Katalog

Ragam

MEJA DAN HIBURAN

Yang bergerak mulai iseng. Aku menghampiri dosen dan para mahasiswa. Saling beri senyum dan mendoakan. Beberapa bulan yang lalu, aku memberi kuliah umum di Universitas Pekalongan: berakibat agak akrab dengan dosen dan mahasiswa. Pertemuan dalam acara Prasidatama membuat kami seperti mau membuat janji menggerakkan sastra sampai berkeringat dan kelelahan.

Buktinya: aku, dosen, dan mahasiswa berfoto bersama. Yang difoto adalah sepatu kami. Sengaja wajah tidak perlu difoto. Sepatu-sepatu itu lebih penting, yang mengartikan bergerak. Pertemuan sepatu, pertemuan saat para pengarang di Jawa Tengah sudah menunaikan janji bersastra.

Hari mau siang. Aku mulai merasakan bosan. Yang aku lakukan adalah menguji kemampuan berhitung. Berdasarkan pandangan mata, aku menghitung jumlah meja bundar: sembilan. Meja bundar dikelilingi kursi-kursi. Ada yang berbeda. Di meja bundar untuk tamu dan juri, ada piring yang memamerkan pisang, anggur, dan jeruk. Di meja-meja lain, aku tidak menemukannya. Aku berhasil mendapatkan pisang. Jeruk dan anggur cepat dihabiskan teman-teman yang tidak tega menyia-nyiakannya.

Siang itu ada jajanan, minuman, dan buah. Yang tidak boleh dilupakan: beragam tanaman berada di depan panggung. Gedung yang dingin dan sorot lampu yang menghibur. Di luar, panas dan panas dan panas. Maka, berada di dalam ruangan itu keselamatan dari gerah.

Para pengarang tampak saling bicara, bergantian berfoto. Mereka mungkin sudah bosan, merasa waktu bergerak lambat untuk pengumuman para peraih penghargaan Prasidatama. Aku santai saja.

Di panggung, hiburan-hiburan terus disajikan. Tata suara dan tata cahaya cukup memukau. Aku sedikit menikmatinya. Yang aku perlukan adalah membuat percakapan-percakapan sejenak dengan beberapa orang. Aku tidak betah menonton semua hiburan.

Yang mengejutkan saat tiga penyanyi di panggung bergantian membawakan lagu-lagu Nusantara. Musik yang terdengar mengajak orang-orang ikut bernyanyi atau berjoget. Di dekat pintu masuk, aku melihat empat perempuan berjoget. Mereka tertawa dan terhibur. Setahuku mereka adalah para pegawai Balai Bahasa Jawa Tengah. Berjoget membuat mereka senang setelah lelah dan berdebar mengurus acara. Mereka yang bertanggung jawab. Jadi, berjoget sebentar dan tertawa adalah selingan yang menguatkan. Aku tidak ikut berjoget. Malu. Sejak dulu, aku memang pemalu.  

Di Hotel Nirwana, aku mulai berpikiran: acara Prasidatama adalah hiburan-hiburan. Apa aku terlalu menginginkan hiburan? Di ruangan, aku memilih melihat para pengarang Jawa Tengah yang menjadi kaum tabah untuk sampai memegang piala dan piagam. [] Kabut

Ragam

NARUTO DAN PIDATO

Orang-orang sarapan dan omong-omong. Aku ikut menikmati nasi, minuman, buah, dan tempe. Pagi tidak ingin tergesa. Aku masih kepikiran nasib Yuditeha. Apakah ia sembuh? Apakah ia makin tak berdaya?

Di luar, orang-orang duduk di pinggir kolam. Mereka dalam percakapan yang seru. Aku ikut duduk sebentar. Di seberang, ada kesibukan dan suara-suara keras. Di situlah, tempat untuk acara Prasidatama. Beberapa orang berpenampilan rapi berada di lokasi acara. Senang melihat mereka sudah mandi dan memilih pakaian yang terbaik. Aku belum mandi tapi tidak mungkin terjun ke kolam dan sabunan. Sejenak bersama tiga orang, aku sempat bercakap masalah bahasa dan sastra. Obrolan tanpa kopi dan rokok.

Kembali ke kamar. Menit-menit sebelum mandi, aku masih mendapat beberapa halaman buku berjudul Cakap Kecap (2004). Buku mengenai sejarah dan perkembangan periklanan di Indonesia. Di situ, aku tidak menemukan ingatan atau pembahasan iklan-iklan buku sastra. Buku tidak menjanjikan lengkap. Namun, aku mendapat panggilan ulang untuk merampungkan kliping iklan-iklan buku sastra yang sudah aku kumpulkan, sejak beberapa tahun yang lalu.

Datang ke tempat acara. Para tamu duduk tidak tenang. Mereka omong-omong, berfoto, dan makan. Di panggung, aku kaget melihat Naruto berjoget. Ia tampil bersama tokoh-tokoh Nusantara. Panggung sudah meriah dengan Naruto, yang nantinya disusul kehadiran para pengarang sakti di Jawa Tengah. Mereka tidak usah berjoget. Naruto dan teman-temannya itu menghibur agar yang hadir bergairah, tidak diserang bosan dan mengantuk.

Di panggung, aku melihat gong. Benda yang masih seperti dulu: digunakan dalam pembukaan acara secara resmi. Aku sudah jemu. Membayangkan saja ada cara dan benda berbeda dalam membuka acara resmi. Aku penasaran dengan pemukulnya. Tibalah di meja yang berisi tumpukan piagam dan jejeran piala Prasidatama. Pemukul gong itu berhiaskan kembang melati. Wangi. Wangi. Wangi. Inginku, Senin, 25 September 2023, wangi oleh kebahagiaan para pengarang.

Panggung menjadi pusat. Aku kadang mengalihkan pandangan, tidak mau selalu melihat panggung. Aku bergerak semaunya meski dilihat dan diperingatkan panitia. Jika hanya duduk, tubuhku tidak beres dan waktuku sia-sia. Bergerak saja, bertemu orang-orang dan bicara sembarangan. Yang jelas, panggung tetap ramai.

Selain hiburan, ada tokoh-tokoh yang berpidato. Mereka pasti terhormat, memiliki predikat rektor dan kepala. Kehadiran keduanya di panggung mengesahkan acara yang diadakan beberapa lembaga, yang terpenting: Balai Bahasa Jawa Tengah dan Universitas Pekalongan. Aku tidak menyimak semua isi pidato. Yang satu berpidato tentang bahasa. Yang satu menyampaikan kerja-kerja kebahasaan dan kesusastraan. Seorang tokoh menaruh bolpoin biru di saku baju. Seorang tokoh merasa mimbarnya ketinggian. Aku memandang dari kejauhan.

