Cerpen

Sihir Kucing

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Siapapun tak tahu kalau Ayah sudah meninggal, kecuali Muezza, kucing candramawa kesayangannya. Tak bergerak, Muezza—kucing jantan berbulu hitam dan putih, pusar di kepala—menunggui di ambang pintu kamar, dari semenjak subuh. Dewanti memasuki kamar Ayah, dan mendapati tubuh itu terbujur kaku, masih bersarung, berpeci, setelah salat subuh. Muezza terdiam. Sepasang matanya tajam berkilau. Memandangi tubuh Ayah.

Ayah yang terbaring sakit semenjak semalam, memang tidak salat subuh ke masjid. Muezza memasuki rumah ketika pintu depan dibuka Dewanti. Ia menerobos ruang tamu, dan berhenti di ambang pintu  kamar Ayah. Tak ngiau. Biasanya sepagi ini Ayah pulang dari masjid, Muezza berlompatan menyambutnya. Ayah memberi makan Muezza di teras rumah.

Dewanti lama memandangi tubuh Ayah yang terbujur kaku. Bersedekap, beralas sajadah di lantai. Dewanti mendekat. Merabai detak nadi tangan Ayah. Tak terasa aliran darahnya. Dewanti keluar kamar, mencari Ibu di dapur, dan mengajaknya ke kamar. Ibu tak pernah menduga, selepas salat subuh, Ayah  meninggal. Ayah hanya sakit biasa, demam semalaman. Ketika Ibu meninggalkannya tadi, Ayah masih terbaring dengan napas yang tenang. Tidak menandakan kesakitan. Ayah masih mengambil air wudu. Salat subuh. Ibu menyeduh kopi kental dan memasak. Membiarkan Muezza mendekam di ambang pintu kamar. Ketika melihat Ayah meninggal, Ibu tak bisa memekik, tak bisa bicara, tak bisa menangis. Ibu terdiam. Dadanya sesak. Berdiri di sisi jasad suaminya.  

***

Meloncat-loncatkecil, Muezza mengikuti pemakaman Ayah, berlari-lari di belakang iring-iringan jenazah mendaki bukit kuburan. Dewanti tak memedulikan Muezza yang mendekam tak jauh dari liang lahat. Ia baru sadar akan kehadiran Muezza ketika berjongkok di hadapan gundukan makam, menaburkan kembang dan berdoa. Para pelayat sudah meninggalkan makam, dan Muezza mendekati Dewanti.  

Ketika Dewanti meninggalkan kubur Ayah, dengan langkah pelan-pelan, Muezza masih mendekam di sisi makam. Seorang gadis yang tak dikenal Dewanti masih berdoa di sisi makam Ayah. Dewanti sempat mengundang Muezza, mengajak pulang. Tapi kucing itu tetap mendekam. Tak beranjak. Begitu juga gadis cantik yang tak dikenal Dewanti, masih bertahan di sisi gundukan makam Ayah. Wajahnya berduka.

Dewanti termangu-mangu. Ia ingin mengajak pulang Muezza. Kucing candramawa itu dipelihara Ayah sejak kecil. Ditemukan  di pelataran, terpisah dari induknya, dirawat Ayah. Tiap subuh dini hari ia berlari melompat-lompat menjemput Ayah bila pulang dari masjid. Tiap kali Ayah pulang kantor, ia meloncat-loncat kegirangan menjemput. Ayah memberi makan dan minum Muezza sebelum membaca koran. Kucing candramawa itu selalu mengikuti ke mana pun Ayah berada. Bila malam ia berada di luar rumah, dan menjelang pagi mendekam di sudut teras, ngiau nyaring saat mendengar azan subuh, dan menanti Ayah pulang dari masjid. Ia lahap  menghabiskan makan dan minum. Kadang ia menjelajahi sudut-sudut rumah, terutama gudang, dengan sepasang mata tajam menjatuhkan tikus saat merambati dinding, dan menerkamnya, untuk dimakan di bawah pohon srikaya di pelataran. Tak pernah ia mengoyak-ngoyak tikus tangkapannya di dalam rumah. Sesekali ia mencari Ayah di ambang pintu kamar, dan kadang mereka bercanda. 

***

Kucing candramawa itu tak pulang. Dewanti mendaki jalan setapak ke makam Ayah, ingin menemukan Muezza. Ia memang bertemu Muezza yang masih mendekam di sisi makam. Tidak sendirian. Dewanti bertemu pula gadis tak dikenal yang menampakkan wajah murung, dan sepasang mata kehilangan. Gadis itu tampak beberapa tahun lebih tua dari Dewanti. Lebih berduka, wajahnya menampakkan rasa getir kehilangan.

“Saya belum lama bekerja sekantor dengan ayahmu. Saya dianggap sebagai anak, dan merasakan kasih sayang Ayah. Kini betapa saya merasa sangat kehilangan. Tak pernah saya duga, Ayah akan meninggal secepat ini,” kata gadis itu, yang memperkenalkan diri bernama Dyah. Tempat tinggalnya tak jauh dari kaki bukit makam.  

Dewanti menyembunyikan perasaan tak senang pada Dyah. Gadis itu  menyebut “ayah”, sama seperti Dewanti memanggil lelaki yang telah mengalirkan darah pada tubuhnya.

Tertegun, menyingkirkan kecurigaan, Dewanti tak pernah menduga bila Ayah pernah dekat dengan Dyah, bahkan menjalin pertalian batin sebagaimana ayah-anak gadis. Dewanti diam-diam menyembunyikan rasa cemburu pada Dyah, gadis lembut yang digenangi rasa duka begitu keruh.

“Saya mengenal sosok Ayah, ketenangan dan kasih sayangnya. Sosok yang tak pernah kukenal dalam hidup adalah ayah kandung,” kata Dyah, yang terus saja bercerita tentang kehidupannya yang tak mengenal ayah sejak lahir. Ayahnya meninggal, ketika ia masih dalam kandungan ibu. Ia merasa bahagia di kantor, bertemu dengan lelaki seteguh Ayah, yang memberikan perlindungan padanya.

“Saya tak menduga, bila Ayah secepat ini meninggalkan kita,” kata Dyah, dalam kegundahan.     

Dyah memberi makan Muezza yang tak pernah mau meninggalkan makam. Muezza seperti menunggu Ayah bakal bangkit dari kubur, dan mereka kembali bercengkerama bersama. Dewanti sampai pada pikiran: mungkin Muezza ingin mati, agar ia bisa bertemu Ayah. Anehnya, Muezza baru mau makan setelah Dyah memberinya ikan yang diletakkan di atas daun kemboja. Mula-mula ia enggan mengendus-endus ikan. Tapi kemudian ia lahap makan. Muezza jinak pada Dyah—dan melupakan Dewanti.

***

Harikelima kematian Ayah. Kembali Dewanti mendaki bukit makam menjelang senja, ingin mengajak pulang Muezza. Ia ingin kucing candramawa itu menerkam tikus-tikus yang mulai bergentayangan di ruang-ruang tersembunyi, merayap ke meja makan mencuri ayam goreng tanpa rasa takut, dan bersarang di gudang. Tapi ia tak menemukan Muezza di sekitar makam. Alangkah senyap gundukan makam Ayah, dengan taburan bunga yang mengering dan terserak-serak. Dewanti memanggil-manggil Muezza. Senyap. Ia tak menemukan binatang itu. Ia mencari Muezza hingga ke sudut-sudut kuburan yang rimbun semak belukar. Tak ditemukan. Mati? Bila kucing candramawa itu mati, tentu tercium bau bangkainya. Dewanti curiga bila Muezza dibawa pulang Dyah dan dipelihara. Mungkin gadis itu ingin mengenang Ayah dengan cara memelihara Muezza.

Gerimis senja mulai bergemeretap di atas daun-daun kemboja. Dewanti masih mencari-cari Muezza. Ia lacak ke sudut-sudut makam. Gerimis kian deras. Ia tak berpayung, membiarkan dirinya diguyur hujan yang kian menajam, mencari kucing candramawa. Beberapa kali ia tergelincir, terpeleset di jalan setapak licin, terbanting. Tidak segera bangkit. Terdiam. Terpikir padanya nasib Muezza dan tikus-tikus mengganas di rumah. Ia tak ingin Muezza mati terlunta-lunta. Terpikir juga ia pada Dyah, gadis yang tanpa sepengetahuannya sudah merebut perhatian Ayah. Sama sekali Ayah tak pernah bercerita tentang Dyah, meski hanya sepenggal kisah yang samar. Gadis itu menjadi rahasia kehidupan Ayah yang merapuhkan perasaan Dewanti.

Tubuh Dewanti kuyup ketika berketetapan hati untuk membawa pulang Muezza. Ia mengikuti nalurinya mencari rumah Dyah, dan menemukannya. Dyah tinggal di sebuah rumah tua bersama ibunya yang renta. Dilihatnya Muezza berada di sudut ruang tamu.

“Saya datang untuk mengambil Muezza,” kata Dewanti, tenang, dan menuntut.

“Kucing itu mengikutiku pulang. Kalau ia memang mau mengikuti perintahmu, bawalah!”

Seperti terkena sihir, Muezza tak lagi mengenali Dewanti. Bulu-bulunya tegak, sepasang matanya garang, ketika Dewanti mendekat ingin membawanya pulang. Tangan Dewanti terjulur ingin merengkuh dan menggendong Muezza. Ia mencakar tangan Dewanti hingga berdarah.  

***

Malamitu Dewanti tidur gelisah, dengan tubuh menggigil, meski sudah berselimut tebal. Ia terus menahan diri dengan tubuh demam, dalam tidur yang sesekali terbangun. Ia tertidur lagi dalam kegelisahan mimpi-mimpi seram. Ia bermimpi bertemu Ayah dan Muezza. Kucing candramawa itu meloncat dalam pelukan Ayah.  

Tubuh Dewanti tenang. Bernapas teratur. Tertidur. Lelap. Ia tak lagi menggigil demam.  Azan subuh membangunkannya. Terdengar ngiau kucing di teras. Kuku  kucing mencakar-cakar pintu ruang tamu. Dewanti buru-buru membuka pintu. Dilihatnya Muezza di hadapannya. Dewanti meraih Muezza. Memeluknya. Sepasang mata kucing candramawa itu cemerlang berkilau. Bergerak memandangi sekitarnya tanpa berkedip. Ia melihat sesuatu yang tak tertangkap pandangan manusia. Sesaat kemudian barulah sepasang matanya meredup. Ia terbebas dari pengaruh sihir.***

Pandana Merdeka, Desember 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Cerpen

Delusi dan Surat Pendek Michel de Nostredame

Cerpen Beri Hanna

Aku terbangun dan mengingat semua yang telah terjadi di dalam mimpi barusan. Entah, saat ini aku masih bermimpi atau tidak, aku hampir tidak bisa membedakannya. Atau dengan kata lain, ini semacam meneliti pori-pori di putih telur mentah yang bahkan tidak pernah ada. Kepalaku berat, seperti ada setumpuk mentega yang mengeras di dalamnya. Semua kejadian seperti sama dan apa yang aku lalui saat ini telah aku lihat di dalam mimpi, bekerja sebagaimana yang telah terjadi.

Memang jantungku berdegup terlebih ketika aku melangkah ke luar hotel dan merasakan angin malam menyentuh dagingku yang hampir beku. Menyalakan mobil dengan tubuh kaku, seperti aku baru pertama menyetir, sesuatu dari dalam diri mendesak untuk melaju yang saat itu, aku tidak tahu akan sampai di mana. Mungkin rumah sakit atau langsung jatuh dan terbakar di neraka. Masuk ke jalan 16 Rue du Repos, aku berhenti di Cimetière du Père Lachaise. Inilah sebuah makam yang gambarnya seperti sudah kuhafal luar kepala. Berjalan-jalan tanpa tujuan di tengah kesunyian suasana makam, tepat di salah satu nisan tanpa nama, entah kenapa aku tergerak untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat dalam kaleng. Aku juga tidak mempercayainya, tetapi semua itu aku lalui dengan perasaan yang seakan-akan telah terjadi dalam mimpi. Anehnya, tak ada seorang yang memergokiku hingga aku kembali ke hotel dan melihat ke bawah untuk memastikan bahwa diri ini sudah di dalam kamar dan merasa aman.

Membuka surat kecokelatan itu di bawah lampu, aku memandang ke arah bulan dan berharap seseorang membangunkanku dari tidur. Tetapi, ilusi panjang yang kuduga tengah berjalan saat ini, menghanyutkan aku pada paragraf pembuka surat; Saint-Rémy-de-Provence, 1536. Itu tahun yang tidak pernah aku pikirkan, bahkan mungkin nenek moyangku belum berciuman.

Tidak ada yang benar-benar mengganggu hidupku selain membaca isi surat yang tertulis dalam bahasa latin—seperti tulisan Yohanes Calvin pada buku Christianae Religionis Institutio versi pertama—dan untung aku bisa membacanya dengan baik seperti berikut:

Maaf jika tidur nyenyakmu di Gîte Chambre d’hôtes terganggu. Jangan heran dengan apa yang tengah kau alami, karena sejak beberapa hari lalu, sepertinya kau memang sudah melewati beberepa hal aneh, bukan? Dipecat tanpa alasan lalu putus dengan tunanganmu di hari yang sama, salah satu pemicu untuk bunuh diri. Itu sebabnya kau membeli pistol dengan lima butir peluru di dalamnya. Sebagian orang akan mudah melakukannya, sementara sebagian yang lain tidak sama sekali. Maaf jika aku lancang. Tapi bukankah itu alasan kau berkelana seperti koboi tanpa dosa, dengan mobil tua yang kau curi dari garasi rumah nenek? Kau telah mengambil keputusan yang berat, tetapi aku rasa beberapa pria dewasa juga akan menyarankan hal serupa kepadamu; melarikan diri dari sebuah jalan buntu untuk bertahan dengan setengah napas yang selewat pikiran gelap, akan menjadi abu selamanya. Untunglah sejauh ini kau masih bisa berpikir jernih.

Aku sepakat, tidak ada laki-laki sepertimu mau memecahkan telur api yang telah membara hanya untuk kembali dan menjadi kucing pemalas yang akhir-akhirnya, akan mati di atas sofa tanpa pernah berbuat sesuatu melainkan menyesali kesempatan bunuh diri. Itu sangat memalukan. Sejauh ini kita berdua harus sepakat karena kekeliruanlah yang sejak kemarin hingga hari-hari ke depan akan menjebakmu ke dalam kehampaan. Bukankah aku benar sejauh ini? Aku bisa saja mengatakan seluruhnya, tetapi aku tahu, kau bukan tipe pria yang sanggup mendengar sederet nasihat apa lagi yang tertulis oleh seseorang yang tidak kau kenali. Sampai di sini, jika semua itu benar, maksudku dengan apa yang telah aku tulis sebagai pembuka surat ini, ada baiknya kau tetap membacanya sampai habis.

Tentu saja jika aku menjadi dirimu, aku juga merasa aneh dengan semua ini. Mengapa harus berkendara malam hari untuk datang ke pemakaman dan seolah tanpa sadar, menggali sesuatu yang tidak diketahui ternyata berisikan surat ramalan? Lupakanlah itu dan tidak perlu merasa janggal dengan semua ini.

Beginilah keadaannya. Sebelum kau, aku sudah menulis beberapa surat yang di antaranya, bercap pos[1] dengan tanggal yang berbeda-beda. Pada akhirnya, ketika aku lelah menulis surat-surat itu, aku terjaga dari tidur dan melihat kau mengendarai mobil ke pemakaman. Tak ada yang lebih istimewa dari semua yang telah aku ramalkan selama ini, kecuali berbuat sesuatu hal kecil yang itu berpengaruh besar dalam hidupmu.

Aku berhenti membaca surat ini. Tetapi, seperti semuanya sudah diketahui oleh si penulis surat, karena kalimat berikut yang sempat terlihat olehku; tentu saja kau akan mencoba berhenti membaca surat ini, tetapi beberapa saat lagi kau akan kembali membacanya. Baiklah, aku akan membaca surat ini untuk mencari tahu sejauh mana ia mengetahui hidupku.

Percaya tidak percaya, demi melihat keanehan sapi jantan punggung bungkuk melompat dari semak-semak menuju sebuah bukit. Dari atas bukit si sapi melihat segerombolan orang-orang berjalan tenang, tengah mencari tanah lapang untuk dijadikan makam.

“Aneh,” katanya dalam bahasa sapi. “Dari mana orang-orang itu berangkat?”

Siapa yang tahu? Bahkan si sapi bungkuk sepertinya hanya bergumam dengan dirinya sendiri, tanpa ada yang mengerti.

Orang-orang di bawah sana, masih saja berjalan hingga salah satu dari mereka berdiam tegak menginjak-injak tanah, seolah tanpa tenaga. Sementara langit siang itu mendung, hujan tidak turun-turun. Si sapi masih memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang mulai menggali lubang seukuran satu tubuh sebanyak jumlah mereka.

Si sapi punggung bungkuk, mulai berjalan mendekat ke arah orang-orang itu dan sayup-sayup terdengar nyanyian seperti tanpa arti yang jelas.

Melewati kerumunan panjang orang-orang, si sapi punggung bungkuk pun kembali ke semak-semak dan bertemu sapi betina. Saat itu sapi punggung bungkuk mendengar lima tembakan yang ia yakin pula telah merenggut nyawa seorang manusia.

“Sudah tahu, kan?” tanya sapi betina. Si sapi punggung bungkuk mengangguk. Ia ingin memastikan, tetapi lebih dulu merasa terlambat.

“Mari sini,” kata sapi betina itu. “Kau tak perlu melihatnya lagi.”

Cepat atau lambat, sapi-sapi akan paham, dengan senjata atau tangan kosong, manusia akan menggali lubang untuk membuat kematiannya sendiri.

Michel de Nostredame

            Kubuang surat itu karena sama sekali tidak memahami, bahkan aku rasa tidak perlu juga mengerti. Apa pun yang dimaksud Michel de Nostredame, pastilah semua itu tidak ditunjukkan untukku, melainkan kebetulan untuk kesamaan-kesamaannya. Apa hubungannya dengan analogi sapi bungkuk dan orang-orang berjalan tenang? Entahlah. Apa peduliku untuk tahu apa lagi penasaran dengan lima tembakan yang terdengar belakangan? Lagi pula, tahun 1536 tidak pernah terbayangkan olehku.

Melanjutkan tidur dan bermimpi bertemu seorang laki-laki yang mengaku bernama Michel, adalah gangguan lain yang memuakkan hidupku. Aku ingin menghantamnya saat itu juga, tetapi seluruh tubuhku seperti dibebani tumpahan selai kacang yang memberatkan. Aku tidak mengerti dan tidak punya pilihan untuk melawan atau pun menolak ajakkannya untuk sampai di sebuah ruangan gelap.

Bagaikan semuanya telah terlewati, aku terbangun di sebuah semak-semak rimbun, dengan akar-akar pohon besar melintang seperti ular bertumpuk. Tak ada hal yang aku pikirkan kecuali isi sekelebat ingatan dari surat Michel de Nostredame. Aku melompat ke luar dan berlari ke arah lengang. Di sebuah bukit aku berdiam dan tidak sengaja melihat kemunculan segerombolan sapi-sapi berjalan tenang, tanpa tujuan.

Satu di antara sapi-sapi yang terlihat itu adalah diriku sendiri. Entah mengapa bisa demikian, aku tidak mengerti. Satu-satunya yang aku harapkan saat ini, aku benar-benar masih bermimpi dan akan terjaga di kamar hotel. Tidak masalah jika aku harus berkendara menuju makam untuk menggali dan mendapatkan sebuah surat ketimbang saat ini; sapi-sapi melompat ke dalam lubang dan aku masih saja melihatnya tanpa berbuat apa-apa. Sementara itu, lima tembakan yang keras menggema-gema, semakin membuatku sulit membedakan mana yang nyata dan tidak.***


Beri Hanna adalah penulis kelahiran Bangko. Ia sering terlibat dalam beberapa pertunjukan teater berbasis riset tubuh dan tata ruang, baik sebagai dramaturg, aktor, maupun tim artistik bersama Tilik Sarira. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar.


[1] Guntur Alam juga pernah menuliskan hal ini. Dalam buku kumpulan cerita Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang, Nostradamus (nama latin dari Michel de Nostredame)  mengirim surat kepada tokoh calon ayah dengan cap pos tanpa diketahui siapa dan bagaimana surat ini bisa sampai dan dapat dibaca.

Puisi

Puisi Yohan Fikri

pulang ke haribaan pelukmu

lalu di mana muara bagi segenap kembara,

bila tak henti di haribaan pelukmu?

seluruh liku jalan yang kutapak bagai lorong

bercabang banyak — gelap nan basah.

dinding-dinding yang kuraba dengan terbata,

hanya menuntun tatih langkahku

pada kegamangan-kegamangan baru menggapai cahaya.

kecemasan kerap jadi batu, mengantuk

sepasang kakiku menujumu, menujumkan segala rindu.

sambut aku, kasihku. sambut aku serupa

kuntum bunga-bunga seroja yang memekarkan diri,

untuk mencumbu jamah matahari.

pagut bibirku dan lampiaskan gelegak birahi.

peluk erat kesepianku, seakan esok adalah hari terakhir

bagi kata-kata, untuk menulis riwayat kita.

lalu kita hikmati setiap lenguh napas dan desah cemas.

setiap inci sentuhan dan jengkal kemabukan.

bayangkan ini perjumpaan sebagai pungkas pelayaran

: kita arungi samudera birahi, kita garami luka-luka dalam diri.

hingga gelap juntaikan tirai, kita tetap baku-dekap,

melihat malam yang sekarat lumpuh-terkulai

— di atas sepasang tubuh kita: tubuh penuh cinta, yang belia!

2021


pagi yang monokrom #1

di stasiun, menanti kereta tiba, kusaksikan peron kebak

para calon penumpang, mencangking kecemasan masing-masing;

hilir mudik para porter mengusung sejumlah koper,

raut-raut kusut; dan kantuk yang berjelaga di pelupuk mata

adalah komposisi di suatu pagi yang miring.

sejumlah orang duduk mencangkung, selebihnya berdiri mematung,

dan sesekali, melongok ke arah kereta tiba

— walau yang mereka temu, masihlah kekosongan belaka.  

sepasang burung gereja menisik bulu di punggung besi tua,

kemudian melenting ke pucuk ranting pohon trembesi.

pagi yang monokrom, cuaca sedingin logam,

dan langit yang muram, seperti wajah resah yang menunggu,

lalu menangis dalam ritmis rintik gerimis itu.

kenangan merambat di antara rel-rel kereta, pipa-pipa tua saluran air

karat dan menggigir, kaki-kaki kursi dan wajah-wajah lesi

yang jemu menanti. sabar pun perlahan pudar,

pada detik-detik yang gusar. “ya. kita memang gampang tergesa,

dan acap tak sadar, bahwa dalam gegas, kerap memicing mata nestapa.”

lengking kereta terdengar dari jauh, memecah gelisah

yang kecamuk dalam dadaku. fajar gemetar di ufuk,

orang-orang berhambur menuju pintu masuk. dan aku,

masih pula berdiri, merunduk, merapal doa keberangkatan,

memanjat mantra-mantra keselamatan, “betapa kita  kerap lupa

untuk senantiasa awas dan was-was pada segala, sebab pada setiap

hitam-putih kemungkinan, selalu tersimpan waktu-waktu yang rawan!”

2021


pagi yang monokrom #2

“angin apa yang telah sampai membawamu kemari?”

mungkin angin purbani, yang bertiup lembut

dari dengus napasmu dulu. ketika jari-jarinya

menyentuh kulit jangatku, ia tumbuh menjelma badai.

aku, sehelai daun ringkih, kasih, yang ingin tanggal

dan merebah di dadamu yang tandus.

biarlah waktu dan cuaca, musim-musim yang itu juga,

meleburkanku, dan aku akan merupa humus bagi benih-benih kata,

untuk tumbuh memutikkan kuncup-kuncup bunga.

ujarku pada suatu pagi yang monokrom, ketika kusaksikan

sehelai daun getas di selasar peron jatuh-meranggas

diterpa angin bulan november. kurapatkan kerah kemeja,

kukancingkan buah jaketku, kota ini sedang dingin dan berangin, cintaku;

waktu-waktu riskan bagi tubuh yang minim dirahmati pelukan.

perjalanan, barangkali, hanya berkisar pada kedatangan

dan keberangkatan. siapa yang bakal tiba lebih dulu,

cumalah masalah waktu. karenanya, aku ingin kaumenungguku,

di puncak bukit mahasakit, di mana luka telah menyalibmu.

akan aku congkel seluruh kesepian yang telah memaku sepasang lenganmu.

dari jendela sembab-berembun, mataku memandang ngungun

ke titik jauh: hamparan sawah bagai wajah yang tengadah,

dangau-dangau di batang pematang seakan melambai pada pikiran

yang capai dan sangsai, sungai mengular membelah kini dan kiwari,

rumah-rumah berbanjar sepanjang bantar rel kereta api,

pohon-pohon berkelebat ke arah masa lalu: ke arah yang tak pernah

terjangkau oleh genggamanku. segalanya hanya bisu.

bahasa menghilang dari tubuh orang-orang. langit kelabu di luar jendela

seperti ingin memuntahkan banyak bercerita. buku puisi yang kubaca

membentangkan sejuta rahasia. dan hujan pun turun. dan jagad pun basah,

menyentil sisi sentimentil dalam tubuh kerontangku. dan kuyuplah sekujur ingatanku.

2021


hal-hal yang masih mengendap

di sprei motif bunga mawar

rintih dan lenguh, hasrat dan peluh

masih mengendap di sprei motif

bunga mawar, juga di dinding-dinding kamar,

yang kusam dan memar.

sekalipun kini, malam-malam telah jadi asam,

dan sepi, harga yang tak dapat lagi

ditawar-tawar. selalu ada

yang tak akan pernah kuasa kauhapus,

pula oleh telapak tangan waktu: ialah segala gebu nikmat

yang sempat menanam geletar dalam ngilu

sendi-sendimu. gigitan-gigitan kecil bagai jarum-jarum

morphin, menyengatkan semacam gigil yang lain.

tidur meringkuk memeluk diri sendiri,

kaukenang kembali sesuatu yang telah jadi ganih;

ingatan-ingatan yang perlahan malih menjadi buih

: lingerie berenda yang masih lekat di indera peraba,

serta sejumlah kerling nafsu yang pernah memantul

di mata manik-maniknya, seakan menjelma

lembut mulut yang mengulum seluruh kesedihanmu

— sampai ke pangkal batangnya.

2021


interlude        

                        /1/

kau kerap gagal di hadapan sesuatu yang krusial.

semisal, melangkah tabah dan bersiap tanggal,          

ataukah tugur, dan terus memilih tinggal

— meski barangkali, kau paham benar,

dingin itu telah seumpama api biru,

yang membakar harapanmu menjadi abu.

                        /2/

menangislah, cintaku. menangislah seperti gelegak ombak

melampiaskan dendam pada daratan.

air mata akan membuat pandanganmu jernih kembali,

sehingga kau dapat melihat:

betapa setia dan khianat gemar bertukar tempat.

segala yang lekang akan kautemu ulang

kelak di ujung tualang. sebab, di hadapan cinta yang remaja,

kita semua pengembara belaka.

                        /3/

kau (pun aku) mungkin kerap keliru menaruh prasangka.

sebagaimana kita sedang berenang

di sebuah tepi, lalu tergesa menyebutnya menyelam ke lubuk terdalam

— bukankah mencintai pun kadang juga begitu?

tetapi kau selalu percaya, kelak, luka akan menjadi karma

dengan sendirinya. Seseorang yang telah menikamkan pisau sepi

ke punggungmu, akan menanggung seluruh kesunyian paling merah.

                        /4/

pada akhirnya, kau lebih memilih berjalan sendiri,

menamsil nasib yang ganjil,

menyelusur hari-hari yang kabur, dan menafsir rasa getir

seumpama seorang penyair,

menyusun ulang tubuh yang telah retak

menjadi sebuah sajak, sebagai ritus pengampunan

atas seluruh dosa-dosa kesunyian.

2021   


scorpius

: Sindy Novia Larensi

Apa kau tak pernah membayangkan,

sebuah rasi bintang scorpio

menampakkan diri di angkasa bumi kita?

Kau melihatnya dari jendela kamarmu, aku

mengintipnya dari halaman rumahku,

sepasang capitnya, mencengkau namamu dan namaku.

Sedang ekornya menyengat masing-masing

dada kita, sehingga tahulah aku, rindu bekerja

bagai racun, membuat biru seluruh tubuhku.

Aku masih mengamatinya. Apakah kau pun?

Tanpa kita sadari, kita telah jadi sepasang penujum,

menerka sesuatu yang belum kita mafhum,

“Di hari apakah, nasib akan menjatuhkan

nama kita pada peruntungan yang sama?”

2021


sajak tentang sebuah vas bunga

Pada vas bunga

yang menggigir kesepian

di atas meja, di sudut ruang itu

kau bertanya,

apa yang membuatnya bermakna,

selain hanya sesuatu

yang kelak layu,

dan kita berupaya mengekalkannya?

— seperti kenangan,

yang terus-menerus kita segarkan.

Pada vas bunga

yang menggigir kesepian

di atas meja, di sudut ruang itu,

kau tak menemukan apa-apa,

tidak juga jawaban

atas kesuwungan tanda tanya,

selain hanya sesuatu

di dadamu yang memurung tiba-tiba.

2021


malam dalam komposisi

Pilau lampu-lampu kota,

seakan sedang

menerjemahkan cerlang

mata kekasihnya.

Udara gigil, musim yang labil,

merepih kantung kemih,

dan bulan yang limau

di langit pucat memutih.

Di atas bangku tepi jalan,

di hadapan lalu lintas waktu,

ia hendak meraih sebungkus

kenangan di liang saku.

Tetapi ia malah merasa,

seperti ada jemari

yang hangat dan melumer

di genggamannya.

Ia terkenang pada suatu malam

ketika untuk pertama kalinya,

ia ingin waktu berjalan lamban

— atau, ke arah selain masa depan?

Disulutnya kekalutan itu, dan

kesedihan mengepul ke udara.

Sedang air matanya, umpama segumpil

mentega yang meleleh di penggorengan.

2021


le poète maudit

Aku seekor ular yang diam-diam

mengamatimu dari pucuk ranting pohon apel,

membelit kegamangannya sendiri:

antara melata pergi, ataukah menghampirimu?

Sementara ketakutan, sebagaimana tuhan,

gemar menorehkan sejumlah larangan

juga kutukan-kutukan, di tubuhku.

Suatu hari, kupetik jantung sendiri.

Kusihir menjelma sebutir apel merah,

dan menyuguhkannya padamu.

