulur ingin merengkuh dan menggendong Muezza. Ia mencakar tangan Dewanti hingga berdarah.  

***

Malamitu Dewanti tidur gelisah, dengan tubuh menggigil, meski sudah berselimut tebal. Ia terus menahan diri dengan tubuh demam, dalam tidur yang sesekali terbangun. Ia tertidur lagi dalam kegelisahan mimpi-mimpi seram. Ia bermimpi bertemu Ayah dan Muezza. Kucing candramawa itu meloncat dalam pelukan Ayah.  

Tubuh Dewanti tenang. Bernapas teratur. Tertidur. Lelap. Ia tak lagi menggigil demam.  Azan subuh membangunkannya. Terdengar ngiau kucing di teras. Kuku  kucing mencakar-cakar pintu ruang tamu. Dewanti buru-buru membuka pintu. Dilihatnya Muezza di hadapannya. Dewanti meraih Muezza. Memeluknya. Sepasang mata kucing candramawa itu cemerlang berkilau. Bergerak memandangi sekitarnya tanpa berkedip. Ia melihat sesuatu yang tak tertangkap pandangan manusia. Sesaat kemudian barulah sepasang matanya meredup. Ia terbebas dari pengaruh sihir.***

Pandana Merdeka, Desember 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Delusi dan Surat Pendek Michel de Nostredame

Cerpen Beri Hanna

Aku terbangun dan mengingat semua yang telah terjadi di dalam mimpi barusan. Entah, saat ini aku masih bermimpi atau tidak, aku hampir tidak bisa membedakannya. Atau dengan kata lain, ini semacam meneliti pori-pori di putih telur mentah yang bahkan tidak pernah ada. Kepalaku berat, seperti ada setumpuk mentega yang mengeras di dalamnya. Semua kejadian seperti sama dan apa yang aku lalui saat ini telah aku lihat di dalam mimpi, bekerja sebagaimana yang telah terjadi.

Memang jantungku berdegup terlebih ketika aku melangkah ke luar hotel dan merasakan angin malam menyentuh dagingku yang hampir beku. Menyalakan mobil dengan tubuh kaku, seperti aku baru pertama menyetir, sesuatu dari dalam diri mendesak untuk melaju yang saat itu, aku tidak tahu akan sampai di mana. Mungkin rumah sakit atau langsung jatuh dan terbakar di neraka. Masuk ke jalan 16 Rue du Repos, aku berhenti di Cimetière du Père Lachaise. Inilah sebuah makam yang gambarnya seperti sudah kuhafal luar kepala. Berjalan-jalan tanpa tujuan di tengah kesunyian suasana makam, tepat di salah satu nisan tanpa nama, entah kenapa aku tergerak untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat dalam kaleng. Aku juga tidak mempercayainya, tetapi semua itu aku lalui dengan perasaan yang seakan-akan telah terjadi dalam mimpi. Anehnya, tak ada seorang yang memergokiku hingga aku kembali ke hotel dan melihat ke bawah untuk memastikan bahwa diri ini sudah di dalam kamar dan merasa aman.

Membuka surat kecokelatan itu di bawah lampu, aku memandang ke arah bulan dan berharap seseorang membangunkanku dari tidur. Tetapi, ilusi panjang yang kuduga tengah berjalan saat ini, menghanyutkan aku pada paragraf pembuka surat; Saint-Rémy-de-Provence, 1536. Itu tahun yang tidak pernah aku pikirkan, bahkan mungkin nenek moyangku belum berciuman.

