Puisi

Puisi Rizka Umami

Kepada Perempuan yang Menyeling

Nasib bicara perihal seni menyeling

Token listrik lebih nyaring dari alarm pagi

Membawa sumpah serapah

Langkah gontai dan sembap mata

            yang tak punya jatah lelap

Siapa sangka waktu bisa porak poranda

Ditubruk kerja mekanik tanpa gugat

Menopang gaya hidup pas-pasan

Sebelum diburu tenggat demi tenggat

            dan teror untuk segera merampungkan

            laporan-laporan ‘tai kucing’

            di penghujung tahun-tahun kematian

tapi seorang perempuan menyeling

scroll timeline menatap layar

merebah diri tanpa melakoni apa-apa

ia kembali kekanak, seperti mula

sekembalinya pada setengah sadar

ia kehilangan tenggat

begitu saja waktu menilapkannya di pembaringan yang sama

sudut kursi panjang sampai bosan dengan pantatnya

Nasib perempuan menyeling kehabisan waktu

Menikmati lakon kemalasan

Lepas pesat pada sibuk menyenangi selingan

            menyeling sampai gagang pintu, remuk.

Tulungagung, Agustus 2021


Sebuah Potret Dini Hari

Di warung-warung dini hari

Ampas-ampas kopi mengendapi dasar gelas dan cangkir

Sengaja ditinggalkan di bak cucian

Menjamur

Di pasar orang-orang berjejal menunggu tengkulak mengambil pesanan, mengaso

Mengais beberapa sisa sayur di bawah truk dan pick up

            Atau berdebat soal harga minyak yang mencekik sejadi-jadinya

Tapi di dapur umum

Sergapan kantuk lebih nyaring membumbung bersama deretan kalut, capai dan pupus

Menyisa dua pertiga potong tenaga buat mengisi lambung bocah-bocah yang ikut ngungsi bapak biyungnya

Buat para sepuh yang gagal juang

            Atau pencuri-pencuri yang sadar punya nasib buruk

Di dapur-dapur umum dini hari

Seorang perempuan tinggal menggendong bayinya

Memberi suap demi suap yang papa

Satu biskuit dan air hangat sedikit gula

Di dapur umum

Potret kematian-kematian kabur

Hanya siluet kegamangan

            Melanjutkan hidup, tanpa apa?

Tulungagung, Desember 2021


Tak Ada yang Lebih Kecut dari Hujan di Pipimu

Kau sambat lagi!

Menangis di siang itu

            Di bawah beringin yang baru menjulur akar gantungnya

Sedikit melindungi kulit merah dibalut krim-krim anti matahari

Katamu

Cinta tak lebih dari pasir hisap

Menelanmu lamat-lamat

Menenggelamkan harap-harapmu yang abu-abu

            Perihal hidup langgeng tanpa luka

Bukankah cinta manunggal bersama duri-duri mawar dan lembah-lembah curam?

Kau tak peduli

Lelaki sengaja menutupi air mata mimik muka dengan asap kretek

Sesenggukan di bawah pohon beringin muda

Sebab kalut dimangsa kisah cinta yang kecut cilu

            Tapi tak ada yang lebih kecut dari hujan di pipimu.

Tulungagung, 2021


Perihal Jeda

Siapa yang kenal jeda karena butir dan ongas sebab martir? Ketika tak kutemui puisi di matamu, jeda-jeda raib dan kacau.

Aku jadi segala gerak cepat membabi buta

Iringan tawon kehilangan sarang

            Kehilangan penghidupan

Aku jadi segala bising dan desing

Menolak rehat meski dada remuk ditatah butir-butir air mata bocah kolong

            Yang dingin dan dalam

Aku jadi segala keping-keping yang tercerai

Diserakkan angin yang berembus tanpa jeda

            Seperti kau, menikam dengan martirmu.

Marsda Adisucipto, November 2021


Sajak Kancing Paus

Di tubuhmu aku menemukan sajak kancing Paus

Sebentar-sebentar

Mari ulur waktu sampai level mendengarmu naik sedikit

            : Sajak Kancing Paus

            Gemerincing kancing-kancing baju impor

            Penuh di kerancang belanjamu

Nyaring seperti nyalimu tak surut

Memborong menawar mencari diskon-diskon

Berburu sampai larut di sosial media

Tak ada yang boleh sisa di keranjang maya-nyata

Almari-almari menahan kerakusan

Tak kuat sampai mendecit minta jatah udara segar bebas debu

            Rapikan, pilah, buang saja kancing-kancing lama ke selokan depan

Tapi dari sajak kancing Paus kau mengendus

Memergoki kenakalanmu

            Di selokan ke selokan menuju sungai-sungai ke laut

            Pantainya kau singgahi dengan baju-baju baru

Kancing-kancing lapang berjalan mengalir menyeberang tertampar ombak mencari muara menggauli takdir

Membersamai tubuh sang Paus

            yang tenggelam menyesali kedurhakaannya.

Dlodo, 2021


Melayat Mata Air

Di sudut-sudut yang Agung

Kita tak menemui apa-apa

            Selain sumber yang hening

Kering dan riak-riak tumbang

Ceruk-ceruk seperti tebing-tebing megek

Dirayapi lumut-lumut cokelat

            Yang ditebang

            Yang kehilangan

            Yang tersisa

                        Napas-napas tak lagi panjang

Kota telah membeli sumber hidup

            Membeli napas

            Melayat mata air dengan air mata.

Tulungagung, 2021


Di Kursi Tunggu

            Buat perempuan yang dikutuk sendiri

Kursi-kursi tunggu sepi

Hanya juntaian jadwal kereta

Yang mabuk menunggu manusia

Di ruang tunggu asing

Aku bukan lekas menjadi saudara

Hanya tujuan lebih jelas

Menghabisi masa muda menunduk pada layar

Di ruang tunggu

Dan deretan jam keberangkatan

tumbuh ingatan-ingatan yang diulang-ulang

            tentang perjumpaan dan upaya-upaya koyak

            tentang keberanian buat sendiri.

Tulungagung, 16 Desember 2021


Nama yang Pulang

Diingat,

Juga pada sebuah tengah malam

Dingin dan lembap

Seperti tertahan tumpahan hasrat hari lalu

Ada yang merambahi mengejar

Silih ganti pada ruas-ruas jari kaki

Menggetarkan pada yang hanyut

Mencintai

Sebab tak lama bersesumbar kabar datang senyap menegang

Bukan lagi soal berahi

Sampai namamu menyelanya

Mengakhiri tanya

Kenapa kau yang datang

            Dengan tubuh tanpa nyawa?

Tulungagung, September Hitam 2021


Hasil Bumi?

Di batas manusia mengutas rusuh atas ketubuhan

Membumbui laku dengan hasil bumi

            Yang diperebutkan

Di tanggal-tanggal yang sama

Hasil-hasil panen disakralkan

Orang-orang membahagiakan diri

            Melarung saji

Tapi di sana, Le

Bongkahan emas dan marmer dan pasir yang didulang

            Tak habis-tabis

Hanya cukup buat membahagiakan

Aktor kawakan!

Januari, 2022


-dan Sumber Ece

Di Nguri sebuah kabar berkesiur

Meminang telinga dan kerabatnya merasai

            Jumpa pada dataran lebih tinggi

-dan Sumber Ece

Yang kau temui memuat koin-koin bercecer di sepanjang aliran

sampai muara pada hari cerah

dan matahari bersahabat dengan wajahmu yang pura-pura

Di Nguri pada kedalamanmu yang lain

Sebuah desa tetap menjadi desa

            yang luput dari bising dan ongas tambang

-dan Sumber Ece

            Lebih jernih dari pantulan matamu

            di cermin itu.

Sumber Ece, Januari 2022


Rizka Hidayatul Umami, mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Sedang menekuni sastra dan isu perempuan. Bisa disapa via Instagram @morfo_biru, Facebook Tacin, atau Twitter @morfo_biru

Puisi

Puisi Rizka Umami

Bayi-bayi Pabrik

Jam makan siang milik perempuan

dihimpit ruang pabrik yang sesak menekan ubun-ubun

dan bau peluh dari ketiak-ketiak buruh

di gedung sebelah karib-karibnya menjerit

sambil melucuti celana yang penuh air ketuban

pecah, sungsang, buka empat pendarahan pula

tak ada tanda atau bunyi, tak ada ambulance

di jam makan siang yang terik menyengat tubuh

bayi-bayi pabrik menangis kencang meratapi nasib ibu

bayi-bayi menahan lapar di masa harga susu naik tajam

dan buruh perempuan tak dapat cuti bulanan

tak boleh menuntut atau minta jatah tunjangan

di jam makan siang milik perempuan

hanya bungkaman.

21 November 2020


Tasminah

Subuhmu lepas pesat

ditawan keranjang-keranjang tahu mentah yang getir

seperti laku sepuhmu

kau tinggal sembab di depan pawon

menakar terigu dan kacang tanah yang kehilangan kulit

dan kau kehilangan pegangan

masamu lewat diganti keriput tak menawan

di antara dua tungku

kayu bakar yang asapnya membawa sisa mimpimu terbang ke langit-langit dapur

kau koyak dan retak

mirip telur-telur ayam kampung di kandang

hitam pekat dan abu-abu laik masa muda yang sia-sia itu.

22 November 2020


Bocahmu

Dari balik pintu itu

bocahmu mengintip ketakutan

matanya nanar

hanya tangan kirinya bergerak

sambil menutupkan buntalan kaki boneka

pada mulut mungilnya

bocahmu ingin menjerit

melihatmu menggorok bapaknya yang bengis

tapi kau sumpal dengan tangan berdarah-darah

lalu dikisahkan seorang nenek membopong cucunya

menuruni bukit berlari menembus kabut pagi

mencari keadilan di jalan-jalan.

23 November 2020


Kota Muda-mudi

Di kota muda-mudi sengketa cinta bukan tragedi

politik dan hukum kepemilikan bermain fasih

dan semua mafhum, cinta membuat segala jadi buta

lain waktu di kota muda-mudi setia dijual murah

kepercayaan jadi lagu lama yang tak begitu populer dinyanyikan

sebab cinta tak bisa memihak setia dan percaya

lalu di kota muda-mudi yang riuh ramai

semua manusia merasai sepi

kehilangan nurani.

24 November 2020


Jika Tak Ada Orang

Aku adalah aku jika tak ada orang di satu ruang

memakai kemeja, berias dan menari

mengelilingi sudut-sudut peribadatan yang sunyi

seperti bermain di opera

atau menjelma komposer

jika tak ada orang aku menjadi aku

melepas alas kaki dan mengerang semauku

memeluk otoritasku

seperti jasadku

menjelma ruh dan mencintai aku.

25 November 2020


Sepatu Merah

Sepatu merah setengah abad ditikam kusam

keluar dari kardus pitanya

meraih tubuhku

seperti tukang pos meminta bayar beberapa ribu

ongkos kirim dari sepersekian

dimensi waktu

Rasa-rasanya kau reinkarnasi

mewujud Laksmi reformasi ikut meledak

ndakik-ndakik di kejauhan pantang padam selintas jalan

Sepatu merahmu menggoda mata-mata jalang manusia

yang dipikat kehilangan tubuh pongah melulu

menutub aib-aib, mengumpat

Apa kaki bersih mendadak complong?

sebab sadar rupa kaki tangan berakal kosong

berkah kaca, cermin-cermin mengganti posisi.

Desember 2020.


480

Delapan hari

480 mayat siap angkut ke liang

aku bersama seluruh jenazah

tanpa tangis pecah sanak kadang

di samping pembaringan

kulihat liang-liang lain beku

menyerupai wajah peti-peti yang segera ditimbun

ditutup gundukan tanah merah aroma fanbo

aku rebah di hadapan giliran sekian

waktu gerimis membengkokkan hasrat

pendoa yang panik

kami disilakan bergegas turun

membenamkan jasad, menyelamatkan ego.

21 Januari 2021


Pokping

Satu tandan pokping

disisir per biji menunggu tengkulak

pohon terakhir menunggu ajal sepertiga siang yang mamang

Hujan tak jadi hujan

tapi mendung membawa resah

petani-petani menjemur calon nasi menimbun jatah jagung basah

Hujan tak hujan nasib pokping setandan mesti lunas

ditukar pindang atau teri kawat, “harga jatuh, tak mungkin daging.

tak butuh daging buat mengupaya hidup

Satu tandan menguning

di teras menanti jodoh setengah hati

pada pembeli yang meriang, minta selirang

21 Januari 2021


Ada Jasadku di Sampingmu

Sangkar-sangkar diisi penuh jaring laba-laba, sisa belulang serangga

kursi rotan di teras belakang keropos

burung-burung menyisakan bulu di rumah kosong

tapi nyala lilinmu abadi

bertahun-tahun kau melewatinya

melayat pada pinggiran kota yang lusuh

mengubur anak-anak yang tergilas truk-truk

mengabadikan potret tikus-tikus

menyemburkan isi perut dibakar aspal dikubur debu jalan

sampai sirine meraung menemukan aku

di sebelah jasad dan ruhku yang pengelana mengendus maut.

24 Januari 2021


Gimah

Di masa ketiak Gimah mengeluh

pagi-pagi mendadak gerah dan lengket

empat puluh lima kilo bukan soal jarak dan waktu tunggu

tak banyak desing angkot memburu tubuh

orang-orang yang jenak di pinggiran

sebab kaki-kaki bapak tempat bertumpu bermain

kendang kentrung sepanjang terik menyongsong kuasa recopentung

momenmu usah diulang-ulang

pelagu babad tanah jawa, walisongo, nabi-nabi

seorang belia ngentrung bareng bapaknya di lintas kota

tak banyak desing angin menjamah tubuh

orang-orang yang lupa musim dan tanah ibu

dan kaki bapak tak kokoh lagi menyokong cerita-ceritamu

kau, berjalan sorangan

tapi kelak namamu dihiraukan, mbok Gimah

si tukang kentrung pemikul laju mula amanah

pengantar tuntunan yang terseok-seok tontonan.

29 Januari 2021


Rizka Hidayatul Umami, lahir di Tulungagung. Sedang menyukai sastra dan isu-isu perempuan. uku pertamanya berjudul Dongeng Rukmini (2017). Bisa disapa lewat instagram dan twitter @morfo_biru, juga facebook: Tacin.