Puisi

Puisi Eko Setyawan

Memulangkan Pelukan

1.

pagi masih hangat.

meskipun pelukan sudah beranjak pergi.

2.

tak kutemui dirimu—

di sela-sela udara

yang memukul-mukul kenangan di kepalaku.

apa tak ada yang lebih berbahagia selain

kesedihan yang mengurung diri?

3.

“begitulah nasib bekerja, ia lebih keras kepala

dibanding cinta yang ditanam.”

4.

segala hal, tak pernah di mulai

jika tak ada akhir.

hari ini adalah kemarin yang lahir

dari tangisan di rerumputan yang menjelma embun.

            : di sembab matamu.

lesaplah kesedihan itu.

merupa cahaya yang memancar.

dari balik gunung yang jauh.

5.

selalu tak dapat kusapu binar matamu.

bergegas pergi dan mengemas diri.

kubekali kau tenunan langit pagi.

agar sewaktu-waktu—

kau dapat menyelimuti diri

dan kau dapatkan lagi pelukan

yang sengaja kau tinggalkan.

(2019)


Merapikan Ingatan

tak ada yang bisa kukecup selain rona pipimu.

ia merah muda.

seperti kedua tangan selepas bertepuk tangan.

seperti menjadi sejumput awan,

sekecil apa pun, ia tak akan tahu—

ke mana angin akan mengajaknya pergi.

begitulah cinta bekerja.

ia seperti doa.

dirapal khusyuk bagi ia yang meminta.

keinginan adalah doa yang terus menerus ditebar.

kita hanya bertugas menerima.

“tapi adakah yang sudi merapalkan duka?”

“tapi— adalah kata yang tak menolong.”

pulanglah tanpa alasan.

tanpa benar-benar berpikir bahwa—

di dunia ini, di kepalamu,

bersarang ingatan tentang perpisahan yang menyakitkan.

(2019)


Cinta yang Berlebihan adalah Bencana

1.

kujadikan diriku pedestrian dan tak

kudapati apa-apa selain perjalanan yang jauh.

kuikuti langkah kaki.

pergi dan tak tahu arah kembali.

2.

kukira cinta yang menuntunku.

namun setelah kubaca ulang karcisku.

ternyata hanya kesedihan semata.

3.

aku keras kepala.

kugiring kesepian pada kegelapan.

tak ada apa-apa.

tak kutemukan tempat baru.

segalanya berbekas dan tetap sama.

4.

kurapikan ulang langkah kaki.

kuingat benar bahwa− kau atau mungkin yang lain−

pernah berbahagia dengan cara yang sederhana.

5.

“bukankah cinta yang berlebihan adalah bencana?” katamu.

6.

kutarik langkahku. kupulangkan pada jalan

entah menuju ke mana.

(2019)


Mengemas Kesedihan

kutekan tombol silang pada remot.

hidup berhenti barang sesaat sembari menunggu

kereta yang mengantar rindu kembali ke dada.

matahari bermukim di atas kepala.

mekar dan memberi cinta di bawahnya.

“apa yang telah kembali?”

cinta yang pergi menjauh.

kereta yang lupa mengerami peron.

cinta yang lahir dalam deru kereta.

mungkin pula matahari  masih ada di atas kepala.

tak ada yang boleh bersedih di antara kita.

(2019)


Kau ialah Puisi

             : perempuan penjaga ruang CR

kuhirup bau buku-buku—

terselip semerbak namamu.

ruapnya ialah taman bunga.

ia menyebar di tubuhku.

menjadi pelukan yang tak henti-hentinya diberikan.

matamu, seutas puisi yang belum usai.

bercahaya dan enggan padam.

menunggu hingga titi mangsa disematkan.

senyummu cahaya.

menembus sela-sela jendela.

menjelma siluet yang hangat.

niscaya.

seluruhmu.

aku.

(2019)


Memadamkan Kenangan

gugurlah ia melawan cemburu.

dalam dada yang biru sempurna.

seumpama mati.

hidup adalah bertahan.

di tengah segala putus asa.

cinta seperti awan yang ranggas.

tak ada yang disentuhnya.

selain langit yang padam.

turunlah hujan dan turunlah pula malaikat.

seraya berbisik—

“usaikanlah kenangan, ranggaslah kesedihan.”

(2019)


Ruang Maaf

tak ada yang bisa dijawab setelah persinggungan

antara baik dan buruk.

tangan kanan tak lain kabar yang semu.

serupa sebuah sentuhan dan pukulan kecil di bibir.

tebakan buruk dianjurkan untuk diubah menjadi kapal

di buritan, air menyepi dan menggantung pada lengan kiri

menjelma pundak bagi si murung.

terbuat dari apakah jawaban?

seperti kalung tanpa liontin, malam

tanpa suara jangkrik, jalanan

tanpa pengendara, aku tanpa kau.

untuk kembali mengikatnya

entah seuntai tali atau makian— perlu ditautkan

pada sebuah huruf yang saling bersisian

hingga kita dibuatnya jatuh cinta.

sebab tak ada pertanyaan yang berganti

pahala dan dosa tak ubahnya sepasang kesalahan

yang tak hentinya direngkuh oleh maaf.

dan ketika segalanya usai.

usia mengabur dan bimbang memandang.

masih adakah ruang maaf di kepalamu?

(2018)


Perihal Masa

Aku magrib, kau subuh.

Kita senasib, tapi tak utuh.

(2019)


Eko Setyawan, Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional.

Buku, Resensi

Suara Lain untuk Mengingat 1998

Resensi oleh Setyaningsih

Bagi Intan Andaru, 1998 adalah pengingatan pada Tragedi Banyuwangi. Penulis yang pernah terlibat Residensi Penulis ASEAN-Jepang dan ASEAN Literary Festival 2017 ini seperti ingin menegasi pengingatan publik atas Tragedi Mei 1998 atau peristiwa akbar-nasional Reformasi. Tragedi lokal yang pernah mengguncang publik nasional, disuarakan untuk mengingatkan pada pengalaman dan trauma kolektif sebagai seorang Banyuwangi lewat novel Perempuan Bersampur Merah (2019). Tragedi Banyuwangi 1998 pernah membantai dukun-dukun pengobatan yang dituduh menyebar penyakit kiriman atau santet. Ketakutan tentang teror ninja yang bergerak cepat, membunuh, dan bisa menghilang beredar. Entah lebih dipicu intrik sosial, kecemburuan personal, huru-hara politik, sampai puritanisme agama yang menghendaki perdukunan ditiadakan, tragedi lagi-lagi meminta pengorbanan dari orang-orang tidak bersalah yang mungkin telah dilupakan untuk mendapat suatu keadilan.

Intan memilih cerita dinaratori aku yang bocah dan perempuan bernama Sari. Dibandingkan dinaratori seorang dewasa, narator bocah lebih memungkinkan penciptaan-penciptaan suasana dan ujaran yang naif, lugu, dan rasa pasrah tapi ingin melawan. Saat bapak Sari dibantai, dia hanyalah bocah tanpa daya yang jelas secara terselubung menampakkan ketidakmengertian atas tragedi. Lewat pernyataan-pernyataan kecil yang berkelebat dalam benak bocah, gugatan-gugatan atas ketimpangan status sosial masyarakat, penghukuman sosial, kemiskinan berusaha dibangun oleh penulis.

Kita cerap, “…aku sungguh masih dapat merasakan kejadian malam itu: Ingatanku tentang segerombolan orang yang mengepung rumah. Suara berisik yang mendebarkan. Kegaduhan yang membuat kami gemetaran. Juga mereka yang melukai Bapak: orang-orang yang tak kukenal dan sebagian tetangga yang mengikuti mereka dari belakang. Dalam gelap itu, aku mampu memandang dan merekam siapa saja orang yang menatap iba hingga membantu keluarga kami, juga siapa saja yang menatap penuh benci pada Bapak” (hal. 70). Seorang bocah mudah mengingat. Sejak sekolah dasar, Sari menggunakan pengingatan untuk mencari nama-nama orang yang konon mati karena disantet. Jika masyarakat tidak bisa dibuat memercayai, Sari yang akan terus percaya bahwa bapak bukan orang jahat seperti yang dituduhkan.

Ikon Pembangun

Selayaknya novel yang ingin terlibat mengabarkan tragedi dan intrik manusia, percintaan adalah suatu kewajiban meski klise. Semakin dewasa, peran Sari tidak lagi sebagai bocah yang mencari peradilan atas nama bapak. Peran itu sepenuhnya beralih dan dipercayakan Intan Andaru kepada Rama, lelaki terkasih Sari. Sejak kecil, Rama muncul dalam strata pendidikan lebih tinggi bertaut dengan imajinasi kemakmuran dan pekerjaan di masa depan. Rama ditokohkan untuk meninggalkan kampung yang miskin, tidak berpendidikan, dan masih berkisar di klenik.

Lulus SMA, Rama menjadi mahasiswa, elite terpelajar yang digadang menjadi ikon pembangun (nasional) terutama sejak masa 70-an dan menguat sejak Reformasi bergulir. Kita tentu bisa menduga, Rama bukan hanya kuliah untuk kuliah. Dia menjadi aktivis, tekun di organisasi, ikut demontrasi, dan berurusan dengan polisi. Bahkan kepada Sari yang jelas miskin dan tidak memiliki modal ekonomi atau sosial, Rama berkata, “Gimana ya. Kan cuma empat tahun. Ini demi masa depanmu. Jadi sarjana itu penting ndak hanya untuk cari kerja, tapi juga untuk mendidik anak nanti” (hal. 161). Rama menghendaki kesetaraan pendidikan bagi perempuan, tapi tetap dengan cara yang partriarkis. Sebagai penulis perempuan, Intan Andaru tidak bisa melepaskan diri dari isu-isu sosial berkait dengan perempuan.

Tentu dari segala urusan akademis dan aktivis dilakukan oleh Rama, Intan Andaru menggunakan jalinan asmara untuk mendekatkan tragedi Banyuwangi yang komunal sebagai urusan personal antara Sari dan Rama. Sari mendengar kenyataan bahwa, “Rama bergabung sama aktivis HAM dan sering demo di jalan-jalan. Dia menemui banyak orang untuk neliti kasus pembantaian dukun-termasuk kasus bapakmu yang ndak pernah bisa kita pecahkan itu. Dia juga yang sudah sibuk-sibuk mengusulkan agar kasus bapakmu itu dibuka lagi sampai ada pertemuan-pertemuan yang kamu datangi kemarin. Dia bahkan rela skripsinya terbengkalai” (hal. 194). Intan Andaru terlampau heroik memahasiswakan Rama sebagai bentuk perlawanan Rama pada superioritas dan status sosial bapaknya, tapi sekaligus pihak penghasut agar warga menghukum bapak Sari yang jelata dan tertuduh nyantet.

Intan Andaru memang tidak secara tersurat membawa kembali kasus lokal ke publik nasional. Terlepas dari bahasa yang kurang luwes dan enak, barangkali karena pengalihan data riset atas tragedi Banyuwangi 1998 ke narasi novel, Intan Andaru berkeras memberi suara pada lokalitas. Tragedi harus dibawa kembali ke ranah nasional agar selesai atau setidaknya mengurangi trauma kolektif pada masa lalu. 1998 tidak selalu memusat di Jakarta pada suatu Mei yang kelam, tapi juga di Banyuwangi yang mencekam.

Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Ragam

Kala Seniman Bicara Krisis Lingkungan

Pameran Seni Rupa “Fish Out of Water”

Plastik hadir di muka bumi ini diawali oleh Alexander Parkes yang pertama kali memperkenalkannya pada sebuah eksibisi internasional di London, Inggris pada tahun 1862. Plastik temuan Parkes disebut Parkesine ini dibuat dari bahan organik dari selulosa. Namun, setelah beberapa dekade yang singkat sejak manusia menggunakan plastik, ia menjadi salah satu momok dalam  persoalan lingkungan. Selain sebagai limbah yang merusak daratan dan mengotori lautan, sampah plastik juga termakan dan meracuni hewan-hewan laut.

