Puisi

Puisi Jihan Suweleh

Di Bandung

Rindu menikam

cinta menggali makam

pisau tertanam.

masa lalu

menjadi darah

dalam kakus.


Menjadi Ada

Aku ingin mati di hidupku

dan tumbuh di dirimu

sebagai sesuatu yang baru

saat hatimu basah

karena seseorang

biarkan aku merapal doa

tanpa pernah kau aminkan

saat dadamu bernanah

sebab luka tak sembuh lama

kutiupkan nyala tuk hapus lara

segala bentuk duka

tenggelam dalamku

berubah bunga yang mekar

tanpa batas waktu

aku mungkin tak ada

ketika kau berkaca

sambil menyisir rambutmu

yang patah-patah

karena shampo sudah tak pas

di kepala

aku mungkin tak ada

ketika kau mengejar

mimpi dan mengeja

kebahagiaan semu

yang kau catat dalam buku

biru berwajah laut

aku mungkin tak ada

setiap kau melihat dirimu

sendiri di dalam sunyi

yang terang dan pahit

dalam rekam medis

tetapi aku ada padamu

menggerakkan waktu

dan hidup sehidupmu

mati sematimu.


Menonton Horor

Sore itu kau bercerita

tentang film-film yang kau suka dan tak.

bagimu, kisah yang tayang di layar besar itu

adalah hiburan. cukup sebagai hiburan.

kau tak ingin berkomentar apa pun

jika jelek biarkan begitu

jika bagus pun tak berpengaruh

bagimu.

aku sepakat. bahkan seumur hidup

tak sanggup kuhapal adegan-adegan

dalam film meski kutonton berkali-kali.

kupikir kepalaku sudah penuh

dengan film-film yang kubuat sendiri

dan kau juga begitu

dalam kepalamu ada banyak darah

seperti adegan di film aksi dan horor yang

sebetulnya tak kau suka.

kau tak pernah suka.

Lima jam kita duduk bersama

membicarakan film dokumenter

dalam kepala

tiba-tiba kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang setiap wajah mengingatkanmu

pada ibu dan teman ibumu

juga temanmu yang sudah menjadi

seorang ibu.

kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang kakinya mengingatkanmu

pada ayah yang hampir tak pernah

terlihat oleh kita.

Kau mengenal seorang

perempuan yang hidup

sebagai hantu

berbaju hitam dan

bibirnya tak pernah berhenti

mengeluarkan asap

dia berbicara

banyak sekali

seperti memuntahkan

segala bentuk kamus

yang diciptakannya

sendiri.

Ayahmu mengenal perempuan

bertubuh pahit itu

yang mencium keningmu

lalu mengusap kepalamu

dan memintamu memanggilnya

Mama dengan M besar.

Ibumu mengenal perempuan

bermata beling itu

yang memelukmu kencang

seolah kau adalah anak

kecil yang lahir dari mulutnya

dan tak pernah tumbuh

menjadi gadis dewasa.

Aku juga mengenalnya

perempuan berkulit arang

menghapus isi kepala

ayah dan menggantinya

dengan memori-memori baru

tanpa pernah

kembali lagi.

Malam sudah mampir

kau berhenti bercerita

angin terasa lebih dingin

dari masa kecil kita.

kau menyudahi pertemuan

senyummu meninggi

punggungmu memudar

segalanya terekam

dalam kepalaku.

tanpa pernah akan

kuhapus.


Blokir

Air mata menjadi sepatu

berjalan sendiri

menabrak batu

terjebak di ruang kosong

bersama cicak dan laba-laba

yang tak dilihat keberadaannya.


Tak Pernah Ada Nanti

: AA

Kau adalah mimpi

dalam melek dan pejamku

catatan-catatan pada buku

cerita yang hidup

dan berlatar sungai

pun batu-batu

kau adalah doa

yang menolak berhenti

terucap dalam hati

kau selalu menjadi kini

selamanya

bertumbuh bersamaku

tanpa ada nanti.


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember.

Puisi

Puisi Jihan Suweleh

Fibromyalgia

Seperti mati

aku tertidur

dalam ngilu

sekujur tubuh

lelah mencekik

tulang begitu sakit

bertahun-tahun

aku budak tangis

apa yang kuingat

pudar perlahan

kecemasan, ketakutan

kepalaku menahan

luka dalam obat

kesembuhan

bukan antidepresan

kepercayaan

bukan penenang

sementara

persis tidurku

yang berhari-hari

tak berdaya

meski terlihat sehat

katakan bahwa aku akan sembuh

aku akan sembuh

tanpa pertanyaan:

benarkah kausakit?

leherku, pundakku

punggung, dada

kaki, tangan

melingkar kesakitan

aku tak sanggup bangun

dari tempat tidur

terlelap dalam hidup

yang mematikanku

setiap saat aku bertanya

mengapa aku terlalu payah

mengapa aku selalu lelah

meski tak berbuat apa-apa

aku ingin membeli energi

untuk tulangku

yang melulu ngilu

menyembilu


Trauma

Kenangan masa kecil

gelap dipejam

terbingkai pada mata

hadiah Papa Mama

membentuk benda tajam

di dalam kamar.


Waktu

Di magrib yang dingin

Kita sepotong bibir ranting

Di subuh yang sejuk

Kita sepasang kaki berteluk

Jarak menggigit bayangmu

Gemeletuk nyaring di kupingku

Tiada yang mampu menjarah waktu

Kau telah meniggalkanku, dan berlalu

Kenangan kutelan

Sendirian

Rindu mengudus

Dalam kardus

Sampai jumpa di lain hari

Ketika kau belum menjadi orang lain


Panggung Tangis di Mata Ibu

Aku melihat matamu, Ibu

menggerakkan kesedihan

menjadi seni pertunjukan

Setiap menyentuh panggung

aku melihat tangismu

pada tirai, pada lampu yang berderet

dan akan menyinariku

mendapat tepukan dari tangan

yang bukan dirimu

Tata rias yang teroles di wajahku

menyatu dengan kulit

sebagai duka yang kaulempar

tanpa lebih dulu kautatap

dan kostum-kostum yang kukenakan

adalah pertanyaan atas kesedihanmu

yang tak pernah sanggup kaujawab:

betulkah mimpiku adalah lukamu?

Aku rindu bersandar di dadamu

mendengar sunyi yang berdarah

hening yang memeluk kehampaan

tanpa air susu yang keluar

sebagai tali antara kita

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa lalumu, Ibu

selain payudaramu

tak sanggup mengeluarkan

apapun kecuali kesedihan

Adakah yang tidak kuketahui

dari masa laluku

sehingga yang kuingat hanya

Ibu mengurungku dalam diam

dan memukulku ketika aku lari

ke luar rumah

Di panggung berkilap-kilap

aku patung dalam matamu

wajah-wajah gembira di depan sana

adalah tangismu yang menolak

kepergianku

tetapi, Ibu, tidak ada jalan yang buruk

di atas panggung

meski panggung yang kita lewati

berbeda.


Pada Sebuah Televisi

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi air mata penonton setia

yang bersembunyi

pada nasib buruk sendiri.

Mereka melihatku sebagai perempuan

simpanan suami orang

merebut hak anak-anak tak berdosa

korban kegagalan rumah tangga.

Satu kali saja aku menjadi pemenang

meski menyakiti istri orang

anak orang, dan harga diri orang

yang rela melakukan apapun untukku

dan meninggalkan siapapun demi aku.

Kelak ketika aku kecelakaan

karena sibuk teriak-teriak

demi memperlambat durasi

kesedihan pada ujung takdir,

aku pasti bertobat dan meraung-raung

minta maaf pada Tuhan

sekalian tak menyangka, ya ampun

perempuan yang menyakitiku

adalah penolong hidupku.

Dan aku meninggal setelah memohon

agar mereka kembali bersatu

biar penonton tidak terlalu membenciku

lalu mendapat petuah hidup

dari kisah orang-orang baik.

Aku ingin meninggal di dalam FTV

menjadi teman bagi kesepian ibu-ibu

dan hiburan untuk orang

yang gemar tertawa

lewat judul-judul panjang

tak masuk akal.


Meminta Pertolongan

                    Mengenangmu.
                    Tolong aku.

Sajak-sajak yang kita tulis
Berhamburan dalam tangis
Rindu terjatuh pada patuh
Menjalar sebagai luka lebar
Di matamu yang jauh dari mataku
Senduku yang sendu pada sendumu
Sepanjang tahun lalu

Tengah malam kita menjadi terang di layar ponsel
Dan gelap di dada sendiri
Menutupi semua yang kita pahami
Dengan pertanyaan seputar duka sandiwara

Pagi hari kita menjadi kotoran kambing
Yang menolak mengerak
Membantah disebut sampah

Siang hari kita menjelma harta
Yang tidak membuat kaya
Siapa-siapa

Sore yang merah
Bergantian di bibir kita
Dan kau basahi dengan hujan dari mulutmu
Sobek seluruh aku

Tolong.

Mengenangmu adalah darah
Yang tak henti keluar di kepala

Mengenangmu adalah sedih
Yang selalu ada dalam puisi
Tanpa bisa kupahami


Kepada Tubuh yang Runtuh

Kautahu, tidak ada yang ingin menjadi gila
seperti kita yang tidak meminta lahir dari rahim siapa-siapa.

Napas membusuk
lebih busuk dari bangkai tikus
yang kaupandang sepanjang hari
menunggu pulang tiba

Di selatan Jakarta, orang-orang bekerja
menatapmu sebagai manusia
tanpa otak, tanpa dada, tanpa wajah
berdatangan meminta telinga untuk cerita sedih mereka

Pertanyaan datang pergi
semacam kontes di televisi
yang kausimak tiap hari
sebagai hiburan selain sinetron perselingkuhan

Rasa iba kaututup
demi membungkam kesedihanmu sendiri
luka duka kaubiar turun
dalam dirimu menuju doa yang entah didengar kapan

Terik melingkar di tubuh kita
setiap malam di atas ranjang
basah menahan nyeri
yang takut diketahui

Siapa punya luka lebih besar
di antara kita
siapa punya darah lebih kotor
di antara kita
bagimu menjadi gila adalah kesalahan
dan ketololan dan keegoisan dan kesia-siaan dalam hidup

Tetapi, tidak ada yang ingin menjadi gila
tidak ada yang ingin tersesat dalam dirinya sendiri
dan kaulupa, kita sudah mengalaminya
bahkan berdoa, “Tuhan, pulangkan kami,

tanpa rantai besi di tubuh ini.”


Bilur

Kau terbungkus plastik
tubuh biru, lebam, kaku
di tanah basah
kunci menyembul
menjadi barang bukti
terkubur

Pernah kita bersatu
suka dalam luka
tanpa minta sudah

Akhirnya jasadmu
lepas juga
disambut angin
yang menggiring bau anyir

Masih terekam nyerimu
bunyi jerit di ruang itu
menjadi nyanyian di bibir kita
takut menuju takluk
pada malam deras keringat

Di mana kemanusiaan, kaubilang
Di mana letak otakmu, perempuan murahan, kata mereka

Cambuk menari
di punggung dan pahamu

Kini giliranku
menyusul kebebasanmu.


Tidur

musik-musik sendu

menyentuh

kasur yang lembut

dan kosong

bersih

dari tangis

menguar luka tanpa darah

jatuh sebagai batu

jatuh sebagai lagu

dengan lirik kehilangan

Ibu


Wajah yang Terbakar di Stasiun Manggarai

Aku lupa bertanya padamu

bagaimana cara terbaik

menyelamatkan cinta

dari sakit hati

Di peron dua aku menunggu

bertahun-tahun, berganti baju

wajah yang tetap suram

rambut yang tetap kelam

mengibas masa lalu dari tanganmu

dari napasmu

dari tangismu

dalam sunyiku

Entah apa yang membuat diriku

menyebutmu masa lalu

sementara kita tak pernah berpisah

sekaligus tak pernah bersama

darahmu

dalam

darahku

Aku melihat restoran berjejer

seperti kelaparanmu

yang belum mampu kausampaikan

kecuali dalam rengek dan ba-bi-bu

hujan pernah menyapu kita

tetapi menghangatkan dalam peluk

yang kita eratkan

kemarau pernah mendinginkan kita

bersama bising kereta dan bau keringat

para penumpang ketika kauhilang

dan aku menjerit mencarimu

meski aku tahu kau adalah aku

Anakku, suatu saat entah di mana

kita akan kembali bersama

naik kereta menuju rumah

aku menenteng banyak kardus

tetapi takkan pernah kubiarkan

tubuhmu terjatuh, tersenggol tubuh

orang lain ketika kereta rel listrik berhenti

dan penumpang seperti binatang buas

yang membakar wajahku dengan api

kebencian tanpa sanggup kutahan


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember 1994.

Cerpen

Mencatat Ibu

Cerpen Jihan Suweleh

Matahari pecah menyebar kuningnya di langit depan rumahku. Di sana aku juga melihat Ibu yang menyapu halaman dengan wajah lesu. Pada sore yang terang, daun-daun dan sampah bergumul di tangan wanita berdaster kembang. Bolak-balik ia ambil dedaunan dan sampah untuk dimasukkan ke dalam tong bercorak mawar. Lisda, adikku, ia yang menggambar mawar itu di tong sampah yang tidak lebih tinggi dari dengkulku. Ia bilang, meski hanya tong sampah tetap harus terlihat megah. Padahal gambar mawar yang berserak di seluruh tubuh tong itu justru lebih terlihat norak ketimbang indah.

Ini bukan sore yang pertama Ibu menyapu halaman rumah. Sejak masih dalam gendongannya, aku selalu melihat Ibu menyapu di sana setiap habis Asar, dengan mata yang lebih gelap dari malam, seolah menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa-siapa. Ketika masih balita, mana aku paham soal luka, tetapi aku merasakan basah air mata itu, setiap hari, setiap malam, bahkan setiap Ibu menyapu halaman rumah dengan senyum-senyum yang ia simpulkan saat membalas sapa para tetangga.

Sudah 28 tahun usiaku, dan Ibu masih saja menyapu. Entah untuk mengusir kesedihannya, atau hanya agar terlihat sibuk biar tak ditanya perihal matanya yang selalu bengkak dengan lekuk senyum yang lebar. Aku tidak tahu apa yang membuat Ibu bersedih. Tidak ada yang tahu apa saja yang pernah Ibu lalui kendati kami tinggal di bawah atap yang sama, sebab kami keluarga yang hampir tidak pernah berbagi cerita. Aku anak pertama dari lima bersaudara. Kami semua perempuan, dan memiliki Bapak berbeda.

Adik pertamaku bernama Linda, kedua Lena, ketiga Lisda, dan terakhir Lala. Aku sendiri bernama Lara. Jika kujelaskan mereka satu persatu, sungguh aku pusing sendiri, sebab sulit sekali menjabarkan pernikahan yang kawin cerai. Aku saja bingung, mengapa Ibu sampai bisa menjadi janda dari lima laki-laki.

“Kata Mamaku, kamu itu anak haram.”

“Tahu dari mana?”

“Mamakulah, kan tadi sudah kubilang.”

“Mamamu tahu dari mana?”

“Kata Mamaku dulu Ibumu itu wanita murahan.”

“Heh, buktinya apa!”

“Kamu dan adik-adikmu punya bapak beda!”

“Ibu hanya bercerai!”

“Ha ha ha, kita itu hanya anak kecil di mata orang dewasa, jadi jangan percaya-percaya amat sama mereka. Bagi mereka, menipu kita adalah hal yang paling menyenangkan.”

“Mamamu juga orang dewasa!”

“Mamaku orang baik, nggak kayak Ibu kamu!”

“Nggak ada orang baik yang ngejelek-jelekin teman sendiri!”

“Teman? Memangnya Mamaku berteman sama Ibu kamu?”

“Setiap sore Mama kamu sapa Ibuku.”

“Hiiiih, begitu saja dibilang teman. Huuu anak haram!”

Aku tidak mengerti. Sejak kecil banyak sekali yang berkata seperti itu padaku, dan bagiku mereka itu tidak lebih dari anak-anak yang cepat tua karena terlalu sibuk ikut campur urusan orang dewasa. Namun, setiap kali kuceritakan itu pada Ibu, ia menangis, tak jarang ia malah memukulku.

“Jaga mulutmu! Kamu menyakitiku!” katanya.

Sebenarnya aku tak ingin menyakitinya, bahkan aku mencoba mengerti, mungkin Ibu memang sangat sensitif, aku mesti berhati-hati setiap kali bicara padanya. Aku sangat penasaran, siapa Bapakku dan Bapak adik-adikku, sebab Ibu selalu bilang Bapak kami mati tenggelam, atau terbakar. Entah tenggelam di laut mana, terbakar di perapian apa, dan setiap kami tanya lagi, ia selalu mengalihkan pembicaraan.

Pernah suatu kali saat aku remaja, Ibu bicara padaku di dapur sambil membuat sayur sup. Ia bilang, aku tidak boleh percaya pada siapapun kecuali pada Ibu, karena sejahat apapun keluarga, mereka tetap akan melindungi keluarganya, beda dengan orang lain. Mendengar itu, lidahku langsung panas. Sontak kujawab, ada banyak teman yang seperti saudara, kudengar itu dari cerita-cerita orang di televisi. Mereka mengatakan kadang keluarga lebih jauh dari orang lain, dan orang lain justru yang selalu ada untuk mereka.

“Jaga mulutmu! Kamu menyakitiku!” Ah, entah sudah berapa kali kalimat itu kudengar dari mulutnya. Aku muak. Tapi aku bingung sebetulnya perkataanku mana yang membuatnya sakit.

“Aku menyesal punya anak sepertimu! Mestinya kamu tidak lahir dari rahimku!” Suara Ibu menggelegar di kupingku. Bahkan sayur sup seperti memaki-maki kompor, ikut mengaduhkan suasana tegang antara aku dan Ibu. Pisau yang sejak tadi terlentang di dekat cucian kotor tiba-tiba serasa melompat, lalu menancapkan dirinya ke jantungku. Begitu perih kurasakan.

“Mestinya kamu tidak tinggal bersamaku. Aku menyesal telah melahirkanmu.”

Lirih kudengar suara Ibu. Getaran suaranya begitu terasa hingga membekukan bibirku yang tak lagi mampu berucap apa-apa. Pada hening yang merobek sendu, aku melihat jelas gelap tatap matanya. Kudengar lagi suara sedih, tetapi bukan suara Ibu. Itu suaraku. Benarkah hanya perkataanku yang membuat sakit? Tidakkah kau merasakan kesakitanku selama ini, menjadi anak yang hanya diam demi menjaga rahasia yang sudah diketahui orang banyak. Aku menutup telingaku, biar tak lagi kudengar suara itu, tetapi justru suara itu semakin kencang terdengar, seperti gema dalam ruang kedap suara, dan hanya aku yang mampu mendengarnya.

Ibu meninggalkan dapur yang berantakan sambil menangis, yang sebelumnya ia lempar panci berisi sayur sup hingga tumpah hampir mengenai kakiku, ia juga mendorong piring-piring dan tumpukan gelas yang ada di dekat kompor hingga semua pecah terbelah.. Aku merasa Ibu terpukul, meski sebenarnya akulah yang merasa lebih terpukul.

Akibat pertengkaran itu, Ibu menjadi murung. Rumahku ini seperti dilanda musim pancaroba, yang sebentar-sebentar panas, sebentar-sebentar dingin, tetapi sama-sama membuat sakit. Tanpa percakapan dan tanpa ekspresi, terlebih pelukan, mustahil rasanya. Adik-adikku memihak pada Ibu, karena mereka butuh makan dan bertahan hidup. Semakin hari aku semakin terasing di rumah sendiri.

“Ibu, apa kau masih marah padaku?”

“Kelahiranmu adalah kekecewaan bagiku. Sulit untuk tidak marah.”

“Tapi Bu, bukankah dulu Ibu sayang padaku? Kau menggendongku.”

“Ya, jelas. Kalau kau tidak kugendong, tidak kususui, apa nanti kata tetangga?!”

“Ibu hanya pura-pura mencintaiku?”

“Salah bila kau berbicara cinta denganku.”

“Aku anakmu kan, Bu?”

“Kau hanya numpang lahir dari rahimku.”

Aku meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Entah kesedihan apa ini namanya. Darah memang tak mengucur, tapi jantungku terus menjerit bagai ingin melepaskan boroknya yang telanjur bertahan bertahun-tahun. Mendengar perkataan itu, lukaku lebih dalam ketimbang luka Ibu. Namun, ada orang yang bilang, bahwa luka dan kesedihan tak pantas dibanding-bandingkan. Kalau begitu, aku sedih, sedih yang dalam, dan Ibu tak pernah ingin mengerti luka-lukaku. Terserah bila setelah ini ada yang bilang bahwa luka memang hanya mampu dimengerti oleh diri sendiri. Aku tidak peduli lagi pada ucapan siapapun.

***

Sore ini, saat kutuliskan cerita mengenai Ibuku pada kalian, dari balik jendela kamar yang berdebu dan bau amis, dengan laptop hitam, tetapi tak sehitam mata Ibuku yang menyimpan banyak kejanggalan di hidupnya. Tepat di sore ini, aku juga melihat Ibu masih jelas menyapu halaman rumah, memasukkan daun-daun kering dan sampah yang baginya mungkin lebih berharga ketimbang aku. Di sore ini, ketika matahari meleleh dan membentuk dirinya yang lain, aku melihat.., aku melihat segalanya yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Ternyata hidup semudah ini, kita hanya perlu menerima segalanya tanpa perlu peduli omongan orang lain.

“Kak Lara, lagi apa?”

“Lihat Ibu nyapu.”

“Hah? Ibu?”

“Iya.”

“Kak Lara, ikhlaskan Kak, jangan jadi beban.”

“Maksudmu?”

“Ibu kita sudah meninggal 7 tahun yang lalu…”

“Jaga mulutmu, Linda! Ibu masih hidup! Kamu menyakiti hati Ibu!”

“Ibu sudah meninggal, Kak. Kalau Kak Lara begini terus, Ibu jadi tambah sakit.”

“Jangan macam-macam kamu, Lin! Jaga mulut kamu!”

Linda pergi dari kamarku. Kamar yang dulunya adalah kamar Ibu. Demi mampu memeluknya, aku harus tinggal di kamarnya. Mencium baunya yang menempel di ruang itu, merasakan tubuhnya yang sulit sekali kupeluk. Bukan hanya Linda yang bertingkah aneh, semua adik-adikku yang lain juga memaksaku meyakini bahwa Ibu sudah pergi dan tak akan pernah kembali, sebab Ibu bukan pergi ke warung atau pasar untuk membeli sayur. Namun, Ibu pergi menuju Tuhan, meminta ranting kering di dadanya dicabut selamanya. Ranting kering yang tumbuh sejak dulu, hingga kami tak mampu memeluknya, karena itu hanya akan melukai kami, kata mereka. Tetapi aku tak percaya. Aku tak boleh percaya pada siapapun kecuali pada Ibu.

“Ibu bunuh diri, Kak. Di kamar ini,” kata Lena sambil mengusap pundakku.

“Itu tidak benar.”

“Bahkan darahnya masih ada di kamar ini, sampai warnanya menjadi cokelat.” Aku dengar suara Lena melemah.

“Kita harus cat ulang kamar Ibu.” Lala menyahut.

“Iya, aku setuju,” sambar Lisda.

“Kalau memang benar Ibu bunuh diri, bagaimana caranya ia mati?” tanyaku pada mereka.

Mereka saling melirik seolah menyembunyikan sesuatu.

“Lebih baik Kak Lara istirahat, Kakak terlihat lelah sekali.” Lisda merangkulku.

“Tidak. Aku tidak apa. Bukankah keluarga kita memang sudah sangat lelah menjalani hidup?”

“Kak, tidak usah mengungkit hal yang mestinya tidak perlu kita masalahkan.” Lena menyakitiku dengan suaranya yang lembut.

“Bersaudara dengan lima bapak yang berbeda apa itu bukan masalah? Tidak pernah melihat bapak sejak lahir apa itu tidak masalah? Melihat Ibu menangis setiap hari apa itu tidak masalah? Disebut anak haram oleh orang-orang apa itu tidak masalah?”

“Kaaaaaak….”

“Sekarang kutanya, bagaimana cara Ibu mati?”

“Kaaaaak….”

“Kalian hanya perlu menjawab, apa susahnya?”

Hening.

Tidak lama Linda datang membawa setumpuk koran. Aku disuruh membaca pada bagian-bagian berita yang ia minta aku untuk membacanya. Darahku serasa berhenti dan dingin. Pisau di dapur seperti kembali terbang menancap jantungku.

“Ibu kita PSK?”

“Iya, Ibu kita PSK,” kata mereka.

“Ibu mati di kamar ini, di kemaluannya ada ranting kayu.” Lisda menangis. Kami semua menangis.

Ranting kering tumbuh di dada Ibu, sejak kami lahir dan berkembang sebagai anak manusia tanpa Bapak dan tanpa hangat sebuah pelukan. Setiap kali dekat Ibu, kami tertusuk. Setiap kali melihat Ibu, kami tersakiti. Ibu menangis setiap hari, matanya bengkak tetapi cantik. Ada yang tidak mampu kami ketahui pada Ibu sebelumnya, kemaluannya yang ternyata bercahaya, yang bisa membawa masuk banyak laki-laki dan melahirkan anak-anak perempuan. Kemaluan Ibu sudah ditutupnya, agar tidak ada lagi yang masuk tanpa bertanggungjawab. Pisau serasa kembali memasuki dadaku, menembus jantung atas nama Ibu. Sementara ranting kering masuk pada kemaluan Ibu, yang sebelumnya lebih dulu tumbuh di dadanya yang ranum. ***

Jihan SuwelehLahir di Gorontalo, 14 Desember 1994.