Cerpen Jihan Suweleh
Matahari pecah menyebar kuningnya di langit depan rumahku. Di sana aku juga melihat Ibu yang menyapu halaman dengan wajah lesu. Pada sore yang terang, daun-daun dan sampah bergumul di tangan wanita berdaster kembang. Bolak-balik ia ambil dedaunan dan sampah untuk dimasukkan ke dalam tong bercorak mawar. Lisda, adikku, ia yang menggambar mawar itu di tong sampah yang tidak lebih tinggi dari dengkulku. Ia bilang, meski hanya tong sampah tetap harus terlihat megah. Padahal gambar mawar yang berserak di seluruh tubuh tong itu justru lebih terlihat norak ketimbang indah.
Ini bukan sore yang pertama Ibu menyapu halaman rumah. Sejak masih dalam gendongannya, aku selalu melihat Ibu menyapu di sana setiap habis Asar, dengan mata yang lebih gelap dari malam, seolah menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa-siapa. Ketika masih balita, mana aku paham soal luka, tetapi aku merasakan basah air mata itu, setiap hari, setiap malam, bahkan setiap Ibu menyapu halaman rumah dengan senyum-senyum yang ia simpulkan saat membalas sapa para tetangga.
Sudah 28 tahun usiaku, dan Ibu masih saja menyapu. Entah untuk mengusir kesedihannya, atau hanya agar terlihat sibuk biar tak ditanya perihal matanya yang selalu bengkak dengan lekuk senyum yang lebar. Aku tidak tahu apa yang membuat Ibu bersedih. Tidak ada yang tahu apa saja yang pernah Ibu lalui kendati kami tinggal di bawah atap yang sama, sebab kami keluarga yang hampir tidak pernah berbagi cerita. Aku anak pertama dari lima bersaudara. Kami semua perempuan, dan memiliki Bapak berbeda.
Adik pertamaku bernama Linda, kedua Lena, ketiga Lisda, dan terakhir Lala. Aku sendiri bernama Lara. Jika kujelaskan mereka satu persatu, sungguh aku pusing sendiri, sebab sulit sekali menjabarkan pernikahan yang kawin cerai. Aku saja bingung, mengapa Ibu sampai bisa menjadi janda dari lima laki-laki.
“Kata Mamaku, kamu itu anak haram.”
“Tahu dari mana?”
“Mamakulah, kan tadi sudah kubilang.”
“Mamamu tahu dari mana?”
“Kata Mamaku dulu Ibumu itu wanita
murahan.”
“Heh, buktinya apa!”
“Kamu dan adik-adikmu punya bapak
beda!”
“Ibu hanya bercerai!”
“Ha ha ha, kita itu hanya anak kecil
di mata orang dewasa, jadi jangan percaya-percaya
amat sama mereka. Bagi mereka, menipu kita adalah hal yang paling
menyenangkan.”
“Mamamu juga orang dewasa!”
“Mamaku orang baik, nggak kayak Ibu
kamu!”
“Nggak ada orang baik yang
ngejelek-jelekin teman sendiri!”
“Teman? Memangnya Mamaku berteman
sama Ibu kamu?”
“Setiap sore Mama kamu sapa Ibuku.”
“Hiiiih, begitu saja dibilang teman.
Huuu anak haram!”
Aku tidak mengerti. Sejak kecil
banyak sekali yang berkata seperti itu padaku, dan bagiku mereka itu tidak
lebih dari anak-anak yang cepat tua karena terlalu sibuk ikut campur urusan
orang dewasa. Namun, setiap kali kuceritakan itu pada Ibu, ia menangis, tak
jarang ia malah memukulku.
“Jaga mulutmu! Kamu menyakitiku!”
katanya.
Sebenarnya aku tak ingin
menyakitinya, bahkan aku mencoba mengerti, mungkin Ibu memang sangat sensitif,
aku mesti berhati-hati setiap kali bicara padanya. Aku sangat penasaran, siapa
Bapakku dan Bapak adik-adikku, sebab Ibu selalu bilang Bapak kami mati
tenggelam, atau terbakar. Entah tenggelam di laut mana, terbakar di perapian
apa, dan setiap kami tanya lagi, ia selalu mengalihkan pembicaraan.
Pernah suatu kali saat aku remaja,
Ibu bicara padaku di dapur sambil membuat sayur sup. Ia bilang, aku tidak boleh
percaya pada siapapun kecuali pada Ibu, karena sejahat apapun keluarga, mereka
tetap akan melindungi keluarganya, beda dengan orang lain. Mendengar itu,
lidahku langsung panas. Sontak kujawab, ada banyak teman yang seperti saudara,
kudengar itu dari cerita-cerita orang di televisi. Mereka mengatakan kadang
keluarga lebih jauh dari orang lain, dan orang lain justru yang selalu ada
untuk mereka.