Tidak ada yang benar-benar mengganggu hidupku selain membaca isi surat yang tertulis dalam bahasa latin—seperti tulisan Yohanes Calvin pada buku Christianae Religionis Institutio versi pertama—dan untung aku bisa membacanya dengan baik seperti berikut:

Maaf jika tidur nyenyakmu di Gîte Chambre d’hôtes terganggu. Jangan heran dengan apa yang tengah kau alami, karena sejak beberapa hari lalu, sepertinya kau memang sudah melewati beberepa hal aneh, bukan? Dipecat tanpa alasan lalu putus dengan tunanganmu di hari yang sama, salah satu pemicu untuk bunuh diri. Itu sebabnya kau membeli pistol dengan lima butir peluru di dalamnya. Sebagian orang akan mudah melakukannya, sementara sebagian yang lain tidak sama sekali. Maaf jika aku lancang. Tapi bukankah itu alasan kau berkelana seperti koboi tanpa dosa, dengan mobil tua yang kau curi dari garasi rumah nenek? Kau telah mengambil keputusan yang berat, tetapi aku rasa beberapa pria dewasa juga akan menyarankan hal serupa kepadamu; melarikan diri dari sebuah jalan buntu untuk bertahan dengan setengah napas yang selewat pikiran gelap, akan menjadi abu selamanya. Untunglah sejauh ini kau masih bisa berpikir jernih.

Aku sepakat, tidak ada laki-laki sepertimu mau memecahkan telur api yang telah membara hanya untuk kembali dan menjadi kucing pemalas yang akhir-akhirnya, akan mati di atas sofa tanpa pernah berbuat sesuatu melainkan menyesali kesempatan bunuh diri. Itu sangat memalukan. Sejauh ini kita berdua harus sepakat karena kekeliruanlah yang sejak kemarin hingga hari-hari ke depan akan menjebakmu ke dalam kehampaan. Bukankah aku benar sejauh ini? Aku bisa saja mengatakan seluruhnya, tetapi aku tahu, kau bukan tipe pria yang sanggup mendengar sederet nasihat apa lagi yang tertulis oleh seseorang yang tidak kau kenali. Sampai di sini, jika semua itu benar, maksudku dengan apa yang telah aku tulis sebagai pembuka surat ini, ada baiknya kau tetap membacanya sampai habis.

Tentu saja jika aku menjadi dirimu, aku juga merasa aneh dengan semua ini. Mengapa harus berkendara malam hari untuk datang ke pemakaman dan seolah tanpa sadar, menggali sesuatu yang tidak diketahui ternyata berisikan surat ramalan? Lupakanlah itu dan tidak perlu merasa janggal dengan semua ini.

Beginilah keadaannya. Sebelum kau, aku sudah menulis beberapa surat yang di antaranya, bercap pos[1] dengan tanggal yang berbeda-beda. Pada akhirnya, ketika aku lelah menulis surat-surat itu, aku terjaga dari tidur dan melihat kau mengendarai mobil ke pemakaman. Tak ada yang lebih istimewa dari semua yang telah aku ramalkan selama ini, kecuali berbuat sesuatu hal kecil yang itu berpengaruh besar dalam hidupmu.

Aku berhenti membaca surat ini. Tetapi, seperti semuanya sudah diketahui oleh si penulis surat, karena kalimat berikut yang sempat terlihat olehku; tentu saja kau akan mencoba berhenti membaca surat ini, tetapi beberapa saat lagi kau akan kembali membacanya. Baiklah, aku akan membaca surat ini untuk mencari tahu sejauh mana ia mengetahui hidupku.

Percaya tidak percaya, demi melihat keanehan sapi jantan punggung bungkuk melompat dari semak-semak menuju sebuah bukit. Dari atas bukit si sapi melihat segerombolan orang-orang berjalan tenang, tengah mencari tanah lapang untuk dijadikan makam.

“Aneh,” katanya dalam bahasa sapi. “Dari mana orang-orang itu berangkat?”

Siapa yang tahu? Bahkan si sapi bungkuk sepertinya hanya bergumam dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang mengerti.

Orang-orang di bawah sana, masih saja berjalan hingga salah satu dari mereka berdiam tegak menginjak-injak tanah, seolah tanpa tenaga. Sementara langit siang itu mendung, hujan tidak turun-turun. Si sapi masih memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang mulai menggali lubang seukuran satu tubuh sebanyak jumlah mereka.

Si sapi punggung bungkuk, mulai berjalan mendekat ke arah orang-orang itu dan sayup-sayup terdengar nyanyian seperti tanpa arti yang jelas.

