Cerpen

Seandainya Boleh Memilih

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Ia baru saja lahir dari kuburannya dan masih rebah di dalam lubangnya di sebuah pekuburan tua dan tak tahu telah berapa lama terkubur di dalamnya. Seingatnya sejak Perang Bharatayudha. Tubuhnya masih seperti dulu; tegap, gagah, serta berotot meskipun berselimut keringat, daki, dan debu. Rambutnya tergerai sepundak; kotor dan seamis bangkai ikan pada lungkang. Tak ada suara karena ia terdiam dan keheningan telah menyerap semuanya. Di bawah tubuhnya tak ada apa-apa lagi; batu, pasir, bunga, keranda, serta ubarampe lainnya, atau sisa bau dupa atau yang semacamnya. Itu kalau semua sesuai dugaannya. Ia tak ingat segalanya seperti halnya tak lupa seluruh masa lalunya meskipun ia sangat menginginkan semua itu lenyap dari benaknya.

Ia sangsi adakah upacara militer yang mengiringi prosesi pemakamannya: terompet, drum band, tembakan salvo…. Barangkali hanya sepi yang menyambut kematiannya dan penguburan itu tak lebih mewah daripada prosesi anjing kurap yang dicampakkan ke comberan. Ia tersenyum masam. Siapa pula yang butuh semua kemurahan itu. Mati, ya tinggal mati saja. Tak peduli di mana atau dengan cara apa mati dan dikuburnya.

“Kuturuti permintaanmu. Datanglah ke tempat itu! Di sana Arjuna akan menemuimu,”  suara itu kembali berkumandang di kepala.

Barangkali ia telah mengigau dalam matinya. Mungkin arwahnya gentayangan dan mengamuk di kerajaan langit sana, memrotes sana-sini, menggugat hidup serta matinya yang tidak adil. Dan ia pun lalu dibangunkan dari tidur panjangnya; lengkap dengan busana, senjata pusaka, juga kepala yang telah kembali ke asalnya.

Dan terbayang lagi jejak itu, jejak kematiannya. Dan kenangan menyakitkan itu pun kembali lagi. Ketika itu kereta perangnya menuju arah matahari, sementara kereta perang orang itu menjauhi, dan ia telah merentangkan gendewanya seperti halnya orang itu. Untuk apa Salya menghentakkan laju kereta ketika bidikan panahnya sudah tepat pada leher orang itu? Mestinya panah itu tidak hanya menyerempet rambut.

Ia berdiri mematung dan tampak murung. Betapa pedih dan perih saat menyadari  pengkhianat itu ternyata orang terdekatnya sendiri. Ia meraba lehernya dan terbayang lagi ketika panah orang itu memenggalnya dan tempurung itu terpental, menggelinding, dan darah, darahnya, berceceran membasahi tanah di padang ilalang.

Ia menggeram. Salya, orang yang kepadanya ia titipkan nyawanya, bapak angkat yang telah dianggapnya sebagai bapak sendiri, kusir kereta perangnya ketika pertempuran itu terjadi ternyata lebih mencintai orang itu dan memilih dirinya yang harus mati. Ia menghela napas panjang, lalu menengadah seolah-olah ingin menemukan jawaban atas ribuan pertanyaan di benaknya dan di langit sana tak ada apa-apa kecuali awan lembayung. Ah, alangkah bahagia andai ia bisa memilih cara dan tempat matinya sendiri.

Tiba-tiba ia menggeram. Wajah yang semula seolah-olah onggokan kain basah di pojokan kamar mandi itu tiba-tiba memancarkan sinar. Sorot mata rusa tua yang ketinggalan kawanannya itu seketika menjadi mata seekor singa yang siap menerkam mangsanya.

“Arjuna.”

Ia menyebutkan nama itu penuh kebencian sementara darahnya mendidih seperti minyak di wajan penggorengan. Urat-urat di batang lehernya menyembul seukuran akar pohon kelapa. Teringat lagi apa yang telah orang itu perbuat kepadanya, semuanya, dan ia pun muntab.

“Arjuna, aku akan menyayat-nyayat wajah tampanmu hingga tak ada yang bisa mengenalinya. Melumatkan kepalamu hingga jadi bubur. Memutilasi tubuhmu menjadi potongan-potongan kecil sehingga  ketika nanti ada yang menemukan daging atau tulang itu, tidak akan pernah ada yang tahu berasal dari bagian tubuh yang mana.”

Serta-merta ia melompat dari dalam lubang kuburnya seolah-olah tersengat bara api pada telapak kakinya, lalu berlari seakan-akan sudah ketinggalan janji. Lajunya secepat kilat di angkasa. Jalan setapak penuh ranting kering dan daun ilalang diterjangnya, lubang dan bebatuan dilompatinya. Ia menuju ke tenggelamnya matahari dan tak tahu alasannya dan tak peduli.

Napas terengah-engah dan keringat bercucuran ketika ia sampai di tempat yang dulunya padang ilalang itu. Padang Kurusetra! Genderang perang, suara madali, dan tiupan maut sangkakala seakan-akan terdengar lagi; suara-suara yang telah mengiringi kematian teman, guru, serta orang-orang yang dikenalnya. Mereka telah menjadi tumbal, dan mati dengan berbagai cara ini: termutilasi, bermandikan darah, darah mereka sendiri atau musuhnya.

Keluarga Kuru telah musnah, tumpas, dan habis, diiringi mampusnya ratusan ribu prajurit Astina dan Amarta serta para pelengkap penderita lainnya. Orang-orang itu masih teman dan saudaranya. Dirinya dan kakak-beradik berjumlah seratus  itu pernah bersama-sama main gundu di masa-masa lalu. Itu semua demi apa kalau bukan supaya Bharatayudha bisa tetap berlangsung sesuai nubuatnya dan betapa bangsatnya para dewa ternyata.

“Arjuna! Arjuna!”

Ia memanggil-manggil, tapi tak ada jawaban.  Padang itu kini cuma menyisakan kenangan kengerian dan kesia-siaan, juga darah yang telah mengubah warna tanah itu menjadi merah. Juga mayat-mayat yang teronggok tak berbentuk lagi. Juga tumpukan daging berbelatung, bertebaran, berserakan,  dan tumpang tindih. Burung-burung pemakan bangkai berpesta di atasnya sambil memekik-mekik kegirangan. Juga bau busuk itu, bau yang menusuk-nusuk lubang hidung dan masih tercium dari jarak sepuluh ribu kaki. Ia masih ingat semua itu seolah-olah perang saudara itu terjadi baru saja.

“Arjuna! Arjuna! Di mana kau?”

Tiba-tiba terdengar sahutan dan itu suara perempuan.

“Karna, anakku.”

Ia mencari-cari dengan matanya, dan memastikan suara itu tidak pernah ada kecuali hanya di dalam pikirannya. Ia masih ingat nada, irama, kelembutannya, dan semua itu justru membuatnya makin menderita. Ah, Kunti, ibunya yang bukan ibunya, bunda yang tak pernah ia rasakan air susunya. Adakah rintihan yang terucap ketika bayi mungil yang bermandikan air ketuban itu keluar dari rahimnya, melewati batang lehernya, lalu menjebol keperawanan kupingnya?

Ia tersenyum masam. Seandainya boleh memilih, ia ingin batu yang mengandungnya, atau apa saja, asalkan bukan perempuan yang sukanya merancap, tapi maunya tetap gadis ini. Kunti oh, Kunti.

Ia mengumam pelan walau masih terasakan olehnya kepedihan itu. Bibir itu menguncup, sorot matanya meredup. Di mana perempuan ini saat kusir pedati itu mengaisnya sedangkan ia bukan makanan sisa di tempat sampah? Sedang apa perempuan ini saat seluruh penonton lomba memanah itu menertawai meskipun dialah pemenangnya? Seandainya boleh memilih, ia ingin tak pernah ada karena sakit ini begitu lara.

“Karna, anakku, jangan kau sakiti adikmu!”

Ia menegakkan kepala seperti ular cobra disentuh ekornya, dan tiba-tiba merasa sedang diingatkan lagi akan tujuannya semula: membunuh Arjuna! Seketika awan hitam menghilang dari wajahnya, dan berubah menjadi rona merah darah. Rahangnya mengeras, melengkapi keriap matanya yang buas.

“Adik macam apa yang menghianati kakaknya? Adik jenis apa yang rela mengorbankan kakak demi ambisinya”

“Anakku, demi kepentingan yang lebih mulia….”

“Siapa yang mulia dan tercela?” Ia memotong ucapan itu. “Siapa yang mengangkat kamu sebagai hakim sehingga berhak memutuskan Kurawa sebagai angkara murka dan Pandawa pembasminya?”

“Karna, anakku, darma bakti seorang ksatria adalah…..”

“Arjuna tak pantas disebut satria. Dia sama busuk dengan lainnya!” ucapnya berapi-api, memenggal kalimat yang belum selesai tadi.

“Anakku, jangan turuti nafsu amarahmu….”

“Enyahlah kau! Minggat!” 

Ia memukul-mukul kepala agar bunyi-bunyi itu  terhenti, tapi bising di pikirannya lebih menguasai. Mulutnya mengumpat-umpat, tapi suara itu terus menyeruak di lubang telinganya; berisik, bertalu-talu, bergaung, dan bercampur-baur dengan umpatan, tangisan, serta jeritan. Ia menjambaki rambutnya sambil tertawa dan bergelakak seperti orang gila.

Ketika segala hiruk-pikuk itu tiba-tiba sirna, serta-merta ia berdiri mematung, termenung, dan merasa baru saja membunuh ibu yang selama ini bersemayam di relung hatinya: suara-suara itu telah mati, menemani hatinya yang sepi.

Namun, sedetik kemudian ia menggeram. Arjuna harus mati, dan tak ada lagi yang bisa menghalang-halangi, termasuk Kunti yang konon ibunya itu walaupun sekarang bukan lagi. Kuburanlah yang telah melahirkannya, baru saja. Dan nasihat itu pernah didengarnya dulu, dulu sekali. Kini ia tak butuh lagi.

Tak ada hutang yang dibawa mati kecuali hutang budi. Apa pun maksud di baliknya, Kurawa-lah yang telah mengangkat derajat, memanusiakan, serta menganggapnya ada dan berharga. Perjalanan hidup itu telah memaksanya untuk memilih. Dan sampai saat ini, ia tak menyesali pilihan itu. Pandawa tak pantas disebut saudara! Saudara yang mempermalukan saudara sendiri adalah kriminal dan boleh dibikin modar dengan cara yang sekeji-kejinya.

Ia mengatur napasnya yang memburu, sementara gemuruh di dadanya masih terasa, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Susah payah ia membujuki otak lelahnya. Persetan dengan suara perempuan itu!

“Arjuna!”

Ia meneriakkan nama itu sekeras-kerasnya, lalu menengadah, menajamkan mata dan telinga. Namun, tak ada suara apa-apa kecuali sepi serta lautan ilalang yang membentang. Padang itu bagaikan kanvas raksasa yang dipenuhi warna hijau, coklat, putih, dan hitam. Sementara itu, angin semilir, udara mengalir, dan langit menjelang senja masih seperti hari-hari sebelumnya.

“Arjuna, keluarlah dari persembunyianmu!”

Bunyi itu berpusing-pusing bising, mengarungi gelombang udara sebelum akhirnya menghilang di balik cakrawala nan jauh di sana. Udara senyap, kicau burung lenyap dan yang terdengar hanya bunyi napasnya sendiri yang memburu-buru seperti anjing lagi birahi. Tiba-tiba sekelebat cahaya turun dari langit, berputar-putar, bergemuruh laksana angin puyuh, lalu berhenti. Dan Arjuna pun memperlihatkan wujudnya. Satria lelananging jagat ini mendekat. Rupa tampannya masih bersinar. Dia bersedekap dengan kepala menunduk seolah-olah murid sedang berdiri di hadapan gurunya.

Ia mendengkus. Orang itu hanya berjarak empat-lima langkah di depannya. Begitu dekatnya, tapi betapa jauhnya bagi jiwa yang dipenuhi oleh kecurigaan ini. Meskipun penengah Pandawa ini tampak enggan, ia tak ingin tertipu oleh lagak lagunya. Ia memandang tajam orang yang sebentar lagi jadi mayat ini lalu berucap dingin, tajam, dan kejam.

“Arjuna, kuburku terasa gelap, lembab, dan pengap. Hanya kematianmu yang bisa membuatnya hangat.” Ia tak ragu mengungkapkan keterusterangan yang tidak sopan itu.

“Kakang Karna, hamba sumarah dan pasrah,” jawab Arjuna. Kedua tangannya ditangkupkan di depan dahi, menghaturkan sungkem.

“Aku selalu dihantui mimpi buruk bahkan di dalam matiku. Kuburku terasa sesak dan menghimpit.”

“Kakang, hamba hanya sekadar titah.”

“Arjuna, karena mulut kotormu aku harus merelakan harga diriku diinjak-injak. Sebab busuk otakmu guru Durna menjauhiku.”

”Maafkan hamba, Kakang.”

”Tahukah kamu bagaimana rasanya menjadi anak yang dibuang ibunya dan saudara yang tidak diinginkan oleh adik-adiknya?” suara itu terdengar getir.

”Kakang, maafkan hamba.”

”Aku coba mengasihimu sebagaimana seharusnya, tapi tak bisa. Luka ini begitu dalamnya. Aku telah coba memaafkan kamu sebagaimana semestinya, tapi tak mampu. Dendam ini telah membatu.”

“Kakang Karna, hamba sumarah dan pasrah. Raga ini hamba baktikan. Jiwa ini hamba ikhlaskan.”

Sesaat ia ragu mendengar kerelaan itu, teringat akan masa lalu, yaitu ketika mereka sama-sama sedang berguru kepada Resi Durna, dan bercanda tawa di sela-selanya. Mereka juga pernah berdiam di rahim yang sama meskipun terlahir dari lubang berbeda. Ia ksatria dan tak mungkin baginya berkulikat nista; membunuh musuh yang tak mau melawannya salah satunya.

Ia menarik napas dalam-dalam. Sesaat matanya terpejam, coba menguraikan otaknya yang sengkarut. Ia sudah sampai sejauh ini, dan tak ada jalan untuk kembali. Keadilan harus diperjuangkan dan ia telah terlanjur membongkar rumah kuburannya. Tiba-tiba bibirnya mengatup, tubuhnya gemetar, kedua tangannya mengepal-ngepal, lalu tertawa kecil.  Arjuna bukan musuhnya ataupun saudaranya. Dia orang yang harus mati, dan saat ini juga!

Seketika ia menerjang sosok di hadapannya. Tangan kanannya terayun sekuat tenaga ke arah kepala, kaki kanannya melayang dengan gerakan memutar, menghantam lumbal kanan, disusul kaki kiri menerjang bagian tubuh lainnya.

