Cerpen

Spelunkers

Cerpen Ludira Lazuardi

You will find what you seek. Kamu akan menemukan apa yang kamu cari.” Aku ingat betul kata-kata ayahku saat aku kecil. Beliau adalah seorang speleolog. Meneliti gua-gua di seluruh dunia adalah pekerjaannya. Seumur hidup ayah dihabiskan untuk menyusuri gua, terlebih yang belum pernah terjamah manusia.

“Apa yang ayah cari di gua?” tanyaku suatu waktu.

“Banyak hal, Sayang. Sisa-sisa peradaban, dunia baru, dan terutama, keajaiban.”

“Apakah Ayah percaya keajaiban?”

“Tentu saja. Keajaiban akan membuatmu mengerti betapa berharganya hidup ini.”

Barangkali kegemaranku menyusuri gua karena sedikit banyak aku ingin menjadi seperti beliau. Aku juga ingin menemukan keajaiban. Itu satu alasan. Aku sangat merindukan ayah, mungkin itu alasan paling kuat kenapa aku rela tersesat berlama-lama di dalam gua-gua penuh jalan rahasia. Dengan menyusuri gua, aku berharap bisa mengerti kenapa ayah sampai lebih memilih pergi daripada menemani aku tumbuh.

Ayah menghilang sepuluh tahun yang lalu saat meneliti salah satu gua yang baru ditemukan di China. Sampai sekarang jasadnya belum ditemukan. You’ll find what you seek. Jadi sekarang aku yang akan mencari ayah.

Aku berada di Guangxi dengan beberapa teman sesama spelunkers. Kami mulai dari gua terakhir yang ayah datangi. Pintu gua itu berupa lubang berdiameter sekitar setengah meter. Kami terpaksa masuk satu-satu menggunakan tali. Siapa sangka, setelah kami turun sekitar tiga puluh meter, jalan sempit gua berubah menjadi sangat luas.

Ada sekitar lima pintu lain yang bisa dilewati manusia. Kami putuskan untuk membagi tim. Aku memilih sendiri sementara tim lain terdiri dari 3 orang. Mereka adalah teman-teman yang sudah sering menyusuri gua bersamaku. Jadi mereka sudah hafal kebiasaanku, juga sudah tahu kemampuanku. Jadi mereka tidak menolak saat aku ingin sendiri dengan hak istimewa memilih pintu mana yang akan kutelusuri. Kupejamkan mata sekejap dan kudengarkan suara angin yang berembus dari tiap pintu. Suatu nyanyian memanggilku dari arah lubang gua paling sempit. “Aku ambil yang ini,” ucapku sambil menunjuk lubang paling kiri.

“Oke, kita bertemu di sini maksimal tiga jam lagi. Setuju?”

“Sip, kita mulai. Jangan lupa hidupkan alat komunikasi dan perekamnya.”

Gua ini tipikal karst yang mirip dengan gua-gua di Indonesia. Pintu sempit yang kulewati hanya sekitar dua meter saja, selebihnya gua makin melebar dan tinggi. Kususuri tiap dinding, berharap menemukan lukisan purba, tetapi aku harus kecewa karena dindingnya bersih dan basah.

“Kay, gimana keadaan di sana? Ganti.” Protofonku berbunyi.

“Belum ada yang menarik. Ganti,” jawabku.

Aku sudah berada dalam gua itu sendirian sekitar satu jam. Kubayangkan ayahku sedang bekerja mencatat batuan dan keadaan gua. Beliau terlihat sangat antusias dan bahagia. Aku terus bergerak maju dan hampir putus asa sampai kurasakan embusan angin dari arah depan. Makin dekat, gua makin terang. Aku matikan senter yang kubawa dan mempercepat langkah.

Betapa terpukaunya aku melihat pemandangan di hadapanku. Sebuah hutan purba dengan berbagai tumbuhan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tanaman dengan aneka macam bentuk bunga bercahaya, pohon-pohon kemerahan dengan daun biru tua, dan hamparan rumput yang berwarna merah terang.

“Bagaimana tanaman-tanaman ini bisa tumbuh di sini?” Aku mendongak mencari sumber cahaya selain dari tumbuhan yang bersinar. Barangkali ada lubang tempat kemungkinan matahari masuk. Yang kutemukan lebih menakjubkan dari yang ada di dasar. Langit-langit gua itu tinggi dan penuh cahaya gemerlap seperti bintang. Awalnya kupikir itu sejenis cacing Arachnocampa Luminosa. Namun, cacing yang menghuni Glowworm Cave di Selandia Baru itu memancarkan cahaya biru temaram. Sedangkan langit-langit gua ini lebih berwarna kemerahan dan menyilaukan.

Guys, kurasa aku menemukan sesuatu. Ganti.” Aku mendekatkan mulut ke protofon, tidak sabar membagikan tempat istimewa ini dengan teman-temanku. Sambil menunggu jawaban, aku mengitari tempat itu lagi dan tergoda untuk menyentuh salah satu bunga paling cantik di antara lainnya. Warnanya biru terang, mahkotanya lebih rumit dari bunga lain, dan aromanya lembut memabukkan.

“Kay, kami juga menemukan sesuatu.” Kurasa itu suara Yuda. Dia terdengar lesu. “Sepertinya, kami menemukan yang selama ini kamu cari. Maaf,” lanjutnya.

Tanpa Yuda menerangkan lebih lanjut, aku tahu yang mereka temukan, ayahku. “Seperti apa keadaannya?”

“Yah, sepuluh tahun berlalu, Kay. Kami membuka tasnya dan menemukan foto dan namamu. Jadi kurasa sudah seratus persen.”

“Oke,” jawabku singkat, bingung harus bersikap bagaimana. Aku tahu tidak seharusnya berharap beliau masih hidup. Akan tetapi, aku masih yakin bisa menemukannya, dan harus siap seperti apa pun keadaannya. Nyatanya kini, saat tahu beliau benar-benar sudah meninggal, aku masih saja merasa patah hati. Yah, paling tidak aku telah menemukan apa yang ingin aku temukan. Ayahku, bersama keajaiban yang beliau ceritakan.

“Tapi ada yang aneh, Kay. Ada tanaman bersinar kemerahan tumbuh dalam apa yang tersisa dari jasadnya. Seperti, bagaimana ya menjelaskannya.” Suara Yuda terjeda, seolah dia sedang berusaha menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilihatnya. “Kuharap perkiraanku salah. Sebelum menjadi tulang, tanaman ini seperti memakan beliau.”

“Itu tidak mungkin. Aku juga menemukan banyak sekali tanaman bersinar di sini, Yud. Indah sekali.”

“Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kamu jangan menyentuh tanaman itu, Kay. Siapa tahu beracun. Kita laporkan dulu hasil temuan kita.” Seorang teman lain menimpali.

“Thomas ada benarnya, Kay,” ucap Yuda. “Kay, halo, Kay, kamu masih di sana? Kay?” Gelombang kekhawatiran terdengar jelas dari suara teman-teman.

Aku ingin menjawab mereka, tetapi tidak satu pun kata mampu keluar dari mulutku. Aku merasa sangat pusing, dunia di sekitarku berputar-putar dan pandanganku makin kabur. Rasanya aku melihat bunga yang kusentuh tadi tumbuh makin tinggi dan melilitku sebelum akhirnya gelap total dan aku tidak bisa merasakan apa pun.


Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.

Cerpen

Percakapan di Meja Makan dalam Kepalaku

Cerpen Eko Setyawan

Istriku ingin segera memiliki rumah baru karena merasa hidup satu atap dengan keluargaku seperti halnya ikan yang hidup di akuarium. Ia begitu gerah dengan keadaan karena tidak bisa leluasa melakukan hobi dan hal-hal yang disukainya. Sebenarnya, hobinya sederhana, yakni menonton film. Tapi sering kali orang rumah seolah tak suka pada dirinya dan serasa ingin menunjukkan apa yang dilakukannya adalah salah satu bentuk kemalasan. Hal itu membuat istriku tersinggung. Ketika di kamar, ia menyampaikan padaku bahwa dirinya ingin segera angkat kaki dari sini.

Pada akhirnya hal ini harus kulakukan untuk menuntaskan semua masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang dikeluhkan istriku harus segera tuntas secepatnya agar tidak menjadi masalah yang meluas. Terlebih, karena posisi istriku yang sudah bekerja keras sepanjang hari demi membantuku mendapat uang.  Karena gaji dari mengajar menurut kami belum cukup memenuhi kebutuhan, cara inilah yang kugunakan mendamaikan keadaan dan meredam segala persoalan yang ada.

Aku menggelar meja makan dan kusiapkan segala keperluan yang nantinya kugunakan menyelesaikan masalah dengan cara menjamu semua orang yang terlibat dalam masalahku. Karena menurutku, masalah dapat dibicarakan dan diselesaikan dengan suasana yang tenang dan khusyuk, salah satunya dengan makan bersama demi menguraikan persoalan satu demi satu.

Meja makan yang kusediakan cukup sederhana. Hanya berbentuk persegi panjang yang tak seberapa lebar, kualasi dengan taplak renda motif bunga. Ditambah empat kursi mengelilinginya. Dan yang paling utama yakni piring, sendok, dan peralatan makan yang sekiranya diperlukan. Kulanjutkan dengan memasak dan kusesuaikan dengan makanan kesukaan mereka. Aku tahu itu karena aku akrab dengan orang-orang yang akan kuhadapi.

Cara ini menurutku akan manjur menuntaskan masalah yang ada. Sebelumnya, istriku mengatakan ia sudah melakukan banyak hal, baik di rumah maupun saat pergi bekerja, tetapi, ketika ia istirahat dengan menonton film, ibuku meliriknya dengan tatapan tak suka. Karena hal itu, istriku ingin kami memiliki rumah sendiri. Begitulah cerita yang ia sampaikan padaku dan mau tidak mau aku berada di posisi saat ini.

Sebenarnya, untuk meredam amarah dan kegelisahan istriku cukup mudah. Aku hanya perlu berbicara dengannya. Maka aku menggorengkan ia ikan tongkol disertai dengan sambal. Aku tahu semua makanan yang disukainya. Dan di antara yang paling disukai adalah ikan tongkol goreng dengan sambal yang kubuat sama seperti waktu kami awal-awal menikah. Lantas ia ketagihan. Sambal yang kubuat cukup sederhana yakni dengan menggoreng cabai, bawang merah dan putih, lalu dibumbui dengan garam, micin, gula, dan terasi, lantas disertai dengan potongan kulit jeruk purut. Bau dari kulit jeruk purut katanya sangat sedap dan membangkitkan selera makannya. Sebagai tambahan, aku menggoreng kol dan juga memotong mentimun tanpa dikupas.

Dengan makanan yang kuhidangkan, ia akan lahap, bahkan menambah makanannya dan memenuhi lagi piringnya. Mungkin tidak terdengar etis atau di luar kebiasaan perempuan di luar sana, tetapi aku menyaksikan itu semua dan diam-diam ikut menikmati setiap suapnya. Karena sebagai bentuk penyelesaian masalah yang kuhadapi saat ini, ketika ia makan, aku menyela kecil untuk membicarakan masalah yang tak mengenakkan hatinya.

Aku mengatakan pada istriku memang ibu kadang seperti itu. Mungkin saja karena ibu terlampau lelah mengurus bapak yang sakit. Bisa saja memang istriku yang merasa tersindir. Serba risih karena ibu selalu melihat ke arahnya ketika ia sedang istirahat. Maka aku menyarakan padanya agar tidak perlu diambil hati. Aku mengatakan itu sembari menyuapkan makanan ke mulutku.

Istriku memandang sejenak, lantas kembali melihat piringnya dan menjumput nasi serta pelengkapnya. Itu kebiasaannya ketika makan makanan yang kumasak ini. Ia makan dengan tangannya.

Ia menyahut perkataanku. Istriku mengatakan kalau apa yang dilakukan ibu bukan basa-basi semata dengan melihatku tapi sudah dengan tatapan tidak suka. Dari raut wajah istriku menunjukkan kekecewaan dan amarah yang coba diredam. Matanya menatapku tajam. Tangannya berhenti menyuap makanan. Hanya memainkan makanan saja.

Aku coba memahami apa yang dirasakan istriku. Tapi menurutku ia hanya sungkan saja pada ibu. Dan tentu kurasa ibu tahu kalau istriku sudah bekerja keras dari pagi hingga sore. Menurutku, itu bukan masalah yang perlu dipikirkan. Aku mencoba menenangkan suasana.

Tak lama setelahnya, istriku menyampaikan keinginannya memiliki rumah sendiri untuk kami berdua. Ia terus-terusan kepikiran akan kejadian yang menimpanya. Katanya, kami sudah enam tahun menikah,  sudah selayaknya tidak lagi menumpang di sini. Ibu juga sering menyinggung soal anak pada istriku. Karena kami belum memiliki anak sampai saat ini. Saat mengatakan itu, matanya tajam seperti pisau yang siap menghunjamku.

