Katalog

Cerpen

Sebuah Cerita Tentang Rumah

Oleh Ardy Kresna Crenata

Hari ini pun ia begitu diam. Bahkan, aku rasanya belum sedikit pun mendengar suaranya. Ketika akan menyantap hidangan ia memang mengucapkan “itadakimasu[1] namun ia mengucapkannya dengan sangat pelan, seakan-akan ia berusaha agar tak seorang pun mendengarnya, seakan-akan ia enggan aku dan Kanae-san atau siapa pun menyadari keberadaannya. Kami membiarkannya. Ah, tidak. Aku yang membiarkannya, sementara Kanae-san sesekali mengajaknya bicara atau sekadar menyuruhnya mencoba hidangan demi hidangan. Sesekali ia mengangguk.

Kami mulai menikmati makan malam bertiga seperti ini sejak lima hari yang lalu. Saat itu, aku terkejut mendapati seseorang asing duduk di kursi yang biasa kududuki, dan ia seorang diri saja di sana dan menatapku tanpa emosi. Kanae-san saat itu sedang mempersiapkan sesuatu di dapur, dan ia lupa memberitahuku bahwa malam itu kami kedatangan “tamu”. Aku menghampirinya, duduk di sebuah kursi di hadapannya. Aku mengira ia teman-main Kanae-san dan karenanya aku mencoba bersikap ramah dengan menanyainya siapa namanya dan apa yang tengah dan akan dilakukannya di rumah kami, namun ia tak menjawabnya; ia bahkan segera mengalihkan tatapan matanya dariku, dan tingkahnya ini tentu membuatku kesal. Terang-terangan tunjukkan kekesalanku itu lewat raut mukaku. Akan tetapi, ia tak terlihat terganggu.

Beberapa belas menit kemudian aku mulai mengetahui beberapa hal tentang dirinya. Kanae-san bilang ia ditelepon seorang teman-aktivis-nya dan diminta datang ke kantor lembaga kemanusiaan tempat temannya itu bekerja, saat itu juga. “Ada orang yang butuh pertolonganku. Gitu kata temenku,” jelas Kanae-san. Seseorang yang dimaksud temannya itu konon baru saja mengalami serangkaian “kejahatan” yang mengarahkannya pada upaya bunuh diri, hanya saja ia terselamatkan sebab jumlah pil tidur yang ditelannya rupanya masih kurang banyak. (Bisa dibilang seseorang ini memiliki tingkat imun dan daya tahan tubuh yang sangat baik. Untunglah!) Kanae-san menemui seseorang itu, mendekatinya dan duduk di sampingnya, dan mulai mengajaknya bicara. Lalu tanpa diduga, seseorang itu mulai menangis. Menangis dan menangis. Teman-aktivis-nya memberitahu Kanae-san bahwa selama lebih dari setengah jam berada di sana seseorang itu hanya diam seperti mayat hidup.

Seseorang itu kemudian dibawa Kanae-san ke rumah ini, dan kini ia berada di hadapanku. Aku ingat di malam pertama ia bersama kami itu aku mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan rupanya aku masih terus melakukannya hingga detik ini. Ia begitu misterius. Begitu kesan yang kutangkap. Saat teman-aktivis Kanae-san menemukannya ia begitu kumuh dan tak membawa satu tanda pengenal pun. Sepasang suami-istri yang memanggil ambulans dan menyertainya ke rumah sakit mengatakan mereka menemukannya di kursi sebuah taman dalam keadaan sebelah tangan terkulai hingga hampir menyentuh tanah, dan semacam cairan putih mulai membusa di mulutnya. “Aku curiga dia korban human trafficking.” Begitu Kanae-san memberitahuku. Aku pun berpikir demikian.

***

Selama tiga hari kemudian Kanae-san mencoba beragam cara untuk membuat perempuan itu bicara; setidaknya mengatakan siapa namanya sesungguhnya dan di mana ia pernah tinggal. Menurutku, jika dilihat dari kulit mukanya yang masing kencang, ia masihlah di pertengahan dua puluh, dan mungkin sempat menjalani kehidupan yang cukup mewah. Mengenakan salah satu kaus leher kura-kura milikku ia tampak begitu muda meski tanpa gairah. Dulu, lebih dari lima tahun yang lalu, Kanae-san membeli kaus itu untukku.

Sesungguhnya aku mengerti mengapa ia masih sediam ini. Dulu pun, agaknya, aku tak langsung membuka diri kepada Kanae-san; aku seperti khawatir seseorang yang begitu saja menolongku dan menampungku itu hanyalah sosok busuk lain yang harus kuhadapi dalam hidupku; hidupku yang sudah kelewat suram—saat itu. Karena kesabaran Kanae-san-lah barangkali aku akhirnya membuka diri, sedikit demi sedikit. Aku mulai menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan menceritakan apa saja yang bisa kuceritakan, demi meringankan beban Kanae-san dan bebanku sendiri. Dua-tiga bulan kemudian, aku sudah bisa tersenyum dan menyambut guyonan-guyonannya.

Kali ini pun Kanae-san agaknya akan mengulangi apa yang dilakukannya itu. Ia memang berpengalaman, dan professional. Aku tahu di dalam hatinya ia sesungguhnya kerap mengeluh dan ia melepaskan kepenatan dan tekanan-tekanan yang dirasakannya di tempat-tempat tertentu, meski kadang ia kewalahan juga. Suatu dini hari, misalnya, lima tahun yang lalu, aku terbangun dan ingin kencing, dan tak sengaja kutemukan Kanae-san sedang menangis sesenggukan di kotatsu[2]. Televisi di hadapannya ketika itu menyala namun tanpa suara.

Kembali ke perempuan itu. Sejujurnya, melihatnya mengingatkanku pada diriku sendiri. Diriku lima tahun lalu. Aku pun dulu mungkin masih semuda itu, hanya saja bentuk mukaku tak se-kawaii[3] bentuk mukanya. Aku tak akan terkejut jika di hari-hari yang dijalaninya sebelum bersama kami itu ia rupanya seorang model majalah lokal, atau ambassador sebuah produk kecantikan yang iklannya belum tayang di televisi. Sesuatu semacam itu. Tetapi membayangkan itu benar, dan menyandingkannya dengan kenyataan ia mencoba bunuh diri dan seperti tak memiliki siapa-siapa lagi, tak pelak lagi membuatku risau. Seseorang di hadapanku ini mungkin sedang menahan sesuatu yang teramat muram dan ia bisa saja memuntahkannya sewaktu-waktu dan itu, sangat mungkin, akan memengaruhi kehidupan kami.

“Besok siang bisa nemenin Mima-tan belanja? Aku akan seharian di luar. Baru pulang malam,” ujar Kanae-san.

Aku mengangguk. Besok hari libur dan aku tak punya rencana bepergian.

“Sudah saatnya Mima-tan melihat kembali dunia luar. Terlalu lama mendekam di sini bisa bikin dia lupa kalau dia itu manusia,” tambah Kanae-san.

Kembali, aku mengangguk. Kalau tidak salah lima tahun lalu aku pun mulai diajak “melihat” kembali dunia luar di hari kelimaku.

Beberapa minggu berlalu dan kondisi perempuan itu mulai membaik. (Kanae-san memanggilnya dengan namanya, tetapi aku entah kenapa selalu menghindari itu; seakan-akan di dalam diriku ada dorongan untuk menjauhkan diriku darinya meski jelas sekali ia mengingatkanku pada diriku dulu.) Sekarang, ia mulai merespons ucapan-ucapan Kanae-san dengan ucapan juga. Ia pun sesekali tersenyum meski masih terlihat memaksakan diri. Kepadaku, ia mulai menunjukkan keramahannya, seperti dengan mengangguk dan memberiku senyumnya itu. Aku mulai lega dan berharap kondisinya akan terus membaik. Tetapi di saat yang sama, sekiranya ini bukan perasaanku saja, sesuatu di dalam diriku justru berharap suatu hari nanti perempuan ini akan pergi kembali ke tempatnya yang semestinya dan meninggalkan kami.

***

Kanae-san sejauh ini telah cukup berhasil mengorek informasi tentang perempuan itu, dan ia begitu senang akan hal ini. Setidaknya itulah yang terlihat di binar matanya. Tentu saja ia tidak melakukannya seorang diri; si teman-aktivis-nya tadi (juga teman-temannya yang lain) ikut mendatangi sejumlah tempat dan menanyai sejumlah orang. Rupanya, setidaknya dari pencarian sementara, perempuan itu pernah terlibat dalam suatu produksi film porno; ia berperan sebagai si aktris dan pembuatan film itu melibatkan sebuah rumah produksi ternama dan seorang bintang porno terkenal. Kabar ini sebenarnya masih samar, tetapi jika benar, sungguh aku bersimpati padanya. Ia sesungguhnya dikontrak—sebab dibayar agaknya kelewat kasar—untuk bersetubuh dengan seorang lelaki saja, tetapi kenyataannya, saat proses pembuatan film berlangsung, ia disetubuhi juga oleh lelaki-lelaki lain. Ada yang mengatakan jumlah lelaki-di-luar-kontrak itu lima orang. Ada juga yang mengatakan tujuh orang. Pada saat pengambilan gambar itu tentulah ia tak berdaya; bagaimanapun ia satu-satunya perempuan di tempat itu dan ia dalam keadaan lemas—mungkin juga ngilu. Setelah pengambilan gambar selesai, setelah ia berada di kamar apartemennya, ia mulai menyesali apa yang telah dilakukannya itu, dan setelah lama memikirkannya ia pun memutuskan untuk tidak lagi melakukannya. (Tidak lagi! Sebab sekali saja sudah cukup!) Tetapi rupanya ia harus menerima kenyataan bahwa kontrak yang tempo hari ditandatanganinya itu mengandung sesuatu yang tidak ia ketahui, bahwa jika ia memutuskan kontrak begitu saja hanya setelah satu produksi film maka ia diharuskan membayar uang kompensasi yang begitu besar—puluhan juta Yen—dan ia harus membayarnya dalam kurun waktu yang terbilang singkat. Mau tidak mau, ia kembali menjalani produksi film yang lain, dan terus seperti itu sampai ia tidak tahu lagi apakah ketika melakukannya ia sedang bekerja atau justru diperbudak. Ia memang dibayar, sesuai yang tertera di kontrak. Tetapi ia tak lagi menikmatinya. Tak sedikit pun menikmatinya.

Dan mulailah ia akrab dengan ide-ide bunuh diri. Pernah, misalnya, ia membayangkan menyelipkan pisau lipat di belahan dadanya, dan ia mengeluarkan pisau ini saat si aktor pasangannya mulai menciuminya dan menikamkan pisau itu ke perutnya sendiri, atau ke lehernya yang tengah diciumi si aktor itu. Pernah juga, saat tengah menjalani satu produksi film, dalam keadaan menelentang dan telanjang dan sekuat tenaga menahan rasa sakit di bawah perutnya, ia menoleh ke kiri, dan melihat sebuah botol anggur. Di dalam benaknya ia memanjangkan tangan kirinya dan mengambil botol itu dan memecahkannya, lantas menikam dirinya sendiri di leher sepuas hatinya.

Ketika ia benar-benar mencoba bunuh diri (dengan menelan sekaligus sejumlah pil tidur yang ia beli dari sebuah konbini[4] dengan sisa uang terakhirnya), ia sudah beberapa lama melarikan diri dari orang-orang yang terlibat dalam produksi film-film porno yang dibintanginya tadi. Ia tak langsung menelan sejumlah pil tidur itu setelah ia membelinya; untuk beberapa lama pil-pil itu bercokol di saku celananya dan ia tak menyentuhnya. Bisa jadi, ia bimbang. Atau takut. Ia tentulah menilai hidup yang dijalaninya sudah tak berarti lagi; bahwa ia mungkin lebih baik mati saja daripada terus hidup namun menderita dan menderita. Entah di mana keluarga dan teman-temannya. Informasi yang terkumpul belum sampai menyentuh dua hal ini. Beberapa lama perempuan itu berkeliaran dari satu trotoar ke trotoar lain, dari satu taman ke taman lain, dari satu kursi ke kursi lain. Ia tak lagi makan, dan entah telah berapa hari berlalu sejak terakhir kali ia mandi. Dan begitulah ia kemudian menelan sekaligus pil-pil tidur itu, dan sepasang suami-istri yang kebetulan pulang larut dan hendak bermesraan di sekitar taman menemukannya dan menyelamatkannya dari kematian—meski ia mungkin tak mengharapkannya.

Setelah mengetahui sepenggal masa lalunya itu aku jadi melihatnya secara berbeda. Sedikit berbeda. Di dalam diriku aku memang masih merasakan dorongan untuk menjauhkan diriku darinya, dan diam-diam aku masih berharap suatu saat nanti ia akan pergi, membiarkan aku dan Kanae-san menikmati hari-hari kami berdua lagi. Tetapi sepertinya, aku juga mulai menyayanginya. Lebih tepatnya, aku kasihan padanya. Aku tak ingin sesuatu seburuk itu kembali menimpanya.

***

Enam tahun lalu, selama hampir satu tahun penuh, aku menghabiskan malam-malamku di sebuah ruas jalan di Akihabara, menawari lelaki-lelaki yang kutemui kalau-kalau mereka ingin menghabiskan satu sampai satu setengah jam denganku untuk mengobrol, hanya mengobrol, tentunya dengan imbalan sekian ribu Yen. Hampir satu tahun penuh. Selama itu aku telah berhadapan dengan dan melayani orang-orang yang berbeda, mulai dari yang menyenangkan hingga yang menjengkelkan. Semula aku kira para pelangganku itu akan lebih banyak orang-orang tua; lelaki-lelaki empat puluh tahun ke atas yang tak lagi bisa menikmati kehidupan keluarganya atau telah menyerah mencari pasangan. Rupanya, lama-kelamaan, orang-orang yang duduk dan bicara di hadapanku justru anak-anak muda; lelaki-lelaki di pertengahan dua puluh atau awal tiga puluh yang kadung malas mencari teman-ngobrol yang sesungguhnya. Suatu ketika, aku jenuh. Beberapa teman-seprofesiku kudengar menerima tawaran-tawaran yang lebih jauh dari pelanggan-pelanggan mereka seperti berkencan di luar jam kerja atau bahkan bersanggama, mungkin untuk mengatasi kejenuhan mereka. Aku sendiri? Tidak. Bagaimanapun aku bukan pelacur dan apa yang kulakukan selama hampir satu tahun itu lebih ke sebuah upaya untuk mengatasi kesunyianku sendiri, sebab baik rumah maupun sekolah sudah menjadi ruang-ruang lain di mana kesunyianku itu tumbuh. Apa yang kulakukan itu adalah rumahku. Aku seperti sedang membangun rumahku sendiri. Begitulah saat itu aku berpikir. Hingga kemudian, aku jenuh. Selama beberapa hari aku menjalani profesiku itu tanpa menikmatinya lagi, tanpa sedikit pun menikmatinya lagi. Dan di masa itulah Kanae-san muncul.

“Apa yang kamu lakukan di sini malam-malam begini? Nggak pulang?”

Itulah yang ditanyakan Kanae-san di pertemuan pertama kami. Aku menatapnya curiga. Saat itu aku sedang menengadah memandangi langit dan bertanya-tanya apa yang dilakukan makhluk-makhluk lain di luar angkasa sana—kalau memang mereka ada. Kanae-san tentu menyadari aku masih mengenakan seragam sekolahku, dan karena itulah ia menghampiriku.

Menikmati hari-hari bersama Kanae-san di rumah ini, selama lima tahun, membuatku kembali merasa hidup. Agaknya sesuatu positif ini mulai mendatangiku di tahun keduaku bersamanya. Kanae-san, meski telah tahu betul di mana orangtuaku tinggal dan seperti apa mereka, tak mendesakku untuk pulang. Ia hanya bilang bahwa aku, dan setiap orang yang merasa sendirian di dunia ini, sesungguhnya tak pernah sendirian. Akan ada orang-orang seperti dirinya yang akan menemani mereka; yang akan menerima mereka dan menemani mereka. “Kalau suatu hari nanti kamu sudah merasa ingin pulang, pulanglah,” ujarnya, hampir empat tahun yang lalu.

Di akhir tahun keduaku bersama Kanae-san aku lulus dari SMA, dan beberapa bulan setelahnya aku melanjutkan studi ke sebuah universitas di Tokyo atas dorongan darinya. (Ia bahkan ikut membiayaiku dengan menjual mobil-pribadinya yang telah digunakannya selama bertahun-tahun!) Tahun lalu, entah ini kebetulan atau apa, aku berkesempatan menjalani hari-hari sebagai mahasiswa asing di sebuah kota di Indonesia. Kanae-san menyambutku setibanya aku di bandara Haneda, beberapa bulan setelahnya. Ia merangkulku dan menangis. Ia bilang ia merindukanku.

Sejak memutuskan untuk percaya padanya, aku telah berkali-kali pulang ke rumah hanya untuk mengambil baju-baju ganti dan peralatan sekolah. Kanae-san tak sedikit pun menanyaiku apa yang terjadi di rumah dan bagaimana reaksi ayah-ibuku atas “kepindahanku”, dan ia selalu menyambutku dengan senyumannya yang terasa tulus dan hangat itu. Aku sangat menghargai pengertiannya dan, di saat yang sama, menyayanginya.

***

Kanae-san tak menikah. Setidaknya itu yang aku tahu. Umurnya saat ini empat puluh tiga dan ia sudah seperti ibuku sendiri. Apakah ia tidak kesepian? Kadang-kadang aku memikirkannya, dan selepasnya aku selalu bersyukur bahwa bisa jadi dengan ia tidak menikah itulah aku jadi bisa hidup dengannya, di rumahnya ini, layaknya ibu dan anak, atau dua orang teman dekat. Ia, pernah aku berpikir, mungkin mengisi kesunyian dan kesendirian yang dirasakannya akibat tak menikah itu dengan menampung dan merawat orang-orang seperti kami—aku dan si perempuan tadi. Bisa jadi dugaanku ini tepat sasaran.

“Malam ini menu kita sashimi[5],” teriak Kanae-san, dari dapur.

Aku merebahkan diriku di sofa, dan menyalakan televisi.

“Kerja-sambilanhari ini gimana?” teriaknya lagi. “Mima-tan katanya pengen tahu,” sambungnya, lantas tertawa.

“Lumayan ngerepotin,” balasku, sambil menoleh ke arah dapur.

Kanae-san lalu memberitahuku bahwa ofuro[6] sudah siap seandainya aku ingin menggunakannya. Kuucapkan terima kasih, tetapi ia mengoreksiku dengan berkata bahwa seseorang yang semestinya menerima ucapan terima kasih dariku itu adalah seseorang lain yang tengah berada di sampingnya, yang tengah membantunya menyiapkan makan malam; seseorang yang sampai detik ini aku masih juga enggan menyebut namanya itu.

“Ah, oke. Terima kasih ya,” ujarku.

Seseorang itu tak menjawabnya, atau mungkin ia menjawabnya tetapi dengan volume yang begitu rendah.

“Semalam katanya Mima-tan mimpiin kamu. Makanya dia penasaran dan pengen tahu kabarmu hari ini,” kata Kanae-san, hampir-hampir berteriak, dan kembali ia tertawa.

Jujur saja aku tak tahu harus meresponsnya seperti apa. Aku hanya memandangi layar televisi sambil mengganti-ganti saluran; membiarkan tawa Kanae-san—juga suara tipis perempuan itu—melayang-layang di dalam kepalaku, melayang-layang di dalam diriku.

Dan meski aku tahu betul aku tak mungkin mengganti-ganti saluran televisi selamanya, aku terus saja melakukannya seolah-olah aku berpikir aku bisa dan harus mencoba melakukannya selamanya. Seakan-akan, di titik aku berhenti melakukannya, sesuatu teramat penting yang telah susah-payah kumiliki akan terenggut dariku, begitu saja terenggut dariku, dan aku tak akan bisa lagi mendapatkannya.(*)


[1] Kata yang biasa diucapkan orang Jepang saat akan menyantap hidangan makanan ataupun minuman.

[2] Meja-kayu berkaki rendah yang dilengkapi dengan pemanas; biasa dipasang dan digunakan di musim dingin.

[3] cantik, imut.

[4] Convenient store

[5] Potongan ikan mentah. Biasanya disajikan dengan kecap.

[6] Bathtub versi orang Jepang. Sering juga diartikan kamar mandi ala Jepang yang terpisah dari toilet, di mana di dalamnya ada bathtub yang biasa diisi dengan air panas atau air hangat.

Ardy Kresna Crenata menulis esai, cerpen, dan puisi. Buku kumpulan cerpennya: Sebuah Tempat di Mana Aku Menyembuhkan Diriku (DIVA Press, 2017).

Esai

Pepatah-pepatah Usang dan Geseran Pemikiran yang Mengembalikan Jalan

Esai Richard Oh

Di zaman kasak-kusuk seperti ini, mungkin kita lebih memahami kenapa pepatah seperti, Diam adalah Bijak,  sebagai sebuah penyesatan yang sangat merugikan. Mana mungkin diam itu bisa menjadi bijak? Mungkin bagi kebanyakan orang hal itu sebuah gaya yang lebih menyembunyikan kebingungan atau sebuah tenggang rasa yang lebih mengacu pada keuntungan berdiam daripada merugikan orang lain.  Nah, itu satu lagi kebiasaan berpikir yang sama sekali tidak masuk akal. Merugikan orang. Bagaimana manusia bisa berpikir dirinya bisa merugikan orang, kalau dia tidak juga berpikir keuntungan dirinya?

Diam itu sama sekali tak berguna, kecuali bagi seorang bankir yang memperhitungkan untung dan rugi. Diam itu juga tidak bijak. Kecuali kalau kita balik ke era romantis dahulu, di mana seseorang berambut panjang dan suka bermain gitar dan berkecenderungan diam seperti manusia penuh penderitaan, seperti objek ketabahan dalam kesunyian atau kesunyian berpendam seribu kebijakan atau kebajikan. Stereotipe jadul yang entah kenapa menjadi populer di kampus sini dan tokoh romantis di sekian film laku. Tapi kita paham itu. Karena seorang pendiam bisa dengan mudah diproyeksi apapun di kepala kita: soliter, berarti kuat dan tabah secara karakter, romantis seperti seekor hewan peliharaan yang tidak membuat jengkel karena diapapun ia tidak membalas kembali dengan menggigit, misterius mengundang keingintahuan, simpatik karena tidak rewel mengusik urusan siapapun. Karakter yang sebenarnya warisan dari era ketika manusia memandang kehidupan sebagai sebuah tragedi. Di era setelah Goethe menjadi sebuah karakter romantika kelas wahid. Karakter penuh sensibilitas dan kehalusan jiwa dan kesabaran mendengar semua keluhan dan…tak berguna bukan? Karena apa yang bisa dilakukan manusia seperti itu, selain sebuah pundak atau bantal tangisan atau tong sampah semua kekesalan dan keluhan. 

Ada lagi satu frase populer yang beberapa tahun terakhir sering diutarakan sebagai sebuah bendara putih untuk memartisi diri dari pengkritik, sebuah warisan dari relativisme pascamoderen: Jangan menghakimi orang. Kita ketahui hari ini, di era serba relatif seperti sekarang, berdiam seribu kata sama sekali bukan sebuah penanda kebijakan atau tidak berbicara terus terang sebuah kebajikan berkonotasi tidak menghakimi orang. Di era di mana semua okay dan setiap hal memiliki berbagai sudut pandang, di mana letak kebenaran diberangus sebanyak alasan dan justifikasi, semua tergantung dari sudut pandang mana, tanpa sebuah wawasan yang menaungi apapun yang beredar. Tidakkah kita juga bisa berpikir: karena semuanya relatif maka berlaku kritis memungkinkan terwujudnya sebuah ruang di mana kekacrutan dan kekacauan bisa ditengarakan menjadi sebuah kecerahan solusi?

Mengkritisi tindak-tanduk seorang tercinta, teman dan kolega semakin terasa penting, karena tindakan itu mencerminkan sebuah partisipasi atau pertukaran berguna untuk mempertahankan sebuah standar kehidupan dalam setiap komunitas atau lingkaran kecil hubungan keluarga ataupun pertemanan. Menghakim dan mengkritik adalah dua hal yang berbeda. Menghakimi seseorang memiliki konotasi menjatuhkan seseorang untuk kepentingan diri. Mengkritik dengan berniat untuk memperbaiki adalah tindakan partisipatif yang benar. Dalam kekalutan era modern, kedua hal ini menjadi sengkarut tak terpisahkan. Sehingga saat ini mengkritik menjadi sebuah penghakiman yang melanggar kepribadian seseorang. Dalam keadaan seperti itu, seorang kekasih, teman, kolega, saudara, tak berdaya berkontribusi sama sekali. Karena ia menjadi seseorang yang mendengar tanpa berekspresi  atau sekutu keterpurukan yang diharapkan hanya simpati atau telinga yang sabar mendengar.

Empati tentunya memiliki fungsi yang tidak pasif untuk membangun semangat. Membangun semangat tentunya bukan hanya melewatkan masa sulit dengan rasionalisasi sederhana, tapi untuk menguasai persoalan agar bisa memajukan diri ke arah yang jauh lebih baik. Empati bukanlah pengasuh yang membantu seseorang terhanyut dalam perasaannya. Mestinya ia menjadi sebuah pelajaran berharga untuk diri sendiri untuk meluaskan wawasan terhadap keragaman dunia dan sifat-sifat manusia. Tidak seperti dipahami oleh Martha Nussbaum yang berpikir bahwa empati atau welas asih bisa menjadi sebuah terapi kehidupan, saya ingin mengajukan sebuah pemikiran sederhana: bahwa semua hal yang bisa memajukan manusia terletak bukan di perasaan, tapi di akal yang bisa membongkar kebuhulan situasi untuk sebuah jalan yang lebih mantap. Semangat dan perjuangan berasal dari sebuah perspektif pikiran yang mendorong seseorang untuk berorientasi ke sebuah arah di wawasan yang semakin membuka jalan ke depan.

Kritik mengacu pada debat dalam sebuah persilangan pemikiran. Di situ, baik sang pengkritik dan sang pembela diri memperoleh perspektif baru atau sebuah dimensi di luar diri. Di situ terlihatnya sebuah pandangan yang berguna untuk masing-masing mempertimbangkan. Kritikan bisa ditolak atau diterima, tapi dengan sebuah alasan atau landasan yang kuat sebagai argumentasinya.

Aleteia, keterbukaan dalam kebenaran, dan parrhesia, berani berbicara sebenarnya, adalah dua acuan yang dibutuhkan saat ini. Di manapun kita berada, dengan siapapun kita berhubungan atau bergaul, di situlah kita bisa menegakkan pilar-pilar kebersamaan yang saling membantu bahu-membahu untuk membangun sebuah komunitas yang tidak lagi mempersoalkan keuntungan secara individu atau keunggulan bagi siapa yang memicu persaingan tapi menciptakan sebuah arena kehidupan yang memungkinkan setiap individu bergerak dengan tempo dan energi yang berbeda ke arah sebuah dunia yang lebih baik untuk semua.

Richard Oh, sastrawan dan sutradara. Bersama Takeshi Ichiki merintis Kusala Sastra Khatulistiwa.

Cerpen

Penerbangan Mawar

Cerpen Kiki Sulistyo

Pesawat ini akan jatuh. Semalam pilot -setengah terpaksa- ikut pesta minum-minum bersama kawan-kawannya. Ia tidak fit di penerbangan ini, lalu panik dan tak bisa mengendalikan pesawat. Aku akan mati, hancur bersama tubuh pesawat yang jatuh ke laut. Aku bayangkan saat-saat terakhir itu. Siaran berita menyiarkan kecelakaan tersebut; mereka suka dengan berita-berita semacam itu.

Mereka akan mewawancara istriku. Dengan terbata-bata dan mata merah-basah istriku menyampaikan perasaannya, sesekali ia tak sanggup mengucapkan kata-kata, menangis tersedu-sedu. Sebelumnya, reporter itu meminta istriku menggendong anak kami; bocah dua tahun yang belum tahu apa-apa. Anak itu ikut menangis, bukan karena mengerti, tapi karena melihat ibunya menangis. Anehnya aku bisa membayangkan wawancara itu sementara di sisi lain aku membayangkan tubuhku telah hancur dan ruhku mungkin telah terisap lubang hitam yang membuat Stephen Hawking terkenal.

Pramugari, sesaat sebelum memperagakan cara menggunakan alat-alat keselamatan, menyampaikan padaku bahwa lantaran aku duduk dekat jendela darurat, aku ikut bertanggungjawab menyelamatkan penumpang lain jika terjadi situasi darurat. Andai seseorang mengatakan padaku kalimat “bila terjadi situasi darurat” aku akan langsung merasa bahwa situasi darurat pasti akan terjadi. Aku melihat jendela darurat itu dan merabanya, menduga-duga sanggupkah aku membukanya nanti. Pramugari menatapku, sekilas aku merasa pandangannya mengejek, seakan-akan mau bilang, “Tidak akan terjadi apa-apa, bodoh. Ini cuma formalitas.”

Seorang perempuan duduk di sebelahku dan di sebelahnya lagi duduk pasangannya; seorang laki-laki kurus berambut kribo. Mereka tampak acuh dan tak ambil pusing. Aku melirik, ada tato mawar di leher perempuan itu. Mawar itu mekar dan berwarna biru.

Kembali aku bayangkan pesawat ini jatuh ke laut, tapi karena cuaca cerah, aku mengubah penyebabnya; bukan lagi karena pilot mabuk, melainkan seseorang telah membajak sistem perangkatnya. Navigasi jadi kacau dan pilot kebingungan sebelum akhirnya gagal menyelamatkan pesawat. Apakah hal seperti itu mungkin terjadi? Entahlah. Aku ingin bertanya pada perempuan di sebelahku, tapi kukira itu akan terdengar konyol.

Perempuan itu mengeluarkan ponselnya. Memasang headset dan memejamkan mata, pasangannya melakukan hal yang sama. Awak pesawat menyampaikan saat lepas landas sudah tiba, dan bersiap terbang. Ada peringatan untuk mematikan semua barang elektronik. Tapi perempuan di sebelahku serta pasangannya tampak tidak peduli.

Terdengar suara gemuruh demikian keras, lalu goncangan. Ketika pesawat mulai mengudara, kurasakan seperti ada batang-batang udara memasuki telingaku. Aku tersentak seolah akan tenggelam. Biasanya setelah menelan ludah perasaan itu akan hilang, tapi kali ini tidak. Batang-batang udara terasa semakin padat menggumpal di telingaku. Untuk beberapa lama aku benar-benar merasa tenggelam.

Bobot tubuhku seakan melompat keluar, memantul-mantul di dinding pesawat. Aku membuka mata dan merasakan keheningan yang misterius. Perempuan di sebelahku masih memejamkan mata, begitu juga pasangannya. Keduanya seperti tertidur. Dan aku perhatikan semua penumpang pesawat juga tertidur. Tanda sabuk pengaman sudah dimatikan, aku berdiri dan memperhatikan lebih saksama. Aku lihat para pramugari juga tertidur tapi dalam posisi berdiri.

Tiba-tiba radio pesawat berbunyi, “Ground control to Major Tom. Ground Control to Major Tom.” Sial. Ada apa ini? Apakah pesawat akan jatuh? Aku baru ingat kalau kalimat itu seperti lirik lagu dari penyanyi yang sudah mati. “Penumpang sekalian, ini pilot Anda, David Bowie…” Aku melihat keluar jendela, langit sangat biru, tumpukan awan membuat gumpal yang berlapis-lapis. Satu bagian awan tampak seperti tebing karang, bagian yang lain mirip patung dewa yang sedang menunjuk.

Perempuan di sebelahku menggeliat, tato mawar di lehernya bergerak-gerak seperti berusaha melepaskan diri. Sebentar kemudian tato itu terkelupas dari kulit leher si perempuan. Mawarnya melayang-layang sesaat di dalam pesawat sebelum bergerak mendekati jendela, lalu perlahan-lahan menembusnya, terapung di luar, di langit yang terang, lalu membesar, membesar dan melingkupi pemandangan. Pesawat seperti berada dalam kelopak mawar. Dari celah-celah jendela, aroma mawar itu merembes masuk bagaikan air hujan di tembok orang miskin. Dalam waktu singkat pesawat sudah dipenuhi bau mawar yang wangi tapi demikian menajam hingga terasa menyesakkan dada. Tapi seluruh penumpang dan pramugari masih tertidur, seakan tak terpengaruh. Aku mengetuk-ngetuk tempat masker oksigen, namun masker itu tidak turun-turun juga. Wangi mawar semakin mencekik bagai gas bocor. Aku meronta-ronta menyadari sebentar lagi akan habis napas. Sewaktu napasku sudah demikian sesak, aku lihat para penumpang terapung-apung bagai benda di ruang hampa udara. Pandanganku pudar, aku menggapai-gapai berusaha memegang apa saja, seakan-akan aku sedang berada dalam laut.

Aku bergerak-gerak, mencoba mencari celah untuk menghirup udara. Tapi dinding atas pesawat tak bisa ditembus. Aku nyaris kehabisan napas, kalau saja aku tak melihat sebatang tangan menjulur dari atas. Segera aku memburu tangan itu, dengan upaya yang demikian keras aku berhasil menjulurkan tanganku ke arah tangan itu. Dan begitu tersentuh tangan itu segera mencengkeram tanganku dan menariknya ke atas.

Dinding atas pesawat jebol, aku keluar dan muncul di permukaan laut. Tangan tadi rupanya milik perempuan yang duduk di sebelahku. Ia berada dalam perahu, sendirian dan basah kuyup. “Kejadiannya benar-benar gila. Aku tidak bisa memahaminya. Pilot itu, siapa namanya? dia berniat menghabisi kita. Tuhan melindungi kita. Ucapkan Amin, ayo ucapkan Amin!” Perempuan itu meracau tidak karu-karuan. “Apa kau mendengarku?” teriaknya. Sementara dari dalam laut pesawat yang kami tumpangi muncul seperti seekor paus. Tiba-tiba perempuan itu melompat ke laut dan berseru, “Sampai jumpa, jaga perahu ini, aku akan kembali, aku harus mencari kekasihku.” Lalu ia lenyap.

Laut berangsur-angsur tenang. Gelombang kecil tak cukup kuat untuk menggoyangkan perahu. Aku sendirian dan tak tahu bagaimana cara mengendalikan perahu. Kubiarkan arus mengombang-ambingkannya sembari membayangkan ada satu pulau kecil di dekat sini tempat perahu ini bisa terdampar. Tiba-tiba dari dalam laut pesawat kembali muncul, kulihat perempuan tadi merangkul tubuh kekasihnya dan terlontar ke udara bagai ikan terbang. Mereka melenting jauh ke angkasa dan menghilang begitu saja. Ketika sekali lagi pesawat itu muncul, perahuku berada tepat di atasnya. Oleh desakan dari bawah perahuku terjungkal, tubuhku melayang di udara lantas jatuh menimpa air. Tamat sudah riwayatku, aku tidak akan bisa bertahan lagi, aku sungguh-sungguh akan mati. Segala ingatan tentang segala sesuatu mendesak ke dalam pikiranku seolah-olah mereka takut tak dapat bagian. Aku ingat segala tindakan buruk yang pernah kulakukan, pada saat yang sama aku juga ingat segala kebaikan yang pernah kuberikan kepada orang. Aku menimbang-nimbang, dan jika aku merasa keburukanku lebih banyak, air laut mencekikku lebih kuat bagaikan algojo, tapi bila kupikir kebaikanku lebih banyak, air laut akan mengurangi cekikannya. Situasi itu lebih menyiksa dari apapun, sebab kedua kutub pikiran ini seperti saling belit, saling banting, tak ada yang mau mengalah.

Bagaimana caranya supaya aku bisa selamat? Aku tidak pernah belajar berenang, dan di tengah-tengah samudera luas ini percuma mengharapkan ada orang datang untuk menyelamatkan.

Semuanya buyar ketika terdengar pengumuman dari awak pesawat bahwa kami sudah mendarat, aku hanya merasakan sedikit benturan ketika tadi roda pesawat menyentuh landasan pacu. Aku lega. Perempuan di sebelahku menggeliat, tato mawar di lehernya berkerut-kerut. Tapi tidak sampai terkelupas.

Setelah turun aku segera bergegas keluar bandara. Di sana sudah banyak orang berkumpul, sebagian besar menangis tersedu-sedu. Perempuan bertato mawar setengah berlari menghampiri satu kerumunan kecil. Laki-laki yang tadi duduk di sebelahnya berjalan menuju arah lain. Ternyata mereka bukan pasangan. Sirin, rekan kerjaku, kulihat di antara orang-orang. Segera ia melambaikan tangan begitu melihatku.   

“Syukurlah, Tom. Kamu sudah tiba. Kantor menelpon terus.”

“Jadi bagaimana?” tanyaku. “Kita pilih saja sekarang, yang mana menurutmu?” ucap Sirin. Aku melihat sekeliling, dalam kesedihan dan dukacita setiap orang tampak serupa. “Nah, yang itu saja,” kataku sembari menunjuk ke suatu kerumunan.

Kami segera bergerak. Sirin menyiapkan kamera, aku memegang mikrofon. “Itu putra Anda?” tanyaku pada perempuan bertato mawar di leher yang terus-menerus tersedu sembari melirik seorang bocah laki-laki yang kira-kira berusia dua tahun. Perempuan itu mengangguk. “Kami hendak mewawancarai Anda. Bisakah Anda menggendongnya?” tanyaku.

(Kekalik-Bakarti, 2018)

Kiki SulistyoMeraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).  

Buku, Resensi

Penderma Cerita, Pembawa Rasa

Oleh Setyaningsih

Derma cerita para murid SD Ta’mirul Islam Solo di kelas menulis terus berlanjut di bawah ampuan guru sekaligus prosais Karisma Fahmi. Biografi kanak tidak hanya terdokumentasi dalam nilai rapor, foto, piala, piagam, atau prestasi akademik lain. Kemenangan Terindah, Kumpulan Cerita Pilihan (2016) garapan para murid kelas 4-5 lebih duluan menyapa. Berselang setahun, buku dengan visualitas lebih manis bertema berbagi terbit dalam judul Pohon Coricta dan Ellasia (2018). Buku diterbitkan sebagai serial Islam santun bersama Program Pendampingan Masyarakat Dosen dan Fakultas Bisnis Islam (FEBI) IAIN Surakarta dan Bilik Literasi.

Buku ketiga pun tidak ingin ketinggalan manis dijuduli Beri Cerita (2019) memuat 16 cerita pendek. Di cerita pertama berjudul Kapan Bapak Pulang? Ibnaty membawa pengalaman hidup yang cukup sadistik. Kanak tidak selalu mendapat jatah kebahagiaan di dunia. Sering, hidup harus sangat susah dan keras berkaitan dengan masalah ekonomi. Kemiskinan adalah hal yang menakutkan. Seorang anak sering harus merasakan hal ini tidak hanya sebagai masalah teknis, tapi juga psikologis. Diceritakan seorang anak perempuan bernama Gendis. Bapak Gendis adalah nelayan dan ibunya mengurusi rumah tangga. Karena pendapatan bapak menurun, Gendis pun harus menanggung derita “tidak sekolah dulu”.

Bapak Gendis pun mendapat pekerjaan di kapal sebagai nahkoda. “Gendis melonjak kegirangan mendengar bapaknya mendapatkan pekerjaan. Pasti, nanti Gendhis bisa sekolah lagi! pikir Gendis. Gendis memeluk erat bapaknya. Terharu. Peristiwa yang tampak sebagai pemecahan masalah ekonomi ini justru menjadi awal petaka. Ibnaty tidak ingin ceritanya berjalan lempeng saja. Dia harus membuat alur dramatis mewarisi kekhasan cerita anak Indonesia yang para tokohnya harus mengalami penderitaan hebat atau peristiwa berair mata. “Bapakmu meninggal karena ada badai topan di pertengahan antara Laut Indonesia dan Laut Australia. Korban meninggal ada 13 orang. Salah satunya adalah bapakmu.” Ibnaty membuat judul ceritanya bernas justru di penutupan cerita saat Gendis sering bergumam sebagai bentuk ketidakterimaan, “Kapan bapak pulang?” Tidak ada pesan moral untuk menjadi sok tabah. Manusia juga boleh sedih.

Kejutan atau berujuk sebagai pembuat kejutan masih menjadi pokok cerita. Hal ini kita rasakan di beberapa cerita, seperti Kado Misterius garapan Fairuz Yumna Navira, Paket untuk Arya garapan Elnora Radea Putri, Hadiah Terakhir garapan Inayah Maunah, Sahabat Selamanya milik Rahma Khairunnisa, atau Special for Mom milik Zulfasya Redita Larasati.

Kado Misterius agak terpengaruh dari selera horor yang beberapa waktu ini cukup mendominasi tema perbukuan. Kita cukup bisa menebak bahwa kejutan sering ada dalam peristiwa ulang tahun. Kita cerap, “Kali ini kado tersebut diletakkan di dalam laciku. Kali ini kado tersebut dibungkus dengan kertas koran secara asal-asalan. Kado berisi foto dengan pigura berwarna coklat. Di dalamnya terdapat fotoku, tetapi anehnya aku tidak sendirian. Ada seorang anak kecil yang berdiri di belakangku dan melihat ke arah kamera. Anak itu terlihat seperti hantu dalam film horor. Padahal, foto itu aku simpan di laptopku.” Hiy!

Kita mungkin agak terkejut dengan cerita Misteri Pohon Beringin Tua yang digarap oleh Hanifa Nayla Ilma. Sejak judul, kita sudah bisa merasakan unsur gaib-seram. Ilma membawa pengalaman kolektif, terutama di Jawa, yang menganggap pohon beringin (selalu) memiliki penunggu. Setiap kali ada yang mendekati pohon beringin dan melongok ke rimbunan daun, orang pasti meninggal. Layla, si tokoh anak utama, menjadi pemecah mistis dengan menggunakan logika sains. Layla dan teman-teman berlagak menjadi detektif logis disokong oleh pengetahuan mutakhir, “Di bawah pohon itu banyak sekali oksigen. Paman Rion memiliki riwayat sakit asma yang akut. Ia kedinginan dan oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya terlalu banyak dan mendesak ke arah jantung.”

Zulfasya dalam cerita Special for My Mom membingkai kejutan dalam emosionalitas beribu. Diceritakan, “Rina memakai sandal jepitnya dan memandangi satu-satunya sepatu ibu yang diberikan oleh Bu Hajah Achmad sudah kumal dan usang. Jadi tak jarang ibu pergi kondangan dengan memakai kaos kaki dan sandal jepit.” Sepatu bekas dan sandal jepit adalah citra kesederhanaan yang lebih dekat pada kemiskinan. Rina pun memiliki impian kecil: membelikan sepatu buat ibu. Berprestasi, bekerja keras dengan cara membantu ibu jualan kue, dan menabung, tiga hal ini menjadi ikhtiar kecil Rina “mengejutkan” ibu.

Namun, Rina lebih dikejutkan oleh ketidakberuntungan. Sepatu cantik yang tempo hari dilihat di toko yang begitu ingin dibelikan untuk ibu, ternyata sudah dibeli orang. Sebagai penutupan, kita mendapat suatu hal yang khas. Ibu tidak menginginkan apa-apa selain harapan bagi Rina agar tumbuh dengan salehah dan berprestasi.  Kita mengingat satu hal bahwa suatu pemberian sederhana itu tampak monumental dan berkesan karena diberikan kepada orang terkasih lewat usaha penuh kesungguhan hati. Kesungguhan yang datang dari seorang anak, selalu bisa berdampak mesra bagi batin pembaca.  

Dari kesadaran anak-anak yang menulis, anak-anak memang tidak menampik bencana dalam cerita-cerita mereka. Kehilangan, kesedihan, ketidakberuntungan, kemiskinan, dan bahkan kematian adalah hal biasa. Kita memang sempat menemukan kecenderungan tiba-tiba tokoh meninggal, kecelakaan menimpa tokoh, atau sakit parah mendera. Hal-hal ini sepertinya masih dianggap sebagai peristiwa kehilangan yang hebat.

Nyaris tanpa beban konflik dan bersahaja, hadir di cerita Hari Makanan Indonesia garapan Abad Doa Abjad. Cerita ini tidak membawa unsur keseraman atau kesedihan, tapi kegembiraan yang cukup. Begini, “Pasar anak pun dimulai. Anak-anak berlari keluar kelas. Mereka telah dibagi kelompok di kelas. Mereka boleh membeli bermacam-macam makanan dari Indonesia. Lalu mencatatnya di kertas yang sudah disediakan. Aku dan kelompokku pergi berkeliling mencari makanan yang kelompokku inginkan.” Tidak ada dramatisasi atau keinginan meluapkan narasi. Cerita ini lebih berkesan diramu dari pengalaman dan pengamatan.

Kita berbahagia atas derma anak-anak atas buku ini. Aneka rasa dan peristiwa terdengar pas diracik dalam judul Beri Cerita. Anak-anak menulis bukan sebagai pengkhotbah moral yang serius. Pesan terselubung pasti ada, tapi kita cenderung tidak diajak repot mencari-cari atau bergegas meneladan.

Setyaningsih, Esais. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Cerpen

De Sese

Cerpen Pangerang P. Muda

Empat wajah di depannya berubah rona, menegang menanggang amarah, sesaat ia menyatakan penolakan, “Saya tidak bisa. Saya takut kalau ketahuan.” Padahal sebelumnya, sudut-sudut bibir keempat wajah itu terangkat, melekuk ramah.

Di atas kepala mereka, dengung AC sontak terdengar lebih kencang, akibat mulut-mulut yang mendadak terkatup kehilangan kata. Penolakannya mencengutkan keempat orang di depannya.

“Betapa bodohnya kamu.” Entah berapa menit kemudian, baru ada sahut, lepas dari mulut orang yang duduk di balik meja. “Jadi kamu tidak tahu ketakmampuanmu? Kami justru mengajakmu bermain sesuai kemampuanmu. Penampilanmu yang terakhir itu, hanya kebetulan. Kami juga sempat heran, apa yang membuatmu bermain seganas itu, serupa orang kesurupan. Dari analisa tim kami yang menyaksikan permainanmu di lapangan dan dari tilikanrekaman pertandingan, kami menyimpulkan yang bermain itu bukan kamu. Itu pasti roh salah seorang bintang sepak bola yang telah mati, yang meminjam dan merasuki ragamu. Dialah sebenarnya yang mencetak gol spektakuler itu, bukan kamu.”

Menekuk batang lehernya, menundukkan kepala, De Sese merasa sedih. Penjelasan orang itu mengaduk emosinya. Jadi, permainannya dianggap tidak meningkat? Bahkan ketika berhasil mencetak gol yang diawali liuk berlari serupa penari, ternyata hanya dianggap kemahiran bermain bola se’sosok’ roh yang sedang meminjam raganya!

Ia mengangkat kepala, mendengar cecar orang di depannya, “Kenapa pula takut kalau ketahuan? Kamu takut dipecat dari klubmu? Heh, pemecatanmu hanya menunggu  waktu. Cepat atau lambat, pelatih akan menendangmu keluar dari tim, bisa jadi serupa tendangan-tendanganmu yang juga selalu melenceng dari mulut gawang. Jadi itu tidak perlu kamu khawatirkan.”

“Selama ini, penonton sudah hapal permainanmu,” mulut orang di balik meja terus nyerocos. “Kamu digelari si Spesialis Tendangan Melenceng. Kalau tidak memelesat di atas mistar, pasti mengacir ke samping tiang gawang. Jadi mau kami, tetap saja mainkan kemampuan bermainmu yang seperti itu. Tentu tidak akan ada yang curiga, toh mainmu memang begitu. Penonton sudah tahu, kok. Dan bayaran yang kami tawarkan, lebih tinggi dari gaji yang kamu terima dari klubmu. Segampang itu.”

Pada sandaran kursi, ia rapatkan kepala. Ingatannya meluncur surut ke momen dua puluh empat jam lalu, di saat-saat ia berhasil melewati dua pemain belakang sebelum mulut gawang lawan menganga di depannya, dan kata-kata pelatihnya terngiang bagai ledakan petasan, “Sudah lima kali kamu saya pasang sebagai gelandang menyerang, dan tidak sekali pun kamu mencetak gol. Ini kesempatan terakhirmu!”

Gerak tipu yang ia peragakan menurutnya biasa saja, tapi ternyata mengecoh dan membuat seorang bek kiri tim lawannya terjatuh sendiri. Sedetik takjub, lalu merasa mendapat asupan semangat, ia terus meliuk-liuk dengan bek yang tersisa terus memepet, dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan penjaga gawang. Hampir ia tertawa. Kiper itu agak grogi, antara mau maju memotong laju geraknya atau tetap bersiap menyongsong kedatangan bolanya, dan di belakang kiper itu ia lihat gawang yang menganga mendadak berubah rupa menjadi nganga mulut pelatihnya setiap membentaknya, “Kalau kamu tidak juga berhasil mencetak gol, maka kamu saya keluarkan dari tim!”

Saat itulah, dengan mengayun kaki sekuatnya, ia merasa sedang menjejalkan buntalan ke dalam mulut pelatihnya yang sedang menganga. Bola memelesat deras, sedikit menyamping seakan mau keluar, tapi ternyata bergerak memuntir ke dalam gawang. Kiper hanya bisa melongo mengetahui jala di belakangnya bergetar diterpa deras laju bola.

Jeda hanya setarikan napas setelah bola masuk, sebelum ia melepas ledak teriakan. Langit malam di atas lapangan meraup gema lantang suaranya. Teriak itu ia ulang-ulang, sembari berlari ke arah pagar pembatas penonton. Gemuruh sorak ribuan pendukung timnya dari atas tribune menyambut gol itu.

Kecuali ia sendiri, tidak ada yang tahu kata apa yang ia teriakkan. Posisinya agak jauh, berlari meninggalkan kejaran teman-teman setim yang ingin berselebrasi. Yang ia teriakkan umpatan, makian pada pelatihnya, yang telah ia jejali nganga mulutnya dengan buntalan. “Nah, makan tuh bola!!”

Dan di dalam ruangan ini, empat orang sedang menatapnya seakan tak hendak berkedip. Salah seorang berujar, “Jadi,kami hanya meminta kamu kembali ke pola permainanmu sebelumnya. Jangan bersikap bodoh dengan menolak. Ingat, kami menawarimu uang, uang yang tidak sedikit!”

Dalam perasaan tertekan, ia teringat bisik-bisik temannya yang selalu mengingatkan adanya upaya mafia judi bola yang suka mengatur skor pertandingan, membuatnya memilih melunak. “Baiklah, saya terima tawarannya,” sahutnya, padahal ada ide lain sedang berkecamuk di dalam kepalanya.

***

Kernyit bingung mengerucutkan hidung polisi mendengar pelapor mengatakan seorang pemain bola hilang, dan menambahkan, “Dia hilang di lapangan.”

Sekitar sepuluh atau sebelas jam sebelum dilaporkan hilang, De Sese berhasil melewati dua pemain belakang dan terus meliuk-liuk sambil terus pula mengingat kata-kata orang yang menemuinya, “Betapa bodohnya kamu. Jadi kamu tidak tahu ketakmampuanmu? Kami justru mengajakmu bermain sesuai kemampuanmu. Penampilanmu yang terakhir itu, hanya kebetulan. Kami juga sempat heran, apa yang membuatmu bermain seganas itu, serupa orang kesurupan. Dari analisa tim kami yang menyaksikan permainanmu di lapangan dan dari tilikan rekaman pertandingan, kami menyimpulkan yang bermain itu bukan kamu. Itu pasti roh salah seorang bintang sepakbola yang telah mati, yang meminjam dan merasuki ragamu. Dialah sebenarnya yang mencetak gol spektakuler itu, bukan kamu.”

Gerak tipu yang ia peragakan menurutnya biasa saja, tapi ternyata mengecoh dan membuat seorang bek kiri tim lawannya terjatuh sendiri. Sedetik takjub, lalu merasa mendapat asupan semangat, ia terus meliuk-liuk dengan bek yang tersisa terus memepet, dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan penjaga gawang. Hampir ia tertawa. Kiper itu agak grogi, antara mau maju memotong laju geraknya atau tetap bersiap menyongsong kedatangan bolanya, dan di belakang kiper itu ia lihat gawang yang menganga mendadak berubah rupa menjadi nganga mulut orang yang menemuinya itu, yang nyerocos, “Kamu takut dipecat dari klubmu? Heh, pemecatanmu hanya menunggu  waktu. Cepat atau lambat, pelatih akan menendangmu keluar dari tim, bisa jadi serupa tendangan-tendanganmu yang selalu melenceng dari mulut gawang. Kamu digelari si Spesialis Tendangan Melenceng….”

Saat itulah, dengan mengayun kaki sekuatnya, ia merasa sedang menjejalkan buntalan ke dalam mulut orang yang menemuinya itu. Bola memelesat deras, sedikit menyamping seakan mau keluar, tapi ternyata bergerak memuntir ke dalam gawang. Kiper hanya bisa melongo mengetahui jala di belakangnya bergetar diterpa deras laju bola.

Jeda hanya setarikan napas setelah bola masuk, peluit panjang akhir pertandingan melengking nyaring. Ia melepas ledak teriakan. Langit malam di atas lapangan meraup gema lantang suaranya. Teriak itu ia ulang-ulang, sembari berlari ke arah pagar pembatas penonton. Gemuruh sorak ribuan pendukung timnya dari atas tribune menyambut gol itu. 

Kecuali ia sendiri, tidak ada yang tahu kata apa yang ia teriakkan. Posisinya agak jauh, berlari meninggalkan kejaran teman-teman setim yang ingin berselebrasi. Yang ia teriakkan umpatan, makian pada pada orang-orang yang menemuinya, yang ia anggap telah suapi mulutnya dengan buntalan. “Nah, makan tuh bola, penyuap!!”

Gelegak euforia nyaris meledakkan dadanya, melipat gandakan pula tenaganya. Pagar yang mengantarai tepi lapangan dengan tribune ia panjat, dan dari puncaknya ia melemparkan tubuhnya ke arah hiruk penonton. Malam itu ia bisa buktikan bahwa se’sosok’ roh bintang sepak bola tidak sedang meminjam dan merasuki raganya, gol penentu itu ia hasilkan sendiri.

Dengan mengutip sebagian kejadian di atas, si pelapor memperjelas laporannya, “Sejak itulah ia hilang. Ia hilang di tengah sorak-sorai euforia pendukung tim kami.”

Sesaat menatap keseriusan si pelapor, polisi bertanya dengan pertanyaan standar, “Siapa namanya?”

“Seto,” jawab pelapor, yang juga pelatih tim. “Sejak jadi pemain bola, ia ganti namanya menjadi De Sese. Nama ini lebih dikenal orang daripada nama aslinya.” Sesaat, pelatih itu termangu penuh sesal. Di saat mulai merasa menyukai permainan De Sese, anak asuhnya itu malah hilang.

“Jadi, kami mesti mencari seorang pemain bola bernama De Sese yang hilang; atau seakan menguap, saat dikerumuni pendukungnya,” simpul polisi, tersenyum tapi terheran-heran.

Pelapor itu tidak tahu, bahwa di antara riuh pendukung timnya malam itu, ada empat orang sedang sesak napas menanggang amarah menyaksikan gol De Sese. Keempatnya merasa sia-sia telah membayar anak itu, dan merasa dipermainkan. Keempatnya ikut membaur dalam keriuhan penonton, ikut pula melempar-menimang tubuh De Sese sebelum menarik dan membawanya pergi. ***

Pangerang P. Muda: Menulis cerpen di beberapa media. Kumpulan cerpen terbarunya yang terbit: Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi, 2019). Berdomisili di Parepare.

Buku, Resensi

Suara Pengungsi dalam Puisi

Oleh Al-Mahfud

Selain menjadi media ungkap yang ampuh menyentuh ceruk-ceruk terdalam palung hati seseorang, puisi juga sering menjadi media untuk menggambarkan keadaan orang-orang yang kesusahan. Melalui puisi, orang bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain yang sedang dilanda musibah, bencana, dan peperangan. Dari puisi, orang bisa terlempar ke suatu keadaan dan perasaaan, merenungi gejolak rasa di dalamnya, sehingga berempati dan bersimpati karenanya.

Hal tersebutlah yang dilakukan Khaled Hosseini dalam buku Sea Prayer. Di buku terbarunya ini, penulis kelahiran Kabul, Afghanistan tersebut menyuarakan nasib, kesedihan, juga harapan para pengungsi. Dihiasi ilustrasi yang begitu “hidup” dari Dan Williams, puisi-puisi Khaled mengajak kita menyaksikan, meresapi, dan merenungi nasib orang-orang yang hidup di tengah konflik, peperangan, kemudian pergi mencari suaka ke negeri orang.

Kita sering menyaksikan di media kabar tentang perang yang selalu berisi penderitaan, kerusakan, korban. Tak berhenti pada kerusakan fisik, kerugian material, dan hilangnya rasa aman. Lebih jauh, perang dan konflik dalam waktu yang lama kerap kali memaksa orang-orang pergi mengungsi, mencari tempat hidup yang lebih aman untuk sekadar ditinggali.

Namun, perjalanan mencari suaka tak pernah mudah. Kerap kali mereka dihadang banyak hal, baik orang-orang yang tak cukup ramah menerima kehadiran mereka, juga karena medan yang berbahaya. Berbagai kesusahan tersebut tergambar dalam puisi-puisi Khaled Hosseini. Ia mengaku, buku Sea Prayer mula-mula terinspirasi kisah seorang anak kecil yang menjadi bagian dari pengungsi Suriah. Anak tersebut meninggal karena tenggelam di Laut Mediterania.

Anak tersebut ialah Alan Kurdi, anak lelaki berusia tiga tahun yang menjadi bagian dari pengungsi yang mencari suaka di Eropa pada September 2015. Pada tahun tersebut, selain Alan Kurdi, ada sekitar 4.176 pengungsi lainnya yang juga tewas dan hilang di laut dalam perjalanan mencari suaka. Bertolak dari nasib yang dialami anak tersebut, Khalid seperti merasuk dalam perasaan orang-orang yang terpukul dan menanggung kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai.

Lebih spesifiknya, puisi-puisi Khaled seperti menyuarakan perasaan seorang ayah yang bercerita, mengenang, berdoa, dan berharap. Seorang ayah yang mengajak bicara anaknya yang bernama Marwan, yang begitu disayanginya, namun telah tiada. Mula-mula, kenangan masa kecil sang ayah di Suriah dimunculkan untuk menggambarkan keadaan desa yang semula damai, aman, dan tentram. Setiap pagi kami bangun dan mendengar/gemerisik pepohonan zaitun diterpa angin sepoi-sepoi/embik kambing-kambing nenekmu/ Udara yang sejuk dan matahari/tampak pucat layaknya buah kesemek/ di sebelah timur.

Akan tetapi, kedamaian tersebut mulai berubah sejak sering muncul demonstrasi, penyerangan, dan korban-korban yang berjatuhan. Awalnya, muncul demonstrasi/lalu pengepungan/langit memuntahkan bom-bom/ kelaparan/pemakaman. Di bagian ini, Dan Williams melalui goresan kanvasnya menghiasi puisi Khaled dengan ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan keadaan kota yang porak-poranda, bangunan-bangunan yang roboh, dengan kepulan asap hitam membumbung tinggi membuat lanskap muram di langit.

Khaled menulis keadaan di mana orang-orang harus bertahan hidup, bahkan terbiasa di tengah keadaan tersebut. Kau tahu kawah bom bisa dibuat menjadi kolam renang/kau belajar bahwa ibu, saudari perempuan, dan teman sekolah bisa ditemukan bersembunyi di celah-celah sempit antara beton.

Puisi-puisi di buku ini mencerminkan perasaan seorang ayah, yang bercerita kepada anaknya tentang masa kecil di daerah yang damai, juga Kota Homs yang jalan-jalannya ramai, terdapat di dalamnya masjid, gereja, serta pasar tempat orang-orang membeli makanan segar. Sebelum kemudian kota tersebut berubah menjadi daerah mencekam karena konflik dan perang. Keadaan kota yang aman dan damai di awal yang digambarkan membuat kita semakin bisa merasakan betapa sedihnya orang-orang di dalamnya, ketika kemudian semua itu sirna dan berubah menjadi tempat yang mencekam dan hampa.

Puisi-puisi beranjak menggambarkan saat-saat ketika orang-orang di kota tersebut harus pergi mengungsi. Menuju tepi laut, berkumpul, untuk kemudian memulai perjalanan jauh berlayar membelah lautan penuh bahaya. Menggambarkan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan saat para pengungsi sampai di tepi lautan, Khaled masih mengungkapkan dan menyuarakan perasaan seorang ayah yang memikirkan bagaimana nasib anaknya, Marwan, saat bersama ibunya, saat mereka ada di antara pengungsi lainnya.

Ada keinginan untuk bisa menenangkan, namun tetap dalam kekhawatiran. Bahwa anaknya sedang berada di tengah lautan. Lautan yang dalam, bergelombang, bahkan berbahaya. Kukatakan kepadamu/Genggam erat tanganku/Tidak akan ada hal buruk yang terjadi/ Tapi itu semua hanyalah kata-kata/Tipu daya seorang ayah/Tapi tipu daya itu membunuhku/membunuh kepercayaanmu kepadaku/Karena yang dapat kupikirkan malam ini/hanyalah begitu dalamnya lautan/dan betapa luas/serta tanpa ampun/Betapa aku tidak berdaya melindungimu dari lautan itu.

Ilustrasi menyuguhkan potret kerumunan pengungsi yang berjalan berbondong-bondong. Dan Williams menggoreskan kanvas, garis demi garis memberi kita penampakan sebuah kapal dengan muatan penuh pengungsi. Sebuah kapal tak begitu besar yang terombang-ambing di lautan bergelombang. Ketika kapal sudah meninggalkan tepi pantai dan mengarungi lautan, yang bisa dilakukan hanyalah pasrah dalam harap dan doa. Karena kau, kau adalah muatan berharga, Marwan/muatan paling berharga dari semua muatan yang pernah ada/Aku berdoa agar lautan mengetahui ini/Insya Allah. 

Buku puisi Sea Prayer menjadi cara Khaled memberi penghormatan dan kepedulian terhadap nasib para pengungsi. Penulis yang karya-karyanya terjual puluhan juta eksemplar di seluruh dunia tersebut juga seorang Duta Persahabatan bagi UNHCR, serta pendiri Yayasan Khaled Hosseini. Sedangkan Dan Williams merupakan seorang seniman dari London yang ilustrasi-ilustrasinya telah banyak menghiasi berbagai media ternama di dunia. Buku ini menjadi dedikasi mereka berdua untuk para pengungsi. Sebagian royalti hasil penjualan buku ini disumbangkan ke UNHCR dan yayasan Khaled untuk membantu meringankan beban para pengungsi di seluruh dunia.

Paduan puisi Khaled dan ilustrasi Dan Williams memberi gambaran nasib pengungsi dalam benak siapa pun yang membacanya. Rasa sedih, cemas, khawatir, gelisah, dan penuh harap, menjadi bentuk-bentuk emosi yang dihantarkan lewat puisi dan dirasakan siapa pun dari belahan dunia mana pun. Buku puisi ini mengabarkan nasib pengungsi ke segala penjuru bumi. Menggugah emosi, menumbuhkan simpati.

*Al-Mahfud, penikmat buku, dari Pati. Menulis ulasan buku di berbagai media massa, lokal maupun nasional.

Cerpen

Satu Menit di Neraka

Cerpen Daruz Armedian

Bandu mati suri dan ketika hidup kembali, ia menceritakan pengalamannya satu menit berada di neraka. Orang-orang setempat tidak ada yang percaya, meskipun kemudian tetap menyimak ceritanya.

Orang-orang setempat yang tidak percaya mengenai pengalaman Bandu sewaktu mati tentu saja bukan tanpa alasan. Banyak orang mati suri dan ketika hidup kembali, mereka tidak mengerti apa-apa. Mereka dibuat lupa oleh pencipta semesta ini. Pengetahuan mereka dibuat kembali dari nol lagi.

Orang-orang setempat yang penasaran cerita Bandu tentang satu menitnya di neraka juga bukan tanpa alasan. Siapa yang tidak rindu kebohongan paling asyik di tengah-tengah banjirnya kebohongan yang buruk di dunia maya? Tentu saja penasaran dengan cerita Bandu menjadi pilihan terbaik. Bandu toh memang tukang cerita yang baik. Bandu toh juga bersungguh-sungguh ingin memberikan pengalamannya.  

“Satu menit di neraka ternyata menyedihkan. Kau akan tahu bagaimana malaikat yang digambarkan terbuat dari cahaya itu menjadi begitu bengis. Persis iblis. Mereka tidak peduli ada makhluk-makhluk Tuhan paling mulia tersiksa di neraka. Malaikat itu terus membodami mereka, sampai hancur, sampai tulang-tulangnya menjadi bubur.”

Orang-orang menyimak dengan saksama. Saleho, pemuda yang kebetulan masa kecilnya sering mengoleksi buku kecil Siksa Neraka, melongo sampai pada titik terlebar. Mulutnya seperti ingin memangsa lebih banyak udara.

“Satu menit di neraka, kau akan tahu bagaimana rasanya tulang punggung meleleh, otak mendidih, dan daging matang.”

“Gimana Abang bisa tahu itu sedangkan sekarang Abang baik-baik saja? Abang masih bisa bercerita. Abang masih bernapas seperti biasa.” Celetuk Ahmad Sultan Syafi’i, mahasiswa fakultas dakwah.

“Tunggu dulu, Anak Muda. Masalah ini tidak segampang yang ada di pikiranmu.”

“Terus gimana, Bang?”

“Karena cuma satu menit, maka aku belum disiksa. Aku baru di pinggir neraka dan melihat semua kejadian-kejadian mengerikan di dalamnya.”

“Bukannya satu menit di neraka itu sudah terhitung lama?”

“Aku tidak paham soal itu. Yang jelas, aku belum disiksa. Hanya, Tuhan berencana memasukkan aku ke dalamnya lewat malaikat-malaikat yang bengis itu.”

“Tunggu dulu. Kamu jangan ngawur!” tersinggung karena malaikat dibilang bengis, Ustaz Khaliq angkat bicara, “cukupkan saja ceritamu itu.”

“Mohon maaf, Ustaz. Kalau tidak mau mendengar cerita saya, silakan Ustaz undur diri. Saya akan tetap melanjutkan cerita saya soal di neraka yang siksaannya sangat pedih.”

Ustaz Khaliq geram, alih-alih masih tetap mendengarkan cerita Bandu. Dan tepat ketika cerita itu sampai pada peristiwa yang paling mengerikan (tentu saja tidak perlu ditulis di sini), Ustaz Khaliq tergidik, lalu pergi dan tidak mau mendengarkan cerita mengenai neraka lagi. Terlalu mengerikan, bahkan walau hanya untuk dibayangkan, pikirnya. Lalu satu orang menyusul pak ustaz, lalu satu orang lagi, lalu beberapa orang, lalu semuanya pergi meninggalkan Bandu.

Bandu terbahak-bahak melihat kejadian itu. Sehingga orang-orang yang belum jauh pergi, memandangi Bandu dengan heran. Kemudian terdengar teriakan dari Bandu, “Kalau kalian takut neraka, mestinya tak perlu mengharapkan surga! Kalian menyembah Tuhan atas nama ketakutan!”

Semuanya tersentak. Tetapi, itu tentu bukan hanya karena perkataan Bandu, tapi juga karena tepat pada saat mengucapkan itu, Bandu terbang. Semakin meninggi dan meninggi dan akhirnya tak kelihatan lagi.[]


Daruz Armedian Lahir di Tuban dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. Mendapatkan penghargaan cerpen terbaik tingkat remaja di DIY dari Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2016 dan 2017.

Cerpen

Subali

Cerpen Adam Yudhistira

Malam itu adalah malam ke sekian Sudra pulang dengan lebam di pelipis, gaun malam murahannya robek di bagian bahu, bekas cakaran memanjang di leher. Subali tak bertanya apa pun. Perempuan itu juga tak banyak berkata-kata. Ia hanya meletakkan sebungkus nasi goreng di atas meja, lalu mengganti gaun malamnya dengan daster kembang-kembang. Setelah itu, ia meringkuk, memeluk tubuh Melati sambil menangis.

Malam esoknya, Sudra kembali berdandan rapi. Bibirnya dipoles gincu merah menyala. Sebuah tas tangan mungil tergantung di lengan kirinya. Subali tahu isinya; wadah bedak, sepotong pensil alis, dan sepotong lipstik murahan. Itu semua peralatan Sudra bekerja. Sesaat sebelum pergi, perempuan itu selalu berpesan; tolong jaga Melati.

“Kita akan menyudahi penderitaannya,” bisik Subali seraya mengecup bilah belati di tangannya. Hawa hangat mengalir dari mulutnya, menciptakan embun di permukaan belati yang berkilauan.

Subali adalah lelaki yang terbiasa hidup di bawah sumpah serapah. Dari pelosok kumuh metropolitan, biang iblis membesarkannya. Tangannya berlumur dosa-dosa. Subali membenci hidupnya dan melaknati masa lalu yang tak pernah bisa ia bersihkan. Ia tak pernah mengenal siapa bapaknya. Yang ia ketahui hanya satu; ibunya pelacur yang mati dibunuh pelanggannya. Perempuan malang itu dituduh telah menularkan penyakit hina.

Penderitaan membentuk jiwanya menjadi makhluk yang menyimpan kemarahan. Segala jenis kejahatan pernah ia lakukan. Desing peluru petugas bagai nada sumbang lagu dangdut yang menggema tak bermakna. Tetapi, itu dulu, sepuluh tahun yang lalu. Sebelum ia mengenal Sudra.

Ia menamai perempuan itu Sudra, sebab begitulah adanya. Rendah dan tak berharga. Kasta paling bawah yang mungkin setara dengan binatang di hutan belantara. Sudra adalah pelacur. Sudra mengingatkan Subali pada ibunya.

Bersama Sudra, ia menjajal hidup yang berbeda. Cinta mereka pun menumbuhkan satu tangkai bunga. Bunga kecil itu terlahir dari kubangan nista. Tapi benih cinta yang mereka semai, jauh dari noda ibu-bapaknya. Subali memberinya nama Melati.

“Ibunya lonte, bapaknya berandal!”

Begitulah tajamnya kata mengoyak jiwa Subali dan Sudra. Kerap tangis mengalun di bibir Sudra ketika tengah memeluk Melati yang sedang tertidur lelap. Tangis itu membakar dada Subali. Jika saja itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, tentu ceritanya akan berbeda.

Membunuh adalah hal yang paling gampang bagi Subali. Tapi ia telah bersumpah. Sisi hitam dirinya telah dikemasi, tersimpan rapi di dalam brankas besi dengan satu doa; semoga iblis itu tak pernah kembali. Subali mengupas semua dosa gelap yang menyamaki kulitnya. Hidup berdamai dengan kemiskinan. Berjuang keluar dari lingkaran setan kemelaratan.

Orang-orang bijak berkata, hidup berputar seperti roda. Kadang di bawah, kadang di atas. Tapi peribahasa itu tak berlaku untuk Subali. Sekian lama ia menunggu, tapi putaran roda itu tak kunjung bergerak ke atas.

Mungkin jika karma itu ada, Subali sedang menjalaninya. Kesulitan demi kesulitan bagai gelombang yang terus datang. Dan kesulitan itulah yang  membuat Subali tak kuasa menolak ketika Sudra ingin menempuh jalan hidupnya yang lama: menjadi pelacur.

Bibir lelaki itu tak kuasa berkata-kata. Ia terhenyak ditampar kenyataan. Rupanya keyakinan saja tak cukup untuk melawan kemiskinan. Malam itu kembali Sudra pulang membawa lebam. Subali sadar jika Sudra bukanlah perempuan suci. Namun cinta tak pernah berdusta. Setiap kali melihat bilur-bilur luka di tubuh Sudra, dadanya menyala dendam yang membara.

***

Tubuh tambun itu rebah bersimbah darah. Di lantai, sebilah belati tergeletak. Vas bunga pecah berantakan. Ada sisa darah mengering di kepingannya. Kursi, meja, semuanya tak lagi tertata. Iblis itu lahir kembali. Ia kembali pada wujudnya yang lama.

“Kau telah membunuhnya,” ucap Sudra membuyar lamunan Subali.

Subali mendengus. Hatinya tersulut cemburu saat Sudra terdengar menyesalkan perbuatannya. “Diamlah! Aku memang  telah membunuhnya, lalu kenapa?” hardiknya.

Sudra hilir mudik,  langkah kakinya bolak-balik. “Apa yang harus aku lakukan? Aku bisa masuk penjara. Aku tak mau masuk penjara. Melati masih membutuhkan kita.”

“Katakan saja pada petugas kalau para berandal pembunuhnya.” Subali menjawab santai tanpa beban. Ada kepuasan di matanya. Ia mengelap sisa-sisa darah di belatinya. Iblis terbahak, mengejek sepasang tangannya yang kembali berlumur dosa.

“Apakah mereka akan percaya?” tanya Sudra bimbang.

“Ya, mereka akan percaya,” jawab Subali.

Sudra duduk di tepi ranjang. Spreinya kusut, tempat tadi ia dan lelaki tambun itu larut bergelut.

“Kenapa kau bunuh dia? Aku rela menerima perlakuannya.”

Subali terbahak, lalu meludah. Gumpalan ludahnya mendarat telak di wajah beku lelaki yang baru saja menggeluti tubuh istrinya.

“Karena aku mencintaimu.”

“Tapi, kau tak perlu membunuhnya!” Nada suara Sudra meninggi. Ketakutan mencengkram dadanya. Ketakutan yang sesungguhnya tak perlu ia sesali jika ia sadar bahwa  wujud asli Subali bukan orang suci, apalagi nabi. Subali adalah iblis.

“Jika bukan aku yang membunuhnya, maka kaulah yang akan dibunuhnya.”

Sudra menyeringai. Seringainya menakutkan. Ia bangkit, lalu merampas belati di tangan Subali. “Aku bisa membunuhnya jika aku mau!” sentaknya sembari menikamkan belati itu ke perut lelaki tambun berkali-kali.

Subali terdiam. Lidahnya bagai tersimpul mati. Ia melihat iblis menyeringai di atas kepala Sudra.

Sudra menghentikan gerakannya, lalu menangis. “Lelaki inilah yang membelikan susu anak kita. Lelaki ini bukan orang sembarangan.”

Subali terdiam cukup lama. Bahkan demi cinta, ia rela membunuh Raja Dedemit sekalipun. Bukan orang sembarangan, kalimat itu tak cukup kuat untuk membuat bulu di tengkuknya berdiri.

Lelaki itu menyulut sebatang kretek, lalu berjalan mondar-mandir. Di depannya Sudra yang belum sempat berbusana. Subali menyedot rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya pelan-pelan. Matanya terpejam, menikmati sensasi anyir darah yang menyatu bersama aroma tembakau.

“Aku tahu. Lalu kenapa?” tanya Subali. Asap rokok bergulung-gulung. Aroma tembakau menindih anyir darah yang mengambang ke seluruh ruangan.

“Dia Anggota Dewan.”

Subali meludah sekali lagi. Jabatan itu membuat rasa mual muncul di kerongkongannya. Ingin rasanya ia mengisahkan tentang aksinya sepuluh tahun yang lalu. Entah sudah berapa kepala ia penggal dengan jabatan yang serupa. Apa takutnya? batin Subali. Ia bahkan merasa sebagian dari mereka memang pantas untuk dipenggal. Seperti halnya mereka yang kerap memenggal hak-hak orang jelata, berjuang atas nama kaum jelata tapi mencuri uang mereka tanpa rasa berdosa.

“Aku tidak takut.”

“Polisi akan memburumu.”

“Polisi?”

Subali membuang muka. Sudra tak pernah tahu kalau dulu ia yang memburu polisi, bukan polisi yang memburunya. Para polisi tak pernah mau cari gara-gara dengannya. Ingin ia mengisahkan jika pada suatu malam, ketika ia menggorok leher Kapten Santoso. Kepala satuan polisi yang kerap menjadi beking rumah bordil dan rumah judi itu mati dengan luka menganga di lehernya.

“Aku tidak takut.”

“Mereka pasti akan membalas dendam dan membunuhmu.”

“Aku juga tidak takut.”

“Tapi aku yang takut. Aku takut kehilanganmu!”

Sudra akhirnya menyerah. Air matanya meruah, melunturkan bedak murahan di pipinya. Bagaimanapun, memang hanya Subali yang menganggapnya perempuan mulia. Hanya Subali yang bisa menerima segala noda hitam di tubuhnya. Walaupun lelaki itu adalah jelmaan iblis, namun di matanya, Subali adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaganya.

“Aku akan baik-baik saja. Sudahlah. Sebentar lagi subuh. Aku akan pergi. Tak usah cemas. Jaga saja Melati, aku akan pulang jika situasi benar-benar aman.”

Subali dan Sudra berpelukan, seolah-olah itu pelukan terakhir yang bisa mereka lakukan.

***

Kereta malam melesat kencang. Remang membayang di bawah sinar lampu merkuri. Subali berlari pincang. Kakinya berdarah, timah panas melubanginya. Ia lari dari kejaran enam orang lelaki berambut cepak yang meneriakinya agar berhenti. Namun Subali tak peduli. Ia terus berlari dan berlari, menyeret kakinya yang tak henti mengukir jejak darah di tanah dan rerumputan.

TAAR!

Satu letupan keras terdengar. Lelaki itu tersungkur. Debu-debu berhamburan, serupa anai-anai yang dilambungkan angin kemarau. Satu peluru menerpa punggung hingga tembus ke bidang dada. Tetapi Subali belum juga mati. Ia enggan untuk mati. Lelaki itu menggeletar dan menggeliat, sambil menatap langit dini hari. Dua wajah terbayang di matanya. Wajah Sudra dan Melati. ***


Adam Yudhistira Bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di media massa cetak dan daring di Tanah Air. Saat ini mengabdikan diri untuk mengelola Taman Baca Masyarakat Palupuh untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerita pendeknya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Buku, Resensi

Kembali ke Akar Kata

Oleh: Alexander Robert Nainggolan

Puisi acapkali bersinggungan dengan kondisi keseharian penyairnya. Setidaknya ia menghimpun sejarah panjang yang melingkupi dari peristiwa itu. Maka apa yang dituliskan Kiki Sulistyo dalam kumpulan puisinya, dengan kembali ke dalam khazanah lokal (keseharian) dari lingkungan kehidupan menjadi sebuah cara unik untuk tetap menggali akar tradisi yang ada.

Jarang penyair yang mengangkat kultur kehidupan lokal yang ada. Dalam pembukanya Kiki mengisahkan perjalanan puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini, ia bercerita tentang sebuah dusun, kehidupan berpindahnya yang turut merekam segala peristiwa. Komunikasi yang kerap “mengganggunya”, namun menjadi bahan dasar dalam puisi-puisinya. Adalah bahasa Sasak sebagai komunikasi verbal yang juga turut imbas dalam gubahan puisinya. Maka insulin itu pulalah yang menjadi pemacu, saat ia merasa ada gangguan, namun lewat percakapan itu, Kiki justru menemukan sebuah instrumen yang baru. Istrumen yang kembali ia endapkan ulang, sebagai suatu nada yang bersahutan. Temali dengan imajinasinya.

Keunikan tradisi yang turut pula memengaruhi puisi-puisinya. Terasa memang bagaimana Kiki menghimpun diksi-diksi, dengan merangkum pelbagai alat, benda, tanda,  nama panggilan, tempat, ataupun aura bunyi yang terasa mistis. Ini yang menjadikan puisi-puisi dalam buku ini begitu unik.

Dan Kiki menulis: kusebut tenggara saat kau sebut pertengkaran, -antara mereka,/kelasi dan pencuri di kapal yang berlayar menuju Ampenan//…duyung itu bibi, datang pada suatu hari dengan rambut/berkepang//matanya lengkung limau muda, kulitnya lempung pulau sokotra//…hanya kelasi yang mengerti mengapa kini kota ini sekisut kuping/bayi//sebab ia tua oleh suara ombak menolak usia, ia celaka oleh upaya menjadi baka//(“Rawi Tanah Bakarti”, Hal. 12-13)

Ihwal Pasar Malam turut dicatat Kiki dalam puisi. Sebuah pasar malam, menjadi sebuah penanda permainan yang ada di dalamnya: kuda sirkus, bayi, orang kerdil, dan pembaca kartu. Ia menulis:

Perempuan itu datang membawa kartu/ di belakangnya seekor anjing buta/ menyeret sembilan tempurung, suaranya berdengung/setiap ia melulung, di angkasa ruh-ruh berwarna biru/ bergerak baghai wabah/perempuan itu menyalakan pelita, api berkedip/seperti mata siluman dalam botol limun/yang berkilau-kilau/kartu-kartu di tangan perempuan itu terbuka satu per satu/gambar-gambar di dalamnya jatuh ke tanah/hidup dan tumbuh:/cacing air yang terus-menerus mengisap cahaya/wayag yang meniup bayangannya sendiri/seorang menak tanpa kepala, tangan kiri yang merayap seperti kepiting./perempuan itu menunjuk ke ladang, bintang-bintang/padam di rambut setiap orang// (“Pembaca Kartu”, hal. 26). Terasa bagaimana Kiki menjaga keutuhan diksi puisinya. Rimanya terjaga dan tertib. Ia seperti tidak menyisakan celah lain, kata-kata menjadi lebih hidup dan menggambar maknanya sendiri.

Buku ini terbagi jadi empat bagian: Rawi Tanah Bakarti, Kitab Batu, Rumah Juru Tenun, Bakar Padi di Bakarti. Di setiap bagian, puisi-puisi saling bersinggungan, sehingga menciptakan peristiwa-peristiwa yang baru. Terasa bagaimana Kiki konsisten menjaga setiap bagian-bagian puisinya agar senantiasa berhubungan antara satu dengan lainnya.

Beberapa puisi menghadirkan pengulangan kata. Kata yang diulang tersebut menciptakan landai panjang saat membacanya, namun tetap menciptakan kelindan lain. Saat kata bertemu dengan kata yang lainnya. Pengulangan kata-kata itu menciptakan harmonisasi, yang lebih mirip nada pada sebuah lagu.

Bakarti

Sebagian besar buku ini, mengambil tema tentang Bakarti. Kiki merincikan dalam pelbagai pilahan, yang sekaligus meminta hasrat untuk tetap terjaga membacanya. Membentuk untaian, meramunya dengan pelbagai mitos dan dongeng yang kerap terjadi. Ia, meskipun tidak melakukan penelitian secara khusus, namun terasa bagaimana keseriusan yang dikerjakannya. Kiki seakan terjaga untuk tetap mengamati, setiap hal—ihwal yang terjadi di Bakarti. Dengan rinci, Kiki menjabarkan setiap peristiwa, lalu memberikan sentuhan metafora yang kadang tak terduga.

Tidak hanya Bakarti, Kiki juga memotret dengan lugas tentang penantian seorang Ibu akan kepulangan anaknya. Namun ternyata ada luka kehilangan yang kemudian ditemui:

Ibu tidur di beranda. Siaran radio meresap kulitnya./Sebelum tidur ia dengar suara pesawat melintas lambat./ Ia bayangkan putranya di dalam sana, hendak pulang./ Ia bayangkan hutan-hutan sawit melengkungkan punggung/remaja/yang potret masa kecilnya buram di dinding kamar.//Tunas tomat merekah tanah, sedikit di sebelah kanan rumah./Tapi tak ada pekerjaan, cara menghabiskan usia/di bawah langit yang sama semenjak sepasang pendosa/dibuang dari surga. Juga untuk menerima/bahwa para pembuat pepatan telah berdusta. Tak ada surga./Tak ada tongkat. Dan batu-batu tak diangkat derajatnya.// Ibu tidur di beranda. Dalam tidurnya, ia saksikan perahu kayu/mengangkut penumpang gelap. Hanyut ke rawa-rawa berasap./Sirine, sorot lampu, teriakan-teriakan dalam bahasa Melayu./Ia bayangkan putranya diturunkan dari pesawat. Terbaring pucat/ dalam peti yang engsel-engselnya mulai berkarat,// (“Ibu Tidur di Beranda”, hal. 95)

Kiki telah menciptakan langkah yang baru bagi perkembangan puisi. Pelbagai kosakata baru mengerubungi puisi-puisinya. Yang ternyata menciptakan makna baru pula, ia seperti mengorek ke akar kata. Membiarkan puisi-puisinya dihuni dengan kata-kata yang jauh dari kelaziman.

Melalui buku ini, Kiki telah memberikan corak yang baru dalam dunia perpuisian kita. Ia telah menghadirkan bentuk puisi yang baru, kembali ke tradisi lokal, hal yang mulai terlupakan selama ini. Ia kembali jauh di kedalaman akar kata, bagi puisi-puisinya.

Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Saat ini bekerja di Jakarta. Tulisannya berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media cetak mauapun online. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016). Bisa dihubungi : [email protected]

Cerpen

Sejak Ishak Ditangkap

Cerpen Jeli Manalu

Kini, sesudah malam penangkapan itu, cahaya hanya garis-garis dari lubang ventilasi. Tak ada detak jam dinding sebagaimana ketakutan jantungku ketika ada yang memukul gembok tempat tinggalku. Lalu yang kuingat: derit pintu, sepasang sepatu yang masuk, nasi berisi lauk berantakan, sebotol minuman, dan air pencuci tangan. Malam itu, pada pukul dua puluh dua ada yang menelepon. Ishak belum sempat mandi dan langsung mengenakan seragamnya sehabis kembali dari pertemuan penting. Telepon berdering lagi. Isyarat tubuh Ishak sangat lain. Wajahnya kaku. Tatapan matanya menuju satu titik tapi aku yakin ia tidak sedang melihat titik itu.

Aku menuang teh tak bergula ke cangkir keramik setinggi telunjuk Ishak dengan perasaan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana menyimpulkannya, namun seluruhku seakan runtuh. Gemetaran aku mengambil nampan. Kupegang dengan tangan kiri dan segera mengepitnya. Setelahnya keningku menubruk dinding saat letusan keras seperti menombak ke ceruk dadaku dan kupikir itulah saatnya aku mati.

 Dalam keadaan kalut kupaksakan diri naik ke meja dan memegang sudut lemari agar bisa mengintip. Sosok-sosok seperti gorila mendobrak pagar, merusak bunga lalu dahan-dahan mudanya berpatahan. Lututku lemas. Jantungku memacu lebih cepat, aku segera turun meraih tangan Ishak yang dinginnya sedingin tanah malam di tepi danau, “Kutitipkan anak-anak,” kata Ishak, mencium dahi dan memeluk diriku yang juga beku, “jaga dirimu,” tutupnya. Ia kemudian berjalan tanpa pernah menoleh lagi ketika dirinya digiring ke sebuah truk berisi benda jahat yang tak kuketahui namanya.

Dari kisi jendela kutatap ia sampai yang terlihat hanya malam, hingga yang ada seperti udara dipompakan ke balon kecil hingga sesak dan balon itu adalah dadaku. Udara dalam balon itu darahku yang bergelegak panik. Lalu nyeri menjalar ke hatiku. Tolong jangan bawa suamiku. Tolong kembalikan ia padaku, ujarku.

Saat kupikirkan orang yang menganggap Ishak penghalang kariernya maka aku mulai paham tempat pengasingan itu, segera kupersiapkan diri sebaik-baiknya. Pistol di lemari khusus milik Ishak. Tinggal dor! Selesai,pikirku.Tapi itu tidak mungkin, “Tanganmu tercipta bukan untuk berperang, Sayangku. Jadi ratu dan malaikat bagi anak-anak kita, itu saja,” ujar Ishak suatu hari, sembari memetik setangkai mawar dan menyelipkannya di daun telingaku.

Karenanya kuputuskan membawa tongkat bambu. Sebilah belati. Kalung berliontin patung Kristus yang bercahaya saat bertemu gelap. Kalung itu hadiah pernikahan yang Ishak dan aku dapatkan dari Ambolas, lelaki yang kemudian benci pada suamiku. Mereka dulunya sahabat karib. Berteman sejak SD, masuk SMP dan SMA sama hingga menempuh pendidikan kemiliteran. Ambolas membantu kami di awal-awal. Meminjamkan rumahnya kutempati selama Ishak bertugas di pedalaman Sumatera. Ia bilang, “Anggap saja aku kakakmu.” Tapi karena pola pikir Ambolas dengan Ishak bertolak belakang, sejak itulah banyak hal berubah.

Menempuh perjalanan selama berjam-jam ditemani tongkat bambu, belati serta kalung berliontin patung Kristus, di tepi tebing di mana aku bertemu kepala-kepala remuk tak kudapati wajah Ishak. Apa ia berusaha melarikan diri? Apa ia rasakan sakit saat dipukuli lalu memanggil namaku dengan suara yang cuma tertahan di dalam?

Yang kulakukan saat itu, lekas-lekas meredam perasaan. Cahaya kalung berliontin patung Kristus dari leherku memperlihatkan seonggok amis berdarah-darah. Aku melepas baju seseorang itu kemudian mengenakannya di badanku. Maka kalau ada gorila atau pemuja Ambolas tak sengaja menginjakku, jika ia mengarahkan senter, aku lelaki berbaju menjijikkan yang tak menjerit bila ditendang.

Setelahnya, aku menembus kebun nanas dilanjut ladang jeruk purut di mana di tengah-tengah ladang itu ada semacam terowongan yang tidak diketahui banyak orang, seperti yang pernah diceritakan Ishak,. Di sana telingaku selalu awas. Kutahan napas tersengal-sengal karena indra penciuman ‘ular’ kupercayai tajam—tak tahu bagaimana aku memikirkan teori murahan itu. Aku tak pernah baca kisah yang membahas tentang ide semacam itu. Nyatanya, ketika aku tidak bernapas sebanyak tiga puluh tiga hitungan yang hampir membuatku mati konyol, berkat bantuan sinar liontin patung Kristus di leher, aku melihat ‘ular’ besar yang lewat namun cuek-cuek saja.

Setelah si ‘ular’ berhenti di ujung mataku, terlemparlah tubuh Ishak. Andai bisa bela diri sudah kumatikan setan-setan ini, pikirku. Aku tertawa menangis menikmati perih suamiku saat dadanya dimasuki peluru. Dan sesudah hening serta tak ada cahaya aku berlari menemui Ishak. Kudekap tubuhnya yang masih hangat. Kuciumi wajahnya. Bibir matinya kutuntun menuju keningku. Aku mengambil kedua tangannya lalu melingkarkan tangan itu ke tubuhku seolah-olah ia sendirilah yang melakukannya.

Kemudian jasad Ishak kubopong melewati sungai gelap sambil memegangi semak rumput di sekitarnya, dan hari sudah sangat siang ketika aku tiba di depan rumah. “Jo!” panggilku, keras-keras, agar pintu segera dibuka. “Sam!” teriakku lagi, sebab Jo tak kunjung menyahut tetapi ada suara di dalam sana. Elis, putri manisku berumur lima tahun itu mungkin berlama-lama di kamar mandi. Kubayangkan ia menekan odol stroberi banyak-banyak. Menggosok gigi sambil bercermin karena mamanya yang cerewet tidak ada. Mungkin ia tumpahkan sabun cair, masukkan sampo dalam ember penuh air. Ia acak-acak air itu, lalu menangkap gelembung-gelembungnya.

Ketika tubuh Ishak kusandarkan ke pintu dan pintu langsung terbuka, aku tak menyangka dengan rumah yang amat berantakan. Buku-buku berserakan. Lukisan-lukisan kesayangan Ishak pecah. Perabotan berhamburan. Di TV kulihat wajah Ambolas dan para pemujanya: ingin kukunyah rasanya orang-orang itu.

“Jo! Sam!”

Replika senapan menggeletak di kasur. Di lantai ada ceceran saos tomat mengering yang anyir. Aku turun lagi dan lekas-lekas matikan TV sebab telingaku menangkap tangisan kecil dari arah kamar mandi.

Kudobrak pintu itu. Ember besar bertutup goyang. Dari sana Elis muncul, dan dalam keadaan gemetar memeluk perutku. Pakaiannya basah. Rambutnya basah. Muka penuh sabun. Mata bengkak memerah. Aku tak tahan melihat air mata bercampur ingus meleleh ke bajunya, aku menciumi anak gadisku itu.

“Abang …,” suara Elis bergetar.

“Kenapa Abang?”

“Abang dipu-kul, di sa-na,” ia menunjuk gudang dengan suara patah-patah.

Jo dan Sam kutemukan meringkuk dalam got. Cairan merah menetes-netes dari kulit keduanya, mungkin terkoyak sesuatu saat lari untuk menyembunyi.

“Apakah sangat sakit, Nak?”

“Apa Mama masih hidup?”

Aku mengangguk. Ketiga anakku merangkulku dan mendekatkan masing-masing telinga mereka ke dadaku.

“Tapi papa kita sudah tak ada,” ujarku.

“Bila aku meniupkan udara ke mulut Papa, apa Papa akan bangun, Ma?” aku tertegun melihat pipi Elis yang membesar lalu berkali-kali mengembuskan udara ke mulut Ishak, beristirahat sebentar, mengulanginya lagi, dan saat itu kami semua menangis tersedu-sedu.

Pada hari yang sama Ambolas diangkat jadi gubernur. Kubawa jasad Ishak ke hadapannya. Para wartawan merekamnya. Orang-orang mungkin mengabadikannya dalam catatan sejarah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Aku kini semakin tua dan kering. Aku terpenjara hati serta tubuh. Tak pernah lagi melihat pagi, siang, malam, dan setiap waktu pekerjaanku hanya menajam-najamkan ingatan akan wajah keluargaku. Kata orang-orang itu, aku menghilangkan nyawa anak-anakku dan mesti dihukum seberat-beratnya.

Kau, apa percaya hal semacam itu? **

Riau, Maret 2016-2019


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Penikmat sastra dan menulis cerpen. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)