Cerpen

Mengarang Cita-Cita

Cerpen Ian Hasan

Tak ada seorang pun yang pernah mengajariku perihal bagaimana sebaiknya seseorang bercita-cita. Atau setidaknya, seingatku belum ada pula orang yang pernah memberiku sedikit penjelasan mengapa cita-cita menjadi begitu penting seperti halnya nama.

Bertahun-tahun aku mengarang cita-cita sejak pertama kali ditanya tentang hal itu, sekadar memungutnya dari siaran drama radio, selebaran film bioskop, atau bungkus pao-pao[1] bergambar superhero. Dan nyaris tak ada satupun dari cita-cita yang pernah kusebut—karena sejujurnya tak ada cita-cita yang menurutku abadi—telah aku pertimbangkan betul dalam memilihnya kecuali satu, cita-cita menjadi dukun.

Sekali waktu pernah aku nyatakan cita-citaku menjadi dukun itu saat pelajaran berlangsung di sekolah, karena guru menanyakannya. Sudah bisa kutebak, kebanyakan teman-temanku menyebutkan cita-cita menjadi dokter, tentara, polisi, atau insinyur. Tapi aneh, jawabanku malah jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas dan juga guru. Sampai di rumah aku masih menyimpan tanda tanya besar, apa sebetulnya maksud orang menanyakan cita-cita kalau hanya dijadikan bahan olok-olok seperti itu. Aku makin tak habis pikir ketika dua hari berikutnya ibu marah besar setelah mendengar pengakuan dari guru, saat ia—tidak seperti biasa—menjemputku ke sekolah.

“Katakan, siapa yang ngajarin Jalu bilang kayak gitu!” bentaknya, setiba kami di rumah.

“Jalu tahu, dukun itu apa?” tambahnya dengan wajah memerah.

Maksud ibu mungkin bertanya, tapi aku tahu saat itu bukan waktu yang tepat untuk menanggapinya. Kurelakan daun telingaku, dua-duanya jadi korban, bergantian dijewer tangan yang biasanya lembut dan penuh kasih sayang. Ada rasa sakit yang susah hilang, tapi bukan di situ tempatnya. Aku hanya terdiam dan hampir menangis—atau sudah, aku tak ingat betul. Seketika aku merasa amat bersalah karena telah berkata jujur sehingga membuat malu keluarga, terutama ibu yang kutahu sangat kecewa.

Aku lihat perubahan wajah dan sikap ibu sejak saat itu, seakan menular ke semua anggota keluarga. Berhari-hari aku tak diajak bicara, seakan mereka begitu menyesalkan cita-cita yang telanjur kukatakan sebenarnya.

***

Ingatanku tentang kemarau yang sedang menggila, sama saja dengan ingatanku tentang kegigihan kakek meladang. Aku tahu, kakek saban hari bekerja di ladang, tanpa pernah sekali saja menunjukkan kerisauan perihal kesulitan yang dihadapinya. Selain tentang pekerjaannya sebagai petani, sering pula aku perhatikan kebiasaan kakek menolong orang lain tanpa pamrih, sekalipun ia sendiri terkadang tidak sedang baik-baik saja. Mungkin karena itu, setiap warga desa dan kebanyakan orang Jatikuwung mengenal kakek. Tidak sedikit dari mereka yang pernah mendapatkan pertolongan kakek, mulai dari mengobati orang sakit, meredakan rewel bayi atau anak kecil, menentukan titik galian sumur, menanyakan hari baik—untuk mulai tanam, bangun rumah, hingga menikahkan anak, serta mengusir dan melindungi rumah dari gangguan makhluk halus. Bahkan sudah dua pekan ini ada orang yang tiap hari mengambil jatah makan siang untuk warga yang gugur gunung membuat jembatan.

Terkait kesibukannya itu, kakek tak pernah mengeluh dan selalu siap kapan pun dibutuhkan, asalkan bisa atau memang sedang berada di rumah. Orang datang juga tak kenal waktu sekalipun kakek sedang beristirahat, bisa tengah malam atau dini hari sebelum subuh.

“Kakek hanya tak ingin, kehampaan yang mereka bawa pulang,” begitu jawabnya ketika kutanya.

Bila kakek sedang pergi ke ladang atau mengajar ngaji di langgar depan rumah, biasanya orang-orang itu rela menunggu. Karena sudah pasti kakek hanya mau melayani permintaan mereka setelah menyelesaikan pekerjaannya itu. Sebetulnya aku juga tidak terlalu yakin dengan menyebut semua itu pekerjaan. Yang aku tahu, kakek hampir-hampir tak pernah mengecewakan orang-orang yang datang. Buktinya, mereka akan selalu kembali di waktu yang lain saat membutuhkan pertolongan lagi.

“Kakeknya Mas Jalu itu dukun sakti,” terang salah satu dari mereka, ketika saking penasarannya aku bertanya-tanya perihal pekerjaan kakek.

Semenjak itulah aku mendengar sebutan dukun, meski tak pernah kuketahui sejak kapan kakekku memulai pekerjaan menolong orang itu. Yang jelas sekarang, orang yang kali pertama datang untuk menemui kakekku tak mungkin tersesat bila mereka mau bertanya ke orang-orang yang ditemuinya di jalan. Aku pun tak jarang berjumpa dengan orang yang sedang mencari rumah kakek dan tentu saja—bila tidak sedang tak ada hal mendesak—aku akan langsung mengantar mereka sampai di depan rumah. Seperti halnya sore itu, ketika seorang laki-laki muda bersepeda motor menghentikan langkahku bersama teman-teman menuju lapangan desa. Ia bertanya setelah mematikan mesinnya.

“Kalian tahu rumah orang pintar di dekat sini?”

“Orang pintar?” tanyaku heran.

“Du… du… dukun, maksud saya,” timpalnya dengan terbata-bata.

Owalah, kalau itu tahu. Mari saya antar,” sambil kuberi isyarat kepada teman-teman untuk duluan.

“Maaf, bukan sekarang, karena saya masih ada keperluan lain.”

Sementara itu teman-temanku bergegas lari ke lapangan.

“Oh, ya sudah.”

Hampir saja aku beranjak lari menyusul teman-teman, “Boleh adik tunjukkan dulu tempatnya?” tanya lelaki itu sembari menatapku tajam.

“Itu sebelum perempatan, yang ada langgarnya.” Kutunjukkan arah menuju rumah kakek.

Lelaki itu mengangguk beberapa kali dan sejenak terlihat sedang berpikir. Lalu setelah mengucapkan terima kasih, ia malah pergi. Segera saja debu beterbangan dan asap dari knalpot menutupi pandangan. Kau pasti bisa mengerti, mengapa aku tak perlu menanyakan kapan waktunya kelak ia akan datang, seperti halnya tak perlu kita menduga-duga kepastian datangnya hujan saat kemarau panjang. Dan andai saja kakekku tahu perihal perjumpaanku dengan lelaki itu, tentu ia juga berharap kesulitan orang itu sudah bisa teratasi sebelum akhirnya benar-benar datang kembali untuk meminta tolong.

Keesokan harinya guruku memberikan pelajaran tentang macam-macam profesi. Aku baru tahu bahwa kelak jika dewasa seseorang akan bekerja sesuai profesinya. Guruku juga menambahkan, setiap pekerjaan yang bermanfaat buat banyak orang, sama baiknya untuk dijadikan profesi. Sayangnya, guru tidak menyebut profesi seperti yang dikerjakan kakek, kecuali petani tentu saja. Meski begitu aku tetap merasa bangga dengan pekerjaan kakek yang terbukti melegakan kepayahan banyak orang.

***

Mendung sejak sore tadi seolah menandakan kemarau panjang akan segera berakhir. Tidak ada tanda-tanda bahwa malam itu akan terjadi sesuatu yang kelak akan terus kuingat sampai aku dewasa. Malam sudah larut dan aku masih sempat melihat kakek sedang melayani seseorang di ruang depan, yang biasanya akan berlangsung lama. Melihat itu aku merasa tak perlu lagi memedulikan olok-olok guru dan teman-teman tempo hari sebelumnya. Siaran wayang kulit di radio membuai rasa kantukku hingga tertidur, tenggelam bersama kisah pertarungan ksatria Pandawa melawan kejahatan dan kelicikan.

Aku terbangun saat mendengar suara gaduh di depan, mengalahkan suara kemresek radio yang telah berhenti siaran. Karena merasakan sesuatu sedang tidak baik, aku segera meloncat dari amben. Mengetahui kemunculanku di ruangan depan, nenek segera menangkap serta membenamkan tubuh kecilku ke dalam dekapannya. Sempat tubuhku meronta dan entah mengapa aku pun meraung-raung, tanganku menggapai-gapai, saat melihat kepanikan di sana-sini.

Malam begitu pekat sehingga tak dapat kupastikan apa yang terjadi sebenarnya. Tak kulihat ibu, mungkin sedang bersama adik. Tubuh bapak tergeletak di depan pintu, babak bundas seperti baru saja dikeroyok dan dipukuli orang. Agak jauh dekat jalan, terlihat bayangan orang-orang berpakaian dan bertopeng hitam, sedang menghajar seonggok tubuh yang kuduga kakek. Suara petir menggelegar dan sebentar kemudian hujan benar-benar turun membungkam sunyi yang bercampur isak tangis, setelah orang-orang itu pergi membawa kakek.

Semenjak kejadian itu, aku tak pernah berjumpa kakek dan tak mau bertindak konyol hingga membuat ibu marah lagi. Tak ada orang lain—kecuali teman-temanku—yang tahu perihal pertemuanku dengan orang asing di dekat lapangan, termasuk ibu. Aku sekarang takut bercita-cita dan berharap tak ada lagi yang bertanya, karena aku tak ingin terpaksa mengarangnya. Kelak baru kutahu, ada masa di mana pekerjaan menolong orang dianggap berbahaya. ***


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022.


[1] Istilah lokal yang berarti makanan kecil untuk anak-anak

Cerpen

Selalu Ada Cara Diam-Diam untuk Satu Persoalan

Cerpen Ian Hasan

Ada satu cara manjur, nyaris sempurna kau yakini kebenarannya untuk menyelesaikan kebuntuan ketika berhadapan dengan suatu persoalan. Cara itu bukan didapat lewat pemikiran yang serba rumit atau semacam pertimbangan yang menguras energi dan kewaspadaan, tetapi lewat pemusatan perhatian dan ketenangan yang memadai untuk memutuskan tindakan. Keyakinanmu itu nyaris sempurna karena belum kau temukan cara lain, sedangkan kau sendiri cukup menyisakan dugaan bahwa mungkin masih ada sebagian orang berkeyakinan lain tentang hal itu.

Kau ingat suatu ketika pernah menghadapi situasi sulit semacam itu, setidaknya untuk ukuranmu sendiri di awal-awal punya anak. Kau sampai tak bisa berkata-kata apapun ketika seorang mantri menyebut biaya berobat anakmu yang nilainya dua kali lebih besar dari sisa uang harian yang kau punya. Hal berbeda kau lihat di raut wajah istrimu yang kemudian meminta kau keluar menggendong anakmu. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam ruang praktik, sehingga kalian tetap bisa membawa sejumlah obat di dalam kantong plastik putih, secerah langkah kalian pulang ke rumah setelahnya.

Sejak peristiwa itu kau mulai mengamati kecenderungan orang mengambil cara diam-diam demi mendapatkan jalan keluar terbaik di kehidupannya. Seperti halnya ketika beberapa waktu berikutnya kau setengah dipaksa menemani pimpinanmu yang diam-diam menikahi seorang gadis di lereng gunung. Dia putuskan itu karena tak ingin masa depan keluarganya hancur sedangkan istrinya sudah tak sanggup lagi meladeni kebutuhan pentingnya sebagai laki-laki. Hati kecilmu tentu saja berontak, tetapi mengingat hanya cara itu yang bisa menopang keberlangsungan aktivitas yang kalian jalani, kembali kau yakini kalau diam-diam adalah solusi.

“Jika kita pernah buruk pada suatu masa, bukan berarti kita akan mengotori sepanjang hidup kita dengan keburukan,” jelasnya, menjawab kegamanganmu terkait keputusannya, “dan setiap orang pasti memiliki cita-cita yang diperjuangkan, seburuk apapun cara meraihnya,” tambahnya sembari memutar kemudi mobil yang kalian kendarai.

Kau balas penjelasan itu dengan beberapa kali anggukan, sembari matamu menerawang jauh, membayangkan keburukan lain apabila tidak memilih cara diam-diam. Jujur, saat itu keyakinanmu mengenai cara halus itu belum sebulat sekarang. Kau masih terlalu percaya diri untuk berharap mengenai kehidupan yang serba lantang. Segala urusan diselesaikan dengan terbuka tanpa harus ditutupi. Perkara-perkara pelik bisa jadi lebih mudah diuraikan ketika berhadapan langsung dengan sumbernya, tak perlu dihindari dengan mencari jalan lain yang lebih sunyi. Tetapi apakah diam-diam itu juga berarti sembunyi-sembunyi? Sedangkan seorang pengecut pun bukan berarti mampu menguasai cara itu dengan baik, mengingat adanya sederet risiko yang harus disadari sejak awal, sebelum memutuskan bertindak dengan cara diam-diam. Kau pikir, melakukan cara itu juga harus dilandasi kepercayaan diri yang kuat, selain sikap tenang, dan perhatian penuh akan jalan keluar yang memang sudah di depan mata. Ibarat menangkap ikan tak perlu membuat airnya keruh.

Sebagai seorang aktivis, ingatanmu tiba-tiba menggapai satu kisah penting terkait berdirinya republik ini. Saat di mana secara diam-diam pula, para pemuda menculik dua pemimpin yang dianggap mewakili keutuhan bangsa. Dapatkah dikatakan tindakan para pemuda itu sebagai pengecut? Sedangkan pilihan cara lain justru bisa membuat nilai kemerdekaan bangsa ini jadi berbeda. Faktanya, keesokan hari setelah penculikan itu proklamasi kemerdekaan dibacakan, lebih lantang menyuarakan kebebasan dari skenario penjajah, juga terhindar dari kekonyolan cara-cara gegabah. Meskipun pada awalnya, perdebatan dan silang pendapat hampir saja menggagalkan semuanya.

Sebelum hari ini, kau sudah sering diperingatkan orang-orang terdekatmu terkait keyakinan yang ada dalam diri atas cara itu, termasuk oleh istrimu sendiri. Dia berkali-kali memintamu berhenti dari aktivitas bawah tanah yang menurutnya sangat berbahaya, terutama menyangkut keselamatan keluarga kalian.

“Memangnya kamu punya simpanan senjata?” tanya istrimu, ketika mengetahui siapa kekuatan yang sedang kau lawan.

Kau lalu menjelaskan perihal aktivitas kelompok yang belakangan ini bergerak sunyi. Siapa yang mau nyawanya hilang sia-sia ketika teriakan tuntutan dan selebaran protes, justru membangunkan kemarahan harimau dan ular yang bersarang di tampuk kekuasaan? Nyaris tak terhitung lagi berapa nyawa kawanmu yang melayang di keramaian demonstrasi atau cukup sial dengan hanya menjalani bui karena didakwa membahayakan.

“Takut?” Tak kau duga, istrimu bertanya begitu.

“Bukan begitu juga.”

“Lalu?” Istrinya mulai mencium ketidakberesan dan memandangmu penuh curiga.

“Sudahlah, aku tak mau malam ini berantakan sebab anak-anak terbangun oleh suaramu.”

Malam itu, ditemani irama rintik hujan yang menggairahkan, kau ajak istrimu melakukan cara diam-diam di tengah kesibukan yang menghujani malam-malammu sebelumnya.

Keesokan harinya, tatkala istrimu belum selesai menyiapkan kopi dan anak-anak masih tenggelam dalam nyenyak mereka, terdengar salam dan ketukan di pintu depan.

“Kenapa?” tanyamu begitu melihat Seno dan Jalal di depan pintu.

Hawa dingin pagi itu tak sanggup menyembunyikan kepanikan di wajah mereka berdua, membuatmu buru-buru mengajak mereka masuk.

“Kongres belum selesai, Serikat Petani Kang Din didatangi aparat,” setengah berbisik, Jalal menyampaikan kabar dari Salatiga.

“Mama Tata juga, ladang sorgum kelompoknya di Flores kena gasak, padahal tinggal seminggu lagi panen.” Seno menggebu menyampaikan itu seakan tak mau kalah dari Jalal.

“Maksud kalian ke sini?” tanyamu singkat.

