Katalog

Cerpen

Subali

Cerpen Adam Yudhistira

Malam itu adalah malam ke sekian Sudra pulang dengan lebam di pelipis, gaun malam murahannya robek di bagian bahu, bekas cakaran memanjang di leher. Subali tak bertanya apa pun. Perempuan itu juga tak banyak berkata-kata. Ia hanya meletakkan sebungkus nasi goreng di atas meja, lalu mengganti gaun malamnya dengan daster kembang-kembang. Setelah itu, ia meringkuk, memeluk tubuh Melati sambil menangis.

Malam esoknya, Sudra kembali berdandan rapi. Bibirnya dipoles gincu merah menyala. Sebuah tas tangan mungil tergantung di lengan kirinya. Subali tahu isinya; wadah bedak, sepotong pensil alis, dan sepotong lipstik murahan. Itu semua peralatan Sudra bekerja. Sesaat sebelum pergi, perempuan itu selalu berpesan; tolong jaga Melati.

“Kita akan menyudahi penderitaannya,” bisik Subali seraya mengecup bilah belati di tangannya. Hawa hangat mengalir dari mulutnya, menciptakan embun di permukaan belati yang berkilauan.

Subali adalah lelaki yang terbiasa hidup di bawah sumpah serapah. Dari pelosok kumuh metropolitan, biang iblis membesarkannya. Tangannya berlumur dosa-dosa. Subali membenci hidupnya dan melaknati masa lalu yang tak pernah bisa ia bersihkan. Ia tak pernah mengenal siapa bapaknya. Yang ia ketahui hanya satu; ibunya pelacur yang mati dibunuh pelanggannya. Perempuan malang itu dituduh telah menularkan penyakit hina.

Penderitaan membentuk jiwanya menjadi makhluk yang menyimpan kemarahan. Segala jenis kejahatan pernah ia lakukan. Desing peluru petugas bagai nada sumbang lagu dangdut yang menggema tak bermakna. Tetapi, itu dulu, sepuluh tahun yang lalu. Sebelum ia mengenal Sudra.

Ia menamai perempuan itu Sudra, sebab begitulah adanya. Rendah dan tak berharga. Kasta paling bawah yang mungkin setara dengan binatang di hutan belantara. Sudra adalah pelacur. Sudra mengingatkan Subali pada ibunya.

Bersama Sudra, ia menjajal hidup yang berbeda. Cinta mereka pun menumbuhkan satu tangkai bunga. Bunga kecil itu terlahir dari kubangan nista. Tapi benih cinta yang mereka semai, jauh dari noda ibu-bapaknya. Subali memberinya nama Melati.

“Ibunya lonte, bapaknya berandal!”

Begitulah tajamnya kata mengoyak jiwa Subali dan Sudra. Kerap tangis mengalun di bibir Sudra ketika tengah memeluk Melati yang sedang tertidur lelap. Tangis itu membakar dada Subali. Jika saja itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, tentu ceritanya akan berbeda.

Membunuh adalah hal yang paling gampang bagi Subali. Tapi ia telah bersumpah. Sisi hitam dirinya telah dikemasi, tersimpan rapi di dalam brankas besi dengan satu doa; semoga iblis itu tak pernah kembali. Subali mengupas semua dosa gelap yang menyamaki kulitnya. Hidup berdamai dengan kemiskinan. Berjuang keluar dari lingkaran setan kemelaratan.

Orang-orang bijak berkata, hidup berputar seperti roda. Kadang di bawah, kadang di atas. Tapi peribahasa itu tak berlaku untuk Subali. Sekian lama ia menunggu, tapi putaran roda itu tak kunjung bergerak ke atas.

Mungkin jika karma itu ada, Subali sedang menjalaninya. Kesulitan demi kesulitan bagai gelombang yang terus datang. Dan kesulitan itulah yang  membuat Subali tak kuasa menolak ketika Sudra ingin menempuh jalan hidupnya yang lama: menjadi pelacur.

Bibir lelaki itu tak kuasa berkata-kata. Ia terhenyak ditampar kenyataan. Rupanya keyakinan saja tak cukup untuk melawan kemiskinan. Malam itu kembali Sudra pulang membawa lebam. Subali sadar jika Sudra bukanlah perempuan suci. Namun cinta tak pernah berdusta. Setiap kali melihat bilur-bilur luka di tubuh Sudra, dadanya menyala dendam yang membara.

***

Tubuh tambun itu rebah bersimbah darah. Di lantai, sebilah belati tergeletak. Vas bunga pecah berantakan. Ada sisa darah mengering di kepingannya. Kursi, meja, semuanya tak lagi tertata. Iblis itu lahir kembali. Ia kembali pada wujudnya yang lama.

“Kau telah membunuhnya,” ucap Sudra membuyar lamunan Subali.

Subali mendengus. Hatinya tersulut cemburu saat Sudra terdengar menyesalkan perbuatannya. “Diamlah! Aku memang  telah membunuhnya, lalu kenapa?” hardiknya.

Sudra hilir mudik,  langkah kakinya bolak-balik. “Apa yang harus aku lakukan? Aku bisa masuk penjara. Aku tak mau masuk penjara. Melati masih membutuhkan kita.”

“Katakan saja pada petugas kalau para berandal pembunuhnya.” Subali menjawab santai tanpa beban. Ada kepuasan di matanya. Ia mengelap sisa-sisa darah di belatinya. Iblis terbahak, mengejek sepasang tangannya yang kembali berlumur dosa.

“Apakah mereka akan percaya?” tanya Sudra bimbang.

“Ya, mereka akan percaya,” jawab Subali.

Sudra duduk di tepi ranjang. Spreinya kusut, tempat tadi ia dan lelaki tambun itu larut bergelut.

“Kenapa kau bunuh dia? Aku rela menerima perlakuannya.”

Subali terbahak, lalu meludah. Gumpalan ludahnya mendarat telak di wajah beku lelaki yang baru saja menggeluti tubuh istrinya.

“Karena aku mencintaimu.”

“Tapi, kau tak perlu membunuhnya!” Nada suara Sudra meninggi. Ketakutan mencengkram dadanya. Ketakutan yang sesungguhnya tak perlu ia sesali jika ia sadar bahwa  wujud asli Subali bukan orang suci, apalagi nabi. Subali adalah iblis.

“Jika bukan aku yang membunuhnya, maka kaulah yang akan dibunuhnya.”

Sudra menyeringai. Seringainya menakutkan. Ia bangkit, lalu merampas belati di tangan Subali. “Aku bisa membunuhnya jika aku mau!” sentaknya sembari menikamkan belati itu ke perut lelaki tambun berkali-kali.

Subali terdiam. Lidahnya bagai tersimpul mati. Ia melihat iblis menyeringai di atas kepala Sudra.

Sudra menghentikan gerakannya, lalu menangis. “Lelaki inilah yang membelikan susu anak kita. Lelaki ini bukan orang sembarangan.”

Subali terdiam cukup lama. Bahkan demi cinta, ia rela membunuh Raja Dedemit sekalipun. Bukan orang sembarangan, kalimat itu tak cukup kuat untuk membuat bulu di tengkuknya berdiri.

Lelaki itu menyulut sebatang kretek, lalu berjalan mondar-mandir. Di depannya Sudra yang belum sempat berbusana. Subali menyedot rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya pelan-pelan. Matanya terpejam, menikmati sensasi anyir darah yang menyatu bersama aroma tembakau.

“Aku tahu. Lalu kenapa?” tanya Subali. Asap rokok bergulung-gulung. Aroma tembakau menindih anyir darah yang mengambang ke seluruh ruangan.

“Dia Anggota Dewan.”

Subali meludah sekali lagi. Jabatan itu membuat rasa mual muncul di kerongkongannya. Ingin rasanya ia mengisahkan tentang aksinya sepuluh tahun yang lalu. Entah sudah berapa kepala ia penggal dengan jabatan yang serupa. Apa takutnya? batin Subali. Ia bahkan merasa sebagian dari mereka memang pantas untuk dipenggal. Seperti halnya mereka yang kerap memenggal hak-hak orang jelata, berjuang atas nama kaum jelata tapi mencuri uang mereka tanpa rasa berdosa.

“Aku tidak takut.”

“Polisi akan memburumu.”

“Polisi?”

Subali membuang muka. Sudra tak pernah tahu kalau dulu ia yang memburu polisi, bukan polisi yang memburunya. Para polisi tak pernah mau cari gara-gara dengannya. Ingin ia mengisahkan jika pada suatu malam, ketika ia menggorok leher Kapten Santoso. Kepala satuan polisi yang kerap menjadi beking rumah bordil dan rumah judi itu mati dengan luka menganga di lehernya.

“Aku tidak takut.”

“Mereka pasti akan membalas dendam dan membunuhmu.”

“Aku juga tidak takut.”

“Tapi aku yang takut. Aku takut kehilanganmu!”

Sudra akhirnya menyerah. Air matanya meruah, melunturkan bedak murahan di pipinya. Bagaimanapun, memang hanya Subali yang menganggapnya perempuan mulia. Hanya Subali yang bisa menerima segala noda hitam di tubuhnya. Walaupun lelaki itu adalah jelmaan iblis, namun di matanya, Subali adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaganya.

“Aku akan baik-baik saja. Sudahlah. Sebentar lagi subuh. Aku akan pergi. Tak usah cemas. Jaga saja Melati, aku akan pulang jika situasi benar-benar aman.”

Subali dan Sudra berpelukan, seolah-olah itu pelukan terakhir yang bisa mereka lakukan.

***

Kereta malam melesat kencang. Remang membayang di bawah sinar lampu merkuri. Subali berlari pincang. Kakinya berdarah, timah panas melubanginya. Ia lari dari kejaran enam orang lelaki berambut cepak yang meneriakinya agar berhenti. Namun Subali tak peduli. Ia terus berlari dan berlari, menyeret kakinya yang tak henti mengukir jejak darah di tanah dan rerumputan.

TAAR!

Satu letupan keras terdengar. Lelaki itu tersungkur. Debu-debu berhamburan, serupa anai-anai yang dilambungkan angin kemarau. Satu peluru menerpa punggung hingga tembus ke bidang dada. Tetapi Subali belum juga mati. Ia enggan untuk mati. Lelaki itu menggeletar dan menggeliat, sambil menatap langit dini hari. Dua wajah terbayang di matanya. Wajah Sudra dan Melati. ***


Adam Yudhistira Bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di media massa cetak dan daring di Tanah Air. Saat ini mengabdikan diri untuk mengelola Taman Baca Masyarakat Palupuh untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerita pendeknya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Buku, Resensi

Kembali ke Akar Kata

Oleh: Alexander Robert Nainggolan

Puisi acapkali bersinggungan dengan kondisi keseharian penyairnya. Setidaknya ia menghimpun sejarah panjang yang melingkupi dari peristiwa itu. Maka apa yang dituliskan Kiki Sulistyo dalam kumpulan puisinya, dengan kembali ke dalam khazanah lokal (keseharian) dari lingkungan kehidupan menjadi sebuah cara unik untuk tetap menggali akar tradisi yang ada.

Jarang penyair yang mengangkat kultur kehidupan lokal yang ada. Dalam pembukanya Kiki mengisahkan perjalanan puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini, ia bercerita tentang sebuah dusun, kehidupan berpindahnya yang turut merekam segala peristiwa. Komunikasi yang kerap “mengganggunya”, namun menjadi bahan dasar dalam puisi-puisinya. Adalah bahasa Sasak sebagai komunikasi verbal yang juga turut imbas dalam gubahan puisinya. Maka insulin itu pulalah yang menjadi pemacu, saat ia merasa ada gangguan, namun lewat percakapan itu, Kiki justru menemukan sebuah instrumen yang baru. Istrumen yang kembali ia endapkan ulang, sebagai suatu nada yang bersahutan. Temali dengan imajinasinya.

Keunikan tradisi yang turut pula memengaruhi puisi-puisinya. Terasa memang bagaimana Kiki menghimpun diksi-diksi, dengan merangkum pelbagai alat, benda, tanda,  nama panggilan, tempat, ataupun aura bunyi yang terasa mistis. Ini yang menjadikan puisi-puisi dalam buku ini begitu unik.

Dan Kiki menulis: kusebut tenggara saat kau sebut pertengkaran, -antara mereka,/kelasi dan pencuri di kapal yang berlayar menuju Ampenan//…duyung itu bibi, datang pada suatu hari dengan rambut/berkepang//matanya lengkung limau muda, kulitnya lempung pulau sokotra//…hanya kelasi yang mengerti mengapa kini kota ini sekisut kuping/bayi//sebab ia tua oleh suara ombak menolak usia, ia celaka oleh upaya menjadi baka//(“Rawi Tanah Bakarti”, Hal. 12-13)

Ihwal Pasar Malam turut dicatat Kiki dalam puisi. Sebuah pasar malam, menjadi sebuah penanda permainan yang ada di dalamnya: kuda sirkus, bayi, orang kerdil, dan pembaca kartu. Ia menulis:

Perempuan itu datang membawa kartu/ di belakangnya seekor anjing buta/ menyeret sembilan tempurung, suaranya berdengung/setiap ia melulung, di angkasa ruh-ruh berwarna biru/ bergerak baghai wabah/perempuan itu menyalakan pelita, api berkedip/seperti mata siluman dalam botol limun/yang berkilau-kilau/kartu-kartu di tangan perempuan itu terbuka satu per satu/gambar-gambar di dalamnya jatuh ke tanah/hidup dan tumbuh:/cacing air yang terus-menerus mengisap cahaya/wayag yang meniup bayangannya sendiri/seorang menak tanpa kepala, tangan kiri yang merayap seperti kepiting./perempuan itu menunjuk ke ladang, bintang-bintang/padam di rambut setiap orang// (“Pembaca Kartu”, hal. 26). Terasa bagaimana Kiki menjaga keutuhan diksi puisinya. Rimanya terjaga dan tertib. Ia seperti tidak menyisakan celah lain, kata-kata menjadi lebih hidup dan menggambar maknanya sendiri.

Buku ini terbagi jadi empat bagian: Rawi Tanah Bakarti, Kitab Batu, Rumah Juru Tenun, Bakar Padi di Bakarti. Di setiap bagian, puisi-puisi saling bersinggungan, sehingga menciptakan peristiwa-peristiwa yang baru. Terasa bagaimana Kiki konsisten menjaga setiap bagian-bagian puisinya agar senantiasa berhubungan antara satu dengan lainnya.

Beberapa puisi menghadirkan pengulangan kata. Kata yang diulang tersebut menciptakan landai panjang saat membacanya, namun tetap menciptakan kelindan lain. Saat kata bertemu dengan kata yang lainnya. Pengulangan kata-kata itu menciptakan harmonisasi, yang lebih mirip nada pada sebuah lagu.

Bakarti

Sebagian besar buku ini, mengambil tema tentang Bakarti. Kiki merincikan dalam pelbagai pilahan, yang sekaligus meminta hasrat untuk tetap terjaga membacanya. Membentuk untaian, meramunya dengan pelbagai mitos dan dongeng yang kerap terjadi. Ia, meskipun tidak melakukan penelitian secara khusus, namun terasa bagaimana keseriusan yang dikerjakannya. Kiki seakan terjaga untuk tetap mengamati, setiap hal—ihwal yang terjadi di Bakarti. Dengan rinci, Kiki menjabarkan setiap peristiwa, lalu memberikan sentuhan metafora yang kadang tak terduga.

Tidak hanya Bakarti, Kiki juga memotret dengan lugas tentang penantian seorang Ibu akan kepulangan anaknya. Namun ternyata ada luka kehilangan yang kemudian ditemui:

Ibu tidur di beranda. Siaran radio meresap kulitnya./Sebelum tidur ia dengar suara pesawat melintas lambat./ Ia bayangkan putranya di dalam sana, hendak pulang./ Ia bayangkan hutan-hutan sawit melengkungkan punggung/remaja/yang potret masa kecilnya buram di dinding kamar.//Tunas tomat merekah tanah, sedikit di sebelah kanan rumah./Tapi tak ada pekerjaan, cara menghabiskan usia/di bawah langit yang sama semenjak sepasang pendosa/dibuang dari surga. Juga untuk menerima/bahwa para pembuat pepatan telah berdusta. Tak ada surga./Tak ada tongkat. Dan batu-batu tak diangkat derajatnya.// Ibu tidur di beranda. Dalam tidurnya, ia saksikan perahu kayu/mengangkut penumpang gelap. Hanyut ke rawa-rawa berasap./Sirine, sorot lampu, teriakan-teriakan dalam bahasa Melayu./Ia bayangkan putranya diturunkan dari pesawat. Terbaring pucat/ dalam peti yang engsel-engselnya mulai berkarat,// (“Ibu Tidur di Beranda”, hal. 95)

Kiki telah menciptakan langkah yang baru bagi perkembangan puisi. Pelbagai kosakata baru mengerubungi puisi-puisinya. Yang ternyata menciptakan makna baru pula, ia seperti mengorek ke akar kata. Membiarkan puisi-puisinya dihuni dengan kata-kata yang jauh dari kelaziman.

Melalui buku ini, Kiki telah memberikan corak yang baru dalam dunia perpuisian kita. Ia telah menghadirkan bentuk puisi yang baru, kembali ke tradisi lokal, hal yang mulai terlupakan selama ini. Ia kembali jauh di kedalaman akar kata, bagi puisi-puisinya.

Alex R. Nainggolan, lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Saat ini bekerja di Jakarta. Tulisannya berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di pelbagai media cetak mauapun online. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016). Bisa dihubungi : [email protected]

Cerpen

Sejak Ishak Ditangkap

Cerpen Jeli Manalu

Kini, sesudah malam penangkapan itu, cahaya hanya garis-garis dari lubang ventilasi. Tak ada detak jam dinding sebagaimana ketakutan jantungku ketika ada yang memukul gembok tempat tinggalku. Lalu yang kuingat: derit pintu, sepasang sepatu yang masuk, nasi berisi lauk berantakan, sebotol minuman, dan air pencuci tangan. Malam itu, pada pukul dua puluh dua ada yang menelepon. Ishak belum sempat mandi dan langsung mengenakan seragamnya sehabis kembali dari pertemuan penting. Telepon berdering lagi. Isyarat tubuh Ishak sangat lain. Wajahnya kaku. Tatapan matanya menuju satu titik tapi aku yakin ia tidak sedang melihat titik itu.

Aku menuang teh tak bergula ke cangkir keramik setinggi telunjuk Ishak dengan perasaan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana menyimpulkannya, namun seluruhku seakan runtuh. Gemetaran aku mengambil nampan. Kupegang dengan tangan kiri dan segera mengepitnya. Setelahnya keningku menubruk dinding saat letusan keras seperti menombak ke ceruk dadaku dan kupikir itulah saatnya aku mati.

 Dalam keadaan kalut kupaksakan diri naik ke meja dan memegang sudut lemari agar bisa mengintip. Sosok-sosok seperti gorila mendobrak pagar, merusak bunga lalu dahan-dahan mudanya berpatahan. Lututku lemas. Jantungku memacu lebih cepat, aku segera turun meraih tangan Ishak yang dinginnya sedingin tanah malam di tepi danau, “Kutitipkan anak-anak,” kata Ishak, mencium dahi dan memeluk diriku yang juga beku, “jaga dirimu,” tutupnya. Ia kemudian berjalan tanpa pernah menoleh lagi ketika dirinya digiring ke sebuah truk berisi benda jahat yang tak kuketahui namanya.

Dari kisi jendela kutatap ia sampai yang terlihat hanya malam, hingga yang ada seperti udara dipompakan ke balon kecil hingga sesak dan balon itu adalah dadaku. Udara dalam balon itu darahku yang bergelegak panik. Lalu nyeri menjalar ke hatiku. Tolong jangan bawa suamiku. Tolong kembalikan ia padaku, ujarku.

Saat kupikirkan orang yang menganggap Ishak penghalang kariernya maka aku mulai paham tempat pengasingan itu, segera kupersiapkan diri sebaik-baiknya. Pistol di lemari khusus milik Ishak. Tinggal dor! Selesai,pikirku.Tapi itu tidak mungkin, “Tanganmu tercipta bukan untuk berperang, Sayangku. Jadi ratu dan malaikat bagi anak-anak kita, itu saja,” ujar Ishak suatu hari, sembari memetik setangkai mawar dan menyelipkannya di daun telingaku.

Karenanya kuputuskan membawa tongkat bambu. Sebilah belati. Kalung berliontin patung Kristus yang bercahaya saat bertemu gelap. Kalung itu hadiah pernikahan yang Ishak dan aku dapatkan dari Ambolas, lelaki yang kemudian benci pada suamiku. Mereka dulunya sahabat karib. Berteman sejak SD, masuk SMP dan SMA sama hingga menempuh pendidikan kemiliteran. Ambolas membantu kami di awal-awal. Meminjamkan rumahnya kutempati selama Ishak bertugas di pedalaman Sumatera. Ia bilang, “Anggap saja aku kakakmu.” Tapi karena pola pikir Ambolas dengan Ishak bertolak belakang, sejak itulah banyak hal berubah.

Menempuh perjalanan selama berjam-jam ditemani tongkat bambu, belati serta kalung berliontin patung Kristus, di tepi tebing di mana aku bertemu kepala-kepala remuk tak kudapati wajah Ishak. Apa ia berusaha melarikan diri? Apa ia rasakan sakit saat dipukuli lalu memanggil namaku dengan suara yang cuma tertahan di dalam?

Yang kulakukan saat itu, lekas-lekas meredam perasaan. Cahaya kalung berliontin patung Kristus dari leherku memperlihatkan seonggok amis berdarah-darah. Aku melepas baju seseorang itu kemudian mengenakannya di badanku. Maka kalau ada gorila atau pemuja Ambolas tak sengaja menginjakku, jika ia mengarahkan senter, aku lelaki berbaju menjijikkan yang tak menjerit bila ditendang.

Setelahnya, aku menembus kebun nanas dilanjut ladang jeruk purut di mana di tengah-tengah ladang itu ada semacam terowongan yang tidak diketahui banyak orang, seperti yang pernah diceritakan Ishak,. Di sana telingaku selalu awas. Kutahan napas tersengal-sengal karena indra penciuman ‘ular’ kupercayai tajam—tak tahu bagaimana aku memikirkan teori murahan itu. Aku tak pernah baca kisah yang membahas tentang ide semacam itu. Nyatanya, ketika aku tidak bernapas sebanyak tiga puluh tiga hitungan yang hampir membuatku mati konyol, berkat bantuan sinar liontin patung Kristus di leher, aku melihat ‘ular’ besar yang lewat namun cuek-cuek saja.

Setelah si ‘ular’ berhenti di ujung mataku, terlemparlah tubuh Ishak. Andai bisa bela diri sudah kumatikan setan-setan ini, pikirku. Aku tertawa menangis menikmati perih suamiku saat dadanya dimasuki peluru. Dan sesudah hening serta tak ada cahaya aku berlari menemui Ishak. Kudekap tubuhnya yang masih hangat. Kuciumi wajahnya. Bibir matinya kutuntun menuju keningku. Aku mengambil kedua tangannya lalu melingkarkan tangan itu ke tubuhku seolah-olah ia sendirilah yang melakukannya.

Kemudian jasad Ishak kubopong melewati sungai gelap sambil memegangi semak rumput di sekitarnya, dan hari sudah sangat siang ketika aku tiba di depan rumah. “Jo!” panggilku, keras-keras, agar pintu segera dibuka. “Sam!” teriakku lagi, sebab Jo tak kunjung menyahut tetapi ada suara di dalam sana. Elis, putri manisku berumur lima tahun itu mungkin berlama-lama di kamar mandi. Kubayangkan ia menekan odol stroberi banyak-banyak. Menggosok gigi sambil bercermin karena mamanya yang cerewet tidak ada. Mungkin ia tumpahkan sabun cair, masukkan sampo dalam ember penuh air. Ia acak-acak air itu, lalu menangkap gelembung-gelembungnya.

Ketika tubuh Ishak kusandarkan ke pintu dan pintu langsung terbuka, aku tak menyangka dengan rumah yang amat berantakan. Buku-buku berserakan. Lukisan-lukisan kesayangan Ishak pecah. Perabotan berhamburan. Di TV kulihat wajah Ambolas dan para pemujanya: ingin kukunyah rasanya orang-orang itu.

“Jo! Sam!”

Replika senapan menggeletak di kasur. Di lantai ada ceceran saos tomat mengering yang anyir. Aku turun lagi dan lekas-lekas matikan TV sebab telingaku menangkap tangisan kecil dari arah kamar mandi.

Kudobrak pintu itu. Ember besar bertutup goyang. Dari sana Elis muncul, dan dalam keadaan gemetar memeluk perutku. Pakaiannya basah. Rambutnya basah. Muka penuh sabun. Mata bengkak memerah. Aku tak tahan melihat air mata bercampur ingus meleleh ke bajunya, aku menciumi anak gadisku itu.

“Abang …,” suara Elis bergetar.

“Kenapa Abang?”

“Abang dipu-kul, di sa-na,” ia menunjuk gudang dengan suara patah-patah.

Jo dan Sam kutemukan meringkuk dalam got. Cairan merah menetes-netes dari kulit keduanya, mungkin terkoyak sesuatu saat lari untuk menyembunyi.

“Apakah sangat sakit, Nak?”

“Apa Mama masih hidup?”

Aku mengangguk. Ketiga anakku merangkulku dan mendekatkan masing-masing telinga mereka ke dadaku.

“Tapi papa kita sudah tak ada,” ujarku.

“Bila aku meniupkan udara ke mulut Papa, apa Papa akan bangun, Ma?” aku tertegun melihat pipi Elis yang membesar lalu berkali-kali mengembuskan udara ke mulut Ishak, beristirahat sebentar, mengulanginya lagi, dan saat itu kami semua menangis tersedu-sedu.

Pada hari yang sama Ambolas diangkat jadi gubernur. Kubawa jasad Ishak ke hadapannya. Para wartawan merekamnya. Orang-orang mungkin mengabadikannya dalam catatan sejarah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Aku kini semakin tua dan kering. Aku terpenjara hati serta tubuh. Tak pernah lagi melihat pagi, siang, malam, dan setiap waktu pekerjaanku hanya menajam-najamkan ingatan akan wajah keluargaku. Kata orang-orang itu, aku menghilangkan nyawa anak-anakku dan mesti dihukum seberat-beratnya.

Kau, apa percaya hal semacam itu? **

Riau, Maret 2016-2019


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 Oktober 1983. Penikmat sastra dan menulis cerpen. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcernya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)

Buku, Resensi

Tagore di Zaman Ramai

Oleh Bandung Mawardi

Rabindranath Tagore (1861-1941), pujangga besar asal India, dikagumi bangsawan dan intelektual Jawa. Kagum atas puisi-puisi dan tata cara mengadakan pendidikan-pengajaran. Bentuk kagum diwujudkan dalam penerjemahan puisi dan ulasan pelbagai gagasan pendidikan dalam bahasa Belanda dan Jawa. Dua orang penting di pemuliaan Tagore adalah Noto Soeroto dan Soerjo Soeparto (Mangkunegara VII). Dua intelektual itu menekuni tulisan-tulisan Tagore saat menempuh studi di Belanda.

Soerjo Soeparto dianggap penerjemah awal puisi-puisi Tagore ke bahasa Jawa. Ia mungkin merasa ada ikatan batin imajinasi Tagore dengan batin kejawaan. Sejak ribuan tahun, Jawa turut dibentuk dengan kucuran imajinasi asal India. Pada abad XX, kemunculan Tagore sebagai peraih Nobel Sastra 1913 mengundang minat intelektual Jawa untuk memasuki jagat sastra memiliki tautan India-Jawa. Noto Soeroto tampil sebagai penerjemah Tagore ke bahasa Belanda. Bangsawan pernah berkancah di politik tapi “tersingkirkan” oleh kaum nasionalis itu malah rajin pula menggubah puisi dan artikel terpengaruh Tagore. Buku-buku bereferensi Tagore diterbitkan di Belanda, sempat beredar di Hindia-Belanda (Harry A Poeze, Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, 2008).

Pikat ke sastra Tagore terjadi pula di Hindia-Belanda. Muhammad Yamin dan Amir Hamzah ada di muka dalam penerjemahan dan pengenalan Tagore ke umat sastra di Indonesia masa 1920-an dan 1930-an. Sekian terjemahan terbaca dan menebar pengaruh dalam sastra, pendidikan, dan religiositas. Tagore tak terasa asing. Pada masa 1920-an pula, Tagore berkunjung ke Jawa: Mangkunegaran dan Perguruan Nasional Taman Siswa. Pesona sastra Tagore semakin membesar dengan edisi-edisi terjemahan oleh Amal Hamzah, Anas Ma’ruf, dan Hartojo Andangdjaja. Tagore seperti bertanah-air di Indonesia, ada di arus perkembangan sastra modern bercap estetika Timur.

Dua buku terjemahan sering diulas di Indonesia adalah Gintanjali dan Tukang Kebun. Pada masa lalu, Gitanjali diterjemahkan oleh Amal Hamzah. Edisi itu menjadi klasik tapi agak sulit terbaca bagi orang-orang sudah berbahasa Indonesia dengan EYD (1972). Pada 1976, Hartojo Andangdjaja melalui edisi bahasa Inggris memberi terjemahan Tukang Kebun. Pada akhir 2018, buku itu terbit lagi. Kita membaca (lagi) saat Indonesia terlalu ramai oleh politik dan agama. Di lembaran-lembaran sastra gubahan Tagore kita diajak menepi: menjalani renungan dan menempuhi bahasa estetis menampik politis.

“Apakah arti Tagore pada kita?” Kalimat itu ditulis Hartojo Andangdjaja berlatar abad XX. Kini, kita bias mengimbuhi dengan situasi abad XXI: “Apa suara Tagore terdengar jauh?” Pikat sastra Timur perlahan pudar, setelah umat pembaca di Indonesia cenderung terkesima ke pelbagai terjemahan sastra asal Amerika Serikat, Amerika Latin, Prancis, dan Jerman. Panggilan ke Timur masih terasa dengan sekian terjemahan sastra asal Jepang dan Tiongkok. Buku-buku asal India masih diterjemahkan tapi seperti meninggalkan Tagore di masa lalu. Di mata Hartojo Andangdjaja, persembahan sastra Tagore itu terlalu berarti, memerlukan puluhan paragraf.

Jawaban berbeda diberikan Goenawan Mohamad: “Memang di atas segalanya, Tagore adalah seniman. Kebebasan, kreativitas, kehidupan rohani: semua itu hal yang tak bias ditawar dari dirinya. Dari sinilah hidup dihayati sebagai keindahan dan kegembiraan yang tak kunjung putus, yang dikaruniakan Pencipta pada kita.” Pujian dituliskan pada 1968, masih di gelagat kesusastraan religius di abad XX. Pada masa berbeda, kesan atas Tagore itu menggenapi pengakuan mutu terjemahan Hartojo Andangdjaja. Kita beruntung mendapat Tukang Kebun, melintasi tahun-tahun untuk renungan di zaman terlalu ramai kata dan pemiskinan imajinasi religius.

Tagore bercerita: “Jika seorang pengembara, meninggalkan rumahnya, datang ke sini untuk berjaga semalam-malaman dan dengan kepala tunduk mendengar-dengarkan hingar kegelapan itu, siapakah akan membisikkan rahasia hidup ke telinganya, jika aku, menutup pintu, mencoba hendak membebaskan diriku dari ikatan fana?” Pengembara, tokoh di pencarian-penemuan hakikat. Ia bergerak tanpa lelah meski jeda dan istirahat pun diperlukan, bukan peristiwa nihil tapi tetap bergelimang makna di keinsafan. Hasrat ke menguak rahasia belum tamat, menanti di kepasrahan.

Kita membaca paragraf itu di keriuhan nasihat-nasihat beredar di media sosia. Beredar tanpa mengajak “pengembaraan” bersuasana “purba”. Tagore masih kita perlukan meski mata-membaca dan mata-renungan telah berganti ke mata-potret di putaran detik terlalu cepat. Rahasia terus disingkap secara serampangan dan kolosal. Kegelapan dimusuhi terang sepanjang hari. Gelap itu musuh di abad XXI, terlarang bagi nafsu kegirangan tak pernah usai. Kini, Tagore mungkin suara dari jauh. Kita mendengar lirih, susah mencari sumber atau mendekati dengan gemetar dan serius.

Pada cerita lain, Tagore mengisahkan: “Dia duduk di debu di bawah pohon. Bentangkan di sana alas duduk dengan bunga-bunga dan daunan, kawan. Matanya duka dan menimbulkan kedukaan dalam hatiku. Dia tidak mengatakan apa yang tersimpan dalam hatinya; dia hanya datang dan pergi.” Bahasa itu memang berasal dari masa lalu, sulit digunakan lagi bagi manusia-manusia biasa mengumbar rahasia ke ribuan orang setiap detik. Rahasia-rahasia puncak tak lagi diinginkan atau dianggap masih penting bagi manusia dan dunia. Diksi debu, pohon, bunga, dan daun milik penekun rahasia cenderung memilih diam ketimbang cerewet sembrono. Pada paragraf itu kita semakin tak mengerti peristiwa dan makna datang-pergi, setelah kecepatan menjadi dalil terpokok abad XXI. Datang-pergi itu rutin tanpa pendasaran ingin dan capaian berpijak religius.

Pada hari-hari peremehan rahasia, adegan membaca Tukang Kebun berisiko keterpencilan pembaca. Tagore milik orang terpencil? “Dan itulah Tagore. Ia telah membukakan kaki langit itu bagi kita,” tulis Hartojo Andangdjaja. Kaki langit dimaksudkan kita bergerak ke arah sumber rahasia. Bergerak dengan lirik-lirik mistis buatan Tagore. Manusia hari ini mungkin tak memerlukan mistis, memihak ke segala hal berselera politis dan bisnis agar merasa sah berada di kaum keramaian sepanjang hari. Mistis cuma milik orang memuja masa silam, masih berjalan di bahasa tak tergesa, dan belum dilanda keberlimpahan rupa-warna.

Tagore mengingatkan kita di akhir persembahan Tukang Kebun, percakapan dekat-jauh: “Siapakah engkau, pembaca, membaca sajakku seabad lama? Tak dapat aku mengirimkan padamu setangkai bunga pun dari kemewahan musim semi ini, segaris kencana dari awan-awan di jauh sana. Bukalah pintumu dan pandanglah ke luar!” Larik awal tak pernah diralat. Kini, kita membaca melebihi seabad laku, berbeda penghitungan waktu dari saat penggubahan sastra oleh Tagore. Semula, kita diperkenalkan dengan Rabindranath Tagore, dekat dan jauh. Di akhir, kita harus menjawab pada Tagore saat masih menempatkan diri sebagai pembaca di zaman ramai mulai kehilangan puisi di bumi-langit. Begitu.   

Bandung Mawardi.
Kuncen Bilik Literasi
Penulis di pengenangpuisi.wordpress.com

Cerpen

Kita Memang Bukan Sepasang Kekasih

Cerpen Mawar Dani

/1/

Padahal aku tahu betul bahwa tidak ada pertemanan murni di antara dua orang dewasa lawan jenis kecuali adanya rasa saling nyaman.

Suatu masa pertemuan terjadi karena campur tangan seseorang yang sangat kita kenal. Beliau yang menjadi perantara adalah temanku juga sepupumu. Tidak jelas motifnya apa tapi setelah perkenalan itu kita menjadi akrab.

Aku wanita berusia dua puluh delapan tahun. Sudah kenyang dengan pertanyaan ‘kapan nikah?’. Khatam rasanya sesak ketika di-bully dengan ucapan jodohnya sudah mati. Hari-hariku sungguh membosankan. Dari rumah ke kantor begitu sebaliknya, rutinitas hari efektif kerja.

Kau lelaki berusia hampir sama denganku. Memiliki kemiripan kisah dalam kehidupan. Bosan dicecar pertanyaan serupa denganku dan beberapa kali pernah gagal menjelang pernikahan.

Kita sama. Mungkin karena kemiripan pengalaman tersebut obrolan kita nyambung istilah zaman sekarang.

/2/

Perkenalan di hari ke empat puluh lima. Kita sama-sama punya urusan di sebuah kota bahkan di lokasi yang sama pula. Sebagai wanita yang merasa nyaman berhubungan denganmu, aku berharap kau punya inisiatif mengajak bertemu.

Sudah selesai urusannya?

Kau jawab sudah dan dalam perjalanan pulang.

Kenapa tidak menunggu aku? Supaya kita ketemu lagi.

Sekali lagi jawabanmu membuat dadaku sesak; punya urusan lain.

Perlu kau ketahui, pada saat aku mengutarakan keinginan untuk bertemu, wajahku memanas menahan rasa malu.

Baiklah kumaafkan. Barangkali ucapan sepupumu benar, kau lelaki pemalu. Meskipun aku terluka untuk pertama kalinya atas sikap itu, kita masih seperti biasa.

/3/

Memasuki hitungan enam puluh hari. Tidak ada tanda-tanda kemajuan yang berarti. Hubungan kita sebatas obrolan aktivitas sehari-hari. Meskipun kadang kau curhat serius masalah kehidupan pribadi di antaranya tentang keluarga.

Aku berkaca dari pertemanan yang sudah-sudah, di mana aku juga pernah berteman akrab dengan seorang laki-laki. Suatu hari ketika dia mengatakan akan menikah dengan perempuan lain, hatiku terluka.

Tidak ingin lagi terjadi hal yang sama.

Aku menggiringmu untuk bercerita tentang masa depan. Kehidupan berumah tangga. Kata orang, itu salah satu cara memberikan sinyal kepada seseorang yang disukai.

Ya. Senang mendengar rencana itu tapi tidak dengan kriteria pasangan impianmu. Harusnya aku segera menyadari.

/4/

Suatu hari dan aku tak ingin lagi menghitung bilangannya, kita kembali punya urusan di kota dan lokasi yang sama.

Kita akan bertemu.

Aku tersenyum malu membaca pesanmu. Selama mengenalmu, aplikasi perpesanan milikku menjadi ramai. Tidak ada lagi yang bernama kesepian.

Baiklah. Selesai urusan kita bertemu.

Sahutku penuh semangat. Aku berharap setelah pertemuan kedua ini, hatinya menjadi peka.

Masa itu tiba. Kita masing-masing telah menyelesaikan urusan.

Jadi bertemu?

Terserah.

Yakin nggak?

Terserah.

Harusnya aku sadar dan lebih awal membaca nasihat tentang kata terserah yang keluar dari mulut lelaki. Terserah adalah ungkapan menghargai perasaan wanita yang memiliki penolakan secara halus.

/5/

Aku memang bukan seorang istri. Kita belum menikah. Tapi sudah hampir dua minggu firasatku mengatakan ada yang berbeda. Ada yang berubah dari dirimu.

Aku bertanya sesuatu boleh?

Sangat jarang aku meminta izin seperti itu. Artinya ada sesuatu yang sifatnya penting.

Silakan.

Apa kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang?

Kenapa bertanya demikian?

Jawab saja ya atau tidak?

Iya. Aku sedang melakukan penjajakan dengan seseorang. Seperti inginku, dia cantik dan menarik. Memiliki pekerjaan yang layak diperhitungkan.

Oh, ada rencana untuk serius?

Doakan saja. Aku berharap begitu.

Baiklah. Aku senang mendengarnya.

Padahal aku tahu betul bahwa tidak ada pertemanan murni di antara dua orang dewasa lawan jenis kecuali adanya rasa saling nyaman.

Setelahnya, obrolan dari aplikasi perpesanan kuhentikan. Aku menuju cermin lalu berkaca. Wajah ini barangkali tidak memiliki nilai lebih menurut pandanganmu.

Ingin rasanya mengumpat tentang keputusan orang dalam menjatuhkan pilihan hati. Tapi menyalahkan pemberian Tuhan adalah dosa besar.

Sebagai seseorang yang sedang belajar meniti karir di dunia menulis, aku lumayan banyak membaca tulisan. Kata senior, untuk menjadi penulis hal penting selain latihan adalah banyak membaca. Dan aku pernah menemui sebuah nasihat; yang pergi akan segera mendapatkan ganti.

Entah siapa yang tepat dikatakan pergi, aku atau dirimu. Yang jelas setelah kuyakin kau benar-benar tertidur, segala aplikasi yang selama ini menjadi penghubung di antara kita kuputus. Aku dan kau pasti menemukan pengganti.

Aku tak peduli apakah kau butuh dukunganku di saat terjatuh atau tidak. Aku tidak ingin lagi menjadi pendengar setiamu tentang hobi, pekerjaan atau masalah yang menimpa.

Kita memang bukan sepasang kekasih. Meskipun kutahu aku menyimpan rindu yang besar untukmu.

BP Mandoge, 18 Februari 2019

Mawar Dani, berasal dari desa BP Mandoge Asahan. Saat ini tercatat sebagai pramubakti di KUA setempat. Penyayang kucing dan suka membaca kisah romantis

Cerpen

Apakah Kota Ini Bisa Menggambarkan Sebuah Perasaan

Cerpen Tjak S. Parlan

Kita berhenti di bagian ruas jalan yang kamu pilih. Di sepanjang jalur ini terpacak kursi-kursi taman yang nyaman bagi persinggahan para pejalan kaki. Di sisi jalan, sebuah taman kecil tertata asri. Kamu duduk di salah satu kursi itu seraya memandang ke sekitar. Udara terasa segar. Beberapa meter di depan kita, pasangan muda sedang mendorong kereta bayi. Lalu satu-dua orang yang berpapasan, tampak saling menyapa dengan ramah. Tiga orang petugas kebersihan, baru saja selesai menyapu jalanan basah. Ini bukan hari libur dan masih terlalu pagi untuk berjalan-jalan. Tapi aku begitu menikmati suasana seperti ini.

“Aku pikir tidak masalah kalau kamu duduk di sini. Kamu mau duduk di kursi ini? Di sebelahku?” tanyamu seraya tersenyum.

Aku berterima kasih padamu atas tawaran itu. Itu mungkin hal yang biasa bagi sebagian orang. Tapi agak merepotkan bagiku—dan aku tidak ingin lebih merepotkanmu lagi. Biar saja aku di kursi ini dulu. Masih terlalu pagi bagimu untuk membopong tubuhku dari kursi roda ini ke kursi yang sedang kamu duduki.

“Kamu kenapa?” tanggapmu seraya tertawa. “Kita dulu pernah sebangku, kan?”

Tentu saja. Aku masih ingat bahwa kita pernah sebangku dalam waktu yang cukup lama. Tapi kota yang berbeda akhirnya memisahkan kita sejak kita lulus SMP. Aku harus meninggalkan kota ini, mengikuti ayahku yang berpindah tugas di Kota P yang berbeda pulau.

“Selama itu, kamu tidak pernah kembali ke kota ini. Atau mungkin pernah, tapi kita tidak sempat bertemu. Apa benar begitu?”

Tidak. Memang tidak pernah. Aku juga tidak tahu mengapa kedua orangtuaku tidak pernah mengajakku menjenguk kota ini lagi. Kedua orangtuaku sepertinya terlalu sibuk di tempat tugasnya yang baru. Sementara, kami memang sudah tidak memiliki kerabat dekat yang masih tinggal di kota ini. Meskipun begitu, kedua orangtuaku tidak mau menjual rumah peninggalan kakekku. Ayahku malah mempercayakan perawatan rumah itu kepada ayahmu, kawan dekatnya sejak kecil dulu. Mungkin, ayahku diam-diam masih memendam keinginan, bahwa kelak akan kembali dan menikmati masa tuanya di kota ini.

“Aku kira kamu akan lebih lama di sini. Berapa hari lagi?”

Sebenarnya aku belum bisa memastikan akan berapa lama lagi berada di kota ini. Kamu tahu, awalnya aku iseng belaka. Tentu saja, tidak bisa dimungkiri bahwa aku juga memiliki rasa kangen pada tanah kelahiranku ini. Sekitar sebulan sebelum bencana itu, aku sempat mengikuti unggahan foto-foto di akun instagram-mu. Foto-foto yang mengingatkanku pada tempat-tempat yang pernah kukunjungi. Ada benteng Lama sehabis direstorasi, ada sekelompok seniman yang mengisi sebuah sore di kawasan Kota Tua, ada beberapa sudut yang instagramable di kawasan City Walk—di bagian ini ada kamu yang sedang duduk santai di sebuah kursi panjang yang terpacak apik di pinggir jalan, ada juga tempat-tempat tertentu yang membuatku pangling pada banyak hal di kota ini.

Tidak ada foto THR— tanggapku dalam sebuah komentar.

Butuh seminggu lebih untuk mendapatkan tanggapanmu. Sampai akhirnya, sebuah nomor yang tidak aku kenal, muncul di layar gawaiku. Aku membalas chat-mu. Lalu kita pun saling bercerita—cukup panjang sore itu. Kamu telah mendapatkan nomor WhatsApp-ku dari adikmu—Seruni— yang kerap terlihat bersamaku menaiki komidi putar pada malam-malam tertentu ketika aku masih kecil dulu.

“Kamu tidak bisa naik komidi putar lagi,” katamu seraya tertawa.

Tapi entah mengapa, ketika aku sedang berusaha memutar kursi roda—dan tersandung bagian paving block yang bergelombang karena desakan akar-akar pohon— agar lebih dekat denganmu, kamu berusaha meralat apa yang baru saja kamu katakan itu.

“Bukan, bukan. Maksudku, Taman Hiburan Rakyat itu sudah ditutup untuk selamanya,” katamu seolah merasa bersalah. “Ada yang bilang mau dipindahkan. Entahlah.”

Aku segera menepuk pundakmu. Beberapa kali tepukan kecil. Pada saat itu aku menduga-duga, mungkin inilah pertama kalinya aku melakukannya—ya, menepuk pundakmu. Atau bisa saja, sepuluh atau lima belas tahun lalu aku pernah melakukannya. Mungkin pada suatu sore, saat aku mengejutkanmu di depan benteng Lama? Apa kamu pernah mengingatnya? Apakah seseorang bisa mengingat hal-hal kecil semacam itu? Aku sendiri merasa bahwa beberapa hal terkadang memang terlintas. Beberapa cukup jelas. Sisanya samar-samar belaka.

“Oh, iya. Kamu masih ingat Jagad?”

Aku berusaha berpikir, mengingat-ingat, apa ada nama seseorang yang kamu sebutkan tadi pada masa kecilku. Samar-samar, aku menemukan sosok anak laki-laki yang paling tambun sekaligus pendiam di dalam kelas. Tapi kalau ingatanku tidak keliru, anak itu pindah ke kota lain setelah lulus SD, sehingga aku tidak pernah mendengar kabarnya sama sekali setelah itu. Ada apa dengan kawan lama kita itu?

 “Dia meninggal sewaktu menjadi relawan di Kota P. Kecelakaan,” katamu lirih.

Lalu kamu menceritakan sedikit perihal kisah duka itu. Kamu juga mengungkapkan penyesalanmu karena tidak bisa banyak membantuku sewaktu bencana itu terjadi. Aku memang telah kehilangan banyak hal. Tapi itu sudah terjadi. Sekarang aku di sini dan masih ingin melanjutkan hidup. Tentu saja, rasa kehilangan itu belum bisa hilang dari diriku. Bahkan aku yakin, perasaan semacam itu tidak akan pernah benar-benar hilang dari hidupku.

“Ya, Tuhan. Harusnya aku tidak perlu menceritakan hal semacam ini kepadamu. Sudahlah, kita nikmati saja kota ini,” katamu seraya mendorong pelan-pelan kursi rodaku. “Kita akan ke mana?”

Aku mengangkat tanganku, dan menyerahkan diriku pada tujuan berikutnya yang akan kamu pilih pagi ini. Aku mengikuti arah yang kamu kendalikan sepenuhnya. Aku tidak ingin menolak apa-apa hari ini. Udara terasa semakin segar—tubuh dan jiwaku terbuka menerimanya. Sesekali aku berusaha memejamkan mataku, seraya meyakinkan pada diriku sendiri bahwa hari ini aku masih ada di kota kelahiranku. Sesekali aku bertanya pada diriku sendiri; apakah ini hanya kunjungan sementara, atau aku harus tinggal selamanya? Apa sesungguhnya yang membuatku harus memilih antara tinggal sementara atau selamanya? Kenangan-kenangan buruk, kenangan-kenangan manis, ataukah ingatan-ingatan lama yang berdesakan dan kerap meminta diterjemahkan ulang?

“Sepertinya kita harus berhenti dulu.”

Tiba-tiba suaramu terdengar begitu dekat di telingaku. Begitu dekatnya, sehingga aku bisa merasakan embusan hangat napasmu. Aku juga bisa mencium aroma tubuhmu: wangi tipis parfum yang menguar dari balik sweater hangatmu. Wangi tipis itulah yang selanjutnya menghadirkan sesosok bayangan di kepalaku. Bayangan itu adalah seorang laki-laki yang paling merasa keberatan ketika harus menerima kenyataan bahwa aku telah kehilangan sebelah kakiku, juga suaraku.

Bukan hanya itu, aku bahkan harus kehilangan kedua orangtuaku yang jasadnya terjebak dalam reruntuhan sebuah gedung perkantoran. Aku sendiri nyaris putus asa didera kengerian yang luar biasa itu: kaki kiriku remuk terhimpit bongkahan beton dalam sebuah pusat perbelanjaan di mana aku bekerja setiap hari. Tidak ada pilihan lain setelah itu. Kaki kiriku pun diamputasi di sebuah rumah sakit. Di rumah sakit itulah aku pernah bertemu dengan laki-laki itu untuk pertama kalinya, jauh sebelum bencana itu terjadi. Dia adalah seorang perawat yang kerap aku tanyai perihal perkembangan kesehatan budeku—adiknya ibu— yang pernah menjalani rawat inap selama berhari-hari. Dia jugalah yang kerap menjengukku di saat aku nyaris tidak punya harapan di dalam sebuah kamar rawat inap di rumah sakit itu.

Akhirnya, aku pun harus menerima kenyataan bahwa aku akan menjalani hidup dengan satu kaki. Aku berusaha menerima itu dan mulai terbiasa. Sudah setahun berlalu. Aku bahkan telah membiasakan diriku dengan kruk atau kursi roda pada kesempatan yang berbeda. Tapi ingatan tentang peristiwa mengerikan itu—yang tidak pernah bisa kuceritakan secara tuntas dengan kata-kata—membuatku jadi kehilangan kemampuan berbicara.

“Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?”

Aku segera membuka mata dan tersipu manakala melihatmu sedang membungkuk tepat di depanku. Aku mencoba tersenyum, menangkap sorot matamu yang menyelidik ke wajahku.

“Kamu pasti teringat Amri,” katamu kemudian. “Tenang saja, aku sudah berjanji untuk menjagamu di sini. Nanti, kalau dia tidak bisa menjemputmu karena pekerjaannya, biar aku saja yang mengantarmu.”

Iya, aku memang sedang teringat Amri—laki-laki perawat yang pernah kukenalkan padamu lewat video call. Tapi tentu saja, ada ingatan-ingatan lain yang terus berdesak-desakan di antaranya. Tentang obrolan panjangku dengan ayah dan ibumu di hari kedua kedatanganku. Tentang sebuah alasan lain—yang tersirat—agar aku bisa kembali ke kota ini. Bukan. Bukan tentang rencana penjualan rumah peninggalan kedua orangtuaku seperti yang telah kita ketahui bersama. Tapi ada sesuatu yang lain, yang tiba-tiba terngiang-ngiang dalam ingatanku.

“Rumah ini bukan hanya menyimpan kenangan bagimu,” kata ayahmu saat itu, “tapi juga kenangan kita semua. Kita semua tumbuh dan besar di sekitar sini. Kalau ada alasan sedikit saja yang bisa menahanmu, apa kamu mau tinggal di sini?”

Aku tidak bisa menjawab apa-apa ketika itu, selain mengisyaratkan bahwa aku akan mencoba mencari alasannya.

“Kalau ada seseorang yang memang berjodoh denganmu, kamu bisa menceritakan banyak hal tentang kota ini. Ya, siapa tahu dia akan tertarik dan mau tinggal di sini bersamamu,” kata ibumu dengan nada bercanda.

Lalu tiba-tiba ayahmu menceritakan banyak hal tentangmu. Tentang apa-apa yang sudah kamu kerjakan selama ini. Tentang kegagalan-kegalanmu dalam menjalin hubungan istimewa dengan seseorang. Tentang pekerjaanmu—yang menurut orangtuamu telah mapan— namun harus kamu tinggalkan karena lebih memilih mengurusi anak-anak berkebutuhan khusus di sebuah yayasan.

“Kadang-kadang, kami merasa iba dengannya. Anak itu sulit menemukan teman perempuan yang cocok. Tapi sejak bisa menjalin kontak denganmu, dia sering menceritakan keberadaanmu. Dulu, sewaktu kecil, kalian memang tidak terpisahkan,” celetuk ibumu dalam sebuah obrolan.

Potongan-potongan percakapan itu semakin berdesakan dalam kepalaku, seolah-olah meminta untuk disimpan dan diterjemahkan ulang.

“Kamu harus diam di sini. Jangan lupa tersenyum. Aku akan mengambil gambarmu.”

Aku tersenyum. Agak canggung. Compressed keys bip38. Mengambil jarak di depanku, bidikanmu menangkap obyek dengan apik: seorang perempuan berwajah tirus sedang duduk di sebuah kursi roda, dalam naungan ranting-ranting pohon rindang yang menjalari sebuah kanopi buatan.

“Sejak lulus SMP, aku belum pernah berfoto denganmu lagi,” katamu seraya menyelidik ke sekitar.

Seorang anak berseragam sekolah melintas di dekat kita. Kamu mengucapkan sesuatu dengan nada bercanda seraya menyerahkan sebuah gawai kepadanya. Remaja usia belasan itu tersenyum. Lalu dalam beberapa jenak, tubuhmu membungkuk dan tangan kananmu memelukku dengan lembut dan hangat.

“Apa sebuah foto bisa menggambarkan sebuah perasaan?” tanyamu tiba-tiba.

Cukup lama kita memandangi foto itu. Entah untuk apa. Tapi aku memikirkan pertanyaanmu—yang kamu lontarkan dengan nada bercanda dan sambil lalu. Hingga kamu menepikan kursi rodaku di sebuah kawasan florist, aku masih memikirkan pertanyaan sederhana itu. Aku tidak tahu apa yang kamu katakan pada perempuan paruh baya yang sedang merangkai bunga. Tiba-tiba saja tanganmu sudah mengenggam sebuket krisan merah.

“Ini untukmu,” katamu, seraya kembali mendorong kursi rodaku.

Aku menerimanya begitu saja. Kini, seraya menyusuri jalanan di sepanjang City Walk yang teduh dan tenang ini, aku mendekap krisan merah pemberianmu di dadaku. Aku mendekapnya seraya memikirkan sebuah pertanyaan lainnya: apakah kota ini bisa menggambarkan sebuah perasaan?

Jember, November 2018


Tjak S. Parlan Lahir di Banyuwangi, 10 November 1975.  Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di berbagai media. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017). Selain menulis, ia juga “mengerjakan” perwajahan buku, majalah, koran dan media cetak sejenis lainnya. Saat ini mukim di Ampenan-Nusa Tenggara Barat.  Email: [email protected]

Ragam

Menengok Wajah Sumatera Lama Dari Lensa Kamera

Pameran Foto Warna Warni Kehidupan Sumatera 1947

Oleh Wahyu Indro Sasongko

Undangan Pembukaan Pameran Foto Warna Warni Kehidupan Sumatra 1947

Gunung besar di daerah Toba, Sumatera Utara pada masa purba meletus dahsyat, hampir semua badan gunung terangkat  ke udara dan terlempar hingga ratusan kilometer jauhnya. Letusan ini mengakibatkan punahnya makhluk hidup di sekitarnya.  Letusan tersebut membuat lubang yang sangat  besar dan dalam, lubang tersebut kemudian menjadi danau besar yang dikenal dengan nama Danau Toba. Kedalaman Danau Toba mencapai 300 sampai 500 meter, dapat dibayangkan bagaimana  dahsyatnya letusan tersebut. 

Ribuan tahun yang lalu, Taprobane, Rami atau Ramni, Azebai atau Azebani, Lameri, Swarnadwipa, Indalas atau Andalas, Sobormah, Samandar, Zamatra, Zamara, Java Minor, Ophir, adalah sejumlah variasi nama bagi pulau yang kini dikenal sebagai Sumatera, akhirnya pulih dan menjadi tujuan migrasi. Salah satu  peradaban yang menarik minat penjelajah dan penulis masa silam untuk menuliskan segala sisik melik di dalamnya. 

Selain wajah Sumatera yang berubah karena bencana alam, melihat situasi dan kondisi Sumatera kala itu; aspek sosial, agama, budaya, politik, dan seluk beluk sejumlah daerah di Sumatera, dari perspektif orang-orang dari negeri atas angin. Seperti perebutan kekuasaan antar suku, bahkan antar keluarga kerajaan, baik di zaman Sriwijaya, Majapahit, Pagaruyung, Samodra Pasai maupun Batak. Pengaruh agama Islam yang masuk lewat saudagar-saudagar Muslim dari Mesir, Persi, dan India lewat pelabuhan Gujarat telah membuat peradaban di Sumatra berubah total juga selalu menarik untuk disimak. Bahkan, sejumlah reportase kemudian menjadi dokumen vital bagi rekonstruksi sejarah Sumatera, khususnya catatan perjalanan 1850 – 1950.

Itulah sedikit pengetahuan umum tentang Sumatera, pulau terbesar kedua setelah Kalimantan, sebagai pengantar pameran fotografi yang digelar oleh Bentara Budaya Yogyakarta dari tanggal 2 -10 Maret 2019 dengan tajuk Warna Warni Sumatera 1947. Sumatraantjes atau Sumatera Kecil adalah judul sebuah buku terbitan tahun 1947 yang memuat warna-warni kehidupan di Pulau Sumatra. Buku ini memuat banyak sekali foto-foto yang mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat seantero Sumatra, mulai dari kehidupan transmigrasi masyarakat Jawa yang menetap di Metro Lampung hingga industri minyak dan Gas BPM  dan diakhiri dengan monument  perang dan kehidupan di Aceh,” kata Manager Bentara Budaya Yogyakarta, Yunanto Sutyastomo.

Ramai pengunjung terlihat pada
Pameran Foto Warna Warni Kehidupan Sumatera 1947. (ideide.id/Wahyu Indro Sasongko)

Halaman pertama buku karangan H.C. Zentgraaff dan W.A. Van Goudoever terbitan Uitgeverij W. Van Hoeve. ‘s-Gravenhage Belanda itu diawali dengan pemandangan jalan setapak di tengah hutan belantara di Lampung,  kemudian kehidupan yang amat sangat sederhana atau kemiskinan dari masyarakat Jawa yang menjadi transmigrasi di Lampung. Dalam buku itu juga terdapat gambar ladang jagung di daerah Metro yang dijaga seorang kepala desa yang berpakaian Jawa. Di daerah Palembang tergambar jalur perniagaan di sungai  dengan sampan-sampan dan pasar di tepi sungai . Kemudian ada foto  Jalan Trans Sumatra di Jambi yang dikerjakan dengan membuka hutan, lalu ada foto perkebunan cemara yang menghasilkan terpentin, kebun kopi, di Sungai Gerong, Bengkulu .

Kehidupan Ninik Mamak di Minangkabau menjadi objek foto yang menarik. Di sana ada kaum lelaki yang berpakaian adat Minang dan tidak ketinggalan para wanita Minang yang dengan anggunnya berdiri berjajar dengan pakaian adat kebesarannya. Tidak hanya kehidupan masyarakatnya saja, alam Sumatera tidak lepas dari jepretan kamera sang penulis, seperti  Danau Maninjau, Danau Singkarak, dan Danau Toba yang legendaries, tidak ketinggalan juga  artefak-artefak Batak Kuno yang sudah bertahan ribuan tahun yang lalu. Pada acara tersebut, sederetan foto-foto yang didominasi warna hitam putih dipajang berjajar. “Sebenarnya kami mendapatkan buku tersebut sudah cetakan ke-5, berarti pertama kali dicetak kami perkirakan tahun 1940-an awal atau sebelum kedatangan penjajah Jepang ke Sumatra. Hanya sayang kami tidak menemukan nama fotografernya di buku tersebut. Semoga pameran ini dapat menambah pengetahuan kita tentang kepulauan di tanah air, terutama di Pulau Sumatera,” ujar Yunanto.

Ragam

Pameran Seni Rupa “Gemati”: Ekspresi Kritis Astuti

Oleh Wahyu Indro Sasongko

Keluarga itu duduk dan berkumpul di dalam sebuah ruang tamu berwarna cerah. Sepasang orang tua, dan ketiga anaknya yang duduk saling berdekatan. Kebersamaan yang menggambarkan bentuk keluarga yang ideal dan penuh kedekatan. Namun, sebuah benda kecil yang tergenggam di tangan orang-orang itu membuat jarak yang sebenarnya saling berdekatan terasa berjauhan.

Poster Acara
Pameran Seni Rupa Gemati

Luruhnya rasa kemanusiaan, mungkin, itu kata yang tepat mewakili Pameran Seni Rupa bertajuk “Gemati” yang digelar di Bentara Budaya Surakarta tanggal 24 Februari – 4 Maret 2019. Pameran yang mengusung karya tunggal perupa perempuan dari Yogyakarta, Astuti Kusumo, ini menampilkan sederet karya-karyanya yang menangkap kegelisahan sang perupa tentang hilangnya rasa “gemati” dalam diri manusia seiring dengan kemajuan teknologi.

“Ditengah perkembangan dunia yang serba digital saat ini, percepatan teknologi lambat laun mengikis aspek-aspek kedirian kita sebagai manusia. Percepatan ini pula yang menyebabkan munculnya egoisitas dalam diri kita, hingga acuh pada sekeliling kita. Di lingkungan sosial kita saat ini, lihatlah, tegur sapa antar tetangga, sopan santun, kemesraan keluarga semakin luntur,” kata Astuti.

Seorang pengunjung menikmati lukisan karya Astuti Kusumo dalam pameran tunggalnya yang bertajuk Gemati. (ideide.id/Wahyu Indro Sasongko)

Pameran yang dipersiapkan Astuti selama dua bulan tersebut, menangkap dengan jelas kegelisahan-kegelisahan perupa perempuan ini dalam beberapa karya lukisannya, antara lain yang berjudul: Keluarga Android, Busy Couple, Happy Alone, Android Party, dan Follow Me. Pada lukisan-lukisan tersebut, perasaan tentang kesepian dan berjarak dengan orang-orang yang sebenarnya berada di sekelilingnya sangat kental terasa. Selain itu, Astuti juga memamerkan sederetan karya yang memiliki ekspresi tak kalah kuat, seperti Temu Rasa, GoShopping, dan Sejoli. “Pameran ini merupakan satu bentuk ungkapan ekspresi saya sebagai perupa atas kikisnya kesadaran dan sensitivitas kita sebagai manusia. Melalui karya dalam pameran ini, saya ingin mengajak menilik kembali definisi dan praktik asah, asih, asuh. Menilik kembali perhatian atas diri dan sesama yang mengedepankan “rasa-pangrasa”,” ujar Astuti.