Puisi

Puisi Joe Hasan

Puasa 3

orang-orang itu

datang mencari surga

di meja biru

menuju lobang paling hasrat

harum vodka di mejanya

abadi di mataku

dejavu datang tergesa-gesa

klik

aku buka jendela

mengeja suara mereka

pemuda kampung

badan ringkih

yang tidak mencari surga di perut ibu

lalu hening

sementara

saja

pagi aku diserang

bola-bola yang saling memukul

puasa ini

sungguh menguras kesabaran

aku masih sabar

menanti kedatangan perempuan tua

perawan

kita sama-sama mencari

surga yang tidak ke mana-mana

 (Baubau, 2023)


Puasa 6

apa yang mati

tak lagi mati

macet hanya menunaskan sabar

kini tumbuh

berdaun…

berbuah…

malam-malam

aku tidak lagi memetik kutuk

telah sembuh

bibir yang seharian

dengan kata yang super keramat

puasa hampir batal

ah, apa benar

jiwa yang bangun tengah malam

jiwa yang mudah marah

ialah yang dirindui Tuhan

untuk tak lupa Asmaul Husna?

(Baubau, 2023)


Perut Imam

subuh nanti

aku ingin berkelana

di perut imam

memetik doa-doa rapat

membaginya pada anak-anak jalanan

yang kehilangan peluk

dan di sana

kutemukan dusta paling purna

sisa-sisa ayat yang terapal tak berbekas

katanya telah berkali-kali khatam

apa mungkin aku yang tersesat di perutnya?

karena subuh belum sampai di rumah Tuhan

lalu aku berjanji pagi ini

tidak akan berkelana ke mana-mana

selain pada puisi

 (Baubau, 2023)


Puasa Kelima Belas

di rumah tuamu

hujan yang jatuh menjadi tua

tidak seperti biasa

kau meminta bunga sakura

untuk dibagi pada para musafir

tentu tidak gratis

semua letih ada bayaran lebih

tuturmu pada suatu petang

meski pahala dan amal tetap utama

bukankah pahala dan amal mudah terselesaikan

kala bayaran tercukupi sesuai keringat yang keluar

untuk hari kelima belas

permintaan itu tergolong terlambat

tapi kuingat petuah lama

yang masih hidup di segala dinding rumah tua ini

bahwa tak ada kebaikan yang terlambat

dan makin malam

hujan makin redup

redup…

redup…

tinggal ringkih tubuh terbungkus gigil

(Baubau, 2022)


Setiap Menit

setiap menit di pagi hari adalah menantikan

pesan-pesan yang mengudara

aku membunuh suara

lelah menjadi raja dalam rumah

pagi datang buru-buru

ketukan pintu tak ada perasaan lagi

mengejar uang dan begitulah setiap harinya

setiap menit adalah penantian

untuk kubalas lagi tanpa berlama-lama

berjanji bertemu di bawah pohon tomat

biar bekerjalah dulu

aku akan pamit pulang

meneguk izin sanak saudara

begitu pula kau

bukankah waktu tak pernah berlari

hanya kita yang begitu tergesa-gesa

setiap menit adalah menunggu pagi

dan setiap pagi adalah hadirmu

 (Baubau, 2020)


Tubuh Lain

mengaduh pada tubuh lain

seperti dejavu

permintaan 10 tahun lalu

datang menyerempet

tapi tubuh telah menegak

mimpi sudah bertemu tuan

sementara dia masih tidak mau pulang

dan kau kejar lewati puluhan pulau

berkali-kali

aku perlu menyelamatkan aku

yang terlalu lama diam

pada kegelisahan

biarkan kali ini puisi bersuara

meski tetap tak mampu

kepada tubuh lain

yang tidak menanam rindu

tiada lagi pengorbanan

pengalaman cukup memberi tahu segala

aku ingin pergi dengan tidak mengingat pulang

di sana letak segala gelisah

yang sulit mengaduh

saat ini

pada tubuh lain

aku mencatat sejarah sendiri

dengan tinta yang semakin hari

semakin purba

(Baubau, 2022)


Suara Subuh

hanya telinga yang terjaga

diam-diam menyebut asma Tuhan

suara subuh dari jauh

terbang mendekat

mendekap pada embun daun

mengintip lewat jendela telanjang

lalu memaksa masuk

seketika itu

debu-debu yang bertandang

ikut sujud

melunasi rindu

(Baubau, 2020)


Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya pernah dimuat di media cetak dan online.

Cerpen

Akankah Ajal Mau Berkompromi dengan Rindu?

Cerpen Andri Saptono

Kerinduan kepada anak lanang yang tak tersampaikan menumpukkan kabut di bola mata Sanyoto. Semisal kisah Yakub yang merindukan Yusuf hingga rabun bola matanya[i].

Ya, tahun-tahun belakangan ini anaknya memang jarang sekali pulang. Kecuali, pulang setahun sekali ketika lebaran. Anak lanangnya pulang bersama dua anaknya: laki dan perempuan, serta dua pembantu sekaligus rewang mereka. Jadi mobil itu dipenuhi dengan rewang dan barang bawaan.

Namun yang kadang membuat Sanyoto dan istrinya galau, biasanya anaknya itu juga cepat pergi dari rumahnya. Keluarga putranya itu sekadar transit di rumahnya terus pergi lagi ke villa di Tawangmangu. Di sana mereka berwisata sekaligus ngadem selama seminggu. Sanyoto kadang berkecil hati kalau rumahnya ini tak cukup menyenangkan bagi anak dan terutama cucu-cucunya itu.

Sanyoto tidak tahu mengapa hal ini terjadi pada dirinya dan mengapa anaknya bersikap begitu. Rasanya begitu sedikit sekali waktu anaknya untuk menyinggahi orang tua sendiri.

“Itu karena anakmu terlalu takut dengan istrinya,” kata Paimin, tetangganya.

“Ah, kelihatannya tidak begitu,” bantah Sanyoto.

“Tetapi mengapa cepat sekali pergi, dan manut saja kalau istrinya mengajaknya ke Tawangmangu? Masak singgah di rumah orang tua, cuma maknyuk[ii] saja.”

Sanyoto tak bisa menjawab. Ia jadi terkenang dengan masa-masa dulu ketika anaknya masih tinggal bersama mereka. Anak lelaki semata wayang itu ia besarkan dengan tirakat dan beragam laku prihatin. Dengan kungkum[iii] di tempuran sungai, puasa mutih[iv] dan ngrowot[v] selama tujuh tahun, dengan nyepi ke puncak Lawu. Seorang peziarah di Argo Dalem[vi] pernah menujumkan kalau anaknya akan menjadi tokoh penting di negara ini. Seperti yang sekarang ia ketahui anaknya duduk di parlemen, duduk sebagai anggota DPR yang terhormat. Dikenal  sebagai politikus ulung.

Tetapi, mengapa ia merasa makin tak kenal dengan darah dagingnya itu. Ya, ia tahu wajah itu adalah turunan wajah miliknya. Tubuh itu yang pendek gempal  dan rahang yang kukuh yang sama dirinya. Ia merasa dapat mengenali diri sendiri ketika muda pada sosok anak lanangnya itu. Tetapi selain itu, mengapa ia merasa makin tak kenal? Anak lelakinya Ngadiyo yang ketika SMA masih tinggal bersama dirinya, kemudian ia kuliahkan di Jogja, di salah satu universitas ternama di Kota Pelajar itu. Hingga kemudian ia nikahkan dan ia kontrakan di sebuah rumah kecil karena mereka belum bisa mandiri.

Saat-saat awal anaknya berumah tangga, Sanyoto dan istrinya masih sempat rajin menengok anaknya itu, meskipun sebulan sekali. Membawakan beras, sayur mayur, atau ayam dari desa. Biasanya suplai makanan itu juga cepat habis dimakan bersama dengan teman-teman kuliah anaknya yang sering datang ke kontrakannya itu.

Hal itu tak mengapa bagi Sanyoto. Ia senang anaknya tidak pelit kepada temannya. Tetapi, mengapa sekarang anaknya malah pelit kepada orang tuanya sendiri. Bukan pelit soal harta tapi pelit soal waktu untuk pulang menengok. Menginap satu dua hari saja. Seolah itu perjalanan paling jauh yang akan ditempuh anaknya itu.

Oh, tidak, ia tak pernah bisa puas dengan percakapan di telepon atau sekadar chatingan dengan telepon pintar yang dibelikan anaknya. Adalah istrinya yang biasa menjawab telepon atau membalas pesan dari anaknya yang seminggu sekali masih bertukar kabar.

Juga terkadang ia bertanya sendiri, apakah nasibnya yang dicueki anak sendiri merupakan ganjaran karena ia juga sama menelantarkan kedua orang tuanya dulu? Rasanya hal itu tidak ia lakukan. Ia tinggal nyaris seumur hidup bersama mereka hingga keduanya meninggal. Ia sendiri yang menguburkan mereka berdua, nyelameti[vii] hingga sewunan[viii].

Memang ia sendiri agak pangling[ix] ternyata anaknya berbeda dengan dirinya dan orang di desa, yang kebanyakan petani atau pergi ke pabrik, tetapi anaknya ternyata melampaui orang di desa ini. Menjadi seorang tokoh politik yang terkenal, bahkan mungkin di tingkat internasional. Rasanya mongkog[x] punya anak menjadi pejabat penting. Tetapi, ia merasa tidak siap dengan konsekuensi yang tidak normal itu; kesibukan anaknya yang melalaikan keberadaan orang tuanya sendiri. 

Sebagai kesibukan ia dan istrinya menanam padi dan pelbagai sayur di sawah yang dibelikan anaknya. Di sawah itu Sanyoto membuat sebuah gubug dari bambu. Dengan kesibukan begini mereka merasa tidak akan nglangut di rumah. Pun kalau panen, pisang dan sayuran sering ia bagikan kepada tetangga-tetangganya. Toh, makanan rasanya tak pernah habis di rumah.

***

 “Menurutmu apa kita yang harus ke Jakarta sana, menengok cucu kita lagi, Bu? Kalau anak kita belum ada waktu, biar kita saja yang ke sana. Entahlah, rasanya aku pengin ke sana. Anggap saja ini keinginan terakhirku.”

