Puisi

Puisi Eko Setyawan

DI KAMP PLANTUNGAN

di tanah ini

dunia yang telah dibangun

seperti ditelan bencana

lantas porak-poranda.

sejak negara tak baik-baik saja

seseorang bebas menuduh

dan memenjarakan siapa saja

dengan alasan tak suka

atau barangkali hanya rasa iri semata.

seperti bangkai

hidup berlanjut menguar tak menentu

diterbangkan ke arah

tanpa tahu

ke mana hendak dituju.

taman dan bunga mekar seketika layu

dunia lindap dan ditelan kekuasaan.

akhirnya

di Plantungan

semua bermuara.

tangan yang semula ringan jadi ringkih

langkah yang indah jadi gundah.

semua tak baik-baik saja.

politik bergejolak

hati yang semringah jadi gundah.

setelahnya, hari demi hari

akan berjalan dan berakhir di sini.

di tanah ini,

sebagai tapol

bertaruh hidup dan mati.

(Karanganyar, 2023)


BERSETIA PADA LEPRA

penderitaan tak pernah berakhir

dalam hidup ini

ketika lepra menghinggapi

dan semakin bersetia dengan diri.

di bekas rumah sakit ini

apa yang ditempati

tak jauh beda dengan neraka

sebab di sini kami bisa mati kapan saja.

lepra

adalah karib

bahkan jauh sebelum keberangkatan

menuju Plantungan.

konon, kebencian adalah wajah lain

dari penderitaan.

penderitaan itu nyata

kematian beterbangan

dan bisa hinggap kapan saja

tanpa memberi aba-aba.

entah lewat lepra

atau diembuskan mereka yang berkuasa.

mengapa dunia begitu kejam sejak manusia mengenal kekuasaan?

(Karanganyar, 2023)


TUDING

1/

hidup adalah nasib yang tergantung

di ujung jari telunjuk

orang-orang yang mengorbankan saudaranya

demi nyawa diri sendiri.

tanpa peduli kelak hidup atau mati.

nasib itu telah raib

sejak jari tangan diacungkan:

“Ia PKI, Ia penari,

Ia Gerwani, Ia penulis puisi.”

2/

apa yang diimpikan lesap.

apa yang dibayangkan hilang

tanpa sisa.

sebab, cap dan stigma sangat mahal

dan seringkali menakutkan.

segala yang ditunjuk

telah berubah jadi firman.

lantas, langit yang cerah

akan berubah kelabu

tanpa hujan, hanya rintihan.

3/

dunia ini

tak lebih dari kebohongan

demi menutupi siapa diri sendiri

sebab, ujung jari telah menjadi belati.

jika tak ingin mati,

maka jari telunjuk harus bekerja

agar bisa dipercayai.

(Karanganyar, 2023)


MARS

            : Paduan Suara Dialita

kenangan itu getir di bibir

dan tak pernah jadi senyum

ketika lagu-lagu didengungkan.

senyum itu

tak lebih dari penghibur dan pengabur

dari kisah masa lampau

yang tak akan pernah diampuni.

sebab masa depan telah beku.

tak ada lagi harapan

selain bersandar dan bertumpu

pada nyanyian.

lagu-lagu yang dikumandangkan

telah jadi penghibur

ketika masa lalu mencoba dikubur.

tapi tentu, seluruhnya lamat-lamat menguar begitu saja.

apa yang bisa dipercaya dari hidup ini?

seluruhnya kegamangan

seperti nada-nada sumbang

dari mulut orang-orang yang membenci

dan seringkali menuduh tanpa bukti.

(Karanganyar, 2023)


PELAJARAN DARI PENGASINGAN

dituduh tak jelas

dibuang paksa

diseret

diperkosa

dikencingi

diinjak-injak

dimaki-maki

disiksa

tak dimanusiakan

seutas tali panjang

sebuah jarum

sehelai kain panjang

tikar dari daun pandan

kebun bunga

menyiangi rumput

menyiram kembang

Bagaimana cara membalas dendam dengan baik dan benar?