“Jejaring gerakan mulai terbaca,” jawab mereka hampir bersamaan. Efektivitas gerakan bawah tanah mulai dipertanyakan beberapa kawan, karena tetap saja denyut sekecil apapun dibungkam dengan dalih penyelewengan kepercayaan. Kalian bersepakat menduga, ada oknum-oknum yang disusupkan. Kedua kawanmu langsung menyarankan agar kau menjauh dari keluarga untuk beberapa waktu sampai situasi aman. Hening beberapa saat membuatmu cukup punya waktu berpikir lantas memutuskan mengikuti mereka.

***

Ketika langit sore belum sepenuhnya berubah kelam, saat kebanyakan orang sibuk menyiapkan kedatangan malam, dua orang lelaki bergegas meninggalkan sepenggal kisah mereka di tepian telaga.

“Apa boleh buat, meskipun kita tahu tunduk dan tidak itu urusan hati.”

“Iya, Kang. Tindakan lahir juga belum tentu mewakili niatan, bisa saja itu siasat yang memang harus dilakukan untuk satu persoalan.”

Tanpa mereka ketahui, diam-diam kau ikuti ke mana pun mereka pergi, menghantui mimpi mereka tentang kebenaran yang diyakini.***


Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan) di Karanganyar. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.

Puisi

Puisi Ian Hasan

Merawat Cinta dalam Jangkauan

lampu mati,

mengirim gelap yang mendekatkan

senyata kenyataan yang menghimpit

angkasa lapang,

sepi dari lalu-lalang pujian

sekhusyuk lilin di tengah ruangan

fajar di halaman,

rumput-rumput berdesakan

sembunyikan genangan hujan semalam

kebun,

harapan yang segan tumbuh

derai gulma, ilalang dan tanah jenuh

rumah,

menaungi sisa-sisa kantor

kran bocor dan tumpukan piring kotor

anak-anak,

nyala yang tak pernah kau saksikan

di kepulanganmu yang masih keruh

istri,

kesejukan yang kau lewatkan

dalam sunyi dan kesetiaan menanti

cinta,

adalah bagaimana kesanggupanmu

menjangkau dan merawatnya


Ke Mana Pergi

dunia belakangan jadi sempit

bahkan tak lebih besar dari ibu jari

sementara zaman demi zaman

kerap melahirkan orang-orang besar

yang lebih banyak dari rahim mancanagari

ke mana pergi pewaris ibu pertiwi?

sehari terasa tak cukup

waktu terengah-engah hampir tak sanggup

sementara otak tak lagi berupa lahan subur

kerja otak tak bisa dihitung

acapkali tak keluar keringat justru bikin makmur

ke mana pergi pelaksana hati?

rasa dan ketulusan cukup dipajang

agar selalu ada kenangan

sekalipun bukan milik sendiri

hidup harus hemat jangan dibuka semua

secukupnya untuk diri kita sendiri saja

ke mana pergi diri yang belum mati?


