Puisi

Puisi Eko Setyawan

DI KAMP PLANTUNGAN

di tanah ini

dunia yang telah dibangun

seperti ditelan bencana

lantas porak-poranda.

sejak negara tak baik-baik saja

seseorang bebas menuduh

dan memenjarakan siapa saja

dengan alasan tak suka

atau barangkali hanya rasa iri semata.

seperti bangkai

hidup berlanjut menguar tak menentu

diterbangkan ke arah

tanpa tahu

ke mana hendak dituju.

taman dan bunga mekar seketika layu

dunia lindap dan ditelan kekuasaan.

akhirnya

di Plantungan

semua bermuara.

tangan yang semula ringan jadi ringkih

langkah yang indah jadi gundah.

semua tak baik-baik saja.

politik bergejolak

hati yang semringah jadi gundah.

setelahnya, hari demi hari

akan berjalan dan berakhir di sini.

di tanah ini,

sebagai tapol

bertaruh hidup dan mati.

(Karanganyar, 2023)


BERSETIA PADA LEPRA

penderitaan tak pernah berakhir

dalam hidup ini

ketika lepra menghinggapi

dan semakin bersetia dengan diri.

di bekas rumah sakit ini

apa yang ditempati

tak jauh beda dengan neraka

sebab di sini kami bisa mati kapan saja.

lepra

adalah karib

bahkan jauh sebelum keberangkatan

menuju Plantungan.

konon, kebencian adalah wajah lain

dari penderitaan.

penderitaan itu nyata

kematian beterbangan

dan bisa hinggap kapan saja

tanpa memberi aba-aba.

entah lewat lepra

atau diembuskan mereka yang berkuasa.

mengapa dunia begitu kejam sejak manusia mengenal kekuasaan?

(Karanganyar, 2023)


TUDING

1/

hidup adalah nasib yang tergantung

di ujung jari telunjuk

orang-orang yang mengorbankan saudaranya

demi nyawa diri sendiri.

tanpa peduli kelak hidup atau mati.

nasib itu telah raib

sejak jari tangan diacungkan:

“Ia PKI, Ia penari,

Ia Gerwani, Ia penulis puisi.”

2/

apa yang diimpikan lesap.

apa yang dibayangkan hilang

tanpa sisa.

sebab, cap dan stigma sangat mahal

dan seringkali menakutkan.

segala yang ditunjuk

telah berubah jadi firman.

lantas, langit yang cerah

akan berubah kelabu

tanpa hujan, hanya rintihan.

3/

dunia ini

tak lebih dari kebohongan

demi menutupi siapa diri sendiri

sebab, ujung jari telah menjadi belati.

jika tak ingin mati,

maka jari telunjuk harus bekerja

agar bisa dipercayai.

(Karanganyar, 2023)


MARS

            : Paduan Suara Dialita

kenangan itu getir di bibir

dan tak pernah jadi senyum

ketika lagu-lagu didengungkan.

senyum itu

tak lebih dari penghibur dan pengabur

dari kisah masa lampau

yang tak akan pernah diampuni.

sebab masa depan telah beku.

tak ada lagi harapan

selain bersandar dan bertumpu

pada nyanyian.

lagu-lagu yang dikumandangkan

telah jadi penghibur

ketika masa lalu mencoba dikubur.

tapi tentu, seluruhnya lamat-lamat menguar begitu saja.

apa yang bisa dipercaya dari hidup ini?

seluruhnya kegamangan

seperti nada-nada sumbang

dari mulut orang-orang yang membenci

dan seringkali menuduh tanpa bukti.

(Karanganyar, 2023)


PELAJARAN DARI PENGASINGAN

dituduh tak jelas

dibuang paksa

diseret

diperkosa

dikencingi

diinjak-injak

dimaki-maki

disiksa

tak dimanusiakan

seutas tali panjang

sebuah jarum

sehelai kain panjang

tikar dari daun pandan

kebun bunga

menyiangi rumput

menyiram kembang

Bagaimana cara membalas dendam dengan baik dan benar?

(Karanganyar, 2023)


Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *