memberiku potongan spons cake mocca rich yang besar
yang punya mulut dan gigi
maka tubuhku masuk ke dalam spons cake mocca rich
seolah aku dimakan
lalu dari kepalaku
tumpah adegan-adegan mengerikan
seperti iblis yang meleleh jadi saus cokelat
tumpah ke mana-mana
di mana-mana
ia kuingat kemudian
dan perlahan
tak pernah datang
tak pernah pulang
ke dalam pelukan
atau pun kutukan
lenyap seperti disihir
evanesco
abrakadabra
hilang
di dalam spons cake mocca rich
tubuhku 40°
sendirian
2022
Ketika Aku Cemas
kierkegaard duduk di kamarku dan melemparkanku seribu lembar kain sutera
tidurlah aku sembari masuk ke matanya yang seperti lorong putih kosong
maka aku berada di antara ketiadaan yang amat luas
ke mana aku dilemparkan?
pada ketiadaan atau kekosongan?
malaikat berwarna putih memegang tanganku
ia tidak memiliki sayap
tapi memiliki ekor yang panjang seperti naga
ketika kuinjak ekornya
matanya terbakar
dan seluruh tubuhnya menjadi semerah neraka
aku di mimpi atau di neraka?
aku ingat pada setiap pertemuan dan perjamuan
yang datang dan yang hilang
lalu penderitaan meminjam wajah kehidupan
aku di mimpi atau di neraka?
begitu hidup masih saja kuterka
2023
Mimpi
seorang perempuan wangi susu
berdiri di ujung jariku ketika aku tidur
dari matanya yang sayu
aku menyaksikan;
seorang ibu yang beranak
dari perutnya keluar api
lalu mengental menjadi daging
lalu tuhan menyuruh menangis
lalu terbelalak;
iblis berjalan semakin dekat
semakin cepat
dan perlahan kelopak mataku jadi beku
2023
Di Meja Makan
fla yang warna merah
yang meleleh dari dalam roti itu
bukan rasa stroberi
darahku mendidih
muncrat ke atas meja
2023
Galuh Ayara, suka menulis cerpen dan puisi. Beberapa karyanya dimuat di beberapa media. Sudah menerbitkan Buku kumcer ‘Nyanyian Origami’ (2020) yang berisi kumpulan cerita pendek, dan ‘Pohon Insomnia’ (2022) yang berisi kumpulan puisi.
Sore ini kau disambut gerimis lembut saat baru saja tiba di rumah masa kecilmu. Kemarin kakak tertuamu menelepon, mengabarkan rumah itu akan diambrukkan, sesuai kesepakatan dengan dua kakakmu yang lain. Kau setuju-setuju saja, karena tak ada satupun dari kalian yang mau menempatinya setelah bapak dan ibu tiada.
Kau mengibaskan bajumu yang sedikit basah, sebelum masuk ke dalam rumah. Kakakmu bilang, kau bebas mengambil apa saja yang ada di dalamnya sebelum esok pak tukang datang. Barang pecah belah, kasur, selimut, dipan atau bahkan lemari, bisa kau bawa pulang. Sebenarnya, tak banyak barang yang tertinggal di sana. Semua barang-barang itu hanya barang lawas yang tak begitu berharga.
Luas rumah itu sekitar seratus meter persegi, tak begitu luas jika dibandingkan rumah nenek moyangmu zaman dulu. Rumah yang dulu kau tempati itu hanya berdinding kayu, berlantai pasir dicampur semen yang seperti dituangkan begitu saja. Yang penting saat musim hujan tidak becek dan saat musim kemarau debu-debu tidak beterbangan.
Orangtuamu memang bukan orang berada. Bapakmu hanya seorang petani yang sesekali ikut menemani Pak Lurah berburu kayu jati alas di hutan yang jauh dari kota provinsi. Nanti ia akan mendapatkan uang lelah dari Pak Lurah yang lumayan cukup untuk makan seminggu ke depan. Sedangkan ibumu seorang penjahit alusan yang cukup tenar di kampung. Kemampuan menjahitnya diturunkan dari nenekmu. Namun sayang, kemahiran menjahit yang turun-temurun itu hanya berhenti sampai ibumu saja karena dari kalian—empat bersaudara, tak ada yang mau mengikuti jejaknya. Apa yang diharapkan dari pekerjaan menjahit dengan upah yang tak seberapa? Begitu pikir kalian.
Saat kau memandangi rumah kayu itu, entah mengapa hanya kenangan buruk yang membekas di memorimu. Kenangan tentang hidup yang serba kekurangan. Tak ada canda tawa di meja makan, karena kau selalu berkeluh dalam hati kalau semua makanan itu tidak enak, tidak seperti di rumah temanmu atau tidak seperti makanan-makanan di iklan televisi. Tak ada daging maupun ikan. Hanya sayuran dan lauk dari kedelai yang tiap hari tersaji. Hubunganmu juga tidak terlalu erat dengan orangtuamu, bahkan dengan ketiga kakakmu juga setali tiga uang. Kalian selalu tenggelam dalam dunia masing-masing, hingga waktu berjalan begitu cepat dan memaksa kalian segera mencari uang demi masa depan yang layak.
Kau memutuskan masuk rumah ketika hujan mulai turun deras. Udara di sana cukup pengap, karena pintu dan jendela yang sudah lama tidak dibuka. Saat baru saja melangkah, kau disambut suara mesin jahit tua yang sudah mulai berkarat di ruang tamu milik ibumu.
“Jangan ambil aku!” katanya lantang. Langkahmu terhenti di depannya.
“Sejak kapan benda di rumah ini bisa bicara?” gumammu terkesiap heran.
“Kau tak tahu, aku yang selalu setia menemani ibumu setelah bapakmu wafat. Aku tak akan membiarkanmu mengambilku, karena aku masih ingin di sini!” Senyap untuk sementara waktu. Kau masih berusaha mencerna kata-kata si mesin jahit tua.
“Kenapa kau masih ingin di sini?” dengan suara lirih, kau beranikan diri bertanya.
“Karena ibumu masih sering mengunjungiku, di malam-malam larut yang tak pernah kau tahu. Sudah, kau ambil saja barang lainnya. Aku tak mau mempunyai tuan sepertimu!”
Kau melangkah lagi ke dalam, meninggalkan tanya di akhir kalimat yang diucapkannya. Pelan langkahmu menuju ruangan selanjutnya, padahal di pikiranmu, kenangan-kenangan semasa kecil sedang sibuk berlarian. Saat ibumu selalu menjahitkan baju terbaik untuk anak-anaknya. Bahkan di malam takbiran, saat semua orang bersuka cita, ibumu masih saja sibuk dengan mesin jahitnya. Memastikan anak-anaknya memakai baju baru di hari raya, walaupun baju itu terbuat dari kain-kain sisa pelanggan. Mungkin itulah yang membuat si mesin jahit tetap setia pada tuannya.
Saat langkahmu yang terasa panjang akhirnya tiba di dapur, kau disambut deretan barang pecah belah yang sudah memalingkan muka.
“Aku membutuhkan kalian, untuk menjamu tamu-tamuku.” Kali ini, kau beranikan diri mengajak mereka bicara. Memang sedari awal kau hanya ingin mengambil mereka saja, karena akhir-akhir ini usaha jasa pijat keseleo milik suamimu lumayan ramai. Kau tak punya lebihan gelas atau piring di dalam lemari, sehingga agak kewalahan saat menghidangkan kudapan untuk para pelanggan.
“Bagaimana kalau kami tak mau?” jawab si gelas.
“Kami adalah saksi betapa ibumu selalu baik pada tetangga. Tak terhitung betapa banyak makanan dan minuman yang sudah diberikan ibumu pada mereka, melalui kami. Kami tak mau kalau kau ambil, kami hanya akan berdiam saja di lemari!” Belum sempat kau menjawab, si piring sudah menimpali.
“Bukankah semenjak ibu pergi, kalian juga hanya berdiam di lemari?”
“Kau mungkin tak tahu, di sebuah malam yang larut, ibumu masih sering datang menyapa kami,” jawab sang mangkuk, tenang.
Kembali, kenanganmu terlempar pada masa lalu. Saat itu, kau merengek pada ibumu, minta dibelikan lemari pendingin. Kau tak mau tahu, kau lebih iri pada anak-anak tetangga seusiamu. Saat mereka lelah bermain lompat tali atau kasti kemudian mereka pulang mengambil minuman dingin. Entah itu es teh, es lilin atau sekadar air putih dingin, rasanya minuman itu sangat nikmat mengalir di tenggorokan. Namun kau tak berani meminta pada mereka walau hanya seteguk saja. Alhasil, tiap malam rengekanmu terbawa dalam mimpi dan igauanmu.
Kau hanya tak habis pikir, kenapa ibumu tetap bersikukuh tidak mau membelinya. Ibumu beralasan, lemari pendingin hanya akan membuat kalian menjadi orang yang pelit dan tidak mau berbagi. Alasan yang belum pernah kau dengar dimanapun. Mengapa ia tak jujur saja jika tak punya uang? Ya, begitulah watak ibumu. Dan pada kenyataannya, memang tak pernah ada makanan sisa. Para tetanggamu selalu berbahagia menerima makanan yang diberikan ibumu.
Langkahmu semakin berat, ketika kau sampai di kamar ibumu. Kali ini, kasur, dipan, meja dan lemari baju hanya diam. Tak seperti barang-barang lain yang berbicara. Namun rasanya hatimu malah perih tak terkira. Kebisuan mereka seolah-olah menyampaikan segala kesedihan ibumu. Kesepian di setiap malam, hanya berteman bantal dan guling dari kapuk yang sudah tak lagi empuk. Anak-anak yang jarang menelepon apalagi berkunjung. Mereka semua bilang sedang sibuk.
Kau teringat hari-hari ketika ibumu di rumah sakit. Kau dan kakak-kakakmu malah sibuk berdebat, siapa yang malam nanti giliran menjaga ibu. Kau berdalih, kondisi ekonomi yang kurang baik menjadikanmu harus terus sibuk mencari uang, bahkan hingga larut malam. Mana mungkin ada waktu untuk menjaga ibu. Dan kau yakin, kakak-kakakmu juga mempunyai alasan yang sama. Itulah sebabnya perdebatan kalian tak ada habisnya, bahkan hingga akhirnya ibumu tutup usia.