Melewati kerumunan panjang orang-orang, si sapi punggung bungkuk pun kembali ke semak-semak dan bertemu sapi betina. Saat itu sapi punggung bungkuk mendengar lima tembakan yang ia yakin pula telah merenggut nyawa seorang manusia.

“Sudah tahu, kan?” tanya sapi betina. Si sapi punggung bungkuk mengangguk. Ia ingin memastikan, tetapi lebih dulu merasa terlambat.

“Mari sini,” kata sapi betina itu. “Kau tak perlu melihatnya lagi.”

Cepat atau lambat, sapi-sapi akan paham, dengan senjata atau tangan kosong, manusia akan menggali lubang untuk membuat kematiannya sendiri.

Michel de Nostredame

            Kubuang surat itu karena sama sekali tidak memahami, bahkan aku rasa tidak perlu juga mengerti. Apa pun yang dimaksud Michel de Nostredame, pastilah semua itu tidak ditunjukkan untukku, melainkan kebetulan untuk kesamaan-kesamaannya. Apa hubungannya dengan analogi sapi bungkuk dan orang-orang berjalan tenang? Entahlah. Apa peduliku untuk tahu apa lagi penasaran dengan lima tembakan yang terdengar belakangan? Lagi pula, tahun 1536 tidak pernah terbayangkan olehku.

Melanjutkan tidur dan bermimpi bertemu seorang laki-laki yang mengaku bernama Michel, adalah gangguan lain yang memuakkan hidupku. Aku ingin menghantamnya saat itu juga, tetapi seluruh tubuhku seperti dibebani tumpahan selai kacang yang memberatkan. Aku tidak mengerti dan tidak punya pilihan untuk melawan atau pun menolak ajakkannya untuk sampai di sebuah ruangan gelap.

Bagaikan semuanya telah terlewati, aku terbangun di sebuah semak-semak rimbun, dengan akar-akar pohon besar melintang seperti ular bertumpuk. Tak ada hal yang aku pikirkan kecuali isi sekelebat ingatan dari surat Michel de Nostredame. Aku melompat ke luar dan berlari ke arah lengang. Di sebuah bukit aku berdiam dan tidak sengaja melihat kemunculan segerombolan sapi-sapi berjalan tenang, tanpa tujuan.

Satu di antara sapi-sapi yang terlihat itu adalah diriku sendiri. Entah mengapa bisa demikian, aku tidak mengerti. Satu-satunya yang aku harapkan saat ini, aku benar-benar masih bermimpi dan akan terjaga di kamar hotel. Tidak masalah jika aku harus berkendara menuju makam untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat ketimbang saat ini; sapi-sapi melompat ke dalam lubang dan aku masih saja melihatnya tanpa berbuat apa-apa. Sementara itu, lima tembakan yang keras menggema-gema, semakin membuatku sulit membedakan mana yang nyata dan tidak.***


Beri Hanna adalah penulis kelahiran Bangko. Ia sering terlibat dalam beberapa pertunjukan teater berbasis riset tubuh dan tata ruang, baik sebagai dramaturg, aktor, maupun tim artistik bersama Tilik Sarira. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar.


[1] Guntur Alam juga pernah menuliskan hal ini. Dalam buku kumpulan cerita Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang, Nostradamus (nama latin dari Michel de Nostredame)  mengirim surat kepada tokoh calon ayah dengan cap pos tanpa diketahui siapa dan bagaimana surat ini bisa sampai dan dapat dibaca.

Puisi

Puisi Yohan Fikri

pulang ke haribaan pelukmu

lalu di mana muara bagi segenap kembara,

bila tak henti di haribaan pelukmu?

seluruh liku jalan yang kutapak bagai lorong

bercabang banyak — gelap nan basah.

dinding-dinding yang kuraba dengan terbata,

hanya menuntun tatih langkahku

pada kegamangan-kegamangan baru menggapai cahaya.

kecemasan kerap jadi batu, mengantuk

sepasang kakiku menujumu, menujumkan segala rindu.

sambut aku, kasihku. sambut aku serupa

kuntum bunga-bunga seroja yang memekarkan diri,

untuk mencumbu jamah matahari.

pagut bibirku dan lampiaskan gelegak birahi.

peluk erat kesepianku, seakan esok adalah hari terakhir

bagi kata-kata, untuk menulis riwayat kita.

lalu kita hikmati setiap lenguh napas dan desah cemas.

setiap inci sentuhan dan jengkal kemabukan.

bayangkan ini perjumpaan sebagai pungkas pelayaran

: kita arungi samudera birahi, kita garami luka-luka dalam diri.

hingga gelap juntaikan tirai, kita tetap baku-dekap,

melihat malam yang sekarat lumpuh-terkulai

— di atas sepasang tubuh kita: tubuh penuh cinta, yang belia!

2021


pagi yang monokrom #1

di stasiun, menanti kereta tiba, kusaksikan peron kebak

para calon penumpang, mencangking kecemasan masing-masing;

hilir mudik para porter mengusung sejumlah koper,

raut-raut kusut; dan kantuk yang berjelaga di pelupuk mata

adalah komposisi di suatu pagi yang miring.

sejumlah orang duduk mencangkung, selebihnya berdiri mematung,

dan sesekali, melongok ke arah kereta tiba

— walau yang mereka temu, masihlah kekosongan belaka.  

sepasang burung gereja menisik bulu di punggung besi tua,

kemudian melenting ke pucuk ranting pohon trembesi.

pagi yang monokrom, cuaca sedingin logam,

dan langit yang muram, seperti wajah resah yang menunggu,

lalu menangis dalam ritmis rintik gerimis itu.

kenangan merambat di antara rel-rel kereta, pipa-pipa tua saluran air

karat dan menggigir, kaki-kaki kursi dan wajah-wajah lesi

yang jemu menanti. sabar pun perlahan pudar,

pada detik-detik yang gusar. “ya. kita memang gampang tergesa,

dan acap tak sadar, bahwa dalam gegas, kerap memicing mata nestapa.”

lengking kereta terdengar dari jauh, memecah gelisah

yang kecamuk dalam dadaku. fajar gemetar di ufuk,

orang-orang berhambur menuju pintu masuk. dan aku,

masih pula berdiri, merunduk, merapal doa keberangkatan,

memanjat mantra-mantra keselamatan, “betapa kita  kerap lupa

untuk senantiasa awas dan was-was pada segala, sebab pada setiap

hitam-putih kemungkinan, selalu tersimpan waktu-waktu yang rawan!”

2021


pagi yang monokrom #2

“angin apa yang telah sampai membawamu kemari?”

mungkin angin purbani, yang bertiup lembut

dari dengus napasmu dulu. ketika jari-jarinya

menyentuh kulit jangatku, ia tumbuh menjelma badai.

aku, sehelai daun ringkih, kasih, yang ingin tanggal

dan merebah di dadamu yang tandus.

biarlah waktu dan cuaca, musim-musim yang itu juga,

meleburkanku, dan aku akan merupa humus bagi benih-benih kata,

untuk tumbuh memutikkan kuncup-kuncup bunga.

ujarku pada suatu pagi yang monokrom, ketika kusaksikan

sehelai daun getas di selasar peron jatuh-meranggas

diterpa angin bulan november. kurapatkan kerah kemeja,

kukancingkan buah jaketku, kota ini sedang dingin dan berangin, cintaku;

waktu-waktu riskan bagi tubuh yang minim dirahmati pelukan.

perjalanan, barangkali, hanya berkisar pada kedatangan

dan keberangkatan. siapa yang bakal tiba lebih dulu,

cumalah masalah waktu. karenanya, aku ingin kaumenungguku,

di puncak bukit mahasakit, di mana luka telah menyalibmu.

akan aku congkel seluruh kesepian yang telah memaku sepasang lenganmu.

dari jendela sembab-berembun, mataku memandang ngungun

ke titik jauh: hamparan sawah bagai wajah yang tengadah,

dangau-dangau di batang pematang seakan melambai pada pikiran

yang capai dan sangsai, sungai mengular membelah kini dan kiwari,

rumah-rumah berbanjar sepanjang bantar rel kereta api,

pohon-pohon berkelebat ke arah masa lalu: ke arah yang tak pernah

terjangkau oleh genggamanku. segalanya hanya bisu.

bahasa menghilang dari tubuh orang-orang. langit kelabu di luar jendela

seperti ingin memuntahkan banyak bercerita. buku puisi yang kubaca

membentangkan sejuta rahasia. dan hujan pun turun. dan jagad pun basah,

menyentil sisi sentimentil dalam tubuh kerontangku. dan kuyuplah sekujur ingatanku.

