Ragam

SASTRA DI BELAKANG

Pada menit-menit menjelang sampai Stasiun Pekalongan, aku berganti pasangan obrolan. Di sebelah kanan, ada tas besar dan Panji Sukma. Ia mungkin lelah dengan telinga yang kedatangan suara-suara dari gawai. Panji kangen suara asli dari lelaki bermulut seribu.

Tiba saatnya, aku dan Panji dalam obrolan dengan suara (makin) keras. Gerbong itu bising! Kami tak mau kalah dalam persaingan suara. Obrolan tak selancar bersama Indah tapi kata-kata lekas berhamburan berharap tidak sia-sia.

Bermula masalah kebudayaan. Obrolan yang menyulitkan meraih hiburan. Kebudayaan itu berat dan pelik. Aku asal mengatakan tentang beragam gagasan kebudayaan di Indonesia berinduk epos atau mitos. Seingatku, para pemikir kebudayaan atau budayawan tak jemu-jemu mengutip epos-epos Mahabharata dan Ramayana. Ada pula yang memerlukan mengajukan mitos-mitos lokal. Semua itu memastikan gagasan dan tafsir kebudayaan dianggap bermutu.

Di sampingku, Panji Sukma belajar kebudayaan secara akademik. Aku ingin ia bisa berceloteh dengan bobot pemikiran 1 ton. Bobot wajib lebih berat dari anting-anting di telinganya.

Berlanjutlah kami bercakap tentang humor dan musik. Pilihan agar dua masalah itu memberi gairah ketimbang raga lelah. Perjalanan bisa menghilangkan gairah jika salah pilih tema percakapan. Seru untuk bertukar kata dengan ingatan humor dan musik. Cara tergampang agar masih ingat Solo, Indonesia, tokoh, buku, dan lain-lain.

Aku berdoa satu detik agar Panji tidak bersumpah mau menjadi pelawak. Cukuplah ia girang di musik digenapi sastra.

Sastra, tema di  belakang meski kami berada di gerdong depan. Panji Sukma, sosok yang tangguh dalam sastra di Indonesia. Pastilah ia sungkan menampilkan kewibawaannya di hadapanku. Yang terpenting mungkin kelakar melindungi diri dengan pernyataan bahwa nasib bersastra ditentukan klenik. Ia sering lempar humor berkaitan Jawa tapi tetap aku “haramkan” menjadi pelawak.

Yang sempat terucap tentang sastra adalah keengganan dan rasa malu Panji bila diundang dalam diskusi-diskusi sastra. Ia mengaku tak banyak berilmu. Namun, ia telanjur kondang dengan novel dan cerita pendek. Inginku, lelaki berambut gondrong dan bertato itu mulai ikhlas dan berkenan memberi kelegaan saat berbaur umat sastra di Indonesia.[] Kabut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *