
Hari pun berganti. Senin, 25 September 2023, telah datang tanpa jadwal pekerjaan. Aku yang membuka mata, aku yang menantikan peristiwa. Gelap masih milik Pekalongan. Lampu-lampu menyala, tidak semua terang. Aku belum menerangkan Senin.
Bekal dari rumah dinikmati: kofemik. Roti masih tersedia. Menit-menit menjelang matahari terbit, kehangatan sudah terasa. Aku melengkapinya dengan membaca Das Kapital: Kisah Sebuah Buku yang Mengubah Dunia (2012) garapan Francis Wheen. Buku kecil dan tipis yang akan turut campur dalam biografi Senin. Buku yang tak ada urusannya dengan kepergianku ke Pekalongan tapi mengharuskan aku membacanya. Dulu, aku membaca Buku-Buku jang Merobah Dunia, hasil terjemahan Asrul Sani, masa 1950-an. Das Kapital terakui mengubah dunia, berpengaruh dalam arus sastra dunia.
Bagiku, Karl Marx tak melulu ekonomi, filsafat, seni, dan sejarah. Ia pun menggerakkan sastra dengan segala janji, kemiskinan, bualan, kemarahan, dan keterasingan. Nama teringat bagi pengarang-pengarang tenar di dunia. Yang membaca buku-buku susunan Karl Marx turut menentukan selera mereka menggubah puisi, cerita pendek, dan novel.
Yang perlu dikutip: “Ambisi Marx yang paling awal adalah sastra. Sebagai mahasiswa hukum di Universitas Berlin, ia menulis sebuah buku puisi, darma bersyair, bahkan novel berjudul Scorpion dan Felix, yang ditulis bergegas dalam kondisi mabuk imajinasi di bawah pesona Tristram Shandy gubahan Laurence Sterne.” Jika dulu ia terus menggubah sastra, nama-nama tenar abad XX bakal sulit bermunculan. Di Hotel Nirwana, Seninku bersama Karl Marx, kofemik, dan roti seharga dua ribu rupiah.
Ingat lelaki berjenggot lebat, ingat sastra di Indonesia. Aku kadang penasaran dengan babak sastra di Indonesia, 1950-an dan 1960-an. Penasaran itu terjawab saat membaca buku dan majalah lama. Kini, keinginan mengetahui silam itu agak redup. Sastra di Indonesia abad XXI tenang-tenang saja. Orang-orang tetap menulis cerita pendek, puisi, dan novel. Gramedia Pustaka Utama, Kepustakaan Populer Gramedia, Marjin Kiri, Bentang, Banana, Basabasi, dan JBS terus menerbitkan buku-buku sastra. Buku-buku baru berada di toko buku dan para pedagang di media sosial. Aku melihatnya saja. Aku dikutuk harga. Aku sedang berutang hidup, belum ingin menumpuk utang untuk buku-buku baru.
Senin, 25 September 2023, aku bakal menyaksikan perayaan dan penghormatan sastra dilakukan Balai Bahasa Jawa Tengah. Institusi itu membuat penghargaan memuat ketentuan tentang penerbit. Jadi, buku-buku dinilai juri diharuskan terbit di Jawa Tengah. Pengecualian adalah novel berbahasa Jawa. Aku berkenalan dengan nama-nama penerbit berada di pelbagai kota di Jawa Tengah: Wonosobo, Solo, Demak, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Semarang, Blora, dan lain-lain. Daftar nama penerbit itu wajib dicatat dalam perkembangan sastra di Jawa Tengah meski sulit bersaing di pasar buku nasional.
Prasidatama itu pengarang, buku, dan penerbit. Hal paling rumit itu penerbit. Di Jawa Tengah, banyak pengarang kondang. Buku-buku mereka sering diterbitkan di penerbit-penerbit beralamat di Jakarta, Jogjakarta, Bandung, dan lain-lain. Buku-buku mudah diperoleh di toko buku dan situs-situs perniagaan buku. Berbeda nasib dengan penerbit-penerbit mempersembahkan buku berkiatan ikhtiar sastra dan penghargaan Prasidatama. Buku-buku itu tidak mudah diperoleh. Penerbit-penerbit pun sulit berjanji menerbitkan dalam jumlah ratusan atau ribuan, yang membuktikan gairah sastra tak pernah padam. Aku beruntung membaca puluhan buku dalam pamrih Prasidatama.
Senin mau bermatahari. Aku menaruh Das Kapital: Kisah Sebuah Buku yang Mengubah Dunia di bawah televisi. Aku tidak mau Senin hanya milik Karl Marx. [] Kabut

Kerennn Kang Yudhi…… Aseli kerenn