Kini, sesudah malam penangkapan itu, cahaya
hanya garis-garis dari lubang ventilasi. Tak
ada detak jam dinding sebagaimana ketakutan jantungku ketika ada yang memukul gembok tempat tinggalku. Lalu yang kuingat: derit pintu, sepasang sepatu yang masuk, nasi berisi lauk berantakan, sebotol minuman, dan air pencuci tangan. Malam itu, pada pukul dua
puluh dua ada yang menelepon. Ishak belum sempat mandi dan langsung mengenakan
seragamnya sehabis kembali dari pertemuan penting. Telepon berdering lagi. Isyarat tubuh Ishak sangat lain. Wajahnya
kaku. Tatapan matanya menuju satu titik tapi aku yakin ia tidak sedang melihat titik
itu.

Aku
menuang teh tak bergula ke cangkir keramik setinggi telunjuk Ishak dengan
perasaan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana menyimpulkannya,
namun seluruhku seakan runtuh. Gemetaran aku mengambil nampan. Kupegang dengan tangan kiri dan segera mengepitnya.
Setelahnya keningku menubruk dinding saat letusan keras seperti menombak ke ceruk
dadaku dan kupikir itulah saatnya aku mati.

 Dalam keadaan kalut kupaksakan diri naik ke meja dan memegang sudut lemari agar bisa mengintip.
Sosok-sosok seperti gorila mendobrak pagar, merusak bunga lalu dahan-dahan mudanya
berpatahan. Lututku lemas. Jantungku memacu lebih cepat, aku segera turun
meraih tangan Ishak yang dinginnya sedingin tanah malam di tepi danau, “Kutitipkan anak-anak,” kata Ishak, mencium dahi dan memeluk diriku yang juga beku,
“jaga dirimu,” tutupnya. Ia kemudian berjalan tanpa pernah menoleh lagi ketika
dirinya digiring ke sebuah truk berisi benda jahat yang tak kuketahui namanya.

Dari
kisi jendela kutatap ia sampai
yang terlihat hanya malam, hingga yang ada seperti udara dipompakan ke balon kecil hingga sesak dan balon itu adalah dadaku. Udara
dalam balon itu darahku yang bergelegak panik. Lalu nyeri menjalar ke hatiku. Tolong
jangan bawa suamiku. Tolong kembalikan ia padaku, ujarku.

Saat
kupikirkan orang yang menganggap Ishak penghalang kariernya maka aku mulai paham
tempat pengasingan itu, segera
kupersiapkan diri sebaik-baiknya. Pistol di lemari khusus
milik Ishak. Tinggal dor! Selesai,pikirku.Tapi itu tidak mungkin, “Tanganmu
tercipta bukan untuk berperang, Sayangku. Jadi ratu dan malaikat bagi anak-anak kita, itu saja,” ujar Ishak suatu hari, sembari memetik setangkai mawar dan
menyelipkannya di daun telingaku.

Karenanya kuputuskan membawa tongkat bambu. Sebilah belati. Kalung berliontin patung Kristus yang bercahaya
saat bertemu gelap. Kalung itu hadiah
pernikahan yang Ishak dan aku dapatkan dari Ambolas, lelaki yang kemudian benci
pada suamiku. Mereka dulunya sahabat karib. Berteman sejak SD, masuk SMP dan
SMA sama hingga menempuh pendidikan kemiliteran. Ambolas membantu kami di awal-awal. Meminjamkan
rumahnya kutempati
selama Ishak
bertugas di pedalaman Sumatera. Ia bilang, “Anggap saja
aku kakakmu.” Tapi
karena pola
pikir Ambolas dengan Ishak bertolak belakang, sejak itulah banyak hal berubah.

Menempuh perjalanan selama berjam-jam ditemani tongkat
bambu, belati serta kalung berliontin patung Kristus, di
tepi tebing di mana aku bertemu kepala-kepala remuk tak kudapati wajah Ishak. Apa ia berusaha melarikan diri? Apa ia
rasakan sakit saat dipukuli lalu memanggil namaku dengan suara yang cuma tertahan di dalam?

Yang kulakukan saat itu, lekas-lekas meredam perasaan. Cahaya
kalung berliontin patung Kristus dari leherku memperlihatkan seonggok amis berdarah-darah.
Aku melepas baju seseorang itu
kemudian mengenakannya di badanku. Maka kalau ada gorila atau pemuja Ambolas tak
sengaja menginjakku, jika ia mengarahkan senter, aku lelaki berbaju menjijikkan
yang tak menjerit bila
ditendang.

Setelahnya, aku menembus kebun nanas dilanjut ladang jeruk purut di mana di tengah-tengah ladang itu ada semacam terowongan yang tidak
diketahui banyak orang, seperti yang
pernah diceritakan Ishak,. Di sana telingaku selalu awas. Kutahan napas tersengal-sengal karena indra penciuman ‘ular’ kupercayai
tajam—tak tahu bagaimana
aku memikirkan teori murahan itu. Aku tak pernah baca kisah yang membahas tentang ide semacam
itu. Nyatanya, ketika aku tidak bernapas sebanyak tiga puluh tiga hitungan yang
hampir membuatku mati konyol, berkat bantuan sinar liontin patung Kristus di leher, aku
melihat ‘ular’ besar yang lewat namun
cuek-cuek saja.

Setelah
si ‘ular’ berhenti di ujung mataku, terlemparlah tubuh Ishak. Andai bisa bela diri sudah kumatikan setan-setan
ini, pikirku. Aku tertawa menangis menikmati perih suamiku saat dadanya
dimasuki peluru. Dan sesudah hening serta tak
ada cahaya aku
berlari menemui Ishak. Kudekap tubuhnya yang masih hangat. Kuciumi wajahnya. Bibir matinya kutuntun menuju keningku.
Aku mengambil kedua tangannya lalu melingkarkan
tangan itu ke tubuhku seolah-olah ia
sendirilah yang melakukannya.

Kemudian jasad Ishak kubopong melewati sungai gelap sambil
memegangi semak rumput di sekitarnya, dan hari sudah sangat siang ketika aku tiba di depan rumah. “Jo!” panggilku, keras-keras, agar pintu segera dibuka.
“Sam!” teriakku lagi, sebab Jo tak kunjung menyahut tetapi ada suara di dalam
sana. Elis, putri manisku berumur lima tahun itu
mungkin berlama-lama di kamar mandi. Kubayangkan ia menekan odol stroberi
banyak-banyak. Menggosok gigi sambil bercermin karena mamanya yang cerewet tidak ada. Mungkin
ia tumpahkan
sabun cair, masukkan sampo dalam ember penuh air. Ia acak-acak air itu, lalu
menangkap gelembung-gelembungnya.

Ketika
tubuh Ishak kusandarkan ke pintu dan pintu langsung terbuka, aku tak menyangka dengan
rumah yang amat
berantakan. Buku-buku berserakan. Lukisan-lukisan
kesayangan Ishak
pecah. Perabotan berhamburan. Di TV kulihat wajah Ambolas dan para pemujanya: ingin kukunyah rasanya orang-orang itu.

“Jo!
Sam!”

Replika
senapan menggeletak di kasur. Di lantai ada ceceran saos tomat mengering yang anyir.
Aku turun lagi dan lekas-lekas matikan TV sebab telingaku menangkap tangisan kecil
dari arah kamar mandi.

Kudobrak
pintu itu.
Ember besar bertutup goyang. Dari sana Elis muncul, dan dalam keadaan gemetar memeluk perutku.
Pakaiannya basah. Rambutnya
basah. Muka penuh sabun. Mata bengkak memerah.
Aku tak tahan melihat air mata bercampur ingus meleleh ke bajunya, aku menciumi
anak gadisku itu.

“Abang
…,” suara Elis bergetar.

“Kenapa
Abang?”

“Abang
dipu-kul, di sa-na,” ia menunjuk gudang dengan suara patah-patah.

Jo
dan Sam kutemukan meringkuk dalam got. Cairan merah menetes-netes dari kulit
keduanya, mungkin terkoyak sesuatu saat lari untuk menyembunyi.

“Apakah
sangat sakit, Nak?”

“Apa
Mama masih hidup?”

Aku
mengangguk. Ketiga anakku merangkulku dan mendekatkan masing-masing telinga
mereka ke dadaku.

“Tapi
papa kita sudah tak ada,” ujarku.

“Bila
aku meniupkan udara ke mulut Papa, apa Papa akan bangun, Ma?” aku tertegun
melihat pipi Elis yang membesar lalu berkali-kali mengembuskan udara ke mulut
Ishak, beristirahat sebentar, mengulanginya lagi, dan saat itu kami semua menangis tersedu-sedu.

Pada hari yang sama Ambolas diangkat jadi
gubernur. Kubawa jasad
Ishak ke hadapannya. Para wartawan
merekamnya. Orang-orang mungkin mengabadikannya
dalam catatan
sejarah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Aku kini semakin tua dan kering. Aku terpenjara hati serta tubuh. Tak
pernah lagi melihat pagi, siang, malam, dan setiap waktu pekerjaanku hanya menajam-najamkan
ingatan akan wajah keluargaku.
Kata orang-orang itu, aku
menghilangkan
nyawa anak-anakku dan mesti dihukum seberat-beratnya.

Kau, apa percaya hal semacam itu?
**

Riau,
Maret 2016-2019

Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Penikmat sastra dan menulis cerpen. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)