Semoga, begitu kau menggigitnya, kau paham

akulah daging buah yang tabah tubuhnya berdarah,

meski dengan lelaki itu pula

pada akhirnya, kau berbagi rasa manisnya

“Tidakkah kau tahu? Itulah saripati rindu,

yang sepanjang usia waktu, selalu luput dari pagutanmu?”

2021


rencana mengunjungi pasar malam

Bagaimana bila sejenak kau sampurkan air mata di pundakku,

dan mari, kita jalan menyusuri hingar-bingar pasar malam

yang tampak melambai-lambai kepada kita itu?

Akan kuajak kau menonton atraksi roda gila supaya bising suara

kenalpotnya, memecah rasa masygul yang terbuhul di dada.

Atau, mengendarai kuda sembrani di sebuah komidi putar?

Di sana, waktu seperti henti melaju, hidup bukan lagi kejar-mengejar.

Kita akan merasa berjalan, meski tidak ke mana-mana.

Mungkin dengan begitu, kesedihan jadi sesuatu yang tak berarti apa-apa.

Atau barangkali, kau ingin sekadar membeli permen kapas?

Lalu, duduk menikmatinya sambil menyimak dan tergelak

melihat orang-orang jerit-teriak di atas perahu yang limbung disapu ombak?

Juga kincir angin yang berjentera seakan ingin mengajari kita:

naik-turun atas-bawah itu biasa, dan begitulah sewajarnya hidup berkelindan

menjalin warna-warninya? Siapa tahu, rasa legit yang leleh di lidah,

bakal samarkan getir-pahit, sedih, dan gundah.

Lalu, akan kucegat seorang pengamen kecil yang kebetulan lewat agar dipetiknya

senar ukulele, agar ditabuhnya tambun tubuh jimbe, sembari kubacakan

sejudul sajak cinta yang sudah kutulis semenjak lama,

lihatlah rembulan yang menggantung di luas lengkuh kubah angkasa:

“Apatah pantas kau tetaskan tetes air mata? Sedang rembulan itu, bintang gemintang itu,

bahkan selamanya akan tersipu, sembunyikan muka di balik murung gemelung mega

lantaran meski parasmu sedih, rupanya masih gagal ia lampaui keindahannya.”

2021


bersama panchali di suatu

pertunjukan wayang orang

            I

Hastinapura kala itu, mungkin tak ubahnya

panggung trapesium di hadapan kita, Panchali.

Dan kita hari ini, adalah sepasang mata

yang tak ingin melewatkan satu pun adegan;

degup jantung yang tak henti menanti,

dan terus dirundung tanya, “Apa lagi setelah ini?”

Sepasang tirai itu kemudian terbuka

disusul lampu-lampu yang menyala,

lalu kita sama saksikan

lidah Sengkuni yang begitu licin,

menjatuhkan Yudhistira di atas meja judi

: tergelecik muslihat licik,

dan terjengkang nasibnya sendiri.

            II

Sementara Yudhistira telah pertaruhkan segala yang ia miliki:

Kereta dan turangga, Pandhawa dan Indraprastha,

harga diri, hingga kekasihnya,

tidakkah kaulihat ada yang berkilat

di mata Kurupati,

bagai lidah bara yang mengeropok bulu domba?

Ketika nafsu telah menyihir Dharmaputra

yang tak bercela bagai amuk seekor kuda,

kadung lepas dari tali kekangnya?

Lalu, sesal tinggallah gelugut

yang bertebar di tubuh Yudhistira.

Detik pun meruam, dan nasib hanyalah nyala

yang masih berupaya terjaga pada sumbu sejumlah kandil

— yang tampak ngungun dan menggigil, Panchali.

Gedung ini sesak penonton, Panchali,

tetapi, kesunyian seperti dinding kedap yang menyerap

seluruh suara-suara di sekitarku, di sekitar kita.

Genggam tanganku, Panchali

agar dapat kurasakan getar-getar kesedihan

yang menusuki batang nadimu.

            III

Kali ini kita saksikan seorang perempuan

— O, itukah kau, Panchali?

diseret Dursasana ke tengah gelanggang

seumpama rusa buruan,

yang dilempar di atas tungku perapian.

“Adakah seorang raja yang sampai hati melempar seorang istri

ke tengah gelanggang judi? Sedang penjudi paling nista pun tiada pernah tega

menggadai perempuannya — sekalipun toh ia seorang sundal!”

Perempuan itu berseru dengan suara terpatah,

menahan sesak-isak yang membuhul kekata dan lidah.

Suara itu, mata pedang menyayat-nyayat,

lenguh napas kijang menahan sekarat.

Kurasakan jari-jemarimu berkeringat dingin

Kau remas erat genggaman tanganku.

Sandarkan kesedihan itu di tampuk pundakku, Panchali.

“Ini hanyalah sebuah pentas,” ujarku padamu

“dan babak tak lama lagi akan pungkas.”

Tetapi kaubilang, “Kesedihan bukan seperti air mata,

yang dapat mengering hanya dengan diseka sehelai kacu,

yang kaulurkan dari saku bajumu.”

            IV

Dan senja pun penuh, ketika perempuan itu

hanya menatap ngungun ke titik jauh

— ke arah di mana harapan

adalah jarak yang begitu muhal ia sentuh.

Tetapi, kita pun seakan mengerti, Panchali,

“Nasib barangkali tak ubahnya permainan dadu.

Dan kita tak akan pernah tahu angka yang bakal keluar,

sebelum dadu-dadu pungkas dilempar!”

Tirai tertutup kembali, dan lampu-lampu bersusulan mati.

Panggung pun usai, sementara kita, masihlah sepasang penonton

yang sibuk menyeka linang masing-masing,

sebelum ruang jadi hening,

dan sepi pun tumpah, membasah ke tubuh kita.

2021


Yohan Fikri, lahir di Ponorogo, 1 November. Belajar di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang. Puisinya tersiar di pelbagai media dan memenangkan beberapa lomba. Bukunya yang bakal terbit bertajuk Tanbihat Sebuah Perjalanan. Dapat disapa melalui akun Instagram @yohan_fvckry.

Cerpen

Gaun Hijau Botol

Cerpen Jeli Manalu

Nirara berdiri tepat di depan sebuah toko, ketika notifikasi WhatsApp membuat getaran dalam saku jaketnya. Ia membuka pesan itu sesaat setelah mengalihkan pandangan dari gaun hijau botol yang dipakai patung berambut ikal, seperti rambutnya. Isi pesan dalam ponselnya, menjelaskan pada hari raya Natal akan datang seorang pastor tamu. Si pembuat pesan, yakni ketua paduan suara, mengatakan tahun ini harus lebih semarak dan meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Kelompok paduan suara akan mengenakan baju seragam.

Membaca pesan itu, di mana seruan ketua merupakan keharusan terlebih telah didukung anggota lainnya, harapan Nirara tentang Natal dengan gaun hijau botol yang menggembirakan hati pupus seketika. Mengenakan seragam, membeli baju jadi ataupun menjahitkannya, itu artinya ada pengeluaran tambahan di bulan yang sama. Sementara, sejak gaun hijau botol dipajang pemilik toko, di mana Nirara dapat melihatnya setiap pergi dan pulang bekerja hampir seminggu lamanya, karena telanjur naksir namun belum tiba tanggal gajian, ia membujuk majikannya supaya diberi pinjaman demi menyerahkan sejumlah uang kepada pemilik toko sebagai tanda jadi, sehingga gaun itu tidak dijualkan kepada orang yang barangkali berminat membelinya. Dan sekarang, setelah mendapatkan maklumat penting di hari yang genting, selain tak dapat memiliki gaun hijau botol, kemungkinan kehilangan uang tanda jadi sebagai kompensasi karena membatalkan pesanan turut mengganggu pikirannya. Jika harus mengambil gaun bersamaan dengan baju seragam, itu mustahil lagi. Ia tidak punya cadangan uang. Rekeningnya sudah lama tak ada isi. Bila dulu belanja-belanja perkara gampang, pada kehidupannya sekarang, segala sesuatu terasa sulit.

Belakangan, sebelum tiba masa gajian, ia membuat catatan esktra ketat terhadap nominal yang hendak diterimanya. Sesudah uang di tangan, ia langsung membelanjakannya untuk kebutuhan sebulan penuh, hanya menyisakan kebutuhan lauk-pauk yang dibeli per dua hari. Token listrik, beras, minyak sayur, serta isi ulang gas 3 kilo berlabel “hanya untuk masyarakat miskin.”

Ia bimbang, juga mulai bersedih. Ingatan akan gaun berwarna hijau, yang pernah dibelikan Tona, suaminya pada Natal pertama saat mereka baru berumah tangga, hadir dalam lamunannya.

“Buka dan lihatlah. Nama warnanya, hijau botol,” kata Tona, waktu itu.

Hijau botol. Seperti warna botol kaca muatan 620 ml, tempat bir bergambar bintang. Hijau yang gelap. Atau seperti warna kasula pada masa minggu biasa dalam liturgi—Tona mengatakan itu merupakan warna kesukaannya, juga Nirara.

Lelaki itu mengaku senang ketika Nirara mulai memasukkan kepalanya ke lorong gaun. Saat Nirara merentangkan kedua tangan dan menggerak-gerakkan badan, Nirara merasakan tangan Tona membantu Nirara membetulkan di bagian dada sampai pinggul. Gaun itu kemudian Nirara tahu berbahan katun lembut, namun sedikit tebal. Dalam cermin ia melihat dirinya yang sedang mengenakan gaun berkerah lebar, di mana pada sepertiga bagian ujungnya terdapat lubang-lubang mungil menyerupai gambar hati. Panjang gaun setengah betisnya. Risleting di bagian belakang. Ketika hendak mengenakannya untuk merayakan malam Natal di gereja, Nirara meminta tolong pada Tona supaya mengancingkannya. Tona memegang kepala risleting, tapi ia berkata agak kesulitan melakukannya. Ia menarik ke atas, lalu menurunkannya lagi sebelum benar-benar mencapai puncak, ia bilang resletingnya mungkin perlu diberi lilin sedikit supaya lincah gigitannya.

“Jangan bercanda, nanti kita terlambat,” protes Nirara.

Lama-lama, mereka malah saling mencumbu, sampai-sampai tiba di gereja tepat ketika pastor berkotbah di altar cintanya Tuhan tentang kelahiran bayi Yesus. Dan sebulan setelahnya, Nirara mengandung anak pertama, meski pada usia kehamilan tujuh minggu ia mengalami keguguran.

Di depan toko yang ramai oleh lalu lalang pengunjung, tiba-tiba, penyesalan kecil timbul di dada Nirara. Barangkali, bila tidak terlalu memikirkan prinsip hidup tentang masa depan kesendiriannya apabila sudah ditinggal mati Tona, sejak lama, yakni tidak mau seperti tetangganya yang memilih hidup sepi saja sejak ditinggal mati kekasih hatinya, bisa jadi, Nirara tidak sedilema sekarang ini. Ia tidak perlu menghapus keinginan pribadi atas nama kebersamaan. Sepanjang lima tahun, ia sudah mengikuti segenap aturan tak tertulis di kelompok paduan suara—wujud nyata dari sebuah kekompakan, begitu para anggota menamainya. Menjahitkan kebaya lengkap dengan roknya saat uskup berkunjung. Membeli sepatu pantofel merah ketika ada pertandingan kor antar stasi. Membayar kaos bersablon nama paduan suara saat berwisata rohani ke luar pulau, topi lebar ala perempuan bangsawan Inggris, membayar tiket, membeli syal ungu, membeli celana berwarna sama, bergantian mentraktir bila tiba hari ulang tahun, dan lain-lain dan lain-lain.

Saat itu, tiga minggu setelah Tona tiada, Nirara segera membuat keputusan. Pengurus gereja ditemui, dan berkata jika dirinya berniat menjadi anggota paduan suara. Kehadirannya disambut dengan penuh suka cita. Pertemuan selanjutnya setelah dirinya resmi bergabung, ia mengadakan jamuan makan malam di rumahnya. Bulan-bulan setelahnya ia lalui dalam kebersamaan. Empat kali Natal tak satu pun ia lewati dengan perasaan seorang diri, meski sejak kepergian Tona, hari-hari ia lalui dalam kemerosotan ekonomi.

Ia memang tidak terlalu peduli ketika tak pernah lagi membeli kepiting gendut-gendut untuk dijadikan sup kincung pedas, walau itu sekadar mengenang ulang tahun pernikahannya dengan Tona di masa lalu. Ia mengisi waktu dengan latihan vokal. Tampil di hari Minggu sebagai pemazmur atau pemimpin lagu, juga peserta kor. Menyanyi di pesta pernikahan, hingga upacara kematian. Dan ini mestinya Natal kelima dirinya merupakan bagian dari komunitas itu.

Natal memang belum waktunya walau Desember sudah merayap. Natal masih seminggu lagi, meski orang sudah ramai keluar-masuk toko pakaian, memilih model dan warna yang disuka, mencoba apakah kekecilan atau kebesaran hingga membawanya ke rumah dengan hati senang. Natal memang belum tiba, meski beberapa perempuan paruh baya yang datang tanpa ditemani seseorang, tampak menghadiahi diri mereka dengan satu atau dua pasang baju untuk menghindarkan hati dari nelangsa.

Nirara sebentar berpikir, jangan-jangan si tetangga, yang hidupnya terkesan menyedihkan karena menutup diri dari semua kemungkinan membahagiakan, saat ini justru lebih bersuka cita ketimbang dirinya. Bisa jadi perempuan itu, ada datang membeli gaun kesukaan di toko sama dengan Nirara tanpa diketahui. Perempuan yang selalu menutup pintu, dan tiap sore masih menyeduh dua gelas teh lalu duduk di balkon menatap matahari hingga tenggelam mungkin saja sedang bersenang-senang dengan pikiran serta keinginannya sendiri. Tak perlu merasa terganggu harus mengenakan baju ini atau sepatu itu. Model rambut ini, atau apakah gunanya sebuah topi dan syal, atas nama sebuah kekompakan tanpa peduli apakah perempuan paruh baya seharusnya tak perlu bekerja terlampau keras setelah ditinggal mati pasangan hidupnya demi itu semua.

“Apa gaunnya akan diambil sekarang?” tanya pemilik toko, sewaktu Nirara melangkah ragu-ragu di antara kerumunan di mulut pintu, dan matanya terpaku pada gaun hijau botol dikenakan patung berambut ikal, seperti rambut miliknya yang tak ingin ia ubah, meski teman-teman di paduan suara beberapa sudah meluruskan serta mewarnai rambut mereka untuk persiapan Natal meriah bersama pastor tamu.

“Banyak orang menanyai gaun ini. Tapi sepertinya, hanya kaulah yang beruntung mendapatkannya,” kata pemilik toko lagi.

Nirara berusaha tersenyum, belum tahu harus menjawab apa. Ia tentu mengerti perasaan pemilik toko, mengharapkan supaya barang dagangannya cepat habis, sehingga dapat menuntaskan keinginan pribadi menjelang Natal. Sejak dirinya hanya berdiri sesudah membaca maklumat penting dari ketua paduan suara, ia sesekali memperhatikan bila si pemilik toko menawarkan pakaian dengan warna atau corak berbeda ketika pengunjung ingin mencoba gaun pilihannya.

“Aku akan membungkusnya sekarang,” ujar pemilik toko, ia memiringkan tubuh patung supaya lebih mudah melepas gaun.

“Tapi aku belum punya uang. Maksudku, aku gajian tiga hari lagi.” Nirara mencoba berkelit.  