Poster Pameran Seni Rupa: Fish Out of Water

Menurut Ocean Conservacy Report 2015, setiap tahunnya, ada delapan juta ton sampah plastik yang mengambang di laut. Kira-kira, per menit, ada satu truk sampah plastik yang dibuang ke sana. Dampaknya? Lihatlah bagaimana kondisi hutan bakau Vietnam yang dipenuhi dengan kantung plastik, seekor paus di Thailand mati akibat menelan sampah plastik, dan limbah menyelimuti pantai-pantai Indonesia. Perlahan tapi pasti, persoalan plastik menjadi potret suram mengenai krisis yang mencengkeram Asia.

Lebih dari setengah jumlah tersebut berasal dari negara-negara seperti Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton. Meski angka ini di bawah China dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Kemudian disusul oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka tentu persoalan plastik ini tidak bisa terus menerus dibiarkan menghantui peradaban.

Di tengah kekhawatiran itu, Art Xchange Gallery meresponnya dengan menggelar pameran seni rupa bertajuk “Fish Out of Water” yang digelar pada 16 Mei – 13 Juni 2019 di Townhouse Cordoba No.77, Pantai Indah Kapuk. Pameran yang menggabungkan berbagai media yang berbeda dari seni lukis, patung, desain produk hingga desain mode, yang kesemuanya dibuat dengan menggunakan bahan plastik atau memiliki tema terkait tentang masalah plastik.

Foto-Foto: Dok. Art Xchange Gallery

Ada 14 perupa yang ikut serta, di antaranya ada nama Camelia Mitasari Hasibuan, Ignasius Dicky Takndare, Ang Che Che, Budi Asih, Burhanudin Reihan Afnan, Dedi Imawan, Deny Nugraha, Hendro Hadinata, I Made Santika Putra, Denny Rasyid Priyatna, Ahmad Subandiyo, Walid Syarthowi Basmalah, Pardiyanto Semper, dan S. Soneo Santoso.

Tentu saja, sesuai tema perhelatan seni itu nanti, Anda akan dapat melihat bagaimana para perupa merespon sebuah masalah lingkungan melalui karya-karyanya. Sebut saja Ignasius Dicky Takndare, perupa yang memilih kulit kayu sebagai media dan ciri khas karya seni dari Papua itu memamerkan salah satu karyanya yang berjudul “The Long Walks Contemplations”. Menurut Dicky, karya tersebut lahir dari kegelisahannya mengenai persoalan-persoalan lingkungan dan kemanusiaan pada tanah kelahirannya.

“Karya itu berbicara tentang siklus kehidupan. Meskipun ciri khas Papua sangat kuat, tetapi itu berbicara tentang kehidupan semua manusia. Siklus kehidupan dan pertarungannya akan dapat kita lihat serupa gerak dari jarum jam. Dalam karya itu, akan kita temui fase keharmonisan manusia dan alam, fase manusia mulai serakah, fase ketika manusia dengan benda tidak bisa dibedakan lagi, hingga pada akhirnya akan kembali pada fase permulaan zaman,” ungkap Dicky.

Sedangkan bagi Camelia Mitasari Hasibuan, tema tentang alam, lingkungan, ekosistem, dan sampah bukan hal asing lagi bagi perupa perempuan ini. Pada pameran itu nanti, Camelia akan menampilkan dua karyanya. Pada  lukisan “Which One is My Food?” dan  “Harapan yang Tersisa”, ia menjelaskan begitu banyak sampah di lautan saat ini. Hingga lautan yang semula jernih, sekarang menjadi lautan tak ubahnya tempat pembuangan sampah.

Baginya, ini sangat memengaruhi kehidupan ekosistem di lautan. Salah satunya burung pelikan. Burung pelikan adalah salah satu jenis burung yang hidupnya sangat bergantung dengan laut. Burung pelikan biasa mencari ikan-ikan di laut sebagai makanannya. Namun, karena masalah sampah seringkali burung pelikan sulit untuk membedakan antara ikan dan sampah.

“Begitu banyak tempat di bumi ini dipenuhi dengan sampah-sampah hasil dari perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab, bahkan hingga ke hutan. Habitat bagi binatang-binatang dan beragam tumbuhan serta tempat mencari makan hingga tempat berkembang biak saat ini tidak hanya menghadapi ancaman pembalakan liar, tetapi juga mulai dipenuhi dengan sampah. Jadi akibat sampah ini, tidak dihadapi oleh manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuh-tumbuhan dalam hutan tidak memiliki pilihan lain kecuali beradaptasi dengan situasi ini,” ujar Camelia.

Direktur Art Xchange Gallery, Benny Oentoro mengatakan, pemilihan judul “Fish Out of Water” seperti sebuah ungkapan. Polusi yang disebabkan oleh plastik, merusak dan mencemari lingkungan kita dapat disamakan dengan ikan yang tidak dapat bernapas jika berada di luar habitatnya. “Seperti ikan, manusia juga akan mati lemas dan tercekik ketika udara yang kita hirup terus menerus terpapar oleh berbagai jenis polusi, termasuk lingkungan kita yang tercemar oleh limbah plastik,” kata Benny.

Melalui pameran ini, Benny berharap, seorang seniman dan karyanya  dapat berperan dan menjadi bagian dari inisiatif global dalam memerangi limbah dan polusi. Karena bagaimanapun, persoalan ini adalah bagian dari dunia tempat kita hidup, dan itu adalah tugas manusia, termasuk seniman untuk melindunginya.

“Kami berusaha menciptakan kesadaran tentang polusi limbah plastik yang telah menjadi ancaman global. Kita harus mulai memainkan peran kita sebelum terlambat. Sebisa mungkin membantu selamatkan planet kita. Dan sebagian dari hasil penjualan karya seni yang kita pamerkan, akan kami sumbangkan untuk komunitas di TPA Bantar Gerbang,” ujar Benny. [] Wahyu Indro Sasongko

Cerpen

Dua Alasan Hukuman Mati

Cerpen Koesmiyati Harsanto

Bagaikan busur raksasa, kerumunan ratusan manusia membentuk setengah lingkaran di lapangan kompleks militer yang kering dan berdebu. Mereka saling berkelisik satu sama lain seraya memandang tiang pancang yang berdiri kokoh, siap memeluk seorang  terpidana yang nantinya akan diikat di situ untuk menerima hukuman mati. Di antara tiang pancang dan penonton, sebarisan regu tembak berdiri memunggungi kerumunan, bersiap dengan senapan masing-masing.

Pengelana Muda menyelinap di antara kerumunan. Jiwa petualangnya berdebar menduga-duga apa yang akan dia lihat selanjutnya. Telah belasan negeri ia jelajahi. Banyak sudah kematian dia saksikan. Namun baru kali ini dia menjumpai prosesi hukuman mati yang dipertontonkan pada khalayak ramai. 

Dengung yang semula memenuhi udara berubah senyap tatkala dari pintu salahsatu bangunan di sana, lima orang berseragam warna khaki muncul menggiring seorang perempuan bertubuh mungil yang bagian matanya terbebat kain hitam.

“Kejahatan apa yang dilakukan perempuan itu hingga harus dihukum mati?” dengan rasa penasaran Pengelana Muda bertanya pada pemuda di sampingnya. Pemuda itu menatapnya dengan pandangan menyelidik.

“Kau pasti berasal dari negeri yang jauh,” kata pemuda itu kemudian. Pengelana Muda menelan ludah. Tak perlu usaha keras untuk tahu dia pendatang dari jauh. Meski dia bisa berbicara bahasa yang sama dan berpakaian layaknya penduduk negeri ini, matanya yang kehijauan dan kulitnya yang terang jelas menunjukkan kalau dia berbeda.

“Negeriku berjarak separuh bumi dari tempat ini,” jawab Pengelana Muda.

“Tertawa,” Si Pemuda berkata pendek. Butuh sekian detik untuk Pengelana Muda menyadari itu jawaban atas pertanyaannya sebelumnya. Keningnya berkerut. Jadi perempuan itu dihukum mati karena tertawa?  Demi bumi yang berputar, negeri macam apa yang menganggap tertawa  adalah suatu kejahatan berat?!

“Di saat pemakaman Sang Terpilih,”  lanjut pemuda itu seolah bisa membaca pikiran Pengelana Muda.

“Meskipun begitu, apa pantas dihukum mati? Bukankah itu terlalu kejam?” tanya Pengelana Muda heran. Dia tahu pemimpin negeri ini baru saja mangkat. Itulah salahsatu alasannya datang ke tempat ini, untuk melihat secara langsung pemakaman Sang Terpilih, julukan dari mendiang pemimpin negara.

“Kau tidak memikirkan orang macam apa yang bisa tertawa saat pemakaman pemimpin negara. Jenis pemberontak yang membenci pemerintahan,” jawab Si Pemuda.

“Begitukah? Jadi perempuan itu pemberontak?” Pengelana Muda tak yakin. Perempuan mungil yang sedang digelandang menuju ke tiang hukuman itu, jauh dari gambaran pembangkang. Tak ada perlawanan samasekali meski para lelaki berpakaian militer itu membawanya dengan setengah diseret. Sekadar bersuara pun tidak.

Prosesi pemakaman Sang Terpilih baru saja kemarin dilaksanakan. Dan sekarang perempuan itu sudah menghadapi hukuman mati. Jika alasannya karena dia tertawa saat pemakaman Sang Terpilih, bisa dipastikan dia dihukum tanpa proses pengadilan yang wajar.

“Dia tak terlihat berbahaya. Mungkin tawanya cuma kelepasan karena sesuatu yang lucu melintas di pikirannya saat itu,” kata Sang Pengelana. Pemuda di sampingnya hanya mengangkat bahu tampak tak peduli.

“Bagaimanapun, itu sudah cukup bagi pemerintah negeri ini untuk mencap dia sebagai pemberontak,” kata pemuda itu kemudian. Pandangannya beralih dari Pengelana Muda ke tiang pancang.

“Pemerintah? Tapi negeri ini bahkan secara resmi belum punya pemimpin baru, bagaimana bisa sudah ada yang menerima hukuman mati?” sahut Pengelana Muda makin tak mengerti.

Dipandangnya perempuan terpidana yang sekarang sudah terikat di tiang bagai benalu menempel di pohon biangnya. Dia tak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi perempuan itu. Sepertinya dia sudah pasrah atau mungkin putus asa. Bisa jadi masih berharap keajaiban. Prosesi pemakaman Sang Terpilih kemarin begitu agung dan sakral. Bilamanakah perempuan itu terpergok saat tertawa? Tawa macam apa hingga pantas diganjar kematian? batin Sang Pengelana  Muda dipenuhi banyak tanya.

Dia ingin bertanya lebih jauh lagi pada pemuda di sampingnya, tapi diurungkan saat dilihatnya pemuda itu tampak antusias menantikan proses eksekusi yang akan segera dimulai. Sementara Pengelana Muda masih ragu apakah dia sanggup menyaksikan eksekusi ini atau tidak. Telah dijumpainya sejumlah kematian tragis. Dia pernah melihat seorang buronan ditembak polisi, seorang anak yang mati terlindas mobil, bahkan seorang perempuan yang terjun dari lantai tujuh, namun semua itu disaksikannya tanpa dia sangka sebelumnya. Kali ini situasinya beda. Apalagi menurutnya, siapa pun perempuan itu tidaklah pantas dihukum mati. Yang dirasakannya saat ini justru keinginan kuat untuk menyelamatkan perempuan malang itu. Namun bunyi senjata yang terkokang menyadarkannya bahwa keinginannya mustahil terwujud, serentetan suara letusan berikutnya memperjelas hal itu. Dia tertunduk, tak sanggup untuk menyaksikan saat peluru menerjang Si Terpidana.

Perlahan Pengelana Muda mendongak, melihat suasana usai eksekusi. Perempuan itu masih terikat di sana dengan dahi yang mengalirkan darah. Regu penembak tampak melakukan penghormatan militer purna tugas. Penghormatan yang ditujukan pada sebuah foto sebesar papan tulis berbingkai pigura warna emas. Dua orang berseragam khaki memegangi sisi kanan dan kiri pigura. Seolah mendiang Sang Terpilih bisa melihat prosesi hukuman mati lewat fotonya.