Akhirnya, gong dipukul. Pembukaan terjadi diringi tepuk tangan. Para pejabat dan beberapa orang berdiri di panggung. Dua belas pemotret di depan panggung. Pemandangan cukup indah. [] Kabut

Puisi

Puisi Lailah Nurdiana

Tak Ada Pintu Setelah yang Ke 28

:matroni moserang

Setelah menyudahi

Huruf-huruf dengan gelombangnya masing-masing

Tak ada pintu lain

Selain semua yang sudah tertutup

Dengan knop yang terkatup

Perjumpaan rasa dan samudera

Berada di titik paling terang

Antara pertemuan gelombang dan puisi

Kuharap tak ada pintu lain

Di mana-mana, kecuali pintu kembali

Ke puisi dan alam imaji

: pertemuan kembali, tentang pisah

  Yang secara perlahan terbaca

Pangabasen, 2023


Kata Si Penyair

/I/ lantas apa selain kata

    Yang akan menciptakan dingin

    Menjadi hangat dalam tulisan

/II/ sedangkan kalimat

     Dapat Menafkahi hidup

     Di saat surat-surat dari pejabat

     Tak ada yang menyokong tenagaku

/III/ haruskah bait ini disia-siakan

       Untuk semua andai-andai

        tanpa ada bait yang terlahir

      Dari metafora mimpi malam ini

       Malam sebelumnya dan selanjutnya

    :Maka si penyair

     Berada pada pilihan

    Yang tak pernah ada dunianya

Pamgabasen 2023


Hakikat Pertemuan di Dhamar Korong

Di tengah penyair berkepala puisi

Kita mendiamkan diri

Dengan tubuh yang hilang kata

Hanya mengunci tatap yang menggigil

Di lautan yang sama-sama pasang

Di mata kita.

Tanpa mereka tahu,

Kita dalah perjanjian yang ingkar

Nyeri yang bertemu untuk sebuah sembuh yang gagal

Emtah kita sudah sama-sama melupakan

Atau memperbaiki dengan sebuah perdebatan

(dalam batin kita yang masih sama lukanya)

Dan di bagian mana kita bahagia?

: ya! Saat dunia masih setia

  Dengan kepalanya yang sepi

20 februari 2023


Kembali yang Hampir Sama

Dari sebuah jamuan tak diundang

Kita berada di atas alas hitam

Dengan puisi yang melatarbelakangi pertemuan

Tanpa sengaja, tanpa ada kontak kata

Kita sama-sama menyepikan ramai

Merangkai ucapan, hingga mengambang

Menjadi awan yang menggumpal  di

Kepala kita masing-masing

Masihkah kau memiliki peran yang sama

Di dunia baruku?

21 februari 2023


Kepada yang Khianat

Kepada lambungmu yang menyimpanku

Menjadi problematik hidup yang tandus

Aku menjadi liar dalam laut

Yang segalanya tawar,

(sebab ucapan yang rahasia di balik mata bumi)

Menjelma bayang di ruang kosong

Membawa matamu yang tanpa tubuh

Dari balik jendela yang terkatup

Oh, pemilik rupa-rupa

Dan kaubiarakan segalanya hancur

Menjadi gemeretak waktu yahng tak terkendali.

Jika diriku api di dadamu,

Maka jadikan aku kobar paling bara,

Yang setelah padam

Otakmu tak dapat melahirkanku Kembali

Dalam pujian yang kau haturkan pada Tuhan.

Ruang Tengah, 2023


Selepas Menidurkanmu

Setelah kususun bantal-bantal

Di kepalaku yang kosong

Kutimang kau di depan wajahku yang pucat

Sesekali termenung,

Dengan bibirku yang gemetar.

Harapan semua tanggal

Sisa tubuhmu yang tak bernyawa, Kaku dalam rengkuhanku.

Baju-baju yang kupakai

Sudah serupa daun yang lusuh

Di tanah yang tanpa wajah

Hai malaikat kecilku

Kulepas tubuhmu Bersama maut

Dengan Nasib yang abadi

:dan selepas menidurkanmu

Tak ayal mimpiku kambuh

Tentang kau yang pergi

Saat jam berkelana

Tak sesuai keinginanannya sendiri.

Gapura, 2023


Lailah Nurdiana, lahir di Sumenep juruan laok batu putih, sekarang masih duduk di bangku Ma Al-Huda, merupakan santri aktif di PP Miftahul Huda Gapura Timur, penggiat sastra di komonitas sanggar 7 KEJORA dan komunitas sanggar Dhamar Korong, mulai menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Huda II. Karyanya bisa ditemui di media nasional dan lokal. Email: [email protected] dan Instagram:  @_xdynaaa

Ragam

PENGARANG DAN PENERBIT

Hari pun berganti. Senin, 25 September 2023, telah datang tanpa jadwal pekerjaan. Aku yang membuka mata, aku yang menantikan peristiwa. Gelap masih milik Pekalongan. Lampu-lampu menyala, tidak semua terang. Aku belum menerangkan Senin.

Bekal dari rumah dinikmati: kofemik. Roti masih tersedia. Menit-menit menjelang matahari terbit, kehangatan sudah terasa. Aku melengkapinya dengan membaca Das Kapital: Kisah Sebuah Buku yang Mengubah Dunia (2012) garapan  Francis Wheen. Buku kecil dan tipis yang akan turut campur dalam biografi Senin. Buku yang tak ada urusannya dengan kepergianku ke Pekalongan tapi mengharuskan aku membacanya. Dulu, aku membaca Buku-Buku jang Merobah Dunia, hasil terjemahan Asrul Sani, masa 1950-an. Das Kapital terakui mengubah dunia, berpengaruh dalam arus sastra dunia.

Bagiku, Karl Marx tak melulu ekonomi, filsafat, seni, dan sejarah. Ia pun menggerakkan sastra dengan segala janji, kemiskinan, bualan, kemarahan, dan keterasingan. Nama teringat bagi pengarang-pengarang tenar di dunia. Yang membaca buku-buku susunan Karl Marx turut menentukan selera mereka menggubah puisi, cerita pendek, dan novel.

Yang perlu dikutip: “Ambisi Marx yang paling awal adalah sastra. Sebagai mahasiswa hukum di Universitas Berlin, ia menulis sebuah buku puisi, darma bersyair, bahkan novel berjudul Scorpion dan Felix, yang ditulis bergegas dalam kondisi mabuk imajinasi di bawah pesona Tristram Shandy gubahan Laurence Sterne.” Jika dulu ia terus menggubah sastra, nama-nama tenar abad XX bakal sulit bermunculan. Di Hotel Nirwana, Seninku bersama Karl Marx, kofemik, dan roti seharga dua ribu rupiah.

