
Sejak dulu, aku mengenal Yuditeha bukan lelaki penggemar tidur atau penidur sejati. Mata itu biasa digunakan bersastra, selain melihat rambut saat mencukur. Mata lelaki sulit gemuk itu menjadikan obrolan sastra dan belajar sastra memicu gairah-gairah tak biasa. Yuditeha, pengarang tenar di Indonesia. Ia mudah dilekati Kamar Kata.
Sejak masuk gerbong, ia adalah pesakitan. Aku, Panji Sukma, dan Indah Darmastuti merasa kasihan tapi tidak bisa menyembuhkannya. Ia yang menanggung derita. Dugaanku: sastra mengakibatkan sakit. Yuditeha yang biasanya suka tersenyum tampak murung dan lelah. Ia sedang tidak berpikiran waras: gerbong dilihatnya sebagai kamar tidur.
Aku sedih dan sedih. Beberapa hari yang lalu, aku seharian bersama Yuditeha. Pagi, kami naik bis Solo-Semarang. Hari penentuan bagi kami selaku juri cerita. Yuditeha lebih terhormat sebagai juru cerita dan juri cerita. Di perjalanan, kami adalah lelaki berkicau. Alamat tujuan adalah Ungaran. Di kantor berurusan bahasa dan sastra, kami hadir untuk penilaian dan penentuan para peraih Prasidatama. Pulang, kami dalam kondisi cukup lelah tapi tetap berkicau. Di menit-menit menuju Terminal Tirtonadi, ia akhirnya tidur. Aku ikhlaskan saja. Ia sudah tua. Raga lelah jawabannya tidur.
Peristiwa yang berbeda. Empat orang berangkat bersama menuju Pekalongan. Yuditeha gagal sebagai pencerita. Yang dialami adalah perjalanan menyakitkan. Kereta api menjadi “kamar tidur” yang bergerak jauh. Duduk dekat jendela, ia memilih tidur. Ia mungkin ingin menengok jendela mimpi agar sakit tidak makin parah.
Tiba di Pekalongan, Indah Darmastuti berkelana duluan. Tiga lelaki menanti pesanan mobil. Kami salah tempat. Berdiri di pinggir jalan yang bising dan semrawut. Kami berdiri dekat tong sampah. Malam yang tidak indah untuk mengakrabi Pekalongan.
Aku menduga saja: Yuditeha yang sulit berdiri tegak ingin lekas berbaring. Ia mustahil berani tidur di jalan beraspal. Inginnya segera sampai hotel. Kami dijanjikan menginap di Hotel Nirwana. Bagi Yuditeha, ia tidak terlalu memikirkan “nirwana” atau sastra.
Kasur! Ia ingin tidur di kasur. Gagal sebagai pencerita, Yuditeha mendambakan menjadi penidur sejati. Pekalongan itu ‘kamar tidur” bagi lelaki yang mengelola Kamar Kata. [] Kabut
