Cerpen

Mengarang Cita-Cita

Cerpen Ian Hasan

Tak ada seorang pun yang pernah mengajariku perihal bagaimana sebaiknya seseorang bercita-cita. Atau setidaknya, seingatku belum ada pula orang yang pernah memberiku sedikit penjelasan mengapa cita-cita menjadi begitu penting seperti halnya nama.

Bertahun-tahun aku mengarang cita-cita sejak pertama kali ditanya tentang hal itu, sekadar memungutnya dari siaran drama radio, selebaran film bioskop, atau bungkus pao-pao[1] bergambar superhero. Dan nyaris tak ada satupun dari cita-cita yang pernah kusebut—karena sejujurnya tak ada cita-cita yang menurutku abadi—telah aku pertimbangkan betul dalam memilihnya kecuali satu, cita-cita menjadi dukun.

Sekali waktu pernah aku nyatakan cita-citaku menjadi dukun itu saat pelajaran berlangsung di sekolah, karena guru menanyakannya. Sudah bisa kutebak, kebanyakan teman-temanku menyebutkan cita-cita menjadi dokter, tentara, polisi, atau insinyur. Tapi aneh, jawabanku malah jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas dan juga guru. Sampai di rumah aku masih menyimpan tanda tanya besar, apa sebetulnya maksud orang menanyakan cita-cita kalau hanya dijadikan bahan olok-olok seperti itu. Aku makin tak habis pikir ketika dua hari berikutnya ibu marah besar setelah mendengar pengakuan dari guru, saat ia—tidak seperti biasa—menjemputku ke sekolah.

“Katakan, siapa yang ngajarin Jalu bilang kayak gitu!” bentaknya, setiba kami di rumah.

“Jalu tahu, dukun itu apa?” tambahnya dengan wajah memerah.

Maksud ibu mungkin bertanya, tapi aku tahu saat itu bukan waktu yang tepat untuk menanggapinya. Kurelakan daun telingaku, dua-duanya jadi korban, bergantian dijewer tangan yang biasanya lembut dan penuh kasih sayang. Ada rasa sakit yang susah hilang, tapi bukan di situ tempatnya. Aku hanya terdiam dan hampir menangis—atau sudah, aku tak ingat betul. Seketika aku merasa amat bersalah karena telah berkata jujur sehingga membuat malu keluarga, terutama ibu yang kutahu sangat kecewa.

Aku lihat perubahan wajah dan sikap ibu sejak saat itu, seakan menular ke semua anggota keluarga. Berhari-hari aku tak diajak bicara, seakan mereka begitu menyesalkan cita-cita yang telanjur kukatakan sebenarnya.

***

Ingatanku tentang kemarau yang sedang menggila, sama saja dengan ingatanku tentang kegigihan kakek meladang. Aku tahu, kakek saban hari bekerja di ladang, tanpa pernah sekali saja menunjukkan kerisauan perihal kesulitan yang dihadapinya. Selain tentang pekerjaannya sebagai petani, sering pula aku perhatikan kebiasaan kakek menolong orang lain tanpa pamrih, sekalipun ia sendiri terkadang tidak sedang baik-baik saja. Mungkin karena itu, setiap warga desa dan kebanyakan orang Jatikuwung mengenal kakek. Tidak sedikit dari mereka yang pernah mendapatkan pertolongan kakek, mulai dari mengobati orang sakit, meredakan rewel bayi atau anak kecil, menentukan titik galian sumur, menanyakan hari baik—untuk mulai tanam, bangun rumah, hingga menikahkan anak, serta mengusir dan melindungi rumah dari gangguan makhluk halus. Bahkan sudah dua pekan ini ada orang yang tiap hari mengambil jatah makan siang untuk warga yang gugur gunung membuat jembatan.

Terkait kesibukannya itu, kakek tak pernah mengeluh dan selalu siap kapan pun dibutuhkan, asalkan bisa atau memang sedang berada di rumah. Orang datang juga tak kenal waktu sekalipun kakek sedang beristirahat, bisa tengah malam atau dini hari sebelum subuh.