Ingat lelaki berjenggot lebat, ingat sastra di Indonesia. Aku kadang penasaran dengan babak sastra di Indonesia, 1950-an dan 1960-an. Penasaran itu terjawab saat membaca buku dan majalah lama. Kini, keinginan mengetahui silam itu agak redup. Sastra di Indonesia abad XXI tenang-tenang saja. Orang-orang tetap menulis cerita pendek, puisi, dan novel. Gramedia Pustaka Utama, Kepustakaan Populer Gramedia, Marjin Kiri, Bentang, Banana, Basabasi, dan JBS terus menerbitkan buku-buku sastra. Buku-buku baru berada di toko buku dan para pedagang di media sosial. Aku melihatnya saja. Aku dikutuk harga. Aku sedang berutang hidup, belum ingin menumpuk utang untuk buku-buku baru.

Senin, 25 September 2023, aku bakal menyaksikan perayaan dan penghormatan sastra dilakukan Balai Bahasa Jawa Tengah. Institusi itu membuat penghargaan memuat ketentuan tentang penerbit. Jadi, buku-buku dinilai juri diharuskan terbit di Jawa Tengah. Pengecualian adalah novel berbahasa Jawa. Aku berkenalan dengan nama-nama penerbit berada di pelbagai kota di Jawa Tengah: Wonosobo, Solo, Demak, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Semarang, Blora, dan lain-lain. Daftar nama penerbit itu wajib dicatat dalam perkembangan sastra di Jawa Tengah meski sulit bersaing di pasar buku nasional.

Prasidatama itu pengarang, buku, dan penerbit. Hal paling rumit itu penerbit. Di Jawa Tengah, banyak pengarang kondang. Buku-buku mereka sering diterbitkan di penerbit-penerbit beralamat di Jakarta, Jogjakarta, Bandung, dan lain-lain. Buku-buku mudah diperoleh di toko buku dan situs-situs perniagaan buku. Berbeda nasib dengan penerbit-penerbit mempersembahkan buku berkiatan ikhtiar sastra dan penghargaan Prasidatama. Buku-buku itu tidak mudah diperoleh. Penerbit-penerbit pun sulit berjanji menerbitkan dalam jumlah ratusan atau ribuan, yang membuktikan gairah sastra tak pernah padam. Aku beruntung membaca puluhan buku dalam pamrih Prasidatama. 

Senin mau bermatahari. Aku menaruh Das Kapital: Kisah Sebuah Buku yang Mengubah Dunia di bawah televisi. Aku tidak mau Senin hanya milik Karl Marx. [] Kabut

Ragam

KAMAR TIDUR

Sejak dulu, aku mengenal Yuditeha bukan lelaki penggemar tidur atau penidur sejati. Mata itu biasa digunakan bersastra, selain melihat rambut saat mencukur. Mata lelaki sulit gemuk itu menjadikan obrolan sastra dan belajar sastra memicu gairah-gairah tak biasa. Yuditeha, pengarang tenar di Indonesia. Ia mudah dilekati Kamar Kata.

Sejak masuk gerbong, ia adalah pesakitan. Aku, Panji Sukma, dan Indah Darmastuti merasa kasihan tapi tidak bisa menyembuhkannya. Ia yang menanggung derita. Dugaanku: sastra mengakibatkan sakit. Yuditeha yang biasanya suka tersenyum tampak murung dan lelah. Ia sedang tidak berpikiran waras: gerbong dilihatnya sebagai kamar tidur.

Aku sedih dan sedih. Beberapa hari yang lalu, aku seharian bersama Yuditeha. Pagi, kami naik bis Solo-Semarang. Hari penentuan bagi kami selaku juri cerita. Yuditeha lebih terhormat sebagai juru cerita dan juri cerita. Di perjalanan, kami adalah lelaki berkicau. Alamat tujuan adalah Ungaran. Di kantor berurusan bahasa dan sastra, kami hadir untuk penilaian dan penentuan para peraih Prasidatama. Pulang, kami dalam kondisi cukup lelah tapi tetap berkicau. Di menit-menit menuju Terminal Tirtonadi, ia akhirnya tidur. Aku ikhlaskan saja. Ia sudah tua. Raga lelah jawabannya tidur.

Peristiwa yang berbeda. Empat orang berangkat bersama menuju Pekalongan. Yuditeha gagal sebagai pencerita. Yang dialami adalah perjalanan menyakitkan. Kereta api menjadi “kamar tidur” yang bergerak jauh. Duduk dekat jendela, ia memilih tidur. Ia mungkin ingin menengok jendela mimpi agar sakit tidak makin parah.

Tiba di Pekalongan, Indah Darmastuti berkelana duluan. Tiga lelaki menanti pesanan mobil. Kami salah tempat. Berdiri di pinggir jalan yang bising dan semrawut. Kami berdiri dekat tong sampah. Malam yang tidak indah untuk mengakrabi Pekalongan.

Aku menduga saja: Yuditeha yang sulit berdiri tegak ingin lekas berbaring. Ia mustahil berani tidur di jalan beraspal. Inginnya segera sampai hotel. Kami dijanjikan menginap di Hotel Nirwana. Bagi Yuditeha, ia tidak terlalu memikirkan “nirwana” atau sastra.

Kasur! Ia ingin tidur di kasur. Gagal sebagai pencerita, Yuditeha mendambakan menjadi penidur sejati. Pekalongan itu ‘kamar tidur” bagi lelaki yang mengelola Kamar Kata. [] Kabut

Ragam

SASTRA DI BELAKANG

Pada menit-menit menjelang sampai Stasiun Pekalongan, aku berganti pasangan obrolan. Di sebelah kanan, ada tas besar dan Panji Sukma. Ia mungkin lelah dengan telinga yang kedatangan suara-suara dari gawai. Panji kangen suara asli dari lelaki bermulut seribu.

Tiba saatnya, aku dan Panji dalam obrolan dengan suara (makin) keras. Gerbong itu bising! Kami tak mau kalah dalam persaingan suara. Obrolan tak selancar bersama Indah tapi kata-kata lekas berhamburan berharap tidak sia-sia.

Bermula masalah kebudayaan. Obrolan yang menyulitkan meraih hiburan. Kebudayaan itu berat dan pelik. Aku asal mengatakan tentang beragam gagasan kebudayaan di Indonesia berinduk epos atau mitos. Seingatku, para pemikir kebudayaan atau budayawan tak jemu-jemu mengutip epos-epos Mahabharata dan Ramayana. Ada pula yang memerlukan mengajukan mitos-mitos lokal. Semua itu memastikan gagasan dan tafsir kebudayaan dianggap bermutu.

Di sampingku, Panji Sukma belajar kebudayaan secara akademik. Aku ingin ia bisa berceloteh dengan bobot pemikiran 1 ton. Bobot wajib lebih berat dari anting-anting di telinganya.

Berlanjutlah kami bercakap tentang humor dan musik. Pilihan agar dua masalah itu memberi gairah ketimbang raga lelah. Perjalanan bisa menghilangkan gairah jika salah pilih tema percakapan. Seru untuk bertukar kata dengan ingatan humor dan musik. Cara tergampang agar masih ingat Solo, Indonesia, tokoh, buku, dan lain-lain.

