
Pada 1919, Marco Kartodikromo mengisahkan keramaian penumpang, pengantar, dan penjemput di Stasiun Balapan (Solo). Kita mengetahuinya dalam Student Hidjo, cerita berlatar 1913. Yang meramaikan Stasiun Balapan adalah orang-orang Sarekat Islam dan kaum pelesiran. Di Solo, ribuan orang Sarekat Islam mengikuti kongres. Stasiun Balapan menjadi tempat penting selain Sriwedari. Yang berdatangan ke Solo naik kereta api, berlanjut naik kereta berkuda menuju Sriwedari dan Kabangan.
Pada 24 September 2023, para pengarang meninggalkan Solo. Mereka pergi ke Pekalongan. Misi memenuhi undangan pemberian penghargaan Prasidatama oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Titik berangkatnya bukan Stasiun Balapan tapi Stasiun Jebres, stasiun yang tidak disenandungkan Didi Kempot.
Mereka bergerak saat sore yang panas. Sore dengan matahari yang masih garang. Di Stasiun Jebres, mereka menggerakkan kaki-kaki untuk naik ke gerbong dengan percampuran gairah dan sakit. Panji Sukma tampil mirip berandalan, Indah Darmastuti dengan keanggunan, Yuditeha tampak bertubuh kesakitan. Yang dua waras, yang satu sakit.
Mereka bukan tokoh-tokoh dalam novel Marco Kartodikromo. Mereka tidak perlu membawa novel lama untuk makin mengerti dan menikmati (imajinasi) berkereta api. Sore itu tak memungkinkan mereka memanggil masa lalu dan menghidupkan pengarang-pengarang lama. Yang diinginkan adalah duduk bersama orang-orang yang harus terkurung dalam gerbong.
Aku bersama mereka, turut menghuni gerbong bergerak di atas rel. Di gerbong, tak hanya manusia-manusia, Yang tampak adalah tas-tas besar. Banyak yang pergi dengan misi-misi besar. Kami sekadar pergi.
Panji Sukma, Indah Darmastuti, dan Yuditeha tidak perlu membawa tas besar. Mereka hanya membawa beberapa baju ganti dan kata-kata. Mereka itu juru cerita, yang pergi dengan sadar cerita-cerita. Aku menjadi penikmat cerita saja. Pergi bersama mereka itu kehormatan.
Gerbong bergerak, kami duduk. Yuditeha memilih tidur. Di sampingnya, Panji Sukma berusaha tabah dan dipaksa menjadi pendiam. Namun, aku melihatnya mulai menikmati perjalanan dengan pendengaran. Benda-benda kecil di kuping yang berarti mendengarkan lagu-lagu atau ocehan-ocehan bersumber gawai tanpa terdengar para penumpang lain.
Aku duduk di samping Indah Darmastuti. Dua manusia bakal sulit tutup mulut. Suara kereta dipastikan bersaing suara dari mulut. Kami seperti sedang naik “kereta kata”, perlahan meninggalkan sore menuju malam. [] Kabut

Mengesankan.