Aku menatapnya dalam. Dari raut wajahnya menunjukkan keinginan yang dalam. Hatiku sedikit getir. Tapi kenyataannya aku belum bisa memenuhi keinginannya. Tapi dalam hati kecilku merasa sejujurnya apa yang ia katakan benar. Aku menyetujui itu dalam hati, namun kenyataan berkata lain. Ibuku tidak mau aku pergi dari rumah ini dan meninggalkannya karena aku anak satu-satunya. Terlebih, yang membantu mengurus bapak dan merawat rumah tidak ada. Jadi kuputuskan meyakinkan istriku.

Tentu apa yang dikatakan istriku membuat dilema perasaan. Itu pilihan sulit karena keadaan tidak memungkinkan. Jika kami meninggalkan rumah ini, bagaimana dengan bapak dan ibu. Karena di rumah ini bukan semata tinggal bersama, tetapi ada perkerjaan dan tugas yang harus dilakukan. Aku mencoba meyakinkan istriku kembali.

Istriku menimpali dengan gusar, keinginannya meninggalkan rumah ini terlampau besar. Namun dirinya juga memberiku kesempatan berbicara pada ibu agar aku memberi pengertian pada ibu mengenai situasi kami. Ia sedikit meredam emosinya. Tapi dari raut wajahnya terlihat gamang. Aku menyunggingkan senyum ke arahnya. Ia melihatku dengan tatapan yang tak biasa. Aku mencoba menafsir maksudnya, tapi gagal.

Kukatakan pada istriku tentang rencana berbicara dengan ibu. Tapi apakah ibu menerima apa yang istriku keluhkan dan harapkan menjadi persoalan lain. Semua kembali pada ibu. Itulah kata terakhirku untuk menutup pembicaraan di meja makan, lantas bergegas membereskan meja makan.

Dengan apa yang telah dikatakan dan diinginkan istriku, kuberanikan diri mengatakan semua pada ibu. Di hari berikutnya, kusiapkan meja makan yang sama dengan sebelumnya. Kumasak nasi dan urap untuk ibu, juga kugorengkan ikan asin serta sambal petai kesukaannya. Tak beda dengan istriku, ibu lahap memakan apa yang telah kubuatkan untuknya. Tak beda dengan istriku, ibu juga lebih memilih makan dengan tangan secara langsung, lebih nikmat katanya.

Tak berselang lama, di tengah lahapnya ibu, aku mulai menyela. Jauh sebelum ini, sebenarnya ibuku menatapku curiga karena kelakuanku kali ini. Tak biasanya aku memasak untuknya. Hanya sesekali saja. Biasanya ketika ibu sedang sakit atau malas memasak. Kukatakan apa perluku sembari melahap makanan yang sebenarnya seleranya tak jauh beda dengan istriku.

Kukatakan mengenai keluhan istriku atas sikap ibu. Tak lama setelahnya, mata ibu memicing dan menatapku tajam seolah hendak menerkamku. Mata teduh yang biasanya aku lihat, kali ini benar-benar berganti dengan tatapan yang menakutkan. Baru kali ini aku menatap tatapan ibu semenakutkan ini. Dadaku bergetar. Perasaanku terasa getir.

Ibu menimpali perkataanku dengan suara yang keras. Emosinya meluap. Ibu mengatakan bahwa sudah enam tahun aku menikah dengannya dan sampai sekarang tidak punya anak. Ibu khawatir terjadi sesuatu dan jika apa yang ditakutkan ibu benar, maka masalah lebih besar akan terjadi. Ibu menekankan bahwa dirinya tidak akan diam saja dengan persoalan yang ada di hadapannya. Istri anaknya tidak bisa memiliki keturunan. Lebih dari itu, kata ibu, akhir-akhir ini istriku terlalu bermalas-malasan. Jadi apa yang dilakukan ibu sudah benar. Ibu berbicara dengan sangat gamblang dan lantang.

Makanan yang ada di hadapanku terasa hambar. Begitu pun ibu, ia tak lagi menggubris makanan yang ada di piringnya. Dan yang mengagetkanku ketika ibu tiba-tiba mengatakan perihal perceraian. Persoalan anak adalah persoalan genting, karena keturunan menjadi segalanya bagi ibu.

Ibu mengajukan pilihan padaku. Aku memilih menceraikan istriku atau kami harus meninggalkan rumah ini. Pilihan itu membuatku tercengang. Seperti kilatan cahaya petir yang menyambar tiba-tiba. Aku bingung dengan pertanyaan ibu, juga dengan apa yang harus kukatakan pada istriku. Aku bingung untuk mengatasi masalah yang kuhadapi. Pikiranku kacau sejadi-jadinya.

Berkelindan dengan hal itu, aku mengingat satu hal yang pernah kulakukan di tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya, aku telah melakukan tes kesuburan ke dokter secara diam-diam. Dari hasil lab menunjukkan bahwa kesuburanku tidak normal dan tidak bisa menghasilkan keturunan. Tapi mulutku terasa berat ketika akan menyampaikan pada ibu. Apalagi kepada istriku. Aku takut menyakiti hati keduanya. Untuk pindah dari rumah ini terasa berat karena ada tanggung jawab yang tersemat di pundakku. Aku harus menjaga ibu dan bapak. Dan yang lebih penting dari itu, tabungan kami tak cukup untuk membeli rumah seperti yang diangankan istriku.

Kenyataannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ditinggal istriku yang pergi dari rumah ini karena tak nyaman dengan tuntutan ibu. Sementara aku lebih memilih menemani bapak dan ibu di sini. Akhirnya, apa yang kubayangkan mengenai percakapan di meja makan dalam kepalaku berlalu begitu saja. Persoalan yang ada hanya berputar di angan-anganku, bahkan tak pernah bisa kuselesaikan. Aku tak berani mengatakan apa pun pada istriku maupun ibu. Memang meja makan ini tak lebih hanya angan-angan semata.


Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Dosen di Universitas Dehasen Bengkulu. Alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa. Instagram: @setyawan721, surat-menyurat: [email protected].

Cerpen

Kamar Tanpa Jendela

Cerpen Diana Rustam

Di balik pintu dan jendela yang terkunci, segala sesuatu berbahaya. Mata seorang gadis menatap pintu dan jendela, hanya menatap saja.

***

Ketika Rosane membuka mata, di hadapannya, di atas meja rias, seekor kucing berbulu hitam sedang duduk dengan sepasang mata bulat hijau yang seolah sedang mengawasinya. Gadis itu bertanya-tanya, dari mana kucing itu datang. Mustahil  kucing itu bisa menyelinap masuk sebab pintu dan jendela kamarnya selalu terkunci rapat. Pintu kamarnya hanya dibuka oleh ibunya di waktu-waktu tertentu saja: saat mengantar sarapan pagi, makan siang, makan malam, dan setiap sore ketika pembantu kepercayaan ibunya harus membersihkan kamarnya.

Mata biru gadis itu bertemu pandang dengan mata hijau si Kucing Hitam. Kucing itu tersenyum lebar, menampakkan gigi-gigi taringnya. Seumur hidup, itulah pertama kali ia melihat seekor kucing tersenyum. Senyum itu tidak membuat si Kucing terlihat lucu atau menggemaskan, sebaliknya ia tampak menyeramkan.

Kucing itu melompat dari meja. Berjalan pelan-pelan mendekati ranjang di mana gadis itu berbaring. Ranjangnya terbuat dari kayu yang dipernis, mengilap dan ditudungi kelambu putih. Kasur tempat gadis itu berbaring dilapisi seprai sutera yang sama putih dengan kelambunya. Setelah jaraknya cukup dekat, kucing itu duduk di lantai. “Hei, Rosane, bangun dari sana.” Kucing itu bicara padanya.

Gadis itu tersentak dan terpekik kecil, “Jangan mendekat.” Ia menegakkan tubuhnya kemudian menyurutkan punggung ke sandaran ranjang.

Kucing hitam maju selangkah. “Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

Rosane tidak langsung membalas ucapan kucing hitam, hanya memandanginya dengan pikiran yang dijalari rasa takut.

Kucing hitam menjilati kakinya sebentar, kemudian punggungnya, kemudian ekornya. Usai dari ritual itu, ia mengangkat wajah, mata hijaunya berkedip. “Panggil saja aku Tuan Kacang Polong.”

“Ta-tapi, dari mana kaudatang?”

“Aku tak tahu. Tiba-tiba saja aku ada di sini. Sepertinya kaulah yang menghendaki aku ada di sini. Kau kesepian, bukan? Setiap hari kau hanya melihat tembok dan dinding yang putih ini, hidup yang membosankan. Kukira itulah alasannya.”

Kucing hitam itu naik ke atas ranjang. Ia melepaskan sepasang sarung tangan yang membungkus tangan Rosane dan melucuti masker yang menutupi mulut gadis itu. Tetapi Rosane berusaha mempertahankan sarung tangan dan maskernya. “Jangan menyentuhku! Kau ingin membuatku celaka?”

“Ayo beranjak dari kasur itu dan keluar dari kamar ini.”

“Tidak bisa! Itu akan membuatku sakit!”

“Omong kosong! Kau tidak boleh berbaring di sini terus-menerus dan hanya mengitari kamar ini saja.”

Rosane menggeleng. “Cahaya, udara, air dan segala sesuatu yang ada di luar ruangan ini berbahaya.”

“Seperti itu yang ibumu katakan padamu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu seperti ini selamanya.”

Kucing hitam terus bicara dan mendesak Rosane dengan tatapan yang tajam, sehingga gadis itu menutup telinga dan matanya. Ia berusaha mengabaikan ucapan-ucapan kucing hitam. Tetapi, kucing hitam itu tidak berhenti sampai suara langkah kaki seseorang terdengar dari luar kamar Rosane, dan kucing hitam itu tiba-tiba mengilang.

Kucing itu sudah duduk di meja riasnya setiap pagi, ketika ia membuka mata. Seolah-olah ia menghadapi hari yang sama setiap bangun pagi. Dan semakin ia berusaha mengabaikan keberadaannya, dari hari ke hari ucapan kucing hitam itu semakin gencar di telinganya dan menancap dalam pikirannya. Rosane merasa lelah, dan kemudian tidak bisa lagi menolak ucapan kucing hitam itu. Lantas pada sebuah pagi ketika matahari telah terbit, gadis itu menyerah dan menuruti ucapan kucing hitam. Rosane bangkit, menanggalkan kaos tangan dan masker yang menutup separuh wajahnya.

Mengikuti langkah kucing hitam, Rosane berdiri di depan jendela kamarnya yang tertutup tirai tebal berwarna gelap, sepasang jendela besar di bagian timur kamar itu. Jendela yang selama ini hanya berani dipandanginya saja dari tempat tidur.

“Kau butuh udara segar. Bukalah jendelanya lebar-lebar,” ujar kucing hitam.

Gadis itu ragu-ragu, ada raut kecemasan di wajahnya. Ia memandang kucing hitam untuk menyiratkan bahwa dirinya tidak yakin akan membuka jendela itu. Kucing hitam mendesak dengan suara tegas, “Apa yang kautunggu, Rosane!”

Setelah berdiri beberapa jenak di depan jendela, akhirnya Rosane membuka daun jendela yang bertahun-tahun terkunci. Sinar matahari langsung menabrak wajahnya, mata Rosane seketika silau, seolah sinar matahari menusuk kedua bola mata itu. Kaki Rosane langsung surut selangkah ke belakang, badannya limbung, dan sigap menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangan. Rosane gemetar karena merasa takut.

“Jangan takut, matahari tidak akan melukaimu. Lepaskan tanganmu dan pandanglah matahari itu. Ulurkanlah tanganmu padanya.”

“Itu berbahaya, Tuan Kacang Polong.”

“Bahaya hanya ada di kepalamu saja.”

Meskipun enggan karena dibebani perasaan cemas, Rosane akhirnya menjulurkan tangan ke luar jendela. Gadis itu mengembangkan telapak tangan seperti hendak menadah sinar matahari. Perlahan-lahan, Rosane merasakan hangat sinar matahari pagi menjalari kulitnya. Kulitnya yang pucat menjadi sedikit merona. Rosane membalikkan telapak tangannya, mempersilakan hangat matahari menjilati punggung tangan itu.

“Kau akan terbiasa. Sekarang julurkan kepalamu keluar jendela, hirup udara dalam-dalam, Rosane.”

“Tapi….”

“Udara dari luar tidak akan membunuhmu.”

“Tuan Kacang Polong, bagaimana kalau aku sesak?”

“Itu tidak akan terjadi. Percaya padaku.” Kucing hitam melompat naik ke bingkai jendela, kemudian duduk menghadap keluar. Kucing itu membusungkan dada, menghirup udara banyak-banyak ke paru-paru, kemudian mengembuskannya pelan-pelan sambil mengibas-ngibaskan ekornya.