“Kakek hanya tak ingin, kehampaan yang mereka bawa pulang,” begitu jawabnya ketika kutanya.

Bila kakek sedang pergi ke ladang atau mengajar ngaji di langgar depan rumah, biasanya orang-orang itu rela menunggu. Karena sudah pasti kakek hanya mau melayani permintaan mereka setelah menyelesaikan pekerjaannya itu. Sebetulnya aku juga tidak terlalu yakin dengan menyebut semua itu pekerjaan. Yang aku tahu, kakek hampir-hampir tak pernah mengecewakan orang-orang yang datang. Buktinya, mereka akan selalu kembali di waktu yang lain saat membutuhkan pertolongan lagi.

“Kakeknya Mas Jalu itu dukun sakti,” terang salah satu dari mereka, ketika saking penasarannya aku bertanya-tanya perihal pekerjaan kakek.

Semenjak itulah aku mendengar sebutan dukun, meski tak pernah kuketahui sejak kapan kakekku memulai pekerjaan menolong orang itu. Yang jelas sekarang, orang yang kali pertama datang untuk menemui kakekku tak mungkin tersesat bila mereka mau bertanya ke orang-orang yang ditemuinya di jalan. Aku pun tak jarang berjumpa dengan orang yang sedang mencari rumah kakek dan tentu saja—bila tidak sedang tak ada hal mendesak—aku akan langsung mengantar mereka sampai di depan rumah. Seperti halnya sore itu, ketika seorang laki-laki muda bersepeda motor menghentikan langkahku bersama teman-teman menuju lapangan desa. Ia bertanya setelah mematikan mesinnya.

“Kalian tahu rumah orang pintar di dekat sini?”

“Orang pintar?” tanyaku heran.

“Du… du… dukun, maksud saya,” timpalnya dengan terbata-bata.

Owalah, kalau itu tahu. Mari saya antar,” sambil kuberi isyarat kepada teman-teman untuk duluan.

“Maaf, bukan sekarang, karena saya masih ada keperluan lain.”

Sementara itu teman-temanku bergegas lari ke lapangan.

“Oh, ya sudah.”

Hampir saja aku beranjak lari menyusul teman-teman, “Boleh adik tunjukkan dulu tempatnya?” tanya lelaki itu sembari menatapku tajam.

“Itu sebelum perempatan, yang ada langgarnya.” Kutunjukkan arah menuju rumah kakek.

Lelaki itu mengangguk beberapa kali dan sejenak terlihat sedang berpikir. Lalu setelah mengucapkan terima kasih, ia malah pergi. Segera saja debu beterbangan dan asap dari knalpot menutupi pandangan. Kau pasti bisa mengerti, mengapa aku tak perlu menanyakan kapan waktunya kelak ia akan datang, seperti halnya tak perlu kita menduga-duga kepastian datangnya hujan saat kemarau panjang. Dan andai saja kakekku tahu perihal perjumpaanku dengan lelaki itu, tentu ia juga berharap kesulitan orang itu sudah bisa teratasi sebelum akhirnya benar-benar datang kembali untuk meminta tolong.

Keesokan harinya guruku memberikan pelajaran tentang macam-macam profesi. Aku baru tahu bahwa kelak jika dewasa seseorang akan bekerja sesuai profesinya. Guruku juga menambahkan, setiap pekerjaan yang bermanfaat buat banyak orang, sama baiknya untuk dijadikan profesi. Sayangnya, guru tidak menyebut profesi seperti yang dikerjakan kakek, kecuali petani tentu saja. Meski begitu aku tetap merasa bangga dengan pekerjaan kakek yang terbukti melegakan kepayahan banyak orang.