“Jaga mulutmu! Kamu menyakitiku!” Ah,
entah sudah berapa kali kalimat itu kudengar dari mulutnya. Aku muak. Tapi aku
bingung sebetulnya perkataanku mana yang membuatnya sakit.
“Aku menyesal punya anak sepertimu! Mestinya
kamu tidak lahir dari rahimku!” Suara Ibu menggelegar di kupingku. Bahkan sayur
sup seperti memaki-maki kompor, ikut mengaduhkan suasana tegang antara aku dan
Ibu. Pisau yang sejak tadi terlentang di dekat cucian kotor tiba-tiba serasa melompat,
lalu menancapkan dirinya ke jantungku. Begitu perih kurasakan.
“Mestinya kamu tidak tinggal
bersamaku. Aku menyesal telah melahirkanmu.”
Lirih kudengar suara Ibu. Getaran
suaranya begitu terasa hingga membekukan bibirku yang tak lagi mampu berucap
apa-apa. Pada hening yang merobek sendu, aku melihat jelas gelap tatap matanya.
Kudengar lagi suara sedih, tetapi bukan suara Ibu. Itu suaraku. Benarkah hanya perkataanku yang membuat
sakit? Tidakkah kau merasakan kesakitanku selama ini, menjadi anak yang hanya
diam demi menjaga rahasia yang sudah diketahui orang banyak. Aku menutup
telingaku, biar tak lagi kudengar suara itu, tetapi justru suara itu semakin
kencang terdengar, seperti gema dalam ruang kedap suara, dan hanya aku yang
mampu mendengarnya.
Ibu meninggalkan dapur yang
berantakan sambil
menangis, yang sebelumnya ia lempar panci berisi sayur sup hingga tumpah hampir
mengenai kakiku, ia juga mendorong piring-piring dan tumpukan gelas yang ada di
dekat kompor hingga semua pecah terbelah.. Aku merasa Ibu terpukul, meski
sebenarnya akulah yang merasa lebih terpukul.
Akibat pertengkaran itu, Ibu menjadi
murung. Rumahku ini seperti dilanda musim pancaroba, yang sebentar-sebentar
panas, sebentar-sebentar dingin, tetapi sama-sama membuat sakit. Tanpa
percakapan dan tanpa ekspresi, terlebih pelukan, mustahil rasanya. Adik-adikku memihak
pada Ibu, karena mereka butuh makan dan bertahan hidup. Semakin hari aku
semakin terasing di rumah sendiri.
“Ibu, apa kau masih marah padaku?”
“Kelahiranmu adalah kekecewaan
bagiku. Sulit untuk tidak marah.”
“Tapi Bu, bukankah dulu Ibu sayang
padaku? Kau menggendongku.”
“Ya, jelas. Kalau kau tidak
kugendong, tidak kususui, apa nanti kata tetangga?!”
“Ibu hanya pura-pura mencintaiku?”
“Salah bila kau berbicara cinta
denganku.”
“Aku anakmu kan, Bu?”
“Kau hanya numpang lahir dari
rahimku.”
Aku meneteskan air mata untuk
kesekian kalinya. Entah kesedihan apa ini namanya. Darah memang tak mengucur, tapi
jantungku terus menjerit bagai ingin melepaskan boroknya yang telanjur bertahan
bertahun-tahun. Mendengar perkataan itu, lukaku lebih dalam ketimbang luka Ibu.
Namun, ada orang yang bilang, bahwa luka dan kesedihan tak pantas
dibanding-bandingkan. Kalau begitu, aku sedih, sedih yang dalam, dan Ibu tak
pernah ingin mengerti luka-lukaku. Terserah bila setelah ini ada yang bilang
bahwa luka memang hanya mampu dimengerti oleh diri sendiri. Aku tidak peduli
lagi pada ucapan siapapun.
***
Sore ini, saat kutuliskan cerita
mengenai Ibuku pada kalian, dari balik jendela kamar yang berdebu dan bau amis,
dengan laptop hitam, tetapi tak sehitam mata Ibuku yang menyimpan banyak
kejanggalan di hidupnya. Tepat di sore ini, aku juga melihat Ibu masih jelas
menyapu halaman rumah, memasukkan daun-daun kering dan sampah yang baginya mungkin
lebih berharga ketimbang aku. Di sore ini, ketika matahari meleleh dan
membentuk dirinya yang lain, aku melihat.., aku melihat segalanya yang tak
pernah aku lihat sebelumnya. Ternyata hidup semudah ini, kita hanya perlu
menerima segalanya tanpa perlu peduli omongan orang lain.