“Ini tidak adil!”  Pengelana Muda tak bisa menahan kegeramannya. “Perempuan itu mungkin hanya tertawa di tempat dan saat yang salah. Dan karena itu dia harus dihukum mati?” suara Pengelana Muda terdengar gusar. Pemuda di sampingnya menatapnya dengan sorot mata bijak dan tenang.

“Biar kuberitahukan sesuatu padamu, Tuan, di negeriku ini orang bisa saja dihukum mati karena dua alasan yang tampaknya sepele. Dan itu berlaku untuk siapa pun. Satu seperti yang kau katakan tadi, tertawa di tempat dan saat yang salah. Kau sudah menyaksikan sendiri perempuan tadi ditembak mati karena alasan itu,” Si Pemuda berbicara dengan lambat dan jelas, bagai seorang guru mengajar muridnya.

“Dan perempuan tadi adalah kakakku,” lanjut pemuda itu dengan intonasi lebih tegas. Pengelana Muda terperangah. Ditatapnya pemuda itu dengan rasa tak percaya. Matanya bertemu dengan sepasang mata dingin milik pemuda itu, dan seulas senyum yang sama dinginnya. Hati Pengelana Muda mencelos ketika dia menyadari satu hal, wajah pemuda di hadapannya bak replika dari foto mendiang Pemimpin Negara.

“Dan alasan yang satunya lagi?” tanya Pengelana Muda dengan suara bergetar.

“Bertanya pada orang yang salah,” jawab pemuda itu dengan pelan, namun sesuatu dalam diri Pengelana Muda menyuruhnya untuk segera berlari.

***

Koesmiyati Harsanto wirausaha kuliner yang belajar menulis. Giat di Komunitas Sastra Alit, Surakarta.

Puisi

Puisi Saiful Bahri

malam

malam masih dibingungkan

dengan derita yang hujan bawa:

entah lebih jauh mana antara jarak

tanpa tempuh atau rindu tanpa temu?

pagi memilih mata hujan bertandang

merayakakan gerimis bayang-bayang

(2019)

cincin waktu

empat ribu hari daun bersemi

ia teringat bunga kembang

merayakan cincin melingkar

umpama hujan rintik berkabar

cincin hujan di tangan waktu

pertanda aku merindukanmu

suara telepon, suara hujan,

suara ayam di kebun frasa

semuanya tengah gembira

nun di alifnya hijrah pergi

ke tanah ritme mahligainya

(2019)

Malam Rabu

Suara-suara alif kiai

Serupa suruhan senja

Melampiaskan makna

Hujan tadi sore pergi

Kalimat tinggal dua

Nama aku dan kamu

Jumpa malam hanyut

Pergi ke sungai kali

Ikan-ikan diam bisu

Daun tetap tumbuh

Kaloni mimpi kata

Selatan arah kami

Ada rona perempuanku

Malam Rabu kesaksian

Menyaksikan perasaan

Bersaksi dan beraksi,

Bahwa kita ini puisi

(2019)

Zikir Waktu

Cinta dan percintaan tengah saling bermesraan.

Di luar hujan badai sedang di dalam api berandai.

Petir hitam malam menyambar serupa waktu-waktu bisu.

Berzikir adalah kebiasaan yang dirahasiakan riak doanya.

Zikir waktu. Zikir yang tak pernah dirahasiakan api malam

Di bibir waktu. Suara tengah melintas ke ubun mata alis api.

Halal kita tiga puluh hari kemudian. Gurun singgah di mata.

Berulang kali epilog dan keterbatasan alur cerita yang hanya

sampai di batas doa dan namaku menjadi waktu paling zikir

(Selasa, 30 April 2018)

Restu Kita

Kita dan waktu duduk meminum

campuran sepi dan puisi. Kongko.

Sesekali puisi dan kopi merasa

cemburu melihat rindu minum restu

Entah barangkali kita adalah mohon

yang dirahasiakan doa di ubun restu

Ya, Tuhan. Restu kita restu puisi

(2019)

pernikahan aku dan hujan

petang. pernikahan aku dan hujan disaksikan

kabut hitam yang menyambut tamu undangan

terundang petir awan duduk rapi di pangkuan

bahwa aku telah resmi disaksikan kesendirian

jejak rabun mata laun. angin hitam bertiup lunglai

hanya saja hujan kabung menerjemahkan sayap burung

ada banyak tamu undangan hadir di laman hati rumput

di antaranya adalah kenangan, kerinduan, bahkan kesepian

pernikahan aku dan hujan, basah, kuyup,

keindahan yang kuundang, yang datang bayang-bayang

(Pangabasen, 2018)

asmaraloka

“di sini, mereka lupa kata

angin dan aku bercerita;

   tutur daun aku gugur,

      cetus jauh aku jarak,

         ucap mendung aku hujan,

            kata rumput aku rasa,

ucap rasa aku kata; gampang

mencintai, tapi susah dicintai

(Bungduwak, 2018)

ilmu

belajarlah ilmu resah. paling tidak sesekali dalam ilusi.

memang iya. ilmu itu susah sekali. boleh saja kauucap

gampang, tapi kini, kau belum fasih menerangkan

bayang-bayang. tak ada ilmu gampang. merindu(pun)

butuh kamu. bahkan, mencintai butuh puisi. yang

gampang hanyalah ilmu percintaan, selain bab kerinduan

(Bungduwak, 2018)

taksa

sederas tangan hujan berdoa.

ia duduk, melamun, kadang

hijrah jatuh melilit makna abu

lunglai di mata batin kayu.

kayu-kayu daun terhindar

dari kemarau api gelisah.

searah mata hujan terpana

merias desir-desir makna.

(April 2018)

Saiful Bahri, lahir di Sumenep-Madura, pada tanggal O5 Februari 1995. Mengabdi di Madrasah Al-Huda. Mahasiswa aktif di STAIM Terate Sumenep. Selain suka menulis, juga aktif di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak, Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), Perkumpulan (Pemuda Purnama), Pengasuh ceria di grup (Kampus Literasi) dan pendidik setia di komunitas (Literasi Kamis Sore). Tulisannya di berbagai media, dan beberapa Antologi Bersama. Buku puisinya: Senandung Asmara dalam Jiwa (2018).

Film, Resensi

Ida dan Kesunyian Sejarah

Resensi Film oleh Kiki Sulistyo

Okupasi Nazi Jerman (bersama Uni Soviet) ke Polandia yang dimulai pada 1 September 1939 tidak hanya mengawali Perang Dunia II di Eropa, tetapi lebih dari itu juga menyisakan luka yang susah disembuhkan, terutama di bagan sosial terkecil; di tingkat domestik keluarga. Lubang-lubang gelap sejarah berupa kejadian selama perang coba diberi cahaya penerang oleh generasi setelahnya, agar dapat terlihat apa yang sesungguhnya terjadi. Upaya itu bukan tanpa risiko, sebab bayangan kengerian masa lalu, bisa saja menggagalkan niat rekonsiliasi dan menjadikan situasi yang sudah berubah jadi lebih baik malah berlumur dendam. Nazi Jerman menggunakan mesin genosida untuk menjalankan proyek invasi dan okupasinya, menyebabkan jutaan nyawa musnah, dan menjadikan tahun-tahun itu sebagai salah satu era paling gelap dalam sejarah modern.

Film Ida garapan sutradara Pawel Pawlikowski mengambil latar belakang sejarah itu untuk setting cerita tahun 1962, hampir dua dekade setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Anna (dimainkan Agata Trzebuchowska), gadis muda calon biarawati, baru mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang Yahudi setelah bertemu dengan bibinya Wanda Gruz (Agata Kulesza). Menjelang kaulnya untuk menjadi biarawati, kepala biara wanita meminta Anna untuk menemui satu-satunya kerabatnya yang masih hidup. Setelah bertemu Wanda, Anna baru tahu kalau nama sebenarnya adalah Ida Lebenstein.

Fakta baru itu membuat Ida mendadak berniat mengunjungi makam orangtuanya yang dibunuh semasa perang. Namun seperti banyak orang Yahudi yang tewas di masa itu, makam orangtua Ida pun tidak jelas tempatnya, bahkan mungkin tidak ada. Tetapi Wanda Gruz, yang pernah menjadi seorang jaksa, punya petunjuk. Maka dimulailah perjalanan mencari makam orangtua Ida, sekaligus juga anak laki-laki Wanda yang semasa perang dititip di keluarga Lebenstein.

Sutradara Pawel Pawlikowski menjadikan perjalanan membongkar masa lalu itu sebagai narasi utama film berdasarkan naskah yang ia tulis bersama Rebecca Lenkiewicz. Dalam perjalanan, mereka dipertemukan dengan Lis (Dawid Ogronik) seorang pemain alto-sax berparas tampan, yang berada ‘di luar sejarah’ mereka dan nantinya menjadi simpang dalam kehidupan Ida. Sementara, kunci bagi pintu untuk mengetahui peristiwa masa lalu ada di tangan keluarga Skiba, keluarga yang saat itu mengambil alih kepemilikan rumah keluarga Lebenstein. Lewat Feliks Skiba (Adam Szyszkowski) mereka akhirnya mengetahui fakta yang sebelumnya hanya menjadi rahasia.

Ida dan Wanda, sebagai dua karakter utama, punya watak yang bertolak-belakang. Kontras antara keduanya seperti memberi “warna” bagi layar film yang hitam-putih. Sebagai gadis remaja yang dibesarkan di biara, Ida menyiratkan pikiran, perasaan, maupun hasratnya dalam ekspresi-eksresi kecil, nyaris datar dan dingin. Meski dalam satu-dua kesempatan, seperti kata Wanda, “ia bisa juga bersikap kasar”. Sedangkan Wanda sendiri, meski punya posisi terhormat dan kekebalan hukum, tampak kacau hidupnya. Ia intimidatif, sinis, perokok berat, suka minum-minum, dan melakukan seks bebas dengan sembarang lelaki.    

Kita bisa menduga perbuatan-perbuatan itu ialah upaya Wanda untuk melarikan diri dari hantu masa lalu, bayangan gelap yang tak bisa lenyap. Tetapi ketika kenyataan terbuka di depan mata, ada sesuatu yang tak tertanggungkan lagi, dan proses rekonsiliasi mengalami resistensi dari diri yang telanjur tenggelam dalam upaya pelarian tersebut. Puncaknya, Wanda memilih satu tindakan ekstrem bagi dirinya sendiri. Tindakan ini hadir dalam satu adegan yang bisa membuat penonton ingin berkali-kali melihat kembali adegan tersebut karena tak percaya.

Berbeda dengan Wanda, Ida Lebenstein yang secara teknis “tak mengalami” peristiwa di masa lalu, sebab dia masih terlalu kecil ketika peristiwa pembunuhan orangtuanya terjadi, menyikapi proses rekonsiliasi dengan cara lain. Tampak jelas segala sesuatu asing baginya, seolah-olah ia baru saja diturunkan ke dunia dengan kenyataan yang melingkupinya. Ida tumbuh di biara wanita, agama adalah tulang punggungnya. Meskipun begitu, bias psikologi khas remaja terpancar di ekspresinya ketika Wanda menyarankan ia, sebelum menjadi biarawati, agar mencoba dulu nikmat dunia, sesuatu yang dianggap “dosa” dalam perspektif ketat agama. Apalagi ketika ia mulai dekat dengan Lis, pemuda tampan murah senyum, si pemain alto-sax yang menumpang di mobil Wanda dalam perjalanan ke kota yang sama dengan tujuan Wanda dan Ida untuk sebuah acara konser musik.

Maka ketika-pasca tindakan ekstrem Wanda-pada akhirnya Ida mencoba minum minuman keras dan tidur bareng Lis, kita tidak melihat ada penyesalan di wajahnya, juga tidak melihat bahwa ia sungguh-sungguh menikmatinya. Ida Lebenstein seperti ingin memanifestasikan rekonsiliasi yang gagal dilakukan Wanda dengan, untuk sesaat saja, menjadi seperti Wanda, melakukan apa yang sering dilakukan Wanda. Sebelum akhirnya dengan mantap, tanpa mengusik apapun, melangkah menuju pilihan hidupnya.

Film ini minim dialog. Dialog yang hadir pun cenderung pendek-pendek. Kesunyian yang dominan seakan memendam sekam dalam gambar-gambar yang dihadirkan. Selain pada cerita dan karakter, kekuatan film ini memang bertumpu pada sinematografi. Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski menggarap setiap gambar dengan brilian, seperti arsitektur puitika dengan ekonomi cahaya yang natural. Dalam banyak sekuen, karakter tak diletakkan di sentral, melainkan di tepi atau di bawah bidang layar, atau terselip di antara struktur benda-benda. Gambar-gambar tersebut seakan hendak menghadirkan kenyataan betapa sejarah orang-orang biasa selalu menjadi subordinat dari sejarah arus utama hasil konstruksi otoritas, baik yang pernah maupun yang sedang berkuasa, apalagi jika sejarah itu menjadi sejarah dunia, yang pada waktunya menjadi pemicu berbagai perubahan. Padahal orang-orang biasa adalah korban sesungguhnya, martir bagi tatanan dunia yang lebih baik.

Dan sebagai orang biasa, Ida Lebenstein telah menjalankan rekonsiliasi sejarahnya dan mengalami sejarah rekonsiliasinya dalam kesunyian pribadi. Sejarah yang tak dilihat orang banyak, dan takkan dicatat dalam buku besar sejarah formal.***

  • Data Film:
  • Judul: Ida
  • Sutradara: Pawel Pawlikowski
  • Skenario: Rebecca Lenkiewicz dan Pawel Pawlikowski
  • Sinematografi : Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski
  • Genre: Drama
  • Durasi: 82 Menit
  • Pemain: Agata Trzebuchowska, Agata Kulesza, Dawid Ogrodnik
  • Tahun Rilis: 2014

Tentang PenulisKiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).

Esai

Mengencani Jakarta

Esai oleh Shela Kusumaningtyas

Sebentar lagi kereta akan tiba di stasiun pemberhentian  berikutnya. Begitulah pekik yang diumumkan. Speaker yang dipasang di sudut-sudut kereta melantangkan dan terus mengulang pemberitahuan itu. Para penumpang yang berjejalan di tengah gerbong telah bersiap menembus barisan penumpang lain yang juga berjibaku dengan pegangan.

Mereka yang akan turun lantas menyusun jurusnya masing-masing supaya tidak terjepit di dalam kereta yang penuh sesak. Lalu akhirnya terlewat untuk keluar kereta. Sebab pintu kereta terbuka tak lebih dari lima menit.

Penumpang yang kebetulan dapat tempat duduk pun mesti beranjak dari bangku. Mereka harus menyibak celah-celah sempit antara para penumpang yang berdiri. Kemudian mendekatkan posisi dengan pintu kereta.

Gerak mereka mesti gesit. Pasalnya, penumpang di luar juga telah menunggu untuk dapat masuk kereta. Sehingga, dibutuhkan kerja sama antara penumpang yang turun dan naik. Supaya tidak ada yang dirugikan.

Di situlah kesabaran dan emosi diuji. Penumpang yang akan turun akan menyingkal dan menghalau penumpang yang buru-buru naik. Lalu teriakan yang memekakan telinga akan dilontarkan. Bahwa penumpang naik mesti menunggu dulu semua penumpang benar-benar turun.

Sementara penumpang yang akan naik kadung tidak sabar. Mereka abaikan peringatan dari penumpang yang turun. Sebab, jika benar-benar memasuki kereta ketika penumpang dari dalam sudah tidak ada yang turun, kemungkinan untuk bisa dapat ruang di dalam kereta akan sulit.

Kereta sudah begitu sesak sehingga pasti yang akan naik akan dicegah. Lalu mereka disuruh untuk menanti kereta selanjutnya. Padahal, mereka sudah menunggu terlalu lama, hingga parfum yang mereka semprotkan dengan semangat telah menguap baunya. Daya pikat aromanya telah berbaur dengan udara yang mulai tersusupi asap knalpot.

Riasan para perempuan yang akan naik juga mulai terhiasi bulir keringat. Alis yang mereka lukis hampir makan waktu sejam pelan-pelan kehilangan goresannya yang indah. Sebab tak sengaja terseka oleh tisu yang harusnya untuk mengelap keringat.

Penumpang kereta seolah menjelma jadi sosok yang egois. Hampir semuanya menghindari sikap untuk mengalah, karena dengan mengalah, kepentingan mereka akan kacau. Misalnya, waktu untuk tiba ke kantor jadi terlambat.

Selain perilaku saling serobot dan terabas untuk masuk dan turun kereta, keegoisan juga tampak saat kereta melaju. Rasa kantuk seakan langsung menyergap para penumpang yang beruntung bisa menaruh pantat di kursi yang tersedia. Mata langsung disetel terpejam sesaat setelah penumpang duduk, supaya tidur bisa pulas sepanjang perjalanan, mulut dibungkam oleh masker. Tangan mendekap tas. Ini agar sensasi tidur memeluk guling layaknya di rumah bisa dirasakan. Tampilan yang begini menjadi semacam tanda bagi penumpang lain untuk tidak mengusik tidur mereka.

Jika sudah begitu, penumpang lain menjadi patuh terhadap kebijakan tak tertulis tapi telah mengakar di kalangan para pelaju kereta. Dengan demikian, tidak ada yang berani  menepuk pundak penumpang yang tidur.

Tentu bukan tanpa sebab tidur mereka diganggu. Karena penumpang lain akan meminta izin supaya tempat duduknya mereka berikan kepada penumpang yang lebih membutuhkan. Seperti lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan orang membawa balita.

Itulah pemandangan yang jamak ditemui di commuter line. Baik dari atau menuju Jakarta, perjalanan menumpang commuter line menjadi sebuah pertarungan usaha. Ada perjuangan yang mesti dibayarkan supaya tiba di tempat tujuan.

Sikap tolong-menolong dipertaruhkan di dalam gerbong. Kedewasaan dan kebaikan tersorot nyata dalam setiap perlintasan yang dilalui.

