Masih kau sebut durikah beskap hijau tua tak bergigi itu—seraya terus bersembunyi dari mata licik orang iseng tengah malam—sedang harummu, amboi, laksana kawinnya setandan pisang matang dengan nenas madu, apel merah dan mangga harum manis; yang memanggil-manggil janin mungil di perut ibu muda yang mulai kepayahan berjalan. Terberkatilah kuning dagingmu yang mencolok itu, meski sumpah akibat putih getah darahmu acap pula membuat kami waswas semata. Tetapi benarkah moyangmu lahir dari hujan yang rajin menuruni hutan raya India? Atau sebenarnya kau hanya biji belaka yang tekun menjalar kemana suka? Lihat, betapa kaya kau pada segala guna; sampai keringat batang jisimmu, jubah pendeta Buddha tampak kian berwarna. Kini, pantaskah wajah kau muram percuma bila legit tubuhmu kami lahap gembira?
Akasia 11CT
Belenggu
Bagai ikan dalam lemari pendingin; serupa kapuk yang ditekan-tekan ke dalam kasur maupun bantal muda pengantin. Bersusun-susun kami; tak pantas sekadar menyepadan jenjang kaki barang sejenak. Pun telah kami minta sedikit luas padang gurun atau secuil lebat rimba raya. Akan tetapi lancip daun pendengar senyata tak kuasa menerima maklumat dukacita. Lihat, tinja siapa itu? Mana ada tinja di sini!Itu busuk kaki kami yang menempel di lantai. Amboi, betah nian kita mengejami; bukan main lalai mereka mendiami, arca itu mungkin adalah kami yang pemalu lagi buta-tuli. Sememangnya engkaukah yang terkurung atau kaulah semestinya Gitamara nan bengis lagi erat menggigit?
Akasia 11CT
Lepas
Jikalau kau patuh menyeluruh
Alamat luput berita buruk
Luruslah jalan ke semenanjung
Lapanglah tanjak ke gunung
Apabila madah kau jaga
Isyarat rantai sungkan memasung
Mestilah lengang kabar burung
Pastilah lancar niat meluncur
Ke selokan sukma muara Sang Raja.
Akasia 11CT
Puisi
Bilamana engkau enggan bertamu. Atau kedua kaki terlampau lejar tamasya ke rimbun anggur yang menggantung. Cukup ceritakan saja bagaimana budi pekerti mampu lolos dari sergapan tentara waham.
Sungguh, betapa benci kami pada kisah siluman serigala. Itu sebab datuk moyang kami senang belaka menuturkannya kali berulang. Dan kuping kami teramat tekun menakzimkannya; seraya terus bibir berdoa semoga jauh pergi marabahaya.
Mungkin bisa jadi kami risih. Dimasuki keruwetan yang sebetulnya bukan semata keinginan kami. Namun kenapa engkau rajin pula turut-menurut, sehingga putih daging dan hitam darah kami mudah percuma tersamarkan.
Barangkali kita musti tutup mulut sekejap: menunggu paus biru dilahirkan sekali lagi atau reinkarnasi si jalang hadir memilah-memilih; menyambung-memotong apa-apa yang patut dan elok tangan tuliskan serta lidah bunyikan.
Setakat ini, masihkah kau jantan menghakimi—suntingan ini benar puisi atau sekadar curahan hati?
Akasia 11CT
Belajar Ikhlas dari Buku Buku
Berjilid-jilid buku lolos mencatat cara adiluhung memasukinya; menyelaminya. Supaya yang rusak parah segera embus pergi tak perlu kembali. Akan tetapi alangkah benua tubuhnya, mungkin juga luas semesta; sehingga tak pernah genap kita menaklukinya. Maka muncul dan terus muncul kitab-kitab segar membahas-mengulitinya. Sampai kita luput mendedahkan ibu bapak kitab dari segala kitab yang sesungguhnya ialah obat bagi ragam penyebab.
Akasia 11CT
Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit. Akun Facebook: Ilham Wahyudi dan Instagram: @ilhamwahyudi_ilham
Hamparan warna-warni kue menggoda mata, tersusun rapi aneka jajanan berbungkus daun pisang, harum menyeruak. Radio mengalunkan pengajian, sesekali ditingkahi iklan obat herbal. Subuh belum matang di kawasan Senen, Anwar Saleh bersiap menunggu pembeli, sambil memegang gagang kayu pipih berujung rumbai plastik guna mengusir lalat. Pemandangan pasar subuh seperti biasa, hanya satu yang tampak berbeda, bukan pada jenis dan susunan kue, meja alas, toples uang, atau plastik bungkus kue, melainkan penampilan Roheti.
Eti, biasa penjual lain memanggil perempuan yang kali ini mengenakan kaos putih bertuliskan no comment dengan celana kulot abu-abu batako. Lipen warna merah bata memoles bibir, jedai warna biru muda langit puncak menghimpun rambut hitamnya, dan wangi Harum Sari sachetan menguar bersaing dengan wangi kue talam pandan. Lapak kue Eti bukan hanya mengundang lalat-lalat hijau tentara, namun juga pandangan mata para lelaki, tak terkecuali Anwar Saleh.
“Bang,” sapa Eti pada Anwar Saleh sambil mengangguk pelan di lapak seberang.
Anwar Saleh mengangguk kecil. Lanjut menebah lalat yang mampir di antara rainbow cake dan black forest penuh krem putih.
“Buset. Ntu mah bidadari turun ke bumi, War. Resep dah kalo gua kawin ama Eti kali, ya?” celetuk Haji Zaenal. Anwar Saleh hanya meringis kuda, separuh menaruh hormat pada juragannya dan selebihnya tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan itu.
Haji Zaenal gloyor menuju lapak kue Eti sambil tangannya membenahi peci hitam lusuh. Anwar Saleh rasakan ada yang berkecamuk di dadanya melihat kelakuan genit Haji Zaenal pada Eti, tapi dia tidak tahu persis akan apa yang dirasanya. Lamunan Anwar Saleh buyar ketika seorang langganan mengatakan ingin membeli kue basah.
Anwar Saleh mencuri pandang pada lapak kue Eti di tengah cekat tangannya melayani pelanggan.
“Demen ama yang sono, ya?” tanya pelanggan sembari mengarahkan ujung matanya ke lapak kue seberang.
Anwar Saleh tidak hirau. Hanya diam dan tangannya memasukan pesanan kue basah ke plastik besar warna seragam Juventus.
“Kagak ada bonus nih, War.”
“Iya dah ditambah atu nih.”
“Yaelah langganan cuma ditambah atu doang. Gua laporin juragan lu baru nyaho.”
Senyum tersimpul dari bibir Anwar Saleh.
Satu pelanggan berlalu, datang beberapa pelanggan lain. Silih berganti pembeli, sebagian wajah-wajah yang sudah dikenal Anwar Saleh, selebihnya wajah baru.
Haji Zaenal datang ketika semua pembeli sudah pergi. Air mukanya tampak girang-girang bangga. Lelaki yang sudah kawin sama persis jumlahnya dengan keberangkatannya ke Makkah—dua kali, berpanjang lebar menceritakan tentang Eti.
“Eti titip salam juga buat lu, War. Dia bakal mampir ke sini habis jualan nanti. Kagak sabar gua. Gimana? Gua ajib, kan? Panteslah ama Eti, ya?” tanya Haji Zaenal sambil merapikan baju kokonya yang tidak kusut atau tertempel kotoran sama sekali.
Anwar Saleh mengacungkan jempol saja menanggapi semua.
“Oya, lu sering ketemu Eti juga katanya. Bener?”
Anwar Saleh mengiyakan. Ingatannya terlempar pada hari-hari yang telah gugur di makan angka-angka. Itu adalah pertemuannya dengan Eti yang kerap terjadi kala siang hari, waktu di mana Anwar Saleh menjaga bengkel ban berdinding triplek miliknya lengkap dengan radio penghibur, sementara Eti numpang istirahat karena lelah ngobyek duteng—dangdut tenteng. Anwar Saleh tak tahu menahu alasan Eti memilih istirahat di bengkelnya dan juga tak mau hirau akan alasan itu. Dia tidak memasalahkan pilihan Eti. Kerap Anwar Saleh mengambilkan teh botol untuk Eti ketika penyanyi keliling itu istirahat dan yang diberi hanya membalas dengan ucapan terima kasih dan senyum.
Beriring hari dengan kerapnya Eti mampir di bengkel ban, keakraban semakin terjalin. Anwar Saleh dan Eti mulai kerap banyak mengobrol. Mulanya tentang pekerjaan masing-masing, lantas merambat pada hal-hal pribadi, semisal cita-cita Eti menjadi penyanyi dangdut beken yang tampil di panggung nasional. Anwar Saleh mendukung penuh dan mendoakan baik akan niat Eti, wajahnya saksama menyimak cerita Eti, sementara yang disimak hanya tersenyum tipis malu-malu dan mengatakan senang dengan dukungan Anwar Saleh, karena hanya lelaki itu yang mendukung dan mendoakan naik perkara cita-cita Eti.
Di bengkel ban, Eti juga sering bercerita tentang asmara. Ketika sudah menginjak pada masalah itu, Anwar Saleh lebih banyak menanggapi dengan candaan saja, sementara Eti tampak serius. Sekali waktu Eti bertanya perkara kriteria perempuan pada Anwar Saleh dan yang ditanya tidak tahu harus menjawab persisnya bagaimana.
“Masa kagak ada, Bang?”
Anwar Saleh diam sejenak, lantas menjawab dalam gurauan kalau dia suka perempuan yang seperti Eti. Di antara bising mikrolet dan asap hitam knalpot Kopaja, radio mengalunkan lagu Kuingin milik Rita Sugiarto.
Kalau kau memang sayang kepadaku
Kuingin hanya kau yang kau sayang
Kalau kau memang cinta kepadaku
Kuingin hanya aku yang kau cinta
Eti mendendang. Dia khatam di luar kepala lagu itu dan air mukanya tampak lebih ceria dari sebelum-sebelumnya. Keesokannya, Eti lebih lama untuk istirahat di bengkel ban. Dia tersenyum memandangi Anwar Saleh yang bekerja. Kerap sampai sore Eti di sana hingga akhirnya dia tak nge-duteng lagi pasca istirahat.
Pertanyaan-pertanyaan dari Eti lebih sering terlontar dibanding milik Anwar Saleh ketika mereka berdua saja. Suatu waktu Eti pernah bertanya tentang arti cinta bagi Anwar Saleh, namun lelaki itu hanya diam.
“Kok abang kagak jawab?”
“Bingung, Ti. Apa, ya?”
Suara-suara hanya milik mereka yang di jalan, bukan di bengkel ban.
“Gini kali ya, cinta ibarat kuku,” ucap Anwar Saleh. Eti diam, memandang Anwar Saleh dengan raut bingung.
Anwar Saleh melanjutkan ucapannya, kuku meski sudah dipotong, akan selalu tumbuh, dan begitulah cinta.
“Gitulah, Ti. Kan kalo kuku panjang juga kagak enak, kalo ada tahi kukunya ya kudu dibersihin.”
Sejak itu sikap Eti berubah, lebih sering memoles dan mematutkan diri dibanding sebelum-sebelumnya, entah saat di lapak kue pasar subuh atau di bengkel ban. Dia juga tampak lebih perhatian pada Anwar Saleh, yang tidak sepenuhnya menggubris semua itu. Bagi Anwar Saleh, Eti tetaplah Eti yang dia kenal seperti sebelum-sebelumnya.
Radio di lapak kue mengumandangkan azan, buyar lamunan Anwar Saleh. Haji Zaenal duduk di kursi plastik warna cokelat bermotif anyaman masih mengusir lalat-lalat jail yang mampir di kue dagangannya.
“Kagak kayak biasanya, nih,” seloroh Anwar Saleh.
“Bukan masalah, War. Asal gua bisa lihat romannya Eti ya udah senang.”
Anwar Saleh geleng-geleng. Sekali-dua pembeli datang lantas lapak sepi lagi. Radio mengudara dengan lagu-lagu dangdut pagi yang mengalun sesekali ditingkahi iklan obat dan laporan lalu lintas Jakarta kota kala pagi.
Jalanan mulai dipadati mikrolet dan kopaja. Orang-orang ramai berlalu lalang di antara kerja dan olahraga pagi. Dari seberang jalan, Eti datang menghampiri lapak kue Anwar Saleh. Haji Zaenal menyambut uluran tangan Eti meski itu ditujukan untuk Anwar Saleh.
“Gua kira tadi cuma basa-basi, Ti,” celetuk Haji Zaenal yang menganggap ucapan Eti mampir ke lapak kuenya hanya gurauan, namun penuh harap dia menunggunya.
“Kagak pak haji.”
“Panggil bang haji aja, jangan pak, kesannya udah bangkot bener gua.”
Eti hanya mengangguk.
Anwar Saleh hanya berdiri mematung, melihat Haji Zaenal dan Eti di dekatnya. Sesekali ada pembeli datang, Anwar Saleh meladeni dengan cepat.
“Gimana, Ti? Kapan hari ntar main ke tempat gua, ya?” ucap Haji Zaenal.
“Iya. Asal sama bang Anwar juga.”
“Kendiri aja kagak apa-apa. Anwar kan sibuk. Ya kan, War?”
“Bener, Ji,” ucap Anwar Saleh.
“Eti kagak berani kalo sendiri.” Eti menunduk usai mengatakan itu.
“Kagak apa-apa, Ti. Eti yang udah abang anggap kayak adik sendiri kagak boleh takut,” ucap Anwar Saleh.
“Abang nganggap Eti cuma kayak adek abang?”
Anwar Saleh mengangguk penuh yakin. Seketika juga Eti pamit, hanya tampak belakang dalam pandangan Anwar Saleh dan Haji Zaenal. Dua lelaki itu tidak tahu ada air mata yang menetes di hitamnya aspal jalanan Senen pagi itu.
Ruly R, bagian dari Kamar Kata dan Rusamenjana. Suka lele bakar atau goreng dan Dji Sam Soe.
[1] Nukilan lirik lagu Setelah Jumpa Pertama dinyanyikan Mus Muliadi dan Ida Laila.
Seusai mimpi buruk pada malam itu, Bono ingin sekali agar matanya buta seperti nenek dan yang dilihatnya hanya kegelapan. Ia lebih menyukai kegelapan. Ini aneh. Bono adalah penyuka hal-hal cerah dan terang. Semua orang terdekatnya tahu betul mengenai itu. Ia akan memilih baju warna matahari ketimbang dongker dan buku bersampul ramai ketimbang temaram. Ia menyukai yang terang-benderang dan ketika kemudian ia malah mengharapkan dan menyukai kegelapan, tentu ganjil sekali.
Untuk memahami Bono pada hari ini, perlu kiranya menyusuri jalan hidup Bono pada hari-hari lalunya. Manusia, bagaimanapun, dibesarkan oleh hari-hari silam.
Bono ketika kecil adalah anak lelaki kurus yang senang melukis dengan media apa pun. Sebelum ayah-ibu Bono sadar akan kebiasaan anaknya, Bono biasa melukis dengan cat air yang bertumpuk di gudang, ia melukisi tembok, pakaian ayahnya, lantai, dan apa pun selain kanvas. Kemudian, setelah kekagetan dan kegeraman sesaat, melihat kelakuan anaknya itu, ibu Bono membelikannya seperangkat alat lukis.
Meskipun sudah memiliki seperangkat alat lukis, terkadang Bono tetap mencoret-moreti objek-objek yang seharusnya tak boleh dilukisi. Bono, bagaimanapun, hanyalah seorang kanak-kanak. Tetapi, ayah Bono, sebagai pegawai perusahaan multinasional sibuk, yang sangat tidak menghendaki hal-hal mengecewakan sesampainya di rumah selepas pulang dari kantor, tak mau peduli, biarpun anak kecil Bono mesti tetap diberi pelajaran.
Maka itulah salah satu hari yang terus Bono ingat, ketika ayahnya menampar wajahnya sampai ia terempas dan menangis keras, akibat Bono melukis wajah seorang lelaki yang mirip ayahnya di jas ayahnya yang tersampir di kamar. Ibunya datang. Mengangkat Bono. Menatap tajam ayahnya. Ayahnya membalas tatapan itu lebih tajam. Ayahnya masuk ke kamar dan membanting pintu. Ibu Bono mengelus dan memeluk Bono.
Beranjak besar, Bono dititipi untuk tinggal bersama neneknya yang sudah tak mampu melihat di kota seberang. Ayahnya dipindahtugaskan ke kota yang jauh. Bono ingin ikut. Tapi ibu, yang menemani ayah, melarang. “Kota itu sangat jauh, Bono.” Bono merajuk dan jawaban ibunya tetap sama. “Nanti ibu dan ayah akan rajin mengunjungi rumah nenek, kok. Membelikanmu apa saja yang kamu mau. Oke, sayang?”
Bono tidak mengangguk dan tidak pula menggeleng. Ia hanya menghambur ke dekapan ibunya, dekapan panjang, yang mungkin akan berlangsung lebih panjang jika saja ayah Bono tak memotong, “Ayo, Bu, pesawat kita akan segera berangkat.”
Setelah hari itu, Bono tidak lagi berjumpa ibu dan ayahnya, kecuali satu tahun sekali. Biasanya ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek dan menemuinya pada pengujung tahun, ketika ayahnya libur panjang. Kadang mereka juga mengunjungi rumah nenek pada libur lebaran, tapi yang demikian itu jarang sekali.
Satu hal yang Bono perhatikan, tiap ibu dan ayahnya datang ke rumah nenek dari tahun ke tahun, adalah paras ibunya. Paras ibunya selalu tampak lebih gelap dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya. Bono tak tahu mengapa dan ia juga tak berani menanyakan perihal itu kepada ibunya apalagi kepada ayahnya. Kendati gelap, sesungguhnyalah ibu Bono selalu menguarkan senyuman. Namun, senyuman itu, lebih terlihat menyedihkan daripada memancarkan aura kegembiraan.
Ibu dan ayahnya datang dan pulang, dan perubahan paras ibunya tetap serupa kotak kaca hitam yang belum terpecahkan di kepala Bono.
Semenjak paras gelap ibunya menggelayuti pikiran Bono, ia menjadi pemburu hal-hal terang dan cerah. Mulai dari pakaian, sampul buku, tema film, sepatu, benda pecah belah, koleksi lukisan, dan lain sebagainya. Bono berharap usahanya itu bisa berdampak pada ibunya. Barangkali, pada perjumpaan berikutnya, wajah ibunya akan kembali cerah atau setidaknya tak bertambah gelap.
Usaha Bono sia-sia belaka.
Ia memang semakin banyak membeli hal-hal bertema cerah dan terang-benderang hingga teman-temannya mengidentikkan sesuatu yang semacam itu kepada Bono. Misalkan mereka menjumpai sampul buku yang heboh bukan main dengan gradasi warna-warna cerah di toko buku atau menemui poster film dengan corak terang di area bioskop, mereka akan berseru, “Wah, ini Bono banget!” Namun ketika hari kedatangan ibu dan ayahnya tiba, kadar gelap di paras ibunya semakin tinggi. Seolah-olah waktu berputar hanya untuk mempergelap paras ibu.
Satu hal lagi yang baru Bono sadari adalah paras ayahnya. Sementara wajah ibunya kian menyerupai awan-awan musim hujan, wajah ayahnya justru sebaliknya, tampak berbinar seakan-akan seluruh cahaya wajah ibu direnggut wajah ayah.
Menyadari itu, rasa iba Bono kepada ibunya semakin menjadi-jadi. Pada saat yang sama, rasa bencinya kepada ayah kembali tumbuh dan menyubur. Rasa benci yang sebetulnya sudah coba ia kubur. Rasa benci yang bermula dari hari ketika ayahnya menamparnya semena-mena. Bono akan terus membenci ayahnya sejak hari itu andai saja ibu tak menasihatinya. “Bono, tolong kamu maafkan ayahmu, ya. Jangan sampai kamu membenci ayahmu sendiri. Biar bagaimanapun ayah tetaplah ayah yang harus dicintai dan dihormati, bukan dibenci. Oke, sayang?”
Satu tahun sebelum malam yang membuat Bono beralih mencintai kegelapan, ibu dan ayahnya datang dengan wajah bertolak belakang. Wajah ibu makin layu. Wajah ayah makin mekar. Namun, ada hal lain yang benar-benar membuat Bono tak lagi bisa memendam rasa penasarannya perihal perubahan ibu. Hari itu wajah ibu bukan hanya sendu, melainkan juga luka memar tampak di sekitar pelipis dan bagian bawah rahangnya.
“Ibu tidak apa-apa, Bono,” jawab ibu saat Bono bertanya soal luka memar di area wajahnya. Mendapati jawaban begitu, Bono memandangi ayahnya yang tampak biasa-biasa saja, seolah tak ambil peduli dengan kondisi istrinya.
“Ada apa kau lihat-lihat ayah seperti itu, Bono?” Ayahnya bertanya dengan nada membentak dan Bono menimpalinya dengan pandangan menyilet.
Bono baru saja akan mengatakan sesuatu pada ayah, ketika ibunya berujar lirih, “Sudah, Bono. Ibu memang tidak kenapa-kenapa. Tak usah mengkhawatirkan ibu.”
Pada kunjungan kali itu, yang sekaligus kunjungan terakhir ibu dan ayahnya, mereka tidak menginap di rumah nenek berminggu-minggu seperti biasanya. Mereka menginap hanya beberapa hari. Ketika nenek menanyakan kenapa ayah dan ibu buru-buru sekali, ibu bilang kerjaan ayah sedang melimpah sehingga mereka tidak bisa berlama-lama. Ayah membenarkan ucapan ibu dan mereka pun pulang.
Sebelum pulang, ibu mengelus kepala Bono dan mengecup kening anak tunggalnya itu. Bono sudah beranjak dewasa. Ia tampak rikuh diperlakukan begitu, tapi pada kemudian hari ia berharap kala itu ibu mengelus kepala dan mengecup keningnya lebih lama.
