Cerpen

Tamagochi, Hantu, Burung, Sumur, Orang Bunuh Diri

Cerpen Kiki Sulistyo

Beberapa detik sebelum tubuh Ismael meluncur, ingatan di benaknya lebih dulu meluncur pada seekor burung yang meluncur cepat ke dalam rumahnya. Ismael sedang berbaring menghadap televisi. Beberapa detik sebelum melihat burung, dalam televisi dia melihat peluru-peluru kendali diluncurkan. Pada detik yang sama ingatannya meluncur pada sesosok tubuh yang meluncur dari lantai tertinggi rumah susun, menimbulkan suara gedebuk yang pada saat nyaris bersamaan teriris suara teriakan.  

Burung itu menabrak tembok di atas televisi, membuat tubuhnya nyaris meluncur turun. Tetapi sebelum mencapai lantai, ia bisa kembali mengepakkan sayap dan terbang dengan susah payah. Sambil tetap berbaring, perhatian Ismael pindah dari televisi ke burung yang berputar-putar tak menemukan arah keluar. Ismael bangkit seraya terus memperhatikan burung. Orang-orang berdatangan. Satu per satu atau bergerombol. Sebagian di antaranya menutup muka atau berpaling, meski tak beranjak dari tempatnya berdiri. Beberapa detik sebelum tubuh itu berhenti berkejat-kejat, ingatan Ismael meluncur pada telapak tangan yang meluncur cepat menghantam pipinya. Telapak itu lebih besar dari pipinya. Itu telapak tangan pamannya. Meluncur oleh suatu amarah lantaran Ismael mengajak sepupunya bermain di belakang sebuah rumah di mana terdapat sumur tak terpakai yang kata beberapa orang dihuni oleh hantu yang gemar menangkap dan menyembunyikan anak-anak.

Perhatian Ismael teralihkan sebentar ketika penyiar berita mengabarkan kematian anak-anak akibat perang. Ketika Ismael menoleh, tak ada gambar anak-anak yang mati, hanya ada kerumunan orang di tengah puing-puing bangunan. Ismael kembali berpaling ke burung yang beberapa detik sebelum dia menoleh telah hinggap-susah payah berpegangan pada besi gorden. Ismael ingin menangkap burung itu. Sebelum polisi datang dan memasang pita kuning di sekitar kejadian perkara, Ismael melihat seorang perempuan tua berlari kencang dari lantai dasar rumah susun. Perempuan itu meraung-raung, sebagian polisi berusaha menenangkannya, sebagian yang lain menghalau orang-orang yang kian banyak berkumpul. Sayang sekali Ismael sedang sendirian, kalau saja dia sedang bersama sepupunya, dia bisa menyunggi anak itu dan memintanya menangkap burung.

Setelah tamparan pamannya, Ismael jadi jarang bertemu sepupunya. Padahal keduanya sangat dekat. Ibunya meraung-raung ketika mengetahui peristiwa penamparan itu. Ismael mengikuti ibunya saat perempuan itu mendatangi saudaranya lalu langsung mencaci maki. Mereka bertengkar seperti dua ekor kucing saling meninggikan suara, sampai para tetangga berdatangan. Bibinya juga datang. Juga sepupunya. Juga kawan-kawannya. Hanya bapaknya yang tidak datang; memang sudah  lama lelaki itu menghilang entah ke mana.

Di antara kawan-kawannya ada dua orang yang kemudian berlagak seolah-olah mereka reporter televisi. Satu orang pura-pura menyorot dengan kamera –menekuk tangannya dan menjadikan ujung siku sebagai kamera- satu orang lagi pura-pura berbicara sambil mendekatkan tangan kanannya yang menggenggam ke arah mulutnya.

“Sering saya dengar mereka bertengkar. Anaknya itu ndak punya kerjaan…” begitu kata seseorang pada reporter berita yang datang belakangan, ketika mayat orang bunuh diri sudah dibawa-beberapa detik sebelum Ismael meninggalkan kawasan tempat rumah susun itu berdiri. Ismael memikirkan bagaimana cara menangkap burung itu. Kalau berhasil menangkapnya, burung itu bisa dijual untuk melunasi utang pada Marlon, kawan sepermainannya. Ismael melihat meja dan kursi, mengira-ngira apakah kalau semua benda itu disusun, akan cukup menjangkau si burung. Lalu pelan-pelan digesernya meja, suara derit kaki meja di lantai mengiris suara penyiar televisi. Ismael menatap layar kaca dan melihat penyiar televisi seperti menatap padanya. Beberapa detik setelah itu ingatannya meluncur pada tangan pamannya, menabrak pipinya hingga terasa perih. Rasa perih yang sama yang dia bayangkan menimpa orang yang terjun dari rumah susun. Beberapa detik setelah itu, dia lihat burung itu terbang dan tanpa sengaja meluncur ke pintu, menemukan jalan keluar.

Ismael termangu. Sampai dengan hari yang sudah ditentukan dia belum bisa melunasi utang. Mainan Tamagochi milik Marlon tanpa sengaja jatuh ke dalam sumur tak terpakai ketika dia meminjamnya. Itu gara-gara sepupunya sibuk memintanya membantu mengikat rambut. Marlon menangis melihat mainannya lenyap di dalam sumur yang gelap itu. Marlon mengaku tidak berani pulang sampai kemudian Ismael berjanji untuk menggantinya. Ismael tak memberitahu ibunya soal peristiwa itu. Begitu juga Marlon. Itu rahasia mereka berdua, tapi sepertinya bukan rahasia bagi sepupu Ismael. Ismael juga tak pernah memberi tahu ibu dan bapaknya kalau dia melihat sendiri orang itu terjun dari lantai teratas rumah susun.

Ketika mendengar seorang tetangga bercerita pada ibunya perihal orang yang bunuh diri itu, Ismael ingin membantah keterangan si tetangga kalau orang itu kemungkinan didorong oleh ibunya sendiri hingga jatuh. Ismael melihat bagaimana orang itu melompat. Dia juga melihat bagaimana perempuan tua itu meraung-raung menangisi kematian anaknya. Karena itu dia juga meragukan keterangan si tetangga kalau orang yang bunuh diri itu baru saja pulang dari Afghanistan. Namun beberapa detik setelah mendengar keterangan si tetangga, ingatannya meluncur dan memancar kembali sebagai lintasan-lintasan berita perang di televisi yang tak pernah bosan mengabarkan jumlah orang yang mati.

Ismael tak jadi mengejar burung itu, sebagaimana dia tak jadi membantah tetangganya. Meski beberapa detik sebelumnya timbul suatu tekad dalam dirinya untuk tak membiarkan kesempatan membayar utang lenyap begitu saja. Ismael menjelaskan semuanya pada Marlon, namun kawannya itu seperti cuma punya satu tujuan ketika di hari yang sudah ditentukan mereka kembali bertemu di belakang rumah kosong itu; Marlon hanya ingin mendapatkan mainan tamagochinya kembali. Roman muka Marlon langsung murung setelah Ismael mengatakan kalau dia tak bisa mengganti mainan itu. Marlon bahkan mulai sesenggukan, mengusap-usap mukanya dengan kaus yang dipakainya. Beberapa detik kemudian ingatan Ismael meloncat lantas meluncur balik menampar pipinya hingga terasa perih. Dia bayangkan rasa perih yang sama di pipi kawannya itu saat satu telapak tangan yang lebih besar dari pipi itu sendiri mendarat.

Saat itu, sepupunya muncul dari tepi jalan, berlari-lari kecil. Anak itu terlongo melihat Ismael. Segera Ismael menyuruh sepupunya itu pulang. Ismael takut pamannya akan mengira dialah yang mengajak bocah itu ke belakang rumah tua tempat sebuah sumur tak terpakai dihuni hantu yang gemar menangkap dan menyembunyikan anak-anak.

Tetangganya lantas melanjutkan cerita. Dia bilang orang yang bunuh diri itu sudah berubah jadi hantu. Tetangganya itu mendengar cerita dari tetangga si perempuan tua yang ditinggal mati anaknya itu, bahwa beberapa malam setelah orang itu bunuh diri, seorang tetangga lain menjerit ketakutan. Setelah para tetangga menenangkannya, orang itu bercerita bahwa dia melihat hantu keluar dari televisi. Wujud hantu itu mirip orang yang bunuh diri, tubuhnya remuk dan berkelejatan, melangkah menghampirinya. Mulut hantu itu kian lama kian lebar, seperti sebuah lubang yang hendak menelannya. Di hari yang lain, kata tetangga itu lagi, yang mendengar cerita dari tetangga lain, orang bunuh diri itu berubah jadi burung. Berputar-putar di sekitar rumah susun dan kerap tiba-tiba masuk mengganggu salah satu penghuni.

Ismael tak percaya pada cerita itu, jadi ketika seekor burung masuk ke rumahnya dan di televisi dia melihat peluru-peluru kendali diluncurkan, ingatannya meluncur pada tubuh orang bunuh diri yang meluncur dari lantai teratas rumah susun, dan bukan pada cerita orang bunuh diri yang berubah jadi hantu. Di rumah kosong itu, Ismael juga tak pernah melihat hantu, apalagi saat itu, saat di hadapannya berdiri dua orang anak; Marlon dan sepupunya.

Apa yang dia lihat adalah dua roman muka yang berubah dari sedih menjadi marah. Tatapan yang menajam dan seperti meluncurkan peluru-peluru kendali ke arahnya. Sepupunya itu berteriak, berkata kalau dia jahat. Marlon juga berteriak, berkata kalau dia jahat. Seruan yang sama dengan seruan ibunya pada pamannya, dan seruan pamannya pada ibunya, ketika mereka bertengkar setelah peristiwa penamparan itu.

Sepupunya yang bertubuh kecil itu lantas meluncur bagai seekor burung ke arahnya. Ismael tak bisa menduga apa yang akan dilakukan bocah itu. Mungkin dia akan menangis sambil memeluk Ismael sebagaimana sering dilakukannya. Mungkin dia akan menunjuk-nunjuk muka Ismael sembari marah sebagaimana yang dilakukan ayahnya pada bibinya. Beberapa detik sebelum mencapai tubuh Ismael, kaki sepupunya tersandung. Tubuh bocah itu oleng, terjengkang ke depan, menabrak tubuh Ismael hingga dia kehilangan keseimbangan. Ismael berusaha berpegangan, tapi tak ada apa-apa di depannya. Sementara di belakang, lubang sumur tak terpakai itu menganga seperti mulut hantu. Tanpa bisa dicegah lagi Ismael terjatuh ke lubang itu.***

Mataram, 23 Mei 2021


Kiki Sulistyo,meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.

Puisi

Puisi Kiki Sulistyo

Apakah yang Kau Lihat dari Seekor Lebah?

apakah yang kau lihat dari seekor lebah?

dengung sayap, sayup di kayu atap, sarang

berlapis dari malam dan getah propolis

mencari serbuk sari, nektar bunga, berhektar

daun mahkota di antara duri-duri.

apakah yang kau bayangkan dari seekor lebah?

sebatang puisi dengan putik berisi bintik sepi,

sengat rima merekat dalam irama, bila terperangkap

di jendela kaca, dengarlah upaya, mencapai cahaya,

musik dunia yang mengusik asmaradana.

2020


Burung Firdaus

tiap malam ada siul burung firdaus

dari gugus kaprikornus, seperti dengus,

padi ladang yang meninggi, melepas biji-biji

ke pusat humus, di pusar antariksa 

bila datang pagi, kau akan bernyanyi

meniru bunyi matahari, kaki-kaki akar

resap ke pusat gili, kelahiran berdengung

dalam kantung tanah, saat rampung denah

dan musim tanam dimulai 

burung firdaus turun, hitam seperti ancaman

membawa bangkai bintang, keturunanmu

menamainya iman, api yang nanti

dipakai meledakkan diri, sembari berharap

diri terlontar kembali, ke gili ini, tempat

seekor ular melingkari sebatang puisi

2020


Di Seberang Hotel

di seberang hotel, tunas tomat menempel

pada pagar rumah dinas, keping-keping

kaca masih memantulkan paras orang mati

setelah bunyi sirine dan sisa parade mengubah

kota jadi lembah api

bila nanti dari pucuknya muncul bakal biji

seseorang akan dilahirkan kembali

dengan mata buta dan lisan bagai besi karatan

tak sudi bersaksi bahwa sejarah bergerak

searah ayunan kapak pada tegak tonggak

di lobi hotel rapat akan dimulai, sebentar lagi

lonceng ekonomi berdentang dan seketika

bangunan- bangunan berdiri seperti zombie

harga-harga dan daftar belanja, surga dan pasar

terbuka, tunas tomat menggigil, seakan seorang

eksil, infantil di hadapan mulut bedil

2020


Ranjang Padi

dia sendirian, berbaring di ranjang, antara

nyala lilin dan usia tua, membayangkan kematian

serupa padi yang merunduk hendak menyentuh

bumi; tak ada lagi kelaparan di dunia ini

sebutir beras menghidupkan pucuk malam

sedang lambung anak-anak pengungsi berdengung

di langit merah wabah.

dia pikirkan benua yang jauh, kapal-kapal hantu

sepanjang perairan itu, hendak sampai pantai

para penjaga bagai dinding perbatasan

menampik kedatangan, meniup api di pendiangan

dia sendirian, berbaring di ranjang, bagai berbaring

di kolam mawar, tak ada lagi kelaparan, dia dengar suara

kanak-kanak mengepakkan sayap, membawa benih padi

terbang meninggi, ke ladang bulan, kerlipnya demikian terang

butir-butir beras di hitam marmar

2020  


Kucing Kata

seekor kucing bukan seekor kucing

sebelum dihela dari bahasa

seekor kucing hanya seekor kata

yang mengeong dalam kepala

bulunya bisa berganti-ganti;

hitam serupa malam bila perasaan

sedang muram, merah jambu seperti

rindu, bila parasmu dimerahkan

puisi itu.

sekarang si kucing sedang tertidur

dengkurnya detak jantungmu saat

bermimpi melihat si penyair menyusuri

tebing-tebing bahasa, mencarimu

yang kian basah dan bergetah

di celah-celah kata, o, gerangan

apa membuat gerahammu membuka

hingga terlepas bunyi meong itu

seolah tak sengaja ?

2020


Partitur

        : Em

setiap kali melihat telur, dia tertidur,

seluruh program diundur dan jam-jam

diulang-atur. dia terbujur bagai akan

dikubur, seekor tekukur menghambur

dari dalam sumur, membuat jalur,

seakan hendak mengukur, dibutuhkan

berapa putaran umur, sampai cangkang

itu hancur.

setiap kali tertidur, dilihatnya seekor tekukur

meluncur ke rimbun melur, sulur-sulur

cahaya terjulur dari siulnya yang luhur,

dunia lantas berdebur, nyanyi trubadur,

bunyi mesin tempur, dan keluh buruh

di jam-jam lembur, lebur dalam bunyi

mazmur, membuat limbur, seakan seluruh

partitur, terguyur hujan anggur.

2020     


Fraktal Sentrifugal

                        : bn

betapa tajam duri baiduri ini, melukai daging kata

umpama kebisuan setelah perang, berhenti untuk bertahan

lalu butir darah menitik di batang-batang perdu

angkasa memantulkan merahnya yang gemilang

noktah nebula; kabut bintang dari sisa ledakan dalam kelenjar

nama-nama diembuskan ke permukaan batu 

ular pembujuk melingkar di situ, menyaru bercak bulan

radang cahaya menghidupkan burung-burung hujan

gelombang sentrifugal yang menjauhkan kata dari makna

ucapkan ‘eureka’ ketika semua percobaan telah gagal

nanti di tempat rendah ini, segala sesuatu akan kembali baru

akan kembali kilap, berkilau di dinding-dinding kitab

2020


Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok.Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

Cerpen

Memancing Bersama Bapak

Cerpen Kiki Sulistyo

 “Ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhirmu. Setelah hari itu tidak ada apa-apa lagi.” Begitu kata Bapak ketika suatu malam kami pergi memancing.

Bapak menggunakan pancing lontar tanpa joran. Setelah memasang umpan dan berjalan ke laut, Bapak memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya sejauh-jauhnya. Lantas dia menjauh dari laut, mengikat tali pancing di sebatang tonggak kecil yang sudah ditancapkan di pasir, lalu duduk menunggu. Jika tali pancing bergetar bisa jadi ada ikan yang sedang memakan umpan. Bapak akan menarik tali untuk memeriksa, jika tali pancing semakin kuat getarannya, bisa dipastikan memang umpan sudah dimakan, saatnya menarik tali pancing untuk melihat hasil.

Kadang-kadang Bapak mengajakku. Satu-satunya tugas yang diberikan padaku hanyalah menemaninya; mendengarkan dia bicara. Sering aku tidak benar-benar paham apa maksud kata-katanya.

 “Terus kita masuk ke alam baka?” tanyaku.

“Iya, alam baka. Artinya tidak ada apa-apa.”

 “Bukankah ada malaikat di sana. Ada surga dan neraka?”

Bapak tidak langsung menjawab. Matanya diarahkan ke tali pancing, tak ada getaran di sana. Bunyi ombak yang tiada henti membuatku kadang tidak menyadari hempasan air itu memang ada, terhampar di hadapan kami.

Semenjak satu-satunya bioskop di kota kami berhenti beroperasi, Bapak tak lagi punya pekerjaan tetap. Semula Bapak bekerja sebagai pengantar rol film, kemudian dipindah ke posisi penjaga loket. Bersama kawan-kawan sebaya, hampir setiap malam aku bermain-main di teras bioskop itu. Kami senang melihat-lihat poster film, meski orang-orang dewasa kadang memarahi kami sebab dianggap mengganggu para calon penonton. Sebagai bocah kami memang berisik, tetapi kami tak pernah berniat mengganggu. Kami hanya gembira, dan kegembiraan dalam diri seorang bocah menjadi kegembiraan yang murni. Mungkin kemurnian itulah yang mengganggu orang-orang dewasa.

Bioskop Ramayana. Itulah nama bioskop di kota kami. Mulanya aku kira itu sekadar nama, mungkin nama si pemilik bioskop. Tetapi ketika kulihat di perpustakaan sekolah ada buku berjudul Ramayana, aku jadi mengerti kalau Ramayana adalah sebuah cerita tentang seorang istri raja yang diculik raksasa.

Meski tidak pernah memberikan karcis gratis padaku, aku senang melihat Bapak duduk di kursi  belakang kaca loket. Aku senang melihat dia memberikan karcis pada orang-orang. Aku bayangkan dia serupa malaikat yang memberikan karcis menuju surga pada orang-orang yang baik hatinya. Di mataku semua penonton bioskop adalah orang-orang baik yang akan masuk surga, sebab wajah mereka selalu tampak bercahaya. Sementara kami, bocah-bocah, hanya bisa berdiri di teras bioskop, melihat mereka satu per satu masuk ke dalam gedung tempat surga itu berada. Memang, sebelum lampu bertanda ‘film utama’ menyala, tirai di mulut pintu tidak akan ditutup. Dari luar kami masih bisa melihat beberapa cuplikan film yang akan diputar di masa datang. Saat-saat itu aku seperti diberi kesempatan untuk membayangkan surga, dan kelak akan tiba masa di mana aku bisa turut masuk ke dalamnya.

Tetapi, kata Bapak, surga itu tidak ada.

 “Berarti neraka juga tidak ada, Pak?” tanyaku. Aku menduga Bapak cuma bercanda, meski air mukanya kelihatan serius.

 “Menurutmu kalau surga tidak ada, apakah neraka ada?”

 “Tapi di sekolahan ada yang menjual buku siksa neraka. Orang-orang dibakar, dipotong lidahnya, ditusuk, disetrika, di..”

 “Ssst, lihat. Umpan sudah dimakan.” Bapak memotong kata-kataku. Aku lihat tali pancing bergerak-gerak. Bapak meraih tali itu dan menariknya pelan-pelan. Getarannya makin kuat, pertanda memang ada ikan yang sedang memakan umpan. Dengan sigap Bapak menarik kuat-kuat tali pancing itu, terus-menerus, seperti orang hendak menurunkan layang-layang. Aku bayangkan seekor ikan besar telah kami dapatkan; mungkin ikan pari, meski aku berharap itu ikan kerapu, ikan dengan daging yang lembut dan gurih. Aku lihat kegembiraan di wajah Bapak, kegembiraan yang murni. Aku bayangkan kegembiraan yang sama akan memancar di wajah Ibu, kalau nanti kami membawa seekor ikan besar sebagai hasil usaha.

Semenjak bioskop ditutup, Bapak dan Ibu sering bersitegang. Memang tidak pernah sampai berteriak-teriak. Tapi pernah kulihat Bapak dengan muka merah melempar gelas berisi teh panas ke tembok. Aku sempat berteriak, tetapi teriakanku tidak bisa menahan gelas untuk menghantam tembok dan pecah berkeping-keping. Saat itu Ibu menangis. Aku tidak tahu apa yang mereka permasalahkan, yang kutahu masalah itu tidak panjang. Mereka segera kembali seperti biasa, tenang dan tak banyak bicara. Sering aku berpikir ketenangan itu bisa terjadi berkat doa-doa Ibu; tidak seperti Bapak, Ibu memang rajin sembahyang. Tetapi di lain kali aku berpikir ketenangan itu terjadi karena Bapak selalu bisa menyadari kesalahannya dan tak sungkan meminta maaf.

Bioskop Ramayana terpaksa harus tutup karena tidak ada lagi orang yang mau menonton. Perlahan-lahan orang memilih membeli pemutar video yang memang baru saja masuk ke kota kami, memenuhi rak toko-toko elektronik. Bersamaan dengan itu, penyewaan maupun para pedagang video bajakan menjamur. Harganya jauh lebih murah dari harga tiket bioskop. Bahkan satu keping bisa berisi beberapa film. Aku merasa tidak ada lagi orang yang mau masuk surga bersama-sama. Mereka membangun surga mereka sendiri, di dalam rumah masing-masing.

Namun, tidak demikian dengan kami, Bapak tidak punya cukup uang untuk membeli mesin pemutar video, tidak cukup punya uang untuk membawa surga ke rumah kami. Tanpa surga, rumah kami terasa tenang, nyaris tanpa suara-suara. Berbeda dengan rumah para tetangga.  

Sejak bioskop tutup, Bapak beralih mengerjakan apa saja yang dia bisa; jadi tukang catut yang menjualkan barang orang, jadi tukang perbaiki alat-alat elektronik, membantu tukang kayu atau tukang batu, bahkan kadang-kadang membeli nomor porkas. Kami, para bocah yang beranjak remaja, tidak lagi gemar bergerombol di teras bioskop yang pelan-pelan mulai ditempati para pedagang batu akik, tembakau, atau jam tangan. Aku tak lagi menunggu Bapak selesai bertugas sembari menikmati permen Sugus dan melihat orang dewasa lalu-lalang di jalan.

“Nanti di surga kita tidak perlu mancing lagi ya, Pak. Ikan apa saja yang kita mau akan langsung tersedia.” Ternyata, bukan ikan pari atau ikan kerapu yang berhasil kami dapatkan. Ikan yang menggelepar-lepar di pasir itu berwarna keperakan dengan garis-garis hitam. Itu ikan korangan. Tapi aku tidak kecewa, seekor korangan juga enak digoreng, apalagi ditambah sayur bayam dan sambal. Air liur kutelan membayangkan santapan nanti.

Entah kenapa di saat yang sama aku juga teringat pada komik neraka yang kubeli di penjual mainan depan sekolah. Tiba-tiba aku takut Bapak akan masuk neraka karena pernah melempar gelas berisi teh ke tembok. Aku juga teringat pada buku cerita Ramayana, dan takut pada kemungkinan, bahwa pada saat melempar gelas berisi teh itu Bapak sebenarnya hendak meminta Ibu menceburkan diri ke dalam api, seperti permaisuri raja. Aku tidak mau Bapak masuk neraka, aku juga tidak mau Ibu masuk ke dalam api.

 “Sudah Bapak bilang, surga itu tidak ada,” jawab Bapak. Aku perhatikan parasnya untuk mencari jejak kemarahan. Tidak ada. Paras Bapak malah tampak bercahaya seperti ketika dia duduk di belakang kaca loket.

“Kalau surga tidak ada, kenapa Ibu rajin berdoa?” tanyaku sembari memperhatikan Bapak yang sibuk memasukkan ikan ke dalam keranjang dan menyiapkan umpan berikutnya. Bapak bilang, “Karena Ibu tidak ingin kita menderita. Ibu ingin kita hidup bahagia. Tapi kau lihat, tidak ada seorang pun yang membantu kita. Bukan karena orang-orang tidak mau, tetapi karena mereka sendiri juga tidak bahagia. Sebab orang-orang tahu, ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhir mereka.”

 “Saya tidak mengerti, Pak.”  Bapak tidak membalas ucapanku. Aku tidak tahu dari mana dia mendapat kalimat-kalimat itu. Mungkin dari film-film yang dia tonton, mungkin dari pengalaman hidupnya yang tak banyak aku tahu. Kembali dia memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya jauh-jauh ke tengah laut. Baru aku perhatikan tubuh Bapak yang pendek dan kecil seakan menyimpan kekuatan besar. Aku merasa akulah umpan itu, dilemparkan ke tengah laut dan tak tahu adakah ikan yang mau menyambut.

Bunyi ombak tak pernah sedikit pun berhenti, terus berulang-ulang, seperti mendapat siksa sebagaimana orang-orang berdosa dalam komik yang pernah kubaca. Kudongakkan kepala, menatap langit yang tak menampakkan bulan. Aku bayangkan di atas sana, di ruang lapang terbuka itu, berdiri sebuah bioskop. Lalu dengan kegembiraan yang murni, aku, Bapak, Ibu, dan semua kawan-kawanku, masuk ke dalamnya. ****

Mataram, 13 Juni 2020


Kiki Sulistyo, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.

Cerpen

Taman Dasar Kali

Cerpen Kiki Sulistyo

Apa yang dicari seorang perempuan, lepas tengah malam, berdiri di tepi jembatan, hanya memandang ke bawah, ke alir air kali yang hitam oleh limbah, ketika hampir semua lampu-lampu rumah sudah dipadamkan? Aku melihatnya. Beberapa meter saja dariku—dan semakin dekat seiring kakiku melangkah. Aku tak tahu mengapa mesti terburu-buru. Mungkin karena gelap membuat jantungku berdegup lebih kuat. Mungkin sebab sempat kulihat langit telanjang tanpa bintang, seperti pertanda hujan bakal datang. Aku seperti baru sadar, aku tak sendiri di kawasan ini. Dengan sekuat niat kutahan laju kakiku, aku tak mau maju. Bisa jadi perempuan itu sejenis hantu penunggu, atau penderita gangguan jiwa yang takkan merasa dosa bila menghilangkan nyawa.

Tapi kami sudah telanjur dekat ketika aku berhenti. Dua depa saja. Jarak segitu cukup untuk membuat dadaku tembus peluru atau terhantam batu. Perempuan itu barangkali akan melemparkan tubuhku ke kali—tentu, setelah puas mencabik seperti mencabik bantal kapas. Atau bagaimana jika ternyata dia zombie yang baru jadi? Dia pasti sangat lapar dan tak sabar menunggu mangsa dengan menyamar jadi manusia biasa.

Sebaiknya kuhapus pikiran macam itu sebelum melompat keluar dan berubah jadi kenyataan. Tak ada tanda-tanda luka di tubuhnya. Dia berdiri sebagaimana orang biasa berdiri. Punggungnya tegak, jari-jarinya yang memegang besi jembatan kelihatan halus terkena sinar lampu jalanan. Dia tak menoleh seakan tak menyadari ada aku yang berdiri bagai lilin siap meleleh. Bimbang akan terus berjalan atau menyapanya pelan-pelan, aku menghabiskan sekian menit di mana jalan terasa sempit dan besi jembatan seakan menjepit. Namun segera, bagai menghapus lamunan yang sementara, kuputuskan untuk meninggalkannya. Lagipula, aku teringat lampu kamar yang belum dinyalakan serta makanan sisa siang yang mungkin sudah dikerubung semut hitam.

Baru dua langkah menjauh, selembar suara jatuh ke gendang telingaku. Suara itu lemah, tapi dalam suasana senyap, suara yang lemah bisa terdengar bertenaga. Perempuan itu memanggil dan berkata, “Kenapa berlalu seperti itu?” Aku berhenti melangkah, dia kembali menambah. “Sini, berdirilah di dekatku. Ada sesuatu yang mesti kau lihat.” Perempuan itu menoleh padaku, aku menoleh pada perempuan itu. Aku lihat wajahnya, dan harus kukata, wajah itu sejelita bidadari yang sering kutemu dalam mimpi, dulu saat aku masih seorang bocah kecil yang suka mendengar cerita tentang surga.

 “Ya?” tanyaku berujar seolah-olah tak mendengar. “Lihatlah,” tanggapnya singkat. Aku terpaksa mendekat. Terpaksa sebab kukira tak ada guna untuk tak percaya, dan wajahnya yang jelita—o, penguasa semesta!—membuatku tak berdaya. Aku berdiri di dekatnya, memegang besi jembatan dan menoleh ke kiri untuk kembali melihat wajahnya. Aku akan rela selama-lamanya menatap wajah itu dan jika aku masuk surga nanti, di antara semua bidadari, sudah pasti kupilih bidadari ini. “Jangan melihatku. Lihat saja ke bawah, ke air kali yang hitam oleh limbah,” katanya. Aku malu, seakan-akan ia tahu apa yang terbersit di pikiranku. Maka kualihkan pandang, ke bawah jembatan, di mana air bergerak menuju laut dan suatu ketika akan terangkat ke udara sebagai uap, sebelum jatuh kembali menjadi air yang meluap-luap. “Jangan berpikir terlalu jauh. Coba tatap air itu, kau akan melihat sesuatu,” katanya. Baiklah, akan kuturuti kemauannya, meski aku belum mengenalnya, meski aku belum tahu apa yang ia sebut sebagai sesuatu itu.

Mula-mula tak ada yang istimewa. Lebih tepatnya tak ada yang bisa dilihat kecuali air kali yang memang hitam dan semakin hitam karena malam. Sesekali permukaan air bergelombang dan cahaya lampu memercikkan terang, tetapi tetap tak ada apa-apa. Aku memutuskan bersabar ketika sejenak kemudian sesuatu tampak mekar dan muncul dari dasar. Bentuknya seperti mawar, tapi warnanya ungu dan ukurannya terlalu besar untuk disebut mawar. Lantas pelan-pelan di sekitar mawar besar itu muncul aneka bentuk tanaman. Kunyalangkan mata agar yakin aku tak salah penglihatan. Benar. Aku tak salah. Semakin terang kelihatan bahwa di dasar kali itu ada taman. “Bagaimana bisa ada taman di dasar kali ini?” tanyaku, sebenarnya, entah pada siapa. Karena di sana hanya ada kami berdua, perempuan itu menjawab, “Entahlah. Tapi bukankah itu bisa jadi tempat yang indah untuk menghilangkan lelah?”

Aku perhatikan lagi taman itu. Sekarang dapat kulihat beberapa bangku diletakkan dalam jarak tertentu. Lalu ada kupu-kupu, lebah madu, dan burung-burung kecil berbulu biru. Sungguh suatu taman yang teduh, pasti menyenangkan bisa berada di sana, melupakan kepenatan kerja, menghirup udara bersih tanpa karbon monoksida. Tapi pasti semua ini hanya ilusi, bagaimana mungkin ada taman di dasar kali. Kukira malam sedang bersiasat, menghadirkan bidadari ini agar aku mengalami halusinasi. “Kau pasti mengira ini cuma ilusi. Akupun begitu waktu pertama kali. Tapi karena setiap kali aku ke sini, taman itu selalu muncul kembali, aku jadi percaya kalau taman itu benar-benar ada,” ungkap si bidadari, lagi-lagi seperti mengerti isi pikiranku. “Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku. “Siti,” jawabnya sesingkat kilat di langit tinggi.

Siti, seperti nama perempuan pertama. Apakah namanya Siti Hawa? Ah, kukira Siti saja cukuplah sudah. Sekarang aku harus berpikir, bagaimana semua ini akan berakhir. “Apakah kau tertarik untuk pergi ke sana?” tanyanya tiba-tiba. “Ke mana? Ke sana?” tanyaku balik sembari mendelik ke arah taman yang kian tampak terang. “Iya, ke taman itu. Sudah lama aku menanti ada yang mau menemani.” Siti si bidadari mengulum senyum. “Tapi…” kalimatku belum usai ketika ia berkata kembali, “Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, barang siapa mau menemaniku ke taman itu, akan kujadikan kekasihku. Tak peduli ia perempuan atau laki-laki. Aku akan mencintainya serta menyerahkan seluruh hidupku padanya.” Sungguh, itu deretan kalimat yang membuatku lupa bahwa suatu hari dunia akan kiamat. Sudah lama kubayangkan seorang perempuan berkata seperti itu kepadaku, bahwa ia akan mencintaiku dan menyerahkan seluruh hidupnya hanya untukku. Apalagi kalimat itu keluar dari bibir seorang bidadari, seluruh hidupku yang penuh getir akan tegak berdiri bagai kebenaran di hadapan para tiran. Mungkin ia bisa menghilangkan kesadaran, tapi bagiku ia bisa juga memberi kesadaran baru. Kesadaran bahwa tak ada yang mustahil di dunia, termasuk adanya taman di dasar kali.

Maka ketika Siti si bidadari meraih tanganku, tanpa ragu-ragu kami naik ke besi jembatan, lalu melompat cepat menuju air kali yang bergerak lambat. Terdengar suara benda jatuh ke air seakan-akan bukan kami yang menyebabkan. Kali ini cukup dalam, dan aku baru ingat tidak pernah belajar berenang. Siti melepas pegangannya dan seketika menghilang. Aku gerakkan tubuh sebisanya, sia-sia, semakin aku bergerak semakin kuat air menarikku ke dalam. Air masuk ke mulut dan hidungku, napasku terasa berat, dunia seperti melesat ke luar dari tubuhku. Kukira aku akan mati, takkan ada yang membantu. Sebelum itu, biar kumaki dulu diriku sendiri, kumaki kebodohan yang telanjur bersarang dalam diri ini.

Tapi aku tak jadi mati. Aku hanya merasa ringan, seakan seluruh bobot telah dicopot dariku. Dan taman itu memang ada. Sungguh-sungguh nyata. Sekarang aku sedang berjalan di atas rumputnya yang lembut. Kucium aroma aneka bunga. Harum dan segar. Di tengah-tengah taman, di hadapan bangku panjang, mawar besar berwarna ungu itu dapat kusaksikan. Benar-benar cantik hingga tak mungkin terbersit pikiran untuk memetik. Tapi, di mana Siti? Apakah ia ada di sini? Apakah ia lebih dulu tiba dan kini sedang menanti? Aku berjalan mengitari keluasan taman. Tak kusangka taman ini sungguh luas, nyaris tak berbatas. Tak kutemukan siapapun, aku benar-benar sendirian. Barangkali Siti tak berhasil sampai di sini. Barangkali seseorang melihatnya jatuh ke kali dan segera membantunya menepi. Perasaan sepi pelan-pelan membesar, tak ada yang bisa kulakukan kecuali menanti dengan sabar, mengikuti arus waktu yang bergerak melingkar. Aku tak tahu berapa kali sudah waktu berputar.

Pada saat-saat tertentu kuarahkan pandang ke atas. Samar kulihat sampan-sampan melintas, lalu di tempat yang lebih tinggi kendaraan lalu lalang melewati jembatan. Dan bila malam telah tua, dapat kusaksikan seorang lelaki dan seorang perempuan berdiri di tepi jembatan, menatap ke bawah, ke arah tempatku berada. Apakah itu Siti? Dan siapa lelaki di sampingnya? Kenapa tampak mirip denganku?***

Kekalik, 13 April 2019


Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Film, Resensi

Ida dan Kesunyian Sejarah

Resensi Film oleh Kiki Sulistyo

Okupasi Nazi Jerman (bersama Uni Soviet) ke Polandia yang dimulai pada 1 September 1939 tidak hanya mengawali Perang Dunia II di Eropa, tetapi lebih dari itu juga menyisakan luka yang susah disembuhkan, terutama di bagan sosial terkecil; di tingkat domestik keluarga. Lubang-lubang gelap sejarah berupa kejadian selama perang coba diberi cahaya penerang oleh generasi setelahnya, agar dapat terlihat apa yang sesungguhnya terjadi. Upaya itu bukan tanpa risiko, sebab bayangan kengerian masa lalu, bisa saja menggagalkan niat rekonsiliasi dan menjadikan situasi yang sudah berubah jadi lebih baik malah berlumur dendam. Nazi Jerman menggunakan mesin genosida untuk menjalankan proyek invasi dan okupasinya, menyebabkan jutaan nyawa musnah, dan menjadikan tahun-tahun itu sebagai salah satu era paling gelap dalam sejarah modern.

Film Ida garapan sutradara Pawel Pawlikowski mengambil latar belakang sejarah itu untuk setting cerita tahun 1962, hampir dua dekade setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Anna (dimainkan Agata Trzebuchowska), gadis muda calon biarawati, baru mengetahui bahwa ia sebenarnya adalah seorang Yahudi setelah bertemu dengan bibinya Wanda Gruz (Agata Kulesza). Menjelang kaulnya untuk menjadi biarawati, kepala biara wanita meminta Anna untuk menemui satu-satunya kerabatnya yang masih hidup. Setelah bertemu Wanda, Anna baru tahu kalau nama sebenarnya adalah Ida Lebenstein.

Fakta baru itu membuat Ida mendadak berniat mengunjungi makam orangtuanya yang dibunuh semasa perang. Namun seperti banyak orang Yahudi yang tewas di masa itu, makam orangtua Ida pun tidak jelas tempatnya, bahkan mungkin tidak ada. Tetapi Wanda Gruz, yang pernah menjadi seorang jaksa, punya petunjuk. Maka dimulailah perjalanan mencari makam orangtua Ida, sekaligus juga anak laki-laki Wanda yang semasa perang dititip di keluarga Lebenstein.

Sutradara Pawel Pawlikowski menjadikan perjalanan membongkar masa lalu itu sebagai narasi utama film berdasarkan naskah yang ia tulis bersama Rebecca Lenkiewicz. Dalam perjalanan, mereka dipertemukan dengan Lis (Dawid Ogronik) seorang pemain alto-sax berparas tampan, yang berada ‘di luar sejarah’ mereka dan nantinya menjadi simpang dalam kehidupan Ida. Sementara, kunci bagi pintu untuk mengetahui peristiwa masa lalu ada di tangan keluarga Skiba, keluarga yang saat itu mengambil alih kepemilikan rumah keluarga Lebenstein. Lewat Feliks Skiba (Adam Szyszkowski) mereka akhirnya mengetahui fakta yang sebelumnya hanya menjadi rahasia.

Ida dan Wanda, sebagai dua karakter utama, punya watak yang bertolak-belakang. Kontras antara keduanya seperti memberi “warna” bagi layar film yang hitam-putih. Sebagai gadis remaja yang dibesarkan di biara, Ida menyiratkan pikiran, perasaan, maupun hasratnya dalam ekspresi-eksresi kecil, nyaris datar dan dingin. Meski dalam satu-dua kesempatan, seperti kata Wanda, “ia bisa juga bersikap kasar”. Sedangkan Wanda sendiri, meski punya posisi terhormat dan kekebalan hukum, tampak kacau hidupnya. Ia intimidatif, sinis, perokok berat, suka minum-minum, dan melakukan seks bebas dengan sembarang lelaki.    

Kita bisa menduga perbuatan-perbuatan itu ialah upaya Wanda untuk melarikan diri dari hantu masa lalu, bayangan gelap yang tak bisa lenyap. Tetapi ketika kenyataan terbuka di depan mata, ada sesuatu yang tak tertanggungkan lagi, dan proses rekonsiliasi mengalami resistensi dari diri yang telanjur tenggelam dalam upaya pelarian tersebut. Puncaknya, Wanda memilih satu tindakan ekstrem bagi dirinya sendiri. Tindakan ini hadir dalam satu adegan yang bisa membuat penonton ingin berkali-kali melihat kembali adegan tersebut karena tak percaya.

Berbeda dengan Wanda, Ida Lebenstein yang secara teknis “tak mengalami” peristiwa di masa lalu, sebab dia masih terlalu kecil ketika peristiwa pembunuhan orangtuanya terjadi, menyikapi proses rekonsiliasi dengan cara lain. Tampak jelas segala sesuatu asing baginya, seolah-olah ia baru saja diturunkan ke dunia dengan kenyataan yang melingkupinya. Ida tumbuh di biara wanita, agama adalah tulang punggungnya. Meskipun begitu, bias psikologi khas remaja terpancar di ekspresinya ketika Wanda menyarankan ia, sebelum menjadi biarawati, agar mencoba dulu nikmat dunia, sesuatu yang dianggap “dosa” dalam perspektif ketat agama. Apalagi ketika ia mulai dekat dengan Lis, pemuda tampan murah senyum, si pemain alto-sax yang menumpang di mobil Wanda dalam perjalanan ke kota yang sama dengan tujuan Wanda dan Ida untuk sebuah acara konser musik.

Maka ketika-pasca tindakan ekstrem Wanda-pada akhirnya Ida mencoba minum minuman keras dan tidur bareng Lis, kita tidak melihat ada penyesalan di wajahnya, juga tidak melihat bahwa ia sungguh-sungguh menikmatinya. Ida Lebenstein seperti ingin memanifestasikan rekonsiliasi yang gagal dilakukan Wanda dengan, untuk sesaat saja, menjadi seperti Wanda, melakukan apa yang sering dilakukan Wanda. Sebelum akhirnya dengan mantap, tanpa mengusik apapun, melangkah menuju pilihan hidupnya.

Film ini minim dialog. Dialog yang hadir pun cenderung pendek-pendek. Kesunyian yang dominan seakan memendam sekam dalam gambar-gambar yang dihadirkan. Selain pada cerita dan karakter, kekuatan film ini memang bertumpu pada sinematografi. Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski menggarap setiap gambar dengan brilian, seperti arsitektur puitika dengan ekonomi cahaya yang natural. Dalam banyak sekuen, karakter tak diletakkan di sentral, melainkan di tepi atau di bawah bidang layar, atau terselip di antara struktur benda-benda. Gambar-gambar tersebut seakan hendak menghadirkan kenyataan betapa sejarah orang-orang biasa selalu menjadi subordinat dari sejarah arus utama hasil konstruksi otoritas, baik yang pernah maupun yang sedang berkuasa, apalagi jika sejarah itu menjadi sejarah dunia, yang pada waktunya menjadi pemicu berbagai perubahan. Padahal orang-orang biasa adalah korban sesungguhnya, martir bagi tatanan dunia yang lebih baik.

Dan sebagai orang biasa, Ida Lebenstein telah menjalankan rekonsiliasi sejarahnya dan mengalami sejarah rekonsiliasinya dalam kesunyian pribadi. Sejarah yang tak dilihat orang banyak, dan takkan dicatat dalam buku besar sejarah formal.***

  • Data Film:
  • Judul: Ida
  • Sutradara: Pawel Pawlikowski
  • Skenario: Rebecca Lenkiewicz dan Pawel Pawlikowski
  • Sinematografi : Lukasz Zal dan Ryszard Lenczewski
  • Genre: Drama
  • Durasi: 82 Menit
  • Pemain: Agata Trzebuchowska, Agata Kulesza, Dawid Ogrodnik
  • Tahun Rilis: 2014

Tentang PenulisKiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).

Cerpen

Penerbangan Mawar

Cerpen Kiki Sulistyo

Pesawat ini akan jatuh. Semalam pilot -setengah terpaksa- ikut pesta minum-minum bersama kawan-kawannya. Ia tidak fit di penerbangan ini, lalu panik dan tak bisa mengendalikan pesawat. Aku akan mati, hancur bersama tubuh pesawat yang jatuh ke laut. Aku bayangkan saat-saat terakhir itu. Siaran berita menyiarkan kecelakaan tersebut; mereka suka dengan berita-berita semacam itu.

Mereka akan mewawancara istriku. Dengan terbata-bata dan mata merah-basah istriku menyampaikan perasaannya, sesekali ia tak sanggup mengucapkan kata-kata, menangis tersedu-sedu. Sebelumnya, reporter itu meminta istriku menggendong anak kami; bocah dua tahun yang belum tahu apa-apa. Anak itu ikut menangis, bukan karena mengerti, tapi karena melihat ibunya menangis. Anehnya aku bisa membayangkan wawancara itu sementara di sisi lain aku membayangkan tubuhku telah hancur dan ruhku mungkin telah terisap lubang hitam yang membuat Stephen Hawking terkenal.

Pramugari, sesaat sebelum memperagakan cara menggunakan alat-alat keselamatan, menyampaikan padaku bahwa lantaran aku duduk dekat jendela darurat, aku ikut bertanggungjawab menyelamatkan penumpang lain jika terjadi situasi darurat. Andai seseorang mengatakan padaku kalimat “bila terjadi situasi darurat” aku akan langsung merasa bahwa situasi darurat pasti akan terjadi. Aku melihat jendela darurat itu dan merabanya, menduga-duga sanggupkah aku membukanya nanti. Pramugari menatapku, sekilas aku merasa pandangannya mengejek, seakan-akan mau bilang, “Tidak akan terjadi apa-apa, bodoh. Ini cuma formalitas.”

Seorang perempuan duduk di sebelahku dan di sebelahnya lagi duduk pasangannya; seorang laki-laki kurus berambut kribo. Mereka tampak acuh dan tak ambil pusing. Aku melirik, ada tato mawar di leher perempuan itu. Mawar itu mekar dan berwarna biru.

Kembali aku bayangkan pesawat ini jatuh ke laut, tapi karena cuaca cerah, aku mengubah penyebabnya; bukan lagi karena pilot mabuk, melainkan seseorang telah membajak sistem perangkatnya. Navigasi jadi kacau dan pilot kebingungan sebelum akhirnya gagal menyelamatkan pesawat. Apakah hal seperti itu mungkin terjadi? Entahlah. Aku ingin bertanya pada perempuan di sebelahku, tapi kukira itu akan terdengar konyol.

Perempuan itu mengeluarkan ponselnya. Memasang headset dan memejamkan mata, pasangannya melakukan hal yang sama. Awak pesawat menyampaikan saat lepas landas sudah tiba, dan bersiap terbang. Ada peringatan untuk mematikan semua barang elektronik. Tapi perempuan di sebelahku serta pasangannya tampak tidak peduli.

Terdengar suara gemuruh demikian keras, lalu goncangan. Ketika pesawat mulai mengudara, kurasakan seperti ada batang-batang udara memasuki telingaku. Aku tersentak seolah akan tenggelam. Biasanya setelah menelan ludah perasaan itu akan hilang, tapi kali ini tidak. Batang-batang udara terasa semakin padat menggumpal di telingaku. Untuk beberapa lama aku benar-benar merasa tenggelam.

Bobot tubuhku seakan melompat keluar, memantul-mantul di dinding pesawat. Aku membuka mata dan merasakan keheningan yang misterius. Perempuan di sebelahku masih memejamkan mata, begitu juga pasangannya. Keduanya seperti tertidur. Dan aku perhatikan semua penumpang pesawat juga tertidur. Tanda sabuk pengaman sudah dimatikan, aku berdiri dan memperhatikan lebih saksama. Aku lihat para pramugari juga tertidur tapi dalam posisi berdiri.

Tiba-tiba radio pesawat berbunyi, “Ground control to Major Tom. Ground Control to Major Tom.” Sial. Ada apa ini? Apakah pesawat akan jatuh? Aku baru ingat kalau kalimat itu seperti lirik lagu dari penyanyi yang sudah mati. “Penumpang sekalian, ini pilot Anda, David Bowie…” Aku melihat keluar jendela, langit sangat biru, tumpukan awan membuat gumpal yang berlapis-lapis. Satu bagian awan tampak seperti tebing karang, bagian yang lain mirip patung dewa yang sedang menunjuk.

Perempuan di sebelahku menggeliat, tato mawar di lehernya bergerak-gerak seperti berusaha melepaskan diri. Sebentar kemudian tato itu terkelupas dari kulit leher si perempuan. Mawarnya melayang-layang sesaat di dalam pesawat sebelum bergerak mendekati jendela, lalu perlahan-lahan menembusnya, terapung di luar, di langit yang terang, lalu membesar, membesar dan melingkupi pemandangan. Pesawat seperti berada dalam kelopak mawar. Dari celah-celah jendela, aroma mawar itu merembes masuk bagaikan air hujan di tembok orang miskin. Dalam waktu singkat pesawat sudah dipenuhi bau mawar yang wangi tapi demikian menajam hingga terasa menyesakkan dada. Tapi seluruh penumpang dan pramugari masih tertidur, seakan tak terpengaruh. Aku mengetuk-ngetuk tempat masker oksigen, namun masker itu tidak turun-turun juga. Wangi mawar semakin mencekik bagai gas bocor. Aku meronta-ronta menyadari sebentar lagi akan habis napas. Sewaktu napasku sudah demikian sesak, aku lihat para penumpang terapung-apung bagai benda di ruang hampa udara. Pandanganku pudar, aku menggapai-gapai berusaha memegang apa saja, seakan-akan aku sedang berada dalam laut.

Aku bergerak-gerak, mencoba mencari celah untuk menghirup udara. Tapi dinding atas pesawat tak bisa ditembus. Aku nyaris kehabisan napas, kalau saja aku tak melihat sebatang tangan menjulur dari atas. Segera aku memburu tangan itu, dengan upaya yang demikian keras aku berhasil menjulurkan tanganku ke arah tangan itu. Dan begitu tersentuh tangan itu segera mencengkeram tanganku dan menariknya ke atas.

Dinding atas pesawat jebol, aku keluar dan muncul di permukaan laut. Tangan tadi rupanya milik perempuan yang duduk di sebelahku. Ia berada dalam perahu, sendirian dan basah kuyup. “Kejadiannya benar-benar gila. Aku tidak bisa memahaminya. Pilot itu, siapa namanya? dia berniat menghabisi kita. Tuhan melindungi kita. Ucapkan Amin, ayo ucapkan Amin!” Perempuan itu meracau tidak karu-karuan. “Apa kau mendengarku?” teriaknya. Sementara dari dalam laut pesawat yang kami tumpangi muncul seperti seekor paus. Tiba-tiba perempuan itu melompat ke laut dan berseru, “Sampai jumpa, jaga perahu ini, aku akan kembali, aku harus mencari kekasihku.” Lalu ia lenyap.

Laut berangsur-angsur tenang. Gelombang kecil tak cukup kuat untuk menggoyangkan perahu. Aku sendirian dan tak tahu bagaimana cara mengendalikan perahu. Kubiarkan arus mengombang-ambingkannya sembari membayangkan ada satu pulau kecil di dekat sini tempat perahu ini bisa terdampar. Tiba-tiba dari dalam laut pesawat kembali muncul, kulihat perempuan tadi merangkul tubuh kekasihnya dan terlontar ke udara bagai ikan terbang. Mereka melenting jauh ke angkasa dan menghilang begitu saja. Ketika sekali lagi pesawat itu muncul, perahuku berada tepat di atasnya. Oleh desakan dari bawah perahuku terjungkal, tubuhku melayang di udara lantas jatuh menimpa air. Tamat sudah riwayatku, aku tidak akan bisa bertahan lagi, aku sungguh-sungguh akan mati. Segala ingatan tentang segala sesuatu mendesak ke dalam pikiranku seolah-olah mereka takut tak dapat bagian. Aku ingat segala tindakan buruk yang pernah kulakukan, pada saat yang sama aku juga ingat segala kebaikan yang pernah kuberikan kepada orang. Aku menimbang-nimbang, dan jika aku merasa keburukanku lebih banyak, air laut mencekikku lebih kuat bagaikan algojo, tapi bila kupikir kebaikanku lebih banyak, air laut akan mengurangi cekikannya. Situasi itu lebih menyiksa dari apapun, sebab kedua kutub pikiran ini seperti saling belit, saling banting, tak ada yang mau mengalah.

Bagaimana caranya supaya aku bisa selamat? Aku tidak pernah belajar berenang, dan di tengah-tengah samudera luas ini percuma mengharapkan ada orang datang untuk menyelamatkan.

Semuanya buyar ketika terdengar pengumuman dari awak pesawat bahwa kami sudah mendarat, aku hanya merasakan sedikit benturan ketika tadi roda pesawat menyentuh landasan pacu. Aku lega. Perempuan di sebelahku menggeliat, tato mawar di lehernya berkerut-kerut. Tapi tidak sampai terkelupas.

Setelah turun aku segera bergegas keluar bandara. Di sana sudah banyak orang berkumpul, sebagian besar menangis tersedu-sedu. Perempuan bertato mawar setengah berlari menghampiri satu kerumunan kecil. Laki-laki yang tadi duduk di sebelahnya berjalan menuju arah lain. Ternyata mereka bukan pasangan. Sirin, rekan kerjaku, kulihat di antara orang-orang. Segera ia melambaikan tangan begitu melihatku.   

“Syukurlah, Tom. Kamu sudah tiba. Kantor menelpon terus.”

“Jadi bagaimana?” tanyaku. “Kita pilih saja sekarang, yang mana menurutmu?” ucap Sirin. Aku melihat sekeliling, dalam kesedihan dan dukacita setiap orang tampak serupa. “Nah, yang itu saja,” kataku sembari menunjuk ke suatu kerumunan.

Kami segera bergerak. Sirin menyiapkan kamera, aku memegang mikrofon. “Itu putra Anda?” tanyaku pada perempuan bertato mawar di leher yang terus-menerus tersedu sembari melirik seorang bocah laki-laki yang kira-kira berusia dua tahun. Perempuan itu mengangguk. “Kami hendak mewawancarai Anda. Bisakah Anda menggendongnya?” tanyaku.

(Kekalik-Bakarti, 2018)

Kiki SulistyoMeraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni TEMPO 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).