Cerpen

1.001 Kura-Kura

Cerpen Beri Hanna

Aku mendengar Selin bercerita tentang lompat tali. Ceritanya hampir selesai. Setelah dia adalah giliranku. Aku semakin gerogi. Seharusnya aku memilih cerita yang serupa seperti teman-teman sebelumnya. Tapi aku sudah tidak punya waktu.

Teman-teman bertepuk tangan, tanda selesainya cerita lompat tali itu. Ibu guru berdiri, mengangkat buku absensi lalu menyebut namaku.

***

Di sudut bumi tempat mama bekerja, tak terlihat seekor kura-kura seperti yang pernah diceritakan papa. Aku kecewa sekaligus sedih saat mendapati suasana di sini tak seperti yang aku bayangkan.

“Sungguh membosankan sekali,” kataku ketus, tak sadar begitu gampang aku katakan.

“Hei! Apa katamu?” mama bertanya tetapi aku tak menjawabnya bahkan tidak melihat ke arahnya.

Aku masih melihat sekeliling, mencari sesuatu yang dapat menghibur. Tetapi tak ada apa-apa selain kelengangan panjang bagai tiada habisnya. Seluruh tempat ini berwarna putih pucat. Hal ini menambah suasana jenuh yang sepertinya mampu membuat orang sepertiku menjadi gila dalam hitungan menit.

Baru sebentar berada di sini, aku langsung merindukan rumah. Rasanya perjalanan dengan mesin waktu ini sia-sia. Aku ingin kabur tetapi sama sekali tak tahu ke mana jalan yang harus aku lalui. Menggunakan mesin waktu seperti tadi aku dan mama tiba di sini, sepertinya akan membuatku mati lebih cepat sebelum sampai tujuan, atau paling tidak aku akan tersesat di tempat antah berantah. Mesin itu terdiri dari banyak tombol dan lain-lainnya yang tidak aku mengerti. Seolah didesain khusus untuk perorangan yang berkepentingan.

Ini satu kesalahan terbesar dan sepertinya memang aku harus berada di sini, terkutuk untuk waktu yang tidak akan aku ketahui. Lagi pula mama sudah mulai bekerja dan tentu saja dia akan melupakan aku.

“Kenapa ya, aku bisa ikut ke sini,” kataku kemudian.

Aku tahu mama mendengar tetapi pura-pura sibuk dengan pekerjaan memasukkan angka-angka di permukaan pokok pohon. Waktu kecil aku sering diceritakan papa tentang pekerjaan mama yang mengharuskannya tidak pulang selama bertahun-tahun.

“Aneh,” kataku kepada papa suatu hari. Papa berkata itu tidak aneh dan aku langsung mendebatnya bahwa tidak ada satu pun orangtua temanku yang bekerja seperti mama. Lagi pula, tak ada seorang anak yang mengatakan tentang pekerjaan mama ketika ditanyai guru tentang cita-cita mereka.

“Mama, apakah kita tidak salah tempat?” tanyaku dan mama menjawab tidak, dengan suara yang hampir tak kudengar. Aku mendekat dan menanyakan lagi pada mama.

“Tidak mungkin salah,” jawabnya, masih sibuk memasukkan angka-angka ke pokok pohon.

“Lalu mana kura-kura seperti yang diceritakan papa itu?”

“Tunggu saja,” kata mama. “Kura-kura itu akan datang. Jumlahnya seribu satu dan tidak pernah kurang atau lebih.”

“Berapa lama lagi, Mama?”

“Tidak lama, kok. Pasti sebentar lagi.”

Begitulah mama. Aku tahu sejak dulu ia mudah menjawab setiap hal yang aku tanyakan meskipun tak pernah tepat dan akurat. Mama memang tidak pernah memuaskan—mungkin juga termasuk memuaskan papa.

Seharusnya sejak dulu papa merencanakan sesuatu yang besar. Seperti Tua Gundul (aku lupa namanya, tetapi Gundul ini teman papa) yang berbakat mengingat nomor telepon serta alamat rumah setiap perempuan. Rumor tentang Gundul yang suka menghubungi perempuan untuk diajak berkencan ke bioskop benar adanya. Papa, aku dan semua temanku tahu Tua Gundul telah menikah sebanyak dua belas kali. Tetapi papa, masih setia kepada mama yang hampir tidak pernah pulang.

“Apa, sih, yang Papa harapkan dari Mama?” tanyaku suatu hari kepada papa. Kalau tidak salah saat itu aku masih berusia sepuluh tahun. Papa dengan mantap menjawab ia hanya mengharapkan mama pulang. Itu membuatku tak ingin lagi menanyakan perihal hubungan papa dan mama. Aku tidak peduli meski sebenarnya aku ingin papa mencari perempuan lain karena mama, bagiku, seperti yang tadi aku katakan: Tidak pernah memuaskan.

Suatu hari ketika mama pulang dengan mesin waktunya secara tiba-tiba, aku sama sekali tidak takjub karena bagiku itu bukanlah sesuatu yang hebat. Teman-temanku tidak pernah membicarakan mesin waktu, keajaiban semacam itu. Begitu pintu mesin waktu terbuka, mama melengos berjalan ke arah kamar tanpa menyapaku. Saat itu aku kesal dan mengejarnya. “Jangan masuk kamar, dulu,” kataku, menahannya.

“Apa yang kau inginkan?”

“Jawaban.”

“Kalau begitu siapkan pertanyaanya.”

Aku langsung bertanya, mengapa anjing menggonggong sedangkan kucing mengeong? Dan mama menjawab karena anjing tidak mungkin mengeong dan kucing tidak mungkin menggonggong.

“Sederhana sekali jawaban, Mama,” kataku dan mama mengatakan: “itu, kan menurutmu.” Ia juga menambahkannya dengan balik bertanya kepadaku, apa jawaban yang aku harapkan. Aku ingin memperpanjang obrolan ini seperti apa arti kata tidak mungkin, yang dimaksud mama? Inilah yang tidak pernah mama jelaskan kepadaku! Tetapi, andaikata aku benar-benar menanyakannya tentu saja mama akan menjawab itu sesuatu yang tidak terjadi. Selagi aku berpikir, mama telah melengos lagi. Membuka pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Aku tak dapat menahannya. Aku hanya bergumam geram, “licik sekali.”

Jawaban-jawaban mama selalu mengambang penuh misteri atau bisa aku katakan tidak pernah pasti. Mama tak pernah memikirkan apa yang ingin aku ketahui. Seperti saat ini, ia membiarkan aku menunggu sementara ia sibuk dengan pokok pohon dan angka-angka. Bagaimana bila aku menunggu hingga warna putih pucat di seluruh tempat ini menjadi hitam gelap? Sementara seribu satu kura-kura itu tidak datang. Apakah mama akan menjeda kerjanya lalu medekat kepadaku sambil membisikkan kata; sabar. Aku rasa itu tidak akan terjadi. Paling pasti, mama tidak akan mendekat dan malah menyarankan aku untuk terus menunggu.

“Apakah papa pernah menipu Mama?” tanyaku setelah bosan mengingat-ingat yang telah berlalu. Lagi pula, kini aku dan mama telah jauh dari rumah.

“Mama lupa.”

“Pasti papa pernah menipu Mama,” simpulku.

“Kenapa kamu berpikir begitu?”

“Karena mama tak ingin mengingatnya. Oh tidak. Mama lupa karena memang tidak pernah ada di rumah.” Mama diam tidak menjawabku, dan kembali bekerja.

Pada satu kesempatan papa banyak bercerita tentang seribu satu kura-kura. Aku takjub karena cerita papa seperti legenda penuh keajaiban. Sejak mulai kura-kura terjun ke dalam laut, menuduh raja ikan sebagai dalang perpecahan kaum tawar dan asin, memberantas penjahat yang memperbudak musang, lalu menunggangi kuda emas hingga terbang bergentayangan di malam hari. Kura-kura bersenjata pedang berkilau. Dan masih banyak lagi.