Hal terakhir yang Bono lihat dari ibu menjelang kepulangannya adalah punggung ibu saat hendak menaiki taksi. Dan Bono kembali baru menyadari satu hal: punggung ibu terlihat bungkuk, padahal usia ibu belum begitu tua.
Sore sebelum malam kelam itu, seharusnya jadwal ibu dan ayah mengunjungi rumah nenek. Tetapi, mereka tak datang. Yang datang hanyalah sebuah telepon dari kota yang sangat jauh, kota tempat ibu dan ayah tinggal. Suara di telepon itu pun bukan suara ibu dan ayah, melainkan suara semi bariton seorang lelaki asing. Nenek dengan tergopoh-gopoh mengangkat telepon itu. Tak lama kemudian nenek pingsan. Telepon rumah itu terjatuh dan kabelnya menjuntai-juntai. Tapi masih menyala. Setelah membaringkan tubuh nenek di atas sofa, Bono mengangkat telepon itu. Rupanya telepon dari kepolisian tempat tinggal ibu dan ayah. Ketika suara di seberang telepon mencapai inti persoalan, Bono nyaris pingsan dan membuat telepon terjatuh sebagaimana nenek barusan, namun ia menahannya. Bono mengucapkan terima kasih kepada polisi tersebut, menutup telepon, dan duduk melamun di sofa bersampingan dengan neneknya yang belum siuman.
Bono melamun terus-menerus hingga ia jatuh tertidur. Dalam tidurnya Bono bermimpi persis seperti isi cerita polisi di telepon tadi. Mimpi itu begitu nyata, terang-benderang, dan tak terhalangi suatu apa pun. Dalam mimpi itu, Bono melihat darah begitu merah, cahaya mentari begitu menyilaukan, dan desing pisau begitu tajam. Dalam mimpi itu, Bono melihat dua orang yang begitu dikenalnya, dua orang yang menjadi perantara Bono lahir ke muka bumi dan merasakan hidup. Dalam mimpi itu, Bono merasakan hawa begitu dingin dan aroma anyir darah begitu pekat. Dalam mimpi itu, Bono duduk di sebuah kursi dan menyaksikan dua kematian. Seorang lelaki berjas rapi yang tak lain adalah ayahnya, ternganga seolah menjerit dalam kebisuan dengan dada berlubang di atas tempat tidur. Seorang perempuan dengan pakaian koyak moyak dan rambut berantakan yang tak lain adalah ibunya, tersenyum pilu dengan nadi terputus di atas lantai.
Sebangun dari tidur, bayangan mengerikan mimpi itu masih terus menghantui Bono dengan amat jelas. Bono melihat ke arah neneknya dan ia ingin seperti nenek agar yang dilihatnya hanya kegelapan. Sebab, bagi Bono, kegelapan adalah sebaik-baik pemandangan.***
Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].
Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya tersiar di media daring maupun cetak. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah, perancang sampul buku, dan penjual buku-buku lawas dan baru. Sekarang tinggal bersama keluarga di Yogyakarta, tengah menyelesaikan novelet pertamanya dan sedang mengulik satu buku terjemahan. Ia sesekali melukis untuk kebutuhan pameran pada suatu hari mendatang. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit berjudul Akar Hening di Kota Kering (2021) mengalami revisi total, buku kumpulan puisi keduanya segera terbit. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].
Hendak kuapakan tubuh suamiku yang terbujur kaku ini? Bisakah kusimpan saja? Kalau ia yang kusayangi membusuk bagaimana?
“Pak, aku harus bagaimana?”
***
Orang-orang membawa nasi berkat, berjalan gontai penuh tawa, berbincang riang entah apa saja. Besek, kata mereka. Isinya tak tanggung-tanggung, nasi lengkap dengan lauk, lalapan serta sambal. Lalu ditambah buah-buahan, kue basah dan agar-agar. Bahkan di antara mereka saling rebut, demi mendapatkan lebih banyak berkat untuk dibawa pulang. Bagi mereka berbagi besek, bentuk berkat untuk semua tetangga dan sanak saudara. Tak jarang di antara mereka membawa dua sampai tiga besek.
Dari wajah mereka yang gembira, siapa sangka sesungguhnya nasi berkat itu mereka bawa dari rumah duka. Ah, kegembiraan dan kesedihan kadang begitu lekat, dan doa-doa hanya sebentuk ritual, selebihnya untung rugi. Jika kita ingin beruntung dan tak mau rugi, cukup pergi ke rumah duka, lalu mengaji. Nasi berkat sudah menanti.
Aku mengintip dari kaca jendela, orang-orang bersarung pulang mengaji dari rumah Pak Waluyo yang meninggal sore kemarin.
“Serius benar, ada apa?” Suamiku yang sebelumnya tengah terbaring di kasur menguntit, lalu mengejutkanku.
“Itu, Pak. Orang-orang pulang melayat.”
“Memangnya kenapa?”
Kupalingkan badan, kamar kontrakan kami berukuran tiga kali empat, dari tempatku berdiri aku masih bisa melihat senyumnya. Aku berjalan mendekatinya, memandangnya, mengelus tangannya yang kian keriput, gurat-gurat menua sudah memenuhi wajahnya. Tapi senyumnya masih sama.
“Tidak, Pak. Aku hanya berpikir. Maut bisa datang tiba-tiba. Kemarin aku masih melihat Pak Waluyo lewat di depan rumah. Sorenya sudah diumumkan di musala beliau berpulang.”
“Iya, tinggal kita menunggu giliran.”
“Pak.” Kuelus tangannya, “Jangan ngomong gitu, kita akan bersama selamanya.”
Perbincangan itu tak berlanjut lagi, aku hanya berbaring di sampingnya, sesekali terdengar ia terbatuk-batuk sedang matanya terpejam. Puluhan tahun hidup di perantauan bersamanya tak pernah ia mengeluh. Walau hidup serba berat, tapi berdua bisa kami lewati. Mungkin itu cara Tuhan mencintai kami, hingga usia senja, tak dikaruniai anak juga anugerah. Untuk bertahan hidup berdua saja kami susah, apalah nasib jika punya anak?
Hidup di kota tak seenak di kampung. Di kota serba uang, jangankan bertahan hidup, mati saja masih perlu uang. Masih teringat perbincangan kami dulu. Dua tahun lalu, teman kami sesama pemulung meninggal dan tak punya biaya sepeser pun. Beruntung keluarganya dari kampung datang menjemput setelah sebelumnya dibawa dengan ambulans ke rumah sakit.
Sejak saat itulah, aku dan suami memutuskan menabung setiap hari barang dua ribu atau lima ribu perak. Persiapan kematian kami. Mengingat tak ada siapa-siapa yang akan mengurus kami.
“Untuk biaya pemakaman delapan ratus ribu katanya, Bu.”
“Ooo.” Itu saja komentarku, semoga uang segitu bisa terkumpul nanti.
“Ada lagi, uang penyelenggaraan jenazah sejuta lima ratus.”
Tak tanggung terkejutnya aku mendengar perkataan suamiku. Hah? Penyelenggaraan jenazah yang dimaksud memandikan, mengafani, mensalatkan, mendoakan. Itu dibayar? Melihat aku yang tak ada respon. Suamiku hanya tersenyum lalu berkata, “Memang begitu, Bu! Semuanya bayar, belum nanti nasi berkat, uang tahlilan, dan lain-lainnya.” Kenapa urusan mati menjadi berat begini? Tak bisakah kita mati lalu disalatkan oleh jemaah musala, dan dikubur di TPU, tanpa ada tetek bengek lainnya?
Aku memejamkan mata mengingat-ingat perbincangan itu. Sebelum akhirnya terlelap tidur di sampingnya, aku masih mendengar beberapa kali suamiku terbatuk.
Entah pukul berapa aku terbangun, rasanya dingin sekali, biasanya kalau tidak selepas hujan tak dingin begini. Aku beranjak dari tempat tidur lalu memeriksa jendela, barangkali lupa ditutup. Tidak! Sudah terkunci rapat, lalu aku beringsut mengambil minum. Tepat di sebelah suamiku yang tertidur kusediakan termos, agar jika nanti ia butuh minum, aku bisa langsung mengambilnya. Suamiku suka minum hangat. Sejak menderita batuk parah enam bulan lalu, air hangatlah satu-satunya yang bisa melegakan dadanya. Kadang ia sesak, semalaman batuk tak berkesudahan sampai-sampai suaranya parau. Sempat beberapa kali kubawa ia ke puskesmas. Kata dokter, suamiku sakit paru-paru. Obatnya sangat banyak, dan harus ditebus setiap bulannya. Hal itu yang menyebabkan tabungan kami terkuras. Setelahnya kami tak ke puskesmas lagi.
Anehnya, setelah rutin minum obat badannya makin menyusut. Tak ada tenaga lagi, ia banyak berbaring. Tak kuizinkan lagi memulung bersamaku.
“Pak, mau minum dulu?”
Aku membangunkan suamiku yang tampak lelap tidurnya. Sedari tadi aku terbangun tak sekalipun kudengar suara batuknya. Kulihat jam dinding sudah pukul tiga pagi, biasanya ia bangun sekadar meminta minum atau hendak ke kamar mandi.
“Pak,”
Tak ada jawaban, kugenggam pergelangan tangannya yang hanya tinggal tulang itu, dingin. Aku khawatir, spontan kuguncang-guncang bahunya, memanggil-manggilnya tapi tak ada jawaban. Perasaan risau menjalar sampai ke hati, rasanya perih. Kukuatkan hati mendekatkan telinga ke hidungnya. Benar, tak ada suara, tak ada deru napas.
Lama aku termenung, tak bisa membendung air mata. Tak menyangka sesakit ini rasanya ditinggalkan. Kubaringkan diri di sampingnya kembali, menatap lama wajahnya yang lusuh, tirus. Pak, aku harus bagaimana?
Seharian itu aku hanya berbaring di samping jenazah suamiku, tak tahu hendak apa, aku tak punya uang sepeser pun. Kembali kuhitung-hitung, berapa kira-kira total biaya yang diperlukan. Kepalaku menjadi sakit, rasanya tak bisa berpikir apa-apa lagi.
Hari itu rasanya berlangsung lama sekali. Sesekali kuhalau lalat yang hinggap di jasad suamiku. Aku benar-benar hilang akal, tidak tahu harus minta pertolongan kepada siapa. Hingga magrib menjelang jasad suamiku belum terurus. Aku berjalan ke sisi jendela, lagi orang-orang yang sama lewat di depan rumah, membawa nasi berkat dari rumah pak Waluyo, pengajian hari ketiga.
“Pak, apa aku minta tolong orang-orang itu? Minta belas kasihan menguburkanmu dengan cuma-cuma.”
Hening, malam makin dingin. Kembali kubaringkan diri di samping tubuh suamiku yang mulai kaku.
“Tak apa-apa, Pak. Ada aku, aku akan menemanimu.”
Entah jam berapa, aku tertidur lelap sekali, rasanya lelah menangis dan berpikir seharian. Ketika terbangun kurasakan gelap gulita, mungkin lampu mati, kuraba-raba di sebelahku, masih ada suamiku yang kaku, lalu kupeluk ia erat-erat. Dulu semasa hidup, ia selalu ada untukku, apa pun ia lakukan untukku, satu saja yang ia tak bisa. Ia tak bisa berada dalam kegelapan, tidur pun kami menyalakan lampu terang. Jika gelap, tiba-tiba ia akan sesak dan panik, ia benci gelap. Kembali kueratkan pelukan.
“Tak apa, Pak! Ada aku.”
Pagi menjelang, aku masih bingung hendak diapakan suamiku yang semakin banyak dihinggapi lalat. Apa aku kubur saja di lantai rumah ini? Bagaimana kalau aku bongkar saja ubinnya, rasanya tak begitu susah. Kutempelkan telinga mengetuk-ngetuk ubin, mencari bagian yang suaranya agak redam. Satu, dua, tiga, empat, kutandai bagian yang mungkin bisa dilepas.
Dengan peralatan seadanya, palu, pisau dapur dan gunting mulai memecah satu per satu ubin. Dua ubin berhasil kulepas, tapi ubin lainnya sulit dipecah. Lalu kuputuskan menggali lewat dua ubin itu.
Ketika proses penggalian lewat dua ubin itu aku perpikir tentang bagaimana cara menguburkan suamiku. Aku perlu memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil. Tentu saja setelah itu lubang ini akan cukup mengubur tubuhnya. Tak kupikir lebih lama lagi, dengan alat yang kupakai untuk menggali, kupotong-potong suamiku dengan perlahan, agar ia tak merasakan sakit.
“Pak, sabar ya! Sebentar lagi akan kukubur.”
Sesekali di sela pekerjaanku memotong-motong suamiku, kuhalau lalat yang kian banyak. Tak cukup pisau, kuambil gergaji, sepertinya bisa mempercepat pekerjaanku. Aku tak mau menunggu malam tiba, aku ingin menguburkan suamiku secepatnya. Kasihan, sudah terlalu lama jenazahnya terlantar.
Sedang konsentrasi dengan pekerjaanku, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Aku kaget, pekerjaanku belum selesai. Baru kaki dan tangan yang berhasil kupotong. Tak kuhiraukan ketukan itu. Aku melanjutkan memotong bagian dada. Pikirku, ini tak akan lama, sejam atau dua jam lagi ubin akan tertutup. Namun, ketukan itu terus terjadi, bahkan sudah menjadi gedoran, tampak tak sabar. Gedoran pun beralih ke jendela, aku masih tak menghiraukan, pekerjaanku kulanjutkan.
“Tak apa-apa, Pak! Sebentar lagi selesai.”
Tiba-tiba pintu didobrak, dibuka paksa. Orang-orang masuk, aku merasa kami diserang. Aku melihat mereka yang lalu lalang membawa nasi berkat beberapa hari lalu. Mereka menunjuk-nunjuk ke arahku sembari berteriak-teriak, lalu beberapa orang memegangiku, berusaha menyeretku ke luar.
“Aku ingin menguburkan suamiku!” Berkali-kali kuteriakkan itu, tapi mereka abai.***
Rahma Syukriah Sy, seorang ibu (agak) muda, penikmat puisi dan karya sastra yang menghabiskan hari-hari bermain bersama dua buah hati yang lucu-lucu dan adik-adik di Rumah Belajar Ka Rahma. Sekarang tengah aktif mengikuti event-event menulis dan menerbitkan beberapa antologi bersama. Bisa mengunjunginya di FB, IG dan akun Opinia dengan username yang sama @RahmaSyukriahSy
“Jadi antar Ibu pulang?” Pertanyaan itu datang ketujuh kalinya. Bantal tebal yang menutup telingaku tak cukup membendung suara cemprengnya. Selang lima menit sekali, dia datang ke depan pintu kamarku, meneriakiku dengan pertanyaan yang sama. “Sebentar. Sepuluh menit lagi,” balasku. Ketika gerutuannya menjauh, aku merasa lega. Tetapi itu sebentar saja, karena tidak sampai lima menit, dia sudah datang lagi, memanggil namaku dan mengulang pertanyaan yang sama: “Alif… Jadi antar Ibu pulang?” Sialan, ingin kuinjak kepala orang ini. Namun, aku berhasil menahan diri untuk tidak melakukannya.
Dengan mata mengantuk dan pikiran terantuk kesal akibat kurang tidur, aku membasuh wajah sembari berharap air bisa membilas kantuk dan kesalku. Semalam aku tidur kemalaman, persis seperti malam kemarin, seperti juga malam sebelum kemarin, seperti juga malam tahun lalu, seperti juga malam sepuluh tahun lalu; aku benar-benar tidak ingat kapan terakhir kali aku tidak tidur kemalaman. Seingatku, sejak aku punya kesadaran tentang hidup yang brengsek ini, aku selalu tidur kemalaman.
“Ibu sudah nunggu di depan, Bang,” kata istriku.
“Aku tahu,” balasku ketus.
Tidak perlu dikatakan juga aku tahu. Dari tadi ibu sudah mengganggu tidurku. Padahal sudah kukatakan kalau aku akan mengantarnya jam tujuh, tapi belum juga jam setengah enam ibu sudah bolak-balik membangunkanku.
Kulihat ibu tengah duduk pada sebuah kursi kayu di teras rumah. Di sebelahnya, terbaring sebuah tas ransel berwarna cokelat yang rasanya terlalu besar untuk tubuhnya yang terlalu kecil. Beberapa lubang terlihat pada tas ransel yang telah terlalu lama membebani pundaknya. Kaosnya yang agak kebesaran itu tersingkap pada bagian pundak, memperlihatkan tulang bahu yang menonjol seperti ruas-ruas akar pohon yang menyeruak dari dalam tanah. Topi berwarna cokelat bersetia di kepalanya, menutupi rambut pendek berwarna abu-abu, menyusul kisah kelabu yang menjadi warna dominan dalam hidupnya.
“Ibu sudah sarapan?” tanyaku.
“Sudah,” jawabnya singkat tanpa menoleh.
“Kita jalan sekarang?”
Ibu mengangguk. Kemudian dia berdiri memasang tas ransel jeleknya. “Tetapi ongkosnya belum dikasih.”
“Astaga! Tunggu sebentar.”
Istriku bergegas lari ke dalam rumah. Tak berapa lama dia telah kembali dengan beberapa lembar uang, dua kotak roti, dan sebotol air mineral yang langsung diserahkan kepada ibu.
“Ini buat ongkos bus. Ini buat pegangan Ibu.” Istriku menyerahkan beberapa lembar uang untuk Ibu.
Ketika aku sedang memanaskan motor, mendadak kudengar suara Hanifa dari dalam rumah. “Mau ikut! Mau ikut!” rengeknya. Anak ini biasanya tidak pernah bangun pagi, apalagi sepagi ini. Paling cepat dia bangun jam Sembilan. Tetapi kali ini dia seolah tahu aku akan keluar mengantar ibu, dia jadi bangun lebih pagi dari biasanya.
“Ayah hanya sebentar, mengantar nenek ke terminal,” jelas istriku.
Hanifah tidak peduli. “Pokoknya ikut. Harus ikut. Mau ikut. Ikut. Ikut. Ikut….”
“Biar sudah dia ikut,” kataku.
“Tapi, Bang. Nanti kalau dia ketiduran di jalan bagaimana?”
“Kalau dia tidur nanti Abang tinggal di pasar seperti Hitam.”
Istriku tertawa. Dia pikir aku bercanda. Itu membuatku merasa cocok dengannya. Amarahku selalu reda setiap melihat tawa dan senyumnya. Padahal yang kukatakan tadi itu serius, jika kesalku sudah tak terbendung, mungkin aku benar-benar meninggalkan Hanifa di pasar seperti halnya dulu aku meninggalkan Hitam di pasar. Berkali-kali aku dibuat kesal oleh Hitam. Tiga kali ia melahirkan di lemari pakaianku, tiga kali juga aku membuangnya di pasar, dan tiga kali pula ia tahu jalan pulang ke rumahku. Tetapi semenyebalkan-menyebalkannya Hanifa dan Hitam, tentu saja tidak ada yang lebih menyebalkan dari ibu. Dia jauh lebih menyebalkan daripada seluruh orang menyebalkan di alam semesta ini digabung-satukan.
Ibu datang ke rumahku setiap kali dia bertengkar dengan ibunya, saudara-saudaranya, atau juga tetangga-tetangganya. Kemudian dia akan melampiaskan emosinya ke aku, ke istriku, dan ke anak-anakku. Kemudian dia akan pergi begitu saja setelah hatinya lega seperti halnya dulu dia pergi begitu saja dari hidupku di saat aku bahkan belum seusia Hanifa. Ibu dengan tega meninggalkanku bersama suaminya yang suka menginjak-injak kepalaku. Lalu, tiba-tiba dia kembali ke hidupku ketika aku merasa sudah tidak butuh perlindungannya. Dan ketika dia mengatakan aku ini ibumu, seketika itu juga aku ingin menginjak kepalanya. Tetapi, aku selalu berhasil menahan diri untuk tidak melakukannya.
Benar kata istriku, baru setengah jalan Hanifah sudah tertidur. Dia duduk di depan, di kursi bantu untuk balita. Sialan! Aku berhenti di pinggir jalan, dan tanpa menoleh ke belakang aku berkata kepada Ibu: “Bu, Hanifah tidur. Bisa Ibu pegang dia?”
Ibu tidak menjawab. Kuulangi lagi pertanyaanku. Kali ini sedikit lebih keras.
“Ibu pegang ini,” kata ibu.
Aku menoleh ke belakang dan melihat barang pemberian istriku berada di tangannya. “Kamu pegang saja anakmu. Kalau Ibu pegang dia, nanti Ibu jatuh,” lanjutnya dengan nada yang tidak ada enak-enaknya di telinga. Aku sebenarnya mau mengatakan kalau barang-barangnya bisa ditaruh di depan saja. Tetapi kuurungkan niatku, aku kenal ibuku. Aku benar-benar mengenalnya.
Bersusah payah aku jalan sambil satu tanganku memegang Hanifah pada bagian dadanya agar kepalanya tidak terantuk kepala motor. Mendadak kurasakan sesuatu yang hangat menempel pada tanganku. Sialan! Dia tidur sampai ileran.
Sesampainya di terminal, Damri ternyata belum datang. “Nanti jam sembilan baru datang,” kata lelaki bertopi merah. “Tetapi kalau mau beli tiketnya. Bisa beli di dia.” Lelaki bertopi merah menunjuk lelaki berkulit hitam legam dengan kaos oblong berwarna cokelat yang telah pudar di beberapa bagian. Wajah lelaki itu jelek bukan main. Namun, pada bagian dada di kaosnya tertulis Pria Tampan Kesepian. Aku ingin mengumpat ketika membacanya.
“Busnya belum datang, Tapi Ibu bisa beli tiketnya di Bapak itu,” kataku.
Tanpa perlu kami panggil, lelaki berbaju cokelat mendatangi kami. Semakin dekat, wajahnya terlihat semakin jelek saja.
“Damri belum datang. Ini kalau mau tiketnya. Harganya 130 ribu,” kata si lelaki buruk rupa.
Sialan! Calo ini ngambil untung banyak betul. Disangkanya aku tidak tahu harga tiketnya.
“Ini kenapa tulisannya Titian Mas. Saya mau naik Damri,” kata ibuku.
Lelaki itu mencoret tulisan Titian Mas pada kwitansi pembayaran, lalu menulis Damri.
“Kamu pikir saya bodoh. Saya ini sekolah sampai SMA. Kamu palingan cuma sampai SD,” kata ibuku.
Lelaki itu menunjukkan gejala akan marah. Wajahnya terlihat semakin jelek saja.
“Ini Bang tiketnya,” kata temannya yang berambut ikal.
Setelah mengambil tiket dari temannya yang berambut ikal, lelaki buruk rupa ini langsung menulis 120 ribu pada kwitansi itu. Dia menurunkan harganya. Itu pun dia masih untung banyak. Ongkos bus ke tempat tujuan ibu hanya 85 ribu. Ketika aku hendak menarik tangan ibuku agar tidak mengeluarkan dompet, Hanifah menggeliat di gendongan. Dia bangun lalu mengucek-ngucek matanya. “Ayah pulang! Ayah pulang!” rengeknya. Hanifa menangis sambil menarik kerah bajuku. Aku tidak jadi menghentikan ibu. Tetapi ibu juga tidak mengeluarkan dompetnya.
Ibuku bukan orang bodoh. Dia tidak akan tertipu oleh calo yang, dari rupanya saja, terlihat lebih bodoh darinya.
“Mana busnya?” tanya ibuku lagi.
“Tunggu sudah. Itu orang-orang juga sedang tunggu Damri,” kata laki-laki itu. Dia menunjuk beberapa orang yang duduk di halte dengan barang bawaan beraneka rupa.
“Mana busnya?”
“Tunggu sudah. Nanti jam sembilan datang.”
“Ayah pulang… Ayah pulang….”
“Mana busnya?”
Kulihat cuping hidung lelaki jelek itu kembang-kempis. Wajahnya benar-benar kesal. Aku segera menghampiri ibuku. “Bu, Alif balik duluan ya. Hanifah rewel,” kataku. Dia sekilas menatapku dengan tatapan dingin sebelum kemudian mengangguk. Aku berupaya menahan senyumku sebisa mungkin ketika aku melihat lelaki jelek itu menahan geramnya. Biar sudah kamu untung 35 ribu, 35 ribu kali juga kamu akan ditanyai hal yang sama oleh ibuku. Dia tidak akan berhenti bertanya sampai busnya berada tepat di depan matanya.
Aku meninggalkan terminal dengan perasaan lega. Rasanya seperti ketika aku meninggalkan Hitam di pasar. Aku berharap ibu akan mendapat pengalaman buruk dari kedatangannya kali ini agar dia jera dan tidak pernah datang lagi. Tetapi, tentu saja, itu tidak mungkin. Tidak ada pengalaman buruk yang bisa menghalangi ibu untuk kembali melakukan apa yang ingin dilakukannya. Dua kali dia kembali ke Saudi, padahal di sana, dia diperkosa berkali-kali oleh majikannya, tapi dia tidak punya pilihan selain kembali ke sana karena suaminya yang pemabuk itu tidak tahu cara mencari uang. Hingga di kali ketiga dia mau balik ke Saudi, KJRI memulangkannya karena kondisi kejiwaannya tidak memungkinkan lagi untuk bekerja. Ya, ibuku gila sejak hari itu, dan gilanya masih sering kambuh. Setiap gilanya kambuh, trauma masa kecilku juga kambuh, dan setiap trauma masa kecilku kambuh, aku jadi ingin menginjak kepalanya. Untungnya aku selalu berhasil menahan diriku.***
Blencong, 2021-2022
Aliurridha, Pengajar di Universitas Terbuka. Cerpennya berjudul Metamorfosa Rosa masuk dalam antologi Cerpen Pilihan Kompas 2021. Dia diundang sebagai emerging writer dalam Makassar International Writers Festival (MIWF) 2023. Dia tinggal di Lombok Barat dan bergiat di komunitas Akarpohon.
Ikatlah nasi santan yang ditaburi ibumu dengan garam
Yang telah ia bungkus dalam daun pisang
Ikatlah hai anak lelaki, dua tiga atau empat serumpun
Jagalah api. Lihat ibumu menanaknya di atas tungku semalam suntuk sampai ia terkantuk-kantuk
Burasa’ itu bekalmu dari tangannya, merantaulah
Pulanglah kelak
Jangan pernah lupa cara mengikatnya
Sekalipun dunia telah mengajarkan banyak
Ingat dari mana kau pertama kali berangkat.
Makassar 2023
Tamu
Ada yang pamit
Ada yang bersedih
Bukan sebab yang pamit akan pergi
Tetapi yang bersedih menangis apabila yang pergi datang kembali sementara dirinya sudah tiada lagi
Makassar 2023
Lebaran dan Dua Orang Tua
Takbir bersahut
Nasu palekko
Burasa’
Di tata di atas nampan
Ada dua orang yang ompong giginya bungkuk punggungnya
Laki-laki dan perempuan bersarung berkerudung
Duduk berhadapan di lantai menekuri nampan
Perempuan berkerudung harap cemas membaca
Pesan yang datang di telepon genggam bututnya
“Maaf lahir bathin. Ananda masih sibuk, tak jadi mudik”
Lantas ia berkata pada laki-laki bersarung, “Anak kita ketinggalan kapalnya”
Makassar 2023
Bocah dan Kata-kata
Bocah laki-laki itu memunguti kata-kata yang melompat garang dari bibir bapaknya. dikulumnya kata-kata itu hingga gembung pipinya. pipinya kempis dan di kepalanya kata-kata itu telah duduk-duduk manis
Bocah laki-laki itu rajin sekali mengabsen kata-kata yang duduk manis setiap hari. Mahir pula ia mengawinkan kata-kata itu hingga mereka beranak-pinak di mulutnya.
Makassar 2023.
Eboni
Tahukah kamu? Eboni itu
Sekarang tidak lagi ia dipanggil begitu
Ia patung ia kapal-kapalan ia mobil-mobilan ia vas
dalam lemari atau di atas meja pajangan untuk dipandang dikagumi tetamu kadang pula diabaikan sampai berdebu
Pernahkah kau bertanya?
Adakah ia gundah?
Rindukah ia pulang menjadi dirinya di hutan berdiri sebagai pohon bersama semak belukar dan kijang dan burung-burung dan kabut yang turun menciumi pucuk-pucuknya?
Mari kita tanyakan
Pasang telingamu tajam-tajam
Mungkin ada sesuatu yang ia ingin ia katakan
Makassar 2023
Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.
Ia baru saja lahir dari kuburannya dan masih rebah di dalam lubangnya di sebuah pekuburan tua dan tak tahu telah berapa lama terkubur di dalamnya. Seingatnya sejak Perang Bharatayudha. Tubuhnya masih seperti dulu; tegap, gagah, serta berotot meskipun berselimut keringat, daki, dan debu. Rambutnya tergerai sepundak; kotor dan seamis bangkai ikan pada lungkang. Tak ada suara karena ia terdiam dan keheningan telah menyerap semuanya. Di bawah tubuhnya tak ada apa-apa lagi; batu, pasir, bunga, keranda, serta ubarampe lainnya, atau sisa bau dupa atau yang semacamnya. Itu kalau semua sesuai dugaannya. Ia tak ingat segalanya seperti halnya tak lupa seluruh masa lalunya meskipun ia sangat menginginkan semua itu lenyap dari benaknya.
Ia sangsi adakah upacara militer yang mengiringi prosesi pemakamannya: terompet, drum band, tembakan salvo…. Barangkali hanya sepi yang menyambut kematiannya dan penguburan itu tak lebih mewah daripada prosesi anjing kurap yang dicampakkan ke comberan. Ia tersenyum masam. Siapa pula yang butuh semua kemurahan itu. Mati, ya tinggal mati saja. Tak peduli di mana atau dengan cara apa mati dan dikuburnya.
“Kuturuti permintaanmu. Datanglah ke tempat itu! Di sana Arjuna akan menemuimu,” suara itu kembali berkumandang di kepala.
Barangkali ia telah mengigau dalam matinya. Mungkin arwahnya gentayangan dan mengamuk di kerajaan langit sana, memrotes sana-sini, menggugat hidup serta matinya yang tidak adil. Dan ia pun lalu dibangunkan dari tidur panjangnya; lengkap dengan busana, senjata pusaka, juga kepala yang telah kembali ke asalnya.
Dan terbayang lagi jejak itu, jejak kematiannya. Dan kenangan menyakitkan itu pun kembali lagi. Ketika itu kereta perangnya menuju arah matahari, sementara kereta perang orang itu menjauhi, dan ia telah merentangkan gendewanya seperti halnya orang itu. Untuk apa Salya menghentakkan laju kereta ketika bidikan panahnya sudah tepat pada leher orang itu? Mestinya panah itu tidak hanya menyerempet rambut.
Ia berdiri mematung dan tampak murung. Betapa pedih dan perih saat menyadari pengkhianat itu ternyata orang terdekatnya sendiri. Ia meraba lehernya dan terbayang lagi ketika panah orang itu memenggalnya dan tempurung itu terpental, menggelinding, dan darah, darahnya, berceceran membasahi tanah di padang ilalang.
Ia menggeram. Salya, orang yang kepadanya ia titipkan nyawanya, bapak angkat yang telah dianggapnya sebagai bapak sendiri, kusir kereta perangnya ketika pertempuran itu terjadi ternyata lebih mencintai orang itu dan memilih dirinya yang harus mati. Ia menghela napas panjang, lalu menengadah seolah-olah ingin menemukan jawaban atas ribuan pertanyaan di benaknya dan di langit sana tak ada apa-apa kecuali awan lembayung. Ah, alangkah bahagia andai ia bisa memilih cara dan tempat matinya sendiri.
Tiba-tiba ia menggeram. Wajah yang semula seolah-olah onggokan kain basah di pojokan kamar mandi itu tiba-tiba memancarkan sinar. Sorot mata rusa tua yang ketinggalan kawanannya itu seketika menjadi mata seekor singa yang siap menerkam mangsanya.
“Arjuna.”
Ia menyebutkan nama itu penuh kebencian sementara darahnya mendidih seperti minyak di wajan penggorengan. Urat-urat di batang lehernya menyembul seukuran akar pohon kelapa. Teringat lagi apa yang telah orang itu perbuat kepadanya, semuanya, dan ia pun muntab.
“Arjuna, aku akan menyayat-nyayat wajah tampanmu hingga tak ada yang bisa mengenalinya. Melumatkan kepalamu hingga jadi bubur. Memutilasi tubuhmu menjadi potongan-potongan kecil sehingga ketika nanti ada yang menemukan daging atau tulang itu, tidak akan pernah ada yang tahu berasal dari bagian tubuh yang mana.”
Serta-merta ia melompat dari dalam lubang kuburnya seolah-olah tersengat bara api pada telapak kakinya, lalu berlari seakan-akan sudah ketinggalan janji. Lajunya secepat kilat di angkasa. Jalan setapak penuh ranting kering dan daun ilalang diterjangnya, lubang dan bebatuan dilompatinya. Ia menuju ke tenggelamnya matahari dan tak tahu alasannya dan tak peduli.
Napas terengah-engah dan keringat bercucuran ketika ia sampai di tempat yang dulunya padang ilalang itu. Padang Kurusetra! Genderang perang, suara madali, dan tiupan maut sangkakala seakan-akan terdengar lagi; suara-suara yang telah mengiringi kematian teman, guru, serta orang-orang yang dikenalnya. Mereka telah menjadi tumbal, dan mati dengan berbagai cara ini: termutilasi, bermandikan darah, darah mereka sendiri atau musuhnya.
Keluarga Kuru telah musnah, tumpas, dan habis, diiringi mampusnya ratusan ribu prajurit Astina dan Amarta serta para pelengkap penderita lainnya. Orang-orang itu masih teman dan saudaranya. Dirinya dan kakak-beradik berjumlah seratus itu pernah bersama-sama main gundu di masa-masa lalu. Itu semua demi apa kalau bukan supaya Bharatayudha bisa tetap berlangsung sesuai nubuatnya dan betapa bangsatnya para dewa ternyata.
“Arjuna! Arjuna!”
Ia memanggil-manggil, tapi tak ada jawaban. Padang itu kini cuma menyisakan kenangan kengerian dan kesia-siaan, juga darah yang telah mengubah warna tanah itu menjadi merah. Juga mayat-mayat yang teronggok tak berbentuk lagi. Juga tumpukan daging berbelatung, bertebaran, berserakan, dan tumpang tindih. Burung-burung pemakan bangkai berpesta di atasnya sambil memekik-mekik kegirangan. Juga bau busuk itu, bau yang menusuk-nusuk lubang hidung dan masih tercium dari jarak sepuluh ribu kaki. Ia masih ingat semua itu seolah-olah perang saudara itu terjadi baru saja.
“Arjuna! Arjuna! Di mana kau?”
Tiba-tiba terdengar sahutan dan itu suara perempuan.
“Karna, anakku.”
Ia mencari-cari dengan matanya, dan memastikan suara itu tidak pernah ada kecuali hanya di dalam pikirannya. Ia masih ingat nada, irama, kelembutannya, dan semua itu justru membuatnya makin menderita. Ah, Kunti, ibunya yang bukan ibunya, bunda yang tak pernah ia rasakan air susunya. Adakah rintihan yang terucap ketika bayi mungil yang bermandikan air ketuban itu keluar dari rahimnya, melewati batang lehernya, lalu menjebol keperawanan kupingnya?
Ia tersenyum masam. Seandainya boleh memilih, ia ingin batu yang mengandungnya, atau apa saja, asalkan bukan perempuan yang sukanya merancap, tapi maunya tetap gadis ini. Kunti oh, Kunti.
Ia mengumam pelan walau masih terasakan olehnya kepedihan itu. Bibir itu menguncup, sorot matanya meredup. Di mana perempuan ini saat kusir pedati itu mengaisnya sedangkan ia bukan makanan sisa di tempat sampah? Sedang apa perempuan ini saat seluruh penonton lomba memanah itu menertawai meskipun dialah pemenangnya? Seandainya boleh memilih, ia ingin tak pernah ada karena sakit ini begitu lara.
“Karna, anakku, jangan kau sakiti adikmu!”
Ia menegakkan kepala seperti ular cobra disentuh ekornya, dan tiba-tiba merasa sedang diingatkan lagi akan tujuannya semula: membunuh Arjuna! Seketika awan hitam menghilang dari wajahnya, dan berubah menjadi rona merah darah. Rahangnya mengeras, melengkapi keriap matanya yang buas.
“Adik macam apa yang menghianati kakaknya? Adik jenis apa yang rela mengorbankan kakak demi ambisinya”
“Anakku, demi kepentingan yang lebih mulia….”
“Siapa yang mulia dan tercela?” Ia memotong ucapan itu. “Siapa yang mengangkat kamu sebagai hakim sehingga berhak memutuskan Kurawa sebagai angkara murka dan Pandawa pembasminya?”
“Karna, anakku, darma bakti seorang ksatria adalah…..”
“Arjuna tak pantas disebut satria. Dia sama busuk dengan lainnya!” ucapnya berapi-api, memenggal kalimat yang belum selesai tadi.
“Anakku, jangan turuti nafsu amarahmu….”
“Enyahlah kau! Minggat!”
Ia memukul-mukul kepala agar bunyi-bunyi itu terhenti, tapi bising di pikirannya lebih menguasai. Mulutnya mengumpat-umpat, tapi suara itu terus menyeruak di lubang telinganya; berisik, bertalu-talu, bergaung, dan bercampur-baur dengan umpatan, tangisan, serta jeritan. Ia menjambaki rambutnya sambil tertawa dan bergelakak seperti orang gila.
Ketika segala hiruk-pikuk itu tiba-tiba sirna, serta-merta ia berdiri mematung, termenung, dan merasa baru saja membunuh ibu yang selama ini bersemayam di relung hatinya: suara-suara itu telah mati, menemani hatinya yang sepi.
Namun, sedetik kemudian ia menggeram. Arjuna harus mati, dan tak ada lagi yang bisa menghalang-halangi, termasuk Kunti yang konon ibunya itu walaupun sekarang bukan lagi. Kuburanlah yang telah melahirkannya, baru saja. Dan nasihat itu pernah didengarnya dulu, dulu sekali. Kini ia tak butuh lagi.
Tak ada hutang yang dibawa mati kecuali hutang budi. Apa pun maksud di baliknya, Kurawa-lah yang telah mengangkat derajat, memanusiakan, serta menganggapnya ada dan berharga. Perjalanan hidup itu telah memaksanya untuk memilih. Dan sampai saat ini, ia tak menyesali pilihan itu. Pandawa tak pantas disebut saudara! Saudara yang mempermalukan saudara sendiri adalah kriminal dan boleh dibikin modar dengan cara yang sekeji-kejinya.
Ia mengatur napasnya yang memburu, sementara gemuruh di dadanya masih terasa, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Susah payah ia membujuki otak lelahnya. Persetan dengan suara perempuan itu!
“Arjuna!”
Ia meneriakkan nama itu sekeras-kerasnya, lalu menengadah, menajamkan mata dan telinga. Namun, tak ada suara apa-apa kecuali sepi serta lautan ilalang yang membentang. Padang itu bagaikan kanvas raksasa yang dipenuhi warna hijau, coklat, putih, dan hitam. Sementara itu, angin semilir, udara mengalir, dan langit menjelang senja masih seperti hari-hari sebelumnya.
“Arjuna, keluarlah dari persembunyianmu!”
Bunyi itu berpusing-pusing bising, mengarungi gelombang udara sebelum akhirnya menghilang di balik cakrawala nan jauh di sana. Udara senyap, kicau burung lenyap dan yang terdengar hanya bunyi napasnya sendiri yang memburu-buru seperti anjing lagi birahi. Tiba-tiba sekelebat cahaya turun dari langit, berputar-putar, bergemuruh laksana angin puyuh, lalu berhenti. Dan Arjuna pun memperlihatkan wujudnya. Satria lelananging jagat ini mendekat. Rupa tampannya masih bersinar. Dia bersedekap dengan kepala menunduk seolah-olah murid sedang berdiri di hadapan gurunya.
Ia mendengkus. Orang itu hanya berjarak empat-lima langkah di depannya. Begitu dekatnya, tapi betapa jauhnya bagi jiwa yang dipenuhi oleh kecurigaan ini. Meskipun penengah Pandawa ini tampak enggan, ia tak ingin tertipu oleh lagak lagunya. Ia memandang tajam orang yang sebentar lagi jadi mayat ini lalu berucap dingin, tajam, dan kejam.
“Arjuna, kuburku terasa gelap, lembab, dan pengap. Hanya kematianmu yang bisa membuatnya hangat.” Ia tak ragu mengungkapkan keterusterangan yang tidak sopan itu.
“Kakang Karna, hamba sumarah dan pasrah,” jawab Arjuna. Kedua tangannya ditangkupkan di depan dahi, menghaturkan sungkem.
“Aku selalu dihantui mimpi buruk bahkan di dalam matiku. Kuburku terasa sesak dan menghimpit.”
“Kakang, hamba hanya sekadar titah.”
“Arjuna, karena mulut kotormu aku harus merelakan harga diriku diinjak-injak. Sebab busuk otakmu guru Durna menjauhiku.”
”Maafkan hamba, Kakang.”
”Tahukah kamu bagaimana rasanya menjadi anak yang dibuang ibunya dan saudara yang tidak diinginkan oleh adik-adiknya?” suara itu terdengar getir.
”Kakang, maafkan hamba.”
”Aku coba mengasihimu sebagaimana seharusnya, tapi tak bisa. Luka ini begitu dalamnya. Aku telah coba memaafkan kamu sebagaimana semestinya, tapi tak mampu. Dendam ini telah membatu.”
“Kakang Karna, hamba sumarah dan pasrah. Raga ini hamba baktikan. Jiwa ini hamba ikhlaskan.”
Sesaat ia ragu mendengar kerelaan itu, teringat akan masa lalu, yaitu ketika mereka sama-sama sedang berguru kepada Resi Durna, dan bercanda tawa di sela-selanya. Mereka juga pernah berdiam di rahim yang sama meskipun terlahir dari lubang berbeda. Ia ksatria dan tak mungkin baginya berkulikat nista; membunuh musuh yang tak mau melawannya salah satunya.
Ia menarik napas dalam-dalam. Sesaat matanya terpejam, coba menguraikan otaknya yang sengkarut. Ia sudah sampai sejauh ini, dan tak ada jalan untuk kembali. Keadilan harus diperjuangkan dan ia telah terlanjur membongkar rumah kuburannya. Tiba-tiba bibirnya mengatup, tubuhnya gemetar, kedua tangannya mengepal-ngepal, lalu tertawa kecil. Arjuna bukan musuhnya ataupun saudaranya. Dia orang yang harus mati, dan saat ini juga!
Seketika ia menerjang sosok di hadapannya. Tangan kanannya terayun sekuat tenaga ke arah kepala, kaki kanannya melayang dengan gerakan memutar, menghantam lumbal kanan, disusul kaki kiri menerjang bagian tubuh lainnya.
“Bangsat, lawan aku! Mumpung tak ada mulut berbisa Kresna! Selagi tak ada guru batil bernama Durna. Hanya kamu dan aku!”
Arjuna bergelangsar, terlempar, dan berguling-guling. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Alis matanya sobek. Dia tampak kesakitan dan menderita. Dia menyeka darah yang membanjiri hampir seluruh wajahnya lalu kembali berdiri di tempat yang sama, bersikap seperti sebelumnya, bersiap menghadapi matinya seperti kambing kurban dihadapan tukang jagalnya.
“Hamba tidak akan melawan, Kakang,” jawabnya.
Ia makin marah. Bukan jawaban semacam itu yang diharapkannya. Seketika ia kembali menerjang seumpama banjir bandang. Ia meninju mulut yang baru selesai bicara tadi. Ia menghantam ulu hati hingga tubuh itu tertekuk dan terbungkuk-bungkuk.
“Arjuna, lawan aku. Keluarkan semua kesaktianmu!”
Arjuna menegakkan tubuh, sempoyongan dan limbung. Bibirnya pecah dan berdarah dan beberapa giginya goyah.
“Tidak, Kakang! Saya sudah berdamai dengan masa lalu.”
Ia menerkam dada, menginjak-injak perut, dan menjadikan kepala itu seumpama bola. Ia memukul, mencakar, menampar, menendang, dan mencekik sambil meraung-raung.
“Masa lalumu, bukanlah masa laluku. Andai aku bisa melupakannya!”
Arjuna terjatuh, terguling-guling, terbanting-banting. Dia coba berdiri, tertatih-tatih, jerih, terhuyung-huyung. Sekujur tubuhnya cobak-cabik oleh luka, dari kepala hingga kaki.
“Kakang, bunuhlah hamba jika itu bisa membuat Kakang bahagia. Namun, mohon kiranya hamba izin bersiap lebih dahulu!”
Susah payah Arjuna melucuti dirinya sendiri. Kakinya goyah dan wajahnya tertampak letih. Ia melemparkan gendewa di tangannya, keris pulanggeni yang terselip di pinggang, lalu kain limarsawo, juga ikat pinggang limarkatanggi. Seterusnya, dia menguraikan gelung minangkara lalu melemparkannya, pun membuang kalung candrakanta juga cincin mustika ampal.
Sementara itu, tak peduli dengan yang dilakukan orang di depannya, ia berdiri kaku seperti arca penunggu candi. Gebaran di hati dan pikirannya sudah mati. Ia telah membunuhnya baru saja dan persetan dengan jiwa satria. Kalau perlu, ia akan menikam jantung orang itu meskipun orang itu lagi tertidur lelap di pelukan selir-selirnya.
Ia lalu mengambil napas, mengembuskan kuat-kuat lewat mulutnya. Dengan bibir terkatup, ia menyiapkan gendewa wijaya, memasang panah taksaka. Ia membidik tepat ke arah jantung orang di hadapannya, lalu menarik tali busurnya sekuat tenaga.
“Arjuna, demi masa lalu, masa kini, dan masa nanti, aku harus membunuhmu.”
“Hamba siap, Kakang,” jawab Arjuna lirih.
Arjuna tersenyum pada orang yang sangat menginginkan nyawanya ini. Dia justru merentangkan kedua tangannya, membuka dadanya lebar-lebar sambil melemparkan panah pasopati yang sedari tadi ditimangnya tanpa peduli arah jatuhnya.
“Hamba pamit….”
Panah pasopati itu terlempar ke tumpukan batu tepat pada pangkalnya, lalu melesat bagai peluru kendali, menerjang pori-pori udara dan semuanya. Ia terkesiap dan segera menyadari bagaimana akhir kisah ini nantinya. Seketika senyum getir tersungging di bibir. Hidup ini, terutama hidupnya, ternyata begitu lucu, absurd, dan sia-sia. Ia pun memejamkan mata, menyambut mautnya. Setengah detik kemudian, panah pasopati itu menembus leher; memotong kulit, daging, otot, tulang, dan semua yang menghalangi laju geraknya. Tempurung kepala itu terpental dan menggelinding. Darah berselerak membasahi ilalang.***
Pekalongan, 3 September 2021
Dewanto Amin Sadono, guru dan penulis. Beberapa karyanya memenangkan lomba dan dimuat di media masa cetak dan online. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit menjadi Juara I, Perpusnas Writingthon Festivaal November 2022. Naskah lakon Ikan-Ikan di Kedung Mayit menjadi Nominator Lomba Naskah Lakon Dewan Kesenian Jakarta, Desember 2022.
Seperti sihir, begitu Satoshi sampai di depan showcase minimarket itu, tangisan Kenta–bocah yang digendongnya–terhenti. Lelaki yang sempat panik ketika Kenta menangis dan mengamuk karena suara sirine ambulan itu pun tersenyum lega. “Ternyata betul dugaanku. Kau menyukai benda-benda berwarna-warni.”
Sambil tertawa riang, Kenta menggapai-gapai kaca showcase yang memajang puluhan botol minuman beraneka warna. Antusiasmenya sama besar dengan ketika ia menggapai-gapai poster tokoh anime karya Satoshi atau benda-benda penuh warna lainnya.
Satoshi segera membuka pintu showcase. Sergapan hawa dingin membuat Kenta sedikit menggigil. Namun, bocah sepuluh bulan itu tetap bersemangat, terutama ketika ia mendapati barisan botol susu kemasan dengan rasa buah-buahan beraneka warna. Mengilat karena tersorot lampu showcase dan ditempeli embun, botol-botol itu kian tampak menarik.
Begitu tangannya yang terbilang kurus untuk bayi seusianya itu bisa menjangkau botol-botol, Kenta pun beraksi, menarik-memorak-porandakan botol-botol itu sambil berseru girang. Satoshi pun dibuat kewalahan. Namun, lelaki itu sama sekali tidak marah atau merasa malu–seperti kebanyakan orang dewasa saat direpotkan oleh tingkah laku anak-anak. Ia malah tertawa dan sama antusiasnya dengan Kenta ketika menata ulang botol-botol tersebut. Keduanya tampak seperti sedang berlomba memberantakkan dan merapikan. Satoshi baru barhenti dan membiarkan Kenta asyik sendiri setelah dikejutkan oleh sebuah suara yang lembut dan hangat.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu?”
Pemilik suara itu adalah seorang wanita awal dua puluhan. Rambut hitam berkilaunya dikuncir kuda. Matanya memancarkan keriangan dan kehangatan. Senyumannya terlihat tulus dan menyenangkan. Ia mengenakan apron biru dan kemeja kuning, seragam pegawai mini market tersebut. Di dada kirinya terdapat papan nama bertuliskan “Yamanaka”. Ia terlihat sedikit berisi, mungkin karena pipinya putih merona itu sedikit tembam. Secara keseluruhan, ia bisa dibilang manis. Sejenak Satoshi tertegun. Begitu juga Kenta.
“Apakah susu ini aman untuk bayi di bawah satu tahun?” Itulah kata-kata pertama Satoshi setelah berhasil menguasai diri. Lelaki yang berprofesi sebagai mangaka lepas itu menunjuk sebuah botol ungu-putih berisi susu rasa anggur di genggaman Kenta.
Wanita bermarga Yamanaka itu memperhatikan botol tersebut sambil menyapa Kenta. “Sepertinya bayi belum diperbolehkan,” katanya beberapa saat kemudian, “tapi jangan khawatir. Ada produk susu khusus bayi dengan aneka rasa.” Usai berkata, ia mengajak Kenta berkenalan. Dan tanpa bisa Satoshi duga karena belum pernah terjadi sebelumnya, Kenta mencondongkan badan dan menjulurkan tangan ke wanita itu.
“Wah, kau ingin kugendong?” Wanita itu berseru kegirangan seperti seorang anak kecil yang diajak ke taman hiburan. Ia mengalihkan pandangan ke Satoshi yang berusaha menerka penyebab tingkah ajaib Kenta. “Bolehkah aku menggendongnya?”
“Tentu saja.” Dengan sigap Satoshi membuka tali gendongan dan menyerahkan Kenta.
Satoshi dan wanita itu pun mulai mengobrol tentang cuaca dan Kenta, kemudian disambung dengan basa-basi tentang produk-produk di minimarket tersebut. Setelah merasa kehangatan sudah terjalin, keduanya memperdalam percakapan dengan perkenalan dan tanya jawab singkat soal kehidupan masing-masing. Dari situ Satoshi tahu bahwa wanita itu bernama depan Miko dan masih lajang serta usia mereka terpaut lima tahun saja. Dan selama percakapan itu terjadi, Kenta tampak bahagia. Dan kebahagiaan itu menjalar ke dada Satoshi.
Akan tetapi, kebahagiaan itu terusik selama beberapa detik. Suara sirine ambulan yang lewat di depan mini market membuat Kenta menangis panik. Bocah itu memeluk Miko erat-erat.
“Jangan takut, itu bukan suara monster.” Dengan kelembutan seorang ibu yang berusaha menenangkan anaknya yang gelisah, Miko menepuk-nepuk punggung Kenta.
“Ah, maaf. Ia trauma terhadap suara sirine.”
“Oh, begitu.” Keterangan itu membuat Miko kian simpatik terhadap Kenta. Dan upayanya berhasil menenangkan Kenta beberapa detik kemudian.
Sayangnya, tidak ada kebahagiaan yang berlangsung selamanya. Beberapa bahkan berlangsung terlalu singkat. Dan kebahagiaan yang Kenta alami termasuk jenis yang kedua. Pertemuan mereka pun diakhiri oleh sang manajer mini market yang suaranya lebih mengganggu ketimbang decit roda troli yang rusak.
“Nona Yamanaka, tolong segera ke selasar delapan. Rapikan tumpukan kaleng buah potong yang berantakan.”
“Maaf, aku harus kembali bekerja.” Miko menyerahkan Kenta pada Satoshi. Ia melakukannya dengan berat hati dan Satoshi dan Kenta menerima perpisahan itu dengan sama beratnya pula, terutama Kenta. Mata bocah itu terus terpaku pada punggung Miko dan tangannya terus menggapai-gapai.
Satoshi mengembuskan napas. “Pasti kau menyukainya karena wanita itu mirip ibumu bukan?” Ia mengusap-usap kepala Kenta. “Wajah mereka berdua memang mirip. Dan seandainya sifat keduanya sama, hidupmu tentu sempurna.”
Satoshi berjalan menuju lorong tempat susu khusus bayi berada kemudian mengambil beberapa susu kemasan dengan warna berbeda dan meletakkannya di keranjang belanja. Tepat saat ia hendak memasukkan kardus susu dua ratus gram berwarna ungu ponselnya berdering.
Penelepon Satoshi adalah seorang pria pertengahan tiga puluhan yang tampak kelelahan dan kantung mata kendur. Ia berdiri di luar kamar perawatan sebuah rumah sakit di kota yang sama dengan Satoshi tinggal. “Halo, bagaimana kabar kalian?” tanyanya saat Satoshi menjawab panggilannya.
“Kami baik-baik saja. Kami sedang berbelanja. Bagaimana kabar kalian?” Satoshi menjawab sambil menyerahkan kemasan susu tadi kepada Kenta agar bocah itu diam.
Lelaki itu membuka pintu dan menatap seorang wanita yang berada di ranjang dalam posisi setengah duduk. Ia tertunduk sehingga rambutnya menutupi wajah dan sorot matanya yang memancarkan kesedihan. Di meja kecil di samping wanita itu terhidang makanan. Perutnya berkali-kali berbunyi dan ia belum makan selama dua puluh jam lebih. Namun, ia tampak tidak berselera. Tangan kanannya diinfus sedangkan pergelangan tangan kirinya diperban.
“Baik,” jawab lelaki itu, “dokter bilang, ‘kondisinya membaik dan urat-urat yang putus bisa diperbaiki.’.”
“Baguslah. Apakah kami sudah boleh berkunjung?”
“Soal itu ….” Lelaki itu kembali memandang ke dalam ruangan. ” Kurasa itu bukan ide yang baik untuk saat ini. Dokter bilang, ‘itu bisa membuatnya kembali mengamuk atau membuatnya tertekan karena rasa bersalah lalu melakukan tindakan bodoh itu lagi. Ia juga membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi tubuh dan jiwanya’. Karena itulah aku ingin meminta maaf padamu karena harus merepotkanmu selama beberapa hari lagi.”
“Oh, tidak masalah. Aku tidak merasa direpotkan.” Satoshi tersenyum sambil mengusap-usap kepala Kenta yang masih asyik memainkan kemasan susu dalam genggamannya. “Oh, iya, kurasa aku telah menemukan apa yang bisa membuat Kenta berhenti menangis. Ia menyukai warna-warna terang. Dinding apartemen kalian terlalu suram.”
“Begitukah? Baiklah, aku akan menggantinya.”
“Lalu, satu lagi ….” Satoshi menjeda kalimatnya untuk mengumpulkan keberanian sekaligus menimbang apakah itu waktu yang tepat untuk mengatakannya, “ada baiknya sesekali kau meluangkan waktu untuk–”
“Maafkan aku,” potong lelaki itu, “aku ada urusan penting. Aku harus ke kantor untuk presentasi dengan klien. Kita akan lanjutkan percakapan ini lain kali saja.” Lelaki itu menyudahi panggilan.
Satoshi mengembuskan napas. Namun, begitu melihat wajah Kenta, urat-urat emosi yang sempat bertonjolan di wajahnya saat mendengar kata-kata lelaki itu berangsur mengendur. “Maafkanlah dia. Sejak kecil dia memang begitu. Di kepalanya hanya ada tugas dan belajar. Mungkin itulah yang menyebabkan ibumu melakukan tindakan itu. Kau tahu, terkadang sesekali seorang wanita memerlukan bantuan pria dalam mengasuh anak, terutama ibumu, wanita pemurung yang memiliki anak yang super-aktif. Tapi tenang saja, pamanmu ini akan selalu ada untukmu. Dan aku jamin kau akan senang bersamaku karena kita akan mengajak Miko makan malam. Kau setuju?”
Seolah mengerti, ketika mendengar nama Miko disebut, Kenta tertawa. Keduanya pun menuju selasar delapan.***
14 Februari 2023
Chan, seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
Ini bermula ketika hujan turun dari pagi sampai petang hari Jumat. Satu warga melapor melihat sosok misterius dengan mata besar berwarna hijau dan mulut selebar kuali menculik anak gadisnya. Warga yang lain melaporkan melihat dewi bersayap hitam dengan rambut pendek—serupa Milda, anak Pak Diman—telah membawa pergi anak gadisnya dan tidak pernah kembali. Yang lain lagi melaporkan melihat lelaki dengan ekor belang berjalan dengan istrinya di malam hari dan ia tidak pernah pulang ke rumah. Semua laporan itu aku tulis di kolom kasus orang hilang. Tidak diragukan lagi. Aku menulis semua laporan tidak masuk akal itu di atas kertas folio.
Saat pulang ke rumah aku berkata pada diriku sendiri bahwa semua laporan yang aku terima hari ini adalah rekayasa biasa. Mereka hanya iseng datang ke kantor polisi untuk membuat laporan palsu. Tapi itu menyelamatkanku dari kebosanan. Jika mereka tidak datang, sudah pasti aku bakal membusuk di kantor polisi.
Aku berhenti di sebuah kedai dekat stasiun. Memesan kopi. Duduk di bawah langit gelap, aku mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Ketika pelayan menaruh cangkir, aku teringat bahwa besok libur. Aku punya banyak waktu malam ini. Besok aku bisa berkunjung ke rumah adikku atau menghabiskan waktu di luar. Menaiki kereta, transit kemudian berhenti di stasiun selanjutnya. Setelah itu berjalan kaki di trotoar. Membeli roti dan duduk di teras toko. Aku tidak sabar menantikan besok.
Selesai menghabiskan kopi aku keluar kedai. Menyusuri jalan pulang. Malam sudah larut, angkutan umum tidak beroperasi jadi aku berjalan kaki di sepanjang jalan gelap. Di gang sekelompok pemuda membentuk lingkaran. Menyembah sebotol alkohol. Berkelakak.
Rumahku gelap, segelap malam ini. Aku membuka pintu dan menghidupkan satu persatu lampu. Melepaskan semua pakaian, memasukkannya ke dalam bak lantas merebahkan diri di atas ranjang. Aku langsung tertidur. Nyenyak sekali. Aku tidak pernah tidur senyenyak ini dalam hidupku. Aku bermimpi mendengar jeritan perempuan. Ia seperti meminta tolong. Dalam mimpiku, suara itu tiba-tiba lenyap dan berganti suara biola. Aku mendengarkannya dengan saksama. Di mimpiku yang gelap dan hanya gesekan biola yang terdengar, aku bangkit seperti vampir.
Tubuhku tergerak secara naluriah. Berjalan layaknya boneka. Mungkin ini mimpi tapi aku mendengar dengan jelas gesekan biola itu. Aku tidak tahu. Lagi pula membedakan dunia realitas dengan dunia lain merupakan hal yang sulit.
Aku berjalan keluar dari kegelapan. Perempuan dengan kulit kuning sawo tidur di atas bangku. Perempuan itu tidur sangat pulas. Aku tidak tega membangunkannya. Ia tidak terlihat seperti gelandangan yang tinggal di pinggir rel kereta atau gang kecil berbau tengik. Ia memakai gaun hijau dengan rambut hitam sepinggul. Sepatu bot hitam. Mungkin ia jelmaan Nyi Roro Kidul atau semacamnya. Dengan berat hati aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ia menggeliat. Matanya terbuka perlahan. Ia berkata sesuatu tapi aku tidak menangkap maksudnya. Setelah ia sadar, aku pergi meninggalkannya. Mimpi yang aneh.
***
Matahari menyembul dari ventilasi kamar. Aroma tanah yang diguyur hujan meruak dari kisi-kisi jendela. Aku bangkit, pergi berjemur di luar rumah. Sebelum menikmati hari libur, aku membersihkan rumah. Pukul 10.21, aku membatalkan niatku karena tiba-tiba hujan mengguyur deras. Memikirkan liburan yang gagal, aku bingung mau melakukan apa. Selama satu jam lebih aku hanya duduk di teras, menyaksikan hujan turun.
Aku kembali ke kamar dan tidur. Hari sudah malam ketika aku bangun. Di luar masih hujan. Pintu rumah diketuk. Pelan. Aku diam. Siapa yang berkunjung di tengah hujan deras begini? Ketukan pintu terulang setelah jeda sejenak. Tetap pelan. Dengan malas aku bangkit dan membukakan pintu. Seorang perempuan, yang sepertinya aku kenal berdiri di depan rumah.
“Akhirnya aku menemukanmu,” lirihnya. Ia melepas jas hujan, menepuk-nepuk pakaiannya. “Aku sudah mencarimu sejak terakhir kita bertemu. Apa aku boleh masuk?”
Dengan ragu-ragu aku memintanya masuk. Ia melihat sekeliling rumah. “Rumah yang bersih,” Aku lupa kapan bertemu dengan perempuan ini. Mungkin sudah bertahun-tahun. Aku mencoba mengingat wajah teman SD, SMP, dan SMA, tapi yang muncul wajah orang hilang.
Perempuan itu duduk di kursi, menciptakan hening. Aku pergi dari keheningan, membuat teh. Usai menyajikan teh aku berdiri tidak jauh darinya. Seperti pengawal putri kerajaan, aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya. Hening kembali. Ia menyeruput teh.
“Mengapa kamu tahu rumahku… dan Siapa namamu?” sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu tenggelam di tengah hujan lebat, dan namanya tidak aku ketahui. Ia berdiri lantas menarik tanganku keluar.
“Kita mau ke mana?” tanyaku di antara deru hujan.
“Ke tempat teman-teman kita,” katanya dengan suara keras.
Kami berlari di bawah langit hitam. Tangan kami bergandengan seperti kekasih yang melarikan diri dari nasib. Jalanan gelap dan hujan mengguyur tanpa henti. Cahaya berpendar di depan kami. Cahaya yang hangat. Lamat-lamat hujan berhenti. Seorang lelaki berdiri di bawah tiang lampu, berbalut cahaya kuning dia memberi hormat.
“Selamat datang di Big House. Teman-teman sudah menunggu kalian di dalam.”
“Ayo, masuk,” bisik perempuan itu. Kami masuk ke halaman rumah yang luas. Rumah besar berdiri dengan gagah. Bukan. Itu istana. Dua lelaki berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu. Mereka membukakan pintu setelah memberi hormat. Aku diam. Yang ada di depanku sekarang bukan mimpi. Ini benar-benar nyata.
Laki-laki dan perempuan berdansa di bawah sinar lampu. Sementara perempuan bergaun merah duduk mantap di depan piano. Jari lentiknya menari di atas tuts, memainkan Ballade milik Chopin. Seorang perempuan bergaun hitam datang menghampiriku. Ia menarik tanganku ke tengah ruang dansa. Kami berdansa. Sepasang kekasih tersenyum ke arahku. Menjelang permainan pianis berakhir langkah kami melambat dan berhenti. Semua bertepuk tangan. Semua tersenyum bahagia. Perempuan yang membawaku bertanya.
“Apakah kamu menikmatinya?”
Aku mengangguk mantap. “Terima kasih telah mengajakku kemari. Terima kasih banyak,”
“Jika berkenan, tinggalah di sini bersama kami,”
“Terima kasih, tapi aku ada kerjaan besok. Maaf.”
***
“Bangun Jun.” Seorang berteriak di telingaku. Aku mengenal suara ini. Dia Bagas, atasanku. “Kamu sudah makan siang?”
Aku melihat Bagas berdiri di sampingku. Foto orang hilang berserakan di atas meja kerjaku. Awalnya aku tidak tertarik, tetapi setelah diperhatikan aku pernah bertemu dengan mereka. Sebentar. Beri aku waktu untuk berpikir. Semalam aku tidur, seorang perempuan datang ke rumah lalu ia mengajakku pergi. Kami berlari di tengah hujan, seorang lelaki menyambut di bawah tiang lampu. Seorang perempuan lain mengajakku berdansa, dan setelah itu aku tidak ingat. Aku mengambil secarik foto, melihatnya dengan saksama. Mengambil yang lain. Memeriksanya kembali. Ini sungguh mengejutkan.
“Jun, kamu baik-baik saja? Jangan memaksakan diri, oke.”
Di luar masih hujan. Suara Bagas lenyap. Aku bangkit menepuk bahu Bagas sembari berkata, “aku menemukan mereka. Aku berhasil menemukan mereka, Pak. Mereka tidak jauh dari sini.”
Bagas membelalak serupa sapi. Dia balik menepuk bahuku dan berkata. “Sebaiknya kamu pulang lebih awal lalu istirahat. Aku akan meminta Andi mengurus kasus ini.”**
Sewon, 18-10-2022
Fahrul Rozi, lahir pada 10 Agustus. Penulis lepas dan buruh tata letak buku. Saat ini tinggal di Jogja. Bisa dihubungi di Instagram @Ojiy__ atau melalui email: [email protected]