Menunggu Kedatangan

awan berkelipat-gelung menelan senja yang tak gesa

angin menghimpun gelap mendorong malam tiba lebih cepat

orang-orang bergegas mengaliri lorong masing-masing

sementara butiran kehidupan mulai menitik singgahi segala muka

dan langit semakin menunduk, kian dekat dari sebelumnya

hitam di mata orang-orang mendekati batas kelopak pandangan

air muka kerut, simpul kening menjerat perlihatkan penat

hujan pun tiba dan malam melindungi penuh gelora

anak-anak memandangi jalanan basah dari balik kaca jendela

dan aku diam-diam melepas rindu bersama deras tak berkesudahan

sepertinya anak panah itu melesat,

angan itu bergelantungan,

rindu itu di kedalaman

sepertinya…, tak perlu kau tanyakan

kucing-kucing terdesak dingin di emperan hingga hujan berselang

gerah seharian dikuliti, hingga tinggal belulang

tergolek aku di kesendirian, menimbang utang yang belum lunas

selama purnama masih terhalang mendung di mata anak-anak negeri

dan sedikit pun tak kukenali lagi bara api di dada para terpelajar

sepertinya laju takdir tercerabut,

jalan maju kian terentang,

rindu ini belum terlawan

sepertinya…, akan segera datang


Mendekatlah

mendekatlah padaku,

dengarkan kabar tentang elang

yang melayang tenang terdorong angin

mengarungi cakrawala dengan mata waspada

menghitung berapa kali pusaran berputar

menyaksikan perubahan, merekam kenyataan

itulah kabar tentang batas hari ini dan esok

yang harus segera kita kerjakan

mendekatlah pada-nya,

dengarkan kabar tentang bintang

yang bertengger di dahan keabadian

menyandarkan kegalauan dan keragu-raguan

melabuhkan harapan penuh penghambaan

menyusun ingatan tentang pergulatan fana

itulah kabar tentang batas daya dan upaya akal

yang harus segera kita endapkan

mendekatlah pada diri,

dengarkan kabar tentang tanah negeri

yang kering kala hujan tak datang

menyediakan hamparan kejujuran

menorehkan jejak-jejak terdalam

menempuh kesadaran dan tanggungjawab

itulah kabar tentang batas selain kau dan engkau

yang harus segera kita kabarkan


Sejarah Kerinduan

adakalanya kerinduan menjelma wewangian

terpendar dari rona tersipu bebunga taman

merayapi segala penjuru lesu yang hiruk pikuk

hingga para penghuninya seketika bertengadah

dan serasa teraliri dengan darah-darah yang baru saja diperas

dari kemerahan mega saat matahari mulai menggeliat

dan menyingkap selimut yang semalaman

telah membungkus keseluruhannya dengan rapat

kantuk melarut, keletihan menguap,

selayak kabut yang kian menipis saat mentari mengintip

tapi siapa yang tahu dari mana datangnya wewangian bunga?

seperti kerinduan yang tiba-tiba saja mendekap erat,

tak lagi memberi ruang bagi siapa saja

yang menghuni lesu untuk bergelimpangan tak bertenaga

tanpa kita tahu dari mana awal keberangkatannya

dan di mana tempat yang menerima kepulangannya


Kalian dan Kita

I

teman

: entah kepada siapa sebutan ini kutujukan

ketika kusadari napas yang menandai hidup

bersama kalian hingga detik ini

tatapanku seakan menghindar

dari kecenderungan hasrat banyak orang

dan barangkali juga kalian

alam kita sama, zaman kita sama pula

akan tetapi ada ruang-ruang kesunyian

yang selalu menarikku ke sana

sesak kurasakan di keramaian

kosong kurasakan di perayaan-perayaan

jiwaku selalu mengembara

menelusuri celah-celah tak menarik

mendekati yang kalian singkirkan

II

teman

: entah kepada siapa tanda ini kusematkan

kaki angin tersangkut di sangkar kenangan

ketika kita berdua tertegun dan sangsi

mentari tak beranjak seolah memberi jalan

bagi kemungkinan-kemungkinan yang tak jarang kita ramal

kita pernah saling bertandang

saling berkirim jejak kaki di lantai yang asing

sebelum akhirnya kita sadari tak pernah ke mana-mana

saat di mana otak dan perut kita telah sama-sama terisi

angin masih saja tersangkut

sepertinya menunggu dentang rencana

yang barangkali tengah disiapkan untuk kita

sedangkan kita tak lagi tertegun dan sangsi

semoga sampai kapan pun, meski tak lagi di sini

III

pada suatu saat nanti

bersama-sama akan kita petik kembali

kemewahan yang pernah mengaliri nadi

seperti diamnya batu

seperti kehadiran yang tertunda sekian lama

dan wangi kemewahan itu tak bisa kita tolak

mencumbui ke mana saja angin pergi

bersama tetesan waktu

bersama kening kita yang batasnya kian menepi

dan cukup lewat berita yang tak perlu dimuat

sehingga pantas untuk datangnya senja

pada suatu saat nanti

ada kemilau berputar di batas nalar

kemewahan yang menjadi pundi-pundi


Tiga Anak Kucing

tiga kucing kecil memburu anak sungai

masing-masing berbinar purnama yang berbeda

jemariku yang hitung sepekan merasai kelembutan

entah genap atau baru sedalam sayatan pisau

bulu mataku seketika rontok tergoyang bayu sasmita

menolak semai benih-benih pengebirian

tiga anak kucing dengan ekor terombang-ambing

seburuk ranting yang patah ketika muda

saat kala melibas deras tak ambil pusing

lalu terbirit tanpa sekalipun berpaling muka

putik-putik surya di kepalaku menangkap bahasa kebisuan

membuka lipatan subuh yang terbungkam dingin

benih-benih, tandas begitu ditanam

membingkai jalan pencarian anak sungai

arah manakah mereka?

tiga anak kucing rebah lupa gelisah

tupai-tupai pingsan saksikan langkah memukau, kebingungan

alangkah pelik bekal yang harus dibawa

bukannya cukup karsa terhunus tak putus

alam telah sediakan jalan untuk haus dan lapar

dan tak hanya mentari yang sanggup memanggang kebekuan

tiga anak kucing mengerontang

kedatangan tua sejuk bersepoi-sepoi

dan anak sungai masih nampak di ujung mata


Pada Butir-Butir Padi

sebelum kita sama-sama tahu

bahwa jalan ini segera bersinggah

sadar kusongsong pelita di kedalaman sanubarimu

dan langkah kita terbawa oleh satu cerita

mengukir dialog- dialog yang terajut rapat

kita banyak belajar darinya, tentang sebuah perjalanan

pun ketika kita berjarak satu sama lain

masih mampu kita hadir bersama-sama

menjumpai orang-orang dan keseharian kita masing-masing

kau hadir sertaiku dan kusertai kehadiranmu

karena cinta bagi kita alam semesta

karena hidup bagi kita jalan cerita

tirai demi tirai terbuka

dan genggaman kita bersinar seperti matahari

kita selalu percaya binar itu tak mungkin padam

seperti halnya kita selalu yakin

kehidupan masih tersedia pada butir-butir padi

kita sama-sama terdiam suatu ketika

dan lewat pejam kita saling berpandangan

bersama kita sadari tak punya apa-apa

hanya cinta, kesetiaan, dan rasa percaya

hati kita pun berdekapan agar lebih kuat

menumbangkan tiupan angin sekeliling

             naskah demi naskah terbaca

             dan kegamangan kita menjelma patri kesungguhan

             kita selalu mencoba berbicara dengan kenyataan-kenyataan sulit

             seperti halnya kita bertanya ke hati

             saat asa masih tersimpan pada butir-butir padi


Perjalanan Malam

sore, kala kunang-kunang masih bersembunyi di balik bayang-bayang pepohonan

sukma-sukma yang baru saja terbangun berkerumun di ujung hari

mendekat satu sama lain, meraba kenangan sepanjang lelap sehari

subuh masih tercekat di belahan masa yang berbeda

perjalanan usia nampak tatkala cahaya mengurai bentuknya sendiri

sementara rembulan pucat menanti jelaga terhampar

jemari senja kian nampak sedang meraih bentang angkasa

usai kuundang kenangan yang tak lagi sekadar kerinduan

sedang raga terlanjur letih, ditemani sisa-sisa dosa yang menempel di benak hari

sementara jiwa menyapa beranda-beranda yang masing-masing menunggu dikunjungi

seteguk kerinduan basahi sekujur angin yang terdiam telanjang

membalut luka kenangan meski tak sembuh seketika

saat jelaga tumpah dan di antara kita rasa ini menjadi sahabat

menemani di setiap putaran, menyertai di setiap perjalanan

sepi pun menyediakan ruang pengembaraan yang begitu luas

di perbatasan kota, di mana kenangan membawa serta sekawanan harapan

berdua kita berdiri, sama-sama menjadi saksi kedatangannya

emas cahaya rembulan hinggap, memberi irama perjalanan

hingga saat kelambu malam terbakar di ujung timur

dan lagi-lagi kita sadari, satu langkah lagi akan menyusul esok hari


Hikayat Purnama

purnama mengantarkan kedatanganmu

di jendela yang sengaja kubuka malam ini

angin malam berduyun-duyun menyelimuti

dan langit tersapu pucat oleh awan-awan tipis

aku sedang menatap purnama itu

di rengkuhan langit yang kelelahan

kusaksikan drama yang begitu panjang

seperti saat kutebus kerinduan tadi pagi

tertera begitu tegas namamu

yang sanggup membuat purnama hadir dengan kerelaan

demi menghimpun keseluruhan cerita tentang kita

memenuhi rangkaian episode tak kenal akhir

di jendela yang membingkainya ke dalam petak-petak kenangan

bersama malam, bersama dingin

bersama sejarah yang tengah kita kerjakan


Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan), sebuah model prakarsa pendidikan alternatif berupa sanggar berbasis komunitas sejak 2013 lalu. Dunia pendidikan anak menjadi perhatiannya hingga kini, di sela kesibukannya sebagai juru rancang bangunan di Solo. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.