Cerpen

Gadis Kecil dan Dendam yang Menunggu

Cerpen Adam Yudhistira

Satu minggu yang lalu, tepat pukul 6 pagi, Maria menemukan jasad Paul tergeletak di depan pintu kamar mandi. Jerit histeris perawat muda itu sontak mengagetkan seluruh penghuni panti. Tidak ada yang tahu bagaimana kejadiannya. Satu-satunya petunjuk hanya sebatang pipa besi yang menurut keterangan polisi telah menjadi penyebab lelaki tua itu mati.

Sepengetahuanku, Paul bukanlah orang jahat. Aku masih ingat saat dia pertama kali datang ke tempat ini. Sebatang tongkat membantu mengurangi lengkung pada punggungnya yang menyerupai bulan sabit. Senyum ramahnya tak pernah pudar. Tutur katanya hangat dan bersahabat. Penampilannya pun rapi. Dia mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Rambutnya putih berkilau, seperti diguyur cairan perak. Rasanya sulit dipercaya jika ada orang menginginkan kematiannya.

Perihal kematian Paul telah memunculkan berbagai dugaan. Sebagian penghuni panti bersepakat, seseorang telah datang dari masa lalunya dan membawa dendam lama. Dugaan ini diambil bukannya tanpa alasan. Berdasarkan cerita yang sering disampaikan Paul kepada kami, lelaki tua itu mengaku jika dirinya adalah pensiunan polisi yang sempat bertugas di distrik Tujuana—sebuah kota kecil di Meksiko.

Selama menjadi polisi, Paul mengaku telah menghabisi banyak penjahat. Dari sekian banyak penjahat, ada satu orang yang sepertinya paling sulit dilupakan. Penjahat itu bernama Arturo Cruz, seorang bandit yang cukup ditakuti di Tujuana. Pada saat penangkapannya, lelaki itu menyerang Paul dengan pisau dapur yang sebelumnya digunakan untuk menusuk istrinya sendiri. Paul menembak dada Arturo dua kali. Satu di kepala. Satu di dada.

“Bukan kenangan menyenangkan,” ucap Paul sambil mengusap lengannya yang berkulit kisut. “Arturo memiliki seorang anak berusia tujuh tahun. Kematian Arturo dan istrinya telah membuat gadis kecil itu menjadi yatim piatu. Tapi, aku harus melakukannya. Persetan dengan mereka yang menjulukiku hewan berdarah dingin. Penjahat itu ingin membunuhku.”

Selain cerita tentang Arturo dan istrinya, Paul mengaku telah menjebloskan banyak penjahat; psikopat, pedofil, pemimpin gangster, dan pembunuh bayaran. Dia bahkan  pernah melakukan operasi penyamaran tiga bulan dalam sindikat perdagangan heroin besar dan berhasil meringkus bos kartel narkoba kelas berat. Saat bos kartel itu tertangkap, dia bersumpah akan memenggal kepala Paul jika berani bersaksi di pengadilan. Tetapi, alih-alih meminta perlindungan, Paul malah pergi ke pengadilan dan tertawa di depan wajah bos kartel itu.

Awalnya cerita-cerita itu membuat kami tak nyaman, karena terkesan mengada-ada. Kami menganggap cerita-cerita itu omong kosong belaka, hiburan para lansia. Petualangan menegangkan yang diceritakannya memang lebih mirip alur film-film Holywood ketimbang cerita nyata. Sergio bahkan pernah berseloroh, katanya lelaki tua itu adalah pembual paling ulung. Dia hanya aktor, namun faktor usia dan pelupa membuat dirinya tak lagi berguna. Jalan hidup yang buruk membuatnya terbuang dan berakhir di tempat ini.

Sergio menjadi satu-satunya penghuni panti yang tak menyukai Paul. Lelaki itu paling pendiam dan paling jarang bergabung bersama kami—terlebih saat kami tengah menyimak cerita-cerita Paul. Setiap bersitatap dengan Paul, Sergio selalu bermuka masam. Hingga saat jasad Paul ditemukan, Sergio-lah yang dicurigai pembunuhnya. Namun untuk menuduhnya, polisi tak punya bukti-bukti apa-apa.

Sebenarnya, satu hari sebelum peristiwa mengerikan itu, pada tengah malam, aku sempat mendengar teriakan dari kamar Paul. Entah dia marah pada siapa. Caci maki itu berlangsung beberapa menit, lalu hening. Keesokan paginya, Paul berkunjung ke kamarku dan menceritakan pengalamannya.

“Seseorang ingin membunuhku,” katanya gemetar. “Tadi malam dia masuk ke kamarku dan mencoba mencekik leherku. Aku tak mengenalnya sebab kamarku gelap.”

“Tenanglah.” Kutarik sebuah kursi untuknya. “Duduklah dulu.”

Lelaki tua itu membeku seperti patung. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang akut. Kepalanya terus menoleh ke kiri dan kanan, seolah mengkhawatirkan sesuatu yang tak kasat mata sedang bersiap menyerangnya. Saat itu, ceritanya tak berhasil membuatku percaya. Bagaimanapun juga, aku setuju pendapat Sergio. Paul pandai membual.

Gedung panti ini dipenuhi lelaki dan wanita tua. Di taman dekat Ruang Kesehatan, sekelompok nenek-nenek asyik memintal benang rajut. Di bagian lain sekelompok kakek-kakek berbincang santai di pelataran bangsal. Sungguh tak ada alasan untuk mencemaskan orang-orang seperti itu.

“Orang itu tampaknya betul-betul ingin membunuhku,” ujarnya terus bersikeras.

Aku mengubah posisi duduk agar bisa menatap langsung ke matanya. Aku ingin melihat yang tersisa dari lelaki yang mengaku bekas polisi berpengalaman itu. Tak ada gerakan pupil halus penuh waspada. Tak ada ketenangan sikap yang biasa ditunjukkan polisi kawakan. Wajahnya cuma menunjukkan ketakutan yang sempurna.

“Apakah Sergio pelakunya?”

Paul menggeleng, “Dia memang membenciku, tapi tak sampai ingin membunuhku.”

Saat kami sedang berbincang, di ambang pintu, Sergio tiba-tiba muncul. Dia menenteng secarik surat kabar yang digulung. “Apa lagi bualanmu hari ini? Kudengar dari luar, kau menyebut-nyebut namaku,” tanyanya sambil memukul-mukulkan gulungan koran ke telapak tangan.

“Jangan salah sangka dulu,” kataku mencoba menengahi. “Paul mendatangiku karena dia butuh pertolongan.”

“Pertolongan?” Sergio menyeringai. Lelaki tua bertubuh jangkung itu menudingkan telunjuknya ke wajah Paul. “Aku tak akan heran jika ada seseorang yang ingin menghajarnya.”

“Setidaknya kau bisa menunjukkan rasa pedulimu.” Aku memandang bolak-balik antara Paul dan Sergio, sedikit cemas akan terjadi perkelahian.

Sergio memajukan badan, jemarinya meremas gulungan koran. “Sudah kubilang, dia cuma pembual. Ingatannya sudah hilang. Kau tahu? Hilang ingatan di usia tua adalah keniscayaan. Apa pun yang dikatakannya, jangan percaya. Itu cuma bualan.”

“Sudahlah,” ucap Paul seraya berdiri. Bunyi desah agak keras keluar lewat celah giginya yang renggang. “Mungkin aku cuma bermimpi.”

Lelaki tua itu melirik Sergio dan memberinya senyum persahabatan. Sergio tidak membalas senyuman itu. Dia mendengus dan tak lama Paul pun pergi. Itulah saat terakhir aku berjumpa dan berbicara dengannya.

***

Satu minggu usai pemakaman Paul, aku melihat Maria duduk seorang diri di taman panti. Dia duduk menghadap ke kolam kecil di bawah pohon mapel. Seharusnya perempuan muda itu menggiring kami senam seperti biasa, tetapi pagi itu dia tampak murung. Aku menduga kematian Paul meninggalkan jejak trauma di kepalanya.

Kemarin kami sempat berbicara. Aku berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Dia harus menguatkan diri. Namun perempuan itu hanya diam dan mengerut di kamarnya. Duduk di atas selimut perca dengan lampu rendah sambil menonton televisi, dikelilingi artikel koran yang menjadikan berita kematian Paul sebagai tajuk utama.