Pemilik toko melongo. Wajahnya tidak menunjukkan kesan marah, pun tak tampak bersedih. Dan Nirara, hanya berdiri saja menyaksikan pintu toko mulai ditutup, hari sudah sangat malam. Keesokan hari saat akan berangkat dan pulang bekerja, Nirara tak pernah lagi melihat toko itu buka. Begitu pula hari kedua dan ketiga seperti dijanjikannya, pun hari-hari berikutnya.

Nirara mengaktifkan ponselnya, dan mencoba menghubungi nomor yang tertera di pelat nama toko. Menunggu teleponnya diangkat pemilik nomor, Nirara menggeser-geser layar ponselnya. Ia buka galeri, mencari foto dirinya mengenakan gaun hijau botol, ketika sempat mencobanya di ruang ganti saat pertama kali datang ke toko.

Si pemilik nomor belum juga mengangkat telepon dari Nirara. Nirara mencoba menghubungi sekali lagi, sambil jarinya terus mencari foto gaun hijau botol di galeri ponsel. Saat bersamaan, lonceng gereja terdengar liris di tempat jauh. Malam pukul 19.00. Natal bersama pastor tamu, barangkali sudah dimulai.***

Riau, Desember 2021


Jeli Manalu, senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018.

Puisi

Puisi Vania Kharizma

Air Mata Pogrom

Kelengangan menjelma rimbun legam yang berdiam
menghuni saban doa yang gemar menatah langkah
mereka koyak tafakur ibu dan tidur biyak yang cemas
seperti gema sirene, onar amunisi
aku isak sepanjang degup jantung ibu

di luar maha riuh keriau berkelibang
mengantarkan pesan melalui gemuruh
barangkali jelaga yang mengabu di awan
berkelun gulana menitip pesan:
              

     di sini kami sedang tidak baik-baik saja

pertumpahan biram begitu kemrusung
segenap wahing mengudara tak kenal arah
tapi di sini kaki pun lecet dicumbu borgol
kening kami dibusung pistol tembaga
suara decit pantofel masihlah gemar terdengar dan tibalah
‘GUBRAK!’ dentuman kencang tubuh yang ambruk di tanah
seperti suara bapak

dan ibu menangis
dan aku menangis
kami tunaikan ibadah air mata di hari Minggu

(Solo, 2021)


Membaca Penjara

Kami sepasang onar yang haus,
di tepi barak kubungkus air mata pada setangkup anyelir di pot nakas bangsal.
Himne di sekujur wabah bercokol dalam guruh jemala. Sesuatu melekang––
adalah tendasku tandas tewas, seperti arah mata angin menyebar virus.

Dan betapa bahak tunawicara bising
dirangum tunarungu. Gigil sekujur kungkungan
meramai, seakan berkicau dalam hening penantian,
Akankah segenapnya fana, atau bisakah kami ulik nostalgia?
Seperti impunitas yang gagal panen, kita diborgol wabah silabus

Darinya kita dicangking hanger yang lepuh,
sepuh, berdebu, di punggung koyak pintu kamar
mengeja yojana dan kesunyian yang hidup berdetak
Seperti seorang narapidana, kita abadi di balik jeruji gamang
Kecemasan menyapu ingin, sedang pagebluk ialah niscaya,
segenap mafia semata merapal semoga dalam amin yang ragu

(Solo, 2021)


Pagebluk dalam Jemala Hemodilusi

Kegelisahan tak lain yakni niskala yang kau kulak sembari mengecer sedih di rakung wabah, tatkala kau bergidik nyeri dalam sakit yang kau kebiri
dan tengkuk jemala sekadar memar-lebam, retak tulangnya tak kuasa memberi jalan arteri
sebab persimpangan plasma tumbuh subur yojana berkisar nanometer dari 1.000.000 jiwa
menampakkan betapa sungkawa asri mencagarkan lara dari liuk relung kulawangsa

dan malam itu kita bersaksi tiada seranah selain liur anyir dari hidu darah pagebluk
yang tengkurap enas mengenyam musim bahagia di mana wabah sekepal mangkuk
   : aglutinasi erang sepetak tabah, sepukal jentaka pun linang dari mata keharuan
layaknya eritrosit di tepi abad––menggumpal bak tuak sepekat legam kecemasan

semenjana, kekalutan meneroka berbenggil-benggil gelabah wabah
tunggang-tunggit mandam dalam carut-marut epidemi buas meruah
layaknya denyut monitor pun ingar sirene sepanjang malam menyayat pekak tunarungu
mengisahkan keriau isak dari deru parau kalabendu; dari kembang-kempis kalpataru

   dan adakah kerisauan menjelma setangkup lila dari bangkup sekujur awak?   dari liyan nestapa sonder huru-hara; sonder kelut-melut peredaran darah pagebluk

(Solo, 2021)


Terhadap Warakawuri

Sisakan tumbang kalpataru yang rampung ambruk
selepas sedihmu menewaskan bara anak-anak firdaus
bergemuruh jemala terisak
kembara tiada sempat berpulang
walakin bekal habis sudah, tungkaimu terkilir lebam-lebam
tapi tidak dengan
nelangsa yang menginap
dari dua manikam matamu

Betapa cendayam nayammu gusar menyaksikan
kembang-kembang ditanam dalam tubuh kekasihmu
pesara yang sempat kau dongengkan di waktu malam
perihal kematian dan kerinduan
anak-anak mengurung cemas dalam kesunyian
semacam dering beker yang mengentak kantukmu
dan dari bangunmu, jam pun tak tampak
habis kau dikoyak balada!

telah tandas bahagia
kesepian kini merajut tubuhmu yang gigil
tiap belulangmu bungkam mengaram rintih
seperti sebuah prosopon yang diulang-ulang
aku merindukanmu
aku merindukanmu
jemput aku ayah

seketika, kau lupa rute ibadah dan doa
sebab kesedihanmu ialah niscaya
dan kematian tinggallah menunggu hari

(Solo, 2021)


Mencangking Problematik

Ode begitu mewah tiap kali
asterik tewas di tendasmu terbelah sebelas
menjadi kepingan nebula di mana kau bermalam
sejenak terusik––sejenak menyelinap––sejenak
tafakur diam, hening.

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kuredam segenap sambat.

Semenjana dalam simpang yojana
dua gelintir bocah rambu apel sibuk berkutat
ihwal kemerdekaan––ihwal pembebasan dari
rasa lapar pun dahaga, tiap kali mereka ketuk
jendela mobil sekadar menyisakan lambai

inikah hidup yang kau maksud, bum?
pada bumi, kupendam segenap maslahat.

Dalam sembahyang kandidat penumpang kehidupan
mengijabah segenap ketabahan pagi di sepetak kios renta
dalam rutuk tuan gardu, mendeportasi kantuk bohemian
sebab demikianlah tiba waktu mencangking problematik

demikianlah kita ulik enigma kehidupan.

(Solo, 2021)


Menanam Kulawangsa

/1
Sedari ibu tanak akasku dalam sebotol kempung susu
aku kenyang gizi, merimbuni gelak tawa pada binar ibu
yang dahulu gemar muram, mengenyam sendu jua sembilu
semenjana kian ranumlah aku, dimatangkan panci waktu

/2
Ibu tanam aku pada semangkuk tawar air hujan di pagi
barangkali menyerupa air mata, atau dahaga suatu elegi
tapi tidak––ibu sirami pot-pot tubuhku dengan senyum laksmi
betapa juita, aku diayun pada hangat gendongnya yang asri

/3
Ibu beri aku rekah mentari kala gulita semata lelap tertidur
dan aku pesam terkantuk nyenyak di bawah lindung tafakur
seperti ketika ibu berdongeng, aku cendera semalam suntuk
hingga purna lekang kuntumku, tumbuh subur: terbentur dan terbentuk

/4
Sebagaimana sembilan purnama lalu,
ibu menimbunku dalam tanah yang tabah menyeduh kalabendu
agar sesampainya kelak mencagarkan cendayam ibu, rautnya––
kakinya yang tak lagi tangguh; raganya yang tengah separuh renta
sebab kala ibu menanamku, aku tumbuh serupa rumah kulawangsa
menjadi semayam bermalamnya lelah ibu, akan poranda bumantara

Bund, aku tumbuh seperti kembang yang kau tanam
purna merekah bagai kuntum kulawangsa melaram


(Solo, 2021)


Steik Wagyu & Bahagianya
     : buat bohemian dan antek-anteknya

Pagi ini aku memilih cemas dengan radang mengering & kritis di kepala
jalan-jalan yang ditutup ialah keniscayaan rindu memuisikan segenap hela
aku kadung mengutuki terminal yang disepikan suara kerincing koin pengamen
hingga berdiam menyulut waktu pada kepul sigaret pengantar amin

aku berlari mengejar langit yang katanya masih biru
tapi tidak dengan kaca mata hitam di kepalaku yang mengharu
menemui para pengail TPA dengan elegi disenandungkan mereka
& aku menanyai perihal pagi, “Masihkah kau menanti mentari & pelangi?”namun mereka menggeleng & lebih memilih steik wagyu di prospektus
aku memerangi kalut, menggandengnya menjajah resto mahal

di bibirnya sekadar melongo sekelebat menit
ludahnya mengintip di sela lusuh papila legam
aku menelan cemas,
mereka geming––katanya tiada pagi selain hujan yang berpelangi
sedang aku melamun: kekalahan ini ialah maksud dari syukur

(Solo, 2021)


Dimuseumkan Musim Hujan

Rejung yang kejang dibacakan isak sepanjang kemarau mengerang
tapi kita dilautkan dengan gebyur air garam yang menggenang
& tangis di teduh wajahmu sirna dilahap ombak yang liar
hingga melupa sakit apa yang dahulu membara–menguar

aku dipepet senang dengan napas kering akibat gemar tertawa
& memilih meredam lara demi mendapat rangkulmu di rawa
akankah sore menjadi oranye bila kita tiba di lembah?
hingga hadir hujan membekuk kita yang gelebah
terjebak dalam isolir kata yang temaram di waktu senja
kita menantang semesta, masihkah tangismu urung reda?
tiada jawab selain gemuruh dalam ingar jemala

sialnya mataku ialah pagi yang tak mengenal malam
walau dimuseumkan hujan & gigil di sekujur tubuh
mengapa kita tampak seperti bunga dan kupu menganga?
kuncup di kepalamu––aku segan mengecup sekalipun ingin

maka,
kubiarkan saja indah tubuhmu
dimuseumkan musim hujan yang kekal
biar aku tak perlu lagi mengincar dirimu
/ memandangimu dari jauh & dalam diam
sebab kini kau abadi di musim hujan

(Solo, 2021)


Perjamuan Basilika

perkenankanlah tuan dengan jumbai menyapu lantai
kami pegang ikalnya dengan iman & yakin yang dibantai
hingga seorang yang lain menghardik diam––masa bodoh!
tapi kami memilih nekat dengan ingin yang mengaduh

satu-satunya jalan ialah memperkenankan iman kami disumpah
dengan keteguhan diolok––dimaki bak ludah tong sampah
& semata mengangguk bagai seekor guk-guk yang beloon
menyeduh teh & adonan manis perjamuan di sudut peron

masihkah serapah didendang kebodohan?

sebetulnya kami kasihan,
tapi toh dalam basilika kami tak mengenal rintihan
juga lara & bisikan lusifer dari jantung manusia picik
mereka lupa darat––maka duduklah menikmati licik

& tiba di muka orang banyak singgah dengan jubah putih
mereka mengangkat cawan berisikan anggur merah yang
disebut dunia wiski
melampau seni sebuah dosa
tapi aku tak mau mendalami keindahan maut
sebab tibalah perjamuan basilika menyuguh kekudusan

(Solo, 2021)


Sorai Hari Esok

(i)
adakah kau, kelana sepanjang berantah Bekasi–Karawang
kita bersaksi seakan bahagia- begitu subur tumbuh berada
tentang bagaimana kita melupa
          persoalan lusa kemarin atau
               barangkali tahun kalabendu
sebab kala bahagia purna lahir dari rahim sungkawamu –
          sisakan setitik renung untuk
               kubawa pulang …

(ii)
esok kita bertarung kembali seperti bergerilya hari ini
mengijabah perjuangan ibu– dan doa kekasihnya …
sebagaimana cinta merekah
         dari kuntum mawar merah
             menyapu-lenyapkan sedih
                 & segala-gala murungmu

bahagiamu ialah niscaya
nyenyaklah berlibur dalam tidur
kelak gaduh kita tuai bahagia
sebelum akhirnya kau melindur
atas sorak-sorai hari esok …

(Solo, 2021)


Vania Kharizma, lahir di Solo, Jawa Tengah––tahun 2003. Hobi mencuci piring dan mendengarkan lagu. Prestasi terbaik ialah Juara Pertama Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang diselenggarakan STAHN Mpu Kuturan Singaraja Bali, dan pemuisi terbaik yang mendapat penghargaan bupati dr. Cellica Nurrachadiana dalam rangka HUT Kab. Karawang. Beberapa dirinya di e-mail: [email protected] ; Instagram: @vaniakharizma.

Cerpen

Tragedi Pencurian Ikan

Cerpen Aliurridha

Ini adalah kali ketiga hasil panennya jatuh. Jamal tahu ada yang mencuri ikan-ikan di empangnya. Ia bahkan tahu siapa pelakunya. Ia kenal orang itu seperti ia mengenal anak dan istrinya sendiri. Orang itu begitu dekat dengannya, sedekat urat-urat di lehernya. Ia tidak habis pikir mengapa Naldi, orang yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri, bisa setega itu mencuri darinya. Padahal jika ia minta baik-baik, mungkin Jamal akan memberinya. Meski tidak sebanyak yang dicurinya, Jamal akan ikhlas memberinya. Jamal tahu betul betapa susah hidup Naldi saat ini. Bagaimanapun juga, Naldi adalah orang pertama yang menyambutnya ketika tidak seorang pun peduli pada pendatang seperti dirinya.

“Kakak harus mendatanginya. Kalau terus seperti ini kita terpaksa pulang. Setiap panen kita selalu rugi,” kata istrinya.

Jamal hanya menjawab dengan anggukan sekenanya. Bukannya ia belum pernah mendatangi Naldi, ia sudah pernah mendatanginya ketika pertama kali ia rasakan ada yang aneh dengan hasil panennya. Naldi adalah orang pertama yang ia ceritakan sekaligus mintai bantuan untuk menjaga empangnya. Jamal sangat percaya kepada Naldi seperti halnya ia percaya kaki dan tangannya sendiri. Lagi pula Naldi adalah seorang yang disegani di kampungnya. Ia adalah orang yang suaranya selalu didengar para begundal desa—Naldi adalah ketua mereka. Selain itu, Naldi juga terkenal karena ia adalah anak dari mantan kepala desa dua periode yang memiliki tanah yang seolah tidak ada habisnya. Tetapi itu dulu, sebelum ayah Naldi salah perhitungan mencalonkan diri sebagai anggota dewan yang mau tidak mau membuatnya terpaksa menjual tanahnya. Kemudian hanya sedikit tanah yang bisa ia wariskan kepada Naldi.

“Saya tidak tahu siapa yang curi, tapi saya janji akan cari tahu dan bantu jaga. Sudah mi kita tenang saja, tidur nyenyak di rumah,” kata Naldi pada Jamal.

Jamal mengangguk setuju. Tetapi entah mengapa ketika tiba di rumah, ia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Sebuah firasat mengatakan kepadanya untuk tidak begitu saja percaya.