“Kak Lara, lagi apa?”
“Lihat Ibu nyapu.”
“Hah? Ibu?”
“Iya.”
“Kak Lara, ikhlaskan Kak, jangan jadi
beban.”
“Maksudmu?”
“Ibu kita sudah meninggal 7 tahun
yang lalu…”
“Jaga mulutmu, Linda! Ibu masih
hidup! Kamu menyakiti hati Ibu!”
“Ibu sudah meninggal, Kak. Kalau Kak
Lara begini terus, Ibu jadi tambah sakit.”
“Jangan macam-macam kamu, Lin! Jaga
mulut kamu!”
Linda pergi dari kamarku. Kamar yang
dulunya adalah kamar Ibu. Demi mampu memeluknya, aku harus tinggal di kamarnya.
Mencium baunya yang menempel di ruang itu, merasakan tubuhnya yang sulit sekali
kupeluk. Bukan hanya Linda yang bertingkah aneh, semua adik-adikku yang lain
juga memaksaku meyakini bahwa Ibu sudah pergi dan tak akan pernah kembali,
sebab Ibu bukan pergi ke warung atau pasar untuk membeli sayur. Namun, Ibu
pergi menuju Tuhan, meminta ranting kering di dadanya dicabut selamanya.
Ranting kering yang tumbuh sejak dulu, hingga kami tak mampu memeluknya, karena
itu hanya akan melukai kami, kata mereka. Tetapi aku tak percaya. Aku tak boleh
percaya pada siapapun kecuali pada Ibu.
“Ibu bunuh diri, Kak. Di kamar ini,”
kata Lena sambil mengusap pundakku.
“Itu tidak benar.”
“Bahkan darahnya masih ada di kamar
ini, sampai warnanya menjadi cokelat.” Aku dengar suara Lena melemah.
“Kita harus cat ulang kamar Ibu.”
Lala menyahut.
“Iya, aku setuju,” sambar Lisda.
“Kalau memang benar Ibu bunuh diri,
bagaimana caranya ia mati?” tanyaku pada mereka.
Mereka saling melirik seolah
menyembunyikan sesuatu.
“Lebih baik Kak Lara istirahat, Kakak
terlihat lelah sekali.” Lisda merangkulku.
“Tidak. Aku tidak apa. Bukankah
keluarga kita memang sudah sangat lelah menjalani hidup?”
“Kak, tidak usah mengungkit hal yang
mestinya tidak perlu kita masalahkan.” Lena menyakitiku dengan suaranya yang
lembut.
“Bersaudara dengan lima bapak yang
berbeda apa itu bukan masalah? Tidak pernah melihat bapak sejak lahir apa itu
tidak masalah? Melihat Ibu menangis setiap hari apa itu tidak masalah? Disebut
anak haram oleh orang-orang apa itu tidak masalah?”
“Kaaaaaak….”
“Sekarang kutanya, bagaimana cara Ibu
mati?”
“Kaaaaak….”
“Kalian hanya perlu menjawab, apa susahnya?”
Hening.
Tidak lama Linda datang membawa
setumpuk koran. Aku disuruh membaca pada bagian-bagian berita yang ia minta aku
untuk membacanya. Darahku serasa berhenti dan dingin. Pisau di dapur seperti kembali
terbang menancap jantungku.
“Ibu kita PSK?”
“Iya, Ibu kita PSK,” kata mereka.
“Ibu mati di kamar ini, di
kemaluannya ada ranting kayu.” Lisda menangis. Kami semua menangis.
Ranting kering tumbuh di dada Ibu, sejak kami lahir dan berkembang sebagai anak manusia tanpa Bapak dan tanpa hangat sebuah pelukan. Setiap kali dekat Ibu, kami tertusuk. Setiap kali melihat Ibu, kami tersakiti. Ibu menangis setiap hari, matanya bengkak tetapi cantik. Ada yang tidak mampu kami ketahui pada Ibu sebelumnya, kemaluannya yang ternyata bercahaya, yang bisa membawa masuk banyak laki-laki dan melahirkan anak-anak perempuan. Kemaluan Ibu sudah ditutupnya, agar tidak ada lagi yang masuk tanpa bertanggungjawab. Pisau serasa kembali memasuki dadaku, menembus jantung atas nama Ibu. Sementara ranting kering masuk pada kemaluan Ibu, yang sebelumnya lebih dulu tumbuh di dadanya yang ranum. ***
Jihan SuwelehLahir
di Gorontalo, 14 Desember 1994.