Satu hal yang dilupakan oleh papa dan baru pada saat mendapati kenyataan kelengangan di sinilah, aku menyadarinya. Aku jadi berpikir, kira-kira apa ya, yang dilakukan seribu satu kura-kura sebelum datang ke sudut bumi, tempat di mana mereka akan muncul dan aku dapat melihatnya seperti kata papa itu. Aku bisa saja menduga-duga, tetapi dugaanku tak lebih hebat dari cerita-cerita papa.

Bertanya kepada mama adalah jalan terburuk. Mama akan merusak apa yang aku bayangkan. Demikian nanti dia berkata, “Seribu satu kura-kura sedang dalam perjalanan. Mereka capai dan berhenti lalu melanjutkan perjalanan.” Lebih baik aku tidak menanyakannya. Lebih baik pula jika aku mencari tahu sendiri. Ya. Sepertinya itu lebih baik. Sembari menunggu—karena menunggu teramat membosankan—aku akan berjalan untuk melihat-lihat apa yang dapat aku temukan.

Beberapa langkah dari tempat mama bekerja aku merasakan kesunyian seperti memang telah mengutuk tempat ini. Oh, sungguh menyedihkan mamaku yang bekerja di sini. Aku rasa mama pernah bosan dan bahkan mungkin melewati fase gila. Setelah jauh melangkah, kesunyian ini benar-benar nyata. Semakin lama semakin lengang. Aku pernah membaca beberapa cerita yang menggambarkan kesunyian, semuanya menceritakan si tokoh dapat mendengar detak jantungnya sendiri, nafas, langkah kaki, atau suara serangga hingga tetesan air. Tetapi aku, semakin berjalan menjauh semakin tak mendengar apa-apa. Benar-benar hening bahkan aku semakin sulit menangkap suara hatiku sendiri.

Ketika melewati hal-hal aneh yang tidak pernah aku lihat bahkan aku tak punya pengandaian untuk menarasikan semua ini, aku semakin merasa kosong. Oh, apa ya semua ini. Aku benar-benar bingung. Aku dapat melihat semuanya. Aneh. Sesuatu yang begitu rusak. Yang begitu membusuk dan mencair, berserakan di mana-mana, bertumpuk dan meninggi. Aku dapat mencium bau yang menyengat.

Aku berjalan lagi. Kira-kira sudah sangat jauh dari tempat mama tadi bekerja. Aku menyadari sesuatu, apa yang aku pikirkan benar adanya. Mama tidak pernah memanggilku. Dia membiarkan aku bergerak, tersesat dalam kelengangan aneh seperti ini. Benar-benar licik.

***

Dua menit lagi bel sekolah berbunyi. Teman-teman yang mendengar ceritaku sudah menguap sejak tadi. Ibu guru juga begitu. Sesekali saat bercerita, aku melihat ibu guru termenung memandang kekosongan dengan segudang pikirannya sendiri yang berkeliaran di dalam kepalanya. Hanya dia yang tahu apa isinya.

Aku berteriak, ceritaku telah selesai. Teman-teman mengangkat kepala. Bertepuk tangan. Ibu guru berdiri dan menyilakan aku duduk. “Jadi, kesimpulannya, hari ini kita punya cerita aneh,” kata ibu guru.

Bel berbunyi. Semua teman berhamburan keluar kelas. Aku menyusun buku ke dalam tas. Aku dengar saura Selin berbisik kepadaku, “Lalu bagaimana dengan seribu satu kura-kura itu?” Aku melihatnya. Tersenyum.****


Beri Hanna, lahir di Bangko. Bergiat di Teater Tilik Sarira dan Kamar Kata Karanganyar.

Cerpen

Delusi dan Surat Pendek Michel de Nostredame

Cerpen Beri Hanna

Aku terbangun dan mengingat semua yang telah terjadi di dalam mimpi barusan. Entah, saat ini aku masih bermimpi atau tidak, aku hampir tidak bisa membedakannya. Atau dengan kata lain, ini semacam meneliti pori-pori di putih telur mentah yang bahkan tidak pernah ada. Kepalaku berat, seperti ada setumpuk mentega yang mengeras di dalamnya. Semua kejadian seperti sama dan apa yang aku lalui saat ini telah aku lihat di dalam mimpi, bekerja sebagaimana yang telah terjadi.

Memang jantungku berdegup terlebih ketika aku melangkah ke luar hotel dan merasakan angin malam menyentuh dagingku yang hampir beku. Menyalakan mobil dengan tubuh kaku, seperti aku baru pertama menyetir, sesuatu dari dalam diri mendesak untuk melaju yang saat itu, aku tidak tahu akan sampai di mana. Mungkin rumah sakit atau langsung jatuh dan terbakar di neraka. Masuk ke jalan 16 Rue du Repos, aku berhenti di Cimetière du Père Lachaise. Inilah sebuah makam yang gambarnya seperti sudah kuhafal luar kepala. Berjalan-jalan tanpa tujuan di tengah kesunyian suasana makam, tepat di salah satu nisan tanpa nama, entah kenapa aku tergerak untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat dalam kaleng. Aku juga tidak mempercayainya, tetapi semua itu aku lalui dengan perasaan yang seakan-akan telah terjadi dalam mimpi. Anehnya, tak ada seorang yang memergokiku hingga aku kembali ke hotel dan melihat ke bawah untuk memastikan bahwa diri ini sudah di dalam kamar dan merasa aman.

Membuka surat kecokelatan itu di bawah lampu, aku memandang ke arah bulan dan berharap seseorang membangunkanku dari tidur. Tetapi, ilusi panjang yang kuduga tengah berjalan saat ini, menghanyutkan aku pada paragraf pembuka surat; Saint-Rémy-de-Provence, 1536. Itu tahun yang tidak pernah aku pikirkan, bahkan mungkin nenek moyangku belum berciuman.

Tidak ada yang benar-benar mengganggu hidupku selain membaca isi surat yang tertulis dalam bahasa latin—seperti tulisan Yohanes Calvin pada buku Christianae Religionis Institutio versi pertama—dan untung aku bisa membacanya dengan baik seperti berikut:

Maaf jika tidur nyenyakmu di Gîte Chambre d’hôtes terganggu. Jangan heran dengan apa yang tengah kau alami, karena sejak beberapa hari lalu, sepertinya kau memang sudah melewati beberepa hal aneh, bukan? Dipecat tanpa alasan lalu putus dengan tunanganmu di hari yang sama, salah satu pemicu untuk bunuh diri. Itu sebabnya kau membeli pistol dengan lima butir peluru di dalamnya. Sebagian orang akan mudah melakukannya, sementara sebagian yang lain tidak sama sekali. Maaf jika aku lancang. Tapi bukankah itu alasan kau berkelana seperti koboi tanpa dosa, dengan mobil tua yang kau curi dari garasi rumah nenek? Kau telah mengambil keputusan yang berat, tetapi aku rasa beberapa pria dewasa juga akan menyarankan hal serupa kepadamu; melarikan diri dari sebuah jalan buntu untuk bertahan dengan setengah napas yang selewat pikiran gelap, akan menjadi abu selamanya. Untunglah sejauh ini kau masih bisa berpikir jernih.

Aku sepakat, tidak ada laki-laki sepertimu mau memecahkan telur api yang telah membara hanya untuk kembali dan menjadi kucing pemalas yang akhir-akhirnya, akan mati di atas sofa tanpa pernah berbuat sesuatu melainkan menyesali kesempatan bunuh diri. Itu sangat memalukan. Sejauh ini kita berdua harus sepakat karena kekeliruanlah yang sejak kemarin hingga hari-hari ke depan akan menjebakmu ke dalam kehampaan. Bukankah aku benar sejauh ini? Aku bisa saja mengatakan seluruhnya, tetapi aku tahu, kau bukan tipe pria yang sanggup mendengar sederet nasihat apa lagi yang tertulis oleh seseorang yang tidak kau kenali. Sampai di sini, jika semua itu benar, maksudku dengan apa yang telah aku tulis sebagai pembuka surat ini, ada baiknya kau tetap membacanya sampai habis.

Tentu saja jika aku menjadi dirimu, aku juga merasa aneh dengan semua ini. Mengapa harus berkendara malam hari untuk datang ke pemakaman dan seolah tanpa sadar, menggali sesuatu yang tidak diketahui ternyata berisikan surat ramalan? Lupakanlah itu dan tidak perlu merasa janggal dengan semua ini.

Beginilah keadaannya. Sebelum kau, aku sudah menulis beberapa surat yang di antaranya, bercap pos[1] dengan tanggal yang berbeda-beda. Pada akhirnya, ketika aku lelah menulis surat-surat itu, aku terjaga dari tidur dan melihat kau mengendarai mobil ke pemakaman. Tak ada yang lebih istimewa dari semua yang telah aku ramalkan selama ini, kecuali berbuat sesuatu hal kecil yang itu berpengaruh besar dalam hidupmu.

Aku berhenti membaca surat ini. Tetapi, seperti semuanya sudah diketahui oleh si penulis surat, karena kalimat berikut yang sempat terlihat olehku; tentu saja kau akan mencoba berhenti membaca surat ini, tetapi beberapa saat lagi kau akan kembali membacanya. Baiklah, aku akan membaca surat ini untuk mencari tahu sejauh mana ia mengetahui hidupku.

Percaya tidak percaya, demi melihat keanehan sapi jantan punggung bungkuk melompat dari semak-semak menuju sebuah bukit. Dari atas bukit si sapi melihat segerombolan orang-orang berjalan tenang, tengah mencari tanah lapang untuk dijadikan makam.

“Aneh,” katanya dalam bahasa sapi. “Dari mana orang-orang itu berangkat?”

Siapa yang tahu? Bahkan si sapi bungkuk sepertinya hanya bergumam dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang mengerti.

Orang-orang di bawah sana, masih saja berjalan hingga salah satu dari mereka berdiam tegak menginjak-injak tanah, seolah tanpa tenaga. Sementara langit siang itu mendung, hujan tidak turun-turun. Si sapi masih memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang mulai menggali lubang seukuran satu tubuh sebanyak jumlah mereka.

Si sapi punggung bungkuk, mulai berjalan mendekat ke arah orang-orang itu dan sayup-sayup terdengar nyanyian seperti tanpa arti yang jelas.

Melewati kerumunan panjang orang-orang, si sapi punggung bungkuk pun kembali ke semak-semak dan bertemu sapi betina. Saat itu sapi punggung bungkuk mendengar lima tembakan yang ia yakin pula telah merenggut nyawa seorang manusia.

“Sudah tahu, kan?” tanya sapi betina. Si sapi punggung bungkuk mengangguk. Ia ingin memastikan, tetapi lebih dulu merasa terlambat.

“Mari sini,” kata sapi betina itu. “Kau tak perlu melihatnya lagi.”

Cepat atau lambat, sapi-sapi akan paham, dengan senjata atau tangan kosong, manusia akan menggali lubang untuk membuat kematiannya sendiri.

Michel de Nostredame

            Kubuang surat itu karena sama sekali tidak memahami, bahkan aku rasa tidak perlu juga mengerti. Apa pun yang dimaksud Michel de Nostredame, pastilah semua itu tidak ditunjukkan untukku, melainkan kebetulan untuk kesamaan-kesamaannya. Apa hubungannya dengan analogi sapi bungkuk dan orang-orang berjalan tenang? Entahlah. Apa peduliku untuk tahu apa lagi penasaran dengan lima tembakan yang terdengar belakangan? Lagi pula, tahun 1536 tidak pernah terbayangkan olehku.

Melanjutkan tidur dan bermimpi bertemu seorang laki-laki yang mengaku bernama Michel, adalah gangguan lain yang memuakkan hidupku. Aku ingin menghantamnya saat itu juga, tetapi seluruh tubuhku seperti dibebani tumpahan selai kacang yang memberatkan. Aku tidak mengerti dan tidak punya pilihan untuk melawan atau pun menolak ajakkannya untuk sampai di sebuah ruangan gelap.

Bagaikan semuanya telah terlewati, aku terbangun di sebuah semak-semak rimbun, dengan akar-akar pohon besar melintang seperti ular bertumpuk. Tak ada hal yang aku pikirkan kecuali isi sekelebat ingatan dari surat Michel de Nostredame. Aku melompat ke luar dan berlari ke arah lengang. Di sebuah bukit aku berdiam dan tidak sengaja melihat kemunculan segerombolan sapi-sapi berjalan tenang, tanpa tujuan.

Satu di antara sapi-sapi yang terlihat itu adalah diriku sendiri. Entah mengapa bisa demikian, aku tidak mengerti. Satu-satunya yang aku harapkan saat ini, aku benar-benar masih bermimpi dan akan terjaga di kamar hotel. Tidak masalah jika aku harus berkendara menuju makam untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat ketimbang saat ini; sapi-sapi melompat ke dalam lubang dan aku masih saja melihatnya tanpa berbuat apa-apa. Sementara itu, lima tembakan yang keras menggema-gema, semakin membuatku sulit membedakan mana yang nyata dan tidak.***


Beri Hanna adalah penulis kelahiran Bangko. Ia sering terlibat dalam beberapa pertunjukan teater berbasis riset tubuh dan tata ruang, baik sebagai dramaturg, aktor, maupun tim artistik bersama Tilik Sarira. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar.


[1] Guntur Alam juga pernah menuliskan hal ini. Dalam buku kumpulan cerita Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang, Nostradamus (nama latin dari Michel de Nostredame)  mengirim surat kepada tokoh calon ayah dengan cap pos tanpa diketahui siapa dan bagaimana surat ini bisa sampai dan dapat dibaca.

Puisi

Puisi Beri Hanna

cinta dan peluit

cintaku ditiuptiup peluit panjang

yang melengking

menggurui buntut kendaraan

terus, terus, op, balas kiri balas kanan, ya.

munculnya pun ketika aku hendak hengkang.


mengantar doa

dalam perjalanan yang menakutkan

kubuka sebuah kitab dan mulai membaca,

perintahnya aku disuruh terus berdoa

maka kututup kitab itu dan mulai berdoa

terusmenerus.

semakin lamanya aku berdoa,

semakin aku merasa tenang

bahkan tak terasa lagi apaapa,

segala ketakutan luntur dalam

kepalan tangan dan segala komatkamit

yang aku panjatkan dalam mata terpejam.

saat kubuka mata perjalanan sudah berakhir,

tidak terasa saja

kini aku sudah ada di surga.


bus gunung batu memuat rindu

nama bus itu gunung batu.

tujuannya mengantar penumpang ke arah yang tak tentu

sopirnya seorang ibuibu,

melajunya seperti peluru—cepat sekali

menembus hati yang penuh dengan pilu.

para penumpang tersedu-sedu

juga sekalikali terasa ngilu di setiap tikungan.

satu saja harapan para penumpang

yang naik bus gunung batu,

agar rindu yang dibawa

untuk menuju suatu tempat

selamat sampai tujuan

dan tidak lekas menjadi hantu.

dengan iringan doa dan nyanyian merdu

terpujilah seluruh rindu

yang melaju bersama bus gunung batu.


untuk perempuan

yang sudah membeku di pulau rindu

aku naik bus gunung batu

melewati jalan berliku

menuju pulau rindu.