“Ambil saja salah satu dari kami.” Saat kau akan beranjak pergi, terdengar suara kasur memanggil. Tampaknya, ia berbeda dengan mesin jahit tua dan barang pecah belah.
“Walau aku sudah tidak empuk lagi, namun aku yakin, ibumu akan datang memelukmu di malam-malam larut saat kau berbaring di atasku.” Suara hujan di luar yang semakin deras menjadikan samar suara kasur hingga tak begitu terdengar.
Kau duduk di tepinya. Mengusapnya. Bukan mengusap kasur, namun mengusap bayangan ibumu yang pernah berbaring di atasnya. Matahari telah jatuh, dan malam kini menyergap. Kau pandangi seisi rumah. Selepas ibu pergi, semua barang di rumah ini—yang kau anggap tidak begitu berharga, telah menyadarkanmu tentang suatu hal.
Kau mengingat-ingat lagi, ibumu tidak pernah mengeluh walau uang yang diberikan bapakmu kerap tidak cukup. Beliau selalu menyediakan makanan, bahkan menanak nasi dan memasak sayur tiga kali sehari karena bapakmu kurang suka makanan yang sudah dingin. Kadang ibumu mencari daun pepaya atau daun singkong di kebun agar dapur kalian tetap mengepul. Tak lupa, ibumu tetap berbagi pada tetangga, walau keadaannya sendiri sedang kekurangan. Pun ibumu tetap menjahitkan baju terbaik untuk anak-anaknya, karena sadar uangnya tak cukup untuk membeli baju baru di pasar. Namun kau malah tidak bersyukur, karena menurutmu baju dari kain sisa tak akan pernah terlihat bagus di hari raya.
Kau hanya ingat kemiskinan kalian, namun lupa akan nilai-nilai luhur yang selalu ibumu contohkan. Benda mati di rumah ini baru saja memberi tahu bagaimana baiknya sikap ibumu. Mesin jahit memang tidak mau kau ambil, karena ia tahu hanya akan berakhir di tukang loak. Barang pecah belah yang tetap bersikukuh ingin di tempatnya, padahal kau sudah meminta. Itu karena mereka menganggap ibumu masih ada. Dan mereka tahu, kau tak akan sepandai ibumu dalam merawat mereka.
Akhirnya, malam itu kau tidak pulang dan memutuskan untuk tidak mengambil apapun dari rumah masa kecilmu. Kau biarkan dirimu terbaring di atas kasur kapuk yang tak lagi empuk. Kau ingin membuktikan ucapan mesin jahit, piring, gelas, mangkuk dan kasur, bahwa di malam-malam larut, ibumu akan datang berkunjung.**
Haniah Nurlaili, lahir di Sragen, 27 Mei. Bertempat tinggal di Gemolong, Sragen. Homedecorlovers dan suka menulis. Beberapa karya pernah dimuat. Dapat dihubungi melalui Instagram dan Facebook: @hanie_rahmadilla
Malam ketika Pohon Hayat tumbang, sekujur desa diempas badai laut yang menyasak genting rumah-rumah, menerbangkan tumpukan kayu bakar, membikin gidik orang-orang di bawah selimut, dan semua itu baru berakhir saat semburat matahari merangkak di langit timur. Pagi terasa tak biasa sebab wajah bulan masih tampak tegas meski terang telah sempurna. Suhu stabil di bawah rata-rata dan menguarkan aroma lembap seperti wajarnya dasar lembah.
Warga berkumpul di tengah desa, beberapa di antaranya masih dengan sarung lusuh di bahu, juga anak-anak di gendongan. Dugaan saling mereka lempar satu sama lain, tapi tatapan serempak mengarah ke bukit di mana Pohon Hayat kemarin sore masih berdiri kokoh. Jelas ketakutan ada di setiap mata mereka, menerka-nerka petaka apa yang bakal terjadi usai tumbangnya pohon keramat itu. Mereka percaya Pohon Hayat adalah tempat singgah dewa saat turun ke bumi, sehingga mustahil ada petaka terjadi di tempat dewa berada. Dan terbukti, semenjak desa itu berdiri dan dihuni kakek buyut mereka, tak pernah sekali pun ada wabah, pagebluk, bahkan kekeringan walau musim kemarau di titik puncak.
Menurut salah seorang warga yang semalam sempat ke lereng bukit—sesaat sebelum badai datang—untuk memasang jebakan babi, Pohon Hayat tumbang karena badai. “Sumpah, badai di bukit jauh lebih ganas ketimbang di desa!” Dia menggambarkan dengan saksama dan meyakinkan. “Iya, begitu!” tutupnya.
Umar Lewu, sesepuh desa sekaligus orang yang dianggap paling bijak itu, meragukannya. Pohon Hayat terlalu kokoh untuk roboh jika hanya diempas badai. Sebab jika pun dapat roboh oleh badai, pastilah Pohon Hayat sudah roboh sejak lama karena pohon itu telah berumur ratusan tahun. Dan nyatanya, hingga tadi malam, Pohon Hayat baik-baik saja, bahkan akarnya semakin kekar dan terus menjulur—memayungi puncak bukit—pertanda pohon itu masih tumbuh dan ingin terus hidup.
“Pasti semua ini berhubungan dengan kematian Puan Labiri,” celetuk yang keluar dari kerumunan.
“Celaka, ini sungguh celaka,” ucap Umar Lewu. Mimiknya tak bisa menyembunyikan resah. Jenggot peraknya bergerak-gerak disapu angin jinak. Ia menoleh ke arah Lajang Prema.
“Tidak ada hubungannya dengan perempuan itu. Pohon Hayat roboh karena badai. Akarnya tidak lagi kuat. Tadi pagi aku sudah memeriksanya,” tukas Lajang Prema. Tidak ada yang berani membantah maupun menimpali perkataan kepala desa muda dan tampan itu, sebab selain ia bilang telah memeriksanya, warga desalah yang merajam dan mengubur hidup-hidup Puan Labiri di puncak bukit.
Tak satu pun orang yang tahu asal-usul Puan Labiri. “Aku turun dari langit,” jawabnya setiap ada orang bertanya. Ia memang seperti itu, misterius sekaligus tak bisa dipahami. Ia datang pada suatu purnama, menuruni bukit sambil menggembol emas dalam karung, lalu mendirikan gubuk di sisi tenggara desa, menerima tamu lelaki hidung belang dari desa-desa tetangga, dan selalu bilang masih perawan. Pernah suatu kali Lajang Prema yang risi dengan desas-desus di antara warga, mendatanginya. Namun, Puan Labiri tak mengakui bahwa dirinya pelacur.
“Seorang pelacur pasti tidak perawan. Sedangkan aku masih perawan.” Puan Labirin melempar senyum manja. Senyum ajakan yang pasti bisa dipahami semua lelaki normal. Ia juga sedikit menggigit bibir bawah tapi tak sampai mengoyak gincu merahnya.
“Aku tak mengerti maksudmu.”
Puan Labiri tertawa lirih sembari tangan kirinya memilin rambut yang menjuntai di depan telinga. Tawa yang tampak tak kalah manja dari senyumnya.
“Selalu ada cara untuk memuaskan lelaki tanpa harus melakukan apa yang kamu kira. Ya, mereka lemah, sangat lemah dan mudah ditangani. Bukankah begitu, Tampan?”
Lajang Prema tak benar-benar mengerti dengan maksud Puan Labiri, tapi jawaban yang ia terima itu terasa menyinggungnya. Ia berdiri, dan sebelum melenggang pergi berpesan agar Puan Labiri tak lagi menerima tamu hidung belang. Jika Puan Labiri abai, Lajang Prema tak bertanggungjawab kalau-kalau warga yang geram melakukan hal-hal nekat.
Sejak hari itu, Puan Labiri mengunci diri, membiarkan para hidung belang keleleran di depan gubuk tanpa kepastian. Beberapa di antaranya memuntahkan isi peler ke pintu gubuk saking jengkelnya, lalu pergi dengan umpatan tak keruan. Terus seperti itu adanya sampai beberapa pekan, hingga akhirnya tak ada lagi hidung belang yang datang. Seperti ada yang hilang dari diri mereka, semacam kehilangan setengah semangat hidup.
Tak ada lagi kasak-kusuk di desa. Semua kembali seperti sediakala—para suami menggarap sawah dan istri mengurus anak dengan tenang. Desa tak lagi jadi tempat wara-wiri orang asing. Sampai akhirnya pada suatu sore, saat Lajang Prema khusyuk memuntir beberapa butir kelapa muda di atas pohon, salah seorang warga datang dan sembari tergopoh mengatakan bahwa Puan Labiri mengamuk di desa. Gegas Lajang Prema turun, melorot dari batang kelapa seperti tak hirau kalau-kalau tangan dan kaki dapat lecet karenanya.
Puan Labiri yang tanpa sehelai pun kain, dikepung warga, tubuh mulusnya menjadi tontonan yang menjanjikan bagi para lelaki, tapi tak begitu bagi istri mereka. Dalam teriakan histeris dan tangis yang pecah, Puan Labiri mengatakan ada yang merampas kesuciannya dan itu dilakukan oleh salah seorang lelaki di desa ini. Namun belum sempat ia mengucapkan nama si pelaku, sebuah batu dari arah kerumunan menyasar kepalanya. Seperti yang sudah-sudah, ketika sesuatu dimulai maka selalu ada yang meneruskan. Batu-batu seperti latah beterbangan, menghantam sekujur tubuh Puan Labiri hingga membuatnya tersungkur. Para bini tampak bersemangat sebab dalam benak mereka, apabila yang dikatakan Puan Labiri bukan fitnah, berarti bisa saja laki mereka pelakunya, dan itu akan membikin aib. Maka salah satu dari mereka berteriak kencang, “Kubur hidup-hidup perempuan itu di bukit! Biar dewa menghukumnya!”
Saat Lajang Prema sampai di tengah desa, tak didapatinya satu pun orang. Ia mengedar pandang. Di sekian jarak, ia melihat arak-arakan warga menuju puncak bukit. Ia memicingkan mata, menghalau sinar matahari yang semakin datar untuk menajamkan pandang, memastikan dugaan. Seorang perempuan telanjang diikat pada pergelangan tangan dan kaki, ditandu dengan sebatang kayu. Tanpa pikir panjang, Lajang Prema berlari menyusul mereka sebab mengerti hal buruk bakal terjadi.