“Bangsat, lawan aku! Mumpung tak ada mulut berbisa Kresna! Selagi tak ada guru batil bernama Durna. Hanya kamu dan aku!” 

Arjuna bergelangsar, terlempar, dan berguling-guling. Darah mengalir dari mulut dan  hidungnya. Alis matanya sobek. Dia tampak kesakitan dan menderita. Dia menyeka darah yang membanjiri hampir seluruh wajahnya lalu kembali berdiri di tempat yang sama, bersikap seperti sebelumnya, bersiap menghadapi matinya seperti kambing kurban dihadapan tukang jagalnya.

“Hamba tidak akan melawan, Kakang,” jawabnya.

Ia makin marah. Bukan jawaban semacam itu yang diharapkannya. Seketika ia kembali menerjang seumpama banjir bandang. Ia meninju mulut yang baru selesai bicara tadi. Ia menghantam ulu hati hingga tubuh itu tertekuk dan terbungkuk-bungkuk.

“Arjuna,  lawan aku. Keluarkan semua kesaktianmu!”

Arjuna menegakkan tubuh, sempoyongan dan limbung. Bibirnya pecah dan berdarah dan beberapa giginya goyah.

“Tidak, Kakang! Saya sudah berdamai dengan masa lalu.”

Ia menerkam dada, menginjak-injak perut, dan menjadikan kepala itu seumpama bola. Ia memukul, mencakar, menampar, menendang, dan mencekik sambil meraung-raung.

“Masa lalumu, bukanlah masa laluku. Andai aku bisa melupakannya!”

Arjuna terjatuh, terguling-guling, terbanting-banting. Dia coba berdiri, tertatih-tatih, jerih, terhuyung-huyung. Sekujur tubuhnya cobak-cabik oleh luka, dari kepala hingga kaki.

“Kakang, bunuhlah hamba jika itu bisa membuat Kakang bahagia. Namun, mohon kiranya hamba izin bersiap lebih dahulu!”

Susah payah Arjuna melucuti dirinya sendiri. Kakinya goyah dan wajahnya tertampak letih. Ia melemparkan gendewa di tangannya, keris pulanggeni yang terselip di pinggang, lalu kain limarsawo, juga ikat pinggang limarkatanggi. Seterusnya, dia menguraikan gelung minangkara lalu melemparkannya, pun membuang kalung candrakanta juga cincin mustika ampal.

Sementara itu, tak peduli dengan yang dilakukan orang di depannya, ia berdiri kaku seperti arca penunggu candi. Gebaran di hati dan pikirannya sudah mati. Ia telah membunuhnya baru saja dan persetan dengan jiwa satria. Kalau perlu, ia akan menikam jantung orang itu meskipun orang itu lagi tertidur lelap di pelukan selir-selirnya. 

Ia lalu mengambil napas, mengembuskan kuat-kuat lewat mulutnya. Dengan bibir terkatup, ia menyiapkan gendewa wijaya, memasang panah taksaka. Ia membidik tepat ke arah jantung orang di hadapannya, lalu menarik tali busurnya sekuat tenaga.

“Arjuna, demi masa lalu, masa kini, dan masa nanti, aku harus membunuhmu.”

“Hamba siap, Kakang,” jawab Arjuna lirih.   

Arjuna tersenyum pada orang yang sangat menginginkan nyawanya ini. Dia justru merentangkan kedua tangannya, membuka dadanya lebar-lebar sambil melemparkan panah pasopati yang sedari tadi ditimangnya tanpa peduli arah jatuhnya.

“Hamba pamit….”

Panah pasopati itu terlempar ke tumpukan batu tepat pada pangkalnya, lalu melesat bagai peluru kendali, menerjang pori-pori udara dan semuanya. Ia terkesiap dan segera menyadari bagaimana akhir kisah ini nantinya. Seketika senyum getir tersungging di bibir. Hidup ini, terutama hidupnya, ternyata begitu lucu, absurd, dan sia-sia. Ia pun memejamkan mata, menyambut mautnya. Setengah detik kemudian, panah pasopati itu menembus leher; memotong kulit, daging, otot, tulang, dan semua yang menghalangi laju geraknya. Tempurung kepala itu terpental dan menggelinding. Darah berselerak membasahi ilalang.***

                                                                               Pekalongan, 3 September 2021


Dewanto Amin Sadono, guru dan penulis. Beberapa karyanya memenangkan lomba dan dimuat di media masa cetak dan online. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit menjadi Juara I, Perpusnas Writingthon Festivaal November 2022. Naskah lakon Ikan-Ikan di Kedung Mayit menjadi Nominator Lomba Naskah Lakon Dewan Kesenian Jakarta, Desember 2022.

Cerpen

Kisah Tanpa Kata Depan

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Siksaan itu datang ketika orang yang menyebalkan ini terus mengumbar suaranya. Delapan jam lebih omongannya menghantam utara, menabrak selatan, menendang barat daya sebelum kemudian berbalik arah dan akhirnya tersesat. Saya gagal mencari cara menutup mulutnya; terpaksa membiarkan telinga ini panas sekali. Bahkan hampir melepuh.

“Turun mana, Mas?” tanya orang ini setelah lima belas menit sebelumnya riuh menceritakan kesaktian keris-keris dagangannya. Namanya Agung, rambutnya gondrong, biasa bolak-balik Solo-Jakarta, dan pedagang barang pusaka. Langganannya para pejabat. Istrinya kurus langsing. Wajahnya biasa-biasa saja.

Saya sebutkan nama sebuah desa yang kini dibelah jalan tol. Kabar yang saya dengar, sungai tempat kami dulu biasa mandi itu telah dikangkangi jalan layang. Pohon asam raksasa itu juga sudah ditebang. Dua puluh tahun sudah tanah kelahiran yang dulunya dipenuhi para begundal itu tidak saya injak. Saya pergi seminggu sebelum bapak meninggal dunia dan tak bisa menghadiri pemakamannya. Sejak itu belum pernah pulang lagi.

Teman-teman seangkatan saya telah pergi satu per satu. Ada yang merantau. Ada pula yang mati mengenaskan. Sebagian peristiwa maut itu saya saksikan sendiri.  Ketika ingin membeli tambahan minuman keras, Agus, Santo, dan Rudi tewas ditabrak bus dan tak bisa merayakan Lebaran esok harinya.

Tubuh mereka berantakan dan berserakan. Darah menggenangi aspal. Motor yang mereka naiki ringsek. Mengganjal roda belakang sebelah kiri bus. Lima bulan kemudian Joko Pendek overdosis. Panggung acara tujuh belasan itu saksi bisu ketika drumer amatir itu ambruk meskipun lagu “Semut Hitam” punya Gong 2000 itu belum mencapai refreinnya. Stik drum itu masih digenggamnya.

“Aku kenal orang-orang situ. Brengsek semua!” ucap Agung tiba-tiba. “Endar sudah mati, kan?”

Saya tersenyum dan tak membantah. Endar teman akrab saya dan memang liar. Hotel itu bersebut gardu ronda dan bau kencing. Setelah seharian pesta minuman keras, Endar tidur ditemani pacarnya. Yang Endar dan pacarnya lakukan malam itu adalah rumor. Namun, peristiwa pagi harinya adalah fakta. Azan Subuh bergema. Pacarnya minta diantar pulang. Berjalan sempoyongan, disusurinya jalan beton itu; sekitar lima ratus meter. Endar pinjam mobil bapaknya, tapi tidak diperbolehkan. Segera saja ditendang-tendangnya pintu garasi itu.

Si kakak perempuan meredakan suasana. Menyuruh Endar memakai mobilnya. Barangkali agar si Endar lebih berhati-hati ketika nanti mengemudi, bukan hanya mobil barunya yang diberikan si kakak yang sedang mudik lebaran itu, tapi juga dua anak perempuannya yang sudah bersiap-siap pergi Salat Id. Dua bocah berumur sepuluh dan delapan tahun itu cantik sekali. Juga wangi. Mereka berpakaian serba putih seperti sepasang bidadari.

Seolah-olah jalan raya Solo-Semarang itu milik moyangnya, Endar menggunakan dua jalur sekaligus. Termasuk yang berlawanan arah. Bus malam penuh penumpang itu pun dihantamnya.  Setelah dua kali jungkir balik, sedan biru metalik itu melompati jalur lambat, menghantam pohon waru, lalu menimpa warung. Endar dan dua keponakannya tewas seketika. Tubuh mereka ringsek. Aneh, tapi nyata, si pacar selamat. Lehernya hanya tergores kaca.

Endar dan dua ponakannya dikuburkan setelah salat Id. Seakan-akan ikut berduka, langit tiba-tiba mendung, lalu hujan turun cukup deras tak lama sesudahnya. Tanah kuburan basah. Pohon-pohon kamboja menggugurkan kembangnya. Tiga jenazah itu dikebumikan bersebelahan. Bergiliran. Jenazah dua bocah perempuan itu sudah ditimbun tanah. Doa-doa telah dipanjatkan. Orang-orang menangis. Bapak-ibunya hampir pingsan.

Berikutnya, giliran Endar. Begitu pocong yang bermandikan darah itu menyentuh tanah, petir menggelegar keras sekali. Tiga kali saja. Setelah itu sepi. Seisi kompleks pemakaman pucat pasi. Semua terdiam seperti kawanan anjing tanah terinjak kaki. Bayangan malaikat penjaga kubur yang lagi mengayun-ayunkan cemeti besi itu membius mereka.

Arwah Endar lalu menghantui saya. Paling tidak seperti itu perasaan saya. Bau semacam bunga melati tercium sangat tajam ketika saya melewati pos ronda tempat kami biasa berkumpul. Bulu kuduk ini langsung berdiri. Saya pun segera berlari secepat-cepatnya. Pulang. Tidak jadi beli rokok.

Bukan hanya itu saja. Saya juga merasa ada yang mengetuk-ngetuk jendela kamar. Memanggil-manggil. Suara yang sangat mirip suara Endar itu menerobos lubang ventilasi, memutari dinding kamar, dan tak mau pergi. Bocah gila berumur seperempat abad ini pun lalu menjadi seperti bayi lagi. Gegas menyusul ibunya. Minta dikeloni.

Saya baru berani keluyuran lagi, juga tidur sendiri, setelah ibu meninggal dunia. Tepat empat puluh hari sejak kematian Endar dan dua keponakannya itu. Saya yakin Endar tidak berani  menghantui karena saya dijaga ibu. Endar selalu mencium tangan ibu ketika mereka bertemu. Walaupun sudah meninggal, harapan saya, Endar tidak lupa kebiasaan baik itu.

Mobil memasuki Brebes. Kecepatannya cukup tinggi. Undangan pernikahan keponakan itu tidak bisa saya tolak. Ketika dulu meninggalkan rumah, kakaklah yang membelikannya karcis kereta. Saya pilih naik travel. Tidak harus tes antigen dan sebagainya. Cukup pakai masker. Namun, kepraktisan itu ternyata ada imbalannya. Termasuk saya, sebenarnya penumpang travel hanya tiga orang. Namun, suara Agung yang gegap gempita itu telah memberi kesan seakan-akan penumpangnya sangat penuh.

Saya sudah hampir tertidur ketika pertanyaan Agung ini tiba-tiba datang mengusik.

“Bagaimana kabar Kerek? Sepertinya dia tak pernah pulang.”

Saya mengerutkan kening, lalu melirik si penanya yang sangat menjengkelkan itu. Masker hitam yang melorot itu segera saya benahi. Nama itu sangat menarik perhatian saya. Kerek adalah bahasa Jawa yang artinya pemungut sisa-sisa hasil panen. Konsonan belakang dibaca seperti kata “korek”.  Saya tak ingat kapan julukan itu lahir. Juga alasannya.

“Aku pernah dipukuli Kerek. Coba saja waktu itu Kerek tidak bersama anak-anak kompleks AURI. Pasti sudah kuhajar. Mukanya kupermak,” kata Agung lagi.

Agung lalu menceritakan jalannya pemukulan itu. Suaranya riuh rendah. Sepertinya tak peduli nantinya bakal mengganggu tidur istrinya. Dia ingin memberi kesan dialah jagoannya. Dipukuli, tetapi baik-baik saja. Wajahnya yang porak poranda itu tidak diceritakannya. Juga ketika dilemparkan, mencium selokan, lalu diinjak-injak.

Sepertinya Agung sangat kenal Kerek. Hafal kejahatan-kejahatan yang dulu dilakukan Kerek. Merampok bensin pom bensin. Memukuli sopir bus yang ugal-ugalan menjalankan busnya. Menghajar wasit yang curang ketika memimpin pertandingan bola, dan masih banyak lagi. Bahkan, Agung tahu sejarah diusirnya Kerek.

“Mungkin saking malunya punya anak yang nakalnya seperti setan,” kata Agung.

Saya tersenyum masam dan ingat betul peristiwa malam itu. Si bapak memanggil Kerek. Berucap tanpa kemarahan. Tak ada intonasi yang meninggi. Wajah si bapak terlihat teduh. Meskipun demikian, matanya tampak basah dan titik-titik air mata menggenangi kedua sudutnya. Kerek, preman kampung yang ketenaran nama premannya melebihi nama aslinya itu pun tak berkutik. Kepalanya menunduk.

“Bapak tidak perlu  malu lagi,” ucapnya lirih. “Besok saya pergi.”

Mobil SUV memasuki Bawen lalu berhenti. Rumah makan itu tak terlalu ramai. Saya tidak lapar. Hanya memesan kopi, lalu duduk menghadap pemain organ tunggal. Menikmati lagu Didi Kempot. Saya tak ingin mencari tahu posisi Agung dan istrinya. Sementara itu, si sopir travel sedang makan bersama sopir-sopir lainnya.

Satu jam kemudian perjalanan dilanjutkan. Jalan tol ramai-lancar. Lampu-lampu mobil mulai dinyalakan. Cahayanya berseliweran. Berebut menembusi pori-pori udara. Tanah kelahiran saya masih lima puluh kilometer lagi. Sabuk pengaman saya pasang. Mencoba tidur. Namun, baru juga mulai memejamkan mata, suara bising nan cempreng ini mengganggu lagi.

“Sebenarnya Kerek itu pengecut. Beraninya main keroyokan. Temanku pernah menantang single. Kerek ngeper. Pilih ngumpet,”  kata Agung.

Saya tersenyum kecut tanpa memberikan tanggapan, lalu menguap. Masker hitam yang kembali melorot itu saya betulkan. Kerek punya banyak tato, kata Agung lagi.  Tak ada yang bagus. Gambar naganya mirip cacing. Jelek sekali. Agung lalu tertawa.

Masih banyak lagi cerita Agung yang bertemakan si Kerek. Namun saya tak ingin menanggapi. Lebih sering menguap. Namun, ketika tiba-tiba Agung menyebut-nyebut nama Erna, kantuk saya seketika hilang.

“Erna jadi pacar Kerek karena kena guna-guna. Semua tahu itu. Kalau mainnya wajar, tak mungkin Erna mau,” kata Agung sangat yakin.

Saya menegakkan punggung. Memijat-mijat kedua kelopak mata. Mencoba mengusir bayangan yang tiba-tiba hadir itu, tapi gagal. Erna anak guru SD. Ketika cinta Kerek dan Erna sedang tumbuh dan semekar bunga mawar, hubungan mereka diketahui orang tua Erna.  Si bapak guru itu mengancam akan mengusir Erna jika tetap menjalin hubungan dengan Kerek. Namun, Erna bergeming.

Erna tetap mengirim surat seminggu sekali. Kerek kadang membalasnya walaupun seringnya tidak. Suatu hari surat berisikan kata-kata cinta yang akan dikirimkan Erna itu kena sita. Bapaknya sangat marah lalu memaksa Erna menjalani perkawinan ala Siti Nurbaya. Erna pun minggat. Tujuannya Jakarta. Tempat Kerek sedang berada. Namun, Kerek justru mengusirnya.

“Pulanglah! Patuhi orang tuamu!” ucapnya.

Erna menunjukkan sifat keras kepalanya. Bersikukuh menentang kehendak orang tuanya. Sampai akhirnya Kerek mengatakan sudah tidak mencintai Erna lagi. Sudah punya pacar baru, katanya. Bahkan, foto perempuan entah siapa itu dia tunjukkan. Erna menangis; tak percaya. Saat itu juga Erna meninggalkan kamar kontrakan Kerek. Itu setelah memeluk, lalu mencium pipi Kerek. Masih menangis dan masih tak percaya.

Dua bulan berikutnya Erna dinikahi laki-laki pilihan orang tuanya dan meninggal dunia setahun kemudian—juga bayinya—setelah mengalami pendarahan sangat hebat saat melahirkan. Kerek menangis mendengar kabar kematian itu. Menangisi kisah cinta mereka yang pupus. Menyesali pengorbanannya yang sia-sia. Walaupun percintaan mereka telah direnggut paksa, kebahagiaan Erna-lah yang paling utama. Menurut pengalamannya, anak yang menentang orang tuanya, nasibnya akan celaka. Kerek tak ingin hal itu menimpa Erna.

Harapan Kerek, nantinya perjalanan hidup Erna serupa kumpulan kalimat, paragraf, dan bab yang membentuk sebuah buku. Dengan akhir yang indah pastinya. Sementara itu, seperti halnya kata depan, dirinya tidaklah sangat penting. Bisa dihilangkan semau-maunya tanpa mengubah makna kalimat. Bahkan isi sebuah teks.

Namun, siapa yang menyangka kehidupan Erna ternyata langsung tamat begitu memasuki bab kedua.  Kematian sang kekasih hati itulah yang telah mengubah cara Kerek memandang kehidupan. Hidup dan kehidupan ini ternyata bukan perhitungan matematika yang serba pasti dan tak terbantahkan.

Mobil melewati perbatasan Kota Solo. Sebentar lagi rumah kelahiran itu kelihatan. Rumah saya.  Jaket saya kancingkan. Topi yang sedikit  miring itu saya luruskan. Tak lupa, membenahi letak masker yang terus-terusan melorot.  Mobil berhenti. Saya turun. Melewati Agung tanpa menyapa. Saya masih menahan kegeraman ini. Terutama perihal si Erna yang katanya dipelet Kerek. Itu jelas-jelas fitnah yang sungguh keji dan mungkar. Coba saja saya tidak sangat lelah dan ngantuk. Sibanyak bacot itu pasti sudah saya injak-injak perutnya. Pukuli wajahnya. Tendangi mulutnya. Lagi.***

Kajen, 21 Februari 2022


Dewanto Amin Sadono, guru dan penulis. Beberapa karyanya memenangkan lomba dan dimuat di media masa cetak dan online. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit, menjadi Juara I, Perpusnas Writingthon Festivaal. Oktober 2022.

Cerpen

Suro Gentho

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Setelah lima belas menit berlari tanpa henti, bocah itu pun terkapar di halaman rumah seorang warga. Mulutnya megap-megap seolah-olah sedang dicekik lehernya. Pemilik rumah lalu buru-buru memberinya segelas air putih. Tak seberapa lama berbagai macam racauan seperti orang gila berhamburan dari mulut si bocah. Meskipun ocehannya membingungkan, orang-orang yang sedang berkerumun di tempat itu bisa memahaminya: Suro Gentho hidup lagi.

Warga Awon-Awon pun geger. Para pengecut buru-buru masuk rumah. Menutup pintu rapat-rapat. Menyembunyikan harta bendanya di dasar sumur. Mengungsikan istri dan anak perempuannya ke desa tetangga. Pada saat matinya, Suro Gentho adalah perampok. Sudah pasti saat ini masih suka merampok juga. Begitu barangkali yang ada dalam benak mereka.

Lima orang yang merasa punya nyali segede gajah bengkak segera ke kuburan untuk membuktikan kabar tersebut. Dari balik pagar kompleks pemakaman yang hampir rubuh itu, mereka memusatkan pandangan ke dalam makam. Dan di pojokan sana, seperti iblis baru saja bangkit dari kematiannya, Suro Gentho tampakberdiri termangu-mangu di pinggir lubang kuburannya.

Tubuh Suro Gentho terlihat kurus kering mirip jerangkong. Sepasang matanya sangat cekung bagaikan cerukan mangkuk bakso sehingga sebutir telor bisa diletakkan di dalamnya. Pakaian yang biasa dikenakan para pejuang kemerdekaan itu masih melekat pada tubuhnya. Bolong-bolong bekas tembakan peluru.

Terdengar Suro Gentho menggerundel: tentara telah bertindak biadab. Memperlakukannya seperti binatang. Menggantung mayatnya seperti jemuran basah.

Dari jarak dua puluh meter, lima orang sok pemberani tersebut terus gemetaran. Terduduk di tanah tanpa sadarnya. Pemandangan mengerikan itu ternyata lebih mengerikan daripada bayangan mereka.

Sementara itu, Suro Gentho masih tetap belum bisa memahami perjalanan hidupnya. Ilmu kesaktian yang dibangga-banggakannya itu ternyata justru membuat hidup dan matinya selalu dalam keadaan koma. Sambil menepis sisa tanah kuburan pada pakaiannya, Suro Gentho berjalan gontai menuju luar makam, lalu berhenti tepat di depan pintu gerbang. Ditolehnya  lima orang berwajah seputih kapas yang sedang jongkok berhimpit-himpitan di samping pohon teh-tehan itu.

“Di mana ini? Daerah mana?” tanya Suro.

Suara tersebut pelan saja, tapi tetap saja telah mengguncang dada mereka yang mendengarnya. Salah satu dari mereka yang merasakan kakinya lumpuh tiba-tiba, tapi belum sampai terkencing-kencing, buru-buru menunjuk papan nama di atas pintu gerbang, tanpa berani mengangkat muka. Melirik ke arah si penanya pun tidak.

Suro Gentho menoleh ke arah yang ditunjuk. Sesaat kemudian dia terlihat menyeringai. Memperlihatkan giginya yang masih utuh dan cokelat kehitam-hitaman. Papan kayu itu bertuliskan Sasono Layu, Desa Awon-Awon, Kecamatan Colomadu. Ada kenangan indah di tempat ini dan semoga anak laki-lakinya itu belum mati.

“Tahun berapa sekarang?” tanyanya lagi.

Mula-mula lima orang yang sok berani tersebut tak segera menjawab. Namun, setelah menyadari si penanya adalah orang yang sudah lama mati dan sangat pantas menanyakannya, seseorang segera menyebutkan angka tahun ini.

Sesaat kemudian bibir Suro Gentho berkomat-kamit, mengikuti gerakan jemarinya, menghitung jumlah tahun yang telah dia habiskan di dalam kuburnya. Segera saja mukanya yang keriput itu berkerut. Umurnya sudah 108 tahun. Semua perawan pasti menolak dikawininya.

“Tahu rumahnya Warto? Warto Digdo? Masih hidupkah dia?” tanya Suro Gentho lagi.

Kelima orang tersebut serentak mengangguk.

“Tahu!”

Lalu menggeleng. Juga berbarengan.

“Sudah meninggal.”

***

Hampir semua warga Desa Awon-Awon yang berusia di atas lima puluh tahun kenal nama Suro Gentho. Bahkan pada era 60-an, kekejaman Suro Gentho dan gerombolannya disebut-sebut melampaui kebengisan tentara Jepang.

Ketika belum ada embel-embel genthonya, Suro adalah pejuang. Selain rajin mengganggu pasukan Belanda yang lagi berpatroli di pinggiran Boyolali dengan lemparan bom kotoran kuda dan sambitan ketapel,  Suro dan lima temannya juga pernah hendak menyerbu tangsi Belanda di Desa Bangak, Banyudono. Namun, mereka dipergoki tentara Belanda yang lagi patroli naik jip bersenjatakan stengun dan siap ditarik pelatuknya. Satu pejuang dihabisi penembak jitu. Peluru dari jarak dua ratus meter itu menembus belakang kepalanya. Sementara tiga lainnya kena berondongan timah panas sebelum sempat bersembunyi di balik batu. Peristiwa penyerbuan yang gagal itu menyisakan Suro seorang.

Suro juga pernah bahu-membahu dengan Tentara Pelajar dan pasukan Slamet Riyadi saat menggempur Belanda yang sedang berlindung di Benteng Vastenburg, Gladak, Solo. Pertempuran yang berlangsung empat hari penuh itu memakan korban banyak sekali. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan yang kini dinamai Jalan Slamet Riyadi itu. Namun, Slamet Riyadi yang hilir-mudik sambil memberikan komando justru tidak terluka sedikit pun. Bahkan, tak ada sehelai rambut pun yang kena serempet peluru tentara Belanda. Konon, Slamet Riyadi punya ilmu lembu sekilan. Semua peluru yang mengarah kepadanya tiba-tiba berbelok arahnya sejengkal sebelum mengenai tubuh.

Setelah Belanda benar-benar minggatdari Indonesia, Suro yang sangat ingin menjadi tentara resmi dan digaji negara itu ikut mendaftar sebagai anggota TNI, tapi ditolak. Selain umurnya dianggap terlalu tua, tentara tidak butuh orang yang bertabiat garong seperti dirinya. Tentara yang berisikan orang-orang yang maunya bertindak seenak perutnya dan tak patuh pada pimpinan seperti itu hanya akan mengacaukan seluruh rencana.

Suro mengajukan protes kepada panitia seleksi, tapi tak ada yang menggubris. Bahkan, Suro diusir dan diancam akan ditangkap. Dengan menahan perasaan dongkol yang luar biasa, Suro dan orang-orang yang bernasib sama dengannya kembali ke hutan. Meneruskan perjuangan.

Pasukan liar pimpinan Suro yang selanjutnya disebut gerombolan oleh polisi dan tentara itu tak lagi menyerang para bule atau prajurit kate, melainkan merampok orang-orang kaya, terutama para saudagar, dan tak peduli warna kulit atau tinggi badannya. Menurut Suro, tabiat para pedagang itu tak ubahnya penjajah. Tega berlaku aniaya dan mengeruk harta sebanyak-banyaknya demi kepentingan sendiri. Tak peduli orang lain makan bonggol pepaya agar tidak mati kelaparan.

Setelah beberapa kali hampir kehilangan nyawa dalam duel melawan  para jawara pengawal orang-orang kaya, juga polisi dan tentara yang terus mengubernya, suatu hari Suro teringat akan Slamet Riyadi. Walau tak berminat namanya kelak akan diprasastikan sebagai nama jalan raya di seantero Nusantara, Suro ingin mempunyai kesaktian yang sama. Syukur-syukur melampaui. Suro pun pamit kepada gerombolannya. Mengajukan cuti dari merampok demi mencari guru sakti.

Entah siapa pemberi informasinya, Suro pergi Gunung Lawu dan bertapa di puncaknya sebulan lamanya. Merasa belum mendapat kesaktian seperti keinginannya, Suro melanjutkan bersemedi di Gunung Merapi selama tujuh malam tujuh hari. Tirakat kelas berat itu dia jalani tanpa busana, makan, dan minum kecuali meneguk air liurnya sendiri. Belum juga puas akan ilmu yang sudah dia dapatkan, Suro pergi ke Parang Kusuma untuk  mengabdi kepada Nyi Roro Kidul selama tiga bulan lamanya.

Walau tubuhnya yang dulu gemuk itu telah menjadi kurus kering seperti sebatang ranting, Suro pulang ke gerombolannya sambil menepuk dada: mengklaim dirinya tak bisa mati. Sejak itu pula Gerakan Rakyat Kelaparan (Grayak) yang biasa beroperasi di wilayah MMC, Merapi-Merbabu Complex, itu bagai mendapat tambahan segudang amunisi.

Gerombolan Suro lalu merampok di mana-mana dan siapa saja. Tak peduli  cuaca, tempat, dan waktu. Bahkan, keberadaan polisi atau tentara sekali pun. Suro yang kemudian mendapat gelar gentho itu kadang-kadang justru sengaja ingin mempermalukan para petugas negara itu dengan cara mendatangi rumahnya, merampok harta bendanya, dan tidak lari ketika mereka menembakkan senjata.

Begitulah, walaupun kepala Suro Gentho pecah, dadanya ditembus peluru, dadanya berlubang segede gelindingan bakso, darahnya tumpah melimpah-limpah, begitu tubuhnya menyentuh tanah, Suro Gentho hidup lagi. Tanpa menyisakan bekas luka sama sekali. Begitu yang terjadi setiap kali.

Makin hari kelakuan Suro Gentho makin gila. Dia menentang dan menantang siapa saja untuk melawannya. Lupa di atas langit masih ada langit. Begitu juga di atasnya lagi.  Orang sakti dan berilmu tinggi–sebut saja namanya Kumbang–yang oleh para tetangganya hanya dikenal sebagai marbut musala merasa terusik hatinya. Kumbang pun mendatangi markas tentara, membocorkan rahasia kelemahan ilmu pancasona milik Suro Gentho.

Pagi harinya lima belas tentara menguber Suro Gentho ke lereng Gunung Merbabu. Selain senjata, mereka juga membawa jaring yang biasa dipakai untuk memerangkap celeng. Kalau biasanya nyali mereka menciut seperti kelaminnya saat  kedinginan, kali itu mereka berangkat dengan langkah gagah. Apalagi sang komandan sudah mewanti-wanti: kalau sampai gagal lagi menangkap Suro Gentho, bakal dikurung di ruang isolasi ditemani ular berbisa sebanyak lima belas biji.

Mendapat laporan dari mata-mata yang bertugas di pinggir Hutan Gondho Mayit bahwa tentara bersenjata lengkap sedang menuju markas Grayak, alih-alih kabur, Suro  Gentho justru menyongsongnya seorang diri. Disuruhnya anak buahnya sembunyi. Boleh juga lari dan tidak akan dianggap sebagai pelaku disersi. Namun, anak buah Suro Gentho yang pernah berkali-kali menyaksikan kesaktian pimpinan mereka itu tak mau memilih keduanya. Mereka justru ingin menonton. Apalagi sudah lama sekali mereka tidak mendapatkan hiburan. Wayang kulit terakhir yang mereka tonton sudah dua tahun lalu. 

Sesuai petunjuk dari Kumbang, kali ini para tentara tidak langsung menembak Suro Gentho yang terus mengayun-ayunkan goloknya. Namun, mengeroyoknya. Memukuli Suro Gentho hingga pingsan. Lalu meletakkan tubuhnya di atas jaring yang direntangkan. Membungkusnya seakan-akan laba-laba sedang menggulung serangga yang masuk ke dalam perangkapnya.

Dengan sebatang kayu cemara seukuran lengan, dua orang tentara memanggul Suro Gentho seolah-olah celeng yang hendak dibawa ke tempat penjagalan. Sang pimpinan regu segera mendekat.  Berdiri tegak di samping tubuh yang lagi terayun-ayun itu. Setelah memberi hormat, ditembaknya kepala Suro Gentho tiga kali.

Setelah menunggu lima belas menit dan ternyata Suro Gentho tetap juga mati, seratus dua anggota gerombolan yang sedang bersembunyi di balik gerumbul ilalang dan batang pohon jati itu pun segera berhamburan. Pontang-panting seperti sedang dikejar setan.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada pejuang yang telah beralih kiblat menjadi bajingan itu, komandan tentara memerintahkan anak buahnya agar memakamkan Suro Gentho di tempat kelahirannya. Atau di tempat lain yang barangkali disukainya. Karena tak ada yang asal usul Suro gentho, dipilihlah opsi kedua. Setelah seharian dipajang di lapangan sepak bola seperti babi panggang, mayat Suro Gentho dibawa ke kompleks pemakaman berjarak lima belas kilometer dari markas tentara. Di Desa Ngawon-Awon itu ada perempuan yang diakui Suro Gentho sebagai istrinya.

Setelah diadakan upacara militer sederhana, diiringi tembakan salvo tiga kali, Suro Gentho dikubur dengan cara khusus. Mayatnya diikat kawat pada potongan besi yang tergantung setengah meter dari dasar lubang. Sebelum jasadnya mulai ditimbun tanah, di atas potongan besi yang silang menyilang seumpama kerangka cor-coran jembatan itu ditutupi lembaran seng.

Selain tentara, tak ada pelayat lain di kompleks pemakaman  berumur sangat tua itu kecuali perempuan yang sedang menggendong bayi laki-lakinya. Keduanya terus menangis. Si perempuan karena sedih; si bayi sebab lapar. Ingin menyusu, tapi ibunya tak mau lagi membuka bajunya di depan tentara.

Bayi yang terus menangis itu Warto Digdo alias Mbah Mantan, kepala desa lama. Namun, sudah meninggal.  Saat ini kepala desanya Wagino Digdo, anak laki-laki Warto Digdo, yang berarti cucu Suro Digdo alias Suro Gentho.

***

Suro Gentho tiba di rumah Wagino Digdo menjelang Magrib. Sang cucu menyambutnya di depan pintu gerbang. Lima menit sebelumnya salah satu orang yang tadi menyaksikan kebangkitan kakeknya itu telah memberitahu.  Wagino Digdo memeluk Suro Gentho penuh keakraban, memperkenalkan istri dan anak laki-lakinya, lalu membawanya ke ruang keluarga. Semua lampu dinyalakan seolah-olah ada pesta. Semua hidangan disajikan seakan-akan sedang kedatangan raja.

Seperti wabah kolera, berita tentang Suro Gentho yang bangkit dari kuburnya itu pun menyebar ke mana-mana. Tanpa menunggu datangnya pagi, orang-orang berdatangan ke rumah Wagino Digdo yang besar dan mewah itu. Demi bisa menonton Suro Gentho, mereka bahkan rela berdesakan-desakan di halaman dan jalanan dan berebut memanjat pohon. Ada juga yang tak memasang tenda di samping comberan di dekat sumur.

Paginya Wagino Digdo menjumpai para penonton yang menyemut di sekitar rumahnya. Sang kepala desa yang sedang digadang-gadang oleh partai politik berlambang kepala celeng untuk dimajukan sebagai calon bupati pilkada tahun depan itu mengatakan, Suro Gentho telah pergi. Itu saja. Lalu masuk rumah lagi. Ditutupnya pintu rumahnya rapat-rapat. Dibiarkannya orang-orang bergelut dengan tanda tanya.

***

Konon kabarnya, sebenarnya, Suro Gentho tidak ke mana-mana. Masih di rumah itu juga. Menyiapkan cucunya menjadi penerusnya.***

Kajen, 8 November 2021


Dewanto Amin Sadono, guru SMP dan penulis, tinggal di Kajen, Pekalongan. Cerpen-cerpennya memenangkan beberapa lomba dan diterbitkan dalam beberapa kumpulan cerpen juara. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit menjadi Juara 1 lomba Novel yang diadakan Perpusnas Writingthon Festival, Oktober 2022.

Cerpen

Pemburu Celeng dan Celeng yang Memburunya

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Peluru kaliber 30,06 mm itu melesat dari moncong Mouser dan tepat mengenai bagian belakang telinga. Celeng itu pun menguik-nguik, menggelepar-gelepar bagai ayam yang disembelih lehernya, lalu tak bergerak-gerak lagi.

Gegas, Marbun menuju buruannya. Tamim, si tukang lampu blor, terseok-seok di belakangnya. Aki truk pada tas ransel itu menggelantung di punggungnya seperti buah nangka yang menjuntai pada batangnya. Tak sampai dua menit mereka tiba di semak-semak yang telah tersibak-sibak itu.

Seketika Marbun menampakkan wajah bingungnya. Celeng itu tidak ada. Hanya tersisa ceceran darahnya.

Seketika Tamim merapat ke Marbun. Wajahnya pucat pasi. Bulu kuduknya berdiri. Apalagi ketika tiba-tiba udara di bawah pohon beringin hutan itu dipenuhi bau bangkai.

“Siluman Dewi Celeng,” desisnya.

“Siapa?” tanya Marbun.

“Dewi Celeng,” kata Tamim, “pelindung para celeng.”

Marbun pernah mendengar nama itu, tapi cenderung tak percaya. Di hutan mana pun yang pernah diterabasnya, selalu ada tahayul-tahayul seperti itu. Namun, dia pilih tak berkata apa-apa. Tak ingin berdebat dengan warga asli Cikidang itu. Mereka lalu meneruskan perburuan, tapi sampai pagi menjelang tak ada celeng lagi yang mereka jumpai.

***

Marbun baru saja turun dari mobil dinasnya ketika Didit, anaknya yang baru kelas IV SD itu menghampirinya.

“Pa, tadi Didit ketemu celeng. Seperti foto di ruang tamu itu, lho.”

Ketemu di mana?” tanya Marbun sambil merangkul pundak buah hatinya itu dan berpikir: sudah saatnya Didit diberi adik agar tak terlalu banyak berfantasi.

“Di gerbang sekolah.”

“Boneka?” tanya Marbun lagi, mengelus rambut anaknya.

“Bukan.”

Cosplay?”

“Bukan! Celeng beneran!” serunya dan bocah sepuluh tahun itu tampak merengut.

Marbun menatap Didit dan mukanya tampak terkesiap.

“Celengnya sedang apa?”

“Tidak ngapa-ngapain. Hanya mengawasi Didit.”

“Terus?”

“Celengnya dua. Yang hitam banget ketemu waktu Didit baru datang di sekolah. Celeng satunya, yang tidak hitam banget, waktu Didit pulang.”

“Celengnya ngomong apa?” tanya Marbun lagi. Dalam hatinya mulai timbul tanda tanya.

“Tidak ngomong apa-apa.”

“Yang ngeliat kedua celeng itu siapa aja?”

“Didik tidak tahu. Tadi tidak nanya ke teman-teman.”

***

Marbun sudah hampir lupa cerita Didit tentang celeng di gerbang sekolahnya itu ketika dua hari kemudian istrinya mengatakan hal yang sama.

“Celeng beneran?” tanya Marbun. Keningnya berkerut.

“He eh. Masak Mama bohong,” jawab istrinya.

“Mama salah liat kali?”

Suer! Mama lihat dari jendela kaca ruang tamu. Celeng itu berdiri di trotoar, mengawasi rumah kita. Saat Mama keluar, celeng itu cepat-cepat kabur. Lewatnya di dekat bak sampah. Hilang di belokan menuju rumah Pak Tanu. Jangan-jangan babi ngepet, ya Pa?”

Marbun tak menjawab. Tiba-tiba ingatannya melayang pada cerita Tamim tentang Dewi Celeng. Juga celeng yang pernah ditembaknya, tapi bangkainya tak ada itu. Meskipun demikian, Marbun pilih menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri. Tak ingin membuat Maya, teman kuliah di fakultas hukum yang kini jadi istrinya itu menjadi resah.

Dia tak terlalu yakin celeng-celeng yang dilihat anak-istrinya itu ada hubungan dengan hobinya. Mungkin hanya halusinasi mereka. Apalagi ada hubungan dengan kasus korupsi pupuk yang sedang ditanganinya. Tidak mungkin para koruptor itu menyuruh celeng-celeng itu untuk meneror keluarganya.

***

Sabtu pun datang. Marbun kembali berburu ke Cikidang. Kali ini mengajak Marno, sopir kantor yang sering mengantarnya ke mana-mana. Marbun tak percaya hantu, siluman, atau yang sebangsanya. Celeng ya celeng! Perihal celeng yang seminggu lalu ditembaknya, tapi tak ditemukan bangkainya itu, kemungkinan besar karena hanya kena serempet kupingnya.  

Seperti sebelumnya, Marbun berniat menyewa jasa Tamim sebagai penunjuk jalan, penggendong aki, sekaligus tukang sorot lampu blor. Selain tahu seluk-beluk Hutan Cikidang, Tamim juga pembenci celeng. Mereka tiba di Cikidang menjelang Isya. Marbun berhenti di warung kopi di ujung desa. Tamim sering nongkrong di situ. Namun, malam itu Tamim tidak ada.

***

“Kapan?” tanya Marbun, kaget.

“Hari Minggu, Om,” jawab remaja berjaket merah itu.

“Minggu?” Marbun tersentak. Dahinya berkerut sedalam selokan. Berarti tak sampai sehari setelah berburu dengannya, pikirnya. “Kenapa? Sakit apa?” tanyanya lagi.

Nggak jelas penyakitnya, Om. Tahu-tahu badannya panas. Mengigau, menyebut-nyebut Dewi Celeng. Sorenya mati.”

***

Marbun tetap meneruskan berburu, dan tak terlalu menghiraukan proses mati yang aneh itu. Orang bisa mati kapan saja dan di mana saja dan dalam berbagai cara. Igauan orang yang sekarat bisa macam-macam. Kebetulan saja Tamim menyebut-nyebut nama Dewi Celeng. Bukan Dewi lainnya.

Rencana Marbun, mereka tidak usah jalan kaki menerobos semak dan menyusuri jalan setapak seperti biasanya. Cukup dari atap mobil saja. Marno yang menyopiri sementara Marbun yang mengoperasikan lampu sorot sekaligus bertindak sebagai sniper. Kalau harus menggendong aki seberat lima belas kilo sambil membawa lampu blor sejauh lima kilo meter, bisa-bisa Marno yang kurus kering itu ikut-ikutan menyusul Tamim, tamasya ke akhirat. Begitu pikir Marbun.

Mobil Jeep yang sudah dimodifikasi itu pun kembali melaju, menyusuri jalanan yang sedikit mendaki. Pepohonan pinus bertambah rapat. Sampai di sebuah pertigaan, Marbun menyuruh Marno membelokkan mobil ke arah kiri, keluar dari jalan beraspal. Mereka bertemu jalan tanah yang becek akibat hujan dua jam sebelumnya. Kabut cukup tebal menyelimuti udara, tapi lampu halogen itu masih bisa menembusnya.

Ketika tiba di kawasan hutan yang dipenuhi ilalang, Marbun menyuruh Marno menghentikan mobil. Nalurinya, di tempat itu banyak celengnya. Saat Marbun sedang bersiap pindah ke atap mobil, seekor celeng tiba-tiba keluar dari semak-semak, lalu menghadang di tengah jalan. Hanya berjarak lima meter dari mobil.  Besar sekali. Sebesar anak kerbau.

“Pak, Pak! Celeng! Celeng!” teriak Marno panik.

“Sudah tahu. Jangan berisik!”

Marbun mengambil senapannya. Merayap lewat jendela, naik ke atap mobil. Terlalu berisiko menembak celeng sedekat itu dari atas tanah. Kalau tembakannya meleset, bisa-bisa dia mampus diseruduknya.

Di bawah sorotan lampu kabut, celeng itu bergeming. Moncong hitamnya berlendir. Matanya yang merah itu menyorot tajam seakan-akan menantang Marbun. Tangan Marbun tampak gemetar saat memasukkan peluru. Selama menjadi pemburu, belum pernah dia menjumpai situasi seperti itu. Bertemu celeng yang tak takut pada pemburunya.

Marbun mengambil napas, menempelkan popor senjatanya ke pipi kanan. Setelah sejenak mengatur napas, ditariknya pelatuk senjatanya. Klik! Senapan itu macet. Pun, mesin mobilnya mati. Disusul lampunya. Seketika suasana menjadi gelap gulita. Marbun gemetar. Apalagi ketika bau bangkai yang entah dari mana datangnya itu tiba-tiba menyerbu udara lalu menyeruduk lubang hidungnya.

***

Ketika SUV yang dikendarai Marbun itu berbelok ke Perumahan Griya Tawang, belum juga melewati portal yang tanpa penjaga itu, tiba-tiba seekor celeng seukuran anak kerbau melintasi jalan dengan santainya. Marbun kaget dan segera mengerem mobilnya. Di saat itulah sebuah sepeda motor memepet mobilnya. Terdengar letusan dua kali. Lima detik kemudian motor tanpa plat nomor yang dikendarai dua orang  berhelm balap itu melesat, lalu menghilang. Pula, celeng segede anak kerbau itu.**

Kajen, 8 Januari 2022


Dewanto Amin Sadono, tinggal di Pekalongan. Cerpen-cerpennya memenangkan beberapa lomba dan diterbitkan dalam beberapa kumpulan cerpen juara. Novel terbarunya Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit.