Suara Hujan, Suara Kenangan
hujan menyempurnakan waktu pikniknya
menjelang zuhur—memagari banyak rencana
hingga tertunda atau malah berkeping dalam dada
kaki-kakinya yang bening tak berkuku
memintas setapak jalan ke lubuk kenangan
;di dalamnya, ada kau mengajakku melupakan hujan
sejak saat itu aku sadar
bahwa sesungguhnya di bumi ini tak pernah ada hujan
selain sesuatu yang mericik dari kenangan
Bungduwak, 2021
Hujan Awal Tahun
setiap yang diingkari adalah mendung
rahimnya menganga di jendela
melahirkan hujan dan segala yang berwajah pelangi
melengkung di gagang pintu
gigil tak perlu disembunyikan
dalam retak karatan tulang
sebab ada kalanya sesuatu tak perlu telanjang
untuk bisa dipandang
punggung jendela yang basah
menghampar bayangan tahun yang pergi
dengan sejumlah puisi dan skema rintih
di angka satu yang merah ini
hujan mengawali langkah sebagai tindakan
menyusun tembok masa depan
dari yang cair dan mengalir
supaya kau pandai membuat selokan
di antara jarum jam yang terus berkejaran.
Rumah IbelFilza, Januari 2022
Hikayat Gagang Celurit
aku hanya kayu biasa
raut yang berpuluh malam disembunyikan
dalam kebat kain kafan
di dekat kuburan
moyangku masih hidup di utara bukit Raas
batang yang berkalang lengan angin
dalam kepungan harum kembang jagung
mengurai silsilah sejak moyang khuldi
sampai berdahan, beranting, dan menjatuhkan bijinya
di dekat seorang petapa
aku tumpul tak berkilat, cuma sisa kurai sahaja
yang melengkung garis
mirip peta hidup yang samar berlapis
pada akhirnya berkarib besi tajam ini
sebagai gagang yang tak punya hak untuk interupsi
selain hanya mengikuti—ke mana si tuan menggerakkan hati.
Gapura, 2021
Mata Sakera
ia memandang laut dari balik kusen jendela kecil
yang bertahun diliputi bayangan ribuan perahu
mencermati sapuan ombak ke tepi pantai
seperti mengantar bau tubuh ayahnya yang tengah melaut
“laut kekasih langit, ayah yang mencintai laut
akan dicintai oleh langit—hingga membuka pintu-pintunya
dan menumpahkan hujan rezeki dalam rupa ikan-ikan
yang menyerahkan hidupnya kepada sauh,” gumamnya
seraya pelan mengedipkan mata
ke arah batas laut yang menyentuh langit
; tempat rahasia biografi ayahnya tersimpan
—masih bernyawa atau sudah tiada.
Sumenep, 2021
Jam
di tubuhku ada rumus rahasia
:dari angka ke angka
jarum lancip itu
terus mendekatkan nyawamu
dengan impian.
Gapura, 2021
Montase Hari yang Cerlang
Helmina Rovi
gelak cakap dua buah hati kita
adalah gradasi warna dalam sebuah lukisan
tumpuan garis liku, pendar arsiran, dan titik cipratan
pada jisim gambar gunung, pematang, dan lautan
teguh berumah pigura kecil di dinding dada kita
bergantung pada pakumu dan pakuku
berhadap-hadapan dengan waktu, mengelak dari sapuan debu
kita lihat lukisan itu dari puisi ini
dari jendela hati yang belah tirainya tak dijangkau sepi.
Gapura Timur, Januari 2022
Sejarah Kaki yang Bengkak
Eppa’
kemungkinan adalah keniscayaan cabang jalan
menanjak, menurun, dan berliku
sedang kakimu sejak sebelum subuh sudah di situ
mencari kemungkinan lain dari bunga yang nyaris kering
tertampung di telapak tanganmu, paras cerlang cuma bayang
legam di kelopaknya, di antara mimpimu
yang menginginkan buah, seraya merahasiakan getah
di balik dada yang pecah
sampai kini, sepasang kaki agungmu itu
menampakkan grafiti petilasan beragam tahun
dalam rupa garis pecahan yang liris berdaki
membuatku harus pandai memaknai
;jalan yang kaulalui adalah mukim beragam duri
dan di hari tuamu yang sekadar bersandar kursi biru
sepasang kaki agungmu terlihat bengkak dan memutih
wujud hari lalu yang dijambak nyeri dan letih
di jalan beribu cabang yang kaulalui
sedang bunga yang nyaris kering itu
telah hilang dalam kepungan waktu.
Rumah Eppa’-Emma’, Januari 2022
Kalender Baru
tak ada yang lain dari diriku
kecuali warna dan jasad kertas
kembali berpangku ke satu paku
di sebelah pintu rumahmu
kukirim angka-angka pada harimu
sebagai bahasa paling rahasia
perihal waktu yang tak takut batu
dan kau menjumlah umurmu
dengan hitungan jemari ringkih
menegaskan rencana di hari nanti
dan melupakan mati.
Gapura, Januari 2022
Rintih Rumah Tua
masa laluku tersisa di lipatan kain usang dekat pintu, bekas sobekan sampir seorang perempuan yang kehabisan cara untuk menghapus air matanya pada Sabtu yang dingin, saat ia mengenali wajahnya di cermin, tak lebih sekadar bunga absurd yang nyaris kering.
sehabis menangis, ia meninggalkanku pergi, pintuku tanpa ia tutup, dibiarkannya menganga pada waktu yang lebat dan berkelebat. jam dinding yang mati tak mampu lagi berbicara soal itu, kecuali hanya seekor kupu-kupu yang sesekali tandang menyampaikan kabar, bahwa hidup memang angin sahaja yang sulit dibaca arah silirnya.
lalu sekawanan rayap mulai mencampuri hidupku dengan sarang berliuk dari bawah kursi dan perlahan menegaskan wujud yang pasti pergi, aku tak bisa mengucapkan kata-kata, selain menumpahkan air mata rahasia, sembari membayangkan perempuan itu datang kembali, membawa melati atau puisi, lalu mematut wajahnya kembali di cermin, seraya membuat kesimpulan betapa hidup bukan sekadar gelengan atau anggukan.
Rumah FilzaIbel, 2022

Warits Rovi, lahir di Sumenep. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di pelbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki (Basabasi, 2020). Sedangkan buku puisinya yang berjudul Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura.
