
Yang bergerak mulai iseng. Aku menghampiri dosen dan para mahasiswa. Saling beri senyum dan mendoakan. Beberapa bulan yang lalu, aku memberi kuliah umum di Universitas Pekalongan: berakibat agak akrab dengan dosen dan mahasiswa. Pertemuan dalam acara Prasidatama membuat kami seperti mau membuat janji menggerakkan sastra sampai berkeringat dan kelelahan.
Buktinya: aku, dosen, dan mahasiswa berfoto bersama. Yang difoto adalah sepatu kami. Sengaja wajah tidak perlu difoto. Sepatu-sepatu itu lebih penting, yang mengartikan bergerak. Pertemuan sepatu, pertemuan saat para pengarang di Jawa Tengah sudah menunaikan janji bersastra.
Hari mau siang. Aku mulai merasakan bosan. Yang aku lakukan adalah menguji kemampuan berhitung. Berdasarkan pandangan mata, aku menghitung jumlah meja bundar: sembilan. Meja bundar dikelilingi kursi-kursi. Ada yang berbeda. Di meja bundar untuk tamu dan juri, ada piring yang memamerkan pisang, anggur, dan jeruk. Di meja-meja lain, aku tidak menemukannya. Aku berhasil mendapatkan pisang. Jeruk dan anggur cepat dihabiskan teman-teman yang tidak tega menyia-nyiakannya.
Siang itu ada jajanan, minuman, dan buah. Yang tidak boleh dilupakan: beragam tanaman berada di depan panggung. Gedung yang dingin dan sorot lampu yang menghibur. Di luar, panas dan panas dan panas. Maka, berada di dalam ruangan itu keselamatan dari gerah.
Para pengarang tampak saling bicara, bergantian berfoto. Mereka mungkin sudah bosan, merasa waktu bergerak lambat untuk pengumuman para peraih penghargaan Prasidatama. Aku santai saja.
Di panggung, hiburan-hiburan terus disajikan. Tata suara dan tata cahaya cukup memukau. Aku sedikit menikmatinya. Yang aku perlukan adalah membuat percakapan-percakapan sejenak dengan beberapa orang. Aku tidak betah menonton semua hiburan.
Yang mengejutkan saat tiga penyanyi di panggung bergantian membawakan lagu-lagu Nusantara. Musik yang terdengar mengajak orang-orang ikut bernyanyi atau berjoget. Di dekat pintu masuk, aku melihat empat perempuan berjoget. Mereka tertawa dan terhibur. Setahuku mereka adalah para pegawai Balai Bahasa Jawa Tengah. Berjoget membuat mereka senang setelah lelah dan berdebar mengurus acara. Mereka yang bertanggung jawab. Jadi, berjoget sebentar dan tertawa adalah selingan yang menguatkan. Aku tidak ikut berjoget. Malu. Sejak dulu, aku memang pemalu.
Di Hotel Nirwana, aku mulai berpikiran: acara Prasidatama adalah hiburan-hiburan. Apa aku terlalu menginginkan hiburan? Di ruangan, aku memilih melihat para pengarang Jawa Tengah yang menjadi kaum tabah untuk sampai memegang piala dan piagam. [] Kabut