Aku berdoa satu detik agar Panji tidak bersumpah mau menjadi pelawak. Cukuplah ia girang di musik digenapi sastra.

Sastra, tema di  belakang meski kami berada di gerdong depan. Panji Sukma, sosok yang tangguh dalam sastra di Indonesia. Pastilah ia sungkan menampilkan kewibawaannya di hadapanku. Yang terpenting mungkin kelakar melindungi diri dengan pernyataan bahwa nasib bersastra ditentukan klenik. Ia sering lempar humor berkaitan Jawa tapi tetap aku “haramkan” menjadi pelawak.

Yang sempat terucap tentang sastra adalah keengganan dan rasa malu Panji bila diundang dalam diskusi-diskusi sastra. Ia mengaku tak banyak berilmu. Namun, ia telanjur kondang dengan novel dan cerita pendek. Inginku, lelaki berambut gondrong dan bertato itu mulai ikhlas dan berkenan memberi kelegaan saat berbaur umat sastra di Indonesia.[] Kabut

Ragam

PENGUMBAR KATA DAN PEMANGKU HELM

Aku dan Indah Darmastuti bukan jenis pendiam. Kami seperti memiliki seribu mulut, yang bisa mengumbar kata-kata tanpa lelah. Di sepanjang perjalanan Solo-Pekalongan, posisi kami memang duduk tapi kata-kata berlarian ke segala arah.

Kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu perjalanan. Tidur itu pilihan terakhir. Yang menjadikan perjalanan dengan kereta kelas ekonomi terhindar dari bosan adalah obrolan. Terjadilah obrolan tanpa terpaan sinar matahari. Di gerbong, kami terlindung dari matahari dan tak ada janji untuk obrolan yang tenggelam meski menjelang senja.

Obrolan yang sembarangan. Kami mula-mula bicara sastra, bergerak jauh ke belasan masalah yang bisa bikin lelah. Jaminan obrolan adalah roti dan serabi. Mulut kami tidak selamanya bertugas untuk omong. Mulut kami pun memerlukan kedatangan makanan-makanan yang lezat.

Sastra (terlalu) penting bagi kami. Padahal, kami kadang pecundang dalam sastra tapi berlagak mengerti. Sastralah yang mempertemukan kami dan mengesahkan kebersamaan.

Mulut kamu cukup melawan suara guncangan gerbong di atas rel. Kota-kota terlewati kami terus sibuk dengan kata-kata. Di depan kami, seorang perempuan mengenakan masker. Duduk kadang gelisah. Di pangkuan, ada helm berukuran besar. Aku memastikan ia tidak bakal menaruhnya di kepala saat masih berstatus penumpang kereta api. Helm ikut bergerak oleh tangan atau guncangan gerbong.

Aku dan Indah mengerti nasib sial dialami perempuan memangku helm. Telinganya pasti kesakitan mendengar mulut kami yang seperti mesin penggilingan padi. Sastra itu seru diobrolkan diimbuhi tema-tema lain tapi tetap mengikutkan limpahan kata dan imajinasi. Obrolan kami adalah neraka bagi penumpang yang bermasker tapi tak menggunakan helm di kepalanya.

Pikirku, ia bisa berlindung dari kutukan obrolan kami dengan mengenakan helm: mata dan telinganya cukup menghindari siksa kata-kata dan tampang kami yang menyebalkan. Namun, ia pasti malu bila nekat mengenakan helm. Dugaanku, ia bisa menyatakan sebal atau marah dengan memukulkan helm ke kepalaku atau perutku. Tindakan yang mudah terjadi.

Aku dan Indah terlihat duduk. Yang terjadi, kami berlari bersama kata-kata. Alamat yang kami datangi memang Pekalongan tapi kamis justru menempuhi jalan (cerita dan biografi) tak ada ujung.

Akhirnya, kami tiba di Stasiun Pekalongan. Legalah si perempuan yang memangku helm. Indah menjadi manusia sopan dengan memberi kata-kata mengandung permintaan maaf dan doa agar penumpang itu berbahagia setelah kami menghilang dari hadapannya. Aku tak menduga melihat Indah yang sopan dan bijak. Gerbong itu telah terbebas dari segala bualan kami yang berceceran di sepanjang rel atau terbawa angin.[] Kabut

Cerpen

Kamar Tanpa Jendela

Cerpen Diana Rustam

Di balik pintu dan jendela yang terkunci, segala sesuatu berbahaya. Mata seorang gadis menatap pintu dan jendela, hanya menatap saja.

***

Ketika Rosane membuka mata, di hadapannya, di atas meja rias, seekor kucing berbulu hitam sedang duduk dengan sepasang mata bulat hijau yang seolah sedang mengawasinya. Gadis itu bertanya-tanya, dari mana kucing itu datang. Mustahil  kucing itu bisa menyelinap masuk sebab pintu dan jendela kamarnya selalu terkunci rapat. Pintu kamarnya hanya dibuka oleh ibunya di waktu-waktu tertentu saja: saat mengantar sarapan pagi, makan siang, makan malam, dan setiap sore ketika pembantu kepercayaan ibunya harus membersihkan kamarnya.

Mata biru gadis itu bertemu pandang dengan mata hijau si Kucing Hitam. Kucing itu tersenyum lebar, menampakkan gigi-gigi taringnya. Seumur hidup, itulah pertama kali ia melihat seekor kucing tersenyum. Senyum itu tidak membuat si Kucing terlihat lucu atau menggemaskan, sebaliknya ia tampak menyeramkan.

Kucing itu melompat dari meja. Berjalan pelan-pelan mendekati ranjang di mana gadis itu berbaring. Ranjangnya terbuat dari kayu yang dipernis, mengilap dan ditudungi kelambu putih. Kasur tempat gadis itu berbaring dilapisi seprai sutera yang sama putih dengan kelambunya. Setelah jaraknya cukup dekat, kucing itu duduk di lantai. “Hei, Rosane, bangun dari sana.” Kucing itu bicara padanya.

Gadis itu tersentak dan terpekik kecil, “Jangan mendekat.” Ia menegakkan tubuhnya kemudian menyurutkan punggung ke sandaran ranjang.

Kucing hitam maju selangkah. “Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

Rosane tidak langsung membalas ucapan kucing hitam, hanya memandanginya dengan pikiran yang dijalari rasa takut.

Kucing hitam menjilati kakinya sebentar, kemudian punggungnya, kemudian ekornya. Usai dari ritual itu, ia mengangkat wajah, mata hijaunya berkedip. “Panggil saja aku Tuan Kacang Polong.”

“Ta-tapi, dari mana kaudatang?”