***

Mendung sejak sore tadi seolah menandakan kemarau panjang akan segera berakhir. Tidak ada tanda-tanda bahwa malam itu akan terjadi sesuatu yang kelak akan terus kuingat sampai aku dewasa. Malam sudah larut dan aku masih sempat melihat kakek sedang melayani seseorang di ruang depan, yang biasanya akan berlangsung lama. Melihat itu aku merasa tak perlu lagi memedulikan olok-olok guru dan teman-teman tempo hari sebelumnya. Siaran wayang kulit di radio membuai rasa kantukku hingga tertidur, tenggelam bersama kisah pertarungan ksatria Pandawa melawan kejahatan dan kelicikan.

Aku terbangun saat mendengar suara gaduh di depan, mengalahkan suara kemresek radio yang telah berhenti siaran. Karena merasakan sesuatu sedang tidak baik, aku segera meloncat dari amben. Mengetahui kemunculanku di ruangan depan, nenek segera menangkap serta membenamkan tubuh kecilku ke dalam dekapannya. Sempat tubuhku meronta dan entah mengapa aku pun meraung-raung, tanganku menggapai-gapai, saat melihat kepanikan di sana-sini.

Malam begitu pekat sehingga tak dapat kupastikan apa yang terjadi sebenarnya. Tak kulihat ibu, mungkin sedang bersama adik. Tubuh bapak tergeletak di depan pintu, babak bundas seperti baru saja dikeroyok dan dipukuli orang. Agak jauh dekat jalan, terlihat bayangan orang-orang berpakaian dan bertopeng hitam, sedang menghajar seonggok tubuh yang kuduga kakek. Suara petir menggelegar dan sebentar kemudian hujan benar-benar turun membungkam sunyi yang bercampur isak tangis, setelah orang-orang itu pergi membawa kakek.

Semenjak kejadian itu, aku tak pernah berjumpa kakek dan tak mau bertindak konyol hingga membuat ibu marah lagi. Tak ada orang lain—kecuali teman-temanku—yang tahu perihal pertemuanku dengan orang asing di dekat lapangan, termasuk ibu. Aku sekarang takut bercita-cita dan berharap tak ada lagi yang bertanya, karena aku tak ingin terpaksa mengarangnya. Kelak baru kutahu, ada masa di mana pekerjaan menolong orang dianggap berbahaya. ***


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022.


[1] Istilah lokal yang berarti makanan kecil untuk anak-anak

Cerpen

Sang Juru Kunci

Cerpen Ian Hasan

Sebab terlalu sering mengaitkan kejadian kematian beruntun warga dusun dengan kemarahan leluhur penunggu makam Sindang, nyaris tak ada warga Dusun Ngenthak yang menyukai Mbah Ngiso.

“Orang tidak waras,” kata Pak Bayan sembari bersungut-sungut, “tidak usah didengarkan!”

Tentu saja warga dusun yang sebagian besar kaum beriman dan terpelajar, menerima sepenuhnya pernyataan itu. Mereka lebih percaya, garis maut sudah ditentukan dan tidak ada siapa pun makhluk yang bisa memainkan goresannya, termasuk pandemi virus laknat sekalipun.

“Ya, maklumlah orang tidak pernah sekolah,” celetuk istri Ketua RW, terkesan bijak dari tutur kata dan penampilannya.

“Pssttt, awas ada orangnya, Bu!” Sambil berkata lirih, seorang ibu muda menyenggol lengan Bu RW.

Lelaki tua berkaki pincang sebelah itu tak begitu menggubris obrolan ibu-ibu yang sedang berkerumun mengelilingi tukang sayur di perempatan jalan menuju makam. Ia cukup mengerti perihal suasana dusun akan terus mencekam dalam beberapa hari ke depan. Termasuk gunjingan atas dirinya bakal kian meruncing, ia tak ambil peduli. Sekalipun tiap malam—dan sudah berjalan selama sepekan ini—masjid-masjid di Dusun Ngenthak, serentak menggelar acara doa tolak bala. Ia telah melihat sendiri, hujan yang turun hampir saban petang mengguyurkan kecemasan bagi warga dusun. Mereka yang memaksa diri hadir di masjid, tak bosan ndremimil, memanjatkan harap keselamatan atas kampung mereka dari pagebluk yang tak kunjung surut. Seolah tak putus sirene ambulans meraung dari kejauhan dan kabar lelayu kerap menggema lewat pengeras suara, membuat mereka yang bertahan mendekam di rumah pun tak lebih sama, mendaras pertolongan Yang Maha Kuasa agar keluarga mereka terhindar dari malapetaka.