“Apakah aku mengganggu?”

Maria menggeleng. Matanya menerawang, melihat ke langit yang tampak mendung. Ranting mapel bergoyang dan dedaunannya berjatuhan ke permukaan kolam.

“Kejadian itu sama sekali bukan kesalahanmu,” ucapku menghiburnya.

Mata biru itu menatapku sejenak, lalu beralih ke para lansia yang duduk-duduk di sepanjang lajur bangsal. Maria mendekatkan kepala dan berbisik ke telingaku. Napasnya berbau agak asam bercampur basi—bau alkohol yang mungkin diminumnya sepanjang malam.

“Wali kota berniat menutup tempat ini,” ucapnya terdengar seperti penyesalan. Dia menunjukkan sikap bersalah; telapak tangan bertumpu di atas lutut. “Jika itu terjadi, aku harus meminta maaf kepada kalian.”

“Aku tak mengerti.”

“Begini, aku akan memberitahumu sesuatu.”

Maria memajukan badan sambil mempermainkan sebatang rokok di sela jari telunjuk dan jari tengahnya dengan terampil. Entah mengapa, keterampilan itu terasa asing di mataku. Aku memperhatikannya dari samping, heran dengan perubahan itu. Entah sejak kapan dia punya kebiasaan merokok.

“Akulah yang membunuh Paul.”

Kalimat itu membuatku terhenyak dan terpaku. Asap putih bergumpal-gumpal di sekitar wajahnya, persis seperti gumpalan pikiran yang menyesakkan kepalaku. Aku berusaha menyangkal apa yang baru saja kudengar, tapi kesungguhan di matanya membuatku bergidik.

Dia menoleh padaku dan berkata dengan tenang. “Kedatangannya adalah jawaban dari doaku.”

“Maksudmu?”

“Bajingan tua itu membunuh orangtuaku tiga puluh tahun yang lalu,” ucapnya gemetar. “Ayahku memergokinya tidur bersama ibuku. Sekarang aku membalasnya. Dua hantaman pipa besi ke kepala. Bukankah itu harga yang setara?”

“Siapa yang kau maksud?”

“Arturo Cruz.”

Aku mengempaskan tubuh ke belakang, bersandar pada bangku kayu, berusaha keras mengendalikan keterkejutan yang membuat kepalaku sedikit pusing.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanyaku lunglai. “Kau ingin aku merasa kasihan, atau bagaimana?”

“Sama sekali tidak,” ujarnya tersenyum. “Aku hanya ingin berusaha menunjukkan padamu orang macam apa dia sebenarnya. Dan aku juga ingin bilang, bahwa setiap orang pasti akan mendapat bayaran dari perbuatannya.”

Aku menarik napas dalam-dalam, tapi paru-paruku seakan mengerut sebesar aprikot kering. Air liur pahit mengumpul di belakang mulut, menciptakan dorongan untuk menyemburkannya ke wajah Maria. Dia layak mendapatkannya. Itu harga yang pantas untuk perbuatannya pada Paul. Tetapi pandangan mataku malah jatuh ke permukaan kolam. Di sana aku melihat bayangan gadis kecil yang menderita lantaran kematian orangtuanya dan entah mengapa, ludah pahit itu menjadi sangat menyakitkan ketika ditelan.****


Adam Yudhistira, saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain bersastra, ia juga berbahagia mengelola sebuah Taman Baca untuk ikan-ikan kecil di aquariumnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Cerpen

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu

Cerpen Adam Yudhistira

Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

“Bagaimana rasanya? Nikmat, bukan?” tanyanya entah kepada siapa. Sulur-sulur geranien berayun lembut. Hanz menyeringai dan tenggelam dalam lamunan.

Bertahun-tahun lalu, sebenarnya Hanz memiliki kehidupan normal. Dia bekerja di perusahaan periklanan dengan penghasilan yang cukup mapan. Namun semuanya berubah ketika dia jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Quilla. Perempuan inilah yang mengubah kehidupannya.

“Aku ingin hidup bersamamu. Rasanya menyenangkan jika kita menetap di Green Mount.”

“Kenapa harus Green Mount?”

“Karena hanya di sana geranien tumbuh sepanjang tahun.”