“Aku tak tahu. Tiba-tiba saja aku ada di sini. Sepertinya kaulah yang menghendaki aku ada di sini. Kau kesepian, bukan? Setiap hari kau hanya melihat tembok dan dinding yang putih ini, hidup yang membosankan. Kukira itulah alasannya.”

Kucing hitam itu naik ke atas ranjang. Ia melepaskan sepasang sarung tangan yang membungkus tangan Rosane dan melucuti masker yang menutupi mulut gadis itu. Tetapi Rosane berusaha mempertahankan sarung tangan dan maskernya. “Jangan menyentuhku! Kau ingin membuatku celaka?”

“Ayo beranjak dari kasur itu dan keluar dari kamar ini.”

“Tidak bisa! Itu akan membuatku sakit!”

“Omong kosong! Kau tidak boleh berbaring di sini terus-menerus dan hanya mengitari kamar ini saja.”

Rosane menggeleng. “Cahaya, udara, air dan segala sesuatu yang ada di luar ruangan ini berbahaya.”

“Seperti itu yang ibumu katakan padamu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu seperti ini selamanya.”

Kucing hitam terus bicara dan mendesak Rosane dengan tatapan yang tajam, sehingga gadis itu menutup telinga dan matanya. Ia berusaha mengabaikan ucapan-ucapan kucing hitam. Tetapi, kucing hitam itu tidak berhenti sampai suara langkah kaki seseorang terdengar dari luar kamar Rosane, dan kucing hitam itu tiba-tiba mengilang.

Kucing itu sudah duduk di meja riasnya setiap pagi, ketika ia membuka mata. Seolah-olah ia menghadapi hari yang sama setiap bangun pagi. Dan semakin ia berusaha mengabaikan keberadaannya, dari hari ke hari ucapan kucing hitam itu semakin gencar di telinganya dan menancap dalam pikirannya. Rosane merasa lelah, dan kemudian tidak bisa lagi menolak ucapan kucing hitam itu. Lantas pada sebuah pagi ketika matahari telah terbit, gadis itu menyerah dan menuruti ucapan kucing hitam. Rosane bangkit, menanggalkan kaos tangan dan masker yang menutup separuh wajahnya.

Mengikuti langkah kucing hitam, Rosane berdiri di depan jendela kamarnya yang tertutup tirai tebal berwarna gelap, sepasang jendela besar di bagian timur kamar itu. Jendela yang selama ini hanya berani dipandanginya saja dari tempat tidur.

“Kau butuh udara segar. Bukalah jendelanya lebar-lebar,” ujar kucing hitam.

Gadis itu ragu-ragu, ada raut kecemasan di wajahnya. Ia memandang kucing hitam untuk menyiratkan bahwa dirinya tidak yakin akan membuka jendela itu. Kucing hitam mendesak dengan suara tegas, “Apa yang kautunggu, Rosane!”

Setelah berdiri beberapa jenak di depan jendela, akhirnya Rosane membuka daun jendela yang bertahun-tahun terkunci. Sinar matahari langsung menabrak wajahnya, mata Rosane seketika silau, seolah sinar matahari menusuk kedua bola mata itu. Kaki Rosane langsung surut selangkah ke belakang, badannya limbung, dan sigap menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangan. Rosane gemetar karena merasa takut.

“Jangan takut, matahari tidak akan melukaimu. Lepaskan tanganmu dan pandanglah matahari itu. Ulurkanlah tanganmu padanya.”

“Itu berbahaya, Tuan Kacang Polong.”

“Bahaya hanya ada di kepalamu saja.”

Meskipun enggan karena dibebani perasaan cemas, Rosane akhirnya menjulurkan tangan ke luar jendela. Gadis itu mengembangkan telapak tangan seperti hendak menadah sinar matahari. Perlahan-lahan, Rosane merasakan hangat sinar matahari pagi menjalari kulitnya. Kulitnya yang pucat menjadi sedikit merona. Rosane membalikkan telapak tangannya, mempersilakan hangat matahari menjilati punggung tangan itu.

“Kau akan terbiasa. Sekarang julurkan kepalamu keluar jendela, hirup udara dalam-dalam, Rosane.”

“Tapi….”

“Udara dari luar tidak akan membunuhmu.”

“Tuan Kacang Polong, bagaimana kalau aku sesak?”

“Itu tidak akan terjadi. Percaya padaku.” Kucing hitam melompat naik ke bingkai jendela, kemudian duduk menghadap keluar. Kucing itu membusungkan dada, menghirup udara banyak-banyak ke paru-paru, kemudian mengembuskannya pelan-pelan sambil mengibas-ngibaskan ekornya.

“Lakukan sekarang. Bukankah matahari yang kautakuti itu tidak membakarmu?”

Mula-mula gadis itu ragu, ia berdiri bagaikan patung dalam waktu yang cukup lama. Kemudian angin yang berembus dari luar menerpa wajahnya, dan menggoyangkan anak rambutnya yang keemasan. Rautnya yang semula tegang, berangsur lembut. Perlahan ia melongok keluar, paru-parunya mengembang. Bersama udara yang masuk ke rongga hidungnya, datang pula aroma yang segar.

“Mawar,” Rosane menggumam.

“Ya, itu mawar. Lihat ke sana, mawar-mawar sedang mekar. Sudah berapa lama, Rosane?”

“Kupikir sejak usiaku sepuluh tahun, Tuan Kacang Polong.”

“Sudah enam tahun. Kebun mawar itu tidak berubah, ia dirawat dengan baik. Sedangkan kau, tumbuh di kamar ini sendiri dalam kesepian.”

“Aku tak bisa dibandingkan dengan mawar itu.”

“Ibumu sudah meracuni pikiranmu. Dia mengurungmu di kamar yang terpencil ini, di lantai tiga yang tidak berpenghuni, karena dia takut terhadap sesuatu yang ada dalam pikirannya sendiri.”

Sayup-sayup suara tapak sepatu yang mengetuk lantai terdengar dari luar kamar, seketika percakapan kucing hitam dan Rosane terhenti, mata mereka saling melempar pandang. Kucing hitam melompat turun. Rosane bersegera menutup jendela dan merapikan tirai.

Lekas-lekas Rosane mengenakan sarung tangan dan maskernya, kemudian berbaring seperti sejak sebelum ia beranjak dari ranjang. Sementara kucing hitam sudah hilang dari pandangannya, entah kemana. “Tuan Kacang Polong!” Rosane memanggil, tetapi tidak ada jawaban dari kucing hitam.

Seorang perempuan paruh baya masuk setelah mengetuk pintu. Perempuan itu, Nyonya Julia, ibu dari Rosane. Nyonya Julia mengenakan gaun hitam dan rambutnya digulung rapi. Ia datang dengan sebuah nampan di tangannya, berisi roti yang sudah diolesi selai dan segelas susu.

“Rosane, waktunya sarapan pagi.”

Nyonya Julia memiliki wajah yang kecil. Air wajahnya tampak selalu tegang, seolah-olah di kepalanya ada banyak hal yang ia pikirkan. Ia berbicara dengan cepat, seakan-seakan ia tidak punya banyak waktu untuk bicara. Dengan pembawaanya yang seperti itu, ia terlihat jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya.

“Habiskan sarapanmu, setelah itu minum vitaminnya.”

Rosane menurunkan masker dan mulai menyantap sarapannya di tempat tidur. Sementara Nyonya Julia, menyiapkan pakaian baru, masker baru dan sarung tangan baru untuk dipakai oleh Rosane setelah mandi pagi. Perlengkapan Rosane telah dipastikan dalam keadaan steril oleh Nyonya Julia.

Setelah semua ritual yang monoton dan membosankan selama bertahun-tahun itu, Rosane kembali ditinggalkan sendirian. Sebelum pergi, Nyonya Julia berpesan, pesan yang diucapkan setiap hari, yang pesan itu diulanginya sampai lebih dari tiga kali. “Jangan pernah mendekati jendela, Rosane. Semua yang ada di luar kamar ini berbahaya.” Ketika bicara, Nyonya Julia mendekatkan wajahnya yang tegang pada Rosane. Kedua tangannya mencengkeram bahu gadis itu. Dan dengan nada yang ditekan sedemikian rupa, ia berkata, “Percayalah pada ibu, dengan penjagaan ibu, kau akan selamat dari semua bahaya.”

Kucing hitam kembali datang ketika Nyonya Julia sudah pergi. “Ibumu sudah gila. Setelah kakakmu meninggal enam tahun lalu, sikapnya semakin buruk. Tidakkah kau merasakannya, Rosane?”

“Mungkin ibuku benar. Kakakku meninggal karena terpapar virus ganas. Virus melayang di udara, kau tidak bisa melihat mereka, sementara mereka bisa masuk ke dalam tubuhmu dengan mudah. Selain itu, di luar sana banyak orang jahat yang tidak tertebak isi hatinya, bisa saja mereka memiliki niat buruk kepada kita, dan menghabisi kita sebelum kita menyadari niat buruknya.”

“Sudah kubilang itu hanya perkataan ibumu. Dia memiliki ketakutan dalam dirinya yang tidak bisa dia kendalikan.”

Mula-mula Rosane menolak semua ucapan kucing hitam, dan tetap meyakini ucapan ibunya sebab dalam dirinya sendiri telah tumbuh kekhawatiran yang sama, meskipun sebenarnya ia merasa kesepian dalam hidupnya yang terkurung. Akan tetapi, setelah beberapa lama, di sebuah pagi setelah sarapan Rosane mulai memikirkan ucapan kucing hitam. “Lalu, apa yang harus aku lakukan, Tuan Kacang Polong?”

“Keluar dari sini. Kau tidak mau hidup sampai tua di kamar yang terkunci ini, kan?”

Rosane mengangguk.

Dan pada sebuah malam, ketika Nyonya Julia datang untuk mengantarkan makan malam ke kamarnya, Rosane mengutarakan keinginannya untuk keluar dari kamar itu. Nyonya Julia terkejut dan berang ketika mendengar permintaan Rosane. Tubuh perempuan itu gemetar hebat, seolah-olah saat itu ia sedang berhadapan dengan sebuah bahaya yang mengancam nyawanya. “Susah payah ibu menjagamu bertahun-tahun, tapi kau malah ingin keluar dan menghancurkan dirimu di luar sana. Apa yang kaupikirkan, Rosane!”

Rosane tersentak dengan bentakan ibunya. Gadis itu tertunduk dengan wajah pasi.

Maka tidak ada yang bisa dilakukan Rosane untuk membebaskan dirinya kungkungan dan keterpencilan hidup, kecuali diam-diam mencuri waktu membuka jendela kamarnya setiap hari, memandangi kebun mawar yang terhampar, merasakan hangat sinar matahari pagi dan menghirup udara segar. Dan pada setiap kesempatan itu, kucing hitam selalu berbisik di telinganya, “Tidakkah kau ingin pergi lebih jauh, Rosane? Melihat lebih banyak? Melompatlah. Di luar sana kau merdeka.”

“Melompatlah, Rosane.”

“Melompatlah.”

***

Nyonya Julia menangkap gelagat Rosane yang tidak biasa. Sering kali dari luar kamar anaknya itu, ia mendengar suara Rosane seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Tetapi, ketika ia masuk memeriksa ke dalam kamar, tidak ada siapa-siapa kecuali Rosane.

Ketakutan Nyonya Julia bertambah, ketika memergoki Rosane berdiri dan bercakap-cakap seorang diri di depan jendela yang terbuka, tanpa masker dan sarung tangannya. Rosane hendak melompat dari jendela. Nyonya Julia panik dan berpikir harus menutup seluruh jendela itu dengan tembok.

Dan, sejak saat itu, tinggalah Rosane di kamar yang tidak lagi memiliki jendela.

Kian hari keadaan Rosane kian memburuk. Rosane mulai membenturkan kepalanya di tembok dan memanggil-manggil seseorang dengan nama yang aneh, “Tuan Kacang Polong.” Sehingga tidak ada cara lain yang dipikirkan Nyonya Julia, kecuali memasung Rosane. Rosane sudah gila, demikian Nyonya Julia meyakini keadaan anaknya.

Makassar, 29 September 2023.


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Ragam

BERKERETA KATA

Pada 1919, Marco Kartodikromo mengisahkan keramaian penumpang, pengantar, dan penjemput di Stasiun Balapan (Solo). Kita mengetahuinya dalam Student Hidjo, cerita berlatar 1913. Yang meramaikan Stasiun Balapan adalah orang-orang Sarekat Islam dan kaum pelesiran. Di Solo, ribuan orang Sarekat Islam mengikuti kongres. Stasiun Balapan menjadi tempat penting selain Sriwedari. Yang berdatangan ke Solo naik kereta api, berlanjut naik kereta berkuda menuju Sriwedari dan Kabangan.

Pada 24 September 2023, para pengarang meninggalkan Solo. Mereka pergi ke Pekalongan. Misi memenuhi undangan pemberian penghargaan Prasidatama oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Titik berangkatnya bukan Stasiun Balapan tapi Stasiun Jebres, stasiun yang tidak disenandungkan Didi Kempot.

Mereka bergerak saat sore yang panas. Sore dengan matahari yang masih garang. Di Stasiun Jebres, mereka menggerakkan kaki-kaki untuk naik ke gerbong dengan percampuran gairah dan sakit. Panji Sukma tampil mirip berandalan, Indah Darmastuti dengan keanggunan, Yuditeha tampak bertubuh kesakitan. Yang dua waras, yang satu sakit.

Mereka bukan tokoh-tokoh dalam novel Marco Kartodikromo. Mereka tidak perlu membawa novel lama untuk makin mengerti dan menikmati (imajinasi) berkereta api. Sore itu tak memungkinkan mereka memanggil masa lalu dan menghidupkan pengarang-pengarang lama. Yang diinginkan adalah duduk bersama orang-orang yang harus terkurung dalam gerbong.

Aku bersama mereka, turut menghuni gerbong bergerak di atas rel. Di gerbong, tak hanya manusia-manusia, Yang tampak adalah tas-tas besar. Banyak yang pergi dengan misi-misi besar. Kami sekadar pergi.

Panji Sukma, Indah Darmastuti, dan Yuditeha tidak perlu membawa tas besar. Mereka hanya membawa beberapa baju ganti dan kata-kata. Mereka itu juru cerita, yang pergi dengan sadar cerita-cerita. Aku menjadi penikmat cerita saja. Pergi bersama mereka itu kehormatan.

Gerbong bergerak, kami duduk. Yuditeha memilih tidur. Di sampingnya, Panji Sukma berusaha tabah dan dipaksa menjadi pendiam. Namun, aku melihatnya mulai menikmati perjalanan dengan pendengaran. Benda-benda kecil di kuping yang berarti mendengarkan lagu-lagu atau ocehan-ocehan bersumber gawai tanpa terdengar para penumpang lain.

Aku duduk di samping Indah Darmastuti. Dua manusia bakal sulit tutup mulut. Suara kereta dipastikan bersaing suara dari mulut. Kami seperti sedang naik “kereta kata”, perlahan meninggalkan sore menuju malam. [] Kabut

Ragam

BUKU DI SEPANJANG JALAN (HIDUP)

Pada mulanya ban bocor. Ban belakang bocor, tanda seru agar membawa ke bengkel. Sepeda motor itu bersamaku menuju rumah tetangga, yang kesehariannya menambal ban dan memperbaiki sepeda motor. Hari menjelang siang. Panas telah kuadrat.

Si tetangga tampak uring-uringan. Ia sedang memperbaiki benda. Gagal. Gagal. Gagal. Aku telanjur bilang ban bocor. Jalan di depan bengkel panas. Si pemilik bengkel pun “panas”. Keterpaksaan menambal ban. Aku duduk berlagak tenang sambil membaca buku berjudul Menulis Itu Indah, buku berisi pengakuan para pengarang tenar di dunia, belum tentu di akhirat.

Kalimat memikat yang minta diingat agar tak ketularan panas jalan dan uring-uringan tukang tambal ban: “Dan, sesuatu yang telah saya lakukan sepanjang hidup dan akan selalu saya lakukan adalah membaca puisi.” Aku pastikan ia membaca puisi. Di akhir kalimat bukan kitab suci tapi puisi. Penulis kalimat bernama Julio Cortazar. Pengarang yang tinggal di negara jauh, bukan hidup di desa tetangga. Pastilah ia terkenal dan berpengaruh, hanya untuk mengatakan sepanjang hidup membaca puisi. Aku juga membaca puisi tapi tidak berani mengaku “selebar hidup”. Pikiran sebalku: “sepanjang hidup” kali “selebar hidup” sama dengan “seluas hidup”.

Penambalan ban sudah selesai. Uang dua belas ribu diserahkan, tambah dua belas ribu lagi untuk bahan bakar. Siang makin panas. Aku pun panas. Pikiranku mengatakan: “Pergilah ke Gladag! Pergilah! Pergilah!” Siang itu, Rabu, 20 September 2023, niatku menjemput tiga anak di sekolah (Abad, Sabda, dan Bait). Masih ada satu jam bila menuruti perintah pikiran. Terbukti, pikiranku sedang bocor. Di saku celana cuma ada sedikit uang tapi berpikiran Gladag (Solo).

Sampai di Gladag. Aku memandangi buku-buku dan majalah-majalah kesepian. Para pedagangnya murung. Beruntunglah ada pohon besar. Pohon untuk berteduh tapi mereka bingung gara-gara nasib yang tak teduh. Aku ikut bingung melihat kesepian dan kemurungan.

Mataku melulu buku. Di depan buku-buku, mengantuk itu haram. Mataku jelalatan, gampang terpikat. Di hitungan menit, aku berhasil menumpuk buku-buku: Menghibur Diri Sampai Mati (Neil Postman), The Book Club: Kisah Lima Wanita (Mary Alice Monroe), Seminar Bahasa Indonesia 1972 (Djajanto Supra dan Anton J Lake), Tata Krama Nasional Indonesia (Oetomo DS), Kisah Seribu Satu Malam (Muhsin Mahadi), Mengungkap Rahasia Al Quran (Allamah MH Thabathaba’i), dan The Subtle Knife (Philip Pullman). Buku yang terakhir itu bagian dari tiga jilid. Sudah cukup lama, aku suka membaca buku-buku garapan Philip Pullman. Di Indonesia, buku-bukunya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. lima Majalah lama ikut ditumpuk: Budaya Jaya, Basis, dan Pembimbing Pembaca. Tumpukan itu dipandangi lama sambil memikirkan jumlah rupiah.    

Buku bisa dibawa pulang jika diperbolehkan utang. Aku menanti pedagang yang sedang menata dan merapikan buku-buku. Wajahnya berkeringat, mata penuh harapan. Beberapa bulan, Gladag sepi pembeli. Orang-orang enggan bertemu buku-buku. Mereka pelit duit. Dugaan lain: mereka tak perlu buku. Hari-hari mereka kemarau bacaan. Hidup tidak harus membaca buku. Mereka tidak wajib membaca puisi sepanjang hidup. Hidup tetap indah tanpa membaca selusin novel. Merekalah yang “selamat” dari kutukan imajinasi.

Penantian itu terjawab. Pedagang sedang baik, membiarkan aku berutang untuk setumpuk buku dan majalah. Beberapa buku sudah pernah aku khatamkan. Niatku, ada buku-buku yang dijual agar mendapat duit. Buku yang ingin lekas dibaca: The Book Club: Kisah Lima Wanita. Di mataku, novel terbitan Violetbooks itu termasuk jenis novel ringan atau menghibur. Membaca novel menghibur itu hak ketimbang merampung novel yang menambahi siksa hidup dan mengingatkan siksa neraka. Aku sadar diri sebagai pembaca bergelimang dosa, pembaca yang susah dapat ampunan Tuhan.

Bergerak ke kios berbeda. Di tumpukan buku anak-anak, aku menemukan tujuh buku apik. Buku dinamakan “Seri Tokoh Ternama” terbitan Elex Media Komputindo. Pastilah buku terjemahan. Seri seperti itu belum dibuat di Indonesia. Aku sudah punya beberapa judul. Yang di depanku: Alfred yang Agung, Beatrix Potter, Anne Frank, Alexander Graham Bell, Dick Whittington, dan Louis Braille. Buku-buku tipis, banyak gambar. Buku-buku yang memukau terbaca oleh anak-anak, termasuk diriku yang berjenggot, berambut gondrong, dan ompong.

Aku menduga kelak bisa menyusun buku penggalan-penggalan biografi para tokoh. Yang ingin aku susun adalah tokoh-tokoh sastra, musik, dan seni rupa. Buku-buku tipis tapi pesimis mendapat pembaca. Tokoh-tokoh penting dan besar di Indonesia masih susah terceritakan kepada anak-anak.

Masih ada beberapa menit di Gladag, sebelum perjalanan menjemput anak-anak yang pulang sekolah. Mataku melihat bundel majalah. Oh, majalah Hai. Majalah remaja masa 1980-an. Ingat majalah Hai, ingat Arswendo Atmowiloto. Sejak lama, aku berniat membuat kiping sastra remaja. Hai wajib menjadi sumber untuk memperoleh cerita dan puisi pantas mendapat komentar-komentar agar tercantum dalam sejarah sastra di Indonesia. Bundel majalah Hai bisa dibayar gara-gara murah.

Pada saat membuka-buka, aku melihat puisi-puisi gubahan Acep Zamzam Noor. Pada suatu masa, ia biasa mendapat sebutan melekat: sastra dan pesantren. Ia lahir dan tumbuh di pesantren, sebelum pergi ke kota-kota dan bergerak ke Eropa. Pulang, ia adalah penggubah puisi dan pelukis. Acep Zamzam Noor saat masih muda rajin menulis puisi dimuat di majalah Hai dan pelbagai majalah. Ia mulai sodorkan hal-hal bercap religius.

Setahun lalu, aku bertemu dan bercakap dengan Acep Zamzam Noor di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Bukan pertemuan pertama. Di sana, obrolan mudah akrab gara-gara masalah dokumentasi. Aku menyimpang dan mengulas puisi-puisi lawas gubahan Acep Zamzam Noor. Ia pun memberi kabar bila mulai mengumpulkan lagi majalah dan koran pernah memuat puisi-puisinya. Kerja itu dibantu teman-teman dan para penggemarnya. Hal terpenting dalam percakapan tak melulu puisi tapi pendokumentasian teks-teks demi mengerti “sastra pesantren”.  

Puisi lawas Acep Zamzam Noor bertahun 1982 dalam majalah Hai membuatku agak mengerti ketekunannya terus berada di jalan sastra. Puisi itu berjudul “Lagu Kebun”. Puisi cukup mudah dimengerti kaum remaja: daun-daun kehidupan: hijau-kuning/ o, bunga-bunga kesetiaan// langit membentangkan danau. Tumpah/ menggelarkan permadani di bumi/ rinai gerimis, geliat batu dan rumpun perdu:/ hidup mengocok keringat. Kerja keras. Pada saat menjadi murid  SMA atau mahasiswa, aku mustahil bisa menulis puisi religius. Dulu, aku cukupkan menjadi pembaca puisi-puisi gubahan Chairil Anwar, Subagio Sastrowardoyo, Rendra, Hartojo Andangdjaja, Ajip Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar, dan lain-lain. Pada masa lalu, aku bukan pembaca majalah Hai.

Terdengar adzan dari Masjid Agung Solo. Resmilah siang dan panggilan mengingat Tuhan. Aku masih berada di Gladag. Tubuh berkeringat, kecut bertambah gara-gara belum mandi. Bau tubuh, bau buku, dan bau majalah: bersekutu di bawah matahari yang panas kuadrat. Aku masih mungkin berada di bawah pohon sejenak, mengerti faedah daun-daun.

Mataku melihat tumpukan majalah diikat tali plastik. Majalah itu bernama Matra. Tanganku segera membuka ikatan, mata bergerak cepat menandai majalah-majalah bisa dimiliki. Urusan pertama memilih, urusan harga dan utang belakangan. Empat belas majalah dipilih dengan senyum keberuntungan. Aku mendapatkan edisi-edisi memuat wawancara Umar Kayam, Goenawan Mohamad, Mahbub Djunaidi, YB Mangunwijaya, dan Teguh Karya. Nama-nama yang ikut menentukan biografiku dalam sastra dan teater. Mereka yang mempersembahkan tulisan-tulisan yang aku santap dengan girang dan air mata.

Bahagia lagi, aku menemukan cerpen-cerpen gubahan Leila S Chudori, Danarto, Satyagraha Hoerip, dan lain-lain. Matra itu majalah untuk pria. Majalah yang memanjakan sastra. Lumrah saja jika melihat orang-orang yang mengelolanya berkaitan majalah Tempo dan Humor. Aku pastikan majalah Matra ikut memiliki saham dalam perkembangan sastra di Indonesia. Aku bertambah utang lagi. Matra tak boleh dibiarkan termangu bersama pedagang sering murung. Mereka bingung dengan lakon perdagangan buku. Konon, kios-kios buku di situ bakal terkena dampak pembangunan Keraton Kasunanan Surakarta.

Detik-detik mau meninggalkan Gladag, seorang pedagang menyapa: “Mampir!” Aku bilang mau menjemput anak-anak. Tambahan: “Aku sudah banyak utang.” Akhirnya, mampir sejenak untuk melegakan pedagang. Terlihatlah buku tipis terbitan Pustaka Jaya. Buku berjudul Surat Tantangan gubahan Trim Suteja. Buku cerita anak. Aku ambil dengan memberi koin 500 rupiah berjumlah lima. Ia tersenyum mengerti leluconku. Buku murah tapi bagiku penting gara-gara mengetahui Trim Sutidja dan Soekanto SA termasuk pengarang-pengarang penting dalam babak awal Pustaka Jaya ingin memajukan bacaan anak di Indonesia, masa 1970-an.

Sepeda motor menuju SMP Negeri 1 Solo. Abad di situ ikut lomba menulis cerita pendek berbahasa Jawa. Berlanjut ke sekolah Sabda dan Bait. Siang itu berat sepanjang jalan. Di sepeda motor ringkih, ada empat manusia ditambah majalah, buku, dan meja besi yang digunakan untuk menulis saat lomba. Tas mereka pun berat.

Di sepanjang jalan, kami menikmati panas dan debu. Buku dan majalah berpindah alamat, dari Gladag menuju rumahku. Sepeda motor macet. Oh, sedih sejenak. Sepeda motor bisa hidup, lekas bergerak menuju rumah. Anak-anak turun. Buku dan majalah masih di sepeda motor. Aku melihat ban belakang. Duh, ban itu bocor lagi. Lega bisa sampai rumah. Ban itu bocor. Hidupku pun bocor.

Namun, aku dan buku masih di sepanjang (jalan) hidup. Aku yang dikutuk utang demi buku. Yang bergerak ke buku-buku belum selesai. Yang membaca buku-buku masih sering alpa. Yang menulis buku-buku menghindari pesimis. [] Kabut