Kepada Perempuan yang Menyeling
Nasib bicara perihal seni menyeling
Token listrik lebih nyaring dari alarm pagi
Membawa sumpah serapah
Langkah gontai dan sembap mata
yang tak punya jatah lelap
Siapa sangka waktu bisa porak poranda
Ditubruk kerja mekanik tanpa gugat
Menopang gaya hidup pas-pasan
Sebelum diburu tenggat demi tenggat
dan teror untuk segera merampungkan
laporan-laporan ‘tai kucing’
di penghujung tahun-tahun kematian
tapi seorang perempuan menyeling
scroll timeline menatap layar
merebah diri tanpa melakoni apa-apa
ia kembali kekanak, seperti mula
sekembalinya pada setengah sadar
ia kehilangan tenggat
begitu saja waktu menilapkannya di pembaringan yang sama
sudut kursi panjang sampai bosan dengan pantatnya
Nasib perempuan menyeling kehabisan waktu
Menikmati lakon kemalasan
Lepas pesat pada sibuk menyenangi selingan
menyeling sampai gagang pintu, remuk.
Tulungagung, Agustus 2021
Sebuah Potret Dini Hari
Di warung-warung dini hari
Ampas-ampas kopi mengendapi dasar gelas dan cangkir
Sengaja ditinggalkan di bak cucian
Menjamur
Di pasar orang-orang berjejal menunggu tengkulak mengambil pesanan, mengaso
Mengais beberapa sisa sayur di bawah truk dan pick up
Atau berdebat soal harga minyak yang mencekik sejadi-jadinya
Tapi di dapur umum
Sergapan kantuk lebih nyaring membumbung bersama deretan kalut, capai dan pupus
Menyisa dua pertiga potong tenaga buat mengisi lambung bocah-bocah yang ikut ngungsi bapak biyungnya
Buat para sepuh yang gagal juang
Atau pencuri-pencuri yang sadar punya nasib buruk
Di dapur-dapur umum dini hari
Seorang perempuan tinggal menggendong bayinya
Memberi suap demi suap yang papa
Satu biskuit dan air hangat sedikit gula
Di dapur umum
Potret kematian-kematian kabur
Hanya siluet kegamangan
Melanjutkan hidup, tanpa apa?
Tulungagung, Desember 2021
Tak Ada yang Lebih Kecut dari Hujan di Pipimu
Kau sambat lagi!
Menangis di siang itu
Di bawah beringin yang baru menjulur akar gantungnya
Sedikit melindungi kulit merah dibalut krim-krim anti matahari
Katamu
Cinta tak lebih dari pasir hisap
Menelanmu lamat-lamat
Menenggelamkan harap-harapmu yang abu-abu
Perihal hidup langgeng tanpa luka
Bukankah cinta manunggal bersama duri-duri mawar dan lembah-lembah curam?
Kau tak peduli
Lelaki sengaja menutupi air mata mimik muka dengan asap kretek
Sesenggukan di bawah pohon beringin muda
Sebab kalut dimangsa kisah cinta yang kecut cilu
Tapi tak ada yang lebih kecut dari hujan di pipimu.
Tulungagung, 2021
Perihal Jeda
Siapa yang kenal jeda karena butir dan ongas sebab martir? Ketika tak kutemui puisi di matamu, jeda-jeda raib dan kacau.
Aku jadi segala gerak cepat membabi buta
Iringan tawon kehilangan sarang
Kehilangan penghidupan
Aku jadi segala bising dan desing
Menolak rehat meski dada remuk ditatah butir-butir air mata bocah kolong
Yang dingin dan dalam
Aku jadi segala keping-keping yang tercerai
Diserakkan angin yang berembus tanpa jeda
Seperti kau, menikam dengan martirmu.
Marsda Adisucipto, November 2021
Sajak Kancing Paus
Di tubuhmu aku menemukan sajak kancing Paus
Sebentar-sebentar
Mari ulur waktu sampai level mendengarmu naik sedikit
: Sajak Kancing Paus
Gemerincing kancing-kancing baju impor
Penuh di kerancang belanjamu
Nyaring seperti nyalimu tak surut
Memborong menawar mencari diskon-diskon
Berburu sampai larut di sosial media
Tak ada yang boleh sisa di keranjang maya-nyata
Almari-almari menahan kerakusan
Tak kuat sampai mendecit minta jatah udara segar bebas debu
Rapikan, pilah, buang saja kancing-kancing lama ke selokan depan
Tapi dari sajak kancing Paus kau mengendus
Memergoki kenakalanmu
Di selokan ke selokan menuju sungai-sungai ke laut
Pantainya kau singgahi dengan baju-baju baru
Kancing-kancing lapang berjalan mengalir menyeberang tertampar ombak mencari muara menggauli takdir
Membersamai tubuh sang Paus
yang tenggelam menyesali kedurhakaannya.
Dlodo, 2021
Melayat Mata Air
Di sudut-sudut yang Agung
Kita tak menemui apa-apa
Selain sumber yang hening
Kering dan riak-riak tumbang
Ceruk-ceruk seperti tebing-tebing megek
Dirayapi lumut-lumut cokelat
Yang ditebang
Yang kehilangan
Yang tersisa
Napas-napas tak lagi panjang
Kota telah membeli sumber hidup
Membeli napas
Melayat mata air dengan air mata.
Tulungagung, 2021
Di Kursi Tunggu
Buat perempuan yang dikutuk sendiri
Kursi-kursi tunggu sepi
Hanya juntaian jadwal kereta
Yang mabuk menunggu manusia
Di ruang tunggu asing
Aku bukan lekas menjadi saudara
Hanya tujuan lebih jelas
Menghabisi masa muda menunduk pada layar
Di ruang tunggu
Dan deretan jam keberangkatan
tumbuh ingatan-ingatan yang diulang-ulang
tentang perjumpaan dan upaya-upaya koyak
tentang keberanian buat sendiri.
Tulungagung, 16 Desember 2021
Nama yang Pulang
Diingat,
Juga pada sebuah tengah malam
Dingin dan lembap
Seperti tertahan tumpahan hasrat hari lalu
Ada yang merambahi mengejar
Silih ganti pada ruas-ruas jari kaki
Menggetarkan pada yang hanyut
Mencintai
Sebab tak lama bersesumbar kabar datang senyap menegang
Bukan lagi soal berahi
Sampai namamu menyelanya
Mengakhiri tanya
Kenapa kau yang datang
Dengan tubuh tanpa nyawa?
Tulungagung, September Hitam 2021
Hasil Bumi?
Di batas manusia mengutas rusuh atas ketubuhan
Membumbui laku dengan hasil bumi
Yang diperebutkan
Di tanggal-tanggal yang sama
Hasil-hasil panen disakralkan
Orang-orang membahagiakan diri
Melarung saji
Tapi di sana, Le
Bongkahan emas dan marmer dan pasir yang didulang
Tak habis-tabis
Hanya cukup buat membahagiakan
Aktor kawakan!
Januari, 2022
-dan Sumber Ece
Di Nguri sebuah kabar berkesiur
Meminang telinga dan kerabatnya merasai
Jumpa pada dataran lebih tinggi
-dan Sumber Ece
Yang kau temui memuat koin-koin bercecer di sepanjang aliran
sampai muara pada hari cerah
dan matahari bersahabat dengan wajahmu yang pura-pura
Di Nguri pada kedalamanmu yang lain
Sebuah desa tetap menjadi desa
yang luput dari bising dan ongas tambang
-dan Sumber Ece
Lebih jernih dari pantulan matamu
di cermin itu.
Sumber Ece, Januari 2022

Rizka Hidayatul Umami, mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Sedang menekuni sastra dan isu perempuan. Bisa disapa via Instagram @morfo_biru, Facebook Tacin, atau Twitter @morfo_biru
