
Cerpen Aprilia Nurmala Dewi
Dingin menyusup masuk melewati pori-pori kulitku, jauh ke dalam hingga ke tulang-tulang. Bukan dingin seperti apa yang kurasa saat kubuka jendela pada suatu pagi di musim dingin di Interlaken. Bukan, bukan seperti itu. Dingin itu mencekam. Dingin yang hanya kurasakan saat kuinjakkan kaki di kafe itu. Sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku.
***
Kekasihku bukanlah jenis perempuan yang membuat laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan pula seseorang yang pada umumnya ingin ditunggu di ujung altar pernikahan. Namun, menurutku, saat dia menyesap vodka-nya, lalu mengisap rokok dalam-dalam, kemudian membuang pandangan jauh ke Danau Thun, dia begitu menarik.
Pemandangan itu kudapati saat pertama berkunjung ke sebuah kafe bernuansa kastil yang muram. Kehadirannya membuat hari-hari di musim dingin itu lebih cerah. Dia akan datang ke kafe itu pada sore hari mengenakan mantel hitam dan duduk di tempat yang sama seolah-olah meja di sudut ruangan itu memang hanya untuknya. Pandangan kosongnya membuat dia terlihat putus asa.
Kami adalah dua orang putus asa yang akhirnya saling mengisi.
Dia pernah mengatakan ingin mengakhiri hidupnya.
“Mungkin sebaiknya aku mati di ujung sebuah pisau,” katanya pada suatu malam saat kami berbaring sambil memandangi api yang menjilat kayu perapian di rumahku.
Dia bilang dia mengasah sebuah pisau setiap saat, sama halnya dengan waktu yang mengasah lukanya. Kian hari kian menyakitkan. Sebuah luka entah apa. Dia tidak mengatakannya kepadaku.
Sementara aku kembali ke Interlaken setelah perpisahan yang menyakitkan dengan seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang tidak menyesap vodka dan tidak merokok. Dia hanya berselingkuh.
Sejak perpisahan itu, aku pikir, hubungan dengan perempuan hanyalah kesia-siaan. Namun, godaan untuk melakukannya kembali baru muncul ketika melihat kekasihku di kafe.
***
Pada musim semi, saat air tenang Danau Thun yang kehijauan memantulkan sinar matahari dan bunga-bunga di tepiannya tumbuh dengan indah, aku menghadiahinya sebuah gaun berwarna merah muda. Aku pikir dia harus lebih bersemangat.
Aku bosan melihatnya mengenakan pakaian hitam dan bermuram hati. Ya, aku berhasil membuatnya lebih banyak tersenyum. Maka demi membuat kekasihku tersenyum, aku menambah hadiah. Gaun merah muda terasa kurang.
Dari satu gaun ke gaun lain. Hingga kemudian memberinya perhiasan terdengar lebih memuaskan. Tidak hanya aku, tentu dia juga. Aku bisa melihat binar matanya. Semangat hidup yang kembali menyala dan membuatnya melupakan mati di ujung pisau.
Dari satu perhiasan ke perhiasan lain meningkat menjadi ingin memberikannya apa saja agar lebih sering tersenyum. Seolah-olah semangat hidupku datang dari senyumnya. Aku kembali tergila-gila kepada seorang perempuan.
Sayangnya, entah mulai kapan aku merasa dia menjadi lebih haus. Sialnya, dia menjadi sangat haus dan aku menjadi sangat lelah.
Musim semi berganti musim panas. Musim panas berganti musim gugur. Dan, pada suatu hari saat tanaman anggur menguning, jalan-jalan dipenuhi daun berguguran, kami terserang rasa bosan. Dia mulai merengek untuk sesuatu yang tidak jelas. Aku tidak tahu apakah itu terlalu cepat.
Makin hari dia makin haus dan aku merasa bahwa lubang dalam dirinya yang perlu kuisi hanyalah keinginannya terhadap hadiah-hadiah yang kupersembahkan. Kami tidak lagi hangat satu sama lain.
***
Kekasihku masih menyesap vodka dan mengisap rokoknya dalam-dalam. Namun, kali ini, bagiku dia tidak semenarik musim dingin yang lalu. Aku berpikir itu sangat jahat, perasaanku sangat jahat hingga suatu hari dia membanting pintu rumahku dengan sekuat tenaga, sekuat rasa bosannya. Setelah hari itu, dia tidak lagi datang ke kafe atau ke rumahku. Aku melihatnya di tempat lain bersama pria yang lain.
Perempuan yang menyesap vodka atau tidak, sama saja. Mereka mengkhianatiku, mengkhianati uang yang sudah kuhabiskan, mengkhianati waktu yang sudah kuberikan, dan tentu saja mengkhianati perasaan yang kupikir itu cinta.
Musim dingin kali ini terasa lebih dingin meski salju tidak setebal biasanya. Aku baru merasa hangat saat membayangkan wajahnya yang mencebik dingin. Wajah dingin yang pura-pura tidak mengenaliku saat kami berpapasan.
“Bukankah dia kekasihmu, Tom? Mengapa dia tidak menyapamu? Lalu, bukankah pria yang bersamanya itu tidak terlihat seperti seorang kerabat?”
Seorang kawan yang bersama denganku berpapasan dengannya pun merasa janggal. Terlalu janggal hingga aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kawanku itu.
Rasa bosan yang bersarang di jiwaku pun rupanya mulai menjelma benci. Maka kuputuskan untuk memenuhi salah satu keinginannya untuk terakhir kali.
***
Aku meminta dia datang ke kafe itu sekali lagi. Kuiming-imingi dia dengan mengatakan akan kupenuhi sebuah permohonannya sejak lama. Dasar rakus, dia tidak menolak. Aku bahkan mendengar desahan menggoda di ujung kalimatnya sebelum menutup telepon.
Darahku mendidih melihatnya datang menghampiri tanpa rasa bersalah. Hal itu membuat suhu tubuhku memanas. Kukatakan bahwa aku ingin dia memohon terlebih dahulu. Sekali lagi, dia tidak menolak. Maka kukeluarkan pisau, yang telah kuasah semalam, dari sebuah kantong berbahan kulit rusa .
Akhirnya kulihat lagi bagaimana dia memohon. Memohon-mohon sebelum kukabulkan satu hal yang pernah menjadi keinginannya. Kuselesaikan tugasku dengan cepat. Bahkan tidak kuberi dia kesempatan sedetik pun untuk menyesali rintihan permohonannya yang memuakkan.
Pertemuan itu adalah yang terakhir. Setelah itu aku tidak lagi menginjakkan kaki di sana. Di sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku. Diam, dingin, dan membeku.***

Aprilia Nurmala Dewi, ibu dua putra spesial sekaligus abdi negara yang senang menulis. Lahir di Ujung Pandang dan berdomisili di Sinjai.
