Ragam

PENGUMBAR KATA DAN PEMANGKU HELM

Aku dan Indah Darmastuti bukan jenis pendiam. Kami seperti memiliki seribu mulut, yang bisa mengumbar kata-kata tanpa lelah. Di sepanjang perjalanan Solo-Pekalongan, posisi kami memang duduk tapi kata-kata berlarian ke segala arah.

Kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu perjalanan. Tidur itu pilihan terakhir. Yang menjadikan perjalanan dengan kereta kelas ekonomi terhindar dari bosan adalah obrolan. Terjadilah obrolan tanpa terpaan sinar matahari. Di gerbong, kami terlindung dari matahari dan tak ada janji untuk obrolan yang tenggelam meski menjelang senja.

Obrolan yang sembarangan. Kami mula-mula bicara sastra, bergerak jauh ke belasan masalah yang bisa bikin lelah. Jaminan obrolan adalah roti dan serabi. Mulut kami tidak selamanya bertugas untuk omong. Mulut kami pun memerlukan kedatangan makanan-makanan yang lezat.

Sastra (terlalu) penting bagi kami. Padahal, kami kadang pecundang dalam sastra tapi berlagak mengerti. Sastralah yang mempertemukan kami dan mengesahkan kebersamaan.

Mulut kamu cukup melawan suara guncangan gerbong di atas rel. Kota-kota terlewati kami terus sibuk dengan kata-kata. Di depan kami, seorang perempuan mengenakan masker. Duduk kadang gelisah. Di pangkuan, ada helm berukuran besar. Aku memastikan ia tidak bakal menaruhnya di kepala saat masih berstatus penumpang kereta api. Helm ikut bergerak oleh tangan atau guncangan gerbong.

Aku dan Indah mengerti nasib sial dialami perempuan memangku helm. Telinganya pasti kesakitan mendengar mulut kami yang seperti mesin penggilingan padi. Sastra itu seru diobrolkan diimbuhi tema-tema lain tapi tetap mengikutkan limpahan kata dan imajinasi. Obrolan kami adalah neraka bagi penumpang yang bermasker tapi tak menggunakan helm di kepalanya.

Pikirku, ia bisa berlindung dari kutukan obrolan kami dengan mengenakan helm: mata dan telinganya cukup menghindari siksa kata-kata dan tampang kami yang menyebalkan. Namun, ia pasti malu bila nekat mengenakan helm. Dugaanku, ia bisa menyatakan sebal atau marah dengan memukulkan helm ke kepalaku atau perutku. Tindakan yang mudah terjadi.

Aku dan Indah terlihat duduk. Yang terjadi, kami berlari bersama kata-kata. Alamat yang kami datangi memang Pekalongan tapi kamis justru menempuhi jalan (cerita dan biografi) tak ada ujung.

Akhirnya, kami tiba di Stasiun Pekalongan. Legalah si perempuan yang memangku helm. Indah menjadi manusia sopan dengan memberi kata-kata mengandung permintaan maaf dan doa agar penumpang itu berbahagia setelah kami menghilang dari hadapannya. Aku tak menduga melihat Indah yang sopan dan bijak. Gerbong itu telah terbebas dari segala bualan kami yang berceceran di sepanjang rel atau terbawa angin.[] Kabut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *