Esai

Kabar Bohong

Esai Alexander Robert Nainggolan

Alkisah, Nabi Yusuf dipanggil oleh Zulaikha, istri dari majikannya ke dalam kamar. Zulaikha yang terpesona akan ketampanannya bermaksud ingin bercumbu dan menginginkan dirinya. Dan ajakan dari Zulaikha itupun ditolak oleh Yusuf, bermaksud untuk keluar kamar menuju pintu, namun Zulaikha bersikeras dan menarik gamis yang dikenakannya. Gamis itupun robek di bagian belakang. Keinginan Zulaikha gagal untuk bercinta.

Celakanya, Zulaikha malah menyebarkan kabar bohong dengan menyebutkan bahwa Yusuflah yang ingin memperkosanya. Untungnya, sebagaimana kisah itu berlanjut ucapan Zulaikah– yang konon memiliki kecantikan tak terperi itu tidak serta merta ditelan mentah-mentah oleh suaminya. Ia menguji dengan penalaran yang cerdas, jika bagian depan gamis yang robek maka benarlah kabar yang disampaikan Zulaikha. Namun jika gamis bagian belakang yang robek, maka benarlah pernyataan dari Yusuf.

Kisah Nabi Yusuf sudah bertahun-tahun lampau lewat dalam peradaban manusia. Namun cerita itu setidaknya relevan untuk saat ini. Ketika begitu banyak orang yang berbicara, dengan sungguh-sungguh, terkesan penuh dengan keyakinan– namun ternyata hanya bualan semata. Segala yang didekripsikan, apa yang terjadi dalam dirinya tak lebih adalah gembar-gembor, hiperbola yang berlebihan. Nyatanya fakta berbicara.

Meskipun dengan keajaiban teknologi dan berita yang super cepat, dalam hitungan detik kita pun tak bisa mencegahnya. Kemajuan tekonologi untuk menyebarkan kabar  yang cuma berada di ujung jari manusia. Dengan hanya menekan tombol pada telepon pintar melalui media sosial, kitapun turut terkena getahnya. Bahwa apa yang diucapkan ternyata berbanding 180 derajat dari kenyataan yang terjadi.

Ada seseorang yang barangkali piawai untuk mengekspresikannya. Sehingga dari mimik atau gestur tubuhnya kita merasa terhipnotis dan mengamini bila yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Namun kebenaran adalah keselarasan dari fakta, bukan sekadar opini yang dibangun dari pendapat-pendapat. Parahnya lagi, jika ternyata opini yang diungkapkan ternyata hanya merupakan manipulasi yang bertolak belakang dengan kejadian sesungguhnya. Sebagaimana yang dijabarkan dalam sebuah teori bahwa kebenaran memerlukan konsistensi atau kecocokan. Antara fakta yang melingkupinya, sehingga dapat dicocokkan dengan segala bukti yang ada.

Dengan kecepatan arus teknologi yang melingkupi kita saat ini, kita diharapkan untuk dapat memilah setiap kabar. Kabar yang terlanjur tersebar dalam media sosial. Barangkali dengan mengujinya. Tidak dengan gegabah membagikan kabar itu di mana saja.

Demikianlah, setidaknya kita harus bisa bertindak. Menjadikan diri sendiri sebagai filter, dengan menelaah akan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan kata lain, kita harus pandai untuk berandai-andai dan menduga-duga kebenaran itu sendiri. Kecuali, dalam karya sastra– sebuah fakta yang nyata bisa menjadi kebohongan. Sebab karya sastra membutuhkan imajinasi dan metafora. Kebenaran yang disuguhkan dalam karya sastra barangkali berpijak kepada realitas. Namun ia dibalut dengan sejumlah personifikasi lain, yang tentunya berusaha mengungkapkan keindahan dengan cara yang lain.

Meskipun, jauh hari sastrawan F. Rahardi menegaskan bahwa karya sastra bukanlah kebohongan. Lebih lanjut, ia mengungkapkan: karya sastra adalah fiksi. Beda fiksi dengan  nonfiksi adalah fiksi merupakan tulisan berdasarkan imajinasi, sementara nonfiksi adalah tulisan berdasarkan data dan fakta nyata. Jadi karya sastra sebagai fiksi memang bukan sesuatu yang nyata, tetapi karya sastra juga bukan kebohongan. Sastrawan bukan seorang pembohong. Sastrawan yang baik justru selalu menyuarakan kebenaran. Ini bukan pendapat saya pribadi tetapi ada di Webster, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Encyclopedia Americana, Encyclopedia of Writing, Ensiklopedi Indonesia, dan lain-lain. Padanan kata imajinasi adalah khayalan, rekaan, angan-angan. Lawan kata imajinasi adalah kenyataan, fakta, realitas, sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi. (Harian Kompas, 19 Maret 2000)

Menurut kamus besar, bohong bermakna: tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya. Seorang yang berbohong senantiasa berusaha untuk menutupi kebenaran yang melingkupinya. Maka apa yang dikabarkannya akan berusaha untuk dicarikan penguat, ditutupi. Walaupun sebagaimana peribahasa, sepintar-pintar kita menutupi bangkai, baunya akan tercium juga.

Apa yang terjadi belakangan ini dengan fenomena kabar bohong (hoax) yang makin “menggila”, barangkali kita perlu untuk terus melakukan cek dan re-cek akan kebenaran sebuah berita. Dengan melakukan pemilahan, kita tak akan membuat dunia semakin gaduh terhadap kenyataan sebuah berita.

Meskipun kita tahu ada banyak tingkatan akan kebenaran. Kebenaran terdiri dari kebenaran indera merupakan tingkatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia, yang kedua sebagai tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio. Ketiga sebagai tingkat filosofis, yakni sebagai rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya. Dan yang terakhir adalah tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.

Dalam kamus umum bahasa indonesia yang ditulis oleh Purwadarminta ditemukan arti kebenaran, yakni:

  1. Keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya); misalnya, kebenaran berita ini masih saya sangsikan; kita harus berani membela kebenaran dan keadilan.
  2. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul-betul demikian halnya dan sebagainya); misalnya, kebenaran-kebenaran yang diajarkan oleh agama.
  3. Kejujuran; kelurusan hati; misalnya, tidak ada seorangpun sangsi akan kebaikan dan kebenaran hatimu.
  4.  Selalu izin; misal, dengan kebenaran yang dipertuan.
  5. Jalan kebetulan; misal, penjahat itu dapat dibekuk dengan secara kebenaran

Pada akhirnya untuk memilah arus informasi yang terlanjur mengembara ke dalam benak orang banyak, kita mesti bertindak seperti suami Zulaikha, mengujinya dengan berbagai paradigma atau kemungkinan-kemungkinan. Sebab kebenaran tak pernah hadir majemuk, ia tunggal meskipun kita memandangnya dari sisi mana saja. Walaupun terkadang kita akan sulit untuk membedakannya. Mana yang kabar benar atau bohong. Namun dengan tidak gegabah ketika mengkhidmati sebuah kabar, niscaya akan dapat dibedakan mana yang sungguhan atau palsu. Bukankah sebutir mutiara akan tetap bercahaya walaupun ia berada di dalam lumpur sekalipun?

Nah, sudah siapkah anda untuk berbohong kali ini?

Alexander Robert NainggolanLahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kecamatan Menteng Kota Adm. Jakarta Pusat. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media.Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila. Bukunya Rumah Malam di Mata Ibu (Kumpulan Cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (Kumpulan Puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (Kumpulan Cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (Kumpulan Puisi, Basabasi, 2016).

Buku, Resensi

Kembali ke Akar Kata

Oleh: Alexander Robert Nainggolan

Puisi acapkali bersinggungan dengan kondisi keseharian penyairnya. Setidaknya ia menghimpun sejarah panjang yang melingkupi dari peristiwa itu. Maka apa yang dituliskan Kiki Sulistyo dalam kumpulan puisinya, dengan kembali ke dalam khazanah lokal (keseharian) dari lingkungan kehidupan menjadi sebuah cara unik untuk tetap menggali akar tradisi yang ada.

Jarang penyair yang mengangkat kultur kehidupan lokal yang ada. Dalam pembukanya Kiki mengisahkan perjalanan puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini, ia bercerita tentang sebuah dusun, kehidupan berpindahnya yang turut merekam segala peristiwa. Komunikasi yang kerap “mengganggunya”, namun menjadi bahan dasar dalam puisi-puisinya. Adalah bahasa Sasak sebagai komunikasi verbal yang juga turut imbas dalam gubahan puisinya. Maka insulin itu pulalah yang menjadi pemacu, saat ia merasa ada gangguan, namun lewat percakapan itu, Kiki justru menemukan sebuah instrumen yang baru. Istrumen yang kembali ia endapkan ulang, sebagai suatu nada yang bersahutan. Temali dengan imajinasinya.

Keunikan tradisi yang turut pula memengaruhi puisi-puisinya. Terasa memang bagaimana Kiki menghimpun diksi-diksi, dengan merangkum pelbagai alat, benda, tanda,  nama panggilan, tempat, ataupun aura bunyi yang terasa mistis. Ini yang menjadikan puisi-puisi dalam buku ini begitu unik.

