
Pada mulanya ban bocor. Ban belakang bocor, tanda seru agar membawa ke bengkel. Sepeda motor itu bersamaku menuju rumah tetangga, yang kesehariannya menambal ban dan memperbaiki sepeda motor. Hari menjelang siang. Panas telah kuadrat.
Si tetangga tampak uring-uringan. Ia sedang memperbaiki benda. Gagal. Gagal. Gagal. Aku telanjur bilang ban bocor. Jalan di depan bengkel panas. Si pemilik bengkel pun “panas”. Keterpaksaan menambal ban. Aku duduk berlagak tenang sambil membaca buku berjudul Menulis Itu Indah, buku berisi pengakuan para pengarang tenar di dunia, belum tentu di akhirat.
Kalimat memikat yang minta diingat agar tak ketularan panas jalan dan uring-uringan tukang tambal ban: “Dan, sesuatu yang telah saya lakukan sepanjang hidup dan akan selalu saya lakukan adalah membaca puisi.” Aku pastikan ia membaca puisi. Di akhir kalimat bukan kitab suci tapi puisi. Penulis kalimat bernama Julio Cortazar. Pengarang yang tinggal di negara jauh, bukan hidup di desa tetangga. Pastilah ia terkenal dan berpengaruh, hanya untuk mengatakan sepanjang hidup membaca puisi. Aku juga membaca puisi tapi tidak berani mengaku “selebar hidup”. Pikiran sebalku: “sepanjang hidup” kali “selebar hidup” sama dengan “seluas hidup”.
Penambalan ban sudah selesai. Uang dua belas ribu diserahkan, tambah dua belas ribu lagi untuk bahan bakar. Siang makin panas. Aku pun panas. Pikiranku mengatakan: “Pergilah ke Gladag! Pergilah! Pergilah!” Siang itu, Rabu, 20 September 2023, niatku menjemput tiga anak di sekolah (Abad, Sabda, dan Bait). Masih ada satu jam bila menuruti perintah pikiran. Terbukti, pikiranku sedang bocor. Di saku celana cuma ada sedikit uang tapi berpikiran Gladag (Solo).
Sampai di Gladag. Aku memandangi buku-buku dan majalah-majalah kesepian. Para pedagangnya murung. Beruntunglah ada pohon besar. Pohon untuk berteduh tapi mereka bingung gara-gara nasib yang tak teduh. Aku ikut bingung melihat kesepian dan kemurungan.
Mataku melulu buku. Di depan buku-buku, mengantuk itu haram. Mataku jelalatan, gampang terpikat. Di hitungan menit, aku berhasil menumpuk buku-buku: Menghibur Diri Sampai Mati (Neil Postman), The Book Club: Kisah Lima Wanita (Mary Alice Monroe), Seminar Bahasa Indonesia 1972 (Djajanto Supra dan Anton J Lake), Tata Krama Nasional Indonesia (Oetomo DS), Kisah Seribu Satu Malam (Muhsin Mahadi), Mengungkap Rahasia Al Quran (Allamah MH Thabathaba’i), dan The Subtle Knife (Philip Pullman). Buku yang terakhir itu bagian dari tiga jilid. Sudah cukup lama, aku suka membaca buku-buku garapan Philip Pullman. Di Indonesia, buku-bukunya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. lima Majalah lama ikut ditumpuk: Budaya Jaya, Basis, dan Pembimbing Pembaca. Tumpukan itu dipandangi lama sambil memikirkan jumlah rupiah.
Buku bisa dibawa pulang jika diperbolehkan utang. Aku menanti pedagang yang sedang menata dan merapikan buku-buku. Wajahnya berkeringat, mata penuh harapan. Beberapa bulan, Gladag sepi pembeli. Orang-orang enggan bertemu buku-buku. Mereka pelit duit. Dugaan lain: mereka tak perlu buku. Hari-hari mereka kemarau bacaan. Hidup tidak harus membaca buku. Mereka tidak wajib membaca puisi sepanjang hidup. Hidup tetap indah tanpa membaca selusin novel. Merekalah yang “selamat” dari kutukan imajinasi.
Penantian itu terjawab. Pedagang sedang baik, membiarkan aku berutang untuk setumpuk buku dan majalah. Beberapa buku sudah pernah aku khatamkan. Niatku, ada buku-buku yang dijual agar mendapat duit. Buku yang ingin lekas dibaca: The Book Club: Kisah Lima Wanita. Di mataku, novel terbitan Violetbooks itu termasuk jenis novel ringan atau menghibur. Membaca novel menghibur itu hak ketimbang merampung novel yang menambahi siksa hidup dan mengingatkan siksa neraka. Aku sadar diri sebagai pembaca bergelimang dosa, pembaca yang susah dapat ampunan Tuhan.
Bergerak ke kios berbeda. Di tumpukan buku anak-anak, aku menemukan tujuh buku apik. Buku dinamakan “Seri Tokoh Ternama” terbitan Elex Media Komputindo. Pastilah buku terjemahan. Seri seperti itu belum dibuat di Indonesia. Aku sudah punya beberapa judul. Yang di depanku: Alfred yang Agung, Beatrix Potter, Anne Frank, Alexander Graham Bell, Dick Whittington, dan Louis Braille. Buku-buku tipis, banyak gambar. Buku-buku yang memukau terbaca oleh anak-anak, termasuk diriku yang berjenggot, berambut gondrong, dan ompong.
Aku menduga kelak bisa menyusun buku penggalan-penggalan biografi para tokoh. Yang ingin aku susun adalah tokoh-tokoh sastra, musik, dan seni rupa. Buku-buku tipis tapi pesimis mendapat pembaca. Tokoh-tokoh penting dan besar di Indonesia masih susah terceritakan kepada anak-anak.
Masih ada beberapa menit di Gladag, sebelum perjalanan menjemput anak-anak yang pulang sekolah. Mataku melihat bundel majalah. Oh, majalah Hai. Majalah remaja masa 1980-an. Ingat majalah Hai, ingat Arswendo Atmowiloto. Sejak lama, aku berniat membuat kiping sastra remaja. Hai wajib menjadi sumber untuk memperoleh cerita dan puisi pantas mendapat komentar-komentar agar tercantum dalam sejarah sastra di Indonesia. Bundel majalah Hai bisa dibayar gara-gara murah.
Pada saat membuka-buka, aku melihat puisi-puisi gubahan Acep Zamzam Noor. Pada suatu masa, ia biasa mendapat sebutan melekat: sastra dan pesantren. Ia lahir dan tumbuh di pesantren, sebelum pergi ke kota-kota dan bergerak ke Eropa. Pulang, ia adalah penggubah puisi dan pelukis. Acep Zamzam Noor saat masih muda rajin menulis puisi dimuat di majalah Hai dan pelbagai majalah. Ia mulai sodorkan hal-hal bercap religius.
Setahun lalu, aku bertemu dan bercakap dengan Acep Zamzam Noor di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Bukan pertemuan pertama. Di sana, obrolan mudah akrab gara-gara masalah dokumentasi. Aku menyimpang dan mengulas puisi-puisi lawas gubahan Acep Zamzam Noor. Ia pun memberi kabar bila mulai mengumpulkan lagi majalah dan koran pernah memuat puisi-puisinya. Kerja itu dibantu teman-teman dan para penggemarnya. Hal terpenting dalam percakapan tak melulu puisi tapi pendokumentasian teks-teks demi mengerti “sastra pesantren”.
Puisi lawas Acep Zamzam Noor bertahun 1982 dalam majalah Hai membuatku agak mengerti ketekunannya terus berada di jalan sastra. Puisi itu berjudul “Lagu Kebun”. Puisi cukup mudah dimengerti kaum remaja: daun-daun kehidupan: hijau-kuning/ o, bunga-bunga kesetiaan// langit membentangkan danau. Tumpah/ menggelarkan permadani di bumi/ rinai gerimis, geliat batu dan rumpun perdu:/ hidup mengocok keringat. Kerja keras. Pada saat menjadi murid SMA atau mahasiswa, aku mustahil bisa menulis puisi religius. Dulu, aku cukupkan menjadi pembaca puisi-puisi gubahan Chairil Anwar, Subagio Sastrowardoyo, Rendra, Hartojo Andangdjaja, Ajip Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar, dan lain-lain. Pada masa lalu, aku bukan pembaca majalah Hai.
Terdengar adzan dari Masjid Agung Solo. Resmilah siang dan panggilan mengingat Tuhan. Aku masih berada di Gladag. Tubuh berkeringat, kecut bertambah gara-gara belum mandi. Bau tubuh, bau buku, dan bau majalah: bersekutu di bawah matahari yang panas kuadrat. Aku masih mungkin berada di bawah pohon sejenak, mengerti faedah daun-daun.
Mataku melihat tumpukan majalah diikat tali plastik. Majalah itu bernama Matra. Tanganku segera membuka ikatan, mata bergerak cepat menandai majalah-majalah bisa dimiliki. Urusan pertama memilih, urusan harga dan utang belakangan. Empat belas majalah dipilih dengan senyum keberuntungan. Aku mendapatkan edisi-edisi memuat wawancara Umar Kayam, Goenawan Mohamad, Mahbub Djunaidi, YB Mangunwijaya, dan Teguh Karya. Nama-nama yang ikut menentukan biografiku dalam sastra dan teater. Mereka yang mempersembahkan tulisan-tulisan yang aku santap dengan girang dan air mata.
Bahagia lagi, aku menemukan cerpen-cerpen gubahan Leila S Chudori, Danarto, Satyagraha Hoerip, dan lain-lain. Matra itu majalah untuk pria. Majalah yang memanjakan sastra. Lumrah saja jika melihat orang-orang yang mengelolanya berkaitan majalah Tempo dan Humor. Aku pastikan majalah Matra ikut memiliki saham dalam perkembangan sastra di Indonesia. Aku bertambah utang lagi. Matra tak boleh dibiarkan termangu bersama pedagang sering murung. Mereka bingung dengan lakon perdagangan buku. Konon, kios-kios buku di situ bakal terkena dampak pembangunan Keraton Kasunanan Surakarta.
Detik-detik mau meninggalkan Gladag, seorang pedagang menyapa: “Mampir!” Aku bilang mau menjemput anak-anak. Tambahan: “Aku sudah banyak utang.” Akhirnya, mampir sejenak untuk melegakan pedagang. Terlihatlah buku tipis terbitan Pustaka Jaya. Buku berjudul Surat Tantangan gubahan Trim Suteja. Buku cerita anak. Aku ambil dengan memberi koin 500 rupiah berjumlah lima. Ia tersenyum mengerti leluconku. Buku murah tapi bagiku penting gara-gara mengetahui Trim Sutidja dan Soekanto SA termasuk pengarang-pengarang penting dalam babak awal Pustaka Jaya ingin memajukan bacaan anak di Indonesia, masa 1970-an.
Sepeda motor menuju SMP Negeri 1 Solo. Abad di situ ikut lomba menulis cerita pendek berbahasa Jawa. Berlanjut ke sekolah Sabda dan Bait. Siang itu berat sepanjang jalan. Di sepeda motor ringkih, ada empat manusia ditambah majalah, buku, dan meja besi yang digunakan untuk menulis saat lomba. Tas mereka pun berat.
Di sepanjang jalan, kami menikmati panas dan debu. Buku dan majalah berpindah alamat, dari Gladag menuju rumahku. Sepeda motor macet. Oh, sedih sejenak. Sepeda motor bisa hidup, lekas bergerak menuju rumah. Anak-anak turun. Buku dan majalah masih di sepeda motor. Aku melihat ban belakang. Duh, ban itu bocor lagi. Lega bisa sampai rumah. Ban itu bocor. Hidupku pun bocor.
Namun, aku dan buku masih di sepanjang (jalan) hidup. Aku yang dikutuk utang demi buku. Yang bergerak ke buku-buku belum selesai. Yang membaca buku-buku masih sering alpa. Yang menulis buku-buku menghindari pesimis. [] Kabut

Luamaaaaaa banget tidak membaca karyanya kang kabut bandung mawardi ini..
masih melekat di ingatan itu kios tumpukan buku diperempatan Sekar Pace dimana kios itu berhasil menumbuhkan cemburu pada buku buku…