2021


hal-hal yang masih mengendap

di sprei motif bunga mawar

rintih dan lenguh, hasrat dan peluh

masih mengendap di sprei motif

bunga mawar, juga di dinding-dinding kamar,

yang kusam dan memar.

sekalipun kini, malam-malam telah jadi asam,

dan sepi, harga yang tak dapat lagi

ditawar-tawar. selalu ada

yang tak akan pernah kuasa kauhapus,

pula oleh telapak tangan waktu: ialah segala gebu nikmat

yang sempat menanam geletar dalam ngilu

sendi-sendimu. gigitan-gigitan kecil bagai jarum-jarum

morphin, menyengatkan semacam gigil yang lain.

tidur meringkuk memeluk diri sendiri,

kaukenang kembali sesuatu yang telah jadi ganih;

ingatan-ingatan yang perlahan malih menjadi buih

: lingerie berenda yang masih lekat di indera peraba,

serta sejumlah kerling nafsu yang pernah memantul

di mata manik-maniknya, seakan menjelma

lembut mulut yang mengulum seluruh kesedihanmu

— sampai ke pangkal batangnya.

2021


interlude        

                        /1/

kau kerap gagal di hadapan sesuatu yang krusial.

semisal, melangkah tabah dan bersiap tanggal,          

ataukah tugur, dan terus memilih tinggal

— meski barangkali, kau paham benar,

dingin itu telah seumpama api biru,

yang membakar harapanmu menjadi abu.

                        /2/

menangislah, cintaku. menangislah seperti gelegak ombak

melampiaskan dendam pada daratan.

air mata akan membuat pandanganmu jernih kembali,

sehingga kau dapat melihat:

betapa setia dan khianat gemar bertukar tempat.

segala yang lekang akan kautemu ulang

kelak di ujung tualang. sebab, di hadapan cinta yang remaja,

kita semua pengembara belaka.

                        /3/

kau (pun aku) mungkin kerap keliru menaruh prasangka.

sebagaimana kita sedang berenang

di sebuah tepi, lalu tergesa menyebutnya menyelam ke lubuk terdalam

— bukankah mencintai pun kadang juga begitu?

tetapi kau selalu percaya, kelak, luka akan menjadi karma

dengan sendirinya. Seseorang yang telah menikamkan pisau sepi

ke punggungmu, akan menanggung seluruh kesunyian paling merah.

                        /4/

pada akhirnya, kau lebih memilih berjalan sendiri,

menamsil nasib yang ganjil,

menyelusur hari-hari yang kabur, dan menafsir rasa getir

seumpama seorang penyair,

menyusun ulang tubuh yang telah retak

menjadi sebuah sajak, sebagai ritus pengampunan

atas seluruh dosa-dosa kesunyian.

2021   


scorpius

: Sindy Novia Larensi

Apa kau tak pernah membayangkan,

sebuah rasi bintang scorpio

menampakkan diri di angkasa bumi kita?

Kau melihatnya dari jendela kamarmu, aku

mengintipnya dari halaman rumahku,

sepasang capitnya, mencengkau namamu dan namaku.

Sedang ekornya menyengat masing-masing

dada kita, sehingga tahulah aku, rindu bekerja

bagai racun, membuat biru seluruh tubuhku.

Aku masih mengamatinya. Apakah kau pun?

Tanpa kita sadari, kita telah jadi sepasang penujum,

menerka sesuatu yang belum kita mafhum,

“Di hari apakah, nasib akan menjatuhkan

nama kita pada peruntungan yang sama?”