(Karanganyar, 2023)


Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

Membincangkan dan Mendengar Kitaro: Theme from Silk Road

kau susuri gerbang kematian.

diiringi tangis, juga doa-doa,

lewat bau dupa.

seseorang menghidu bau kehilangan,

seorang yang lain menenangkan,

dan seseorang lagi memalingkan muka

sekaligus mengamini (karena benci?).

akan ada raung sirine

mengiringi kepergian yang tak tahu kapan kembali.

kembali, barangkali sepiring kwetiau atau  mapo doufu di mangkukmu

dan kau lupa melahapnya

sebelum benar-benar pergi.

tibalah waktu kremasi.

di krematorium, segala yang kau punya, segala yang kau miliki,

lenyap.

terbakarlah tubuhmu menjelma abu.

—“kapan waktu terbaik reinkarnasi?” tanyamu.

barangkali ketika karma tak lagi menimpamu.

hingga akhirnya, kau tahu orang-orang yang menangisi, mencintai,

dan membencimu di Thiong Ting hingga persemayaman terakhirmu.

—“mengapa?”

sebab, karma adalah bom waktu.

meledak ketika kau menyadari bahwa kematianmu

tak lain adalah hal yang paling kau tunggu.

setelahnya, hanya tinggal kesedihan semata.

kepergianmu menyisakan duka.

tapi kesendirianmu di ‘dunia lain’

ialah kedukaan sesungguhnya.

matimu, menyusuri jalan ini.

hanya ada sunyi. hanya ada sepi.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kemalasan yang Kian Akrab

pernah kujumpai kau dalam lelap.

ketika kau bermata puisi dan bersuara minor.

seperti Buddha tidur,

tak dapat kubaca apa pun

selain puisi-puisi yang kulihat

dan suara yang jauh.

sama halnya di bukit Khao Kala,

tak ada yang benar-benar mustahil.

sebab manusia tak selamanya bicara tentang manusia

tidur tak ubahnya upaya telepati

antara aku, kau, dan ‘ia yang lain’.

atau, sebatas alasan

agar tak terjaga tiba-tiba.

kemalasan kita,

tak terlihat dan tak bernada.

tapi, aku masih setia mengeja

dan tentu, mendengar apa-apa yang tak bersuara.

mimpiku, mimpi paling lengkap

ketika kudapati kau membaca puisi

dan berkhotbah ihwal cinta,

juga pernikahan yang biasa-biasa saja.

(Solo, 2019)


Membincangkan Perpisahan

kata-kata belum selesai disusun

ketika kereta membawamu pergi.

aku memanggilmu,

punggung menjauh yang menjawabku.

ia berkata ‘cinta’

tapi tak tahu cinta macam apa

yang dikatakannya.

semula, kau meminta pergi

tapi pergi, bagiku, ialah memecah waktu.

menjadi remah jumpa

juga jadi air mata setelahnya.

di peron, seekor burung berkicau

merapal namamu.

tanpa nada. tanpa suara.

kau telanjur pergi,

kata cinta yang harusnya kumaklumi

tiba-tiba jadi belati.

mencacah ingatan.

menjadi debu. menjadi batu.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Pernikahan

sejak orang-orang mulai menyusun rencana pernikahan.

semenjak mereka menginginkan.

aku memilih memejamkan mata.

            : untuk tidur lebih awal.

bahwa pernikahan nisbi sebuah agama.

kita bisa saja memeluknya.

namun tak bisa memaksa mengamini.

kelak suatu pagi,

aku dan kau

pergi ke tempat di mana kau biasa memanjatkan doa.

kau memegang kitab suci dan membacakannya untukku.

di hadapan Tuhanmu, kau merapalkan untukku:

Tuhan, ampunilah segala perbedaan.

lantas kusampaikan pada Tuhan,

kami kelaparan

: pelukan.

(Karanganyar, 2018)


Membincangkan Rencana

yang tak dapat kita tata dengan baik adalah rencana.

sebab setiap detiknya, seperti jantung yang bekerja.

berhenti sebentar, mati akan mengunjungi.

sebelum benar-benar kau pergi,

lipatlah kedua lenganmu.

di sana, telah kau rengkuh aku.

mengapa kita masih saja bercakap?

keputusan bukan keputusasaan.

kita berbicara dan masing-masing dari kita

bebas bersuara. dan tentu, bertukar isi kepala ialah jawabnya.

langkahmu langkah yang limbung.

seperti lelaki tua yang mabuk.

anggur merah, jamur, dan sedikit obat sakit kepala

tak bisa menyelamatkan perjalanan kita.

sebab hanya pikiran kita, dan mungkin, cerita-cerita

yang benar-benar mampu memperbaiki keadaan.

tak ada salahnya mengumandangkan omong kosong.

sebab dari sana, cerita-cerita bermula.

kelak, rencana yang kita susun

tak selesai di kata rencana.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Mimpi

langit, kadang jadi laut.

menampung gelisah sekaligus amarah.

seseorang datang dari masa depan berseru,

“gantungkan cita-citamu setinggi langit!”

seseorang itu lupa bahwa Tuhan ada di sana.

cita-cita, hanya dapat terwujud

jika kau kenal Tuhan.

Ia telah mengenalimu

sebelum kau ada.

apa kau demikian adanya?

mimpimu menggulung.

mendamparkan ke tepian.

takdir, barangkali air pasang.

ia menyisihkanmu.

agar kau tahu,

mimpimu ialah aku, kau,

atau sesuatu yang sebenarnya

tak pernah kau kenali sebelumnya.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Suara di Ponselmu

“lekas pulang.

ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.”

suara itu masuk ke ponselmu.

di kepalamu, meja makan menanti kedatanganmu.

nasi hangat, sayur bayam,

juga sepotong ingatan yang memudar.

kau mengambil sepiring nasi.

kau mengingat bentang sawah

dan di sana masa kecilmu kau habiskan.

kau menuang kuah sayur bayam.

tapi kau tenggelam.

dalam. semakin dalam.

tenggelam pada hati ibumu.

kau membaca ingatan yang tersisa.

ibumu, telah lama tiada.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Teka-Teki

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Barzanji

: suara anak-anak Palestina

pernah kudengar gema di langit

dan setelahnya, kembang api mekar.

seketika seluruhnya sirna.

rumah, mimpi, dan kebahagiaan perlahan susut.

runtuh dan gugur satu demi satu.

kuucap dan kurapal doa. tak henti-henti.

tiap detik, tiap menit, tiap detak, dan tiap embusan napas ini.

agar di sini, di tanah ini, kami bisa berbahagia.

kebahagiaan, adalah ketika kau diberi harapan

dan apa yang mereka beri bukan semata janji.

kadang, harapan hanya semata sesaat legawa,

tapi di hari berikutnya, mimpi itu pupus dan kembang api, lagi dan lagi menghujani.

sebab di sini, di tanah ini, ego jauh lebih penting daripada nyawa kami.

mereka menyerukan perdamaian

diiringi dengan mesiu yang terlontar dari senapan.

mereka menyerukan kekerabatan

diiringi kehancuran yang sengaja mereka kirimkan.

tapi di sini, kami tak menanam benci.

sebab hanya Allah yang berhak menghakimi.

hanya doa dan pinta yang tak ada jeda

tiap detik, tiap menit, dari bibir dan hati ini.

juga tak henti kami lafalkan barzanji.

sebab hanya Allah yang mampu melindungi dan menyelamatkan kami.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kunjungan Batara Kala

1/

seandainya bencana itu tidak datang, Kunti

barangkali langit akan tetap bergema dan kegelisahan-kegelisahan

yang menyelimutimu tak akan sampai membuatmu putus asa.

sebab dalam kebencian yang telanjur menyebar,

semua harapan yang telah kau bangun pupus.

Batara Kala telanjur tiba.

ia datang entah sebagai hukuman atau ujian.

keduanya tak ada beda.

seluruhnya membuat sengsara.

2/

perang, juga pagebluk,

adalah bentuk lain dari doa yang gagal terjawab.

Kuru telah jadi ladang perang.

kunjungan Batara Kala menjelma kutukan.

ia tiba sebagai wabah yang menjalar.

dalam hatimu, semula ialah taman bunga.

anak-anakmu hidup dan tumbuh di dalamnya.

tapi tak berselang lama, bunga-bunga di hatimu layu.

sebab tabiat anak-anak yang tak sesuai kehendakmu.

—pageblug mayangkara murup mulat-mulat.

3/

kegelisahan bukan hanya semata dalam dirimu, Kunti.

: hati Durna tak jauh beda.

kedamaian pada dirinya menjelma api.

disulut perangai murid-murid yang tak tahu diri.

kini,

kenyataan harus kau terima.

sebab, di seberang sana,

serapah dilafalkan agar kematian lekas datang.

sementara di sini, di tanah yang kau pijak, tak jauh beda,

doa dirangkai sebab benci telanjur tumbuh di hati.

agar kelak, Pandawa berjaya dan Kurawa sirna.

