Cerpen

Apa yang Kalian Tahu Tentang Nona Goodhouse?

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

“Hidup tidak akan pernah sempurna, dan adil.” Seorang pria yang mengenakan jas rapi dan kacamata gelap menggumam. Dia membaca catatan yang ditulis tangan di secarik kertas. Catatan itu ditemukan tak jauh dari mayat perempuan yang mati terjatuh dari balkon apartemennya tadi pagi.

“Kalian ingin menahanku?” Pria yang katanya mantan kekasih korban sudah berada di ruang interogasi. Tubuhnya maju mundur gelisah.

“Anda satu-satunya orang yang ada di sana saat kami tiba. Tidak lupa, Anda juga mengirim makian kepada korban. Menyebutnya ‘perempuan gila’ beberapa jam sebelum ditemukan tak bernyawa.”

“Makian.” Pria itu mendengkus. Salah satu ujung bibirnya terangkat. “Memangnya, apa yang kalian tahu tentang Noella Goodhouse?”

*

“Baiklah, sekali lagi saya ulang, apa yang kalian ketahui tentang Nona Goodhouse?” tanya seorang pria bersetelan gelap kepada sekelompok wanita anggota klub berkuda elit.

Wanita-wanita yang bahkan masih wangi setelah menunggangi kuda itu melepas helm dan sarung tangan mereka sambil saling melempar tatapan.

“Maaf, Tuan, siapa Anda dan apa hubungan Anda dengan Noella Goodhouse?” tanya salah satu wanita dengan mata menyipit tidak bisa menyembunyikan kecurigaan. Wanita yang lain mulai memandangi pria itu. Ada mata-mata penuh selidik, ada pula yang sedikit tertarik.

Setelah merasa cukup dengan penyelidikan mata, para wanita itu saling bertatapan lagi kemudian mengangguk-angguk. Seolah-olah ada kesepakatan ‘Dia tampan, tetapi mencurigakan’ yang tidak terucap di antara mereka.

Pria itu kemudian berdeham. “Marquez. Detektif Phillip Marquez.”

Para nyonya yang senang berkuda tampak terkejut.

“Detektif? Anda terlihat seperti aktor-aktor di drama televisi Hallmark.”

Mendengar itu, sebagian tertawa geli lalu salah satunya bertanya dengan serius. “Apa yang telah Nona Goodhouse lakukan sampai seorang penyelidik seperti Anda harus datang ke sini?”

Kali ini, Detektif Marquez jauh lebih terkejut. “Kalian belum mendengar kabar dari Nona Goodhouse?” Kening pria itu berkerut.

Well, sebenarnya dia tidak begitu sering datang akhir-akhir ini. Dia bersemangat saat pertama bergabung, setelah itu … entahlah.” Seorang wanita mengangkat bahu, tidak meneruskan keterangannya.

“Baiklah, apa kalian mengenal kekasihnya? Atau mantan kekasih? Atau siapa saja yang mungkin dekat dengannya?”

Pertanyaan itu kemudian mendapat tanggapan yang berisik. Mereka saling tanya jawab tanpa peduli keberadaan Detektif Marquez.

“Apa dia pernah datang bersama seseorang? Aku tidak memperhatikan.”

“Apa kau ingat kapan dia terakhir kali ada di sini?”

“Mungkin saja dia bosan, dia masih muda untuk menghabiskan banyak waktu dengan kuda.”

“Muda? Akhir tiga puluh?”

“Entahlah, aku bahkan tidak menyimpan nomor teleponnya.”

Detektif Marquez harus berdeham tiga kali agar keriuhan para nyonya berhenti.

“Nyonya-nyonya, menurut tetangga terdekat Nona Goodhouse, kalian adalah teman-teman yang paling sering dia bahas dalam pertemuan sesekali dengan para tetangga. Foto kalian ada di ruang tamunya. Dan, kemarin, kami menemukan dia tewas di apartemennya.”

Wanita-wanita itu terbelalak. Hening seketika.

“Oh, Tuan Detektif, maaf tapi Anda bisa saja salah. Kami tidak sedekat itu dengannya. Kalau boleh memberi saran, Anda bisa mencoba mengunjungi sebuah klub tango di Durant Ave. Mereka membuka kelas dan Nona Goodhouse pernah mengatakan akan bergabung di sana,” ujar salah satu wanita tiba-tiba.

“Kapan Nona Goodhouse mengatakan itu kepada Anda?” Detektif Marquez menatap wanita pemberi informasi sambil menyiapkan catatannya.

