Puisi acapkali bersinggungan dengan kondisi keseharian
penyairnya. Setidaknya ia menghimpun sejarah panjang yang melingkupi dari
peristiwa itu. Maka apa yang dituliskan Kiki Sulistyo dalam kumpulan puisinya,
dengan kembali ke dalam khazanah lokal (keseharian) dari lingkungan kehidupan
menjadi sebuah cara unik untuk tetap menggali akar tradisi yang ada.

Jarang penyair yang mengangkat kultur kehidupan lokal yang
ada. Dalam pembukanya Kiki mengisahkan perjalanan puisi-puisi yang terhimpun
dalam buku ini, ia bercerita tentang sebuah dusun, kehidupan berpindahnya yang
turut merekam segala peristiwa. Komunikasi yang kerap “mengganggunya”, namun
menjadi bahan dasar dalam puisi-puisinya. Adalah bahasa Sasak sebagai komunikasi
verbal yang juga turut imbas dalam gubahan puisinya. Maka insulin itu pulalah
yang menjadi pemacu, saat ia merasa ada gangguan, namun lewat percakapan itu,
Kiki justru menemukan sebuah instrumen yang baru. Istrumen yang kembali ia
endapkan ulang, sebagai suatu nada yang bersahutan. Temali dengan imajinasinya.

Keunikan tradisi yang turut pula memengaruhi puisi-puisinya.
Terasa memang bagaimana Kiki menghimpun diksi-diksi, dengan merangkum pelbagai
alat, benda, tanda,  nama panggilan,
tempat, ataupun aura bunyi yang terasa mistis. Ini yang menjadikan puisi-puisi
dalam buku ini begitu unik.

Dan Kiki menulis: kusebut tenggara saat kau sebut
pertengkaran, -antara mereka,/kelasi dan pencuri di kapal yang berlayar menuju
Ampenan//…duyung itu bibi, datang pada suatu hari dengan
rambut/berkepang//matanya lengkung limau muda, kulitnya lempung pulau
sokotra//…hanya kelasi yang mengerti mengapa kini kota ini sekisut
kuping/bayi//sebab ia tua oleh suara ombak menolak usia, ia celaka oleh upaya
menjadi baka//
(“Rawi Tanah Bakarti”, Hal. 12-13)

Ihwal Pasar Malam turut dicatat Kiki dalam puisi. Sebuah
pasar malam, menjadi sebuah penanda permainan yang ada di dalamnya: kuda
sirkus, bayi, orang kerdil, dan pembaca kartu. Ia menulis:

Perempuan itu datang membawa kartu/ di belakangnya seekor
anjing buta/ menyeret sembilan tempurung, suaranya berdengung/setiap ia
melulung, di angkasa ruh-ruh berwarna biru/ bergerak baghai wabah/perempuan itu
menyalakan pelita, api berkedip/seperti mata siluman dalam botol limun/yang berkilau-kilau/kartu-kartu
di tangan perempuan itu terbuka satu per satu/gambar-gambar di dalamnya jatuh
ke tanah/hidup dan tumbuh:/cacing air yang terus-menerus mengisap cahaya/wayag
yang meniup bayangannya sendiri/seorang menak tanpa kepala, tangan kiri yang
merayap seperti kepiting./perempuan itu menunjuk ke ladang,
bintang-bintang/padam di rambut setiap orang//
(“Pembaca
Kartu”, hal. 26). Terasa bagaimana Kiki menjaga keutuhan diksi puisinya.
Rimanya terjaga dan tertib. Ia seperti tidak menyisakan celah lain, kata-kata
menjadi lebih hidup dan menggambar maknanya sendiri.

Buku ini terbagi jadi empat bagian: Rawi Tanah Bakarti,
Kitab Batu, Rumah Juru Tenun, Bakar Padi di Bakarti. Di setiap bagian,
puisi-puisi saling bersinggungan, sehingga menciptakan peristiwa-peristiwa yang
baru. Terasa bagaimana Kiki konsisten menjaga setiap bagian-bagian puisinya
agar senantiasa berhubungan antara satu dengan lainnya.

Beberapa puisi menghadirkan pengulangan kata. Kata yang
diulang tersebut menciptakan landai panjang saat membacanya, namun tetap
menciptakan kelindan lain. Saat kata bertemu dengan kata yang lainnya.
Pengulangan kata-kata itu menciptakan harmonisasi, yang lebih mirip nada pada
sebuah lagu.

Bakarti

Sebagian besar buku ini, mengambil tema tentang Bakarti. Kiki
merincikan dalam pelbagai pilahan, yang sekaligus meminta hasrat untuk tetap
terjaga membacanya. Membentuk untaian, meramunya dengan pelbagai mitos dan
dongeng yang kerap terjadi. Ia, meskipun tidak melakukan penelitian secara
khusus, namun terasa bagaimana keseriusan yang dikerjakannya. Kiki seakan
terjaga untuk tetap mengamati, setiap hal—ihwal yang terjadi di Bakarti. Dengan
rinci, Kiki menjabarkan setiap peristiwa, lalu memberikan sentuhan metafora
yang kadang tak terduga.

Tidak hanya Bakarti, Kiki juga memotret dengan lugas tentang
penantian seorang Ibu akan kepulangan anaknya. Namun ternyata ada luka
kehilangan yang kemudian ditemui:

Ibu tidur di beranda. Siaran radio meresap kulitnya./Sebelum
tidur ia dengar suara pesawat melintas lambat./ Ia bayangkan putranya di dalam
sana, hendak pulang./ Ia bayangkan hutan-hutan sawit melengkungkan
punggung/remaja/yang potret masa kecilnya buram di dinding kamar.//Tunas tomat
merekah tanah, sedikit di sebelah kanan rumah./Tapi tak ada pekerjaan, cara
menghabiskan usia/di bawah langit yang sama semenjak sepasang pendosa/dibuang
dari surga. Juga untuk menerima/bahwa para pembuat pepatan telah berdusta. Tak
ada surga./Tak ada tongkat. Dan batu-batu tak diangkat derajatnya.// Ibu tidur
di beranda. Dalam tidurnya, ia saksikan perahu kayu/mengangkut penumpang gelap.
Hanyut ke rawa-rawa berasap./Sirine, sorot lampu, teriakan-teriakan dalam
bahasa Melayu./Ia bayangkan putranya diturunkan dari pesawat. Terbaring pucat/
dalam peti yang engsel-engselnya mulai berkarat,//
(“Ibu
Tidur di Beranda”, hal. 95)

Kiki telah menciptakan langkah yang baru bagi perkembangan
puisi. Pelbagai kosakata baru mengerubungi puisi-puisinya. Yang ternyata menciptakan
makna baru pula, ia seperti mengorek ke akar kata. Membiarkan puisi-puisinya
dihuni dengan kata-kata yang jauh dari kelaziman.

Melalui buku ini, Kiki telah memberikan corak yang baru dalam dunia perpuisian kita. Ia telah menghadirkan bentuk puisi yang baru, kembali ke tradisi lokal, hal yang mulai terlupakan selama ini. Ia kembali jauh di kedalaman akar kata, bagi puisi-puisinya.

Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Saat ini bekerja di Jakarta. Tulisannya berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media cetak mauapun online. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016). Bisa dihubungi : [email protected]