Malamnya Jamal gelisah. Ia yang tidak bisa tidur dan memutuskan keluar rumah, memandangi langit yang begitu cerah. Saat itu sedang bulan purnama. Bulan terlihat bulat sempurna dan berwarna putih kekuking-kuningan. Bintang gemintang bekerlap-kerlip di kejauhan. Dihirupnya dalam-dalam udara malam yang lembap bercampur garam. Kemudian ia berjalan-jalan untuk menenangkan hatinya seperti biasa terjadi ketika ia bertengkar dengan istrinya. Ketika langkah kakinya membawanya tiba di empang miliknya yang akan panen beberapa hari lagi, dari kejauhan dilihatnya bayangan dua orang. Tangannya segera meraba pinggang, namun ia lupa membawa parang. Sial, makinya pelan. Ia tidak ingin para pencuri itu menyadari keberadaannya.

Jamal memutuskan untuk tidak pulang mengambil parang dan memilih mengintip para begundal yang mencuri ikannya. Ia berharap terang bulan akan menyingkap wajah para pencuri itu. Namun, agak susah mengenali kedua sosok itu dari kejauhan, tanpa penerangan selain cahaya bulan. Ketika ia berpikir keberuntungan tidak berpihak padanya, sorot senter yang dibawa salah satu dari mereka, mengenai wajah seseorang, wajah yang sangat dikenalnya. Naldi! Ia mengumpat begitu tahu kalau salah satu dari begundal itu adalah orang yang ia percayai seperti kaki dan tangannya sendiri. Orang yang ia janjikan jika panen baik akan ia berikan persenan. Ia sudah hampir mendatangi pencuri itu untuk bikin perhitungan. Namun, akal sehatnya datang, dan dengan rasa panas di dada, ia menyeret kakinya kembali ke rumah. Di rumah ia merokok untuk menenangkan diri sembari berharap pagi akan mematikan bara di dada. Besok ia berencana mendatangi Naldi untuk bicara baik-baik.

“Saya tidak pernah. Sumpah dah. Semalam saya minum sama brengsek ini,” kata Naldi menunjuk Feri.

“Tapi saya lihat kamu sama seorang lagi,” kata Jamal yang kemudian menoleh ke arah Feri.

“Kita[1] salah lihat mungkin,” balas Feri. “Kami semalam minum-minum di rumah Joni. Naldi sampai tidak bisa bangun karena kebanyakan pongasi[2].”

“Kita tenangkan mi dulu hati kita,” kata Naldi menyentuh pundak Jamal. Naldi bisa merasakan Jamal tengah tegang ketika ia menyentuh pundak laki-laki itu. “Saya janji bantu. Saya tidak mabuk nanti malam,” katanya lembut berusaha menenangkan Jamal.

Malamnya memang tidak ada lagi pencurian. Jamal yang tidak percaya lagi pada Naldi, mengintip ke arah empang dan melihat Naldi bersama Feri sedang minum di pondok sederhana yang ia bangun untuk berjaga-jaga kalau saja air meluap dan tanggul jebol. Di sana, keduanya benar-benar tidak melakukan apa-apa selain minum pongasi. Ia pulang dengan hati tenang. Tebersit pikiran bahwa apa yang ia lihat kemarin hanyalah tipuan mata belaka.

***

“Kita tahukah kalau Naldi jual ikannya ke tempat Ruslan?” tanya Rohman kepada Jamal. Rohman adalah seorang pengepul yang selalu mendatangi Jamal setiap panen. Ruslan juga seorang pengepul, ia selalu berjuang untuk memperebutkan hasil panen ikan dengan Rohman.

Perkataan Rohman itu membuatnya teringat pada malam ketika ia melihat Naldi bersama seseorang, malam yang sebelumnya ia sangka hanya tipuan mata belaka. Ia tahu benar kalau Naldi sudah tidak punya empang dan empang terakhirnya ia jual sebagai pelicin agar ia bisa bekerja di perusahaan tambang. Sayangnya, sekarang perusahaan tambang tempat Naldi bekerja sedang bermasalah perizinannya. Naldi sebenarnya masih memiliki sedikit tanah yang bisa ia tanami untuk berkebun. Tetapi polusi dari aktivitas tambang dulu pernah merusak apa yang ditanamnya. Itu membuatnya malas mencoba lagi. Dan, ia memang bukan tipe yang cocok hidup bertani, ia lebih suka bekerja mendapatkan gaji pasti setiap bulan. Jamal juga tahu benar kalau Naldi tidak akan punya sedikit pun modal untuk membeli ikan yang kemudian akan ia jual ke pengepul. Ia tahu benar kondisi keuangan Naldi saat ini. Ia merasa tahu semua yang terjadi di sekitar desa tempatnya mukim. Jika ada satu yang tidak diketahuinya—yakni Rohman sebenarnya sudah tahu kalau ikan-ikan yang dijual Naldi adalah hasil curian dari empang Jamal; Rohman mengatakan itu lantaran ia kesal kepada Naldi yang tidak mau menjual hasil curian itu padanya, dan malah menjualnya kepada Ruslan.

Sebenarnya Jamal tidak mau mendatangi Naldi karena ia tahu segalanya akan sia-sia, Naldi pasti akan menyangkal apa yang diperbuatnya, dan ia juga tidak memiliki bukti untuk menuduhnya. Jamal benar-benar tidak mau cari ribut, tapi ia tidak tahan juga mendengar omelan istrinya. Ia juga tidak mau apa yang dikatakan istrinya terjadi; mereka terpaksa pulang ke kampung halaman setelah gagal di perantauan. Tidak ada yang lebih ditakutkannya selain pulang membawa kegagalan. Ia pasti akan dikucilkan keluarganya di kampung. Ia juga akan dihina mertua yang telah memberinya modal hidup di perantauan.

“Saya bilang saya tidak tahu. Kau masih paksa-paksa,” kata Naldi ketika Jamal terus mendesaknya untuk mengaku dan berhenti mencuri di empangnya. Jamal mengatakan ia bersedia memaafkannya asal Naldi berjanji tidak mengulangi lagi. “Saya sudah tidak permasalahkan kita tidak bagi hasil panen seperti yang kita janji. Saya ngerti kita sedang susah. Banyak bibit yang tidak berkembang.”

Jamal hampir saja meledak begitu mendengar Naldi menyebut bibitnya tidak berkembang. Ia tahu betul bahwa Naldi yang mencuri ikan-ikannya. Perkataan Naldi terasa seperti air garam yang disiram tepat di lukanya. Rasanya perih tiada terkira. Beruntung Jamal masih bisa menahan diri dan pulang. Ia pulang dan lanjut mendengarkan omelan istrinya yang lebih perih dari luka yang disiram air garam.

“Ini terakhir kali. Saya janji ini terakhir kali dia mencuri. Dia tidak akan lagi mencuri dari kita,” kata Jamal kepada istrinya. Nada biacaranya lebih tinggi dari biasanya, dan itu membuat sang istri berhenti memberondongi dengan omelan.

Apa yang dikatakan Jamal kepada istrinya hari itu terbukti. Pagi itu langit teramat cerah ketika orang-orang dikagetkan dengan sesosok tubuh yang terbaring di pematang. Kepalanya telungkup masuk ke dalam kolam dengan punggung menghadap langit. Di bagian leher dan bahu kirinya terlihat seberkas warna merah yang mulai mengering. Tubuh tak bernyawa itu adalah tubuh Naldi.

Semalam Naldi kedapatan sedang mencuri di empang Jamal. Naldi tertangkap basah. Ia benar-benar sedang basah ketika Jamal datang. Ia sedang berada di empang menjaring ikan-ikan siap panen ketika Jamal dengan tiba-tiba melompat ke empang, lalu menebaskan parang ke bahunya dari belakang. Mendengar erangan Naldi, Feri bukannya menolong, malah meloncat keluar empang dan berlari kocar-kacir. Jamal terus saja mengulangi tebasannya pada tubuh Naldi hingga si pemilik tubuh tidak lagi mampu untuk sekadar mengerang.

Begitu puas menebas, Jamal menyeret tubuh Naldi dan melemparnya di pematang dekat empangnya. Tubuh Naldi dibentangkan seperti portal yang hendak menghalangi siapa pun untuk masuk ke empang miliknya. Setelah itu ia pulang ke rumah untuk mandi, membersihkan noda darah, dan merokok. Paginya ia pamit ke istrinya untuk pergi menyerahkan diri ke kantor polisi.**

 [1] kita adalah sapaan sopan untuk kamu bagi orang Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara

[2] minuman keras tradisional Sulawesi Tenggara yang dibuat dari fermentasi tape


Aliurridha, Penerjemah dan pengajar Toefl. Ia menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di banyak media, luring maupun daring. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

Puisi

Puisi Sarita Rahel Diang Kameluh

Wanita Jasna Góra

Dara suci, mengapa kau dan Anakmu

bermuka gumul hitam debu, pernis cat mati,

jelaga dari tangis lilin, harum sakramen yang terbakar?

Di dahi itu terpampang gua

yang berisi curah air mata, api yang terbit dan mengawasi

batu altar itu dan jemaat-jemaat kalut.

Setiap kali ke depan altar itu, mereka cium melebihi

ciuman di bibir kekasih dan telapak tangan ibu,

mereka menyendok kemenyan, menabur di arang

yang terbakar dalam wiruk,

asap-asap mengembang bagai persembahan Habel

dan awan-awan Carpathia.

Kemudian mereka berkeliling mendupai, diiringi madah

merdu para malaikat,

sebab, di bingkai emas, di ujung altar itu tubuh Anakmu

ingin menyusu dan menjelma menjadi anggur

dalam cawan.

Seorang pelukis tak tahu cara memperbaiki wajahmu

dengan lilin lebah mendidih. Ia tak mampu

menghapus bekas goresan luka pedang Hussite

di pipi yang sudah kering dari peluh dan garam itu.

Kau dan Anakmu termenung di sana, memberi

penawar sakit pada orang-orang Czestochowa.

Ketika Hussite merajah kau rela dilukai

seakan bersabda “tusuklah aku.

Aku memang hadir di dunia ini untuk ditusuk-tusuk.”

Basilika Jasna Gora, Czestochowa, Maret 2017


Warszawa

Teruntuk surga yang porak-poranda.

Ibunya, berteduh usang, ditopang kemarau wahyu Noah.

Kota ini

semacam abu dari api dan tulang

yang dibangun kembali. Puingan bata itu

masih menangis.

Derai makam bercoreng bintang David

berkisah tentang jeritan

di mana rumah ibadah, ogorky, Chopin dan roti

menjadi pahlawan negara.

Semacam sajak penjara

yang terlahir kembali

dari mata letih para rabi yang masih terluka

setiap pagi, setiap tanggal 27 Januari.

Warszawa, Maret 2018


Orang Telanjang dari Vilnius

Kami, sepasang lapar yang terus

terluka dan menyeru sembap di pasar Kalvariu Turgus

dan sepi. Pasar yang bergerak seperti rasa lapar dengan

mulut putra altar masih menjerit-jerit

di langit, sayap kabutnya terus mengepak. Abu katedral.

Abu sinagoge. Abu sungai Viliya. Abu doa-doa. Abu gunung.

Berhamburan

ditampung mulut sepasang tentara yang terus mengisap

dalam puntung rokoknya. Nyala api di tiap isapnya mengandung 

nyawa-nyawa yang bertempik sedih terperangkap.

DiriMu. Tak hanya diriMu.

Jejak proklamasi yang merampas organ tubuh dan ayatMu.

Salut senapan dan derai baja merampas sunyi

menimbun Kaunas. Trakai mati dalam kenangan abu,

dirajah salju. 

Penjual nyawa di kedai itu menyeringai pohon cemara

dan kandil lilin

“Tiada natal tahun ini. Kristus tak berulang tahun hari ini.”

Aih, kini Ia sedang beragama apa? Beretnis apa?

Kau merah. Kau marah. Letusan bedil

menyunamkan peluru pada yang rindu dengan kayangan.

Aku melepas pasak paku yang ditanam di kedua telapakku

dan tak bisa tersenyum.

Sebab aroma mayat yang menguap

dari alun-alun Stebuklas membuatku merasa Kau tersesat dan mati.

Sedang mereka yang tergelepar, rindu pada ayat-ayat merdeka.

Kau pikir mereka mati?

Mati itu takkan menghentikan doa.

Dan Vilnius, Santo Casimir adalah nyeri

yang berbau mesiu, dikoyak menjadi bersimbah dan pemancar radio,

berabu dan berselubung kain kafan. Bunga-bunga di tamannya

bisu oleh merah. Merah darah. Merah nabi-nabi para tentara.

Surabaya, 22.05.2020.

Mengenang kota Vilnius yang dikunjungi 2018 silam.


Malam Kaca Pecah

Malam lengang, bukan salju merepih di jalan

tetapi tabur kaca, memangku jasad

beraroma kaca.

Mereka yang berbedil berkaca dalam darah,

berkaca dalam mata gugur

yang masih menitik gerimis debu.

Tallit terhempas menyelubungi nyeri Danzig,

mengkafani abu Talmud dan Tuhannya Abram.

Dan mereka yang berbedil selalu ingat

Tubuh-tubuh roboh itu adalah pogrom yang berdoa,

darah yang berdoa. Kaca-kaca yang merintih dalam doa.

Surabaya, 7.12.2020

Mengenang peristiwa pogrom di kota Danzig dan Aachen


Mazurka[1]

Warzawa, kau bertanya aku ingin mati

dengan cara apa.

Aku ingin mati dengan deruman tembaga

plac Kanonia, dan Zygmunt terlilit matahari

memerintah dari tubuh granitnya

dengan suara berdendang mazurka.

Vistula belum cukup menampung air mata

serta abu kawanku yang bersabung dengan elang.

Elang-elang itu memangsa surga dan bangkai,

dworek, bunga madat jagung para ibu.

Darah berbuih di udara. Bertuba mencari mangsa.

Angin menggisar dan daun duduk di beranda,

menatap tubuh-tubuh tanpa keranda.

Karena itulah kau harus mati, Warszawa,

supaya aku tetap bangkit

menjadi abu-abu kisruh ini,

menjadi misa arwahmu ini.

Surabaya, 8.12.2020

Mengenang Fryderyk Chopin, komposer kelahiran Zelazowa Wola, dekat Warszawa. Ia meninggalkan tempat kelahirannya ketika pemberontakan terhadap Rusia meletus di Warszawa. Beberapa temannya ikut berjuang, ia pergi sebagai ekspatriat ke Paris.


Philosophenweg[2]

Kota itu adalah wanita dewi Alcestis yang kedua buah dadanya

dibelah oleh sungai bernama Neckar. Matahari tak segan berkaca

di sana, kapal-kapal bermotor mengarungi sembari orang-orang

bersimbah Bitburger dan Bratwurst berasap. Bata-bata

sepanjang sungai membekukan waktu, berayun-ayun naik dan turun

ditelan Rathaus tua, toko-toko dan gereja yang beku, terbujur kaku

dan dibalsemi oleh wali kotanya seperti mumi Tutankhamun.

Lengket panas udara mengingat Schiller yang menggandeng

lengan Goethe di jembatan usang bertabur gulma, di situ

para filsuf bertanya mengapa bunga-bunga itu indah.

Waktu itu alun-alun kampus berbanjir para pelajar

berbincang tentang Klausuren, kopi dan sepak bola, berhambur

dari Heilgeistkirche dan kafe-kafe yang menyuguhkan

puisi, ledak tawa dan duka Jerman. Hari itu ada orang mabuk

yang menubrukkan truknya di pasar kota lama.

Sepasang kakek dan nenek duduk di bangku halte, menunggu bus

menuju ke Elysium, bersenandung

“teruntuk bahagiaku” “Toll! Toll!” seru kakek itu dengan pembuluh

di kepala tersumbat oleh busa bir dan air mata.

Si nenek yang mencintainya itu terus mengajaknya berbincang

tentang bus surgawi yang mereka tumpangi, melarikan diri

dari para filsuf Heidelberg yang tersesat dalam rimba

yang ditanam oleh para pemimpi kemerdekaan

tiga abad silam.                                              

Puncak Heidelberger Schloss, April 2018


Bella Ciao!

Copernicus dahulu bersetapak dan menimba sumur bintang-bintang

menenun dunia baru di Piazza Maggiore dan lapangan membentang

Alma Mater Studiorium. Manusia berkepala cahaya, jepret kamera,

bekur dan kepak sayap burung dara, peniup buih

dan pengemis bergumul menjilati gelato warna-warni

dan para pelajar duduk melingkar di jantung Piazza, bersenandung

O partigiano, portami via
O bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao!

Dahulu hanya pangeran dan kardinal yang bersekolah di sana,

kini Piazza dan jalanan dibanjiri mereka yang terbuang dari perang

seperti sampah, lari dari letup bedil dan ledakan ayat suci.

Para pelantun lagu itu takut jika hantu Mussolini

kembali mengintai orang-orang buangan,

jika Caesar dan hantu Romawi-nya kembali bangkit dari kubur,

jika angkuhnya dan keagungan oranye, pohon ara, zaitun

dan matahari Italia menghunus pisau pada mereka.

O bella ciao, bella ciao!

Piazza Maggiore, Bologna. Maret 2018


Renungan tentang Friedhof [3]

Kemarin, ilalang itu masih berdarah hijau,

berdansa bersama angin membentuk sketsa bumi.

Taman ini kini megap-megap berjuang hidup, dipenuhi oleh keriput kering dan uap air mata duka bunga-bunga, yang meratapi kawan dan sanak saudaranya yang nyawanya baru tercabut oleh desau liar angin, menebar lara pada jarak.

Di bawah kalut mendungnya langit yang berkabut, paras elok alam sirna diperbudak waktu, dan suatu saat ia akan terlahir kembali dengan watak dan wujud yang lain, yang belum pernah kau lihat sebelumnya.

Gugurnya daun adalah segenapnya menjadi tua dan sekarat, dan langit yang penuh iba itu tiada kuasa berkabung dalam fajar, menabur dingin di tanah kuburan yang damai.

Auranya sesal, lelah dan sakit-sakitan.

Pohon ini, ingatnya, disampiri oleh daun maple yang teduh. Kini gersang, layu menjadi benalu pertiwi. Gugurnya daun berdakwah pada kita, bahwa kita adalah rumpun alam yang dinamis, dihantui siklus yang fana, kerdil mengerdil di hadapan semesta.

Apa arti diri dan kuasa manusia sepadan oleh alam sendiri yang sanggup melahapnya setiap saat, yang sanggup membusukkan harga diri bergemerlapan bagai kejora itu semasa hayatnya menjadi bongkahan daging dalam tanah, yang lalu mengasupi benih-benih bunga dan pohon yang baru hinggap?

Betapa tercengangnya ia, bahwa batang pohon Eiche di pekarangannya mengandung jiwa banyak manusia yang sudah mati. Dedaunan yang tumbuh dan berkeriput dari gairah dan sakitnya, derita dan tawanya. Dan jikalau pohon mengembuskan oksigen untuk paru-paru, tidakkah berarti tiap tarikan napas adalah bagian dari diri manusia terdahulu.

Bukankah kita jua menghirup desau napas Plato yang diembuskan ketika mengajarkan indahnya dunia, desahan kecewa Caesar sembari bertekuk lutut di Galilea, dan embusan penuh kasih Sang Penebus, para nabi dan para imam yang berkhotbah pada umatnya di awal zaman?       

                                                                                                                                                                                                      Musim gugur 2018, Friedhof, Jülich.


Mengenang Perantauan di Jerman

Untuk setiap manusia yang teralienasi. 

/1./

Lonceng gereja putih menyetubuhi angin subuh,

kumandang landai salat membelit langit

Düren terbengkalai. 

Orang turun dari kereta ketika ingat mencari ramai. 

Orang terjun ke rel seperti debu, ingin lupa pada ramai.

Ramai Aachen yang berkerudung abu knalpot bus merah.

Ramai Köln yang memabuk pada sungai kelabunya.

Ramai Düsseldorf yang menyajikan tawa teh boba

dan lengang besi-besinya. 

Di taman kuburan nan damai itu. Di Friedhof.

Mayat-mayat mengantuk diselimuti bunga-bunga

anyelir dan dilintasi para pelari.

Nisan-nisan tegap itu bertuliskan : Mati diminum Pilsner.

Mati dicekik anggur merah. Mati dilahap Bratwurst.

Mati marah-marah pada orang Turki. Mati dicabik-cabik

mimpi perang. Mati bermimpi nyeri kamp konsentrasi.

Mengapa mataku masih melihat

hantu perawan remaja tersedu di nisannya

menyayat-nyayati pergelangannya yang tiada?

/2./

Masih saja kah tentang lubang menganga itu, Berlin?

Kau berseru lantang: “Enyah kau semua, dunia,

orang-orang, dewa-dewa, hakim alam baka,

halte bus berbanjir kendaraan, gedung koran yang angkuh!”

Semua tahu bahwa nyawaku bahkan tak seharga karcis.

Mereka maniskan hari-hari muda dengan video pendek

penuh permen atau dengan bau pesing Pilsner,

uap rokok menjuntai dari mulut orang Oman

di stasiun kereta penuh graffiti. 

Aih, rindu diriku pada kolam dangkal, utopia cepat saji ini.

Hiasi dinding rumah mayamu dengan kata-kata mutiara,

ciuman sayu nan modis, serta foto dirimu

dan pacar cantikmu, bangga telanjang disepuh emas,

mabuk berlinangan oleh peron dan aspal acuh. 

Katedral Berlin masih tegap dingin dan kosong,

seperti dinding yang disemprot pelangi itu.

Ia membekukan jeritan tahun 1989. Mangkuk penampung

jeritan timur dan barat yang berpilin. Jeritan sungai.

Jeritan abu. Jeritan senjata api. Jeritan merdeka.

Jeritan heroin. Jeritan menggebu sepak bola. Jeritan pahlawan

kelamin Schönenberg dari tepi laut seberang. 

Tetapi tetap saja bocah Jerman-Syria melangkah ke jalan.

Ia menjerit dengan air mata peluru senapan. 

Runtuhnya dinding mengkhianati darah pasirnya.

“Aku terlahir sebagai orang Berlin! Aku tumbuh di jalan

orang-orang asing yang dikurung dinding.”

Mengenang korban serangan teroris di Berlin dan Munich tahun 2017 silam. Mengenang orang-orang yang melarikan diri demi merdeka ketika Berlin masih terbelah.


Requiem Buruh Pabrik dari Carrickfergus

Terinspirasi dari balada rakyat Irlandia yang diterbitkan di abad 19, berjudul “Carrickfergus” dan “On The Dawning of The Day

“Apa kabar anak-anakku?” sahut abu diriku yang tenggorokannya

masih terbakar dan terlilit wiski basi, dan kaki itu

mengayuh roda hingga menjadi bulu. 

Puisi rindu yang ia hadiahkan kini rusak dirayap. Ia tak ingat

bunga anting-anting lembayung

seperti senja yang ditanam Carrickfergus, air mata Tuhan itu. 

“Apa kabar diriku?” ia hanya ingat namanya

adalah roda-roda, yang lama-kelama menggilis bibirnya.

Ia hantu yang terjebak di dinding pabrik,

jarum jam pingsan yang terus berdetik, matahari yang terus

terbenam terbit.

Adakah letih dan duka di dalam seorang matahari? 

Di ujung jalan, Brick Lane yang menganga di mulut malam,

telinganya tampak sebagai calincing kupu membalas dendam.

Kupu-kupu hitam legam. Mungkin kupu itu haus,

haus beterbangan sampai kiamat nanti. 

Kau, anak-anakku, sungguh ingin menangkapnya.

Tapi yang kau tangkap hanyalah suam-suam debu mayat kelelahan. 

Malam itu hening. Meradang ke dalam sisa tidurku.

Dalam hening kusimak malaikat yang tak kukenal

berambut hitam, merajut doa yang berpuing keping,

menjerit: mereka memberontak pada makam-makam

yang berkisah tumpukan abu yang rindu

pada laut merdeka Belfast dan retak dedaunan. 

Andaikan jasadku terbenam di Carrickfergus,

surga yang merintih dengan lagu laparnya itu.

Surabaya, Juli 2020


Sarita Rahel Diang Kameluh, lahir di Surabaya, pada tanggal 10 April. Menempuh pendidikan di jurusan Teknobiomedik di FH Aachen, Jerman. Beberapa karyanya tersiar di media daring dan cetak.


[1] Jenis lagu rakyat Polandia untuk berdansa.

[2] sebuah jalan tua bersejarah sepanjang 2 km di kota Heidelberg di dekat kampus utama, membelah dua sisi kota dan mengarungi sungai Neckar. Jalan ini terkenal sebagai tempat diskusi, merenung dan perolehan ilham para filsuf Jerman ternama.

[3] Friedhof dalam bahasa Jerman berarti “kuburan”. Di dusun Jülich terdapat lahan kuburan yang teduh dan penuh bunga-bunga, mirip dengan taman. Di lahan itu terdapat gereja tua kecil bercat putih dengan menara lonceng menjulang.

Cerpen

Perawan Rumah Suci

Cerpen Romi Afriadi

“Kalau kau nanti jadi biarawati, pasti kita akan jarang bertemu.”

Eben Mare masih mengunyah lepat yang dilahapnya dengan nikmat. Itu sudah bungkus keempat yang ia tandaskan. Eben Mare memang merasa terpukau dengan tampilan lepat yang dibungkus daun pisang dan menemukan isi yang manis dari parutan kelapa di dalamnya. Ia menikmati semenjak dulu pertama kali mencicipinya. Tapi itu tak mampu mengusir sendu di matanya.

“Bukannya kamu juga mau jadi polisi, wajar saja kita akan jarang bertemu.”

Estin, gadis di sebelahnya menjawab. Bedanya, gadis itu mengucapkannya dengan intonasi biasa. Tak ada penekanan berlebihan, layaknya Eben Mare barusan. Sebab, semenjak lama ia sudah menanti dengan sepenuh hati kesempatan menjadi biarawati di Rumah Suci. Mengabdi di gereja, menjadi pelayan Tuhan dengan meninggalkan semua kehidupan duniawi.

“Apakah kau akan balik lagi ke sini setelah jadi biarawati?”

Estin menggeleng, bukan karena ia menjawab tidak, tapi tepatnya entahlah.

Ingatan Eben Mare malah berpulang pada tahun-tahun nan lampau. Saat mereka sama-sama baru tiba di kota ini, dan tempat ini baru hitungan sebelah jari mereka datangi. Estin pernah bilang, bahwa kota ini tak memberinya kesan yang baik. Hanya ada tanah gersang yang penuh minyak, air jernih yang susah didapat, hawa panas yang menyengat, laut yang tak menyimpan banyak ikan. Kalau pun ada yang ada pantas ia banggakan, adalah pelabuhan internasionalnya yang dihinggapi banyak kapal, yang senantiasa pula memuntahkan dan menelan ratusan orang dari segala penjuru. Agaknya waktu tak jua mampu mengubah penilaian Estin.

“Kalau aku sepertinya akan tetap kembali ke sini, setidaknya sekali setahun saat perayaan Natal,” ujar Eben Mare tanpa didahului pertanyaan apa pun, suaranya masih sendu.

Estin paham, orang tua Eben Mare sejak tahun lalu memang memilih menjadi warga tetap kota ini. Saat jabatan ayahnya semakin penting di kantor syahbandar, mereka sepakat untuk meletakkan kota ini sebagai bagian dari masa depan. Berbeda dengan Estin yang tinggal di kota ini dengan pamannya. Sejak kedua orangtuanya meninggal secara tragis lewat insiden berdarah di negeri ini nyaris dua dekade lalu. Rumah dan toko mereka dibakar oleh orang-orang dengan wajah mendendam. Belakangan, Estin tahu, wanita yang sebangsa dengannya juga diperkosa ketika itu. Momen itu membuat kehidupan Estin berpindah-pindah dengan keluarga pamannya.

“Apa kau tak ingin mengunjungi tempat ini lagi?”

Estin tahu kesedihan Eben Mare. Sejenak ia menatap wajah Eben Mare yang masih mengunyah lepat, tapi kali ini dengan kunyahan yang payah.

“Kamu udah mau jadi polisi kok masih cengeng.”

“Aku tahu kamu tidak punya banyak alasan untuk kembali ke kota ini,” balas Eben Mare mengabaikan pendapat Estin.

“Tenang saja. Jika memungkinkan, aku akan tetap kembali ke sini. Menjenguk paman dan bibi, mengunjungi sepetak tanah kosong ini, lalu sekalian menemuimu.”

Kali ini Eben Mare menatap dengan mata berbinar, lebih-lebih saat didapatinya Estin tersenyum. Senyum yang pertama kali ia lihat di minggu-minggu pertama ia datang ke kota ini. Ketika itu, Eben Mare nyaris tak punya teman, ia kerap dikucilkan, dianggap tak layak bergabung dengan teman sebayanya karena statusnya yang bukan anak asli sini. Sementara Estin menjadi manusia linglung karena tak ada satu pun dunia yang sanggup menghiburnya. Bagaimana pun, Estin masih sukar menerima kenyataan, ia telah jauh meninggalkan teman-teman sepermainannya di Tapanuli.

“Sore saat dulu pertama kali kau menemukan aku di sini, kau persis tersenyum seperti sekarang.”

Estin jadi tertawa kecil mendengarnya, ia membenarkan letak anak rambutnya yang dikibas angin. Estin mengingat sore itu, hari paling berkesan baginya sejak menjejak kaki di kota ini karena menemukan kawan seperjuangan. Pada sebuah tanah kosong yang ditumbuhi ilalang, persis di sebelahnya ada lapangan sepakbola.

“Kenapa kamu tak ikut main,” tegur Estin. Dulu.

Eben Mare menoleh sebentar, tapi tak langsung menyahut.

“Biasanya anak lelaki yang tak ikut main bola itu anak yang cengeng,” lanjut Estin.

“Katanya aku ini anak baru, belum bisa ikutan main,” jawab Eben Mare dengan mata nyalang. “Awas saja! Aku akan buat perhitungan dengan mereka semua.”

Itulah saat Eben Mare melihat Estin remaja tersenyum. Senyum yang mengubah dunia Eben Mare sesudahnya.

***

Malam itu Eben Mare memutuskan untuk tidak pergi ke gereja mengikuti misa malam Natal, ia justru memilih berkunjung ke sepetak tanah kosong itu. Ilalang-ilalang sedang meninggi, rumput di lapangan bola juga ikut memanjang. Dari situ, Eben Mare bisa mendengar nyanyian-nyanyian kudus bersenandung memuji Tuhan di gereja. Berpadu pula dengan suara azan yang baru saja usai memanggil-manggil jamaah melaksanakan Isya.

Ini tahun kelima semenjak mereka sama-sama meninggalkan kota ini. Estin pergi dan mengabdi pada salah satu Paroki Keuskupan di Bandung. Sementara Eben Mare merintis karier menjadi polisi.

Rencana Eben Mare untuk sekadar merayakan Natal bersama Estin tak kunjung terealisasi sejak itu. Setiap tahun, ada saja hambatan yang memaksa mereka harus berjauhan. Eben Mare sebisa mungkin memang meminta cuti libur pada perayaan Natal, dan memilih balik ke kota ini. Cuma sekali ia tak pulang, karena pada tahun itu ia jadi saksi dalam persidangan seorang pejabat yang tertangkap oleh KPK. Sialnya, pada tahun itulah Estin memilih kembali, berselang beberapa hari setelah pamannya meninggal.

“Barangkali kau telah lupa tempat itu.”

Eben Mare pernah mengirim pesan pendek pada Estin di handphone-nya. Sebulan kemudian, barulah jawaban muncul.

“Aku bukannya tidak mengingat, tapi kesibukan di gereja benar-benar memangkas hubunganku dengan dunia lain.”

Kadang Eben Mare sering bingung, untuk apa ia masih menanti kedatangan Estin yang nyaris mustahil. Ia paham, menjadi biarawati berarti mencabut semua urusan lain selain yang berkenaan dengan Tuhan. Itulah mengapa Eben Mare kadang benci dengan pilihan Estin. Pada kenyataannya, kondisi itu mengharuskan impian-impian yang dulu dicanangkannya serasa hambar. Eben Mare kadang berpikir, Tuhan merampas Estin darinya.

“Kau tahu, menjadi biarawati merupakan keinginanku sejak lama,” akui Estin dalam salah satu pesannya.

Eben Mare masih tak mengerti dan tak ingin memahami keputusan itu. Baginya, menjadi biarawati berarti mengisi hari-hari dengan kehampaan sekaligus kesunyian. Betapa hidup akan sangat monoton. Sejak kecil, ia memang merasa bukanlah manusia yang taat. Jarang berkunjung ke rumah Tuhan, meski orangtuanya selalu mewanti-wanti tiap Minggu pagi.

Jika sampai Estin memutuskan mengucapkan janji kaul untuk menjadi suster abadi, otomatis ia tak akan menikah seumur hidup. Entah mengapa, Eben Mare merasa hidupnya serasa sial kalau sampai itu terjadi.

“Proses menjadi biarawati abadi itu sungguh panjang.” Tetiba Eben Mare jadi ingat salah satu perkataan Estin. “Pertama harus masuk masa Aspiran dan Postulan, semacam masa persiapan, lamanya masing-masing setahun. Setelahnya baru masuk masa Noviciat, katanya pada saat itu para suster akan dibekali bagaimana hidup dengan doa dan bermeditasi.” Panjang lebar Estin menerangkan. Tak satu pun dipahami Eben Mare. “Nah! Setelah itu barulah para biarawati mengucapkan kaul perdana dan dianggap sebagai anggota resmi biara.”

Eben Mare tidak akan terkejut jika Estin akan mengejar keinginannya menjadi suster abadi. Apalagi sekian hari, Eben Mare merasa Estin kian berjarak dengannya. SMS-nya lebih sering diabaikan. Termasuk pesannya terakhir sebelum pulang kemarin. Niatnya untuk mengajak pulang Estin bersama tak pernah mendapat jawab, meski Eben Mare terus menunggu hingga ruang tunggu bandara.

***

Sehari setelah perayaan Natal usai, Eben Mare memutuskan untuk kembali ke kantor, lebih cepat dari jatah cuti yang didapatnya. Tapi saat melangkah keluar rumah, Eben Mare dihadang saudara sepupu Estin sambil mengulurkan amplop.

“Kak Estin mengirim surat untuk Bang Eben.”

Eben Mare menerima surat itu, membacanya lekas.

Semoga kebaikan selalu menaungi kita.

Aku tidak tahu berapa lama lagi sanggup berada di biara ini. Sepertinya memang bukan di sini tempat terbaik untukku melanjutkan hidup. Maaf Eben, aku tidak pernah jujur padamu. Aku tahu semenjak dulu kau tak pernah suka dengan ide aku menjadi biarawati. Ternyata kau benar, meskipun barangkali, apa yang aku alami di biara sama sekali tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. Biara tak ubahnya tempat bersemayamnya seorang pastor bermuka dua. Di saat tertentu ia menjadi imam para jemaat, tapi di lain kesempatan ia menjelma serigala yang merenggut kehormatan para suster.

Ya, aku sekarang bukan lagi orang yang suci, Eben. Bertahun-tahun aku disuruh bungkam, sembari terus melayani nafsu bejat seorang pastor. Gerak-gerikku selalu dimatai, bahkan aku dilarang berkomunikasi dengan siapa pun di dunia luar.

Jika surat ini sampai kepadamu, itu tandanya petugas keamanan di gereja ini berhasil menyelundupkan dan mengirimnya dengan baik. Barangkali ia merasa iba denganku, dan aku bersyukur setidaknya masih ada orang baik di sini..  

Aku merasa berada di neraka saat ini.

Ada yang basah di mata Eben Mare. Ia meremas surat itu sebelum melemparkan ke bandar depan rumah. Terngiang lagi percakapannya pada Estin.

“Kalau menjadi biarawati, berarti selamanya kau akan jadi perawan?”

Estin hanya menanggapi dengan senyuman kala itu. Tapi sekarang air mata Eben Mare justru makin deras menetes, tersebab kesedihan sekaligus kemarahan. Sebab sekarang Estin bukan lagi perawan, dan itu justru tanggal di rumah suci. ***


Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau, pada tanggal 26 November. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah tayang di media online dan cetak. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

Membincangkan dan Mendengar Kitaro: Theme from Silk Road

kau susuri gerbang kematian.

diiringi tangis, juga doa-doa,

lewat bau dupa.

seseorang menghidu bau kehilangan,

seorang yang lain menenangkan,

dan seseorang lagi memalingkan muka

sekaligus mengamini (karena benci?).

akan ada raung sirine

mengiringi kepergian yang tak tahu kapan kembali.

kembali, barangkali sepiring kwetiau atau  mapo doufu di mangkukmu

dan kau lupa melahapnya

sebelum benar-benar pergi.

tibalah waktu kremasi.

di krematorium, segala yang kau punya, segala yang kau miliki,

lenyap.

terbakarlah tubuhmu menjelma abu.

—“kapan waktu terbaik reinkarnasi?” tanyamu.

barangkali ketika karma tak lagi menimpamu.

hingga akhirnya, kau tahu orang-orang yang menangisi, mencintai,

dan membencimu di Thiong Ting hingga persemayaman terakhirmu.

—“mengapa?”

sebab, karma adalah bom waktu.

meledak ketika kau menyadari bahwa kematianmu

tak lain adalah hal yang paling kau tunggu.

setelahnya, hanya tinggal kesedihan semata.

kepergianmu menyisakan duka.

tapi kesendirianmu di ‘dunia lain’

ialah kedukaan sesungguhnya.

matimu, menyusuri jalan ini.

hanya ada sunyi. hanya ada sepi.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kemalasan yang Kian Akrab

pernah kujumpai kau dalam lelap.

ketika kau bermata puisi dan bersuara minor.

seperti Buddha tidur,

tak dapat kubaca apa pun

selain puisi-puisi yang kulihat

dan suara yang jauh.

sama halnya di bukit Khao Kala,

tak ada yang benar-benar mustahil.

sebab manusia tak selamanya bicara tentang manusia

tidur tak ubahnya upaya telepati

antara aku, kau, dan ‘ia yang lain’.

atau, sebatas alasan

agar tak terjaga tiba-tiba.

kemalasan kita,

tak terlihat dan tak bernada.

tapi, aku masih setia mengeja

dan tentu, mendengar apa-apa yang tak bersuara.

mimpiku, mimpi paling lengkap

ketika kudapati kau membaca puisi

dan berkhotbah ihwal cinta,

juga pernikahan yang biasa-biasa saja.

(Solo, 2019)


Membincangkan Perpisahan

kata-kata belum selesai disusun

ketika kereta membawamu pergi.

aku memanggilmu,

punggung menjauh yang menjawabku.

ia berkata ‘cinta’

tapi tak tahu cinta macam apa

yang dikatakannya.

semula, kau meminta pergi

tapi pergi, bagiku, ialah memecah waktu.

menjadi remah jumpa

juga jadi air mata setelahnya.

di peron, seekor burung berkicau

merapal namamu.

tanpa nada. tanpa suara.

kau telanjur pergi,

kata cinta yang harusnya kumaklumi

tiba-tiba jadi belati.

mencacah ingatan.

menjadi debu. menjadi batu.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Pernikahan

sejak orang-orang mulai menyusun rencana pernikahan.

semenjak mereka menginginkan.

aku memilih memejamkan mata.

            : untuk tidur lebih awal.

bahwa pernikahan nisbi sebuah agama.

kita bisa saja memeluknya.

namun tak bisa memaksa mengamini.

kelak suatu pagi,

aku dan kau

pergi ke tempat di mana kau biasa memanjatkan doa.

kau memegang kitab suci dan membacakannya untukku.

di hadapan Tuhanmu, kau merapalkan untukku:

Tuhan, ampunilah segala perbedaan.

lantas kusampaikan pada Tuhan,

kami kelaparan

: pelukan.

(Karanganyar, 2018)


Membincangkan Rencana

yang tak dapat kita tata dengan baik adalah rencana.

sebab setiap detiknya, seperti jantung yang bekerja.

berhenti sebentar, mati akan mengunjungi.

sebelum benar-benar kau pergi,

lipatlah kedua lenganmu.

di sana, telah kau rengkuh aku.

mengapa kita masih saja bercakap?

keputusan bukan keputusasaan.

kita berbicara dan masing-masing dari kita

bebas bersuara. dan tentu, bertukar isi kepala ialah jawabnya.

langkahmu langkah yang limbung.

seperti lelaki tua yang mabuk.

anggur merah, jamur, dan sedikit obat sakit kepala

tak bisa menyelamatkan perjalanan kita.

sebab hanya pikiran kita, dan mungkin, cerita-cerita

yang benar-benar mampu memperbaiki keadaan.

tak ada salahnya mengumandangkan omong kosong.

sebab dari sana, cerita-cerita bermula.

kelak, rencana yang kita susun

tak selesai di kata rencana.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Mimpi

langit, kadang jadi laut.

menampung gelisah sekaligus amarah.

seseorang datang dari masa depan berseru,

“gantungkan cita-citamu setinggi langit!”

seseorang itu lupa bahwa Tuhan ada di sana.

cita-cita, hanya dapat terwujud

jika kau kenal Tuhan.

Ia telah mengenalimu

sebelum kau ada.

apa kau demikian adanya?

mimpimu menggulung.

mendamparkan ke tepian.

takdir, barangkali air pasang.

ia menyisihkanmu.

agar kau tahu,

mimpimu ialah aku, kau,

atau sesuatu yang sebenarnya

tak pernah kau kenali sebelumnya.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Suara di Ponselmu

“lekas pulang.

ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.”

suara itu masuk ke ponselmu.

di kepalamu, meja makan menanti kedatanganmu.

nasi hangat, sayur bayam,

juga sepotong ingatan yang memudar.

kau mengambil sepiring nasi.

kau mengingat bentang sawah

dan di sana masa kecilmu kau habiskan.

kau menuang kuah sayur bayam.

tapi kau tenggelam.

dalam. semakin dalam.

tenggelam pada hati ibumu.

kau membaca ingatan yang tersisa.

ibumu, telah lama tiada.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Teka-Teki

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Barzanji

: suara anak-anak Palestina

pernah kudengar gema di langit

dan setelahnya, kembang api mekar.

seketika seluruhnya sirna.

rumah, mimpi, dan kebahagiaan perlahan susut.

runtuh dan gugur satu demi satu.

kuucap dan kurapal doa. tak henti-henti.

tiap detik, tiap menit, tiap detak, dan tiap embusan napas ini.

agar di sini, di tanah ini, kami bisa berbahagia.

kebahagiaan, adalah ketika kau diberi harapan

dan apa yang mereka beri bukan semata janji.

kadang, harapan hanya semata sesaat legawa,

tapi di hari berikutnya, mimpi itu pupus dan kembang api, lagi dan lagi menghujani.

sebab di sini, di tanah ini, ego jauh lebih penting daripada nyawa kami.

mereka menyerukan perdamaian

diiringi dengan mesiu yang terlontar dari senapan.

mereka menyerukan kekerabatan

diiringi kehancuran yang sengaja mereka kirimkan.

tapi di sini, kami tak menanam benci.

sebab hanya Allah yang berhak menghakimi.

hanya doa dan pinta yang tak ada jeda

tiap detik, tiap menit, dari bibir dan hati ini.

juga tak henti kami lafalkan barzanji.

sebab hanya Allah yang mampu melindungi dan menyelamatkan kami.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kunjungan Batara Kala

1/

seandainya bencana itu tidak datang, Kunti

barangkali langit akan tetap bergema dan kegelisahan-kegelisahan

yang menyelimutimu tak akan sampai membuatmu putus asa.

sebab dalam kebencian yang telanjur menyebar,

semua harapan yang telah kau bangun pupus.

Batara Kala telanjur tiba.

ia datang entah sebagai hukuman atau ujian.

keduanya tak ada beda.

seluruhnya membuat sengsara.

2/

perang, juga pagebluk,

adalah bentuk lain dari doa yang gagal terjawab.

Kuru telah jadi ladang perang.

kunjungan Batara Kala menjelma kutukan.

ia tiba sebagai wabah yang menjalar.

dalam hatimu, semula ialah taman bunga.

anak-anakmu hidup dan tumbuh di dalamnya.

tapi tak berselang lama, bunga-bunga di hatimu layu.

sebab tabiat anak-anak yang tak sesuai kehendakmu.

—pageblug mayangkara murup mulat-mulat.

3/

kegelisahan bukan hanya semata dalam dirimu, Kunti.

: hati Durna tak jauh beda.

kedamaian pada dirinya menjelma api.

disulut perangai murid-murid yang tak tahu diri.

kini,

kenyataan harus kau terima.

sebab, di seberang sana,

serapah dilafalkan agar kematian lekas datang.

sementara di sini, di tanah yang kau pijak, tak jauh beda,

doa dirangkai sebab benci telanjur tumbuh di hati.

agar kelak, Pandawa berjaya dan Kurawa sirna.

—apakah maksud kedatanganmu Batara Kala?

4/

pertanyaan, adalah jawaban dari tak sempurnanya doa.

dari sana, pertanyaan yang terlontar ialah jawaban itu sendiri.

jawaban tak ubahnya kepingan teka-teki.

bukan hanya kau yang mengajukan tanya, Kunti, Durna juga

: ia tak paham kenapa.

Pandawa dan Kurawa,

tak ubahnya seperti burung yang tak mengenali jalan pulang.

selepas kunjungan Batara Kala.

mereka lupa muasalnya.

lantas Kurusetra membara.

Batara Kala telanjur tiba,

perang dan pagebluk kini nyata di depan mata.

Kunti, kau harus ikhlas untuk seluruhnya.

(Karanganyar, 2021)


Eko setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Buku puisi Mengunjungi Janabijana memperoleh penghargaan Prasidatama 2021 dari Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Antologi Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Cerpen

Kereta Tak Lekang Waktu

Cerpen Rania Alyaghina

BABAK I

Aku terbangun dengan napas memburu. Dahiku terantuk sesuatu. Mimpi aneh barusan mungkin turut andil dalam alasan dikembalikan lagi aku ke dunia nyata. Kutolehkan kepala ke sebelah kiri. Sebilah jendela kaca menjagaku agar tidak terjengkang ke rel kereta. Pandanganku disuguhi hamparan sawah yang terbentang luas, cahaya matahari pagi menyorot tanpa malu-malu, memperindah penampakannya. Namun, kedua pasang mataku tidak bisa diajak kompromi. Mau sebagus apa pun pemandangan yang disuguhi, aku kembali memejamkan mata, tidak menghiraukan guncangan kereta yang semakin ganas melarangku untuk kembali ke alam tidur.