Wanita yang ditatap terlihat grogi. “Ah, tidak, bukan mendengar langsung. Aku melihatnya di snapchat eh entahlah, aku rasa di instagram.”

Begitulah perasaan yang ditimbulkan oleh pertanyaan petugas kepolisian. Mereka mampu membuat seseorang merasa ragu bahkan pada diri sendiri. Lalu, seseorang itu akan tiba-tiba merasa takut meski tidak melakukan apa-apa.

Wanita itu bergegas bangkit dan mengenakan kembali helm dan sarung tangannya.

Detektif Marquez menghela napas, menutup buku catatannya. “Anda buru-buru, Nyonya?”

“Kami akan memulai kegiatan jika Anda tidak keberatan. Lagipula tidak banyak informasi yang bisa Anda dapatkan di sini, Detektif.” Wanita itu melangkah pergi disusul wanita lain satu per satu.

Detektif Marquez bangkit dengan sedikit payah. Dia merasa bobot tubuhnya bertambah padahal dia hanya minum kopi seharian. “Klub Tango, Durant Ave,” gumamnya sebelum meninggalkan para nyonya klub berkuda.

*

Detektif Marquez mendorong pintu kayu sebuah gedung tiga tingkat yang tidak begitu lebar. Tidak ada penanda apakah mereka sudah buka atau belum. Hanya ada sebuah papan nama dengan warna biru dan kuning menyala di tepi jalan, DIVINO DIA! Ini adalah kali ketiga Detektif Marquez mendatangi klub tango itu setelah gagal menemui siapa pun sebelumnya karena klub sedang tutup, bahkan di akhir pekan.

“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” Seorang pria botak mengenakan kaos oblong bertuliskan nama klub menyapa Detektif Marquez.

“Ah, tentu.” Detektif Marquez melepas kacamata hitamnya kemudian mengulurkan tangan.”Philip Marquez.”

“Esteban Orreiro.” Pria botak membalas dengan ramah kemudian mengajak Detektif Marquez menuju sofa di sudut ruangan. Klub itu punya banyak jendela dengan tirai-tirai abu-abu keperakan yang mewah tetapi tidak banyak kursi untuk duduk berbincang.

“Ah, Argentina?” Detektif Marquez mencoba berbasa-basi.

“Tidak, tidak. Banyak yang berpikir seperti itu tapi sebenarnya orang-orang Uruguay juga menarikan tango sejak lama. Aku berasal dari Montevideo. ”

“Aku sudah tiga kali ke sini, tapi sepertinya kalian sedang tutup.” Detektif Marquez tidak melanjutkan basa-basi pengetahuan umumnya yang gagal.

“Maaf, Tuan Marquez, kami hanya buka pada hari Rabu untuk kelas tango,” terang pria botak yang duduk merapatkan kaki.

Detektif Marquez mengelus dagunya. “Hanya sekali seminggu?” Dia mulai ragu. Detektif itu sudah mengunjungi klub berkuda dengan wanita-wanita yang senang bergosip dan berkumpul tiga kali seminggu tetapi hasilnya nihil. Dia menatap pria botak sambil berpikir.

“Apakah Anda berminat?” tanya pria botak membuyarkan lamunan Detektif Marquez.

Detektif Marquez tersenyum. “Apakah aku terlihat seperti seseorang yang ingin menari?”

Pria botak mengernyitkan dahi. “Maaf, tetapi aku melihat banyak pria gagah sepertimu di klub kami, Tuan. Mereka membawa pasangan untuk berlatih ballroom tango. Tentu banyak yang sedang mengikuti tren ini sekarang.”

Detektif Marquez lupa kapan dia benar-benar mengikuti tren selain menikmati bola basket wanita alih-alih menonton sepakbola.

“Maaf, Tuan, sebaiknya aku langsung ke pokok persoalan.” Wajah serius Detektif Marquez membuat pria botak di hadapannya cukup waspada.

“Persoalan?”

“Ya, apa yang Anda ketahui tentang Nona Goodhouse? Noella Goodhouse.”

Pria botak berkaos DIVINO DIA tampak melongo beberapa saat sebelum berdiri menuju sebuah ruangan kecil tak jauh dari tempat mereka duduk.

“Maaf, Tuan, apa pun persoalannya aku tidak tahu apa-apa dan aku perlu mengecek buku keanggotaan.” Tangannya yang gemulai tampak membuka lembar demi lembar sebuah buku agenda selebar surat kabar.

Detektif Marquez mengamati dengan saksama hingga kemudian mereka berdua menemukan nama dan foto Noella Goodhouse di lembaran hampir terakhir.

“Ah, Nona Cantik yang senang membawa buku. Dia baru belajar di sini beberapa pekan saja.”

Detektif Marquez memutar buku itu hingga tepat searah pandangannya sebelum mengeluarkan buku catatan.

“Buku? Buku seperti apa?”

“Beberapa buku yang yang cukup tebal, aku tidak begitu memperhatikan. Hanya saja menurutku sedikit membingungkan melihatnya membawa buku ke kelas tango. Tentu kau tidak punya banyak waktu untuk membaca di sini.” Pria botak itu terkekeh. “Seharusnya dia membawa pasangan, bukan buku. Tapi, ya tentu saja mungkin begitulah nona cerdas dari universitas.”

“Jadi, Anda tidak pernah melihat dia datang dengan seorang pria?”

“Seingatku hanya sekali dan mereka bertengkar hebat. Pria itu tidak lentur dan jelas tidak berminat sama sekali dengan kelas kami.”

Detektif Marquez mengangguk-angguk lalu menulis dengan cepat. Semua yang diucapkan pria botak dipindahkannya ke dalam catatan.

Tiba-tiba pria botak berdeham. “Tapi, Tuan, apakah Anda seorang kawan? Kekasih yang baru?”

Detektif Marquez menggeleng sambil memasukkan kembali bukunya ke dalam saku.

“Siapa pun Anda, tolong jangan beritahu Nona Goodhouse tentang apa yang kukatakan. Itu hanya pemikiranku saja setelah mengamati. Tapi aku tetap senang dia datang ke mari. Dia beberapa kali meminta kami berfoto dan dia mengunggahnya ke Instagram. Aku menghargai semangatnya.”

Detektif Marquez bangkit dan undur diri.

Pria botak mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Sekali lagi kumohon tidak perlu membahas semuanya dengan Nona Goodhouse. Seharusnya penting bagiku menjaga kerahasiaan anggota. Maafkan aku sedikit cerewet hari ini.”

“Tuan Orreiro, terima kasih atas semuanya. Aku menjamin tidak akan mengatakan apa pun kepada Nona Goodhouse karena dia tewas di apartemennya minggu lalu.”

*

“Jadi, sudah seberapa banyak yang kalian tahu tentang Noella Goodhouse?”

Detektif Marquez melipat tangan di depan dada, menatap lurus mantan kekasih Nona Goodhouse. “Akan lebih banyak jika kau bermurah hati menceritakannya pada kami.”

Tidak ada yang lucu, tetapi pria itu tertawa.

Kening Detektif Marquez berkerut tetapi dia memilih menunggu mantan kekasih korban itu berbicara.

“Noella benar-benar gila. Atau … kau punya istilah lain untuk perempuan yang hanya hidup dalam halusinasi.”

“Langsung pada poinnya saja, Tuan.”

”Tuan Detektif, orang-orang hanya tahu apa yang Noella ingin orang tahu. Tak ada yang benar-benar tahu selain dirinya sendiri, dan tentu Tuhan kalau kau percaya itu,” katanya sambil mengacungkan jari telunjuk ke langit-langit ruang interogasi.

Detektif Marquez mulai kesal. Rahangnya mengeras mengirim pertanda bahwa dia tidak sedang main-main.

“Baiklah, Detektif. Aku minta maaf tidak bisa membantumu. Mungkin kau bisa membuka snapchat atau Instagram saja.”

Ucapan mantan kekasih korban itu membuat Detektif Marquez makin kesal. Sayangnya, dia tak menemukan sedikit pun tanda kebohongan.

“Kalau begitu, perlihatkan padaku. Sesuatu yang kau maksud tadi.” Detektif Marquez menyandarkan punggungnya di kursi, mencoba menunjukkan sikap rileks.

“Ah maaf aku tidak tahu, aku juga tidak melakukan instagram dan semacamnya. Itulah mengapa dia tidak tahan denganku.”

“Siapa? Nona Noella Goodhouse? Tapi kau mencintainya, ‘kan?”

Pria itu tertawa kecil. “Tapi aku tidak suka media sosial.”

Detektif Marquez menghela napas panjang, mematikan alat perekam suara di hadapannya, dan menutup buku catatan. Untuk pertama kali dalam kariernya, dia berpikir mungkin perlu memasang media sosial di ponsel.

“Oh, ya, Detektif Marquez, tentang catatan yang kau bacakan. Selamanya, hidup tidak akan pernah sempurna bagi Noella. Tidak cukup dengan terlihat sebagai anggota klub berkuda elit, menjadi anggota klub tango VIP di tengah kota, atau bagian dari klub baca akhir pekan bersama orang-orang cerdas universitas. Apa saja yang terdengar hebat itu tidak pernah cukup.”

Detektif Marquez bergeming. Pikirannya berputar-putar di terowongan sempit penyelidikan itu. Dan pada akhirnya dia hanya punya sebuah catatan terakhir dan mantan kekasih yang meracau tentang instagram.

“Sesungguhnya kau akan sulit mendapat informasi dari mereka yang kau pikir teman Noella. Dia tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu dengan siapa pun selain dunia yang diciptakannya, Detektif.” Pria itu melanjutkan ocehannya yang mungkin sudah terpendam lama. “Jika akhirnya dia lelah mengejar kesemuan itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Detektif Marquez masih terdiam. Dia mulai merasakan nyeri di perutnya. Mungkin karena kopi, mungkin juga karena kasus yang sudah membuang waktunya.

Dalam ruang interogasi yang makin hening, mantan kekasih Noella Goodhouse memandang lurus Marquez dan berkata dengan suara serak, “Kau terus bertanya tentang dia, Detektif, tapi kau sendiri, apa yang sebenarnya kau tahu tentangnya?”  Lantas, mantan kekasih Noella itu meletakkan kedua tangannya di meja interogasi, perlahan memajukan tubuhnya. “Aku penasaran. Apakah sekarang masih ada yang ingin kau tahu tentang Nona Goodhouse?” Pertanyaan itu yang menggantung di udara, lebih menusuk daripada jawaban apa pun.

Sinjai, 19 September 2025

____________________________________________

Aprilia Nurmala Dewi, tinggal di Sinjai, Sulawesi Selatan. Abdi negara yang senang menulis. Dapat ditemui di Facebook: Aprilia Nurmala Dewi dan Instagram: aprilianurmaladewi

Cerpen

Di Sebuah Kafe Tempat Aku Menemukan Kekasihku

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

Dingin menyusup masuk melewati pori-pori kulitku, jauh ke dalam hingga ke tulang-tulang. Bukan dingin seperti apa yang kurasa saat kubuka jendela pada suatu pagi di musim dingin di Interlaken. Bukan, bukan seperti itu. Dingin itu mencekam. Dingin yang hanya kurasakan saat kuinjakkan kaki di kafe itu. Sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku.

***

Kekasihku bukanlah jenis perempuan yang membuat laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan pula seseorang yang pada umumnya ingin ditunggu di ujung altar pernikahan. Namun, menurutku, saat dia menyesap vodka-nya, lalu mengisap rokok dalam-dalam, kemudian membuang pandangan jauh ke Danau Thun, dia begitu menarik.

Pemandangan itu kudapati saat pertama berkunjung ke sebuah kafe bernuansa kastil yang muram. Kehadirannya membuat hari-hari di musim dingin itu lebih cerah. Dia akan datang ke kafe itu pada sore hari mengenakan mantel hitam dan duduk di tempat yang sama seolah-olah meja di sudut ruangan itu memang hanya untuknya. Pandangan kosongnya membuat dia terlihat putus asa.

Kami adalah dua orang putus asa yang akhirnya saling mengisi.

Dia pernah mengatakan ingin mengakhiri hidupnya.

“Mungkin sebaiknya aku mati di ujung sebuah pisau,” katanya pada suatu malam saat kami berbaring sambil memandangi api yang menjilat kayu perapian di rumahku.

Dia bilang dia mengasah sebuah pisau setiap saat, sama halnya dengan waktu yang mengasah lukanya. Kian hari kian menyakitkan. Sebuah luka entah apa. Dia tidak mengatakannya kepadaku.

Sementara aku kembali ke Interlaken setelah perpisahan yang menyakitkan dengan seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang tidak menyesap vodka dan tidak merokok. Dia hanya berselingkuh.

Sejak perpisahan itu, aku pikir, hubungan dengan perempuan hanyalah kesia-siaan. Namun, godaan untuk melakukannya kembali baru muncul ketika melihat kekasihku di kafe.

***

Pada musim semi, saat air tenang Danau Thun yang kehijauan memantulkan sinar matahari dan bunga-bunga di tepiannya tumbuh dengan indah, aku menghadiahinya sebuah gaun berwarna merah muda. Aku pikir dia harus lebih bersemangat.

Aku bosan melihatnya mengenakan pakaian hitam dan bermuram hati. Ya, aku berhasil membuatnya lebih banyak tersenyum. Maka demi membuat kekasihku tersenyum, aku menambah hadiah. Gaun merah muda terasa kurang.

Dari satu gaun ke gaun lain. Hingga kemudian memberinya perhiasan terdengar lebih memuaskan. Tidak hanya aku, tentu dia juga. Aku bisa melihat binar matanya. Semangat hidup yang kembali menyala dan membuatnya melupakan mati di ujung pisau.

Dari satu perhiasan ke perhiasan lain meningkat menjadi ingin memberikannya apa saja agar lebih sering tersenyum. Seolah-olah semangat hidupku datang dari senyumnya. Aku kembali tergila-gila kepada seorang perempuan.

Sayangnya, entah mulai kapan aku merasa dia menjadi lebih haus. Sialnya, dia menjadi sangat haus dan aku menjadi sangat lelah.

Musim semi berganti musim panas. Musim panas berganti musim gugur. Dan, pada suatu hari saat tanaman anggur menguning, jalan-jalan dipenuhi daun berguguran, kami terserang rasa bosan. Dia mulai merengek untuk sesuatu yang tidak jelas. Aku tidak tahu apakah itu terlalu cepat.

Makin hari dia makin haus dan aku merasa bahwa lubang dalam dirinya yang perlu kuisi hanyalah keinginannya terhadap hadiah-hadiah yang kupersembahkan. Kami tidak lagi hangat satu sama lain.

***

Kekasihku masih menyesap vodka dan mengisap rokoknya dalam-dalam. Namun, kali ini, bagiku dia tidak semenarik musim dingin yang lalu. Aku berpikir itu sangat jahat, perasaanku sangat jahat hingga suatu hari dia membanting pintu rumahku dengan sekuat tenaga, sekuat rasa bosannya. Setelah hari itu, dia tidak lagi datang ke kafe atau ke rumahku. Aku melihatnya di tempat lain bersama pria yang lain.

Perempuan yang menyesap vodka atau tidak, sama saja. Mereka mengkhianatiku, mengkhianati uang yang sudah kuhabiskan, mengkhianati waktu yang sudah kuberikan, dan tentu saja mengkhianati perasaan yang kupikir itu cinta.

Musim dingin kali ini terasa lebih dingin meski salju tidak setebal biasanya. Aku baru merasa hangat saat membayangkan wajahnya yang mencebik dingin. Wajah dingin yang pura-pura tidak mengenaliku saat kami berpapasan.

“Bukankah dia kekasihmu, Tom? Mengapa dia tidak menyapamu? Lalu, bukankah pria yang bersamanya itu tidak terlihat seperti seorang kerabat?”

Seorang kawan yang bersama denganku berpapasan dengannya pun merasa janggal. Terlalu janggal hingga aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kawanku itu.

Rasa bosan yang bersarang di jiwaku pun rupanya mulai menjelma benci. Maka kuputuskan untuk memenuhi salah satu keinginannya untuk terakhir kali.

***

Aku meminta dia datang ke kafe itu sekali lagi. Kuiming-imingi dia dengan mengatakan akan kupenuhi sebuah permohonannya sejak lama. Dasar rakus, dia tidak menolak. Aku bahkan mendengar desahan menggoda di ujung kalimatnya sebelum menutup telepon.

Darahku mendidih melihatnya datang menghampiri tanpa rasa bersalah. Hal itu membuat suhu tubuhku memanas. Kukatakan bahwa aku ingin dia memohon terlebih dahulu. Sekali lagi, dia tidak menolak. Maka kukeluarkan pisau, yang telah kuasah semalam, dari sebuah kantong berbahan kulit rusa .

Akhirnya kulihat lagi bagaimana dia memohon. Memohon-mohon sebelum kukabulkan satu hal yang pernah menjadi keinginannya. Kuselesaikan tugasku dengan cepat. Bahkan tidak kuberi dia kesempatan sedetik pun untuk menyesali rintihan permohonannya yang memuakkan.

Pertemuan itu adalah yang terakhir. Setelah itu aku tidak lagi menginjakkan kaki di sana. Di sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku. Diam, dingin, dan membeku.***


Aprilia Nurmala Dewi, ibu dua putra spesial sekaligus abdi negara yang senang menulis. Lahir di Ujung Pandang dan berdomisili di Sinjai.