
Orang-orang sarapan dan omong-omong. Aku ikut menikmati nasi, minuman, buah, dan tempe. Pagi tidak ingin tergesa. Aku masih kepikiran nasib Yuditeha. Apakah ia sembuh? Apakah ia makin tak berdaya?
Di luar, orang-orang duduk di pinggir kolam. Mereka dalam percakapan yang seru. Aku ikut duduk sebentar. Di seberang, ada kesibukan dan suara-suara keras. Di situlah, tempat untuk acara Prasidatama. Beberapa orang berpenampilan rapi berada di lokasi acara. Senang melihat mereka sudah mandi dan memilih pakaian yang terbaik. Aku belum mandi tapi tidak mungkin terjun ke kolam dan sabunan. Sejenak bersama tiga orang, aku sempat bercakap masalah bahasa dan sastra. Obrolan tanpa kopi dan rokok.
Kembali ke kamar. Menit-menit sebelum mandi, aku masih mendapat beberapa halaman buku berjudul Cakap Kecap (2004). Buku mengenai sejarah dan perkembangan periklanan di Indonesia. Di situ, aku tidak menemukan ingatan atau pembahasan iklan-iklan buku sastra. Buku tidak menjanjikan lengkap. Namun, aku mendapat panggilan ulang untuk merampungkan kliping iklan-iklan buku sastra yang sudah aku kumpulkan, sejak beberapa tahun yang lalu.
Datang ke tempat acara. Para tamu duduk tidak tenang. Mereka omong-omong, berfoto, dan makan. Di panggung, aku kaget melihat Naruto berjoget. Ia tampil bersama tokoh-tokoh Nusantara. Panggung sudah meriah dengan Naruto, yang nantinya disusul kehadiran para pengarang sakti di Jawa Tengah. Mereka tidak usah berjoget. Naruto dan teman-temannya itu menghibur agar yang hadir bergairah, tidak diserang bosan dan mengantuk.
Di panggung, aku melihat gong. Benda yang masih seperti dulu: digunakan dalam pembukaan acara secara resmi. Aku sudah jemu. Membayangkan saja ada cara dan benda berbeda dalam membuka acara resmi. Aku penasaran dengan pemukulnya. Tibalah di meja yang berisi tumpukan piagam dan jejeran piala Prasidatama. Pemukul gong itu berhiaskan kembang melati. Wangi. Wangi. Wangi. Inginku, Senin, 25 September 2023, wangi oleh kebahagiaan para pengarang.
Panggung menjadi pusat. Aku kadang mengalihkan pandangan, tidak mau selalu melihat panggung. Aku bergerak semaunya meski dilihat dan diperingatkan panitia. Jika hanya duduk, tubuhku tidak beres dan waktuku sia-sia. Bergerak saja, bertemu orang-orang dan bicara sembarangan. Yang jelas, panggung tetap ramai.
Selain hiburan, ada tokoh-tokoh yang berpidato. Mereka pasti terhormat, memiliki predikat rektor dan kepala. Kehadiran keduanya di panggung mengesahkan acara yang diadakan beberapa lembaga, yang terpenting: Balai Bahasa Jawa Tengah dan Universitas Pekalongan. Aku tidak menyimak semua isi pidato. Yang satu berpidato tentang bahasa. Yang satu menyampaikan kerja-kerja kebahasaan dan kesusastraan. Seorang tokoh menaruh bolpoin biru di saku baju. Seorang tokoh merasa mimbarnya ketinggian. Aku memandang dari kejauhan.
Akhirnya, gong dipukul. Pembukaan terjadi diringi tepuk tangan. Para pejabat dan beberapa orang berdiri di panggung. Dua belas pemotret di depan panggung. Pemandangan cukup indah. [] Kabut