Memang betul, acap kali penumpang muda yang sebenarnya masih kuat berdiri dan bergelantungan enggan untuk berbagi kursi. Dalih yang dipakai adalah mereka menempuh perjalanan dari titik mulai hingga titik terakhir relasi kereta.

Dari situ biasanya perdebatan sengit tercetus di dalam gerbong. Semua adu argumen. Tiap mulut kukuh menumbangkan pendapat lawan bicara. Dan masker penutup menjadi pengaman supaya ketika terjadi cekcok soal kursi, tak ada yang mengidentifikasi wajah mereka masing-masing.

Sedangkan penumpang lain asyik jadi penonton sembari mengabadikan momen itu lewat gawai pintar. Sudah bisa ditebak, keributan itu akan sampai ke akun-akun Instagram yang kerap menyebarkan peristiwa viral dan menggemparkan.

Apakah kejadian singkat di kereta listrik tersebut bisa jadi cerminan betapa memburu waktu di Jakarta bisa mengubah kelembutan hati seseorang? Wajar saja, secara psikologis memang jiwa manusia akan lebih tertekan jika dihadapkan pada ketergesaan. Sedangkan Jakarta selalu menuntut orang-orang untuk gesit dan tahan banting meski sesempit apapun waktunya.

Maka dari itu, banyak perantau di Jakarta yang akhirnya tak lagi jadi dirinya. Jakarta mengubah mereka menjadi egois sekaligus temperamen. Pasalnya, jika tidak beradaptasi seperti itu, orang-orang itulah yang akan tergilas. Lalu keok di tengah laju Jakarta yang terus mengebut dengan kecepatan tinggi, tanpa memperhatikan sekitar.

Bahkan Jakarta nyaris lupa tentang arti bernapas lega, karena seluruh penghuninya dipaksa untuk menabrak batas demi mencapai tujuan tanpa pernah berhenti. Padahal manusia sesekali butuh rehat, hanya sekadar untuk mengamati sekeliling yang perlu dibantu.

Itulah anehnya Jakarta. Kejam tapi banyak yang cinta, sehingga jadi rebutan banyak pendatang yang nafsu untuk mengencaninya.

Tak percaya soal Jakarta yang jadi incaran bak gadis yang ditaksir banyak lelaki? Tengok saja betapa penuhnya Transjakarta yang melayani berbelas koridor? Seluruh Jakarta kini memang telah tersambung dengan bus ber-AC kebanggan pemerintah provinsi ini. Bahkan, masyarakat dari kota penyangga di sekitar Jakarta juga terlayani dengan bus ini. Trayeknya telah diperpanjang lintas provinsi dan menjamah kota satelit seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Tangerang Selatan.

Transportasi yang terintegrasi seperti itu tentu memudahkan mereka yang ingin mengadu nasib di Jakarta. Belum lagi ditambah mudahnya moda transportasi lain untuk menjangkau Jakarta. Sebut saja kereta listrik yang bisa memangkas waktu tempuh dari Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Rangkasbitung ke Jakarta.

Itu baru moda transportasi yang terhitung jarak pendek. Belum lagi layanan transportasi yang memudahkan masyarakat seantero Indonesia untuk berduyun-duyun datang ke Jakarta. Misalnya, kereta ekonomi dengan tarif termurah dari Semarang ke Jakarta bisa ditebus dengan harga kurang dari Rp. 150.000,-. Kendati penumpang mesti merasakan duduk di bangku yang keras sembari berbagi dengan satu atau dua orang penumpang lain, nyatanya tiket kereta ini hampir pasti laris terjual terutama saat akhir pekan atau pasca lebaran.

Lihat saja berita-berita yang memenuhi media massa. Kebanyakan mencatat bahwa perpindahan penduduk dari daerah ke Jakarta mencapai puncaknya ketika lebaran telah usai. Saat itu, para perantau lama ada yang “menyusupkan” pendatang baru yang tergiur dengan bayangan kesuksesan yang bakal direguk ketika bekerja di Jakarta.

Tak ayal, kontrakan petakan yang menjamur di gang-gang sempit di balik gedung-gedung pencakar akan semakin sesak terisi. Tidak ada yang kosong di Jakarta. Semua lahan bisa disulap jadi tempat tinggal atau tempat memungut rezeki. Di Jakarta yang sepi hanyalah hati para warganya yang telanjur dirasuki oleh hasrat ekonomi sebab untuk mengencani Jakarta butuh modal yang terlampau besar.

Jakarta juga telah menukar segala yang ia punya untuk penghuninya. Apa saja yang telah Jakarta beri ke penghuninya tentu tidak bisa ditukar dengan sikap angkuh para masyarakat. Bayangkan saja, Jakarta rela merusak tubuhnya. Tepian laut diuruk menjadi daratan padat demi masyarakat berkantong tebal yang butuh hunian dengan panorama laut yang membentang eksklusif. Selain itu, tanah makin dikeruk untuk disumpal dengan rel-rel yang bakal dilalui kereta bawah tanah layaknya di negara maju. Tanah juga makin digali demi mendapatkan setetes air untuk membasuh badan yang penuh peluh dan debu polusi. Sekaligus untuk memeroleh air yang mampu menghidupi keringnya kerongkongan.

Demikianlah Jakarta, banyak yang memaki namun tak banyak yang rela terusir dari ibu kota negeri ini. Jakarta mungkin seperti kekasih yang tidak romantis dengan cara-cara yang lumrah dan pasaran. Jakarta gengsi memberikan sebatang coklat atau seikat bunga bagi penghuni tercintanya. Jakarta hanya akan mencurahkan kelimpahan cintanya kepada mereka yang mau bergerak demi perubahan dan kemajuan.

Shela Kusumaningtyas, mendefinisikan diri sebagai seorang yang gemar membaca, menulis, berenang, dan jalan-jalan. Tulisannya dimuat di pelbagai media—baik cetak dan online. Telah menerbitkan dua buku di Ellunar Publisher, Kumpulan Puisi Berjudul Racau dan Kumpulan Opini di Media Massa Berjudul Gelisah Membuah. Bisa dihubungi via e-mail [email protected]