Mbok ya sudah. Manut saja apa kata orang-orang, Kung.” Masih terngiang teguran istrinya semalam.

Mbah Ngiso—yang tak pernah lulus SD itu—tahu, sepintar apapun orang bersekolah, nyatanya sama saja tak berkutik tatkala wabah datang. Orang-orang pusat yang katanya terpilih dan hebat, menurutnya tak ada guna manakala sudah setahun lebih, gawatnya pandemi belum juga sanggup diatasi. Terlebih sekarang korban berjatuhan di antara tetangga sekitar. Ia lebih percaya dengan nasihat yang turun temurun ia terima dari leluhur, bahwa kejadian seperti ini merupakan akibat dari ulah tingkah sendiri. Mana mungkin Gusti Allah menimpakan tulah ke alamat yang salah? Demikian sederhana alasan yang melekat di benaknya.

Gegas lelaki itu mulai menugal tanah, menghunjamkan segenap kepatuhannya atas titah. Sesungguhnya dia pun tak rela sejak beberapa bulan belakangan, banyak warga yang tak menghiraukan lagi kata-katanya. Hal itu terlepas dari kenyataan, sepekan ini ia sudah menggalikan makam belasan mayat warga, tanpa sedikitpun berniat mengelak. Mata cangkul ia ayunkan, disambut sigap tiga orang warga lain membantunya, lalu sebentar saja tanah galian telah menumpuk di sekeliling lubang berukuran satu kali dua meter itu. Apa daya—pikirnya, Juru Kunci Makam Sindang hanyalah sebutan halus untuk tidak mengatakannya sebagai gedibal. Dan kata-kata yang keluar dari seorang gedibal, ibarat gemerisik rumput yang mengaduh terinjak kaki, kalaupun benar hanya terdengar tak lebih sebagai ratap belas kasihan.

Wis ta, Mbah. Aku jamin sampeyan dan keluarga nggak bakal kelaparan. Jadi nggak usah macam-macam!” tegas Pak Bayan tempo hari.

Sementara Mbah Ngiso tengah berkejaran dengan waktu menyiapkan lubang pemakaman, Pak Bayan justru terlihat sibuk menerima kedatangan para wartawan di balai desa. Terasa makin aneh kehadiran kuli tinta itu, tapi demikianlah kejadiannya. Mungkin sekali para remaja atau muda-mudi Dusun Ngenthak sudah tak sabar dusun mereka menjadi viral, meski kabar petaka yang harus mereka unggah ke media sosial, mengundang wartawan untuk meliput kejadian sebenarnya.

“Sebagai kepala lingkungan, kira-kira bagaimana tindakan Bapak untuk mengatasinya?” Seorang wartawan dari media lokal melontarkan pertanyaan yang terasa sedikit tergesa-gesa.

Pak Bayan terdiam sebentar sebelum kemudian memberikan tanggapan. Dia katakan di tengah kepanikan yang terus-terusan seperti sekarang, hanya ada satu cara paling baik, yakni meminta pertolongan Tuhan. Dia menambahkan, “Seluruh dunia sedang menderita akibat pandemi. Jadi mohon tidak menyebar berita yang tidak-tidak tentang dusun kami.”

Dan kedatangan wartawan itu sudah pasti tak membuat kepanikan mereda. Justru di hari berikutnya, berita tentang kematian beruntun di Dusun Ngenthak sukses terpampang di halaman pertama, bersebelahan dengan foto lambaian tangan bupati yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Berita mengenai Dusun Ngenthak memang bukan baru kali ini, terlebih di dusun inilah rumah tinggal bupati berdiri, semenjak belum menjabat pertama kali. Tiga bulan sebelumnya, kabar penolakan pembangunan menara telekomunikasi yang tidak melibatkan persetujuan warga, juga sempat terpampang di koran yang sama. Sejatinya persoalan itu lumrah saja terjadi di mana tempat. Biasanya, warga setempat menolak karena tidak menyepakati uang kompensasi yang diberikan oleh pengembang menara. Sedikit berbeda yang terjadi di Dusun Ngenthak. Pertama, warga merasa tidak pernah diberitahu, apalagi dimintai persetujuan, terkait rencana pembangunan menara. Kedua, karena rencana pembangunan menara itu harus menghilangkan satu-satunya pohon tua yang ada di tanah kas desa, persisnya di sisi timur Makam Sindang. Yang terakhir, ada bukti dan saksi mata yang mengetahui perihal uang sewa, telanjur jadi bancakan tokoh-tokoh masyarakat dan perangkat desa. Ketiga alasan itu semakin meruncing ketika pada pertemuan di balai desa, Pak Bayan membawa-bawa nama bupati, “Kalau Bupati saja sudah merestui, kalian mau apa?” seolah dengan begitu penolakan warga bisa segera teratasi.

Sayangnya sebagian besar warga mengamini pernyataan Pak Bayan dan sebagian kecil sisanya ikut-ikutan bungkam ketika dana kompensasi dibagikan merata. Media pun tak kurang melempem setelah melakukan mediasi yang entah, menampilkan judul ‘Terganjal Mitos, Pembangunan Menara BTS Sempat Ditolak Warga,’ di salah satu kolom beritanya. Terkecuali Mbah Ngiso, meski dalam posisi terkunci, tetap saja menolak tanpa kecuali. Tetapi sikap itu tak mengubah itikad baiknya melaksanakan tugas sebagai juru kunci, sebagaimana yang dilakukannya hari ini.

Setelah kedatangan ambulans yang mengangkut jenazah, beserta mobil SAR yang membawa petugas berpakaian APD lengkap, Mbah Ngiso bergegas pulang. Sampai di rumah, lelaki tua itu disambut istrinya dengan wajah gelisah.

“Perasaanku kok nggak enak ya, Kung.”

“Lha ngapa? Ndak usah ikut-ikutan bingung.”

“Sampeyan ini, dieman-eman kok malah kayak gitu.”

“Apa kamu ikut-ikutan mengira Gusti Allah gegabah?”

“Ya bukan begitu. Tapi sampeyan kan juga harus hati-hati.”

“Kalau kamu ikut-ikutan menyalahkan pandemi, lantas kapan kita akan belajar perihal takdir yang sudah pasti?”

“Ah, ya sudah. Memang angel tenan bicara sama sampeyan,” tandas perempuan tua itu.

Matahari sedikit condong ke barat, dan Mbah Ngiso tetap bersikeras tak mau menyepelekan perihal kepastian takdir sebagai buah tindakan sendiri. Ia bahkan sempat menyebut—dan itupun sudah teramat sering dikatakannya—alasan kakinya pincang sebelah, sebab terpatuk ular saat berniat membawa pulang kayu bekas keranda dari Makam Sindang, berpuluh tahun silam. Lelaki tua itu berharap, cukup sekali itu saja dirinya tertimpa kemalangan akibat kemarahan leluhur penunggu makam.

Mbah Ngiso dan istrinya belum tahu, di saat mereka meributkan keselamatan atas pagebluk yang terjadi, sebuah pesan berantai menyebar dengan cepat selayaknya wabah menular. Siang terasa lebih panas di balai desa, ketika Pak Bayan yang baru saja mengisi absensi kehadiran, sampai terpental dari kursi, setelah membaca kabar lelayu kemangkatan bupati.***


Ian Hasan, kelahiran Ponorogo, saat ini bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Penulis dapat dihubungi lewat surel: [email protected] dan akun Instagram: @ian_hasan.