—apakah maksud kedatanganmu Batara Kala?

4/

pertanyaan, adalah jawaban dari tak sempurnanya doa.

dari sana, pertanyaan yang terlontar ialah jawaban itu sendiri.

jawaban tak ubahnya kepingan teka-teki.

bukan hanya kau yang mengajukan tanya, Kunti, Durna juga

: ia tak paham kenapa.

Pandawa dan Kurawa,

tak ubahnya seperti burung yang tak mengenali jalan pulang.

selepas kunjungan Batara Kala.

mereka lupa muasalnya.

lantas Kurusetra membara.

Batara Kala telanjur tiba,

perang dan pagebluk kini nyata di depan mata.

Kunti, kau harus ikhlas untuk seluruhnya.

(Karanganyar, 2021)


Eko setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Buku puisi Mengunjungi Janabijana memperoleh penghargaan Prasidatama 2021 dari Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Antologi Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

Memulangkan Pelukan

1.

pagi masih hangat.

meskipun pelukan sudah beranjak pergi.

2.

tak kutemui dirimu—

di sela-sela udara

yang memukul-mukul kenangan di kepalaku.

apa tak ada yang lebih berbahagia selain

kesedihan yang mengurung diri?

3.

“begitulah nasib bekerja, ia lebih keras kepala

dibanding cinta yang ditanam.”

4.

segala hal, tak pernah di mulai

jika tak ada akhir.

hari ini adalah kemarin yang lahir

dari tangisan di rerumputan yang menjelma embun.

            : di sembab matamu.

lesaplah kesedihan itu.

merupa cahaya yang memancar.

dari balik gunung yang jauh.

5.

selalu tak dapat kusapu binar matamu.

bergegas pergi dan mengemas diri.

kubekali kau tenunan langit pagi.

agar sewaktu-waktu—

kau dapat menyelimuti diri

dan kau dapatkan lagi pelukan

yang sengaja kau tinggalkan.

(2019)


Merapikan Ingatan

tak ada yang bisa kukecup selain rona pipimu.

ia merah muda.

seperti kedua tangan selepas bertepuk tangan.

seperti menjadi sejumput awan,

sekecil apa pun, ia tak akan tahu—

ke mana angin akan mengajaknya pergi.

begitulah cinta bekerja.

ia seperti doa.

dirapal khusyuk bagi ia yang meminta.

keinginan adalah doa yang terus menerus ditebar.

kita hanya bertugas menerima.

“tapi adakah yang sudi merapalkan duka?”

“tapi— adalah kata yang tak menolong.”

pulanglah tanpa alasan.

tanpa benar-benar berpikir bahwa—

di dunia ini, di kepalamu,

bersarang ingatan tentang perpisahan yang menyakitkan.

(2019)


Cinta yang Berlebihan adalah Bencana

1.

kujadikan diriku pedestrian dan tak

kudapati apa-apa selain perjalanan yang jauh.

kuikuti langkah kaki.

pergi dan tak tahu arah kembali.

2.

kukira cinta yang menuntunku.

namun setelah kubaca ulang karcisku.

ternyata hanya kesedihan semata.

3.

aku keras kepala.

kugiring kesepian pada kegelapan.

tak ada apa-apa.

tak kutemukan tempat baru.

segalanya berbekas dan tetap sama.

4.

kurapikan ulang langkah kaki.

kuingat benar bahwa− kau atau mungkin yang lain−

pernah berbahagia dengan cara yang sederhana.

5.

“bukankah cinta yang berlebihan adalah bencana?” katamu.

6.

kutarik langkahku. kupulangkan pada jalan

entah menuju ke mana.

(2019)


Mengemas Kesedihan

kutekan tombol silang pada remot.

hidup berhenti barang sesaat sembari menunggu

kereta yang mengantar rindu kembali ke dada.

matahari bermukim di atas kepala.

mekar dan memberi cinta di bawahnya.

“apa yang telah kembali?”

cinta yang pergi menjauh.

kereta yang lupa mengerami peron.

cinta yang lahir dalam deru kereta.

mungkin pula matahari  masih ada di atas kepala.

tak ada yang boleh bersedih di antara kita.

(2019)


Kau ialah Puisi

             : perempuan penjaga ruang CR

kuhirup bau buku-buku—

terselip semerbak namamu.

ruapnya ialah taman bunga.

ia menyebar di tubuhku.

menjadi pelukan yang tak henti-hentinya diberikan.

matamu, seutas puisi yang belum usai.

bercahaya dan enggan padam.

menunggu hingga titi mangsa disematkan.

senyummu cahaya.

menembus sela-sela jendela.

menjelma siluet yang hangat.

niscaya.

seluruhmu.

aku.

(2019)


Memadamkan Kenangan

gugurlah ia melawan cemburu.

dalam dada yang biru sempurna.

seumpama mati.

hidup adalah bertahan.

di tengah segala putus asa.

cinta seperti awan yang ranggas.

tak ada yang disentuhnya.

selain langit yang padam.

turunlah hujan dan turunlah pula malaikat.

seraya berbisik—

“usaikanlah kenangan, ranggaslah kesedihan.”

(2019)


Ruang Maaf

tak ada yang bisa dijawab setelah persinggungan

antara baik dan buruk.

tangan kanan tak lain kabar yang semu.

serupa sebuah sentuhan dan pukulan kecil di bibir.

tebakan buruk dianjurkan untuk diubah menjadi kapal

di buritan, air menyepi dan menggantung pada lengan kiri

menjelma pundak bagi si murung.

terbuat dari apakah jawaban?

seperti kalung tanpa liontin, malam

tanpa suara jangkrik, jalanan

tanpa pengendara, aku tanpa kau.

untuk kembali mengikatnya

entah seuntai tali atau makian— perlu ditautkan

pada sebuah huruf yang saling bersisian

hingga kita dibuatnya jatuh cinta.

sebab tak ada pertanyaan yang berganti

pahala dan dosa tak ubahnya sepasang kesalahan

yang tak hentinya direngkuh oleh maaf.

dan ketika segalanya usai.

usia mengabur dan bimbang memandang.

masih adakah ruang maaf di kepalamu?

(2018)


Perihal Masa

Aku magrib, kau subuh.

Kita senasib, tapi tak utuh.

(2019)


Eko Setyawan, Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional.

Cerpen

Pasar Malam

Cerpen Eko Setyawan

“Kau tak ingin pulang barang sebentar untuk menilik ibumu?”

“Tidak untuk kali ini.”

“Mengapa?”

“Aku tak punya bekal untuk ke sana.”

Jalanan riuh dengan lalu-lalang kendaraan. Ia masih duduk di bangku taman dan menikmati deru motor dan mobil yang berseliweran. Gelap mulai turun dari langit. Matanya menatap jauh. Menerawang entah ke mana. Tatapannya kosong tanpa ada tujuan. Ia melamun memikirkan percakapan dengan kekasihnya. Lebih dari itu, ia sedang memikul beban di pundaknya, bahwa ia harus segera pulang. Menemui ibunya yang sedang sakit.

Ibu Jatmika sakit. Ia tak bisa menengok barang sebentar. Paling mentok hanya bisa mengirim uang. Itu pun tak seberapa jumlahnya. Di Jogja, ia sedang berusaha merampungkan kuliahnya dan berupaya mengumpulkan uang dari bekerja paruh waktu di kafé tengah kota. Jika dipikir itu cukup, maka salah besar. Uang itu habis dalam waktu sekejap. Untuk makan, membayar sewa kamar kos, juga memenuhi kebutuhan lain yang bisa dibilang tak membutuhkan banyak uang; fotokopi atau mencetak tugas kuliah.

Jatmika sendiri sebenarnya ingin segera pulang. Menemui ibunya dan memeluk dengan erat. Tapi apa boleh buat, keinginannya itu harus ditahan selama mungkin. Dipendam dalam rasa ingin yang terus bergolak. Serupa teror yang menakutkan dan selalu terngiang di kepala. Memburu tiada henti di dalam kepala. Sebuah pertemuan akan terlaksana jika ada niat dan yang paling utama adalah bekal. Karena pertemuan tanpa bekal berarti serupa masakan yang dihidangkan tanpa bumbu. Hambar dan tak dapat dinikmati. Begitulah rumitnya keinginan dan segalanya harus dipendam sedalam mungkin. Mengubur harapan dan keinginan yang lahir di dalam kepala.

“Kau tak ingin minum? Akan kubelikan,” kata Marina.