menghabiskan waktu untuk

melatih diriku sendiri

untuk belajar mengungkapkan sebuah rasa

agar kelak, aku tak malu-malu

menyatakan rindu yang selama ini meninju-ninju

sunyi setiap malamku, pada perempuan

yang sudah membeku di pulau rindu itu.


sopir bus itu

dan cuaca tidak dapat didugaduga

hujan badai jatuh di setiap tikungan.

rindu mulai terancam,

akankah benar sampai, akankah benar tidak.

para penumpang sibuk sendiri

menunduk, mengingat tak menghiraukan

laju bus gunung batu yang mulai oleng menghalau badai.

petir meletusletus, jantung hampir putus

penumpang berseru saat bus ingin jungkir balik

akibat tikungan yang melengkung, yang ditambah hujan badai,

yang ditempuh pula dengan kecepatan penuh.

nyawa di ambang ngilu

sopir bus meyakinkan;

aku juga sedang membawa rindu.

jadi, jangan kau rasa ngilu milikmu lebih haru

sekali rindu tetap rindu,

meski badainya mengutukmu

rindu wajib bertamu!


pengamen itu

aku purapura tidur

saat pengamen itu memetik gitar

dan menarik suaranya dengan lantang

satu dua tiga lagu ia nyanyikan

orang-orang mulai risih

dan melemparnya dengan kulit kacang

satu lagu terakhir, katanya

mulai orang menutup telinga,

ada yang membuang muka

membuang badan, menghempas pantat,

memakai headset, dan purapura tidur sepertiku

seolah pengamen yang bernyanyi seperti radio

butut yang tak didengar.

aku hampir larut

sempat sejenak tak sadarkan diri.

aku tersentak.

aku mengintip,

pengamen itu sudah tidak ada

orang-orang juga sudah tidak ada

sopir bus tidak ada

tidak ada seorang pun di sini.

kesempatan. kubuka satu per satu

barangbarang yang tertinggal,

tas hitam, tas merah, tas kuning,

yang ditinggal pemiliknya

tapi semua tak ada isinya.

kubuka tasku sendiri, kampret!

kosong juga tak ada isinya, kampret! pengamen itu.


penjual tahu

dua ribu saja, teriak penjual tahu itu.

kulihat dengan pasti

isi dompet tinggal empat ribu.

penjual tahu tibatiba di sebelahku,

itu cukup untuk dua bungkus, mau?

kututup dompet dan membuang muka darinya.

ia duduk di sebelahku;

beli satu juga tidak masalah,

aku geram.

bagaimana, katanya pula sambil

disodorkan sebungkus tahu.

rahangku jadi keras

kepalan tangan sudah siap menghampas pukulan

lidahku tak goyang ingin mengutuknya,

berat sekali saat melihat matanya yang berbinar.

andai saja dia tahu

bahwa dulu aku juga menjual tahu,

matanya yang berbinar ini

adalah mataku yang dulu menjual tahu.

seklias aku melihat tubuhnya adalah tubuhku yang dulu.

sampeyan tahu, dulu aku juga dagang tahu, kataku.

lepas uang empat ribu

lepas juga laparku.

penjual tahu berterima kasih,

karena membeli tahunya

dia jadi tahu sekarang, bahwa aku

masih merindukan tahu.


tak ada bus yang berangkat

penumpang yang menunggu di halte lumpuh,

jalan bersih

bising kendaraan menghilang.

tukang tahu kesiangan

pengamen tak lagi bisa makan.

gitarnya kesepian. lambungnya kesakitan

tak lagi dimandikan tuak.

calo tiket bunuh diri.

spbu meledak

terminal jadi kuburan bus.

sopir mati di warung kopi

melihat uang bulanan tak cukup penuhi

perut anak istri.

telolet dimusnahkan

neneknenek berdansa di jalan raya

kakekkakek berjemur di aspal panas

hari itu

tak ada bus yang berangkat.


kenapa kita bertemu

malam jumat kita bertemu.

itupun tak disengaja.

kaustop bus yang menuju jogja

dan kustop bus menuju solo.

di klaten bus kita bertemu.

ban kanan bus yang kautumpangi meledak.

ban kiri bus yang kutumpangi meledak.

kita bertatap muka selagi sopir dan kernet itu

mengganti ban baru.

kautersenyum padaku, dan aku pun tersenyum padamu.

kuberanikan mendekati kamu. dan kamu beranikan pula

mendekati aku.

kausebut namamu, trisno, kusebut pula namaku, meli.

selesai sopir dan kernet mengganti ban baru.

kita samasama sepakat untuk tetap tinggal di sini.

kaubegitu lucu, begitupun aku.

rela meninggalkan tujuan untuk bertahan padamu

yang baru saja kenal.

malam itu kaupesan sebuah hotel.

menginaplah kita berdua sampai hari menjadi esok.

sampai esok menjadi lusa. sampai lusa menjadi pekan.

sampai pula kita dinikahkan.

saat ijab kabul, kau tersedak

dan merasa sangat malu.

kenapa, tanyaku.

maaf, katamu. aku tak bisa melanjutkan ini

aku tidak mencintaimu.

keputusanmu membuat aku gila.

di depan penghulu dan para saksi

kauberani mengungkapkan hal itu.

kau berlari keluar. kukejar kau seperti

film india.

aku tahu kau menyimpan air mata.

tapi kau sembunyikan dengan berbagai cara.

kauterus berlari menghindari aku.

hingga berhenti di klaten.

tempat dulu kita bertemu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu.

aku ingin mengulang semuanya dari sini, katamu lagi.

aku tidak mengerti kenapa kauberubah seperti ini.

dan aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba perutmu meledak.

persis ketika ban sebelah kiri bus yang kutumpangi dulu meledak.

satu bulan setelah kaumati

sopir dan kernet datang ke rumahku

maafkan kami. semua ini pesanan, kata mereka.

ban kiri dan kanan bus yang meledak adalah pesanan, lanjutnya.

aku tidak paham karena sudah jadi gila.

meski sopir dan kernet menjelaskan,

trisno ingin menyetubuhimu. tapi cinta tumbuh

di sana, ia lupa tujuan awal. ia jatuh cinta padamu.

kau ajak dia menikah. maafkan.

aku tidak paham. benarbenar tidak paham.


mataku dan hatimu

bunga melati tumbuh di mataku

ia akan mati jika tak memandangmu.

maka silih berganti musim

pelangipelangi tercipta dan kaukurung

dalam hatimu.

indahnya melatiku yang terjebak saat

memandang pelangimu.


siapa yang tahu

sebuah perahu lepas dari matamu.

cepat berlayar dan bawa aku pergi.

kaukemudikan perahu membelah ombakombak

biar terombangambing di tengah laut

tak ada lagi peduli menyoal itu.

cintaku terlanjur kautipu

benciku terlanjur kaubunuh.

tak ada lagi jalan menuju rumah

selain membelah lautan.

akan sampai di rumah kita, atau tuhan

siapa yang tahu.


Beri Hanna lahir di Bangko, Jambi. Belajar di Kamar Kata Karanganyar. Saat ini tinggal di Surakarta. Berteater bersama Kelompokseseme & Tiliksarira. Karya teaternya antara lain: menulis & berperan – “Angur di Tangan Bapak Tercinta” (Forest Art Camp, Magelang), menulis & menyutradarai – “Pramesthi” (Arutala Fisikom UKSW, Hotel Laras Asri Salatiga), bermain teater by riset dengan judul “Dear Diary” (Festival Multatuli, Lebak Banten) Tiliksarira, “Puzzle Game” (Indonesia Corruption Watch, Jakarta.) Tiliksarira. Bermain monolog “Jangan Pergi Judi dan Pulang Dini Hari, Kalau Hasilnya Kalah Lagi!” (Tegal) Kelompokseseme, dan judul-judul lainnya. E-mail : [email protected]. Instagram : @berihanna_