Cerpen

Selalu Ada Cara Diam-Diam untuk Satu Persoalan

Cerpen Ian Hasan

Ada satu cara manjur, nyaris sempurna kau yakini kebenarannya untuk menyelesaikan kebuntuan ketika berhadapan dengan suatu persoalan. Cara itu bukan didapat lewat pemikiran yang serba rumit atau semacam pertimbangan yang menguras energi dan kewaspadaan, tetapi lewat pemusatan perhatian dan ketenangan yang memadai untuk memutuskan tindakan. Keyakinanmu itu nyaris sempurna karena belum kau temukan cara lain, sedangkan kau sendiri cukup menyisakan dugaan bahwa mungkin masih ada sebagian orang berkeyakinan lain tentang hal itu.

Kau ingat suatu ketika pernah menghadapi situasi sulit semacam itu, setidaknya untuk ukuranmu sendiri di awal-awal punya anak. Kau sampai tak bisa berkata-kata apapun ketika seorang mantri menyebut biaya berobat anakmu yang nilainya dua kali lebih besar dari sisa uang harian yang kau punya. Hal berbeda kau lihat di raut wajah istrimu yang kemudian meminta kau keluar menggendong anakmu. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam ruang praktik, sehingga kalian tetap bisa membawa sejumlah obat di dalam kantong plastik putih, secerah langkah kalian pulang ke rumah setelahnya.

Sejak peristiwa itu kau mulai mengamati kecenderungan orang mengambil cara diam-diam demi mendapatkan jalan keluar terbaik di kehidupannya. Seperti halnya ketika beberapa waktu berikutnya kau setengah dipaksa menemani pimpinanmu yang diam-diam menikahi seorang gadis di lereng gunung. Dia putuskan itu karena tak ingin masa depan keluarganya hancur sedangkan istrinya sudah tak sanggup lagi meladeni kebutuhan pentingnya sebagai laki-laki. Hati kecilmu tentu saja berontak, tetapi mengingat hanya cara itu yang bisa menopang keberlangsungan aktivitas yang kalian jalani, kembali kau yakini kalau diam-diam adalah solusi.

“Jika kita pernah buruk pada suatu masa, bukan berarti kita akan mengotori sepanjang hidup kita dengan keburukan,” jelasnya, menjawab kegamanganmu terkait keputusannya, “dan setiap orang pasti memiliki cita-cita yang diperjuangkan, seburuk apapun cara meraihnya,” tambahnya sembari memutar kemudi mobil yang kalian kendarai.

Kau balas penjelasan itu dengan beberapa kali anggukan, sembari matamu menerawang jauh, membayangkan keburukan lain apabila tidak memilih cara diam-diam. Jujur, saat itu keyakinanmu mengenai cara halus itu belum sebulat sekarang. Kau masih terlalu percaya diri untuk berharap mengenai kehidupan yang serba lantang. Segala urusan diselesaikan dengan terbuka tanpa harus ditutupi. Perkara-perkara pelik bisa jadi lebih mudah diuraikan ketika berhadapan langsung dengan sumbernya, tak perlu dihindari dengan mencari jalan lain yang lebih sunyi. Tetapi apakah diam-diam itu juga berarti sembunyi-sembunyi? Sedangkan seorang pengecut pun bukan berarti mampu menguasai cara itu dengan baik, mengingat adanya sederet risiko yang harus disadari sejak awal, sebelum memutuskan bertindak dengan cara diam-diam. Kau pikir, melakukan cara itu juga harus dilandasi kepercayaan diri yang kuat, selain sikap tenang, dan perhatian penuh akan jalan keluar yang memang sudah di depan mata. Ibarat menangkap ikan tak perlu membuat airnya keruh.

Sebagai seorang aktivis, ingatanmu tiba-tiba menggapai satu kisah penting terkait berdirinya republik ini. Saat di mana secara diam-diam pula, para pemuda menculik dua pemimpin yang dianggap mewakili keutuhan bangsa. Dapatkah dikatakan tindakan para pemuda itu sebagai pengecut? Sedangkan pilihan cara lain justru bisa membuat nilai kemerdekaan bangsa ini jadi berbeda. Faktanya, keesokan hari setelah penculikan itu proklamasi kemerdekaan dibacakan, lebih lantang menyuarakan kebebasan dari skenario penjajah, juga terhindar dari kekonyolan cara-cara gegabah. Meskipun pada awalnya, perdebatan dan silang pendapat hampir saja menggagalkan semuanya.