2021


sajak tentang sebuah vas bunga

Pada vas bunga

yang menggigir kesepian

di atas meja, di sudut ruang itu

kau bertanya,

apa yang membuatnya bermakna,

selain hanya sesuatu

yang kelak layu,

dan kita berupaya mengekalkannya?

— seperti kenangan,

yang terus-menerus kita segarkan.

Pada vas bunga

yang menggigir kesepian

di atas meja, di sudut ruang itu,

kau tak menemukan apa-apa,

tidak juga jawaban

atas kesuwungan tanda tanya,

selain hanya sesuatu

di dadamu yang memurung tiba-tiba.

2021


malam dalam komposisi

Pilau lampu-lampu kota,

seakan sedang

menerjemahkan cerlang

mata kekasihnya.

Udara gigil, musim yang labil,

merepih kantung kemih,

dan bulan yang limau

di langit pucat memutih.

Di atas bangku tepi jalan,

di hadapan lalu lintas waktu,

ia hendak meraih sebungkus

kenangan di liang saku.

Tetapi ia malah merasa,

seperti ada jemari

yang hangat dan melumer

di genggamannya.

Ia terkenang pada suatu malam

ketika untuk pertama kalinya,

ia ingin waktu berjalan lamban

— atau, ke arah selain masa depan?

Disulutnya kekalutan itu, dan

kesedihan mengepul ke udara.

Sedang air matanya, umpama segumpil

mentega yang meleleh di penggorengan.

2021


le poète maudit

Aku seekor ular yang diam-diam

mengamatimu dari pucuk ranting pohon apel,

membelit kegamangannya sendiri:

antara melata pergi, ataukah menghampirimu?

Sementara ketakutan, sebagaimana tuhan,

gemar menorehkan sejumlah larangan

juga kutukan-kutukan, di tubuhku.

Suatu hari, kupetik jantung sendiri.

Kusihir menjelma sebutir apel merah,

dan menyuguhkannya padamu.

Semoga, begitu kau menggigitnya, kau paham

akulah daging buah yang tabah tubuhnya berdarah,

meski dengan lelaki itu pula

pada akhirnya, kau berbagi rasa manisnya

“Tidakkah kau tahu? Itulah saripati rindu,

yang sepanjang usia waktu, selalu luput dari pagutanmu?”

2021


rencana mengunjungi pasar malam

Bagaimana bila sejenak kau sampurkan air mata di pundakku,

dan mari, kita jalan menyusuri hingar-bingar pasar malam

yang tampak melambai-lambai kepada kita itu?

Akan kuajak kau menonton atraksi roda gila supaya bising suara

kenalpotnya, memecah rasa masygul yang terbuhul di dada.

Atau, mengendarai kuda sembrani di sebuah komidi putar?

Di sana, waktu seperti henti melaju, hidup bukan lagi kejar-mengejar.

Kita akan merasa berjalan, meski tidak ke mana-mana.

Mungkin dengan begitu, kesedihan jadi sesuatu yang tak berarti apa-apa.

Atau barangkali, kau ingin sekadar membeli permen kapas?

Lalu, duduk menikmatinya sambil menyimak dan tergelak

melihat orang-orang jerit-teriak di atas perahu yang limbung disapu ombak?

Juga kincir angin yang berjentera seakan ingin mengajari kita:

naik-turun atas-bawah itu biasa, dan begitulah sewajarnya hidup berkelindan

menjalin warna-warninya? Siapa tahu, rasa legit yang leleh di lidah,

bakal samarkan getir-pahit, sedih, dan gundah.

Lalu, akan kucegat seorang pengamen kecil yang kebetulan lewat agar dipetiknya

senar ukulele, agar ditabuhnya tambun tubuh jimbe, sembari kubacakan

sejudul sajak cinta yang sudah kutulis semenjak lama,

lihatlah rembulan yang menggantung di luas lengkuh kubah angkasa:

“Apatah pantas kau tetaskan tetes air mata? Sedang rembulan itu, bintang gemintang itu,

bahkan selamanya akan tersipu, sembunyikan muka di balik murung gemelung mega

lantaran meski parasmu sedih, rupanya masih gagal ia lampaui keindahannya.”