Dan Kiki menulis: kusebut tenggara saat kau sebut pertengkaran, -antara mereka,/kelasi dan pencuri di kapal yang berlayar menuju Ampenan//…duyung itu bibi, datang pada suatu hari dengan rambut/berkepang//matanya lengkung limau muda, kulitnya lempung pulau sokotra//…hanya kelasi yang mengerti mengapa kini kota ini sekisut kuping/bayi//sebab ia tua oleh suara ombak menolak usia, ia celaka oleh upaya menjadi baka//(“Rawi Tanah Bakarti”, Hal. 12-13)

Ihwal Pasar Malam turut dicatat Kiki dalam puisi. Sebuah pasar malam, menjadi sebuah penanda permainan yang ada di dalamnya: kuda sirkus, bayi, orang kerdil, dan pembaca kartu. Ia menulis:

Perempuan itu datang membawa kartu/ di belakangnya seekor anjing buta/ menyeret sembilan tempurung, suaranya berdengung/setiap ia melulung, di angkasa ruh-ruh berwarna biru/ bergerak baghai wabah/perempuan itu menyalakan pelita, api berkedip/seperti mata siluman dalam botol limun/yang berkilau-kilau/kartu-kartu di tangan perempuan itu terbuka satu per satu/gambar-gambar di dalamnya jatuh ke tanah/hidup dan tumbuh:/cacing air yang terus-menerus mengisap cahaya/wayag yang meniup bayangannya sendiri/seorang menak tanpa kepala, tangan kiri yang merayap seperti kepiting./perempuan itu menunjuk ke ladang, bintang-bintang/padam di rambut setiap orang// (“Pembaca Kartu”, hal. 26). Terasa bagaimana Kiki menjaga keutuhan diksi puisinya. Rimanya terjaga dan tertib. Ia seperti tidak menyisakan celah lain, kata-kata menjadi lebih hidup dan menggambar maknanya sendiri.

Buku ini terbagi jadi empat bagian: Rawi Tanah Bakarti, Kitab Batu, Rumah Juru Tenun, Bakar Padi di Bakarti. Di setiap bagian, puisi-puisi saling bersinggungan, sehingga menciptakan peristiwa-peristiwa yang baru. Terasa bagaimana Kiki konsisten menjaga setiap bagian-bagian puisinya agar senantiasa berhubungan antara satu dengan lainnya.

Beberapa puisi menghadirkan pengulangan kata. Kata yang diulang tersebut menciptakan landai panjang saat membacanya, namun tetap menciptakan kelindan lain. Saat kata bertemu dengan kata yang lainnya. Pengulangan kata-kata itu menciptakan harmonisasi, yang lebih mirip nada pada sebuah lagu.

Bakarti

Sebagian besar buku ini, mengambil tema tentang Bakarti. Kiki merincikan dalam pelbagai pilahan, yang sekaligus meminta hasrat untuk tetap terjaga membacanya. Membentuk untaian, meramunya dengan pelbagai mitos dan dongeng yang kerap terjadi. Ia, meskipun tidak melakukan penelitian secara khusus, namun terasa bagaimana keseriusan yang dikerjakannya. Kiki seakan terjaga untuk tetap mengamati, setiap hal—ihwal yang terjadi di Bakarti. Dengan rinci, Kiki menjabarkan setiap peristiwa, lalu memberikan sentuhan metafora yang kadang tak terduga.

Tidak hanya Bakarti, Kiki juga memotret dengan lugas tentang penantian seorang Ibu akan kepulangan anaknya. Namun ternyata ada luka kehilangan yang kemudian ditemui:

Ibu tidur di beranda. Siaran radio meresap kulitnya./Sebelum tidur ia dengar suara pesawat melintas lambat./ Ia bayangkan putranya di dalam sana, hendak pulang./ Ia bayangkan hutan-hutan sawit melengkungkan punggung/remaja/yang potret masa kecilnya buram di dinding kamar.//Tunas tomat merekah tanah, sedikit di sebelah kanan rumah./Tapi tak ada pekerjaan, cara menghabiskan usia/di bawah langit yang sama semenjak sepasang pendosa/dibuang dari surga. Juga untuk menerima/bahwa para pembuat pepatan telah berdusta. Tak ada surga./Tak ada tongkat. Dan batu-batu tak diangkat derajatnya.// Ibu tidur di beranda. Dalam tidurnya, ia saksikan perahu kayu/mengangkut penumpang gelap. Hanyut ke rawa-rawa berasap./Sirine, sorot lampu, teriakan-teriakan dalam bahasa Melayu./Ia bayangkan putranya diturunkan dari pesawat. Terbaring pucat/ dalam peti yang engsel-engselnya mulai berkarat,// (“Ibu Tidur di Beranda”, hal. 95)

Kiki telah menciptakan langkah yang baru bagi perkembangan puisi. Pelbagai kosakata baru mengerubungi puisi-puisinya. Yang ternyata menciptakan makna baru pula, ia seperti mengorek ke akar kata. Membiarkan puisi-puisinya dihuni dengan kata-kata yang jauh dari kelaziman.

Melalui buku ini, Kiki telah memberikan corak yang baru dalam dunia perpuisian kita. Ia telah menghadirkan bentuk puisi yang baru, kembali ke tradisi lokal, hal yang mulai terlupakan selama ini. Ia kembali jauh di kedalaman akar kata, bagi puisi-puisinya.

Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Saat ini bekerja di Jakarta. Tulisannya berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media cetak mauapun online. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016). Bisa dihubungi : [email protected]