Terlambat. Lajang Prema harus melintasi pematang lima petak sawah dan menyeberangi tiga anak sungai, sehingga tak sempat ia menyusul. Sesampainya di puncak bukit, ia mendapati gundukan tanah yang masih basah, sekitar dua puluh depa dari Pohon Hayat. Ia tertunduk, mundur beberapa langkah hingga tersandar pada sebuah batu. Pikirannya terlempar pada kemarin malam, ketika pulang dari desa tetangga dan hujan turun lebat, hingga ia harus berteduh di depan gubuk Puan Labiri. Ia mendengar suara lenguhan lelaki. Pikirnya, pastilah Puan Labiri tengah melayani hidung belang dan itu berarti ia tak mengindahkan peringatan Lajang Prema. Maka dengan sedikit ragu, Lajang Prema mengintip dari celah dinding kayu. Suasana di dalam gubuk cukup remang karena hanya diterangi api teplok. Betapa terkejutnya ia saat melihat Umar Lewu yang setengah telanjang tengah merangkak di atas Puan Labiri, membikin suara decit ranjang. Tatapan dingin dari Puan Labiri kepada Umar Lewu amat sulit diartikan Lajang Prema.
“Jangan kamu lakukan itu. Aku harus terus perawan,” ucap Puan Labiri dengan intonasi datar sembari membuang muka ke samping.
“Kenapa begitu? Bagaimana jika aku meminta lebih?” timpal Umar Lewu.
“Akan terjadi petaka di desa ini.”
“Tidak. Tidak akan ada petaka terjadi di tempat ini selama masih ada Pohon Hayat.”
Umar Lewu menindih, menancap, seperti katak hijau yang menempel di batang pohon, menikmati setiap jengkal tubuh Puan Labiri. Lajang Prema mengikuti pemandangan yang berlangsung tak cukup lama itu. Detik terasa berjalan amat lama, dan dadanya berdesir hebat, hujan pun turun menderas.
Selesai dengan hajatnya, Umar Lewu segera melompat dari ranjang, lalu membuka pintu gubuk. Ia terkejut saat mendapati Lajang Prema berdiri dalam sikap sempurna. Keduanya tak saling berucap, diam, hanya saling tatap dan seolah dapat saling mengerti, seperti dua maling yang bertemu di rumah korban yang sama. Tak lama kemudian, Umar Lewu berlari menuju hujan, lantas perlahan hilang di antara pekatnya malam. Sedangkan dari pintu yang terbuka, Lajang Prema melihat Puan Labiri tengah terbaring di atas ranjang dengan mata tertutup, tapi jelas air mata terus mengalir di pipinya. Lajang Prema melangkah masuk, menutup pintu gubuk dengan sangat perlahan, lalu meniup api di teplok hingga padam.***
Panji Sukma, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Menulis beberapa buku dan lagu. Buku terbarunya berjudul Kuda diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
Setelah pertengkarannya dengan Mae, di antara suara isak tangis juga angin yang menerpa wajahnya, Hasbi akhirnya mensyukuri keberadaan benda di tangannya. Benda yang terlihat bergaris dua itu menjadi penyelamatnya. Hasbi tersenyum samar menatap benda yang sedikit berbau pesing itu, meski sebelumnya benda itu pula yang memantik amarahnya seolah Mae sedang mengencingi wajahnya.
Lima belas menit yang lalu, Hasbi menerima benda yang disodorkan Mae dengan tangan bergetar. Mae membangunkan Hasbi yang masih bergelung dengan sarung dan gulingnya di atas kasur tipis di lantai yang terletak di sebelah ranjang. Hasbi bergeming menatap benda yang disodorkan Mae. Hasbi pernah melihat benda serupa saat dia memergoki teman sekolahnya menangis di toilet perempuan. Benda kecil yang membuat temannya harus dikeluarkan dari sekolah. Dengan mata yang masih mengantuk, Hasbi mengalihkan pandangan dari benda di tangannya kepada Mae dengan wajah penuh tanya.
“Aku hamil,” ucap Mae singkat dengan wajah yang datar tanpa rasa bersalah.
Perempuan itu kemudian beranjak lagi ke atas ranjang sambil memijat-mijat dahinya, seolah ucapannya hanya angin lalu yang tak perlu ditanggapi oleh Hasbi. Mae memang tidak membutuhkan tanggapan Hasbi, dia hanya merasa perlu memberitahukan informasi itu karena Hasbi adalah suaminya. Mae tak peduli pada raut wajah Hasbi yang berkerut. Alih-alih merasa bahagia karena istri yang dinikahinya satu tahun lalu itu mengandung, Hasbi justru bingung dan merasa seolah Mae sedang mempermalukannya. Hasbi membeku di tempatnya.
Kedua mata Hasbi terus menatap benda di tangannya. Akan tetapi pandangannya tidak pada benda itu, melainkan tembus pada kejadian satu tahun lalu. Hasbi baru lulus SMA saat itu. Dia melihat Pi’i, Bapak Mae, duduk di ruang tamunya. Jantungnya kebat kebit apalagi setelah mendengar penuturan ibunya.
Seolah memahami kebingungan anaknya, Zubaidah memberi penjelasan. Sontak saja Hasbi terperangah. Hasbi semakin bingung karena melihat wajah ibunya yang semringah. Terdengar suara berdehem dari Pi’i. Suara berat itu membuat nyali Hasbi ciut. Lelaki bertato itu selalu berhasil memaksakan kehendaknya kepada Hasbi.
“Aku mau kamu menikah dengan Mae. Kudengar kamu teman dekat Mae, dia sering menyebut-nyebut namamu.”
Hasbi semakin terkejut. Sejak kapan Mae menjadi teman dekatnya? Hasbi bergumam dengan dahi berkernyit. Siapa yang tidak mengenal Mae di sekolah, perlakuannya kepada Hasbi tentu tak bisa diartikan mereka berteman.
Menikah dengan Mae? Itu artinya …. Hati Hasbi merintih.
“Akan ada imbalannya, tenang saja. Aku sudah bicarakan dengan Zubaidah, biaya sekolah adik-adikmu aku yang tanggung. Selama kamu menjadi suami Mae dan bersikap baik, kamu dan adik-adikmu aman. Bagaimana?”
Hasbi menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Dia menoleh pada ibunya yang sedang menoleh ke arahnya. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya akan menikah dengan orang yang selalu mengganggunya di sekolah. Mae tentu tak akan diam saja jika mengetahui bapaknya akan menikahkannya dengan Hasbi.
Dan kenyataannya Mae memang menolak dengan keras rencana perjodohan itu. Dia tidak mau menjadi ejekan teman-temannya. Mae bergidik jijik membayangkan harus satu ranjang dengan lelaki kurus, dekil yang rambutnya selalu diminyaki itu. Dia tahu dirinya bersalah. Bapaknya teramat marah saat memergoki Mae berduaan dengan Arifin tanpa pakaian di sebuah gerbong kereta tua. Kejadian itu membuat Pi’i mengurung Mae selama satu bulan di kamarnya.
Pernikahan Mae dan Hasbi dianggap sebagai jalan keluar terbaik menurut Pi’i. Satu bulan setelah lamaran itu, pernikahan akhirnya di gelar. Pi’i tidak peduli penolakan Mae serta kebingungan Hasbi. Hasbi tidak punya pilihan karena dia harus membantu ibunya membiayai sekolah adik-adiknya. Lagipula, Hasbi selalu tidak kuasa menolak permintaan Pi’i.
“Ingat, ya. Kita hanya menikah pura-pura. Jangan coba menyentuhku,” ucap Mae di malam pertama pernikahan mereka.
Ijab Kabul sudah dilaksanakan pagi tadi. Acara selamatan dan resepsi sudah digelar dengan sederhana di halaman rumah Mae. Di malam pertama mereka menikah, Mae sangat menolak berdekatan dengan Hasbi. Mae tidak pernah mengijinkan Hasbi mendekat ke ranjang. Selama satu tahun mereka tidur terpisah. Hasbi menggelar kasur tipis di lantai sementara Mae menguasai dipan. Sampai pagi ini, saat Mae mengatakan dirinya hamil, Hasbi sama sekali belum pernah menyentuhnya.
“Anak siapa ini, Mae?”
Hasbi terbangun dari lamunannya. Dia menoleh pada Mae yang sudah berselimut di atas kasur. Mae tidak menjawab, dia hanya mengusap wajahnya yang berkeringat sambil menahan mual yang mulai mengganggunya.
“Bagaimana kamu bisa hamil?” desak Hasbi, menghampiri Mae.
“Tidak perlu marah begitu. Sejak awal bukannya kamu tahu bahwa pernikahan ini memang hanya tameng?” Mae menatap tajam kepada Hasbi.
“Bukankah kehamilanku memang diperlukan supaya kamu bisa terus hidup dengan duniamu? Supaya orang-orang tak lagi berkasak-kusuk membicarakanmu yang dianggap aneh oleh mereka?” Mae mencerca Hasbi dengan pertanyaan yang membuat Hasbi gemetar.
“Terima saja kehamilanku. Aku juga tidak tahu siapa bapaknya. Anggap saja anak ini penyelamatmu, maka balaslah dengan menjadi bapak yang baik juga untuknya. Sama-sama diuntungkan, bukan? Kita berdua butuh tameng untuk menutupi kebusukan kita masing-masing.”
Mae tersenyum sinis menatap Hasbi yang terlihat terkejut dan pucat pasi. Mae berbalik, memunggungi Hasbi dan sibuk dengan rasa mual di perutnya. Sementara Hasbi membeku. Bulir hangat mengalir di pipinya.
Perkataan Mae membuatnya teringat pada kejadian tujuh tahun lalu, saat usianya masih dua belas tahun. Siang itu Pi’i datang mengetuk pintu rumahnya. Hasbi bergegas membuka.
“Ibu masih di pasar,” ucap Hasbi.
Pi’i hanya tersenyum kemudian masuk. Lelaki itu memang kerap datang. Hasbi mengenalnya karena Pi’i sering membantu ibunya mengangkut barang dagangan di pasar. Pi’i petugas parkir sekaligus preman pasar. Dia lelaki yang baik dan sering membantu keluarga Hasbi. Bahkan Hasbi sempat berpikir bahwa Pi’i tertarik pada ibunya yang sudah menjadi janda sejak usía Hasbi tiga tahun.
Penilaian Hasbi kemudian berubah 180 derajat saat Pi’i mendekat dan menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Hasbi berusaha memalingkan wajah. Pi’i terus mendekat, mendesak dan dengan tangannya yang kekar menarik Hasbi. Hasbi nyaris berteriak sebelum tangan kiri Pi’i membekap mulutnya.
Sejak kejadian siang itu, Pi’i kerap datang. Dia terus mengulangi perbuatannya kepada Hasbi. Parahnya, setelah usía Hasbi beranjak remaja, ada satu hal yang disadarinya. Dia seringkali merindukan sentuhan lelaki dewasa, seperti Pi’i menyentuhnya. Hasbi sangat tahu itu salah, tetapi hasratnya kerap tak bisa dibendung. Dia mulai terbiasa dan merasa nyaman dengan keberadaan Pi’i.
“Kamu tinggal saja di rumahku. Mae membutuhkanmu, begitu juga aku,” bujuk Pi’i sebelum día datang melamar Hasbi kepada Zubaidah.
Ingatan itu membuat Hasbi menggigil ketakutan. Dia beranjak keluar kamar meninggalkan Mae yang masih berselimut di atas ranjang. Hasbi mengayuh sepedanya, menjauh dari rumah. Dia memang butuh tameng untuk menutupi masa lalunya.
Tapi bayi itu tidak bersalah, Hasbi menggumam sambil menyeka sudut matanya.***
Jembrana, 27 Desember 2022
Puspa Seruni, penulis kelahiran Situbondo-Jawa Timur yang saat ini menjadi pengajar di Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana, Bali. Penulis terpilih sebagai Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022.
Dengan penuh sukacita aku melenggang menuju halaman. Mesin Vespa Sprint sudah dipanasi, setengah berlari aku segera naik dek depan meski kendara masih dijagrak dua. Tuas gas kuputar beberapa kali, raungan dan kepulan asap terasa meriah secerah hari.
Ayahku melenggang dengan kaos oblong dan celana pendek, tangan kirinya menenteng seperangkat alat pertukangan dan listrik dari dalam rumah lalu memasukkannya ke jok samping vespa.
Segeralah kami berangkat menuju gereja.
“Pegangan,” tutur ayahku.
Turut bersamaan dengan ucapan itu, kedua jemari kuletakkan di atas spedometer vespa, mengail-ngail apa yang bisa dijadikan pegangan. Perjalanan menuju gereja terasa menyenangkan, langit cerah meskipun pagi sudah mulai terasa gerah.
***
Ayahku seorang tukang kebun di sebuah SD Kristen di kota. Setiap hari ia sibuk di sekolah bekerja dan membersihkan apa saja. Tak hanya itu, ayah juga tukang kayu yang handal. Dengan tangannya yang piawai segala perkakas sekolah yang patah dan rusak bisa ia perbaiki.
Di rumah pun begitu, setiap kali pintu diketuk oleh tetangga, ayah selalu menerima keluhan dan kemudian disempatkan untuk ke rumah tetangga dan menyelesaikan masalah mereka. Memperbaiki apa saja. Talang bocor, jalur listrik mati, genting pecah, hingga membantu membenahi kandang ayam juga pernah dilakukan oleh ayahku.
Tidak seperti sekolah negeri, sekolah ayahku biasanya memang libur lebih dahulu jika menjelang natal. Seperti biasanya, hari libur pun tak mengurangi porsi ubêt-nya ayahku. Selain membantu ibuku membersihkan seluruh rumah, men-service kompor lalu mencat ulang ruangan, ayahku akan membuatkan pohon natal versi terbaiknya. Tiap tahun selalu berbeda. Terkadang pohon natal itu dibuat dari pohon utuh, lalu dari kardus, ada lagi dari botol plastik bekas, tahun ini ayahku membuatnya dengan ranting-ranting kering. Selalu ada kejutan setiap akhir tahun.
***
Kami sampai di jalan depan gereja, suara latihan paduan suara lantun terdengar. Lalu suara vespa seperti menyambar nada indah bertalu. Setelah bebek besi terhenti, aku berlari menuju pastoran, ayahku berjalan di belakang. Melihat kami datang, Pak pendeta menyambut, ketika berhadapan ia tersenyum lalu mengelus rambutku. Ayahku mempercepat langkahnya.
“Maaf Pak Pendeta perjalanan molor, tadi kami harus memutar jalan karena jembatan dusun kami rusak terkena banjir semalam.”
“Ah, tak masalah Pak Yosef, masih ada jalan yang lain menuju kemari, tho? Mari masuk dulu.”
Selepas banyak kelakar tentang kabar, pak pendeta kemudian mengajak kami ke ruangan utama gereja. Ruangan yang sebenarnya hanya disekat tripleks dengan ruang tamu pastoral tempat kami menyeduh teh buatan ibu pendeta.
Beberapa jemaat sudah di situ menghias pintu dan dinding dengan pita dan balon. Sebuah salib besar dari kayu jati menggantung persis di belakang mimbar, aku sangat kenal salib itu, salib yang dibuat juga oleh ayahku. Sebuah pohon natal kecil ditaruh di atas kursi berbahan besi supaya terlihat lebih menjulang tinggi terletak di samping kanan mimbar. Ruang tempat pak pendeta memberikan kotbah jadi lebih meriah.
“Begini Pak Yosef, saya ingin ada palungan kecil nanti ditaruh di bawah pohon natal itu, bisakah njenengan membuatnya, supaya mengingatkan kita pada kelahiran Sang Juru Selamat.”
“Tentu saja bisa Pak Pendeta, namun apakah Pak Pendeta punya kayu untuk bahan membuatnya?”
Pak pendeta hanya termenung cukup lama. Ia tampak kebingungan dan mulai menggaruk kepalanya.
“Atau apa saja, Pak. Ndak harus kayu.”
“Coba kau lihat di gudang saja, Pak Yosef.”
Pak pendeta kemudian mengajak ayahku ke belakang bangunan gereja, ke gudang pribadinya. Aku mengekor di belakang. Tempat yang dinamai gudang ini sebenarnya lebih mirip kandang domba karena hanya berwujud kotakan sederhana dari bambu lalu diberi atap sekenanya dari tripleks bekas. Di situ ayahku membolak-balik beberapa barang, kemudian menemukan keranjang sepeda yang sudah tak terpakai.
“Nah ini saja, Pak.”
Dengan sigap ayahku kembali ke Vespa, mengeluarkan peralatannya, memotong beberapa bagian keranjang bekas itu supaya lebih pendek dan menjadi mirip peti kecil. Lalu dengan agak malu meminta beberapa lembar kapas kecantikan milik ibu pendeta untuk ditempelkan pada peti tersebut. Ibu pendeta hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tak kurangnya akal ayahku. Keranjang sepeda bekas sekejap kemudian menjadi palungan putih bersih dan kosong. Setelah dihaturkan ke pak pendeta, lalu beliau sendiri yang meletakkan di bawah pohon natal. Tersenyum kembang bahagia pak pendeta.
“Selalu ada jalan lain kan, Pak Pendeta,” kelakar ayahku.
Menjelang tengah hari, ibu-ibu paduan suara tadi bersama ibu pendeta memasakkan mie instan untuk kami makan bersama. Sederhana namun sangat nikmat.
—
Seperti tidak sabar aku mandi pagi-pagi sekali, ayahku sudah menyemir sepatunya, sementara ibuku tak masak hari ini. Ia memilih membeli bubur di tetangga supaya segera bisa tepat waktu ke gereja. Ayahku menggunakan setelan jas terbaiknya, sedang ibu mengenakan dres berwarna biru.
Setelah sarapan, dan segala sesuatunya siap, ayahku memimpin doa jelang berangkat. Vespa Sprint itu dipanasi lagi. Setengah berlari aku segera naik dek depan meski kendara masih dijagrak dua. Tuas gas kuputar beberapa kali, raungan dan kepulan asap terasa meriah secerah hari.
—
Setelah penyalaan lilin dibarengi dengan Malam Kudus, Pak pendeta memulai kotbah Natalnya.
“Mari kita buka Alkitab kita, Matius 2;
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.”
Demikianlah, ayahku hanya tersenyum sembari manggut-manggut melirikkan matanya ke arah palungan.
Selalu ada jalan lain.**
Selamat Natal.
Sragen, 24 Desember 2022.
Indra Agusta, tinggal di Sragen, alumni kelas kepenulisan Cerpen KOMPAS (2020), dan kelas resensi KOMPAS (2021). Novel pertama Padma Jalma (Rusamenjana, 2022). Bergiat aktif di komunitas pencinta Jawa Kuna Sraddhasala dan Maiyah Suluk Surakartan. Bisa dihubungi di panawijen@gmail
Todo adalah lelaki bernasib mujur sampai ia bertemu lelaki bercodet sepanjang telunjuk di dahi kiri pada suatu siang yang sangat terik. Saking panasnya, ia merasa jarak pemisah antara kepalanya dan matahari hanyalah selembar plastik. Todo sedang berjalan di emperan terminal dengan ransel padat di punggung. Ia berjalan setenang orang saleh sampai Lak Wahar, lelaki bercodet itu menjambret ponselnya dan berlari secepat rusa.
Lelaki sialan itu sudah berbelok ke suatu gang ketika Todo baru sadar akan situasi yang terjadi. Ia berteriak, terengah-engah menyebut kata ‘maling’. Puluhan kali ia meneriakkan kosakata itu, namun tak seorang pun beranjak dan sekadar bertanya, “Pergi ke mana malingnya?” Tidak ada. Orang-orang yang tengah makan siang dan minum kopi di warung bergeming. Begitu pula para pengguna jalan, sopir angkot, tukang ojek, pedagang asongan, pemarkir liar, seorang petugas lalu lintas di kejauhan—mereka tetap terpaku pada pekerjaan masing-masing.
Todo mengutuk orang-orang yang hanya menonton nasib buruknya. Setelah kata ‘maling’ tak digubris siapa-siapa, dengan volume sedikit lebih keras, ia melemparkan makian sambil mengedarkan pandangan kepada muka-muka yang bisa dijangkaunya.
“Dasar pecundang kalian semua! Goblok! Ada orang kesusahan cuma planga-plongo. Pecundang!”
Di satu deretan kursi, sekelompok tukang ojek memelototi Todo seraya menggeleng-gelengkan kepala.