2021


bersama panchali di suatu

pertunjukan wayang orang

            I

Hastinapura kala itu, mungkin tak ubahnya

panggung trapesium di hadapan kita, Panchali.

Dan kita hari ini, adalah sepasang mata

yang tak ingin melewatkan satu pun adegan;

degup jantung yang tak henti menanti,

dan terus dirundung tanya, “Apa lagi setelah ini?”

Sepasang tirai itu kemudian terbuka

disusul lampu-lampu yang menyala,

lalu kita sama saksikan

lidah Sengkuni yang begitu licin,

menjatuhkan Yudhistira di atas meja judi

: tergelecik muslihat licik,

dan terjengkang nasibnya sendiri.

            II

Sementara Yudhistira telah pertaruhkan segala yang ia miliki:

Kereta dan turangga, Pandhawa dan Indraprastha,

harga diri, hingga kekasihnya,

tidakkah kaulihat ada yang berkilat

di mata Kurupati,

bagai lidah bara yang mengeropok bulu domba?

Ketika nafsu telah menyihir Dharmaputra

yang tak bercela bagai amuk seekor kuda,

kadung lepas dari tali kekangnya?

Lalu, sesal tinggallah gelugut

yang bertebar di tubuh Yudhistira.

Detik pun meruam, dan nasib hanyalah nyala

yang masih berupaya terjaga pada sumbu sejumlah kandil

— yang tampak ngungun dan menggigil, Panchali.

Gedung ini sesak penonton, Panchali,

tetapi, kesunyian seperti dinding kedap yang menyerap

seluruh suara-suara di sekitarku, di sekitar kita.

Genggam tanganku, Panchali

agar dapat kurasakan getar-getar kesedihan

yang menusuki batang nadimu.

            III

Kali ini kita saksikan seorang perempuan

— O, itukah kau, Panchali?

diseret Dursasana ke tengah gelanggang

seumpama rusa buruan,

yang dilempar di atas tungku perapian.

“Adakah seorang raja yang sampai hati melempar seorang istri

ke tengah gelanggang judi? Sedang penjudi paling nista pun tiada pernah tega

menggadai perempuannya — sekalipun toh ia seorang sundal!”

Perempuan itu berseru dengan suara terpatah,

menahan sesak-isak yang membuhul kekata dan lidah.

Suara itu, mata pedang menyayat-nyayat,

lenguh napas kijang menahan sekarat.

Kurasakan jari-jemarimu berkeringat dingin

Kau remas erat genggaman tanganku.

Sandarkan kesedihan itu di tampuk pundakku, Panchali.

“Ini hanyalah sebuah pentas,” ujarku padamu

“dan babak tak lama lagi akan pungkas.”

Tetapi kaubilang, “Kesedihan bukan seperti air mata,

yang dapat mengering hanya dengan diseka sehelai kacu,

yang kaulurkan dari saku bajumu.”

            IV

Dan senja pun penuh, ketika perempuan itu

hanya menatap ngungun ke titik jauh

— ke arah di mana harapan

adalah jarak yang begitu muhal ia sentuh.

Tetapi, kita pun seakan mengerti, Panchali,

“Nasib barangkali tak ubahnya permainan dadu.

Dan kita tak akan pernah tahu angka yang bakal keluar,

sebelum dadu-dadu pungkas dilempar!”

Tirai tertutup kembali, dan lampu-lampu bersusulan mati.

Panggung pun usai, sementara kita, masihlah sepasang penonton

yang sibuk menyeka linang masing-masing,

sebelum ruang jadi hening,

dan sepi pun tumpah, membasah ke tubuh kita.

2021


Yohan Fikri, lahir di Ponorogo, 1 November. Belajar di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang. Puisinya tersiar di pelbagai media dan memenangkan beberapa lomba. Bukunya yang bakal terbit bertajuk Tanbihat Sebuah Perjalanan. Dapat disapa melalui akun Instagram @yohan_fvckry.