Hanz yang sedang dimabuk cinta tak mampu menampik. Dia menguras semua tabungannya demi mewujudkan keinginan Quilla. Mereka menikah di Green Mount, kota kecil yang diimpikan Quilla. Namun selama tiga tahun berumah tangga, Hanz merasa perempuan itu tak pernah tulus mencintainya. Dia merasa dirinya cuma sebatang ranting yang dihinggapi seekor burung liar.

Anggapan itu terbukti benar. Suatu ketika, di restoran milik Nyonya Villardo, dia memergoki Quilla bersama seorang pria. Hanz tak akan dibakar api cemburu apabila mereka hanya berbincang atau sekadar saling sapa. Hanz cemburu, karena Quilla mencium pria itu dengan mesra.

Semula, Hanz tidak ingin mempersoalkannya. Pria pendiam itu mencoba memaklumi. Namun akhirnya dia menyadari jika pemakluman adalah bentuk dari cinta yang membabi buta. Cinta yang membabi buta itu pula yang menjadi bencana tak terpermanai dalam hidupnya.

Malam itu, Hanz menuju restoran Nyonya Villardo dan melihat semuanya telah berubah. Quilla ada di sana. Perempuan itu sedang bersandar di sebuah bangku, mengisap rokok dan berbincang dengan seorang pria. Dia menyugar rambutnya, tertawa kecil, dan menunjukkan seulas senyum mesra yang sama dengan senyum yang Hanz pikir selama ini hanya ditujukan kepadanya.

“Halo.” Hanz melambaikan tangan, sengaja menegaskan bahwa dia tak keberatan melihat Quilla berbicara dengan pria lain.

Perempuan itu menoleh dan ekspresinya tampak datar. Dia mengembuskan asap rokok tak acuh, lengannya membelit angkuh di bawah dada.

“Kau tak membaca pesanku?” Hanz menghampiri dan menyentuh bahu Quilla “Aku sudah berusaha menghubungimu sejak tiga jam yang lalu. Ponselmu mati. Ada yang harus kita bicarakan.”

“Kau keberatan jika aku turut mendengar?”

Hanz menoleh, melihat kerlip perak di daun telinga pria yang menegurnya. Dia adalah pria berkulit cokelat. Lengannya bertato. Rambut panjang dikuncir ekor kuda dan bahu bidang yang tampak besar oleh suntikan steroid. Terlepas dari ukuran tubuhnya, Hanz merasakan sesuatu yang lembek, seakan-akan pria itu hanya aktor yang memerankan tokoh jagoan.

“Aku tak bicara padamu,” kata Hanz menjaga intonasi suaranya setenang mungkin.

Pria itu mendengus. Quilla masih duduk sambil menjepit rokok di antara ibu jari dan telunjuk. Kedua lengannya erat berbelit, seakan menegaskan sikap keras yang sombong.

“Sejak kapan kau merokok?” Hanz menatap tajam mata biru yang dulu menjadi alasannya jatuh cinta. “Kau sering melakukannya?”

“Jangan membuatku malu.”

“Kenapa? Karena aku bicara denganmu?”

“Ini bukan waktu yang tepat.”

“Bisakah kita bicara di rumah saja? Ada beberapa hal yang harus kupahami tentang apa yang terjadi.”

“Thomas akan mengantarku,” ujar Quilla melirik pria di sampingnya. “Kau pulang saja. Satu atau dua jam lagi aku akan menyusul.”

“Hei, Bung, bisa tolong beri kami privasi?” Hanz melempar senyum bersahabat pada pria yang dimaksud Quilla. “Aku sedang bicara dengan istriku.”

Pria itu berdiri angkuh, menatap tajam seolah ada permusuhan lama di antara mereka. Quilla merentangkan tangan, menghalanginya untuk mendekati Hanz. Hanz sendiri merasa sudah sangat siap dengan segala kemungkinan.

“Kau kesal?” tanya Hanz. “Kau pasti berpikir aku sedang mengganggu kesenanganmu, bukan?”

Quilla merapatkan kaki dan menyesuaikan posturnya dengan sikap resmi—yang bagi Hanz terasa angkuh dan mengintimidasi. “Aku tak mengatakan apa-apa,” jawabnya sedikit bergetar.

“Apakah tak ada lagi harapan untuk memperbaiki semua ini?”

“Aku menyesal mengatakannya. Aku rasa semuanya sudah layak untuk diakhiri.”

Hanz mengepal tangan, merasa geram dan terhina. Quilla membuang rokok ke dalam gelas berisi soda, membuat suara desis yang dingin.

“Dengar…” Hanz menggapai bahu Quilla.

“Jangan sentuh aku!” Quilla mundur. “Pergi sajalah.”

Thomas menghampiri. Dia bersikap seolah penjaga pribadi Quilla. “Semua baik baik saja?” tanyanya pongah.

“Ya, Bung, kami baik-baik saja.” Hanz melambaikan tangan menghalau. “Mundur saja. Aku belum selesai.”

“Sepertinya sudah selesai.”

“Hei, Brengsek! Aku tak minta pendapatmu.”

“Kau membuatnya takut, Bung.”

“Dia tidak ketakutan. Quilla, bisakah kaujelaskan pada beruang yang tak punya otak ini?”

Quilla berpaling, memasang wajah beku yang tak peduli.

“Nah, jelas sekarang. Sebaiknya kaupergi.” Thomas menaruh tangannya di siku Hanz. “Biar kuantar kau keluar dari sini.”

“Jangan sentuh aku. Bedebah!”

“Tenang, Bung.”

“Oh, kau bersikeras rupanya?” Hanz mengibaskan tangan. “Hanya banci yang memanfaatkan situasi untuk meniduri perempuan bermasalah.”

“Siapa yang kausebut banci?” Pria itu mendorong tubuh Hanz.

Hanz mendengar bunyi alarm berdenging di kepalanya. Dijambaknya rambut pria itu, kemudian disentaknya sekeras mungkin untuk menghantamkan kening. Dilihatnya percikan darah melayang di udara. Ketika pandangannya jernih, dia merasa sakit kepala luar biasa. Thomas merosot di meja. Darah mengalir dari hidung dan matanya.

Hanz tak bisa lagi mundur. Dia merenggut ketel air panas di dekatnya dan mengacung-acungkannya ke wajah Thomas. Segera saja, semua orang histeris. Dua pengunjung keluar sementara yang lain menjauhkan pisau-pisau.

Rasa takut mereka membuat Hanz merasa hidup, memberinya perasaan kuat dan berkuasa. Dia seolah menegaskan bahwa sekali kaurenggut harga diri seorang pria, maka yang tersisa hanya masalah siapa yang mampu memukul lebih keras dan lebih baik.

“Apa yang kaulakukan?” teriak Nyonya Villardo histeris. Ketel sudah pasti mendarat di kepala Thomas andai saja perempuan tua itu terlambat masuk.

“Tidak apa-apa,” jawab Hanz santai. Dia meletakkan ketel kembali ke atas tungku.

Nyonya Villardo menatap Thomas yang memegangi hidung lalu beralih pada Hanz, “Kau sebaiknya pergi dari sini,” tukasnya geram. “Atau aku akan menelepon polisi.”

“Ya, aku akan pergi.”

Hanz menyentuh benjolan di kening dan menyadari masih ada sisa darah di permukaannya. Di sebuah panci rebus yang mendidih, Hanz melihat seekor kepiting berusaha keluar. Capit merahnya menjangkau tepi panci. Kepiting itu meregang, menggeliat, berjuang untuk usaha pelarian diri yang sia-sia. Namun, kepiting itu sudah terlalu lama berada di dalam panci. Dia tak punya kesempatan untuk hidup. Bagian dalam tubuhnya sudah masak. Dengan hati terbakar, Hanz menyaksikan capit itu terkulai dan memberinya sebuah ilham yang keji.

***

Sejak peristiwa di restoran itu, gundukan sabar di dada Hanz runtuh. Quilla tak pernah kembali ke rumah. Didorong rasa ingin tahu yang kuat dan kecurigaan yang berbulan-bulan, suatu malam dia membuntuti Quilla dan Thomas ketika keduanya melintasi setapak yang mengarah ke bungalow di tepi danau Devlin.

