Malam itu adalah malam ke sekian Sudra pulang
dengan lebam di pelipis, gaun malam murahannya robek di bagian bahu, bekas
cakaran memanjang di leher. Subali tak bertanya apa pun. Perempuan itu juga tak
banyak berkata-kata. Ia hanya meletakkan sebungkus nasi goreng di atas meja,
lalu mengganti gaun malamnya dengan daster kembang-kembang. Setelah itu, ia
meringkuk, memeluk tubuh Melati sambil menangis.
Malam esoknya, Sudra kembali berdandan
rapi. Bibirnya dipoles gincu merah menyala. Sebuah tas tangan mungil tergantung
di lengan kirinya. Subali tahu isinya; wadah bedak, sepotong pensil alis, dan
sepotong lipstik murahan. Itu semua peralatan Sudra bekerja. Sesaat sebelum
pergi, perempuan itu selalu berpesan; tolong jaga Melati.
“Kita akan menyudahi penderitaannya,”
bisik Subali seraya mengecup bilah belati di tangannya. Hawa hangat mengalir
dari mulutnya, menciptakan embun di permukaan belati yang berkilauan.
Subali adalah lelaki yang terbiasa hidup di bawah sumpah serapah. Dari pelosok kumuh metropolitan,
biang iblis membesarkannya. Tangannya berlumur dosa-dosa. Subali membenci hidupnya dan melaknati masa
lalu yang tak pernah bisa ia bersihkan. Ia
tak pernah mengenal siapa bapaknya.
Yang
ia ketahui hanya satu; ibunya pelacur
yang mati dibunuh pelanggannya. Perempuan malang itu dituduh telah menularkan penyakit hina.
Penderitaan membentuk
jiwanya menjadi makhluk yang menyimpan kemarahan. Segala jenis kejahatan pernah ia lakukan. Desing peluru
petugas bagai nada sumbang lagu dangdut yang menggema tak bermakna.
Tetapi, itu dulu, sepuluh tahun yang lalu. Sebelum ia mengenal Sudra.
Ia menamai
perempuan itu Sudra, sebab
begitulah adanya. Rendah dan tak berharga. Kasta paling bawah yang mungkin
setara dengan binatang di hutan belantara. Sudra adalah pelacur. Sudra mengingatkan Subali pada ibunya.
Bersama Sudra, ia menjajal hidup yang berbeda. Cinta mereka pun menumbuhkan satu tangkai bunga. Bunga kecil itu
terlahir dari kubangan nista. Tapi benih cinta yang mereka semai, jauh dari noda ibu-bapaknya. Subali
memberinya nama Melati.
“Ibunya lonte,
bapaknya berandal!”
Begitulah
tajamnya kata mengoyak jiwa Subali
dan Sudra. Kerap tangis mengalun
di bibir Sudra ketika tengah memeluk Melati yang sedang tertidur lelap. Tangis itu membakar dada Subali. Jika saja itu terjadi sepuluh
tahun yang lalu, tentu ceritanya akan berbeda.
Membunuh adalah
hal yang
paling gampang bagi
Subali. Tapi ia telah bersumpah. Sisi hitam dirinya telah dikemasi,
tersimpan rapi
di dalam brankas besi
dengan satu doa; semoga iblis itu tak pernah kembali. Subali mengupas semua dosa gelap yang menyamaki kulitnya.
Hidup berdamai dengan kemiskinan. Berjuang keluar dari lingkaran setan
kemelaratan.
Orang-orang bijak berkata, hidup berputar seperti roda. Kadang di bawah, kadang di
atas. Tapi peribahasa
itu tak berlaku untuk Subali. Sekian lama ia menunggu, tapi putaran roda itu tak kunjung bergerak ke atas.
Mungkin jika
karma itu ada, Subali sedang menjalaninya. Kesulitan demi kesulitan bagai gelombang yang terus
datang. Dan kesulitan itulah yang
membuat Subali tak kuasa menolak ketika Sudra ingin menempuh jalan
hidupnya yang lama: menjadi pelacur.
Bibir
lelaki itu tak kuasa
berkata-kata. Ia terhenyak ditampar kenyataan. Rupanya keyakinan saja tak cukup
untuk melawan kemiskinan. Malam itu kembali Sudra pulang membawa lebam. Subali sadar
jika Sudra bukanlah
perempuan suci. Namun cinta tak pernah berdusta. Setiap kali melihat bilur-bilur luka di tubuh Sudra, dadanya
menyala dendam yang membara.
***
Tubuh tambun itu rebah bersimbah darah. Di lantai, sebilah belati tergeletak. Vas bunga pecah berantakan. Ada sisa darah mengering
di kepingannya. Kursi, meja, semuanya tak lagi tertata. Iblis itu lahir kembali. Ia kembali pada wujudnya yang lama.
“Kau telah membunuhnya,” ucap Sudra membuyar lamunan Subali.
Subali
mendengus. Hatinya tersulut cemburu saat Sudra terdengar menyesalkan
perbuatannya. “Diamlah! Aku memang telah
membunuhnya, lalu kenapa?” hardiknya.
Sudra hilir
mudik, langkah kakinya bolak-balik. “Apa
yang harus aku lakukan? Aku bisa masuk penjara. Aku tak mau masuk penjara. Melati masih membutuhkan kita.”
“Katakan saja
pada petugas kalau para berandal pembunuhnya.” Subali menjawab santai tanpa
beban. Ada kepuasan di matanya. Ia mengelap sisa-sisa darah di belatinya. Iblis terbahak, mengejek sepasang tangannya yang kembali berlumur dosa.
“Apakah mereka
akan percaya?” tanya Sudra bimbang.
“Ya, mereka akan
percaya,” jawab Subali.
Sudra duduk di
tepi ranjang. Spreinya kusut, tempat tadi ia dan lelaki tambun itu larut
bergelut.
“Kenapa kau bunuh
dia? Aku rela menerima perlakuannya.”
Subali terbahak,
lalu meludah. Gumpalan ludahnya
mendarat telak di wajah beku lelaki yang baru saja menggeluti tubuh istrinya.
“Karena
aku mencintaimu.”
“Tapi, kau tak
perlu membunuhnya!” Nada suara Sudra meninggi. Ketakutan mencengkram dadanya. Ketakutan yang sesungguhnya tak perlu ia sesali
jika ia sadar bahwa wujud asli Subali
bukan orang suci, apalagi nabi. Subali
adalah iblis.
“Jika bukan aku
yang membunuhnya, maka kaulah yang akan dibunuhnya.”
Sudra menyeringai.
Seringainya menakutkan. Ia bangkit, lalu merampas belati di tangan Subali. “Aku bisa membunuhnya jika aku mau!” sentaknya sembari menikamkan belati itu ke perut lelaki tambun berkali-kali.
Subali terdiam.
Lidahnya bagai tersimpul mati. Ia melihat iblis menyeringai di atas kepala
Sudra.
Sudra
menghentikan gerakannya, lalu menangis. “Lelaki inilah yang membelikan susu anak
kita. Lelaki ini bukan orang
sembarangan.”
Subali terdiam
cukup lama. Bahkan demi cinta, ia rela membunuh Raja Dedemit
sekalipun. Bukan orang sembarangan,
kalimat itu tak cukup kuat untuk membuat bulu di tengkuknya berdiri.
Lelaki
itu menyulut sebatang kretek,
lalu berjalan mondar-mandir.
Di depannya Sudra yang belum
sempat berbusana. Subali menyedot rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan
asapnya pelan-pelan. Matanya terpejam, menikmati sensasi anyir darah yang menyatu bersama aroma tembakau.
“Aku tahu. Lalu
kenapa?” tanya Subali.
Asap rokok bergulung-gulung. Aroma tembakau menindih anyir darah yang
mengambang ke seluruh ruangan.
“Dia Anggota
Dewan.”
Subali meludah
sekali lagi. Jabatan itu membuat rasa mual muncul di kerongkongannya. Ingin
rasanya ia mengisahkan tentang aksinya sepuluh tahun yang lalu. Entah sudah berapa kepala ia
penggal dengan jabatan yang serupa. Apa takutnya? batin Subali. Ia bahkan
merasa sebagian dari mereka memang pantas untuk dipenggal. Seperti halnya mereka yang kerap memenggal
hak-hak orang jelata, berjuang atas nama kaum jelata tapi mencuri uang mereka
tanpa rasa berdosa.
“Aku tidak
takut.”
“Polisi akan
memburumu.”
“Polisi?”
Subali membuang
muka. Sudra tak pernah tahu kalau dulu ia yang memburu polisi, bukan polisi
yang memburunya. Para polisi tak pernah mau cari gara-gara dengannya. Ingin ia
mengisahkan jika pada
suatu malam, ketika ia menggorok
leher Kapten Santoso. Kepala satuan
polisi yang kerap menjadi beking rumah bordil dan rumah judi itu mati dengan luka
menganga di lehernya.
“Aku tidak
takut.”
“Mereka pasti
akan membalas dendam dan membunuhmu.”
“Aku juga tidak
takut.”
“Tapi aku yang
takut. Aku takut kehilanganmu!”
Sudra akhirnya
menyerah. Air matanya
meruah, melunturkan bedak murahan di pipinya. Bagaimanapun, memang hanya Subali yang menganggapnya perempuan mulia. Hanya Subali yang bisa menerima segala noda hitam
di tubuhnya. Walaupun lelaki itu adalah jelmaan iblis, namun di matanya, Subali
adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaganya.
“Aku akan
baik-baik saja. Sudahlah. Sebentar lagi subuh. Aku akan pergi. Tak usah cemas. Jaga saja Melati, aku akan pulang jika situasi benar-benar aman.”
Subali dan
Sudra berpelukan, seolah-olah
itu
pelukan terakhir yang bisa mereka lakukan.
***
Kereta malam
melesat kencang. Remang membayang di bawah sinar lampu merkuri. Subali berlari
pincang. Kakinya berdarah, timah panas melubanginya. Ia lari
dari kejaran enam orang lelaki
berambut cepak yang meneriakinya agar berhenti. Namun Subali tak peduli. Ia terus berlari
dan berlari, menyeret kakinya
yang tak henti mengukir jejak darah di tanah dan rerumputan.
TAAR!
Satu letupan
keras terdengar. Lelaki
itu tersungkur. Debu-debu
berhamburan, serupa
anai-anai yang dilambungkan angin kemarau. Satu
peluru menerpa
punggung
hingga tembus ke bidang dada. Tetapi Subali belum juga mati. Ia enggan untuk mati. Lelaki itu menggeletar dan menggeliat, sambil menatap langit dini hari. Dua wajah terbayang di matanya. Wajah Sudra dan Melati. ***

Adam Yudhistira Bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di media massa cetak dan daring di Tanah Air. Saat ini mengabdikan diri untuk mengelola Taman Baca Masyarakat Palupuh untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerita pendeknya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).


Keren .. Sekali baca tak perlu lama; tak membosankan. Cinta yang membodohkan; satu sama lain saling membohongi diri masing-masing. Demi apa? Anak suci yang lahir dari rahim pelacur dan kentungan demit berandal, Subali dan Sudra.
Terimakasih untuk apresiasinya Mas Agus Sutisna. Semoga bisa menikmati cerpen pilihan ideide.id yang lainnya.