“Lakukan sekarang. Bukankah matahari yang kautakuti itu tidak membakarmu?”

Mula-mula gadis itu ragu, ia berdiri bagaikan patung dalam waktu yang cukup lama. Kemudian angin yang berembus dari luar menerpa wajahnya, dan menggoyangkan anak rambutnya yang keemasan. Rautnya yang semula tegang, berangsur lembut. Perlahan ia melongok keluar, paru-parunya mengembang. Bersama udara yang masuk ke rongga hidungnya, datang pula aroma yang segar.

“Mawar,” Rosane menggumam.

“Ya, itu mawar. Lihat ke sana, mawar-mawar sedang mekar. Sudah berapa lama, Rosane?”

“Kupikir sejak usiaku sepuluh tahun, Tuan Kacang Polong.”

“Sudah enam tahun. Kebun mawar itu tidak berubah, ia dirawat dengan baik. Sedangkan kau, tumbuh di kamar ini sendiri dalam kesepian.”

“Aku tak bisa dibandingkan dengan mawar itu.”

“Ibumu sudah meracuni pikiranmu. Dia mengurungmu di kamar yang terpencil ini, di lantai tiga yang tidak berpenghuni, karena dia takut terhadap sesuatu yang ada dalam pikirannya sendiri.”

Sayup-sayup suara tapak sepatu yang mengetuk lantai terdengar dari luar kamar, seketika percakapan kucing hitam dan Rosane terhenti, mata mereka saling melempar pandang. Kucing hitam melompat turun. Rosane bersegera menutup jendela dan merapikan tirai.

Lekas-lekas Rosane mengenakan sarung tangan dan maskernya, kemudian berbaring seperti sejak sebelum ia beranjak dari ranjang. Sementara kucing hitam sudah hilang dari pandangannya, entah kemana. “Tuan Kacang Polong!” Rosane memanggil, tetapi tidak ada jawaban dari kucing hitam.

Seorang perempuan paruh baya masuk setelah mengetuk pintu. Perempuan itu, Nyonya Julia, ibu dari Rosane. Nyonya Julia mengenakan gaun hitam dan rambutnya digulung rapi. Ia datang dengan sebuah nampan di tangannya, berisi roti yang sudah diolesi selai dan segelas susu.

“Rosane, waktunya sarapan pagi.”

Nyonya Julia memiliki wajah yang kecil. Air wajahnya tampak selalu tegang, seolah-olah di kepalanya ada banyak hal yang ia pikirkan. Ia berbicara dengan cepat, seakan-seakan ia tidak punya banyak waktu untuk bicara. Dengan pembawaanya yang seperti itu, ia terlihat jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya.

“Habiskan sarapanmu, setelah itu minum vitaminnya.”

Rosane menurunkan masker dan mulai menyantap sarapannya di tempat tidur. Sementara Nyonya Julia, menyiapkan pakaian baru, masker baru dan sarung tangan baru untuk dipakai oleh Rosane setelah mandi pagi. Perlengkapan Rosane telah dipastikan dalam keadaan steril oleh Nyonya Julia.

Setelah semua ritual yang monoton dan membosankan selama bertahun-tahun itu, Rosane kembali ditinggalkan sendirian. Sebelum pergi, Nyonya Julia berpesan, pesan yang diucapkan setiap hari, yang pesan itu diulanginya sampai lebih dari tiga kali. “Jangan pernah mendekati jendela, Rosane. Semua yang ada di luar kamar ini berbahaya.” Ketika bicara, Nyonya Julia mendekatkan wajahnya yang tegang pada Rosane. Kedua tangannya mencengkeram bahu gadis itu. Dan dengan nada yang ditekan sedemikian rupa, ia berkata, “Percayalah pada ibu, dengan penjagaan ibu, kau akan selamat dari semua bahaya.”

Kucing hitam kembali datang ketika Nyonya Julia sudah pergi. “Ibumu sudah gila. Setelah kakakmu meninggal enam tahun lalu, sikapnya semakin buruk. Tidakkah kau merasakannya, Rosane?”

“Mungkin ibuku benar. Kakakku meninggal karena terpapar virus ganas. Virus melayang di udara, kau tidak bisa melihat mereka, sementara mereka bisa masuk ke dalam tubuhmu dengan mudah. Selain itu, di luar sana banyak orang jahat yang tidak tertebak isi hatinya, bisa saja mereka memiliki niat buruk kepada kita, dan menghabisi kita sebelum kita menyadari niat buruknya.”

“Sudah kubilang itu hanya perkataan ibumu. Dia memiliki ketakutan dalam dirinya yang tidak bisa dia kendalikan.”

Mula-mula Rosane menolak semua ucapan kucing hitam, dan tetap meyakini ucapan ibunya sebab dalam dirinya sendiri telah tumbuh kekhawatiran yang sama, meskipun sebenarnya ia merasa kesepian dalam hidupnya yang terkurung. Akan tetapi, setelah beberapa lama, di sebuah pagi setelah sarapan Rosane mulai memikirkan ucapan kucing hitam. “Lalu, apa yang harus aku lakukan, Tuan Kacang Polong?”

“Keluar dari sini. Kau tidak mau hidup sampai tua di kamar yang terkunci ini, kan?”

Rosane mengangguk.

Dan pada sebuah malam, ketika Nyonya Julia datang untuk mengantarkan makan malam ke kamarnya, Rosane mengutarakan keinginannya untuk keluar dari kamar itu. Nyonya Julia terkejut dan berang ketika mendengar permintaan Rosane. Tubuh perempuan itu gemetar hebat, seolah-olah saat itu ia sedang berhadapan dengan sebuah bahaya yang mengancam nyawanya. “Susah payah ibu menjagamu bertahun-tahun, tapi kau malah ingin keluar dan menghancurkan dirimu di luar sana. Apa yang kaupikirkan, Rosane!”

Rosane tersentak dengan bentakan ibunya. Gadis itu tertunduk dengan wajah pasi.

Maka tidak ada yang bisa dilakukan Rosane untuk membebaskan dirinya kungkungan dan keterpencilan hidup, kecuali diam-diam mencuri waktu membuka jendela kamarnya setiap hari, memandangi kebun mawar yang terhampar, merasakan hangat sinar matahari pagi dan menghirup udara segar. Dan pada setiap kesempatan itu, kucing hitam selalu berbisik di telinganya, “Tidakkah kau ingin pergi lebih jauh, Rosane? Melihat lebih banyak? Melompatlah. Di luar sana kau merdeka.”

“Melompatlah, Rosane.”

“Melompatlah.”

***

Nyonya Julia menangkap gelagat Rosane yang tidak biasa. Sering kali dari luar kamar anaknya itu, ia mendengar suara Rosane seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Tetapi, ketika ia masuk memeriksa ke dalam kamar, tidak ada siapa-siapa kecuali Rosane.

Ketakutan Nyonya Julia bertambah, ketika memergoki Rosane berdiri dan bercakap-cakap seorang diri di depan jendela yang terbuka, tanpa masker dan sarung tangannya. Rosane hendak melompat dari jendela. Nyonya Julia panik dan berpikir harus menutup seluruh jendela itu dengan tembok.

Dan, sejak saat itu, tinggalah Rosane di kamar yang tidak lagi memiliki jendela.

Kian hari keadaan Rosane kian memburuk. Rosane mulai membenturkan kepalanya di tembok dan memanggil-manggil seseorang dengan nama yang aneh, “Tuan Kacang Polong.” Sehingga tidak ada cara lain yang dipikirkan Nyonya Julia, kecuali memasung Rosane. Rosane sudah gila, demikian Nyonya Julia meyakini keadaan anaknya.

Makassar, 29 September 2023.


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Cerpen

Perihal Lesuika

Cerpen Jeli Manalu

Begitu lonceng bunyi, anak-anak menghambur ke luar. Para mama-papa yang datang menjemput, hari ini atau kapan saja, tak satu pun pernah terlihat berjalan kaki. Papa Riz menggunakan motor trail. Mama Moan pakai motor matic. Tuk yang sambil makan keripik sukun menunggu mobil warna jus buah naga. Seandainya Mama Nef mengantar-jemput Lesuika dengan kendaraan.

Apa di luar pagar gerimis lagi?—gerimis datang sejak pagi buta, saat adik bayi menangis sebab ingin menyusu namun Mama Nef belum mendengarkannya. Lesuika berdiri dekat kaktus sebelah kantor guru. Tangan dijulurkan ke depan, gerimis ternyata tidak ada. Gerimis reda sepuluh menit lalu. Dan Mama Nef, mungkin akan muncul sebentar lagi. Dengan payung ungu, dan sandal jepit yang mempermudah langkah kaki. Langkah kaki Mama Nef cepat-cepat dan berkesan tergesa tetapi Mama Nef bilang itu termasuk santai karena ke banyak tempat ia sudah sangat terbiasa berjalan kaki.

Hei, Lesuika. Cepat ke sini. Nanti adik bayi nangis.

Mama Nef sering berbicara begitu. Sepasang kaki Lesuika bergerak cepat menuju Mama Nef. Mereka harus buru-buru pulang demi adik bayi yang tidak Mama Nef bawa bila kebetulan sedang tidur.

Sekolah sepi. Guru-guru sudah tak ada. Bunyi sandal jepit Mama Nef beradu dengan jalanan tak kunjung muncul di luar pagar. Jerit suaranya juga belum. Apa adik bayi sedang sangat rewel sehingga Mama Nef perlu lebih banyak waktu untuk menidurkannya? Kadang Mama Nef berjalan keliling kompleks agar adik bayi bisa tertidur. Pernah Mama Nef menggendong adik bayi sambil berjalan-jalan setengah hari hanya karena adik bayi tidak mau dilepas.

Saat ini Lesuika semakin mengantuk dan lapar. Waktu istirahat ia memang ke kantin makan mi sop pedas campur bakwan bersama Riz dan Moan. Ia juga dapat lima lembar keripik sukun dari Tuk. Lalu permen dari temannya yang lain. Hanya saja perut Lesuika lekas-lekas sekali minta diisi makanan sebab ke sekolah berjalan kaki membuat pencernaannya ikut gesit bekerja. Ia pernah cerita kepada Mama Nef tentang perkataan gurunya, orang yang banyak bergerak metabolisme tubuhnya juga berjalan cepat, itulah mengapa ia berharap sekali bisa diantar-jemput dengan kendaraan seperti teman-temannya agar cepat tiba di rumah dan langsung duduk di meja makan, menghabiskan sepiring-dua piring nasi dengan tiga ekor ikan puyuh tanpa kepala, lalu minum teh manis dingin, lalu pisang, atau biskuit yang mungkin masih tersedia dalam kaleng Khong Guan di atas lemari.

Lesuika meninggalkan kaktus lalu bersandar di tembok kantor guru yang persis menghadap pagar sekolah. Di tembok itu ia menahan kantuk, ia tak boleh tertidur karena ditakutkan Mama Nef memanggilnya dari luar pagar sementara ia tak bisa mendengarnya. Agar tidak tertidur, ia mengambar-gambar di buku. Ia buat dirinya berada dalam boncengan Mama Nef—bagaimana postur tubuh Mama Nef saat berkendara di tengah keramaian: Tegang, menciut seperti orang kedinginan—Lesuika belum pernah lihat Mama Nef berkendara. Mama Nef pakai helm, Lesuika pakai helm. Ia suka helm warna jus buah naga seperti mobil keluarga Tuk. Tuk pernah memberikan Lesuika jus buah naga yang dibawanya dari rumah. Warnanya cantik. Rasanya enak. Seandainya ia diantar-jemput Mama Nef pakai kendaraan, pastilah ada yang Lesuika banggakan kepada teman sekolahnya. Mereka punya satu sepeda dan satu motor yang selalu terpakir di garasi. Dua benda itu bisa membawanya jalan-jalan hanya ketika papa pulang.

“Kenapa kamu tidak diantar Mama Nef pakai kendaraan?” tanya Tuk suatu hari.

Lesuika ingin bilang, namun lekas-lekas menutup mulut. Ia tak mau Mama Nef jadi olok-olokan di sekolah. Teman-temannya selalu cerita membanggakan mengenai orangtua mereka yang jago berkendara. Papa Riz muda seorang pembalap—Riz pernah memamerkan foto-foto papanya ketika berada di sirkuit. Selain antar-jemput sekolah, Moan bilang mamanya selalu memboncengnya pakai motor matic. Keliling kota. Ke dokter gigi. Ke tukang pangkas rambut. Sedangkan Tuk tak diragukan lagi. Ia anak beruntung yang hanya tinggal duduk dalam mobil ber-AC sambil makan keripik sukun lalu tanpa sadar sudah tiba depan pintu rumah.

“Bila diantar-jemput pakai motor, perutmu pasti tidak cepat-cepat lapar,” sahut Riz.

“Bajumu juga tidak cepat-cepat bau keringat,” sambung Moan.

Di pekarangan sekolah angin menerpa dahan-dahan kaktus. Di rumah Mama Nef menepuk-nepuk bokong adik bayi. Gerimis halus-halus muncul dan melayang ke tembok kantor guru. Lesuika belum tertidur. Ia berharap Mama Nef segera muncul dengan payung ungu, sandal jepit yang mempermudah langkah kaki lalu dari luar pagar Mama Nef menjeritkan nama Lesuika.

“Kalau Mama Nef tidak bisa berkendara, kenapa tidak sewa orang antar-jemput kamu?”

Tahun lalu, ada orang yang bersedia antar-jemput Lesuika. Orang itu berhenti karena hamil dan sekarang sibuk mengurus bayi. Bila diantar tukang ojek, Mama Nef tak percaya. Ia cemas barangkali saja si tukang ojek mengiming-imingi Lesuika makanan padahal ada maksud lain di belakangnya

Lagi pula, jarak rumah ke sekolah tidak jauh. Hanya 15 menit berjalan kaki, Mama Nef mencoba membela diri dari ketidakmampuannya berkendara. Masalah Lesuika, ia malu dilihat teman-temannya selalu berjalan cepat dan tergesa. Dan hal paling tidak ia suka bajunya jadi anyir keringat padahal hari masih pagi. Tetapi kata Mama Nef lagi Lesuika tak perlu merasa minder. Berjalan kaki bagus juga untuk tubuh Lesuika yang gampang sekali bertambah gemuk.

“Lesuika!”

Payung ungu dan sepasang sandal jepit Mama Nef menyeberang ke arah sekolah. Saat itu adik bayi tidak terlihat bersama Mama Nef.

“Lesuika,” panggilnya.

Gerimis makin menggila.

“Lesuika, kamu di mana?”

“Cepatlah berlari, Lesuika!” ***

Riau, Mei 2023


Jeli Manalu senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018 dan “Kucing Penunggu Susteran dan Cerita-cerita Lainnya” tahun 2022.

Cerpen

Mengarang Cita-Cita

Cerpen Ian Hasan

Tak ada seorang pun yang pernah mengajariku perihal bagaimana sebaiknya seseorang bercita-cita. Atau setidaknya, seingatku belum ada pula orang yang pernah memberiku sedikit penjelasan mengapa cita-cita menjadi begitu penting seperti halnya nama.

Bertahun-tahun aku mengarang cita-cita sejak pertama kali ditanya tentang hal itu, sekadar memungutnya dari siaran drama radio, selebaran film bioskop, atau bungkus pao-pao[1] bergambar superhero. Dan nyaris tak ada satupun dari cita-cita yang pernah kusebut—karena sejujurnya tak ada cita-cita yang menurutku abadi—telah aku pertimbangkan betul dalam memilihnya kecuali satu, cita-cita menjadi dukun.

Sekali waktu pernah aku nyatakan cita-citaku menjadi dukun itu saat pelajaran berlangsung di sekolah, karena guru menanyakannya. Sudah bisa kutebak, kebanyakan teman-temanku menyebutkan cita-cita menjadi dokter, tentara, polisi, atau insinyur. Tapi aneh, jawabanku malah jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas dan juga guru. Sampai di rumah aku masih menyimpan tanda tanya besar, apa sebetulnya maksud orang menanyakan cita-cita kalau hanya dijadikan bahan olok-olok seperti itu. Aku makin tak habis pikir ketika dua hari berikutnya ibu marah besar setelah mendengar pengakuan dari guru, saat ia—tidak seperti biasa—menjemputku ke sekolah.

“Katakan, siapa yang ngajarin Jalu bilang kayak gitu!” bentaknya, setiba kami di rumah.

“Jalu tahu, dukun itu apa?” tambahnya dengan wajah memerah.

Maksud ibu mungkin bertanya, tapi aku tahu saat itu bukan waktu yang tepat untuk menanggapinya. Kurelakan daun telingaku, dua-duanya jadi korban, bergantian dijewer tangan yang biasanya lembut dan penuh kasih sayang. Ada rasa sakit yang susah hilang, tapi bukan di situ tempatnya. Aku hanya terdiam dan hampir menangis—atau sudah, aku tak ingat betul. Seketika aku merasa amat bersalah karena telah berkata jujur sehingga membuat malu keluarga, terutama ibu yang kutahu sangat kecewa.

Aku lihat perubahan wajah dan sikap ibu sejak saat itu, seakan menular ke semua anggota keluarga. Berhari-hari aku tak diajak bicara, seakan mereka begitu menyesalkan cita-cita yang telanjur kukatakan sebenarnya.

***

Ingatanku tentang kemarau yang sedang menggila, sama saja dengan ingatanku tentang kegigihan kakek meladang. Aku tahu, kakek saban hari bekerja di ladang, tanpa pernah sekali saja menunjukkan kerisauan perihal kesulitan yang dihadapinya. Selain tentang pekerjaannya sebagai petani, sering pula aku perhatikan kebiasaan kakek menolong orang lain tanpa pamrih, sekalipun ia sendiri terkadang tidak sedang baik-baik saja. Mungkin karena itu, setiap warga desa dan kebanyakan orang Jatikuwung mengenal kakek. Tidak sedikit dari mereka yang pernah mendapatkan pertolongan kakek, mulai dari mengobati orang sakit, meredakan rewel bayi atau anak kecil, menentukan titik galian sumur, menanyakan hari baik—untuk mulai tanam, bangun rumah, hingga menikahkan anak, serta mengusir dan melindungi rumah dari gangguan makhluk halus. Bahkan sudah dua pekan ini ada orang yang tiap hari mengambil jatah makan siang untuk warga yang gugur gunung membuat jembatan.

Terkait kesibukannya itu, kakek tak pernah mengeluh dan selalu siap kapan pun dibutuhkan, asalkan bisa atau memang sedang berada di rumah. Orang datang juga tak kenal waktu sekalipun kakek sedang beristirahat, bisa tengah malam atau dini hari sebelum subuh.

“Kakek hanya tak ingin, kehampaan yang mereka bawa pulang,” begitu jawabnya ketika kutanya.

Bila kakek sedang pergi ke ladang atau mengajar ngaji di langgar depan rumah, biasanya orang-orang itu rela menunggu. Karena sudah pasti kakek hanya mau melayani permintaan mereka setelah menyelesaikan pekerjaannya itu. Sebetulnya aku juga tidak terlalu yakin dengan menyebut semua itu pekerjaan. Yang aku tahu, kakek hampir-hampir tak pernah mengecewakan orang-orang yang datang. Buktinya, mereka akan selalu kembali di waktu yang lain saat membutuhkan pertolongan lagi.

“Kakeknya Mas Jalu itu dukun sakti,” terang salah satu dari mereka, ketika saking penasarannya aku bertanya-tanya perihal pekerjaan kakek.

Semenjak itulah aku mendengar sebutan dukun, meski tak pernah kuketahui sejak kapan kakekku memulai pekerjaan menolong orang itu. Yang jelas sekarang, orang yang kali pertama datang untuk menemui kakekku tak mungkin tersesat bila mereka mau bertanya ke orang-orang yang ditemuinya di jalan. Aku pun tak jarang berjumpa dengan orang yang sedang mencari rumah kakek dan tentu saja—bila tidak sedang tak ada hal mendesak—aku akan langsung mengantar mereka sampai di depan rumah. Seperti halnya sore itu, ketika seorang laki-laki muda bersepeda motor menghentikan langkahku bersama teman-teman menuju lapangan desa. Ia bertanya setelah mematikan mesinnya.

“Kalian tahu rumah orang pintar di dekat sini?”

“Orang pintar?” tanyaku heran.

“Du… du… dukun, maksud saya,” timpalnya dengan terbata-bata.

Owalah, kalau itu tahu. Mari saya antar,” sambil kuberi isyarat kepada teman-teman untuk duluan.

“Maaf, bukan sekarang, karena saya masih ada keperluan lain.”

Sementara itu teman-temanku bergegas lari ke lapangan.

“Oh, ya sudah.”

Hampir saja aku beranjak lari menyusul teman-teman, “Boleh adik tunjukkan dulu tempatnya?” tanya lelaki itu sembari menatapku tajam.

“Itu sebelum perempatan, yang ada langgarnya.” Kutunjukkan arah menuju rumah kakek.

Lelaki itu mengangguk beberapa kali dan sejenak terlihat sedang berpikir. Lalu setelah mengucapkan terima kasih, ia malah pergi. Segera saja debu beterbangan dan asap dari knalpot menutupi pandangan. Kau pasti bisa mengerti, mengapa aku tak perlu menanyakan kapan waktunya kelak ia akan datang, seperti halnya tak perlu kita menduga-duga kepastian datangnya hujan saat kemarau panjang. Dan andai saja kakekku tahu perihal perjumpaanku dengan lelaki itu, tentu ia juga berharap kesulitan orang itu sudah bisa teratasi sebelum akhirnya benar-benar datang kembali untuk meminta tolong.

Keesokan harinya guruku memberikan pelajaran tentang macam-macam profesi. Aku baru tahu bahwa kelak jika dewasa seseorang akan bekerja sesuai profesinya. Guruku juga menambahkan, setiap pekerjaan yang bermanfaat buat banyak orang, sama baiknya untuk dijadikan profesi. Sayangnya, guru tidak menyebut profesi seperti yang dikerjakan kakek, kecuali petani tentu saja. Meski begitu aku tetap merasa bangga dengan pekerjaan kakek yang terbukti melegakan kepayahan banyak orang.

***

Mendung sejak sore tadi seolah menandakan kemarau panjang akan segera berakhir. Tidak ada tanda-tanda bahwa malam itu akan terjadi sesuatu yang kelak akan terus kuingat sampai aku dewasa. Malam sudah larut dan aku masih sempat melihat kakek sedang melayani seseorang di ruang depan, yang biasanya akan berlangsung lama. Melihat itu aku merasa tak perlu lagi memedulikan olok-olok guru dan teman-teman tempo hari sebelumnya. Siaran wayang kulit di radio membuai rasa kantukku hingga tertidur, tenggelam bersama kisah pertarungan ksatria Pandawa melawan kejahatan dan kelicikan.

Aku terbangun saat mendengar suara gaduh di depan, mengalahkan suara kemresek radio yang telah berhenti siaran. Karena merasakan sesuatu sedang tidak baik, aku segera meloncat dari amben. Mengetahui kemunculanku di ruangan depan, nenek segera menangkap serta membenamkan tubuh kecilku ke dalam dekapannya. Sempat tubuhku meronta dan entah mengapa aku pun meraung-raung, tanganku menggapai-gapai, saat melihat kepanikan di sana-sini.

Malam begitu pekat sehingga tak dapat kupastikan apa yang terjadi sebenarnya. Tak kulihat ibu, mungkin sedang bersama adik. Tubuh bapak tergeletak di depan pintu, babak bundas seperti baru saja dikeroyok dan dipukuli orang. Agak jauh dekat jalan, terlihat bayangan orang-orang berpakaian dan bertopeng hitam, sedang menghajar seonggok tubuh yang kuduga kakek. Suara petir menggelegar dan sebentar kemudian hujan benar-benar turun membungkam sunyi yang bercampur isak tangis, setelah orang-orang itu pergi membawa kakek.

Semenjak kejadian itu, aku tak pernah berjumpa kakek dan tak mau bertindak konyol hingga membuat ibu marah lagi. Tak ada orang lain—kecuali teman-temanku—yang tahu perihal pertemuanku dengan orang asing di dekat lapangan, termasuk ibu. Aku sekarang takut bercita-cita dan berharap tak ada lagi yang bertanya, karena aku tak ingin terpaksa mengarangnya. Kelak baru kutahu, ada masa di mana pekerjaan menolong orang dianggap berbahaya. ***


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022.


[1] Istilah lokal yang berarti makanan kecil untuk anak-anak

Cerpen

Perempuan yang Berencana Mati Hari Ini

Cerpen Tiqom Tarra

Aku sedang bersiap dengan alat pancingku ketika melihat perempuan itu duduk sendirian di antara bebatuan karang agak menjauh dari dermaga. Aku tak berniat mengganggunya atau pun mengusik kegiatannya. Tempat ini adalah tempat di mana aku biasa menghabiskan waktu dengan memancing dan perempuan itu bebas berada di sana karena ini adalah tempat umum bagi siapa saja. Namun, ketika perempuan itu mulai terisak—bercampur dengan deru ombak sehingga aku tidak begitu menyadari sebelumnya—aku mulai menoleh padanya. Ada apa? Kenapa perempuan itu tiba-tiba menangis? Aku menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada siapa pun selain kami berdua di tempat ini. Orang-orang lebih memilih dermaga untuk memancing. Dan aku tak yakin apakah aku harus menanyakan keadaan perempuan itu dalam situasi seperti ini.

Tentu itu sebetulnya bukan urusanku. Setiap orang punya urusannya sendiri-sendiri di tempat ini, seperti aku yang hanya ingin memancing sebagai hobiku untuk mengisi waktu luang di sore hari. Ketika aku mulai melempar umpanku yang pertama kali, isakan dari perempuan itu semakin terdengar seolah dia ingin aku bertanya ada apa; seolah ingin aku memperhatikannya.

Ah, itu bukan urusanku, begitu kuyakinkan diri. Namun, ketika melihat wajahnya yang sembab dan air mata yang menderas, aku teringat pada mendiang anak perempuanku; hatiku luluh. Anggaplah perempuan itu memang sedang butuh kawan sekarang. Kutarik pancingku sebelum melangkah pada perempuan itu.

“Kau juga suka melihat ombak di sore hari?” tanyaku membuatnya tersentak seolah sedari tadi dia tidak menyadari keberadaanku, padahal dia yang menarik perhatianku dengan isakannya.

Perempuan itu tak menjawab. Dia hanya menyeka ingus dan air matanya dengan ujung lengan sweter sebelum kembali terisak dengan gigil di tubuhnya. Anak perempuanku pasti seumuran dengannya jika masih hidup. Dulu aku terbiasa menghadapi anak perempuanku jika tengah merajuk atau pun bersedih.

“Kau bisa bercerita apa saja pada ombak. Dia pintar menjaga rahasia.”

“Itu bukan urusanmu, Pak Tua!”

Aku terkekeh mendengarnya. Pak tua. Ya, itu memang panggilan yang pantas untukku karena uban yang begitu lebat di kepala. Aku duduk beberapa langkah darinya sembari memakai topi kesayanganku untuk menutupi uban yang sudah keburu ketahuan oleh perempuan itu.

“Enam puluh lima tahun memang sudah cukup tua untuk hidup di dunia ini. Mungkin sebentar lagi aku akan selesai.”

Perempuan itu tidak lagi bersuara. Kebisuan hadir di antara kami. Mungkin harusnya aku membiarkannya sendiri, tapi lagi-lagi aku teringat mendiang Mei, anak perempuanku. Angin pantai yang begitu kuat nyaris menerbangkan topiku. Beberapa tahun yang lalu, aku dan Mei sering menghabiskan waktu di sini. Aku memancing, sedangkan dia hanya duduk memperhatikanku sambil bercerita tentang sekolahnya, tentang teman-temannya dan ketika aku berhasil menangkap seekor ikan maka Mei akan berjingkrak dengan riang seolah itu adalah ikan yang akan menjadi makan malam yang paling dia nantikan.

Aku tersenyum mengingatnya. Andai Mei masih hidup. Mendadak hatiku diserang lara.

“Aku berencana untuk mati hari ini.” Perempuan itu tiba-tiba bersuara, mengaburkan ingatanku tentang Mei.

Kembali angin menderu dengan kencang, kali ini menerbangkan helaian rambut panjang perempuan itu. Dia tidak menghiraukan rambut panjangnya yang terbawa angin, sedangkan aku masih terpaku di tempatku; kehilangan kata-kata. Berencana untuk mati? Maksudnya bunuh diri? Itu kata-kata yang asing, tetapi juga sangat familier bagiku.

“Pasti akan lebih baik bagi keluargaku jika aku mati, bukan?” Kali ini perempuan itu menoleh padaku. Bibirnya membentuk senyum yang dipaksa, sedangkan matanya merah karena terus dipaksa mengeluarkan air mata.

“Tidak ada yang baik dalam sebuah kematian, apalagi yang direncana.” Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutku. Andai saja bisa aku ingin mengatakan kata-kata itu pula pada Mei.

“Aku tidak tahu bagaimana menghadapi dunia dengan keadaanku sekarang.”

“Apa kau punya teman?”

“Bahkan teman yang paling karib pun pergi meninggalkanku.”

“Tapi keluarga tidak akan pergi meninggalkanmu.”

Perempuan itu kembali terisak. Kali ini dia memeluk kedua lutut untuk menenggelamkan kepalanya, membuatku tidak lagi bisa melihat wajahnya yang ayu.

“Aku tidak kuat lagi menghadapi semua ini.” isaknya begitu pilu.

Angin kembali menyeret-nyeret ingatanku tentang Mei. Belasan tahun lalu menjadi hari paling memilukan dalam hidupku. Aku mendapat sebuah telepon, deringnya terasa begitu aneh bagiku, padahal setiap hari aku mendengar dering yang sama setiap kali mendapat panggilan telepon. Namun, hari itu ada yang aneh dengan deringnya. Dan ketika aku mengangkat telepon itu, suara di ujung sana mengatakan anak perempuanku ada di rumah sakit, kecelakaan katanya. Tidak, kau bohong, begitu kataku. Ketika aku sampai di rumah sakit, aku bahkan tidak bisa mengenali putri semata wayangku.

Sehari kemudian Mei dimakamkan dengan semua air mata yang keluarga kami punya. Putriku satu-satunya, orang yang paling aku sayang di dunia ini pergi meninggalkan kami. Istriku pingsan beberapa kali dan aku tidak tahu harus bagaimana menggambarkan kesedihanku. Rasanya kebahagiaan telah dicabut dari keluargaku. Mentari keluargaku telah pergi untuk selamanya. Setelahnya hanya ada kemuraman di rumah kami, meski kemudian aku dan istri bisa kembali menata kehidupan. Kami bangkit dari kesedihan, walaupun aku tidak pernah bercerita pada istriku tentang pesan terakhir yang Mei kirim padaku. Sebuah permohonan maaf dan ucapan selamat tinggal yang tidak bisa aku pahami maksudnya.

“Aku telah mengucapkan selamat tinggal pada ayah ibuku hari ini.” Perempuan itu telah menegakkan kembali tubuhnya. Matanya menatap jauh pada lautan yang luas di depan sana. Rambutnya yang panjang kini dia ikat menjadi satu; menampakkan lehernya yang jenjang.

Kapal-kapal kecil penangkap ikan mulai melaut dan menjauh dari pandangan; semakin jauh dan semakin kecil. Aku ingat impianku bersama Mei, kami ingin naik kapal pesiar suatu hari nanti. Sebuah kapal yang amat besar dengan fasilitas seperti hotel bintang lima, begitu katanya. Namun, yang terjadi Mei menaiki kapalnya sendiri dan meninggalkan kami dengan sebuah permohonan maaf dan selamat tinggal yang ganjil.

Apa yang terjadi pada Mei? Apa yang membuatnya menyerah pada hidupnya yang masih panjang. Aku ingat sehari sebelumnya dia bercerita tentang impian untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Mei ingin membuat Ayah bangga, begitu katanya. Aku masih tidak mengerti, bagaimanapun aku memikirkannya.

“Tapi itu bukan selamat tinggal seperti yang dibayangkan orangtuamu.” Kali ini aku mendebat. Bagaimana pun perempuan ini telah mengatakan rencananya untuk mati hari ini dan aku tidak bisa membiarkannya. Setidaknya jika aku tidak bisa menyelamatkan Mei, aku bisa menyelamatkan perempuan ini.

“Mereka bahkan tidak akan memusingkan tentang kematianku.” Kali ini perempuan itu membiarkanku melihat wajah yang sembap. Kepiluan yang menyanyat-nyayat hati. Rasa putus asa yang sudah tidak lagi berujung. Dan di sana hanya ada kegelapan.

Di awal-awal tahun kepergian Mei, aku memikirkan dengan keras apa alasannya meninggalkan kami. Apa yang tengah dialami seorang Mei dan tidak pernah dia ceritakan padaku atau pun ibunya, sedangkan sejak kecil tidak pernah ada satu cerita pun yang luput dia cerita pada kami. Apa yang Mei rahasiakan? Apa yang membuatnya nekat melompat ke rel tepat ketika kereta itu datang. Aku sama sekali tidak punya petunjuk.

“Apa yang terjadi?” desisku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada putriku. Pertanyaan yang selama ini hanya sampai pada angan-anganku karena aku tidak mau membuat istriku sedih dengan memikirkan kematian putri kami.

“Suara-suara dalam kepalaku begitu gaduh dan tidak ada lagi tempat yang bisa aku tuju, Pak Tua. Aku takut sendirian, tapi nyatanya aku memang sendirian.”

Mungkin perempuan ini memang tidak lagi punya alasan untuk hidupnya; entah sekadar sebuah alasan kecil untuk melanjutkan hidup seperti keluarga. Akan tetapi, Mei adalah seorang anak yang aku besarkan dalam kehangatan keluarga. Semua kasih sayang tercurah hanya untuknya. Mei dan perempuan di sampingku ini jelas berbeda.

“Kau bisa bercerita apa pun padaku,” terdengar seperti sebuah gombalan laki-laki hidung belang.

Perempuan itu hanya tersenyum sayu. Anak-anak rambutnya beterbangan menyapu wajahnya.

“Bisakah kau bertahan sebentar lagi, setidaknya untuk hal-hal kecil seperti aku menunggu ikan memakan kailku?”

Hening. Baik aku maupun perempuan itu hanya larut pada pikiran masing-masing. Kami diam memandang senja yang semakin turun hingga hari mulai menjadi gelap tanpa kami rasa.

“Bukankah putrimu juga meninggalkanmu, Pak Tua?”

Aku tidak tahu bagaimana perempuan itu tahu tentang putriku. Aku masih tergagap hendak bertanya ketika perempuan itu berdiri, bersiap untuk pergi.

“Aku tidak ingin mati di hadapan orang yang mendengar kisahku. Aku akan tetap mati hari ini seperti yang telah aku rencanakan.” Perempuan itu mulai melangkah. Ujung sweternya berkibar tertiup angin yang kencang menampilkan perutnya yang membuncit. Itu sekitar lima atau enam bulan, bukan? Aku tahu karena dulu aku selalu memperhatikan kehamilan istriku.

“Tunggu, siapa namamu?”

“Mei. Namaku Mei.”***


Tiqom Tarra, lahir dan besar di Pekalongan. Kini tinggal di Jembrana, Bali. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di pelbagai media. Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (2018).

Cerpen

Monolog Guru Rahwana

Cerpen Era Ari Astanto

Jika di luar sana kau mendengar kabar tentang Shinta yang tidak terbakar api suci, itu atas peranku meski tidak ada yang tahu tentang ini. Aku tidak berminat orang mengetahuinya, itu semata-mata untuk menyelamatkan Rahwana dari syak wasangka yang terlalu buruk dari orang-orang yang tidak tahu kejadian sebenarnya. Dan tentu saja karena tidak bisa menyelamatkan hidupnya dan kerajaannya dari amukan Rama dan bala tentaranya.

Rahwana itu satu-satunya muridku. Dan aku tahu, aku bukanlah gurunya satu-satunya. Jadi, wajar jika dia memiliki kemampuan kanuragan dan kadigdayaan yang luar biasa. Pengetahuannya tentang tata negara pun luar biasa. Meskipun dia bengal dan kejam, perjuangannya untuk menyejahterakan rakyat Praja Alengka tak terbantahkan. Rakyat Alengka mengelu-elukannya sebagai raja yang agung dan sangat peduli dengan rakyat. Bukankah dulu kau pernah menjelajah seluruh wilayah Alengka, apakah kau melihat ada jalan-jalan kecil di desa-desa pelosok yang berlubang atau bergelombang yang jika dilalui kereta akan membuat gujlak-gujlak? Apakah kau melihat ada rakyat yang memulung sampah untuk bertahan hidup? Apakah kau mendengar ada rakyat yang mengeluh soal harga sembako atau kesulitan soal biaya sehari-hari? Bukankah setiap kali kau mampir di warung yang kau dengar dari pengunjung adalah kebanggaan mereka terhadap Rahwana? Kau tidak perlu menjawab, aku sudah tahu apa yang akan kau katakan.

Sekali lagi, Rahwana itu memang kejam dan bengal, tapi bukan kepada rakyatnya. Dia hanya akan kejam terhadap orang yang melanggar perintah dan peraturan kerajaan. Atau terhadap kerajaan lain yang menjadi rekan bisnisnya: jika terendus melanggar perjanjian atau berusaha mengusik ekonomi rakyatnya maka dia tidak akan segan mencaplok kerajaan itu menjadi wilayahnya atau menjadi ladang permainannya.

Tetapi, Rahwana itu manusia biasa dan lelaki yang memiliki hasrat yang tinggi terhadap perempuan. Meski begitu, dia selalu menikahi perempuan-perempuan itu dan memenuhi semua kebutuhan mereka. Dari sekian banyak wanita yang dijadikannya sebagai istri, tidak ada satupun dari mereka yang telantar. Karena itulah aku membiarkannya mencari wanita sebanyak apa pun yang dia mau. Namun aku tahu, hanya ada satu wanita di hatinya: Dewi Mandodari.

Sayangnya Dewi Mandodari telah mati, sejak itulah dia berburu perempuan untuk menggantikan Dewi Mandodari di hatinya. Perempuan mana pun yang memiliki kemiripan dengan istri tercintanya itu akan dia dekati dan nikahi dengan cara apa pun. Jika perempuan itu adalah rakyatnya sendiri dan sudah bersuami, dia akan memintanya dari suaminya. Sejauh ini tidak ada suami yang menolak permintaan Rahwana, pun perempuan tersebut. Karena memang Rahwana memberinya ganti yang layak: kepada suami tersebut akan dibiarkan memilih salah satu istri Rahwana dan masih diberi harta, kepada keluarga wanita akan diberi harta. Namun, jika perempuan itu dari kerajaan lain, dia tidak segan merampasnya–inilah sifat Rahwana yang aku sedihkan karena menjadi malapetaka baginya dan Alengka.

Ya, seperti yang telah kalian dengar, Rahwana memang menculik Dewi Shinta ketika Rama dan Laksmana pergi mengejar kijang jelmaan Marica, anak buah Rahwana. Bukan takut menghadapi Rama dan Laksamana, tapi inilah kecerdikan Rahwana. Bahkan dia tidak mau atau tidak bisa menjebol pagar gaib yang dibuat Laksamana ketika hendak menyusul Rama atas permintaan Shinta. Ini pun bentuk kecerdikannya lagi. Dan dengan kecerdikannya memanfaatkan sifat dasar perempuan, dia berhasil membawa Shinta ke Alengka setelah sempat bertarung dan mengalahkan Jatayu.

Biar bagaimana pun, perampasan tetaplah perampasan dan aku tidak menyukai yang telah dilakukan Rahwana terhadap Shinta. Namun, aku masih menaruh bangga terhadapnya. Meskipun dia bisa melakukan apa pun kepada Shinta, tapi dia tidak berbuat terlalu jauh terhadapanya. Kurasa wajar jika Rahwana sampai menyentuh sebagian tubuh Shinta yang memang mirip dengan Dewi Mandodari. Wajar pula jika dia tergila-gila sehingga mengaku dan meyakini bahwa Shinta merupakan titisan mendiang istrinya itu. Namun, aku tidak mau merestuinya menikahi Shinta karena aku melihat badai akan menghancurkan Alengka jika sampai dia menikahi Shinta atau membiarkannya tinggal di Alengka.

Aku mengenal Rama dan Laksamana, meskipun dia hanyalah pangeran yang terusir, tapi cepat atau lambat dia pasti bisa menggalang kekuatan yang mampu menghancurkan Alengka. Sederhana, terusirnya Rama dari Ayodya adalah hinaan baginya dan dia tidak ingin terhina lebih jauh lagi dengan membiarkan istrinya diculik. Pun dia akan sangat malu kepada mertuanya, Prabu Janaka, karena tidak bisa menjaga seorang wanita yang bahkan sudah diseretnya ke dalam penderitaan di hutan belantara. Rama itu memiliki kemampuan sebagai koordinator dan orator yang teramat baik. Jadi bukan tidak mungkin dia mampu meyakinkan banyak pihak untuk mendukungnya merebut kembali Shinta.

“Itu tidak akan terjadi, Bapa Guru. Alengka tak terkalahkan. Sepuluh Ayodya pun tak akan mampu menandingi Alengka.”

“Ya. Aku percaya itu. Tapi, Ngger, Rahwana, meski kau keturunan resi sakti keturunan dewa kau masih manusia yang dilekati rasa sakit, lupa, dan nasib apes. Kecerdasanmu ada kalanya lenyap begitu saja karena sifat lupa yang datang tiba-tiba. Kesaktianmu akan ada kalanya tak berguna karena nasib apes yang sudah waktunya menghampirimu.”

“Tapi, tak ada yang tahu kelemahanku, Guru. Aku tak akan tersentuh kematian. Hanya manusia berwujud binatang yang bisa mengalahkanku. Kurasa tidak ada makhluk seperti itu di jagad wayang ini.”

Aku hanya mengangguk-angguk. Bukan sependapat dengan Rahwana, tapi berpantang mengatakan hal yang lebih jauh, yang bukan wilayah manusia. Aku berpikir keras menemukan cara agar dia tidak lupa daratan.

“Kau mungkin tidak akan mati, Ngger. Tapi berapa banyak pasukanmu yang akan kau korbankan? Berapa banyak rakyatmu yang akan ikut menanggung kejamnya perang? Biar bagaimanapun perang mempertahankan seorang wanita itu bukan perang suci.”

“Itu akan menjadi perang suci jika Guru berkenan merestuiku menikahi Shinta. Seperti yang Guru katakan bahwa istri adalah kesucian suami, adalah harga diri suami. Jika dia seorang istri raja maka dia adalah harga diri dan kesucian kerajaan.”

“Ya. Aku masih ingat perkataanku itu. Tapi, Ngger, Shinta itu tidak sepantasnya kamu nikahi. Dia adalah darah dagingmu sendiri dengan selirmu yang telah kau tukar dengan istri seorang pemuda desa. Saat itu dia telah mengandung anakmu. Tidakkah kau mengetahuinya?”

Rahwana menatapku tajam. Aku tahu itu bukan tatapan benci. Dia hanya meminta ketegasan. Karena itu aku mengangguk mantap.

“Tapi, dia adalah anak Prabu Janaka?”

“Lelaki yang tidak bisa berpikir itu tidak ingin memelihara anak orang lain, meski anak itu adalah anak raja, kemudian membuangnya di ladang. Prabu Janaka yang sedang berkeliling menemukan bayi itu. Karena tidak punya anak, dia mengambil anak itu sebagai anaknya. Begitu cerita singkatnya, Ngger.”

“Akan aku bunuh lelaki kurang ajar itu.” Rahwana berkata sambil memukulkan tangannya yang terkepal.

“Tidak perlu, Ngger. Kau semestinya senang karena anakmu tumbuh dan besar di tangan seorang raja, meski raja kecil.”

Rahwana mengangguk, “Tapi, aku sangat sulit menerima kenyataan ini, Guru. Aku sangat mencintainya dan ingin menikahinya.”

Aku menangkap gurat sedih di wajah angker Rahwana yang kemudian menunduk. Tapi, apa boleh buat, aku terpaksa melakukannya demi menyelamatkan dia dan Alengka. Aku bisa saja menyarankan kepadanya untuk membunuh Rama dan Laksamana saat itu juga. Namun, itu akan mencoreng keperkasaan dan harga diri muridku satu-satunya ini. “Sebaiknya, kau kembalikan Shinta ke hutan itu lagi, Ngger. Atau kepada Prabu Janaka. Itu akan lebih baik bagimu dan Alengka.”

“Maafkan aku, Guru. Dia anakku, dan akan kupelihara dia di Alengka. Tak akan kubiarkan dia hidup di hutan rimba itu. Aku bersumpah tak akan menjamahnya lagi, Guru.”

“Aku percaya kepadaku, Ngger. Tapi, bagaimana dengan Rama dan Laksamana?”

“Aku akan mengundangnya. Dan akan kuresmikan dia sebagai menantuku.”

Aku senang dengan keputusan Rahwana. Dia mengutus prajuritnya untuk memberikan surat undangan itu kepada Rama. Namun, bertahun-tahun Rama tak pernah datang. Malahan dia mengutus monyet untuk menjemput Shinta secara diam-diam, seperti maling. Hingga timbul keributan dan sebagian kecil istana terbakar oleh ulah monyet itu.

Tentu saja Rahwana menganggap itu sebagai tantangan perang. Apa yang menjadi kehendak langit tak bisa dihindari. Perang tak terelakkan. Seluruh saudara Rahwana gugur. Alengka porak-poranda. Nyaris habis seluruh prajurit Alengka. Seluruh rakyat kotaraja pun menjadi korban.

Aku hanya bisa mematung dengan dada sesak, berlinang menatap kobaran api dan kemegahan kotaraja Alengka berubah menjadi reruntuhan yang rata dengan tanah.

Aku masih bisa berpikir, aku tidak bisa terima jika kelak Rahwana akan dianggap sebagai maling istri orang. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan namanya dari kehinaan total. Satu-satunya cara hanyalah dengan menyelamatkan Shinta dari kematian di api suci. Biar bagaimanapun Rahwana mengaku kepadaku sudah terlanjur menjamah sebagian tubuh Shinta meskipun tidak sampai menyentuh pagar kehormatan Shinta.

Ya. Dengan kesaktianku diam-diam aku bisa menyelamatkan Shinta.***


Era Ari Astanto, penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Cerpen

Malam

Cerpen Rudi Agus Hartanto

Aku masih memikirkan pernyataan orang-orang tentang malam. Perihal saat yang tepat memikirkan runyamnya hidup atau waktu terbaik memohon sesuatu kepada Tuhan. Alih-alih mendapatkan ketenangan, justru pikiranku hampir tak pernah bermuara ke persoalan itu. Terus terang saja, setiap kali mencoba, aku seolah-olah gagal mengejawantahkan pernyataan mereka.

Termasuk malam ini. Aku menikmati kopi dan menyulut rokok, sendiri, di teras rumah sembari memikirkan dunia. Sangar bukan? Memikirkan dunia! Kataku.  Tapi itu yang sering dibilang teman-temanku di tongkrongan. Sementara, di duniaku, yang selalu terbayang hanyalah Sheila Dara Aisha, pemeran Aurora dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Aku tidak membual, Sheila memang menguasai pikiranku dan aku ingin sekali menemaninya melukis. Andai saja terjadi, aku ingin menemaninya menangkap momen daun jatuh seperti yang terlihat di halaman: dari melayang hingga tersungkur menabrak pagar.

Pikiranmu penuh dunia fiksi, bodoh! teriak pikiranku di sisi lain.

Tentu saja kehadiran teriakan itu tidak datang begitu saja. Itu terjadi setelah aku berulang kali cerita kepada teman-teman perihal kecintaanku menonton film. Kata mereka seharusnya aku menyadari bahwa hidup adalah kenyataan, dan apa untungnya membayangkan hidup seperti dunia fiksi? Dasar aneh! masih di sisi yang sama, pikiranku semakin terbakar mendukung mereka.

Tapi, apa yang mereka tahu soal kenyataan selama masih menghabiskan duit buat judi slot? Hanya karena alasan itu, lantas berani-beraninya menganggapku tidak menyadari hidup, memang ada-ada saja perangainya. Sebenarnya aku ingin membalas dengan sok-sokan filosofis, sayang aku terlanjur mati kutu ketika mereka lebih dulu mengatakan: Kenyataan hidup adalah berjudi, maka kita perlu praktik kecilnya.

Mungkin, mereka hanya sekadar melihat bukan menyelami isi setiap film. Ndakik sekali kau! lagi-lagi pikiranku mendesak untuk berperang dengan diriku sendiri. Kubuang rokok yang masih separuh, aku tak mau pusing. Aku ingin menikmati malam, sendiri, sembari menggeser foto Sheila di Instagram. Inilah dunia seharusnya. Begitu, bukan?

Aku memang salah, kuakui itu. Namun apa artinya malam dengan menggantungkan diri pada yang tak terlihat. Dan, bukan berarti aku tidak sepakat dengan pernyataan mereka. Aku hanya ingin malam seperti yang aku bayangkan saja. Aku bosan dengan pengharapan yang membohongi jiwa. Kebablasan kau, Nak, meski terdengar berbisik, pikiranku di sisi lain ini benar-benar menyebalkan.

Aku butuh bantuan untuk mengenal malam lebih jauh. Tidak sendiri maupun dalam kondisi seperti ini. Rasanya sangat tak mengenakan. Kecuali setelah bertemu Ayu besok, malamku bisa saja seperti bayanganku. Sebab temanku yang enggan aku samakan dengan Sheila itu kadang juga sepemikiran denganku. Malam hanyalah waktu yang biasa-biasa saja. Lebih dari itu? nanti dulu. Aku mau tidur.

***

“Kenapa? Padahal kau cerdas, lukisanmu laku mahal, bahkan mengantarmu mendapatkan beasiswa magister di Royal College of Art,” tanyaku kepada Ayu saat kupersamakan dengan aktris kesayanganku itu.

“Hanya itu di pikiranmu? Aku bosan mendengarnya.” Ayu membuka tudung hoodie-nya. “Kau tak ubahnya sama dengan mereka,” desak Ayu sembari mengarahkan telunjuknya kepadaku.

“Malam?”

“Pikiranmu selama ini soal malam, bukan? Mungkin benar yang kaummu katakan, tapi sesampainya mereka di atas kasur, pikirannya tak lebih dari membayangkan tubuh perempuan.”

Obrolan kami terjeda saat pelayan kafe mengantarkan pesanan. Pada saat itu, aku mengedarkan pandang ke sekeliling. Di sini keadaan tak terlalu riuh, tidak banyak tempat duduk yang diisi lebih dari dua orang. Mereka bercakap pelan sembari sesekali memerhatikan keadaan di luar jendela. Mungkin saja, mereka juga terganggu seperti kami ketika kendaraan berknalpot brong melintas. Sama seperti pernyataan Ayu yang menghardikku, terasa mengejutkan.

Aku menuntut Ayu lebih jauh menjelaskan maksudnya. Kurasa ia orang yang tepat dalam menjawab pertanyaanku. Kubiarkan ia panjang lebar berbicara soal malam. Tentang kesehariannya membuat paper di tengah kesibukan melukis. Ia juga menyinggung betapa beratnya proses mendapat beasiswa untuk belajar ke Inggris. Seiring itu, aku hanya terangguk mengiyakan apa yang keluar dari bibirnya. Aku tak ingin menyela penjelasannya.

Belakangan Ayu lebih banyak menyiapkan keperluannya sebelum terbang seminggu lagi. Ia sangat antusias menceritakan hal yang akan dihadapinya. Terlebih, dalam proses tersebut ia berhasil melewati ribuan pesaingnya. Aku menatap Ayu semakin dalam—mungkin terperangah, ketika ia menceritakan bahwa beberapa kali dipanggil negara menjadi pengisi seminar bagi para pencari beasiswa.

“Aku tak pernah membayangkan, sekarang duniaku sejauh itu,” lanjut Ayu sembari kembali mengangkat tudung hoodie-nya.

Entah mengapa, apa yang baru saja dikatakan Ayu membuatku tersentil. Namun hal itu segera hilang ketika sepasang orang yang duduk di belakang Ayu menjatuhkan gelas. Beberapa saat kami saling bertatapan satu sama lain. Ayu lekas menoleh, ia memandangi mereka dan saat kembali ke posisi sebelumnya mukanya berubah masam.

Kubiarkan Ayu tetap seperti itu. Aku tak mengajaknya berbicara. Tak lama kemudian ia mengambil gawai yang tersembunyi di balik kantong hoodie-nya. Aku tak tahu apa yang ada di balik gawai itu, yang pasti Ayu memunculkan senyum kecil. Mungkin saja ia dihubungi orang terkasih. Sebab ia seperti ragu-ragu ketika akan membalas pesan, hal itu terlihat dari gerak-gerik jarinya yang menggambarkan kirim-tidak-kirim-tidak di atas simbol kirim.

“Kau bisa menikmati malam-malammu, Ayu,” gangguku di tengah keasyikannya dengan gawai.

“Aku tahu isi pikiranmu. Kau menduga aku punya pacar, bukan?”

Entah jin apa yang merasuki perempuan di depanku ini. Ia mampu membaca pikiranku dan aku harus mengelak. Jika tidak kurasa pertemananku akan bermasalah, sebab ia mesti berpikiran bahwa aku sedang cemburu. “Aku ingin membalasmu, sebelum ada gelas pecah tadi,” ucapku sekenanya.

“Mengelak saja terus. Lalu segala curhatmu soal malam kepadaku apa tujuannya?”

Aku tak mengerti harus menjawab apa. Ayu berhasil menyudutkanku, bahkan sejak awal obrolan kami dimulai. Ia sangat sensi dengan apa yang muncul dariku malam ini. Tapi di sisi lain aku sangat membutuhkan dirinya. Akhirnya aku terangguk karena aku tak tahu letak salahku.

“Kurasa yang kau butuhkan di setiap malam bukan lagi bersembunyi, tapi menentukan pilihan: kerja atau cari beasiswa.”

Sontak pikiranku segera melayang. Dua tahun sudah sejak lulus, aku hanya menggantungkan hidup dari orangtua. Ijazahku selama ini hanya tersimpan di lemari. Dan persoalan malam? Rasanya perlu aku tanggalkan. Kini aku merasakan dalam perihal waktu yang sering dikatakan orang-orang mengapa terasa dingin.

Kami tak bercakap lagi. Suasana telah berubah. Agar bisa mengendalikan diri kuseruput vietnam drip pesananku yang terlanjur mendingin. Sebatang rokok juga kusulut kemudian. Asap tembakau terbang ke luar jendela. Ini bukan seperti bayanganku semalam. Ayu baru saja membuatku seperti seorang pesakitan.

“Ayo, pulang,” Ayu menarik tanganku.

Sial kau, batinku di tengah anggukanku menjawab ajakannya. Apakah ia tak melihat bahwa pesananku baru sekali membasahi tenggorokanku. Pula dengan matcha pesanannya, belum tersentuh lagi usai diserahkan pelayan kafe.

Inilah hidup, tiba-tiba pikiranku di sisi lain kembali keluar. “Diam kau!” balasku ketus.

Ayu melepaskan genggamannya dan menoleh kepadaku. Ia berjalan semakin cepat, aku tertinggal beberapa depa di belakangnya. Beberapa pelanggan kafe seperti memerhatikan kami berdua. Kutambah kecepatan langkahku mengejar Ayu.

Kau ini kenapa? Aku tak peduli lagi dengan pikiranku ini. Aku menyuruh diam. Telapak tanganku mendarat di ujung dahiku.***


Rudi Agus Hartanto, putra daerah Mojogedang. Merupakan mahasiswa Program Magister Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret.  Bergiat di komunitas Kamar Kata Karanganyar dan Sanggar Bima Suci.

Cerpen

Panmunjom

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

Lee Won Shik melipat suratnya yang ke-1059. Surat-surat penuh cinta yang tak pernah sampai ke tujuannya. Surat itu mustahil menemukan jalannya, lembaran-lembaran kertas itu hanya pelipur lara sang penulis. Lee menggoreskan harapan dan kerinduannya dengan hati-hati. Setiap hari selama ditahan di Utara. Tak apa jika surat untuk istrinya tak sampai, setidaknya surat-surat itu membantunya menghitung hari.

Hari itu seorang serdadu Utara menemukan Lee menulis surat beralaskan lantai semen dalam selnya.

“Hei, Bodoh. Berhentilah menulis catatan harian. Kau seperti perempuan cengeng.” Serdadu Utara itu mengintip di balik jeruji besi. Wajah brengseknya dinodai dua gigi yang tanggal di bagian atas. Mungkin seorang kawan merontokkannya karena mulutnya terlalu besar dan menyebalkan.

Lee memunggunginya. Dia menoleh sedikit tapi tak ingin meladeni. Tujuh teman lain dalam sel itu tertidur walau tak begitu nyenyak. Seseorang tampak menggaruk-garuk kakinya yang digigit kutu. Seorang lagi membuka baju karena panas. Seorang lagi mulai mengigau, mengumpat yang hanya berani dilakukan saat bermimpi. Sementara tiga lainnya mulai gelisah, berusaha memutar posisi tidur, tetapi selalu saling bertabrakan. Mereka kelelahan bekerja pagi hingga malam di pabrik kayu. Sel yang mereka tempati hanya 3×3 meter, memang harus ada pembagian giliran, siapa yang tidur dengan posisi normal, dan siapa yang akan tidur duduk.

“Tidak usah tidur terlalu larut, kalian harus bugar. Besok kalian akan mengucapkan selamat tinggal dan perjalanan akan sangat panjang,” ujar tentara itu sambil berlalu.

Mendengar hal itu, Lee menggosok-gosok surat yang belum selesai dia tulis. Tak bisa dihapus, dia putuskan menulis di bagian belakang kertas. Dia akan menuliskan kembali ucapan serdadu tadi. Selamat tinggal, katanya. Lee yakin bahwa di Panmunjom, Selatan dan Utara pasti telah duduk bersama menyetujui gencatan senjata. Dia kemudian melipat surat itu dan memasukkannya ke sebuah kantung kain yang dibuatnya dari sobekan celana. Surat ke-1059 itu kini bersama-sama surat lainnya. Mungkin surat yang terakhir. Akan diberikannya sekantung surat itu pada Kim Hye Jin, istrinya, saat tiba di Selatan. Kelak, Lee tak perlu mengulang cerita perih seribu hari itu kepada Hye Jin, cukuplah istrinya itu membaca surat-suratnya bagai sekumpulan cerita.

Malam itu Lee Won Shik pikir dia akan bebas. Tak ada lagi pekerjaan di pabrik, tidur dikerumuni lalat, dan makanan yang penuh kutu. Bersama para tawanan perang lainnya, dengan mata tertutup dan kedua tangan diikat, dia diseret naik ke sebuah truk. Mereka berjongkok dengan tubuh saling berimpitan, lutut-lutut kurus kering saling bertabrakan, berdesak-desakan tanpa saling melihat. Para tentara utara itu bahkan tak memberi Lee dan kawan-kawannya air untuk diminum selama perjalanan.

Tiga tahun yang lalu, Lee dan beberapa warga sipil Selatan direkrut untuk ikut berperang. Dengan kemampuan dan senjata seadanya, mereka akhirnya ditangkap pasukan Utara. Sore itu sebelum dimasukkan ke mobil truk, mereka diminta berkumpul di barak utama, sebuah tenda yang paling besar di antara seluruh tenda yang dibangun sementara. Lee, saat itu berpikir bahwa mereka akan dipulangkan. Dia ingat seseorang pernah mengatakan akan memulangkan sebagian dari para tawanan usai gencatan senjata. Tapi mereka tidak punya televisi, radio, atau surat kabar. Mereka tidak tahu kapan kedua wilayah akan melakukan gencatan senjata. Mereka hanya bertahan hidup dengan harapan janji itu akan datang tak lama lagi.

Perjalanan malam itu cukup panjang. Lee mulai kesulitan bernapas, kepalanya berat. Namun, semangat itu membuncah di dadanya. Dia mulai membayangkan truk itu berhenti di perbatasan. Terbayang samar-samar wajah istrinya yang telah lama menunggu. Istrinya bukan lagi gadis belasan tahun. Apakah dia sehat? Apakah dia makan dengan layak? Apakah dia masih setia? Pertanyaan-pertanyaan itu bermain di benak Lee Won Shik, melompat-lompat seperti bola-bola kecemasan dan kebahagiaan yang berkejar-kejaran.

Kenangan akan Selatan, istrinya, dan lagu-lagu Song Min Do, penyanyi wanita yang lagunya sering dia senandungkan, mendadak lenyap ditelan pemandangan yang menghancurkan perasaan. Dia didorong dan ditendang hingga terpental keluar dari truk yang cukup tinggi itu. Kain penutup mata para tawanan dibuka satu per satu. Sebagian tertegun, sebagian terisak. Lee Won Shik, menjadi bagian dari kelompok kedua.

Sebuah terowongan tak berujung tampak di hadapan mereka. Terowongan itu adalah proyek penambangan Utara yang dalam, gelap, dan panas. Para tawanan diminta berbaris memasuki terowongan itu.

“Kau, yang kurus!” teriak seorang tentara Utara berseragam sambil mengacungkan senjata ke arah Lee.

“Kau, iya kau Lee Won Shik, kemari ikut aku.” Seorang tentara lain kemudian menarik lengan Lee dengan paksa, menyeretnya hingga sampai ke salah satu lubang kecil di dinding terowongan. ”Kau masuk pertama”.

Lubang itu kecil sekali, bagaimana mungkin manusia bisa masuk ke sana? Lee mulai merasa khawatir.

“Hei, tak usah banyak berpikir, masuklah!” bentak tentara yang menariknya.

“Dorong saja dia jangan lama-lama,” teriak tentara yang tadi mengacungkan senjata.

Tentara kedua langsung memukul kepala Lee dengan senapannya. “Masukkan kepalamu dulu, merangkak masuk,” perintahnya untuk ke sekian kali.

Aroma gas menyerang masuk ke lubang hidung Lee. Dia merangkak semakin jauh, hampir tidak ada tenaga tersisa. Dia lalu mengintip sedikit ke balik bahunya yang ringkih, tersisa sedikit sinar dari luar. Sinar itu datang dari senter si tentara kedua yang perlahan-lahan redup. Dari kejauhan dia mendengar beberapa kawannya yang memberontak. Mereka melawan tidak ingin masuk ke lubang-lubang bergas itu. Kekacauan terjadi di luar. Rupanya mereka hanya berpindah lokasi pekerjaan. Pabrik kayu ditutup, tetapi mereka harus menjadi budak penambangan Utara.

Lee cemas. Bagaimana mungkin dia bisa tiba di Selatan? Dia bahkan tak lagi bisa melihat lubang kecil yang tadi dilewatinya. Semakin jauh, semakin dia merasa gas itu meracuni paru-parunya. Lubang kecil itu tak tampak lagi, sekelilingnya gelap dan lembap. Tak ada lagi suara, hanya teriakan tentara Utara yang menyuruhnya untuk terus merangkak bergantian dengan suara batuknya yang menyesakkan. Tubuhnya lemas, dia tak lagi bisa merasakan kakinya bergerak. Dia menahan diri untuk tidak makan sejak pagi. Daripada menyantap nasi lembek berkutu, Lee memilih menunggu tiba di rumah menikmati masakan istrinya. Kini dia benar-benar tak berdaya. Keracunan, lapar, dan mati rasa. Lee Won Shik menyerah pada lubang gelap itu, pada nasibnya. Aku, tulang-tulangku, mimpiku, harapanku, biarlah terkubur di sini. Mata Lee Won Shik kemudian perlahan terpejam.

*

Surat Ke-1059.

“Untuk istriku Hye Jin. Aku pernah mendengar seorang serdadu mengatakan hari gencatan senjata di Panmunjom akan segera tiba. Itu artinya kita akan kembali bersua. Aku pikir inilah harinya. Serdadu itu mengatakan esok kami akan mengucapkan selamat tinggal. Dia juga bilang perjalanan kami akan panjang. Tunggu aku di rumah. Bila sampai di perbatasan, aku akan berlari sekuat tenaga menemuimu. Jangan hidangkan tahu atau susu kedelai. Aku bukan penjahat yang dipenjarakan. Aku adalah pejuang. Namun, rasanya semua sudah cukup. Aku rindu padamu, perjuangan ini tak sepadan dengan dirimu. Aku akan kembali. Siapkan saja sup dan soju. Nyanyikan lagu ‘Malam Terang Bulan Silla’ untukku nanti. Aku akan pulang. Aku pikir inilah harinya.”***

Catatan:

  • Panmunjom adalah tempat terjadinya perjanjian gencatan senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan yang terletak di tengah Zona Demiliterisasi (DMZ).
  • Di Korea Selatan, orang yang keluar dari penjara akan disuguhi tahu putih sebagai simbol pembersihan jiwa dan awal yang baru.


Aprilia Nurmala Dewi, penulis berdomisili di Sinjai Utara.

Cerpen

Musim yang Rumit

Cerpen Ranang Aji SP

Memasuki musim hujan tahun ini, bagi Armando, adalah waktu di mana ia harus mempersiapkan dirinya lebih kuat untuk menghadapi kenangan yang tak ubahnya badai yang mengancam. Musim yang memberinya ingatan buruk atas hilangnya rasa ceria pada kehidupan yang seharusnya ia miliki. Bertahun-tahun lampau dan bertahun-tahun kemudian, kenangan itu datang bagaikan teror bersama turunnya air hujan sepanjang hari dan juga banjir yang menggenang kecokelatan di kotanya.

Setelah mengunci pintu rumahnya, Armando berjalan menuju toko, tempat di mana semua barang seperti mantel dan payung dijual. Ia menyapa pemilik toko, seorang pria bernama Lee. Bercakap-cakap sebentar, sebelum kemudian memilih-milih payung yang berwarna-warni dan  berjajar di atas tatakan besar. Ia ingin payung yang besar dan berwarna kuning dan ia mendapatkannya. Setelah membayarnya, ia berkata pada Lee bahwa waktu berlari seperti buroq. Waktu yang seolah tak memberinya kesempatan untuk beristirahat dari kenangan yang menikam.

“Ah, lupakanlah,” kata Lee pendek. Matanya yang kecil bersinar perihatin.

Armando menatap sejenak wajah Lee dan tersenyum lemah. Ia mengatakan akan ke tempat Clara.

***

Sepuluh tahun lalu, ia mengenal Lee di toko ini. Mereka selalu bercakap-cakap di antara waktu senggang Lee. Pemilik toko itu kemudian memperkenalkannya pada seorang perempuan bernama Clara, sepupu Lee. Armando juga kemudian berkenalan dengan seorang pria bernama Bruno dan Johan. Keduanya adalah teman Clara. Dalam beberapa waktu, mereka menjadi teman bicara di toko Lee. Ketika tak ada pelanggan Lee ikut bersama untuk mengobrol di teras toko bersama rokok dan bir. Mereka bicara apa saja tentang semua kejadian di kota mereka. Juga tentang cinta yang misterius.

Ketika Armando disangka jatuh cinta pada seorang gadis bernama Sofia, teman-temannya mulai membicarakannya. Mereka mempertanyakan siapa Sofia. Clara bahkan memintanya untuk memperkenalkan gadis itu pada mereka. Kata Clara, lebih baik mengajaknya berkumpul agar menjadi bagian dari mereka. Dengan demikian, Armando bisa tetap berkumpul bersama mereka di teras toko Lee. Semua setuju dengan pendapat itu. Armando pun setuju, dan begitulah akhirnya, Sofia berkenalan dan menjadi bagian kelompok itu.

Pada setiap minggu Sofia datang untuk ikut berkumpul, bahkan tak perlu lagi Armando menjemput. Sofia gadis yang supel dan mudah sekali akrab dengan teman-teman barunya. Terutama dengan Bruno. Setiap kali Bruno tak muncul, Sofia tampak terlihat resah dan murung. Sementara Armando melihat semua itu dan berpikir bahwa Sofia menyukai Bruno. Tapi ia hanya mengamati dan menunggu. Clara sendiri mengamati sikap Armando yang tenang seperti permukaan air yang dalam. Dan bagi Lee, semua itu tak terlihat sebagai apapun. Lee lebih menikmati perbincangan yang membuatnya melupakan waktu yang membosankan.

Suatu waktu, Clara bertanya pada Armando ketika berada di rumahnya –tentang desas-desusnya.

“Benarkah kau menyukai Sofia?”

Armando tak kaget dengan pertanyaan itu. Ia sudah tahu semua orang menyangkanya menyukai Sofia. Dengan suara pasti, Armando mengatakan tidak. Jawaban itu justru membuat Clara terkejut. Lebih kaget lagi ketika Armando mengatakan bahwa dirinya menyukai Clara. Clara tampak suka dengan jawaban itu, tapi ia hanya diam. Ruangan itu menjadi sunyi. Malam itu, tiba-tiba, Armando dengan keberanian seekor singa jantan mendekati Clara yang duduk terdiam di sofa. Merengkuh perempuan itu, dan tiba-tiba mereka bercinta begitu saja, sebagaimana waktu yang datang tanpa disadari. Armando mengira Clara dalam kekuasaan cintanya. Tetapi ia salah. Clara menggeleng setelah semua usai. Clara mengatakan melakukan itu hanya karena ia menginginkan, bukan karena perasaan.

“Jangan salah sangka,” kata Clara lirih.

Armando kecewa dengan jawaban itu. Tapi ia berusaha tak peduli. Matanya yang hitam menatap wajah Clara yang halus. Mencoba mencari apa yang tersembunyi di antara jasad dan hatinya. Tapi ia tak mampu menemukan apapun kecuali kecantikannya. Setelah peristiwa itu, Armando merasakan dirinya seperti tertahan dalam sebuah perasaan yang tak dimengerti oleh dirinya sendiri. Setiap waktu seolah-olah dirinya terpenjara dalam kurungan sempit yang menahannya. Hingga akhirnya Armando sadar, bahwa Clara telah begitu berkuasa atas dirinya.

Ketika Clara datang, seluruh hidupya luruh sepenuhnya pada keinginan perempuan itu. Ia merasakan betapa damai bersamanya. Jiwa Armando menjadi seperti belalang sembah jantan yang rela mati untuk pasangannya dengan membiarkan otaknya dimakan sang betina ketika bercinta. Seluruh hidupnya seolah akan dipersembahkan hanya untuk Clara. Namun, sepupu Lee itu tak mudah percaya. Dia mengatakan bahwa jika benar Armando mencintainya, maka semua harus dibuktikan dengan ketundukan tanpa menuntut apapun kepadanya. Armando menerimanya.

Sekian waktu, Armando mengikuti apa yang diinginkan Clara, meski hubungan mereka tak pernah seperti yang ia inginkan, yaitu menjadi pasangan yang berkomitmen dan diketahui semua orang. Hingga pada akhirnya, ia merasa tak kuat dan mencoba memohon pada Clara sekali lagi, agar hubungan mereka diresmikan hingga taraf pengakuan. Tapi Clara menolak dengan alasan tak siap dengan sebuah hubungan yang mengikat. Kecewa dengan penolakan itu, Armando mengerahkan dirinya untuk mencoba menerima kenyataan dan memilih merayu perempuan lain. Maka ia mencoba mendekati Sofia, tapi, hanya demi membuat Clara cemburu.

Ketika Armando mendekati Sofia, persoalan menjadi semakin rumit. Sofia tiba-tiba membencinya dan selalu bersikap kasar, seolah Armando adalah mimpi buruk baginya. Sikap itu membuat Armando bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa salahnya hingga Sofia begitu membencinya. Karena tak menemukan jawaban, Armando akhirnya bertanya pada Clara dengan harapan mendapatkan jawaban. Namun, ketika ia mencoba menanyakan itu, perempuan itu justru marah dan memakinya sebagai laki-laki tak punya rasa setia. Armando bingung. Otaknya tak mampu mencerna apa keinginan Clara sesungguhnya.

Suatu malam, ketika hujan mengguyur kota, Armando menuju toko Lee. Ia datang ketika Johan dan Bruno tengah berbincang, sementara Lee melayani pelanggannya. Ia tak melihat Clara dan Sofia di sana. Ia hanya menemukan mata Bruno yang berbinar saat Armando bergabung. Tangan Bruno menarik lengan Armando agar duduk di sebelahnya. Sebelum kemudian berbincang tentang hujan dan sebagian kota yang terancam banjir. Beberapa saat kemudian, Sofia datang bersama Clara. Namun, begitu melihat Armando duduk bersebelahan dengan Bruno, Sofia tiba-tiba berteriak histeris dan melempar sepatu ke wajah Armando.

“Kalian bajingan haram jadah!: Suara Sofia terdengar seperti geledek hingga membuat orang-orang di sekitar toko memperhatikan.

Armando yang tak mengira menjadi sasaran kemarahan kaget setengah mati. Ada apa ini? Tanyanya dengan suara gagap. Semetara Lee yang tengah melayani pelanggan, segera mendatangi dan mencegah Sofia yang telah menjadi gila menyerang Armando yang berdiri panik dan kebingungan. Melihat kejadian yang tak disangka itu, Clara dengan wajah setengah panik meminta Armando menjauh dan mengikutinya.

Akhinya, dengan diiringi suara caci maki Sofia, mereka berdua pergi. Setelah mengambil payung berwarna kuning, Clara mengajak Armando menuju parkiran dan meminta Armando menyetir mobil. Sementara itu dengan perasaan bingung atas yang menimpanya, Armando menuruti kemauan Clara. Sepanjang jalan yang basah oleh hujan itu, tak ada satu pun yang bicara. Armando masih merasa bingung dan tegang. Sementara Clara hanya termenung. Ketika mereka sampai di jalanan sunyi di antara pohon-pohon yang basah, tiba-tiba dengan suara getar, Clara mengatakan kata maafnya yang tak dipahami Armando untuk apa. Hingga kemudian perempuan mengakui bahwa semua itu terjadi karena salahnya. Sofia, lanjutnya, cemburu karena mendapatkan informasi darinya bahwa Bruno adalah pacar Armando.

“Maafkan aku,” katanya, “aku tak ingin kau dekat dengan Sofia.“

Pengakuan itu membuat Armando marah. Ia tak tahu apa maksud Clara berbuat seperti itu. Apa yang ia tahu, selama ini Clara menolaknya. Ia tak menyangka jika Clara melakukan itu. Emosinya menekan dadanya. Rasa sesak dan panas di dadanya membuat kakinya menginjak pedal gas tanpa kendali. Mobil melaju kencang. Clara panik. Ia meminta Armando berhenti. Permintaan itu ditanggapi Armando dengan menginjak pedal rem secara kuat. Mobil berhenti mendadak dengan suara berderit, hingga membuat tubuh mereka teranyun keras ke depan. Kepala Armando tiba-tiba terserang rasa sakit akibat benturan, dan matanya berkunang-kunang. Namun, ketika ia ingin menumpahkan rasa kesalnya pada Clara, Armando melihat perempuan yang selama ini ia puja tak bergerak dengan dahi berdarah.

“Lupakanlah,” ulang Lee. “Itu bukan salahmu.” Armando menatap mata cokelat Lee. Mata itu mengingatkannya pada Clara.****


Ranang Aji SP menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Dalang Publishing LLC USA menerjemahkan dua cerpennya ke dalam bahasa Inggris. Menjadi nominator dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Buku Kumcernya “Mitoni Terakhir” diterbitkan penerbit Nyala (2021).