Seperti burung nazar yang lapar, Hanz menunggu. Dia mengintai dari balik jendela, menyaksikan keduanya bergumul liar di atas tempat tidur. Kenyataan itu semakin menyadarkannya, bahwa tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari rumah tangganya.

Lelaki itu masuk lewat jendela nyaris tanpa suara. Memang awalnya ada sedikit perlawanan dari Thomas dan Quilla, namun Hanz membekal sebilah belati dan memahami titik mana saja pada tubuh Thomas dan Quilla yang mematikan. Tiga tusukan di ulu hati menyudahi semuanya.

Hanz mencium kening Quilla untuk terakhir kalinya sebelum membungkus jasad itu dengan seprai penuh darah. Dia menyeret tubuh mereka menuju kegelapan hutan pinus yang dipenuhi suara paruh pelatuk, teriakan parau gagak, dan derik jangkrik yang terdengar seperti derit engsel pintu karatan.

Setelah berjalan hampir dua jam, Hanz berhenti di antara kedua ceruk bekas dinding tanah yang runtuh, dan meletakkan tubuh-tubuh itu dan membakarnya. Saat langit berubah dari gelap lalu kemerahan, rasa sedihlah yang pertama kali mendominasi pikirannya.

Api telah padam, menyisakan gemulai asap putih tipis di atas tumpukan tubuh yang menjadi abu. Hanz mengumpulkan abu itu, menyatukannya dalam kantung plastik. Abu itu dia bawa ke rumah dan ditumbuk halus menyerupai bubuk kopi lalu disimpannya di dalam toples kaca.

Setiap pagi, abu itu diambilnya sejumput demi sejumput, lalu diaduknya bersama sesendok kopi bubuk yang asli. Kopi itulah yang dia tuang ke rumpun-rumpun geranien yang menggantung di bawah atap teras rumahnya. Bertahun-tahun begitu, tanpa ada satu orang pun yang tahu.***


Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktivitas bersastra, ia juga mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Cerpen

Subali

Cerpen Adam Yudhistira

Malam itu adalah malam ke sekian Sudra pulang dengan lebam di pelipis, gaun malam murahannya robek di bagian bahu, bekas cakaran memanjang di leher. Subali tak bertanya apa pun. Perempuan itu juga tak banyak berkata-kata. Ia hanya meletakkan sebungkus nasi goreng di atas meja, lalu mengganti gaun malamnya dengan daster kembang-kembang. Setelah itu, ia meringkuk, memeluk tubuh Melati sambil menangis.

Malam esoknya, Sudra kembali berdandan rapi. Bibirnya dipoles gincu merah menyala. Sebuah tas tangan mungil tergantung di lengan kirinya. Subali tahu isinya; wadah bedak, sepotong pensil alis, dan sepotong lipstik murahan. Itu semua peralatan Sudra bekerja. Sesaat sebelum pergi, perempuan itu selalu berpesan; tolong jaga Melati.

“Kita akan menyudahi penderitaannya,” bisik Subali seraya mengecup bilah belati di tangannya. Hawa hangat mengalir dari mulutnya, menciptakan embun di permukaan belati yang berkilauan.

Subali adalah lelaki yang terbiasa hidup di bawah sumpah serapah. Dari pelosok kumuh metropolitan, biang iblis membesarkannya. Tangannya berlumur dosa-dosa. Subali membenci hidupnya dan melaknati masa lalu yang tak pernah bisa ia bersihkan. Ia tak pernah mengenal siapa bapaknya. Yang ia ketahui hanya satu; ibunya pelacur yang mati dibunuh pelanggannya. Perempuan malang itu dituduh telah menularkan penyakit hina.

Penderitaan membentuk jiwanya menjadi makhluk yang menyimpan kemarahan. Segala jenis kejahatan pernah ia lakukan. Desing peluru petugas bagai nada sumbang lagu dangdut yang menggema tak bermakna. Tetapi, itu dulu, sepuluh tahun yang lalu. Sebelum ia mengenal Sudra.

Ia menamai perempuan itu Sudra, sebab begitulah adanya. Rendah dan tak berharga. Kasta paling bawah yang mungkin setara dengan binatang di hutan belantara. Sudra adalah pelacur. Sudra mengingatkan Subali pada ibunya.

Bersama Sudra, ia menjajal hidup yang berbeda. Cinta mereka pun menumbuhkan satu tangkai bunga. Bunga kecil itu terlahir dari kubangan nista. Tapi benih cinta yang mereka semai, jauh dari noda ibu-bapaknya. Subali memberinya nama Melati.

“Ibunya lonte, bapaknya berandal!”

Begitulah tajamnya kata mengoyak jiwa Subali dan Sudra. Kerap tangis mengalun di bibir Sudra ketika tengah memeluk Melati yang sedang tertidur lelap. Tangis itu membakar dada Subali. Jika saja itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, tentu ceritanya akan berbeda.

Membunuh adalah hal yang paling gampang bagi Subali. Tapi ia telah bersumpah. Sisi hitam dirinya telah dikemasi, tersimpan rapi di dalam brankas besi dengan satu doa; semoga iblis itu tak pernah kembali. Subali mengupas semua dosa gelap yang menyamaki kulitnya. Hidup berdamai dengan kemiskinan. Berjuang keluar dari lingkaran setan kemelaratan.

Orang-orang bijak berkata, hidup berputar seperti roda. Kadang di bawah, kadang di atas. Tapi peribahasa itu tak berlaku untuk Subali. Sekian lama ia menunggu, tapi putaran roda itu tak kunjung bergerak ke atas.

Mungkin jika karma itu ada, Subali sedang menjalaninya. Kesulitan demi kesulitan bagai gelombang yang terus datang. Dan kesulitan itulah yang  membuat Subali tak kuasa menolak ketika Sudra ingin menempuh jalan hidupnya yang lama: menjadi pelacur.

Bibir lelaki itu tak kuasa berkata-kata. Ia terhenyak ditampar kenyataan. Rupanya keyakinan saja tak cukup untuk melawan kemiskinan. Malam itu kembali Sudra pulang membawa lebam. Subali sadar jika Sudra bukanlah perempuan suci. Namun cinta tak pernah berdusta. Setiap kali melihat bilur-bilur luka di tubuh Sudra, dadanya menyala dendam yang membara.

***

Tubuh tambun itu rebah bersimbah darah. Di lantai, sebilah belati tergeletak. Vas bunga pecah berantakan. Ada sisa darah mengering di kepingannya. Kursi, meja, semuanya tak lagi tertata. Iblis itu lahir kembali. Ia kembali pada wujudnya yang lama.

“Kau telah membunuhnya,” ucap Sudra membuyar lamunan Subali.

Subali mendengus. Hatinya tersulut cemburu saat Sudra terdengar menyesalkan perbuatannya. “Diamlah! Aku memang  telah membunuhnya, lalu kenapa?” hardiknya.

Sudra hilir mudik,  langkah kakinya bolak-balik. “Apa yang harus aku lakukan? Aku bisa masuk penjara. Aku tak mau masuk penjara. Melati masih membutuhkan kita.”

“Katakan saja pada petugas kalau para berandal pembunuhnya.” Subali menjawab santai tanpa beban. Ada kepuasan di matanya. Ia mengelap sisa-sisa darah di belatinya. Iblis terbahak, mengejek sepasang tangannya yang kembali berlumur dosa.

“Apakah mereka akan percaya?” tanya Sudra bimbang.

“Ya, mereka akan percaya,” jawab Subali.

Sudra duduk di tepi ranjang. Spreinya kusut, tempat tadi ia dan lelaki tambun itu larut bergelut.

“Kenapa kau bunuh dia? Aku rela menerima perlakuannya.”

Subali terbahak, lalu meludah. Gumpalan ludahnya mendarat telak di wajah beku lelaki yang baru saja menggeluti tubuh istrinya.

“Karena aku mencintaimu.”

“Tapi, kau tak perlu membunuhnya!” Nada suara Sudra meninggi. Ketakutan mencengkram dadanya. Ketakutan yang sesungguhnya tak perlu ia sesali jika ia sadar bahwa  wujud asli Subali bukan orang suci, apalagi nabi. Subali adalah iblis.

“Jika bukan aku yang membunuhnya, maka kaulah yang akan dibunuhnya.”

Sudra menyeringai. Seringainya menakutkan. Ia bangkit, lalu merampas belati di tangan Subali. “Aku bisa membunuhnya jika aku mau!” sentaknya sembari menikamkan belati itu ke perut lelaki tambun berkali-kali.

Subali terdiam. Lidahnya bagai tersimpul mati. Ia melihat iblis menyeringai di atas kepala Sudra.

Sudra menghentikan gerakannya, lalu menangis. “Lelaki inilah yang membelikan susu anak kita. Lelaki ini bukan orang sembarangan.”

Subali terdiam cukup lama. Bahkan demi cinta, ia rela membunuh Raja Dedemit sekalipun. Bukan orang sembarangan, kalimat itu tak cukup kuat untuk membuat bulu di tengkuknya berdiri.

Lelaki itu menyulut sebatang kretek, lalu berjalan mondar-mandir. Di depannya Sudra yang belum sempat berbusana. Subali menyedot rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya pelan-pelan. Matanya terpejam, menikmati sensasi anyir darah yang menyatu bersama aroma tembakau.

“Aku tahu. Lalu kenapa?” tanya Subali. Asap rokok bergulung-gulung. Aroma tembakau menindih anyir darah yang mengambang ke seluruh ruangan.

“Dia Anggota Dewan.”

Subali meludah sekali lagi. Jabatan itu membuat rasa mual muncul di kerongkongannya. Ingin rasanya ia mengisahkan tentang aksinya sepuluh tahun yang lalu. Entah sudah berapa kepala ia penggal dengan jabatan yang serupa. Apa takutnya? batin Subali. Ia bahkan merasa sebagian dari mereka memang pantas untuk dipenggal. Seperti halnya mereka yang kerap memenggal hak-hak orang jelata, berjuang atas nama kaum jelata tapi mencuri uang mereka tanpa rasa berdosa.

“Aku tidak takut.”

“Polisi akan memburumu.”

“Polisi?”

Subali membuang muka. Sudra tak pernah tahu kalau dulu ia yang memburu polisi, bukan polisi yang memburunya. Para polisi tak pernah mau cari gara-gara dengannya. Ingin ia mengisahkan jika pada suatu malam, ketika ia menggorok leher Kapten Santoso. Kepala satuan polisi yang kerap menjadi beking rumah bordil dan rumah judi itu mati dengan luka menganga di lehernya.

“Aku tidak takut.”

“Mereka pasti akan membalas dendam dan membunuhmu.”

“Aku juga tidak takut.”

“Tapi aku yang takut. Aku takut kehilanganmu!”

Sudra akhirnya menyerah. Air matanya meruah, melunturkan bedak murahan di pipinya. Bagaimanapun, memang hanya Subali yang menganggapnya perempuan mulia. Hanya Subali yang bisa menerima segala noda hitam di tubuhnya. Walaupun lelaki itu adalah jelmaan iblis, namun di matanya, Subali adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaganya.

“Aku akan baik-baik saja. Sudahlah. Sebentar lagi subuh. Aku akan pergi. Tak usah cemas. Jaga saja Melati, aku akan pulang jika situasi benar-benar aman.”

Subali dan Sudra berpelukan, seolah-olah itu pelukan terakhir yang bisa mereka lakukan.

***

Kereta malam melesat kencang. Remang membayang di bawah sinar lampu merkuri. Subali berlari pincang. Kakinya berdarah, timah panas melubanginya. Ia lari dari kejaran enam orang lelaki berambut cepak yang meneriakinya agar berhenti. Namun Subali tak peduli. Ia terus berlari dan berlari, menyeret kakinya yang tak henti mengukir jejak darah di tanah dan rerumputan.

TAAR!

Satu letupan keras terdengar. Lelaki itu tersungkur. Debu-debu berhamburan, serupa anai-anai yang dilambungkan angin kemarau. Satu peluru menerpa punggung hingga tembus ke bidang dada. Tetapi Subali belum juga mati. Ia enggan untuk mati. Lelaki itu menggeletar dan menggeliat, sambil menatap langit dini hari. Dua wajah terbayang di matanya. Wajah Sudra dan Melati. ***


Adam Yudhistira Bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di media massa cetak dan daring di Tanah Air. Saat ini mengabdikan diri untuk mengelola Taman Baca Masyarakat Palupuh untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerita pendeknya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).