Sebelum hari ini, kau sudah sering diperingatkan orang-orang terdekatmu terkait keyakinan yang ada dalam diri atas cara itu, termasuk oleh istrimu sendiri. Dia berkali-kali memintamu berhenti dari aktivitas bawah tanah yang menurutnya sangat berbahaya, terutama menyangkut keselamatan keluarga kalian.

“Memangnya kamu punya simpanan senjata?” tanya istrimu, ketika mengetahui siapa kekuatan yang sedang kau lawan.

Kau lalu menjelaskan perihal aktivitas kelompok yang belakangan ini bergerak sunyi. Siapa yang mau nyawanya hilang sia-sia ketika teriakan tuntutan dan selebaran protes, justru membangunkan kemarahan harimau dan ular yang bersarang di tampuk kekuasaan? Nyaris tak terhitung lagi berapa nyawa kawanmu yang melayang di keramaian demonstrasi atau cukup sial dengan hanya menjalani bui karena didakwa membahayakan.

“Takut?” Tak kau duga, istrimu bertanya begitu.

“Bukan begitu juga.”

“Lalu?” Istrinya mulai mencium ketidakberesan dan memandangmu penuh curiga.

“Sudahlah, aku tak mau malam ini berantakan sebab anak-anak terbangun oleh suaramu.”

Malam itu, ditemani irama rintik hujan yang menggairahkan, kau ajak istrimu melakukan cara diam-diam di tengah kesibukan yang menghujani malam-malammu sebelumnya.

Keesokan harinya, tatkala istrimu belum selesai menyiapkan kopi dan anak-anak masih tenggelam dalam nyenyak mereka, terdengar salam dan ketukan di pintu depan.

“Kenapa?” tanyamu begitu melihat Seno dan Jalal di depan pintu.

Hawa dingin pagi itu tak sanggup menyembunyikan kepanikan di wajah mereka berdua, membuatmu buru-buru mengajak mereka masuk.

“Kongres belum selesai, Serikat Petani Kang Din didatangi aparat,” setengah berbisik, Jalal menyampaikan kabar dari Salatiga.

“Mama Tata juga, ladang sorgum kelompoknya di Flores kena gasak, padahal tinggal seminggu lagi panen.” Seno menggebu menyampaikan itu seakan tak mau kalah dari Jalal.

“Maksud kalian ke sini?” tanyamu singkat.

“Jejaring gerakan mulai terbaca,” jawab mereka hampir bersamaan. Efektivitas gerakan bawah tanah mulai dipertanyakan beberapa kawan, karena tetap saja denyut sekecil apapun dibungkam dengan dalih penyelewengan kepercayaan. Kalian bersepakat menduga, ada oknum-oknum yang disusupkan. Kedua kawanmu langsung menyarankan agar kau menjauh dari keluarga untuk beberapa waktu sampai situasi aman. Hening beberapa saat membuatmu cukup punya waktu berpikir lantas memutuskan mengikuti mereka.

***

Ketika langit sore belum sepenuhnya berubah kelam, saat kebanyakan orang sibuk menyiapkan kedatangan malam, dua orang lelaki bergegas meninggalkan sepenggal kisah mereka di tepian telaga.

“Apa boleh buat, meskipun kita tahu tunduk dan tidak itu urusan hati.”

“Iya, Kang. Tindakan lahir juga belum tentu mewakili niatan, bisa saja itu siasat yang memang harus dilakukan untuk satu persoalan.”

Tanpa mereka ketahui, diam-diam kau ikuti ke mana pun mereka pergi, menghantui mimpi mereka tentang kebenaran yang diyakini.***


Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan) di Karanganyar. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.