“Halah, mbok jangan bilang gitu, Pak. Panjenengan baru umur enam puluh tahun.”

“Rasanya itu tak berlaku padaku, Bu.”

Mbok jangan pesimis to, Pak.”

Percakapan itu terjadi malam ini. Ketika mereka akan berbaring di penghujung Rajab.

“Dua bulan lagi, Ramadhan ya bu?”

“Iya, berarti tiga bulan lagi, lebaran.”

“Semoga kita menangi[xi] bulan Ramadhan, ya Bu.”

“Insya Alloh, Pak.”

Suaminya diam. Suasana tambah ngelangut saja di kamar.

“Oh ya, Dio telepon tadi siang. Katanya, selama tiga bulan dia ada safari keliling Indonesia. Tidak bisa mampir,” istrinya bicara.

“Tiga bulan? Artinya lebaran ini tidak bisa mampir?”

“Kira-kira begitu.”

“Duh, kok sibuk banget to.”

Istrinya berbaring duluan. Cepat sekali memejamkan mata. Mungkin karena seharian di sawah. Akan tetapi Sanyoto masih saja sulit memejamkan mata. Hingga, ia bisa memejamkan mata kemudian setelah memantapkan dalam hati, ia akan mengajak istrinya ke Jakarta besok. Ya, besok pagi, hendak ia nyatakan keinginan itu pada istrinya.

****

Istrinya tidak terkejut ketika suaminya dadakan mengajak ke Jakarta pagi itu. Diiyakan saja. Sebab ia tahu keadaan hati suaminya. Betapa lelaki itu ingin sekali melihat anaknya. Karena hanya Ngadiyo itulah anak semata wayangnya. Tapi, siapa sangka anak laki-laki semata wayangnya itu seakan milik menantunya. Ia tahu hal itu tapi tak ingin ia nyatakan kepada suaminya. Takut membuat suaminya tambah terluka.

“Apa ditelepon dulu. Biar mereka persiapan menjemput kita di stasiun, Pak?”

“Kamu aja yang telepon.”

Istrinya mengambil telepon pintar yang mahal itu. Ia menekan nomor kontak anaknya. Tersambung.

“Assalamu’alaikum, Dio… apa kamu sedang sibuk sekarang?”

“Wa’alaikum salam. Tidak Bu. Tapi, masih dinas luar kota. Wonten dhawuh napa?[xii]

“Oalah, ini Bapakmu kangen, ngajak nengok Dodo dan Lusi,”

Istrinya melirik pada suaminya yang cemberut saja disinggung begitu.

“Ya, silakan Bu. Tapi, dalem[xiii] tidak tahu bisa pulang kapan. Jadi mungkin nanti di sana hanya ketemu dengan Ndari dan anak-anak.”

Yo wis. Tak apa. Ini kami berangkat pagi. Tolong nanti ada yang jemput di stasiun ya?”

Nggih[xiv] Bu. Pak Rejo nanti biar yang jemput.”

“Pembantumu itu masih awet to?”

“Iya Bu. Tak kasih gaji dua kali lipat biar dia kerasan.”

Ibunya manggut-manggut. Kemudian pamitan. Telepon ditutup.

“Gimana Pak, jadi berangkat? Ngadiyo masih di Bali sekarang.”

“Ya, jadi berangkat. Nanti kita nginep di sana seminggu. Kunci rumah kamu titipkan kepada Mbakyu Giyem saja.”

Perempuan yang telah menjadi istrinya lebih dari 40 tahun itu tersenyum saja, mengiyakan semua keinginan suaminya. Paham apa yang ada di dalam dada lelakinya.

“Pak, aku mau tanya?”

“Soal apa?”

“Bapak ridha anak kita jadi orang besar seperti sekarang? Bapak, yang rutin tirakat kungkum  setiap malam Jumat. Suka puasa mutih dan ngrowot  selama tujuh tahun biar si Ngadiyo itu jadi sukses, tapi akhirnya jarang pulang menengok kita?”

Lelaki itu terkesiap dengan pertanyaan istrinya. Sejenak ia menghela napas.

 “Kalau mau jujur, sakjane[xv] tidak seperti ini harapanku Bu. Tapi, kalau memang sudah begini pinastine[xvi], mau apa lagi? Ya, semoga saja, anak itu masih menangi jasadku di atas bumi kalau aku mati, Bu.”

Perempuan itu tergugu dengan jawaban suaminya.

Yo wis, ayo mangkat saiki.”[xvii]

Perempuan itu mengangguk. Sendika dhawuh[xviii] dengan perintah suaminya. Seakan perintah suaminya memang harus ia turuti karena begitu rapuh sekali umur mereka. Entah hari ini, atau besok rasanya ajal itu begitu dekat. Sementara tidak ada yang tahu, akankah ajal mau berkompromi dengan rindu?*****


Andri Saptono, tinggal di Karanganyar. Sibuk berbuku dan mengelola penerbitan indie. Sedang menyiapkan novel untuk ulang tahunnya yang ke-40. Alamat surelnya: [email protected].


[i] Kisah Nabi Yakub yang rindu dengan Yusuf yang hilang karena “dibuang” oleh saudara-saudaranya.

[ii] Maknyuk, Jawa, ungkapan superlatif yang maknanya waktu yang sangat singkat.

[iii] Tirakat dengan berendam di sungai pada malam hari, di waktu tertentu. Sungai pun dipilih yang terkenal angker. Misal berendam di sendang atau tempat mata air atau tempuran.

[iv] Puasa dengan berbuka makan nasi putih saja, atau umbi-umbian yang berwarna putih.

[v] Puasa dengan berbuka hanya dengan makan umbi-umbian. Kesemua laku prihatin tersebut menjadi tradisi orang Jawa yang ingin hajat dirinya terkabul.

[vi] Argo Dalem, salah satu dari tiga puncak di Gunung Lawu, Jawa Tengah; yang lainnya ada Argo Dumilah dan Argo Dumuling. Konon merupakan pusat lokasi mistis di pulau Jawa ini.

[vii] Selametan, upacara atau ritual yang maknanya agar arwah leluhur selamat di kehidupannya (alam Barzah).

[viii] Sewunan, bagian dari acara selametan untuk orang meninggal, atau selametan seribu hari.

[ix] Takjub, tidak kenal, lebih dimaksudkan sebagai pujian.

[x] Mongkog, Jawa, bangga, ikut berbesar hati

[xi] Menangi, Jawa, masih bersua baik zahir maupun batin.

[xii] Wonten dhawuh napa? Jawa, terjemah bebasnya ada perintah apa. Tetapi, ini biasa dipakai untuk berbasa-basi dalam budaya Jawa sekaligus menunjukkan ikram (ingin memuliakan kepada orang yang dihadapi, entah karena lebih tua, atasan, atau mungkin orang tua sendiri)

[xiii] Dalem, Jawa, saya (kromo inggil)

[xiv] Nggih, Jawa, ya

[xv] Sakjane, Jawa, seandainya atau inginnya

[xvi] Pinastine, Jawa, takdirnya atau ketetapan di Lauh Mahfuz

[xvii] Jawa, Ya sudah, ayo berangkat sekarang.

[xviii] Sendika dhawuh, Jawa, manut dan menaati perintah

Cerpen

Penembak Penari Sema

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Orhan Fatih menetap di Ankara. Sudah  tiga tahun ia mendirikan toko roti yang laris dikunjungi pembeli. Ia mempekerjakan imigran gelap asal Suriah. Ketika leluhurnya, keturunan Ottoman, diusir Ataturk dari bumi Turki, mereka melakukan pelarian ke Suriah. Mencari perlindungan di Damaskus. Kini, keturunan Ottoman diperkenankan kembali ke Turki, ia memilih tinggal Ankara. Dibawa istri, dan dua anak lelakinya, mencoba peruntungan nasib di Ankara. Beberapa pegawai yang setia—seperti Saad—merupakan imigran gelap dari Damaskus. Mereka memperoleh kehidupan baru di toko roti Orhan Fatih, meskipun kadang bermusuhan dengan penduduk setempat.

Tiap sore Orhan Fatih melihat seorang polisi tua mampir ke toko rotinya. Membeli baklava[1]. Saad menemui polisi tua itu dengan wajah ramah. Kadang mereka berbincang akrab. Orhan Fatih diam-diam selalu memperhatikan keakraban mereka. Ia berharap tidak akan pernah mendapat perseteruan dengan penduduk setempat yang tak menghendaki kehadiran imigran gelap.

Suatu peristiwa menyedihkan tak pernah diduga Orhan Fatih. Terjadi kerusuhan, malam hari, anak-anak muda murka menyerbu dan membakar toko roti. Perkelahian antara karyawan toko roti dengan anak muda setempat telah membangkitkan rasa marah banyak orang. Mereka menyerbu toko roti, membakar, dan menganiaya para imigran gelap. Orhan Fatih tak bisa mencegah beberapa karyawannya terkena amuk, terbakar, dan luka memar kena hajar anak-anak muda.   

Polisi tua itu datang untuk menyelamatkan toko roti yang terbakar dan melindungi beberapa karyawan yang terluka karena pembantaian anak-anak muda. Ia mengusir anak-anak muda yang beringas, termasuk di antaranya Anka, anak sulungnya. Pekerja toko yang terluka diangkut ambulans ke rumah sakit. Orhan Fatih tak meratapi toko rotinya terbakar, tetapi ia lebih memikirkan para pekerja yang terluka.

Setelah peristiwa pembakaran toko roti, Orhan Fatih tak lagi pernah bertemu polisi tua. Ia membangun toko rotinya, dan membuka kembali dengan banyak pelanggan baru yang datang. Tetapi polisi tua itu tak pernah hadir. Orhan Fatih sempat mendengar kisah, polisi tua itu pensiun, dan meninggalkan Ankara. Pensiunan polisi itu tinggal di Konya, bekerja sebagai aparat keamanan di Mevlana Museum. Ia menikmati hidup sebagai darwis, penari sema di Mevlana Cultural Center, pada malam ketika para turis duduk terpaku di gedung pertunjukan itu.