Napasku lagi-lagi memburu. Awalnya kukira karena lanjutan mimpi barusan, tetapi kedutan yang berasal dari sudut mataku mau tidak mau membuatku membuka mata. Kulihat orang-orang di sekitarku mengerutkan alis ke arahku. Mulanya sempat membuatku geer dan mencoba mengingat-ingat kesalahanku, namun rupanya mereka tidak benar-benar melihat ke arahku. Aku berdiri, melihat semua orang menoleh ke kiri. Selayaknya orang latah, kutolehkan juga kepalaku ke arah jendela. Kantukku sontak sirna. 

Kali ini bukan sawah yang menggugah nyawa, melainkan sebanyak dua puluhan orang berderet menyamping, mengangkat sebilah kertas yang besar. Cukup besar hingga tulisannya mampu tertangkap mata, hanya saja guncangan kereta membuatku sulit berfokus pada tulisan yang tertera. Aku bertatap mata dengan salah satu bocah berumur lima tahunan. Tatapannya menghunus hati, ekspresinya kosong, membuatku sulit menangkap dan menduga-duga deretan kata yang menghiasi kertas tersebut.

Aku tidak lagi berpikir panjang. Meski masih dihantam kebingungan, aku bangkit dari kursi, berjalan ke tempat masinis berada. Sembari melangkahkan kaki, mataku tak pernah lepas dari dua puluh — tunggu, rupanya deretan orang tersebut tidak hanya puluhan, kertas yang diangkat pun tidak hanya sebilah. Orang-orang yang berderet ini terdiri dari semua kalangan umur. Dari balita hingga lanjut usia, semuanya bersama-sama memegang kertas sehingga benda lemah itu dapat berdiri tegak, melawan usaha angin yang berusaha menerbangkan kertas tersebut. Sepanjang jalan berderet orang yang turut mengangkat kertas berisi tulisan hingga membentuk suatu pesan.

Aku sontak berlari. Kuberanikan diri membuka pintu yang membatasi penumpang dengan masinis. Beberapa petugas sempat mencoba menghentikanku, aku tetap mengelak dan menerobos masuk. Dengan terengah-engah, kuucapkan dua patah kalimat, mengulang pesan yang tertulis di rentetan kertas tadi, “Tolong hentikan kereta. Ada kaki yang tersangkut di rel.”

Para penumpang lain rupanya sudah berada di belakangku. Kurasa mereka tidak mendengar ucapanku, tetapi mereka sudah pasti melihat ke arah jendela dan seratus persen mendukungku, membuat para petugas lantas menoleh ke arah jendela. Sang masinis pun tak ambil pusing. Ia sontak mengusahakan agar permintaanku terkabulkan. Kali ini, terdengar suara ribut-ribut dari luar. Mereka tidak lagi berdiri berderet. Kepanikan menyerang mereka, mereka berlarian seperti hendak menghalang kereta. Aku mencoba melihat jendela. Kubayangkan nasib orang yang kakinya dibui rel, tak bisa ke mana-mana. Hanya mukjizat yang mungkin dapat membantunya saat ini. 

Orang bernasib nahas itu mulai tampak batok kepalanya. Penumpang di dalam kereta sontak turut memekik, seolah-olah bentuk penyemangat untuk masinis. Tampaknya hal tersebut hanya membuat sang masinis semakin kewalahan, namun ia tak tampak ingin menyerah. Ia melipatgandakan usahanya, krunya turut melakukan hal yang sama. Para petugas meminta para penumpang kereta untuk kembali ke kursi masing-masing, demi meminimalisasi korban baru. 

Aku menuruti petugas, berusaha menjadi penumpang yang kooperatif, walaupun pantatku tidak kerasan dan kerap kali berdiri untuk memastikan kami benar-benar berhenti sebelum melindas habis kaki orang tersebut.

BABAK II

Sang masinis, ditemani sejumlah petugas lain, segera turun setelah kereta berhasil dihentikan. Orang yang kakinya tersangkut ini sendirian, tak tampak orang-orang yang mengangkat kertas tadi menemani. Sebegitu detailnya perhitungan mereka untuk memastikan jarak mereka jauh dari orang ini. Lagi pula, tiada kaki yang sanggup mendahului laju kereta. 

Para penumpang tidak mencoba mengganggu proses penyelamatan. Semua orang duduk di kursinya masing-masing, berharap-harap cemas. Tidak satu pun lontaran perkataan yang menuding korban karena keteledorannya. Semua orang pun tahu tidak ada orang yang bermimpi menaruh kakinya di bawah rel kereta api.

Lagi-lagi, pantatku tidak bisa diajak kompromi. Rasanya ingin turun dan menemani, kali-kali ada yang dibutuhkan sang masinis. Kutahan keinginan itu dengan tetap mengamati dari jendela. Terlihat sang masinis tengah bercakap-cakap dengan korban. Anehnya, mereka tidak segera menolong orang itu. Semua petugas seolah habis melakukan kontak mata dengan Medusa yang sontak membekukan tubuh mereka.

Aku kembali menoleh ke arah masinis dan para rekannya. Cara mereka berdiri tak ada bedanya dengan pahatan seniman ulung; begitu kokoh dan tegap. Aku tak sabar, tak kuhiraukan lagi anjuran petugas, toh kereta sudah tidak lagi berjalan. Aku bangkit dan berlari keluar, kemudian langsung memaki tanpa berpikir lagi. Sesulit itukah membantu korban terbebas dari jeratan rel? Lantas bagaimana nasib perjalanan kami yang tertunda begini?

Kuulurkan tanganku pada sang korban, korban yang tengah dirundung nasib. Mataku menyipit, melihat dengan seksama. Di mana kakinya? Tidak tampak sedikit pun warna kulit yang dihimpit rel.

Oh. Oh?

Satu kakinya memang tidak ada. Ujung lututnya yang terbungkus kulit sempurna ia istirahatkan di bawah rel. 

Sebelum aku bereaksi, orang-orang yang berderet dan membopong kertas tadi keburu muncul—entah sejak kapan mereka tiba di sini—berebutan masuk ke dalam kereta. Rupanya sedari tadi mereka menyembunyikan senjata tajam di bawah baju mereka. Ditariknya langsung senjata mereka dari sana, kemudian ditebas habis kepala para penumpang tanpa pilih bulu. Sebagian yang tidak memegang senjata, tampaknya ditugaskan untuk meretas tas-tas, baik yang ditaruh di lantai dekat kursi, maupun di atas bagasi kursi. Tanpa perlu mengecek apa isi tas, mereka langsung buru-buru menggondol tas keluar. 

Aku melongo melihat banyak darah terbuang percuma. Aku mendesakkan tubuhku di sela-sela kursi penumpang, berharap aku tidak kasat mata. Tak lagi kupedulikan nasib tasku yang mungkin tengah menanti-nanti untuk diambil.

Bertubi-tubi pertanyaan muncul di benakku, misalnya mempertanyakan maksud mereka melakukan ini pada kami, yang jelas-jelas tidak mengenal keberadaan mereka hingga detik ini. 

Apa salah kami? Apa yang mereka mau?

Apa yang kami miliki hingga meyakinkan mereka untuk menempuh ide sebengis ini?

BABAK III

Waktu rasanya telah menempuh beribu-ribu jam. Tapi semenjak teror menginjakkan kaki di kereta ini, durasinya hanya kurang lebih lima belas menit. Aku memang tak henti-henti mengecek arloji di pergelangan tangan kiri, membuat jarum jam malu untuk maju karena ditatap melulu. Entah untuk apa aku mengecek waktu. Entah mengapa waktu menjadi satu-satunya hal yang kupikirkan di kala genting begini. Aku tetap tidak akan keburu sampai di stasiun. 

Pekikan para penumpang kembali memenuhi pendengaranku. Aku mencoba menepisnya dengan mengucap ‘pergi’ beberapa kali, mengulang-ulangnya di dalam hati layaknya mantra. Bedanya ini tidak mengandung arti apa pun selain menginginkan pergi suara-suara manusia yang dilanda kepanikan, mengharapkan kepergian diriku dari situasi semacam ini.

Kepalaku berpaling ke kanan, merasakan kedutan di ujung mataku — hal yang biasa kualami ketika ada yang memperhatikanku. Kudapati lelaki paruh baya yang menatapku dengan mata merahnya. Ia tengah menyembunyikan seorang anak, mungkin sekitar tujuh tahun, di antara lengan dan tubuhnya. Anak itu tampak patuh, tidak mencoba menyusahkan bapaknya dengan tidak bergerak sama sekali. Hingga sulit bagiku untuk melihat apakah ia telah ditenangkan bapaknya, atau telah mati di pelukannya—aku tidak mau tahu.

Kali ini kutolehkan kepalaku ke kiri, berharap pemandangan yang menenangkan menanti. Seorang perempuan dengan mulut dan leher menganga menyuguhkan penampakannya padaku, yang kusambut dengan ringisan spontan. Kepalaku kembali menoleh ke kanan, memastikan apakah bapak dengan anak itu melihat apa yang barusan kulihat. Ia masih menatapku, dengan anaknya yang sekarang juga menatapku. Matanya sama merahnya seperti bapaknya. 

Kurasakan sudut mata kiriku kembali berkedut. Tetapi bukan di posisi perempuan tadi, tepatnya di arah jam sepuluh. Nenek-nenek dengan bergelimang emas menghiasi kulitnya —benda ini tak mampu kuabaikan dari penggambaranku karena begitu mencuri perhatian — sedang menahan guncangan dalam dirinya agar keberadaannya tidak begitu ketara. Kuarahkan kembali pandanganku kepada lelaki paruh baya tadi, memastikannya juga melihat apa yang kulihat. 

Ia menatap mataku, kemudian mengangguk pelan. Kulihat sang anak sudah kembali menyembunyikan wajah di ketiak bapaknya. Kupastikan nenek tadi juga melihat keberadaan kami, yang dikonfirmasinya pula dengan anggukan. 

Di masa-masa sulit seperti ini, bahasa tubuh hanya andalan kami. Tapi selalu ada kemungkinan salah interpretasi. Muncul gerakan dalam hatiku, yang mungkin juga tumbuh dalam diri mereka. Aku lantas membalas anggukan mereka dengan anggukan pula.

Dalam diam, kami bertiga telah mencapai suatu mufakat, bersepakat tanpa tersurat, dan percaya diri dengan rencana yang disetujui.

Kutengadahkan kepalaku, menyiapkan nyaliku.

BABAK IV

Tanpa pandang bulu, tanganku mengarah ke abdomen seseorang yang baru saja selesai menebas lengan seorang penumpang. Kuhantam perutnya tanpa ampun, hingga tajak terlepas dari tangannya, kemudian disambut baik tajak tersebut oleh lelaki paruh baya tadi. Sembari menggandeng anaknya, ia memenggal kepala-kepala yang tadinya mengincar kepala orang lain pula. Hawa dingin mulai menggerogotiku. Selain karena sebegitu gampangnya orang-orang ini menemui ajal, tetapi aku takut kalau-kalau bapak itu salah sasaran dan malah memisahkan kepala para penumpang dengan tubuh mereka. Namun, aku menaruh kepercayaan tinggi padanya. Bisa dibilang tidak sulit membedakan penampilan kami, penumpang kereta, dengan para perampok tidak tahu diri ini. 

Nenek-nenek tadi juga turut membantu dengan menanggalkan salah satu perhiasannya, kemudian ia gores kuat-kuat ke arah wajah seseorang. Hingga saat ini, aku baru memahami manfaat lain memiliki perhiasan.

Sesosok perempuan keluar dari persembunyiannya, menendang tepat di ulu hati salah satu perampok. Tampaknya aksi kami menggerakkan hatinya. Rupanya tindakan heroik kami berefek sebesar itu: mulai bermunculan sejumlah orang dari bawah kursi, dibalik kursi, dibalik pintu toilet. Semua, yang mulanya pasrah, seolah tumbuh harapan. Mereka memberanikan diri melawan perampok-perampok ini tanpa senjata. Setelah lawannya terkapar, baru direbutnya senjata itu, lalu mereka gunakan lagi kepada kawannya. Suatu siklus yang menggetarkan, membuatku tidak lagi melanjutkan aksiku selain terbujur kaku. 

Tak tersisa lagi tangan yang menyerang. Genangan darah dan aroma anyir membuat pening kepala. Namun, hal itu tak lagi jadi soal, karena rasa lelah yang tiada duanya. Bisa kupastikan tiga perempat penumpang sudah jadi mayat, tetapi hampir seluruh dari para perampok itu sudah tidak lagi bernyawa. Beberapa mungkin tengah meregang nyawa, tapi tak bakal bertahan lama.

Salah satu penumpang kloter depan tiba-tiba berlari ke arah kami. Belum sempat ia menghentikan lari, mulutnya telah membuka, “Sang masinis telah mati. Tubuhnya bahkan entah ada di mana.”

Aku spontan mengatupkan rahang bawah dan atas dengan keras. Pupus harapanku menjumpai sanak saudara di seberang sa — tunggu. Semoga harapanku masih mungkin terwujud.

Aku cepat-cepat berlari, melewati penumpang pemberi wahyu tadi, melewati korban yang kebanyakan awak kereta api. Aku segera mengecek kondisi radio lokomotif, yang kudapati dengan kondisi yang tidak bisa digunakan lagi. Tubuhku kuambrukkan ke pintu. Berapa lama mereka merencanakan aksi perampokan semacam ini hingga hal sekrusial ini tak mereka lewatkan?

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Sang masinis telah berpulang. Kami tak bisa pulang. Satu per satu penumpang menuruni kereta. Kami berjalan ke arah pedesaan yang dekat dari lokasi tanpa ditinggali penghuni lagi. Ingatanku kembali terlempar pada kejadian yang… berapa lama waktu telah berlalu sejak kejadian tadi?

Kembali kuperiksa arlojiku yang telah dilumuri bercak merah. Sudah jam empat sore, atau tepatnya hanya satu jam semenjak peristiwa tadi berlangsung. Kembali teringat olehku anak kecil yang beradu pandang denganku dari jendela kereta. Entah di mana ia sekarang. Mungkin salah satu lengannya masih tertinggal di dalam kereta.

Dengan tiadanya petugas kereta yang tersisa, kami tidak tahu mesti bagaimana. 

BABAK V

Di sini memang tidak ada kalender, tetapi kami mencoba menghitung seadanya dan menduga sudah dua tahun waktu berlalu semenjak kejadian itu. Tidak ada bantuan yang datang. Mungkin mereka datang, dan mengira kami semua sudah mati. Atau mungkin dinyatakan hilang ketika korban-korban diidentifikasi.

Sesekali kami memang pergi ke rel itu, mencoba meminta bantuan kepada kereta lain yang mungkin melintas. Kami sesekali kembali, melihat apabila ada kereta lain yang menghampiri. Mayat yang bergelimpangan masih terkapar di sana. Mungkin pertolongan tidak pernah benar-benar datang. Mungkin pula mereka tidak mau berurusan dengan orang yang bukan penumpang.

Tetapi kami tak bosan menjenguk rel setiap waktu. Kami selalu menaruh harapan dan kembali ke sana, menunggu sampai ada kereta yang melintas. Selebaran kertas telah kami siapkan, lengkap dengan tulisan di atasnya. Lengkap dengan sebilah parang di balik baju kami. Hingga tiba waktunya kami beraksi lagi. 


Rania Alyaghina, saat ini menetap di Tangerang. Kegiatan sehari-hari berkutat dengan rentetan kata, menciptakan pengalaman membaca semakin bahana. Email:[email protected]