“Orang sinting!” umpat seorang tukang ojek berjaket hitam yang mengenakan kaos Juventus.
“Dia pikir dia saja yang pernah kemalingan. Kayak baru kenal dunia saja,” ujar seorang yang lain setengah mencibir.
Sebetulnya Todo tinggal menumpangi satu angkutan lagi ditambah berjalan kaki kira-kira lima menit sebelum tiba di rumahnya. Istri dan anaknya yang genap berumur setahun sebelas hari lalu sudah menunggunya. “Yah, kabari ya kalau sudah naik angkot.” Demikian pesan istrinya.
Angkot yang menuju ke arah rumahnya tak terhitung melintas di hadapannya. Ia bisa segera menaikinya kalau mau. Namun, bara dalam dada Todo belum padam. Ia masih belum rela ponsel kesayangannya lenyap begitu saja. Ia ingin mengejar penjambret kurang ajar itu sampai dapat dan membayangkan akan menghajar mukanya sampai sebonyok bangkai tikus terlindas ban truk.
Todo sekilas melihat wajah Lak Wahar. Sekilas artinya sebentar saja dan tidak banyak yang dapat ia ingat. Yang paling diingatnya adalah codet seukuran telunjuk di jidat orang itu. Ingatan tentang codet membuat Todo terkesiap. Ia berusaha menggali ingatan lain perihal penjambret tadi, tapi tak kunjung mendapat detil yang lebih lengkap. Setelah mengeratkan ransel di punggungnya, Todo berlari, menuju gang tempat si penjambret berbelok. Dadanya berdebar-debar.
***
Sepuluh tahun lalu Todo adalah seorang anak SMA yang lurus belaka. Ia tak punya catatan buruk selama di sekolah dan nilai rapornya juga melulu menerbitkan senyum bangga di wajah kedua orang tuanya. Namun, sebagaimana lazimnya remaja puber, hatinya pernah disusupi gairah cinta. Gairah itulah yang kemudian membuatnya berani menerima tantangan Harwo, murid kelas lain yang sesumbar mengaku sebagai satu-satunya orang yang berhak menjadi kekasih Melati. “Hadapi gua kalau ada yang coba-coba berani mendekati Melati.”
Harwo memang seorang murid yang berada di kutub berseberangan dengan Todo. Kalau Todo tergolong dalam murid baik-baik, tidak demikian Harwo. Harwo adalah kepala geng kelompok murid nakal yang hobi tawuran dan mengganggu anak-anak lemah. Sementara peringkat Todo di kelas selalu berada di puncak, Harwo adalah antitesanya, kemampuan akademiknya terbenam sedalam lumpur tempat anak-anak pada masa itu bermain kala musim hujan.
Maka tibalah hari itu, hanya beberapa pekan sebelum ujian akhir sekolah diselenggarakan. Disaksikan beberapa murid lain, Todo dan Harwo berdiri berhadap-hadapan di lapangan belakang sekolah. Lima puluh menit sebelumnya bel pulang berbunyi. Lingkungan sekolah sudah melompong. Tinggal ada petugas kebersihan dan satpam yang tak begitu memedulikan apa-apa yang terjadi di luar jam sekolah.
Keduanya saling menatap dengan pandangan beringas seolah sepasang macan yang hendak mencabik diri masing-masing. Postur tubuh mereka terbilang setara. Tidak ada yang kelewat lebih tinggi atau lebih gemuk. Menit-menit awal mereka berdiam-diaman. Tidak ada yang terburu-buru menyerang. Sorak-sorai kian menggeru di sekeliling mereka. Dada yang panas pun kian berapi-api. Akhirnya, setelah sekira tujuh menit kesunyian, Todo dan Harwo sama-sama bergerak maju, melayangkan pukulan, dan… Bam! Mereka terkena pukulan masing-masing. Namun, lantaran kekuatan pukulan yang lebih baik dan jam terbang perkelahian lebih banyak, pukulan Harwolah yang mampu menjatuhkan lawan tanding, bahkan Todo sampai tersungkur tak bangun-bangun beberapa lama di atas tanah. Sedangkan pukulan Todo yang tipis saja mengenai pipi Harwo, hanya membikin pipi Harwo agak perih. Tapi, bagi Harwo, itu bukanlah apa-apa.
Berhasil menjatuhkan Todo, Harwo menepuk dada bangga. Sebelum pertarungan, keduanya bersepakat, siapa yang jatuh duluan maka ialah yang kalah dan harus menjauh dari Melati.
Todo yang masih terbujur kesakitan, memandangi lekat-lekat sebuah benda keras dan panjang yang tergeletak sejangkauan tangan darinya. Pelan-pelan, ia mengangsurkan tangannya menuju benda itu. Saat Harwo masih berlari-lari kecil penuh jemawa mengelilingi lapangan, Todo sudah menggenggam benda itu. Ia bangkit cepat, menyabitkan kawat besi tersebut kepada Harwo yang tak pernah menduga bakal mendapat serangan dadakan. Kawat itu menggores dahi kiri Harwo. Menyisakan rasa perih yang sangat. Sebagai balasan, Harwo mendorong tubuh Todo, memukul dan menendanginya berkali-kali.
Todo pingsan. Satpam sekolah melerai keributan itu. Beberapa minggu setelahnya, ujian akhir sekolah diadakan. Todo lulus dengan nilai sangat memuaskan. Sedangkan Harwo sudah lebih dulu dikeluarkan dari sekolah gara-gara membikin pingsan Todo. Sejak itu, ia tak lagi bersekolah, dan sejak itu pula orang-orang menjauhinya—termasuk Melati, perempuan yang begitu dicintainya.
***
Todo akhirnya menemukan penjambret itu. Lelaki bercodet itu tengah menyuapi seorang anak kecil yang tampak lungkrah ketika Todo memapasinya di suatu rumah papan yang berada di pojok gang.
“Hei, kau!” seru Todo.
Lelaki bercodet menoleh. Seorang perempuan muda—istri lelaki itu sekaligus ibu dari bocah yang disuapinya—mengambil sang bocah dari si lelaki.
“Hapemu sudah kujual,” kata lelaki bercodet. “Aku terpaksa harus menjambret barangmu itu untuk membeli makanan dan obat buat anakku.”
Suara lelaki itu lemah. Tak terlihat seperti orang yang belum lama dengan gagah dan nekat melakonkan penjambretan. Istrinya mendekap anaknya yang bermuka pucat lebih erat.
“Namaku Lak Wahar. Kau Todo, kan?”
Kini, Todo yakin sudah dengan apa-apa yang diduganya. Lelaki itu betul-betul Harwo, yang sudah bermalih nama menjadi Lak Wahar. Meski namanya sudah berubah, namun Todo masih bisa mengenalinya. Terutama karena codet di dahi kirinya itu. Codet yang dibuatnya sebagai sejarah luka di tubuh Harwo bertahun-tahun lalu.
Sejak lama Todo ingin menebus dosanya atas Harwo. Bagaimanapun, dirinyalah yang menyebabkan Harwo mesti dikeluarkan dari sekolah sehingga mengalami rentetan kemalangan sampai sekarang. Paling tidak itulah yang dilihatnya. Harwo menempati rumah yang jauh dari kata layak. Rupa istrinya polos tak disepuh riasan, juga anaknya yang tampak penyakitan.
Todo pikir, merelakan ponsel miliknya bisa menjadi tebusan yang sepadan atas dosa masa silamnya.
“Tak apa. hapeku itu untukmu saja. Anggap saja itu permintaan maafku karena kesalahan yang dulu pernah kuperbuat kepadamu.”
Pandangan Lak Wahar menyelidik. Lalu, ia menunduk dan berubah mengiba. Lelaki bertubuh liat dengan bentuk rahang yang keras itu tiba-tiba menangis sesenggukan. Refleks, Todo mendekatinya dan berusaha menenangkannya. “Tak apa. Tak masalah. Kau lebih membutuhkan itu daripada aku.”
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud mencuri. Aku sama sekali tidak mau melakukan perbuatan biadab itu kalau saja bukan karena terpaksa. Lihat, anakku ini, ia tidak makan berhari-hari.”
Lak Wahar semakin mengiba. Todo mengusap-usap punggung lelaki yang tengah menunduk itu. Mata Lak Wahar menerka bagian belakang tubuh Todo. Sesaat saja.
“Ya sudah. Gunakanlah uang hasil penjualan hapeku itu untuk keperluanmu dan anak-istrimu. Aku ikhlas.”
“Terima kasih,” ujar Lak Wahar.
Tak berapa lama, Todo pamit undur diri. Ia mesti segera menuju rumah. Melati dan Mawar—istri dan putri semata wayangnya—pasti sudah tak sabaran menantikan kedatangannya. Ia sengaja tak mau lama bercakap-cakap dengan Lak Wahar. Ia merasa tidak nyaman sejak menginjakan kaki di depan rumah papan itu. Ia ingin lekas pulang, menciumi istri dan anaknya, dan memberikan mereka oleh-oleh yang telah dibelinya di kota seberang, tempat ia menghabiskan beberapa waktu belakangan untuk bekerja.
Todo menghentikan sebuah angkot. Angkot yang sepi. Hanya ada ia seorang diri. Dua menit setelah angkot berjalan, Todo memeriksa saku celananya. Kosong. Dompetnya hilang! Dompet berisi uang yang telah dikumpulkannya selama bekerja di luar kota. Dari jendela angkot, ia memandang panik ke arah luar. Di sana, di suatu trotoar, dua orang sedang berkejar-kejaran. Ia tak mengenal siapa lelaki yang berada di posisi belakang. Tapi ia tahu betul, orang yang berada di depan sambil menggondol sepucuk tas dan sedang dikejar-kejar itu tak lain adalah Harwo—yang sudah berganti nama jadi Lak Wahar!***
Tambun Selatan, 11 Juli-30 November 2019
Erwin Setia lahir tahun 1998. Penulis lepas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].
Moncong perak perahu sandek telah memagut bibir pantai pulau Kapuang, tempat di mana Badri menjalani nasib hidupnya. Sore ini arah angin memang sedang tidak bersahabat. Badri tahu gelagat alam demikian pertanda badai kemungkinan datang. Belumlah kepisnya terisi penuh, Badri terpaksa puas dengan enam ekor ikan sunu. Hasil yang tak sebanding daripada biaya perahu sandek yang ia sewa.
“Lupa mi jadi nelayan?” ketus Haji Jalili, memamer gigi taring emas sambil menulis nama Badri di buku catatan utang.
“Biasa tidak cepat ji cuaca berubah, Pak Haji. Saya pikir bisa maki melaut sampai malam.”
“Banyak sekali alasan ta’,” tanggap Haji Jalili, “Tunggakan ta’ tujuh ratus lima puluh ribu, nah. Aih, coba ada anak, Badri, bisa nanti kita wariskan ini,” tandasnya seraya menguar tawa.
Badri cuma tertunduk dan mengangguk. Lepas itu ia bertolak dari pangkalan perahu untuk pulang ke rumahnya di kampung Ujung Bulo. Petang menemani perjalanan yang bimbang. Dalam ceruk dada paling sunyi, gelombang gahar tiba-tiba muncul dan berdeburan dari ujung kaki hingga pusar kepala. Setengah lusin ikan sunu jelas tidak membuat Badri yakin bisa menebus riwayat utang di warung-warung tetangga. Artinya, lagi-lagi ia juga harus bersiap menahan bising amuk dari Muna.
Sejak pagi memang istrinya itu sudah berang setengah mati. Persediaan beras tinggal dua cangkir, sementara utang sudah bejibun. Suasana pagi itu tampak bancuh, seperti api obor yang melahapi dinding kayu rumah panggung mereka. Badri yang disergap gagu enggan menanggapi. Lantaran tak mau sia-sia menjadi abu, ia gegas keluar menuju beranda. Mula-mula ia mengambil potongan galah di sudut beranda sisi barat. Kemudian mengambil kepis dan badik yang menggantung di sisi timur. Kepis dikaitkannya pada ujung galah. Badik dililitkan memakai tali melingkari pinggang. Badri pun berjalan menuruni empat baris anak tangga. Sementara dari dalam dapur, mulut Muna terus-menerus memuntah kecam pada Badri, lelaki yang membuat dirinya pandai berpura-pura hidup tabah selama ini.
Persoalan-persoalan yang datang barang tentu tiada jauh dari urusan perut belaka. Hari-hari mereka bagai api dalam sekam. Prahara bisa mengemuka kapan saja. Oleh sebab itu, satu-satunya pengharapan Muna akan seorang anak sungguh menjadi pelita dalam kelam, yang tiap kali mampu mengendurkan amarahnya. Ia berpikir, kehadiran buah hati setidaknya mampu menepis letih yang tiada juga berpaling selama delapan tahun belakangan.
Sayang, harapan itu kini tinggallah omong kosong. Rupanya ada masalah pada kejantanan Badri. Itulah sebabnya sampai sekarang Muna tak kunjung mengandung, sebagaimana Badri yang tak juga kunjung berhasil menimang darah dagingnya. Begitu kira-kira kata seorang tabib yang pernah didatangi Badri dan Muna, beberapa waktu silam.
Gejolak-gejolak keji senantiasa berputar di kepala Badri sejauh kaki melewati satu-satunya jalur kampung Ujung Bulo. Menerobos remang malam, menyusuri jalan setapak pejal, menyapu kesiur angin yang membikin beku ikan-ikan di kepisnya. Di tengah langkah yang mulai gontai, tetiba mata Badri nyalang melihat sesuatu tergeletak sekitar delapan langkah dari tempat ia berdiri. Dalam denyut nadi terhitung, kepala Badri bergoyang-goyang menajamkan pandang. Seperti kerikil lolos dari gagang ketapel, Badri berlari ke arah di mana matanya tertuju. Begitu tahu benda apa yang ditemukannya, Badri lekas-lekas meraihnya sambil bersorai, “Sekomandi! Sekomandi!”
Ya, sekomandi, sebuah kain rajut yang konon bernilai tinggi. Dalam cerita-cerita tetua pulau Kapuang, sekomandi disebut-sebut cuma bisa dimiliki orang yang berderajat tingkat wahid. Itulah mengapa air muka Badri tampak takjub begitu jemarinya menyentuh selembar kain rajut itu. Lebih-lebih saat membayangkan betapa banyak duit yang bakal didapat apabila ia berhasil menjualnya. Selain itu, sekomandi diyakini pula sebagai simbol kesejahteraan. Barang siapa menyimpan baik-baik kain sekomandi, maka hidupnya akan bertabur berkah dan kecukupan. Namun, bagi Badri, pengertian yang kedua tak perlu diambil peduli. Ia lebih percaya kalau kesejahteraan justru akan datang dengan cara menjual sekomandi itu. Bukan sebaliknya.
Pusaran di kepala Badri pun lekas berganti. Ia merasa angan-angan untuk hidup sejahtera berhilir terbayang kian nyata. Karena enggan mematung lebih lama, Badri giat menggulung selembar sekomandi itu, lalu memasukkannya ke dalam kepis; menyelimuti ikan-ikan kedinginan. Lagipula waktu juga semakin merengkuh gelap. Angin menerjang pepohonan dengan tidak beraturan. Sekali dua kali air langit bahkan sudah melandai di kening Badri, bercampur dengan bulir-bulir keringatnya.
***
Muna mengguncang-guncangkan tubuh suaminya yang terlelap di atas dipan. Badri yang terkesiap mengacungkan badik di tangan kanannnya. Mata Badri merah mendelik penuh tanya ada apa?
“Di mana ki dapat ini?” suara Muna gemetar, iasorong sekomandi ke hadapan Badri.
“Kenapa kita ini? Bikin jantungan saja!” sergah Badri, berupaya memulangkan kesadaran, seraya meletakkan badiknya kembali.
“Dapat di mana ki ini sekomandi, heh!?” suara Muna terdengar lebih lugas.
“Di jalan.” Begitu kesadaran Badri kembali, ia mulai bercerita. Muna masih tugur berdiri, tiada berpaling sekata pun. Tapi begitu tiba pada bagian di mana Badri berniat menjual sekomandi itu, Muna buru-buru memotong.
“Gengge! Orang miskin punya sekomandi satu ji kemungkinannya!” Mata Muna melotot. Urat keningnya menjalar-jalar.
“Maksudnya mencuri? Jangan ki sembarang tuduh, Muna!”
“Cukup mi hidup sulit. Jangan mi ki bikin saya malu karena dibilang istri pencuri!”
Maka Badri bersumpah kalau sekomandi itu bukanlah hasil mencuri. Lantas Badri meyakinkan Muna kalau apa-apa yang dikhawatirkannya tidak akan terjadi. Kemudian tangan Badri merambati pundak Muna, merendahkan tubuh tegang itu untuk duduk di sebelahnya.
“Sekomandi ini, Muna,” kata Badri seraya mengambil alih kain dari tangan istrinya, “Akan na rubah hidup ta’.”
“Tidak i,” Muna menggeleng. Matanya berbalik menyoroti Badri dalam-dalam. “Anak ji ini yang bisa membuat semuanya lebih baik.”
Setitik air mata jatuh ke lengan legam Badri yang bersilang di pangkuan Muna. Mendadak beku mulut lelaki itu mendengar ucapan istrinya. Seingatnya, baru kali ini dadanya—yang ia tahbiskan sendiri setegar karang—runtuh oleh ungkapan yang dirapal serupa doa dari suara magis Muna, kawan hidupnya dalam penantian-penantian panjang. Satu windu bukan waktu sebentar bagi sepasang suami-istri itu menantikan anak. Juga bukan waktu yang singkat dalam menanggung penghakiman orang-orang yang kerap mengatai mereka.
Usai sekian menit bergeming, agaknya suasana berangsur berubah. Tampak Badri dan Muna sama-sama mulai beralih pikiran. Mereka merebahkan diri di atas dipan. Sekomandi pun lolos dari tangan Badri. Jari-jarinya yang terampil itu mengawalinya dengan mengurai kancing-kancing di pakaian Muna. Satu… tiga… lima… dan… belum tiba di kancing terakhir, Muna malah mengambil tindakan lain. Didorongnya dada Badri bangkit dari atas tubuhnya. Sambil menyelami alam pikir Badri lewat tatapan mata yang muskil dijelaskan dalam cerita ini, Muna menggulingkan tubuh satu kali, membalikkan ketakberdayaan. Bibir tipis perempuan itu tertarik ke dalam. Seulas senyum tertangkap mata Badri yang berada persis di bawah wajahnya. Perlahan Muna mendekatkan bibir ke daun telinga suaminya. Lembut sutera ia berbisik, “Pejamkan mata ta’.”
Mudah bagi Badri menuruti perintah banal Muna. Ia memejam dengan sungguh-sungguh, menanti kejutan di pagi yang ranum itu. Tangan kiri Muna sedikit demi sedikit merambat ke sekujur kening, kuping, bibir, leher, hingga dada Badri. Di waktu yang sama, tangan kanan Muna meraih badik yang tersungkur di sudut dipan. Sementara pejaman mata Badri masih rapat dan khusyuk menikmati penantian. Senyum Badri merekah tiap kali degup jantungnya dibuat laju lantaran sentuhan lembut tangan Muna.
Di atas tubuh Badri, Muna menatap masa depan pada selembar sekomandi yang sudah terjuntai ke tanah. Dan dalam posisi serupa, Muna juga melihat kejujuran pada badik yang tergenggam di tangan kanannya. Tak lama usai mengelus bibir sang suami, Muna mulai mengakhiri penantian-penantiannya yang panjang.
Dan waktu berpelesat sudah. Kini, satu nyawa telanjur tercerai dari raga salah seorang dari mereka. Karenanya, sejak pagi didewasakan siang dan menjadi celaka, siang dimatangkan malam dan berubah petaka, yang membusuk hanyalah burai-burai sekomandi, juga sesal di dada Badri. ***
Keterangan:
Kita: anda, kamu
Ta’: kepunyaanmu (uang ta’ = uangmu)
Ji, mi, ki, pi, di, na, nah, maki, dst: klitika dalam bahasa orang-orang Sulawesi
Gengge: umpatan
Indarka P.P, lahir di Wonogiri (Jawa Tengah). Saat ini bermukim di Mamuju (Sulbar). Menulis buku “Penumpasan” (Sirus Media, 2021), dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.
Setelah lima belas menit berlari tanpa henti, bocah itu pun terkapar di halaman rumah seorang warga. Mulutnya megap-megap seolah-olah sedang dicekik lehernya. Pemilik rumah lalu buru-buru memberinya segelas air putih. Tak seberapa lama berbagai macam racauan seperti orang gila berhamburan dari mulut si bocah. Meskipun ocehannya membingungkan, orang-orang yang sedang berkerumun di tempat itu bisa memahaminya: Suro Gentho hidup lagi.
Warga Awon-Awon pun geger. Para pengecut buru-buru masuk rumah. Menutup pintu rapat-rapat. Menyembunyikan harta bendanya di dasar sumur. Mengungsikan istri dan anak perempuannya ke desa tetangga. Pada saat matinya, Suro Gentho adalah perampok. Sudah pasti saat ini masih suka merampok juga. Begitu barangkali yang ada dalam benak mereka.
Lima orang yang merasa punya nyali segede gajah bengkak segera ke kuburan untuk membuktikan kabar tersebut. Dari balik pagar kompleks pemakaman yang hampir rubuh itu, mereka memusatkan pandangan ke dalam makam. Dan di pojokan sana, seperti iblis baru saja bangkit dari kematiannya, Suro Gentho tampakberdiri termangu-mangu di pinggir lubang kuburannya.
Tubuh Suro Gentho terlihat kurus kering mirip jerangkong.Sepasang matanya sangat cekung bagaikan cerukan mangkuk bakso sehingga sebutir telor bisa diletakkan di dalamnya. Pakaian yang biasa dikenakan para pejuang kemerdekaan itu masih melekat pada tubuhnya. Bolong-bolong bekas tembakan peluru.
Terdengar Suro Gentho menggerundel: tentara telah bertindak biadab. Memperlakukannya seperti binatang. Menggantung mayatnya seperti jemuran basah.
Dari jarak dua puluh meter, lima orang sok pemberani tersebut terus gemetaran. Terduduk di tanah tanpa sadarnya. Pemandangan mengerikan itu ternyata lebih mengerikan daripada bayangan mereka.
Sementara itu, Suro Gentho masih tetap belum bisa memahami perjalanan hidupnya. Ilmu kesaktian yang dibangga-banggakannya itu ternyata justru membuat hidup dan matinya selalu dalam keadaan koma. Sambil menepis sisa tanah kuburan pada pakaiannya, Suro Gentho berjalan gontai menuju luar makam, lalu berhenti tepat di depan pintu gerbang. Ditolehnya lima orang berwajah seputih kapas yang sedang jongkok berhimpit-himpitan di samping pohon teh-tehan itu.
“Di mana ini? Daerah mana?” tanya Suro.
Suara tersebut pelan saja, tapi tetap saja telah mengguncang dada mereka yang mendengarnya. Salah satu dari mereka yang merasakan kakinya lumpuh tiba-tiba, tapi belum sampai terkencing-kencing, buru-buru menunjuk papan nama di atas pintu gerbang, tanpa berani mengangkat muka. Melirik ke arah si penanya pun tidak.
Suro Gentho menoleh ke arah yang ditunjuk. Sesaat kemudian dia terlihat menyeringai. Memperlihatkan giginya yang masih utuh dan cokelat kehitam-hitaman. Papan kayu itu bertuliskan Sasono Layu, Desa Awon-Awon, Kecamatan Colomadu. Ada kenangan indah di tempat ini dan semoga anak laki-lakinya itu belum mati.
“Tahun berapa sekarang?” tanyanya lagi.
Mula-mula lima orang yang sok berani tersebut tak segera menjawab. Namun, setelah menyadari si penanya adalah orang yang sudah lama mati dan sangat pantas menanyakannya, seseorang segera menyebutkan angka tahun ini.
Sesaat kemudian bibir Suro Gentho berkomat-kamit, mengikuti gerakan jemarinya, menghitung jumlah tahun yang telah dia habiskan di dalam kuburnya. Segera saja mukanya yang keriput itu berkerut. Umurnya sudah 108 tahun. Semua perawan pasti menolak dikawininya.
“Tahu rumahnya Warto? Warto Digdo? Masih hidupkah dia?” tanya Suro Gentho lagi.
Kelima orang tersebut serentak mengangguk.
“Tahu!”
Lalu menggeleng. Juga berbarengan.
“Sudah meninggal.”
***
Hampir semua warga Desa Awon-Awon yang berusia di atas lima puluh tahun kenal nama Suro Gentho. Bahkan pada era 60-an, kekejaman Suro Gentho dan gerombolannya disebut-sebut melampaui kebengisan tentara Jepang.
Ketika belum ada embel-embel genthonya, Suro adalah pejuang. Selain rajin mengganggu pasukan Belanda yang lagi berpatroli di pinggiran Boyolali dengan lemparan bom kotoran kuda dan sambitan ketapel, Suro dan lima temannya juga pernah hendak menyerbu tangsi Belanda di Desa Bangak, Banyudono. Namun, mereka dipergoki tentara Belanda yang lagi patroli naik jip bersenjatakan stengun dan siap ditarik pelatuknya. Satu pejuang dihabisi penembak jitu. Peluru dari jarak dua ratus meter itu menembus belakang kepalanya. Sementara tiga lainnya kena berondongan timah panas sebelum sempat bersembunyi di balik batu. Peristiwa penyerbuan yang gagal itu menyisakan Suro seorang.
Suro juga pernah bahu-membahu dengan Tentara Pelajar dan pasukan Slamet Riyadi saat menggempur Belanda yang sedang berlindung di Benteng Vastenburg, Gladak, Solo. Pertempuran yang berlangsung empat hari penuh itu memakan korban banyak sekali. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan yang kini dinamai Jalan Slamet Riyadi itu. Namun, Slamet Riyadi yang hilir-mudik sambil memberikan komando justru tidak terluka sedikit pun. Bahkan, tak ada sehelai rambut pun yang kena serempet peluru tentara Belanda. Konon, Slamet Riyadi punya ilmu lembu sekilan. Semua peluru yang mengarah kepadanya tiba-tiba berbelok arahnya sejengkal sebelum mengenai tubuh.
Setelah Belanda benar-benar minggatdari Indonesia, Suro yang sangat ingin menjadi tentara resmi dan digaji negara itu ikut mendaftar sebagai anggota TNI, tapi ditolak. Selain umurnya dianggap terlalu tua, tentara tidak butuh orang yang bertabiat garong seperti dirinya. Tentara yang berisikan orang-orang yang maunya bertindak seenak perutnya dan tak patuh pada pimpinan seperti itu hanya akan mengacaukan seluruh rencana.
Suro mengajukan protes kepada panitia seleksi, tapi tak ada yang menggubris. Bahkan, Suro diusir dan diancam akan ditangkap. Dengan menahan perasaan dongkol yang luar biasa, Suro dan orang-orang yang bernasib sama dengannya kembali ke hutan. Meneruskan perjuangan.
Pasukan liar pimpinan Suro yang selanjutnya disebut gerombolan oleh polisi dan tentara itu tak lagi menyerang para bule atau prajurit kate, melainkan merampok orang-orang kaya, terutama para saudagar, dan tak peduli warna kulit atau tinggi badannya. Menurut Suro, tabiat para pedagang itu tak ubahnya penjajah. Tega berlaku aniaya dan mengeruk harta sebanyak-banyaknya demi kepentingan sendiri. Tak peduli orang lain makan bonggol pepaya agar tidak mati kelaparan.
Setelah beberapa kali hampir kehilangan nyawa dalam duel melawan para jawara pengawal orang-orang kaya, juga polisi dan tentara yang terus mengubernya, suatu hari Suro teringat akan Slamet Riyadi. Walau tak berminat namanya kelak akan diprasastikan sebagai nama jalan raya di seantero Nusantara, Suro ingin mempunyai kesaktian yang sama. Syukur-syukur melampaui. Suro pun pamit kepada gerombolannya. Mengajukan cuti dari merampok demi mencari guru sakti.
Entah siapa pemberi informasinya, Suro pergi Gunung Lawu dan bertapa di puncaknya sebulan lamanya. Merasa belum mendapat kesaktian seperti keinginannya, Suro melanjutkan bersemedi di Gunung Merapi selama tujuh malam tujuh hari. Tirakat kelas berat itu dia jalani tanpa busana, makan, dan minum kecuali meneguk air liurnya sendiri. Belum juga puas akan ilmu yang sudah dia dapatkan, Suro pergi ke Parang Kusuma untuk mengabdi kepada Nyi Roro Kidul selama tiga bulan lamanya.
Walau tubuhnya yang dulu gemuk itu telah menjadi kurus kering seperti sebatang ranting, Suro pulang ke gerombolannya sambil menepuk dada: mengklaim dirinya tak bisa mati. Sejak itu pula Gerakan Rakyat Kelaparan (Grayak) yang biasa beroperasi di wilayah MMC, Merapi-Merbabu Complex, itu bagai mendapat tambahan segudang amunisi.
Gerombolan Suro lalu merampok di mana-mana dan siapa saja. Tak peduli cuaca, tempat, dan waktu. Bahkan, keberadaan polisi atau tentara sekali pun. Suro yang kemudian mendapat gelar gentho itu kadang-kadang justru sengaja ingin mempermalukan para petugas negara itu dengan cara mendatangi rumahnya, merampok harta bendanya, dan tidak lari ketika mereka menembakkan senjata.
Begitulah, walaupun kepala Suro Gentho pecah, dadanya ditembus peluru, dadanya berlubang segede gelindingan bakso, darahnya tumpah melimpah-limpah, begitu tubuhnya menyentuh tanah, Suro Gentho hidup lagi. Tanpa menyisakan bekas luka sama sekali. Begitu yang terjadi setiap kali.
Makin hari kelakuan Suro Gentho makin gila. Dia menentang dan menantang siapa saja untuk melawannya. Lupa di atas langit masih ada langit. Begitu juga di atasnya lagi. Orang sakti dan berilmu tinggi–sebut saja namanya Kumbang–yang oleh para tetangganya hanya dikenal sebagai marbut musala merasa terusik hatinya. Kumbang pun mendatangi markas tentara, membocorkan rahasia kelemahan ilmu pancasona milik Suro Gentho.
Pagi harinya lima belas tentara menguber Suro Gentho ke lereng Gunung Merbabu. Selain senjata, mereka juga membawa jaring yang biasa dipakai untuk memerangkap celeng. Kalau biasanya nyali mereka menciut seperti kelaminnya saat kedinginan, kali itu mereka berangkat dengan langkah gagah. Apalagi sang komandan sudah mewanti-wanti: kalau sampai gagal lagi menangkap Suro Gentho, bakal dikurung di ruang isolasi ditemani ular berbisa sebanyak lima belas biji.
Mendapat laporan dari mata-mata yang bertugas di pinggir Hutan Gondho Mayit bahwa tentara bersenjata lengkap sedang menuju markas Grayak, alih-alih kabur, Suro Gentho justru menyongsongnya seorang diri. Disuruhnya anak buahnya sembunyi. Boleh juga lari dan tidak akan dianggap sebagai pelaku disersi. Namun, anak buah Suro Gentho yang pernah berkali-kali menyaksikan kesaktian pimpinan mereka itu tak mau memilih keduanya. Mereka justru ingin menonton. Apalagi sudah lama sekali mereka tidak mendapatkan hiburan. Wayang kulit terakhir yang mereka tonton sudah dua tahun lalu.
Sesuai petunjuk dari Kumbang, kali ini para tentara tidak langsung menembak Suro Gentho yang terus mengayun-ayunkan goloknya. Namun, mengeroyoknya. Memukuli Suro Gentho hingga pingsan. Lalu meletakkan tubuhnya di atas jaring yang direntangkan. Membungkusnya seakan-akan laba-laba sedang menggulung serangga yang masuk ke dalam perangkapnya.
Dengan sebatang kayu cemara seukuran lengan, dua orang tentara memanggul Suro Gentho seolah-olah celeng yang hendak dibawa ke tempat penjagalan. Sang pimpinan regu segera mendekat. Berdiri tegak di samping tubuh yang lagi terayun-ayun itu. Setelah memberi hormat, ditembaknya kepala Suro Gentho tiga kali.
Setelah menunggu lima belas menit dan ternyata Suro Gentho tetap juga mati, seratus dua anggota gerombolan yang sedang bersembunyi di balik gerumbul ilalang dan batang pohon jati itu pun segera berhamburan. Pontang-panting seperti sedang dikejar setan.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada pejuang yang telah beralih kiblat menjadi bajingan itu, komandan tentara memerintahkan anak buahnya agar memakamkan Suro Gentho di tempat kelahirannya. Atau di tempat lain yang barangkali disukainya. Karena tak ada yang asal usul Suro gentho, dipilihlah opsi kedua. Setelah seharian dipajang di lapangan sepak bola seperti babi panggang, mayat Suro Gentho dibawa ke kompleks pemakaman berjarak lima belas kilometer dari markas tentara. Di Desa Ngawon-Awon itu ada perempuan yang diakui Suro Gentho sebagai istrinya.
Setelah diadakan upacara militer sederhana, diiringi tembakan salvo tiga kali, Suro Gentho dikubur dengan cara khusus. Mayatnya diikat kawat pada potongan besi yang tergantung setengah meter dari dasar lubang. Sebelum jasadnya mulai ditimbun tanah, di atas potongan besi yang silang menyilang seumpama kerangka cor-coran jembatan itu ditutupi lembaran seng.
Selain tentara, tak ada pelayat lain di kompleks pemakaman berumur sangat tua itu kecuali perempuan yang sedang menggendong bayi laki-lakinya. Keduanya terus menangis. Si perempuan karena sedih; si bayi sebab lapar. Ingin menyusu, tapi ibunya tak mau lagi membuka bajunya di depan tentara.
Bayi yang terus menangis itu Warto Digdo alias Mbah Mantan, kepala desa lama. Namun, sudah meninggal. Saat ini kepala desanya Wagino Digdo, anak laki-laki Warto Digdo, yang berarti cucu Suro Digdo alias Suro Gentho.
***
Suro Gentho tiba di rumah Wagino Digdo menjelang Magrib. Sang cucu menyambutnya di depan pintu gerbang. Lima menit sebelumnya salah satu orang yang tadi menyaksikan kebangkitan kakeknya itu telah memberitahu. Wagino Digdo memeluk Suro Gentho penuh keakraban, memperkenalkan istri dan anak laki-lakinya, lalu membawanya ke ruang keluarga. Semua lampu dinyalakan seolah-olah ada pesta. Semua hidangan disajikan seakan-akan sedang kedatangan raja.
Seperti wabah kolera, berita tentang Suro Gentho yang bangkit dari kuburnya itu pun menyebar ke mana-mana. Tanpa menunggu datangnya pagi, orang-orang berdatangan ke rumah Wagino Digdo yang besar dan mewah itu. Demi bisa menonton Suro Gentho, mereka bahkan rela berdesakan-desakan di halaman dan jalanan dan berebut memanjat pohon. Ada juga yang tak memasang tenda di samping comberan di dekat sumur.
Paginya Wagino Digdo menjumpai para penonton yang menyemut di sekitar rumahnya. Sang kepala desa yang sedang digadang-gadang oleh partai politik berlambang kepala celeng untuk dimajukan sebagai calon bupati pilkada tahun depan itu mengatakan, Suro Gentho telah pergi. Itu saja. Lalu masuk rumah lagi. Ditutupnya pintu rumahnya rapat-rapat. Dibiarkannya orang-orang bergelut dengan tanda tanya.
***
Konon kabarnya, sebenarnya, Suro Gentho tidak ke mana-mana. Masih di rumah itu juga. Menyiapkan cucunya menjadi penerusnya.***
Kajen, 8 November 2021
Dewanto Amin Sadono, guru SMP dan penulis, tinggal di Kajen, Pekalongan. Cerpen-cerpennya memenangkan beberapa lomba dan diterbitkan dalam beberapa kumpulan cerpen juara. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayitmenjadi Juara 1 lomba Novel yang diadakan Perpusnas Writingthon Festival, Oktober 2022.
Lucy, seorang anak gadis berusia belasan yang terhitung pendiam. Ia lebih sering terlihat duduk sendiri. Membayangkan dirinya menjadi seorang astronot dan pergi ke luar angkasa. Sejak kecil ia selalu takjub keindahan langit. Ia sering membayangkan dirinya terbang ke luar angkasa, menjadi astronot. Melihat bulan dari dekat, bermain bersama bintang seperti dalam video musik Twinkle Twinkle Little Star yang sering ia lihat. Lucy mulai menyadari betapa besar tak terukur luasnya angkasa raya. Ketika ia melihat bumi, tempatnya tinggal bersama bapak ibunya, ia merasa kecil. Bumi nampak cukup besar dan ia selalu merasa bagaikan sebuah butiran pasir kecil di luasnya padang gurun Sahara. Kemudian, ia teringat sebuah teori yang dikemukakan oleh John Dalton yang pernah ia baca di buku mengenai atom. Ya, ia merasa ia adalah atom, begitu juga manusia lainnya. Partikel paling kecil di dalam suatu ruang, begitu kecilnya ia sehingga tak dapat lagi dibagi.
Lucy terpana melihat luasnya angkasa raya. Melihat dan merasakan di kedalaman ruang hitam yang sebelumnya selalu ia perhatikan ketika ia di bumi, jauh di bawah sana. Ruang hitam diantara kedipan bintang satu dan lainnya, dan yang mengelilingi bulan. Kini Lucy memahami apakah bumi itu bulat. Apakah ia berputar. Apakah ia justru dikelilingi dengan gerakan memutar dari objek lain. Apakah bintang dan bulan dapat berpijar terang dengan kekuatannya sendiri, dan ataukah ada kekuatan lain di balik kedipan kilauan mereka.
Lucy melihat Jupiter, planet terbesar di alam semesta, dan planet terjauh dari bumi. Ia pernah membaca dari bukunya tentang tata surya. Lalu ia ingat ketika di bumi, ia sering tidak sepaham dengan pendapat kebanyakan orang. Saat itulah ia selalu berpikir ingin tinggal di Jupiter saja dan menjauh dari kebanyakan orang.
Akan tetapi, Lucy lalu merindukan senyuman manis ibunya. Ia juga merindukan pelukan sayang bapaknya. Baginya, bapak ibunya adalah dua manusia berjiwa lembut yang paling memahaminya. Tempat bertukar gagasan tentang memahami bagaimana dunia dan manusia di dalamnya berpikir. Berdiskusi tentang diri Lucy sendiri dalam menghadapi dunia dan semesta, kelak bila ia hidup sendiri tanpa ibu bapaknya. Membantu Lucy memahami bagaimana bertahan hidup, salah satunya dengan menjadi orang baik. Lucy ingat kata ibunya, ia boleh terbang setinggi apapun ia bisa, tapi ia tidak boleh lupa untuk kembali memijakkan kakinya ke tanah. Kata bapak, karena tanah adalah sepenuhnya kesadaran manusia.
“Lucy, makan dulu, Sayang”, panggil Ibu.
“Iya, Bu”, jawab Lucy.
Lucy turun dari rumah pohonnya kemudian, dan berlari menemui ibunya, menceritakan pengalamannya kepada ibu dan bapaknya yang sedang menunggu Lucy di ruang makan. Lucy mencuci tangannya lalu bergabung dengan ibu bapaknya di ruang makan.
“Jadi hari ini Lucy ke mana?”, tanya Bapak.
Bapak selalu tahu, Lucy selalu menghabiskan harinya sepulang sekolah di rumah pohon, di kebun belakang rumah mereka. Kebun itu langsung dapat terlihat dari dapur dan ruang makan, karena pintu keluar dan masuk dari ruang dapur dan ruang makan ke arah kebun terbuat dari kaca. Pertanyaan bapaknya mengacu kepada imajinasi Lucy hari ini di rumah pohon. Setiap kali ke rumah pohon, Lucy selalu berimajinasi bahwa dirinya berada di ruang dan waktu yang berbeda. Buku-buku kesayangannyalah yang selalu membawanya ke dalam imajinasi. Tempo hari, imajinasinya membawanya ke Inggris abad 19. Ia mengikuti detektif kesukaannya; Sherlock Holmes dan sahabatnya Dokter Watson menyelesaikan kasus petualangan Silver Blaze.
“Ke bulan, Pak”, jawab Lucy. Lalu Lucy menceritakan semua, sampai pada panggilan ibu untuk makan. Ibu dan bapaknya menyimak ceritanya dengan antusias.***
Febriana Widyat Sari, lahir dan menetap di Surakarta, Jawa Tengah. Seorang ibu, guru sekaligus murid. Pecinta kata-kata, penghayat realita.