***

Siang itu Orhan Fatih menerima kedatangan pensiunan polisi yang melakukan perjalanan jauh dari Konya ke Ankara, mengendarai sedan tua. Pensiunan polisi masih tampak ramah seperti semula. Tetapi kini wajahnya terlihat sunyi. Pensiunan polisi itu betapa bahagia melihat toko roti kembali ramai dikunjungi para pembeli. Ia mencari-cari Saad, yang dulu selalu menyalami dan mengambilkan baklava kesukaannya.

“Bisa bertemu Saad?” tanya pensiunan polisi, ketika bertemu Orhan Fatih. Pemilik toko roti itu memandanginya sebentar. Tajam dan penuh selidik.

“Ia masih kerja di dalam.”

“Boleh saya bertemu dengannya?”

Orhan Fatih mengantar pensiunan polisi itu ke dapur. Saad tengah membuat adonan roti dengan wajah menunduk, dan mengabaikan kehadiran pensiunan polisi. Ketika punggungnya tegak, memandang pensiunan polisi itu, segera menyalaminya. Kening dan pelipis kanan Saad menampakkan bekas luka. Tetapi tetap tampak tampan wajahnya.

“Mau kau ikut aku ke Konya?” tanya pensiunan polisi itu serius. “Aku selalu merasa bersalah, tak bisa melindungimu dari serangan anak-anak muda yang marah sampai menyerang dan membakar toko roti.”

Lama Saad memandangi pensiunan polisi itu. “Kalau saya ikut ke Konya, apa yang bisa saya kerjakan?”

“Kau bisa bekerja di Mevlana Museum,” balas pensiunan polisi. “Kita akan bersama-sama menari sema. Sesekali kita pentas di Mevlana Cultural Center.”

“Biar saya pikirkan dulu,” kata Saad, tak ingin menolak permintaan pensiunan polisi. Orhan Fatih memandangi Saad. Ia ingin memastikan, apakah lelaki imigran gelap itu akan meninggalkannya atau tetap bersamanya di toko roti. Teman-teman Saad memilih meninggalkan toko roti, mencari pekerjaan lain, takut bila kembali diserang anak-anak muda yang tak suka pada mereka.

Pensiunan polisi itu meninggalkan toko roti dengan harapan Saad akan menyusulnya tinggal di Konya. Orhan Fatih mulai cemas dengan kebimbangan Saad, yang kadang ditampakkannya saat merenung seorang diri. Ia tak ingin kehilangan Saad. Dulu leluhurnya berada di Damaskus senantiasa dilindungi leluhur Saad turun-temurun. Ketika Orhan Fatih berpamitan hendak kembali ke Turki, ayah Saad sempat berpesan, “Aku titip anak bungsuku, Saad, agar tetap hidup bersamamu. Anak lelakiku yang sulung sudah meninggal dalam pertempuran sebagai pemberontak. Aku tak mau Saad juga ikut mati di medan perang. Berangkatlah lebih dulu ke Turki. Tiba waktunya nanti biar Saad menyusulmu. Kau akan tinggal di mana? Ankara? Baik. Saad akan mencarimu di kota itu. Sering-seringlah memberi kabar pada kami di sini.”

Orhan Fatih merasa tak bisa melindungi Saad, ketika pemuda itu benar-benar pamit padanya, untuk mengikuti pensiunan polisi ke Konya. “Saya mau kerja di Mevlana Museum. Saya ingin menjadi penari sema.”

“Baiklah. Aku akan menengokmu sesekali,” kata Orhan Fatih, tak tega melepas Saad. Ia teringat pesan ayah pemuda itu. Tetapi ia merasa tak mungkin menguasai jiwa pemuda itu. Saad boleh memilih kehidupannya sendiri. Ia ingin menjadi penari sema. Pensiunan  polisi itu memang memiliki daya tarik yang luar biasa.

Orhan Fatih melepas Saad meninggalkan Ankara dengan menumpang bis ke Konya. Ia  mulai mencemaskan pemuda itu. Ia teringat akan anak lelaki pensiunan polisi, Anka, yang menyusup diam-diam dalam penyerangan dan pembakaran toko roti. Anka tidak pernah ditangkap, apalagi diadili. Ia bebas berkeliaran. Orhan Fatih mulai mencemaskan kelakuan anak lelaki pensiunan polisi itu. Ia tak ingin kebencian Anka pada Saad terus membara sampai saat ini.

***

Mimpi mengenai penembakan Anka terhadap Saad di pelataran Mevlana Cultural Center  menggelisahkan Orhan Fatih. Mimpi itu sangat jelas, seperti bakal terjadi. Anka mengarahkan senapan berburu untuk menghabisi Saad dengan perangai bengis. Pagi harinya Orhan Fatih berpamitan pada istri dan kedua anaknya, mengendarai mobil menuju Konya. Ia belum pernah melakukan ziarah ke makam Rumi. Sejak kecil di Damaskus, ia mendengar kisah kebesaran Rumi, tarian sema dan Mevlana Museum yang selalu dikunjungi para peziarah. Ia juga ingin menonton pertunjukan tari sema di Mevlana Cultural Center, satu kilometer sebelah timur Mevlana Museum. Laju mobilnya melewati hamparan padang-padang tandus sepanjang jalan. Ia mencapai Konya siang hari, dan bertemu Saad yang sedang membersihkan taman di Mevlana Museum. Saad tampak rajin seperti ketika bekerja di toko roti, dan tak banyak mengeluh.

Wajah Saad tampak sangat bahagia melihat kedatangan Orhan Fatih.  

“Kau tak ingin kembali kerja padaku?” tanya Orhan Fatih, yang selalu tampak ramah. “Aku akan mudah melindungimu, bila kau bekerja di toko roti.”

“Saya sangat bahagia tinggal di kota ini,” tukas Saad, “bisa menari sema di Mevlana Cultural Center.”

Kembali terlintas dalam benak Orhan Fatih akan mimpinya semalam: Anka menembak Saad dengan senapan berburu, pada  senyap malam, di pelataran Mevlana Cultural Center. Orhan Fatih sempat singgah di apartemen Saad sebelum berangkat ke Mevlana Cultural Center dan menonton pertunjukan tari sema. Ia juga melihat pensiunan polisi turut serta menari sema dengan iringan tabla[2], flute, dan baglama[3]. Orhan Fatih sempat terlupa akan mimpinya saat pertunjukan tari sema itu dipergelarkan. Tetapi saat malam turun, dan lelaki pemilik toko roti itu mengantarkan Saad kembali ke apartemen, di pelataran Mevlana Cultural Center, ia kembali teringat akan mimpi penembakan yang dilakukan Anka. Ia cemas, mencari-cari sosok tubuh Anka yang  berkelebat di pelataran Mevlana Cultural Center. Ia melihat sosok itu sedang membidikkan senapan berburu ke tubuh Saad. Ia menutup pandangan Anka agar tak tepat membidik ke arah tubuh Saad. “Kau mesti meneruskan keturunan keluarga, seperti harapan ayahmu,” kata Orhan Fatih.

Ledakan senapan berburu itu sangat mengejutkan. Orhan Fatih melindungi tubuh Saad dari bidikan Anka. Peluru melukai bahu kanan Orhan Fatih. Lelaki setengah baya itu tergeletak.. Gaduh. Saad berlutut di sisi tubuh Orhan Fatih. Terdengar suara langkah kaki orang berderap meringkus Anka, yang melakukan perlawanan saat ditangkap. Betapa gugup pensiunan polisi itu memanggil ambulans untuk mengantar tubuh Orhan Fatih ke rumah sakit, “Maafkan aku! Mengapa kebencian anakku tak terkendali serupa ini?”***

                                                                                                             Konya, Turki, Juli 2022

                                                                                                 Pandana Merdeka, Maret 2023

[1] makanan ringan terdiri dari kacang walnut yang dicincang diberi pemanis dan dibungkus adonan roti tipis.

[2] instrumen musik perkusi tradisional

[3] instrumen musik yang dipetik, kecapi berleher panjang. 


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, di antaranya penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah dan nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021. Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022).

Cerpen

Syarat

Cerpen Kesit Himawan

Nama Rudi Koplak akhir-akhir ini menjadi buah bibir di desaku, Desa Sambisari. Pemuda yang sehari-hari tidak jelas apa pekerjaannya, kini setiap hari didatangi banyak orang. Berbagai jenis kendaraan silih berganti parkir di halaman rumahnya. Dari kabar yang sampai di telingaku, Rudi Koplak kini telah menjadi “orang pintar”. Menurut salah satu tamu, setiap permohonan dari orang yang datang kepadanya pasti terkabul, termasuk perkara menolak hujan.

Besok malam, tepatnya Jumat Kliwon, Desa Sambisari akan mengadakan pertunjukkan seni dalam ajang pesta rakyat di balai Desa Sambisari. Sedangkan saat ini sedang musim hujan. Kepala Desa memintaku untuk mencari pawang hujan agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan lancar. Sebenarnya aku tidak percaya atau mungkin bisa dikatakan belum percaya atas perihal yang aku anggap tidak masuk akal. Dalam pemahamanku, keberhasilan seorang pawang hujan bisa menghentikan hujan hanyalah kebetulan belaka. Karena memang saat itu sudah waktunya hujan reda atau memang bukan waktunya turun hujan.

Pagi ini, aku memutuskan untuk menemui Rudi Koplak karena desakan terus-menerus dari warga desa. Rudi Koplak adalah satu-satunya pawang hujan yang pernah kudengar. Setelah mengutarakan maksud kedatanganku. Rudi Koplak mulai menjelaskan tentang profesinya. Setiap orang yang datang kepadanya mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Mulai dari menyingkirkan hujan, permintaan nomor togel, pencarian residivis, sampai perkara ranjang. Dia bercerita bahwa pernah ada seorang guru ngaji yang datang ke rumahnya untuk meminta “syarat” agar para anak didiknya bisa diajak untuk memadu kasih. Namun dia tidak bersedia memenuhi keinginan guru ngaji tersebut. Bukan karena dia tidak mampu, namun baginya apa yang dirasa tidak baik, akan menjadikan buah yang buruk di kehidupannya.

Rudi Koplak berbicara lantang dengan suara serak-serak basahnya,. “Sudah. Yang penting yakin ya!”Aku hanya mengangguk saja. Dalam hatiku menahan tawa atas apa yang diucapkannya. Karena seumur hidup baru kali ini, aku berhubungan dengan dukun. Kemudian Rudi Koplak berdiri dari duduknya. Dia melangkah keluar rumah. Aku menunggu dengan sabar sambil mengisap rokok dan melihat sekeliling ruangan tamu. Tidak beberapa lama, Rudi Koplak masuk ke rumah sambil membawa sebuah daun merah kecil yang dibalik, ditusuk dengan lidi dan di bawah daun itu terdapat satu siung bawang merah. Dari penjelasan dukun itu, daun itu bernama sinom merah.  Menurutnya, sinom merah sebagai simbol atas sebuah permintaan. Dia bercerita kalau pohon itu adanya hanya di puncak Gunung Kendalisodo yang bernama puncak Hanoman. Dengan lelaku tirakat, puasa dan tidak tidur sebulan penuh di gunung itu, akhirnya dia mendapatkan wangsit untuk mengambil pohon sinom merah. Dia mengatakan kalau Kyai Anoman yang selama ini membantunya sebagai pawang hujan. Kyai Anoman memiliki ajian Sappo Angen pemberian Dewa Bayu yang akan menyingkirkan segala penghalang yang ada di depan mata, termasuk hujan. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan kisah itu..

“Syarat ini dibawa dengan tangan kiri. Nanti ditancapkan di tanah, di tempat yang jarang disambangi orang. Jangan sampai ambruk!” pesannya kepadaku. “Oh, iya. Satu lagi, jangan berbicara dengan orang lain mulai sekarang sebelum kamu menancapkan syarat ini di tanah,” tambahnya sebelum kakiku melangkah keluar dari rumahnya.

***

Sejak pagi, mendung hitam menggantung rata di langit Desa Sambisari. Setiap orang berkali-kali menengadah berharap mendung segera menyingkir. Aku turut cemas. Aku terus berdoa agar “syarat” berupa daun sinom merah yang diberikan Rudi Koplak benar-benar bisa menjadi penyingkir mendung agar hujan tidak terjadi nanti malam. Aku masih ingat suara serak-serak basah dari mulut Rudi Koplak. Yang penting yakin ya!

Kesibukan dalam persiapan acara sedikit mengalihkan perhatianku. Namun sesekali, aku melihat langit. Warna hitam itu perlahan-lahan mulai bergeser menjauh. Ada sedikit perasaan lega. Aku merasa malam ini tidak terjadi hujan, juga menjadi tanggung jawabku. Karena aku yang mencari pawang hujan dan menaruh “syarat” penolak hujan.

Ketika semua perlengkapan untuk acara pentas seni selesai dipersiapkan, aku beranjak ke tempat “syarat” yang aku letakkan, yaitu di belakang balai desa. Jantungku berdebar-debar dengan keras. Terdengar riuh suara gerombolan bebek. Mereka bergerak ke arah benda yang kutancapkan. Belum sempat aku mengusir mereka, gerombolan bebek itu menerjang daun sinom merah dan bawang yang ditusuk lidi itu. Benda itu ambruk. Kebetulan di belakang balai desa adalah rumpun bambu yang berbatasan dengan area persawahan. Aku tidak menyadari bahwa tempat itu menjadi jalur bebek yang sedang digembala. Memang sebenarnya aku sedikit menyepelekan benda yang diberikan dukun itu. Sehingga aku tidak begitu mempertimbangkan pemilihan letak untuk menancapkan “syarat” yang diberikan Rudi Koplak. Gegas aku mengusir gerombolan sialan itu. Mengambil benda yang diberikan Rudi Koplak dan mencari tempat yang kurasa lebih aman dari segala gangguan.  

Langit sore tampak ayu dengan semburat jingga keunguan. Aku lega, apa yang terjadi dengan “syarat” yang diberikan si dukun ternyata tetap bekerja dengan baik. Bahuku ditepuk seseorang dari belakang. Spontan, aku menoleh. Setelah selesai memindah benda itu, aku kembali ke halaman balai desa melihat tim dekorasi menyelesaikan pekerjaannya.

Yang penting yakin ya!”. Suara serak-serak basah itu kembali bergema di gendang telingaku.

“Terima kasih, Kang Koplak. Nanti malam, acara pasti ramai,” jawabku. Anggukan kepalanya sebagai tanda setuju sambil melangkah meninggalkanku.

Aliran kedatangan warga ke balai desa seperti air sungai Desa Sambisari yang deras. Warga riuh bertepuk tangan setiap kali pertunjukkan pentas selesai. Malam ini, setiap dusun menyajikan penampilan yang terbaik. Maklum saja, sejak adanya pandemi wabah penyakit, jarang sekali diadakan hiburan di desa ini. Sehingga antusias warga begitu besar. Semua wajah penonton berbinar-binar. Pertunjukan yang paling ditunggu adalah pementasan tari Kethek Ogleng.

Gendhing Suwe Ora Jamu mengalun sebagai tanda pementasan tari Kethek Ogleng dimulai. Penari itu bergerak gesit menyerupai gerakan kera. Naik ke atas kursi. Kemudian dia memanjat batang bambu di mana terdapat tali yang menggantung di antara di batang bambu. Dengan luwesnya, penari itu bergelantungan. Tepuk sorak dan teriakan memberi semangat penari Kethek Ogleng itu.

Di tengah-tengah gerak lincah yang penari kera putih itu, hujan turun dengan hebatnya tanpa ada tanda-tanda rintik hujan atau langit yang menghitam. Aku berlari tergopoh-gopoh menuju daun sinom merah yang tadi kutancapkan. Benda itu masih berdiri tegak. Tetapi hujan tetap turun dengan derasnya. Aku teringat kejadian tadi sore. Aku merasa sangat bersalah. Kelalaianku membuat acara pentas seni malam ini berakhir berantakan.

Dari jauh, aku melihat Rudi Koplak lari tergopoh-gopoh. Pakaiannya basah menerjang hujan. Kemudian dia menghampiriku.  “Maaf. Hari ini, hari nahasku,” ucap Rudi Koplak lirih hampir tak terdengar, terkalahkan deras hujan. Aku melangkah gontai meninggalkan Balai Desa Sambisari dengan penyesalan yang mungkin tak akan bisa terobati.***


Kesit Himawan Setyadji, lahir di Saradan, Wonogiri. Kini tinggal di Sukoharjo. Selain berkecimpung di bidang arsitektur, saat ini juga bergiat menulis di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Surat menyurat bisa melalui alamat surel: [email protected]

Cerpen

Boneka

Cerpen Yeni Kartikasari

Mustika merasakan telinganya berdenging. Saat pandanganya dibuang ke luar jendela, kebenciannya bagai bara dalam sekam. Baginya, dendam bukanlah sebuah kejahatan, jika dibalas sedikit demi sedikit. Di samping kolong amben, ia menata sesajen. Jerami dibakar, dupa dinyalakan. Ia bergerak dengan perlahan supaya tidak diketahui siapapun, sekalipun ibunya yang sakit dan bergumam tentang karma. Mustika tak tahu persis apa yang dimaksud ibunya. Hanya kesumat yang saat ini Mustika pikirkan.

“Mampus!” gumam Mustika.

Serabut kelapa ditata memajang. Ujung-ujungnya dipangkas rapi sebelum ditekuk menjadi dua bagian. Mustika mengikat lengkukan seperti membentuk kepala hingga dua cabang di bawahnya seolah menyerupai kaki. Ketika bagian lengan telah ditambahkan, ia sedikit menjauhkan tangannya—memastikan boneka telah berbentuk. Sebuah foto dikeluarkan dari kantong. Kedua matanya memandang dengan amarah. Selesai ritual nanti, ia ingin segera menusuk-nusuknya.

Namun, hati Mustika berkecamuk saat memutarkan boneka di atas anglo. Jika upayanya menjauhkan Kinanti dari Damar berujung kematian, Mustika akan menanggung dosa besar. Apalagi, ibunya pernah mengatakan perbuatan syirik dapat mendatangkan kesialan. Saat asap jerami berlenggak-lenggok di udara, Mustika terseret bayangannya.

“Kamu pasti lupa,” ucap Kinanti seraya mengulurkan sampur di pentas bulan purnama. Mustika menerimanya dengan terpaksa. Ia sempat berpikir, apakah Kinanti rela kehilangan pamor?

Kenangan itu tidak dapat diusir dari benak Mustika. Sampur itu mengembalikan kepercayaan dirinya, sehingga ia dapat melenggang ke kanan-kiri, sesekali dikalungkan ke leher bujang ganong yang menghampiri. Saat itu, Mustika sangat menginginkan Damar mendekat di tengah tariannya. Tetapi, kenyataan memang sering mencurangi harapan. Damar justru meninggalkan lapangan di saat penonton semakin bergairah. Langkah Mustika berubah lemah setelah pandangannya bertemu dengan jathil lainnya. Dari gerakan mulut mereka, ada dua kata yang terserap; Kinanti dan masuk angin. Menyadari keberadaan Kinanti nihil, anggainya mencuat, nuraninya berdebar-debar. Perlahan, Mustika menepi dan berlari memikul bimbang.

Sejak mengetahui bahwa Damar menemani Kinanti di bilik rias, Mustika menyaksikan bahwa cinta tidak bergerak atas muruwah dan petuah. Di ambang kelambu, Mustika berdiri dengan punggung terguncang dan bibir bergetar. Damar menadahi muntahan Kinanti dengan rompinya. Bau telur busuk dan amonia menguar seiring dengan keluarnya sari-sari makanan. Hal yang memerihkan perlahan terjadi, Damar mengusap air liur, mengolesi minyak kayu putih, dan mengeluarkan sebuah koin untuk mengerok tubuh Kinanti. Lagi, kerelaan itu membuat Mustika menangis.

Kebenciannya mendarah daging pada pementasan berikutnya. Pada pagelaran reyog obyok di telaga Ngebel, hatinya terasa ditusuk ribuan jarum. Di antara keriuhan penonton yang berteriak cabul, Damar berjalan sambil menenteng topeng bujang ganong ke tengah panggung. Sebelum dipakai, ia berjalan memutari Kinanti dan mencolek pinggangnya. Gong berdentang-dentang, terompet ditiup panjang. Damar melakukan gerakan magak dengan iringan senggakan. Mustika sangat geram menyaksikan Damar memajukan kepala dan mengulir tangannya seperti hendak merengkuh Kinanti. Lekas, api cemburu menyulut dengan ganas.

Mustika yang merasa muak dengan kejadian itu akhirnya mulai merencanakan pembalasan. Lewat ilmu sihir yang dipelajari dari internet, ia mengumpulkan barang-barang perlengkapan; anglo, jerami, dupa, tanah kuburan, paku, jarum, serabut kelapa, dan bunga setaman. Ia ingin menunjukan bahwa orang-orang yang tersakiti tidak dapat terkalahkan.

“Tikus tengik!” umpatnya.

Satu persatu, air mata Mustika berjatuhan. Beriring dengan gerakan memutar boneka di atas anglo, jerit tangis memekik telinganya. Samar-samar, Mustika mendengar kata ibu. Dalam beberapa saat, pintu kamarnya digedor-gedor.***


Yeni Kartikasari, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Ponorogo. Dapat disapa melalui @yeni_kartikasarii.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

DI KAMP PLANTUNGAN

di tanah ini

dunia yang telah dibangun

seperti ditelan bencana

lantas porak-poranda.

sejak negara tak baik-baik saja

seseorang bebas menuduh

dan memenjarakan siapa saja

dengan alasan tak suka

atau barangkali hanya rasa iri semata.

seperti bangkai

hidup berlanjut menguar tak menentu

diterbangkan ke arah

tanpa tahu

ke mana hendak dituju.

taman dan bunga mekar seketika layu

dunia lindap dan ditelan kekuasaan.

akhirnya

di Plantungan

semua bermuara.

tangan yang semula ringan jadi ringkih

langkah yang indah jadi gundah.

semua tak baik-baik saja.

politik bergejolak

hati yang semringah jadi gundah.

setelahnya, hari demi hari

akan berjalan dan berakhir di sini.

di tanah ini,

sebagai tapol

bertaruh hidup dan mati.

(Karanganyar, 2023)


BERSETIA PADA LEPRA

penderitaan tak pernah berakhir

dalam hidup ini

ketika lepra menghinggapi

dan semakin bersetia dengan diri.

di bekas rumah sakit ini

apa yang ditempati

tak jauh beda dengan neraka

sebab di sini kami bisa mati kapan saja.

lepra

adalah karib

bahkan jauh sebelum keberangkatan

menuju Plantungan.

konon, kebencian adalah wajah lain

dari penderitaan.

penderitaan itu nyata

kematian beterbangan

dan bisa hinggap kapan saja

tanpa memberi aba-aba.

entah lewat lepra

atau diembuskan mereka yang berkuasa.

mengapa dunia begitu kejam sejak manusia mengenal kekuasaan?

(Karanganyar, 2023)


TUDING

1/

hidup adalah nasib yang tergantung

di ujung jari telunjuk

orang-orang yang mengorbankan saudaranya

demi nyawa diri sendiri.

tanpa peduli kelak hidup atau mati.

nasib itu telah raib

sejak jari tangan diacungkan:

“Ia PKI, Ia penari,

Ia Gerwani, Ia penulis puisi.”

2/

apa yang diimpikan lesap.

apa yang dibayangkan hilang

tanpa sisa.

sebab, cap dan stigma sangat mahal

dan seringkali menakutkan.

segala yang ditunjuk

telah berubah jadi firman.

lantas, langit yang cerah

akan berubah kelabu

tanpa hujan, hanya rintihan.

3/

dunia ini

tak lebih dari kebohongan

demi menutupi siapa diri sendiri

sebab, ujung jari telah menjadi belati.

jika tak ingin mati,

maka jari telunjuk harus bekerja

agar bisa dipercayai.

(Karanganyar, 2023)


MARS

            : Paduan Suara Dialita

kenangan itu getir di bibir

dan tak pernah jadi senyum

ketika lagu-lagu didengungkan.

senyum itu

tak lebih dari penghibur dan pengabur

dari kisah masa lampau

yang tak akan pernah diampuni.

sebab masa depan telah beku.

tak ada lagi harapan

selain bersandar dan bertumpu

pada nyanyian.

lagu-lagu yang dikumandangkan

telah jadi penghibur

ketika masa lalu mencoba dikubur.

tapi tentu, seluruhnya lamat-lamat menguar begitu saja.

apa yang bisa dipercaya dari hidup ini?

seluruhnya kegamangan

seperti nada-nada sumbang

dari mulut orang-orang yang membenci

dan seringkali menuduh tanpa bukti.

(Karanganyar, 2023)


PELAJARAN DARI PENGASINGAN

dituduh tak jelas

dibuang paksa

diseret

diperkosa

dikencingi

diinjak-injak

dimaki-maki

disiksa

tak dimanusiakan

seutas tali panjang

sebuah jarum

sehelai kain panjang

tikar dari daun pandan

kebun bunga

menyiangi rumput

menyiram kembang

Bagaimana cara membalas dendam dengan baik dan benar?

(Karanganyar, 2023)


Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Cerpen

Kisah Paman yang Disembunyikan

Cerpen Era Ari Astanto

Jika engkau ingin seperti Paman, itu wajar. Aku tahu engkau diam-diam membayangkan punya harta yang melimpah. Punya istri cantik dan baik. Apalagi dia memintamu mencari istri lagi setelah beberapa tahun belum juga dapat menumbuhkan keturunanmu di rahimnya. Lebih luar biasa lagi istrimu sendiri yang mencarikan istri kedua untukmu. Sangat langka terjadi, bukan? Jika demikian, engkau boleh merasa bahagia dan merasa menjadi lelaki paling beruntung. Apa yang engkau rasakan itu wajar belaka. Tapi aku tidak yakin kau merasa demikian, jika kau tahu kisah Paman yang dia sembunyikan.

Karir Paman di ibu kota memang gemilang, tapi tidak perihal jodoh. Begitu banyak wanita yang menolaknya. Entah karena apa tidak ada yang tahu persisnya. Padahal, wajah Paman tidak bisa disebut jelek walau juga tidak termasuk rupawan. Dia sering diolok-olok kawan-kawannya sebagai bujang lapuk lantaran usianya sudah berkepala empat.

“Mungkin karena kau hanya mencari wanita yang berparas biasa-biasa saja.” Kata seorang temannya suatu kali.

“Mungkin kau perlu mencari yang sangat cantik sekalian. Siapa tahu jodohmu malah yang cantik.” Kata teman yang lain sambil terkekeh, diikuti semua temannya.

Paman hanya nyengir, lalu ikut tertawa. Dia berpikir tidak perlu menanggapi serius olok-olok semacam itu.

“Lho, siapa tahu kan?” Tegas salah seorang temannya lagi.

“Sebaiknya dicoba. Masak takut. Kan sudah terlatih ditolak.”

Tawa teman-temannya meledak. Lagi-lagi Paman ikut tertawa.

“Aku ada saran. Mungkin Niki, yang karyawan baru itu, bisa kau dekati. Agak tomboi sih, tapi kupikir itu bukan soal.”

“Benar itu. Dia sangat cantik dan lumayan kalem lho, meski tomboi. Andai aku belum punya tiga anak, sudah kudekati dia.”

“Terlalu cantik dan muda buatku,” jawab Paman sambil tertawa. Dia tahu usia Niki belum menyentuh angka dua tujuh.

“Didekati saja dulu.”

“Atau harus kami comblangin?”

“Tidak perlu. Biar aku dekati sendiri.” Kata Paman dengan sok jantan.

“Oke. Kami tunggu kabar apa pun darimu.” Nadanya terkesan meragukan kesungguhan Paman.

Kali ini Paman tidak ingin diremehkan. Dia menunjukkan keberaniannya kepada teman-temannya dengan mendekati Niki, meski tidak berharap akan diterima. Justru dengan begitu dia bisa berbincang dan bercanda dengan sangat santai. Di mata teman-temannya sikap Paman sungguh tidak seperti saat mendekati wanita-wanita sebelumnya. Tapi, mereka bersikap biasa-biasa saja saat memergoki Paman berbincang dengan Niki.

Seiiring waktu, Paman dan Niki tampak semakin akrab dan lekat. Paman bisa merasakan kedekatan itu, meski tidak yakin diterima. Walau begitu, dia tetap mengatakan keinginannya memperistri Niki, saat makan malam bersamanya. Paman yang sudah bersiap mendengar kata-kata penolakan menjadi terkejut saat Niki mengatakan bersedia, meski dengan syarat.

“Apa itu?”

“Aku harus minta pendapat temanku dulu. Apa jawabannya, itulah keputusanku.”

“Boleh. Tapi, kenapa bukan meminta pendapat orang tuamu saja?”

“Tidak. Aku merasa temanku itu lebih memahami siapa aku.”

“Baiklah. Berapa lama aku harus menunggu?”

“Dua atau tiga hari. Bagaimana?”

“Aku akan menunggu dengan tenang. Cepat waktu segitu.”

Niki tersenyum. Sesungging senyum yang teramat manis di mata Paman.

***

“Aku berhasil, Kawan.” Paman berkata dengan wajah berseri kepada kawan-kawannya, saat mereka berkumpul di sebuah kafe.

“Kau yakin?” Nada kawan di samping kirinya seolah tak percaya.

“Tentu saja. Kami akan menikah satu bulan lagi.”

Tak bisa dipungkiri, kawan-kawannya kini memandang tak percaya.

“Aku sungguh-sungguh,” Paman berusaha meyakinkan mereka.

Sesaat kemudian mereka memberi ucapan selamat dan menyalami Paman, seperti baru saja memenangkan kuis berhadiah mobil mewah. Tapi, wajah mereka tak bisa menyembunyikan rasa masih tidak percaya. “Kami tunggu undangan resminya.” Kata salah satu dari mereka. “Tentu. Pasti itu.” Kata Paman dengan wajah tetatp berseri dan nada suara bersemangat.

***

Paman akhirnya berhasil menanggalkan predikat bujang lapuk. Teman-temannya pun ikut berbahagia dengan keberhasilan itu. Mereka memeluk erat Paman di acara pesta pernikahannya. Wajah mereka berhias senyum ceria saat memberikan ucapan selamat kepada Paman. Senyum Paman pun seperti tak pernah terjeda barang sejenak di hari bersejarah itu. Ini memang peristiwa indah yang tak akan mungkin dia lupakan. Aku sudah tidak akan lagi disebut sebagai perjaka tua, pikirnya.

Hari-hari selanjutnya menjadi saat-saat indah bagi Paman.

Kenapa dulu aku ketakutan mendekati wanita cantik, jika jodohku ternyata memang yang cantik? Walau dia tidak bisa memasak, tapi itu bukan masalah bagiku. Yang penting dia sangat menyenangkan saat di kamar. Dan lebih penting lagi, dia penyabar dan pengertian.

Begitulah pikir Paman saat merenungkan dirinya dan Niki.

Sampai suatu hari, Paman mengerutkan dahi, bertanya-tanya dalam hati saat melihat Niki tampak gelisah. “Ada masalah apa, Sayang? Wajahmu tampak gelisah.”

“Aku takut mengatakannya. Takut Mas marah.”

“Asal tidak mengatakan telah menyesal menikah denganku, aku tidak akan marah. Katakan saja.”

“Tentu aku tidak menyesal menjadi istrimu, Mas. Hanya saja aku merasa berhutang budi kepada Cici.”

“Hutang budi soal apa memangnya? Selekasnya kita balas kebaikannya.”

“Mas ingat soal aku harus minta pendapat temanku waktu kamu bilang ingin menikahiku?”

“Iya. Masih. Lalu?”

“Aku ingin membalas pemikirannya itu dengan memberikan sesuatu kepadanya. Apakah Mas setuju?”

Paman berpikir sejenak. “Boleh. Tanpa dia mungkin kita tidak jadi menikah. Kamu ingin memberikan apa kepadanya?”

“Mungkin sepeda motor. Atau Ponsel yang bagus. Atau apalah. Yang penting pantas.”

Paman tertawa mendengar perkataan Niki. “Boleh. Itu gampang. Besok kita belikan sepeda motor.”

“Sungguh?” Niki nyaris tak percaya dengan jawaban Paman.

“He-em,” jawab Paman tegas. Anggukan kepalanya pun terlihat mantap.

Niki tersenyum ceria dan segera memeluk serta mencium Paman berulang kali.

***

Tiga tahun berlalu terhitung sejak acara pesta pernikahan itu. Niki belum juga bisa hamil. Sebagai lelaki yang sudah berumur sangat matang, tentu dia memikirkan tentang keturunan. Dia berpikir, jangan sampai saat lanjut usia dia baru punya bayi. Itu sangat merepotkan. Gelagat kegelisahan itu tertangkap Niki. Berkali-kali dia minta maaf karena hal itu, walaupun kata dokter mereka berdua tidak punya masalah pada kesuburan.

“Kamu tidak salah, Sayang. Mungkin akulah yang sudah terlalu berumur.”

“Tidak, Mas. Umur lelaki tidak menjadi penghalang untuk membuahi. Apalagi punyamu sangat bagus. Aku jadi merasa bersalah padamu, Mas.”

Paman membelai Niki dengan lembut, lalu perlahan menarik kepala Niki bersandar di dadanya. “Kamu tidak salah, Sayang. Mungkin belum waktunya saja.”

“Bagaimana kalau Mas menikah lagi saja? Tapi, aku yang mencarikan.” Niki berkata dengan hati-hati. “Aku rela kamu menikah lagi, Mas.”

Paman terkejut dengan perkataan istrinya. Tepatnya karena tidak percaya. Sudah mengizinkan untuk menikah lagi, dan masih mau mencarikan pula. Nalurinya ingin segera punya keturunan tertarik dengan tawaran istrinya itu. Tapi, dia menahan diri dengan mengatakan “tidak”. Namun, Niki bersikeras akan mencarikan Paman istri lagi. Melihat keteguhan istrinya itu, Paman menyerah. “Baiklah jika kamu benar-benar rela dan mau mencarikan untukku, Sayang.”

Niki tersenyum. Wajahnya kembali cerah. “Terima kasih, Mas. Akan aku ingat-ingat siapa di antara teman-temanku yang belum menikah dan sekiranya cocok untukmu, untuk kita. Dan yang penting mau satu atap denganku.”

“Terima kasih, Sayang. Kamu baik sekali. Beruntungnya aku punya istri sepertimu.”

Beberapa pekan kemudian Niki mengajukan sebuah nama kepada Paman. “Aku sudah mengatakan semua duduk perkaranya kepada Cici, Mas. Dia dengan senang hati mau menikah denganmu.”

“Jika kamu yakin dia akan baik kepadamu, aku setuju saja.”

***

Pada tahun baru sebelum pandemi covid-19 menyerang, Paman pulang beserta kedua istrinya. Memperkenalkan Cici kepada saudara-saudara di kampung. Semua saudaranya tentu terkejut dan takjub mendengar cerita tentang kebaikan Niki. Di antara saudara-sudaranya tentu ada yang iri dengan keberuntungan Paman. Aku tahu irinya mereka itu hanya karena Paman punya dua istri yang rukun. Tapi, apakah mereka merasakan apa yang kurasa? Mereka berdua terlalu rukun bagiku. Itu ganjil menurutku. Ah, mungkin itu hanya karena aku belum pernah melihat ada yang lebih rukun atau setidaknya sama rukunnya seperti Niki dan Cici. Aku segera menepis prasangkaku.

Keganjilan yang kurasakan saat tahun baru sebelum pandemi terjawab setelah pandemi mereda dan Paman bisa pulang lagi ke kampung halaman, tapi sendirian. Paman bercerita kepadaku, dan mengakunya hanya kepadaku. Suatu hari dia merasa tidak enak badan sehingga memutuskan pulang lebih awal dari kantor tempatnya bekerja. Dia mendapati rumah sangat lengang, sementara pintu depan tidak dikunci. Dia langsung masuk tanpa menaruh curiga apa pun, mengira kedua istrinya sedang tidur. Agar tidak mengganggu, dia berusaha melangkah tanpa menimbulkan berisik, menuju kamar Niki. Pintu kamar itu tampak terbuka beberapa inci. Perlahan dia mendorongnya tanpa menimbulkan suara. Matanya seketika terbelalak saat melihat dua wanita bergumul di atas ranjang tanpa penutup tubuh apa pun.

Paman ingin berteriak, tapi yang terjadi justru mulutnya tertutup rapat. Dengan tubuh gemetar dia merogoh ponsel di sakunya. Mengambil video secukupnya. Lantas, perlahan berbalik dan melangkah ke ruang depan. Menjatuhkan diri di atas sofa dengan tubuh masih gemetar menahan kekecewaan yang menjelma amarah.***


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Puisi

Puisi Gandang Kandirido

Epifani

kesunyian datang

meringkus keterasingan

menyergap kebisuan

seiring gelap malam.

tubuh ini ringkih

berjalan makin tertatih

menangkap sosok di retak cermin

sorot matanya kulihat letih.

kekosongan pada akhirnya

menemukan jalan pulangnya sendiri

sekalipun sebatas tafsir ulang

dari sejarah yang sengaja dibenam kedalam

sajak-sajak gagak hitam.

epifani! epifani!

aku ingatkan selalu padamu

untuk jangan mati terlalu dini!

sebab mimpi-mimpi kini lupa

merangkai dirinya sendiri.

(2022)


Sepenggal Ingatan di Hari Lain

Di hari lain terkadang aku

masih ingat akanmu

kadang-kadang tak utuh

kadang-kala cuma

selintas bayangan

yang mengabur dan

samar

seperti adegan ganjil

dalam sebuah film bisu

tak bersuara.

(2023)


Semesta Kepalamu

Setelah hujan barangkali

Segala hal yang keluar dari mulutku

Akan dipenuhi huruf-huruf

dengan sayap Icarus

Sebelum nantinya terbang rendah

Mengitari semesta kepalamu

Dan bermukim di dalam sana

Sepanjang musim berganti.

(2023)


Diam Segala Ucap

bukan pulangmu yang buatku sekarat

tapi sepimulah yang datang

begitu rambat

lalu dari dalam sunyi gelap

diam-diam menyelinap

segala ucap

entah jadi ratap

entah jadi senyap

entah jadi apa-apa yang mungkin

akan mengendap.

(2022)


Pada Sebuah Pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi duduk bercerita

Sambil rasakan ombak kecil menerpa

Pukuli kedua telapak kaki

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita tak lagi bicara apa-apa

Sekalipun cuma bertukar sapa

Apalagi berbincang tentang suatu masa

Yang lewat dan yang akan tiba

Pada sebuah pantai

Kita sudah sampai

Dimana kita saling berjalan menjauh

Dan tak mungkin menoleh lagi.

(2022)


Pada Beku Wajahnya Aku Menemukan Tebing

Curam

Terjal

Menganga

Jalan menujunya

Nyaris

Sepi tak habis

Habis.

(2022)


Aku Katakan Kepadamu Seperti Apa Sepi yang Membunuh Itu

Mula-mulanya ia merangkulmu

Seperti kawan lama

Bertandang ke rumah

Bertamu tanpa memberimu

Kabar lebih dulu

Kemudian ia mendekapmu

Seperti seorang kekasih

Dimana dari wajahnya kau yakin

Dialah satunya-satunya orang

Yang akan kau lihat

Setiap pagi

Setiap kau bangun

Dari tempat tidurmu

Lalu entah oleh apa

Seperti bayangan

Ia menyelinap

Mengendap-endap

Pergi ke dalam

Mengambil pisau dan

Menikammu saat lengah

Setelah tersadar

Kau cium gelagat janggal

Dari sebuah kedatangan.

Solo, 2022


Pada Apa-Apa yang Mungkin

Kini kita hanya bisa bersandar pada apa-apa yang mungkin

Hanya bisa bersandar pada apa-apa yang terlihat mustahil

Maka untuk semua waktu yang pernah nyaris itu

Sesekali jenguklah ruangan yang membeku kini

Fragmen fragmen yang tak lagi membicarakan percakapan–percakapan kecil

Percakapan sederhana

Kalaupun harus dipecah, pecahlah

menjadi bagian-bagian kecil

Bahkan jika harus menyelam, selamilah

Sekalipun harus ke jurang paling dasar

Paling dalam

Paling sukar

Dan tak terbahasakan

Oleh kata-kata.

Solo, 2022


Lautan Ini Kembali Tenang

langit menghangat

sore menguning

cahaya keemasan tak lagi

merah membakar pucat

wajah seseorang

Lautan ini kembali tenang

meski deru-debur ombak itu

pernah menggulung tubuhnya

sampai tenggelam

di kegelapan paling dasar.

Lautan ini kembali tenang

Tiada lagi gemuruh badai itu

yang sempat hantam-karamkan

seluruh kehidupan

di kedua matanya yang redup.

(2022)


Gandang Kandirido, lelaki insomnia. Berdomisili di kota kelahiran, Surakarta, Jawa Tengah. Senang menuangkan kata-kata melalui medium puisi.

Cerpen

Kisah Tanpa Kata Depan

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Siksaan itu datang ketika orang yang menyebalkan ini terus mengumbar suaranya. Delapan jam lebih omongannya menghantam utara, menabrak selatan, menendang barat daya sebelum kemudian berbalik arah dan akhirnya tersesat. Saya gagal mencari cara menutup mulutnya; terpaksa membiarkan telinga ini panas sekali. Bahkan hampir melepuh.

“Turun mana, Mas?” tanya orang ini setelah lima belas menit sebelumnya riuh menceritakan kesaktian keris-keris dagangannya. Namanya Agung, rambutnya gondrong, biasa bolak-balik Solo-Jakarta, dan pedagang barang pusaka. Langganannya para pejabat. Istrinya kurus langsing. Wajahnya biasa-biasa saja.

Saya sebutkan nama sebuah desa yang kini dibelah jalan tol. Kabar yang saya dengar, sungai tempat kami dulu biasa mandi itu telah dikangkangi jalan layang. Pohon asam raksasa itu juga sudah ditebang. Dua puluh tahun sudah tanah kelahiran yang dulunya dipenuhi para begundal itu tidak saya injak. Saya pergi seminggu sebelum bapak meninggal dunia dan tak bisa menghadiri pemakamannya. Sejak itu belum pernah pulang lagi.

Teman-teman seangkatan saya telah pergi satu per satu. Ada yang merantau. Ada pula yang mati mengenaskan. Sebagian peristiwa maut itu saya saksikan sendiri.  Ketika ingin membeli tambahan minuman keras, Agus, Santo, dan Rudi tewas ditabrak bus dan tak bisa merayakan Lebaran esok harinya.

Tubuh mereka berantakan dan berserakan. Darah menggenangi aspal. Motor yang mereka naiki ringsek. Mengganjal roda belakang sebelah kiri bus. Lima bulan kemudian Joko Pendek overdosis. Panggung acara tujuh belasan itu saksi bisu ketika drumer amatir itu ambruk meskipun lagu “Semut Hitam” punya Gong 2000 itu belum mencapai refreinnya. Stik drum itu masih digenggamnya.

“Aku kenal orang-orang situ. Brengsek semua!” ucap Agung tiba-tiba. “Endar sudah mati, kan?”

Saya tersenyum dan tak membantah. Endar teman akrab saya dan memang liar. Hotel itu bersebut gardu ronda dan bau kencing. Setelah seharian pesta minuman keras, Endar tidur ditemani pacarnya. Yang Endar dan pacarnya lakukan malam itu adalah rumor. Namun, peristiwa pagi harinya adalah fakta. Azan Subuh bergema. Pacarnya minta diantar pulang. Berjalan sempoyongan, disusurinya jalan beton itu; sekitar lima ratus meter. Endar pinjam mobil bapaknya, tapi tidak diperbolehkan. Segera saja ditendang-tendangnya pintu garasi itu.

Si kakak perempuan meredakan suasana. Menyuruh Endar memakai mobilnya. Barangkali agar si Endar lebih berhati-hati ketika nanti mengemudi, bukan hanya mobil barunya yang diberikan si kakak yang sedang mudik lebaran itu, tapi juga dua anak perempuannya yang sudah bersiap-siap pergi Salat Id. Dua bocah berumur sepuluh dan delapan tahun itu cantik sekali. Juga wangi. Mereka berpakaian serba putih seperti sepasang bidadari.

Seolah-olah jalan raya Solo-Semarang itu milik moyangnya, Endar menggunakan dua jalur sekaligus. Termasuk yang berlawanan arah. Bus malam penuh penumpang itu pun dihantamnya.  Setelah dua kali jungkir balik, sedan biru metalik itu melompati jalur lambat, menghantam pohon waru, lalu menimpa warung. Endar dan dua keponakannya tewas seketika. Tubuh mereka ringsek. Aneh, tapi nyata, si pacar selamat. Lehernya hanya tergores kaca.

Endar dan dua ponakannya dikuburkan setelah salat Id. Seakan-akan ikut berduka, langit tiba-tiba mendung, lalu hujan turun cukup deras tak lama sesudahnya. Tanah kuburan basah. Pohon-pohon kamboja menggugurkan kembangnya. Tiga jenazah itu dikebumikan bersebelahan. Bergiliran. Jenazah dua bocah perempuan itu sudah ditimbun tanah. Doa-doa telah dipanjatkan. Orang-orang menangis. Bapak-ibunya hampir pingsan.

Berikutnya, giliran Endar. Begitu pocong yang bermandikan darah itu menyentuh tanah, petir menggelegar keras sekali. Tiga kali saja. Setelah itu sepi. Seisi kompleks pemakaman pucat pasi. Semua terdiam seperti kawanan anjing tanah terinjak kaki. Bayangan malaikat penjaga kubur yang lagi mengayun-ayunkan cemeti besi itu membius mereka.

Arwah Endar lalu menghantui saya. Paling tidak seperti itu perasaan saya. Bau semacam bunga melati tercium sangat tajam ketika saya melewati pos ronda tempat kami biasa berkumpul. Bulu kuduk ini langsung berdiri. Saya pun segera berlari secepat-cepatnya. Pulang. Tidak jadi beli rokok.

Bukan hanya itu saja. Saya juga merasa ada yang mengetuk-ngetuk jendela kamar. Memanggil-manggil. Suara yang sangat mirip suara Endar itu menerobos lubang ventilasi, memutari dinding kamar, dan tak mau pergi. Bocah gila berumur seperempat abad ini pun lalu menjadi seperti bayi lagi. Gegas menyusul ibunya. Minta dikeloni.

Saya baru berani keluyuran lagi, juga tidur sendiri, setelah ibu meninggal dunia. Tepat empat puluh hari sejak kematian Endar dan dua keponakannya itu. Saya yakin Endar tidak berani  menghantui karena saya dijaga ibu. Endar selalu mencium tangan ibu ketika mereka bertemu. Walaupun sudah meninggal, harapan saya, Endar tidak lupa kebiasaan baik itu.

Mobil memasuki Brebes. Kecepatannya cukup tinggi. Undangan pernikahan keponakan itu tidak bisa saya tolak. Ketika dulu meninggalkan rumah, kakaklah yang membelikannya karcis kereta. Saya pilih naik travel. Tidak harus tes antigen dan sebagainya. Cukup pakai masker. Namun, kepraktisan itu ternyata ada imbalannya. Termasuk saya, sebenarnya penumpang travel hanya tiga orang. Namun, suara Agung yang gegap gempita itu telah memberi kesan seakan-akan penumpangnya sangat penuh.

Saya sudah hampir tertidur ketika pertanyaan Agung ini tiba-tiba datang mengusik.

“Bagaimana kabar Kerek? Sepertinya dia tak pernah pulang.”

Saya mengerutkan kening, lalu melirik si penanya yang sangat menjengkelkan itu. Masker hitam yang melorot itu segera saya benahi. Nama itu sangat menarik perhatian saya. Kerek adalah bahasa Jawa yang artinya pemungut sisa-sisa hasil panen. Konsonan belakang dibaca seperti kata “korek”.  Saya tak ingat kapan julukan itu lahir. Juga alasannya.

“Aku pernah dipukuli Kerek. Coba saja waktu itu Kerek tidak bersama anak-anak kompleks AURI. Pasti sudah kuhajar. Mukanya kupermak,” kata Agung lagi.

Agung lalu menceritakan jalannya pemukulan itu. Suaranya riuh rendah. Sepertinya tak peduli nantinya bakal mengganggu tidur istrinya. Dia ingin memberi kesan dialah jagoannya. Dipukuli, tetapi baik-baik saja. Wajahnya yang porak poranda itu tidak diceritakannya. Juga ketika dilemparkan, mencium selokan, lalu diinjak-injak.

Sepertinya Agung sangat kenal Kerek. Hafal kejahatan-kejahatan yang dulu dilakukan Kerek. Merampok bensin pom bensin. Memukuli sopir bus yang ugal-ugalan menjalankan busnya. Menghajar wasit yang curang ketika memimpin pertandingan bola, dan masih banyak lagi. Bahkan, Agung tahu sejarah diusirnya Kerek.

“Mungkin saking malunya punya anak yang nakalnya seperti setan,” kata Agung.

Saya tersenyum masam dan ingat betul peristiwa malam itu. Si bapak memanggil Kerek. Berucap tanpa kemarahan. Tak ada intonasi yang meninggi. Wajah si bapak terlihat teduh. Meskipun demikian, matanya tampak basah dan titik-titik air mata menggenangi kedua sudutnya. Kerek, preman kampung yang ketenaran nama premannya melebihi nama aslinya itu pun tak berkutik. Kepalanya menunduk.

“Bapak tidak perlu  malu lagi,” ucapnya lirih. “Besok saya pergi.”

Mobil SUV memasuki Bawen lalu berhenti. Rumah makan itu tak terlalu ramai. Saya tidak lapar. Hanya memesan kopi, lalu duduk menghadap pemain organ tunggal. Menikmati lagu Didi Kempot. Saya tak ingin mencari tahu posisi Agung dan istrinya. Sementara itu, si sopir travel sedang makan bersama sopir-sopir lainnya.

Satu jam kemudian perjalanan dilanjutkan. Jalan tol ramai-lancar. Lampu-lampu mobil mulai dinyalakan. Cahayanya berseliweran. Berebut menembusi pori-pori udara. Tanah kelahiran saya masih lima puluh kilometer lagi. Sabuk pengaman saya pasang. Mencoba tidur. Namun, baru juga mulai memejamkan mata, suara bising nan cempreng ini mengganggu lagi.

“Sebenarnya Kerek itu pengecut. Beraninya main keroyokan. Temanku pernah menantang single. Kerek ngeper. Pilih ngumpet,”  kata Agung.

Saya tersenyum kecut tanpa memberikan tanggapan, lalu menguap. Masker hitam yang kembali melorot itu saya betulkan. Kerek punya banyak tato, kata Agung lagi.  Tak ada yang bagus. Gambar naganya mirip cacing. Jelek sekali. Agung lalu tertawa.

Masih banyak lagi cerita Agung yang bertemakan si Kerek. Namun saya tak ingin menanggapi. Lebih sering menguap. Namun, ketika tiba-tiba Agung menyebut-nyebut nama Erna, kantuk saya seketika hilang.

“Erna jadi pacar Kerek karena kena guna-guna. Semua tahu itu. Kalau mainnya wajar, tak mungkin Erna mau,” kata Agung sangat yakin.

Saya menegakkan punggung. Memijat-mijat kedua kelopak mata. Mencoba mengusir bayangan yang tiba-tiba hadir itu, tapi gagal. Erna anak guru SD. Ketika cinta Kerek dan Erna sedang tumbuh dan semekar bunga mawar, hubungan mereka diketahui orang tua Erna.  Si bapak guru itu mengancam akan mengusir Erna jika tetap menjalin hubungan dengan Kerek. Namun, Erna bergeming.

Erna tetap mengirim surat seminggu sekali. Kerek kadang membalasnya walaupun seringnya tidak. Suatu hari surat berisikan kata-kata cinta yang akan dikirimkan Erna itu kena sita. Bapaknya sangat marah lalu memaksa Erna menjalani perkawinan ala Siti Nurbaya. Erna pun minggat. Tujuannya Jakarta. Tempat Kerek sedang berada. Namun, Kerek justru mengusirnya.

“Pulanglah! Patuhi orang tuamu!” ucapnya.

Erna menunjukkan sifat keras kepalanya. Bersikukuh menentang kehendak orang tuanya. Sampai akhirnya Kerek mengatakan sudah tidak mencintai Erna lagi. Sudah punya pacar baru, katanya. Bahkan, foto perempuan entah siapa itu dia tunjukkan. Erna menangis; tak percaya. Saat itu juga Erna meninggalkan kamar kontrakan Kerek. Itu setelah memeluk, lalu mencium pipi Kerek. Masih menangis dan masih tak percaya.

Dua bulan berikutnya Erna dinikahi laki-laki pilihan orang tuanya dan meninggal dunia setahun kemudian—juga bayinya—setelah mengalami pendarahan sangat hebat saat melahirkan. Kerek menangis mendengar kabar kematian itu. Menangisi kisah cinta mereka yang pupus. Menyesali pengorbanannya yang sia-sia. Walaupun percintaan mereka telah direnggut paksa, kebahagiaan Erna-lah yang paling utama. Menurut pengalamannya, anak yang menentang orang tuanya, nasibnya akan celaka. Kerek tak ingin hal itu menimpa Erna.

Harapan Kerek, nantinya perjalanan hidup Erna serupa kumpulan kalimat, paragraf, dan bab yang membentuk sebuah buku. Dengan akhir yang indah pastinya. Sementara itu, seperti halnya kata depan, dirinya tidaklah sangat penting. Bisa dihilangkan semau-maunya tanpa mengubah makna kalimat. Bahkan isi sebuah teks.

Namun, siapa yang menyangka kehidupan Erna ternyata langsung tamat begitu memasuki bab kedua.  Kematian sang kekasih hati itulah yang telah mengubah cara Kerek memandang kehidupan. Hidup dan kehidupan ini ternyata bukan perhitungan matematika yang serba pasti dan tak terbantahkan.

Mobil melewati perbatasan Kota Solo. Sebentar lagi rumah kelahiran itu kelihatan. Rumah saya.  Jaket saya kancingkan. Topi yang sedikit  miring itu saya luruskan. Tak lupa, membenahi letak masker yang terus-terusan melorot.  Mobil berhenti. Saya turun. Melewati Agung tanpa menyapa. Saya masih menahan kegeraman ini. Terutama perihal si Erna yang katanya dipelet Kerek. Itu jelas-jelas fitnah yang sungguh keji dan mungkar. Coba saja saya tidak sangat lelah dan ngantuk. Sibanyak bacot itu pasti sudah saya injak-injak perutnya. Pukuli wajahnya. Tendangi mulutnya. Lagi.***

Kajen, 21 Februari 2022


Dewanto Amin Sadono, guru dan penulis. Beberapa karyanya memenangkan lomba dan dimuat di media masa cetak dan online. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit, menjadi Juara I, Perpusnas Writingthon Festivaal. Oktober 2022.

Puisi

Puisi Daruz Armedian

Mungkin Ada

& Mungkin Tak Ada

mungkin ada,

seseorang

duduk di bawah

pohon purba.

matanya menatap kota

yang jauh—

dan meski jauh,

tetap terasa panas,

bau, pengap, sesak

& membosankan.

matanya menatap

kerumunan manusia

            yang jauh—

            dan meski jauh,

            tetap terasa berisik,

            jahat, licik, ambisius,

            penuh dendam

            & sangat menyedihkan.

tapi mungkin juga

tak ada

siapa pun

di sana.

tak ada kota,

tak ada manusia.

angin ketiadaan

berembus dengan percuma.

2022


Perbincangan Tengah Malam

dengan caranya

yang aneh,

sunyi meledak.

serpihnya berserak,

& semesta dimulai.

kekosongan berserakan,

di serpih yang satu,

juga di serpih

yang lain.

apa tak ada

sedikit pun angin?

tanyamu

mencari celah

pada yang mungkin.

dari arah yang jauh,

s  a  n  g  a  t   j  a  u  h ,

bertahun kemudian,

angin bergemuruh.

menyentuh serpihan itu,

menjadikannya basah,

&

kehidupan

dimulai.

cuma di bumi maksudmu?

kau tak memberi waktu.

       tak memberi jeda,

untuk persoalan

selanjutnya.

apa tak ada kehidupan

di planet lain?

di bintang-bintang,

& sejumlah tempat

dari kesunyian?

mungkin ada. mungkin tak ada.

hidup selalu soal menduga-duga.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi nama-nama;

ini pohon,        ini gunung,

ini danau,        ini bunga.

itu sungai,        itu laut,

itu teluk,          itu muara.

kau membuka jendela.

biar angin masuk, katamu.

tapi di luar tak ada apa-apa.

udara akhir-akhir ini,

jarang sejuk

meski dini hari.

lalu makhluk hidup yang naif,

dengan keterbatasan

pikirannya,

memberi ruang tumbuh

untuk kehancuran,       kebisingan,

kegaduhan,                  kesemrawutan,

kerusuhan,                   polusi udara

dan lain sebagainya.

kau mengambil sebatang

rokok, dan membakarnya.

mari kita akhiri perbincangan ini.

istirahat.

lalu terjaga.

lalu bekerja.

orang miskin

seperti kita

tak punya banyak waktu

untuk membicarakan semesta.

2022


Cara Terbaik Membuka Mata

Setelah Kehilanganmu

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah waktu pelan-pelan jadi gerbong kereta,

membawamu ke arah yang tak ada aku di sana.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah bertahun-tahun sebelumnya, aku terjaga

dalam keadaan jatuh cinta.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu,

setelah aku paham kau melambaikan tangan,

yang bukan untuk sapaan.

aku ingin tahu cara terbaik membuka mata setelah kehilanganmu.

cara yang sama sekali belum pernah kupelajari,

sebelum kau memilih pergi.

2021


Aku Bermimpi

aku bermimpi

menjadi bayi

yang menangis

karena paham

tangannya tidak

menggenggam

apa pun

kecuali

ketiadaan.


Desember Pada Sebuah Elegi Dini Hari

desember mengubah malam

            menjadi bahasa yang

            tak mudah dikatakan.

orang-orang tampak lebih

            murung dan segalanya

            yang mereka genggam

            hanyalah kekosongan.

orang-orang merencanakan

            sesuatu untuk hari depan

yang mereka sudah tahu

            itu adalah kegagalan,

            atau sekumpulan kemustahilan.

malam jadi tambah kosong,

            langit padam & hujan

            jatuh sebagai gesekan biola

            pada lagu-lagu melankolia.

Mata didera insomnia & Pikiran lelah

bertarung dengan angan-angan

tentang hari dan nasib baik

di tahun yang akan datang.

desember mengubah malam

            menjadi luka yang

            tak mudah disembuhkan,

            menjadi tubuh yang rentan

            jatuh dan dikecewakan.

Jogja, 2021


Menepi

selalu ada hari

di mana seharusnya

kau menepi

dan menyembuhkan

            luka-lukamu sendiri.

orang-orang mungkin

bisa memberikan pelukan,

tapi tidak untuk ketenangan

            jangka panjang.


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tersiar di pelbagai media cetak dan daring.