“Tidak. Lebih baik kau di sini saja menemaniku,” jawab Jatmika dengan asal. Lamunannya buyar seketika.

Di taman itu, mereka duduk berdua. Langit mulai meremang, pertanda malam mulai mengintip mereka. Tak jauh dari sana, di lapangan yang dekat dengan kantor bank sedang digelar pasar malam. Sebuah perayaan kecil untuk manusia yang sedang merindukan dan memerlukan kebahagiaan. Di pasar malam, banyak hal yang diciptakan oleh manusia. Bahkan sebuah kebahagiaan pun diciptakan dan senjaga dijajakan kepada manusia lain.

“Aku sudah lama sekali tidak mengunjungi pasar malam. Apa kau tak ingin ke sana?” tanya Jatmika pada kekasihnya itu.

“Ya. Tentu saja,” Marina mengiyakan. Diikuti langkah kaki mereka berdua menuju pasar malam.

Langkah kaki mereka berkejaran. Tak pernah bisa berbarengan. Menandakan suatu takdir yang harus diterima, bahwa cara berjalan tak lain adalah takdir manusia. Ketika bergerak bersama, maka akan lebih menyulitkan untuk berkembang. Selalu ada yang saling mendahului antara kedua kaki. Langkah kaki menunjukkan cara belajar yang paling sederhana, bahwa sebuah usaha untuk maju haruslah mengikhlaskan dan merelakan salah satu berjalan lebih dulu.

Sesampainya di sana, Marina mengajak Jatmika membeli arum manis. Aroma arum manis selalu menahan setiap hidung yang menghirupnya. Entah mengapa hal itu bisa terjadi dan selalu saja berulang. Arum manis menerbangkan manusia dewasa pada masa kekanak yang membahagiakan.

“Sebaiknya kita beli dua untuk masing-masing atau cukup membeli satu untuk berdua?” tanya Marina dengan centil. Sebuah pertanyaan basa-basi yang digunakan untuk membuka percakapan. Sebab tentu saja jawabannya sudah diputuskan oleh dirinya sendiri, yakni mereka akan membeli satu bungkus arum manis yang ukurannya besar dan akan mereka nikmati berdua.

Naluri Marina sebagai perempuan begitu kuat. Ia merasa ada yang aneh dengan Jatmika. Ya, kekasihnya itu sangat kaku dan tidak seperti biasanya, seperti ada hal yang begitu berat dipikirannya. Marina melihat kening Jatmika mengerut dan senyum terpaksa. Perempuan tahu bagaimana perasaan lelaki. Bahkan terkadang, ia malah lebih paham dari diri lelaki sendiri. Intuisi seorang perempuan adalah intuisi seorang ibu. Dari hal itu semua orang tahu bahwa seorang ibu memahami apa yang ada dipikiran suami dan anak-anaknya. Jadi jika ada perempuan yang tak memahami hati seorang lelaki, maka pantas dipertanyakan sifat keperempuannya.

“Kau kenapa?” tanya Marina. Jatmika terkaget mendengar pertanyaan yang memecah lamunannya itu.

“Kalau sedang di pasar malam begini, aku selalu mengingat ibuku.” Jatmika menjawab datar dan sedang mencoba berpikir untuk memberikan pilihan jawaban yang dirasanya tidak salah jika terdengar Marina.

“Apa karena pertanyaanku di taman tadi?” Marina merasa bersalah. Ia mencoba menyakinkan diri bahwa memang dialah yang membuat Jatmika seperti itu.

Mereka berdua berjalan menjauhi penjaja arum manis. Menyibak kerumunan manusia yang tumbuh serupa jamur di musim penghujan. Marina memutuskan untuk mengajak Jatmika duduk di dekat bianglala. Banyak orang di sana, tapi tidak duduk melainkan memilih berdiri untuk mengantre menaiki roda besar yang berputar di ketinggian itu. Sebagian lagi, segerombol keluarga menunggu bagian dari keluarga mereka yang sedang hanyut ditelan roda-roda raksasa itu. Ibu menunggu suami dan anaknya, nenek menunggu anak dan cucunya, dan segerombol lelaki yang sedang memandangi wanita-wanita yang mereka anggap berpotensi untuk mereka dekati.

Segalanya hanyalah pelengkap bagi Marina dan Jatmika. Tidak ada kebahagian yang dapat diciptakan oleh orang lain. Segala kebahagian adalah bagi mereka yang berani melahirkannya sendiri. Kebahagiaan terlahir dari buah perjalanan yang tak menjemukan. Segalanya bisa direalisasikan dengan cara yang berbeda tiap manusia dan manusia yang lain. Tak ada kesamaan. Setiap manusia adalah penguasa penuh bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, manusia adalah tuhan bagi dirinya sendiri.

Tentu saja hal ini tidak bertujuan untuk menyombongkan diri atau melebihi kekuasaan dan kehendak Tuhan. Hal itu tak lain adalah jalan yang sudah dirancang sedemikian rupa. Bahwa dalam tujuan penciptaan manusia, Tuhan memberikan kekuasaan penuh bagi manusia untuk memilih jalannya sendiri. Itu bukanlah hal yang melanggar, tetapi sudah digariskan. Kita tidak bisa memilih takdir, tapi dapat menentukan jalan.

“Apakah di pasar malam ini ada yang menjual bintang?” tanya Jatmika pada Marina. Ia mengulangi pertanyaan ibunya dulu. Hal itulah pertanyaan yang dari tadi mengusik pikiran Jatmika.

Ibu Jatmika pernah menanyakan hal itu padanya. Pada saat itu − ketika Jatmika baru saja masuk SD− bapaknya belum lama pergi dan tidak ia ketahui tujuannya. Ibunya hanya bilang jika bapaknya sembunyi dari kejaran orang-orang yang katanya mempertahankan negara. Dengan dalih itulah bapaknya memutuskan pergi dari rumah. Tapi saban ibunya menceritakan hal itu, selalu saja diiringi isakan dan berakhir dengan mata sembap.

Seperti ada yang tidak beres dari cerita yang meloncat dari mulut ibunya. Tetapi hal itu baru disadari Jatmika ketika sudah masuk ke perguruan tinggi. Kedewasaanlah yang mengajarkan dan menurunkan kesadaran itu. Bapaknya telah diculik oleh orang-orang utusan pemerintah. Atau paling buruk, ia tahu nama orang-orang itu dengan sebutan Petrus. Memang, hal itu ia tahu dari beberapa mulut yang pernah mengabarkan hingga sampai di telinganya.

Jatmika membuat kesimpulannya sendiri; bahwa bapaknya hilang diculik oleh orang-orang Petrus, dan yang paling buruk adalah bapaknya mati dan jasadnya entah dikuburkan di mana. Dan tentu saja yang paling buruk, bapaknya dibuang di tengah belantara hutan dan tidak ditemukan kembali. Semua tetangganya tahu itu. Dulu, kata mereka, bapak Jatmika adalah orang yang menguasai parkir Pasar Kliwon. Ia memeroleh uang dari sana. Selain itu, bapak Jatmika juga meminta jatah pada pedagang pasar. Tak banyak memang, tetapi meminta dengan memaksa. Jika boleh dikatakan dengan sejujurnya, bapak Jatmika memalak pedagang pasar.

Tapi hal itu tidak dipedulikan Jatmika. Yang ia tahu, kini ia hanya hidup bersama ibunya. Ia hanya berpikir cara bagaimana agar dirinya dapat menyelesaikan kuliah dan dapat mengirimkan uang ke ibunya yang sudah sepuh.  Bapaknya tak pernah kembali lagi setelah pertanyaan terakhir ibunya di pasar malam. Pertanyaan tentang apakah di pasar malam menjual bintang. Kini pertanyaan itu dilemparkan pada Marina. Dengan pertanyaan yang sama. Tanpa menambah dan mengurangi.

“Apakah di pasar malam ini ada yang menjual bintang?” Jatmika mengulangi pertanyaannya pada Marina, kekasihnya kini yang berada di tempat yang jauh dari ibunya.

“Apa kau mengigau?” Marina terheran dengan pertanyaan itu.

“Kuharap ada yang menjual bintang di pasar malam,” kata Jatmika dengan sebongkah harapan, “aku ingin membelinya lantas memanjatkan harapan agar bapak kembali. Begitulah yang kurasakan ketika ibuku mengajukan pertanyaan itu padaku. Dan kini aku menginginkannya juga. Ingin bertemu bapak dan juga mengunjungi ibu.”

***

EKO SETYAWAN, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional. Surel: [email protected]

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI